• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of Peningkatan Keaktifan dan Hasil Belajar Matematika Melalui Model Discovery Learning Siswa Kelas V SDN Banyuurip

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "View of Peningkatan Keaktifan dan Hasil Belajar Matematika Melalui Model Discovery Learning Siswa Kelas V SDN Banyuurip"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

(JIPG)

Available online: http://jurnal.ustjogja.ac.id/index.php/jipg/index

This is an open access article under the CC–BY-SA license.

DOI: 10.30738/jipg.vol4.no1.a12900

Peningkatan Keaktifan dan Hasil Belajar Matematika Melalui Model Discovery Learning

Siswa Kelas V SDN Banyuurip

Gresti Artika Nusanti 1, Dian Artha Kusumaningtyas2, Rumgayatri3

1,2Universitas Ahmad Dahlan, Indonesia

3SD Negeri 3 Kotagede, Indonesia

*e-mail: [email protected]1, [email protected]2, [email protected]3

* Corresponding Author

Received: 04 Agustus 202; Revised: 26 Januari 2023 ; Accepted: 08 Februari 2023

Abstrak: Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi bangun datar pada siswa kelas V SD Negeri Banyuurip. Penelitian dilaksanakan dalam 2 siklus. Siklus I dilaksanakan pada tanggal 13 dan 16 April 2022 dan Siklus II dilaksanakan pada tanggal 20 dan 23 April 2022. Model penelitian yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Teknik pengumpulan data melalui observasi dan tes formatif. Teknik analisis data menggunakan deskripsi komparatif, yaitu dengan membandingkan skor pra siklus, siklus I dan siklus II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran discovery learning, keaktifan siswa meningkat sehingga prestasi belajar siswa pun meningkat. Hal ini dapat dilihat dari data hasil observasi keaktifan belajar siswa diperoleh 25% pada pra siklus, meningkat menjadi 35,14% pada siklus I dan 81,24% pada siklus II. Hasil tes pemahaman konsep juga meningkat, siswa yang tuntas belajar dan 16,67% sebelum perbaikan menjadi 41,66% pada siklus I dan 83,33% pada siklus II dengan nilai rata-rata pada pembelajaran awal 54,17 menjadi 66,67 pada siklus I kemudian pada siklus II menjadi 84,17.

Kata Kunci: Discovery Learning, Keaktifan, Hasil Belajar

Increasing Activity and Mathematics Learning Outcomes through Discovery Learning Model for V-Grade Students of SDN Banyuurip

Abstract: The purpose of this classroom action research is to improve student learning outcomes on the flat shape material for fifth graders at SD Negeri Banyuurip. The research was carried out in 2 cycles.

Cycle I was held on 13 and 16 April 2022 and Cycle II was held on 20 and 23 April 2022. The research model used in this classroom action research consisted of 4 stages, namely planning, implementation, observation and reflection. Data collection techniques through observation and formative tests. The data analysis technique used a comparative description, namely by comparing scores of pre-cycle, cycle I and cycle II. The results showed that by applying the discovery learning model, student activity increased so that student learning achievement also increased. This can be seen from the data from the observation of student learning activity obtained by 25% in the pre-cycle, increasing to 35.14% in the first cycle and 81.24% in the second cycle. The results of the concept understanding test also increased, students who finished learning and 16.67% before the improvement became 41.66% in the first cycle and 83.33% in the second cycle with an average value in the initial learning of 54.17 to 66.67 in the first cycle. the first cycle then in the second cycle to 84.17.

Keywords: Discovery Learning, Activity, Learning Outcomes.

