TEMBESU
KAYU RAJA ANDALAN SUMATERA
Editor:
Nina Mindawati
Hani Siti Nurohmah
Choirul Akhmad
Penerbit
TEMBESU KAYU RAJA ANDALAN SUMATERA
Jln. Gunung Batu No.5 Bogor, Jawa Barat, Indonesia Telp./Fax.: +62251-7520093
Email: [email protected]
Dicetak oleh Percetakan PT Rambang, Palembang Isi di luar tanggung jawab Percetakan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
Lingkup Hak Cipta Pasal 2
(1) Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Ketentuan Pidana Pasal 72
KATA PENGANTAR
Tembesu (Fragraea fragrans Roxb.) merupakan salah satu jenis
tanaman yang banyak dimanfaatkan dan mempunyai nilai ekonomi tinggi
sehingga potensial dikembangkan di wilayah Sumatera Bagian Selatan.
Secara sosial tembesu telah dikenal dan kayunya telah banyak
dimanfaatkan oleh masyarakat.
Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang sebagai salah satu
Unit Pelaksana Teknis Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan
telah benyak meneliti tembesu. Secara detail, hasil-hasil penelitian tersebut
dituangkan di dalam buku ini yang dikemas dalam bentuk bunga rampai,
mengupas tuntas berbagai aspek tembesu mulai dari pengenalan dan
ekologi, perbenihan, budidaya, perlindungan, hasil dan pertumbuhan serta
sosial, ekonomi dan kebijakan.
Apresiasi diberikan kepada para peneliti yang telah berkontribusi
dalam penyusunan buku ini. Terimakasih juga disampaikan kepada semua
pihak yang telah membantu dalam proses editing, penyajian, penerbitan,
pencetakan, dan pendistribusiannya hingga dapat tersebarluaskan dengan
baik.
Semoga buku ini bermanfaat dan menjadi sumber inspirasi bagi ilmu
pengetahuan serta kemajuan bidang kehutanan khususnya dalam
pengembangan/pengusahaan dan peningkatan produktivitas hutan tanaman
tembesu.
Kepala Pusat Litbang Peningkatan Produktivitas Hutan,
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... iv
1. PENDAHULUAN ... 1
2. MENGENAL KARAKTERISTIK TANAMAN TEMBESU
Junaidah, Agus Sofyan dan Nasrun ... 3
3. PENANGANAN DAN PENGUJIAN BENIH TEMBESU
Muhammad Zanzibar ... 13
4. PEMBIBITAN JENIS TEMBESU (Fagraea fragrans Roxb)
Agus Sofyan dan Abdul Hakim Lukman ... 27
5. BUDIDAYA TANAMAN TEMBESU
Abdul Hakim Lukman dan Agus Sofyan ... 41
6. POTENSI DAN PERTUMBUHAN TEMBESU DALAM
PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT
Agus Sumadi dan Hengki Siahaan ... 57
7. HAMA DAN PENYAKIT TEMBESU
Asmaliyah ... 73
8. TEKNIK PENGENDALIAN GULMA PADA TANAMAN
TEMBESU
Etik Erna Wati Hadi dan Fatahul Azwar ... 93
9. SIFAT DASAR DAN PEMANFAATAN KAYU TEMBESU
Sahwalita ... 107
10. UPAYA KOMODITISASI TEMBESU DALAM PERSPEKTIF SOSIAL BUDAYA PETANI DAN PASAR
PENDAHULUAN
Tembesu adalah salah satu jenis kayu andalan yang populer di
Sumatera Bagian Selatan, memiliki nilai ekonomi dan nilai budaya yang
tinggi bagi masyarakat lokal. Berdasarkan sifat kayunya, tembesu memiliki
kelas kuat I-II dan kelas awet I sehingga pemanfaatannya dapat dilakukan
secara luas untuk dipakai, baik di dalam ruangan maupun terbuka.
Masyarakat menggunakan tembesu yang bersifat agak keras
(Fagraea fragrans) sebagai tiang penyangga baik untuk rumah, kapal,
jembatan, konstruksi rumah dan bahan furniture. Sebagai bahan konstruksi
rumah, tembesu mempunyai nilai budaya tinggi dan menambah nilai
prestise bagi pemiliknya. Adapun tembesu yang bersifat lembut (Fagraea
crenulata) dipakai untuk bahan baku produk ukiran karena kayu tembesu ini
mudah dibentuk, tidak mudah retak dalam pengerjaannya dan nilai
penyusutannya kecil
Kemanfaatan dan keekonomian kayu tembesu cukup tinggi, namun
demikian sumber kayu tembesu saat ini masih mengandalkan tegakan alam.
Sampai saat ini belum ada upaya budidaya yang dilakukan masyarakat
sehingga populasi tembesu di alam terus menurun.
Pada dasarnya tembesu merupakan jenis adaptif dan mudah
tumbuh pada berbagai jenis tanah dengan kondisi drainase buruk dan
mudah dalam regenerasi alaminya. Penanaman tembesu sangat mungkin
dilakukan karena teknologi pengadaan bibit baik dengan cara generatif
maupun vegetatif sederhana sudah diketahui. Teknik pertanaman terkait
pemilihan pola tanam dan alternatif tindakan silvikulturnya masih harus terus
dikembangkan.
Meskipun termasuk jenis kayu mahal, sayangnya tembesu belum
menjadi komoditas pilihan utama petani untuk menanamnya. Hal ini
dikarenakan tembesu termasuk salah satu jenis pohon lambat tumbuh
dengan daur tebang sekitar 25 tahun. Dalam pertumbuhannya pun tembesu
sehingga diperlukan pengelolaan intensif agar kayu tembesu yang
dihasilkan berbentuk lurus dan panjang. Penghambat lainnya dalam
komoditisasi tembesu adalah tingginya nilai komoditas lain seperti karet dan
sawit di wilayah Sumatera. Secara praktis masyarakat cenderung memilih
komoditas karet dan sawit sebagai alternatif utama penopang ekonomi
keluarga.
