• Tidak ada hasil yang ditemukan

KATA PENGANTAR. Drs. T. Samsuar, M.Si Nip Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KATA PENGANTAR. Drs. T. Samsuar, M.Si Nip Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)

KATA PENGANTAR

uji dan Syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga kami dapat menyelesaikan Penyusunan Buku Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012.

Salawat dan Salam kita persembahkan pula kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, yang telah menuntun kita dari Alam Jahiliah ke Alam yang penuh dengan Ilmu Pengetahuan.

Dengan adanya Penyusunan Buku Profil Kependudukan Kota Banda Aceh 2012 diharapkan dapat memberikan gambaran keadaan kependudukan kota Banda Aceh dalam kurun waktu tahun 2012, dan diharapkan pula agar dapat menjadi sumber data bagi yang membutuhkan dalam rangka penyusunan Perencanaan Pembangunan dan Pengambilan Kebijakan secara umum untuk Kota Banda Aceh khususnya mengenai gambaran tentang kondisi kependudukan di Kota Banda Aceh yang meliputi kuantitas, mobilitas dan persebaran penduduk.

Kami menyadari bahwa dalam Penyusunan Buku Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 masih terdapat kekurangan dan kelemahan baik dalam data maupun bahasa, maka kami sangat mengharapkan masukan, kritik dan saran yang positif untuk kesempurnaan penyusunan pada waktu yang akan datang.

Banda Aceh, April 2013

Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Banda Aceh

Drs. T. Samsuar, M.Si Nip. 19660327198631003

P

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 1

(2)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

onstitusi mengamanatkan, bahwa negara berkewajiban memberikan pengakuan, jaminan perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum kepada penduduknya. Disamping itu, negara juga berkewajiban memberikan kesejahteraan kepada penduduk, serta memfasilitasi hak pen-duduk untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi bagi pengembangan diri dan lingkungan sosialnya.

Isu kependudukan adalah isu yang sangat strategis dan bersifat lintas sektor. Oleh karena itu, pengintegrasian berbagai aspek kependudukan ke dalam perencanaan pembangunan dan bagaimana pembangunan kependudukan itu bisa dicapai, akan menjadi pekerjaan besar yang harus diwujudkan. Dalam hal ini, upaya mewujudkan keterkaitan perkembangan kependudukan, sebagai wujud dinamika penduduk dengan berbagai kebijakan pembangunan menjadi prioritas penting agar kedepan nanti pengelolaan per- kembangan kependudukan dapat mewujudkan kese- imbangan yang serasi antara kuantitas dan kualitas pen- duduk, pengarahan mobilitas penduduk dan penataan per- sebarannya yang didukung oleh upaya-upaya perlindungan dan pemberdayaan penduduk, peningkatan pemahaman serta pengetahuan tentang wawasan kependudukan bahkan sejak usia dini

Di lain pihak tingkat pemahaman atau kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil sebagai salah satu upaya jaminan

K

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 2

(3)

perlindungan negara terhadap penduduk ternyata masih rendah. Selain pen-catatan peristiwa kelahiran, proporsi penduduk yang men-daftarkan dan mencatatkan kejadian vital (kawin, cerai, mati, pengangkatan anak, pengakuan dan pengesahan anak, serta pewarganegaraan) maupun perubahan status kependudukan lainnya (seperti perubahan alamat, nama,) ternyata masih relatif rendah. Hal ini menunjukkan tidak tertibnya penduduk Indonesia dalam pemilikan dokumen kependudukan, yang pada akhirnya berdampak pada rendahnya kualitas data informasi kependudukan.

Sementara itu, pelayanan pencatatan perkawinan atau perceraian penduduk yang beragama Islam di KUA atau Pengadilan Agama (Departemen Agama), pelayanan keimigrasian di Kantor Imigrasi oleh Departemen Kehakiman dan HAM; pelayanan Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK) dan Akta Catatan Sipil di masing-masing daerah kabupaten/ kota (Departemen Dalam Negeri) belum seluruhnya terkoneksi (pertukaran data) antar pelayanan tersebut. Pada akhirnya data penduduk yang akurat, mutakhir & lengkap melalui data basis penduduk nasional belum tersedia dengan sempurna. Tuntutan tersedianya data penduduk yang akurat, mutakhir dan lengkap telah diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) Tahun 2000 – 2004.

Disadari data kependudukan memegang peranan penting dalam menentukan kebijakan, perencanaan pembangunan, dan evaluasi hasil-hasil pembangunan, baik bagi Pemerintah mau-pun pihak lain termasuk dunia usaha. Oleh karena itu keter-sediaan data perkembangan kependudukan sampai tingkat lapangan menjadi faktor kunci keberhasilan

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 3

(4)

pelaksanaan program - program kependudukan. Untuk itu pengembangan sistem informasi kependudukan yang bisa diakses dan dimanfaatkan oleh berbagai pihak yang berkepentingan untuk tujuan intervensi yang berbeda-beda merupakan kebutuhan utama untuk segera diaplikasikan, sehingga makin lengkap dan akurat data kependudukan yang tersedia, maka akan semakin mudah dan tepat perencanaan dan pelaksanaan pembangunan dilaksanakan.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, menegaskan bahwa dalam pe-rencanaan pembangunan daerah harus didasarkan pada data dan informasi yang akurat dan dapat dipertanggung jawabkan, baik yang menyangkut masalah kependudukan, masalah potensi sumber daya daerah maupun informasi tentang kewilayahan lainnya.

Selain itu, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan yang mengamanatkan bahwa data penduduk yang dihasilkan oleh Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) dan tersimpan didalam database kepen-dudukan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan perumusan kebijakan dibidang pemerintahan dan pembangunan.

Untuk memenuhi kebutuhan informasi kependudukan ini perlu disusun dalam bentuk Profil Perkembangan Kepen- dudukan yang disajikan secara berkelanjutan. Penyusunan Profil Perkembangan Kependudukan ini diharapkan dapat memberikan gambaran kondisi kependudukan di Kota Banda Aceh dan prediksi prospek kependudukan dimasa yang akan datang. Disisi lain penyusunan Profil Perkembangan Kepen- dudukan ini merupakan wujud pemanfaatan data kepen- dudukan yang tersebar diberbagai instansi.

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 4

(5)

Data dan informasi kependudukan yang diperlukan dalam penyusunan Profil Perkembangan Kependudukan bersumber dari hasil registrasi penduduk yang bersumber dari hasil pelayanan pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil yang merupakan salah satu subtansi dalam Undang - Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan. Elemen data hasil registrasi kependudukan yang dipergunakan dalam penyusunan profil perkembangan kependudukan meliputi data yang berhubungan dengan variable kuantitas dan kualitas penduduk, dan variable mobilitas penduduk.

Kerangka pikir penyusunan profil perkembangan kepen- dudukan ini mencakup lima hal pokok yaitu antara lain :

1. Menyajikan perkembangan profil secara kuantitatif sehingga tampak jelas apa yang sudah berlangsung;

2. Mengidentifikasi kelompok atau segmen kependudukan yang membutuhkan perhatian khusus dan upaya-upaya yang diperlukan sehingga berkualitas;

3. Dari point 1 dan 2 teridentifikasi potensi penduduk yang dapat dijadikan asset pembangunan daerah dan nasional;

4. Mengkoordinasikan, melakukan bimbingan teknis dengan instansi terkait untuk memperoleh kesepakatan dan kesepahaman dalam penyusunan dan pemanfaatannya;

5. Mendorong percepatan terwujudnya database penduduk dan analisa untuk pembangunan daerah.

B. Tujuan

Menyajikan profil perkembangan penduduk kota Banda Aceh Tahun 2012 sebagai salah satu informasi untuk dijadikan bahan perencanaan dan evaluasi hasil-hasil pembangunan.

