TREN IJTIHAD KONTEMPORER Spli.
Mqs dad
n Natnic lawonr
in amdana utthsidl @iS
7lzy
&lorc ornaitrc me only indifu
axfrrm. Ys{ M}baiI
t}turyaha
ijtilndrdad
nudt ndadyngtw
pr&bt6.fu tlw pr&brr tl* lnr
eurbr disM,
dryd
nb
reaulyzd $ing ladqh al-w
fih n &ainb
xr otgxo gntnuin
frbrubihfurfu
rcu pr&bn,
fu
mifit bdiwd b
iitilud inshAzKata Kunci: Pcuhlnn. Masyarakzt,
Ililud fuplj,
IVilndIn&ii
A. Pendahuluan
Masyarakat senantiasa mengalami perubahan. Perubahan masya-
rakat itu
dapat berupa perubahan tatanan sosial,bu&1a,
sosial- dronomi dan lain-lainnp" Menurut para ahli linguisdk danrmantik,
bahasa akan mengalami perubahan setiap sembilan
puluh
tahun.Perubahan
dalam
bahasa, secaralangsung atau tidak
langsung mengandung arti perubahan dalam masyarakat itu. t Pernlataan tersebtr menarikuntuk
diperhatikan, sebabNabi
Muhammad saw. pernah mengeukan, bahwa setiap seratus tahun (seabaQ akan ada orang yang?eoulis adalah dosen tetap Jurusan Syariah STAIN Purwokero, alumnus Prognm P,"casarjaoa (S2) tlIN Syarif Hi&yanrllah Ja[ana-
tlihatL&run Nas.rtiorl "Dasar Petfiiran Petnbeharuan dalam Islam", dalam lv{. Yruun Yu$f, a
/
(d), Ciubt
Cinanbloodiyb
firbrta. Arsraka Pan)irDat, 1985), hd. 19.N-Mamhij,Vol.
1No. 1 Ja urai-Juni2@7 67Absuact
Supani
bettugas mempetbaharui pemahaman
keagamaan.2Agaknya,
penyat^^n Nabiitu
seialao dengan hasil penelitian pata ahli Iinguistik dan semantik itu.Betdasarkan teod
di
xtas, maka betarti seiak Nabi Muhammad saw wafat, umat Islam telah mengalami petubahan sebanyak lima belas kali.3 Pada setiap abad mestinya terdapat seomng mtjaddid atzr seol:rtgmuitahid
pade. zalmarLrayz.Hal ini betarti
bahwaijtihad
para ulama terdahulu mestinya sesuai dengan waktu dan keadaan di mana mereka berada,namun belum tentu
sesuai dengan keadaanumat
Islam sekarang. Karenaitu
sangat biiaksaoa Ibn Qayyim yang menyaakan: arrr/rj Jlj'-lrj irilrr,tt ;!r P csra
"a
Maksud ungkapan di atas adalah bahwa kondisi suatu masyarakat akan berpengaruh tethadap fanva yang dikeluarkan oleh seorang mufti.
Namun hal
ini
tidak berarti bahwa hukumakan
berubah begitu saia, anpa mempethatikan notma yang tetdapat dalam sumber uama hukum Islam, al-Qur'an dan hadis.sSeiamh mencatat, bahwa ijtihad telah dilaksanakan dari masa ke masa, sejak masa awal Islam sampai sekamng. Kalau pada masa lampau
muiahid
didambakan keberadaannya oleh umat Islam, maka sekarang keberadaannya sangatdihatapkan. Tentunya muitahid
sekarang hatus dapat menyelesaikan masalah-masalah kontempotet,terutama
setelah adanyapetubahan
masyatakat, sebagai akibat kemajuanilmu
pengeahuan dan teknologi. Karenairu ijtihad
masa sekamng iauh lebih dipetlukan dibandingkan dengan masa-masa lampau.'Adapun hadis yang dimaksud sebrgei bedkut :
(,rt, ,r
.rJ,
r+" Lr ,Jt U.-
tt, Jt ,rl)* t\t.i'!.t,,
)rr U , .lu .u, 4, irJ-
it Jr, ,?Lihet Abu Dewnd, Jrrar Abi D*td (lq..: Drr .l-Filr, !L), IV: 109.
rNesution, "Dlsar Pcmikiren."
'lbln dQ,liylm,lbt AMtuqqrh
b
Rdfd-it&
@elrur D2r .l-Filr, rt.), III: 14.rFethurrehman Ditmt, Fitufot HtLu Ltbt Q*ata: Logos, 1999), hd. 164.
68 61-yaaThai,Vot I No. I laatai-J*ri 2007
Tren ljtihad Kontemporer
B. Urgensi Iitihad dalam Perkembangan Fikih (Hukum Islam)
Fikih6 sebagai intelpretasi dari syari'ah (nas-nas
alQur'an
dansunnah)
memiliki
watak"dinamis'. Hal ini
sesuai dengan ungkapan para pakar hukum Islam bahwa hukuml
arnir:uil*
lifulli zartantu
tnahin (v-:su:duntuk
dipedomani dalam segalawaktu
dan tempat).Dengan wataknya yang dinamis itu, fikih memiliki dinamika yang sangat
tinggi dan mampu mengakomodir
segalapersoalan baru yang
dftimbulkan oleh perkembangan sosial.Kedinamisan fikih
(hukumIslam) itu telah diisyaratkan oleh wahyu alQur'an yang terakhir, bahwa agama Islam telah dinyatakan sempurna di akhir hayat Rasulullah saw sebagai rasul yang terakhir.T
Rnomena
fikih
boleh dikaukan sangat kontras dengan fenomenaiknu
pengeahuan dan teknologi yangterus
mengalami sofistikasi.Penemuan-penemuan
baru di
bidangteknologi
yangterus
melaju dengan cepat,hendaknp
diimbangi denganfftih
yang cangghpule
Kenyataannya sekerargfikih
beagerak sangat lamban bahkan terkesan mandegFikih
larna masih dipegangi secara kokob, sementaraitu fftih
baru
belum
juga lahir,misalnp fftih
yang berbicara tentang dunia internet, sistem perbankan dan lain-lain.6Fikih aau hukumlslam'aculi metupatm sisem hukumdi &lzm Islamyang bertuiuan merealisasikan dan melindungi kem.dahaun umat manusia- Fikih bukanlah hukum mumi dalan peogertirnala yang sernpit, ia mencakup seluruh bidang kehilupan, etika ke.garDrr4 politik dan ekonomi Hukum Islam di{ormtrlesikan sebegai sekunpulan aturan keagarhaan yang meagattr perilaku kehilupan kaum muslim dalam seEla apeknla bo.ik yang b€nifat indivi&d maupun kolektiL lGrakterisriknya yang se6a ntffakup inilrh, yang rco€mpatkannyz Fda
pocisi penting ddam pandang.n umat Islarn Bahkan seiak awdnya, hukum Islam t&h diangap rbagai pengaahun pa
dlae
-
s'tltlu rrx;isi yaog beluo pemah dicapei teologi. Iuleh sebebop para pengamat Barat menilai : "Adalah musrrhil memahami Idam tanpa memahami hukum Islanr'Uh4 Joqh*hzJrrq Anhxfubn
n lCanit lao (.rrrcr,r: Odond Univeniry Iless, 1971), hal l; Teufik AdrunArd
lnan dar Toagottl&nita hdi
aa Pon*irartubn
MmRbur
@andung Miza+ 199'4\,hal. 33.'/Satria Efeodi, "ltihad Sepaajang Sejanh Hutum Idarn l,Iempcisikan KFl Ali Yafc,'
dalam Jarn l D. khman (d-), lYa:au
tuu
Fi*ib ksial 70 Tdhlr, K.H. Ali Y{p @o;:,dlury.Miz
t
1997), h.J. 145N-lMarr^hi|Vol. 1 No. 1 Joturifuni2b7 69
Supani
Petkembangan dan perubahan sosial menimbulken berbagai
cotak baru
dalam kehidupan manusia, sementara nas sudah tidakbettambah lagi. Di
kalanganahli hukum Islam seting diiumpai
ulgkapen:al-uyi; al-a*anibjab
ua al-uaq7'i'gbqr n anZhjalf
(nzs- nasitu
tethenti, sgdrngkaa peristiwa yang teriedi tidak tethenti).Dad
kenyataan di atas dipetlukan upaya sungguh-s".gguh untuk meniawab setiap
pesoalan
yangmuncul. Inilah
yang sedngdisebut
sebagai"iitihad".