Sehubungan dengan hal di atas, maka pemerintah dan para pihak
seharusnya mendorong upaya komoditisasi tembesu melalui penelitian dan
pengembangan yang berfokus pada penyediaan IPTEK agar tembesu lebih
cepat tumbuh, pembangunan hutan tanaman baik dalam bentuk campuran
atau monokultur, program revitalisasi meubel dan ukiran tembesu, serta
peningkatan brand tembesu dalam pemasaran produk kayu di Sumatera
Bagian Selatan.
Secara kultural, dulu tembesu dikenal sebagai “kayu raja” karena konon penanamannya merupakan perintah raja (pengusaha/pemerintah)
pada waktu itu. Kini tembesu yang tumbuh secara alami dipelihara juga oleh
masyarakat, sehingga sekarang bisa juga disebut kayu rakyat. Ke depan tembesu akan menjadi kayu utama jika “sang raja” (pemerintah) dan rakyat memiliki keinginan yang sama dan berupaya untuk menjadikannya sebagai
komoditas primadona.
Buku “Tembesu, Kayu Raja Andalan Sumatera” ini disusun sebagai langkah awal untuk membuka peluang dan prospek pengembangan
budidaya dan pengelolaan hutan tanaman tembesu lebih lanjut, baik pada
MENGENAL KARAKTERISTIK TANAMAN TEMBESU
Oleh: Junaidah, Agus Sofyan dan Nasrun
I. GAMBARAN UMUM TANAMAN TEMBESU
Tembesu (Fagraea fragrans Roxb.) merupakan salah satu jenis dari
famili Loganiaceae yang mempunyai wilayah penyebaran alami sangat luas.
Menurut Lemmens et al, (1995), penyebaran Fagraea fragrans mulai dari
Bengal di India, Myanmar, Andaman Islands, Indo-Cina, Filipina, Thailand,
Peninsular Malaysia, Singapura, Sumatera, Jawa Barat, Kalimantan,
Sulawesi dan Yapen Island di Papua.
Untuk wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumatera Selatan, Jambi
dan Lampung) kayu tembesu termasuk jenis yang sangat populer dan
mempunyai nilai ekonomi serta budaya yang sangat tinggi bagi sebagian
masyarakatnya. Menurut Heyne (1987), khususnya di wilayah Sumatera
Selatan, tembesu dikenal sebagai kayu unggul dengan sebutan kayu raja,
yang pada masa lalu hak penebangannya diatur oleh para kepala adat.
Untuk mencegah kepunahannya, kepala adat menetapkan peraturan, yaitu
untuk setiap penebangan satu pohon tembesu harus diganti dengan
menanam sebanyak sepuluh pohon pada tempat-tempat yang telah
ditentukan. Berkat peraturan tersebut, kemudian banyak terbentuk kebun
tembesu di berbagai wilayah di Sumatera Bagian Selatan (Heyne, 1987).
Dengan adanya perubahan dan perkembangan zaman, walaupun
tidak lagi diterapkan peraturan menanam kembali jika menebang pohon
tembesu, namun budaya tersebut ternyata masih berlangsung hingga saat
ini, dimana masyarakat seringkali menanam dan atau memelihara tembesu
yang tumbuh alami sebagai tanaman sela pada kebun-kebun mereka, baik
pada kebun karet maupun sawit yang mereka usahakan.
Usaha pengembangan tembesu, baik sebagai tanaman pokok
maupun sebagai tanaman sela, tentunya harus didukung dengan informasi
serta teknologi budidaya yang tepat, yang didasarkan pada hasil-hasil kajian
dan penelitian berbagai aspek, sehingga produktivitas hasil yang maksimal
II. TAKSONOMI, BOTANI DAN SEBARAN A. Taksonomi
Dalam taksonomi tumbuhan tembesu termasuk dalam famili
Loganiceae dan digolongkan ke dalam :
Phylum : Tracheophyta
Class : Magnoliopsida
Famili : Loganiaceae
Genus : Fagraea
Spesies : Fagraea fragrans Roxb
B. Nama umum
Secara umum tembesu dikenal sebagai ironwood. Di Indonesia
dikenal sebagai ki badak (Sunda), kayu tammusu, tembesu (Sumatera),
ambinaton, tembesu (Kalimantan). Di Malaysia dikenal sebagai tembesu
hutan, tembesu padang dan tembesu tembaga (Peninsular). Di Philipina
secara umum dikenal dengan nama urung, dolo (Tagbanua), susulin
(Tagalog). Di Burma atau Myanmar dikenal sebagai kayu anan, ahnyim. Di
Cambodia disebut sebagai tatraou. Di Thailand dan Vietnam dikenal sebagai
tanaman kankrao dan trai (Martawijaya et al., 2005 dan Lemmens et al.,
1995).
C. Botani
Tembesu merupakan jenis pohon yang mempunyai sifat hijau
sepanjang tahun (evergreen) dengan percabangan yang banyak. Tinggi
tanaman dapat mencapai 40 m, tinggi bebas cabang sampai 25 m dengan
diameter dapat mencapai 150 cm (Lemmens et al., 1995, Martawijaya et al.,
2005). Batang pohon tembesu memiliki ciri fisik bergelombang lemah tanpa
banir. Kulit batangnya tebal dan cukup keras, warna coklat sampai hitam,
Gambar 1. Tipe permukaan kulit tembesu (umur tanaman 7 tahun)
Tajuk pohon berbentuk kerucut (cone) dan daunnya berbentuk
lanset hingga bulat telur-lonjong, dengan ukuran panjang 4 -15 cm dan lebar
1,5 – 6 cm (Lemmens et al., 1995). Tembesu dalam pertumbuhan dan
perkembangannya termasuk jenis tanaman yang menghasilkan cabang atau
percabangan sangat banyak yang secara alami sukar mengalami peluruhan,
sehingga cabang menjadi semakin besar dengan bertambahnya umur
tanaman.
