• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAYU RAJA ANDALAN SUMATERA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "KAYU RAJA ANDALAN SUMATERA"

Copied!
135
0
0

Teks penuh

(1)

TEMBESU

KAYU RAJA ANDALAN SUMATERA

Editor:

Nina Mindawati

Hani Siti Nurohmah

Choirul Akhmad

Penerbit

(2)

TEMBESU KAYU RAJA ANDALAN SUMATERA

Jln. Gunung Batu No.5 Bogor, Jawa Barat, Indonesia Telp./Fax.: +62251-7520093

Email: [email protected]

Dicetak oleh Percetakan PT Rambang, Palembang Isi di luar tanggung jawab Percetakan

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta

Lingkup Hak Cipta Pasal 2

(1) Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Ketentuan Pidana Pasal 72

(3)

KATA PENGANTAR

Tembesu (Fragraea fragrans Roxb.) merupakan salah satu jenis

tanaman yang banyak dimanfaatkan dan mempunyai nilai ekonomi tinggi

sehingga potensial dikembangkan di wilayah Sumatera Bagian Selatan.

Secara sosial tembesu telah dikenal dan kayunya telah banyak

dimanfaatkan oleh masyarakat.

Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang sebagai salah satu

Unit Pelaksana Teknis Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan

telah benyak meneliti tembesu. Secara detail, hasil-hasil penelitian tersebut

dituangkan di dalam buku ini yang dikemas dalam bentuk bunga rampai,

mengupas tuntas berbagai aspek tembesu mulai dari pengenalan dan

ekologi, perbenihan, budidaya, perlindungan, hasil dan pertumbuhan serta

sosial, ekonomi dan kebijakan.

Apresiasi diberikan kepada para peneliti yang telah berkontribusi

dalam penyusunan buku ini. Terimakasih juga disampaikan kepada semua

pihak yang telah membantu dalam proses editing, penyajian, penerbitan,

pencetakan, dan pendistribusiannya hingga dapat tersebarluaskan dengan

baik.

Semoga buku ini bermanfaat dan menjadi sumber inspirasi bagi ilmu

pengetahuan serta kemajuan bidang kehutanan khususnya dalam

pengembangan/pengusahaan dan peningkatan produktivitas hutan tanaman

tembesu.

Kepala Pusat Litbang Peningkatan Produktivitas Hutan,

(4)
(5)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... iv

1. PENDAHULUAN ... 1

2. MENGENAL KARAKTERISTIK TANAMAN TEMBESU

Junaidah, Agus Sofyan dan Nasrun ... 3

3. PENANGANAN DAN PENGUJIAN BENIH TEMBESU

Muhammad Zanzibar ... 13

4. PEMBIBITAN JENIS TEMBESU (Fagraea fragrans Roxb)

Agus Sofyan dan Abdul Hakim Lukman ... 27

5. BUDIDAYA TANAMAN TEMBESU

Abdul Hakim Lukman dan Agus Sofyan ... 41

6. POTENSI DAN PERTUMBUHAN TEMBESU DALAM

PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT

Agus Sumadi dan Hengki Siahaan ... 57

7. HAMA DAN PENYAKIT TEMBESU

Asmaliyah ... 73

8. TEKNIK PENGENDALIAN GULMA PADA TANAMAN

TEMBESU

Etik Erna Wati Hadi dan Fatahul Azwar ... 93

9. SIFAT DASAR DAN PEMANFAATAN KAYU TEMBESU

Sahwalita ... 107

10. UPAYA KOMODITISASI TEMBESU DALAM PERSPEKTIF SOSIAL BUDAYA PETANI DAN PASAR

(6)

PENDAHULUAN

Tembesu adalah salah satu jenis kayu andalan yang populer di

Sumatera Bagian Selatan, memiliki nilai ekonomi dan nilai budaya yang

tinggi bagi masyarakat lokal. Berdasarkan sifat kayunya, tembesu memiliki

kelas kuat I-II dan kelas awet I sehingga pemanfaatannya dapat dilakukan

secara luas untuk dipakai, baik di dalam ruangan maupun terbuka.

Masyarakat menggunakan tembesu yang bersifat agak keras

(Fagraea fragrans) sebagai tiang penyangga baik untuk rumah, kapal,

jembatan, konstruksi rumah dan bahan furniture. Sebagai bahan konstruksi

rumah, tembesu mempunyai nilai budaya tinggi dan menambah nilai

prestise bagi pemiliknya. Adapun tembesu yang bersifat lembut (Fagraea

crenulata) dipakai untuk bahan baku produk ukiran karena kayu tembesu ini

mudah dibentuk, tidak mudah retak dalam pengerjaannya dan nilai

penyusutannya kecil

Kemanfaatan dan keekonomian kayu tembesu cukup tinggi, namun

demikian sumber kayu tembesu saat ini masih mengandalkan tegakan alam.

Sampai saat ini belum ada upaya budidaya yang dilakukan masyarakat

sehingga populasi tembesu di alam terus menurun.

Pada dasarnya tembesu merupakan jenis adaptif dan mudah

tumbuh pada berbagai jenis tanah dengan kondisi drainase buruk dan

mudah dalam regenerasi alaminya. Penanaman tembesu sangat mungkin

dilakukan karena teknologi pengadaan bibit baik dengan cara generatif

maupun vegetatif sederhana sudah diketahui. Teknik pertanaman terkait

pemilihan pola tanam dan alternatif tindakan silvikulturnya masih harus terus

dikembangkan.

Meskipun termasuk jenis kayu mahal, sayangnya tembesu belum

menjadi komoditas pilihan utama petani untuk menanamnya. Hal ini

dikarenakan tembesu termasuk salah satu jenis pohon lambat tumbuh

dengan daur tebang sekitar 25 tahun. Dalam pertumbuhannya pun tembesu

(7)

sehingga diperlukan pengelolaan intensif agar kayu tembesu yang

dihasilkan berbentuk lurus dan panjang. Penghambat lainnya dalam

komoditisasi tembesu adalah tingginya nilai komoditas lain seperti karet dan

sawit di wilayah Sumatera. Secara praktis masyarakat cenderung memilih

komoditas karet dan sawit sebagai alternatif utama penopang ekonomi

keluarga.

Sehubungan dengan hal di atas, maka pemerintah dan para pihak

seharusnya mendorong upaya komoditisasi tembesu melalui penelitian dan

pengembangan yang berfokus pada penyediaan IPTEK agar tembesu lebih

cepat tumbuh, pembangunan hutan tanaman baik dalam bentuk campuran

atau monokultur, program revitalisasi meubel dan ukiran tembesu, serta

peningkatan brand tembesu dalam pemasaran produk kayu di Sumatera

Bagian Selatan.

Secara kultural, dulu tembesu dikenal sebagai “kayu raja” karena konon penanamannya merupakan perintah raja (pengusaha/pemerintah)

pada waktu itu. Kini tembesu yang tumbuh secara alami dipelihara juga oleh

masyarakat, sehingga sekarang bisa juga disebut kayu rakyat. Ke depan tembesu akan menjadi kayu utama jika “sang raja” (pemerintah) dan rakyat memiliki keinginan yang sama dan berupaya untuk menjadikannya sebagai

komoditas primadona.

Buku “Tembesu, Kayu Raja Andalan Sumatera” ini disusun sebagai langkah awal untuk membuka peluang dan prospek pengembangan

budidaya dan pengelolaan hutan tanaman tembesu lebih lanjut, baik pada

(8)

MENGENAL KARAKTERISTIK TANAMAN TEMBESU

Oleh: Junaidah, Agus Sofyan dan Nasrun

I. GAMBARAN UMUM TANAMAN TEMBESU

Tembesu (Fagraea fragrans Roxb.) merupakan salah satu jenis dari

famili Loganiaceae yang mempunyai wilayah penyebaran alami sangat luas.

Menurut Lemmens et al, (1995), penyebaran Fagraea fragrans mulai dari

Bengal di India, Myanmar, Andaman Islands, Indo-Cina, Filipina, Thailand,

Peninsular Malaysia, Singapura, Sumatera, Jawa Barat, Kalimantan,

Sulawesi dan Yapen Island di Papua.

Untuk wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumatera Selatan, Jambi

dan Lampung) kayu tembesu termasuk jenis yang sangat populer dan

mempunyai nilai ekonomi serta budaya yang sangat tinggi bagi sebagian

masyarakatnya. Menurut Heyne (1987), khususnya di wilayah Sumatera

Selatan, tembesu dikenal sebagai kayu unggul dengan sebutan kayu raja,

yang pada masa lalu hak penebangannya diatur oleh para kepala adat.

Untuk mencegah kepunahannya, kepala adat menetapkan peraturan, yaitu

untuk setiap penebangan satu pohon tembesu harus diganti dengan

menanam sebanyak sepuluh pohon pada tempat-tempat yang telah

ditentukan. Berkat peraturan tersebut, kemudian banyak terbentuk kebun

tembesu di berbagai wilayah di Sumatera Bagian Selatan (Heyne, 1987).

Dengan adanya perubahan dan perkembangan zaman, walaupun

tidak lagi diterapkan peraturan menanam kembali jika menebang pohon

tembesu, namun budaya tersebut ternyata masih berlangsung hingga saat

ini, dimana masyarakat seringkali menanam dan atau memelihara tembesu

yang tumbuh alami sebagai tanaman sela pada kebun-kebun mereka, baik

pada kebun karet maupun sawit yang mereka usahakan.

