• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. LANDASAN TEORI 2.1 Landasan Teori

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "II. LANDASAN TEORI 2.1 Landasan Teori"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

2.1 Landasan Teori 2.1.1 Auditor

2.1.1.1 Tipe-tipe Auditor

Pada umumnya auditor dibagi menjadi 3 golongan, yaitu:

1. Auditor Independen (Akuntan Publik)

Auditor profesional yang menyediakan jasanya kepada masyarakat umum, terutama dalam bidang audit atas laporan keuangan yang dibuat oleh kliennya dan akuntan publik bertanggung jawab untuk menaikkan tingkat keandalan laporan keuangan perusahaan.

2. Auditor Pemerintah

Auditor profesional yang bekerja di instansi pemerintah yang tugas pokoknya melakukan audit atas pertanggungjawaban keuangan yang disajikan oleh unit- unit organisasi atau entitas pemerintahan atau pertanggungjawaban keuangan yang ditujukan kepada pemerintah.

3. Auditor Intern

Auditor yang bekerja dalam perusahaan (negara maupun swasta) yang tugas pokoknya adalah menentukan apakah kebijakan dan prosedur yang ditetapkan oleh manajemen puncak telah dipatuhi, menentukan baik atau tidaknya penjagaan terhadap kekayaan organisasi, menentukan efisiensi dan efektivitas prosedur kegiatan organisasi, serta menentukan keandalan informasi yang dihasilkan oleh berbagai bagian organisasi.

2.1.1.2. Hirarki Auditor dalam Organisasi Kantor Akuntan Publik (KAP)

Menurut Mulyadi dan Puradiredja (1998), umumnya hirarki auditor

dalam penugasan audit dalam Kantor Akuntan Publik dibagi menjadi:

(2)

atas hubungan dengan klien; bertangggungjawab secara menyeluruh mengenai auditing. Menandatangani laporan audit dan management letter, bertanggungjawab terhadap penagihan/ee audit dari klien.

2. Manajer

Bertindak sebagai pengawas audit; bertugas untuk membantu auditor senior dalam merencanakan program audit dan waktu audit; mereview kertas kerja, laporan audit dan management letter. Melakukan pengawasan terhadap pekerjaan beberapa auditor senior.

3. Auditor Senior

Bertugas untuk melaksanakan audit; bertanggungjawab untuk mengusahakan biaya audit dan waktu audit sesuai dengan rencana;

bertugas untuk mengarahkan dan mereview pekerjaan auditor junior.

4. Auditor Junior *

Melaksanakan prosedur audit secara rinci; membuat kertas kerja untuk mendokumentasikan pekerjaan audit yang telah dilaksanakan. Sering disebut juga sebagai asisten auditor.

2.1.2 Auditing

2.1.2.1 Definisi Auditing

Secara umum, auditing adalah suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pemyataan-pemyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pemyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan (Mulyadi dan Puradiredja, 1998:7).

Auditing adalah proses pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti

tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu entitas ekonomi yang

dilakukan seorang yang kompeten dan independen untuk dapat menentukan dan

(3)

Sedangkan menurut Boynton & Kell (2001) auditing adalah:

" a systematic process of objectively obtaining anf evaluating evidence regarding assertions about economics actions and events to ascertion the degree of correspondence between those assertions and established criteha and communicating the results to interested users "

Ditinjau dari sudut profesi akuntan publik, auditing adalah pemeriksaan secara objektif laporan keuangan suatu perusahaan atau organisasi lain dengan tujuan untuk menentukan apakah laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan atau organisasi tersebut (Mulyadi dan Puradiredja, 1998:9).

2.1.2.2 Jenis-Jenis Audit

Penugasan audit yang diberikan klien kepada auditor dapat digolongkan menjadi dua macam yaitu penugasan khusus {special assignment) dan penugasan umum (general assignment). Penugasan khusus meliputi:

1. Audit Kepatuhan (Compliance Audit)

Audit yang tujuannya untuk menentukan apakah yang diaudit sesuai dengan kondisi atau peraturan tertentu. Audit kepatuhan banyak dijumpai dalam pemerintahan.

2. Audit Operasional (Operational Audit)

Review secara sistematik kegiatan organisasi, atau bagian daripadanya, dalam hubungannya dengan tujuan tertentu. Bertujuan untuk mengevaluasi kinerja, Membuat rekomendasi untuk perbaikan atau tindakan lebih lanjut.

Dalam penugasan umum, auditor melaksanakan audit atas dasar

pengujian bukan atas dasar pemeriksaan atas selurah bukti. Penugasan umum

mencakup audit atas Laporan Keuangan (Financial Statement Andit) yaitu audit

yang dilakukan oleh auditor independen terhadap laporan keuangan yang

disajikan oleh kliennya untuk menyatakan pendapat mengenai kewajaran laporan

keuangan tersebut.

(4)

Tahap-Tahap yang dilakukan auditor dalam melakukan audit atas Laporan Keuangan (Financial Statement Audit):

1. Penerimaan Penugasan Audit

Langkah awal pekerjaan audit atas laporan keuangan berupa pengambilan keputusan untuk menerima atau menolak penugasan audit dari calon klien atau untuk melanjutkan atau menghentikan penugasan audit dari klien berulang (Mulyadi dan Puradiredja, 1998:117). Tahap-tahap dalam Penerimaan Penugasan Audit dapat dilihat pada gambar 2.1 di bawah ini (Boynton, Johnson & Kell, 2001:235)

Gambar 2.1 Tahap-Tahap dalam Penerimaan Penugasan Audit

Auditor harus berhati-hati dalam menerima atau melanjutkan proses audit jika pihak manajemen perusahaan tidak memilik karakter yang baik, organisasi tersebut terlibat di dalam tindakan hukum, atau ada banyak pergantian atas posisi penting dalam beberapa tahun, dll (Media Akuntansi, 2000:65).