Kewafiban
umat Islam
(tetutamahakim
-
selaku penegakhulrurn
-
dan ulama serta mufti) untuk beriitihad menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyatakat, baik dalem konsep 6kih Islam maupun perundang-undangan tidakleh pedu diperdebatkan.Legalias tetsebut dapat ditangkap dari sikap Rasulullah dalam memuii Mu'adz bin Jabal ketika akan memutuskan perkara dengan iitihad, manaL,l. tidak ditemui hukumnya dzLm
al-Kiab
dan Sunnah.Hal
demikian tetmektub delem hadisymg
diriwayatkan Mu'adz bin Jabal sewako beliau diutus ke Yaman:e| fafi J,s : Jt;i;''^Jr Jl lll,, c.,? *: * ar ,rt-
.i,rJy1 ol r' ,i: Jtisir .7t<O;lf ou: Ju,irt.,tiSrr.rs5i: Jui
: Ju
9/-: d" il ,rl- it Jrr -^- J,fil .,u: Ju.irr JrJ ir Jr., Jr.t es c;jJr .ir.rJr: Ju .,;!.q-*l
rAlsuyi.i, Tafir alJjfi:ad (lta.kkz.h d-Mukartamah: Mrktrbah rl-Tijitiyah, 1982), hd. 22. Redaksi lain sepeni ymg disempeihn oleh Ibo Rushd ddam kiteb B;l-qat al-Mtjrabid oo Nihiayt zl-Mrytatil (Semrnng Thohr Putrr, t.t), l: 2, zdalzh "nta ol-oqZ'i'bqDa albbat
at*iii
gtgnataihfot
za ol-uittu
al-{'otu
at-iqtulda
drt hfob."'oAl-lmam d-Tirmidzi, Snaa At-Timidfi, "lQrrb al-Ahkrm," 'bib mi Ji'r fi al-Qad
Kayfe Yeq{, @eirit :
Di
al-Fil<r), II: 394.70
N-Manihii,va
1 Na t Jaaui-Jmi 2oo7Tren ljtihad Kontemporer
Begitu besamya nilei legalias ini, sehi"gga sekdipun hasil iitihad itu salah
fteliru)
masih tetap mempetoleh satu pahala, dan due pahala iike hasil iitihadnyabenat
Sabda Rasulullah: t0-(-
r:,r: Ju +J cl"
ior.J- ir Jr., gcl dl urul u )p ,f
.
J*f .ii it *i d ,<r-U f- t:t,
r.rlr,+lrli wt-et f
.ta-+Ugft.lt
Hal penting yang meniadi catatan sejamh dalam kaitannya dengan kemempuan hukum Islam dalam menghadapi petkembangan sosial inr adalah
:
pertamz, kclttcsan smbcrbtkta
Islam,atttnyr
al-Qur'an disamping mengandung hukum-hukum yang rinci danmenuut
sifatnya tidak berkembang, iuga mengandung hukum yang masih memetlukan penafsiran dan mempunyai potensi untuk berkembeng. Kedta., scmatgalijtibad
bcrdasarkan keablian. Mengingatke{a iitihad
memerlukan kesungguhan dan keahlian tentang al-Qur'an, Sunnah Rasulullah dan ilmu-ilmu yang berhubuagan dengan itu, maka yang melakukan iitihad henyaleh mereka yang mempunyai keahlian untuk itu.K.t
g", bcrijnhad de4an netodologitttttlfk)h,
dalam usaha menggali makna al-Qur'an dan sunnah Rasulullah. Dengan usul fikih, kaiian al-Qur'an dan Sunah dapat dikembangkan dari segi substansi disamping dapat dikembangkan dari segi kebahasaannya. Tak heran kalau pengembanganhukum
Islam melalui kaiian al-Qur'an dari segi subtansinya lebih banyak menampung masalah-masalah baru.Para imam muitahid masa silam, berpegang
teguh
pada prinsip"seseorang yang betiitihad harus mengetahui batas kewenangan iitihad dalam wahyu
Allah,"
agar mengetahui mana yang meniadi lapangan iitihad, dan mana yang tidak. Hasil iitihad yang menyimpang dari prinsip tersebut khususnya dan kaidah-kaidah usul6kih
umumnya, biasanya udak akan bettahan lama. Maka,dari
sekian banyak mazhab yang'"Mts\n, $afrl Mutn @rndun$ Shnk2h d-Ma'irif li d-Jab' we el-Nashr, tt.), II
N-Maaihij,vrt
1 Na 1 laaui-fui 2oo7 7172
"
Efendi, "Ijitihad," hal. 147-150.N-Manahii,Vol. 1No. 1 Jaatai.Juni 2@7 Suponi
muncul dalam sejarah
hukum
Islam, mazhab yang berrahan lama dan dianut oleh umat Islam sampai sekarang di kalangan sunni adalah empat mazhab, yaitu Hanafi, Ivlaliki, Syafi'i danHanbdi.