How to Cite: Nusanti, G. A. (2023). Peningkatan Keaktifan dan Hasil Belajar Matematika Melalui Model Discovery Learning Siswa Kelas V SDN Banyuurip. Jurnal Ilmiah Profesi Guru (JIPG), 4(1), 66–72. https://doi.org/10.30738/jipg.vol4.no1.a12900

(2)

Copyright © 2023, Gresti Artika Nusanti, Dian Artha Kusumaningtyas, Rumgayatri 2723-0295(ISSN Online) | 2775-0973 (ISSN Cetak)

Pendahuluan

Pembelajaran merupakan suatu proses yang memungkinkan peserta didik untuk memenuhi kebutuhannya. Pembelajaran diperoleh dalam kegiatan belajar mengajar. Belajar merupakan kegiatan utama dari proses pendidikan di sekolah. Belajar bertujuan menghasilkan perubahan perilaku yaitu aspek afektif, kognitif, dan psikomotorik. Pembelajaran di kelas memerlukan suatu partisipasi peserta didik, keaktifan belajar peserta didik dalam pembelajaran atau komunikasi interaktif peserta didik dengan guru. Kegiatan pembelajaran harus dirancang sedemikian rupa agar tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat tercapai.

Menurut Santoso (2014:7) Kurikulum merupakan perangkat pembelajaran terpenting dalam pendidikan yang dituangkan seperangkat rencana pelaksanaan pembelajaran, isi, bahan pelajaran beserta cara yang digunakan sebagai pedoman berlangsungnya pembelajaran di sekolah. Berhasil atau tidaknya suatu proses pendidikan bergantung pada cara guru dalam menyampaikan materi pembelajaran. Peran guru sangat penting karena gurulah yang dituntut untuk mampu membawa peserta didik mempersiapkan diri dalam menghadapi kehidupan untuk dapat mandiri, beriman, menjadi pribadi yang berinovatif, lebih kreatif, dan mampu mengembangkan materi yang dibaca dengan pendapat sendiri. Pendekatan pembelajaran seperti itu, sekarang diterapkan di sekolah yang menggunakan Kurikulum 2013.

Kurikulum 2013 adalah kurikulum dirancang bertujuan untuk menjadikan masyarakat Indonesia berprestasi, berfikir kritis, menjadi pribadi yang lebih inovatif, kreatif dan mandiri.

Berdasarkan Permendikbud nomor 57 tahun 2014 tentang kurikulum 2013, Matematika merupakan salah satu muatan materi yang masuk dalam pembelajaran tematik pada kurikulum 2013. Matematika masuk dalam mata pelajaran umum kelompok A yang terdiri dari pendidikan Agama, Pancasila dan Kewarganegaraan, bahasa Indonesia, Matematika, IPA, dan IPS.

Pembelajaran matematika adalah salah satu mata pelajaran pokok di semua jenjang pendidikan khususnya pendidikan dasar. Pada umumnya pelajaran Matematika merupakan pelajaran yang kurang disenangi Peserta didik. Penyebab siswa kurang menyukai mata pelajaran matematika karena matematika bersifat abstrak dan identik dengan rumus, angka, dan logika. Tidak adanya variasi pembelajaran yang dilakukan guru di dalam kelas sehingga pembelajaran monoton dan konvensional. Sehingga materi yang disampaikan guru tidak dikuasainya, sehingga pembelajaran menjadi kurang berhasil.

Berdasarkan data pengamatan selama pembelajaran di SD Negeri Banyuurip diperoleh gambaran bahwa pembelajaran matematika belum maksimal, proses pembelajaran terlihat peserta didik pasif. Rasa ingin tahu belum terbangun, kemandirian saat pembelajaran masih kurang, partisipasi belum tampak dan belum terjalin komunikasi interaktif antara peserta didik dengan guru. Ketika guru mencoba memberi variasi dengan pertanyaan-pertanyaan peserta didik kurang merespon. Terlihat peserta didik belum memahami materi dan rasa percaya diri rendah, mereka enggan menjawab atau bertanya karena takut salah.

