SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
Oleh
RESKY DWI PUSPA INDAH 10540 9719 15
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2019
v
vi
PRODI PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
Kantor: Jl. Sultan Alauddin Telp. (0411) 860 132 makassar 90221
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertandatangan dibawah ini:
Nama : Resky Dwi Puspa Indah
Nim : 10540 9719 15
Jurusan : Pendidikan Guru SekolahDasar S1 Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Judul Skripsi : Pengaruh Penerapan Strategi Joyfull Learning terhadap hasil Keterampilan Berbicara siswa kelas II SD Inpres Jongaya II Kota Makassar
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan didepan tim penguji adalah hasil karya saya sendiri dan bukan hasil jiplakan atau dibuatkan oleh siapapun.
Demikian pernyataan ini saya buat dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.
Makassar, Juli 2019 Yang membuat pernyataan
Resky Dwi Puspa Indah 10540 971915
vii
PRODI PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
Kantor: Jl. Sultan Alauddin Telp. (0411) 860 132 makassar 90221
SURAT PERJANJIAN
Saya yang bertandatangandibawahini:
Nama : Resky Dwi Puspa Indah
Nim : 10540 9719 15
Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar S1 Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut :
1. Mulai dari penyusunan proposal sampai dengan selesainya skripsi ini, saya akan menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun).
2. Dalam penyusunan skripsi, saya akan selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh pemimpin fakultas.
3. Saya tidak akan melakukan penjiplakan (plagiat dalam penyusunan skripsi saya).
4. Apabila saya melanggar perjanjian seperti pada butir (1), (2), dan (3) maka saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku.
Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.
Makassar, Juli 2019
Yang Membuat Perjanjian
Resky Dwi Puspa Indah 10540 9719 15
viii
MOTO DAN PERSEMBAHAN
“... Hai orang-orang yang beriman. Jadikanlah sabar dan shalatmu sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar...” (QS. Al-Baqarah:153).
Kesuksesan tidak diukur dari hasil yang telah kita raih, namun dari kegagalan yang telah kita hadapi dan keberanian yang membuat kita tetap berjuang melawan rintangan bertubi-tubi (Orison Swett Marden).
Dengan Segala Kerendahan Hati Kuperuntukkan Karya ini:
Kepada Ayahanda, Ibunda, dan Saudara-saudariku Tercinta Serta Keluarga dan Sahabat-sahabatku yang Tersayang yang dengan Tulus dan Ikhlas Selalu Berdoa dan Membantu Baik Moril Maupun Materil demi Keberhasilan Penulis
Semoga Allah SWT Memberikan Rahmat dan Karunianya
Almamaterku.
ix ABSTRAK
RESKY DWI PUSPA INDAH, 2019. Pengaruh Penerapan Strategi Joyfull Learning Terhadap Hasil Keterampilan Berbicara Siswa Kelas II SD Inpres Jongaya II Kota Makassar. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Erwin Akib dan pembimbing II Abdan Syakur.
Masalah utama dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh penerapan strategi Joyfull Learning terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas II SD Inpres Jongaya II Kota Makassar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh penerapan strategi Joyfull Learning terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas II SD Inpres Jongaya II Kota Makassar
Jenis penelitian ini adalah penelitian pra eksperimen, yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan Strategi Joyfull Learning terhadap hasil beelajar keterampilan berbicara siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia Kelas II SD Inpres Jongaya II Kota Makassar sebanyak 18 Siswa yang terdiri dari 9 laki-laki dan 9 perempuan.
Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan tes hasil belajar keterampilan berbicara berupa pretest dan posttest terhadap pengaruh penerapan Strategi Joyfull Learning untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran.
Adapun hasil yang diperoleh sebagai berikut. (1) hasil belajar siswa sebelum diberikan perlakuan yaitu dari 18 siswa terdapat 15 (83,3%) yang tuntas dan 3 (16,6%) yang tidak tuntas. Skor rata-rata pretest yaitu 62,22 berada pada kategori rendah. Adapun setelah diberikan perlakuan dari 18 siswa terdapat 15 (83,33%) yang tuntas dan 3 (16,6%) yang tidak tuntas. Skor rata-rata posttest 76,38 berada pada kategori tinggi. (2) Respon siswa terhadap Strategi Joyfull Learning dalam kategori tinggi dengan persentase 83,33% artinya memberikan respon positif terhadap penerapan Strategi Joyfull Learning selama pembelajaran.
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dalam Strategi Joyfull Learning dalam pembelajaran dapat meningkatkan hasil keterampilan berbicara seiring dengan peningkatan proses pembelajaran siswa dikelas II SD Inpres Jongaya II Kota Makassar.
Kata kunci : Strategi Joyfull Learning dan Hasil Keterampilan Berbicara
x
KATA PENGANTAR
Segala pujian hanyalah bagi Allah SWT yang telah memberikan curahan kasih sayang, rahmat dan karunia, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Penerapan Strategi Joyfull Learning terhadap Hasil Keterampilan Berbicara Siswa Kelas II SD Inpres Jongaya II Kota Makassar
” ini dengan cukup baik walaupun dengan keterbatasan pengetahuan, waktu, tenaga dan sebagainya yang dimiliki penulis.
Tak lupa pula penulis panjatkan salawat dan salam atas junjungan nabi Muhammad SAW, Rasul Allah Swt yang telah membawa kita dari alam kegelapan ke alam terang benderang dengan segala da’wahnya yang sarat dengan petunjuk dan nasehat agama.
Penyusunan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana pendidikan pada program studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar di Universitas Muhammadiyah Makassar.
Dalam penyusunan, banyak hambatan dan rintangan yang dihadapi penulis. Namun berkat rahmat-Nya dan bantuan dari berbagai pihak, baik yang bersifat material maupun non material, sehingga skripsi ini dapat terwujud seperti yang ada ditangan pembaca saat ini.
Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang tulus dan ikhlas kepada yang terhormat. Yang teristimewa kepada orang tua tercinta Ayahanda H. Hamzah S.Pd., MM dan Ibunda Hj. Mulyati S.Pd yang telah
xi
membimbing dan memberikan dukungan baik moral maupun materi sejak kecil sampai sekarang sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini serta saudaraku yang terkasih Ridha Awaliah, Fahri, Rahman Hamzah , Rasyid Hamzah, Raihanah Fakhira Hamzah, Amalia Razkya Syahrani, Reski Wahyuni, Nopianti, Wahyuni, dan Suci Afriani Sulhabar yang selalu memberi dukungan atau menemani baik suka maupun duka.
Begitu pula penghargaan yang setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih disampaikan dengan hormat kepada ; (1) Dr. H. Abd Rahman Rahim S.E.,M.M.
Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, (2) Erwin Akib,S.Pd,M.Pd.,Ph.D.
Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar , (3) Aliem Bahri, S.PD.,M.Pd. Ketua Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. (4) Erwin Akib,S.Pd,M.Pd.,Ph.D. pembimbing I (5) Abdan Syakur, S.Pd., M.Pd. pembimbing II yang telah membimbing penulis dengan penuh kesabaran dan keikhlasan untuk memberi waktu serta ilmu pengetahuan dengan penuh bijaksana sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini serta Bapak dan Ibu dosen jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar yang memberikan ilmu pengetahuan yang tidak ternilai dengan materi selama penulis menempuh studi di jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya juga penulis ucapkan kepada kepala sekolah SD Inpres Jongaya II Makassar HJ. Afiati Hasirun, S.Pd yang telah memberikan izin penelitian kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini serta guru kelas II ibu St. NursiahTahir, S.Pd. yang selalu membimbing pada saat penelitian di kelas.
xii
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini, masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi sempurnanya skripsi ini.
Wassalamualaikum Wr.Wb.