Sekalipun mendapatkan dan mempertahankan klien itu tidak mudah, KAP harus hati-hati dalam memutuskan klien mana yang akan diterima (Arens &

Loebeckke, 1997:188).

• Klien Baru

Sebelum menerima klien baru, sebagian besar KAP menyelidiki perusahaan

tersebut untuk memutuskan apakah klien itu dapat diterima (Arens dan

Loebeckke, 1997:188). Auditor harus memahami usaha/ bisnis kliennya

agar pemeriksaan dapat berjalan dengan efisien dan efektif (Media

Akuntansi, 2000:40). Untuk calon klien yang sebelumnya telah diaudit oleh

(5)

kantor akuntan publik lain, auditor pengganti diwajibkan untuk berhubungan dengan auditor sebelumnya. (Arens dan Loebeckke, 1997:188).

• Klien Lama

Banyak KAP mengevaluasi kiien yang sudah ada setiap tahun untuk memutuskan apakah ada setiap tahun untuk memutuskan apakah ada alasan atau tidak untuk melanjutkan audit. Jika ada tuntutan hukum terhadap KAP oleh klien atau tuntutan KAP terhadap klien, KAP tidak dapat melaksanakan audit lagi. Jika KAP terus melakukannya, itu melanggar Kode Perilaku profesional dari AICPA mengenai independensi (Mulyadi dan Puradiredja, 1998:9).

2. Perencanaan Audit

Keberhasilan penyelesaian penugasan audit sangat ditentukan oleh kualitas perencanaan audit yang dibuat oleh auditor.

3. PelaksanaanPengujianAudit

Tahap ini juga disebut dengan "pekerjaan lapangan". Pelaksanaan pekerjaan lapangan ini harus mengacu pada ketiga standar auditing yang termasuk dalam kelompok standar pekerjaan lapangan. Tujuan utama pelaksanaan pekerjaan lapangan ini adalah untuk memperoleh bukti audit tentang efektivitas struktur pengendalian intemal klien dan kewajaran laporan keuangan klien.

4. Pelaporan Audit

Tahap akhir pekerjaan audit atas laporan keuangan adalah pelaporan audit. Pelaksanaan tahap ini mengacu ke standar pelaporan.

2.1.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Auditor dalam Menerima Suatu Penugasan Audit.

Dalam menerima penugasan audit, auditor tidak selalu dapat menerima

dan melaksanakan penugasan audit tersebut. Auditor perlu mempertimbangkan

beberapa faktor untuk menerima penugasan general audit tersebut.

(6)

2.1.3.1 Resiko Klien

Dalam melakukan pemeriksaan terhadap laporan keuangan klien, auditor mungkin saja menghadapi masalah karena adanya resiko klien yang tidak diketahui oleh auditor. Oleh karena itu auditor harus mempertimbangkan resiko klien yang secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi resiko usaha suatu KAP. Dewasa ini dalam ruang lingkup general audit, akuntan publik sangat dianjurkan untuk memfokuskan pada resiko apa saja yang ada pada klien dan bagaimana kondisi pengendalian manajemen untuk menekan berbagai resiko tersebut (Kosasih, 2000).

Resiko-resiko klien yang mungkin dihadapi auditor seperti berikut, misalnya:

a) Perusahaan yang sejak awal berdirinya (pembentukan perasahaannya) mengandung banyak kelemahan, misalnya kepemilikan perusahaan yang didominasi oleh keluarga sehingga tidak mempunyai struktur organisasi yang jelas dan manajemen yang baik, keuangan yang dikelola dengan

sembarangan (Media Akuntansi, 2000:57).

b) Kondisi keuangan perusahaan yang tidak sehat, sedang mengalami kerugian atau sedang berada dalam posisi yang sulit untuk melunasi hutangnya (Mulyadi dan Puradiredja, 1998:86).

c) Perusahaan yang sedang mengalami masalah klaim/ tuntutan hukum dengan klien, pengguna laporan hasil audit ataupun dengan pihak ketiga lainnya.

d) Perusahaan yang sering melakukan pergantian auditor tanpa alasan yang jelas, yang mungkin disebabkan adanya ketidakpuasan klien terhadap jasa yang diberikan oleh auditor sebelumnya ataupun karena adanya perselisihan antara klien dengan auditornya mengenai penyajian laporan keuangan dan pengungkapannya (Mulyadi dan Puradiredja, 1998:86).

e) Tidak adanya Sistem Pengendalian Internal perusahaan yang baik, yang meliputi rencana organisasi dan semua metode serta kebijaksanaan yang terkoordinasi dalam suatu perusahaan yang dapat metnudahkan para pegawai/

staff untuk melakukan kecurangan (Ekonomi &-Bisnis, 2002:40).

(7)

Resiko yang mungkin dihadapi auditor terhadap masing-masing klien ini pasti berbeda, walaupun klien metnpunyai usaha yang sama. Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk menerima penugasan audit dari klien auditor haras memahami bisnis kliennya. Dengan memahami bisnis klien berarti dapat memperkecil resiko audit (Media Akuntansi, 2000:40). Bila sebelumnya memahami bisnis klien hanya merupakan syarat untuk menerima penugasan dan tak ada aturannya, sekarang diatur dengan standar tersendiri, yaitu dalam PSA 67 (Pemahaman Bisnis Klien). Dengan memahami gambaran umum mengenai klien dan usahanya, auditor mempunyai dasar untuk memutuskan, apakah akan menerima, melanjutkan atau menolak melakukan penugasan audit atas laporan keuangan klien (Ekonomi & Bisnis, 2002:40).