Dengan berpegang kepada metodologi ijtihaditu
pula secara benanggungjavab
masing- masingmujtahid
berani mengatakan bahwa hasilijtihadnya
adalah hukumAllah
atau Rasul-Nya.rrSebagai
produk
iitiha,C, maka sudah sewajarnpjika fikih
terus berkembang lantaran penimbangan-penimbangan sosio-politik dansosio-bu&p
serta polapiki, y*g
melatarbelakangi hasil penggalian hukum sangat mungkin mengalami perubahan. Para peletak dasarfftib pkni
paraimam
mazhab ?tuitdhillrat)ddam
melakukan formulasihukum
Islam meskipun digali langsung daritels
asal (al-Qur'an dan Sunnah)namun
selalutidak
lepasdari penimbangan "konteks
lingkungan" keduanya bal< abltb al-ru.2il maupun e71bdluwid-
Karena sadar bahwa
fikih
merupakan produkiitihad
maka para fuqaha terdahulu baikdninn?A ahlfu'ab rnaupvnyuglain
meskipun berbeda pandangan secara tajarrl mereka tetap menghormati pendapat lain, ddak memudakkan pendapamp dan menganggap ijtihad fuqaha lain sebagaikelku
Mereka tetap berpegang pada kaidah "dl-frhodD yryfu,, U-dl-ifiad, yakni
bahwa suatu ijtihadtidak
bisa dibatalkan oleh ijdhad lain. Masing-masingmemiliki
kelebihan dan kekurangan.D
sinilah fikih menunlukkan wataknya yang fleLsibel, dinamis, t€alisds dantemporal
tidak kaku dan ddak perrurnen.Dftegaskan bahwa muara
fikih
adalah terciptanya keadilan sosialdi
masyarakat. Dengan kerangkaberfikir
demikian, makajika
adaproduk
fftih
yang tidak berrn:ara padaterciptanp
sebuah keadilandi
masyarakag maka harus ditinggalkan dan harusdibuat fikih baru
I-Iarus diingat bahwayang namanp
fikih
itu mesti iitihadi. Fikih siyasah,misalnya, itu sendiri bukan
sebatas kekuasaantetapi lebih
padakebijakan-kebijakan
y$E &px
menimbulkan kemaslahatan umum.Tren ljtihad Y\ontemporer
Rumusan itu harus mengacu pada
pilisip
n aqAidal'thaibh ymg
meliputi lima ha! yaitu (1) melindun gS zgamt
(hf7al-di),
(2) melindungi jiwa&n
keselematan frsrk (bifq al-naf), (3) melindungi kelangsungan keturunan (hfq at-ru:l';, (4) melindungi akalpikiran
(hif7 al-'aql1,dn
(5)
melindungi harta
benda(hifl al-ni).
Tetmasuk dalam kelima kebutuhao pnmer(/ani)
tersebut tnenurut sebagian ulama adalah"hatga
drri" (hiJ<,/'rr|
yang disuruhAllah untuk
meniaganya dan melatang berbuat sesuatu yang dapat mencematkannya.r2 Dalam halini
dihatamkan menuduh perempuan baik-baik melakukan zir,ranpa bukti
yang sah dan pelakunya diancam dengan80 kali
cambuk, sebagaimana fuman Allah dalam sumtal-Nut
[24] ayat 4.Pumusznlina naqi;id ini memberikan pemahaoan bahwa
Isl,m
tidak mengkhususkan perannya hanya dalam aspek penyembahan Tuhan dalem arti yang tetbatas
pa&
serangkaian perintah dan latangan yang tidak dapat secara langsung dipahami manfaatnya. Dalam kemngkapemikitan ini, maka
aspekkehidupan
apapunyang
mel-ingkupi kehidupan manusiaftecuali
yang bersifat ubudiyahmurni)
hatusdisikapi
dengan meletakkan kemaslahatant3 sebagaibahan
per- timbangan. Karena dengan hanya menjaga stabilitas kemaslahatan iniiah tugas-tugas penbadatan&pat
.lilaksanekan dengen baik.Jadi, sejak awalnya syari'at Islam sebenamya tidak memiliki basis lain kec,r,li kemaslahatan manusia. Ungkapan standar, bahwa syari'at Islam dicanangkan demi kebahagiaan maousia,
lahir batin,
dunia- akhirat, sepenuhnya mencerminkan kemaslehatan tadi.Akan
tetapi, keterikaan yang betlebihan terhadap teks (nas), seperti dipromosikan':Amir Syadfuddin,
U
tl Fibb!*ata:
Logos Wacane llmu, '1999), IIr 212.'rMenuot penelitian pare ulame, sebegaimene dikutip olch Ibrehim Hoseo, bahura kemeslrheten deprt diklesi6kesileo meoiedi tiga espek, yakni: ddrtd;, G,n ner,
fijizt
(sekwdet) dn tahinfu (pelengkap). Tetdoroag meksud ingin membetiken kemaslehatr itulah, ade begian fikih yang dinamrkan
ttrinl
rbat'foot, yekoi kebiiaksenaen untuk mcmbuat masyenkat lebih dekzt kepada kebejihn dao rnenjauhi keburuken. Lihat lbrehim Hosen, 'Jenis-Jenis tlukumea drlam Hukum Pidane Islam @cinterptetasi Tethrdap Pehksanaan Aturrn)" ddrrn Ra\azr, Wacau Ban, hzl. 33. Mcnurut Hasbi Ash Shi,ddrgi, rfrdb ltat'bobpada dasamya sema dergtn aa alolt a*ralal
ia
seodii.N-Matihii,va.
I No. t Jaarai.lni 2007 73Supani
oleh paham onodoksi, telah membuat prinsip kemaslahatan sebagai jargon kosong.t{
Kaum onodoks, )zng hryegang pa& alQur'an dan Sunnah secara
rckfiirl,
menganggapfikih
sebagai sesuatu yang suci, sakral, final dan abadi. Mereka lebih banyak bergelut dengan realitasfikih
yang zudah jadi. Sementara kaum modemis, menyikapi teks-teks keagarnaan secarakontekstud
dan menganggapfikih
sebagai pemaknaan sosial atau rekapsa sosial sesuai dengan prinsipba
as a toolof wial
engjnaniz'tg.t5Fikih
sebenarnya
lupaya, manusiawi, yang melibatkan proses penalaranQwtiry),batk
dolam tataran teoritis maupunprakis,
ddam memahami, menjabarkan dan mengelaboraikan hukum-hukum agama- Denganmenyebut
manusiawi, dimaksudkanuntuk
membedakan dengan syari'ag yang secara longgar dipakaiuan:k menlabut
agama Islam dan meruiuk kepadahukum
Tuhan sebagaimana terkandung dalam korpuskorpus wahyu, tanpa melibatkan tursur-unsur manusia- Pendeknyafikih
adalah refleksi dari syari'at.r5C. Iitihad Sebagai Salah Satu Sumber dan Metode Penetapan Hukum
Kata "zumber" dalam hukum
fikih
adalah terjemahandailalaz rmsb, jamaknl*
nasadb.Kata ini
hanyater&pat
dalam sebagian literatur kontemporer sebagai genti dari sebutanddil
atau lengkapnya'aladilkh al-sbo'iyyh
dalam literatur klasik. Ada juga kata ddillahd-
ahknm(daln4oJnh,-rkum) sama pengeniannya dengan k
xa wil alal*im
(dasardasar hukum) dan nasadir
alabdm
(sumber-sumber hukum).ur$umanto alQrrrthubi,
KH.
hlu! Ltaldudz Era ful4 frbh hrhiaia SogyJrerte Cermnr, 1S99), hal. 2.rAhmad Baso, "Melaran Tekaoan Agarn Vacaru Blru Pernikiran Fikih NU," &lem
R*rura Wou
tua
lvL 132'6ahd Mehfrdz,
Mae
f*ibbial (ogyal$t
lXiS, 1994), hal 18.''Mukhur Yahp dan Fatchurnhnao, Dasr-Dasr Pemlinan
fuhn
frhib Ndrri(BandunS : Al-Ma'arif, 1993),
h
.27.74 N-Malnahij,Vol. 1No. 1 Jouari-funi 2007
Tren ljtihad Kontemporer
Mereka yang menggunakan kata trzgadb sebagai ganti
dadilldb
dan4ul alal*imanw
beranggapan bahwakaiga
kataitu
sama artin)'aKata sumber dianikan suatu wadah, dari wadah itu dapat ditemu- kan atau ditimba norma hukurn, sedangkan
ddil
hukum berarti sesuanr yang mernberi petunjuk dan menuntun kita dalam menemukanhukum
Allah.r8Di
kdanganfirkaha
katadnil
diaftikan "sesuatu yang padarryt terdapatpenunjukan
pengajaran,baik
yang dapat menyampaikan kepada sesuatuy
atau kepada dugaan kuatyary
tidakmeyakinkan".