Makassar, Juli 2019
Penulis
xiii DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
SURAT PERNYATAAN... iv
SURAT PERJANJIAN ... v
MOTO DAN PERSEMBAHAN... vi
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR GAMBAR ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 4
C. Tujuan Masalah ... 4
D. Manfaat Masalah ... 5
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Pustaka ... 6
1. Strategi Pembelajaran Joyfull Learning ... 6
xiv
2. Keterampilan Berbicara ... 16
3. Belajar dan Hasil Belajar ... 21
4. Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar ... 22
B. Penelitian Yang Relevan ... 24
C. Kerangka Pikir ... 25
D. Hipotesis Penelitian ... 27
BAB III PROSEDUR PELAKSANAAN A. Jenis Penelitian... 28
B. Desain Penelitian ... 28
C. Populasi dan Sampel ... 29
D. Definisi Operasional Variabel... 30
E. Instrumen Penelitian ... 30
F. Teknik Pengumpulan Data ... 31
G. Teknik Analisis Data... 31
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Pelaksanaan ... 35
B. Pembahasan... 44
BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ... 48
B. Saran ... 48 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP
xv
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
3.1 Keadaan Populasi ... 29
3.2 Keadaan Sampel ... 30
4.1 Kategori Hasil Pretest Keterampilan Berbicara Siswa ... 36
4.2 Perhitungan Untuk Mencari Rata-Rata Nilai Pretest ... 37
4.3 Tingkat Keterampilan Berbicara Pretest ... 38
4.4 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Bahasa Indonesia... 38
4.5 Kategori Hasil Posttest Keterampilan Berbicara Siswa ... 39
4.6 Perhitungan Untuk Mencari Rata-Rata Nilai Posttes ... 40
4.7 Tingkat Keterampilan Berbicara Posttest ... 41
4.8 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Bahasa Indonesia... 42
xvi
DAFTAR GAMBAR
Tabel Halaman
2.1 Gambar Kerangka Berpikir... 26 3.1 Desain Penelitian One Group Pretest-Posttest Design ... 28
xvii
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN I-II : RPP
LAMPIRAN III : Test Pretest LAMPIRAN IV : Test Postest LAMPIRAN VI :Skor Nilai Pretest
LAMPIRAN VII : Perhitungan Untuk Mencari Mean Nilai Pretest LAMPIRAN VIII : Penilaian Keterampilan Berbicara Pretest LAMPIRAN IX : Skor Nilai Postest
LAMPIRAN X : Perhitungan Untuk Mencari Mean NilaiPostest LAMPIRAN XI : Penilaian Keterampilan Berbicara Postest LAMPIRAN XII : Deskriptor Penilaian Keterampilan Berbicara LAMPIRAN XIII : Hasil Analisis Skor Pretest dan Postest LAMPIRAN XIV : Daftar Nilai t- tabel
LAMPIRAN XV : Lembar Pengamatan Aktivitas Siswa LAMPIRAN XVI : Dokumentasi
LAMPIRAN XVII : Persuratan
1 A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran untuk peserta didik secara aktif, mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan dapat diartikan sebagai usaha sadar dan sistematis untuk mencapai taraf hidup atau untuk kemajuan lebih baik.
Manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial yang tumbuh dan berkembang serta berkeinginan untuk mencapai suatu kehidupan yang optimal.
Selama proses peningkatan dan pengembangan pengetahuan kepribadian maupun keterampilannya, manusia perlu membangun hubungan sosial satu sama lain.
Sektor pendidikan memiliki peranan penting dalam hal ini. Dimana tujuan pendidikan mengarahkan kita ke arah yang lebih baik.
UUD RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 (2009:343), menyebutkan bahwa:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Pendidikan formal dalam mempelajari Bahasa Indonesia di Indonesia dikenal dengan Pendidikan Bahasa Indonesia yang merupakan salah satu mata
pelajaran wajib di persekolahan. Lingkungan sosial budaya dengan perkembangan yang pesat seiring perubahan zaman menjadi tantangan mendasar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Kenyataannya, proses pembelajaran Bahasa Indonesia masih sebatas transfer ilmu dari guru (teaching oriented learning), mata pelajaran Bahasa Indonesia dipandang sebagai mata pelajaran berbasis textbook yang dalam pengimplementasiannya siswa sering kali ditugaskan untuk membaca materi yang ada pada buku pengajaran.
Berdasarkan kenyataan yang ditemui di lapangan menunjukkan bahwa hasil belajar aspek keterampilan berbicara siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia masih dibawah kriteria ketuntasan minimun (KKM) yaitu 70% . Hal ini terungkap melalui prapenelitian melalui observasi kepada guru dan murid kelas II SD Inpres Jongaya II. Dari hasil observasi tersebut dapat diperoleh informasi bahwa penyebab rendahnya keterampilan berbicara pada siswa karena beberapa faktor. Diantaranya faktor guru yaitu: (1) Fokus pembelajaran yang masih berpusat pada guru
, (2)
Kurang melatih siswa, (3) Guru kurang tepat memilih model dalam pembelajaran keterampilan berbicara, dan (4) Aktivitas tukar pendapat dengan siswa kurang. Sedangkan faktor siswa yaitu: (1) Sebagian siswa kurang mampu menjawab pertanyaan yang diberikan kepada guru, (2) tidak memperhatikan saat guru sedang menjelaskan materi pembelajaran, (3) siswa kurang antusias dalam belajar, (4) siswa lebih suka bermain.Keterampilan berbicara dipandang memiliki peranan sentral dalam tujuan pembelajaran bahasa, karena hakikat belajar bahasa adalah belajar komunikasi, terutama komunikasi lisan. Demikian pula dengan hakikat pembelajaran Bahasa
Indonesia. Hakikat pembelajaran Bahasa Indonesia ialah peningkatan kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar secara lisan dan tulisan.
Menurut Tarigan (dalam 2015:16) berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan atau menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan.
Keterampilan berbicara siswa khususnya pada siswa kelas II di SD Inpres Jongaya II masih kurang. Cara penyampaian pelajaran Bahasa Indonesia oleh guru menjadi salah satu faktor penyebabnya, guru cenderung menggunakan metode ceramah dan nyatanya siswa bosan dengan cara penyampaian guru tersebut. Selain merasa bosan, siswa juga tidak menunjukkan keaktifan saat kegiatan belajar berlangsung. Siswa kelas II di SD Inpres Jongaya II ini, nyatanya masih belum mempunyai keberanian dan dasar kemampuan untuk mengungkapkan ide-ide, gagasan yang ada di pikirannya.
Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif, efektif dan menyenangkan. Salah satunya yakni dengan menggunakan strategi Joyfull Learning dalam proses pembelajaran. Joyfull Learning digunakan agar anak bersemangat dan gembira dalam belajar dan suasana belajar mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar.
Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan strategi Joyfull Learning selain dapat digunakan dalam metode diskusi, dan metode tanya jawab dalam satu kali pembelajaran, kita juga dapat melakukan kegiatan lain salah satunya yang
dilakukan dalam penelitian ini adalah berupa Brayn Gym (Senam otak), tepuk tangan (yel-yel) serta Humor (Video, Cerita Lucu dan Tebak-tebakan) yang dapat diselipkan di selah-selah proses belajar mengajar. Diharapkan agar pembelajaran lebih efektif, dan bermakna bagi siswa sehingga belajar tidak lagi menjadi momok bagi siswa tetapi menjadikan belajar sebagai suatu kebutuhan yang harus dimiliki siswa. Dengan begitu maka secara tidak langsung akan memaksa peserta didik untuk terlibat secara aktif.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai pengaruh penerapan strategi Joyfull Learning terhadap hasil Keterampilan Berbicara siswa kelas II SD Inpres Jongaya II Kota Makassar.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah terdapat pengaruh penerapan strategi Joyfull Learning terhadap hasil Keterampilan Berbicara siswa kelas II SD Inpres Jongaya II?”.
