LAPORAN PENELITIAN DOSEN MUDA
PENGEMBANGAN KOTA LAYAK ANAK
DI KOTA DENPASAR
TIM PENELITI :
NI LUH GEDE ASTARIYANI,SH.,MH. NIDN : 0019037607 (KETUA) MADE NURMAWATI.,SH.,MH NIDN : 0031036208 (ANGGOTA)
Dibiayai dari dana DIPA BLU Satuan Kerja Universitas Udayana
Nomor : DIPA-023.04.2.415253/2015 Tanggal 14 November 2015, SK No :
195a/UN.14.1.11/PNL.06/2015 tanggal 4 Mei 2015 dengan Kontrak Nomor :
966 C/UN.14.1.11/KU/SPK/2015
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS UDAYANA
TAHUN
2015
HALAMAN PENGESAHAN HIBAH PENELITIAN DOSEN MUDA
Judul Penelitian :Pengembangan Kota Layak Anak Di Kota Denpasar Bidang Ilmu : Ilmu Hukum
Ketua Peneliti
a.Nama lengkap dengan gelar : Ni Luh Gede Astariyani, SH., MH. b. NIP / NIDN : 19760319 199903 2 002 / 0019037607 c. Pangkat/Gol : Penata / III d
d. Jabatan Fungsional/Stuktural : Lektor
e. Pengalaman Penelitian : ( terlampir dalam CV) f.PS/Fakultas : Hukum
f. Alamat Rumah / HP : Jl Zidam Gg BiawakNo 49
g. Telepon/E-mail : 081916254566/[email protected] Jumlah Tim Peneliti : 2 (empat) orang
Lokasi Penelitian : Kota Denpasar Jangka waktu penelitian : 6 (enam) bulan
Biaya Penelitian : Rp. 9.000.000 (sembilan juta rupiah)
Denpasar, 10 September 2015 Menyetujui :
Dekan Fakultas Hukum
Ketua Peneliti,
(Prof. Dr. I Gusti Ngurah WairocanaSH.,MH) NIP.19530401 198003 1 004
i DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL ……… i
HALAMAN PENGESAHAN ……… ii
DAFTAR ISI ……… iii
ABSTRAK ……… iv
ABSTRACT ……… v
BAB I. PENDAHULUAN ……… 1
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ……… 7
BAB III. TUJUAN ……… 9
BAB IV. METODE ……… 12
BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN... 15
BAB VI PENUTUP ... 31
DAFTAR PUSTAKA ……… 33
LAMPIRAN
- CV
ii ABSTRAK
Anak merupakan potensi yang sangat penting, generasi penerus masa depan bangsa, penentu kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang kan menjadi pilar utama pembangunan nasional. SDM yang berkualitas tidak dapat lahir secara alamiah, bila anak dibiarkan tumbuh dan berkembang tanpa perlindungan maka mereka akan menjadi beban pembangunan karena akan menjadi generasi yang lemah, tidak produktif dan tidak kreatif. Ditinjau dari aspek perlindungan, terbatasnya tempat yang aman bagi anak serta masih banyaknya anak yang menjadi korban kekerasan, pelecehan, diskriminasi dan perlakuan yang salah. Target Penelitian tentang Pengembangan Kota Layak Anak Di Kota Denpasar adalah diharapkan dapat 1). merumuskan dasar kewenangan Pengembangan Kota Layak Anak Di Kota Denpasar. 2) Untuk membangun inisiatif pemerintahan kota yang mengarah pada upaya transformasi Konvensi Hak Anak (KHA) dari kerangka hukum ke dalam definisi, strategi dan intervensi pembangunan dalam bentuk kebijakan, program dan kegiatan pembangunan yang ditujukan untuk pemenuhan hak-hak anak pada suatu wilayah kabupaten/kota.
Metode yang digunakan dengan 1) Melakukan studi tekstual, yakni menganalisis teks hukum yaitu pasal-pasal dalam peraturan perundang-undangan dan kebijakan publik (kebijakan negara) secara kritikal dan dijelaskan makna dan implikasinya terhadap Pengembagan Kota Layak Anak.2)Melakukan studi kontekstual, yakni mengaitkan dengan konteks saat peraturan perundang-undangan itu dibuat ataupun ditafsirkan dalam rangka Pengembangan Kota Layak Anak Di Kota Denpasar.Luaran penelitian ini diharapkan dapat menambah pemahaman dan hasil penelitian dapat dipublikasikan dalam bentuk Publikasi jurnal lokal Fakultas Hukum Kertha Patrika Fakultas Hukum Universitas Udayana
1 ABSTRACT
The child is potentially a very important, the next generation of the nation's future, determine the quality of human resources (HR) of Indonesia which became the main pillar of national development. Qualified human resources can not be born naturally, when children are allowed to grow and flourish without protection, they will become a burden of development because it will be the generation that is weak, unproductive and uncreative. Judging from the aspect of protection, lack of a safe place for children and there are still many children who are victims of violence, harassment, discrimination and the wrong treatment. Target Research on Urban Development Eligible Children in Denpasar is expected to be 1). Urban Development authority to formulate the basis of Eligible Children in Denpasar. 2) To build a government initiative the city directed to the transformation of the Convention on Rights of the Child (CRC) of the legal framework into definitions, strategies and development interventions in the form of policies, programs and development activities aimed at the fulfillment of children's rights in a district / city.
The method used to 1) Conduct textual study, which analyzed the legal text, namely clauses in legislation and public policy (state policy) is critical and explained the meaning and implications for developing a Decent City Anak.2) Perform contextual studies, namely associate with the current context of the legislation that created or interpreted in the context of City Development Eligible Children In Cities Denpasar.Luaran research is expected to add to the understanding and the research results can be published in a local journal publication Patrika Kertha Faculty of Law Faculty of Law University of Udayana
2 BAB I.
PENDAHULUAN
1.Latar Belakang
Persoalan anak di masyarakat Indonesia pada umumnya dan di Kota Denpasar khususnya tampak semakin memprihatinkan. Secara umum permasalahan anak yang muncul di wilayah perkotaan sangat kompleks seperti kenakalan remaja, perkosaan, pelecehan seksual, traffiking, perdagangan anak, dan lain-lain. Hal ini terjadi tentu tidak lepas dari pesatnya perkembangan teknologi informasi yang membawa dampak terhadap sikap dan perilaku masyarakat baik yang dewasa maupun anak-anak. Oleh karena itu, pemerintah maupun lembaga-lembaga lain yang konsen terhadap permasalahan anak tidak mau tinggal diam membiarkan persoalan ini berkembang semakin parah. Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah seperti program Kabupaten/kota layak anak, lomba-lomba BKB, BKR, P2WKSS, dan berbagai program lainnya.
Berbagai upaya yang dilakukan oleh berbagai komponen masyarakat untuk mengatasi persoalan anak pada dasarnya bertujuan untuk melindungi anak-anak dari berbagai ancaman yang dapat mengganggu tumbuh kembang dan kesejahteraannya. Hal ini penting dilakukan mengingat bahwa anak-anak merupakan generasi penerus bangsa yang akan menentukan nasib masa depan negara kita. Terkait dengan hal ini lembaga khusus yang menangani masalah anak seperti Kementerian Negara pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP&PA) bersinergi dengan lembaga lain yang berkopeten dalam mengimplementasikan program-program yang terkait anak. Dalam pratik penyelengaraan Perlindungan Anak di Provinsi Bali, terdapat beberapa kasus yang terjadi terhadap Perlindungan Anak Adapun data tindakan kekerasan tersebut terdapat dalam tabel berikut :
Tabel 1: Data Kasus Kekerasan Anak Sebagai Korban
No Tahun
3 Tingginya kasus kekerasan anak sebagai korban dari tahun ketahun menunjukkan perlunya pengaturan perlindungan anak. Perlunya pengaturan ini diharapkan mampu menanggulangi dan menangani korban kekerasan terhadap anak sehingga, kewajiban pemerintah daerah dalam pemenuhan hak asasi manusia dapat terpenuhi.
