(Kasus SMUN 68, Salemba Jakarta Pusat, DKI Jakarta)
Oleh :
INA ASTARI UTAMININGSIH A 14202036
PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006
INA ASTARI UTAMININGSIH. Pengaruh Penggunaan Ponsel Pada Remaja Terhadap Interaksi Sosial Remaja. Di bawah bimbingan NURMALA K. PANDJAITAN.
Seiring arus globalisasi dengan tuntutan kebutuhan pertukaran informasi yang cepat membuat peranan teknologi komunikasi menjadi sangat penting.
Teknologi komunikasi dalam wujud ponsel merupakan fenomena yang paling unik dan menarik dalam penggunaannya. Tetapi dari sekian kelebihan yang telah ditawarkan dari suatu ponsel, juga terdapat banyak dampak negatif bermunculan.
Bentuk pendekatan komunikasi yang paling ideal adalah yang bersifat transaksional, dimana proses komunikasi dilihat sebagai suatu proses yang sangat dinamis dan timbal balik. Menurut Budyatna (2005) munculnya penggunaan ponsel dapat mempengaruhi proses yang bersifat transaksional tersebut. Seringkali komunikasi yang dinamis dan timbal balik dirasakan menurun pada interaksi tatap muka. Pengguna ponsel terbesar merupakan kelompok remaja perkotaan terutama pada pulau Jawa. Dengan begitu permasalahan yang muncul dalam penelitian ini yaitu mengenai penggunaan ponsel dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana pengaruhnya terhadap interaksi yang ada, dalam hal ini antara remaja dengan lingkungan sosial mereka.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tingkat penggunaan ponsel pada remaja saat ini, menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat penggunaan ponsel pada remaja serta menganalisis pengaruh tingkat penggunaan ponsel terhadap interaksi sosial remaja. Penelitian ini menitikberatkan pada tiga kajian studi, yaitu media teknologi komunikasi ponsel, interaksi sosial dan mengenai remaja itu sendiri.
Penelitian dilakukan di Sekolah Menengah Umum Negeri (SMUN) 68 Salemba, Jakarta Pusat, DKI Jakarta dan pada waktu April sampai dengan Juli 2006. Pengambilan sampel penelitian ditentukan dengan sengaja (purposive) secara accidental sampling. Populasi dibagi dalam kelas-kelas SMUN 68 (kelas X, XI, XII) dan masing-masing sejumlah 16 orang (8 laki-laki dan 8 perempuan).
untuk menggeneralisasikan secara meluas dan membutuhkan penelitian-penelitian berikutnya untuk mengkaji lebih lanjut. Penelitian ini merupakan jenis deskriptif korelasional dengan metode penelitian survey. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif. Data primer diperoleh dari responden melalui pengisian kuisioner dan hasil wawancara, sedangkan data sekunder diperoleh melalui dokumentasi Kantor SMUN 68. Dalam hal pengolahan data, untuk data kuantitatif diuji melalui Chi-Square dan korelasi Spearman yang dilakukan dengan menggunakan program SPSS for windows versi 12.0. Untuk data hasil wawancara (kualitatif) digunakan sebagai ilustrasi untuk melengkapi hasil statistik tersebut.
Penelitian ini menunjukkan karakteristik internal dan karakteristik eksternal responden. Jenis kelamin responden dibagi sama rata antara laki-laki dan perempuan. Status ekonomi keluarga responden mayoritas tergolong kategori menengah keatas (berkecukupan). Tujuan penggunaan ponsel oleh responden mayoritas untuk kegiatan-kegiatan yang tidak terlalu penting, yang berkisar pada sosialisasi serta kegiatan sekolah/les/kursusnya dan untuk hiburan (pemenuhan hobi). Tingkat aktivitas responden mayoritas tergolong aktivitas yang rendah di luar jam sekolahnya. Tingkat pengaruh teman dekat mayoritas tergolong kategori pengaruh yang kuat bagi responden. Sedangkan mengenai media massa mayoritas responden memiliki tingkat terpaan yang tergolong cukup tinggi.
Penelitian ini melihat tingkat penggunaan ponsel dari frekuensi penggunaan ponsel, pemanfaatan fasilitas ponsel, tingkat biaya pengeluaran, dan pihak yang diajak berkomunikasi. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan ponsel oleh responden (sebagai kelompok remaja perkotaan) sebagian besar menunjukkan penggunaannya cenderung tinggi. Faktor pada karakteristik internal yang mempengaruhi penggunaan ponsel adalah status ekonomi keluarga dan tujuan penggunaan ponsel, sedangkan pada karakteristik eksternal adalah keberadaan teman dekat responden.
Mengenai interaksi, penelitian ini melihat suatu variabel interaksi sosial dari waktu dan intensitas (tingkat keluasan pembicaraan) interaksi secara tatap
lingkungan teman atau pacar lebih baik dalam hal kuantitas. Sedangkan interaksi antara responden dengan lingkungan keluarga lebih baik dalam hal kualitas.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan ponsel tidak mempengaruhi interaksi remaja secara tatap muka. Hal tersebut berlawanan dengan teori yang dikemukakan oleh Budyatna (2005), yaitu dengan munculnya penggunaan ponsel dapat mempengaruhi suatu proses yang bersifat transaksional dalam interaksi tatap muka. Penggunaan ponsel remaja (laki-laki maupun perempuan) memang cenderung tinggi. Tetapi dalam hal interaksi tatap muka antara remaja dengan lingkungan sosialnya tetap saja cenderung kurang. Dapat disimpulkan bahwa interaksi remaja tersebut tidak hanya disebabkan oleh tingkat penggunaan ponsel yang tinggi. Banyak terdapat faktor-faktor lainnya dalam karakteristik remaja, seperti semakin tingginya beban akademik, mulai mengkonsumsi media-media massa atau teknologi dengan tinggi serta cenderung lepas dengan lingkungan sosial keluarganya. Dengan begitu terlihat bahwa memang kelompok usia remaja cenderung kurang interaksinya secara tatap muka dengan lingkungan sosialnya.
(Kasus SMUN 68, Salemba Jakarta Pusat, DKI Jakarta)
Oleh :
INA ASTARI UTAMININGSIH A 14202036
SKRIPSI
Sebagai Bagian Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian
Pada
Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor
PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006
INSTITUT PERTANIAN BOGOR Dengan ini menyatakan bahwa Skripsi yang ditulis oleh : Nama : Ina Astari Utaminingsih
NRP : A14202036
Program Studi : Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
Judul Skripsi :Pengaruh Penggunaan Ponsel Pada Remaja Terhadap Interaksi Sosial Remaja (Kasus SMUN 68, Salemba Jakarta Pusat, DKI Jakarta)
dapat diterima sebagai syarat kelulusan untuk memperolah gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Menyetujui, Dosen Pembimbing
Dr. Nurmala K. Pandjaitan, MS. DEA NIP. 131 803 654
Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian
Prof. Dr. Ir. Supiandi Sabiham, M.Agr NIP. 130 422 698
Tanggal Kelulusan : 22 Agustus 2006
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL “PENGARUH PENGGUNAAN PONSEL PADA REMAJA TERHADAP INTERAKSI SOSIAL REMAJA (KASUS SMUN 68, SALEMBA JAKARTA PUSAT, DKI JAKARTA)” BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA PERGURUAN TINGGI LAIN MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH.
Bogor, Agustus 2006
Ina Astari Utaminingsih A 14202036
Penulis adalah anak terakhir dari pasangan H.Supriyadi dan Hj.Eka Hikmawati yang lahir pada tanggal 11 Juli 1984 di Jakarta. Pendidikan pertama ditempuh di Taman Kanak-Kanak Kayuputih, Jakarta Timur. Selanjutnya pada tahun 1991 meneruskan sekolah di Sekolah Dasar Negeri Pulogadung 07, Jakarta Timur. Pada tahun 1999 penulis lulus dari SLTP Perguruan Cikini, Jakarta Pusat dan meneruskan di SMU Negeri 68, Jakarta Pusat yang kemudian lulus pada tahun 2002.
Pada tahun 2002 selanjutnya penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur SPMB pada program studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (KPM), Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian.
Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, kekuatan serta jalan yang terbaik menurut-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan lancar. Skripsi (SEP 495) yang berjudul “Pengaruh Penggunaan Ponsel Pada Remaja Terhadap Interaksi Sosial Remaja” ini merupakan syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian.
Skripsi ini merupakan penelitian dan studi yang pertama kali mengenai ponsel di Institut Pertanian Bogor. Oleh karena itu diharapkan dapat menjadi masukan atau referensi berguna dalam kajian mengenai pengaruh ponsel terhadap interaksi remaja dengan lingkungan sosial mereka. Namun penulis menyadari adanya kekurangan dalam pembuatan skripsi ini. Oleh karena itu saran dan kritik membangun dari para pembaca diperlukan untuk langkah selanjutnya yang lebih baik lagi.
Bogor, Agustus 2006
Penulis
Skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu penulis mengemukakan ucapan terima kasih kepada pihak tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung, antara lain :
1. Allah SWT, yang atas izin dan restu-Nya lah penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini. In every step i take, it always start with u’r name God.
2. Dr. Nurmala K. Pandjaitan. MS. DEA selaku Dosen Pembimbing yang dengan sabar telah memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis dalam proses pembuatan skripsi ini.
