SKRIPSI
EFEKTIVITAS KEBIJAKAN MONETER MELALUI SUKU
BUNGA ACUAN TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI ASEAN
OLEH
HIRIM M LUMBAN BATU 150501098
PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
ABSTRAK
EFEKTIVITAS KEBIJAKAN MONETER MELALUI SUKU BUNGA ACUAN TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI ASEAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas dari kebijakan moneter melalui suku bunga acuan terhadap pertumbuhan ekonomi di ASEAN (Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand).
Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diambil dari website International Monetary Fund dan World Bank dengan periode 2000-2017 (data per kuartal). Metode penelitian yang digunakan adalah Vector Error Correction Model (VECM) dengan menggunakan program Eviews 9 untuk mengetahui hasil hipotesis.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kebijakan moneter melalui suku bunga acuan efektif dalam mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Malaysia, Thailand dan Indonesia. Sedangkan kebijakan moneter melalui suku bunga acuan kurang efektif dalam mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Singapura.
Kata Kunci : Kebijakan Moneter, Suku Bunga dan Pertumbuhan Ekonomi.
ABSTRACT
EFFECTIVENESS OF MONETARY POLICY THROUGH INTEREST REFERENCE ON ECONOMIC GROWTH IN ASEAN
This study aims to determine the effectiveness of monetary policy through reference interest rates on economic growth in ASEAN (Indonesia, Malaysia, Singapore and Thailand).
This study uses secondary data taken from the International Monetary Fund and World Bank websites for the period 2000-2017 (quarterly data). The research method used is the Vector Error Correction Model (VECM) using the Eviews 9 program to determine the results of the hypothesis.
The results of this study indicate that monetary policy through reference interest rates is effective in influencing economic growth in Malaysia, Thailand and Indonesia. While monetary policy through the reference interest rate is less effective in influencing economic growth in Singapore.
Keywords: Monetary Policy, Interest Rate and Economic Growth.
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur bagi Tuhan Yang Maha Esa atas kasih, berkat dan penyertaan-Nya sehingga penulisan skripsi yang berjudul “Efektivitas Kebijakan Moneter Melalui Suku Bunga Acuan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di ASEAN” dapat diselesaikan dengan baik. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Program Studi Strata Satu (S1) Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara. Skripsi ini penulis persembahkan untuk kedua Orangtua penulis, Bapak Kamaruddin Lumban Batu dan Ibu Rentianim Manik yang senantiasa memberikan semangat dan doa selama proses perkuliahan dan pengerjaan skripsi ini.
Proses penulisan skripsi ini juga tidak terlepas dari bimbingan, bantuan, serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE, M.S selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
2. Bapa Drs. Coki Ahmad Syahwier, MP selaku Ketua Program Studi S1 Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara dan Ibu Inggrita Gusti Sari Nasution, SE, M.Si selaku Sekretaris Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Wahyu Sugeng Imam Soeparno, SE, M.Si, selaku Dosen Pembimbing saya yang telah memberikan bimbingan dan masukan untuk menyelesaikan skripsi ini.
4. Bapak Paidi Hidayat, SE, M.Si, selaku Dosen Pembanding I saya yang telah memberikan saran dan kritikan dalam penyempurnaan skripsi ini.
5. Bapak Syarief Fauzie,SE, M.Ak, Ak, selaku Dosen Pembanding II saya yang telah memberikan saran dan kritikan dalam penyempurnaan skripsi ini.
6. Seluruh Dosen dan Staf Pengajar Departemen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara, yang telah mendidik dan memberikan pengetahuan yang bermanfaat bagi penulis.
7. Seluruh Pegawai dan Staf administrasi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumater Utara, khususnya Program Studi Ekonomi Pembangunan.
8. Kepada kakak, abang, adik, sepupu dan keponakan Christina, Angelina, Febriana, Riris, Raja, Jenri, Jefri, Yelli, Agung, Jonathan, Jhon Frezo, Jasmine, Christoper yang selalu mendoakan dan memberi semangat dan dukungan. Kepada sahabat penulis Grace, Angel, Marlin, Risna, Theresia, Cheren, Astri, Lespikawaty, Frans, Diana, Asrona , Tiur, Nova dan semua pihak yang turut membantu penyelesaian skripsi ini,
namun tidak dituliskan dalam lembaran ini, penulis mohon maaf dan tidak mengurangi rasa terima kasih penulis.
Akhir kata, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan dikarenakan keterbatasan pengetahuan, pengalaman dan kemampuan penulis. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan penulisan skripsi ini. Penulis juga berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca dan peneliti selanjutnya.
Medan, Agustus 2019 Penulis,
Hirim M Lumban Batu NIM. 150501098
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah... . 6
1.3 Tujuan Penelitian ... 6
1.4 Manfaat Penelitian ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7
2.1 Kebijakan Moneter ... 7
2.1.1 Pengertian Kebijakan Moneter ... 7
2.1.2 Teori-teori Kebijakan Moneter ... 8
2.1.3 Target Kebijakan Moneter ... 13
2.1.4 Indikator & Respon Kebijakan Moneter ... 14
2.1.5 Indikator Efektivitas Kebijakan Moneter ... 15
2.1.6 Kebijakan Moneter di Indonesia... 16
2.1.7 Kebijakan Moneter di Malaysia ... 17
2.1.8 Kebijakan Moneter di Singapura ... 19
2.1.9 Kebijakan Moneter di Thailand ... 20
2.2 Suku Bunga Acuan ... 21
2.3 Suku Bunga Deposito ... 22
2.4 Inflasi ... 23
2.5 Pertumbuhan Ekonomi ... 26
2.5.1 Teori Pertumbuhan Harrord-Domar ... 26
2.5.2 Teori Pertumbuhan Schumpeter ... 27
2.6 Peneliti Terdahulu ... 28
2.7 Kerangka Konseptual ... 30
2.8 Hipotesis Penelitian ... 32
BAB III METODE PENELITIAN ... 33
3.1 Jenis Penelitian ... 33
3.2 Jenis dan Sumber data Penelitian ... 33
3.3 Ruang Lingkup Penelitian ... 33
3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 33
3.5 Defenisi Operasional ... 34
3.6 Metode Analisis Data ... 34
3.6.1 Uji Stasioneritas Data ... 35
3.6.2 Penentuan Lag Optimal ... 36
3.6.3 Uji Kointegrasi ... 37
3.6.4 Uji Kausalitas Granger ... 37
3.6.5 Estimasi VECM ... 39
3.6.5.1 Impulsed Response Function (IRF) ... 39
3.6.5.2 Variance Decomposition ... 40
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 41
4.1 Perkembangan Kebijakan Moneter di Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand ... 41
4.2 Perkembangan Variabel ... 42
4.2.1 Suku Bunga Acuan di Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand ... 42
4.2.2 Suku Bunga Deposito di Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand ... 46
4.2.3 Produk Domestik Bruto di Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand ... 47
4.2.4 Inflasi di Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand ... 50
4.3 Analisis Data dan Pembahasan ... 52
4.3.1 Uji Stasioneritas ... 52
4.3.1.1 Uji Stasioneritas Efeketivitas Suku Bunga Acuan di Indonesia ... 53
4.3.1.2 Uji Stasioneritas Efeketivitas Suku Bunga Acuan di Malaysia ... 53
4.3.1.3 Uji Stasioneritas Efeketivitas Suku Bunga Acuan di Singapura ... 54
4.3.1.4 Uji Stasioneritas Efeketivitas Suku Bunga Acuan di Thailand ... 54
4.3.2 Penentuan Lag Optimal ... 55
4.3.2.1 Penentuan Lag Optimal Efektivitas Suku Bunga Acuan di Indonesia ... 55
4.3.2.2 Penentuan Lag Optimal Efektivitas Suku Bunga Acuan di Malaysia ... 55