Bunga tembesu berwarna putih (Gambar 2a), merupakan bunga
tunggal dengan aroma berbau harum, tabung daun mahkota bunga
berbentuk corong dengan panjang berkisar 0,7 - 2,3 cm. Buah tembesu,
pada musim berbuah akan menghasilkan buah dalam jumlah sangat
banyak, buah berbentuk bulat dengan diameter sekitar 0,5 – 1 cm, berwarna
hijau atau kuning pada saat muda dan berwarna merah atau orange bila
Gambar 2. Bunga dan buah muda tembesu (a); Buah tembesu masak (b)
Buah tembesu termasuk tipe buah buni, berdaging dan berisi biji
dengan ukuran relatif kecil (diameter kurang dari 1 mm). Semakin besar
ukuran buah, semakin banyak biji terkandung di dalamnya. Jumlah buah
dalam satu kilogram sebanyak 6.600 buah (Martawijaya et al., 2005),
sedangkan jumlah biji dalam satu kilogram adalah sekitar 5 juta biji
(Lemmens et al., 1995). Biji tembesu yang masih muda berwarna coklat
muda sampai coklat, sementara biji yang telah masak berwarna hitam
dengan kulit biji relatif keras dan permukaan kulit tidak rata dan kasar
(Gambar 3).
Gambar 3. Biji/benih muda (a) dan benih tua atau masak (b) (b)
(a)
D. Fenologi dan pembungaan
Tanaman tembesu umumnya mulai berbuah pada umur 5 - 6 tahun.
Menurut Martawijaya et al. (2005), tembesu dapat berbuah setiap tahun dan
umumnya pada bulan Nopember – Januari. Namun demikian dalam tiga
tahun terakhir (2011-2013), untuk wilayah Sumatera Selatan telah terjadi
perubahan atau pergeseran waktu berbuah yaitu berkisar antara bulan
Maret – Juni, dengan masa pembungaan dan pembuahan yang tidak
serempak, baik antar tanaman dalam satu populasi maupun antar populasi.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa hasil produksi buah pada berbagai
populasi relatif menurun dibanding periode-periode sebelumnya (Sofyan et
al., 2013). Hal ini diduga karena adanya pengaruh iklim yang telah
mempengaruhi proses pembungaan dan pembuahan tanaman tembesu,
dimana jumlah bunga yang dihasilkan relatif sedikit, sementara buah-buah
yang masih muda (belum sempat masak) mengalami kerontokan karena
cuaca yang relatif kering.
E. Sebaran dan tempat tumbuh
Di Indonesia tembesu tumbuh tersebar secara alami di beberapa
wilayah seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa Barat, Maluku dan
Irian Jaya. Tembesu secara alami tumbuh sebagai tanaman pionir pada
areal terbuka bekas terbakar, lahan alang-alang atau pada hutan sekunder
yang lembab. Menurut Lemmens et al. (1995) tembesu merupakan jenis
yang sangat adaptif dan dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah dan
kondisi lingkungan, seperti pada tanah datar dan sarang, tanah pasir atau
tanah liat berpasir, serta tanah miskin. Selanjutnya dikatakan pula bahwa
tembesu dapat tumbuh baik pada tanah dengan drainase yang buruk dan di
rawa tembesu tumbuh berasosiasi dengan gelam (Melaleuca spp.). Secara
umum, jenis ini menghendaki iklim basah sampai agak kering dan tumbuh
baik pada ketinggian 0-500 m dari permukaan laut (Martawijaya et al.,
F. Pertumbuhan
Pertumbuhan tanaman tembesu di alam relatif lambat dan seringkali
menghasilkan batang pokok yang tidak lurus, jumlah cabang sangat banyak,
dan tajuk yang berat (Gambar 4a). Regenerasi alami tembesu umumnya
berasal dari tunas akar, sangat jarang dijumpai regenerasi alami yang
berasal dari biji atau benih. Dengan karakter tersebut, tembesu dapat
membentuk tegakan yang berasal dari akar (Heyne, 1987)
Tembesu termasuk jenis tanaman dengan kemampuan meluruhkan
cabang secara alami (self prunning) sangat rendah, sehingga dalam
pembudidayaannya harus dilakukan pemangkasan cabang secara intensif
sejak pertumbuhan awal (mulai umur 1 tahun). Jika tidak dilakukan
pemangkasan maka seiring dengan pertumbuhannya, cabang-cabang yang
tumbuh/terbentuk akan semakin bertambah besar dan dalam jumlah yang
relatif banyak karena tidak mengalami peluruhan. Pada pertanaman
tembesu dengan jarak tanam relatif rapat yaitu 2 m x 3 m, menunjukkan
bahwa sampai umur tanaman 7 tahun, cabang-cabang yang tumbuh tidak
mengalami peluruhan atau rontok secara alami (Gambar 4b).
Gambar 4. Penampilan tegakan tanpa pemangkasan (a) dan percabangan pada umur 7 tahun (b)
Hasil penelitian pemangkasan cabang tembesu pada tanaman umur
di bawah 2 tahun menunjukkan bahwa pemangkasan dengan intensitas
40-50%, dapat meningkatkan rerata riap pertumbuhan diameter sebesar
23,67% dibanding tidak dipangkas (Lukman et al., 2010). Pemangkasan
cabang yang dilakukan pada umur tanaman lebih tua (3,5 tahun), tidak
memberikan hasil nyata terhadap pertumbuhan diameter maupun tinggi
sampai umur 7 tahun atau 3,5 tahun setelah pemangkasan (Sofyan et al.,
2013).
Perlakuan pemangkasan, selain dapat meningkatkan pertumbuhan
diameter tanaman tembesu, juga dapat meningkatkan kualitas batang yang
dihasilkan, karena dengan perlakuan pemangkasan akan dihasilkan
batang/kayu yang relatif besar dan lurus bebas mata kayu yang dapat
menurunkan kualitas kayu. Penampilan batang kondisi tegakan tembesu
yang diberi perlakuan pemangkasan, dapat dilihat pada Gambar 5.
Gambar 5. Penampilan batang hasil pemangkasan (a), dan penampilan tegakan hasil pemangkasan
G. Karakteristik dan kegunaan kayu
Karakteristik kayu dari pohon tembesu termasuk kelas berat,
sedang, sampai tinggi. Kayu terasnya berwarna kuning muda sampai coklat,
kayu gubalnya berwarna lebih muda. Berat jenis kayu tembesu 0,72-0,93
g/cm3. Tekstur kayu halus sampai agak halus dan merata (Lemmens et al.,
1995). Menurut Martawijaya et al. (2005), kayu tembesu termasuk kayu
kelas kuat I-II dan kelas awet I.