3. Ir. Sarwititi S. Agung, MS yang telah bersedia menjadi dosen penguji utama pada saat sidang skripsi
4. Martua Sihaloho, SP, MS yang telah bersedia menjadi dosen penguji Komisi Pendidikan pada saat sidang skripsi
5. Papa & Mama. Love u both more than life & all the things i’ve done is only to make u proud of me. Juga untuk Mba Lia & Mas Herry
6. Ivan, My Little Boy. The cuttest baby in the world. Karena dengan fotonya dikomputer-lah yang membuat semangat setiap mengerjakan tugas
7. Hemo-hemo, For good times and bad times. Thank’s for teaching me how to laugh all the time, no matter how sad we are. Just keep our faith!
8. Pihak-pihak yang telah membantu dalam pengumpulan data : Ica HPT ’40, Dila, Tio, serta pihak dari SMUN 68
9. Rika Apriyanti (Teh’ Rika) atas segala saran dan masukan mengenai penulisan skripsi
10. Mulyandari, for making me believe that there’s always opportunity in every difficulty
11. KPM ’39, yang telah membuat waktu selama hampir 4 tahun terakhir menjadi berkesan dan tidak terlupakan
12. Seluruh teman-teman ’38, ’39 dan ’40 serta tim KKP atas kebersamaannya selama ini
sepulang dari Bogor. Thank’s a lot
14. Para pengajar dan tim MSC (Mathematic Study Club) yang dengan sabar dan baik hati membuat penulis ’mengerti’ akan hitung-hitungan
15. Tim dosen KPM IPB dan seluruh staff Sosek Pertanian, terima kasih telah memberikan pengajaran yang terbaik dan telah membantu selama perkuliahan sampai pada pelaksanaan seminar dan sidang
Juga untuk mereka yang senantiasa mendukung serta membantu tetapi tidak bisa disebutkan satu per satu. Akhir kata penulis mengucapkan semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan memberi inspirasi kepada pembaca.
Penulis
Halaman
DAFTAR ISI ··· i
DAFTAR TABEL ··· iii
DAFTAR GAMBAR ··· v
DAFTAR LAMPIRAN ··· vi
BAB I. PENDAHULUAN ··· 1
1.1 Latar Belakang ··· 1
1.2 Perumusan Masalah ··· 5
1.3 Tujuan Penelitian ··· 5
1.4 Kegunaan Penelitian ··· 6
BAB II. PENDEKATAN TEORITIS ··· 7
2.1. Tinjauan Pustaka ··· 7
2.1.1. Media Teknologi Komunikasi Ponsel ··· 7
2.1.2. Interaksi Sosial ··· 13
2.1.3. Remaja ··· 18
2.2. Kerangka Pemikiran ··· 22
2.3. Hipotesa ··· 25
2.4. Definisi Operasional ··· 26
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ··· 33
3.1. Metode Penelitian ··· 33
3.2. Lokasi Dan Waktu Penelitian ··· 33
3.3. Penentuan Sampel ··· 34
3.4. Metode Pengumpulan Data ··· 35
3.5. Metode Pengolahan dan Analisis Data ··· 35
BAB IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN
KARAKTERISTIK RESPONDEN ··· 36
4.1 Sekolah Menengah Umum Negeri 68 ··· 36
4.2 Karakteristik Internal ··· 39
4.3 Karakteristik Eksternal ··· 43
BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN ··· 47
5.1 Penggunaan Ponsel Pada Remaja ··· 47
5.1.1 Frekuensi Penggunaan Ponsel ··· 47
5.1.2 Pemanfaatan Fasilitas Ponsel ··· 48
5.1.3 Tingkat Biaya Pengeluaran ··· 51
5.1.4 Pihak Yang Diajak Berkomunikasi ··· 52
5.1.5 Tingkat Penggunaan Ponsel Secara Umum ··· 54
5.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Penggunaan Ponsel Pada Remaja ··· 56
5.2.1 Karakteristik Internal ··· 56
5.2.2 Karakteristik Eksternal ··· 62
5.3 Pengaruh Penggunaan Ponsel Pada Remaja Terhadap Interaksi Sosial Remaja ··· 65
5.3.1 Interaksi Sosial Remaja ··· 65
5.3.1.1 Waktu Interaksi Tatap Muka ··· 65
5.3.1.2 Intensitas Interaksi Tatap Muka ··· 68
5.3.1.3 Interaksi Sosial Remaja Secara Umum ··· 70
5.3.2 Pengaruh Penggunaan Ponsel Pada Remaja Terhadap Interaksi Sosial Remaja ··· 71
5.4 Ikhtisar ··· 74
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ··· 78
6.1 Kesimpulan ··· 78
6.2 Saran ··· 80
DAFTAR PUSTAKA ··· 82
LAMPIRAN ··· 85
DAFTAR TABEL
Nomor Teks Halaman
Tabel 1. Kegiatan-Kegiatan Ekstrakurikuler Pada SMUN 68,
Sampai Tahun Ajaran 2005/2006 ··· 38
Tabel 2. Jumlah Responden Berdasarkan Status Ekonomi Keluarga ··· 39
Tabel 3. Jumlah Responden Berdasarkan Tujuan Penggunaan Ponsel ··· 40
Tabel 4. Jumlah Responden Berdasarkan Tingkat Aktivitas ··· 42
Tabel 5. Jumlah Responden Berdasarkan Tingkat Pengaruh Teman Dekat ··· 44
Tabel 6. Jumlah Responden Berdasarkan Tingkat Terpaan Media Massa ··· 45
Tabel 7. Jumlah Responden Berdasarkan Frekuensi Penggunaan Ponsel ··· 47
Tabel 8. Jumlah Responden Berdasarkan Pemanfaatan Fasilitas Ponsel ··· 49
Tabel 9. Jumlah Responden Berdasarkan Tingkat Biaya Pengeluaran ··· 51
Tabel 10. Jumlah Responden Berdasarkan Pihak Yang Diajak Berkomunikasi ··· 53
Tabel 11. Jumlah responden Berdasarkan Tingkat Penggunaan Ponsel ··· 54
Tabel 12. Hubungan Jenis Kelamin Dengan Tingkat Penggunaan Ponsel ··· 56
Tabel 13. Hubungan Status Ekonomi Keluarga Dengan Tingkat Penggunaan Ponsel ··· 58
Tabel 14. Hubungan Tujuan Penggunaan Ponsel Dengan Tingkat Penggunaan Ponsel ··· 59
Tabel 15. Hubungan Tingkat Aktivitas Dengan Tingkat Penggunaan Ponsel ··· 61
Tabel 16. Hubungan Tingkat Pengaruh Teman Dekat Dengan Tingkat Penggunaan Ponsel ··· 63
Tabel 17. Hubungan Tingkat Terpaan Media Massa Dengan Tingkat Penggunaan Ponsel ··· 64
Tabel 18. Jumlah Responden Berdasarkan Waktu Interaksi Tatap Muka Dengan Keluarga ··· 66
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Teks Halaman Lampiran 1. Perbandingan Pengguna Ponsel di Indonesia ··· 86 Lampiran 2. Output SPSS Uji Chi-Square ··· 88 Lampiran 3. Output SPSS Uji Spearman ··· 89
DAFTAR GAMBAR
Nomor Teks Halaman Gambar 1. Jenis Telepon Bergerak ··· 9 Gambar 2. Kerangka Pemikiran ··· 25
Tabel 19. Jumlah Responden Berdasarkan Waktu Interaksi Tatap Muka
Dengan Teman/Pacar ··· 66 Tabel 20. Jumlah Responden Berdasarkan Intensitas Interaksi Tatap
Muka Dengan Keluarga ··· 68 Tabel 21. Jumlah Responden Berdasarkan Intensitas Interaksi Tatap
Muka Dengan Teman/Pacar ··· 68 Tabel 22. Jumlah Responden Berdasarkan Interaksi Sosial Remaja ··· 70 Tabel 23. Hubungan Tingkat Penggunaan Ponsel Dengan Interaksi
Sosial ··· 72 Tabel 24. Hubungan Variabel Pengaruh Dengan Variabel
Terpengaruh ··· 74
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebuah teknologi pada hakikatnya diciptakan untuk membuat hidup manusia menjadi semakin mudah dan nyaman. Kemajuan teknologi yang semakin pesat saat ini membuat hampir tidak ada bidang kehidupan manusia yang bebas dari penggunaannya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Seiring arus globalisasi dengan tuntutan kebutuhan pertukaran informasi yang cepat, peranan teknologi komunikasi menjadi sangat penting.
Hassan (1999) mengemukakan teknologi komunikasi cenderung memungkinkan terjadinya transformasi berskala luas dalam kehidupan manusia.
Transformasi tersebut telah memunculkan perubahan dalam berbagai pola hubungan antar manusia (patterns of human communication), yang pada hakikatnya adalah interaksi antar pribadi (interpersonal relations). Pertemuan tatap muka (face to face) secara berhadapan dapat dilaksanakan dalam jarak yang sangat jauh melalui tahap citra (image to image).
Isi pesan media komunikasi seringkali tidak mempengaruhi masyarakat yang kini melainkan bentuk dan jenis media itu sendiri. Banyak bentuk-bentuk teknologi baru dalam komunikasi yang kita kenal, seperti telepon selular (ponsel), surat elektronik, satelit, mesin faksmili, dan lain-lain. Teknologi komunikasi dalam wujud ponsel merupakan fenomena yang paling unik dan menarik dalam penggunaannya. Ponsel yang mudah dibawa kemana saja kini tidak lagi mengenal
usia dan kalangan, bahkan disebut sekarang ini ponsel telah menjadi “teknologi yang merakyat”.
Penggunaan ponsel menjadi kebutuhan yang sangat penting bagi kehidupan saat ini yang memerlukan mobilitas tinggi. Fasilitas-fasilitas yang terdapat didalamnya pun tidak hanya terbatas pada fungsi telepon dan SMS (short messages service) saja. Ponsel dapat digunakan sebagai sarana bisnis, penyimpan
berbagai macam data, sarana musik/hiburan, bahkan sebagai alat dokumentasi.
