Pengaruh Koreksi Fiskal atas Laporan Laba Rugi Komersial terhadap Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan.

Teks penuh

(1)

vii Universitas Kristen Maranatha

ABSTRACT

Income Statement is one of the financial statements that must be generated from the implementation of accounting systems and/or bookkeeping, either held by or in accordance with the provisions of the Taxation Act and the conditions set out in the Financial Accounting Standards. While not opposing the basic concepts, principles, methods, or rules applicable in the disciplines of commercial accounting and tax accounting, in some cases to be recognized is different, so it is appropriate if the Consolidated Income generated by the two branches of the science of accounting is also different. One of the factors that cause differences between the two branches of the science of accounting is the point of view of mutual relations between the two financial statements and the approach used in defining the elements of financial statements. For that need correction. The study was made with the aim of knowing the effect of fiscal correction to the tax payers of income tax loss in the mining company incorporated in LQ45 from 2008 until 2010. Data were analyzed using simple regression analysis must first satisfy the assumptions of classical test the normality test and test of hetroskedastisitas. Conclusions drawn by the authors in this study based on the results of simple regression analysis is the correction has no effect on the Tax Income of Agency, but has a direct and positive relationship, where the relationship is strong but has a weak influence.

(2)

viii Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK

Laporan Laba Rugi merupakan salah satu laporan keuangan yang harus dihasilkan dari penyelenggaraan sistem akuntansi dan/atau pembukuan, baik yang diselenggarakan berdasar atau sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang Perpajakan maupun ketentuan yang ditetapkan di dalam Standar Akuntansi Keuangan. Walaupun tidak saling bertentangan dalam konsep dasar, prinsip, metode, atau ketentuan yang berlaku dalam disiplin akuntansi komersial dan akuntansi perpajakan, dalam beberapa hal harus diakui memang berbeda, sehingga sudah sepantasnya apabila Laporan Laba Rugi yang dihasilkan oleh kedua cabang ilmu akuntansi tersebut juga berbeda. Salah satu faktor yang menyebabkan adanya perbedaan di antara kedua cabang ilmu akuntansi tersebut adalah sudut pandang terhadap saling hubungan antara kedua laporan keuangan tersebut dan pendekatan yang digunakan dalam mendefinisikan elemen-elemen laporan keuangan. Untuk itu perlu dilakukan koreksi. Penelitian dibuat dengan tujuan mengetahui pengaruh dari koreksi fiskal terhadap pajak penghasilan wajib pajak badan pada perusahaan pertambangan yang tergabung dalam LQ45 dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2010. Data dianalisis menggunakan analisis regresi sederhana yang terlebih dahulu harus memenuhi uji asumsi klasik yaitu uji normalitas dan uji hetroskedastisitas. Kesimpulan yang ditarik oleh penulis dalam penelitian ini berdasarkan hasil analisis regresi sederhana adalah Koreksi Fiskal tidak berpengaruh terhadap Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan, namun memiliki hubungan yang searah dan positif, dimana hubungan tersebut kuat tetapi memiliki pengaruh yang lemah.

(3)

ix Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

PERNYATAAN ORISINALITAS LAPORAN PENELITIAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

ABSTRACT ... vii

ABSTRAK ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR TABEL ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 8

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian ... 9

1.4 Kegunaan Penelitian ... 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN ... 11

2.1 Tinjauan Umum Mengenai Pajak ... 11

2.1.1 Pengertian Pajak ... 11

2.1.2 Fungsi Pajak ... 14

2.1.3 Sistem Pemungutan Pajak ... 15

(4)