Kayu tembesu termasuk kayu yang mudah diolah. Hasil pengujian
sifat pengolahan kayu tembesu menunjukkan bahwa kayu tembesu mudah
diserut dan dibentuk, dibubut dan diamplas dengan baik (Martawijaya et al.,
2005). Selain itu, menurut Lemmens et al. (1995), kayu tembesu memiliki
sifat pemakuan, perekatan (menggunakan perekat urea-formaldehida) dan
sifat pengupasan (untuk dijadikan veneer dengan ketebalan 1,5 mm) yang
baik.
Dengan karakteristik yang dimilikinya, kayu tembesu sangat cocok
digunakan untuk konstruksi berat di tempat terbuka maupun yang
berhubungan dengan tanah, balok jembatan atau tiang rumah, lantai dan
barang bubutan (Martawijaya et al., 1989). Hal senada dikemukakan oleh
Lemmen et al. (1995) yang menyatakan bahwa kayu tembesu dapat
digunakan untuk bantalan rel kereta api, daun jendela dan pintu serta
meubelair. Masyarakat di Sumatera Selatan, menggunakan kayu tembesu
selain untuk kontruksi juga untuk produk-produk ukiran.
III. PENUTUP
Mengenalkan dan mempromosikan tembesu di wilayah Sumatera,
khususnya Sumatera Bagian Selatan, tentunya bukanlah hal yang sulit,
mengingat jenis ini secara kultural sudah sangat dikenal dan digunakan
untuk berbagai keperluan dalam menunjang kehidupan masyarakatnya.
Namun demikian upaya untuk terus mendorong dan mendukung
pengembangan tembesu pada usaha yang lebih produktif, tetap perlu dan
harus dilakukan oleh para pihak. Balai Penelitian Kehutanan Palembang,
memberi kontribusi, terutama dalam mewujudkan pembangunan hutan
tanaman, khususnya hutan rakyat jenis tembesu yang produktif, baik dalam
bentuk pola campuran (tembesu sebagai tanaman sela diantara karet atau
sawit) maupun pola monokultur.
DAFTAR PUSTAKA
Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Jilid III. Badan Penelitian
dan Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta.
Martawijaya, A., Kartasujana, I., Mandang, Y.I., Prawira, S.A, Kadir, K. 2005.
Atlas Kayu Indonesia. Jilid II. Badan Penelitian dan Pengembangan
Kehutanan. Departemen Kehutanan.
Lemmens, R.H.M.J., Soerianegara, I., Wong, W.C. 1995. Plant Resources of
South-East Asia 5. (2) Timber trees: Minor commercial timber.
PROSEA. Bogor Indonesia.
Lukman, A.H., A. Sofyan, Junaidah dan R. Effendi. 2010. Pengaruh
Pemangkasan terhadap Petumbuhan Tembesu (Fagraea fragrans
Roxb.) pada Dua Jarak Tanam Berbeda. Prosiding Seminar Nasional.
Kontribusi Litbang dalam Peningkatan Produktivitas dan Kelestarian
Hutan. Bogor, 29 November 2010. Pusat Litbang Peningkatan
Produktivitas Hutan. Bogor
Sofyan, A., A.H. Lukman dan Nasrun. 2013. Laporan Hasil Penelitian Teknik
Silvikultur Jenis Tembesu. Balai Penelitian Kehutanan Palembang.
PENANGANAN DAN PENGUJIAN BENIH TEMBESU
Oleh: Muhammad Zanzibar
I. PENANGANAN BENIH TEMBESU
Benih adalah bahan tanaman berupa bagian generatif atau bagian
vegetatif tanaman, antara lain berupa biji, mata tunas, akar, daun, jaringan
tanaman yang digunakan untuk memperbanyak dan atau
mengembang-biakkan tanaman. Penanganan benih secara tepat berimplikasi
meningkatkan efisiensi pengelolaan dan produktivitas tanaman karena benih
relatif lebih tahan disimpan, kecambah akan menjadi bibit sehat, tumbuh
cepat dan serempak. Penanganan mencakup serangkaian prosedur yang
dilakukan sesaat setelah pemanenan hingga benih menjadi bibit siap tanam.
Setiap elemen dari kegiatan penanganan sangat menentukan
derajat kualitas genetik yang diemban oleh kelompok benih tersebut.
Tahapan teknologi penanganan benih tembesu dan aspek-aspek dominan
yang berpengaruh adalah sebagai berikut:
A. Klasifikasi Buah dan Kriteria Masak Fisiologis Benih
Buah tembesu tergolong buah “majemuk - berdaging”, dimana buah berasal dari peleburan putik dari beberapa bunga-air dan gula terakumulasi
di dalam buah. Dalam suatu musim buah dan tandan yang sama, dapat
diperoleh perbedaan tingkat kemasakan benih (Gambar 1 dan Gambar 2),
yaitu benih muda (buah berwarna hijau), benih masak fisiologis (buah
berwarna kuning hingga oranye) serta benih memiliki vigor kekuatan tumbuh
dan daya simpan maksimum. Kondisi ini merupakan waktu pemanenan
yang tepat.
Musim buah tembesu tergolong relatif singkat, saat benih masak
cepat tersebar, dan mudah diserang hama (Schmidth, 2002). Di Sumatera
Selatan, Riau dan Jambi masak fisiologis benih tembesu diperoleh pada
bulan Maret – Juni. Hingga saat ini, belum ada sumber benih tembesu yang
dikukuhkan. Buah umumnya diunduh dari lahan pekarangan dengan jumlah
B. Pengumpulan Buah, Ekstraksi dan Pengeringan Benih
Benih seharusnya dikumpulkan pada saat panen raya atau pada
tegakan yang berbunga lebat dan sedikit serangan hama. Pengumpulan
buah dilakukan dengan cara pemanjatan karena pohon tembesu relatif tinggi
dan cabang yang menghasilkan buah tidak dapat dicapai dengan galah
berkait dari tanah. Buah hasil pemanenan dikumpulkan dalam karung plastik
dari beberapa pohon (bulk).