Usaha pengembangan tembesu, baik sebagai tanaman pokok

maupun sebagai tanaman sela, tentunya harus didukung dengan informasi

serta teknologi budidaya yang tepat, yang didasarkan pada hasil-hasil kajian

dan penelitian berbagai aspek, sehingga produktivitas hasil yang maksimal

(9)

II. TAKSONOMI, BOTANI DAN SEBARAN A. Taksonomi

Dalam taksonomi tumbuhan tembesu termasuk dalam famili

Loganiceae dan digolongkan ke dalam :

Phylum : Tracheophyta

Class : Magnoliopsida

Famili : Loganiaceae

Genus : Fagraea

Spesies : Fagraea fragrans Roxb

B. Nama umum

Secara umum tembesu dikenal sebagai ironwood. Di Indonesia

dikenal sebagai ki badak (Sunda), kayu tammusu, tembesu (Sumatera),

ambinaton, tembesu (Kalimantan). Di Malaysia dikenal sebagai tembesu

hutan, tembesu padang dan tembesu tembaga (Peninsular). Di Philipina

secara umum dikenal dengan nama urung, dolo (Tagbanua), susulin

(Tagalog). Di Burma atau Myanmar dikenal sebagai kayu anan, ahnyim. Di

Cambodia disebut sebagai tatraou. Di Thailand dan Vietnam dikenal sebagai

tanaman kankrao dan trai (Martawijaya et al., 2005 dan Lemmens et al.,

1995).

C. Botani

Tembesu merupakan jenis pohon yang mempunyai sifat hijau

sepanjang tahun (evergreen) dengan percabangan yang banyak. Tinggi

tanaman dapat mencapai 40 m, tinggi bebas cabang sampai 25 m dengan

diameter dapat mencapai 150 cm (Lemmens et al., 1995, Martawijaya et al.,

2005). Batang pohon tembesu memiliki ciri fisik bergelombang lemah tanpa

banir. Kulit batangnya tebal dan cukup keras, warna coklat sampai hitam,

(10)

Gambar 1. Tipe permukaan kulit tembesu (umur tanaman 7 tahun)

Tajuk pohon berbentuk kerucut (cone) dan daunnya berbentuk

lanset hingga bulat telur-lonjong, dengan ukuran panjang 4 -15 cm dan lebar

1,5 – 6 cm (Lemmens et al., 1995). Tembesu dalam pertumbuhan dan

perkembangannya termasuk jenis tanaman yang menghasilkan cabang atau

percabangan sangat banyak yang secara alami sukar mengalami peluruhan,

sehingga cabang menjadi semakin besar dengan bertambahnya umur

tanaman.

Bunga tembesu berwarna putih (Gambar 2a), merupakan bunga

tunggal dengan aroma berbau harum, tabung daun mahkota bunga

berbentuk corong dengan panjang berkisar 0,7 - 2,3 cm. Buah tembesu,

pada musim berbuah akan menghasilkan buah dalam jumlah sangat

banyak, buah berbentuk bulat dengan diameter sekitar 0,5 – 1 cm, berwarna

hijau atau kuning pada saat muda dan berwarna merah atau orange bila

(11)

Gambar 2. Bunga dan buah muda tembesu (a); Buah tembesu masak (b)

Buah tembesu termasuk tipe buah buni, berdaging dan berisi biji

dengan ukuran relatif kecil (diameter kurang dari 1 mm). Semakin besar

ukuran buah, semakin banyak biji terkandung di dalamnya. Jumlah buah

dalam satu kilogram sebanyak 6.600 buah (Martawijaya et al., 2005),

sedangkan jumlah biji dalam satu kilogram adalah sekitar 5 juta biji

(Lemmens et al., 1995). Biji tembesu yang masih muda berwarna coklat

muda sampai coklat, sementara biji yang telah masak berwarna hitam

dengan kulit biji relatif keras dan permukaan kulit tidak rata dan kasar

(Gambar 3).

Gambar 3. Biji/benih muda (a) dan benih tua atau masak (b) (b)

(a)

(12)

D. Fenologi dan pembungaan

Tanaman tembesu umumnya mulai berbuah pada umur 5 - 6 tahun.

Menurut Martawijaya et al. (2005), tembesu dapat berbuah setiap tahun dan

umumnya pada bulan Nopember – Januari. Namun demikian dalam tiga

tahun terakhir (2011-2013), untuk wilayah Sumatera Selatan telah terjadi

perubahan atau pergeseran waktu berbuah yaitu berkisar antara bulan

Maret – Juni, dengan masa pembungaan dan pembuahan yang tidak

serempak, baik antar tanaman dalam satu populasi maupun antar populasi.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa hasil produksi buah pada berbagai

populasi relatif menurun dibanding periode-periode sebelumnya (Sofyan et

al., 2013). Hal ini diduga karena adanya pengaruh iklim yang telah

mempengaruhi proses pembungaan dan pembuahan tanaman tembesu,

dimana jumlah bunga yang dihasilkan relatif sedikit, sementara buah-buah

yang masih muda (belum sempat masak) mengalami kerontokan karena

cuaca yang relatif kering.

E. Sebaran dan tempat tumbuh

Di Indonesia tembesu tumbuh tersebar secara alami di beberapa

wilayah seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa Barat, Maluku dan

Irian Jaya. Tembesu secara alami tumbuh sebagai tanaman pionir pada

areal terbuka bekas terbakar, lahan alang-alang atau pada hutan sekunder

yang lembab. Menurut Lemmens et al. (1995) tembesu merupakan jenis

yang sangat adaptif dan dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah dan

kondisi lingkungan, seperti pada tanah datar dan sarang, tanah pasir atau

tanah liat berpasir, serta tanah miskin. Selanjutnya dikatakan pula bahwa

tembesu dapat tumbuh baik pada tanah dengan drainase yang buruk dan di

rawa tembesu tumbuh berasosiasi dengan gelam (Melaleuca spp.). Secara

umum, jenis ini menghendaki iklim basah sampai agak kering dan tumbuh

baik pada ketinggian 0-500 m dari permukaan laut (Martawijaya et al.,

(13)

F. Pertumbuhan

Pertumbuhan tanaman tembesu di alam relatif lambat dan seringkali

menghasilkan batang pokok yang tidak lurus, jumlah cabang sangat banyak,

dan tajuk yang berat (Gambar 4a). Regenerasi alami tembesu umumnya

berasal dari tunas akar, sangat jarang dijumpai regenerasi alami yang

berasal dari biji atau benih. Dengan karakter tersebut, tembesu dapat

membentuk tegakan yang berasal dari akar (Heyne, 1987)

Tembesu termasuk jenis tanaman dengan kemampuan meluruhkan

cabang secara alami (self prunning) sangat rendah, sehingga dalam

pembudidayaannya harus dilakukan pemangkasan cabang secara intensif

sejak pertumbuhan awal (mulai umur 1 tahun). Jika tidak dilakukan

pemangkasan maka seiring dengan pertumbuhannya, cabang-cabang yang

tumbuh/terbentuk akan semakin bertambah besar dan dalam jumlah yang

relatif banyak karena tidak mengalami peluruhan. Pada pertanaman

tembesu dengan jarak tanam relatif rapat yaitu 2 m x 3 m, menunjukkan

bahwa sampai umur tanaman 7 tahun, cabang-cabang yang tumbuh tidak

mengalami peluruhan atau rontok secara alami (Gambar 4b).

Gambar 4. Penampilan tegakan tanpa pemangkasan (a) dan percabangan pada umur 7 tahun (b)

(14)

Hasil penelitian pemangkasan cabang tembesu pada tanaman umur

di bawah 2 tahun menunjukkan bahwa pemangkasan dengan intensitas

40-50%, dapat meningkatkan rerata riap pertumbuhan diameter sebesar

23,67% dibanding tidak dipangkas (Lukman et al., 2010). Pemangkasan

cabang yang dilakukan pada umur tanaman lebih tua (3,5 tahun), tidak

memberikan hasil nyata terhadap pertumbuhan diameter maupun tinggi

sampai umur 7 tahun atau 3,5 tahun setelah pemangkasan (Sofyan et al.,

2013).

Perlakuan pemangkasan, selain dapat meningkatkan pertumbuhan

diameter tanaman tembesu, juga dapat meningkatkan kualitas batang yang

dihasilkan, karena dengan perlakuan pemangkasan akan dihasilkan

batang/kayu yang relatif besar dan lurus bebas mata kayu yang dapat

menurunkan kualitas kayu. Penampilan batang kondisi tegakan tembesu

yang diberi perlakuan pemangkasan, dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Penampilan batang hasil pemangkasan (a), dan penampilan tegakan hasil pemangkasan

(15)

G. Karakteristik dan kegunaan kayu

Karakteristik kayu dari pohon tembesu termasuk kelas berat,

sedang, sampai tinggi. Kayu terasnya berwarna kuning muda sampai coklat,

kayu gubalnya berwarna lebih muda. Berat jenis kayu tembesu 0,72-0,93

g/cm3. Tekstur kayu halus sampai agak halus dan merata (Lemmens et al.,

1995). Menurut Martawijaya et al. (2005), kayu tembesu termasuk kayu

kelas kuat I-II dan kelas awet I.