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 5

(6)

C. Ruang Lingkup

1. Kuantitas penduduk, meliputi komposisi dan persebaran penduduk;

2. Kualitas penduduk meliputi kesehatan, pendidikan, ekonomi dan sosial;

3. Mobilitas penduduk meliputi mobilitas permanen, mobilitas non permanen dan urbanisasi

4. Kepemilikan dokumen kependudukan.

D. Pengertian Umum Terhadap Istilah

1. Penduduk adalah Warga Negara Indonesia dan Warga Negara Asing yang termasuk secara sah serta bertempat tinggal di Wilayah Indonesia sesuai dengan peraturan (Undang - Undang Nomor 10 Tahun 1992);

2. Administrasi Kependudukan adalah rangkaian kegiatan penataan dan penerbitan dalam penerbitan dokumen dan data kependudukan melalui pendaftaran penduduk, pen- catatan sipil, pengelolaan informasi administrasi kepen- dudukan serta pendayagunaan hal lainnya untuk pela- yanan publik dan pembangunan sektor lain (Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2006);

3. Data Kependudukan adalah data perorangan atau data agregat yang terstruktur sebagai hasil dari kegiatan pen- daftaran penduduk dan pencatatan sipil (Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006);

4. Kuantitas Penduduk adalah jumlah penduduk akibat dari perbedaan antara jumlah penduduk yang lahir, mati dan pindah tempat tinggal (Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992)

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 6

(7)

5. Kualitas Penduduk adalah kondisi penduduk dalam aspek fisik dan non fisik serta ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang merupakan dasar untuk mengembangkan kemampuan dan menikmati kehidupan sebagai manusia yang berbudaya, berkepribadian dan layak (Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992);

6. Mobilitas Penduduk adalah gerak keruangan penduduk dengan melewati batas administrasi Daerah Tingkat II (Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992);

7. Profil Perkembangan Penduduk adalah kumpulan data dan informasi tentang perkembangan kependudukan dalam bentuk tertulis, yang mencakup segala kegiatan yang berhubungan dengan perubahan keadaan penduduk yang meliputi kuantitas, kualitas dan mobilitas yang mempunyai pengaruh terhadap pembangunan dan lingkungan hidup;

8. Persebaran Penduduk adalah kondisi sebaran penduduk secara keruangan (Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992);

9. Peristiwa Kependudukan adalah kondisi sebaran penduduk secara keruangan (Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992);

10. Peristiwa Penting adalah kejadian yang dialami oleh seseorang meliputi kelahiran, kematian, lahir mati, perkawinan, perceraian, pengakuan anak, pengesahan anak, pengangkatan anak, perubahan nama dan perubahan status kewarganegaraan (Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006);

11. Kematian atau mortalitas menurut WHO adalah suatu peristiwa menghilangnya semua tanda-tanda kehidupan

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 7

(8)

secara permanen yang bias terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup (Biro Pusat Statistic);

12. Ratio Jenis Kelamin adalah suatu angka menunjukan perbandingan jenis kelamin antara banyaknya penduduk laki-laki dan penduduk perempuan disuatu daerah pada waktu tertentu;

13. Perkembangan Kependudukan adalah segala kegiatan yg berhubungan dengan perubahan keadaan penduduk yang meliputi kuantitas, kualitas dan mobilitas yang mempunyai pengaruh terhadap pembangunan dan lingkungan hidup (Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992);

14. Mobilitas Penduduk Permanen (Migrasi) adalah per- pindahan penduduk dengan tujuan untuk menetap dari suatu tempat ke tempat lain melewati batas administratif (migrasi internal) atau batas politik/negara (migrasi internasional);

15. Mobilitas Penduduk Non Permanen (Circucaltion/

Sirkuler) adalah perpindahan penduduk dengan tujuan untuk tidak menetap dari suatu tempat ke tempat lain melewati batas administratif. Mobilitas penduduk non permanen dibagi menjadi dua yaitu ulang-alik (commuting) dan menginap/mondok.

16. Penduduk Musiman merupakan salah satu jenis obilitas penduduk non permanen yang bekerja tidak pada daerah domisilinya dan menetap dalam kurun waktu lebih dari satu hari tetapi kurang dari satu tahun dan dilakukan secara berulang;

17. Mobilitas Penduduk Ulang - Alik (Commuting) adalah gerak penduduk dari daerah asal ke daerah tujuan dalam

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 8

(9)

batas waktu tertentu dan kembali ke daerah asal pada hari yang sama;

18. Migrasi Kembali (Return Migration) adalah banyaknya penduduk yang pada waktu diadakan pendataan bertempat tinggal di daerah yang sama dengan tempat lahir & pernah bertempat tinggal di daerah yang berbeda;

19. Migrasi Semasa Hidup (Life Time Migration) adalah bentuk migrasi dimana pada waktu diadakan pendataan tempat tinggal sekarang berbeda dengan tempat kelahiran-nya;

20. Migrasi Risen (Rencent Migration) adalah bentuk migrasi melewati batas wilayah administratsi (desa/kec/kab/ provinsi) dimana pada waktu diadakan pendataan bertempat tinggal didaerah yang berbeda dengan tempat tinggal lima tahun yang lalu.

21. Transmigrasi adalah perpindahan penduduk secara suka-rela untuk meningkatkan kesejahteraan dan menetap di wilayah pengembangan transmigrasi atau lokasi per-mukiman transmigrasi.

22. Urbanisasi adalah suatu proses bertambahnya konsentrasi penduduk di perkotaan dan atau proses perubahan suatu daerah perdesaan menjadi perkiraan, baik secara fisik mau-pun ukuran-ukuran spasial atau bertambahnya fasilitas perkotaan, serta lembaga-lembaga sosial, maupun perilaku masyarakatnya.

23. Penduduk Usia Kerja adalah penduduk yang berusia 15 tahun sampai dengan 64 tahun.

24. Angka Partisipasi Angkatan Kerja adalah proporsi angkatan kerja terhadap penduduk usia kerja.

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 9

(10)

25. Pengangguran adalah Orang yang termasuk angkatan kerja, namun pada saat pendataan/survey atau sensus tidak bekerja dan sedang mencari kerja.

26. Angka Pengangguran adalah proporsi jumlah pengang- guran terhadap angkatan kerja.

27. Bukan Angkatan Kerja adalah penduduk usia 15 tahun kebawah dan penduduk berusia 64 tahun keatas.

28. Lahir Hidup dan Lahir Mati

a. Lahir Hidup adalah suatu kelahiran bayi tanpa memperhitungkan lamanya didalam kandungan, dimana si bayi menunjukan tanda-tanda kehidupan pada saat dilahirkan, misalnya ada nafas, ada denyut jantung atau denyut tali pusar atau gerakan otot.

b. Lahir Mati adalah kelahiran seorang bayi dari kandungan yang berumur paling sedikit 28 minggu tanpa menunjukan tanda-tanda kehidupan pada saat dilahirkan.

29. Angka Kelahiran Total (Total Fertility Rate/TFR) adalah rata-rata banyaknya anak yang akan dimiliki oleh seorang wanita pada masa reproduksinya jika ia mengikuti pola fertilitas pada saat TFR dihitung.

30. Angka Kematian Bayi Baru Lahir adalah banyaknya kematian baru lahir, usia kurang dari satu bulan (0-28) hari pada suatu periode per 1.000 kelahiran hidup pada pertengahan periode yang sama.

31. Angka Kematian Bayi Lepas Baru Lahir adalah Banyaknya kematian bayi lepas baru lahir (usia 1-11 bulan) pada suatu periode per 1.000 kelahiran hidup pada pertengahan periode yang sama.

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 10

(11)

32. Angka Kematian Bayi / IMR adalah banyaknya kematian bayi usia kurang dari satu tahun (9-11 butan) pada suatu periode per 1.000 kelahiran hidup pada pertengahan perode yang sama.

33. Angka Kematian Ibu/MMR adalah banyaknya kematian ibu pada waktu hamil atau selama 42 hari sejak terminasi kehamilan per 100.000 kelahiran hidup, tanpa memandang lama dan tempat kelahiran yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya.

34. Angka Kematian Kasar adalah banyaknya kematian yang terjadi pada suatu tahun tertentu untuk setiap 1000 penduduk.

35. Pengeluaran Untuk Makanan adalah proporsi pengeluaran yang dipergunakan untuk mengkonsumsi makanan di-bandingkan dengan total pengeluaran (makanan dan bukan makanan).

36. Penduduk Melek Huruf adalah penduduk yang berusia 15 tahun keatas yang tetah bebas dari tiga buta, yaitu buta aksara, buta Latin, dan buta angka, buta bahasa Indonesia dan buta pengalaman dasar.