4.3.2.3 Penentuan Lag Optimal Efektivitas Suku Bunga Acuan di Singapura ... 56
4.3.2.4 Penentuan Lag Optimal Efektivitas Suku Bunga Acuan di Thailand ... 56
4.3.3 Uji Kointegrasi ... 57
4.3.3.1 Uji Kointegrasi Efektivitas Suku Bunga Acuan di Indonesia ... 57 4.3.3.2 Uji Kointegrasi Efektivitas Suku Bunga
4.3.3.3 Uji Kointegrasi Efektivitas Suku Bunga
Acuan di Singapura ... 58
4.3.3.4 Uji Kointegrasi Efektivitas Suku Bunga Acuan di Thailand ... 59
4.3.4 Uji Kausalitas Granger ... 59
4.3.4.1 Uji Kausalitas Granger Efektivitas Suku Bunga Acuan di Indonesia ... 59
4.3.4.2 Uji Kausalitas Granger Efektivitas Suku Bunga Acuan di Malaysia ... 60
4.3.4.3 Uji Kausalitas Granger Efektivitas Suku Bunga Acuan di Singapura ... 61
4.3.4.4 Uji Kausalitas Granger Efektivitas Suku Bunga Acuan di Thailand ... 62
4.3.5 Uji Estimasi Vector Error Correction Model ... 62
4.3.5.1 Estimasi VECM Efektivitas Suku Bunga Acuan di Indonesia ... 63
4.3.5.2 Estimasi VECM Efektivitas Suku Bunga Acuan di Malaysia ... 64
4.3.5.3 Estimasi VECM Efektivitas Suku Bunga Acuan di Singapura ... 65
4.3.5.4 Estimasi VECM Efektivitas Suku Bunga Acuan di Thailand ... 66
4.3.6 Impulse Respond Function (IRF) ... 67
4.3.6.1 Uji IRF Efektivitas Suku Bunga Acuan di Indonesia... 68
4.3.6.2 Uji IRF Efektivitas Suku Bunga Acuan di Malaysia ... 69
4.3.6.3 Uji IRF Efektivitas Suku Bunga Acuan di Singapura ... 71
4.3.6.4 Uji IRF Efektivitas Suku Bunga Acuan di Thailand ... 72
4.3.7 Variance Decomposition ... 73
4.3.7.1 Uji Variance Decomposition Efektivitas Suku Bunga Acuan di Indonesia ... 75
4.3.7.2 Uji Variance Decomposition Efektivitas Suku Bunga Acuan di Malaysia ... 76
4.3.7.3 Uji Variance Decomposition Efektivitas Suku Bunga Acuan di Singapura ... 77
4.3.7.4 Uji Variance Decomposition Efektivitas Suku Bunga Acuan di Thailand ... 78
4.4 Analisis Pembahasan ... 78
4.4.1 Efektivitas Suku Bunga Acuan di Indonesia ... 79
4.4.2 Efektivitas Suku Bunga Acuan di Malaysia ... 81
4.4.3 Efektivitas Suku Bunga Acuan di Singapura ... 83
4.4.4. Efektivitas Suku Bunga Acuan di Thailand ... 85
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 86
5.1 Kesimpulan ... 86
5.2 Saran ... 87
DAFTAR PUSTAKA ... 89
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
2.1 Penelitian Terdahulu ... 28
4.1 Hasil Uji Stasioneritas di Indonesia ... 53
4.2 Hasil Uji Stasioneritas di Malaysia ... 53
4.3 Hasil Uji Stasioneritas di Singapura ... 54
4.4 Hasil Uji Stasioneritas di Thailand ... 54
4.5 Hasil Uji Lag Optimal di Indonesia ... 55
4.6 Hasil Uji Lag Optimal di Malaysia ... 56
4.7 Hasil Uji Lag Optimal di Singapura ... 56
4.8 Hasil Uji Lag Optimal di Thailand ... 57
4.9 Hasil Uji Kointegrasi di Indonesia ... 57
4.10 Hasil Uji Kointegrasi di Malasysia ... 58
4.11 Hasil Uji Kointegrasi di Singapura ... 58
4.12 Hasil Uji Kointegrasi di Thailand ... 59
4.13 Hasil Uji Kausaliatas Granger di Indonesia ... 60
4.14 Hasil Uji Kausaliatas Granger di Malaysia ... 60
4.15 Hasil Uji Kausaliatas Granger di Singapura ... 61
4.16 Hasil Uji Kausaliatas Granger di Thailand ... 62
4.17 Hasil Uji Esimasi VECM di Indonesia ... 63
4.18 Hasil Uji Esimasi VECM di Malaysia ... 64
4.19 Hasil Uji Esimasi VECM di Singapura ... 65
4.20 Hasil Uji Esimasi VECM di Thailand ... 66
4.21 Hasil Variance Decomposition di Indonesia ... 75
4.22 Hasil Variance Decomposition di Malaysia ... 76
4.23 Hasil Variance Decomposition di Singapura ... 77
4.24 Hasil Variance Decomposition di Thailand ... 78
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
2.1 Kerangka Konseptual ... 30
4.1 Grafik Pergerakan Suku Bunga Acuan di Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand ... 44
4.2. Grafik Pergerakan Suku Bunga Deposito di Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand ... 46
4.3 Grafik Pergerakan Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand ... 48
4.4 Grafik Pergerakan Inflasi di Indonesia,Malaysia, Singapura dan Thailan... 51
4.5 Grafik Hasil Uji IRF di Indonesia ... 68
4.6 Grafik Hasil Uji IRF di Malaysia ... 69
4.7 Grafik Hasil Uji IRF di Singapura ... 71
4.8 Grafik Hasil Uji IRF di Thailand ... 72
4.9 Penentuan Time Lag di Indonesia ... 81
4.10 Penentuan Time Lag di Malaysia ... 83
4.11 Penentuan Time Lag di Singapura... 85
4.12 Penentuan Time Lag di Thailand... 87
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Judul
1 Data Penelitan
2 Hasil Uji Stasioneritas di Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand
3 Hasil Uji Lag Optimal di Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand
4 Hasil Uji Kointegrasi di Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand
5 Hasil Uji Kausalitas Granger di Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand
6 Hasil Uji Estimasi VECM di Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand
7 Hasil Uji Impulse Response Function di Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand
8 Hasil Uji Variance Decomposition di Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand
BAB I
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
Era globalisasi yang ditandai dengan menyatunya negara-negara didunia, mengakibatkan batas-batas negara di bidang ekonomi, keuangan, sumber daya, dan informasi semakin kabur. Perkembangan tekonologi informasi dan terbukanya perdagangan dunia berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi dan perbankan suatu negara. Globalisasi menghadirkan tantangan yang beragam dan persaingan yang ketat bagi setiap sektor industri, termasuk bagi industri perbankan. Krisis keuangan global pada tahun 2008 kembali menyadarkan sangat vitalnya peran bank sentral dalam perekonomian. Setiap terjadi krisis, bank sentral menjadi lembaga yang sangat berperan dalam stabilisasi untuk penanganan krisis dan penyelamatan ekonomi.
Makroekonomi suatu negara tidak dapat dipisahkan dari kebijakan moneter suatu negara. Tidak bisa dipungkiri bahwa kebijakan moneter merupakan salah satu unsur penting dalam proses pertumbuhan ekonomi suatu negara.
Kebijakan moneter mempunyai tujuan yaitu tercapai stabilitas makroekonomi (stabilitas harga, pertumbuhan ekonomi, dan tersedianya lapangan kerja).
Kebijakan moneter dapat berfungsi sebagai stimulus perekonomian karena berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, nilai tukar, suku bunga, terutama di negara- negara di ASEAN seperti Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand.
Suku bunga merupakan faktor yang begitu penting dalam perekonomian suatu negara karena sangat berpengaruh terhadap “kesehatan” suatu perekonomian. Hal
ataupun menabungkan uangnya tetapi juga mempengaruhi dunia usaha dalam mengambil keputusan-keputusan. Di Indonesia yang melaksanakan tugas otoriter moneter adalah Bank Indonesia (BI), di Malaysia dijalankan oleh Bank Negara Malaysia (BNM), di Singapura dijalankan oleh Monetary Authority of Singapura (MAS) dan di Thailand dilaksanakan oleh Bank of Thailand.
Todaro (1990) mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan tema sentral dalam kehidupan ekonomi pada hampir semua negara dewasa ini. Hal ini dimaksudkan untuk mempercepat pencapaiaan tingkat kesejahteraan hidup yang lebih baik bagi penduduknya. Dimana pertumbuhan ekonomi merupakan masalah ekonomi dalam jangka panjang. Dalam kegiatan perekonomian yang sebenarnya pertumbuhan ekonomi berarti perkembangan fiskal produksi barang dan jasa yang berlaku disuatu negara seperti pertambahan dan jumlah barang industri, perkembangan infrastruktur, pertambahan produksi barang dan jasa serta pertambahan produksi modal.