Guru dapat dibantu dalam menyajikan materi di dalam kelas dengan metode pembelajaran yang sesuai tergantung pada karakteristik mata pelajaran yang diajarkan. Metode pembelajaran yang tepat akan menarik perhatian siswa dan mendorong partisipasi, aktivitas, dan interaksi siswa. Pilihan metode pembelajaran sangat beragam dan dapat divariasikan sesuai kebutuhan. Variasi metode pembelajaran memungkinkan guru maupun siswa lebih

(3)

Copyright © 2023, Gresti Artika Nusanti, Dian Artha Kusumaningtyas, Rumgayatri 2723-0295(ISSN Online) | 2775-0973 (ISSN Cetak)

kreatif, suasana belajar di kelas menjadi lebih menarik, menyenangkan dan tidak membosankan. Metode pembelajaran tersebut adalah model pembelajaran discovery learning.

Discovery learning berarti mengorganisasikan bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir dan peserta didik harus berperan aktif dalam belajar di kelas (Mulyono, 2014: 63). Selain itu Djamarah (2013:19), berpendapat bahwa discovery learning adalah belajar mencari dan menemukan sendiri. Dalam sistem belajar mengajar ini guru menyajikan bahan pelajaran tidak dalam bentuk yang final, tetapi peserta didik diberi peluang untuk mencari dan menemukan sendiri dengan mempergunakan teknik pendekatan pemecahan masalah.

Metode

Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek penelitian adalah guru dan siswa kelas V SDN Banyuurip Tahun 2021/2022 yang berjumlah 12 siswa, sedangkan objek penelitian adalah keaktifan dan hasil belajar pada penerapan model pembelajaran discovery learning.

Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan tes formatif. Instrumen penelitian ini adalah lembar observasi keaktifan dan tes menulis. Teknis analisis data menggunakan deskripsi komparatif yaitu dengan membandingkan skor pra siklus, siklus I dan siklus II.

Indikator keberhasilan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah indikator kinerja pada penelitian ialah berupa uraian dijadikan tolak ukur dalam penentuan keberhasilan penelitian mengenai peningkatan keaktifan dan hasil belajar matematika melalui model discovery learning. Kriteria ketuntasan minimal (KKM) pada hasil belajar matematika yang digunakan oleh sekolah adalah dengan persentase yang ditargetkan 75% dan keaktifan dalam pembelajaran matematika dengan persentase yang ditargetkan 80%.

Hasil dan Pembahasan Hasil

Pada penelitian tindakan kelas yang digunakan adalah penelitian berulang atau siklus.

Penelitian yang dilaksanakan adalah meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika dengan materi bangun datar pada siswa kelas V SD Negeri Banyuurip dengan menerapkan model pembelajaran Discovery Learning. Berikut adalah tabel data keaktifan dan hasil belajar siswa pada prasiklus, siklus I dan siklus II:

Tabel 1. Data Keaktifan dan Hasil Belajar Prasiklus, Siklus I dan Siklus II Keaktifan &

Hasil Belajar Siswa Prasiklus Siklus I Siklus II

Nilai Rata - rata 54,17 66,67 84,17

Nilai Terendah 30 40 60

Nilai Tertinggi 80 80 100

Ketuntasan 16,67% 41,66% 83,33%

Keaktifan 25% 50% 91,67%

(4)

Copyright © 2023, Gresti Artika Nusanti, Dian Artha Kusumaningtyas, Rumgayatri 2723-0295(ISSN Online) | 2775-0973 (ISSN Cetak)

Berikut adalah diagram keaktifan, ketuntasan dan hasil belajar siswa pada prasiklus, siklus I dan siklus II:

Gambar 1. Keaktifan, ketuntasan dan hasil belajar siswa

Hasil di atas menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran discovery learning dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar matematika siswa. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari nilai rata – rata persentase keaktifan siswa pada prasiklus 25%, meningkat pada siklus I menjadi 50% dan meningkat Kembali pada siklus II menjadi 91,67%. Sedangkan hasil belajar siswa dapat dilihat dari nilai rata – rata persentase pada prasiklus 16,67%. Meningkat pada siklus I menjadi 41,66 dan meningkat lagi pada siklus II yaitu 83,33%.