37. Buta Huruf adalah penduduk yang berusia 15 tahun keatas yang betum bebas dari tiga buta, yaitu buta aksara, Latin d angka, buta bahasa Indonesia dan buta pengataman dasar.

38. Angka Partisipasi Total adalah proporsi penduduk bersekolah menurut golongan umur sekolah yaitu umur 7-12,13-15,16-18, dan 19-24 tahun.

39. Angka Partisipasi Murni/APM adalah presentase jumlah peserta didik SD usia 7-12 tahun, jumlah peserta didik SLTP usia 13-15 tahun, jumtah peserta didik SLTA usia

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 11

(12)

16-18 tahun dan jumlah peserta didik PTN/PTS usia 19- 24 tahun dibagi jumah penduduk kelompok usia dari masing-masing jenjang pendidikan.

40. Angka Partisipasi Kasar /APK adalah rasio jumlah siswa, berapapun usianya, yang sedang sekolah di tingkat pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tertentu.

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 12

(13)

BAB II

GAMBARAN UMUM KOTA BANDA ACEH 2.1 Letak Geografis

Letak geografis Kota Banda Aceh antara 05030’ – 05035’

LU dan 95030’ – 99016’ BT. Tinggi rata-rata 0,80 meter di atas permukaan laut, dengan luas wilayah 61,36 km2. Batas-batas wilayah Kota Banda Aceh adalah sebagai berikut:

Utara : Selat Malaka

Selatan : Kecamatan Darul Imarah & Kecamatan Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar

Barat : Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar Timur : Kecamatan Barona Jaya & Kecamatan Darussalam,

Kabupaten Aceh Besar

Adapun wilayah administrasi Kota Banda Aceh meliputi 9 kecamatan, 70 desa dan 20 kelurahan dengan pembagian tiap kecamatan seperti pada Gambar 2.1 berikut ini.

Gambar 2.1

Batas Administrasi Kota Banda Aceh

Sumber : Master plan NAD-NIAS Lampiran 2 & 4

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 13

(14)

Luas dan persentase untuk tiap kecamatan dapat dilihat pada Tabel 2.1 berikut ini:

Tabel 2.1

Luas & Persentase Wilayah Kecamatan di Banda Aceh

No Kecamatan Luas

( km² ) Persentase ( % )

1. Meuraxa 7,258 11,83

2. Baiturrahman 4,539 7,40

3. Kuta Alam 10,047 16,37

4. Syiah Kuala 14,244 23,21

5. Ulee Kareng 6,150 10,02

6. Banda Raya 4,789 7,80

7. Kuta Raja 5,211 8,49

8. Lueng Bata 5,341 8,70

9. Jaya Baru 3,780 6,16

Jumlah 61,359 100,00

Sumber : Banda Aceh Dalam Angka, 2012 2.1.1 Kondisi Geomorfologi

Secara umum geomorfologi wilayah Kota Banda Aceh terletak di atas formasi batuan vulkanis tertier (sekitar Gunung Seulawah dan Pulau Breueh), formasi batuan sedimen, formasi endapan batu (disepanjang Kr. Aceh), formasi batuan kapur (dibagian timur), formasi batuan vulkanis tua terlipat (dibagian selatan), formasi batuan sedimen terlipat dan formasi batuan dalam.

Geomorfologi daerah pesisir Kota Banda Aceh secara garis besar dibagi menjadi:

1. Dataran terdapat di pesisir pantai utara dari Kecamatan Kuta Alam hingga sebagian Kecamatan Kuta Raja

2. Pesisir pantai wilayah barat di sebagian Kecamatan Meuraxa.

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 14

(15)

Sedangkan daerah yang termasuk pedataran sampai dengan elevasi ketinggian 0 hingga lebih dari 10 m, kemiringan lereng 0–2 % terletak antara muara-muara sungai dan perbukitan.

Daerah pedataran di pesisir Kota Banda Aceh secara umum terbentuk dari endapan sistem marin yang merupakan satuan unit yang berasal dari bahan endapan (aluvial) marin yang terdiri dari pasir, lumpur dan krikil. Kelompok ini dijumpai di dataran pantai yang memanjang sejajar dengan garis pantai dan berupa jalur-jalur beting pasir resen dan subresen. Beting pasir resen berada paling dekat dengan laut dan selalu mendapat tambahan baru yang berupa endapan pasir, sedangkan beting pasir subresen dibentuk oleh bahan- bahan yang berupa endapan pasir tua, endapan sungai, dan bahan-bahan aluvial/koluvial dari daerah sekitarnya.

2.1.2 Kondisi Geologi

Pulau Sumatera dilalui oleh patahan aktif Sesar Semangko yang memanjang dari Banda Aceh hingga Lampung. Patahan ini bergeser sekitar 11 cm/tahun dan merupakan daerah rawan gempa dan longsor.

Pada Gambar 2.2 di bawah ini, menunjukkan bahwa Kota Banda Aceh diapit oleh dua patahan di Barat dan Timur kota, yaitu patahan Darul Imarah dan Darussalam, sehingga Banda Aceh adalah suatu daratan hasil ambalasan sejak Pilosen membentuk suatu Graben. Ini menunjukkan ruas-ruas patahan Semangko di Pulau Sumatera dan kedudukannya terhadap Kota Banda Aceh, dan kedua patahan yang merupakan sesar aktif tersebut diperkirakan bertemu pada pegunungan di sebelah Tenggara, sehingga dataran Banda Aceh merupakan batuan sedimen yang berpengaruh kuat apabila terjadi gempa di sekitarnya.

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 15

(16)

Gambar 2.2

Struktur Patahan Semangko

Sumber: URRP Banda Aceh City, JICA Study Team, Lampiran 4 2.1.3 Kondisi Topografi

Secara geologi Kota Banda Aceh merupakan dataran rawan banjir dari luapan Sungai Krueng Aceh dan 70%

wilayahnya berada pada ketinggian kurang dari 10 meter dari permukaan laut. Ke arah hulu dataran ini menyempit dan bergelombang dengan ketinggian hingga 50 m di atas permukaan laut. Dataran ini diapit oleh perbukitan terjal di sebelah Barat dan Timur dengan ketinggian lebih dari 500 m, sehingga mirip kerucut dengan mulut menghadap ke laut.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2.3 berikut ini.

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 16

(17)

Gambar 2.3

Bentang Alam Kota Banda Aceh

Sumber: Master Plan NAD-NIAS Lampiran 2 & 4 2.1.4 Kondisi Klimatologi

Berdasarkan data yang diperoleh dari Stasiun Meteorologi Blang Bintang menunjukan bahwa Banda Aceh memiliki suhu udara rata-rata bulanan berkisar antara 25,50 C sampai 27,50 C dengan tekanan 1008 – 1012 milibar. Sedangkan untuk suhu terendah dan tertinggi bervariasi antara 18,00 C hingga 20,00 C dan 33,00 C hingga 37,00 C. Mengenai curah hujan menunjuk-kan bahwa curah hujan yang terjadi berkisar antara 1.039 mm sampai dengan 1.907 mm dengan curah hujan tahunan rata-rata 1.592 mm. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Maret, Oktober dan November, sedangkan curah hujan terendah terjadi pada bulan Agustus yaitu 20 – 21 hari dan terendah pada bulan Februari dan

Dataran banjir :

 Ketinggian ≤ 5 meter

 cenderung tergenang permanen

 drainase sulit

 air tanah &gkal &

payau Dataran:

 ketinggian 5 – 10m

 daerah hilir rawan banjir

 drainase sulit terutama pada daerah hilir

 air tanah sebagian payau

 bagian hulu bergelombang lemah Dataran Bergelombang:

dataran bergelombang k ti i 20 50

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 17

(18)

Maret dengan jumlah hari hujan hanya 2 – 7 hari. Namun keadaan ini dapat saja berubah dengan kondisi global warming saat ini.