x Universitas Kristen Maranatha

2.1.5 Syarat Pemungutan Pajak ... 17

2.1.6 Jenis-jenis Pajak ... 18

2.2 Pajak Penghasilan ... 20

2.2.1 Pengertian Penghasilan ... 20

2.2.1.1 Penghasilan Menurut Akuntansi ... 21

2.2.1.1.1 Pengakuan dan Pengukuran Pendapatan ... 24

2.2.1.1.2 Masalah Pengakuan dan Pengukuran Pendapatan ... 27

2.2.1.1.2.1 Masalah Pengukuran Pendapatan . 27 2.2.1.1.2.2 Masalah Pengakuan Pendapatan .. 28

2.2.1.2 Penghasilan Menurut Perpajakan... 29

2.2.2 Pengertian Pajak Penghasilan... 31

2.2.3 Subyek Pajak Penghasilan ... 31

2.2.4 Obyek Pajak Penghasilan ... 34

2.3 Pengertian Biaya ... 40

2.3.1 Biaya Menurut Akuntansi ... 40

2.3.2 Biaya Menurut Perpajakan ... 41

2.3.3 Biaya Dalam Pajak Penghasilan ... 42

2.3.3.1 Ketentuan Lain ... 48

2.4 Pengertian Laba ... 50

2.4.1 Pengertian Laba Menurut Akuntansi... 50

2.4.2 Pengertian Laba Menurut Perpajakan ... 52

2.5 Pengertian Laporan Keuangan ... 53

(5)

xi Universitas Kristen Maranatha

2.5.2 Laporan Keuangan menurut Perpajakan ... 55

2.6 Rekonsiliasi Laporan Keuangan ... 57

2.7 Perhitungan Pajak Penghasilan ... 62

2.7.1 Penghasilan Kena Pajak (PKP) ... 62

2.7.2 Tarif Pajak Badan Berdasarkan UU No. 17 Tahun 2000 ... 63

2.7.3 Tarif Pajak Badan Berdasarkan UU No.36 Tahun 2008 ... 64

2.7.4 Cara Menghitung Pajak Penghasilan... 64

2.8 Kerangka Hipotesis ... 65

2.8.1 Kerangka Pemikiran ... 65

2.8.2 Hipotesis ... 67

BAB III METODE PENELITIAN... 68

3.1 Metode Penelitian ... 68

3.1.1 Penentuan Topik Penelitian ... 69

3.1.2 Pengidentifikasian Masalah ... 69

3.1.3 Penentuan Variabel Penelitian ... 70

3.1.4 Pengumpulan Data ... 71

3.1.5 Pengolahan Data ... 71

3.1.6 Langkah-Langkah Pengujian Hipotesis ... 72

3.1.6.1 Menentukan Hipotesis Nol (Ho) dan Hipotesis Alternatifnya (Ha) ... 72

3.1.6.2 Menentukan taraf nyata / taraf signifikansi ... 72

3.1.6.3 Pengujian Statistik ... 73

(6)

xii Universitas Kristen Maranatha

3.1.7.1 Simpulan ... 76

3.1.7.2 Saran ... 76

3.2 Obyek Penelitian ... 77

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 79

4.1 Hasil Pengumpulan Data... 79

4.2 Gambaran Umum Perusahaan... 80

4.3 Pengolahan dan Analisis Data ... 86

4.3.1 Koreksi Fiskal (Variable X) ... 87

4.3.2 Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan (Variable Y) ... 89

4.3.3 Pengujian Hipotesis ... 90

4.4 Analisis Regresi Linier Sederhana ... 93

4.4.1 Uji Normalitas ... 93

4.4.2 Uji Heteroskedastisitas ... 95

4.4.3 Persamaan Model Regresi ... 96

4.4.4 Perhitungan Korelasi Produk Moment (Pearson) ... 97

4.4.5 Pehitungan Koefisien Determinasi ... 98

4.4.6 Perhitungan Uji T ... 99

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 101

5.1 Simpulan ... 101

5.2 Saran ... 102

(7)

xiii Universitas Kristen Maranatha

LAMPIRAN

(8)

xiv Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR GAMBAR

(9)

xv Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel I Interpretasi terhadap koefisien korelasi ... 75

Tabel II Koreksi Fiskal Tahun 2008 - 2010 ... 89

Tabel III Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan Tahun 2008 – 2010 ... 90

Tabel IV Nilai Variable X dan Variable Y ... 92

Tabel V Uji Normalitas... 94

Tabel VI Uji Heteroskedastisitas ... 95

Tabel VII Hasil Analisis Regresi ... 96

Tabel VIII Hasil Korelasi Produk Moment ... 97

Tabel IX Hasil Perhitungan Koefisien Determinasi... 98

(10)

1 Universitas Kristen Maranatha

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tujuan diciptakannya perusahaan adalah untuk menyediakan kebutuhan kepada masyarakat umum, berupa barang atau jasa yang diperlukan atau yang diinginkan dan sejalan dengan sikap sosial dari masyarakat tersebut. Menurut Warren (2008:2), Tujuan dari kebanyakan perusahaan adalah untuk memaksimumkan laba atau keuntungan. Akan tetapi, ada juga perusahaan yang tujuannya bukan untuk memaksimumkan laba. Tujuan dari perusahaan nirlaba tersebut adalah untuk menghasilkan manfaat bagi masyarakat, seperti cagar alam.