Tabel 2 : Data Kasus Kekerasan Anak Sebagai Pelaku
No Tahun
Sumber: diperoleh dari Kepolisian Negara Republik Indonesia Daerah Bali Direktorat Reserse Kriminal Umum Tahun 2010-2014
Jumlah pelaku kekerasan anak
4 Keadaan penduduk Kota Denpasar dewasa ini dapat dikatakan sudah sampai di antara pertengahan dan akhir dari tahap ketiga. Hal ini ditandai dengan rendahnya angka kelahiran maupun kematian, terutama jika dikaitkan dengan kelompok umur yang tergolong anak-anak sesuai dengan Undang-undang 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak telah dijelaskan bahwa semua penduduk yang belum berusia 18 tahun adalah dikatagorikan sebagai anak-anak. Mereka ini merupakan penduduk yang harus mendapatkan perlindungan dan dapat terpenuhi hak-haknya.1
Tabel 3 Penduduk Kota Denpasar menurut Kelompok Umur, 2012
Umur Jenis kelamin Total
Laki- Laki Perempuan
Tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di kota denpasar berdasarkan data yang diperoleh dari Polresta Denpasar sehingga sangat diperlukan adanya pengaturan tentang perlindungan perempuan dari kekerasan. Tingginya kekerasan tersebut sebagaimana terdapat dalam Tabel 4 di bawah ini :
1
Profil Statistik Gender 2013, Badan Keluarga Berencana Dan Pemberdayaan Perempuan
5 Dari data-data empirik tersebut, terdapat beberapa jenis kekerasan terhadap anak yang dikategorikan, sebagai berikut: Kekerasan fisik, Kekerasan seksual, Kekerasan ekonomi, Kejahatan perkawinan, Kriminalisasi dan Penelantaran rumah tangga. Akan tetapi secara nyata, kekerasan terhadap anak bukan hanya dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga, dapat juga terjadi diluar aspek rumah tangga, misalnya:
1. korban pemerkosaan/pelecehan seksual 2. korban perdagangan orang
3. korban kebijakan yang diskriminatif 4. korban kekerasan pada masa berpacaran 5. korban eksploitasi seksual
Dalam Pasal 13 ayat (1) Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, menentukan :
Setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali, atau pihak lain mana pun yang bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapat perlindungan dari perlakuan:
a. diskriminasi;
b. eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual; c. penelantaran;
d. kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan; e. ketidakadilan; dan
f. perlakuan salah lainnya.
Selain itu Pasal 15 Undang-Undang tentang Perlindungan Anak, menentukan : Setiap anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari :
a. penyalahgunaan dalam kegiatan politik; b. pelibatan dalam sengketa bersenjata; c. pelibatan dalam kerusuhan sosial;
d. pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan;dan e. pelibatan dalam peperangan.
Adapun maraknya kekerasan terhadap anak, berupa penyiksaan, dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya :
1. Kondisi ekonomi orang tua kandung/angkat/wali, sehingga acapkali melampiaskan kemarahan terhadap anak.
2. Rendahnya Pendidikan orang tua kandung/angkat/wali
6 Paedofilia, sodomi, eksploitasi seksual, perdagangan manusia, pemaksaan perkawinan, perkosaan.
Kenyataan tersebut di atas menunjukkan bahwa persoalan anak masih memerlukan penanganan yang serius dan komprehensif. Hal ini mengingat bahwa Anak sebagai potensi dan aset merupakan generasi penerus Bangsa dan sumberdaya manusia yang sangat menentukan keberhasilan pembangunan pada masa-masa mendatang. Oleh karena itu peningkatan kesejahteraan dan perlindungan terhadap anak merupakan hal yang sangat penting disamping juga karena perlindungan terhadap anak merupakan hak azasi anak. Upaya peningkatan kualitas sumberdaya manusia perlu dilakukan sejak dini sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara wajar baik pertumbuhan fisik, mental, intelektual serta jaminan haknya.
Sebagai upaya untuk lebih memperhatikan dan melindungi anak-anak Indonesia, maka pemerintah melalui Kementerian Negara dengan pengaturan dalam Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak No 11 Tahun 2011 tentang Kebijakan Pengembangan kabupaten/kota Layak Anak. Kota Denpasar pengaturan tentang Kota Layak Anak diatur dalam Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Nomor 2 Tahun 2009 tentang kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak. Isi dari peraturan ini terdiri dari VII Bab yakni: bab 1. Pendahuluan yang terdiri dari 5 sub bab; bab 2. Analisis Situasi yang terdiri dari 8 sub bab; Landasan Kebijakan dan Strategi menjadi bab 3 dengan 3 sub bab; Prinsip, Prasyarat dan Langkah-langkah Kebijakan diatur dalam bab 4 yang meliputi 3 sub bab; Indikator Program KLA dipaparkan pada Bab 5 yang terdiri dari indikator khusus dan indikator umum; Selanjutnya Peran para pihak dijelaskan pada bab 6 yang terdiri dari 8 sub bab; dan terakhir bab 7 menjadi bab penutup.Melalui Peraturan menteri ini diharapkan semua Kabupaten/Kota di Indonesia menyiapkan diri untuk menjadi kota layak anak sesuai dengan peryaratan yang telah ditentukan. Kota Denpasar telah menyiapkan diri mengikuti program menuju Kota layak anak yang saat ini sudah masuk katagori nindya. Untuk bisa memperoleh predikat yang lebih tinggi yakni utama dengan sendirinya harus menyiapkan berbagai persyaratan yang belum terpeuhi.
7 besar. Masih ada anak-anak yang terlantar, bekerja di jalanan, belum mendapatkan pelayanan yang optimal, putus sekolah, menjadi korban trafficking, fedofilia, penganiayaan dan lain-lain. Kondisi yang demikian ini mencerminkan masih kurangnya kesadaran dan kepekaan para perencana dan penentu kebijakan untuk memprioritaskan masalah kesejahteraan dan perlindungan anak.Perlunya perlindungan terhadap anak melalui pengembangan kota layak anak sangat tepat dilakukan pengkajian melalui penelitian tentang Pengambangan Kota Layak Anak Di Kota Denpasar.
2.Rumusan Masalah.
Berdasarkan pada identifikasi masalah tersebut dapat dirumuskan 2 (dua ) pokok masalah, yaitu sebagai berikut:
1. Apakah dasar hukum tentang pengaturan tentang Pengembangan Kota Layak Anak Di Kota Denpasar?.
2. Bagaimanakah inisiatif pengembangan kota layak anak yang dilakukan oleh pemerintahan kota ?
3. Tujuan Penelitian.
Sesuai dengan ruang lingkup identifikasi masalah yang dikemukakan di atas, tujuan penyusunan Naskah Akademik dirumuskan sebagai berikut:
1. Pemahaman tentang pengaturan tentang Kota Layak Anak di Kota Denpasar .
8 BAB II.
TINJAUAN PUSTAKA
Pembaharuan hukum telah terjadi, ditandai oleh adanya berbagai instrument hukum yang menjamin kesetaraan dan keadilan bersumber dari beberapa kovensi internasional, hukum positif nasional, termasuk yurisprudensi dimana perempuan mendapatkan keadilan. Namun terdapat jurang yang dalam di antara apa yang seharusnya ( das sollen) dikehendaki terjadi oleh hukum dan implementasinya dalam kehidupan sehari-hari ( das sein) sehingga hukum hanya dipandang sebagai paying fantasi.2
Dari studi yang dilakukan analisis gender banyak ditemukan ketidak adilan , antara lain : 1), terjadi marginalisasi/pemiskinan ekonomi terhadap perempuan 2) jenis kelamin yaitu terjadi sub ordinasi terhadap salah satu perempuan , 3) terjadi stereotype rumah tangga, maka terhadap jeniskelamin yang mengakibatkan pembatasan terhadap perempuan , 4) terjadi kekerasan violence terhadap jenis kelamin tertentu umumnya perempuan karena perbedaan ender , 5) kerena peran gender perempuan adalah mengelola pekerjaan domestiklebih banyak dan lebih lama/burden . Kekerasan berbasis gender seperti yang diserukan Rekomendasi Umum CEDAW merupakan pelanggaran HAM Anak adalah harapan bangsa dimasa mendatang.
Perlindungan hukum terhadap anak dapat diartikan sebagai upaya perlindungan hukum terhadap berbagai kebebasan dan hak asasi anak (fundamental rights and freedoms of children) serta berbagai kepentingan yang berhubungan dengan kesejahteraan anak. Setiap anak kelak mampu memikul tanggung jawab, maka ia perlu mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental maupun sosial dan berakhlak mulia, perlu dilakukan upaya perlindungan serta untuk mewujudkan kesejahteraan anak
Penelantaran anak merupakan salah satu bentuk kekerasan dalam rumah tangga, hal ini akibat dari orang tua yang tidak melaksanakan kewajiban dan tanggung jawabnya terhadap anak untuk memberikan jaminan perlindungan bagi anak-anak mereka. Orang tua tidak memperdulikan keselamatan anaknya, sepanjang ia dapat memberikan keuntungan financial bagi
2 Jurnal Perempuan, 2006,Sejauh Mana Komitmen Negara ?,jurnal YJP, No 25 thun 2006, ISSN1410-153X,hal 34-35
9 keluarga. Di kota-kota besar, anak di eksploitasi untuk bekerja menafkahi keluarga. Menurut Undang-undang Nomor 23 tahun 2002 pasal 1 ayat (1) Tentang Perlindungan Anak sebagi berikut: “Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Pelaksanaan perlindungan anak yang baik harus memenuhi
persyaratan yang sebagai berikut :3
1. Para partisipan dalam terjadinya dan terlaksananya perlindungan anak harus mempunyai pengertian-pengertian yang tepat berkaitan dengan masalah perlindungan anak agar dapat bersikap dan betindak secara tepat dalam menghadapi dan mengatasi permasalahan yang berkaitan dengan pelaksanaan perlindungan anak.
2. Perlindungan anak harus dilakukan bersama antara setiap warganegara, anggota masyarakat secara individual maupun kolektif dan pemerintah demi kepentingan bersama.
3. Kerjasama dan koordinasi diperlukan dalam melancarkan kegiatan perlindungan anak yang rasional, bertanggungjawab dan bermanfaat antar para partisipan yang bersangkutan.