Kebijakan moneter ini bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi karena moneter yang stabil adalah penting bagi pertumbuhan ekonomi yang mantap dan bank sentral memiliki tanggung jawab berkaitan dengan upaya stabilitas moneter. Pengaruh suku bunga yang dinaikkan atau diturunkan oleh bank sentral direspon pelaku pasar dan penanam modal, sehingga berefek terhadap perekonomian. Seperti yang terjadi krisis pada tahun 2008 di Amerika Serikat yang mengakibatkan penurunan suku bunga yang dilakukan oleh The Federal Reserve of United States atau bank sentral Amerika Serikat yang kala itu dipimpin oleh master ekonom dunia Alan Greennspan membuat gejolak baru di
Amerika Serikat. Krisis ekonomi Amerika tersebut yang semakin lama semakin merambat menjadi krisis ekonomi global karena sebenarnya perekonomian di dunia ini saling terhubung satu sama lainnya, peristiwa yang terjadi di suatu tempat akan berpengaruh di tempat lainnya dan tidak jarang dampak yang terjadi jauh lebih besar daripada yang terjadi di tempat asalnya. Oleh karena itu negara di ASEAN seperti Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand juga turut merasakan krisis ekonomi global ini. Negara di ASEAN masih sangat bergantung dengan aliran dana dari investor asing, dengan adanya krisis global ini secara otomatis para investor asing tersebut menarik dananya. Hal ini yang berakibat jatuhnya nilai mata uang setiap negara di ASEAN. Aliran dana asing yang tadinya akan digunakan untuk pembangunan ekonomi dan untuk menjalankan perusahaan-perusahaan hilang, banyak perusahaan menjadi tidak berdaya, yang pada ujungnya negara juga yang harus menanggung hutang perbankan dan perusahaan swasta.
Di tahun 2018, Bank Indonesia menerapkan suku bunga acuan stabil sebesar 4,25 % sampai akhir tahun. Langkah ini mengingat masih ada sejumlah resiko eksternal yang terjadi. Salah satu resiko eksternal yang muncul pada tahun 2018 adalah suku bunga acuan AS. Bank sentral AS yang menaikkan suku bunga acuan Fed Fund Rate sebanyak tiga kali pada tahun 2018. Apabila suku bunga acuan AS naik, maka dana-dana dari luar AS akan masuk ke negara Amerika Serikat. Begitu juga dengan bank negara Malaysia sebesar 3,25%, Bank of Thailand sebesar 1,50%. Bank Sentral Singapura (Monetary Authority of Singapore) juga telah memperketat kebijakan moneter sebanyak dua kali pada
tahun 2018 di tengah tren kenaikan suku bunga The Fed yang berdampak pada kebijakan moneter konservatif secara global. Menurut Selena Ling selaku Chief Economist di Oversea-Chinese Banking Corp (OCBC) menyatakan bahwa kunci kebijakan dari bank Sentral Singapura bergantung pada keputusan The Fed untuk menghentikan kenaikan suku bunga lebih awal yang diperkirakan dan proyeksi inflasi Singapura. Jika bank sentral menetapkan suku bunga rendah maka dapat menaikkan permintaan domestik dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan menaikkan daya saing ekonomi (jika perekonomian dalam tingkat yang stabil) tetapi jika perekonomian pada waktu yang tidak stabil bank sentral menurunkan suku bunga maka akan berdampak sedikit kepada pertumbuhan ekonomi karena masyarakat masih menahan diri dan bersikap hati-hati dalam konsumsi atau mengajukan kredit. Sebaliknya jika bank sentral menerapkan suku bunga tinggi maka dikhawatirkan dapat menimbulkan inflasi dalam jangka panjang namun jika dilihat dalam jangka pendek kenaikan suku bunga acuan dapat menaikkan pertumbuhan ekonomi.
Inflasi merupakan salah satu peristiwa moneter yang sangat penting dan dijumpai di hampir semua negara di dunia. Inflasi adalah kecenderungan dari harga – harga untuk menaik secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas atau mengakibatkan kenaikan sebagian besar dari barang – barang lain.
(Boediono, 1995) dan Brodjonegoro (2008) menyatakan bahwa permasalahan pertama yang paling kritis dalam kebijakan moneter adalah kesulitan pengambil kebijakan dalam mengendalikan laju inflasi. Seperti contohnya, memang laju
inflasi Indonesia relatif rendah, lebih banyak dibawah dua digit, tetapi selalu membutuhkan kerja ekstra keras. Selain itu, inflasi yang terjadi juga sangat rentan apabila terjadi gangguan eksternal. Ketika terjadi guncangan (shock) eksternal sedikit, seperti kenaikan harga pangan, atau energi, maka secara langsung inflasi menjadi tidak terkontrol melebihi 10 persen.
Dalam melihat tingkat pertumbuhan ekonomi dari tahun ketahun digambarkan dengan penyajian data PDB yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, serta kebijakan moneter didalam suku bunga acuan suatu negara.
Kebijakan moneter sering kali digunakan untuk menguatkan usaha memajukan pergantian makro ekonomi melalui pasar keuangan. Kenaikan tingkat suku bunga yang tidak wajar dapat menggangu aktivitas ekonomi. Bunga yang tinggi mampu menghimpun dana baik dalam bentuk deposito maupun tabungan dana yang disalurkan melalui kredit. Sementara bunga yang terlalu rendah akan mengurangi niat masyarakat menabung dan mendorong aliran dana keluar negeri akibatnya bank-bank akan kesulitan menghimpun dana. Begitu juga dengan nilai tukar yang realistis dan perubahannya yang rendah dapat meningkatkan penurunan kredit untuk usaha yang roduktif sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi.
Berdasarkan uraian di atas, penulis mencoba menganalisis efektivitas dan sejauh mana target yang telah dicapai dengan adanya kebijakan moneter yakni didalam pergerakan suku bunga acuan terhadap tingkat pertumbuhan ekonomi di Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand. Apakah dengan adanya kebijakan moneter tersebut ekonomi suatu negara akan semakin tumbuh atau malah sama sekali tidak merangsang pertumbuhan ekonomi. Untuk itu penulis mengambil
judul “Efektivitas Kebijakan Moneter melalui Suku Bunga Acuan terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Asean’’.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka dari penelitian ini dapat dirumuskan masalah yaitu : Apakah kebijakan moneter melalui suku bunga acuan efektif mempengaruhi pertumbuhan ekonomi pada masing-masing empat negara di ASEAN yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk : Menganalisis efektivitas kebijakan moneter melalui suku bunga acuan dalam mempengaruhi pertumbuhan ekonomi pada masing-masing empat negara di ASEAN yaitu Indonesia, Malaysia.
Singapura dan Thailand.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk mengetahui efektivitas kebijakan moneter suku bunga acuan dalam mempengaruhi pertumbuhan ekonomi pada masing-masing empat negara di ASEAN yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kebijakan Moneter
2.1.1 Pengertian Kebijakan Moneter
Kebijakan moneter merupakan semua upaya atau tindakan bank sentral dalam mempengaruhi variabel moneter (uang beredar, suku bunga, kredit dan nilai tukar) untuk mencapai tujuan ekonomi (Litteboy and Taylor, 2006:198 dan (Mishkin, 2004: 457). Sebagai bagian dari kebijakan makro, maka tujuan kebijakan moneter adalah untuk mencapai sasaran-sasaran kebijakan makroekonomi antara lain: pertumbuhan ekonomi, penyediaan lapangan kerja, stabilitas harga dan keseimbangan neraca pembayaran (Natsir, 2011).
Kebijakan moneter juga dapat diartikan sebagai suatu usaha dalam mengendalikan keadaan ekonomi makro agar dapat berjalan sesuai dengan yang diinginkan melalui pengaturan jumlah uang beredar dalam perekonomian. Usaha tersebut dilakukan agar terjadi kestabilan harga dan inflasi serta terjadinya peningkatan output keseimbangan dimana bank sentral adalah lembaga yang berwenang mengambil langkah kebijakan moneter untuk mempengaruhi jumlah uang beredar. Kebijakan moneter itu saling berkaitan satu sama lain dan memungkinkan terjadinya trade off dalam penerapannya. Dalam prakteknya, perkembangan kegiatan perekonomian yang diinginkan adalah terjaganya stabilitas ekonomi makro yang dicerminkan oleh stabilitas harga (inflasi rendah), membaiknya pertumbuhan ekonomi serta luasnya lapangan kerja.