(11)

BAB 1 PENDAHULUAN 2

Universitas Kristen Maranatha

pemerintah, menggunakan laporan keuangan tersebut untuk kepentingan fiskal (perpajakan), terutama laporan laba rugi yang berisi informasi untuk menentukan Pajak Penghasilan terhutang yang harus ditanggung oleh perusahaan tersebut. Lebih lanjutnya, informasi tersebut digunakan untuk mengetahui apakah pajak ynag telah dibayarkan oleh perusahaan sebagai Wajib Pajak Badan (WP Badan) atau Orang Pribadi yang wajib melakukan pembukuan telah memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan perpajakan yang berlaku.

Dalam menyampaikan informasi mengenai penghasilan yang dikenakan Pajak Penghasilan, Wajib Pajak menggunakan sarana Surat Pemberitahuan (SPT) dan dalam hal ini adalah SPT PPh Tahunan. Menurut Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan dalam Siti Resmi (2008:48), Wajib Pajak menyerahkan SPT tersebut pada suatu tanggal tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya (paling lambat 3 bulan setelah akhir tahun pajak untuk Wajib Pajak Orang Pribadi dan paling lambat 4 bulan setelah akhir tahun pajak bagi Wajib Pajak Badan). Menurut Mardiasmo (2006:26), Salah satu fungsi dari SPT tersebut adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabakan perhitungan pajak yang sebenarnya terutang atau harus dibayar.

(12)

BAB 1 PENDAHULUAN 3

Universitas Kristen Maranatha

Dalam Pasal 4 ayat (4) tersebut tidak menjelaskan lebih lanjut, apakah Surat Pemberitahuan Tahunan tersebut harus disertai dengan laporan keuangan komersial ataukah laporan keuangan fiskal. Laporan Keuangan komersial adalah Laporan Keuangan yang dihasilkan dan disiapkan dari pembukuan Wajib Pajak. Laporan keuangan komersial pada dasaranya tidak harus mencerminkan seluruh pertimbangan yang menyangkut masalah perpajakan. Namun, dalam prakteknya, pengisian Surat Pemberitahuan yang bersumber dari laporan keuangan komersial, Wajib Pajak berkewajiban untuk melaporkan data laporan keuangan komersial dimaksud yang sudah disesuaikan dengan ketentuan peraturan undang-undang perpajakan. Dalam hal ini, sudah dapat dipastikan terdapat perbedaaan yang cukup signifikan antara laporan keuangan komersial yang mengacu kepada Standar Akuntansi Keuangan (SAK) dengan data pengisian Surat Pemberitahuan yang mengacu pada Peraturan Undang-undang Perpajakan.

Menurut Siti Resmi (2008:3), Pajak mempunyai fungsi budgetair, artinya pajak merupakan salah satu sumber penerimaan pemerintah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran rutin negara maupun melakukan pembangunan. Pemerintah memandang pajak sebagai suatu hal yang penting bagi kelangsungan negara ini karena itu pemerintah sangat mengharapkan partisipasi dari masyarakat yang telah memiliki penghasilan untuk membantu mempertahankan kelangsungan negara ini, melalui pembayaran pajak yang tepat jumlah dan tepat waktu. Oleh karena itu, negara membuat peraturan perpajakan bagi Orang Pribadi maupun badan untuk melakukan kewajiban perpajakan.

(13)

BAB 1 PENDAHULUAN 4

Universitas Kristen Maranatha

mengurangi laba bersih perusahaan. Salah satu kriteria yang paling sering digunakan untuk menilai kinerja perusahaan adalah dilihat dari laba bersih perusahaan tersebut. Laba ini dihasilkan dari kegiatan operasional perusahaan yang akan digunakan untuk kelangsungan hidup perusahaan dengan menginvestasikan kembali keuntungan yang didapat atau dapat pula dibagikan kepada para pemilik / pemegang saham. Oleh karena itu, perusahaan pasti akan meminimalkan pembayaran pajaknya agar laba bersihnya menjadi optimal.