Kayu tembesu termasuk kayu yang mudah diolah. Hasil pengujian

sifat pengolahan kayu tembesu menunjukkan bahwa kayu tembesu mudah

diserut dan dibentuk, dibubut dan diamplas dengan baik (Martawijaya et al.,

2005). Selain itu, menurut Lemmens et al. (1995), kayu tembesu memiliki

sifat pemakuan, perekatan (menggunakan perekat urea-formaldehida) dan

sifat pengupasan (untuk dijadikan veneer dengan ketebalan 1,5 mm) yang

baik.

Dengan karakteristik yang dimilikinya, kayu tembesu sangat cocok

digunakan untuk konstruksi berat di tempat terbuka maupun yang

berhubungan dengan tanah, balok jembatan atau tiang rumah, lantai dan

barang bubutan (Martawijaya et al., 1989). Hal senada dikemukakan oleh

Lemmen et al. (1995) yang menyatakan bahwa kayu tembesu dapat

digunakan untuk bantalan rel kereta api, daun jendela dan pintu serta

meubelair. Masyarakat di Sumatera Selatan, menggunakan kayu tembesu

selain untuk kontruksi juga untuk produk-produk ukiran.

III. PENUTUP

Mengenalkan dan mempromosikan tembesu di wilayah Sumatera,

khususnya Sumatera Bagian Selatan, tentunya bukanlah hal yang sulit,

mengingat jenis ini secara kultural sudah sangat dikenal dan digunakan

untuk berbagai keperluan dalam menunjang kehidupan masyarakatnya.

Namun demikian upaya untuk terus mendorong dan mendukung

pengembangan tembesu pada usaha yang lebih produktif, tetap perlu dan

harus dilakukan oleh para pihak. Balai Penelitian Kehutanan Palembang,

(16)

memberi kontribusi, terutama dalam mewujudkan pembangunan hutan

tanaman, khususnya hutan rakyat jenis tembesu yang produktif, baik dalam

bentuk pola campuran (tembesu sebagai tanaman sela diantara karet atau

sawit) maupun pola monokultur.

DAFTAR PUSTAKA

Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Jilid III. Badan Penelitian

dan Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta.

Martawijaya, A., Kartasujana, I., Mandang, Y.I., Prawira, S.A, Kadir, K. 2005.

Atlas Kayu Indonesia. Jilid II. Badan Penelitian dan Pengembangan

Kehutanan. Departemen Kehutanan.

Lemmens, R.H.M.J., Soerianegara, I., Wong, W.C. 1995. Plant Resources of

South-East Asia 5. (2) Timber trees: Minor commercial timber.

PROSEA. Bogor Indonesia.

Lukman, A.H., A. Sofyan, Junaidah dan R. Effendi. 2010. Pengaruh

Pemangkasan terhadap Petumbuhan Tembesu (Fagraea fragrans

Roxb.) pada Dua Jarak Tanam Berbeda. Prosiding Seminar Nasional.

Kontribusi Litbang dalam Peningkatan Produktivitas dan Kelestarian

Hutan. Bogor, 29 November 2010. Pusat Litbang Peningkatan

Produktivitas Hutan. Bogor

Sofyan, A., A.H. Lukman dan Nasrun. 2013. Laporan Hasil Penelitian Teknik

Silvikultur Jenis Tembesu. Balai Penelitian Kehutanan Palembang.

(17)
(18)

PENANGANAN DAN PENGUJIAN BENIH TEMBESU

Oleh: Muhammad Zanzibar

I. PENANGANAN BENIH TEMBESU

Benih adalah bahan tanaman berupa bagian generatif atau bagian

vegetatif tanaman, antara lain berupa biji, mata tunas, akar, daun, jaringan

tanaman yang digunakan untuk memperbanyak dan atau

mengembang-biakkan tanaman. Penanganan benih secara tepat berimplikasi

meningkatkan efisiensi pengelolaan dan produktivitas tanaman karena benih

relatif lebih tahan disimpan, kecambah akan menjadi bibit sehat, tumbuh

cepat dan serempak. Penanganan mencakup serangkaian prosedur yang

dilakukan sesaat setelah pemanenan hingga benih menjadi bibit siap tanam.

Setiap elemen dari kegiatan penanganan sangat menentukan

derajat kualitas genetik yang diemban oleh kelompok benih tersebut.

Tahapan teknologi penanganan benih tembesu dan aspek-aspek dominan

yang berpengaruh adalah sebagai berikut:

A. Klasifikasi Buah dan Kriteria Masak Fisiologis Benih

Buah tembesu tergolong buah “majemuk - berdaging”, dimana buah berasal dari peleburan putik dari beberapa bunga-air dan gula terakumulasi

di dalam buah. Dalam suatu musim buah dan tandan yang sama, dapat

diperoleh perbedaan tingkat kemasakan benih (Gambar 1 dan Gambar 2),

yaitu benih muda (buah berwarna hijau), benih masak fisiologis (buah

berwarna kuning hingga oranye) serta benih memiliki vigor kekuatan tumbuh

dan daya simpan maksimum. Kondisi ini merupakan waktu pemanenan

yang tepat.

Musim buah tembesu tergolong relatif singkat, saat benih masak

cepat tersebar, dan mudah diserang hama (Schmidth, 2002). Di Sumatera

Selatan, Riau dan Jambi masak fisiologis benih tembesu diperoleh pada

bulan Maret – Juni. Hingga saat ini, belum ada sumber benih tembesu yang

dikukuhkan. Buah umumnya diunduh dari lahan pekarangan dengan jumlah

(19)

B. Pengumpulan Buah, Ekstraksi dan Pengeringan Benih

Benih seharusnya dikumpulkan pada saat panen raya atau pada

tegakan yang berbunga lebat dan sedikit serangan hama. Pengumpulan

buah dilakukan dengan cara pemanjatan karena pohon tembesu relatif tinggi

dan cabang yang menghasilkan buah tidak dapat dicapai dengan galah

berkait dari tanah. Buah hasil pemanenan dikumpulkan dalam karung plastik

dari beberapa pohon (bulk).

Prinsip utama kegiatan ekstraksi adalah memudahkan penanganan

serta meningkatkan kemampuan penyimpanan. Khusus untuk benih

berdaging, berserat lunak dan berukuran kecil, kegiatan ekstraksi terdiri dari:

perendaman/penjenuhan, pencucian, penyaringan dan pengeringan.

Daging buah tembesu harus segera dihilangkan karena benih dari buah

yang terfermentasi umumnya berakibat buruk yaitu cepat menurunkan Gambar 1. Variasi tingkat

kemasa-kan benih tembesu ber-dasarkan warna buah. Pada saat sebagian be-sar buah telah berwarna kuning-oranye merupa-kan saat yang tepat un-tuk dipanen. (dok. Zanzibar et al., 2010)

Gambar 2. Penampilan benih tembe-su pada pembesaran 600 kali. Benih muda (a) dan benih masak fisiologis (b). (dok. Zanzibar et al., 2010)

b

(20)

viabilitas. Ekstraksi benih menggunakan metoda basah-kering, dilakukan

dengan cara merendam buah selama 12 jam, diremas-remas, disaring

menggunakan ayakan 0.001 m kemudian dikering anginkan selama 5 hari

pada suhu kamar (BPTH Palembang, 2000).

C. Pembersihan dan Sortasi

Kelompok benih hasil ekstraksi, umumnya masih tercampur dengan

kotoran; sangat sulit membedakan antara benih dan daging buah/sisa

eksokarp (kotoran) karena memiliki ukuran dan penampilan yang relatif

sama. Benih yang masih kotor sangat rentan terhadap serangan

hama/penyakit karena kotoran merupakan media yang baik bagi

pertumbuhan mikroorganismea, utamanya selama penyimpanan.

Pembersihan dan sortasi mutlak dilakukan sebelum dikecambahkan atau

disimpan. Penggunaan ayakan untuk pembersihan dan sortasi benih yang

berukuran kecil cukup efektif meningkatkan kemurnian sehingga mutu fisik

dan fisiologisnya dapat meningkat (Boland et al., 1980).

Metoda pembersihan dan sortasi benih tembesu menggunakan

pengayakan bertingkat. Pengayakan diawali dari ukuran lubang paling besar

hingga terkecil. Penelitian Zanzibar et al. (2010) menunjukkan bahwa

penggunaan ayakan (L = lolos, T = tertahan) T840 (2.935.000 kecambah/kg)

dan L840 T710 (2.910 kecambah/kg) menghasilkan jumlah kecambah

tertinggi dan berbeda nyata dengan kontrol (1.300.000 kecambah/kg).

Berdasarkan ukuran ayakan, diperoleh dua klasifikasi mutu

fisik-fisiologis (MFF) benih tembesu, yaitu: MFF1= T840 (26.54%) dan L840 T710

(32.60%), MFF2 = L710 T600 (37.86%), MFF3 dan kotoran = L600 T420

(3.00%). MFF1 memiliki komposisi jumlah benih paling besar (59.14%)

sedangkan kotoran dan benih bervigor rendah berukuran lebih kecil dari 600

mikrometer yang diperlihatkan pada penggunaan L600 T420 (3.00%).

Pengelompokkan mutu benih mengikuti kaidah bila benih berukuran besar

maka memiliki mutu fisik-fisiologis terbaik (MFF1), dan seterusnya. Benih

tembesu berukuran antara 600–840 mikrometer, sedangkan kotoran lebih

(21)

D. Watak dan Metoda Penyimpanan

Benih tembesu berwatak intermediate; benih yang tidak toleran

terhadap pengeringan dan suhu rendah (di bawah 15 oC), sedangkan kadar

air dapat dibuat sesuai klasifikasi ortodoks (rendah = 8-10%) (Schmidth,

2002). Hasil analisis biokimia menunjukkan bahwa benih tembesu tergolong

benih berkarbohidrat, namun juga memiliki kandungan protein dan lemak

relatif tinggi (Tabel 1) (Zanzibar, 2010).