Hal ini menjadikan ponsel sebagai salah satu perkembangan komunikasi yang paling aktual di Indonesia selama lebih dari lima tahun terakhir (Nurudin, 2005).
Terlihat juga pada kompetitif kualitas dari berbagai merk ponsel seperti Nokia, Ericsson, Samsung, Siemens, Motorola, Alcatel, dan lain-lain. Masing-masing
tidak berhenti bersaing mencari pangsa pasar melalui produk terbaru hanya dalam kurun waktu yang relatif singkat.
Simanjuntak (2004) dalam tulisannya mengenai aspek sosial telepon selular menyatakan paling tidak ada lima implikasi dari penggunaan ponsel.
Pertama, terhadap setiap individu yang menggunakan ponsel tersebut. Kedua, terhadap interaksi-interaksi antar individu. Ketiga, terhadap pertemuan tatap muka. Keempat, terhadap suatu kelompok-kelompok atau organisasi. Selanjutnya yang kelima adalah terhadap sistem hubungan di organisasi dan kelembagaan- kelembagaan masyarakat.
Penggunaan ponsel sekarang bukan hanya sebagai alat komunikasi semata, melainkan juga mendorong terbentuknya interaksi yang sama sekali berbeda dengan interaksi tatap muka. Disini interaksi yang terbentuk kemudian
“dipercepat” prosesnya melalui suara dan teks atau tulisan (Brotosiswoyo, 2002).
Hal ini berbeda dengan dahulu yang biasa disebut “telepati” (komunikasi antara dua manusia yang tidak bergantung pada tempatnya) dan sudah menjadi perwujudan riil yang biasa, yang dapat dilakukan oleh siapa saja. Ponsel disamping itu juga dapat merubah makna dari “kesendirian”. Kesendirian itu dapat menjadi suatu suasana yang lebih ramai dan hidup. Dengan satu ponsel yang canggih saja, kita dapat mendengarkan musik, bermain games, internet, foto-foto, menonton video, dan lain-lain meskipun kita berada dalam satu ruangan sendirian tanpa ada apapun.
Dari sekian kelebihan yang telah ditawarkan dari suatu ponsel, tetapi terdapat juga banyak dampak negatif bermunculan. Budyatna (2005) mengemukakan bahwa bentuk pendekatan komunikasi yang paling ideal adalah yang bersifat transaksional, dimana proses komunikasi dilihat sebagai suatu proses yang sangat dinamis dan timbal balik. Disini Budyatna melihat bahwa dengan munculnya penggunaan ponsel mempengaruhi proses yang transaksional tersebut. Seringkali komunikasi yang dinamis dan timbal balik dirasakan menurun kualitas dan kuantitasnya pada interaksi tatap muka.
Terdapat banyak fenomena dimana tidak jarang individu lebih memilih memainkan atau menggunakan ponselnya, meskipun ia berada ditengah-tengah suatu kegiatan atau sosialisasi dengan orang-orang disekitarnya. Berdasarkan Survey Siemens Mobile Lifestyle III, menyebutkan bahwa 60% dari respondennya
lebih senang mengirim dan membaca SMS atau memainkan games ponselnya ditengah acara keluarga yang dianggap membosankan (Nurudin, 2005).
Beberapa penelitian telah dikumpulkan oleh Badwilan (2004) mengenai dampak dari penggunaan ponsel. Contoh penelitian pertama yaitu pada bulan
Februari 2002 jumlah layanan SMS yang dikirimkan mencapai 156 milyar; dan pada bulan Maret jumlahnya bertambah menjadi 167 milyar. Dengan kata lain bahwa pengguna ponsel telah menghabiskan uang sebesar 165,5 milyar untuk mengirimkan layanan SMS saja. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan ponsel yang semula dimaksudkan untuk mempermudah pembicaraan dan menekan biaya pengeluaran, justru terkadang menjadi hal sebaliknya.
Kumpulan penelitian Badwilan yang menunjukkan dampak negatif dari penggunaan ponsel lainnya yaitu menonjol pada aspek psikologis dan sosial.
Banyaknya peredaran gambar-gambar maupun video-video porno sekarang ini sudah dianggap hal biasa dalam lalu lintas data komunikasi melalui ponsel. Selain itu adanya pesan SMS yang memberikan kesan rasisme dan unsur-unsur SARA didalamnya dapat mengancam serta merusak kehidupan interaksi masyarakat atau kelompok tertentu.
Pattiradjawane pernah melakukan penelitian terhadap pemakaian dan penggunaan ponsel di Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa persentase terbesar pengguna ponsel berdasarkan usia yaitu usia 15-24 tahun (31%), berdasarkan kota-desa yaitu kota (71%), dan berdasarkan kota-desa pada lima pulau (Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan Bali) yaitu kota (>55% dari masing-masing pulau). Sedangkan untuk perbandingan berdasarkan masing- masing pulau tersebut persentase terbesar adalah pulau Jawa (71%). Hal ini menunjukkan pengguna ponsel terbesar merupakan kelompok remaja perkotaan terutama pada pulau Jawa.
Remaja merupakan kelompok manusia yang penuh potensi yang perlu untuk dimanfaatkan. Secara psikologis, masa remaja adalah usia dimana individu
berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa dibawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkat yang sama (Hurlock, 1980). Respon kaum remaja terhadap barang-barang baru, termasuk dalam hal ini adalah kecanggihan ponsel, cukup tinggi. Walaupun belum tentu penggunaan ponsel tersebut dimanfaatkan seluruhnya secara optimal dalam kehidupan sehari-hari mereka.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan tersebut, maka dapat diketahui bahwa penggunaan media teknologi komunikasi ponsel saat ini dirasakan penting. Penggunaan ponsel sebagai alat komunikasi seharusnya dapat mempererat interaksi sosial remaja dengan lingkungannya. Perumusan masalah yang akan menjadi fokus kajian dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana penggunaan ponsel pada remaja saat ini?
2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penggunaan ponsel pada remaja?
3. Bagaimana pengaruh penggunaan ponsel pada remaja terhadap interaksi sosial remaja?
1.2 Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah yang dikemukakan tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Mengidentifikasi penggunaan ponsel pada remaja saat ini
2. Menganalisis faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penggunaan ponsel pada remaja
3. Menganalisis pengaruh penggunaan ponsel pada remaja terhadap interaksi sosial remaja
1.3 Kegunaan Penelitian
Penelitian ini berguna bagi peneliti dalam rangka mengembangkan studi dan memperluas wawasannya mengenai kehidupan interaksi remaja perkotaan pada saat ini, terkait dengan perkembangan teknologi komunikasi ponsel.
Penelitian ini juga dapat menjadi informasi tambahan atau acuan literatur untuk penelitian-penelitian selanjutnya, khususnya bagi para akademisi atau bagi mereka yang tertarik untuk memahami pengaruh penggunaan media teknologi komunikasi ponsel terhadap interaksi sosial remaja.
PENDEKATAN TEORITIS
2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.1 Media teknologi Komunikasi Ponsel Teknologi Komunikasi
Menurut Kamus Sosial Edisi Baru, istilah Teknologi yaitu : (1) Penerapan ilmu pengetahuan; (2) Pola praktek menggunakan semua sumber daya untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu; serta (3) Semua ciri untuk mencapai tujuan organisasi. Sedangkan menurut Johannesen (1996) teknologi diartikan sebagai aktivitas budaya yang khas ketika manusia membentuk dan mengubah realitas alami demi tujuan-tujuan praktis. Setiap langkah kemajuan teknologi menyebabkan serangkaian perubahan yang berinteraksi dengan perubahan lainnya yang timbul dari sistem teknologi secara keseluruhan.
Menurut Gouzali Saydam (2005), teknologi komunikasi pada hakikatnya adalah penyaluran informasi dari satu tempat ke tempat lain melalui perangkat telekomunikasi (kawat, radio atau perangkat elektromagnetik lainnya). Informasi tersebut dapat berbentuk suara (telepon), tulisan dan gambar (telegraf), data (komputer), dan sebagainya. Sedangkan Shiroth dan Amin (1998) mengemukakan teknologi komunikasi merupakan teknologi yang cepat berkembang, seiring dengan berkembangnya industri elektronika dan komputer. Trend teknologi ini semakin kearah teknologi wireless (tanpa kabel).
Bentuk-bentuk teknologi komunikasi menurut Kadir dan Triwahyuni (2003) mencangkup telepon, radio, dan televisi. Sedangkan dalam buku Human
Communication (Tubbs dan Moss, 2001), bentuk-bentuk teknologi komunikasi
ditampilkan dalam tingkat antarpesona, kelompok, organisasional, dan publik.
Pada tingkat antarpersona yaitu telepon, telepon genggam (handphone), surat elektronik, dan voicegram. Pada tingkat kelompok yaitu konferensi telepon, telekomunikasi komputer, dan surat elektronik. Pada tingkat organisasional yaitu interkom, konferensi telepon, surat elektronik, manajemen dengan bantuan komputer, sistem informasi, dan faksimili. Sedangkan pada tingkat publik yaitu televisi, radio, film, videotape, vidoedisc, TV kabel, TV satelit langsung, video dengan teks, teleteks, dan sistem informasi digital.
Pada saat ini telepon merupakan alat komunikasi yang banyak ditemukan dalam dunia bisnis. Bahkan setiap hari sekitar lebih dari 500 juta panggilan telepon dilakukan diseluruh dunia (Morey, 2004). Menurut Gouzali Saydam (2005), istilah telepon pada awalnya merupakan suara dari jarak jauh. Selain itu keberadaan telepon itu sendiri dibagi menjadi dua, yaitu telepon biasa (fix telephone) dan telepon bergerak.