(14)

BAB 1 PENDAHULUAN 5

Universitas Kristen Maranatha

Perencanaan pajak merupakan langkah awal dalam manajemen pajak. Manajemen pajak itu sendiri adalah sarana untuk memenuhi kewajiban perpajakan dengan benar tetapi jumlah pajak yang dibayar dapat ditekan serendah mungkin untuk memperoleh laba yang diharapkan.

Pada dasarnya kewajiban pajak perusahaan dihitung berdasarkan laba bersih yang diperoleh selama satu periode (satu tahun pajak). Laba bersih perusahaan dihitung berdasarkan laporan keuangan yang dihitung oleh perusahaan. Ketidaksamaan antara pedoman dalam SAK dengan Peraturan Perpajakan membuat perhitungan laba sebelum pajak berbeda dengan laba kena pajak. Laba sebelum pajak (pre tax financial income) merupakan laba untuk tujuan pelaporan keuangan, merupakan hasil pembandingan pendapatan dengan beban berdasar ketentuan SAK. Laba kena pajak (taxable income) merupakan laba untuk tujuan pajak "Penghasilan Kena Pajak", merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukan jumlah tertentu sebagai dasar penghitungan Pajak Penghasilan terutang. pada saat menghitung Pajak Penghasilan yang akan dibayar (terutang) yang berdasar laba kena pajak tersebut, perusahaan melakukan penyesuaian laba rugi komersial.

(15)

BAB 1 PENDAHULUAN 6

Universitas Kristen Maranatha

penghasilan serta didukung dengan bukti yang memadai (valid & reliable), (Siti Resmi, 2008:115). Oleh karena itu, perusahaan harus melakukan penyesuaian terhadap laporan keuangan pada akhir tahun yang disebut rekonsiliasi. Rekonsiliasi berisi penjelasan atau perbedaan yang terjadi antara laporan keuangan komersial dan laporan keuangan fiskal.

Rekonsiliasi fiskal adalah penyesuaian karena perbedaan permanen (permanent different) dan perbedaan waktu (timing different). Menurut Siti Resmi (2008:363) rekonsiliasi fiskal dilakukan Wajib Pajak karena terdapat perbedaan perhitungan, khususnya laba menurut akuntansi (komersial) dengan laba menurut perpajakan (fiskal). Laporan keuangan komersial atau bisnis ditujukan untuk menilai kinerja ekonomi dan keadaan finansial dari sektor swasta, sedangkan laporan keuangan fiskal lebih ditujukan untuk menghitung pajak. Untuk kepentingan komersial atau bisnis, laporan keuangan disusun berdasarkan prinsip yang berlaku umum, yaitu Standar Akuntansi Keuangan (SAK); sedangkan untuk kepentingan fiskal, laporan keuangan disusun berdasarkan peraturan perpajakan (Undang-undang Pajak Penghasilan disingkat UU PPh).

(16)

BAB 1 PENDAHULUAN 7

Universitas Kristen Maranatha

Namun meskipun koreksi fiskal adalah suatu hal yang harus dilakukan oleh para Wajib Pajak yang diakibatkan oleh adanya perbedaan antara peraturan pajak dengan Standar Akuntansi Keuangan, seringkali penerapannya masih kurang sehingga mengakibatkan koreksi fiskal yang terjadi berjumlah sangat besar. Hal ini tergantung pada pemahaman Wajib Pajak tentang peraturan pajak. Kualitas pemahaman Wajib Pajak Badan mengenai Undang-undang Pajak Penghasilan dapat mempengaruhi tinggi rendahnya perhitungan koreksi fiskal. Memahami dengan baik ketentuan peraturan perundangan-undangan perpajakan serta perkembangan dan perubahannya, pada hakikatnya pajak tersebut akan dapat di-manage dengan berhasil. Berapa besarnya pajak yang harus dibayar, bagaimana caranya agar pembayaran tersebut efisien, bagaimana cara melakukan penghindaran pajak yang tidak melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, dan bagaimana hasil penghematan pajak digunakan, merupakan masalah-masalah yang harus diputuskan oleh seorang manajer.