Pengetahuan auditor mengenai lingkup usaha dan industri klien membuat pelaksanaan audit menjadi lebih efektif dan efisien (Media Akuntansi, 2002:27).

Pemahaman atas pengetahuan yang terkait dengan industri, hak kepemilikan, manajemen dan operasi entitas digunakan sebagai dasar pertimbangan untuk menerima dan melaksanakan penugasan audit. Melalui pemahaman ini dapat terungkap apakah klien sedang bermasalah dan menjadi perhatian publik atau tidak (Media Akuntansi, 2000:40). Pemahaman terhadap bisnis klien ini menjadi bagian integral yang tak terpisahkan dengan pekerjaan profesi (Sensi, 2000). Bagi KAP besar yang meneyediakan tenaga (SDM) banyak, ada kemnngkinan dapat meminimalkan risiko yang dihadapi dengan mengerahkan segala daya upayanya, termasuk kerjasama yang baik dari klien. Tetapi bagi KAP lain, dengan terbatasnya sumber daya dengan analisis cost-benefitnya maka banyak penugasan yang ditolak (Media Akuntansi, 2000:57).

Berdasarkan hal-hal di atas, kondisi-kondisi perusahaan yang dapat mempengaruhi auditor dalam menerima suatu penugasan audit:

• Perusahaan yang kepemilikannya tidak didominasi oleh keluarga sehingga mempunyai struktur organisasi yang jelas dan manajemen yang baik.

• Kondisi keuangan perusahaan yang sehat, tidak sedang tnengalami kerugian

yang material atau tidak sedang berada dalam posisi yang sulit untuk melunasi

hutangnya.

(8)

• Perusahaan yang tidak pemah/ tidak sedang mengalami masalah klaim/

tuntutan hukum dengan klien, ataupun dengan pihak ketiga lainnya.

• Perusahaan yang tidak sering melakukan pergantian auditor tanpa alasan yang jelas.

• Adanya Sistem Pengendalian Internal perusahaan yang baik dan memadai, yang meliputi rencana organisasi dan semua metode serta kebijaksanaan yang terkoordinasi dalam suatu perusahaan yang dapat menghindarkan para pegawai/ staff untuk melakukan kecurangan.

2.1.3.2 Independensi

Dalam Etika Profesi No 1 menjelaskan agar akuntan publik/ auditor tidak mempunyai kepentingan pribadi dalam pelaksanaan tugas yang bertentangan dengan prinsip objektivitas dan integritas. Independen berarti sikap mental yang bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain dalam merumuskan dan menyatakan pendapat, dan tidak tergantung pada orang lain (Mulyadi dan Puradiredja, 1998:48). Independensi berarti cara pandang yang tidak memihak di dalam pelaksanaan pengujian, evaluasi hasil pemeriksaan, dan penyusunan laporan audit (Arens dan Loebeckke, 1997). Narnun menurut R.Kosasih (2000) independensi jangan diartikan bebas dari segala pengaruh hubungan ekonomi dan keuangan. Sebab dalam masyarakat modem hal ini sulit imtuk dihindarkan dan dapat dikatakan mustahil. Karena semua anggota masyarakat pada dasarnya saling tergantung pada anggota masyarakat lainnya.

Independensi menjadi penting tatkala dihadapkan pada situasi dan kondisi adanya tarik-menarik berbagai kepentingan pada satu atau lebih obyek tertentu, yang berusaha mempengaruhi sang pengambil keputusan agar berpihak pada kepentingan kelompok atau subyek tertentu (Media akuntansi, 2000:20).

Karena KAP tidak hanya memberikan jasa atestasi, audit dan pemeriksaan

lainnya, namun juga memberikan jasa konsultasi dan perpajakan. Perangkapan

fiingsi ini menjadikan independensi auditor terhadap kliennya dipertanyakan

(Media Akuntansi, 2000:22).

(9)

Independensi auditor mempunyai tiga aspek:

• Independensi dalam diri auditor yang berupa kejujuran dalam diri auditor dalam mempertimbangkan berbagai fakta yang ditemuinya dalam auditnya.

Aspek ini disebut dengan istilah independensi dalam kenyataan (independence in fact). Independensi dalam kenyataan akan ada apabila pada kenyataannya auditor mempunyai sikap yang tidak memihak sepanjang pelaksanaan auditnya.

• Independensi ditinjau dari sudut pandang pihak lain yang mengetahui informasi yang bersangkutan dengan diri auditor. Aspek ini disebut dengan istilah independensi dalam penampilan (independence in appereance).

Independensi dalam penampilan adalah hasil interpretasi pihak lain mengenai independensi itu (Arens dan Loebeckke, 1997,84).

• Independensi dipandang dari sudut keahliannya. Seseorang dapat mempertimbangkan fakta dengan baik jika ia mempunyai keahlian mengenai audit atas fakta tersebut. Jika auditor tidak memiliki kecakapan profesional yang diperlukan untuk mengerjakan penugasan yang diterimanya, ia melanggar pasal kode etik yang bersangkutan dengan independensi (Pasal 1 ayat 2 Kode Etik Akuntan Indonesia). (Mulyadi dan Puradiredja, 1998:49).