Perkembangan Ponsel
Ponsel atau bisa juga disebut Handphone (telepon genggam atau telepon seluler) merupakan telepon yang termasuk dalam sambungan telepon bergerak, dimana yang menghubungkan antar sesama ponsel tersebut adalah gelombang- gelombang radio yang dilewatkan dari pesawat ke BTS (Base Tranceiver Station) dan MSC (Mobile Switching Center) yang bertebaran di sepanjang jalur perhubungan kemudian diteruskan ke pesawat yang dipanggil (Gouzali Saydam,
2005). Telepon bergerak ini pada awalnya dikategorikan dalam bentuk seperti gambar berikut :
Gambar 1. Jenis Telepon Bergerak
Sumber : Gouzali Saydam, Teknologi Telekomunikasi: Perkembangan dan Aplikasi (2005).
Ponsel merupakan bentuk yang dianggap paling fenomenal dan juga unik.
Dalam pemakaian ponsel, besarnya tagihan bergantung pada lama waktu percakapan serta jarak atau zona jangkau (SLJJ) percakapan yang telah dilakukan dalam percakapan. Terdapat tiga hal penting mengenai biaya yang dikeluarkan bagi pelanggan ponsel, yaitu biaya airtime, biaya bulanan dan biaya pulsa atau pemakaian (Kadir dan Triwahyuni, 2003).
Semakin maraknya penggunaan ponsel saat ini, muncul ide untuk menciptakan kebergantungan pemilik ponsel tersebut pada kartu telepon prabayar (voucher). Perkembangan produk kartu prabayar dalam waktu yang singkat dapat menyaingi penggunaan sistem abonemen (pascabayar). Salah satu yang paling menarik pada prabayar adalah layanan transfer pulsa (Ariyanti, 2004). Layanan ini menyediakan solusi bagi para pengguna prabayar yang membutuhkan pulsa dalam
TELEPON BERGERAK
Kendaraan
Bermotor Selular/
Ponsel
Telkom Fleksi
waktu cepat atau berada dalam keadaan darurat serta kesulitan mencari pulsa isi ulang.
Harmandini (2005) mengatakan bahwa sekarang ini terdapat beberapa orang yang menggunakan 2 (dua) ponsel, dimana yang satu pada umumnya merupakan ponsel CDMA. Kartu-kartu CDMA ini antara lain StarOne, Esia, Flexi dan Fren. Para pemakai ponsel yang menggunakan kartu prabayar biasanya digolongkan pada konsumen ‘konsumen kelas dua’, sedangkan ‘konsumen kelas satu’ di mata operator penyelenggara ponsel adalah mereka yang menjadi pelanggan tetap jaringan ponsel (Ariyanti, 2004).
Fasilitas Pada Ponsel
Disamping berfungsi sebagai alat komunikasi yang personal, ponsel juga berpotensi sebagai sarana bisnis yang efektif. Ponsel sangat bervariasi tergantung pada modelnya, yang seiring dengan perkembangan teknologi mempunyai fungsi- fungsi antara lain (Fiati, 2005) :
1. Penyimpan informasi
2. Pembuat daftar pekerjaan atau perencanaan kerja 3. Reminder (pengingat waktu) atau appointment 4. Alat perhitungan (kalkulator)
5. Pengiriman atau penerimaan e-mail 6. Permainan (games)
7. Integrasi ke peralatan lain seperti PDA, MP3 8. Chatting dan Browsing internet
9. Video
Mengenai fitur-fitur lain dalam ponsel terdapat beberapa macam, antara lain : profile, voice mail, caller ID, memory, numeric paging dan text messaging (SMS)/multimedia messaging (MMS), tones, locking/unlocking, call waiting, call forwarding, three-way calling, calling history, one-touch emergency dialing dan
lain-lain. Diantara sekian banyak fitur tersebut, mungkin yang paling menarik untuk dibahas adalah SMS, MMS dan kamera.
SMS (Short message service) adalah layanan langsung dalam dua arah yang mampu mengirimkan pesan singkat 160 karakter yang bisa disimpan dan direkam oleh pengelola ponsel. Selain itu SMS juga dapat digunakan dalam mode cell broadcast guna mengirim berita-berita terbaru dan pemberitahuan penting
penting lain yang bersifat massal (Fiati, 2005). Sedangkan MMS (multimedia message service) disebut juga sebagai sms multimedia, yang memiliki daya
angkut data yang besar. MMS memberikan layanan pengiriman berbasis teks menuju pesan multimedia (gambar, suara, video) dan dapat juga memberikan layanan berupa gambar diam berupa kartu, peta, kartu nama, layer saver (untuk PC). Fitur lainnya yang saat ini sedang gencarnya ditonjolkan oleh ponsel yaitu kamera, mulai dari jenis kamera opsional atau terpisah hingga kamera yang built- in yang sudah menyatu dengan ponselnya.
Mengenai kecanggihan teknologi, ponsel juga memiliki beberapa keunggulan seperti adanya teknologi Infrared dan Bluetooth. Bluetooth merupakan teknologi nirkabel yang dapat menyambungkan beberapa perangkat melalui gelombang radio berfrekuensi rendah (daya jangkau maksimal 50 meter) tanpa dihubungkan dengan kabel. Sedangkan pada infrared kedua perangkat harus dibuat berhadapan (Fiati, 2005).
Mengenai media hiburan, MP3 pada ponsel sudah menggunakan teknologi yang lebih canggih lagi saat ini. Telah dibuat suatu pengembangan yang lebih lanjut, dinamakan MP3 Surround (Subarkah, 2005). MP3 Surround atau bisa disebut suara keliling ini pada dasarnya akan memberikan ilusi suara pada pendengarnya seolah-olah berada dalam sebuah lingkungan tertentu. Selain itu, teknologi pada ponsel yang paling terbaru saat ini yaitu menyaksikan televisi melalui layar ponsel tersebut (Subarkah, 2006). Ponsel seperti ini termasuk dalam ponsel generasi ketiga, atau disebut dengan 3G.
Dampak Penggunaan Ponsel
Menurut Badwilan (2004), penggunaan ponsel dapat membawa dampak- dampak tertentu. Dampak-dampak tersebut dibagi pada aspek psikologis, sosial, keuangan dan kesehatan atau keselamatan jiwa seseorang. Tetapi yang akan dijelaskan disini adalah pada aspek psikologis dan sosial (Badwilan, 2004) :
1. Aspek Psikologis
Banyaknya pesan melalui SMS yang berisi ajakan-ajakan bersifat rasisme dapat mempengaruhi kondisi psikologis seseorang. Contohnya yang marak ditemukan adalah pesan yang berisi pemboikotan barang produksi Amerika. Selain itu juga terdapat peredaran pesan teks, gambar, maupun video yang bersifat pornografi. Mudahnya akses keluar-masuk pesan tersebut melalui ponsel membawa dampak negatif, terutama untuk generasi muda sekarang ini.
2. Aspek Sosial
Salah satu hal yang sering terjadi adalah tindakan seseorang yang membiarkan ponsel miliknya tetap dalam keadaan hidup atau aktif sehingga mengeluarkan bunyi yang nyaring. Hal ini jelas mengganggu konsentrasi serta mengejutkan orang-orang disekitarnya. Seperti ketika sedang rapat bisnis, di rumah sakit, sedang di tempat-tempat ibadah, dan lain-lain. Selain itu penggunaan ponsel sebagai media komunikasi tidak langsung dapat menurunkan kualitas dan kuantitas dari komunikasi secara langsung (tatap muka). Sering terjadi kesalah pahaman dalam pemaknaan pesan melalui komunikasi secara tidak langsung.
2.1.2 Interaksi Sosial
Definisi dan Bentuk Interaksi Sosial
Menurut Soekanto (2002), interaksi sosial adalah bentuk-bentuk yang tampak apabila orang-orang perorangan ataupun kelompok-kelompok manusia mengadakan hubungan satu sama lain terutama dengan mengetengahkan kelompok serta lapisan sosial sebagai unsur pokok struktur sosial. Interaksi sosial dapat dipandang sebagai dasar proses-proses sosial yang ada, menunjuk pada hubungan-hubungan sosial yang dinamis.
Interaksi sosial adalah suatu hubungan antar dua atau lebih individu manusia, dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain (Gerungan, 2004). Kelangsungan interaksi sosial ini, sekalipun dalam bentuknya yang sederhana, tenyata merupakan proses yang kompleks. Sedangkan Tubbs dan Moss dalam bukunya
Human Communication (2001), suatu interaksi sosial diartikan sebagai suatu
sistem sosial dua orang atau lebih yang dilengkapi dengan beberapa aturan dan harapan, serta beberapa ganjaran dan hukuman yang berlaku diantaranya.
Gea, Wulandari, dan Babari (2003) melihat suatu kebutuhan berinteraksi manusia dimana setiap orang membutuhkan hubungan sosial dengan orang-orang lainnya. Kebutuhan ini terpenuhi melalui pertukaran pesan yang berfungsi sebagai jembatan untuk mempersatukan manusia yang satu dengan lainnya, yang tanpa berkomunikasi akan terisolasi.