Kelembaban udara di Kota Banda Aceh sangat bervariasi tergantung pada keadaan iklim pada umumnya. Kecepatan angin bertiup antara 2 – 28 knots. Grafik 2.1 di bawah ini mem-perlihatkan grafik perkembangan kondisi klimatologis Kota Banda Aceh selama setahun yang meliputi curah hujan rata-rata bulanan; suhu udara rata-rata; maksimum dan minimum; tingkat kelembaban relatif rata-rata; maksimum dan minimum; serta kecepatan angin rata-rata; maksimum dan minimum.

Grafik 2.1

Klimatologi Kota Banda Aceh

Sumber: URRP Banda Aceh City, JICA Study Team

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 18

(19)

2.1.5 Kondisi Hidrologi

Kota Banda Aceh dibelah oleh Krueng Aceh yang merupakan sungai terpanjang di kawasan Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar. Terdapat tujuh sungai yang melalui Kota Banda Aceh yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air (Catchment area), sumber air baku, kegiatan perikanan, dan sebagainya. Wilayah Kota Banda Aceh memiliki air tanah yang bersifat asin, payau dan tawar.

Daerah dengan air tanah asin terdapat pada bagian utara d timur kota sampai ke tengah kota. Air payau berada di bagian tengah kota membujur dari timur ke barat. Sedangkan wilayah yang memiliki air tanah tawar berada di bagian selatan kota membentang dari kecamatan Baiturrahman sampai kecamatan Meuraxa. Berikut pada Tabel 2.2, menjelaskan nama-nama sungai dan luas daerah resapannya.

Tabel 2.2

Nama-nama Sungai di Kota Banda Aceh

No Nama sungai Luas Daerah Resapan (km2)

1 Krueng Aceh 1712,00

2 Krueng Daroy 14,10

3 Krueng Doy 13,17

4 Krueng Neng 6,55

5 Krueng Lhueng Paga 18,25

6 Krueng Tanjung 30,42

7 Krueng Titi Panjang 7,80 Sumber: URRP Banda Aceh City, JICA

2.1.6 Litologi

Kondisi tanah yang umumnya terdapat di Kota Banda Aceh secara umum dan khususnya di daerah pesisir ini didominasi oleh jenis tanah Podzolik Merah Kuning (PMK) dan Regosol dengan tekstur tanah antara sedang sampai kasar.

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 19

(20)

Sebagai hasil erosi partikel-partikel tanah diendapkan melalui media air sungai atau aliran permukaan pada daerah rendah. Pada daerah pesisir terjadi endapan di tempat-tempat tertentu seperti Krueng Aceh dan anak-anak sungai lainnya, seperti pada belokan sungai bagian dalam. Hasil sedimentasi oleh aliran permukaan setempat dijumpai sebagai longgakan tanah pada bagian tertentu.

2.1.7 Penggunaan Lahan

Jenis penggunaan lahan di Kota Banda Aceh menurut wilayah Kecamatan diperlihatkan pada tabel 2.3 berikut.

Tabel 2.3

Luas Penggunaan Lahan Berdasarkan Kecamatan Di Kota Banda Aceh Tahun 2012

Kecamatan

Penggunaan Lahan (Ha)

Sawah Bangunan Tambak

Rawa Tidak Ditanam

Tambak Hutan Rakyat

Sementara Tidak Diusahak

an

Baiturrahman 0,0 377,0 0,0 0,0 2,0 0,0 0,0

Kuta Alam 0,0 550,0 119,0 80,0 129,0 0,0 100,0

Meuraxa 0,0 344,0 82,0 47,0 39,0 22,0 66,0

Syiah Kuala 2,0 442,0 288,0 0,0 0,0 186,0 130,0

Leung Bata 24,0 402,0 0,0 20,0 0,0 0,0 0,0

Kuta Raja 0,0 81,0 78,0 0,0 4,0 119,0 5,0

Banda Raya 25,0 159,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0

Jaya Baru 0,0 290,0 0,0 6,0 1,0 16,0 0,0

Ulee Kareng 71,0 226,0 0,0 0,0 2,0 0,0 5,0

122,0 2.911,0 563,0 153,0 177 362,0 306,0

Sumber : Banda Aceh Dalam Angka Tahun 2012

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 20

(21)

Berikut ini jumlah Gampong/Desa serta Kemukiman yang terdapat pada masing-masing Kecamatan :

Tabel 2.2

Nama Ibu Kota Kecamatan Dalam Kota Banda Aceh Tahun 2012

No Kecamatan Ibu Kota Jumlah

Kemukiman Jumlah Gampong 1

2 3 4 5 6 7 8 9

Meuraxa Jaya Baru Banda Raya Baiturrahaman

Lueng Bata Kuta Alam Kuta Raja Syiah Kuala Ulee Kareng

Ulee Lheue Lampoh Daya

Lamlagang Neusu Jaya Lueng Bata Bandar Baru

Keudah Lamgugob Ulee Kareng

2 2 2 2 1 2 1 3 2

16 9 10 10 9 11

6 10

9

Jumlah 17 90

Sumber : Banda Aceh Dalam Angka,Tahun 2012

Kota Banda Aceh yang memiliki luas wilayah hanya 61,36 km2 jarak tempuhnya dapat dilalui melalui transportasi darat baik antar kecamatan maupun antar desa dari masing- masing kecamatan. Jarak antara satu kecamatan dengan kecamatan lainnya tidak terlalu jauh, sebagaimana terlihat dalam tabel berikut ini :

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 21

(22)

Tabel. 2.3 .

Jarak Ibu Kota Kecamatan dengan Ibu Kota Banda Aceh Tahun 2012

No Kecamatan Ibu Kota Jarak (Km) 1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

Meuraxa Jaya Baru Banda Raya Baiturrahaman

Lueng Bata Kuta Alam

Kuta Raja Syiah Kuala Ulee Kareng

Ulee Lheue Lampoh Daya

Lamlagang Neusu Jaya Lueng Bata Bandar Baru

Keudah Lamgugob Ulee Kareng

5,0 2,5 1,5 0,6 3,5 1,5 1,0 8,0 5,0

2.7. Gambaran Ekonomi

Pada hakikatnya pembangunan ekonomi adalah serangkaian usaha dan kebijaksanaan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, memperluas lapangan kerja, meratakan pembagian pendapatan masyarakat, meningkatkan hubungan ekonomi regional. Dengan perkataan lain arah dari pembangunan ekonomi adalah mengusahakan agar pendapatan masyarakat naik. Hal ini dimaksudkan untuk mengusahakan peningkatan pendapatan masyarakat secara mantap & diikuti oleh tingkat pemerataan yang sebaik mungkin.

Untuk mengetahui tingkat dan pertumbuhan pendapatan masyarakat suatu wilayah tertentu perlu disajikan statistik pendapatan nasional/regional khususnya di bidang ekonomi secara berkala. Angka-angka pendapatan nasional/regional

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 22

(23)

dapat digunakan sebagai bahan evaluasi, analisis, dan perencanaan pembangunan nasional/regional khususnya di bidang ekonomi.

Pendapatan Daerah Regional Bruto (PDRB) pada dasarnya merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu daerah tertentu, atau merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi. PDRB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada setiap tahun, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa tersebut yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada satu tahun tertentu sebagai dasar untuk mengetahui total produksi barang dan jasa suatu daerah pada periode tertentu.

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 23

(24)

Pertumbuhan ekonomi kota Banda Aceh yang ditunjukkan oleh PDRB atas dasar harga konstan dapat dilihat pada tabel berikut.