Tabel 1. Kandungan biokimia benih tembesu hasil radiasi

Parameter Unit (%)

Kadar air 15.9

Kadar Abu 1.66

Lemak Total 28.92

Protein 12.82

Karbohidrat Total 40.69

Sumber: Zanzibar et al. (2010)

Benih hasil seleksi dan sortasi yang berkadar air 9 - 12% dikemas

dalam kantong plastik (kedap air dan udara) (Gambar 3), selanjutnya

disimpan dalam lemari es (refrigerator) pada suhu 15-18 oC, RH = 70-80%.

Penyimpanan pada kondisi ini, setelah 2 tahun belum menurun viabilitasnya

dan kondisinya sama dengan kelompok benih awal (panenan baru),

sedangkan penyimpanan pada suhu kamar selama 6 bulan menyebabkan

benih sudah kehilangan semua viabilitasnya (Zanzibar et al., 2010).

(22)

E. Perlakuan Pendahuluan dan Tipe Dormansi

Perlakuan pendahuluan terbaik untuk mematahkan dormansi benih

tembesu adalah metoda imbibisi dengan H2O2 5% selama 24 jam

(2.780.000 kecambah/kg), dibanding jika tanpa perlakuan (langsung ditabur)

hanya diperoleh 1.300.000 kecambah/kg. Perlakuan imbibisi dengan H2O2

5% mampu menyediakan oksigen terlarut dalam jumlah optimum selama

perkecambahan (Zanzibar, 2010). Berdasarkan hasil perlakuan perendaman

dalam H2O2 5% selama 24 jam, benih tembesu memiliki dormansi

morfologis yang tidak terlalu kuat (after ripening) karena tingkat morfologis

dari embrio belum matang (Nitsch, 1971; Zanzibar et al., 2009 dan Zanzibar

et al., 2010).

F. Peningkatan Produktivitas Bibit

Peningkatan produktivitas bibit dapat dilakukan dengan iradiasi sinar

gamma (60Co). Beberapa hasil penelitian iradiasi sinar gamma pada benih

memperlihatkan bahwa dosis tinggi dapat bersifat menghambat (inhibitory),

namun pada dosis rendah berperan memacu pertumbuhan (stimulatory)

(Raghava dan Raghava, 1989; Kumari dan Singh, 1996; Radhevi dan

Nayar, 1996; Chan dan Lam, 2002; Zanzibar dan Witjaksono, 2011). Selain

mempengaruhi pertumbuhan, iradiasi sinar gamma memiliki kemampuan

menginduksi mutasi pada materi genetik. Kemampuan tersebut

dimung-kinkan karena sinar gamma memiliki energi cukup tinggi untuk menimbulkan

perubahan pada struktur dan komposisi materi genetik tanaman. Perubahan

tersebut terjadi secara mendadak, acak dan diwariskan pada generasi

berikutnya (IAEA, 1977). Keragaman petumbuhan tembesu akibat iradiasi

(23)

Secara umum, perlakuan iradiasi mulai dari 5-120 Gy mampu

meningkatkan nilai peubah diameter dan tinggi. Perlakuan iradiasi mulai dari

5-120 Gy maupun meningkatkan nilai peubah diameter dan tinggi.

Perlakuan iradiasi pada dosis di atas 30 Gy menyebabkan daya hidup bibit

menurun dan pada dosis di antara 120 Gy kematian bibit terjadi.

Penggunaan dosis 30 Gy menghasilkan bibit dengan pertumbuhan terbesar;

volume bibit mencapai 2.391,4 mm3 ( 3,14 x 1,55 mm x 1,55 mm x 317 mm),

sedangkan bibit dari benih tanpa iradiasi (kontrol) rata-rata memiliki diameter

2,1 mm dan tinggi 15,4 cm sehingga diperoleh volume sebesar 533,1 mm3.

Iradiasi benih tembesu pada kisaran kadar air kesetimbangan (8-10%),

dosis 30 Gy meningkatkan produktivitas bibit (umur 8 bulan) lebih dari 4,5

kali terhadap kontrol (Zanzibar et al., 2011).

(24)

Tabel 2. Keragaman pertumbuhan bibit tembesu umur 8 bulan akibat pengaruh iradiasi sinar gamma pada benih

II. STANDARDISASI METODA PENGUJIAN BENIH

Jaminan mutu benih edar dalam sistem sertifikasi diperoleh dari

suatu rangkaian pengujian standar. Standar pengujian tersebut tertuang

dalam Peraturan Pemerintah No. 44 Tahun 1995. Sertifikasi merupakan

konsekuensi komersialisasi benih, bertujuan untuk menjamin kebenaran

mutu dan memberikan perlindungan bagi pengada, pengedar dan pengguna

benih yang pada akhirnya dapat meningkatkan produktivitas tegakan

(Sadjad, 1997; Kartiko, 2002).

Syarat dan ketentuan pengujian benih, tertuang di dalam pedoman

pengujian yang dikeluarkan oleh International Rules for Seed Testing

(ISTA), namun untuk jenis tanaman hutan masih sangat terbatas. ISTA

(2006) menentukan bahwa peubah mutu fisik terdiri dari kadar air,

kemurnian dan berat 1000 butir, sedangkan mutu fisiologisnya adalah daya

berkecambah. Peubah-peubah tersebut mencerminkan kinerja penanganan

yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan persemaian di lapangan.

A. Penarikan contoh

Tujuan penarikan contoh adalah mendapatkan contoh benih untuk

mewakili suatu kelompok benih yang akan diuji mutunya. Buah hasil

pengunduhan dari suatu lokasi diekstraksi dan dijadikan satu kelompok Dosis

(25)

benih. Kelompok benih tersebut diasumsikan sebagai contoh kiriman.

Contoh kerja dibuat dari contoh kiriman menggunakan alat pembagi benih

(seed sample devider) atau dengan cara acak parohan hingga diperoleh

contoh kerja yang diinginkan (ISTA, 2006).

B. Peubah kadar air

Tingkat kadar air benih mengindikasikan tingkat kemasakan, daya

simpan dan perlakuan yang harus diterapkan untuk penanganan

selanjutnya. Penanganan kadar air yang tepat dapat membatasi terjadinya

kerusakan, setiap penurunan 1% dari nilai kadar air (benih ortodoks) akan

memperpanjang periode simpan selama 4-5 tahun. Selain itu, kadar air yang

terlalu tinggi dari tingkat kadar air kesetimbangannya merupakan lingkungan

ideal bagi pertumbuhan jamur dan bakteri (Zanzibar, 2010).

Metoda penentuan kadar air yang paling tepat adalah bila mampu

memberikan nilai kadar air tertinggi (Wilan, 1985). Metode dirancang untuk

mengurangi oksidasi, dekomposisi atau hilangnya zat yang mudah menguap

bersamaan dengan pengurangan kelembaban sebanyak mungkin (ISTA,

2006). Metode oven tetap yang menguapkan air saja yang diuapkan selama

pengeringan banyak digunakan sebagai metode standar (Edward, 1987;

ISTA, 2006) bila dibandingkan dengan metode lainnya yang masih harus

dikalibrasi. Nilai kadar air kesetimbangan kelompok benih awal tembesu

(benih baru dipanen) berkisar antara 9.2-12.2%, diukur berdasarkan metode

oven tetap dengan 2 (dua) ulangan, masing-masing ulangan terdiri dari 1.0

gram. Menurut Widyani et al. (2010) penentuan kadar air tembesu dapat

menggunakan suhu tinggi maupun rendah; suhu tinggi pada 130 - 133C

selama 4 jam, sedangkan suhu rendah pada 103 ± 2C selama 22 jam.

C. Peubah kemurnian

Benih yang baru dipanen meskipun telah dibersihkan kemungkinan

masih tercampur dengan kotoran, baik berupa potongan daun, ranting,

daging buah, benih tanaman lain, atau benih dari jenis yang sama namun

(26)

hama penyakit, kualitas fisik yang rendah, melembabkan atmosfer sekitar

benih, meningkatkan kadar air dan memacu metabolisma. Pengetahuan

tentang determinasi dan penampilan benih sangat menentukan keakuratan

hasil pengujian. Selain itu, peubah kemurnian digunakan untuk memprediksi

kebutuhan benih serta pengelompokkan mutu benih (Zanzibar, 2010).

Kemurnian benih tembesu berkisar antara 84,8% - 94,8% (Widyani

et al., 2010). Metoda pengukurannya berdasarkan analisis manual di atas

meja kemurnian dengan 2 (dua) ulangan, masing-masing ulangan terdiri dari

2.0 gram; antara benih murni dan daging/kulit buah sebagai kotoran

dipisahkan satu sama lain. Nilai kemurnian sangat dipengaruhi oleh kinerja

pengada. Semakin baik metoda pembersihan benih maka nilai kemurnian

benih akan makin tinggi, begitu pula sebaliknya.