Keberhasilan dari kebijakan moneter merupakan pengaruh besar
yang bertujuan untuk menjaga stabilitas ekonomi yang akan tercapai apabila keadaan ekonomi stabil, dimana arus perputaran barang dan uang berjalan seimbang dan terkendali. Selain itu kebijakan moneter juga bertujuan untuk menjaga kestabilan harga, dengan mengatur jumlah uang yang beredar oleh bank sentral, sehingga tingkat harga dari waktu ke waktu relatif akan terkendali. Jika keadaan harga stabil, masyarakat akan percaya bahwa membeli barang sekarang akan sama dengan membeli barang pada masa yang akan datang. Meningkatkan kesempatan kerja juga merupakan tujuan kebijakan moneter, dimana stabilitas ekonomi yang baik akan mendorong peningkatan investor untuk mengembangkan investasi-investasi baru, yang akan membuka lapangan pekerjaan yang berdampak pada pengurangan angka pengangguran suatu negara.
2.1.2 Teori-Teori Kebijakan Moneter A. Teori Moneter Klasik
Teori moneter klasik Jean Bebtisesy, Irving Fisher, Alfred Marsall merupakan tiga tokoh utama dalam moneter klasik yang menganut aliran ekonomi makro sebelum Keynes. Teori-teori moneter mereka agak berbeda satu sama lain, namun mempunyai kesamaan dasar dan diberi nama “Teori Kuantitas mengenai uang’’. Dalam moneter klasik Jean Bebtisesy, hukum yang dikemukakan adalah
“Penawaran akan selalu menciptakan permintaan”. Jumlah pengeluaran masyarakat secara keseluruhan adalah menunjang produksi pada keadaan kesempatan kerja penuh. Sementara potensi output yang dihasilkan tergantung pada teknologi dan jumlah tenaga kerja. Semakin tinggi teknologi, jumlah tenaga kerja dan kualitas tenaga kerja makan output potensial yang dihasilkan akan
semakin besar pula. Sehingga terwujud mekanisme pasar seperti yang disebutkan oleh Adam Smith sebagai universal land, upah dan harga yang bebas yang berubah akan menjamin barang sebagai hasil produksi antara permintaan dan penawaran melalui prinsip las payer. Berbeda dengan ekonomi klasik yang menganggap tabungan masyarakat tidak hilang dari peredaran, karena tabungan itu akan dipinjam para pengusaha untuk investasi dan masyarakat penabung memperoleh bunga. Menurut teori klasik tabungan merupakan fungsi dari tingkat bunga, semakin tinggi tingkat bunga semakin tinggi keinginan untuk menabung.
Sedangkan didalam investasi justru sebaliknya, semakin tinggi tingkat bunga, maka keinginan investasi akan semakin rendah. Teori tersebut sebenarnya merupakan teori permintaan dan sekaligus penawaran akan uang, beserta interaksi antara keduanya. Fokus dari teori ini adalah pada hubungan penawaran uang (jumlah uang yang beredar) dengan nilai uang ( tingkat harga). Hubungan antara kedua variabel tersebut dijabarkan lewat teori mengenai permintaan akan uang.
Perubahan jumlah uang beredar atau penawaran berinteraksi antara uang dengan permintaan akan uang dan selanjutnya menentukan nilai uang (Boediono,:1980).
Sementara itu pandangan Irving Fisher mengenai moneter adalah berdasarkan pada falsafah hukum Say bahwa ekonomi selalu berada dalam keadaan full employment, oleh karena itu Fisher mengemukakan teori ;
MV = PT…….(1)
Dalam setiap transaksi selalu ada penjual dan pembeli. Jumlah uang yang dibayarkan oleh pembeli harus sama dengan jumlah uang yang diterima oleh penjual. Dan hal ini berlaku untuk seluruh perekonomian dalam suatu periode
tertentu nilai dari barang / jasa yang dibeli harus sama dengan nilai dari barang / jasa-jasa yang dijual. Nilai dari barang-barang yang dijual sama dengan volume transaksi (T) dikalikan dengan harga rata- rata dari barang tersebut (P). Di lain pihak nilai dari barang yang ditransaksikan harus pula sama dengan volume uang yang bertukar dalam periode tersebut (V). MV = PT adalah suatu identitas yang dikembangkan oleh Irving Fisher menjadi suatu teori moneter, dimana transaksi velocity of circulation merupakan suatu variabel yang ditentukan oleh faktor- faktor kelembagaan yang ada dalam suatu masyarakat, dan dalam jangka pendek serta biasa dianggap konstan. T atau volume transaksi, dalam suatu periode tertentu ditentukan oleh tingkat output masyarakat dan dapat dianggap mempunyai nilai tertentu untuk setiap tahun, dengan demikian rumus diatas berubah menjadi ;
MV = PT atau Md = PT/VT….(2)
Dimana VT merupakan laju kecepatan transaksi dan variabel yang dipengaruhi oleh faktor – faktor yang ada dan dianggap tetap dalam jangka pendek, dengan T yang ditentukan oleh pendapatan nasional dan mempunyai nilai tertentu dalam satu tahun (Boediono,:1980). Marshall yang sering diistilahkan dengan pendapat Cambridge dalam moneter klasik, seperti halnya teori Fisher dan teori klasik- klasik lainnya, berpokok pangkal pada fungsi uang sebagai alat tukar umum, perbedaannya hanya terletak pada tekanan dalam teori “permintaan akan uang”. Dalam teori ini, mengatakan bahwa kegunaan dari pemegang kekayaan dalam bentuk uang adalah karena uang memiliki bentuk yang likuid sehingga dengan mudah dapat ditukarkan dengan barang lain. Dilain pihak memegang
kekayaan dalam bentuk uang berarti mengorbankan kemungkinan mendapatkan penghasilan dalam bentuk bunga atau keuntungan capital. Cambridge lebih menekankan pada permintaan akan uang selain dipengaruhi oleh volume transaksi dan faktor – faktor kelembagaan, tingkat bunga dan besar kekayaan serta ramalan juga mempengaruhi permintaan akan uang seseorang dan dengan demikian juga mempengaruhi permintaan akan uang dari masyarakat secara keseluruhan. Teori Cambridge menganggap bahwa, cateris paribus permintaan akan uang adalah proporsional dengan tingkat pendapatan nasional, dengan:
M = k ( PT )….(3)
Dimana: k = bagian dari transaksi , P = tingkat harga rata- rata , T = jumlah transaksi yang terjadi M= jumlah uang yang beredar.
Teori Cambridge mengatakan jika tingkat bunga naik, kecenderungan masyarakat mengurangi uang, meski volume transaksi yang mereka rencanakan tetap. Demikian juga faktor harapan mempengaruhi, seandainya di masa datang diharapkan akan ada kenaikan tingkat bunga, maka masyarakat akan cenderung mengurangi jumlah surat berharga yang dipegangnya dan menambah jumlah uang tunai, sehingga mempengaruhi transaksi jangka pendek. Teori Cambridge selangkah lebih maju dari teori Fisher meski keduanya tergolong teori klasik.
Pelopor pembaharuan Teori Kuantitas (Klasik) sesudah Keynes adalah Prof.
Milton Friendmen yang menginterpretasikan pengembangan lanjut dari aspek lain, yaitu konsepsi bahwa teori permintaan uang hanyalah satu penerapan lanjut dari
teori umum mengenai permintaan dalam ekonomi mikro, sedangkan prinsip dasarnya pemilihan antara alternatif oleh konsumen. Friedmen menganggap uang sama dengan benda-benda yang bernilai seperti obligasi, tanah dll, yang dirumuskan:
W = Y/r atau W = y/r….(4)
Dalam pandangan Milthon permintaan akan uang disamakan dengan modal, dimana ada 3 faktor penentu uang, yaitu:
1. Pendapatan dan harga berbagai jenis barang 2. Selera dalam menentukan jumlah kekayaan 3. Jumlah kekayaan.
Selain dipengaruhi oleh pendapatan, harga, tingkat bunga dan selera, permintaan uang juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, seperti ;
1. Kekayaan masyarakat 2. Tersedianya fasilitas kredit 3. Harapan tentang harga
4. Cara pembayaran yang berlaku
5. Tersedianya beberapa bentuk kekayaan B. Teori Moneter Modern
The General Theory of Employment, Intrest, and Money merupakan buku pemikiran Keynes setelah zaman klasik. Dalam buku tersebut Keynes menitikberatkan berbagai usaha penanggulangan depresi ekonomi ketika tingkat pengangguran tinggi. Kebijakan moneter yang didimaksudkan oleh Keynes adalah pengaruh jumlah uang yang beredar oleh otoritas moneter untuk mencapai tujuan
ekonomi. Dalam tingkat pendapatan yang equilibrium yang rendah dari tingkat pendapatan rill, kebijaksanaan menambah jumlah uang yang beredar akan mengakibatkan terjadinya pergeseran kurva LM kekanan yang mempengaruhi equilibrium. Meningkatnya jumlah uang yang beredar akan mengakibatkan turunnya tingkat bunga di pasar, penurunan tingkat bunga akan mendorong investasi yang juga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu negara yang ditandai dengan peningkatan dan pendapatan perkapita dan berkurangnya jumlah pengangguran dengan kata lain sektor moneter mempengaruhi tingkat bunga.