Menurut Ruchjat Kosasih (partner pada KAP Prasetio Utomo & Rekan) ada empat golongan resiko yang mempengarahi independensi akuntan:

a) Self interest risk

Terjadi apabila akuntan publik menerima manfaat dari keterlibatan keuangan dengan klien. Termasuk dalam hal ini ada kepentingan keuangan baik secara langsung atau tidak langsung; perolehan pinjaman dari atau kepada klien, karyawan, direktur atau pemegang saham dalam perusahaan klien; dan fee kontinjen yang dilarang menurut kode etik.

b) Selfreview risk

Terjadi apabila akuntan publik melaksanakan penugasan pemberian jasa

keyakinan yang berkaitan dengan keputusan yang dibuat untuk kepentingaiti

klien. Ataupun akuntan publik memberikan jasa lain yang mengarah pada

produk/ pertimbangan yang mempengaruhi informasi yang menjadi pokok

(10)

bahasan dalam penugasan pemberian jasa keyakinan. Misalnya auditor atau anggota tim audit lainnya ada yang menjadi direksi atau pegawai klien.

c) Advocacy Risk

Terjadi apabila akuntan publik tidak mempunyai hubungan yang terlalu erat kaitannya dengan kepentingan klien. Misalnya terlibat dalam usaha atau pekerjaan lain yang dapat menimbulkan pertentangan kepentingan atau mempengaruhi independensi dalam pelaksanaan jasa profesional; melakukan kerja sama bisnis dengan perusahaan klien ataupun karyawan dalam perusahaan klien tersebut; menjadi promotor atau dealer saham/ efek klien;

menjadi advokat klien dalam perkara dengan pihak ketiga.

d) Client influence risk

Terjadi apabila akuntan publik mempunyai hubungan yang erat dan kontinyu dengan klien, tennasuk dalam hal ini adalah adanya hubungan pribadi yang dapat menyebabkan intimidasi oleh klien atau keramahtamahan yang berlebihan dengan klien. Misalnya, dalam anggota tim audit tersebut mempunyai anggota keluarga atau famili yang menjadi direktur/ staf/ pegawai pada perusahaan calon klien tersebut; atau auditor itu sendiri menjabat sebagai anggota direksi, karyawan atau staff dalam perusahaan klien; adanya hubungan yang lama antara auditor dengan klien; ataupun auditor menerima atau memberi hadiah/ barang dari dan kepada klien.

Profesi Akuntan Publik ini mempunyai ciri yang berbeda dengan profesi-

profesi lain yang juga menyediakan jasa bagi masyarakat. Walaupun akuntan

publik memperoleh honor dari klien untuk menjalankan keahliannya, namun

akuntan publik haras independen dan tidak memihak kliennya (Mulyadi dan

Puradiredja, 1998:27). Profesi akuntan publik merupakan profesi kepercayaan

masyarakat. Dari profesi inilah masyarakat mengharapkan penilaian yang bebas,

tidak memihak terhadap informasi yang disajikan oleh manajemen penisahaan

dalam laporan keuangan (Mulyadi dan Kanaka Puradiredja, 1998:3). Oleh karena

itu akuntan publik harus independen dalam menjalankan tugasnya agar tetap

mendapat kepercayaan dari masyarakat.

(11)

Akuntan publik diwajibkan untuk memelihara sikap mental independen dalam memenuhi tanggung jawab mereka, namun selain itu penting juga bahwa pemakai laporan keuangan menaruh kepercayaan terhadap independensi tersebut.

Selain itu auditor juga berkewajiban untuk menghindari keadaan yang dapat menyebabkan pihak luar/ masyarakat meragukan sikap independensinya (Media Akuntansi, 2000:20). Karena jika seorang auditor kehilangan persepsi independensi maka dapat menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap tindakan yang dilakuakan sehingga dapat mereduksi manfaat atau efek positif yang seharusnya timbul dari tindakan tersebut (Media Akuntansi,2000:21). Jadi sebelum memutuskan untuk menerima atau melanjutkan suatu penungasan audit, auditor sebaiknya mempertimbangkan faktor independensi terlebih dahulu karena independensi merupakan syarat utama seorang auditor dalam melaksankan tugasnya.

Setiap hal yang dapat merusak independensi haras dikendalikan oleh pimpinan KAP dan auditomya sampai jelas, kalaupun ada tidak signifikan. Resiko yang ada dalam keadaan/ situasi atau hubungan tertentu harus dapat diukur, agar dapat diputuskan apakah KAP dapat melanjutkan penugasan audit ataupun menerima penugasan klien baru. Apabila independensi tampak rasak walaupun telah diusahakan semaksimal mungkin pengamanannya, satu-satunya pengamanan adalah penolakan atau penarikan diri dari penugasan. (Media Akuntansi, 2000:24). Semua penugasan yang memerlukan independensi, auditor wajib menunjukkan bukti dokumentasi bahwa ia independen terhadap klien yang bersangkutan (Media Akuntansi, 2000:47). Jika auditor tidak memenuhi persyaratan independensi yang disebutkan oleh Kode Etik Profesi, auditor harus memberikan perayataan tidak memberikan pendapat meskipun segala prosedur audit yang dibutuhkan dalam keadaan tersebut telah dilakukan (Arens dan Loebeccke, 1997:49). Oleh karena itu, sebelum menerima suatu penugasan audit, haras dapat dipastikan bahwa semua anggota tim audit tersebut tidak terlibat atau memiliki kondisi yang menjadikan auditor tidak independensi dengan klien (Mulyadi dan Puradiredja, 1998:124).