Di
kdangan ulama usulfikih
kata dalil dianikan "sesuatu yang dipergunakan sebagaipetuujuk
yang sehatuntuk
menetapkan hukum syara' tentang arnal perbuatan manusi e srrate.
qt1
(past) atau zanT (dugaar keras;".tr
Sumber hukum &pat dikelompokkan urenjadi dua yakni sumber hukum yang disepakati para ulama alQur'an, Sunnah,
ijrruk
danqr'f;
zumber hukum yang tidak disepaka( bertpa,qi@amd+lahahnat
vlah
isisl2aS slur'
rnarqbbA e^
rnazbab sahabar lVlenurut Fathurrahman Djamil, kata zumber hanya berlaku padaalQur'an
dan Sunnah, karenahanp
dari keduanplah digali norma-normahukurn
Sedarykan irmalq q$as,isti@ra
isti:h.ahisti:Db,
dan istidfaltidak
termasuk kategori sumberhukum.
Kesemuanyeitu
termasukdalil hukum.
Denganmenggunakan isdlah-isdlah tersebut
kita &pat
menemukan hukum- hukumIslarn
kdlah-isdlah tersebut rnerupakandat
dalam menggali hukum-hukum daridQur'an
dan Sunnah.rSecara
gari
baar huktrm dalamalQur'an
dapat dikelompokkan menjadi tiga,yaitu
:1). Hukurn
i:tilddl)ryA ("qidrh). Huk'.rmini
mengatur hubunganro-
haniah manusia dengan Yang Maha Kuasa dalam masdah keimanan
'iSnrifrddi! Uttul Fihih,
l:
43; I(hallaf,l(ai tl@L
hal.l7-18'Yahye dan Fatchurralurun, Mar-fun-
h
27.nDlznttl, Fil!4at Huhwn Ndrq h.J. 82.
N-Marahij,Vol.
t
No. 1 Jauari-funi 2N7 75Suponi
dan ketakwaan. Hukum yang berkaitan dengan kewajiban mukallaf
untuk
mempercayaiAllah,
malaikat, rasul,kitab-Nya
dan hari pembalasan.2). Hukun ("kl,l"k). Hukum ini
mengatur hubungan manusia dengan manusia danmakhluk lain
dalam hubungan beragama, bermasyarakat dan bernegaraTerekup
dalam hukumini
adalahtingkah laku
yang berhubungan detrgar kewajibanmukallaf unnrk
menghiasidirinya
deogan sifat-sifat keutamaan dan menjauhkandirinya
dari sifat-sifat tercela.3).
Hukum 'dn4l;Wb slbr'iryb
(syari'ah).Hukum ini
mengatur hubungan hidup lahiriyah antara manusia denganmakhluk
lain, denganTuhannp
selain yang bersifat rohani, dan dengan damsekitarnla. Mukhtar Yahp
dan Fatchurrahmanmenpbutnp
sr':bagai
fQt al-Qxr'in"
Inrlah yang hendak dicapai oleh ilmu ushulfikilr-
Atau menurutlvl Amin
Sumamenpbrrnp
dengan istilahfqh al+i;b
(fil<ihd-Qur'an), aW alfdtryh
(ayat-ayat tentangfikih),
ataual*in al@q yurg
maks-rdnya kurang lebih sama sajayaitu meruiuk
kepadaapt-apt alQur'an yang
berisikan mesalahhukum.z
SedangkanHukum
'amaliyah ddamalQur'an itu terdiri
atas dua macamyaitu hukum ibadat
danhukum
mu'amdat.AlQur'an ditinjau
dari4 uilrd
den tkrFta-nya,delah q1L
Qtf al a*nd
elQnr'an makzudnya bahwa lafaz dan maknaalQur'an itu pasi
datang dariAllah,
sedangqtl dl-duE* dQur'an
dipahamibahwa
alQur'an
adalah wahyuAilah
yang disampaikan kepadaNabi
Muhammed saw, yang eksistensinptidak
dnagukan lagi oleh setiap muslirn'lYahF dan Fatclntrahnun,
Ma-fud,h
.35. Uhat juga qemilF$a
Hahnrllarl
hA- 9l-zMuhamrnad Arnin Surn+
ruaow
T{iirl}*an
(lakanr Reja Grafindo Persada, 2m1), hal. 26.N-Manihij,
Ua. t No. 1 JowoiJni 2@7 76Tren ljtihad Kontemporer Sedangkm Sunnaha selain yang bersifat tnmtt-ab'za adalugeyaog bersiat
zafi al-attil^Dari
kenyataan inilah jumhur ulama menyaukan bahwa d-sunnah menempad unrtan yang kedua dalam zumberhukum
Islarn Sebagaimanadikutip
oleh FathurrahmanDjamil
dari pendapatalshathibi
dan al-Qasini, bahwa mereka(umhur)
memberikan alasan secara rasional dan tekmral.'sDi
antara argumenitu
addah bahwa (1)dQur'an
bersfatq1t
dqrrrd"
sedangkanal-sunah bers;t* zati alruald"
Karenaim
yangg.ri
harusdidahul*an daiyang zati;
(2) al-sunnah berfungsi sebagai penjela daridQur'an.
FId ini harus diartikan bahwayang menjelaskan berkedudukanlebih
rend^hdari
yang dijelaskan.eJika tidak
adameyry
Saog dijelaskan), mekatidak pe.l" ud. byan
(pentel^sen), sebaliknya jika tidakd^ blat,moka mh)rpttidak
mesti hilang deogansendirinl4
(3) terdapat beberapa hadis yang menj"lasL,q urutan (terdb jenjang) dan kedudukan al-sunnah setelahalQur'an.
xSecare aimologis, sazrS benrti jalan yang luns &o be*esirumbungaa f.og baik
atar yang btrulc Lihat 'Abbes Muucali Hamidall Al-Sanah al-l,llhrifurua Mzhbali
f
al-Tdri' /Xzjrc Der dQaq,niyFh, t.t), hd.13. Uhar juga Muhrood Abn Zahrrb 4/-
Hdtru)a
dltlubffiz
(Beina Dir d-Kitib at-'Ar.bi 1r3), hrL 8. lvlenurut irilah elrliIllfis"
daont
dal.h setiap ape yang diterimr dari Raul sa*'berupa pe*et:ao, F6uaan, ,r?a,.ifl
6sik atau akhlrL ateu perikehicluparl boik seb€luo b.li.u .l;,.gL- seb€ai R.erl,*fm tMt
di Gua Ffri' atau sestdeh kerestlan beliau Lihar 'Afraj al-K-ha&, Al-sroruh SaAd dLTU@a\ (Beirut: Dar al-Fik, l99l), hal. 14. Pengerti2r ini tentu berbeda &ngan pengenian sunruheurur
"1"-' ushul fikih dan uLrm frkiL\urul,eh
matdt
&lzhnronah yargdiriwaynkan ohh rawi yrogjus rhnya h.nFksehinga musehil mercka bersepakat untuk berdusta. Periwayztan terldi
s.r
DtuDatidaIgan iurdeh rev.i yrog hoyak yeng odiputi tige gerrred, yritu geo€rsi selubsr, ubiin &n ali' al+afn
lilat
lrbn [furud, alGt-et, al-Mwa;rtnb
'lbn al-Usil@
ra;: Dar d-Kuub#ll^iyy.l,, 1983), L 85. tihat juga Muhemrned ibn 'Ali ibn Muhemmad d-Sh.x&.ni, I6rZl
al-Fuhl @lllllr: Dir allikr, t.t), hal. 14; Mrsta6 Sa'id al-I(hrr, Athar dl-lUnif$rt d<brnA dl-Utiliydrrt lkhiqalFqllrd' (Kairo: Mu'asesah al-Ris,lalL 1982), hal. 208.
sDjantt\ Fil!4a Huhtn lldr4 h^1. 9J-94.