Dalam penyusunan Ranperda ini mempergunakan beberapa konsep antara lain :
1). Konsep perlindungan Perlindungan adalah segala tindakan pelayanan untuk menjamin dan melindungi hak-hak korban tindak kekerasan yang diselenggarakan oleh Pusat Pelayanan Terpadu;
2). Konsep kekerasan Kekerasan adalah setiap perbuatan yang berakibat atau yang mengakibatkan kesengsaraan dan penderitaan baik fisik, seksual, psikologis termasuk penelantaran, ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi di depan umum atau dalam kehidupan pribadi;3).Konsep Perempuan adalah manusia dewasa berjenis kelamin perempuan dan orang yang oleh hukum diakui sebagai perempuan; 4). Konsep anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang ada dalam kandungan.
3
10 BAB III. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
3.1 Tujuan
Sesuai dengan ruang lingkup identifikasi masalah yang dikemukakan di atas, tujuan penyusunan Naskah Akademik dirumuskan sebagai berikut:
1. Pemahaman tentang pengaturan tentang Kota Layak Anak di Kota Denpasar .
2. Untuk membangun inisiatif pemerintahan kota yang mengarah pada upaya transformasi Konvensi Hak Anak (KHA) dari kerangka hukum ke dalam definisi, strategi dan intervensi pembangunan dalam bentuk kebijakan, program dan kegiatan pembangunan yang ditujukan untuk pemenuhan hak-hak anak pada suatu wilayah kabupaten/kota
3.2 Manfaat
Penelitian ini diharapkan berguna untuk :
1). Manfaat teoritis, diharapkan penelitian ini memberi kontribusi pada pengembangan ilmu hukum, khususnya pengembangan ilmu hukum undangan bidang Perundang-undangan Daerah ;
2). Manfaat praktis, diharapkan penelitian ini memberi kontribusi para pihak yang berkompeten berkaitan dengan pembentukan Perda ;
3). Manfaat bagi peneliti sendiri, diharapkan penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai ilmu hukum khususnya mengenai ilmu hukum yang berkaitan dengan ilmu perundang-undangan.
11 BAB IV. METODE PENELITIAN
1.Jenis Penelitian.
Dalam penelitian hukum terdapat dua model jens penelitian yaitu : 4
a. Metode penelitian hukum normative atau penelitian doctrinal, mempergunakan data sekunder berupa ; peraturan perundang-undangan, keputusan pengadilan dan pendapat para sarjana hukum terkemuka, Analisis data sekunder dilakukan secara normative kualitatif yaitu yuridis kualitataif.
b. Metode penelitian hukum sosiologis / empiris, mempergunakan semua metode dan tehnik-tehnik yang lasim dipergunakan di dalam metode-metode penelitian ilmu-ilmu sosial / empiris.
Bertitik tolak dari pemasalahan yang diangkat dalam kajian ini, maka jenis penelitian dalam kajian ini mempergunakan penelitian hukum normative. Dalam beberapa kajian jenis penelitian seperti ini juga disebut dengan penelitian dogamatik.5 Dalam penelitian hukum normatif, untuk mengkaji persoalan hukumnya dipergunakan bahan-bahan hukum yang terdiri dari bahan hukum primer ( primary sources or authorities ) bahan-bahan hukum sekunder ( secondary sources or authorities ) dan bahan hukum tersier ( tertier sources or authorities ). Bahan-bahan hukum primer dapat berupa peraturan perundang-undangan, bahan-bahan hukum sekunder dapat berupa makalah, buku-buku yang ditulis oleh para ahli dan bahan hukum tersier berupa kamus bahasa hukum dan kamus bahasa Indonesia.
2. MetodePendekatan.
Dalam penelitian hukum normative ada beberapa metode pendekatan yakni pendekatan perundang-undangan ( statute approach ), pendekatan konsep (conceptual approach ), pendekatan analitis ( analytical approach ), pendekatan perbandingan ( comparative approach ), pendekatan histories ( historical approach ), pendekatan filsafat ( philosophical approach ),dan pendekatan kasus ( case approach).6 Dalam penelitian ini digunakan beberapa cara pendekatan
4
Rony Hanitijo Soemitro, 1985, Metodologi Penelitian Hukum, Ghalia Indonesia Jakarta, 1985, hal. 9.
5
Jan Gijsels,Mark Van Hocke ( terjemahan B. Arief Sidharta ) Apakah Teori Hukum Itu ? , Laboratorium Hukum Universitas Parahyangan Bandung, hal. 109-110.
6
12 untuk menganalisa permasalahan. Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan perundang-undangan ( statute approach ), pendekatan kasus ( case approach ) dan pendekatan konsep hukum ( conceptual approach ).
Pendekatan konsep hukum ( conceptual approach ) dilakukan dengan menelaah pandangan-pandangan mengenai pendelegasian kewenangan sesuai dengan penelitian ini..7 Disamping itu digunakan pendekatan kontekstual terkait dengan penrapan hukum dalam suatu waktu yang tertentu.
3.Sumber Bahan Hukum.
Bahan hukum yang digunakan adalah bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.8 Bahan hukum primer adalah segala dokumen resmi yang memuat ketentuan hukum, dalam hal ini adalah Undang-undang Perlindungan Anak dan Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak No 11 Tahun 2011 tentang Kebijakan Pengembangan kabupaten/kota Layak Anak
Bahan hukum sekunder adalah dokumen atau bahan hukum yang memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer seperti hasil penelitian atau karya tulis para ahli hukum yang memiliki relevansi dengan penelitian ini, termasuk di dalamnya kamus dan ensiklopedia.
Selain itu akan digunakan data penunjang, yakni berupa informasi dari lembaga atau pejabat, baik dari lingkungan Pemerintah Daerah maupun para pihak yang membidangi pembentukan Peraturan Bupati.
4.Metode Pengumpulan Bahan Hukum.
Bahan hukum dikumpulkan melakukan studi dokumentasi, yakni dengan melakukan pencatatan terhadap hal-hal yang relevan dengan masalah yang diteliti yang ditemukan dalam bahan hukum primer, bahan hukum sekunder maupun bahan hukum tersier.Untuk mendukung bahan hukum tersebut dilakukan wawancara. Wawancara dilakukan terhadap informan yang terkait seperti dengan Kepala Bagian Hukum Kota Denpasar dan BP3 A Kota Denpasar.
5.Teknis Analisis Bahan Hukum
7
Ibid, hal. 19.
8
13 Teknik analisa terhadap bahan-bahan hukum yang dipergunakan dalam kajian ini adalah teknik deskripsi, interpretasi, sistematisasi, argumentasi dan evaluasi.9 Philipus M.Hadjon mengatakan bahwa tehnik deskripsi adalah mencakup isi maupun struktur hukum positif.10 Pada tahap deskripsi ini dilakukan pemaparan serta penentuan makna dari aturan-aturan hukum yang dikaji .dengan demikian pada tahapan ini hanya menggambarkan apa adanya tentang suatu keadaan.11 Lebih lanjut berkaitan dengan teknik Interpretasi Alf Ross mengatakan :
The relation berween a given formulation and specific complex of facts.The technique of
argumentation demanded by this method is directed toward discovering the meaning of
the statute and arguing that the given facts sre either covered by it or not.12
( terjemahan bebas : Hubungan antara rumusan konsep yang diberikan dan kumpulan fakta khusus. teknik argumentasi ini dibutuhkan oleh cara ini yang diarahkan kepada penemuan makna dari undang-undang dan fakta-fakta yang saling melengkapi satu sama lain ).
Dari sisi sumber dan kekuatan mengikatnya menurut I Dewa Gede Atmadja secara yuridis interpretasi ini dapat dibedakan menjadi :13
1. Penafsiran otentik ; yakni penafsiran yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan itu sendiri. Penafsiran ini adalah merupakan penjelasan-penjelasan yang dilampirkan pada undang-undang yang bersangkutan ( biasanya sebagai lampiran ). Penafsiran otentik ini mengikat umum ;
2. Penafsiran Yurisprudensi ; merupakan penafsiran yang ditetapkan oleh hakim yang hanya mengikat para pihak yang bersangkutan ;
3. Penafsiran Doktrinal ahli hukum ; merupakan penafsiran yang diketemukan dalam buku-buku dan buah tangan para ahli sarjana hukum. Penafsiran ini tidak mempunyai kekuatan mengikat, namun karena wibawa ilmiahnya maka penafsiran yang dikemukakan, secara materiil mempunyai pengaruh terhadap pelaksanaan undang-undang.
9
Program Pasca Sarjana Universitas Udayana, 2008, Pedoman Penulisan Usulan Penelitian, Tesis, dan Disertasi, Program Pasca Sarjana Universitas Udayana, hal. 19.
10
Philipus M Hadjon, 1994, Pengkajian Ilmu Hukum Dogmatik ( Normatif ) dalam Yuridika Nomor 6 Tahun IX, Nopember-Desember ( selanjutnya disebut Philipus M Hadjon II ), hal. 33.
11
Erna Widodo , 2000, Konstruksi ke Arah Penelitian Deskriptif, Avy-rouz, hal. 16.