International Federation of Accountans (IFAC), Organisasi Akuntan

Sedunia memandang perlu dibuat suatu standar etika independensi yang baru

(12)

untuk mengurangi risiko independensi terhadap auditor (Media Akuntansi, 2000:22). Dari uraian dalam exposure draft yang dikeluarkan oleh IFAC tersebut, terdapat anggapan bahwa auditor yang mengaudit laporan keuangan suatu entitas yang terlalu lama (5 tahun ke atas) menjadi tidak independen akibat hubungan yang erat dan kontinyu dengan klien. Sebenamya anggapan itu tidak selalu benar atau tepat (Media Akuntansi, 2000:47).

Berdasarkan kondisi di atas maka keadaan yang mempenganihi keputusan auditor dalam menerima suatu penugasan audit:

• Apabila akuntan publik tidak memperoleh manfaat dari keterlibatan keuangan dengan klien. Misalnya perolehan pinjaman dari atau kepada klien, karyawan, direktur atau pemegang saham dalam perusahaan klien.

• Apabila akuntan publik tidak melaksanakan penugasan pemberian jasa keyakinan yang berkaitan dengan keputusan yang dibuat untuk kepentingan klien. Misalnya auditor atau anggota tim audit lainnya ada yang menjadi direksi atau pegawai klien.

• Apabila akuntan publik tidak mempunyai hubungan yang terlalu erat kaitannya dengan kepentingan klien. Misalnya tidak terlibat dalam usaha atau pekerjaan lain yang dapat menimbulkan pertentangan kepentingan atau mempengaruhi independensi dalam pelaksanaan jasa profesional; tidak melakukan kerja sama bisnis dengan perusahaan klien ataupun karyawan dalam perusahaan klien tersebut.

• Apabila akuntan publik tidak mempunyai hubungan yang erat dan kontinyu dengan klien, termasuk dalam hal ini adalah tidak adanya hubungan pribadi yang dapat menyebabkan intimidasi oleh klien atau keramahtamahan yang berlebihan dengan klien. Misalnya, dalam anggota tim audit tersebut tidak ada yang boleh mempunyai anggota keluarga atau famili yang menjadi direktur/

staf/ pegawai pada perusahaan calon klien tersebut; atau auditor itu sendiri

menjabat sebagai anggota direksi, karyawan atau staff dalam perusahaan klien.

(13)

2.1.3.3 AuditFee

Pengertian Audit fee adalah imbalan berupa sejumlah uang tertentu yang diperoleh akuntan ataupun KAP dari kliennya atas jasa audit yang diberikan dengan dasar pembebanannya, waktu dan biaya yang digunakan akuntan dalam menjalankan keahliannya (Jurnal Penelitian Ilmu Ekonomi 2001:8). Imbalan (fee) yang diberikan oleh klien ini berkaitan dengan pemahaman auditor atas bisnis klien (Soekrisno Agus, 2000).

Berkembangnya profesi akuntan publik ini membawa konsekuensi tersendiri bagi KAP yang berupa kondisi persaingan yang kompetitif. Persaingan antar KAP tidak hanya dari segi pelayanan, baik pada perusahaan atau badan usaha yang diaudit laporan keuangannya, melainkan juga besamya jumlah biaya pemeriksaan yang diminta KAP kepada kliennya (Jurnal Penelitian Ilmu Ekonotni, 2001:6). Audit fee erat sekali hubungannya dengan fenomena rebutan klien yang terjadi diantara akuntan publik. Karena seperti yang diketahui jasa audit yang diberikan oleh suatu KAP tidak peraah ada tarif dasarnya. Perhitungan fee hanya didasarkan atas negosiasi (Media Akuntansi, 2001:29)

Profesi akuntan berbeda dengan profesi dokter. Apabila dokter tidak diperkenankan menolak pasien yang datang untuk berobat, akuntan justru sebaliknya. Apabila mengandung banyak resiko, penugasan klien harus ditolak walaupun menawarkanyee yang cukup menggiurkan (Media Akuntansi, 2000:57).

Sebelum menerima suatu penugasan auditor perlu memahami bisnis dan

kondisi perusahaan klien. Sehingga auditor dapat menetapkan fee atas jasa yang

akan diberikan (Media Akuntansi, 2000:40). Jadi audit fee juga merupakan faktor

yang dapat mempengaruhi keputusan auditor dalam menerima suatu penugasan

audit, karena jika auditor keliru dalam menentukan besarnya fee, dapat

menyebabkan kerugian waktu dan biaya bagi KAP atau auditor itu sendiri (Media

Akuntansi, 2000:40). Berdasarkan hal-hal di atas, kondisi yang dapat

mempengaruhi auditor dalam menerima suatu penugasan audit adalah fee yang

memadai dan sesuai antara sumber daya yang dimiliki KAP/ auditor tersebut

dengan cost-benefitnya.

(14)

2.2 Uji Validitas dan Reliabilitas

Alat pengumpulan data yang dipakai oleh penulis adalah kuesioner/

angket. Terdapat dua syarat penting yang berlaku pada sebuah kuesioner, yaitu keharusan sebuah angket untuk valid dan reliabel (Santoso, 2000:270). Suatu kuesioner dikatakan valid (sah) jika pertanyaan pada suatu kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut.

Sedangkan kuesioner dikatakan reliabel (andal) jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu (Santoso, 2000:270).