Pendapat Regional & Angka Perkapital Atas Dasar Harga Konstan Kota Banda Aceh, 2009-2011

NO SEKTOR 2009 2010 2011

(1) (2) (3) (4) (5)

1. PDRB Atas Dasar

Harga Berlaku 2 885 686,85 3 057 074,06 3 241 173,56 (Juta Rupiah)

2 Penyusutan 52 234,35 53 279,04 54 344,62

(Juta Rupiah)

3 PDRB Netto Atas

Dasar Harga Berlaku 2 833 352,50 3 003 795,02 3 186 828,94 (Juta Rupiah)

4 Pajak Tak Langsung 115 723,43 118 037,90 120 398,66 (Juta Rupiah)

5 PDRB Netto Atas

Dasar Harga Faktor 2 717 629,07 2 885 757,12 3 066 430,28 (Juta Rupiah)

6 Jumlah Penduduk 214 291 223 446 228 562

(Juta Rupiah)

7 PDRB Perkapita 13 465,74 13 681,49 14 180,72 (Juta Rupiah)

8 Pendapatan Regional

Perkapita 12 681,96 12 914,79 13 416,19

(Juta Rupiah)

Sumber: Pusat Statistik Kota Banda Aceh

*) Angka Diperbaiki

**) Angka Sementara 2.8. Potensi Daerah

Geliat investasi di kota Banda Aceh saat ini sangatlah terasa. Faktor yang mempengaruhinya adalah perdamaian dan proses rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilakukan pasca Tsunami. Dua faktor ini yang membuat Aceh pada umumnya, dan kota Banda Aceh khususnya dilirik oleh banyak pihak. Kondisi ini tentu menjadi peluang yang baik untuk melakukan kegiatan investasi. Investasi merupakan

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 24

(25)

kegiatan ekonomi yang sangat penting dilakukan dalam menggerakkan roda ekonomi. Banda Aceh adalah suatu kota yang kondusif, baik secara situasi politik dan keamanan.

Dalam penelitian The Asia Foundations, tentang Daya Saing Investasi Kabupaten/Kota di Indonesia, 2005: Persepsi Dunia Usaha, menjelaskan bahwa dunia usaha melihat beberapa tingkatan variabel yang dapat mendorong dunia investasi. Diantaranya faktor keamanan, sosial politik dan budaya berada di rangking pertama (27%), kemudian disusul oleh ekonomi daerah (23%), ketersediaan tenaga kerja (18%), infrastruktur fisik (17%) & kelembagaan (15%).

2.9 Peluang Investasi Daerah.

Potensi daerah yang dimiliki Kota Banda Aceh sangat besar, namun potensi ini belum dimanfaatkan secara maksimal dan belum seluruhnya tergali untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan sumber pendapatan daerah.

Potensi yang sangat menonjol di Kota Banda Aceh adalah : 1. Jasa dan perdagangan

2. Perikanan dan kelautan 3. Pariwisata

4. Potensi sosial budaya

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 25

(26)

Untuk memudahkan para investor dalam pengurusan perizinan Pemerintah Kota Banda Aceh telah melakukan pelayanan terpadu satu atap sehingga lebih maksimal dalam memberikan pelayanan kepada publik. Selain daripada itu, untuk mendorong kegiatan investasi juga membutuhkan keputusan politik yang kuat dari pemerintah. Berikut beberapa langkah strategis dalam membangun dunia investasi yang dilakukan oleh pemerintah Kota Banda Aceh:

Memperkuat SDM lokal, Ini menjadi hal yang mesti diperhatikan secara serius, agar potensi lokal dapat diberdayakan dengan baik & tidak menjadi penonton di tanah sendiri.

One stop service, pelayanan satu pintu, Langkah stategis lainnya adalah yang telah dibentuk Pemerintah Kota Banda Aceh dengan memperkuat birokrasi dengan membentuk one stop service, karena ternyata pelayanan satu pintu ini adalah salah satu upaya untuk memberi kemudahan kepada pemilik modal.

Mengelola Inisiatif dan Kreatifitas Anak Muda, Investasi di kota Banda Aceh akan semakin baik apabila juga dilakukan langkah-langkah dengan mengelola inisiatif anak-anak muda kota Banda Aceh. Adanya kreatifitas anak-anak muda kota Banda Aceh ini tentu menjadi investasi sumber daya dalam jangka panjang. Selain itu juga investasi yang baik selain membangun kebijakan yang adil dan kuat seperti memproteksi kepentingan lokal serta memberi kenyamanan kepada investor asing. Yang tidak boleh dilupakan adalah, kegiatan investasi mesti memiliki sensitifitas terhadap kearifan lokal.

Arah investasi yang jelas, Pola seperti apa yang akan dilakukan dalam jangka pendek, seperti kemungkinan

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 26

(27)

mengambil konsep investasi padat karya, ini yang coba untuk diperjelas. Padat karya itu adalah strategi untuk mengentaskan kemiskinan. Investasi yang baik adalah dengan kompetitif, dimana semua peluang dibuka, sehingga persaingan pun terbuka dan sehat.

Memberikan Pendampingan kepada Industri Rumah Tangga, untuk memperkuat Industri Rumah Tangga, maka harus dilakukan pendampingan dari pemerintah sehingga kegiatan produksi akan sesuai dengan standar pasar & kuota pun bisa terpenuhi secara berkelanjutan.

Dengan adanya langkah-langkah strategis yang sudah dilakukan oleh Pemerintah Kota Banda Aceh ini diharapkan minat investor untuk menanamkan investasinya di kota ini semakin meningkat.

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 27

(28)

BAB III

KUANTITAS PENDUDUK 3.1. Persebaran Penduduk

ersebaran penduduk Kota Banda Aceh dengan luas wilayah 61,36 Km² ttidaklah merata, terutama pasca terjadinya musibah tsunami pada tahun 2004, dimana banyak penduduk yang sebelumnya bertempat tinggal dipesisir pantai pindah ke wilayah atau kecamatan- kecamatan yang berada di wilayah yang jauh dari pantai.

Saat ini Banda Aceh didiami oleh penduduk dengan jumlah 256.147 jiwa yang tersebar di 9 (sembilan) kecamatan yaitu Kecamatan Baiturrahman, Kecamatan Kuta alam, Kecamatan Meuraxa, Kecamatan Syiah kuala, Kecamatan Lueng bata, Kecamatan Kuta raja, Kecamatan Banda raya, Kecamatan Jaya Baru dan Kecamatan Ulee kareng. Dari ke 9 Kecamatan yang ada, Kecamatan Kuta Alam merupakan kecamatan yang paling banyak dihuni oleh penduduk yaitu sebesar 50.411 jiwa dengan luas wilayah 10,05 Km² yang merupakan kecamatan terluas kedua setelah Kecamatan Syiah Kuala yaitu 14,24 Km². Sedangkan jumlah penduduk terkecil berada di Kecamatan Kuta Raja dengan jumlah penduduk 12.383 jiwa, dengan luas wilayah 5,21 Km² yang merupakan wilayah terkecil ke 4 dari 9 kecamatan yang ada. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada pada tabel berikut :

P

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 28

(29)

Tabel 3.1

Luas Wilayah & Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan No Kecamatan Luas (km²) Jumlah Penduduk

1 Baiturrahman 4,54 36.857

2 Kuta Alam 10,05 50.411

3 Meuraxa 7,26 19.585

4 Syiah Kuala 14,24 36.216

5 Lueng Bata 5,34 25.553

6 Kuta Raja 5,21 12.383

7 Banda Raya 4,79 23.630

8 Jaya Baru 3,78 26.177

9 Ulee Kareng 6,15 25.335

Jumlah 61,359 256.147

Sumber : Disdukcapil Kota Banda Aceh

Komposisi Penduduk Menurut Karakteristik Demografi A. Kepadatan Penduduk

Jika pada banyak kota–kota lain di propinsi Aceh jumlah penduduk perempuan mendiminasi jumlah penduduk laki- laki, maka penduduk di kota Banda Aceh lebih di dominsi oleh penduduk dengan jenis kelamin laki-laki. Seperti yang terlihat pada tabel 3.2 memperlihatkan kepadatan penduduk di Kota Banda Aceh di setiap kecamatan.

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 29

(30)

Tabel 3.2

Tabel Kepadatan Penduduk (Population Density) Kota Banda Aceh Tahun 2012

No Kecamatan Luas (km²) Jumlah

KK Jumlah Penduduk Kepadatan

Penduduk Laki-laki Perempuan Jumlah

1 Baiturrahman 4,54 10.507 19.002 17.855 36.857 8.118 2 Kuta Alam 10,05 14.797 26.337 24.074 50.411 5.016 3 Meuraxa 7,26 6.261 10.476 9.109 19.585 2.698 4 Syiah Kuala 14,24 10.484 18.554 17.662 36.216 2.543 5 Lueng Bata 5,34 6.982 13.165 12.388 25.553 4.785 6 Kuta Raja 5,21 3.983 6.681 5.702 12.383 2.377 7 Banda Raya 4,79 6.316 11.931 11.699 23.630 4.933 8 Jaya Baru 3,78 7.330 13.613 12.564 26.177 6.925 9 Ulee Kareng 6,15 6.847 12.941 12.394 25.335 4.120 Jumlah 61,36 73.507 132.700 123.447 256.147 4.174

Sumber : Disdukcapil Kota Banda Aceh

Dengan luas 61,36 km2, Kota Banda Aceh di diami oleh 256.147 jiwa, atau sebesar 4.174 jiwa/ km2 yang berarti bahwa setiap Km2 Kota Banda Aceh didiami oleh penduduk sebanyak 4, 174 jiwa, dengan jumlah 73.507 KK.