*A& sekelompok ulama yang beranggapan hahwa al*unnah memilfi keduduken lebih penting dari dQur'an (d+unnah sebagri peaentu tertradap alQur'an). Alesan rrrcka
antan lain: (1) Bahwa llQur'an yang bersifat
z{z/
(umum) iru memerlukrn penjebsar dari at-sunnaL sehingg.'l<au *hir" bendapda +omulu bukan pada dQur'an MidnF nrngenai huktrman potong ungro bagi porcuri, dQur'an ddak menje.leskrn ukuran berrda yang dicud itu rbenpa, kemudian al-sunneh menjelaskannya yairu seiumlah rcnenru (riad; (2) A&beberapa eyat dQur'an yang mernpunyai makna grr:d,, hulrorul) Ddam hd ini a.l-sunnah
rnemberiken dtemariftry"a- Ihrrad:ia Al-earu]t al-Ifibaoiyfi, hr.l. 31+355.
N-Manihij,Vd- t
No. l Jaawi-fini2@7 77Suponi
D. Pendekatan dalam Iftihad
Unnrk
memahami syari'atklam
yang dibawa Rasulullah, para ulama ushulfikih
mengemukakan dua benruk pendekataq yaitu meldui kaidah-kaidah kebehupend:n
melalui pendekatan tryaqid.alMah
(tujuan
syan'
dalam menetapkan hukum).Pendekatan
meldui
kaidah-kaidah kebahasaan adalahuntuk
mengetahui
dalildalil
yang -anm dzn kbass,rufu
delnm@, tnind
datmby1w,ruHunmdasr,nudithhruss,zil'n,n-asihh,rnansr*b,
'antr,nal4t
dn
sebaginya. Dalam kaidah-kaidah kebahasaan ini dikemu- kakan cara<ara menyelesaikandalildalil
yang bertentangan secara z4b,v-:llrlrggasr:luruh dalilyang ada dalamalQur'an
den zunnah&pat
dipahami senadiamdkan.
Persodanhukum
dalam pendekatanini
terkait langstrng dengan nas (atQur'an dan atau Sunnah).Pendekatan
,rry$id dlM'&.
penelarnnnya terletak pada upaya maryingkap dan menjelaskan hukum dari strtu kass yang dihadapi mdalui pertimbangan maksrdmaksrd syara' dalam menetapkanhukurt
Teori yangdigunakanuntuk menyinglap dan menjelaskan huhrm dalam bertagai karrs yarg tidak ada nasnya secara khrsug dapat dikoahui melaluimeo&
iinuk, qiyas,
ifibt4n i*itlih i*ish\;c;rAs, po;'"h,'"rf d^"
lain-lain. PadahakekamF
lfi
daxlnqtid
dldwn'dh^ddah kemaslahatan manusia
di
dunia dan diekhirela Ohh
sebab in,
berbagi metode yang digunakanDtl*I. b,J..345.
'Mnumrnd fiamal d-Din lntur\ lld?4tiy/t d-Edrfi al-bbn@r;lrt d-froln'$.1- Iskardrriryeb, 1r8 M), hel. 173.
78
N-Manihij,
Uol. t Na 1 Joucri-|mi 2N7Mentrut d-Sibei,
sebenarnla sunnah, selain yangmutawart,
menempati urtrten kedua (setelahalQur'an),
karena ditinjau dari segrelaistensinp
jelas berbeda. Tetapijika dilihat dari
segi pemahamannas, maka pemahaman terhadap nas tidak akan benar jika tidak merujuk kepada al-sunnah.
Dari
sisiini,
bisa saja dikatakan bahwa al-sunnah sejajar denganalQur'21r."
Yang jelas bahwa al-Qur'an dan al-zunnah adalah dua sumber yang tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya.Tren ljtihad Kontemporer
unmk meoyingkap
&n
menielakan hukum pada setiakars
yang tidak ada nasnya, harus senantiasa berorientasike@a
kemaslahatanumat'
Untuk
mendapatkan gambaran secara utuh tentang teonnqasil alsffii'dh,
diperlukan penjelasan lima pokok kemaslahatan(dlhlffi
dl+lMrns) dengan peringkatnya masing-masin
{ (fuAtiyya
lnj;1'yt,dn
t"6ryyl. Unian ini benitik
tolak daripokok
kemaslahatar; yaitu : agam4 jiwa, akal, kenrrunan danharta
Kernudian masing-masing dari kelima pokok itu akan dilihat berdasarkan kepentingan dan kebunrhan- nya (skda prioritasnya).E. Hubungan antara MaqZqid al-Sbar7'ab dengan beberapa Metode litihad
Sebagaimana
telah
dijelaskan, pada dasaroyatujuan
utama disyari'atkan hukum Islam adalah umuk memelihara kemaslahatan dan sekaligus menghindari kemafsadatan, baik di dunia maupun di akhirat.Segala macam kasus
hukum,
baik yang secaraelsplisit
diatur dalam al-Qur'an dan hadisrurupun
yangdihailkan
melalui ijdhad" harushnitik tolak
pada tujuan rcrsebur Dalam kasushukum
yang secaraelsplisit
dijelaskan dalam kedua sumber utamafikih,
kernaslahatan dapat ditelusuri melalui teks yang ada Jika ternyata kemaslahatanitu dijelakan,
maka kemaslahatanitu
dijadikantitik tolak
penetapan hukumnya. Kemaslahatan sepeniini lazim
digolongk en keprda al-ndlah
ah al-ma'taba$.t tBerbeda halnya
jika
kemaslahatanitu tidak
dijelaskan secara eksplisit ke dalam kedua zumber utama. Dalam hal ini peranan mujtahid sangatpenting untuk menggali dan
menemukart naslahah y ang terkandung dalam penoapanhukum.
Pada dasarnya hasil penelitian'Nasrun tlaroeo, Udt l F kih {akarra : Logos, 196),
L dxii
nSecan rinci oeoge!.i ureialr iri daFt dilihat dalem Muhamaud 91d R rladfu .l- Bin,
tuuli cUlAlA&f
al-Sb;A aUen;W @irur Mu'sesah d-Risilah, 20@), bd.218-219.
nKamil d-Din Ima!!\ Naqaiylt al-@t, hal. 172.