D. Peubah Berat 1000 Butir

Setiap jenis benih memiliki ukuran berbeda dengan jenis lainnya,

demikian halnya dalam satu jenis yang sama. Perbedaan ukuran dalam satu

jenis yang sama dapat disebabkan oleh: perbedaan klimatis - edafik antar

tapak, perbedaan klimatis pada saat pembentukan buah, perubahan

(evolusi) terhadap kondisi alaminya, atau intensifitas pengelolaan.

Perbedaan ukuran kemungkinan dapat menyebabkan perbedaan viabilitas

dan vigor benih. Ukuran benih juga digunakan untuk memprediksi

kebutuhan benih untuk tujuan penanaman serta pengelompokkan mutu

(Zanzibar, 2010).

Jumlah benih per kg untuk benih-benih halus seperti tembesu

dinyatakan dengan istilah benih hidup murni (Thomson, 1979). Perhitungan

berat 1000 butir menggunakan 6 (enam) ulangan berdasarkan hasil

pengukuran keragaman, koefisiennya dan standar deviasi. Menurut Widyani

et al. (2011) berat 1000 butir benih tembesu berkisar antara 0,26-0,29 gram,

(27)

E. Peubah daya berkecambah

Daya berkecambah memberikan informasi kepada pengguna benih

akan kemampuan benih tumbuh normal menjadi tanaman yang berproduksi

normal pada kondisi sub optimum. Pengamatan dilakukan terhadap

pertumbuhan kecambah normal pada kondisi yang sesuai dalam jangka

waktu tertentu. Sebelum ditabur, benih diberi perlakuan pendahuluan berupa

imbibisi dengan H2O2 5% atau air dingin selama 24 jam.

Uji perkecambahan di laboratorium menggunakan germinator,

ulangan sebanyak 2 (dua) kali, masing-masing ulangan terdiri dari 0.05

gram. Kriteria kecambah normal bila telah muncul sepasang daun serta

tidak terserang penyakit (Gambar 5). Perhitungan awal dimulai pada hari ke

17 dan diakhiri pada hari ke-26. Uji di atas kertas (UDK) merang merupakan

metoda uji terbaik, berkisar antara 129-142 kecambah/0.05 gram. Pada uji

antar kertas (UAK) sebesar 121-140 kecambah/0.05 gram. Hal ini

mengindikasikan bahwa perkecambahan benih tembesu relatif

membutuhkan cahaya yang cukup sehingga germinator harus dilengkapi

lampu neon yang selalu menyala selama pengujian.

Berdasarkan pengujian di rumah kaca diperoleh bahwa media

perkecambahan berupa media campuran serbuk sabut kelapa (cocopeat)

(28)

dan pasir (1:1)(v/v) atau campuran arang sekam dan pasir (1:1)(v/v) pada

bak-bak kecambah ditutup plastik transparan memberikan hasil terbaik.

Perhitungan awal dimulai pada hari ke-17 dan diakhiri pada hari ke-44. Ke

dua metoda tersebut, masing-masing antara 132-250 kecambah/0.05 gram

dan 179-253 kecambah/0.05 gram.

III. PENUTUP

Benih tembesu yang umumnya dari buah (Biji) mempunyai

sifat/karakteristik tertentu. Musim buah yang relatif singkat dan mudah

terserang hama serta karakteristik benih yang tergolong intermediate,

memerlukan penanganan yang tepat dari pengunduhan hingga

penyimpanan benih. Penanganan benih yang tepat dapat meningkatan

efisiensi pengelolahan dan produktivitas, meningkatkan daya simpan dan

daya kecambah serta meningkatkan kemungkinan bibit tumbuh sehat,

cepat, dan serentak.

DAFTAR PUSTAKA

Boland, D.J dan J.W. Turnbull, and D.A. Kleinig, 1980. Eucalyptus Seed.

Division of Forest Research CSIRO, Canberra.

BPTH - Palembang, 2000. Informasi Teknis Budidaya Tembesu. Balai

Perbenihan Tanaman Hutan Wilayah Sumatera. Ditjen RLPS.

Palembang.

Chan, Y.K. and P.F. Lam, 2002. Irradiation-induced mutations in papaya

with special emphasis on papaya ringspot resistance and delayed fruit

ripening. Working material – Improvement of tropical and subtropical

fruit trees through induced mutations and biotechnology. IAEA,

Vienna, Austria. 35 – 45 pp

Edwards, D.G.W. 1987. Methods and Procedures for Testing Tree Seeds in

Canada. Forestry Technical Report 36. Canadian Forestry Service.

(29)

IAEA, 1977. Manual on Mutation Breeding. Second Edition. Join FAO/IAEA

division of atomic energy in food and agriculture. Vienna, Austria.

ISTA. 2006. International Rules for Seed Testing: Edition 2006. The

International Seed Testing Association. Bassersdorf. CH-.

Switzerland.

Kartiko. H.D.P. 2002. Penanganan Perbenihan untuk Mendukung

Pengelolaan Hutan Secara Lestari. Dalam Industri Benih di Indonesia.

Aspek Penunjang Pengembangan. Kerjasama Laboratorium Ilmu dan

Teknologi Benih. Institut Pertanian Bogor dengan PT. Sang Hyang

Seri. Bogor.

Kumari, R. and Y.Singh, 1996. Effect of gamma rays and EMS on seed

germination and plant survival of Pisum sativum and Lens culinaris

Medic. Neo Botanica 4(1) : 25 – 29.

Nitsch, J.P,1971. Perennation through seeds and other structures: Fruit

development. In : Plant physiology, a treatise. AP. pp 413 – 501

Radhadevi,D.S., and N.K.Nayar, 1996. Gamma rays induce fruit character

variations in Nendran, a varieties of banana (Musa paradasiaca L.).

Geobios : 23(2-3): 88-93.

Raghava,R.P., dan N.Raghava, 1989. Effect of gamma irradiation on fresh

on dry weight of plant part in Physsalis L. Geobios: 16(6): 261-264.

Sadjad. S. 1997. Membangun Industri Benih dalam Era Agribisnis Indonesia.

PT. Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.

Schmidth, L. 2002. Penanganan Benih Tropis dan Hutan Tropis. Ditjen

Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. Indonesia Forest Seed

Project (IFSP). Jakarta.

Thomson, L.O. 1979. An Introduction to Seed Technology. Thomson Litho

Ltd. East Kilbride. Scotland.

Widyani N, Dede JS, Eliya S, Enoch RK, Nurkim M, Abay, Emuy S, 2010.

(30)

Roxb). Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan. Tidak

diterbitkan.

Wilan, R.L. 1985. A Guide to Forest Seed Handling. FAO. United Nation.

Rome, Italy.

Zanzibar, M., N. Yuniarti, E. Suita, Megawati, D. Haryadi, dan E. Supardi.

2010. Hasil Penelitian Teknologi Perbenihan Jenis Tembesu (Fagraea

fragrans Roxb). Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman

Hutan. Tidak Diterbitkan.

Zanzibar, M, 2010. Materi Kursus Teknologi Penanganan Benih Tanaman

Hutan (Teori dan Praktek). Balai Penelitian Teknologi Perbenihan

Tanaman Hutan. Tidak Diterbitkan.

Zanzibar, M dan Witjaksono, 2011. Pengaruh Penuaan dan Iradiasi Benih

dengan Sinar Gamma (60 C) Terhadap Pertumbuhan Bibit Suren

(Toona Sureni Blume Merr). Jurnal Penelitian Hutan Tanaman: 8(2):

(31)
(32)

PEMBIBITAN JENIS TEMBESU (

Fagraea fragrans

Roxb)

Oleh: Agus Sofyan dan Abdul Hakim Lukman

Salah satu kendala dalam pembangunan kehutanan, baik program

pembangunan hutan tanaman, reboisasi, rehabilitasi serta kegiatan lainnya

adalah masalah ketersediaan benih atau bibit yang tidak selalu tersedia saat

dibutuhkan. Penguasaan teknik pembibitan dalam rangka pengembangan

jenis-jenis komersial sangat perlu untuk dilakukan.

Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran dan informasi

tentang hasil-hasil penelitian teknik pembibitan tembesu, baik secara

generatif maupun vegetatif agar menghasilkan bibit bermutu tinggi dalam

jumlah yang banyak dan seragam, sehingga ketersediaan bibit berkualitas

dapat tercapai.

I. TEKNIK PEMBIBITAN JENIS TEMBESU A. Permudaan dan pengumpulan buah 1. Permudaan

Tembesu termasuk jenis tanaman pionir yang mempunyai

kemampuan regenerasi alami relatif mudah. Hasil pengamatan pada

berbagai lokasi di wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumatera Selatan,

Lampung dan Jambi) menunjukkan bahwa regenerasi alami tembesu terjadi

pada areal atau lahan terbuka di sekitar daerah sebaran alaminya, yang

umumnya berasal dari tunas akar (Gambar 1).

(33)

Hal yang menarik dari jenis ini adalah bahwa, sekalipun tembesu

dapat menghasilkan atau memproduksi buah dan benih yang sangat

banyak, bahkan seringkali berlimpah pada saat musim buah (Gambar 2),

namun regenerasi alami yang berasal dari benih/biji sangat jarang dijumpai.

Pada tegakan tembesu, baik alam maupun tanaman, sangat jarang

ditemukan anakan yang berasal dari biji atau benih. Sementara pada sisi

lain, jika dilakukan pengujian perkecambahan (daya kecambah), benih

tembesu mempunyai daya kecambah yang sangat tinggi dan dapat

mencapai 100%, dengan persentase jadi bibit siap tanam yang sangat tinggi

(83,5 % - 100%).