Jika diperhatikan persebaran penduduk di setiap kecamatan, maka terlihat bahwa Kecamatan Baiturrahman dengan luas wilayah 4,54 km2 merupakan wilayah Kecamatan dengan jumlah penduduk terpadat, yaitu dengan kepadatan 8.118 jiwa/km2, diikuti oleh Kecamatan Jaya Baru dengan luas 3,78 km2 memiliki kepadatan penduduk sebesar 6.925 jiwa/ km2. Se&gkan wilayah dengan kepadatan penduduk terendah 1-2 jiwa/km2 berada di Kecamatan Kuta Raja dengan luas wilayah 5,21 km2 yaitu dengan kepadatan penduduk hanya sebesar 2.377 jiwa/ km2.

Peningkatan kepadatan penduduk per kecamatan di Kota Banda Aceh perlu mendapat perhatian, terutama dalam perencanaan persebaran penduduk, tata ruang dan tata guna lahan/tanah serta perencanaan pembangunan di Kota Banda Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 30

(31)

Aceh. Apabila ke tiga aspek tersebut diacuhkan, maka dalam sepuluh atau lima belas tahun ke depan, Kota Banda Aceh akan menjadi Kota yang padat penduduk dan akan berdampak pada penurunan daya dukung dan daya tampung lingkungan perkotaan.

B. Pertumbuhan Penduduk

Pertumbuhan penduduk merupakan angka yang menggambarkan penambahan penduduk yang dipengaruhi oleh pertumbuhan alamiah maupun migrasi (perpindahan) penduduk. Laju pertumbuhan penduduk dapat digunakan untuk memperkirakan jumlah dan struktur penduduk beberapa tahun ke depan.

Tabel 3.3

Laju Pertumbuhan Penduduk di Kota Banda Aceh dari Tahun 2008 s/d 2012

No Kecamatan Jumlah Penduduk Laju

Pertumbuhan Penduduk 2008 2009 2010 2011 2012

1 Baiturrahman 36,124 35,153 32,973 36,163 36,857 0.19 2 Kuta Alam 43,792 42,664 45,584 47,970 50,411 0.50 3 Meuraxa 20,658 20,127 21,882 24,675 19,585 -2.28 4 Syiah Kuala 20,409 19,865 22,387 24,248 36,216 4.09 5 Lueng Bata 22,025 21,437 21,806 24,321 25,553 0.50 6 Kuta Raja 8,076 7,890 10,479 11,774 12,383 0.51 7 Banda Raya 20,907 20,127 20,927 22,896 23,630 0.32 8 Jaya Baru 12,494 12,189 15,456 18,109 26,177 3.75 9 Ulee Kareng 33,433 32,564 32,022 34,568 25,335 -3.06

217,918 212,016 223,516 244,724 256,147 0.46 Sumber :Disdukcapil Kota Banda Aceh

Laju pertumbuhan penduduk di Kota Banda Aceh tergolong normal, tidak jauh berbeda dengan laju pertumbuhan penduduk tahun yang lau. Selama kurun

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 31

(32)

waktu 2008 sampai dengan 2012, pertumbuhan penduduk Kota Banda Aceh mencapai 0,46%. Namun semikian, pertumbuhan penduduk ini harus menjadi perhatian serius dari pemerintah Kota Banda Aceh, karena apabila pertumbuhan penduduk tidak diawasi dengan baik, maka dalam beberapa tahun ke depan, Kota Banda Aceh akan menjadi kota yang cukup padat dan menjadi sentral berkumpulnya penduduk di Provinsi Aceh. Hal tersebut akan menimbulkan dampak yang sangat memrihatinkan yaitu munculnya berbagai masalah sosial, ekonomi seperti ke- miskinan, pertumbuhan kawasan kumuh (sprawl area), meningkatnya kriminalitas dan lain sebagainya.

Adapun jumlah penduduk selalu dikaitkan dengan tingkat kelahiran, kematian & perpindahan penduduk atau migrasi.

Pertumbuhan penduduk adalah peningkatan dan penu- runan jumlah penduduk suatu daerah dari waktu ke waktu.

Beberapa komponen yang dapat mempengaruhi pertumbuhan penduduk adalah:

1. Faktor Penambah ( kelahiran/fertilitas dan migrasi) 2. Faktor pengurang (kematian/mortalitas dan migrasi)

C. Rasio Penduduk Menurut Jenis Kelamin Per Kecamatan

Karakteristik penduduk menurut umur dan jenis kelamin berguna dalam membantu menyusun perencanaan pemenuhan kebutuhan dasar penduduk sesuai dengan kebutuhan kelompok umur masing-masing, baik kebutuhan pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, pekerjaan dan lain sebagainya.

Jika diperhatikan bahwa jumlah penduduk menurut jenis kelamin, penduduk laki-laki lebih banyak daripada penduduk

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 32

(33)

perempuan. Penduduk laki-laki terbesar berada di Kecamatan Kuta Alam sebanyak 26.337 jiwa, atau 20% dari total penduduk Laki-laki di Kota Banda Aceh, diikuti oleh Kecamatan Baiturrahman 19.002 jiwa atau 14,31%, sedangkan Penduduk laki-laki yang paling sedikit berada di Kecamatan Kuta Raja 6.681 jiwa atau hanya 5% dari total penduduk Laki-laki di Kota Banda Aceh.

Sedangkan jumlah penduduk perempuan terbesar juga berada di Kecamatan Kuta Alam sebanyak 24.074 jiwa, atau 19,50% dari total penduduk Perempuan di Kota Banda Aceh, diikuti juga oleh Kecamatan Baiturrahman 17.855 jiwa atau sebesar 14,48% dari jumlah penduduk perempuan kota Banda Aceh. Sedangkan Penduduk perempuan yang paling sedikit masih berada di Kecamatan Kuta Raja sebesar 5.702 jiwa atau hanya 4,61% dari total penduduk perempuan di Kota Banda Aceh.

Tabel 3.4.

Rasio Jenis Kelamin (Sex Ratio) Kota Banda Aceh Menurut Kecamatan Tahun 2012

No Kecamatan Laki-laki Perempuan Jumlah Sex Ratio 1 Baiturrahman 19.002 17.855 36.857 106.42 2 Kuta Alam 26.337 24.074 50.411 109.40 3 Meuraxa 10.476 9.109 19.585 115.01 4 Syiah Kuala 18.554 17.662 36.216 105.05 5 Lueng Bata 13.165 12.388 25.553 106.27 6 Kuta Raja 6.681 5.702 12.383 117.17 7 Banda raya 11.931 11.699 23.630 101.98 8 Jaya Baru 13.613 12.564 26.177 108.35 9 Ulee Kareng 12.941 12.394 25.335 104.41 Jumlah 132.700 123.447 256.147 107.50 Sumber : Disdukcapil Kota Banda Aceh

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 33

(34)

D. Rasio Penduduk Menurut Jenis Kelamin

Karakteristik penduduk menurut umur dan jenis kelamin berguna dalam membantu menyusun perencanaan pemenuhan keutuhan dasar bagi penduduk sesuai dengan kebutuhan kelompok umur masing-masing, baik kebutuhan pangan, sandang dan papan, pendidikan, kesehatan, pekerjaan dan lain sebagainya. Setiap kelompok umur memiliki kebutuhan yang berbeda-beda, misalnya kelompok bayi dan balita, mereka lebih membutuhkan asupan gizi yang baik dan perawatan kesehatan. Pada tabel di bawah menunjukkan bahwa penduduk Kota Banda Aceh sebagian besar merupakan penduduk usia produktif yaitu pada kelompok umur antara 15-64 tahun, atau sekitar 72,28 % dari total penduduk Kota Banda Aceh dengan komposisi terbesar berada pada penduduk yang berumur 20-34 tahun (34,10%).