N-Manihii,
Volt
No. 1 Jouari-Jani 2N7 79itu
dapat diterima, selamatidak
benentanganderyx. naslfidt
yangditetapkan dalam kedua sumber utama tersebur. Jika terjadi
penentangan, maka
naslfiil
dtmaksddigolongkan sebagiol-"rclie
al-nntdEb.3'1
Pencarian para ahli ushul
fikih
terhadapnwldtdt iat dtwuj,&an
dalam bentuk metode ijtihad. Berbagai macam istilah telah digunakan oleh mereka unnrk menyebut merode penemuan hukum. Namun pada dasarnp, semua metodeitu
bermuarapa&
up ayapenemvt
trusldtdt, dan menjadikannya sebagai alatuntuk
menetapkanhukum
yang kasusnyatidak disebutkan
secaraeksplisit baik ddam al-Qur'an
maupun hadis. Atas dasar asumsiini,
maka dapat dikaukan, bahwa setiap metode penetapan hukum yang dipakai olehpan
ahli ushulfikih bermtwa
padattqagid
al4uriah.)3Untuk melihat hubungan
arotar.rmqZsid al4ui'ab dengrn
beberapametde
penetapanhukum,
d^Fatdilihat
misalnya aspeknztb.A
yang terdapatddam
qiyas isti@rr, darl lalrr,lya-Ddam metode qiyas,r pding tidah ada empat unsur yang harus ada,
yakni
asl,far', ltuhn alad, dn
'ilkb.3sDai
keempat unsuritu, lllablah
yang sanger pendng dan sangat menentukan. Ada atau tidak adanp hukum ddam kasus baru sangat tergantungpa& a&
atau tidak adarya 'illzhpa&
kasus tersebut.Contoh ddam bi&ng
mu'amalah,misalnp
tentanghak W'dt (r k
pembelian bagi seseorang yanghrserikat
dengan penjual ddam sebidang tanah atau tempat unggal).Dalam hal ini
persekutuanmerupakan 'ilkh
adroyah^k W'db.
eL*I' hd. 173.
nf;i.en;t" El$a Huh.n ldan, heJ. 135.
rlvtenunn AM d-Wahhib Khdld qiyas a&lah menpmakan sratu kesrrs yang ddak ter&pat hukumnya da]am nes &rgln kesur y.trg hukumnya ten&pa dalam nas, karcna .danlq
prarnaan At dobm kdua karus hu&um itu. Lihat AM al-!flahh^b KheJl.f, MasAn d- TArd'
dlAiri f
ntli
tusafii
(r:mtai: Dtr alQallm, 1972), hd. 19.sllldt idrt s at yzngjelas dan &pat dikaahui srr:ra obyel<ri
(zb)
&n a& tolok\;/n.l.r:rya (rrr.rddd, sena sesuai dengan kaemuan hukum (zaaiA) yang keberadaaonya nsrcnnrkan
.,t-"f
hukurn Uhat lhhboh d-Zuhayd , Al-Va\fi Us;l d-Filt, (Dmeskus: d- lv&tba' ah afllmiryeh, l%9), hd. 415.80
N-Manihii,
VoL t Na 1 Jotzari-Jrmi 2@7 SuponiTren ljtihad Kontemporer
"Fahurnhnun Diani,
.Id.,
hd. 138.l,lttrr!.Ii .l-Sh.Lbl {,&rZ al-frqh dl
Hai, @bt
D.r +Nah&h + Anti17an, 1936), hal. 234.vdtir&W@tingrya
muiahd &ri qifesidik€peda iyar Aid. Uh.aDiEll FiW
ltuldn , Ndrr hn. t3,9.IJ-Manrlehii,VoL
l
No. l JottwiJuni2@7 81 Sedangkanbihrwh-nya (tujuan
ataumaksudnya)
adalahuntuk
menghindad kesuliten yang
dmbul
disebabkan masuknya orang lain yang bukar sekutunya- Dengan demikian, persekunran dijadikan sebagai 'illah adarrya hekW'dh,
karena diduga bahwamasuknp
unsur lain dalampersekutun iru
akan terjadikaulitan.
Berdasarkan contoh
di
aas&pat
dipaharni, bahwa ddam qiyas penemrun 'ilbh dankbnah
saag* menenurkan keberhasilanmuiuhid
dalam menetapkan
hukum. Dari
sinilah dapatdilihat
betapa eratnya hubungan antara metode qiyas deng anrqqid alMZ. Menrrut
ahlivshul,
hbndtbaru
dapat dijadikanl&l rtelah
diketahui dendielusuri
rnalsud diifariatkan hukum itu. Dan dalam menentukan malsud datr tujnan hukurrq tidak akan lepas dari memalnmi,ra$l&&
d^nn6ddl
png
merupakaniffi dari kqran nqdsid d-$afi'ah.x Ddam teori
pencarian 'illah
dny**an
bahwa" salah satu syaratditeinanya
5drlt men;adi tllahilalah
pifahwsebwlwts maahh,yakisesuai
dengantruslfit
yangdt&g;asebagi tujuan disyari'etk.n hukurn iturT Dengan dernikiandapat
bahwe,rryl&il
yang menjadiujuatr ut
.rnadisyariatkan hukum Islam, merupakan faktor penentu
dalam hukum rlelaluijdur
qlyas.Ddam
metode istiJsantt (mercad yang terbaik),miuloya
jugasa"gat terkait de.g an
nqaidalMZ. Mlaupun dal,- d ini'-illab
rya
dapatdikaahui
de.gan jelas, namun pengaruhnp kurang efekdf,sebnliknp
pengaruhitu
akanlebih
krratp e Sy^ klufi. Detgan
menelusuri tujur"
disyariatkannya suatuhukum,
paramujtahid
terdorong nntuk beralihdari Ws j4likqad^ qW W.
Suponi
F. Macam-macam Iitihad
Menurut
al-Shalibi (w. 790f!,
pakar usulfikih lvlaliki
dalam menggali suatu hukum dari dalil syara' seorangmujuhi{ di
samping berijtihad secara langsungterha&p
nas,j"ga perlu
berijtihadddam
menerapkanhukum ymg
lslah dihesilkaniru
pada realitas yang 26la"Oleh sebab ina menurunla, seorang
muiuhid
dalam menghadapi zuaur kasus yangharu
dicadkanhukurnnp,
perlu melaln*an dua kali iitihad yaitu:a Sihadi*inffi.yaim
beriftihad ddam memperoleh hukum&ri
nas yang telah ditentukan, danh
fVihadayDa. yaitu suatu ijtihad yang dilakukan untuk menerapkan keteotuan hukum yang telah dihesilken dari nas tersebw.Pa& ijtihad
pertama seorangmujtahid berha&pan
langzung dengan nas, sedangkan pada ijtihad kedua ia berha&pan dengan kenya- taan, subyek&n obyek hukum. Ada
kalanyahukum
yang telahdihasilkan
berdasarkanijtihad
langsung pada nasitu tidak
bisa diterapkan pada subyek atau obyekhukum,
karenajika hukum itu diterapkan
akanberdampak negatif yang lebih
besar.Artinya,
kemaslahatan yang ingin dicapai deri penerepan hukum yang dihasilkan
meldui ijtihad
istinbathiitu
berhadapan dengan suatu kemudaratan atau kemafradatan yang kuditasnya lebih baar dari kemaslahatan yang akan dicapaiDdem
kasus sepertitnt
menrrrut al-Shtdb-i,muiuhid
harus mencarikan hukum lain, sehingga kemaslahatao bisa dicapai dan kemafsadatan tidak muncul.r'
Dilihat
dari*g p.lrk"rryr,
ijtihad dapat dibedakan kepada dua macarn, yaitu:€
a.
fitihadffi foiorarg*t),
yairuijtihad
yang pelakunya hanya sam orang. Jenisijtihad ini memungkinkan untuk dilakukan, jika
82
IJ-Marihi|
Vol.t
No. l Jouari-lmi2@7 'Abn Ishiq d-Shitibi,Al],lnufqt f
Usil al-Slvi'ah (Beirut: Drr al-Kutub d- 'Irniyyzfq d, het 6{.'o Srrdfrdiq Ulfll
frkih,ll
272-273.Tren ljtihad Kontemporer masdah atau
k t* y*g
meniadi obiek ijtihad bersifat sederhana dan terjadidi
tengah nraryarakat yang sederhana, sehingga tidak memerlukan penelitian atau kajiandari
berbagaidisiplin ilmu.