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan peneliti dalam penelitian ini adalah “Untuk mengetahui pengaruh penerapan strategi Joyfull Learning terhadap hasil Keterampilan Berbicara kelas II SD Inpres Jongaya II Kota Makassar”.
D. Manfaat penelitian 1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan terhadap ilmu pengetahuan khususnya bidang ilmu pendidikan jurusan pendidikan guru sekolah dasar dan perkembangan mengenai pengaruh penggunaan strategi Joyfull Learning terhadap hasil Keterampilan Berbicara pada siswa kelas II SD Inpres Jongaya II Kota Makassar.
2. Manfaat Praktis a. Bagi Guru.
Bagi guru aktifitas strategi Joyfull Learning ini diharapkan dapat diaplikasikan dalam proses belajar mengajar di kelas, agar siswa lebih bersemangat dalam menerima pelajaran yang berlangsung, sehingga apa yang menjadi tujuan pembelajaran dapat tercapai.
b. Bagi Siswa
Bagi siswa aktifitas strategi Joyfull Learning ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa aspek keterampilan berbicara pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dan dapat menerima pelajaran di sekolah supaya tidak merasa jenuh atau bosan dalam mengikuti proses pembelajaran yang berlangsung.
c. Bagi Peneliti
Penelitian diharapkan mampu memberikan tambahan referensi mengenai pengaruh penggunaan strategi Joyfull Learning terhadap hasil Keterampilan Berbicara pada siswa kelas II SD Inpres Jongaya II Kota Makassar. Selain itu sebagai media latihan penulisan karya ilmiah selanjutnya bagi peneliti.
6 A. Kajian Pustaka
1. Strategi Pembelajaran Joyfull Learning a. Pengertian Strategi Pembelajaran
Strategi pembelajaran merupakan pola umum kegiatan antara guru dan siswa dalam suatu kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan. Dengan kata lain, strategi pembelajaran di dalamnya mencakup pendekatan, model, metode dan teknik pembelajaran secara spesifik.
Kozma (Sanjaya 2007:7), mengemukakan bahwa “Strategi pembelajaran adalah kegiatan yang dipilih, yaitu yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran tertentu”.
Dick dan Carey (Sanjaya 2007:7), mengemukakan bahwa “Strategi pembelajaran terdiri atas seluruh komponen materi pembelajaran dan prosedur atau tahapan kegiatan belajar yang atau digunakan oleh guru dalam rangka membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran tertentu”.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran adalah perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
b. Pengertian Joyfull Learning
Joyfull Learning berasal dari kata Joyfull yang berarti menyenangkan sedangkan learning adalah pembelajaran. Joyfull Learning (pembelajaran
menyenangkan) adalah suatu proses pembelajaran atau pengalaman belajar yang membuat peserta didik merasakan kenikmatan dalam skenario belajar atau proses pembelajaran.
Mulyasa (2006:191-194), mengemukakan bahwa:
Pembelajaran menyenangkan (Joyfull learning) merupakan suatu proses pembelajaran yang di dalamnya terdapat sebuah kohesi yang kuat antara pendidik dan peserta didik, tanpa ada perasaan terpaksa atau tertekan (not under pressure). Dengan kata lain, pembelajaran menyenangkan adalah adanya pola hubungan yang baik antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran.
Djamarah (2010:377), mengemukakan bahwa “Pembelajaran menyenangkan (Joyfull Learning) merupakan pembelajaran yang di desain sedemikian rupa sehingga memberikan suasana penuh keceriaan, menyenangkan dan yang paling utama tidak membosankan”.
Ngalimun (2017:35), mengemukakan bahwa “Pembelajaran menyenangkan (Joyfull Learning) merupakan proses pembelajaran yang dapat mengembangkan seluruh potensi peserta didik, yang dimana seluruh potensi itu hanya mungkin dapat berkembang manakala mereka terbebas dari rasa takut dan menegangkan”.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Joyfull Learning (pembelajaran menyenangkan) adalah suatu proses pembelajaran yang membuat peserta didik senang dalam proses pembelajaran, tidak membosankan dan membuat pembelajaran itu lebih bermakna.
Pembelajaran yang menyenangkan akan seiring dengan belajar sambil bermain, yang mau tidak mau akan mengajak peserta didik untuk aktif serta tidak jenuh atau membosankan dalam belajar. Sambil bermain mereka aktif belajar dan
sambil belajar mereka aktif bermain. Dalam bermain mereka mendapatkan hikmah esensi suatu pengetahuan dan keterampilan, sambil belajar mereka melakukan refreshing agar kondisi kejiwaan mereka tidak dalam suasana tegang terus-menerus. Tidak ada strategi standar untuk pembelajaran yang menyenangkan ini. Setiap guru sesuai dengan konteks kelas dan perkembangan usia mental peserta didik dapat memilah dan memilih strategi yang sesuai atau bahkan strategi yang diciptakannya sendiri dalam rangka menciptakan pembelajaran.
Strategi pembelajaran Joyfull Learning merupakan strategi yang bisa disesuaikan dengan metode dan gaya yang sesuai dengan perkembangan peserta didik. Dengan pembelajaran yang disampaikan lewat cara yang menyenangkan maka strategi ini akan membuat suasana pembelajaran menjadi tidak membosankan. Dalam penelitian kali ini peneliti menggunakan metode diskusi, metode ceramah, dan metode tanya jawab dalam satu kali pembelajaran. Dengan begitu maka secara tidak langsung akan memaksa peserta didik untuk terlibat secara aktif.
Prinsip pembelajaran yang menyenangkan (Joyfull Learning) adalah apabila siswa senang dan belajar tahu untuk apa dia belajar. Pembelajaran yang menyenangkan (Joyfull Learning) bukan semata-mata pelajaran yang mengharuskan anak-anak untuk tertawa terbahak-bahak, melainkan sebuah pembelajaran yang di dalamnya terdapat kohesi yang kuat antara guru dan murid dalam suasana yang sama sekali tidak ada tekanan, yang ada hanyalah komunikasi yang saling mendukung. Pembelajaran yang menyenangkan akan ditandai dengan
besarnya perhatian siswa terhadap tugas, sehingga hasil belajar dapat meningkat.
Selain itu, dalam jangka panjang siswa diharapkan menjadi senang belajar untuk menciptakan sikap belajar mandiri sepanjang hayat (life long lear). Joyfull Learning merupakan strategi belajar mengajar yang menyenangkan. Belajar adalah kegiatan seumur hidup yang dapat dilakukan dengan cara menyenangkan dan berhasil. Guna mendukung proses Joyfull Learning maka perlu menyiapkan lingkungan sehingga semua siswa merasa penting, aman dan nyaman. Ini dimulai dengan lingkungan fisik yang kondusif yang diperindah dengan tanaman, seni dan musik.
Mereka dapat belajar dari lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosialnya (contextual teaching and learning). Mereka juga bergembira dalam belajar karena memulainnya dari sesuatu yang telah dimilikinya sendiri, sehingga timbul rasa percaya diri dan itu akan menimbulkan perasaan diakui dan dihargai yang menyenangkan hatinya karena ia diberi kesempatan untuk mengekspresikan dirinya (teori konstruktivisme) sesuai ciri-ciri perkembangan fisiologis dan psikologisnya. Hal tersebut pada gilirannya akan memotivasi mereka untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran karena atmosfer pembelajaran yang sesuai kepentingannya dan dicipitakannya sendiri. Jadi faktor untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan (Joyfull Learning) adalah penciptaan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan dan merangsang anak untuk belajar.
c. Langkah-langkah pembelajaran Joyfull Learning
Joyfull learning menggunakan proses pembelajaran yang diaplikasi kepada siswa dengan menggunakan pendekatan riang melalui Brayn Gym (senam otak), yel-yel dan jenis humor. Joyfull learning menggunakan pendekatan-pendekatan permainan, rekreasi, dan menarik minat yang menimbulkan perasaan senang, segar, aktif dan kreatif yang tak pelak lagi sangat dibutuhkan untuk mereduksi kebosanan dan ketegangan belajar yang hari demi hari dialami siswa.