Mengenai interaksi yang terjalin tersebut, yang dianggap paling ideal adalah secara tatap muka (langsung). Interaksi tatap muka lebih memungkinkan suatu proses yang bersifat dinamis dan timbal balik secara langsung. Selain itu menurut Morey (2004), pertukaran informasi secara tatap muka dapat mempercepat proses saling mempengaruhi antara pihak-pihak yang berinteraksi didalamnya. Sedangkan menurut Soekanto (2002), suatu interaksi sosial tidak akan mungkin terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat, yaitu :
1. Adanya kontak sosial (social-contact) 2. Adanya komunikasi
Kontak dan Komunikasi
Kata kontak berasal dari bahasa Latin con atau cum (yang artinya bersama- sama) dan tango (yang artinya menyentuh), jadi artinya secara harafiah adalah bersama-sama menyentuh. Tetapi secara gejala sosial, kontak tidak perlu berarti suatu hubungan badaniah. Seperti pada perkembangan teknologi dewasa ini
orang-orang dapat berhubungan satu dengan yang lainnya melalui telepon, telegrap, radio, surat, dan seterusnya (Soekanto, 2002).
Kontak dapat bersifat primer maupun sekunder. Kontak primer terjadi apabila yang mengadakan hubungan langsung bertemu dan berhadapan muka atau face-to-face (berjabat tangan, saling senyum, dll). Sebaliknya, kontak sekunder
memerlukan suatu perantara. Hubungan-hubungan sekunder tersebut dapat dilakukan melalui perantara seperti telepon, telegrap, radio, surat dll.
Mengenai komunikasi dapat dilihat secara bahasa, yakni berasal dari kata Latin kommunicatio yang artinya hal memberitahukan, hal memberi bagian dalam, atau pertukaran. Secara lebih sempit dapat diartikan sebagai pesan yang dikirimkan seseorang kepada satu atau lebih penerima dengan maksud sadar untuk mempengaruhi tingkah laku si penerima (Gea, Wulandari, dan Babari, 2003).
Menurut Soekanto (2002), menyatakan bahwa komunikasi adalah ketika seseorang memberikan tafsiran pada perilaku orang lain (yang berwujud pembicaraan, gerak-gerik badaniah atau sikap), perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. Dengan begitu orang yang bersangkutan kemudian akan memberikan reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang lain tersebut.
Gea, Wulandari, dan Babari (2003) menggambarkan suatu komunikasi yang efektif apabila si penerima pesan menginterpretasikan pesan yang diterimanya sebagaimana dimaksudkan oleh pengirim pesan. Salah satu cara terbaik untuk memastikan bahwa pesan yang diberikan benar-benar diterima secara tepat sebagaimana yang dimaksud adalah dengan mendapatkan umpan balik pesan tersebut. Umpan balik adalah proses yang memungkinkan seorang
pengirim mengetahui bagaimana pesan yang dikirimkannya telah ditangkap oleh si penerima atau tidak. Selain itu cara seseorang mendengarkan dan menanggapi lawan bicara juga sangatlah penting dalam berkomunikasi. Memberikan tanggapan penuh pemahaman dalam mendengarkan dapat menghindari kecenderungan kesalahpahaman komunikasi antara pihak terkait.
Menurut Sarwono (2002) dari berbagai jenis komunikasi yang ada, komunikasi antar manusia yang langsung (bertatap muka) adalah yang efektif serta paling lengkap mengandung berbagai aspek psikologis. Aspek tersebut antara lain :
1. Tatap muka itu sendiri yang membedakannya dengan komunikasi jarak jauh atau komunikasi menggunakan alat.
Dalam komunikasi tatap muka ada peran yang harus dijalankan oleh masing-masing pihak (pemberi informasi-penerima informasi, ibu-anak, ayah-anak, suami-istri, guru-murid dan lain-lain) dan ditunjukkan dengan jelas
2. Adanya hubungan dua arah secara langsung
Dengan adanya pertukaran pesan dalam komunikasi tatap muka, terjadi saling pengertian akan makna atau arti pesan. Jadi dalam komunikasi ini yang penting bukanlah pesannya semata, melainkan arti (meaning) dari pesan tersebut.
3. Adanya niat, kehendak, atau intensi dari kedua belah pihak
Hal tersebut akan mempercepat proses adanya saling pengertian secara kognitif dalam komunikasi antar manusia.
Komunikasi yang dilakukan secara tidak langsung (memerlukan perantara, seperti telepon, telegrap, radio, surat dll.) mempunyai dampak yang berbeda dengan komunikasi secara langsung (tatap muka). Menurut Gea, Wulandari, dan Babari (2003), komunikasi tidak langsung dapat menyebabkan timbulnya kegagalan untuk saling berkomunikasi (hambatan-hambatan), dalam arti si penerima menangkap makna pesan berbeda dari yang dimaksud oleh si pengirim.
Hambatan-hambatan tersebut antara lain :
1. Gagal menangkap maksud konotatif di balik maksud seseorang
2. Hanya mengartikan kata atau kalimat secara murni dan tidak mengembangkan pemahamannya
3. Kesalahpahaman atau distorsi dalam komunikasi
4. Adanya gangguan fisik, misalnya gangguan suara pada telepon, hasil cetakan yang tidak baik, tampilan layar yang kurang jelas (kabur), desain format yang tidak baik, dan lain-lain.
Dalam menilai kualitas komunikasi antar manusia, DeVito (1997) mengatakan bahwa komunikasi antar manusia dapat berbeda-beda. Hal ini dapat dilihat menurut keluasannya atau breadth (banyaknya atau jenis-jenis topik yang dibicarakan) dan kedalamannya atau depth (derajat “kepersonalan” atau inti dalam membicarakan topik itu). Sedangkan menurut penelitian Mardiyanti (1996), secara garis besar terdapat beberapa hal yang dapat dilihat dalam kaitannya dengan kontak sosial dan komunikasi sebagai pengukuran dari interaksi secara langsung (tatap muka), antara lain adalah minat, frekuensi, ruang lingkup rekan- rekan, jenis dan banyaknya topik pembicaraan, tempat melakukan kegiatan,
kedalaman komunikasi serta pola dari interaksi itu sendiri (asosiatif dan disosiatif).
2.1.3 Remaja
Definisi dan Rentangan Usia Remaja
Istilah Adolescence atau remaja berasal dari kata latin adolescere yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa”. Istilah ini mempunyai arti yang lebih luas, mencangkup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik (Hurlock, 1980). Apabila digolongkan sebagai anak-anak maka golongan remaja sudah melewati masa tersebut, tetapi bila digolongkan dengan orang dewasa juga masih belum sesuai. Oleh karena itu banyak istilah golongan remaja ini dirasakan tumpang tindih pengertiannya. Istilah lain yang sering digunakan adalah menurut Rumini dan Sundari H.S (2004), dimana masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek atau fungsi untuk memasuki masa dewasa.
Hurlock (1980) juga menambahkan definisi masa remaja dengan menggunakan ciri-ciri tertentu yang dapat membedakannya dengan periode sebelum dan sesudahnya, yaitu : Masa remaja sebagai periode yang penting, masa remaja sebagai periode peralihan, masa remaja sebagai periode perubahan, masa remaja sebagai usia yang bermasalah, masa remaja sebagai masa mencari identitas, masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan, masa remaja sebagai masa yang tidak realistik, dan yang terakhir yaitu masa remaja sebagai ambang masa dewasa.
Menurut Mappiare dalam bukunya Psikologi Remaja (1982), dapat disimpulkan bahwa secara teoritis dan empiris dari segi psikologis, rentangan usia remaja berada dalam usia 12 tahun sampai 21 tahun bagi wanita, dan 13 sampai 22 tahun bagi pria. Jika dibagi atas remaja awal dan remaja akhir, maka remaja awal berada dalam dalam usia 12/13 tahun sampai 17/18 tahun, dan remaja akhir dalam rentangan usia 17/18 tahun sampai 21/22 tahun.
Lingkungan Sosial Remaja
Menurut Gea, Wulandari, dan Babari (2003), lingkungan sosial yang paling dekat serta berpengaruh dalam kehidupan remaja adalah lingkungan sosial awal, yakni keluarga. Lalu kemudian dilanjutkan dengan lingkungan sebayanya, yang terdiri dari kelompok pertemanan atau kelompok permainan (sahabat).
Keluarga adalah lingkungan yang paling utama dimana kita mengalami kedekatan dan kebersamaan yang sangat intensif, serta lingkungan tempat kita menjalani proses sosialisasi berbagai nilai dasar kemanusiaan. Menurut Soekanto (2002), orang tua dan saudara melakukan sosialisasi yang biasa diterapkan melalui kasih sayang. Atas dasar kasih sayang tersebut, seorang individu dididik untuk mengenal nilai-nilai tertentu. Menurut Hurlock (1980), konsep hubungan keluarga mempengaruhi konsep diri remaja dimana seorang remaja yang mempunyai hubungan erat dengan seorang anggota keluarga akan mengidentifikasikan diri dengan orang lain dan ingin mengembangkan pola kepribadian yang sama.
Menurut Mappiare (1982), kelompok teman sebaya merupakan lingkungan sosial pertama dimana remaja belajar untuk hidup bersama dengan orang lain yang bukan anggota keluarganya. Didalamnya timbul persahabatan yang
merupakan ciri khas pertama dan sifat interaksinya dalam pergaulan. Manfaat penting dari adanya persahabatan dalam masa remaja ini adalah mereka dapat bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama dan mengisi waktu luang. Lebih penting lagi, bahwa dalam persahabatan itu remaja dapat merasa dibutuhkan, dihargai dan dengan demikian mereka dapat merasa adanya kepuasan dalam interaksi sosialnya (Mappiare, 1982).
Perilaku Remaja
Suatu perilaku (behavior) yang merupakan cara bertindak dapat dipandang sebagai reaksi yang bersifat sederhana maupun yang bersifat kompleks (Azwar, 2003). Sebagai mahkluk sosial, perilaku remaja banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor baik dari dalam diri remaja itu sendiri maupun dari lingkungannya.