Efektivitas kebijaksanaan moneter akan mencapai tujuannya apabila mempengaruhi tingkat pendapatan dan employment, dimana jumlah uang yang beredar mampu mempengaruhi tingkat bunga, dan tingkat bunga tersebut mampu mempengaruhi tingkat investasi yang terjadi.
2.1.3 Target Kebijakan Moneter
Target akhir kebijakan moneter adalah suatu kondisi makro yang ingin dicapai oleh setiap negara. Target kebijakan moneter tidak statis, namun bersifat dinamis karena selalu disesuaikan dengan kebutuhan perekonomian suatu negara.
Akan tetapi, kebanyakan negara menetapkan empat hal yang menjadi ultimate target dari kebijakan moneter, yaitu : pertumbuhan ekonomi, pemerataan pendapatan, kesempatan kerja, dan keseimbangan neraca pembayaran. Idealnya semua sasaran perekonomian tersebut harus dicapai secara serentak dan optimal.
Namun, karena usaha-usaha untuk mencapai sasaran-sasaran tersebut dapat menimbulkan dampak yang kontradiktif. Misalnya kebijakan moneter yang kontradiktif untuk menekan laju inflasi dapat berpengaruh negatif terhadap
pertumbuhan ekonomi dan penciptaan kesempatan kerja. Di samping itu, pengalaman empiris menunjukkan bahwa perekonomian memburuk karena kebijakan moneternya memiliki tujuan ganda (multiple objectives). Untuk alasan ini, mayoritas bank sentral fokus pada sasaran tunggal (single objevtive) yaitu mewujudkan dan memelihara kestabilan moneter (Warjiyo dan M Juhro,2016) . 2.1.4 Indikator dan Respon Kebijakan Moneter
Indikator kebijakan moneter dilakukan dengan berbagai pertimbangan sebagai berikut :
1. Dalam merumuskan kebijakan moneter, Bank sentral akan selalu melakukan analisis dan mempertimbangkan berbagai indikator ekonomi, khususnya prakiraan inflasi, pertumbuhan ekonomi, besaran-besaran moneter dan perkembangan sektor ekonomi dan keuangan secara keseluruhan.
2. Bank sentral akan selalu dan terus memperhatikan langkah-langkah kebijakan ekonomi yang ditempuh pemerintah. Langkah-langkah koordinasi kebijakan yang selama ini telah berlangsung baik akan terus diperkuat dan ditingkatkan.
3. Analisis dan prakiraan berbagai variabel ekonomi tersebut dipertimbangkan untuk mengarahkan agar prakiraan inflasi ke depan sejalan dengan kisaran sasaran inflasi yang ditetapkan.
Respon kebijakan moneter selalu berorientasi kepada kebijakan sebagai dasar dan tujuan kebijakan moneter sebagai berikut :
1. Respon (stance) kebijakan moneter ditetapkan untuk menjamin agar pergerakan inflasi dan ekonomi ke depan tetap berada pada jalur pencapaian sasaran inflasi yang telah ditetapkan (konsistensi).
2. Respon kebijakan moneter dinyatakan dalam kenaikan, penurunan, atau tidak berubahnya Suku bunga acuan.
3. Perubahan (kenaikan dan penurunan) suku bunga acuan dilakukan secara konsisten dan bertahap.
2.1.5 Indikator Efektivitas Kebijakan Moneter
Terdapat dua teori mengenai efektifitas kebijakan moneter, yaitu Natural Rate Hypothesis dan Rational Expectation Hypothesis. Natural Rate Hypothesis menjelaskan bahwa efektifitas kebijakan moneter hanya berpengaruh pada jangka pendek saja, tidak untuk jangka panjang. Hal ini disebabkan kebijakan moneter dalam jangka pendek akan meningkatkan output, namun dalam jangka panjang masyarakat akan sadar bahwa upah rillnya turun sehingga output yang semula naik kembali turun. Rational Expectation Hypothesis menjelaskan bahwa kebijakan moneter tidak efektif baik jangka pendek maupun jangka panjang, karena masyarakat sadar kebijakan moneter akan berdampak pada turunnya upah rill (Pohan, 2008). Efektivitas Kebijakan moneter dapat diukur dengan dua indikator, yaitu:
1. Berapa kecepatan atau tenggat waktu (time lag).
2. Kekuatan variabel-variabel yang digunakan dalam merespon shock instrumen kebijakan moneter.
Kedua indikator tersebut diperoleh dari hasil Uji Impulse Response Function (IRF) dan Uji Variance Decomposition (VD).
2.1.6 Kebijakan Moneter di Indonesia
Kebijakan moneter merupakan kebijakan yang dilaksanakan oleh Bank Sentral atau Otoritas Moneter dalam bentuk pengendalian besaran moneter dan atau suku bunga untuk mencapai perkembangan kegiatan perekonomian yang diinginkan (Warjiyo dan Solihin, 2003). Kebijakan moneter merupakan bagian dari kebijakan ekonomi makro dan memiliki hubungan yang sangat terkait.
Kebijakan moneter diarahkan untuk mencapai stabilitas inflasi dan terciptanya sistem keuangan yang dapat melaksanakan fungsi intermediasi secara seimbang.
Kebijakan moneter berpengaruh terhadap sektor riil dan keuangan melalui mekanisme berbagai jalur transmisi kebijakan moneter yaitu jalur uang, kredit, suku bunga, nilai tukar yang berlangsung melalui sistem perbankan (Warjiyo, 2004). Tujuan akhir kebijakan moneter adalah menjaga dan memelihara kestabilan nilai rupiah yang salah satunya tercermin dari tingkat inflasi yang rendah dan stabil. Untuk mencapai tujuan itu, Bank Indonesia menetapkan suku bunga acuan sebagai instrumen kebijakan utama untuk mempengaruhi aktivitas kegiatan perekonomian dengan tujuan akhir pencapaian inflasi.
Pada jalur suku bunga, pertumbuhan suku bunga acuan mempengaruhi suku bunga deposito dan suku bunga kredit perbankan. Apabila perekonomian sedang mengalami kelesuan, Bank Indonesia dapat menggunakan kebijakan moneter yang menurunkan suku bunga kredit sehingga permintaan akan kredit dari perusahaan dan rumah tangga akan meningkat. Penurunan suku bunga kredit
juga menurunkan biaya modal perusahaan untuk melakukan investasi. Ini semua akan meningkatkan aktivitas konsumsi dan investasi sehingga aktivitas perekonomian semakin bergairah dan akan membuat kenaikan dari pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Sebaliknya, apabila tekanan inflasi mengalami kenaikan, Bank Indonesia merespon dengan menaikkan suku bunga acuan untuk mengerem aktivitas perekonomian yang terlalu cepat sehingga mengurangi tekanan inflasi.
2.1.7 Kebijakan Moneter di Malaysia
Sejak krisis keuangan Asia pada tahun 1998, perubahan signifikan telah terjadi di sektor perbankan Malaysia. Sebelum tahun 1998 sektor perbankan ditandai oleh sejumlah besar lembaga kecil. Namun, gelombang konsolidasi dan merger lembaga keuangan sejak tahun 1998 telah menyebabkan munculnya Sembilan kelompok perbankan domestik pada tahun 2006. Sistem keuangan Malaysia telah berkembang sejalan perubahan struktur perekonomian. Perubahan dalam struktur dan sistem keuangan pada gilirannya memiliki pengaruh penting dalam membentuk dan meningkatkan kompleksitas hubungan antara kebijakan moneter dan ekonomi rill. Dalam hal ini, sebagai pembuat kebijakan penting untuk memahami bagaimana transformasi ekonomi mempengaruhi sifat, saluran transmisi kebijakan moneter.