Mulyasa (2006:202) mengemukakan bahwa “ada 4 tahapan pembelajaran Joyfull Learning yaitu: 1. Tahapan persiapan, 2. Tahap penyampaian, 3. Tahap Pelatihan, dan 4. Tahap Penutup”. Berikut ini penjelasan 4 tahapan pembelajaran sebagai berikut :
1) Tahapan Persiapan
Tahap persiapan berkaitan dengan persiapan siswa untuk belajar. Tanpa itu siswa akan lambat dan bahkan bisa berhenti begitu saja.
Tujuan dari persiapan pembelajaran adalah untuk :
a) Mengajak siswa keluar dari keadaan mental yang pasif.
b) Menyingkirkan rintangan belajar
c) Memotivasi minat dan rasa ingin tahu siswa.
d) Memberi siswa perasaan positif dan hubungan yang bermakna dengan topic pelajaran.
e) Menjadikan siswa aktif dan tergugah untuk berpikir, belajar, menciptakan dan tumbuh.
f) Mengajak siswa masuk kedalam komunitas belajar.
Dengan hal tersebut akan berdampak secara psikis kepercayaan diri untuk bisa memperoleh apa yang menjadi tujuan yang ia inginkan. Pada tahap ini guru memberikan motivasi berupa kata-kata dan lagu-lagu/ nyanyian yang dapat membantu siswa keluar dari rasa tertekan dan menjadi tertarik dengan pembelajaran.
2) Tahap Penyampaian
Tahap penyampaian dalam pembelajaran dimaksudkan untuk mempertemukan pembelajaran dengan materi belajar yang mengawali proses belajar secara positif dan menarik.
Pada tahap ini guru menyampaikan materi belajar yang dikaitkan dengan hal-hal nyata yang dapat ditemui siswa dalam kehidupan sehari-hari dan diasosiasikan dengan apa yang sudah diketahui dan diingat siswa sebelumnya.
3) Tahap Pelatihan
Pada tahap inilah pembelajaran yang berlangsung sebenarnya. Apa yang dipikirkan, dan dikatakan serta dilakukan siswalah yang menciptakan pembelajaran, dan bukan apa yang dipikirkan, dikatakan dan dilakukan oleh guru.
Pada tahap ini dapat dilakukan dengan meminta siswa berulang-ulang mempraktikkan suatu keterampilan (andaipun tidak berhasil pada mulanya), mendapatkan umpan balik segera, dan mempraktikkan keterampilan itu lagi.
Mintalah siswa membicarakan apa yang mereka alami, perasaan mereka mengenainya, dan apalagi yang mereka butuhkan untuk meningkatkan prestasinya.
Pembelajaran dibuat seolah-olah siswa sedang bermain dalam hal ini dengan menggunakan strategi Brayn Gym (senam otak), yel-yel, dan jenis humor atau dapat juga dengan stategi yang lain serta dalam penyempaian diberi gambar- gambar atau animasi yang dapat membuat siswa menjadi tertarik dan senang dalam pembelajaran. Khususnya strategi Brayn Gym (senam otak), yel-yel, dan jenis humor saat pembelajaran. Agar lebih menarik dan memancing keaktifan siswa diberikan hadiah-hadiah dan pujian bagi siswa yang aktif dalam pembelajaran. Serta saat pembelajaran berlangsung bisa diselingi dengan humor yang dapat membuat siswa lebih menikmati pembelajaran yang sedang berlangsung.
4) Tahap Penutup
Banyak kasus dalam menyampaikan pelajaran dalam akhir semester atau dalam akhir jam guru menjelaskan agar materinya selesai. Namun dengan ini, malah tidak akan efektif yang seharusnya dilakukan adalah pada pemahaman guru dalam Joyfull Learning hendaknya memberi penguatan kepada materi yang telah diterima oleh siswa dengan memusatkan perhatian.
Pada tahap ini guru bersama siswa menyimpulkan pembelajaran yang didapatkan. Menutup pembelajaran dengan kata-kata dan nyanyian/lagu yang menyenangkan bagi siswa. Apabila fasilitas dan waktu memungkinkan dapat juga guru memutarkan lagu atau film di akhir pembelajaran sebagai sarana refreshing bagi siswa.
d. Kelebihan Strategi Joyfull Learning
Mulyasa (2006:215), mengemukakan bahwa “Kelebihan Strategi Joyfull Learning ada 4 yaitu : 1. Suasana belajar rileks dan menyenangkan, 2. Banyak strategi yang bisa diterapkan, 3. Merangsang kreativitas dan aktivitas dan 4. Lebih bervariasi dalam menyampaikan materi pembelajaran”.
Berikut penjelasan dari 4 kelebihan strategi Joyfull Learning yaitu:
a) Suasana belajar rileks dan menyenangkan.
Melibatkan kerja otak kiri dan kanan akan menjadikan belajar siswa lebih ringan dan menyenangkan sehingga siswa tidak mengalami stress dalam belajarnya.
b) Banyak strategi yang bisa diterapkan.
Ada tiga jenis strategi yaitu yel-yel, Brayn Gym (senam otak), dan humor yang ada di Joyfull Learning yang dapat diterapkan dan dikombinasikan antara strategi yang satu dengan strategi yang lainnya misalnya strategi pembelajaran langsung dimana strategi ini diarahkan langsung oleh guru sehingga kita tinggal menentukan sendiri jenis strategi mana yang diterapkan.
c) Merangsang kreativitas dan aktivitas.
Kreativitas terjadi jika kita dapat menggunakan informasi yang sudah ada di dalam otak kita dan mengkombinasikan dengan informasi yang lain sehingga tercipta hal baru yang bernilai tambah. Demikian juga kita menggunakan strategi Joyfull Learning kita akan menghubungkan informasi yang sudah ada di memory kita untuk dikombinasikan dan dipadukan antara informasi yang satu dengan yang lain sehingga tercipta sesuatu yang baru.
d) Lebih bervariasi dalam menyampaikan materi pembelajaran.
Penguasaan materi yang mantap guru dapat mendesain membungkus suatu penyajian materi kegiatan belajar mengajar lebih menarik dengan berbagai variasi agar peserta didik mengikuti dengan suasana hati yang gembira dan semangat yang tinggi.
e. Jenis kegiatan dalam pembelajaran Joyfull Learning
Rudiana (2012:110), mengemukakan bahwa “jenis kegiatan dalam pembelajaran Joyfull Learning ada 3 yaitu: 1.jenis Yel-yel, 2. Jenis Brayn Gym (senam otak) dan 3. Jenis Humor”.
Berikut di bawah ini penjelasan dari jenis kegiatan pembelajaran Joyfull Learning:
1) Jenis yel-yel
Kegiatan jenis yel-yel dalam Joyfull Learning adalah kalimat atau kata- kata yang sengaja dibuat sesuai kesepakatan guru dengan siswa untuk membangkitkan semangat atau membuat siswa terkonsentrasikan kembali ketika guru sedang mengajar. Kegiatan jenis ini biasanya digunakan di awal pembelajaran, untuk melihat kesiapan mental siswa pada saat mengawali suatu pembelajaran. Kegiatan jenis ini termasuk kategori yang mudah dilakukan.