12
Alf Ross, 1969, On Law And Justice, University Of Californis Press, Barkely & Los Angeles, hal. 111.
13
I Dewa Gede Atmadja, 1996, Penafsiran Kostitusi Dalam Rangka Sosialisasi Hukum, Sisi Pelaksanaan
14 Bertitik tolak dari pandangan Philipus M. Hadjon dan I Dewa Atmadja di atas, maka untuk membahas persoalan hukum yang akan dikaji, akan dipergunakan penafsiran otentik, penafsiran gramatikal dan penafsiran sejarah hukum.
Penafsiran otentik dalam kajian ini dimaksudkan adalah penafsiran yang didasarkan pada penafsiran yang diberikan oleh pembentuk undang-undang, melalui penjelasan-penjelasannya dan peraturan perundang-undangan yang lain.
Sedangkan penafsiran Gramatikal dalam kajian ini dilakukan dalam kaitannya untuk menemukan makna atau arti aturan hukum, khususnya aturan hukum yang berkaitan dengan Pendelegasian kewenangan mengatur dalam Peraturan Bupati.
3.Manfaat
Penelitian ini diharapkan berguna untuk :
1). Manfaat teoritis, diharapkan penelitian ini memberi kontribusi pada pengembangan ilmu hukum, khususnya pengembangan ilmu hukum undangan bidang Perundang-undangan Daerah ;
2). Manfaat praktis, diharapkan penelitian ini memberi kontribusi para pihak yang berkompeten berkaitan dengan pembentukan Perda ;
15 BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak telah mengeluarkan kebijakan kabupaten/kota layak anak. Hal ini tertuang dalam Permen PP RI No. 2/2009 ini mengatur tentang kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak. Isi dari peraturan ini terdiri dari VII Bab yakni: bab 1. Pendahuluan yang terdiri dari 5 sub bab; bab 2. Analisis Situasi yang terdiri dari 8 sub bab; Landasan Kebijakan dan Strategi menjadi bab 3 dengan 3 sub bab; Prinsip, Prasyarat dan Langkah-langkah Kebijakan diatur dalam bab 4 yang meliputi 3 sub bab; Indikator Program KLA dipaparkan pada Bab 5 yang terdiri dari indikator khusus dan indikator umum; Selanjutnya Peran para pihak dijelaskan pada bab 6 yang terdiri dari 8 sub bab; dan terakhir bab 7 menjadi bab penutup.
Melalui Peraturan menteri ini diharapkan semua Kabupaten/Kota di Indonesia menyiapkan diri untuk menjadi kota layak anak sesuai dengan peryaratan yang telah ditentukan. Kota Denpasar telah menyiapkan diri mengikuti program menuju Kota layak anak yang saat ini sudah masuk katagori nindya. Untuk bisa memperoleh predikat yang lebih tinggi yakni utama dengan sendirinya harus menyiapkan berbagai persyaratan yang belum terpeuhi.
KLA(kota layak anak) adalah system pembangunan suatu wilayah administrasi yang mengintegrasikan komitmen dan sumber daya pemerintah, masyarakat dan dunia usaha dalam rangka memenuhi hak anak yang terencana secara menyeluruh (holistic) dan berkelanjutan (sustainable) dalam kebijakan, program dan kegiatan untuk pemenuhan hak-hak anak melalui Pengarusutamaan Hak Anak (PUHA).
Tujuan KLA, untuk membangun inisiatif pemerintahan kota yang mengarah pada upaya transformasi Konvensi Hak Anak (KHA) dari kerangka hokum ke dalam definisi, strategi dan intervensi pembangunan dalam bentuk kebijakan, program dan kegiatan pembangunan yang ditujukan untuk pemenuhan hak-hak anak pada suatu wilayah kabupaten/kota. Prinsip KLA
Non diskriminatisi
Kepentingan yang terbaik untuk anak
16 Ruang Lingkup KLA Meliputi seluruh bidang pembangunan yang dikelompokkan ke dalam bidang :
Tumbuh kembang anak dan; Perlindungan anak
KLA menerapkan strategi pengarusutamaan hak-hak anak (PUHA) yang berarti melakukan pengintegrasian hak-hak anak ke dalam :
Setiap proses penyusunan kebijakan, program dan kegiatan
Setiap tahapan pembangunan dari perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi
Setiap tingkatan wilayah: dari Nasional, Provinsi dan Kabupaten / Kota, Kecamatan hingga Kelurahan
Indikator Kota Layak Anak
Semua anak memiliki akte kelahiran
Keterlibatan anak dalam Musrenbang Kabupaten / Kota
Dalam pengambilan kebijakan berkaitan dengan kepentingan anak melibatkan wadah / forum anak di tingkat kota / kabupaten
Adanya kebijakan /peraturan tentang larangan iklan rokok di lingkungan institusi pendidikan dan tempat ibadah
Tidak ada pernikahan usia dini
Adanya peraturan / kebijakan tentang Pendidikan Dasar Gratis Adanya pendidikan ketrampilan (Life skill education)
Adanya Perpustakaan dan Perpustakaan keliling Ada taman pintar / taman cerdas
Ada peraturan / kebijakan tentang Jam Wajib Belajar bagi anak (18.00-21.00 WIB) Beasiswa bagi anak yang berprestasi dan tidak mampu
Ada Telepon Sahabat Anak (TESA 129)
17 Ada Taman Penitipan Anak yang sensitive hak anak
Ada Pusat Pelayanan di Kabupaten / Kota
Ada Rumah Rehabilitasi (Sherter / Rumah Aman) untuk anak sebagai korban kekerasan Ada taman bermain, olah raga dan rekreasi anak
Ada profil Kesejahteraan dan Perlindungan Anak di Kabupaten / Kota
Dinas / Instansi Terkait :
1. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil 2. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
3. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah 4. Kementerian Agama
5. Dinas Pendidikan 6. Dinas Kesehatan
7. Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Sosial 8. Kantor Perpustakaan
9. Kepolisian 10.Kejaksaan 11.Pengadilan
12.Lembaga Pemasyarakatan
Pengembangan Kota Layak Anak di Kota Denpasar dilakukan melalui lima klaster yakni: 1. Hak-hak Sipil dan Kebebasan; 2. Lingkungan Keluarga dan Perawatan Alternatif; 3. Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan; 4. Pendidikan, Pemanfaatan Waktu Luang dan Kegiatan Budaya; 5. Upaya-upaya Perlindungan Khusus. Ke lima klaster ini akan dibahas secara rinci pada uraian berikut ini.
1. Hak-hak Sipil dan Kebebasan.
a. Kepemilikan Akta kelahiran
18 tua harus mendaftaran kelahiran anaknya ke kantor catatan sipil yang memang bertugas untuk mendaftarkan segala bentuk pencatatan akte kelahiran maupun akte perkawinan. Dalam realitasnya masih banyak orang tua yang belum menyadari pentingnya kepemilikan akta kelahiran. Secara aturan umum bahwa orang tua seharusnya segera mengurus akta lahir (mencatatkan kelahiran anak yang baru lahir tidak lewat dari 42 hari). Seringkali orang tua baru merasakan pentingnya akta kelahiran ketika anaknya memasuki usia sekolah karena hal ini merupakan salah satu persyaratan masuk sekolah. Mengingat begitu pentingnya kepemilikan akta kelahiran bagi setiap orang, Kota Denpasar sebagai kota yang mau menuju kota layak anak selalu melakukan upaya untuk meminimalisir anak-anak yang tidak memiliki akta kelahiran. Terkait dengan hal ini, upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kepemilikan akte kelahiran antara lain melalui gebyar dan jemput bola (jebol) dalam artian para petugas kantor catatan sipil mendatangi langsung daerah-daerah tertentu yang diperkirakan masih banyak penduduknya tidak memiliki akte kelahiran untuk mencatatkan atau membuatkan akta untuk anaknya.
Gambar Komposisi Kepemilikan Akte Kelahiran menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin, 2012
b. Fasilitas Informasi Layak Anak
19 tersedia di semua jenjang pendidikan dengan jumlah yang cukup memadai. Demikian juga perpustakaan keliling sudah tersedia 2 (dua) unit dan ada satu unit taman bacaan/pojok baca. Seperti kita ketahui bahwa perpustakaan merupakan sumber informasi ilmu pengetahuan, oleh karena itu keberadaan fasilitas ini sangat diperlukan disetiap lembaga pendidikan mulai dari jenjang pendidikan paling bawah sampai jenjang pendidikan tinggi. Mengingat begitu pentingnya keberadaan perpustakaan untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat, maka pemerintah Kota Denpasar menyikapi hal ini melaui upaya penyediaan perpustakaan keliling serta taman/pojok baca. Hal ini dimaksudkan untuk memfasilitasi masyarakat umum baik remaja maupun anak-anak yang ada di luar sekolah yang ingin meningkatkan ilmu pengetahuan dengan cara memanfaatkan perpustakaan keliling. Melalui cara ini mereka dapat mengakses perpustakaan dengan lebih mudah.
c. Kelompok Anak di Kota Denpasar, Tahun 2012
Yang dimaksudkan dengan kelompok anak dalam hal ini adalah penduduk usia anak-anak yakni penduduk yang berusia 0 – 18 tahun. Namun dalam hal ini jumlah pasti dari penduduk yang terkatagori anak-anak belum dapat dihitung secara pasti karena pengelompokan penduduk berdasarkan umur menurut versi Badan Pusat Statistik (BPS) tidak pas pada usia 18 tahun namun 19 tahun terutama pada kelompok 15-19 tahun. Jika kelompok umur 15-19 tahun yang tertera pada Tabel 4.3 separuhnya tergolong anak-anak, maka hal ini berarti jumlah penduduk yang tergolong anak-anak lebih kurang mencapai 33,2% dari total penduduk Denpasar.