(17)

BAB 1 PENDAHULUAN 8

Universitas Kristen Maranatha

Adapun peniliti sebelumnya dilakukan oleh mahasiswa Universitas Widyatama yang bernama Larisa Octaviane dengan judul "Pengaruh Koreksi Fiskal Atas Laporan Laba Rugi Komersial Terhadap Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan" studi survei pada perusahaan makanan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2010 yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara koreksi fiskal terhadap Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan pada perusahaan. Penelitian lainya dilakukan oleh mahasiswa Universitas Widyatama yang bernama Zaki Ulhaq dengan jadul "Pengaruh Koreksi Fiskal Terhadap Penghasilan Kena Pajak Pada Perusahaan yang Bergerak Dibidang Telekomunikasi Menurut Undang-Undang Perpajakan" penelitian yang dilakukan pada 2 (dua) Perusahaan Telekomunikasi Bandung yang menghasilkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara koreksi fiskal terhadap Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan pada perusahaan.

Masalah pemahaman Wajib Pajak Badan tentang peraturan pelaporan laporan keuangan dan koreksi fiskal terutama pada perusahaan yang masuk ke dalam LQ45 inilah yang melatar belakangi penulis untuk melakukan penelitian dengan judul: "PENGARUH KOREKSI FISKAL ATAS LAPORAN LABA RUGI

KOMERSIAL TERHADAP PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK

BADAN"

1.2 Identifikasi Masalah

(18)

BAB 1 PENDAHULUAN 9

Universitas Kristen Maranatha

1. Apakah koreksi fiskal berpengaruh terhadap Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan pada perusahaan yang diteliti?

2. Seberapa besar pengaruh koreksi fiskal terhadap Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan pada perusahaan yang diteliti?

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian

Maksud penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah untuk memperoleh data dan informasi yang merupakan gambaran nyata mengenai pengaruh koreksi fiskal terhadap Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan pada perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang pertambangan yang tergabung dalam LQ45 pada periode 2008-2010, yang selanjutnya akan digunakan sebagai salah satu syarat dalam menempuh Ujian Sidang Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi Program Studi Akuntansi.

Sebuah penelitian yang ingin dilakukan selayaknya memiliki tujuan. Dengan demikian, penelitian yang dilakukan memiliki arah dan tujuan yang hendak dicapai. Tujuan penelitian yang dilakukan penulis adalah

1. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh koreksi fiskal terhadap Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan pada perusahaan yang diteliti

2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dari koreksi fiskal terhadap Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan pada perusahaan yang diteliti.

1.4 Kegunaan Penelitian

(19)

BAB 1 PENDAHULUAN 10

Universitas Kristen Maranatha

1. Bagi Perusahaan, yaitu hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan dan pertimbangan dalam menerapkan kebijakan perpajakan secara benar dan konsisten dalam pelaksanaan kewajiban pembukuan untuk menetapkan laba-rugi fiskal sebagai dasar perhitungan Pajak Penghasilan perusahaan.

2. Bagi Penulis, yaitu penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang koreksi fiskal dan hubungannya dengan Pajak Penghasilan badan dengan memperhatikan secara langsung penerapan teori-teori di dalam dunia bisnis secara nyata.

(20)

101 Universitas Kristen Maranatha

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Berdasarkan dari penelitian yang dilakukan pada perusahaan pertambangan yang tergabung dalam LQ45 dan hasil pengujian hipotesis yang dilakukan dengan menggunakan SPSS 14.0 for windows serta pembahasan dari hasil penelitian yang telah dijelaskan di bab sebelumnya, maka penulis menarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Model regresi Pengaruh Koreksi Fiskal terhadap Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan adalah Y = 777628245653.691+ 0.135X.

2. Berdasarkan perhitungan korelasi produk moment (Pearson) diperoleh nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,424 atau 42,4%, artinya terdapat hubungan yang kuat antara koreksi fiskal terhadap Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan.