Mungkin
juga si mujtahidnya menguasei berbagaidisiplin
yang diperlukan untuk mengkaji masalah tersebut. Umpamanya ijtihad dalam menetapkan berlakunya tayamum; apakah berlaku hanyauntuk
satu shalat ataulebih dari
satu shalat. Yangmungkin
melakukanijtihad individual ini
hanyamujtahid al*znil
yar;rgilrnturyr
&pat
melingkupi seluruhbi&ng
hukum.h lftihAlit?al
atau ijtihadkolekif
yaitu ijtihad yang dilakukan oleh beberapa orang secarakolektif
(hrsama).Ijtihad ddam hntuk
ini terjadi karena mavlah yang diselesaikan sangat komplels (rumi$
meliputi bidang yang luas, sehingga perlu melibatkan
banpk
ahlidari
berbagaidisiplin ilmu
dantidak mungkin dilakukan
oleh seorang spesialis pada satu bidang tenentu. Umpamanya tentang bayi tabung yang tidak&pat
dilakukan oleh seorang ahlihukunl
tetapi seddaknp melibad<an ahli biologi dan dokter. Flasil yang dicapai dalam bennrk ijtihad kolektif ini, tidak sama dengan ijmak, karena "ulama" yang berperaoddam
i.itihadini tidak meliputi
seluruh ulama yang menjadi persapratan bagi suatuijma
Diakui
bahwa ada beberapa masalah yang muncul sekarangini,
secara kebetulan,
mirip
atau bahkan sama dengan masalah-masalah yang dibahas oleh paraehli fikih
terdahulu.Namun tidak
sedikit masalah-masalah yang sama sekali baru, makamujtahid pa&
masa sekarangini
harusmenplesaikannp
dengan cara memahami secarabaik
masalah dimaksudkemudian
membahasnya secara seksama, dengan tetap merujuk pada jiwa hukum Islam yang terkandung dalamalQur'an dar
hadis.Berkenaan dengan keadaan seperti
di
atas, maka i.jtihad pada masa sekarangini,
sebagaimanadinptakan
olehfusuf dQar{awr,
dapat dilakukan rneldui dua cara,
yitu
ijtihadintiqai
atzu ijtih-adtzrjifi
ll-\ftnihiiVol.
1 Na 1 JaewiTlwti 2007 83Suponi
e^frhad
insbZiatauijtiEad'l+tra'i$ Iiib:d.
intiqaTatauStihrdt ri@
adalah ijtihad yang dilakukan seseonmg atau sekelompok orang unnrk memilih pendapat para ahli
fikih
terdahulu mengenai maalah-masalah tenentu, sebagaimanalsrtt'lis
dalarn berbagaikitab fikih,
kemudian menyeleksi manayarg
lebih kuat dalilnya dan lebih relevan dengan kondisi kita sekarang.a2Kegatam
tolhyaag
dilakukan oleh ahlitofib
prda masasekarang berbeda dengan kegiatan tarjih pada kebangkitan kembali hukum Islam dan masa kernurduran hukumhlam. Tojb
padra periodeini
berarti menyeleksi hrbagai pendapat, dari mazhab apapun ia berasal, kemudian diambil pendapatyngrdih,yaqpaling
kuat, berdasarkan kriteria yang telah ditaapkan.Kemungkinan besar pendapat para ahli
fikih
terdahulu mengenai masalah yang sedang dipecahkanitu
berbeda-beda.Dalam hd ini
mujtahid
ttunqi'
betuges untuk mempenimbangkan dan menyelelsidalildalil juga
argumentasiargumentasidari
setiap pendapatitu,
kernudian memberikan preferensinp terhadap pendapat yang .li''ggap kuat dan&pat
diterima-Ada
beberapafaktor
yang harusdiperhatikan
olehmujtahid traatqi'.
Diarrara faktor-falrtoriq
yang terpenting adalah perubahan sosial-budaya,kemajuan ilmu
pengetahuandan teknologi
dan kaesuaian dengan nr-orutan zaman. Faktor-faktorini &pat
dijadikanbahan pertimbangan ketika menyelesaikan
kasusyang
sedang ditetapkan hukumnya- Jadi dalam pel eksaruaniitiled
i",tiqatdiperlulsn
analisis yang cernratterha&p
masalah yang sedangdi kaji.
Analisis tidak terbatas padadalildalil
dan argumentasi yang dikemukakan para ahlifikih
terdahulu" melainkan juga harus melihat relerensinla rrnnk
masa sekarang
ini.
''PergelompoLao iitihad ini dikernukakn oleh Y:nsuf .lQar€c/i dalam lnzboy* al-
idbd
f
al-Sln;'dh al-lsLin bdt nab fktab Td>.Eliyyhf allfihnl d-fat i5t $rtrratr Dar aL Qdam, 1985), hal. l1tl17.abi.l, h, 125.
84
N-Manihii,
Vo l. 1 No. 1 Jauari-J mi 2@7Tren ljtihad Kontemporer
A&pnn
yang dimaksud deogen qtihaddZi
adalah usahaunnrk
menetapkan kesimpulan
hukum
mengenai perisdwa-peristiwa baru yang belum diselesaikan oleh para ablifikih terdahulu'r
Ddam ijtihad ini diperlukan pernahamur yangmenpluruh
terhadap kasus-kasus barupng
akan ditetapkanhukumnp-
Tanpa mengetahui secara baik apa dan bagaimana kasus yang barrrrtl nrlit
bagimuiuhid nuadi'\rfik
dapat menempkan
hukumnp
denganbaik
dan benar. Jadiddam
menghadapi persoalan yang sama sekali baru, diperlukan pengaahuan mengenei rnavlah yurg sedarg dibahas, disamping pengetahuan yang menjadi perqrantan ijtihaditu
sendiri.Ddam
hubungan lur.'t, iitihadinnd
mudak diperlukan. Karena keterbatasan pengetahrun seseorang disenai semakin ketatnya disiplinilmu
pada masa sekarangini,
rnaka qah;d@
mengerni kastrs yangsama
sekali ban:, kemungkinan
besarakan
membawa kepada kekelinun- Sebagai contoh tentarg peocaagkokan jaringan organ tubuh manusia- Guna menaapkan hukumnya, perlu didengar lebih dahulu atrli bidang kedokteran, setelahtu
dibahas dari disiplioilrnu
agama untuk kemudian diambil kesinpulenDalam
ijtihad ir&Zi
juge diperlukan pemahaman yang baik tentang metode penetapanhukum.