Menurut Kurt Lewin dalam Azwar (2003), perilaku adalah fungsi karakteristik individu dan lingkungan. Karakteristik individu meliputi berbagai variabel seperti motif, nilai-nilai, sifat kepribadian, dan sikap yang saling berinteraksi satu sama lain dan kemudian berinteraksi pula dengan faktor-faktor lingkungan dalam menentukan perilaku. Sedangkan menurut Rakhmat (2001), terdapat dua faktor yang mempengaruhi perilaku manusia yaitu :
1. Faktor-faktor personal, yaitu faktor biologis dan faktor sosio-psikologis 2. Faktor-faktor situasional, yaitu faktor ekologis, faktor rancangan dan
arsitektural, faktor temporal, suasana perilaku, teknologi, faktor-faktor sosial, dan lingkungan psiko-sosial.
Kompleksitas perilaku remaja telah menjadi bahasan yang penting, terutama memahami perilaku remaja dalam lingkungan sosialnya, memahami
motivasi perbuatan dan mencoba meramalkan respon remaja agar dapat memperlakukan sesama manusia dengan sebaik-baiknya (Hurlock, 1980).
Perilaku terhadap suatu obyek dapat dilihat dari beberapa dimensi (Calhoun, 1995), yaitu :
1. Frekuensi
Menunjukkan jumlah atau kuantitas dari perilaku seseorang 2. Kepada siapa berperilaku
Perilaku yang dilakukan tidak hanya ditujukan untuk diri sendiri tetapi juga ditujukan bagi orang lain
3. Untuk apa
Perilaku yang dilakukan seseorang itu mempunyai manfaat atau tujuan baik untuk dirinya sendiri maupun bagi orang lain
4. Bagaimana
Menunjukkan upaya atau cara yang dilakukan oleh seseorang dalam berperilaku untuk mencapai tujuan yang diinginkan
Perilaku remaja juga berkaitan dengan minat mereka terhadap keberadaan media massa yang termasuk pada minat rekreasi. Menurut Hurlock (1980) minat rekreasi tersebut juga sangat dipengaruhi oleh derajat kepopulerannya. Beberapa bentuk rekreasi yang digemari remaja saat ini antara lain mendengarkan radio dan kaset, menonton televisi, serta membaca. Selain itu perilaku remaja yang menonjol terletak pada nilai kemandiriannya. Mereka cenderung melepaskan diri dengan lingkungan sosial, terutama dengan lingkungan keluarganya sendiri (Hurlock, 1980).
Remaja laki-laki dengan perempuan juga terdapat perbedaan-perbedaan dalam perilakunya. Remaja perempuan cenderung memiliki tingkat keintiman yang dalam dengan orang-orang sekitarnya dibanding dengan remaja laki-laki.
Hal ini dikarenakan remaja laki-laki ingin menunjukkan kemandirian yang lebih dan adanya jarak dengan sekitarnya (Hurlock, 1980). Selain itu menurut Apriyanti (2005) secara spesifik mengemukakan remaja putri lebih banyak membutuhkan sejumlah barang-barang baru yang perlu dibeli dan juga barang-barang baru yang disesuaikan dengan kebutuhannya.
2.2 Kerangka Pemikiran
Ponsel merupakan salah satu perkembangan teknologi komunikasi paling aktual di Indonesia selama lebih dari lima tahun terakhir. Ponsel disamping memiliki fungsi utama sebagai alat komunikasi, juga dapat digunakan sebagai sarana bisnis, penyimpan berbagai macam data, sarana musik atau hiburan, bahkan sebagai alat dokumentasi. Dalam hal ini pengguna ponsel terbesar merupakan kelompok remaja perkotaan, terutama pada pulau Jawa. Respon kelompok remaja terhadap keberadaan ponsel cukup tinggi, walaupun belum tentu penggunaan ponsel tersebut dimanfaatkan seluruhnya secara optimal dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Tingkat penggunaan ponsel pada remaja diduga dapat dipengaruhi oleh beberapa karakteristik, antara lain karakteristik yang berkaitan dengan diri individu (internal) maupun yang berkaitan dengan lingkungannya (eksternal).
Karakteristik internal mencangkup jenis kelamin, status ekonomi keluarga, tujuan penggunaan ponsel serta aktivitas-aktivitas atau kegiatan yang dilakukan oleh
remaja tersebut. Karakteristik eksternal mencangkup pengaruh dari teman-teman dekat remaja serta terpaan media (media exposure) massa.
Jenis kelamin diduga dapat mempengaruhi tingkat penggunaan ponsel, karena remaja putri cenderung memiliki gaya hidup dan pola konsumtif yang tinggi dalam melihat setiap perkembangan ponsel yang ada dibandingkan remaja putra. Selain itu remaja putri juga cenderung sering dan intens berkomunikasi melalui ponsel dengan sesamanya, dimana dalam komunikasi yang berlangsung tersebut biasanya banyak hal-hal yang dibicarakan. Status ekonomi keluarga diduga dapat mempengaruhi tingkat penggunaan ponsel, karena terdapat biaya- biaya yang harus disediakan oleh para pengguna ponsel. Semakin tinggi pendapatan orang tua tiap bulannya yang menggambarkan status ekonomi dalam keluarga diduga dapat meningkatkan penggunaan ponsel pada remaja, yang pada akhirnya dapat meningkatkan biaya pengeluaran setiap bulannya.
Tujuan dalam menggunakan ponsel diduga dapat mempengaruhi tingkat penggunaan ponsel, karena dengan tujuan yang berbeda dapat menyebabkan perbedaan pula remaja menggunakan ponselnya. Aktivitas-aktivitas yang diikuti remaja diduga dapat mempengaruhi tingkat penggunaan ponsel, karena dengan semakin banyak aktivitas atau kegiatan yang dilakukan dapat menunjukkan bahwa remaja tersebut memiliki mobilitas yang tinggi (di dalam maupun di luar sekolah).
Diduga hal tersebut dapat meningkatkan penggunaan ponsel sebagai alat komunikasi dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Pengaruh teman dekat diduga dapat mempengaruhi tingkat penggunaan ponsel, karena pada masa remaja inilah kelompok persahabatan atau teman sebaya merupakan lingkungan sosial yang memegang peranan penting dalam sosialisasi
remaja. Hal tersebut menyebabkan remaja dalam menggunakan ponselnya akan melihat dan bergantung pada lingkungan teman sebayanya. Terpaan media massa diduga dapat mempengaruhi tingkat penggunaan ponsel, karena melalui media massa (cetak maupun elektronik) tersebut remaja memperoleh berbagai informasi mengenai perkembangan ponsel. Semakin sering frekuensi dan beragam jenis media massa tentang ponsel yang diterpa oleh remaja diduga mempunyai pengaruh penting, disamping pengaruh dari teman dekat remaja tersebut.
Tingkat penggunaan ponsel pada remaja dapat dilihat melalui empat hal, yaitu frekuensi penggunaan, pemanfaatan fasilitas, tingkat biaya pengeluaran, dan pihak yang diajak berkomunikasi. Selanjutnya tingkat penggunaan teknologi komunikasi ponsel tersebut sebagai pengaruh dari luar masyarakat diduga dapat mempengaruhi interaksi sosial pada remaja tersebut. Penggunaan ponsel sebagai alat komunikasi seharusnya dapat meningkatkan interaksi sosial remaja dengan lingkungannya. Tetapi diduga justru dapat menurunkan interaksi tatap muka antara remaja dengan lingkungan sosialnya, yang terdiri dari lingkungan keluarga dan lingkungan persahabatan (teman sebaya).
Interaksi sosial remaja secara tatap muka itu sendiri dilihat dari lamanya waktu serta intensitas (tingkat keluasan atau banyaknya topik pembicaraan) interaksi tatap muka. Berdasarkan literatur-literatur yang telah dibahas, maka dapat dirumuskan suatu kerangka pemikiran sebagai berikut (Gambar 2) :
Keterangan : Mempengaruhi
Gambar 2. Kerangka Pemikiran
2.3 Hipotesis
Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah dirumuskan, maka dapat disusun hipotesis penelitian sebagai berikut :
1. Diduga remaja memiliki tingkat penggunaan ponsel yang cenderung tinggi 2. Diduga karakteristik internal mempengaruhi penggunaan ponsel pada
remaja
Tingkat Penggunaan Ponsel Pada Remaja:
- Frekuensi penggunaan - Pemanfaatan fasilitas - Tingkat biaya pengeluaran - Pihak yang diajak berkomunikasi
Interaksi Sosial Remaja (Tatap muka) : - Waktu interaksi
- Intensitas interaksi
Karakteristik Eksternal : - Tingkat pengaruh teman
dekat
- Tingkat terpaan media (media exposure) massa Karakteristik Internal :
- Jenis kelamin - Tingkat status
ekonomi keluarga - Tujuan penggunaan
ponsel
- Tingkat aktivitas
3. Diduga karakteristik eksternal mempengaruhi penggunaan ponsel pada remaja
4. Diduga penggunaan ponsel pada remaja mempengaruhi interaksi sosial remaja
2.4 Definisi Operasional
Variabel-variabel yang dikemukakan dalam penelitian ini diukur dengan merumuskan batasan dari masing-masing variabel terlebih dahulu. Adapun variabel-variabel tersebut adalah :
1. Karakteristik internal adalah karakteristik yang mencirikan responden dan berkaitan dengan diri individu. Terdiri dari jenis kelamin, status ekonomi keluarga, tujuan responden dalam menggunakan ponselnya, serta tingkat aktivitas.