Contoh sederhananya adalah pada saat memulai proses pembelajaran anak diajak untuk kompak dan menghadirkan suasana kebersamaan dalam kelas. Dengan nyanyian dan gerakan sederhana, “kalau kau suka hati tepuk tangan, kalau kau suka hati mari kita belajar kalau kau suka belajar ayo siap-siap” dengan suara yang kompak dan nyaring.
2) Jenis Brayn Gym (Senam otak)
Joyfull Learning jenis Brayn Gym (senam otak) adalah serangkaian latihan berbasis gerakan tubuh sederhana. Menurut ahli senam otak dari lembaga educational Kinesiology Amerika Serikat Paul E. Denisson (Yanuarita, 2013: 77) mengatakan bahwa “walaupun sederhana, Brayn Gym mampu memudahkan kegiatan belajar dan melakukan penyesuaian terhadap ketegangan, tantangan, dan tuntutan hidup sehari-hari”. Selanjutnya Dryden dan Vos (Rudiana, 2012) menjelaskan mengkondisikan otak kanan dan otak kiri dalam keadaan rileks dapat dilakukan dengan mengadakan permainan atau Brayn Gym (senam otak), sehingga bisa merangsan komunikasi antara otak kanan dan otak kiri.
Senam otak berguna untuk melatih otak, dan juga sangat praktis karena bisa dilakukan kapan saja, dimana saja, dan oleh siapa saja. Senam otak di dalam penelitian ini diperuntukkan untuk siswa dan dapat dilakukan pada kegiatan awal pembelajaran, pada saat anak mengalami kejenuhan atau kebosanan dalam menjalankan aktivitas belajar juga dapat dilakukan pada saat jedah pembelajaran untuk kembali mengarahkan otak agar berada pada kondisi gelombang alpha yang mana pada gelombang ini kondisi otak siap untuk kembali menerima informasi.
3) Jenis Humor
Humor adalah kebutuhan asasi manusia. Buzan (Rudiana, 2012:123) mengatakan bahwa “humor pada dasarnya adalah imajinasi dan kemampuan otak untuk menemukan asosiasi baru yang menakjubkan”. Humor dapat dibuat sendiri, mulai dari yang aneh sampai yang tidak masuk akal seperti yang dikemukakan Darmansyah (Rudiana, 2012) humor adalah suatu yang bersifat menimbulkan atau
menyebabkan pendengarnya merasa tergelitik perasaan lucunya, sehingga terdorong untuk tertawa, apakah itu karena keanehannya, ketidak masuk akalannya, kekontradiksiannya, kenakalannya dan lain-lain. Hal ini selaras dengan penelitian tentang humor oleh Lee Bark, seorang ilmuwan dari Loma Linda University, yang menunjukkan bahwa tertawa atau sifat humoris bisa dilatih dan dilakukan setiap hari.
Humor dapat mengangkat siswa dari keseriusan yang mengerikan, memecah ketegangan yang menjemukan, dan memberikan sesuatu yang baru.
Sukadi (Rudiana,2012) menjelaskan bahwa pembelajaran tanpa sesekali diselingi humor akan membuat siswa cepat jenuh, karena siswa tidak menyukai guru yang pembelajarannya monoton. Penggunaan humor yang mendidik (edukatif), dapat membuat suasana pembelajaran menjadi dinamis dan menyenangkan.
Humor sudah pasti akan dapat membangkitkan gairah dan semangat belajar siswa. Karena, pembelajaran yang berlangsung akan menarik bagi siswa.
Sebuah humor akan sangat bermanfaat dan membantu tenaga pendidik dalam mentransfer ilmu apabila sebuah materi disampaikan dalam bentuk humor ataupun demonstrasi yang memang sengaja dirancang agar ada unsur humoris yang di dalamnya bertujuan untuk menarik minat siswa.
2. Keterampilan Berbicara a. Hakekat berbicara
Iskandar wassid (dalam 2014: 241) menyatakan “Keterampilan berbicara pada hakikatnya merupakan keterampilan mereproduksi arus sistem bunyi
artikulasi untuk menyampaikan kehendak, kebutuhan perasaan, dan keinginan pada orang lain.”
Tarigan (dalam 2015:16) menyatakan bahwa “Berbicara adalah kemampuan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan atau menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan.” Dengan demikian, berbicara tidak sekedar pengucapan bunyi-bunyi atau kata-kata.
Berbicara adalah suatu cara dan juga alat untuk mengomunikasikan gagasan- gagasan yang disusun serta dikembangkan.
Manusia sebagai makhluk sosial selalu hidup dalam kelompok. Anggota dalam kelompok tersebut selalu terjadi interaksi. Untuk berinteraksi manusia memerlukan alat seperti yang telah disebutkan, yaitu bahasa. Dalam berinteraksi (berkomunikasi) yang menggunakan bahasa tersebut dapat dilaksanakan secara lisan maupun tertulis. Untuk berkomunikasi secara lisan dengan efektif diperlukan kemampuan menyimak dan berbicara. Berbicara secara umum dapat diartikan sebagai suatu penyampaian maksud bisa berupa gagasan, pikiran, isi hati seseorang kepada orang lain. Pengertian secara khusus banyak dikemukakan oleh para pakar.
Berbicara merupakan perwujudan komukasi secara lisan (dalam Munir, 2015:10). Komunikasi secara lisan sering dilakukan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari dengan berbagai tujuan.
Brooks (dalam Tarigan, 2015: 17-18) mengemukakan beberapa prinsip umum yang mendasari kegiatan berbicara, yaitu, (10) Membutuhkan paling sedikit dua orang, (2) Mempergunakan suatu sandi linguistik yang dipahami
bersama, (3) Menerima atau mengakui suatu daerah referensi umum., (4) Merupakan suatu pertukaran antara partisipan, (5) Menghubungkan setiap pembicara dengan yang lainnya dan kepada lingkungannya dengan segera, (6) Berhubungan atau berkaitan dengan masa kini, (7) Hanya melibatkan aparat atau perlengkapan yang berhubungan dengan suara/bunyi bahasa dan pendengaran (vocal and auditory apparatus).
Berbicara dapat berlangsung dalam situasi, suasana, lingkungan tertentu dan lingkungan formal, pembicara dituntut secara formal pula. Misalnya berpidato, berdiskusi, ceramah, wawancara (interview), dan bercerita. Sebaliknya, dalam situasi dan suasana informal seperti banyak dilaksanakan manusia dalam kehidupan sehari-hari, pembicara berbicara santai (tidak formal), misalnya dalam tukar-menukar pengalaman, percakapan di jalan dan sebagainya.
Berdasarkan uraian mengenai hakekat berbicara, dapat disimpulkan bahwa berbicara merupakan salah satu keterampilan dalam aspek bahasa yang sangat penting sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan lawan bicara. Keterampilan berbicara ini perlu distimulus melalui kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan kosakata yang dimiliki anak.
b. Tujuan Berbicara
Tarigan (dalam 2015:16) menyatakan “Tujuan utama berbicara dari adalah untuk berkomunikasi.” Agar dapat menyampaikan pikiran, gagasan, perasaan dan kemauan secara efektif seyogyanya pembicara memahami makna segala sesuatu yang ingin dikomunikasikan. Dia harus mampu mengevaluasi efek komunikasi
terhadap (para) pendengarnya dan harus mengetahui prinsip-prinsip yang mendasari segala situasi pembicaraan, baik secara umum maupun perorangan.
Gorys Keraf (dalam Slamet 2012:37), menyatakan bahwa tujuan berbicara yaitu, (1) Mendorong pembicara untukmemberi semangat, membangkitkan kegairahan serta menunjukkan rasa hormat dan pengabdian, (2) Meyakinkan:
pembicara berusaha mempengaruhi keyakinan atau sikap mental/intelektual kepada para pendengar, (3) Berbuat/bertindak: reaksi fisik dari pendengar dengan harapan agar pendengar terbangkitkan emosinya, (4) Memberitahukan: pembicara berusaha menguraikan atau menyampaikan sesuatu kepada pendengar dengan harapan agar pendengar mengetahui tentang suatu hal, pengetahuan dan sebagainya, (5) Menyenangkan: pembicara bermaksud menggembirakan, menghibur pendengar agar terlepas dari kerutinan yang dialami oleh pendengar.