Pembahasan

Hasil observasi keaktifan siswa di SDN Banyuurip diperoleh informasi bahwa siswa pada saat pembelajaran di kelas seharusnya hidup, komunikatif, aktif dan partisipatif sehingga pemahaman materi siswa dapat maksimal. Pada kenyataannya pembelajaran di kelas V belum kondusif, komunikasi interaktif antara guru dan siswa belum terjalin dengan lancar, siswa belum menunjukkan keaktifannya yang maksimal, partisipasi siswa belum muncul dan pemahaman siswa masih kurang. Siswa perlu lebih komunikatif dan percaya diri untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan sehingga guru dapat membantu siswa.

Dari observasi keaktifan pada prasiklus siswa sangat pasif hanya dua siswa yang aktif memperhatikan dan mendengarkan penjelasan guru, aktif berdiskusi dengan kelompok, aktif menjawab pertanyaan dan aktif kemampuan mengingat materi yang disampaikan guru. Karena pada prasiklus masih pasif maka dilakukan perbaikan pada siklus I dan hasilnya ada peningkatan dari dua siswa yang pasif meningkat menjadi 6 siswa yang aktif. dari 12 siswa masih 6 anak yang aktif maka tetap belum mencapai persentase rata – rata keaktifan, sehingga melaksanakan perbaikan kembali pada siklus II. Pada siklus II mengalami peningkatan dari 6 siswa yang aktif menjadi 11 siswa yang aktif. sehingga pada siklus II rata – rata keaktifan siswa sudah mencapai persentase yang diharapkan.

Hasil belajar siswa kelas V pada mata pelajaran matematika dengan materi bangun datar dapat dilihat dari hasil tes formatif pada akhir siklus. Hasil belajar siswa prasiklus masih rendah, karena dikelas saat guru mengajar siswa sangat pasif dan tidak ada antusias untuk belajar. Guru saat mengajar masih menggunakan metode ceramah sehingga pembelajaran dikelas

25

50

91.67

16.67

41.66

83.33

54.17 66.67 84.17

0 50 100

Pra Siklus Siklus I Siklus II

KEAKTIFAN, KETUNTASAN DAN HASIL BELAJAR SISWA

Keaktifan Siswa yang tuntas belajar Hasil belajar

(5)

Copyright © 2023, Gresti Artika Nusanti, Dian Artha Kusumaningtyas, Rumgayatri 2723-0295(ISSN Online) | 2775-0973 (ISSN Cetak)

monoton. Guru belum menggunakan model pembelajaran yang bervariasi, sehingga siswa tidak ada semangat untuk bertanya hanya diam dan pasif. Guru mencoba menggunakan model pembelajaran yang bervariasi yaitu dengan model pembelajaran discovery learning.

Diakhir prasiklus siswa mengerjakan soal formatif dan hasilnya masih dibawah KKM. Hanya satu siswa yang tuntas dalam belajarnya. Karena belum mencapai KKM maka dilaksanakan siklus I dengan model pembelajaran discovery learning mata pelajaran matematika dengan materi bangun datar. Guru membagi kelompok agar siswa dapat belajar dengan aktif, tetapi diakhir siklus I nilai hasil belajar siswa masih saja dibawah KKM, Sehingga guru melakukan perbaikan pada siklus II dan hasilnya sangat memuaskan banyak siswa yang tuntas dalam belajar dan rata – rata nilai juga sudah mencapai KKM.

Berdasarkan tabel terjadi peningkatan hasil belajar dan keaktifan siswa dari prasiklus, siklus I sampai siklus II. Pada prasiklus hasil belajar memperoleh nilai terendah 30, rata-rata hasil belajar 54,17, sedangkan rata-rata keaktifan siswa 25. Pada hasil belajar nilai tertinggi 80, siswa yang belum tuntas sebanyak 2 dan yang sudah tuntas sebanyak 10, sedangkan siswa yang aktif belajar sebanyak 3 dan yang tidak aktif belajar sebanyak 9. Pada prasiklus persentase ketuntasan belajar belajar adalah sebesar 16,67% dan persentase keaktifan siswa sebesar 25%, namun harus dilaksanakan siklus I karena belum memenuhi indikator keberhasilan dimana ketuntasan hasil belajar 75% dan indikator keberhasilan keaktifan siswa 80%.