2. Jenis kelamin adalah perbedaan identitas seks responden berdasarkan aspek biologis. Dibagi menjadi kategori (skala nominal) :
a. Laki-laki b. Perempuan
3. Tingkat status ekonomi keluarga adalah status dari keluarga responden dalam masyarakat yang dilihat melalui penghasilan orang tua (ayah dan ibu) responden setiap bulannya. Dibagi menjadi kategori (skala ordinal) :
a. Status ekonomi keluarga tinggi, apabila penghasilan orang tua
>Rp. 6.000.000,-
b. Status ekonomi keluarga sedang, apabila penghasilan orang tua antara Rp. 3.000.000,- hingga Rp. 6.000.000,-
c. Status ekonomi keluarga rendah, apabila penghasilan orang tua
<Rp. 3.000.000,-
4. Tujuan penggunaan ponsel adalah tujuan menurut responden dari berbagai kegiatan yang dilakukan dengan menggunakan ponsel. Dibagi menjadi kategori (skala nominal) :
a. Untuk informasi yang penting dan mendesak (urgent) b. Untuk bersosialisasi dan urusan sekolah/les/kursus c. Untuk hiburan atau pemenuhan hobi
Kategori (a) merupakan tujuan penggunaan ponsel menurut responden untuk memberikan informasi atau kabar yang sangat penting (kerabat sakit, kecelakaan, meninggal, mengadakan suatu perayaan, dan lain-lain) yang harus disampaikan dengan cepat dan langsung. Kategori (b) merupakan tujuan penggunaan ponsel menurut responden untuk berhubungan dengan lingkungan sosialnya dan mengenai kegiatan atau aktivitasnya sehari-hari. Kategori (c) merupakan tujuan penggunaan ponsel menurut responden untuk sekedar hiburan atau hal yang tidak bersifat urgent, untuk mengisi waktu luang dan memenuhi hobinya.
5. Tingkat aktivitas adalah banyaknya aktivitas atau kegiatan yang dilakukan oleh responden, baik di dalam maupun di luar sekolah (masing-masing 5 jenis kegiatan). Aktivitas ini dibagi menjadi dua yaitu aktivitas di dalam sekolah (ekstrakurikuler olahraga, musik, organisasi sekolah) dan aktivitas di luar sekolah (bimbingan belajar, kursus bahasa asing, kursus musik, perkumpulan/organisasi remaja).
Pengukuran tingkat aktivitas ini menggunakan skor yaitu sangat aktif (3), aktif (2), kurang aktif (1), serta tidak aktif (0). Dibagi menjadi kategori (skala ordinal) :
a. Aktivitas tinggi, total skor 21-30 b. Aktivitas sedang, total skor 11-20 c. Aktivitas rendah, total skor ≤ 10
6. Karakteristik eksternal adalah karakteristik yang mencirikan responden dan berkaitan dengan lingkungannya, terdiri dari pengaruh teman dekat serta terpaan media massa.
7. Tingkat pengaruh teman dekat adalah pengaruh dari teman dekat responden dan khususnya yang berkaitan dengan penggunaan ponsel oleh responden. Pengukuran tingkat pengaruh teman dekat ini terdiri dari 4 butir pertanyaan, masing-masing 3 pilihan jawaban. Dengan skor yaitu pengaruh kuat (3), sedang (2), serta kecil (1). Dibagi menjadi kategori (skala ordinal) :
a. Pengaruh dari teman dekat kuat, total skor 10-12 b. Pengaruh dari teman dekat sedang, total skor 7-9 c. Pengaruh dari teman dekat kecil, total skor 4-6
8. Tingkat terpaan media (media exposure) massa adalah frekuensi responden dalam menerima informasi tentang ponsel melalui berbagai media, baik media cetak maupun elektronik (6 jenis media : televisi, radio, koran, majalah/tabloid, brosur/selebaran dan internet). Pengukuran tingkat terpaan media informasi ini menggunakan skor yaitu sering (3), kadang-
kadang/jarang (2), tidak pernah (1). Dibagi menjadi kategori (skala ordinal) :
a. Terpaan media massa tinggi, total skor 15-18 b. Terpaan media massa sedang, total skor 10-14 c. Terpaan media massa rendah, total skor 6-9
9. Tingkat penggunaan ponsel adalah suatu suatu tingkat yang menunjukkan perilaku penggunaan ponsel oleh responden dan terdiri dari ; (1) frekuensi penggunaan, (2) pemanfaatan fasilitas, (3) tingkat biaya pengeluaran, dan (4) pihak-pihak yang diajak berkomunikasi. Pengukuran tingkat penggunaan ponsel dengan melihat akumulasi skor keempat variabel tersebut (7 butir pertanyaan). Dibagi menjadi kategori (skala ordinal) :
a. Penggunaan ponsel tinggi, total skor 29-42 b. Penggunaan ponsel sedang, total skor 15-28 c. Penggunaan ponsel rendah, total skor ≤ 14
10. Frekuensi penggunaan adalah tingkat keseringan responden yang berkaitan dengan penggunaan atau pemakaian ponselnya. Pengukuran frekuensi penggunaan ponsel ini terdiri dari 3 butir pertanyaan, masing-masing 4 pilihan jawaban. Dengan skor yaitu frekuensi tinggi (3), sedang (2), serta rendah (1 dan 0). Dibagi menjadi kategori (skala ordinal) :
a. Frekuensi penggunaan ponsel tinggi, total skor 7-9 b. Frekuensi penggunaan ponsel sedang, total skor 4-6 c. Frekuensi penggunaan ponsel rendah, total skor ≤ 3
11. Pemanfaatan fasilitas adalah pemanfaatan fasilitas-fasilitas yang terdapat pada ponsel yang dilakukan oleh responden (8 jenis fasilitas : telepon,
SMS, MMS, kamera, video, permainan, radio/MP3, dan internet).
Pengukuran pemanfaatan fasilitas ini menggunakan skor yaitu sering (3), kadang-kadang/jarang (2), tidak pernah (1). Dibagi menjadi kategori (skala ordinal) :
a. Pemanfaatan ponsel tinggi, total skor 18-24 b. Pemanfaatan ponsel sedang, total skor 14-18 c. Pemanfaatan ponsel rendah, total skor 8-13
12. Tingkat biaya pengeluaran adalah biaya yang dikeluarkan oleh responden berkaitan dengan penggunaan ponselnya tiap bulan. Dibagi menjadi kategori (skala ordinal) :
a. Biaya pengeluaran tinggi (skor 3), apabila > Rp. 300.000,-
b. Biaya pengeluaran sedang (skor 2), apabila Rp. 150.000,- hingga Rp. 300.000,-
c. Biaya pengeluaran rendah (skor 1), apabila < Rp. 150.000,-
13. Pihak yang diajak berkomunikasi adalah pihak-pihak yang berada dalam lingkungan sosial responden dan yang paling sering diajak berkomunikasi melalui ponsel. Dibagi menjadi kategori (skala nominal) :
a. Keluarga
b. Teman/pacar
c. Lainnya
14. Interaksi sosial adalah interaksi secara tatap muka yang terjadi antara responden dengan lingkungan sosialnya dan dilihat dari ; (1) waktu interaksi serta (2) intensitas interaksi. Pengukuran interaksi sosial dengan
melihat akumulasi skor kedua variabel tersebut (5 butir pertanyaan).
Dibagi menjadi kategori (skala ordinal) : a. Interaksi sosial dekat, total skor 12-15 b. Interaksi sosial sedang, total skor 9-11 c. Interaksi sosial renggang, total skor 5-8
15. Waktu interaksi adalah lamanya waktu yang digunakan untuk melakukan interaksi tatap muka antara responden dengan lingkungan sosial mereka, terdiri dua yaitu dengan (1) keluarga; (2) teman/pacar. Dibagi menjadi kategori (skala ordinal) :
a. Waktu interaksi tatap muka tinggi (skor 3) b. Waktu interaksi tatap muka sedang (skor 2) c. Waktu interaksi tatap muka rendah (skor 1)
16. Intensitas interaksi adalah tingkat keluasan interaksi tatap muka yang terjadi pada responden dengan lingkungan sosial mereka. Diukur berdasarkan banyaknya jenis topik yang dibicarakan didalamnya, yaitu :
1. Pendidikan dan pekerjaan di masa mendatang 6. Hobi 2. Keluarga dan agama 7. Film/musik
3. Uang 8. Trend/mode
4. Hubungan dengan sesama teman/pacar 9. Gosip
5. Seks
Intensitas interaksi tatap muka dibagi menjadi kategori (skala ordinal) : a. Interaksi tatap muka sangat intens (skor 3), apabila jenis
pembicaraan sebanyak > 6
b. Interaksi tatap muka cukup intens (skor 2), apabila jenis pembicaraan sebanyak 4-6
c. Interaksi tatap muka tidak intens (skor 1), apabila jenis pembicaraan sebanyak < 4
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis deskriptif korelasional. Penelitian deskriptif korelasional dapat memastikan berapa besar pengaruh yang disebabkan oleh satu variabel dalam hubungannya dengan variasi yang disebabkan oleh variabel lain (Rakhmat, 2005). Pendekatan penelitian adalah kuantitatif. Data yang digunakan dalam penelitian adalah data kuantitatif yang didukung oleh data kualitatif. Data kuantitatif dilakukan dengan metode survei, yaitu melalui kuisioner sebagai instrumen utama penelitian. Sedangkan data kualitatif sebagai pendukung penelitian melalui wawancara untuk mendapatkan keterangan tambahan dari responden.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Sekolah Menengah Umum Negeri (SMUN) 68 Salemba, Jakarta Pusat, DKI Jakarta. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) berdasarkan pertimbangan bahwa SMUN 68 merupakan salah satu SMUN yang terletak di pusat kota dengan sampel yang tergolong dalam keluarga berkecukupan sehingga memiliki asumsi bahwa banyak sampel yang sudah memiliki ponsel dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari mereka. Hal ini disesuaikan dengan hasil penelitian Pattiradjawane (2005) yang menunjukkan bahwa pengguna ponsel terbesar di Indonesia merupakan kelompok remaja perkotaan di pulau Jawa.