Sejalan dengan pendapat diatas, Tarigan (dalam Munir, 2015:12), menyatakan bahwa tujuan berbicara meliputi: (1) menghibur, (2) menginformasikan, (3) menstimuli, (4) meyakinkan, dan (5) menggerakkan.
Tarigan (2015:17) menyatakan “Pada dasarnya berbicara mempunyai tiga maksud umum, yaitu: (1) memberitahukan dan melaporkan (to Inform); (2) menjamu dan menghibur (to entertain); dan (3) membujuk, mengajak, mendesak dan meyakinkan (to persuade).
c. Aspek-aspek Keterampilan Berbicara
Burhan (dalam Ahmad, 2013) menyatakan ada beberapa aspek yang dinilai pada saat anak berbicara diantaranya sebagai berikut:
a) Pelafalan
Seorang pembicara harus membiasakan diri mengucapkan bunyi-bunyi bahasa secara tepat. Pengucapan bunyi bahasa yang kurang tepat dapat mengalihkan perahatian pendengar.
b) Intonasi
Kesesuaian intonasi merupakan daya tarik tersendiri dalam berbicara dan merupakan faktor penentu. Walaupun masalah yang dibicarakan kurang menarik, dengan penempatan intonasi yang sesuai dengan masalahnya menjadi menarik.
Penempatan Intonasi yang tepat merupakan daya tarik tersendiri dalam kegiatan berbicara, bahkan merupakan salah satu faktor penentu dalam keefektifan berbicara.
c) Pilihan kata (diksi)
Pilihan kata (diksi) hendaknya tepat, jelas, dan bervariasi. Jelas maksudnya mudah dimengerti oleh pendengar yang menjadi sasaran. Pendengar akan lebih terangsang dan lebih paham, kalau kata-kata yang digunakan sudah dikenal oleh pendengar.
d) Kelancaran
Seorang pembicara yang lancar berbicara memudahkan pendengar menangkap isi pembicaraannya. Seringkali kita dengar pembicara berbicara terputus-putus, bahkan antara bagian-bagian yang terputus itu disecara harus memiliki volume suara yang jelas sehingga suara yang dihasilkan dapat dipahami dengan jelas oleh pendengar kemudian disertai dengan pelafalan yang jelas.
3. Belajar dan Hasil Belajar a. Pengertian Belajar
Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi dalam diri setiap manusia sebagai hasil dari aktivitas yang dilakukan. Belajar secara tradisional diartikan sebagai upaya menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan.
Gagne (Susanto, 2013:1), mengemukakan bahwa “Belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses di mana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman”. Hamalik (2016:39), mengemukakan bahwa “belajar adalah perubahan tingkah laku yang relative mantap berkat latihan dan pengalaman”.
Gagne (Suprijono, 2013:2), mengemukakan bahwa “Belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas.
Perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang secara alamiah”.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan belajar adalah suatu proses yang dimiliki setiap individu melalui pengalaman dan berbagai latihan melalui aktivitasnya.
b. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan keberhasilan seorang siswa dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran. Hasil belajar yang dicapai siswa dapat dijadikan indikator untuk mengetahui tingkat kemampuan, kesanggupan, penguasaan tentang materi belajar.
Suprijono (2013:7), mengemukakan bahwa “Hasil belajar adalah perubahan perilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi kemanusiaan saja”.
Nawawi (Susanto,2013:5), mengemukakan bahwa :
Hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan murid dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenal sejumlah materi pelajaran tertentu.
Secara sederhana yang dimaksud dengan hasil belajar siswa adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Karena belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relative menetap.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan yang dimiliki oleh siswa baik dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotorik setelah melakukan proses kegiatan pembelajaran.
4. Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar.
a. Pengertian Bahasa Indonesia
Pada hakikatnya, Bahasa Indonesia menjadi suatu mata pelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, sekaligus mengembangkan kemampuan berfikir kritis dan kreatif.
Rohmadi (2011: 9), mengemukakan bahwa:
Bahasa adalah alat berkomunikasi dalam kehidupan manusia.
Wibowo (2001:3), mengemukakan bahwa:
Bahasa adalah sistem simbol bunyi yang bermakna dan berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap) yang bersifat arbitrer dan konvensional, yang dipakai sebagai alat berkomunikasi oleh sekelompok manusia untuk melahirkan perasaan dan pikiran.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Bahasa Indonesia adalah bagian dari kurikulum sekolah yang siswa diarahkan, dibimbing, dan dibantu untuk dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikapnya dalam bermasyarakat maupun bernegara.
b. Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD
Pembelajaran Bahasa Indonesia tidak terlepas dari empat keterampilan berbahasa yang meliputi menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
Keterampilan menyimak dan membaca disebut keterampilan reseptif, sedangkan keterampilan berbicara dan menulis disebut keterampilan produktif. Keempat keterampilan ini selanjutnya menjadi tujuan dari pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah, termasuk di sekolah dasar. Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia (BSNP:317)
Subana dan sunarti (2011:268), mengemukakan bahwa:
Siswa pada jenjang sekolah dasar terbagi dalam dua kelompok utama, yaitu peringkat pemula (kelas I-III) dan peringkat lanjutan (kelas III-VI).
Pembelajaran bahasa untuk kedua kelompok ini berbeda karena sasaran dan tujuannya juga berbeda. Pembelajaran bahasa indonesia untuk kelas pemula lebih diarahkan pada keterampilan Membaca dan Menulis Permulaan (MMP) yang sifatnya teknis dan kegiatan menyimak berbicaranyapun pada tingkat paling sederhana. Sedangkan pada peringkat lanjutan pembelajaran lebih diarahkan pada pelatihan penggunaan keterampilan bebahasa yang lebih kompleks.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia adalah untuk membuat peserta didik mengembangkan
kemampuan-kemampuan yang ada dalam dirinya agar dapat terampil dalam berkomunikasi pada masyarakat disekitarnya.
B. Penelitian yang Relevan
1. Dwi Hermawan, Made Putra, Ni Wayan Suniasih VOL 2, NO 1 (2014) dalam jurnal “Pengaruh pendekatan Joyful Learning berbasis multimedia terhadap hasil belajar IPS pada siswa kelas V SD Gugus 8 I Gusti Ngurah Rai Denpasar Selatan”. Menyatakan hasil penelitian yang dilakukan terdapat pengaruh pendekatan Joyful Learning berbasis multimedia terhadap hasil belajar IPS. Adanya pengaruh tersebut dapat dilihat pada hasil post test siswa. Siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan Joyful Learning berbasis
multimedia mendapatkan hasil belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang dibeajarkan dengan pembelajaran konvensional.
2. Ni Wayan Sri Wedayanti, I Kt. Ardana, Ni Wayan Suniasih VOL 1, NO 1 (2013) dalam jurnal “Pengaruh model pembelajaran kuantum berbasis joyfull learning terhadap prestasi belajar IPA siswa kelas IV SD Gugus Untung Surapati Denpasar Timur”. Menyatakan hasil penelitian konsep Joyfull Learning dalam penelitian ini dirancang dengan melibatkan aspek-aspek seperti penguatan, penegasan, pengakuan, dan kepercayaan yang mampu membuat siswa belajar dengan yang terjadi selama proses pembelajaran.
3. Sriwaeti VOL 1, NO 1 (2016) dalam jurnal “Peningkatan hasil belajar siswa melalui pendekatan Joyfull Learning dengan teknik permainan pohon pintar pada siswa kelas V SD Negeri 07 Adiwerna Kabupaten Tegal, Jawa Tengah”.