Gambar 2. Kelimpahan bunga dan buah tembesu pada saat musim buah

2. Pengumpulan buah

Pengumpulan buah atau benih sebaiknya dilakukan dengan cara

pengumpulan langsung dari batang atau tangkai pohon. Pengumpulan buah

dapat dilakukan dengan cara memanjat atau dengan cara memotong

tangkai buah yang terdapat pada ujung-ujung ranting atau tajuk dengan

menggunakan galah pangkas.

Buah tembesu berbentuk bulat, berwarna hijau pada saat masih

muda dan berwarna merah pada saat matang. Buah yang telah masak

(34)

buah-buah yang telah masak. Menurut Mulawarman et al. (2002),

pengumpulan atau pengunduhan buah sebaiknya dilakukan dengan cara

mengunduh langsung dari pohonnya, karena buah yang diambil dari bawah

tegakan (telah gugur atau rontok), seringkali kualitasnya tidak sebaik

buah/benih yang dipanen langsung dari pohon.

Buah tembesu mempunyai ukuran yang cukup variatif, baik antar

pohon maupun dalam pohon yang sama. Jumlah biji atau benih dalam satu

buah bervariasi antara 8 – 50 biji tergantung besarnya ukuran buah,

semakin besar ukuran buah maka akan semakin besar ukuran dan banyak

jumlah benih yang dikandungnya. Menurut Martawijaya et al. (2005), jumlah

buah tembesu per kilogram dapat mencapai 6.600 buah.

Mengingat tujuan pengumpulan buah adalah untuk keperluan

penanaman dengan produktivitas maksimal, maka terhadap buah dan benih

yang akan digunakan, harus dilakukan sortasi dan seleksi. Buah dan benih

yang dipilih adalah yang telah masak serta berukuran besar. Umumnya

buah dan benih yang telah masak dan berukuran besar mempunyai vigoritas

dan daya kecambah yang lebih baik (dapat mencapai 100%), dengan

demikian akan diperoleh pertumbuhan bibit yang maksimal.

Gambar 3. Benih/biji muda (a) dan benih masak/tua (b) (Dok. Sofyan, 2012)

(35)

B. Ekstraksi dan penyimpanan benih 1. Ekstraksi benih

Ekstraksi adalah proses pengeluaran atau pemisahan biji atau benih

dari bagian-bagian buah lainnya, seperti tangkai, daging dan kulit buah.

Ekstraksi benih tembesu dilakukan dengan cara ekstraksi basah, yaitu

dengan menggunakan air (Gambar 4). Sebelum dilakukan ekstraksi, buah

dilepaskan terlebih dahulu dari tangkainya, kemudian dimasukkan ke dalam

wadah atau mangkuk berukuran sedang yang telah berisi air. Ekstraksi

dilakukan dengan cara meremas-remas buah sehingga benih keluar dan

terpisah dari bagian-bagian buah lainnya. Kemudian benih dibersihkan

secara berulang-ulang dengan cara menambahkan dan mengganti air yang

digunakan untuk pembersihan benih. Setelah benih sudah relatif bersih,

kemudian ditiriskan dengan menggunakan saringan halus, lalu

dikeringanginkan di atas kertas sampai seluruh benih berada pada kondisi

kering angin. Pada saat pengeringan, hindari sinar matahari secara

langsung. Setelah kering angin kemudian benih dibersihkan kembali dari

berbagai kotoran yang tersisa sehingga benar-benar bersih dan dapat

digunakan untuk keperluan pembibitan/penanaman. Untuk keperluan

penyimpanan, benih dapat disimpan di dalam refrigerator atau kulkas.

(36)

2. Penyimpanan benih

Penyimpanan benih dilakukan setelah masing-masing benih diberi

keterangan tentang status benih (nama benih, asal benih, tanggal

pengunduhan, kolektor serta keterangan lain yang diperlukan). Pada saat

penyimpanan, kondisi benih harus dipastikan dalam keadaan kering dan

tidak tercampur dengan sisa-sisa bagian buah lainnya, hal ini sangat penting

untuk menghindari munculnya jamur selama masa penyimpanan. Benih

dikemas dalam kantong plastik yang tertutup rapat, kemudian dimasukkan

dalam wadah yang kedap dan disimpan dalam refrigerator atau kulkas.

Dengan kondisi penyimpanan tersebut benih masih dapat disimpan selama

3 tahun dengan daya kecambah sebesar 62% (Sofyan et al, 2013). Benih

tembesu termasuk benih yang dapat disimpan dalam waktu relatif lama dan

berwatak intermediate.

C. Propagasi atau perbanyakan

Propagasi atau perbanyakan tanaman tembesu dapat dilakukan

dengan dua cara, yaitu secara generatif dengan menggunakan bahan atau

organ generatif berupa benih/biji dan secara vegetatif dengan menggunakan

bahan vegetatif, berupa tunas yang berasal dari batang maupun akar.

1. Perbanyakan generatif a. Penyemaian benih

Penyemaian atau penaburan benih tembesu diawali dengan

perlakuan pendahuluan berupa perendaman benih ke dalam air selama satu

malam, kemudian benih dikering-anginkan beberapa jam di tempat teduh

(tidak terkena sinar matahari langsung). Setelah kering angin, benih

dicampur secara merata dengan pasir halus (perbandingan 1 : 5). Benih

ditabur ke dalam bak tabur yang telah berisi media pasir halus

lembab/basah yang telah steril (disangrai atau di siram fungisida cair).

Kemudian seluruh permukaan media kembali ditaburi dengan pasir halus

kira-kira setebal 1-2 mm secara merata dan disusun di atas pasir basah

(37)

dibuat dengan sistem sungkup tetutup rapat (Gambar 5), agar tidak terjadi

penguapan yang keluar dari sistem sungkup.

(a) (b)

Gambar 5. Hasil semai/kecambah dalam bak tabur (a) dalam sistem sungkup (b)

Penyemaian dengan menggunakan sistem sungkup tertutup rapat,

selain aman dari berbagai gangguan, dari sisi pemeliharaan juga lebih

efesien karena tingkat kelembaban serta kebutuhan air dan suhu untuk

proses perkecambahan dapat terjaga secara optimal, sehingga benih lebih

cepat berkecambah dan penyiraman tidak perlu dilakukan setiap hari, cukup

1 kali seminggu pada saat pengamatan kecambah atau terjadi kekeringan

media. Penyiraman dilakukan dengan menggunakan sprayer secara

pengkabutan atau fogging ke dalam sungkup. Dengan sistem ini, benih

tembesu umumnya mulai berkecambah 15 - 25 hari setelah penaburan.

b. Penyapihan dan pemeliharaan

Penyapihan adalah kegiatan memindah-tanamkan atau

mentrans-plasikan semai atau kecambah yang sehat dari bak tabur ke dalam polybag

yang berisi media sapih pada umur dan ukuran tertentu. Waktu penyapihan

terbaik untuk semai tembesu adalah pada umur 7 - 8 minggu (Gambar 5a)

setelah berkecambah dengan rerata tinggi kecambah ± 1 cm (Sofyan et al.,

(38)

Media sapih yang dapat digunakan antara lain campuran tanah

lapisan atas dengan pasir dan kompos serbuk gergaji (3:1:5) atau campuran

tanah lapisan atas dengan sabut kelapa atau cocopeat (3:1). Untuk memacu

pertumbuhan semai dapat diberikan pupuk NPK sebanyak 0,25 g/bibit atau

urea dengan dosis 0,4 g/bibit (Martin dan Sofyan, 2001). Mengingat ukuran

semai relatif kecil (+ 1 cm), maka sapihan diletakkan dalam bedeng yang

menggunakan sungkup atau naungan dengan intensitas cahaya masuk 50%

agar semai tidak mudah rusak oleh air hujan (semai terlepas atau keluar dari

dalam media sapih).

Setelah 2-3 bulan pasca penyapihan, sungkup dapat dibuka.

Pemeliharaan berupa penyiraman semai selanjutnya dilakukan dengan

menggunakan embrat atau gembor dengan ukuran lubang yang relatif kecil

dan dilakukan secara hati-hati.

Untuk melindungi bibit dari serangan hama atau penyakit, dapat

dilakukan penyemprotan fungisida atau insektisida yang berbahan aktif

ramah lingkungan serta pengaturan jarak antar bibit, terutama setelah daun

atau tajuk antar bibit sudah mulai saling bersilangan. Jika jarak antar bibit

tidak dijarangi saat/setelah tajuknya saling bersilangan, selain mudah

munculnya jamur, pertumbuhan bibit juga menjadi tidak normal dimana

pertumbuhan tinggi dan diameter menjadi tidak seimbang (tidak

proporsional).

Pada kondisi tertentu, dimana saat penyapihan dan pemeliharaan

sapihan (calon bibit) terjadi kekeringan (musim kemarau), maka penyapihan dapat dilakukan dengan sistem „bedeng genangan‟ (ketinggian air 1 – 2 cm), dengan menggunakan plastik pada alas atau dasar bedeng sapih.

Pada kondisi normal, bibit tembesu umumnya sudah siap ditanam

pada umur 6 – 10 bulan setelah sapih, dengan rerata tinggi 30 – 40 cm.