3. Berdasarkan perhitungan koefisien determinasi dapat diketahui R Square (r²) sebesar 0.180 atau 18%, hal ini berarti bahwa pajak pengahasilan dipengaruhi oleh koreksi fiskal sebesar 18% dan sisanya sebesar 82% dipengaruhi oleh factor lain selain koreksi fiskal yang tidak dibahas dalam penelitian ini.

(21)

BAB V SIMPULAN DAN SARAN 102

Universitas Kristen Maranatha 5.2 Saran

Dari penelitian yang telah dilakukan, peneliti yang sekaligus sebagai penulis

memberikan beberapa saran yaitu sebagai berikut:

Bagi Perusahaan

1. Perusahaan diharapkan dapat menerapkan manajemen pajak untuk mengurangi perbedaan koreksi fiskal baik yang berasal dari pembebanan beda waktu dan beda tetap agar tidak terdapat perbedaan yang besar antara laba komersial dengan laba fiskal karena jika perbedaan terlalu besar maka akan berpengaruh terhadap beban Pajak Penghasilan Perusahaan.

2. Sebaiknya perusahaan harus lebih memperhatikan pengoptimalan biaya-biaya perusahaan dengan memanfaatkan Peraturan Perpajakan yang ada sehingga biaya-biaya yang sebelumnya tidak boleh dikurangkan dalam perhitungan Penghasilan Kena Pajak dapat menjadi pengurang dalam perhitungan Penghasilan Kena Pajak Perusahaan.

Bagi Penelitian Selanjutnya

1. Penelitian dapat dilakukan dengan menggunakan analisis regresi berganda dengan beda waktu dan beda tetap sebagai variable-variable independenya. 2. Penelitian selanjutnya juga dapat menambah sample penelitian.

(22)

103 Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR PUSTAKA

Belkaoui Ahmad., (1986), Accouting Theory, Terjemahan Erwan Dukat, Yogyakarta: Ak Group.

Bridwan Zaki. (1992), lntermediate Accounting, Edisi Ketujuh Yogyakarta, BPFEUGM.

Ester Ralph (1996) Kamus Akuntansi, Terjemahan Nugroho Widjajanto. Edisi Kedua, Jakarta: Erlangga.

Hendriksen, Eldon S. (1995). Teori Akuntansi. Edisi Keempat. Jilid Satu Jakarta: Erlangga.

Ikatan Akuntan Indonesia. (2004). Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta

Ilyas, W.B., Waluyo. (2007). Perpajakan Indonesia (Buku satu). Penerbit Salemba Empat,Jakarta.

Kieso, Donald, E ; Weygandt Jeny J. (1995) Akuntansi Intermediate. Terjemahan Hermann Wibowo, Edisi Ketujuh, jijid Satu, Jakarta: Binarupa Aksara.

Mardiasmo. (2006). Perpajakan (Edisi revisi), Edisi Revisi 2006, Andi Offset, Yogyakarta

Meliala, T.S. (2006). Perpajakan dan Akuntansi Pajak. Edisi Ketiga, Penerbit Mitra Wacana Media,Jakarta.

Muqodim. 2005. Teori Akuntansi. Yogyakarta: Ekonesia.

Niswonger C. Rollin; Fess E Philip, (1993) Dasar-dasar Akuntasi. Terjemahan Soemarso SR, Edisi Revisi, Bagian 2, Jakarta: Rineka Cipta.

Resmi, Siti. (2008). Perpajakan: Teori dan Kasus, Edisi Empat, Salemba Empat, Jakarta.

Sigit Soehardi, (1981), Azas-az.as Akuntansi, Edisi Revisi. Bagian Pertama, Yogyakafta: BPFE-UGM.

Smith, Jay M. ; Skousen, K Fred, (1992), Akuntansi Intermediate, Terjemahan Alfonsus Sirait. Volume Komprehensif, Edisi Kesembilan, Jilid Satu, Jakarta, Erlangga.

(23)

104

Universitas Kristen Maranatha

Sugiyono. (2004). Metode Penelitian Bisnis. CV.Alfabeta, Bandung.

Warren, Carl S., James M. Reeve, dan Philip E. Fees. (2008). Pengantar Akuntansi, Edisi Dua Puluh Satu, Salemba Empat, Jakarta.

Zain, Mohammad. (2007). Manajemen Perpajakan, Ghalia Indonesia, Jakarta. www.idx.co.id

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...