Waktu pelaksanaan penelitian dilakukan pada 2 tahap. Tahap pertama yaitu pengumpulan data pada bulan April-Mei 2006, dimana sebelumnya dilakukan studi penjajagan lapang terlebih dahulu. Sedangkan pada tahap kedua yaitu pengolahan data sampai penyelesaian draft skripsi pada Juni-Agustus 2006.
3.3 Penentuan Sampel
Unit analisis penelitian adalah individu sedangkan populasi penelitian adalah remaja SMUN 68. Hal ini berdasarkan pertimbangan bahwa SMU merupakan tempat sosialisasi utama para remaja dengan lingkungan sosial mereka (selain keluarga). Sampel penelitian ini adalah remaja (laki-laki dan perempuan) SMUN 68 yang menggunakan ponsel. Pengambilan sampel penelitian ditentukan dengan sengaja (purposive) secara accidental sampling. Populasi dibagi dalam kelas-kelas SMUN 68 (kelas X, XI, XII) dan masing-masing sejumlah 16 orang (8 laki-laki dan 8 perempuan). Jumlah sampel secara keseluruhan yang diambil sebanyak 48 orang (24 laki-laki dan 24 perempuan).
Pengambilan sampel secara sengaja (purposive) ini dikarenakan padatnya jadwal akademik SMUN 68 serta menjelang ujian akhir (terutama untuk kelas XII) pada bulan April hingga Mei, sehingga peneliti diberikan keterbatasan oleh pihak sekolah untuk mencari responden. Untuk populasi yang berjumlah besar dan sulit untuk menemukan sampel secara individual melalui metode acak, maka dapat dilakukan secara accidental atau diketemukan seadanya (Singarimbun, 1989). Penelitian ini juga dapat dikatakan sebagai penelitian atau studi pendahuluan, sehingga tidak dimaksudkan untuk menggeneralisasikan secara
meluas dan membutuhkan penelitian-penelitian berikutnya untuk mengkaji lebih lanjut.
3.4 Metode Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari responden melalui pengisian kuisioner dan hasil wawancara. Kuisioner dan wawancara berisi sejumlah pertanyaan dan pernyataan yang berkaitan dengan karakteristik responden (internal maupun eksternal), tingkat penggunaan ponsel dan interaksi sosial yang terjadi. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui dokumentasi Kantor SMUN 68 Salemba, Jakarta Pusat, DKI Jakarta. Hal ini guna memenuhi kebutuhan untuk informasi mengenai gambaran umum lokasi penelitian.
3.5 Metode Pengolahan dan Analisis Data
Data primer yang telah terkumpul dibuat dalam bentuk tabel kemudian dilakukan analisis secara statistik. Hasil dari analisis tersebut diinterpretasikan untuk memperoleh kesimpulan atau fakta yang terjadi. Data kuantitatif diuji dengan menggunakan uji statistik non-parametrik melalui uji chi-kuadrat (chi- square) untuk antar variabel dengan skala nominal, sedangkan data dengan skala
ordinal diolah dengan menggunakan uji Spearman. Pengolahan data tersebut dilakukan dengan menggunakan komputer melalui program SPSS for windows versi 12.0. Hal ini dilakukan guna ketepatan, kecepatan proses perhitungan dan kepercayaan hasil pengujian. Sedangkan data hasil wawancara digunakan sebagai ilustrasi untuk melengkapi hasil statistik tersebut.
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN
4.1 Sekolah Menengah Umum Negeri 68
Sekolah Menengah Umum Negeri (SMUN) 68 terletak di Jalan Salemba Raya No. 18, Kelurahan Salemba, Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta. Lokasi SMUN 68 berada dalam kompleks pendidikan Salemba, yang juga terdapat SLTP 216, SDN Kenari dan Gedung Pertemuan (Menza). Kompleks ini termasuk wilayah pusat perkotaan dimana sekelilingnya terdapat bangunan- bangunan penting, seperti Departemen Sosial, Perpustakaan Nasional, Hotel Atlantic, Salemba Residence, Kampus Universitas Indonesia (UI) Salemba,
Rumah Sakit CiptoMangunkusumo (RSCM), Rumah Sakit Carolus, dan lain-lain.
Bagian depan kompleks pendidikan Salemba juga terlihat beberapa sentra pulsa yang menyediakan jenis pulsa yang lengkap dan cukup bervariasi.
SMUN 68 merupakan salah satu SMUN unggulan dan favorit wilayah Jakarta Pusat, serta dengan segala kelengkapan fasilitas yang memadai dan diakui.
SMUN 68 terdiri dari 4 lantai, seluruh ruang belajar-mengajar maupun ruangan lainnya menggunakan AC, lahan parkir (dalam dan samping) yang nyaman, dan didukung dengan lingkungan kompleks yang asri dan indah.
SMUN 68 pada tahun ajaran 2005/2006 terdiri dari 8 kelas X (ada 1 kelas bertaraf internasional), 8 kelas XI (5 kelas IPA dan 3 kelas IPS), begitu juga kelas XII yang jumlahnya sama dengan kelas XI. Total jumlah siswa seluruhnya pada
tahun ajaran ini sebanyak 1032 orang, dengan jumlah laki-laki sebanyak 432 orang dan perempuan sebanyak 600 orang.
Responden yang termasuk dalam penelitian ini adalah 48 siswa laki-laki maupun perempuan SMUN 68 yang menggunakan ponsel. Responden dibagi sama rata antara laki-laki dan perempuan yaitu masing-masing berjumlah 24 orang (kelas X, XI, XII). Hal tersebut dilakukan untuk melihat perbandingan kedua jenis kelamin secara seimbang dalam hal pengaruhnya terhadap tingkat penggunaan ponsel pada remaja.
Waktu berlangsungnya kegiatan belajar-mengajar SMUN 68 yaitu pada hari senin sampai kamis pukul 07.00 WIB sampai pukul 15.30 WIB, sedangkan untuk hari jumat pukul 07.00 WIB sampai pukul 11.30 WIB. Khusus hari sabtu hanya untuk kegiatan ekstrakurikuler, praktikum dan pelajaran tambahan saja.
Dalam hal biaya, SMUN 68 membebankan biaya SPP sebesar Rp. 201.000,00- setiap bulannya kepada seluruh siswa kelas biasa dan Rp. 2.000.000,00- kepada siswa khusus kelas internasional.
SMUN 68 memiliki organisasi sekolah (OSIS) serta berbagai kegiatan ekstrakurikuler. OSIS SMUN 68 dipimpin oleh seorang ketua, dibantu oleh 2 orang wakil ketua, 2 orang bendahara, 3 orang sekretaris dan 8 orang ketua bidang.
Selain itu terdapat MPK (Majelis Permusyawaratan Kelas) yang dipimpin oleh seorang ketua dan dibantu oleh wakil serta sekretaris. Kegiatan ekstrakurikuler SMUN 68 terdiri dari estrakurikuler olahraga, seni dan musik, kegiatan rohani dan ekstrakurikuler lainnya (Tabel 1).
Tabel 1. Kegiatan-Kegiatan Ekstrakurikuler Pada SMUN 68, Sampai Tahun Ajaran 2005/2006
No. Jenis Kegiatan Ekstrakurikuler
1. Olahraga Basket, Voli, Bola (Futsal), Baseball dan Softball, Taekwondo, Perisai Diri, Dance
2. Seni dan musik Vokal, M-Brass, TOSLA (Teater Olah Seni) Band, Baron (Fotografi), Cheers, Drama
3. Kegiatan Rohani Rohis (Rohani Islam), SRP (Sie Rohani Protestan), SRK (Sie Rohani Katolik)
4. Lainnya ELPALA (Enam’Lapan Pencinta Alam), KIR (Karya Ilmiah Remaja), JGC (Jakarta Green Centre), PMR (Palang Merah Remaja), Pramuka, Execom (Komputer)
SMUN 68 memiliki berbagai macam prestasi akademik dan non-akademik yang cukup membanggakan. Pada tahun ajaran 2004/2005 untuk kesekian kalinya SMUN 68 berhasil memperoleh peringkat 1 wilayah Jakarta Pusat dalam hal perolehan nilai UAN (Ujian Akhir Nasional) secara keseluruhan. Selain itu para siswa SMUN 68 setiap tahunnya berhasil masuk dalam Perguruan Tinggi Negeri terkemuka (mayoritas Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjajaran, Universitas Diponegoro, dan Universitas Gajah Mada) sebanyak lebih dari 65 %.
Prestasi akademik lainnya yaitu untuk tahun ajaran 2005/2006 SMUN 68 mengirimkan siswa-siswa terbaiknya untuk mengikuti olimpiade bidang IPA dan bahasa Inggris, dimana pada fisika dan matematika berhasil sampai tingkat nasional sedangkan lainnya berhasil sampai tingkat propinsi. Pada prestasi non- akademik, SMUN 68 pernah mendapatkan juga gelar juara untuk perlombaan bidang olahraga (khusus pada basket, bola/futsal, dan softball) dan juga bidang seni (khusus pada M-Brass dan drama).