Penduduk Kota Denpasar menurut Kelompok Umur, 2012
Umur Jenis kelamin Total
20
65 - 69 5 200 5 100 10 500
70 - 74 2 800 3 100 6 000
75 + 2 800 3 800 6 800
Total 425 800 408 100 833 900
Sumber: BPS Kota Denpasar, 2012
Dengan demikian, untuk menunjang kebutuhan tumbuh kembang anak serta perlindungan dan kesejahteraannya diperlukan adanya berbagai fasilitas yang dapat mengakomodir kebutuhannya seperti terbentuknya forum anak. Sampai tahun 2012, di Kota Denpasar telah terbentuk kelompok anak dari tingkat desa/kelurahan, kecamatan sampai tingkat Kota. Forum anak yang sudah terbentuk selama ini berjumlah 40 tersebar di desa/kelurahan yang ada di Kota Denpasar.
D. Organisasi Anak/ Kelompok Bermain
Untuk mendukung tumbuh kembang anak diperlukan wadah yang sesuai dengan jiwa dan umur anak. Wadah ini bisa dalam bentuk lembaga pendidikan formal maupun pendidikan non-formal, dan lembaga-lembaga pengasuhan anak lainnya. Dengan wadah ini mereka akan dapat menyalurkan kreativitasnya dalam asuhan dan bimbingan para guru atau pendididk. Dengan cara ini diharapkan anak-anak di Kota Denpasar dapat tumbuh dan berkembang menjadi generasi yang berkualitas.
Dalam Konvensi Hak-hak Anak, terdapat empat hak-hak dasar, yaitu: Hak untuk 1) Bertahan Hidup; 2) Tumbuh Kembang; 3) Perlindungan; dan 4) Partisipasi. Di dalam Hak Dasar anak yang keempat, yaitu Partisipasi, menguraikan tentang hak anak untuk mengungkapkan pandangan dan perasaannya terhadap situasi yang mempunyai dampak pada anak. Terdapat salah satu pasal tentang hak Partisipasi ini yaitu Pasal 15, yang menyatakan: „Anak berhak untuk bertemu dengan orang lain dan untuk bergabung atau membentuk suatu perkumpulan, kecuali jika hal itu melanggar hak orang lain‟ (Laurike, dkk, dalam Kementrian Pemberdayaan Perempuan RI). Terkait dengan hal ini, maka keberadaan fasilitas atau organisasi anak seperti taman kanak-kanak/PAUD, forum anak akan dapat memenuhi hak anak.
21 Tabel,,, Forum Anak di Kota Denpasar, tahun 2012
Forum Anak Tingkat 2011 2012 Forum Anak Tingkat Kota 1 1
Forum Anak Kecamatan 405 405
Jumlah 406 406 Sumber: PPKB, Kota Denpasar 2012
Tabel 4.4 di atas menunjukkan bahwa di Kota Denpasar sudah terbentuk forum anak sebagai wadah untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk menyalurkan aspirasi, bakat, dan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh anak-anak. Forum ini ada di tingkat kota dan forum anak di tingkat kecamatan. Forum ini masih sama jumlahnya dari tahun 2011 sampai 2012. Pembentukan forum anak ini juga diharapkan dapat membantu anak-anak yang berprestasi menjalin hubungan komunikasi dengan baik dan lancar sesama anak-anak yang ada di Kota Denpasar.
Selain forum anak, fasilitas lain yang telah tersedia di Kota Denpasar adalah lembaga pendidikan baik yang masih tergolong kelompok bermain maupun pendidikan taman kanak-kanak (TK). Jumlah TK yang ada di Kota Denpasar sebanyak 231 buah tersebar di semua kecamatan. Dari jumlah TK yang ada hanya satu yang berstatus TK negeri, selebihnya adalah TK swasta. Dari semua TK yang ada mampu menampung 14.418 anak-anak yang terdiri dari 7.398 orang murid laki-laki dan 7.020 murid laki-laki. Secara rinci persebaran jumlah fasilitas TK menurut kecamatan di Kota Denpasar seperti tampak pada
Gambar: 4. 2 Persentase Murid Taman kanak-kanak menurut jenis Kelamin di Denpasar Tahun 2012.
22 2 Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif
Klaster kedua dari Konvensi Hak Anak adalah Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan alternatif, yaitu mensyaratkan adanya bimbingan orang tua. Terkait dengan hal tersebut orang tua dituntut untuk memiliki pengetahuan, sikap, dan perilaku yang cerdas dalam menumbuhkembangkan dan memberi perlindungan kepada anak. Dalam rangka menggali dan mengisi potensi tersebut pemerintah dan masyarakat bekerjasama mendirikan Lembaga Konsultasi Orang Tua tentang Pengasuhan dan Perawatan Anak.
A.Anak Menikah di Bawah Usia 18 Tahun.
Ciri keempat sebuah kabupaten/kota menuju kabupaten/kota layak anak adalah kabupaten/kota tersebut memiliki angka pernikahan pertama di bawah 18 tahun mendekati angka nol persen. Jika kabupaten/kota memiliki angka persentase pernikahan di bawah 18 tahun rendah, maka kabupaten/kota tersebut berhasil pada Program Wajar 12 Tahun. Sebaliknya, jika kabupaten/kota memiliki angka persentase pernikahan pertama di bawah 18 tahun masih tinggi, maka kabupaten/kota tersebut memiliki bupati/wali kota yang tidak memiliki visi tentang anak.
Ciri kabupaten/kota memiliki angka persentase pernikahan pertama di bawah 18 tahun rendah adalah memiliki Program Wajar 12 Tahun, Pusat Informasi Konseling Remaja, dan Keluarga Berencana. Untuk mengurangi pernikahan pertama di bawah 18 tahun, pemerintah dapat berupaya melakukan sosialisasi, advokasi, pemberian konsultasi pranikah dan atau sanksi terhadap pelaku pelanggaran terutama orang tua, pemuka agama, dan pejabat publik yang menikahkan.
23 tuanya”. Ijin ini sifatnya wajib karena usia tersebut masih dipandang membutuhkan bimbingan dan pengawasan orang tua/wali. Jadi, baik Undang-undang No 1 tahun 1974 tentang Perkawinan maupun Peraturan Menteri Agama No 11 tahun 2007 tentang Pencatatan Nikah sesungguhnya sangat menghindari terjdinya pernikahan di bawah usia 18 tahun bersifat responsive anak dan memberi perlindungan kepada anak-anak.
Pada tahun 2012 perkawinan pertama di bawah usia 18 tahun masih terjadi di Kota Denpasar ini tersebar di keempat kecamatan seperti tampak pada gambar 4.3 di bawah ini.
Gambar: 4.3 Anak yang Menikah di bawah Usia 18 tahun, pada tahun 2012.
Sumber: Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Denpasar, 2012.
Dari gambar tersebut di atas tampak bahwa di Kecamatan denpasar Timur masih relatif banyak terjadi perkawinan dini atau menikah pada usia yang masih tergolong anak, demikian di Denpasar Utara. Hal ini perlu diantisipasi sehingga pada masa-masa yang akan datang hal ini bisa dicegah.
B. Orang Tua/Keluarga yang Memanfaatkan Lembaga Konsultasi
Lembaga Konsultasi adalah lembaga yang memberikan layanan konsultasi yang disediakan untuk orang tua atau keluarga lainnya untuk mengkonsultasikan persoalan-persoalan keluarga yang tengah dihadapi. Lembaga konsultasi tersebut antara lain Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), Bina Keluarga Balita (BKB), Pos Curhat, Lembaga Konsultasi Keluarga, dsb.
24 untuk belajar dan mendapatkan pengetahuan dan keterampilan terkait dengan tumbuh kembang dan perlindungan anak. Berbekal pengetahuan dan keterampilan tersebut mereka diharapkan mampu merawat dan mengasuh anak secara ramah. Pada gilirannya anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi insan sehat, cerdas, dan sejahtera. Di Kota Denpasar terdapat 12 Lembaga Konsultasi Anak yang dapat diakses sebagai tempat berkonsultasi. Dilihat dari nama-nama lembaga tersebut, ada sembilan (9) lembaga yang secara khusus menangani masalah anak-anak dan remaja. Tiga lembaga lainnya tidak secara khusus menangani masalah anak, yaitu PKBI, LBH Apik, LBH Bali, Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga. Secara kuantitas jumlah lembaga ini cukup memadai untuk Kota Denpasar dan letaknya sangat strategis serta mudah dijangkau. Jumlah dan nam-nama lembaga konsultasi anak yang ada di Kota Denpasar dapat dilihat pada tabel 4.6 di bawah.
C. Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA)
Indikator keenam kabupaten/kota menuju Kabupaten/Kota Layak Anak adalah di kabupaten/kota tersebut telah tersedia Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak. Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) merupakan lembaga-lembaga yang dibentuk oleh pemerintah, pemerintah daerah, atau masyarakat untuk menyelenggarakan pengasuhan anak. LKSA merupakan lembaga terakhir sebagai tempat pelayanan pengasuhan alternatif bagi anak-anak yang tidak dapat diasuh di dalam keluarga inti, keluarga besar, kerabat atau keluarga pengganti. Terkait dengan eksistensi lembaga ini, di Kota Denpasar tercatat ada 30 lembaga kesejahteraan sosial anak (LKSA). Namun sayang 30 lembaga kesejahteraan sosial anak tersebut baik nama maupun keberadaannya tidak dapat dirinci.
3. Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan
25 kedua definisi kesehatan di atas sepertinya untuk menemukan orang sehat akan sangat sulit dan menjadi absurd.
Kesehatan dasar dan kesejahteraan dalam konteks tulisan ini dimaksudkan adalah berbagai indikator kesehatan utama seperti status kesehatan, status gizi, kesehatan lingkungan, serta berbagai aspek pelayanan kesehatan yang pada akhirnya dapat membawa ke keadaan yang baik, yaitu kondisi manusia dimana orang-orangnya dalam keadaan makmur, sehat, dan damai. Guna mengetahui kesehatan dasar dan kesejahteraan anak di Kota Denpasar ada beberapa indikator yang dipakai sebagai tolok sebagai berikut.
A. Jumlah Kelahiran
Di Kota Denpasar terjadi peningkatan kelahiran bayi yang cukup signifikan dalam dua tahun terakhir seperti tampak pada tabel 4.7 di bawah. Tahun 2011 kelahiran bayi di Kota Denpasar sebanyak 15.234 orang yang terdiri dari 7.719 bayi laki-laki dan 7.515 perempuan. Pada tahun 2012 sebanyak 16.754 orang yang terdiri dari 8.423 laki-laki dan 8.331 perempuan. Terjadi peningkatan kelahiran bayi sebanyak 1520 orang (9.98%) pada tahun 2012. Peningkatan jumlah kelahiran bayi sangat berkaitan dengan peningkatan jumlah pasangan usia subur terutama yang baru menikah.
B. Jumlah Bayi yang Diberi ASI Ekslusif
26 untuk mengetahui bagaimana tingkat partisipasi para ibu menyusui di Kota Denpasar memberikan ASI eksklusif kepada bayinya dapat dilihat pada tabel 4.9.
C. Pojok ASI
Salah satu sasaran objek Millineum Development Goals (MDGs) adalah menurunkan angka kematian anak. Menurut Unicef (2012) intervensi yang paling efektif untuk mencegah kematian bayi adalah dengan memberi Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif. Untuk itu perlu ada fasilitas penyimpanan ASI, baik di rumah maupun di tempat kerja atau tempat publik. Oleh karena itu pembangunan Pojok ASI (Laktasi) menjadi prioritas dalam pembangunan
D. Imunisasi
Imunisasi merupakan investasi kesehatan masa depan. Imunisasi adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan serum ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah atau berbahaya bagi seseorang. Imunisasi biasanya lebih fokus diberikan kepada bayi dan atau anak-anak karena sistem kekebalan tubuhnya belum sebaik orang dewasa sehingga sangat rentan dari serangan penyakit berbahaya. Beberapa penyakit yang dapat dihindari dengan imunisasi di antaranya adalah hepatitis B, campak, polio, difteri, tetanus, batuk rejan, gendongan, cacar air, tbc, dan sebaginya (www.organisasi.org > Kesehatan, diakses tanggal 19 Juli 2013). Tabel 4.17 di bawah menggambarkan persentase bayi di Kota Denpasar yang telah mendapat beberapa jenis imunisasi.
E Jumlah Keluarga Miskin
27 ada kemauan dari diri sendiri untuk mengatasinya. Berbicara tentang kemiskinan di Kota Denpasar terdapat sejumlah penduduk miskin seperti tampak pada tabel 4.19 berikut ini.
4. Pendidikan, Pemanfaatan Waktu Luang Dan Kegiatan Budaya
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dinyatakan pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui pengajaran dan pelatihan. Hal ini berarti bahwa pendidikan adalah upaya nyata dan sengaja dilakukan untuk meningkatkan sumber daya manusia. Jika demikian halnya manusia semata-mata hanya dilihat sebagai objek. Sesungguhnya di dalam dunia pendidikan manusia haruslah diperlakukan sebagai subjek, sehingga tujuan dari pendidikan juga unytuk menggali potensi khas dan unik yang dimiliki oleh masing-masing individu. Dengan demikian pendidikan tidak menjadi beban bagi peserta didik melainkan diminati dan disenangi.
Pendidikan merupakan salah satu program pembangunan di Indonesia yang kualitas dan kuantitasnya sedang dan terus ditingkatkan. Hal ini terkait dengan goal ke 2 dari program MDGs (Millenium Development Goals), yakni mencapai pendidikan dasar bagi semua dengan tujuan pada tahun 2015 semua anak, laki-laki dan perempuan dapat mengenyam pendidikan dasar. Guna mencapai goals tersebut sudah seharusnya dan sepantasnya dunia pendidikan ditunjang oleh berbagai piranti yang dibutuhkannya. Selain untuk mencapai goals tersebut UU N0 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak juga menyuratkan hak-hak dan perlindungan anak. Termasuk di dalamnya adalah hak anak untuk mendapatkan pendidikan. Dengan demikian kedua produk hukum di atas menghendaki agar setiap anak mendapat hak dan kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan.
Terdapat 3 (tiga) kategori lembaga yang menangani pendidikan di Indonesia, yaitu lembaga forma (sekolah), non formal (LPTK, paket belajar), dan lembaga informal (lembaga sosial tradisional seperti: surau). Ketiga lembaga ini diharapkan dapat bersinergi untuk menghasilkan produk, yaitu manusia yang berkualitas, manusia yang cerdas secara intelektual, emosional, dan spiritual. Dalam tulisan ini pendidikan yang dimaksud lebih diarahkan untuk menganalisis pendidikan formal persekolahan. Guna mengetahui kualitas dunia pendidikan di Kota Denpasar, ada beberapa indicator penting yang dapat dilihat seperti di bawah ini.
28 Salah satu indikator penting untuk melihat partisipasi penduduk dalam bidang pendidikan adalah angka partisipasi kasar (APK). Angka ini biasanya digunakan untuk melihat gambaran kondisi siswa pada suatu jenjang pendidikan. Apabila APM (Angka Partisipasi Murni) menunjuk pada penduduk usia sekolah sesuai dengan jenjang pendidikannya, maka APK menunjukkan penduduk pada jenjang pendidikan tertentu tanpa melihat usia mereka. Angka Partisipasi Kasar (APK) ini sesungguhnya adalah proporsi anak yang bersekolah pada jenjang pendidikan tertentu berdasarkan kelompok umur. Dengan demikian, APK SD misalnya dihitung dengan membagi jumlah penduduk yang bersekolah di SD dengan jumlah penduduk usia 7-12 tahun dikalikan 100. Oleh karena APK dibedakan berdasarkan jenjang pendidikan, maka berikut ini akan disajikan APK di Kota Denpasar mulai dari jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) sampai dengan jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) tahun 2011/2012.
B. Angka Partisipasi Murni (APM)
Angka partisipasi murni dalam hal ini yang dimaksudkan adalah proporsi anak sekolah pada suatu kelompok umur tertentu yang bersekolah pada jenjang pendidikan yang sesuai dengan kelompok umurnya. Secara matematis APM dapat dihitung dengan cara: misalnya, APM SD adalah jumlah penduduk usia 7-12 tahun yang masih sekolah di Sekolah Dasar dibagi jumlah penduduk usia 7-12 tahun, kemudian dikalikan 100. APM digunakan untuk melihat angka partisipasi sekolah anak, yaitu anak usia sekolah bersekolah tepat waktu sesuai dengan umur mereka. Misalnya anak usia 7-12 tahun sekolah di Sekolah Dasar, anak usia 13-15 tahun sekolah di SMP, 16-18 tahun sekolah di SMA. Jadi, APM memberikan penekanan kepada ketepatan usia seseorang penduduk dengan jenjang pendidikan yang dijalani. Jika persentase APM menunjukkan 100% berarti tidak ada siswa yang mengulang kelas atau masuk pada usia yang tidak sesuai dengan jenjang pendidikan. Guna mengetahui kualitas pendidikan anak-anak di Kota Denpasar berikut ini akan dipaparkan APM pada berbagai jenjang pendidikan..