Malaysia menggunakan suku bunga sebagai umpan dalam menarik investasi terutama investasi asing. Siaran yang dibuat oleh Bank Dunia menyatakan bahwa kegiatan investasi di Malaysia masuk lima besar negara di dunia yang memiliki iklim investasi terbaik. Pengolahan yang baik juga mempengaruhi investasi di Malaysia dalam pengolahan pinjaman, karena adanya
dana yang cukup ke dalam peningkatan investasi, pemberian kredit di dalam negeri juga meningkat selama periode terakhir. Kebijakan moneter Malaysia melalui suku bunga telah berdiri selama lima puluh tahun. Mekanisme ini didasarkan pada Keynesian model IS/Lm (Mishkin, 1996). Saluran ini juga dikenal sebagai pandangan uang. Dalam pandangan uang, kebijakan moneter dapat mempengaruhi variabel ekonomi melalui suku bunga. Mekanisme transmisi kebijakan moneter ini dapat diilustrasikan sebagai berikut, dengan asumsi bahwa terjadi kontraksi moneter:
M↓ → i↑ → I↓ → Y↓
Ketika kontraksi moneter dilaksanakan, hal itu akan mempengaruhi tingkat bunga rill meningkat. Tingkat bunga rill yang tinggi akan meningkatkan biaya pinjaman kepada investor. Oleh Karena itu, investasi akan menurun, yang menyebabkan penurunan permintaan agregat sehingga output ekonomi menurun.
Dalam teori ekonomi disebutkan bahwa peran nilai tukar dalam mekanisme transmisi kebijakan moneter adalah semakin besar terhadap sektor perekonomian.
Meskipun demikian, banyak studi yang dilakukan menemukan bahwa nilai tukar tidak berperan siginifikan dalam transmisi kebijakan moneter seperti yang dimuat dalam teori ekonomi Perkiraan BNM (Bank Negara Malaysia) menunjukkan bahwa rasio saluran nilai tukar terhadap jalur suku bunga adalah 1:4. Dengan kata lain, jalur suku bunga lebih efektif empat kali daripada nilai tukar dalam transmisi kebijakan moneter di Malaysia.
2.1.8 Kebijakan Moneter di Singapura
Monetary Authority of Singapore didirikan di bawah Otoritas Moneter Singapura mulai beroperasi pada 1 Januari 1971. Hal ini menandai sebuah tonggak penting dalam sejarah perkembangan keuangan dan moneter Singapura.
Sebelum ini, berbagai fungsi moneter biasanya terkait dengan bank sentral telah dilakukan oleh beberapa departemen dan instansi pemerintah. Namun, pada akhir 1969, pemerintah memutuskan bahwa berbagai badan yang bertanggung jawab untuk pengelolaan moneter harus dibawa di bawah satu organisasi. Bank sentral Singapura kini juga bertangung jawab atas penerbitan mata uang. Dunia prospek ekonomi terus menjadi patokan negara-negara mitra utama pertama di Singapura seperti Amerika Serikat, Jepang, Eropa atau China di mana setiap perubahan ke negara biasanya Singapura akan segera menyesuaikan diri dengan cepat karena memang ekonomi Singapura bergantung pada kegiatan perdagangan internasional.
Sektor manufaktur dan industri jasa yang berorientasi ekspor mengalami peningkatan secara bertahap selama beberapa tahun terakhir. Sedangkan untuk pasar tenaga kerja, Singapura adalah negara di mana warga masih cukup mudah untuk menemukan pekerjaan sehingga pengangguran dapat dikurangi sedikit di Singapura daripada di negara-negara ASEAN lainnya.
Peran Singapura sebagai pusat keuangan internasional, ekonomi Singapura sangat terbuka untuk arus modal. Akibatnya, perubahan kecil dalam perbedaan antara suku bunga domestik dan asing akan menyebabkan gerakan besar dan cepat terhadap modal. Hal ini membuat sulit untuk menargetkan jumlah uang beredar di Singapura, karena arus bersih dari dana luar negeri dengan mudah
dapat mempengaruhi jumlah uang beredar dalam negeri. Demikian juga, suku bunga domestik sangat ditentukan oleh tingkat asing dan ekspektasi pasar pergerakan $ S. Dengan demikian, setiap upaya oleh MAS untuk menaikkan atau menurunkan suku bunga domestik selama periode waktu yang panjang, akan digagalkan oleh pergeseran dana masuk atau keluar dari Singapura. Dengan kata lain, mengingat konteks mobilitas modal bebas, pilihan nilai tukar sebagai fokus kebijakan moneter menyiratkan bahwa MAS tidak dapat mengendalikan suku bunga domestik atau pasokan uang pada waktu yang sama.
2.1.9 Kebijakan Moneter di Thailand
Setelah program IMF (rezim penargetan, bank membuat target jumlah uang beredar dalam negeri dengan menggunakan pendekatan pemrograman keuangan dalam rangka untuk memastikan konsistensi makroekonomi serta untuk mencapai tujuan akhir dari pertumbuhan yang berkelanjutan dan stabilitas harga.
Bank akan menetapkan target triwulanan moneter dasar dan sehari-hari, dimana manajemen likuiditas harian yang didasarkan, Bank melakukan penilaian kembali luas baik dari dalam negeri dan lingkungan eksternal dan menyimpulkan bahwa penargetan uang beredar akan kurang efektif daripada penargetan inflasi.
Penyebab utama perubahan adalah bahwa hubungan antara jumlah uang beredar dan pertumbuhan output menjadi kurang stabil sepanjang waktu, terutama sejak krisis keuangan.
Tujuan utama dari Bank of Thailand (MWA) adalah untuk memastikan stabilitas harga dalam perekonomian, yang didefinisikan sebagai inflasi yang rendah dan stabil. Harga stabilitas membantu memfasilitasi pengambilan
keputusan dan perencanaan konsumsi. Bank of Thailand (BOT) telah melaksanakan kebijakan moneter bahwa kerangka penargetan inflasi yang fleksibel sejak Mei 2000 dimana bank setuju untuk membayar perhatian tidak hanya inflasi tetapi juga untuk pertumbuhan ekonomi dan stabilitas termasuk kondisi pasar keuangan serta status keuangan rumah tangga, bisnis, dan lembaga keuangan.
Keputusan Bank of Thailand (BOT) dalam keputusan tingka suku bunga melakukan transaksi dengan tingkat bunga kebijakan yaitu lembaga keuangan mengajukan tawaran untuk jumlah yang mereka ingin meminjam atau berinvestasi. Di bawah kerangka kerja penargetan inflasi yang fleksibel, Komite Kebijakan Moneter (MPC) memberi sinyal sikap kebijakannya melalui perubahan tingkat bunga kebijakan, atau tingkat pembelian kembali bilateral 1 hari. BOT telah membentuk kerangka kerja operasi moneter yang terdiri dari berbagai instrumen kebijakan moneter untuk mengarahkan suku bunga pasar uang jangka pendek sejalan dengan suku bunga kebijakan.
2.2 Suku Bunga Acuan
Suku bunga acuan merupakan suku bunga kebijakan yang mencerminkan sikap kebijakan moneter yang ditetapkan oleh bank sentral dan diumumkan kepada publik. Bank Sentral memiliki wewenang untuk menetapkan suku bunga acuan yang kemudian akan dijadikan dasar dalam mengkalkulasi yield obligasi, return asset, juga bunga di pasar antarbank. Kenaikan suku bunga merupakan bagian dari pengetatan moneter yang dilakukan saat laju inflasi dinilai tinggi.
Tujuannya bisa jadi ada dua, yaitu untuk mencapai target inflasi yang telah
ditentukan dengan membendung kenaikan harga-harga atau untuk membendung arus capital outflow (pelarian dana ke luar negeri). Sedangkan pemangkasan suku bunga dilakukan dalam upaya pelonggaran moneter yang dilakukan saat inflasi dianggap rendah (deflasi atau disinflasi). Tujuan utamanya adalah agar harga- harga naik dan mencapai target inflasi. Pemangkasan suku bunga juga bisa jadi dilakukan dengan tujuan agar nilai tukar mata uangnya melemah dan daya saing ekspor meningkat. Contoh, Bank Indonesia sudah sering menggunakan suku bunga untuk mendukung pencapaian inflasi, biasanya dengan menaikkan suku bunga saat laju inflasi melampaui target dan capital outflow mengancam Indonesia. Bank Sentral Singapura memperketat kebijakan moneternya dan menyatakan bahwa ekonomi negara Singapura akan tetap stabil meski ada risiko perang dagang antara Amerika Serikat dengan China. Selain itu, Bank of Thailand juga menurunkan suku bunga acuannya, langkah ini diambil ditengah kebijakan pengetatan kebijakan moneter yang ditempuh oleh negara-negara tetangga di regional seperti Indonesia, Singapura dan Malaysia.