Ada beberapa metode yang telah dikemukakan oleh para ahli ushulfikih
terdahuluDi
antara metodeitu
addah{ryas, i*ihva istish;h i$d;h,
danvdd
al-dzzfi olr,jW^
pengetahuan
tentarg tuiuan
disyariatkanhukum
Islam(nqsid
al-ffi.'ah), *bab pa&
dasarnya semua metode penetapanhukum
Islam bermuara padahd
tersebrr.G. Penutup
Ijtihad
masa sekarang adalah sebuah kemestian dalam rangka mencari solusi setiap masalah hukum kontemporer yang pasti berkem- bang seiring perkembangan masyaralorMujuhid
masa kini diharuskan'tbi.l, hi.l26.
N-i|d^a^i}
VoL 1No. l Jotwi-Joti2@7 85Suponi
melakukan interpretasi ulang terhadap hasil i.itihad (fikih) ulama masa
lalu
yang sudahkurang
relevan dengan situasi dankondisi untuk
dicarikanalternatif
baru yanglebih
sesuai kebutuhan, situasi dan kondisi masakini.
Jika kasushukum itu
sudah pernah dibahas oleh ulama-ulama terdahuha maka mujtahid masakini
bisameld<*n tafih untuk
mendapatkanpen&pat
yangterkuat
daltlnya(ijtilnd imry\.
Namun
jika
kasus hukumitu
sama sekali belum dibahas oleh ulama- ulama terdahultq mujtahid masakini
harus menggdi dan menemukan jawabanhukumnya
xcarajnni'i ftolektif) - jika tidak mungkin
dilakukan iirihadfui - dengntetap
menggunakan metode usulfftih
yang zudah ada dan relevan.
DAFTAR PUSTAI(A
Abn
Dawud
SnaT AENlDd,
4 Juz Tp.: Dar al-Fikr, t.t.eb[
Zahn]u Mutammadal-Ildth w al-ttu@nz
Beirut: Dar d-Kitab al-'Arabi 1993.Adnan Anul, Taufflc
ldandanTata4ott&tnitc
hudiazsPaniba*Ifun
Falttr
Rhrut.
Bandung: Mizan, 194.Amin Suma Muharnmad Pogdildr
T$i Al*itl
Jakarta : Raja Grafindo Persada,2@1.Baso, A.hnud 'Melanan Tekarun
fuama
Wacana Baru Pernftian Fikih NU,dalam Jamal D. Rahmaq
ai.
ttla:aubt
Fihihbsial
70 TdlaarIQf
Ali Y{r.
Bard,rng: Mi'zzn 19P7.Al-Bt6,
Mulammad Sid RarnadarD.auk
al-Ma:lfuahfi
ll-Slufr'dh dl-Isfirniyh
Beinrt: Mu'assasah al-Risala}, 2000.Djemil,
p1[r*rrlrrr-. fil$at
Hxbon Nzr^ Jakana: logos, 1999.Efendi, Satria "Ijtihad Sepanjang Sejarah Hukum Islam: memposisikan K.H.
Ali Yafie," dalam Jarul D. Raknan,
aal.
Wcaubu
Fihihfuial
70Tdliln KH.
AliY4E
Bandung: Mizan, 1D7.Al-Ghazifi, Abu \$nnd- Al-M*sus$ min llm al-Us.:ul2
jilid
Beirue Dar d-Kutub al-'Ilmi1yah, 1983.
86
N-Manihij,
Uol. 1 No. 1 Jouari-Juni 2@7Tren ljtihad Kontemporer tLmadah,'AbbasMutawal[ Al-Snilahal-I,hbutyybuy
Mahaa]nfi alTffi'.
IGiro: Dar alQawmillzh,
t.r
Flarcen, Nasnrn. Ushal Fikih, 2 jfid"Jakarta Logos, 196.
Hosen, Ibrahim. "Jenis-Jenis Hukuman dalam
Hukum
Pidana Islam:Reinmpraasi Terhadap Pelaksanaan Aruran)," d^lem Jrmrl p.
(x[6s4
a-zl.lVaraakru
FihihkxiA
70 Tdhiln KH.AliY{c.Bndung:ly\221,
1997.
IbnRrxhd. Ikliyah al-iaujuhid un l,lihrryah al-Mqtasd *rnarent: Thoha Putra, LL
Irnaq
Mubrmmad Kamal al-Din. NaTariyyh al-Fifif al-Ilin
Beiruc al-fami'ah al-Islsndarifyab 1998 M.
Khall-af, 'Abd d-Ifahhib. Masdlir
dl-Tffi' alls6
fi.nali
nas.Szfh Klsra;n:Dat alQal,,-,
7972.Al-Khauh 'Aiiaj.
I
l-9a1nahfbk
aLTAfuL Beinn Dar d-Fikr, 1993.Mahfrrdz, Sahal .
N*ura
F*ihbial.
YogyzJe,zrw, LKiS, 194.Yahp Mukhtardan FatchxraL:El,Io-
Dawdaw PanliruotlfuhonfrHhldani
Bandung : Al-Ma'arif, 193.
MtA;r\
S6ihMr$lirrl Bandr:ng: Shirkah al-Ma'-arif li al-Tab'wa al-Nashr, t.t.Nasudon, Flarun 'Dasar Pecrikiran Pemtnharuan .{J^'n
IsI &"
delam M.Yrrnan Yusuf,
aal,
(eds),Ctabtctaf'hfn f,rraffir.lrk
rt:uP.rsrak^Paniimas, 1985.
-.
"Ijrihad Sumber Ketiga Ajaran Islam" dalam Jdaludin Rahmat (e&), QdM
tulan bdat.
Bendung Mize4 1988.Al-Qardawi, fusuf, dl-iidhA$
algbi'ah alltitrigtil
truh lVaph TdUilbydhf al-Ijtilutl al-Mafuiz Kuwait: Dar alQalarL 1985.ALQurfiubi, Sununto. KH. Mr4.
thal
Mahfiidz Erafuru
Fikih Indonaiz.Y%)akare Cermin, 1999.
Al-IG'in, Musgrfa Sa\d. Atlar
allkkiL;ffi dl{buad
dl-Utrliryhfilkhilnf d-
FryJi. Kiro:
},./;u'ass,s2h al-Ris,leh, 1982.Schrhq Joseph-
l
nlntrfuiminlCartLau.
I-ondon: Ordqd at the Clarrendon Press, 1971.N-Manahij,
VoL 1No. 1 JauariJuni2@7 87Supani
Alsryrr.fr.
Wi dlljtiW.
lvlatloh aLMukarrarnah Malcabah+Tifur[
1982.
AlSyalabiMusufa.
Uil
dl-Fid,dl-lsd.
Beitu: Dar aLNahdah d-'e"rU:ryAt1985.
Syadfrddin, Anir. Uslill
frkih,2lilt Jakfi:ulogos
\hcanaflmr!
1999.Al-ShaoH, Abu Ishaq.
Al-Mnofutfi
Upilal-W:ah.
Beirut: Dar d-Kutub d-'ILniyfah, t.t.Al-Shaukan, tvtubammad ibn 'AIi ibn Muhammad
b*d al-tul.it
Bei:.r,:Dar alFikr, t.t.
ALTtr- i, fuun At-Tnn
b75jlid Bcint
Dar alFikr,ru
N-Z$ay[,T//ah}rh- Al-Wdtf U$l al-fiil.
p?me<[rr<; al-Mafba' ah al-'Ilmiyrilq
1%9.88