Demikian pula dengan komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin, tampak bahwa penduduk laki-laki maupun perempuan yang terbesar berada pada kelompok umur 25-29 tahun. Kondisi ini sangat menguntungkan karena sebagian besar merupakan penduduk usia produktif/kerja (usia 15-64 tahun), dan sisanya sebanyak 25,71% merupakan usia muda (di bawah umur 15 tahun) dan 3,42 % merupakan usia lanjut (umur di atas 64 tahun).

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 34

(35)

Tabel 3.5.

Rasio Jenis Kelamin (Sex Ratio) Kota Banda Aceh Tahun 2012 Kelompok

Umur n LAKI-LAKI % n PEREMPUAN % Sex Ratio

75 1.126 0.85 1.719 1.39 2.845

70 - 74 1.205 0.91 1.266 1.03 2.471

65 - 69 1.706 1.29 1.758 1.42 3.464

60 - 64 2.760 2.08 2.557 2.07 5.317

55 - 59 4.205 3.17 3.364 2.73 7.569

50 - 54 6.016 4.53 5.104 4.13 11.120

45 - 49 7.177 5.41 66.30 5.37 13.807

40 - 44 9.245 6.97 8.439 6.84 17.684

35 - 39 11.290 8.51 9.438 7.65 20.728

30 - 34 15.123 11.40 12.896 10.45 28.019

25 - 29 16.568 12.49 16.996 13.77 33.564

20 - 24 12.949 9.76 12.773 10.35 25.772

15 - 19 9.433 7.11 8.527 6.91 17.960

10 - 14 9.489 7.15 8.970 7.27 18.459

5 - 9 12.188 9.18 11.548 9.35 23.736

0 - 4 12.220 9.21 11.462 9.28 23.682

Total 132,700 100.00 123,447 100.00 256,147 Sumber :Disdukcapil Kota Banda Aceh

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 35

(36)

E. Rasio Ketergantungan (Dependency Ratio)

Komposisi umur penduduk di suatu wilayah juga dapat dihubungkan dengan Dependency Ratio (DR) atau Rasio Ketergantungan. Angka ketergantungan secara umum dapat menggambarkan beban tanggungan ekonomi kelompok umur produktif (15-64 tahun) terhadap kelompok umur muda (<15 tahun) dan kelompok umur tua (>65 tahun). Semakin kecil dependency ratio, maka semakin kecil pula beban kelompok umur produktif untuk menanggung penduduk usia tidak produktif atau belum produktif.

Jika diperhatikan pada struktur umur penduduk menurut kelompok usia muda (0-14 tahun), usia produktif (15-64 tahun) dan usia lanjut (>65 tahun), maka 70.85 % penduduk Kota Banda Aceh merupakan penduduk usia produktif, dan sisanya skitar 29,15% adalah penduduk usia muda dan tua. Dengan demikian rasio beban ketergantungan (dependency ration) pada tahun 2012.

Tabel 3.6.

Rasio Ketergantungan (Dependency Rasio) Kelompok

Umur

Laki-laki Perempuan

Sex Ratio

n % n %

>65 4,037 3.04 4,743 3.84 8,780 15 - 64 94,766 71.41 86,724 70.25 181,490

0 - 14 33,897 25.54 31,980 25.91 65,877 Total 132,700 100 123,447 100 256,147 Sumber :Disdukcapil Kota Banda Aceh

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 36

(37)

F. Komposisi Penduduk Menurut Karakteristik Sosial 1) Jumlah Penduduk Menurut Pendidikan

Tingkat Pendidikan merupakan salah satu ukuran untuk melihat tingkat kualitas penduduk, Semakin tinggi tingkat Pendidikan penduduk semakin baik kualitas SDM diwilayah tersebut. Tamat sekolah didefinisikan sebagai jenjang pendidikan yang telah berhasil diselesaikan oleh seseorang dengan dibuktikan adanya ijazah atau surat tanda tamat belajar. Tetapi jika menggunakan ukuran menurut jenjang tertinggi merupakan jenjang atau kelas tertinggi yang pernah ditempuh oleh seseorang.

Dari Tabel 3.7 terlihat bahwa jenjang pendidikan yang paling banyak dimiliki oleh penduduk Kota Banda Aceh adalah pada jenjang pendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas atau SLTA/sederajat yaitu sebesar 91.718 atau sekitar 35,81% dari total 256.147 penduduk kota Banda Aceh yang telah menamatkan pendidikannya. Sedangkan yang unik adalah jumlah tamatan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama atau SLTP yaitu hampir menyamai prosentase lulusan S1 atau Sarjana, yaitu sekitar 10,43% dari total penduduk yang menamatkan pendidikannya. Jika diperhatikan tingkat pendidikan SLTA/ sederajat menempati urutan pertama tingkat pendidikan yang paling banyak ditamatkan oleh penduduk Kota Banda Aceh yaitu sebesar 35,81 persen sedangkan yang berpendidikan akademi maupun sarjana hanya sekitar 11,24 persen.

Hal ini perlu mendapat perhatian dari pemerintah, mengingat bahwa era globalisasi sebentar lagi akan berlangsung dan persaingan untuk memperoleh kesempatan kerja semakin ketat dengan akan masuknya tenaga kerja asing ke Indonesia.

Peningkatan pendidikan Keterampilan perlu dilakukan

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 37

(38)

mengingat bahwa sebagian besar peluang kerja membutuhkan tenaga terdidik yang memiliki ketrampilan khusus.

Tabel 3.7.

Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Tertingg yang Ditamatkan

KELOMPOK

UMUR BELUM

SEKOLAH BELUM TAMAT SD

TAMAT

SD SLTP SLTA DI/ II D- III D IV/

S I S-II S-III TOTAL 0 s/d 5

tahun 29.295 169 29.464

6 s/d 10

tahun 15.340 6.894 22.234

11 s/d 15

tahun 1.556 11.692 3.376 16.624

16 s/d 20

tahun 223 2.208 3.041 7.932 4.868 13 18.285

21 s/d 25

tahun 146 228 627 3.329 20.675 636 1.361 1.398 28.400

26 s/d 30

tahun 102 143 816 2.551 18.524 1.630 3.261 6.438 263 14 33.742

31 s/d 35

tahun 77 155 935 2.597 12.510 872 2.299 6.104 542 16 26.107

36 s/d 40

tahun 70 161 870 2.293 10346 508 1.505 4.251 690 53 20.747

41 s/d 45

tahun 78 188 802 1.665 8.249 357 1.012 3.523 652 91 16.617

46 s/d 50

tahun 62 280 1.145 1.518 5.989 287 780 2.902 526 93 13.582

51 s/d 55

tahun 92 291 1.265 1.486 3.968 241 456 1.944 421 67 10.231

56 s/d 60

tahun 103 280 1.162 1.175 2.755 153 274 1.136 284 39 7.361

61 s/d 65

tahun 84 219 855 828 1.679 100 191 575 143 14 4.688

66 s/d 70

tahun 93 178 813 620 1086 52 154 339 71 11 3417

71 s/d 75

tahun 148 186 609 375 586 24 67 131 28 13 2.167

> 76 tahun 314 303 900 351 483 14 40 61 7 8 2.481

Grand Total 47.783 23.575 17.216 26.720 91.718 4.887 11.400 28.802 3.627 419 256.147

Sumber : Disdukcapil Kota Banda Aceh

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 38

(39)

2) Jumlah Penduduk Menurut Agama

Informasi tentang jumlah penduduk berdasarkan agama diperlukan untuk merencanakan penyediaan sarana dan prasarana peribadatan serta merencanakan suatu program kegiatan yang berkaitan dengan kerukunan antar umat beragama.

Pada Tabel 3.8 nampak bahwa dari 256.147 jiwa penduduk kota Banda Aceh, 97,67 persen penduduknya menganut agama Islam, diikuti agama Budha yaitu sebesar 1,26 persen, agama Kristen sebesar 0,80 persen, agama Katolik 0,24 persen, dan hanya sebagian kecil saja yang menganut agama Hindu dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa yaitu 0,001 persen.