Menyatakan hasil penelitian pembelajaran IPS proklamasi kemerdekaan dengan Pendekatan Joyful Learning dengan tehnik permainan pohon pintar lebih menarik bagi siswa dan menumbuhkan kecakapan, keberanian, dan
Aktivitas serta meningkatkan hasil belajar siswa. Pendekatan joyful learning dengan tehnik permainan pohon pintar menumbuhkan semangat belajar dan menjadikan siswa belajar dengan rasa senang.
Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, penulis tertarik untuk meneliti pengaruh penggunaan strategi Joyfull Learning terhadap hasil Keterampilan Berbicara pada siswa kelas II SD Inpres Jongaya II Kota Makassar. Adapun sebagai subjek penelitian ini adalah siswa kelas II SD Inpres Jongaya II Kota Makassar.
C. Kerangka Pikir
Guru dituntut untuk dapat melibatkan siswa secara aktif dalam suatu proses pembelajaran dengan harapan siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran secara maksimal. Bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran yang berbasis hafalan yang dapat membuat siswa merasa jenuh atau bosan dalam mempelajarinya, karena pada pembelajaran ini guru masih menggunakan teknik pembelajaran konvensional, sehingga guru terkesan lebih aktif selama proses pembelajaran berlangsung akibatnya pembelajaran menjadi kaku, tidak bervariasi dan kurang menyenangkan. Sementara pembelajaran dengan strategi Joyfull Leraning menawarkan suasana pembelajaran yang lebih variatif, kreatif dan menyenangkan sehingga siswa tidak akan merasa bosan atau mengantuk dalam mengikuti pembelajaran tersebut.
Kerangka pikir dalam penelitian ini digambarkan dalam skema sebagai berikut:
Gambar 2.1 Bagan Kerangka Berpikir Kurangnya minat dan motivasi belajar murid dalam belajar Bahasa Indonesia Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD
Penerapan Strategi Joyfull learning Pretest
Analisis Posttest Keterampilan
Menyimak
Keterampilan Berbicara
Keterampilan Membaca
Keterampilan Menulis
Hasil
Tidak berpengaruh Berpengaruh
D. Hipotesis
Adapun hipotesis yang diajukan dalam peneitian ini yaitu terdapat pengaruh penggunaan strategi Joyfull Learning terhadap hasil Keterampilan Berbicara pada siswa kelas II SD Inpres Jongaya II Kota Makassar.
28 A. Jenis penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian pra- eksperimen yaitu rancangan penelitian eksperimen yang hanya menggunakan kelompok eksperimen saja, tanpa kelompok control (pembanding) . penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh penerapan strategi Joyfull Learning terhadap hasil belajar siswa khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia.
B. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah one grup pretest-posttest design, yang hanya melibatkan satu kelompok. Desain penelitian dapat dilihat pada gambar berikut :
Gambar 3.1 Desain Penelitian One Grup Pretest-Posttest Design (Sugiyono, 2016:111)
Keterangan:
O1 = Tes awal (pretest) sebelum perlakuan diberikan.
O2 = Tes akhir (postest) sesudah perlakuan diberikan.
X= Perlakuan, yaitu dengan penggunan strategi Joyfull Learning.
O1 X O2
C. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Sugiyono (2011:117) Mengemukakan bahwa “Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”. Hal ini berarti populasi penelitian meliputi semua objek/wisata yang mempunyai karakteristik tertentu yang ingin diteliti guna menjawab permasalahan penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SD Inpres Jongaya II tahun ajaran 2018/2019 yang berjumlah 146 siswa.
Untuk lebih jelasnya dalam tabel sebagai berikut .
Kelas JenisKelamin
Jumlah Laki-laki Perempuan
I 10 9 19
II 9 9 18
III 15 8 23
IV 18 6 24
V 18 12 30
VI 12 20 32
Jumlah Keseluruhan 82 64 146
Tabel 3.1 : Keadaan populasi 2. Sampel
Sugiyono ( 2011:118 ) mengemukakan bahwa “Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki populasi tersebut”. Sampel dalam penelitian ini adalah kelas II yang ditentukan dengan menggunakan teknik
“Simple Random Sampling”. Simple random sampling dikatakan simple (sederhana) karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Melalui proses
pengacakan kelas dengan asumsi bahwa seluruh kelas adalah homogen yang berjumlah 26 orang.
Kelas Jenis Kelamin
Jumlah Laki-laki Perempuan
II 9 9 18
Tabel 3.2 : Keadaan sampel D. Definisi Operasional Variabel
Untuk lebih memperjelas pemahaman dan menyamakan persepsi sehingga tidak terjadi perbedaan dalam memahami variabel penelitian yang aka diteliti.
Dalam penelitian ini yang menjadi definisi operasional adalah:
1. Strategi Joyfull Learning adalah strategi yang bisa disesuaikan dengan metode dan gaya yang sesuai dengan perkembangan peserta didik yang dimana strategi ini akan membuat suasana pembelajaran yang menyenangkan dan tidak membosankan.
2. Hasil belajar adalah akhir setelah mengalami proses belajar, perubahan itu tampak dalam perbuatan yang dapat diamati, dan diukur.
E. Instrumen Penelitian
Instrument penelitian adalah alat atau media untuk mengukur sebagai pengaruh antara variabel yang satu dengan variabel yang lain. Untuk memperoleh informasi dari hasil belajar, aktivitas siswa dalam proses pembelajaran, keterampilan guru dalam mengelola pembelajaran, dan respon siswa terhadap pembelajaran, maka perlu mengembangkan instrument.
Instrument penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa tes hasil belajar Bahasa Indonesia. Tes hasil belajar Bahasa Indonesia dengan materi ajar ditentukan sendiri oleh peneliti dalam bentuk Lisan
F. Teknik Pengumpulan Data 1. Tes
Jenis tes yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah pre-test dan post-test. Jenis tersebut digunakan untuk mengukur pencapaian sebelum dan sesudah mempelajari materi pembelajaran Bahasa Indonesia sehingga dapat diketahui perbedaan hasil belajar siswa antara sebelum dan sesudah memberikan perlakuan dengan menggunakan strategi Joyfull Learning dengan hasil belajar.
2. Observasi
Lembar observasi dibuat oleh peneliti digunakan untuk mencatat kejadian- kejadian atau perubahan serta reaksi dari siswa selama mengikuti pembelajaran dengan menggunakan strategi Joyfull Learning secara langsung terhadap subyek penelitian.
3. Dokumentasi
Dokumentasi adalah catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumentasi dalam penelitian ini adalah dokumen yang berbentuk gambar. Misalnya foto-foto siswa dalam proses pembelajaran.
G. Teknik Analisis Data
Analisis data penelitian dimaksudkankan untuk menganalisis data hasil tes penelitian berkaitan dengan strategi Joyfull Learning yang telah diterapkan, teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistif deskriptif dan analisis t-test.
1. Analisis statistik deskriptif
Analisis statistik deskriptif dimaksudkan untuk menggambarkan kurangnya hasil dan antusias, semangat belajar pada siswa kelas II SD Inpres Jongaya II sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) perlakuan strategi Joyfull Learning, dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi dan persentase dengan rumus persentase, yaitu :
a. Rata-rata (Mean)
̅ ∑
b. Persentase (%) nilai rata-rata
P =
Di mana : P : Persentase
f : Frekuensi yang dicari persentase N : Jumlah subyek (sampel)
2. Analisis Data Statistik Inferensial
T-tes dimaksudkan untuk menguji hipotesis penelitian mengenai ada tidaknya perbedaan hasil belajar sebelum dan sesudah diberikan latihan strategi Joyfull Learning pada siswa kelas II SD Inpres Jongaya II Kota Makassar.