Prinsip utama kegiatan ekstraksi adalah memudahkan penanganan
serta meningkatkan kemampuan penyimpanan. Khusus untuk benih
berdaging, berserat lunak dan berukuran kecil, kegiatan ekstraksi terdiri dari:
perendaman/penjenuhan, pencucian, penyaringan dan pengeringan.
Daging buah tembesu harus segera dihilangkan karena benih dari buah
yang terfermentasi umumnya berakibat buruk yaitu cepat menurunkan Gambar 1. Variasi tingkat
kemasa-kan benih tembesu ber-dasarkan warna buah. Pada saat sebagian be-sar buah telah berwarna kuning-oranye merupa-kan saat yang tepat un-tuk dipanen. (dok. Zanzibar et al., 2010)
Gambar 2. Penampilan benih tembe-su pada pembesaran 600 kali. Benih muda (a) dan benih masak fisiologis (b). (dok. Zanzibar et al., 2010)
b
viabilitas. Ekstraksi benih menggunakan metoda basah-kering, dilakukan
dengan cara merendam buah selama 12 jam, diremas-remas, disaring
menggunakan ayakan 0.001 m kemudian dikering anginkan selama 5 hari
pada suhu kamar (BPTH Palembang, 2000).
C. Pembersihan dan Sortasi
Kelompok benih hasil ekstraksi, umumnya masih tercampur dengan
kotoran; sangat sulit membedakan antara benih dan daging buah/sisa
eksokarp (kotoran) karena memiliki ukuran dan penampilan yang relatif
sama. Benih yang masih kotor sangat rentan terhadap serangan
hama/penyakit karena kotoran merupakan media yang baik bagi
pertumbuhan mikroorganismea, utamanya selama penyimpanan.
Pembersihan dan sortasi mutlak dilakukan sebelum dikecambahkan atau
disimpan. Penggunaan ayakan untuk pembersihan dan sortasi benih yang
berukuran kecil cukup efektif meningkatkan kemurnian sehingga mutu fisik
dan fisiologisnya dapat meningkat (Boland et al., 1980).
Metoda pembersihan dan sortasi benih tembesu menggunakan
pengayakan bertingkat. Pengayakan diawali dari ukuran lubang paling besar
hingga terkecil. Penelitian Zanzibar et al. (2010) menunjukkan bahwa
penggunaan ayakan (L = lolos, T = tertahan) T840 (2.935.000 kecambah/kg)
dan L840 T710 (2.910 kecambah/kg) menghasilkan jumlah kecambah
tertinggi dan berbeda nyata dengan kontrol (1.300.000 kecambah/kg).
Berdasarkan ukuran ayakan, diperoleh dua klasifikasi mutu
fisik-fisiologis (MFF) benih tembesu, yaitu: MFF1= T840 (26.54%) dan L840 T710
(32.60%), MFF2 = L710 T600 (37.86%), MFF3 dan kotoran = L600 T420
(3.00%). MFF1 memiliki komposisi jumlah benih paling besar (59.14%)
sedangkan kotoran dan benih bervigor rendah berukuran lebih kecil dari 600
mikrometer yang diperlihatkan pada penggunaan L600 T420 (3.00%).
Pengelompokkan mutu benih mengikuti kaidah bila benih berukuran besar
maka memiliki mutu fisik-fisiologis terbaik (MFF1), dan seterusnya. Benih
tembesu berukuran antara 600–840 mikrometer, sedangkan kotoran lebih
D. Watak dan Metoda Penyimpanan
Benih tembesu berwatak intermediate; benih yang tidak toleran
terhadap pengeringan dan suhu rendah (di bawah 15 oC), sedangkan kadar
air dapat dibuat sesuai klasifikasi ortodoks (rendah = 8-10%) (Schmidth,
2002). Hasil analisis biokimia menunjukkan bahwa benih tembesu tergolong
benih berkarbohidrat, namun juga memiliki kandungan protein dan lemak
relatif tinggi (Tabel 1) (Zanzibar, 2010).
Tabel 1. Kandungan biokimia benih tembesu hasil radiasi
Parameter Unit (%)
Kadar air 15.9
Kadar Abu 1.66
Lemak Total 28.92
Protein 12.82
Karbohidrat Total 40.69
Sumber: Zanzibar et al. (2010)
Benih hasil seleksi dan sortasi yang berkadar air 9 - 12% dikemas
dalam kantong plastik (kedap air dan udara) (Gambar 3), selanjutnya
disimpan dalam lemari es (refrigerator) pada suhu 15-18 oC, RH = 70-80%.
Penyimpanan pada kondisi ini, setelah 2 tahun belum menurun viabilitasnya
dan kondisinya sama dengan kelompok benih awal (panenan baru),
sedangkan penyimpanan pada suhu kamar selama 6 bulan menyebabkan
benih sudah kehilangan semua viabilitasnya (Zanzibar et al., 2010).
E. Perlakuan Pendahuluan dan Tipe Dormansi
Perlakuan pendahuluan terbaik untuk mematahkan dormansi benih
tembesu adalah metoda imbibisi dengan H2O2 5% selama 24 jam
(2.780.000 kecambah/kg), dibanding jika tanpa perlakuan (langsung ditabur)
hanya diperoleh 1.300.000 kecambah/kg. Perlakuan imbibisi dengan H2O2
5% mampu menyediakan oksigen terlarut dalam jumlah optimum selama
perkecambahan (Zanzibar, 2010). Berdasarkan hasil perlakuan perendaman
dalam H2O2 5% selama 24 jam, benih tembesu memiliki dormansi
morfologis yang tidak terlalu kuat (after ripening) karena tingkat morfologis
dari embrio belum matang (Nitsch, 1971; Zanzibar et al., 2009 dan Zanzibar
et al., 2010).