2.3 Suku Bunga Deposito
Di pasar keuangan, suku bunga bank sentral berpengaruh terhadap suku bunga deposito. Sama halnya dengan suku bunga simpanan lainnya, tingkat suku bunga ditentukan oleh beberapa faktor yang saling terkait satu sama lain bahkan antara simpanan dan pinjaman yang dikelola bank ikut menjadi salah satu faktor penentu yang berlaku oleh perbankan. Kondisi naik turun suku bunga deposito ini disebabkan oleh inflasi dan pertumbuhan ekonomi yaitu ketika inflasi meningkat
maka suku bunga deposito juga meningkat. Tetapi jika pertumbuhan ekonomi meningkat maka suku bunga deposito secara umum akan turun.
2.4 Inflasi
Menurut Teori Keynes inflasi terjadi karena suatu masyarakat ingin hidup diluar batas kemampuan ekonominya. Proses inflasi, menurut pandangan ini,tidak lain adalah proses perebutan bagian rezeki diantara kelompok-kelompok sosial yang menginginkan bagian yang lebih besar daripada yang bisa disediakan oleh masyarakat tersebut. Proses perebutan ini akhirnya diterjemahkan menjadi keadaan dimana permintaan masyarakat akan barang-barang selalu melebihi jumlah barang-barang yang tersedia (inflationary gap).
Menurut Irving Fisher dalam buku Sadono Sukirno (2002:25), kenaikan harga-harga umum atau inflasi (P) disebabkan oleh tiga faktor yaitu jumlah uang beredar (M), kecepatan peredaran uang (V), dan jumlah barang yang diperdagangkan (T). Menurutnya inflasi adalah proses kenaikkan harga barang umum yang berlaku dalam perekonomian. Ini tidak berarti bahwa harga-harga berbagai macam barang itu naik dengan persentase yang sama. Yang penting terdapat kenaikan harga-harga umum barang secara terus-menerus selama satu periode tertentu. Kenaikan yang terjadi hanya satu sekali saja (meskipun dengan persentase yang cukup besar) bukanlah merupakan inflasi. Veneris dan Sebol dalam Muana Nanga (2001:241) mendefinisikan inflasi sebagai suatu kecenderungan meningkatnya tingkat harga umum secara terus-menerus sepanjang waktu. Berdasarkan definisi tersebut, kenaikan tingkat harga umum
(general price level) yang terjadi sekali waktu saja, tidaklah dapat dikatakan sebagai inflasi.
Tingkat inflasi atau persentase pertambahan kenaikan harga berbeda dari satu periode ke periode lainnya, dan berbeda pula dari satu negara ke negara lain.
Adapun indikator dari inflasi adalah Indeks Harga Konsumen (IHK) yang merupakan indikator umum digunakan untuk menggambarkan pergerakan harga.
Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Yang kedua adalah Indeks Harga Perdagangan Besar merupakan indikator yang menggambarkan pergerakan harga dari komoditi-komoditi yang diperdagangkan di suatu daerah. Inflasi timbul karena adanya tekanan dari sisi penawaran (cost push inflation), dari sisi permintaan (demand pull inflation), dan dari ekspektasi inflasi.
Adanya peningkatan inflasi, akan memberikan berbagai dampak terhadap pembangunan ekonomi. Adapun dampak inflasi terhadap perekonomian antara lain :
1. Efek terhadap pendapatan.
Efek pendapatan sifatnya tidak merata, ada yang dirugikan dan ada pula yang diuntungkan dengan adanya inflasi. Golongan yang dirugikan adalah orang-orang yang berpenghasilan tetap, seperti pegawai negeri atau pun pegawai swasta karena mereka menderita kerugian penurunan pendapatan riil dan pihak-pihak yang mendapat keuntungan adalah mereka yang mempunyai kekayaan bukan uang dimana nilainya naik dengan persentase yang lebih besar dari laju inflasi.
2. Efek terhadap efesiensi
Inflasi dapat juga mengubah pola alokasi faktor-faktor produksi.
Perubahan ini dapat terjadi melalui kenaikan akan berbagai macam barang yang kemudian dapat mendorong terjadinya perubahan terhadap produksi beberapa barang tertentu dengan adanya inflasi, permintan akan barang tertentu mengalami kenaikan yang lebih besar dari barang lain, yang kemudian mendorong kenaikan produksi barang tersebut. Kenaikan produksi barang ini pada gilirannya akan mengubah pola alokasi faktor faktor produksi yang sudah ada. Memang tidak ada jaminan bahwa alokasi faktor -faktor produksi itu lebih efesien dalam keadaan tidak ada inflasi.
Namun kebanyakan ahli ekonomi berpendapat bahwa inflasi dapat mengakibatkan alokasi faktor produksi menjadi tidak efesien.
3. Efek terhadap output
Inflasi akan dapat menyebabkan terjadinya kenaikan produksi dikarenakan dalam keadaan inflasi, kenaikan harga mendahului kenaikan upah sehingga keuntungan pengusaha naik. Kenaikan keuntungan ini akan mendorong kenaikan produksi. Akan tetapi apabila laju inflasi cukup tinggi dapat mengakibatkan keadaan yang sebaliknya, yakni penurunan output.
4. Efek terhadap perdagangan luar negeri
Inflasi menyebabkan harga barang impor lebih murah daripada harga barang yang dihasilkan di dalam negeri dan kenaikan harga-harga
akan menyebabkan barang-barang produksi dalam negeri tidak dapat bersaing dengan barang-barang yang sama di pasaran luar negeri.
5. Efek terhadap kesempatan kerja
Inflasi dapat mengakibatkan terjadinya aliran modal keluar dibandingkan aliran modal yang masuk sehingga terjadi penurunan investasi baik dari sisi swasta ataupun pemerintah. Keadaan tersebut akan mengakibatkan pada semakin tingginya angka pengangguran.
2.5 Pertumbuhan Ekonomi
2.5.1 Teori Pertumbuhan Harrord-Domar
Teori Harrod-Domar menganalisis persoalan yakni syarat apakah atau keadaan yang bagaimanakah yang harus tercipta dalam perekonomian untuk menjamin agar dari tahun ke tahun kesanggupan memproduksi yang selalu bertambah sebagai akibat dari penanaman modal pada tahun sebelumnya.
Menurut Harrod-Domar, setiap perekonomian dapat menyisihkan suatu proporsi tertentu dari pendapatan nasionalnya jika hanya untuk mengganti barang-barang modal yang rusak. Namun demikian untuk menumbuhkan perekonomian tersebut, diperlukan investasi-investasi baru sebagai tambahan stok modal. Hubungan tersebut telah kita kenal dengan istilah rasio modal-output. Dalam teori ini disebutkan bahwa, jika ingin tumbuh, perekonomian harus menabung dan menginvestasikan suatu proporsi tertentu dari output totalnya. Semakin banyak tabungan dan kemudian di investasikan, maka semakin cepat perekonomian itu akan tumbuh.
2.5.2 Teori Pertumbuhan Schumpeter
Schumpeter mengembangkan lebih lanjut teorinya mengenai proses pembangunan dan faktor utama yang menentukan pembangunan ekonomi dan proses pembangunan ekonomi, salah satu pendapatnya yang penting adalah keyakinan bahwa sistem kapiltalitas merupakan sistem yang paling efisien untuk menciptakan pembangunan ekonomi yang cepat. Tetapi walau demikian , dalam jangka panjang Schumpeter memberikan ramalan yang sangat pesimitik mengenai proses pembangunan ekonomi. Menurut Scumpeter pembangunan ekonomi merupakan suatu proses yang bersifat gradual dan berjalan secara harmonis.
Pembangunan ekonomi terutama diciptakan oleh golongan pengusaha yang inovatif untuk menciptakan barang- barang yang diperlukan masyarakat.
Pembaharuan yang diciptakan oleh para pengusaha merupakan pembangunan ekonomi. Menurut Schumpeter dengan adanya kemajuan- kemajuan ekonomi akan tercipta perubahan-perubahan yang akan menciptakan pembaharuan di dalam perekonomian. Dalam mengemukakan teori pertumbuhannya Schumpeter memulai analisanya dengan memisahkan bahwa perekonomian sedang dalam keadaan tidak berkembang. Tetapi keadaan ini tidak akan berlangsung lama. Pada waktu keadaan tersebut berlaku, segolongan pengusaha menyadari tentang berbagai kemungkinan untuk mengadakan inovasi yang menguntungkan.
Didorong oleh keinginan memperoleh keuntungan dari mengadakan pembaharuan tersebut, merekan akan meminjam modal dan akan melakukan peminjaman modal. Investasi yang baru ini akan meninggikan tingkat kegiatan ekonomi negara. Maka pendapatan masyarakat akan bertambah dan tingkat konsumsi
menjadi bertambah tinggi. Kenaikan tersebut akan mendorong perusahaan- perusahaan lain untuk menghasilkan lebih banyak barang dan melakukan penanaman modal baru.