Jika dilihat menurut Kecamatan, maka Kecamatan Kuta Alam merupakan wilayah dengan agama Islam terbesar yaitu 47.004 Jiwa dimana Kecamatan Kuta Alam yang merupakan Kecamatan yang mempunyai jumlah penduduk terbanyak di Kota Banda Aceh yaitu sebesar 50.411 Jiwa, diikuti oleh Kecamatan Baiturrahaman yaitu 36.015 jiwa, Kecamatan Syiah Kuala yaitu 36.138 jiwa, Kecamatan Ulee Kareng yaitu 25.320 jiwa, Kecamatan Jaya Baru yaitu 25.642 Jiwa, KecamatanLueng Bata yaitu 25.139 Jiwa, Kecamatan Banda Raya yaitu 23.452 jiwa, Kecamatan Meuraxa 19.483 jiwa &

sebaran agama islam terkecil berada dikecamatan Kuta Raja yaitu 11.993 jiwa.

Agama kedua terbesar setelah Islam yang dianut penduduk Kota Banda Aceh adalah agama Budha. Kecamatan Kuta Alam merupakan wilayah dengan agama Budha terbesar yaitu 2.134 Jiwa, diikuti Kecamatan Baiturrahman yaitu 464 jiwa dan Kecamatan Lueng Bata yaitu 245 jiwa. Sedamgkan

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 39

(40)

Penganut Agama Hindu terbesar berada di kecamatan Kuta Raja dan Baiturrahman yaitu 20 jiwa.

Tabel 3.8.

Jumlah Penduduk menurut Agama yang dianut Tahun 2012

Agama Kecamatan

Total Baitur

rahman Kuta

Alam Meuraxa Syiah

Kuala Lueng Bata Kuta

Raja Banda Raya Jaya

Baru Ulee Kareng Islam 36.015 47.004 19.483 36.138 25.139 11.993 23.452 25.642 25.320 250.186

Kristen 285 950 70 49 156 158 71 305 9 2.053

Katolik 85 321 10 22 27 40 17 93 4 619

Hindu 8 2 6 2 3 12 1 1 35

Budha 464 2.134 15 5 225 180 88 137 1 3.249

Lainnya 1 3 1 5

Total 36.857 50.411 19.585 36.216 25.553 12.383 23.630 26.177 25.335 256.147

Sumber : Disdukcapil Kota Banda Aceh, Desember

3) Jumlah Penduduk Berkemampuan Khusus

Informasi tentang banyaknya penduduk dengan kemampuan khusus sangatlah diperlukan dalam memberikan program pelayanan public yang ramah terhadap penduduk berkemam-puan khusus dan sebagai bahan perencanaan pengembangan pelayanan bagi penduduk dengan kategori khusus, dimana selama ini kelompok ini merasa didiskriminasi, karena diberbagai tempat umum tidak tersedia berbagai akses khusus bagi mereka, seperti jalan khusus untuk pengguna kursi roda, toilet khusus dan sebagainya.

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 40

(41)

Banyaknya penduduk berkemampuan khusus di Kota Banda Aceh disajikan pada tabel 3.9. Dari tabel tersebut terlihat bahwa jumlah penduduk berkemampuan khusus di Kota Banda Aceh sebesar 144 orang (0,05%) jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Kota Banda Aceh yaitu 256.147 jiwa, namun tetap perlu menjadi perhatian Pemerintah Kota Banda Aceh.

Penyandang cacat terbesar berada di Kecamatan Baiturrahman yaitu 34 orang dan yang terkecil berada di Kecamatan Kuta Raja yaitu 5 orang. Dilihat dari jenis kecacatan, jumlah terbesar adalah penyandangcacat fisik yaitu 32 orang dan yang terkecil adalah penyandang cacat fisik dan mental sebanyak 15 orang.

Tabel 3.9

Jumlah Penduduk Berkemampuan Khusus di Kota Banda Aceh Tahun 2012

Kecamatan

Penyandangcacat

Jumlah Cacat

fisik

Cacat netra/

buta

Cacat rungu/

wicara

Cacat mental/

jiwa

Cacat fisik &

mental Cacat lainnya

Baiturrahman 6 7 4 10 3 4 34

Kuta Alam 6 3 3 4 2 8 26

Meuraxa 1 1 3 1 6

Syiah Kuala 5 1 1 1 1 9

Lueng Bata 2 1 1 1 2 3 10

Kuta Raja 1 1 3 5

Banda Raya 2 5 4 6 1 5 23

Jaya Baru 5 2 2 2 1 2 14

Ulee Kareng 4 1 4 4 4 17

Total 32 19 20 31 15 27 144

Sumber : Disdukcapil Kota Banda Aceh

4) Jumlah & Proporsi Penduduk Berdasarkan Status Kawin

Informasi tentang stuktur perkawinan penduduk pada waktu tertentu berguna bagi para penentu kebijakan dan

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 41

(42)

pelaksana program kependudukan, terutama dalam hal pembangunan keluarga dan upaya-upaya peningkatan kualitas keluarga. Perkawinan pada usia dini akan menimbulkan dampak terhadap kualitas keluarga.

Tabel 3.10. menyajikan jumlah dan proporsi penduduk menurut status kawin di Kota Banda Aceh. Dari tabel tersebut terlihat bahwa kota Banda Aceh didominasi oleh penduduk berstatus belum kawin yakni 55,15 persen. Hal ini terlihat baik untuk penduduk laki-laki maupun perempuan.

Proporsi penduduk laki-laki yang berstatus belum kawin lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan, karena biasanya laki-laki masih mene-ruskan pendidikan atau baru mulai bekerja, sehingga menunda perkawinan. Laki-laki yang dikonstruksikan sebagai kepala keluarga yang harus membiayai kebutuhan keluarga, sehingga mempunyai keinginan mapan secara ekonomi sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.

Menarik untuk diperhatikan untuk status cerai hidup dan cerai mati, bahwa proporsi penduduk berstatus cerai hidup lebih besar pada perempuan daripada laki-laki.

Kemandirian perempuan secara ekonomi serta peningkatan kesadaran tentang hak-hak perempuan dalam rumah tangga, seringkali menjadi penyebab keberanian perempuan menggugat cerai.

Pada Tabel berikut terlihat bahwa jumlah penduduk perempuan yang melakukan cerai hidup sebanyak 942 dari jumlah perceraian 1.306 atau berjumlah 72,12 % dari total perceraian dibandingkan jumlah cerai hidup laki-laki yang hanya berjumlah 364 atau hanya 27,87% saja.

Profil Kependudukan Kota Banda Aceh Tahun 2012 | 42

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan perbandingan periode yang telah dilakukan pada Lead I, Lead II, dan Lead III dengan masing-masing dilakukan sebanyak tiga kali pengukuran, didapat hasil jika nilai

Pendidikan memegang peranan penting dalam menentukan kualitas suatu bangsa. semakin tinggi tingkat pendidikan suatu negara maka semakin dihargai kedudukan negara tersebut.

Tingkat pendidikan merupakan salah satu indikator dalam realisasi KUR. Pada umumnya semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin luas wawasan dan kemampuan

Sedangkan dengan variabel tingkat konsumsi adalah sebaliknya bahwa semakin tinggi tingkat konsumsi maka kualitas hidup penduduk semakin rendah atau seba- liknya.. Hasil korelasi

Watermarking adalah sebuah' proses untuk menyisipkan suatu informasi, yang biasanya disebut sebagai watermark, pada suatu data (digital) penampung, seperti gambar, audio, dokumen

Tujuan terapi nutrisi menurut Amerian Diabetes Assosiation (ADA, 2014) adalah untuk mempromosikan dan mendukung pola makan yang sehat, makanan padat nutrisi dengan ukuran yang

Tujuan dari penelitian ini yaitu mencari model terbaik untuk melihat pola data antara observasi dan prediksi, selain itu bagaimana perbandingan antara observasi data

Menurut Sugiyono (2010:35) deskriptif adalah suatu rumusan masalah yang berhubungan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variable mandiri, yang hanya pada satu variable