C. Jumlah Sekolah
29 dipertanyakan, yaitu apa sesungguhnya perbedaan TK dengan PAUD? Beberapa literatur menjelaskan bahwa Taman Kanak-Kanak (TK) adalah jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD). Oleh karena itu pada hakikatnya TK dan PAUD itu sama, sama-sama merupakan tempat belajar untuk anak usia 4-6 tahun. Mengapa pada tabel 4.31 di bawah keduanya dibedakan. Barangkali hal tersebut hanyalah masalah nama/sebutan saja. Jenjang pendidikan anak usia 4-6 tahun tersebut dahulu lebih populer disebut TK namun saat sekarang dinamakan PAUD. Keduanya tentu berbeda dengan TPA. TPA adalah Taman Penitipan Anak merupakan salah satu bentuk PAUD pada jalur nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan sekaligus pengasuhan dan kesejahteraan sosial terhadap anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun. Tabel 4.31 di bawah menunjukkan jumlah sekolah yang ada di Kota Denpasar.
Tabel 4.31 Jumlah Sekolah di Kota Denpasar, 2011/2012.
Sekolah 2011 2012
TK
214 214
PAUD
276 278
TPA
20 24
SD/Sederajat
223 227
SLTP/Sederajat
58 62
SLTA/Sederajat 60 60
Sumber: Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kota Denpasar, 2013 E. Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus
Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia yang lahir ke dunia ini tidak semuanya sempurna dalam arti masih ada manusia yang menyandang disabilitas atau lahir kurang sempurna baik secara mental maupun fisik. Kondisi yang disandang oleh mereka yang mengalami keterbatasan fisik maupun mental adalah ciptaan Yang Maha Kuasa yang tentunya tidak bisa dihindari. Persoalan yang dihadapi manusia termasuk anak-anak dalam kehidupannya adalah sebuah keniscayaan dan tidak dapat dipungkiri.
30 mereka memiliki kekurangan baik secara fisik maupun mental. Mereka ini antara lain adalah anak-anak autis atau anak yang dawn sindroom. Oleh karena itu sangat diharapkan dan dibutuhkan uluran tangan dari berbagai pihak terkait sehingga anak-anak tersebut mendapatkan tempat untuk berlindung dan mendapat perlakuan khusus.
Terkait dengan kepentingan anak yang berkebutuhan khusus, di Kota Denpasar sudah mempunyai lembaga pendidikan untuk menampung anak-anak yang berkebutuhan khusus atau yang lasim disebut Pusat Tumbuh Kembang Anak Berkebutuhan Khusus (PTKABK). Sampai saat ini PTKABK yang dikelola oleh pemerintah Kota Denpasar telah menampung dan menerapi anak berkebutuhan khusus yang secara lengkap datanya ada pada bagian ABK dari tulisan ini. Anak yang ditangani oleh PTKABK Kota Denpasar ini khususnya anak-anak autis. Selain melakukan terapi terhadap anak-anak tersebut, pengelola juga mendidik mereka melalui berbagai kegiatan seperti lomba-lomba olah raga dan kreativitas lainnya seperti tampak pada gambar berikut ini.
F. Anak sebagai Pelaku dan Korban Kekerasan
Kekerasan terhadap anak adalah tindak kekerasan secara fisik, seksual, penganiayaan emosional, atau pengabaian terhadap anak. Ada 4 (empat) kategori utama tindak kekerasan terhadap anak, yaitu pengabaian, kekerasan fisik, pelecehan emosional/psikologis, dan pelecehan seksual anak. Dari beberapa penelitian menunjukkan pelaku kekerasan terhadap anak lebih banyak dilakukan oleh orang-orang terdekat anak, seperti orang tua, saudara, dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Pelaku kekerasan biasanya dilakukan oleh orang yang lebih tua, namun kenyataannya anak-anak juga dapat bertindak sebagai pelaku kekerasan. Tabel 4.34 di bawah menunjukkan di Kota Denpasar terjadi tindak kekerasan, baik yang dilakukan maupu pelakunya adalah anak-anak.
F. Anak Berkebutuhan Khusus
31 masing-masing. Bagi anak tunanetra misanya dibutuhkan modifikasi teks bacaan menjadi tulisan Braille sementara bagi anak tunarungu dibutuhkan kemampuan memiliki bahasa isyarat. Di Kota Denpasar terdapat anak berkebutuhan khusus seperti tampak pada tabel 3.35. di bawah ini.
Tabel 3.35. Data Anak Berkebutuhan Khusus di PTKABK Kota Denpasar Per 30 April 2013
Keterangan Laki-Laki Perempuan
Anak yg mengikuti program di PTKABK (Terapi dan Kelas)
56 23
Daftar Tunggu di PTKABK 56 16
Total 112 39
Sumber :Pusat Tumbuh Kembang Anak Berkebutuhan Khusus, 2013
F. Anak Terlantar
32 BAB. VI PENUTUP
6.1 SIMPULAN
Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak telah mengeluarkan kebijakan kabupaten/kota layak anak. Hal ini tertuang dalam Permen PP RI No. 2/2009 ini mengatur tentang kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak. Isi dari peraturan ini terdiri dari VII Bab yakni: bab 1. Pendahuluan yang terdiri dari 5 sub bab; bab 2. Analisis Situasi yang terdiri dari 8 sub bab; Landasan Kebijakan dan Strategi menjadi bab 3 dengan 3 sub bab; Prinsip, Prasyarat dan Langkah-langkah Kebijakan diatur dalam bab 4 yang meliputi 3 sub bab; Indikator Program KLA dipaparkan pada Bab 5 yang terdiri dari indikator khusus dan indikator umum; Selanjutnya Peran para pihak dijelaskan pada bab 6 yang terdiri dari 8 sub bab; dan terakhir bab 7 menjadi bab penutup
Pengembangan Kota Layak Anak di Kota Denpasar dilakukan melalui lima klaster yakni: 1. Hak-hak Sipil dan Kebebasan; 2. Lingkungan Keluarga dan Perawatan Alternatif; 3. Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan; 4. Pendidikan, Pemanfaatan Waktu Luang dan Kegiatan Budaya; 5. Upaya-upaya Perlindungan Khusus dengan penjabaran :
1. Kepemilikan akte kelahiran untuk anak-anak yang ada di Kota Denpasar masih perlu ditingkatkan lagi hingga mencapai minimal 95%.
2. Fasilitas pendidikan untuk menunjang tumbuh kembang anak di Kota Denpasar sudah cukup memadai.
3. Tingkat partisipasi anak-anak di bidang pendidikan di Kota Denpasar cukup baik. 4. Angka mengulang kelas dan putus sekolah di Kota Denpasar masih cukup tinggi
terutama di SD, oleh karena itu hal ini perlu diantisipasi.
5. Persoalan anak di bidang kesehatan adalah: angka kematian bayi dan balita yang masih relatif tinggi, pemberian ASI eksklusif yg masih perlu ditingkatkan.
6.2 Rekomendasi
33 • Sebagai upaya menanggulangan kasus-kasus yang menimpa anak-anak baik kasus kriminalitas maupun kasus KDRT di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat, serta menekan bertambahnya anak terlantar perlu dilakukan sosialisasi UU.No.23/2002 tentang Perlindungan anak.
34 DAFTAR PUSTAKA
Alf Ross, 1969, On Law And Justice, University Of Californis Press, Barkely & Los Angeles, Arif Gosita, 1989, Masalah Perlindungan Anak, Akademika Pressindo, Jakarta 1989.
C.F.G.Sunaryati Hartono, 1994, Penelitian Hukum Di Indonesia Pada Akhir Abad ke 2 , Alumni, Bandung.
Erna Widodo , 2000, Konstruksi ke Arah Penelitian Deskriptif, Avy-rouz.
I Dewa Gede Atmadja, 1996, Penafsiran Kostitusi Dalam Rangka Sosialisasi Hukum, Sisi Pelaksanaan UUD 1945 Secara Murni Dan konsekuen” Pidato Pengenalan Jabatan Guru Besar Dalam Bidang Hukum Tata Negara Pada FH.UNUD
Jan Gijsels,Mark Van Hocke ( terjemahan B. Arief Sidharta ) Apakah Teori Hukum Itu ? , Laboratorium Hukum Universitas Parahyangan Bandung.
Jurnal Perempuan, 2006,Sejauh Mana Komitmen Negara ?,jurnal YJP, No 25 thun 2006, ISSN1410-153X.
Philipus M Hadjon, 1994, Pengkajian Ilmu Hukum Dogmatik ( Normatif ) dalam Yuridika Nomor 6 Tahun IX, Nopember-Desember ( selanjutnya disebut Philipus M Hadjon II ), Peter Mahmud Marzuki; 2005, Penelitian Hukum, Jakarta Interpratama Offset.
Profil Statistik Gender 2013, Badan Keluarga Berencana Dan Pemberdayaan Perempuan Kota Denpasar
Rony Hanitijo Soemitro, 1985, Metodologi Penelitian Hukum, Ghalia Indonesia Jakarta DAFTAR PERATURAN PERUNDANG-UNDANG
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Indonesia Tahun 1945.
Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437)
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 10 ).
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 95, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4419).
Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Perlindungan Anak.
Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2009 tentang kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak
35 BUKU CATATAN KEGIATAN PENELITIAN
PENELITIAN DOSEN MUDA ( LOG BOOK)
Judul :
PENGEMBANGAN KOTA LAYAK ANAK
DI KOTA DENPASAR
Nama
: Ni Luh Gede Astariyani, SH.,MH.