2.6 Penelitian Terdahulu
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu No Nama
Peneliti
Judul Penelitian
Variabel Penelitian
Metode Penelitian
Hasil Penelitian 1. Linda
Sepriliana
&
Munawar Ismail (2013)
Efektivitas Instrumen Kebijakan Moneter Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia.
Suku Bunga SBI, Jumlah Uang Beredar dan PDB
VAR (Vector Auto
Regression)
Instrumen moneter dengan menggunaka n suku bunga SBI lebih efektif untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi dengan kecepatan waktu merespon tigakuartal dibandingkan dengan menggunaka n instrumen jumlah uang beredar yang direspon oleh pertumbuhan ekonomi di Indonesia dengan kecepatan waktu empat kuartal.
2. Noor Azlan Ghazali dan Aisyah
The
Transmission Mechanism of Monetary Policy of
Suku bunga Pinjaman, Suku Bunga pinjaman jangka
Kausalitas Granger
Saluran yang paling efektif dalam
transmisi kebijakan
Abdul Rahman (2005)
Malaysia:
Through Bank Loans or Deposits?
pendek, Suku bunga deposit, Permintaan deposit, Indeks Industri produksi, Indeks Harga Konsumen, Indeks Komposit Bursa Efek.
moneter adalah jalur suku bunga dan kredit di Malaysia.
3. Hwe Kwan Chow (2005)
A VAR Analysis of Singapore’s Monetary Transmission Mechanism
Inflasi, Suku Bunga, Nilai Tukar, GDP.
VAR (Vector Auto
Regression)
Hasil analisis menunjukkan bahwa
kebijakan moneter yang paling efektif di gunakan di Singapura adalah jalur nilai tukar.
4. Piti Disyataat
& Pinnarat Vongsinsir ikul (2003)
Monetary Policy and The
Transmission Mechanism in Thailand
Nilai tukar, suku bunga kredit, GDP, Indeks Harga Konsumen, RP14, suku bunga pinjaman, investasi
VAR (Vector Auto
Regression)
Hasil analisis menunjukkan Suku bunga lebih efektif menjalankan instrumen kebijakan moneter di Thailand
Sumber : data diolah (2019)
2.7 Kerangka Konseptual
Berdasarkan landasan teoritis dan peneliti terdahulu, maka kerangka konseptual dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Sumber : diolah
Dalam rangka mencapai kinerja perekonomian yang memuaskan seperti stabilnya perekonomian suatu negara dan pertumbuhan ekonomi yang sehat, bank sentral harus tetap memberikan perhatian dan komitmen untuk mencapai tujuan akhir kebijakan moneter. Kebijakan moneter yang menyangkut masalah- masalah moneter seperti pengendalian lembaga keuangan, penjualan dan pembelian secara aktif surat surat berharga yang mempengaruhi keadaan perubahan uang. Di setiap negara yang perekonomiannya bersifat terbuka, kebijakan moneter memainkan peranan penting didalam memicu pertumbuhan ekonomi misalnya dalam
Kebijakan Moneter
Suku Bunga Acuan
Suku Bunga Deposito
Pertumbuhan Ekonomi Inflasi
menyiapkan pemberian kredit yang elastis bagi pemenuhan sektor-sektor usaha seperti pertanian, perdagangan, industri dan lain-lain.
Pengaruh suku bunga yang dinaikkan atau diturunkan oleh bank sentral akan direspon oleh pelaku pasar dan penanam modal, sehingga berefek terhadap perekonomian. Umumnya, masyarakat hanya mengenali suku bunga dalam konteks hubungan dengan perbankan, yaitu saat akan membuka deposito atau akan mengajukan pinjaman (aplikasi kredit). Ketika suku bunga rendah, masyarakat cenderung termotivasi untuk mengajukan pinjaman, sedangkan jika suku bunga tinggi maka masyarakat akan enggan meminjam pada bank. Dalam lingkup makro, efek perubahan suku bunga dapat meluas hingga menjangkau semua sektor pada suatu negara. Fluktuasi suku bunga berpengaruh pada keinginan masyarakat untuk meminjam uang di bank. Secara teoritis, makin rendah suku bunga, maka semakin tinggi keinginan masyarakat untuk meminjam uang di bank. Artinya, pada tingkat suku bunga rendah maka masyarakat akan lebih terdorong untuk meminjam uang di bank untuk memenuhi kebutuhan maupun untuk melakukan ekspansi usaha. Sebaliknya, saat suku bunga tinggi, maka masyarakat akan lebih cenderung menyimpan uang di bank daripada menggunakannya untuk berbelanja dan memperluas bisnis.
Dalam konteks perekonomian internasional, perubahan suku bunga juga dapat mempengaruhi persepsi dan minat investor asing untuk membawa dananya masuk ke suatu negara. Umpama suku bunga di Indonesia lebih tinggi dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya, maka investor asing akan lebih tertarik untuk menanamkan dana di Indonesia dengan harapan dapat memperoleh
imbal hasil lebih tinggi. Sedangkan jika suku bunga di Indonesia lebih rendah, maka investor asing akan makin kurang tertarik untuk menanamkan modal di sini.
Malah, jika suku bunga terlalu rendah, salah-salah investor domestik bisa ikut- ikutan melarikan dananya ke luar negeri. Bank sentral yang berwenang menentukan kebijakan suku bunga, bertugas pula memantau semua aspek tersebut agar pengambilan keputusan tetap menunjang stabilitas dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa setiap telaah atas pengaruh suku bunga terhadap perekonomian suatu negara perlu dilihat dari minimal tiga sisi, yaitu:
1. Perubahan perilaku masyarakat konsumen.
2. Perubahan perilaku masyarakat pebisnis.
3. Perubahan perilaku masyarakat investor.
2.8 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan uraian dari tinjauan pustaka dan penelitian terdahulu maka hipotesis dalam penelitian ini adalah diduga instrumen moneter suku bunga acuan
efektif mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksplanatori dengan metode kuantitatif. Penelitian eksplanatori adalah penelitian yang bertujuan untuk menganalisis hubungan–hubungan antara suatu variabel mempengaruhi variabel lainnya.
3.2 Jenis dan Sumber Data Penelitian
Dalam Penelitian ini peneliti menggunakan data sekunder dengan jenis data runtun waktu (time series) selama kurun waktu (2000–2017) bentuk kuartal di empat negara di ASEAN ( Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand). Data yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari beberapa sumber antara lain : website resmi International Monetary Fund (IMF) (www.imf.org) dan website resmi World Bank (www.worldbank.org).
3.3 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah penelitian yang fokus pada analisis kecepatan atau time lag dan kekuatan respons suatu variabel terhadap shock variabel lainnya untuk menganalisis efektivitas kebijakan moneter terhadap pertumbuhan ekonomi masing-masing negara Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi, yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, buku, surat kabar, majalah, atau data-data yang berkaitan dengan objek penelitian
(Arikunto, 2002). Data tersebut dikumpulkan, dicatat, dan diolah langsung dari sumber data sekunder berupa data historis masing-masing variabel.
3.5 Defenisi Operasional
Berdasarkan pada masalah dan hipotesis yang akan diuji, maka variabel- variabel yang akan diteliti dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Suku bunga acuan adalah suku bunga yang ditetapkan oleh bank-bank sentral Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand dalam satuan persen.
2. Suku bunga deposito adalah nilai yang harus diberikan oleh pihak bank kepada nasabah sebagai imbalan atas simpanan nasabah dalam satuan persen.
3. Inflasi adalah kenaikan harga umum secara terus-menerus dalam periode tertentu dalam satuan persen.
4. Pertumbuhan ekonomi yaitu peningkatan kapasitas ekonomi dalam menghasilkan barang dan jasa dalam suatu waktu tertentu dalam satuan persen.
3.6 Metode Analisis Data
Metode analisis yang digunakan dalam menganalisis data adalah ekonometrika model VECM (Vector Error Correction Model). VECM adalah metode yang berfungsi sebagai pendekatan untuk memperkirakan hubungan jangka panjang dan jangka pendek pada satu data time-series terhadap data time- series lainnya. VECM merupakan turunan dari model VAR. Jika data stasioner pada derajat level maka model VAR adalah unrestricted VAR (model biasa) dan tidak perlu dilakukan uji kointegrasi. VAR bentuk level ini juga dikenal dengan