F. Peningkatan Produktivitas Bibit
Peningkatan produktivitas bibit dapat dilakukan dengan iradiasi sinar
gamma (60Co). Beberapa hasil penelitian iradiasi sinar gamma pada benih
memperlihatkan bahwa dosis tinggi dapat bersifat menghambat (inhibitory),
namun pada dosis rendah berperan memacu pertumbuhan (stimulatory)
(Raghava dan Raghava, 1989; Kumari dan Singh, 1996; Radhevi dan
Nayar, 1996; Chan dan Lam, 2002; Zanzibar dan Witjaksono, 2011). Selain
mempengaruhi pertumbuhan, iradiasi sinar gamma memiliki kemampuan
menginduksi mutasi pada materi genetik. Kemampuan tersebut
dimung-kinkan karena sinar gamma memiliki energi cukup tinggi untuk menimbulkan
perubahan pada struktur dan komposisi materi genetik tanaman. Perubahan
tersebut terjadi secara mendadak, acak dan diwariskan pada generasi
berikutnya (IAEA, 1977). Keragaman petumbuhan tembesu akibat iradiasi
Secara umum, perlakuan iradiasi mulai dari 5-120 Gy mampu
meningkatkan nilai peubah diameter dan tinggi. Perlakuan iradiasi mulai dari
5-120 Gy maupun meningkatkan nilai peubah diameter dan tinggi.
Perlakuan iradiasi pada dosis di atas 30 Gy menyebabkan daya hidup bibit
menurun dan pada dosis di antara 120 Gy kematian bibit terjadi.
Penggunaan dosis 30 Gy menghasilkan bibit dengan pertumbuhan terbesar;
volume bibit mencapai 2.391,4 mm3 ( 3,14 x 1,55 mm x 1,55 mm x 317 mm),
sedangkan bibit dari benih tanpa iradiasi (kontrol) rata-rata memiliki diameter
2,1 mm dan tinggi 15,4 cm sehingga diperoleh volume sebesar 533,1 mm3.
Iradiasi benih tembesu pada kisaran kadar air kesetimbangan (8-10%),
dosis 30 Gy meningkatkan produktivitas bibit (umur 8 bulan) lebih dari 4,5
kali terhadap kontrol (Zanzibar et al., 2011).
Tabel 2. Keragaman pertumbuhan bibit tembesu umur 8 bulan akibat pengaruh iradiasi sinar gamma pada benih
II. STANDARDISASI METODA PENGUJIAN BENIH
Jaminan mutu benih edar dalam sistem sertifikasi diperoleh dari
suatu rangkaian pengujian standar. Standar pengujian tersebut tertuang
dalam Peraturan Pemerintah No. 44 Tahun 1995. Sertifikasi merupakan
konsekuensi komersialisasi benih, bertujuan untuk menjamin kebenaran
mutu dan memberikan perlindungan bagi pengada, pengedar dan pengguna
benih yang pada akhirnya dapat meningkatkan produktivitas tegakan
(Sadjad, 1997; Kartiko, 2002).
Syarat dan ketentuan pengujian benih, tertuang di dalam pedoman
pengujian yang dikeluarkan oleh International Rules for Seed Testing
(ISTA), namun untuk jenis tanaman hutan masih sangat terbatas. ISTA
(2006) menentukan bahwa peubah mutu fisik terdiri dari kadar air,
kemurnian dan berat 1000 butir, sedangkan mutu fisiologisnya adalah daya
berkecambah. Peubah-peubah tersebut mencerminkan kinerja penanganan
yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan persemaian di lapangan.
A. Penarikan contoh
Tujuan penarikan contoh adalah mendapatkan contoh benih untuk
mewakili suatu kelompok benih yang akan diuji mutunya. Buah hasil
pengunduhan dari suatu lokasi diekstraksi dan dijadikan satu kelompok Dosis
benih. Kelompok benih tersebut diasumsikan sebagai contoh kiriman.
Contoh kerja dibuat dari contoh kiriman menggunakan alat pembagi benih
(seed sample devider) atau dengan cara acak parohan hingga diperoleh
contoh kerja yang diinginkan (ISTA, 2006).
B. Peubah kadar air
Tingkat kadar air benih mengindikasikan tingkat kemasakan, daya
simpan dan perlakuan yang harus diterapkan untuk penanganan
selanjutnya. Penanganan kadar air yang tepat dapat membatasi terjadinya
kerusakan, setiap penurunan 1% dari nilai kadar air (benih ortodoks) akan
memperpanjang periode simpan selama 4-5 tahun. Selain itu, kadar air yang
terlalu tinggi dari tingkat kadar air kesetimbangannya merupakan lingkungan
ideal bagi pertumbuhan jamur dan bakteri (Zanzibar, 2010).
Metoda penentuan kadar air yang paling tepat adalah bila mampu
memberikan nilai kadar air tertinggi (Wilan, 1985). Metode dirancang untuk
mengurangi oksidasi, dekomposisi atau hilangnya zat yang mudah menguap
bersamaan dengan pengurangan kelembaban sebanyak mungkin (ISTA,
2006). Metode oven tetap yang menguapkan air saja yang diuapkan selama
pengeringan banyak digunakan sebagai metode standar (Edward, 1987;
ISTA, 2006) bila dibandingkan dengan metode lainnya yang masih harus
dikalibrasi. Nilai kadar air kesetimbangan kelompok benih awal tembesu
(benih baru dipanen) berkisar antara 9.2-12.2%, diukur berdasarkan metode
oven tetap dengan 2 (dua) ulangan, masing-masing ulangan terdiri dari 1.0
gram. Menurut Widyani et al. (2010) penentuan kadar air tembesu dapat
menggunakan suhu tinggi maupun rendah; suhu tinggi pada 130 - 133C
selama 4 jam, sedangkan suhu rendah pada 103 ± 2C selama 22 jam.