Pada siklus I terjadi peningkatan hasil belajar dan keaktifan siswa yaitu nilai rata-rata hasil belajar 66,67 sedangkan rata-rata keaktifan siswa 35,41, dengan nilai hasil belajar terendah 40 dan tertinggi 80, pada siklus I siswa yang belum tuntas hasil belajar sebanyak 5 siswa dan siswa yang tuntas dalam belajar 7 siswa, sedangkan siswa yang aktif belajar sebanyak 6 dan yang tidak aktif belajar 6 siswa. Di siklus I ini persentase ketuntasan belajar mencapai 41,66%

sedangkan persentase keaktifan 50%, namun masih belum memenuhi ketuntasan belajar untuk itu harus dilaksanakan siklus II.

Selanjutnya siklus II terjadi peningkatan hasil belajar dan keaktifan siswa yaitu nilai rata-rata hasil belajar 84,17 sedangkan rata-rata keaktifan siswa 81,24, dengan nilai hasil belajar terendah 60 dan tertinggi 100, pada siklus II siswa yang belum tuntas hasil belajar sebanyak 2 siswa dan siswa yang tuntas dalam belajar 10 siswa, sedangkan siswa yang aktif belajar sebanyak 11 dan yang tidak aktif belajar 1 siswa. Di siklus II ini persentase ketuntasan belajar mencapai 83,33% sedangkan persentase keaktifan 91,67%.

Berdasarkan diagram bahwa permasalahan yang dihadapi dalam proses pembelajaran adalah kurangnya keaktifan siswa yang berdampak prestasi belajar rendah. lni dapat dilihat dari siswa kelas V di SDN Banyuurip yang berjumlah 12 siswa yang aktif dalam pembelajaran hanya 3 siswa (25%) dan hasil ulangan prasiklus yang tuntas belajar hanya 2 siswa (16,67%) dan 10 siswa (83,33%) belum tuntas nilai rata-rata hasil belajar pra siklus 54,17. Untuk mengatasi masalah tersebut, penulis mencoba melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran discovery learning. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, yang setiap siklusnya 2 pertemuan.

Hasil observasi keaktifan siswa pada siklus I yang dilaksanakan dua kali pertemuan terjadi peningkatan yaitu 6 siswa (50%) dan nilai rata-rata hasil belajar siklus I adalah 66,67.

Berdasarkan hasil belajar pada siklus I dapat diketahui bahwa persentase ketuntasan belajar

(6)

Copyright © 2023, Gresti Artika Nusanti, Dian Artha Kusumaningtyas, Rumgayatri 2723-0295(ISSN Online) | 2775-0973 (ISSN Cetak)

siswa meningkat dari 16,67% pada pra siklus, menjadi 41,66% pada siklus I. Rata-rata hasil belajar dari 54,17 meningkat menjadi 66,67.

Selanjutnya hasil observasi keaktifan siswa pada siklus II dengan melaksanakan dua kali pertemuan mengalami peningkatan menjadi 11 siswa (91,67%) dan pelaksanaan pembelajaran matematika siklus II adalah nilai rata-rata ulangan formatif sudah mencapai 84,17. Siswa sudah memenuhi standar ketuntasan dengan nilai diatas 75 sebanyak 10 siswa, yang berarti sudah mencapai 83,33% dari jumlah keseluruhan siswa kelas V yaitu 12 siswa sedangkan tingkat keaktifan siswa mencapai 81,24%. Dengan hasil tersebut, berdasarkan indikator dalam penelitian ini maka dapat disimpulkan penerapan model pembelajaran discovery learning dalam pembelajaran matematika materi bangun datar sudah tercapai.