NIP
: 19760319 199903 2 002
Jabatan/Pangkat/Golongan
: Lektor /Penata /IIId
Fakultas
: Hukum
Dibiayai dari dana DIPA BLU Universitas Udayana Tahun Anggaran 2014
Dengan Surat Perjanjian Penugasan Dalam Rangka Penelitian Dosen Muda
36 BUKU CATATAN KEGIATAN PENELITIAN
PENELITIAN DOSEN MUDA ( LOG BOOK)
1. Judul : Pengembangan Kota Layak Anak Di Kota
Denpasar 2. Ketua Pelaksana
a.Nama : Ni Luh Gede Astariyani, SH.,MH.
b.NIP : 19760319 199903 2 002
c.Jabatan/Pangkat/Golongan : Lektor /Penata /IIId
d.Fakultas : Hukum
e.Alamat Kantor Rumah
: :
Jl.Pulau Bali no. 1
Jl.Zidam Gg Biawak No 49.
f.Telp : 7452699/081916254566
3. Personalia : 2(dua) orang
4. Jangka Waktu Pelaksanaan : 6 bulan 5. Bentuk Kegiatan : Penelitian 6. Tempat Kegiatan : Kota Denpasar 7. Biaya yang diperlukan : Rp10.000.000,-
37 BUKU CATATAN KEGIATAN PENELITIAN
PENELITIAN DOSEN MUDA ( LOG BOOK)
1 Tanggal/Bulan/Tahun Januari – Februari 2015
2 Nama Kegiatan Sub kegiatan Persiapan penyusunan proposal 3. Tujuan kegiatan/ Sub Kegiatan
( sesuai dengan proposal)
Dapat menyusun proposal tepat waktu sehingga dapat diajukan sebagai usulan ke LPPM
4. Hasil yang diperoleh Dapat disusun proposal sesuai dengan pedoman penyusunan proposal penelitian dosen muda yang ditentukan oleh LPPM
5. Hambatan Terdapat beberapa bahan-bahan hukum
yang belum diperoleh, sehingga perlu dicari pada kegiatan berikutnya.
6. Kesimpulan dan saran Perlu tindak lanjut penyempurnaan proposal
7. Rencana Kegiatan Selanjutnya Penyempurnaan penulisan
8. Nama Peneliti Ni Luh Gede Astariyani, SH.,MH
9. Tanda tangan
Catatan :
38 BUKU CATATAN KEGIATAN PENELITIAN
PENELITIAN DOSEN MUDA ( LOG BOOK)
1 Tanggal/Bulan/Tahun
Mei 2015
2 Nama Kegiatan Sub kegiatan
Studi lanjutan
3. Tujuan kegiatan/ Sub Kegiatan ( sesuai dengan proposal)
Studi lanjutan setelah penelitian dinyatakan diterima
4. Hasil yang diperoleh 1. Mengkaji buku-buku yang terkait dengan bidang penelitian baik yang diteliti maupun yang terkait dengan bidang-bidang hukum yang lain
2. Mengkaji bahan-bahan hukum terutama UU yang berkaitan dengan pembentukan peraturan perundang-undangan
3. Membuat pedoman penelitian yang akan dilakukan pada bulan berikutnya
5. Hambatan Tardapat beberapa literature dan bahan
hukum yang tidak diperoleh
6. Kesimpulan dan saran Dilanjutkan pada penelitian berikutnya
7. Rencana Kegiatan Selanjutnya Penelitian
8. Nama Peneliti Ni Luh Gede Astariyani, SH.,MH
9. Tanda tangan
39 BUKU CATATAN KEGIATAN PENELITIAN
PENELITIAN DOSEN MUDA ( LOG BOOK)
1 Tanggal/Bulan/Tahun
Juni-Juli 2015
2 Nama Kegiatan Sub kegiatan
Pelaksanaan penelit ian
3. Tujuan kegiatan/ Sub Kegiatan ( sesuai dengan proposal)
Pelaksanaan penelitian
4. Hasil yang diperoleh 1. Pelaksanaan penelitian dengan melakukan penelitian pada bahan-bahan hukum berupa : a. UU
b. Perda
2. Meneliti dasar kewenangan pembentukan kota layak anak 3. Meneliti perda melalui cd room
dan dari internet
5. Hambatan Terdapat beberapa peraturan
perundang-undangan yang belum diperoleh
6. Kesimpulan dan saran -
7. Rencana Kegiatan Selanjutnya Melanjutkan penelitian
8. Nama Peneliti Ni Luh Gede Astariyani, SH.,MH
9. Tanda tangan
40 BUKU CATATAN KEGIATAN PENELITIAN
PENELITIAN DOSEN MUDA ( LOG BOOK)
1 Tanggal/Bulan/Tahun
Agustus-September
2 Nama Kegiatan Sub kegiatan
Penulisan laporan kemajuan
3. Tujuan kegiatan/ Sub Kegiatan ( sesuai dengan proposal)
Menghasilkan laporan kemajuan
4. Hasil yang diperoleh 1. Menyusun laporan
kemajuan
2. Rencannya menyususn laporan akhir sesuai dengan format yang telah ditentukan oleh LPPM
5. Hambatan -
6. Kesimpulan dan saran Laporan kemajuan dapat
disusun dengan baik
7. Rencana Kegiatan Selanjutnya Menyusun laporan akhir
8. Nama Peneliti Ni Luh Gede Astariyani,
SH.,MH 9. Tanda tangan
41
LAPORAN JUSTIFIKASI
PENGGUNAAN ANGGARAN 100 %
PENELITIAN DOSEN MUDA
PENGEMBANGAN KOTA LAYAK ANAK
DI KOTA DENPASAR
TIM PENELITI :
NI LUH GEDE ASTARIYANI,SH.,MH.NIDN : 0019037607 ( Ketua) I GUSTI N DARMA LAKSANA , SH.,MKN. NIDN : 0007047503 ( Anggota)
Dibiayai dari dana DIPA BLU Universitas Udayana Tahun Anggaran 2014
Dengan Surat Perjanjian Penugasan Dalam Rangka Penelitian Dosen Muda
Nomor : 237-9/UN14.2/PNL.01.03.00/2014 Tertanggal 14 Mei 2014
42
TAHUN 2015
Lampiran 1. Format Justifikasi Anggaran
No Jenis Pengeluaran Jumlah Satuan Satuan Rp Jumlah Rp
I HONORARIUM
Ketua Penelitian 1 orang 6 bulan 235,000 1,410,000
Anggota Penelitian 5 orang 6 bulan 100,000 600,000
2,010,000 II BIAYA OPERASIONAL
Pengadaan alat dan bahan
d. blok note 20 buah 10,000 200,000
e. Bulpoint 20 buah 6,000 120,000
f. Kertas HVS 6 rim 50,000 300,000
g.Map plastic 11 buah 10,000 110,000
i. Flesdisk 2 buah 150,000 300,000
j. Tinta printer Deskjet 1 buah 300,000 300,000
Penjajagan dan penetapan informan 2 kali 250,000 500,000
Penggandaan instrumen penelitian 8 set 100,000 800,000
Pengumpulan Bahan hukum skunder 2
orang 2 kali 250,000 500,000
Pengumpulan bahan hukum primer 2
0rang 2 orang 250,000 500,000
Analisis Bahan hukum 2 orang 200,000 400,000
4,030,000 BIAYA PELAPORAN
1 nyusunan draf laporan 1 eks 610,000 610,000
2 Penggandaan draf laporan untuk diskusi
intern 4 eks 200,000 800,000
3 Penyempurnaan laporan final 1 kali 500,000 500,000
4 Penggandaan laporan final 15 eks 70,000 1,050,000
2,960,000
TOTAL 9,000,000
43 Lampiran 2 Dukungan sarana dan prasarana penelitian
Dalam penelitian tentang Pengembangan Kota Layak Anak Di Kota Denpasar, mempergunakan sarana berupa kapasitas, daya dukung/kemampuan berupa :
1. Laboratorium hukum terkait dengan penemuan bahan-bahan hukum terkait dengan : a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Indonesia Tahun 1945.
b. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437)
c. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 10 ).
d. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 95, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4419). e. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia Nomor
3 Tahun 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Perlindungan Anak.
f. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2009 tentang kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak
g. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2011 tentang Pedoman Pelaksanaan Perlindungan Anak
44 Lampiran 3. Personalia Penelitian
No Nama/NIDN Instansi Asal Bidang
Ilmu
Alokasi Waktu (jam/mimggu)
Uraian Tugas 1 Ni Luh Gede Astariyani,
SH.,MH./ 0019003607
FH Unud Ilmu
Hukum
100 jam/minggu Ketua Peneliti 2 Made
Nurmawati.,SH.,MH/0031036208
FH Unud Ilmu
Hukum
100 jam/minggu Anggota Peneliti
3 Noving Pandy Mahasiswa Ilmu
Hukum
100 jam/minggu Tenaga Lapangan
4 Nanda Dwi Satyawati Mahasiswa Ilmu
Hukum