C. Peubah kemurnian
Benih yang baru dipanen meskipun telah dibersihkan kemungkinan
masih tercampur dengan kotoran, baik berupa potongan daun, ranting,
daging buah, benih tanaman lain, atau benih dari jenis yang sama namun
hama penyakit, kualitas fisik yang rendah, melembabkan atmosfer sekitar
benih, meningkatkan kadar air dan memacu metabolisma. Pengetahuan
tentang determinasi dan penampilan benih sangat menentukan keakuratan
hasil pengujian. Selain itu, peubah kemurnian digunakan untuk memprediksi
kebutuhan benih serta pengelompokkan mutu benih (Zanzibar, 2010).
Kemurnian benih tembesu berkisar antara 84,8% - 94,8% (Widyani
et al., 2010). Metoda pengukurannya berdasarkan analisis manual di atas
meja kemurnian dengan 2 (dua) ulangan, masing-masing ulangan terdiri dari
2.0 gram; antara benih murni dan daging/kulit buah sebagai kotoran
dipisahkan satu sama lain. Nilai kemurnian sangat dipengaruhi oleh kinerja
pengada. Semakin baik metoda pembersihan benih maka nilai kemurnian
benih akan makin tinggi, begitu pula sebaliknya.
D. Peubah Berat 1000 Butir
Setiap jenis benih memiliki ukuran berbeda dengan jenis lainnya,
demikian halnya dalam satu jenis yang sama. Perbedaan ukuran dalam satu
jenis yang sama dapat disebabkan oleh: perbedaan klimatis - edafik antar
tapak, perbedaan klimatis pada saat pembentukan buah, perubahan
(evolusi) terhadap kondisi alaminya, atau intensifitas pengelolaan.
Perbedaan ukuran kemungkinan dapat menyebabkan perbedaan viabilitas
dan vigor benih. Ukuran benih juga digunakan untuk memprediksi
kebutuhan benih untuk tujuan penanaman serta pengelompokkan mutu
(Zanzibar, 2010).
Jumlah benih per kg untuk benih-benih halus seperti tembesu
dinyatakan dengan istilah benih hidup murni (Thomson, 1979). Perhitungan
berat 1000 butir menggunakan 6 (enam) ulangan berdasarkan hasil
pengukuran keragaman, koefisiennya dan standar deviasi. Menurut Widyani
et al. (2011) berat 1000 butir benih tembesu berkisar antara 0,26-0,29 gram,
E. Peubah daya berkecambah
Daya berkecambah memberikan informasi kepada pengguna benih
akan kemampuan benih tumbuh normal menjadi tanaman yang berproduksi
normal pada kondisi sub optimum. Pengamatan dilakukan terhadap
pertumbuhan kecambah normal pada kondisi yang sesuai dalam jangka
waktu tertentu. Sebelum ditabur, benih diberi perlakuan pendahuluan berupa
imbibisi dengan H2O2 5% atau air dingin selama 24 jam.
Uji perkecambahan di laboratorium menggunakan germinator,
ulangan sebanyak 2 (dua) kali, masing-masing ulangan terdiri dari 0.05
gram. Kriteria kecambah normal bila telah muncul sepasang daun serta
tidak terserang penyakit (Gambar 5). Perhitungan awal dimulai pada hari ke
17 dan diakhiri pada hari ke-26. Uji di atas kertas (UDK) merang merupakan
metoda uji terbaik, berkisar antara 129-142 kecambah/0.05 gram. Pada uji
antar kertas (UAK) sebesar 121-140 kecambah/0.05 gram. Hal ini
mengindikasikan bahwa perkecambahan benih tembesu relatif
membutuhkan cahaya yang cukup sehingga germinator harus dilengkapi
lampu neon yang selalu menyala selama pengujian.
Berdasarkan pengujian di rumah kaca diperoleh bahwa media
perkecambahan berupa media campuran serbuk sabut kelapa (cocopeat)
dan pasir (1:1)(v/v) atau campuran arang sekam dan pasir (1:1)(v/v) pada
bak-bak kecambah ditutup plastik transparan memberikan hasil terbaik.
Perhitungan awal dimulai pada hari ke-17 dan diakhiri pada hari ke-44. Ke
dua metoda tersebut, masing-masing antara 132-250 kecambah/0.05 gram
dan 179-253 kecambah/0.05 gram.
III. PENUTUP
Benih tembesu yang umumnya dari buah (Biji) mempunyai
sifat/karakteristik tertentu. Musim buah yang relatif singkat dan mudah
terserang hama serta karakteristik benih yang tergolong intermediate,
memerlukan penanganan yang tepat dari pengunduhan hingga
penyimpanan benih. Penanganan benih yang tepat dapat meningkatan
efisiensi pengelolahan dan produktivitas, meningkatkan daya simpan dan
daya kecambah serta meningkatkan kemungkinan bibit tumbuh sehat,
cepat, dan serentak.
DAFTAR PUSTAKA
Boland, D.J dan J.W. Turnbull, and D.A. Kleinig, 1980. Eucalyptus Seed.
Division of Forest Research CSIRO, Canberra.
BPTH - Palembang, 2000. Informasi Teknis Budidaya Tembesu. Balai
Perbenihan Tanaman Hutan Wilayah Sumatera. Ditjen RLPS.
Palembang.
Chan, Y.K. and P.F. Lam, 2002. Irradiation-induced mutations in papaya
with special emphasis on papaya ringspot resistance and delayed fruit
ripening. Working material – Improvement of tropical and subtropical
fruit trees through induced mutations and biotechnology. IAEA,
Vienna, Austria. 35 – 45 pp
Edwards, D.G.W. 1987. Methods and Procedures for Testing Tree Seeds in
Canada. Forestry Technical Report 36. Canadian Forestry Service.
IAEA, 1977. Manual on Mutation Breeding. Second Edition. Join FAO/IAEA
division of atomic energy in food and agriculture. Vienna, Austria.
ISTA. 2006. International Rules for Seed Testing: Edition 2006. The
International Seed Testing Association. Bassersdorf. CH-.
Switzerland.
Kartiko. H.D.P. 2002. Penanganan Perbenihan untuk Mendukung
Pengelolaan Hutan Secara Lestari. Dalam Industri Benih di Indonesia.
Aspek Penunjang Pengembangan. Kerjasama Laboratorium Ilmu dan
Teknologi Benih. Institut Pertanian Bogor dengan PT. Sang Hyang
Seri. Bogor.