Dalatn penyusunan kuesioner diperlukan 3 langkah (Santoso, 2000:271), yaitu:

1. Menetapkan sebuah konstrak, yaitu membuat batasan mengenai variabel yang akan diukur.

2. Menetapkan faktor-faktor/ variabel-variabel, yaitu mencoba menemukan unsur yang ada dalam konstrak.

3. Menyusun butir-butir pertanyaan, yaitu mencoba menjabarkan sebuah faktor lebih lanjut dalam berbagai pertanyaan yang langsung berinteraksi dengan pengisi kuesioner.

Pengujian validitas dan reliabilitas adalah proses menguji butir-butir pertanyaan yang ada didalam sebuah kuesioner, apakah sudah valid dan reliabel.

Jika butir-butir tersebut sudah valid dan reliabel, berarti butir-butir tersebut sudah bisa digunakan untuk mengukur faktomya (Santoso, 2000:272).

Dalam pengujian butir tersebut bisa saja ada butir-butir yang temyata tidak valid dan reliabel, sehingga harus dibuang atau diganti dengan pertanyaan lain. Analisis dimulai dengan menguji validitas terlebih dahulu baru diikuti dengan uji reliabilitas. Jadi jika sebuah butir tidak valid, maka otomatis butir tersebut dibuang. Butir-butir yang sudah valid kemudian baru secara bersama diukur reliabilitasnya (Santoso, 2000:272).

Dalam pengujian validitas dan reliabilitas dengan memakai program SPSS, ada beberapa langkah yang hams dilakukan dan harus diterapkan pada setiap faktor pada kuesioner. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:

1. UjiValiditas

Ada empat langkah yang harus dilakukan dalam pengujian validitas, yaitu:

(15)

a. Menentukan hipotesis untuk menguji validitas kuesioner.

Hipotesis yang digunakan adalah sebagai berikut:

Ho = Skor butir berkorelasi positif dengan skor faktor Hi = Skor butir tidak berkorelasi positif dengan skor faktor b. Menentukan nilai r tabel

Untuk menentukan r tabel, ada dua hal yang harus diperhatikan terlebih dahulu, yaitu df (degree of freedom) dan tingkat signifikansi. Tingkat signifikan ditentukan sendiri oleh peneliti. Dengan demikian nilai r tabel akan diperoleh.

c. Mencari r hasil

Pada tahap ini, r hasil untuk tiap variabel dapat dilihat pada kolom Corrected Item-Total Corellation (yang tampak pada output uji validitas yang dihasilkan program SPSS).

d. Mengambil keputusan

Setelah melalui tiga tahap di atas, dapat diambil keputusan mengenai valid tidaknya butir-butir dalam suatu kuesioner. Dasar pengambilan keputusan yang dipakai dalam uji validitas adalah sebagai berikut:

• Jika r hasil positif serta r hasil > r tabel maka butir atau variabel tersebut valid.

• Jika r hasil tidak positif serta r hasil < r tabel maka butir atau variabel tersebut tidak valid.

Jika r hasil > r tabel tetapi bertanda negatif, Ho tetap ditolak.

Apabila dalam pengujian tersebut terdapat butir-butir yang tidak valid

maka butir-butir yang tidak valid tersebut dikeluarkan. Kemudian proses analisis

(poin 1-4 di atas) diulang untuk butir yang valid saja. Untuk melakukan hal ini

digunakan file baru yang merupakan hasil proses analisa yang pertama dengan

jumlah butir sebanyak jumlah butir mula-mula dikurangi jumlah butir yang tidak

valid (Santoso, 2000:277). Pengujian validitas ini dilakukan berulang-ulang

hingga yang tersisa adalah butir-butir yang valid saja (Santoso, 2000:280). Setelah

semua butir telah valid maka dapat dilanjutkan pada pengujian reliabilitas.

(16)

2. Uji reliabilitas

Untuk melakukan pengujian reliabilitas dilakukan 4 langkah sebagai berikut:

a. Menentukan hipotesis untuk pengujian reliabilitas

Dalam pengujian reliabilitas suatu kuesioner digunakan hipotesis sebagai berikut:

Ho = Skor butir berkorelasi positif dengan komposit faktomya.

Hi = Skor butir tidak berkorelasi positif dengan komposit faktornya.

b. Menentukan nilai r tabel

Untuk menentukan r tabel, ada 2 hal yang harus ditentukan terlebih dahulu yaitu df (degree offreedom) dan tingkat signifikansi.

c. Mencari r hasil

Yang dimaksud r hasil disini adalah angka ALPHA yang terletak pada bagian akhir output.

d. Mengambil keputusan

Setelah melakukan ketiga tahap di atas, diambil keputusan mengenai reliabilitas suatu kuesioner. Dasar pengambilan keputusan yang dipakai dalam pengujian reliabilitas adalah sebagai berikut:

• Jika r Alpha positif dan r Alpha > r tabel maka butir atau variabel tersebut reliabel.

• Jika r Alpha positif dan r Alpha < r tabel, maka butir atau variabel tersebut tidak reliabel.

Apabila r Alpha > r tabel tetapi bertanda negatif maka Ho tetap ditolak.

Jika butir-butir untuk mengukur suatu faktor sudah valid dan reliabel maka analisa dilanjutkan dengan manguji validitas dan reliabilitas faktor-faktor lainnya dengan mengulang langkah-langkah pada uji validitas dan reliabilitas seperti yang telah dijelaskan di atas. Hal ini terus diulang untuk seluruh faktor yang ada pada kuesioner (Santoso, 2000:281).