Pertumbuhan bibit tembesu di persemaian tentunya sangat dipengaruhi

kualitas benih (vigoritas dan daya kecambah benih), musim (penghujan atau

(39)

(a) (b)

Gambar 5. Penyapihan semai tembesu (a) dan semai/bibit umur 5 bulan (b)

2. Perbanyakan vegetatif a. Cara perbanyakan

Tembesu termasuk salah satu jenis tanaman hutan yang mudah

dikembangkan secara vegetatif, terutama dengan teknik stek. Perbanyakan

atau pembuatan bibit tembesu melalui teknik stek, dapat dilakukan dengan

menggunakan bahan atau materi berupa tunas yang berasal dari bibit hasil

semai (stek pucuk atau stek batang), trubusan buatan hasil pangkasan

(Gambar 6a), hasil teresan (Gambar 6b)atau hasil trubusan alami (Gambar

6c) yang berasal dari pohon-pohon induk hasil seleksi.

(a) (b) (c)

(40)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa materi asal semai/bibit maupun

trubusan buatan serta trubusan alami, mempunyai peluang besar untuk

digunakan sebagai materi dalam pembibitan vegetatif khususnya melalui

teknik stek, sebagaimana disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Beberapa hasil penelitian pembibitan tembesu dengan teknik stek

No Asal bahan,

Tingkat keberhasilan pembibitan dengan teknik stek sangat

dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti :

1). Faktor materi yang digunakan, terkait asal bahan, umur

bahan/trubusan, waktu pengambilan bahan. Bahan stek yang

digunakan berupa tunas muda (juvenile) yang sudah mulai berkayu

namun belum terlalu tua dan waktu pengambilan bahan stek sebaiknya

dilakukan pagi atau sore hari. Untuk menjaga kelembaban dan

mengurangi penguapan, sebelum pembuatan stek, bahan stek atau

bagian yang diambil perlu disiram terlebih dahulu, kemudian

dimasukkan ke dalam ember berisi air. Jika bahan stek tidak langsung

digunakan, maka bahan stek harus dalam keadaan basah/lembab dan

dapat disimpan dalam kantong plastik selama 2-3 hari atau direndam

(41)

2). Faktor lingkungan, seperti kelembaban, temperatur dan intensitas

cahaya dalam sistem sungkup serta media yang digunakan sangat

penting bagi keberhasilan teknik stek (Hartmann et al., 1983).

Kelembaban dalam sungkup harus dijaga pada tingkat 80-95%, suhu

28-32oC, intensitas cahaya 40-50%, dengan media campuran pasir, top

soil dan kompos (2:2:3) atau campuran serbuk kulit kelapa (cocopeat),

top soil dan sekam padi.

3). Faktor teknik yang terkait dengan tingkat kecakapan pelaksana dalam

proses penyetekan, mulai dari waktu pengumpulan dan seleksi bahan

stek, cara pembuatan/pemotongan bahan stek, penanaman dan

pemeliharaan stek. Pembuatan bahan stek dilakukan dengan

memotong batang stek, minimal dua ruas (3 nodul), dipotong tepat di

bawah nodul ke tiga dengan sudut 45o. Untuk mengurangi penguapan,

bahan stek langsung direndam dalam air bersih dalam ember,

selanjutnya ditanam ke dalam polybag (dengan media campuran) yang

diletakkan di atas pasir lembab di dalam sungkup. Setelah penanaman,

perlu dilakukan pemadatan media di sekitar batang stek dengan

menggunakan dua jari, sehingga posisi stek kuat dan tidak bergoyang

saat penyiraman. Penyiraman dapat dilakukan dengan menggunakan

handsprayer secara hati-hati.

b. Pemeliharaan selama pembentukan akar dan tunas

Pemeliharaan stek di dalam sungkup merupakan masa atau fase

yang sangat penting, karena stek belum mempunyai akar untuk menyerap

air maupun hara yang dibutuhkan. Faktor utama yang harus dijaga selama

proses pembentukan akar adalah terjaganya atau terjaminnya tingkat

kelembaban dalam sistem sungkup, sehingga stek tetap berada pada

kondisi yang segar dan dapat melakukan proses fotosintesisa dengan baik

sehingga proses pertumbuhan tunas dan akar dapat berlangsung dengan

baik. Jika terjadi penurunan kelembaban dapat dilakukan dengan

penyemprotan air secara fogging dengan menggunakan hand sprayer.

Dengan sistem sungkup dan pemeliharaan yang baik, stek tembesu mulai

(42)

Penyapihan stek tembesu dapat dilakukan sekitar 3-4 minggu

setelah terbentuknya akar (sekitar 2 bulan setelah tanam). Pada umur

tersebut stek sudah mempunyai perakaran yang baik dan dapat ditanam ke

dalam media sapih. Penyapihan dilakukan dengan mencabut stek atau

mencongkel secara hati-hati sehingga akarnya tidak terganggu atau rusak.

Untuk memudahkan penyapihan/penanaman stek, maka pengisian media ke

dalam polybag cukup setengahnya, kemudian sesaat setelah

penanaman/penyapihan, sambil dipadatkan, medianya ditambahkan lagi,

hingga seluruh akar dan sebagian pangkal batang stek terkubur sehingga

dapat berdiri kokoh dalam polybag. Setelah proses penyapihan selesai,

kemudian susun polybag ke dalam bedeng sapih yang diberi naungan.

Proses penyapihan bibit merupakan fase penting dalam pembuatan bibit

melalui teknik stek. Menurut Sakai dan Subiakto (2007), penyapihan

merupakan tahapan kritis kedua dalam keberhasilan produksi bibit stek.

3. Pemeliharaan bibit di persemaian

Pertumbuhan bibit yang berasal dari biji maupun stek (generatif dan

vegetatif) sangat ditentukan oleh tindakan atau pemeliharaan selama bibit

berada di persemaian. Tindakan utama dalam pemeliharaan di persemaian

adalah penyiranam, penyiangan dan penyortiran. Penyiraman dilakukan

setiap hari (pagi dan sore). Pembersihan gulma atau penyiangan dapat

dilakukan 1 bulan sekali terhadap gulma-gulma yang tumbuh dalam media

atau di sekitar tanaman di persemaian. Penyortiran dilakukan pada bibit-bibit

yang mati dan pengelompokan bibit berdasarkan ukurannya, sehingga bibit

dapat tumbuh secara maksimal. Untuk memacu pertumbuhan, selama

pemeliharaan dapat diberikan pupuk urea dengan dosis 0,4 gr atau 0,25 gr

NPK per bibit/anakan, yang diberikan 1-2 bulan setelah penyapihan.

II. PENUTUP

Penguasaan teknik pembibitan atau propagasi tanaman sangat

penting dalam pembangunan hutan tanaman. Pembibitan tembesu dapat

(43)

Pembuatan bibit tembesu secara vegetatif dapat dilakukan dengan

materi yang berasal dari beberapa sumber, seperti semai atau bibit, tunas

atau trubusan alami dari pohon-pohon induk (umur 6 tahun), trubusan

buatan dari hasil teresan maupun hasil pemotongan atau pemangkasan

batang utama (umur 6 tahun).

Dari hasil-hasil penelitian yang telah diuraikan di atas, menunjukkan

bahwa pembuatan atau perbanyakan bibit tembesu melalui teknik stek relatif

mudah dilakukan, sehingga upaya peningkatan produktivitas dalam

pembangunan dan pengembangan hutan tanaman tembesu sangat

dimungkinkan dan mempunyai prospek yang cukup besar.

DAFTAR PUSTAKA

Hartmann, H.T., D.E. Kester and Davies, F.T. 1983. Plant Propagation Principle and Practices. Prentice Hall. Inc. Engelwood Clift. New Jersey.

Martawijaya, A., Kartasujana, I., Mandang, Y.I., Prawira, S.A, Kadir, K. 2005. Atlas Kayu Indonesia. Jilid II. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan.

Martin, E. dan A. Sofyan. 2001. Perangsangan Pertumbuhan Tembesu (Fagraea fragrans) dengan Pengaturan Intensitas Naungan dan Pemupukan di Persemaian. Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Penelitian Balai Teknologi Reboisasi Palembang. Palembang, 12 November 2001. Pp.113-121. Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam. Bogor.

Mulawarman., J.M. Roshetko., S.M. Sasongko., I. Djoko. 2002. Pengelolaan Benih Pohon, Sumber Benih, Pengumpulan dan Penanganan Benih. Pedoman Lapang Untuk Petugas Lapang dan Petani.International Centre for Research in Agroforestry dan Winrock International.

Sakai, C., Subiakto, A. 2007. Pedoman Pembuatan Stek Jenis-Jenis Dipterokarpa Dengan KOFFCO System. Kerjasama Badan Litbang Kehutanan dengan Komatsu dan JICA. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam.

(44)

Sofyan, A., I. Muslimin. 2006. Pengaruh Asal Bahan dan Media Terhadap Pertumbuhan Stek Batang Tembesu (Fagraea fragrans Roxb). Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Penelitian Penelitian “Konservasi dan Rehabilitasi Sumber daya Hutan”, Palembeng 20 September 2006. ISBN. 9789793145358.