Simpulan

Berdasarkan pada hasil tindakan pelaksanaan pembelajaran matematika tentang materi sifat-sifat bangun datar di kelas V SD Negeri Banyuurip Kecamatan Banyuurip Kabupaten Purworejo yang telah dilaksankan, maka dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran discovery learning dalam pembelajaran, keaktifan siswa dalam pembelajaran meningkat dari 25% sebelum perbaikan, menjadi 50% pada siklus I dan 91,67% pada siklus II.

Selanjutnya dengan model pembelajaran discovery learning dalam pembelajaran, hasil belajar siswa meningkat. Dari 12 siswa, anak yang tuntas belajar 16,67% sebelum perbaikan menjadi 41,66% pada siklus I dan 83,33% pada siklus II dengan nilai rata-rata hasil belajar siswa 54,17 pada pra siklus menjadi 66,67 pada siklus I kemudian meningkat menjadi 84,17 pada siklus II.

Dengan melihat hasil penelitian yang diperoleh, penulis menyampaikan saran kepada rekan-rekan guru. Dalam pembelajaran matematika, supaya siswa mencapai prestasi yang baik, guru hendaknya, menerapkan metode pembelajaran yang bervariasi, metode pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan materi yang diajarkan dan melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran sehingga anak tidak jenuh dan tertarik untuk mengikuti pelajaran.

Dengan menerapkan model pembelajaran discovery learning diharapkan dapat menjadi alternatif untuk para guru dalam pembelajaran. Siswa juga hendaknya lebih bekerja keras dan lebih antusias untuk belajar agar keaktifan dan hasil belajar dapat meningkat dengan baik.

(7)

Copyright © 2023, Gresti Artika Nusanti, Dian Artha Kusumaningtyas, Rumgayatri 2723-0295(ISSN Online) | 2775-0973 (ISSN Cetak)

Daftar Pustaka

Amri, Sofyan. (2013). Pengembangan dan Model Pembelajaran dalam Kurikulum 2013. Prestasi Pustakarya. Jakarta.

Arikunto, S. 2017. Penelitian Tindakan Kelas Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara.

Fadlilah, 2014. Implementasi Kurikulum 2013 dalam pembelajaran SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA.

Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Heruman. 2010. Model Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.

Huda, M. (2015). Cooperatif Learning Metode, Teknik, Struktur dan Model Penerapan.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Mulyasa, H, E. 2009. Praktik Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Permendikbud Republik Indonesia Nomor 54 (2013). Tentang Standar Kompetensi Lulusan

(SKL).

Rusman. (2013). Metode-Metode Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta:

PT Raja Grafindo Persada.

Susanto, A. 2014. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil perhitungan analisis menunjukkan bahwa pengaruh kegiatan ekstrakurikuler keagamaan terhadap akhlak mulia siswa sebesar 57 %, jika dibandingkan dengan r tabel

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana tingkat kesehatan bank syariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang dinilai dengan menggunakan metode

Diagram 3.17 Peningkatan Perencanaan, Pelaksanaan, Aktivitas Siswa dan Hasil Belajar Siswa dari Data Awal sampai Siklus III

Dokumen penjelasan dokumen lelang beser ta Addendum sudah di upload di SPSE M ahkamah Agung.go.id sebagai acuan Penyedia Bar ang/ Jasa (Peser ta Lelang) untuk

Siswa yang tergolong cepat, pada umumnya dapat menyelesaikan proses belajar dalam waktu yang lebih cepat dari yang diperkirakan.. Mereka dapat mudah menerima

Nilai Inflasi Rata-Rata Tahun.... **) Diisi sesuai dengan ketersediaan data. Analisis terhadap indikator kinerja lainnya pada fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi

Aliran bit dan rekonstruksi sinyal ucapan menghasilkan sinyal rekonstruksi yang paling buruk pada kondisi kanal AWGN dengan SNR = 10 dB (plot hasil rekonstruksi

Peserta didik menyimak penjelasan dan klarifikasi guru mengenai konsep-konsep inti yang berkaitan dengan hakekat kemerdekaan mengemukakan pendapat dan