2.3 Pengu jian Asumsi Klasik

Pengujian asumsi klasik adalah pengujian yang dilakukan sebelum

melakukan pengujian regresi, dimana pengujian ini bertujuan agar data yang akan

(17)

dimasukkan dalam model regresi telah memenuhi ketentuan dan syarat dalatn regresi.

Terdapat beberapa cara atau metode yang adapat digunakan dalam pengujian asumsi klasik, yaitu:

1. Penguj ian Multikolinieritas.

Yaitu pengujian yang bertujuan untuk mencari apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Jika terjadi korelasi mafca terdapat problem multikolinieritas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terdapat korelasi diantara variabel independen. Jika teijadi multikolinieritas, maka salah satu dari variabel tersebut harus dikeluarkan dari model regresi.

2. Pengujian Heteroskedastisitas.

Yaitu pengujian dalam model regresi yang bertujuan untuk mencari apakah terjadi ketidaksamaan varian dari residual dari suatu pengamatan kepengamatan yang lain. Jika varian dari residual dari satu pengamatan kepengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastisitas. Sebaliknya jika varian berbeda, maka terjadi heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heteroskedastisitas. Jika terjadi maka harus dilakukan penambahan data.

3. Pengujian Asumsi Normalitas

Yaitu pengujian yang bertujuan untuk mengetahui apakah dalam sebuah model regresi, variabel dependen, variabel independen atau keduanya memiliki distribusi normal ataukah tidak. Model regresi yang baik adalah distribusi data normal atau mendekati normal. Jika tidak terdapat distribusi yang normal maka dilakukan penambahan data.

4. Uji Asumsi Autokorelasi

Yaitu pengujian yang dilakukan untuk mengetahui apakah dalam sebuah model regresi linier ada korelasi antara kesalahan pada periode t dengan kesalahan pada periode t-i(sebelumnya). Model regresi yang baik adalah yang bebas dari autokorelasi. Autokorelasi dapat diatasi dengan cara:

a. Melakukan transformasi data.

b. Menambah observasi data.

(18)

2.4 Regresi Berganda

Regresi adalah alat yang paling sesuai digunakan dalam memecahkan kebanyakan masalah dalam dunia bisnis, hal ini didasari karena kita dapat mengukur beberapa hubungan fungsional dari 2 atau lebih suatu variabel. Regresi adalah perhitungan antara dua variabel numerik atau lebih, dimana tennasuk didalamnya mencari hubungan antara kedua variabel.

Dalam analisis regresi, akan dikembangkan sebuah estimating equation (persamaan regresi) yaitu suatu formula matematika yang mencari nilai variabel dependen dari nilai variabel independen yang diketahui. Analisa regresi digunakan terutama untuk tujuan peramalan, dimana dalam model tersebut ada sebuah variabel dependen atau yang biasanya disebut sebagai regresand atau response variable dan variabel independen atau yang biasa disebut dengan explanatory variable atau regresor.

Model persamaan pada regresi berganda dapat digambarkan sebagai berikut:

Dimana:

a = konstanta

b = koefisien regresi e = variabel tambahan X = variabel independen

Y = variabel dependen

Toleransi kesalahan (a) yang ditetapkan sebesar 5% dengan tarif signifikansi sebesar 95%. Maka langkah selanjutnya adalah memasukkan data kedalam SPSS, kemudian menganalisis data yang dibutuhkan oleh SPSS dengan tahapan sebagai berikut:

1. Mengolah data yang telah dimasukkan kedalam SPSS dengan memasukkan nilai variabel terikat (Keputusan Auditor dalam Menerima Suatu Penugasan Audit) dan variabel bebas (Resiko klien, Independensi, Audit fee).

2. Menentukan standar angka probabilitas sebesar 5%.

(19)

3. Untuk penanganan missing value atau data yang hilang, dengan memilih menu exclude cases pairwise.

Setelah itu menganalisis data yang dihasilkan oleh SPSS dengan tahapan sebagai berikut:

1. Probabilitas yang ditetapkan sebesar 5% akan menjelaskan seberapa jauh hubungan antara variabel terikat dengan variabel-variabel bebas.

2. Nilai adjusted R square menjelaskan berapa persen dari variabel terikat bisa dijelaskan oleh variabel bebas.

3. Dari tabel ANOVA akan diperoleh F hitung dan tingkat signifikansi. Bila signifikansinya lebih kecil dari 0.05, maka model regresi bisa dipakai untuk memprediksi keputusan auditor dalam menerima suatu penugasan audit.

4. Dilakukan uji t untuk melihat apakah koefisien dari regresi signifikan atau tidak. Sebagai dasar pengambilati keputusan, maka terlebih dahulu dibuatkan hipotesisnya, yaitu:

Ho = koefisien regresi signifikan.

Hl = koefisien regresi tidak signifikan.

Pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:

a. Untuk pengujian variabel secara parsial yaitu dengan membandingkan nilai t tabel dengan nilai t hitung. Apabila nilai t hitung < nilai t tabel, maka Ho ditolak. Demikian pula sebaliknya.

b. Melihat tingkat signifikansi dari masing-masing koefisien regresi.

Apabila tingkat signifikansinya > 0,05, maka Ho ditolak, demikian pula sebaliknya.

Kedua dasar pengambilan keputusan di atas bersifat saling mendukung. Bila nilai t hitung < nilai t tabel, maka tingkat signifikansinya pasti > 0,05.

Demikian pula sebaliknya.

Untuk pengujian variabel secara bersama dapat dilihat pada tabel

ANOVA yaitu dengan membandingkan nilai F. Apabila nilai F hitung < nilai F

tabel, maka Ho ditolak. Demikian pula sebaliknya.