Data yang terkumpul akan diolah dengan menggunakan data statistic yang sesuai, yaitu menggunakan rumus statistic uji-t menurut Arikunto (2006:279) adalah :
√ ∑
Keterangan :
Md = Mean dari perbedaan pretest dan posttest X1 = Hasil belajar sebelum perlakuan (pretest) X2 = Hasil belajar setelah perlakuan (posttest) D = Deviasi masing-masing subjek
X2d = Jumlah kuadrat deviasi N = Subjek pada sampel
Langkah- langkah dalam pengujian hipotesis adalah sebagai berikut:
a. Mencari harga “Md” dengan menggunakan rumus:
∑
Keterangan :
Md
=
Mean dari perbedaan pretest dan posttest d = Jumlah dari gain (posttest – pretest) N = Subjek pada sampelb. Mencari harga “ X2d” dengan menggunakan rumus : X2d = d2 -
Keterangan :
X2d = Jumlah kuadrat deviasi
d = Jumlah dari gain ( posttest – pretest) N = Subjek pada sampel.
c. Menentukan harga thitung dengan menggunakan rumus :
√ ∑
Keterangan :
Md = Mean dari perbedaan pretest dan posttest X1 = Hasil belajar sebelum perlakuan (pretest) X2 = Hasil belajar setelah perlakuan (posttest) D = Deviasi masing-masing subjek
X2d = Jumlah kuadrat deviasi N = Subjek pada sampel
d. Menentukan aturan pengambilan keputusan atau kriteria yang signifikan kaidah pengujian signifikan:
Jika t Hitung > t Tabel maka H0 ditolak dan H1 diterima, berarti penerapan strategi Joyfull Learning berpengaruh terhadap hasil Keterampilan Berbicara pada mata pelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas II SD Inpres Jongaya II Kota Makassar.
e. Jika t Hitung < t Tabel maka H0 diterima dan H1 ditolak, berarti penerapan strategi Joyfull Learning berpengaruh terhadap hasil Keterampilan Berbicara pada mata pelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas II SD Inpres Jongaya II Kota makassar.
Menentukan harga t Tabel
Mencari t Tabel dengan menggunakan tabel distribusi t dengan taraf signifikan = 0,05 dan dk = N-1.
f. Membuat kesimpulan apakah strategi Joyfull Learning berpengaruh terhadap hasil belajar siswa dalam aspek keterampilan berbicara pada mata pelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas II SD Inpres Jongaya II Kota Makassar.
35 A. Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini menunjukkan deskripsi tentang pengaruh penerapan strategi Joyfull Learning terhadap keterampilan berbicara pada mata pelajaran bahasa Indonesia siswa kelas II SD Inpres Jongaya II. Penelitian ini merupakan penelitian pra eksperimen dan analisis data penelitian dengan menggunakan teknik statistik deskriptif. Hasil analisis tersebut akan diuraikan sebagai berikut.
1. Hasil Analisis Statistik Deskriptif
Analisis statistik deskriptif dimaksudkan untuk menggambarkan karakteristik subyek penelitian sebelum dan sesudah pembelajaran keterampilan berbicara dengan menerapkan Strategi Joyfull Learning
a. Hasil Pretest Keterampilan Berbicara Siswa
Dari hasil analisis yang menunjukkan hasil keterampilan berbicara pada siswa kelas II SD Inpres Jongaya II sebelum menggunakan Strategi Joyfull Learning. Berikut ini data hasil perolehan Kategori Aspek keterampilan berbicara siswa sebelum diterapkan Strategi Joyfull Learning.
Tabel 4.1 Kategori Hasil Pretest Keterampilan Berbicara Siswa Aspek
Keterampilan Berbicara
Kategori Keterampilan Berbicara Sangat Baik
(A)
Baik (B)
Cukup (C)
Kurang (D)
Pelafalan 2 6 6 4
Volume Suara 2 4 8 4
Intonasi 2 6 8 2
Kelancaran 0 2 12 4
Keberanian 0 4 12 2
Berdasarkan data yang dilihat pada tabel diatas maka dapat disimpulkan bahwa hasil keterampilan berbicara siswa sebelum diterapkan strategi Joyfull Learning yaitu pada aspek Pelafalan 2 siswa mendapat nilai A, 6 siswa mendapat nilai B, 6 siswa mendapat nilai C, dan 4 siswa mendapat nilai D. pada aspek Volume Suara 2 siswa mendapat nilai A, 4 siswa mendapat nilai B, 8 siswa mendapat nilai C, dan 4 siswa mendapat nilai D. pada aspek Intonasi 2 siswa mendapat nilai A, 6 siswa mendapat nilai B, 8 siswa mendapat nilai C, dan 2 siswa mendapat nilai D. pada aspek Kelancaran 0 siswa mendapat nilai A, 2 siswa mendapat nilai B, 12 siswa mendapat nilai C, dan 4 siswa mendpaat nilai D. pada aspek Keberanian 0 siswa mendapat nilai A, 4 siswa mendapat nilai B, 12 siswa mendapat nilai C, dan 2 siswa mendapat nilai D. Melihat dari hasil data yang ada dapat dikatakan bahwa sebelum diterapkan Strategi Joyfull Learning tingkat keterampilan berbicara siswa tergolong masih rendah.
Berdasarkan lampiran hasil pretest untuk mencari mean (rata-rata) nilai pretest dari siswa kelas II SD Inpres Jongaya II Kota Makassar dapat dilihat melalui tabel dibawah ini.
Tabel 4.2 Perhitungan untuk mencari mean (rata-rata) nilai pretest
X F F.X
50 2 100
55 2 110
60 6 360
65 5 325
70 1 70
75 1 75
80 1 80
Jumlah 18 1.120
Keterangan : X : Hasil belajar F : frekuensi
Dari data di atas dapat diketahui bahwa nilai dari ∑ 1.120 , sedangkan nilai dari N sendiri adalah 18. Oleh karena itu, dapat diperoleh nilai rata-rata (mean) sebagai berikut :
̅ = ∑
= = 62,22
Dari hasil perhitungan di atas maka diperoleh nilai rata-rata dari hasil belajar murid kelas II SD Inpres Jongaya II Makassar sebelum penerapan Strategi Joyfull Learning yaitu 60 Adapun dikategorikan pada pedoman Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) , maka keterangan murid dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.3 Tingkat Keterampilan Berbicara Pretest Interval Kategori Hasil
Belajar
Frekuensi Persentase (%)
0-59 Sangat Rendah 4 22,22
60-69 Rendah 11 61,11
70-79 Sedang 2 11.1
80-89 Tinggi 1 5,55
90-100 Sangat Tinggi 0 0
Jumlah 18 100
Berdasarkan data yang dapat dilihat pada tabel diatas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar murid pada tahap pretest dengan menggunakan instrumen test dikategorikan sangat rendah yaitu 22,22 % , rendah 61,11 % , sedang 11,1% , tinggi 5,55 % , dan sangat tinggi berada pada persentase 0 % . Melihat dari hasil persentase yang ada dapat dikatakan bahwa tingkat kemampuan keterampilan berbicara siswa sebelum diterapkan Strategi Joyfull Learning tergolong rendah.
Tabel 4.4 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Skor Kategorisasi Frekuensi %
0 x < 70 Tidak tuntas 15 83,3
70 x 100 Tuntas 3 16,6
Apabila tabel 4.3 dikaitkan dengan indikator kriteria ketuntasan hasil belajar siswa yang ditentukan oleh penelitian yaitu jumlah siswa yang mencapai atau melebihi nilai KKM (70) 75 % , sehingga dapat disimpulkan bahwa keterampilan berbicara siswa kelas II SD Inpres Jongaya II Kota Makassar belum