(45)
(46)

BUDIDAYA TANAMAN TEMBESU

Oleh: Abdul Hakim Lukman dan Agus Sofyan

I. PENANAMAN TEMBESU

Kegiatan penanaman merupakan salah satu bagian dari rangkaian

kegiatan dalam pembangunan hutan tanaman. Penanaman yang tepat

waktu dan tepat tempat tumbuh akan berimplikasi terhadap efisiensi

pengelolaan dan produktivitas tanaman. Penanaman yang tepat waktu, yaitu

yang dilaksanakan pada musim hujan sangat berpengaruh terhadap

keberhasilan tumbuhnya tanaman. Lokasi yang tepat, baik edafis mupun

klimatis yang sesuai dengan persyaratan tumbuh suatu jenis tanaman

berperan terhadap pertumbuhan dan produktivias hutan tanaman yang

dibangun. Tidak kalah pentingnya juga cara penanaman yang tepat dapat

berdampak terhadap keberhasilan tegakan hutan tanaman. Cara/teknik

penanaman merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dalam

membangun suatu pertanaman, yang diawali dengan kegiatan penyiapan

lahan, pengaturan jarak tanam awal, penanaman bibit siap tanam, dan

pemeliharaan. Tahapan cara/teknik penanaman tembesu dan pemeliharaan

di lapangan diuraikan dalam bahasan di bawah ini.

A. Persiapan lahan

Penyiapan lahan merupakan kegiatan awal untuk mempersiapkan

tempat tumbuh sebaik mungkin bagi bibit yang akan ditanam, sehingga

kegiatan ini dapat juga disebut sebagai upaya manipulasi faktor tempat

tumbuh agar layak dan menguntungkan untuk pertumbuhan bibit yang akan

ditanam. Tujuan penyiapan lahan adalah untuk meningkatkan persentase

hidup tanaman dan pertumbuhan awal tanaman agar seragam. Beberapa

faktor yang harus dipertimbangkan dalam kegiatan penyiapan lahan adalah

kondisi vegetasi sebelum dan saat penanaman, iklim, topografi, jenis (tipe)

tanah, kesuburan tanah, peralatan, dan ketersediaan tenaga kerja, karena

akan berpengaruh terhadap pertumbuhan awal, persentase tumbuh

(47)

Tembesu merupakan salah satu jenis tanaman yang memerlukan

cahaya penuh untuk pertumbuhannya atau intoleran terhadap naungan,

sehingga cara penyiapan lahan yang baik dalam pembuatan pertanaman

tembesu adalah dengan tebas total. Hasil penelitian Kusnandar (2002),

menunjukkan pertumbuhan awal (umur < 12 bulan) tembesu pada lahan

dengan penyiapan/pembersihan lahan manual secara total lebih baik

dibandingkan dengan pertumbuhan tembesu pada lokasi dengan penyiapan

lahan tebas jalur (semak belukar).

Kegiatan pembersihan lahan dapat dilakukan secara manual,

mekanis, kimiawi, atau kombinasinya. Lahan yang didominasi oleh

alang-alang dan mempunyai topografi datar sampai agak datar dapat disiapkan

dengan menggunakan alat mekanik (alat berat). Pada lahan berupa semak

belukar dan hutan sekunder, penyiapan lahan dilakukan secara manual,

yaitu dengan melakukan penebasan, penebangan pohon, dan

pencincangan. Biomassa hasil pembersihan lahan dirumpuk (windrowed) di

antara jalur-jalur tanam tanpa dilakukan pembakaran (Gambar 1).

Penggunaan api dalam penyiapan lahan telah dilarang oleh pemerintah

sejak tahun 1996.

Gambar 1. Perumpukan biomassa hasil pembersihan lahan diantara jalur tanam

Tahapan kegiatan penyiapan lahan berikutnya adalah

mem-bera-kan (mengistirahatkan) lahan yang telah dibersihkan selama kurang lebih

satu bulan, kemudian dilakukan penyemprotan herbisida untuk

(48)

jenis-jenis gulma yang tidak bisa ditanggulangi dengan penyemprotan,

penanggulangan gulma dilakukan dengan penebasan. Herbisida yang

digunakan untuk memberantas gulma daun jarum sebaiknya yang bersifat

sistemik yang mengandung zat aktif glifosat, sedangkan untuk gulma daun

lebar menggunakan herbisida yang mengandung zat aktif 2,4 D Amin.

Herbisida yang mengandung zat aktif glifosat pada dosis (takaran) sebanyak

5 liter per hektar, dapat menekan pertumbuhan alang-alang selama 6 bulan

(Hendromono et al., 2006).

Gambar 2. Penyemprotan herbisida setelah satu bulan penebasan

Selesai penyemprotan herbisida, kemudian dilakukan pemasangan

ajir. Pengajiran dimaksudkan sebagai penanda tempat bibit akan ditanam

dimana jarak antar ajir disesuaikan dengan jarak tanam yang telah

ditetapkan. Ajir dibuat dari cabang atau batang tanaman dengan diameter

sekitar 1,5 – 2 cm dan panjang sekitar 1,5 – 2 m. Kegiatan selanjutnya

adalah pembuatan lubang tanam (Gambar 3) dengan ukuran 20 x 20 x 20

cm untuk tempat meletakkan bibit yang akan ditanam dan juga merupakan

salah satu cara pengolahan tanah terbatas, yang dapat memperbaiki sifat

fisik tanah agar drainase dan aerasi tanah menjadi baik untuk mendukung

(49)

Gambar 3. Pembuatan lubang tanam tepat di samping ajir tanaman

Tahapan penyiapan lahan berikutnya adalah pemberian pupuk

dasar. Pemberian pupuk dasar dapat menggunakan pupuk kandang

sebanyak 1 kg/lubang tanam. Pupuk kandang yang digunakan adalah

kotoran ayam padat atau kotoran ternak lainnya yang telah mengalami

proses pembusukan. Tujuan pemberian pupuk kandang adalah untuk

membantu menetralkan pH tanah, membantu menetralkan racun akibat

adanya logam berat dalam tanah, memperbaiki struktur tanah menjadi lebih

gembur, mempertinggi porositas tanah dan secara langsung meningkatkan

ketersediaan hara tanah, serta membantu mempertahankan suhu tanah

agar stabil. Pemberian pupuk dasar berupa kotoran ayam (pupuk kandang)

sebanyak 1 kg/lubang tanam pada tanah podsolik merah kuning

berpengaruh positif terhadap pertambahan diameter awal tembesu (Tabel 1)

dibanding tanpa pemberian pupuk dasar (Lukman et al., 2005).

Tabel 1. Pengaruh pupuk kandang terhadap pertumbuhan awal tembesu

Pupuk kandang

PertambahanTinggi (cm)

Pertambahan Diameter (cm)

20 bst Pertambahan/th 20 bst Pertambahan /th

0 kg/lubang tanam 154,7 92,82 2,4 1,44

1 kg/lubang tanam 148,4 89,04 2,9 1,75

(50)

B. Pengangkutan bibit ke lapangan

Bibit tembesu yang akan ditanam adalah bibit-bibit hasil seleksi dari

persemaian yang mempunyai kualitas yang baik, yaitu batangnya lurus

tunggal dan berkayu; daun segar hijau; dan tidak terserang penyakit; dan

pertumbuhannya relatif seragam, dengan kisaran tinggi 30-50 cm dan

diameter 4 - 6 mm. Bibit yang sudah terpilih diangkut ke lokasi penanaman.

Waktu pengangkutan sebaiknya pada pagi hari dan dilakukan penyiraman

terlebih dahulu dengan tujuan untuk mengurangi penguapan yang terlalu

besar sehingga kematian bibit akibat transportasi dapat diminimalkan.

Sesampainya di lokasi penanaman, bibit-bibit diistirahatkan/dibiarkan

beberapa waktu (± 2 minggu) untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan

sekitar areal penanaman. Selanjutnya bibit siap untuk ditanam pada

lubang-lubang tanam yang telah disiapkan (Gambar 4).

Gambar

Gambar 1. Tipe permukaan kulit tembesu (umur tanaman 7 tahun)
Gambar 5.  Penampilan batang hasil pemangkasan (a), dan penampilan tegakan hasil pemangkasan
Gambar 2.  Penampilan benih tembe-
Tabel 1. Beberapa hasil penelitian pembibitan tembesu dengan teknik stek
+7

Referensi

Dokumen terkait

Ditemukan di New Guinea di dataran rendah dan hutan motane lebih rendah pada ketinggian 26 sampai 1000 meter sebagai ukuran , panas tumbuh menengah , epifit monopodial hutan bukit

Jenis vegetasi gulma yang tumbuh pada kebun kelapa sawit lebih beragam apabila dibandingkan dengan vegetasi gulma yang tumbuh di kebun karet (Gambar 7), namun

Spesies isolat jamur entomopatogen Aphis gossypii yang ditemukan di agroekosistem sayur dataran rendah dan dataran tinggi Sumatera Selatan.. Spesies/metode Lokasi ditemukan isolat

Ketinggian tempat, dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis pada dataran tinggi maupun dataran rendah.. 41 Bunga Asoka Sarca Indica

Terdapat 15 jenis tumbuhan pakan badak sumatera di hutan dataran rendah dan 12 jenis di hutan pantai, keragaman tumbuhan pakan badak sumatera di hutan dataran rendah

Dendrelaphis pictus yang terdapat di Sumatera Barat mempunyai variasi morfometri yang tinggi dan memperlihatkan perbedaan antara populasi yang berada di dataran rendah,

Di Indonesia, Pinus yang tumbuh secara alami hanyalah Pinus merkusii di Sumatera yang terdiri dari strain Tapanuli, strain Kerinci dan strain Aceh. Berdasarkan persebarannya,

Petani di wilayah Sumatera Selatan menghadapi kesulitan keuangan akibat harga dukuh yang rendah di