(20)

2.5 Kajian Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu yang digunakan sebagai acuan dalam penulisan skripsi ini yaitu penelitian yang dilakukan Karla M. Johnstone seorang asisten Profesor pada Department of Accounting and Information Systems at the School of Bnssines di University of Wisconsin-Madison. Ia meneliti mengenai pengaruh resiko bisnis klien, resiko bisnis auditor dan resiko audit terhadap keputusan peneriman penugasan audit dari klien berdasarkan pengalaman auditor. Dalam penelitian ini diperoleh hasil bahwa resiko audit merupakan faktor utama yang mempengaruhi auditor dalam menerima suatu penugasan audit, kemudian resiko bisnis klien dan yang terakhir resiko bisnis auditor.

Selain itu peneliti juga mengajukan pertanyaan mengenai faktor-faktor

lain apa saja yang dapat mempengaruhi keputusan auditor dalam menrima

penugasan audit dari klien kepada responden yang berjumlah 395 orang. Hasil

yang diperoleh dalam penelitian tersebut dijabarkan pada tabel 2.1.

(21)

Tabel 2.1

List Of Other Important Client Acceptance Factors Factor

1. Information about management and discussion with management about important issues.

2. Discussion with the prior auditor 3. Discussion with the client' s bankers 4. Discussion with client's attomey 5. Industry data

6. Information about how accepting the client might impact the audit firm

7. Discussion with theBoardsof Director 8. Internal Control data

9. Litigation

10. Strategy of management/ long-term organizational obejctives

11. Product line data

12. significant shareholders/ owners data 13. Discussions with the audit committee 14. Customer data

15. Competitor data 16. Regulatory data

17. Related parties/ transactions 18. Information systems

19. Gaining additional infonnation through public sources 20. Tax data

21. Information on vendors/ supplier Total

Number of Responses

131 51 43 31

24

23 17 11 11 11 10 ' 8

5 5 3 3 3 2 1 1 1 395

Percentage

33.16%

22.91%

10.88%

7.85%

6.07%

5.82%

4.30%

2.78%

2.78%

2.78%

2.53%

2.03%

1.27%

1.27%

0.80%

0.80%

0.80%

0.51%

0.22%

0.22%

0.22%

100%

Sumber: NATIONAL PUBLIC ACCOUNTANT

Penelitian yang pemah dilakukan sebelumnya ini secara tidak langsung

membantu memberikan wacana yang lebih luas terhadap penelitian yarig

dilakukan oleh penulis. Sehingga penulis ingin melakukan replikasi terhadap

penelitian yang dilakukan oleh Karla M Johnstone tersebut. Perbedaan dengan

penelitian Karla M. Johnstone terletak pada tujuan dan tempat. Selain itu, dalam

penelitian ini peneliti hanya meneliti satu hal. Yaitu apakah resiko klien,

independensi dan audit fee mempengaruhi pertimbangan auditor dalara

memberikan keputusan penerimaan suatu penugasan audit, tanpa membedakan

jenis pengambilan keputusannya. Dan penulis juga tidak meneliti faktor

(22)

pengalaman auditor seperti yang dilakukan oleh Karla M. Johnstone. Penelitian dilakukan pada Kantor Akuntan Publik (KAP) di Surabaya.

2.6 Hipotesis

Dalam penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kepulusan auditor dalam menerima suatu penugasan audit, maka dibuatlah beberapa hipotesis berdasarkan teori serta berdasarkan hasil dari penelitian terdahulu.

Hipotesis yang diajukan adalah:

Hj: Resiko yang dimiliki klien mempengaruhi keputusan auditor dalam menerima suatu penugasan audit.

H

2

: Independensi auditor mempengaruhi keputusan auditor dalam menerima suatu penugasan audit.

H3: Audit fee mempengaruhi keputusan auditor dalam menerima suatu penugasan audit.

H4: Resiko klien, Independensi dan Audit fee secara bersama-sama mempengaruhi keputusan auditor dalam menerima suatu penugasan audit.

H5 Diduga Independensi merapakan faktor yang paling dominan

mempengaruhi keputusan auditor dalam menerima suatu penugasan

audit.

Gambar

Gambar 2.1 Tahap-Tahap dalam Penerimaan Penugasan Audit

Referensi

Dokumen terkait

2 Dimensi yang diperoleh setelah direduksi dengan PCA 10 3 Akurasi organisme dikenal menggunakan k=3 pada KNN (dalam %) 11 4 Akurasi organisme dikenal menggunakan k=5 pada KNN

Berikut kami umumkan peserta yang dinyatakan lulus seleksi tes psikoloig calon pegawai Bank BTN dengan data sebagai berikut

Pertemuan dengan narasumber dan para seniman yang saat dulu aktif (tahun 1985) merupakan kegiatan utama yang dilakukan oleh peneliti, dalam hal ini narasumber dan

Berdasarkan  uraian  di  at as  mengenai pentingnya  meningkatkan  kecakapan  anak  maka peneliti menyusun judul “Implementasi Pembelajaran Role  Playing  Untuk 

Jadi data-data yang digunakan dalam penelitian ini, diperoleh melalui studi lapangan, dengan cara mencatat dan mengumpulkan berbagai data dan informasi yang ditemukan di

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan yang akan diteliti adalah “apakah terdapat perbedaan persepsi antara karyawan bank swasta dengan karyawan bank

Pada ordo squamata terdapat 1 famili dari viperidae yang ditemukan pada gunung Permisan pada ketinggian sekitar 100m di batang pohon mati, lalu pada famili scincidae