Kumari, R. and Y.Singh, 1996. Effect of gamma rays and EMS on seed
germination and plant survival of Pisum sativum and Lens culinaris
Medic. Neo Botanica 4(1) : 25 – 29.
Nitsch, J.P,1971. Perennation through seeds and other structures: Fruit
development. In : Plant physiology, a treatise. AP. pp 413 – 501
Radhadevi,D.S., and N.K.Nayar, 1996. Gamma rays induce fruit character
variations in Nendran, a varieties of banana (Musa paradasiaca L.).
Geobios : 23(2-3): 88-93.
Raghava,R.P., dan N.Raghava, 1989. Effect of gamma irradiation on fresh
on dry weight of plant part in Physsalis L. Geobios: 16(6): 261-264.
Sadjad. S. 1997. Membangun Industri Benih dalam Era Agribisnis Indonesia.
PT. Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.
Schmidth, L. 2002. Penanganan Benih Tropis dan Hutan Tropis. Ditjen
Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. Indonesia Forest Seed
Project (IFSP). Jakarta.
Thomson, L.O. 1979. An Introduction to Seed Technology. Thomson Litho
Ltd. East Kilbride. Scotland.
Widyani N, Dede JS, Eliya S, Enoch RK, Nurkim M, Abay, Emuy S, 2010.
Roxb). Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan. Tidak
diterbitkan.
Wilan, R.L. 1985. A Guide to Forest Seed Handling. FAO. United Nation.
Rome, Italy.
Zanzibar, M., N. Yuniarti, E. Suita, Megawati, D. Haryadi, dan E. Supardi.
2010. Hasil Penelitian Teknologi Perbenihan Jenis Tembesu (Fagraea
fragrans Roxb). Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman
Hutan. Tidak Diterbitkan.
Zanzibar, M, 2010. Materi Kursus Teknologi Penanganan Benih Tanaman
Hutan (Teori dan Praktek). Balai Penelitian Teknologi Perbenihan
Tanaman Hutan. Tidak Diterbitkan.
Zanzibar, M dan Witjaksono, 2011. Pengaruh Penuaan dan Iradiasi Benih
dengan Sinar Gamma (60 C) Terhadap Pertumbuhan Bibit Suren
(Toona Sureni Blume Merr). Jurnal Penelitian Hutan Tanaman: 8(2):
PEMBIBITAN JENIS TEMBESU (
Fagraea fragrans
Roxb)
Oleh: Agus Sofyan dan Abdul Hakim Lukman
Salah satu kendala dalam pembangunan kehutanan, baik program
pembangunan hutan tanaman, reboisasi, rehabilitasi serta kegiatan lainnya
adalah masalah ketersediaan benih atau bibit yang tidak selalu tersedia saat
dibutuhkan. Penguasaan teknik pembibitan dalam rangka pengembangan
jenis-jenis komersial sangat perlu untuk dilakukan.
Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran dan informasi
tentang hasil-hasil penelitian teknik pembibitan tembesu, baik secara
generatif maupun vegetatif agar menghasilkan bibit bermutu tinggi dalam
jumlah yang banyak dan seragam, sehingga ketersediaan bibit berkualitas
dapat tercapai.
I. TEKNIK PEMBIBITAN JENIS TEMBESU A. Permudaan dan pengumpulan buah 1. Permudaan
Tembesu termasuk jenis tanaman pionir yang mempunyai
kemampuan regenerasi alami relatif mudah. Hasil pengamatan pada
berbagai lokasi di wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumatera Selatan,
Lampung dan Jambi) menunjukkan bahwa regenerasi alami tembesu terjadi
pada areal atau lahan terbuka di sekitar daerah sebaran alaminya, yang
umumnya berasal dari tunas akar (Gambar 1).
Hal yang menarik dari jenis ini adalah bahwa, sekalipun tembesu
dapat menghasilkan atau memproduksi buah dan benih yang sangat
banyak, bahkan seringkali berlimpah pada saat musim buah (Gambar 2),
namun regenerasi alami yang berasal dari benih/biji sangat jarang dijumpai.
Pada tegakan tembesu, baik alam maupun tanaman, sangat jarang
ditemukan anakan yang berasal dari biji atau benih. Sementara pada sisi
lain, jika dilakukan pengujian perkecambahan (daya kecambah), benih
tembesu mempunyai daya kecambah yang sangat tinggi dan dapat
mencapai 100%, dengan persentase jadi bibit siap tanam yang sangat tinggi
(83,5 % - 100%).
Gambar 2. Kelimpahan bunga dan buah tembesu pada saat musim buah
2. Pengumpulan buah
Pengumpulan buah atau benih sebaiknya dilakukan dengan cara
pengumpulan langsung dari batang atau tangkai pohon. Pengumpulan buah
dapat dilakukan dengan cara memanjat atau dengan cara memotong
tangkai buah yang terdapat pada ujung-ujung ranting atau tajuk dengan
menggunakan galah pangkas.
Buah tembesu berbentuk bulat, berwarna hijau pada saat masih
muda dan berwarna merah pada saat matang. Buah yang telah masak
buah-buah yang telah masak. Menurut Mulawarman et al. (2002),
pengumpulan atau pengunduhan buah sebaiknya dilakukan dengan cara
mengunduh langsung dari pohonnya, karena buah yang diambil dari bawah
tegakan (telah gugur atau rontok), seringkali kualitasnya tidak sebaik
buah/benih yang dipanen langsung dari pohon.
Buah tembesu mempunyai ukuran yang cukup variatif, baik antar
pohon maupun dalam pohon yang sama. Jumlah biji atau benih dalam satu
buah bervariasi antara 8 – 50 biji tergantung besarnya ukuran buah,
semakin besar ukuran buah maka akan semakin besar ukuran dan banyak
jumlah benih yang dikandungnya. Menurut Martawijaya et al. (2005), jumlah
buah tembesu per kilogram dapat mencapai 6.600 buah.
Mengingat tujuan pengumpulan buah adalah untuk keperluan
penanaman dengan produktivitas maksimal, maka terhadap buah dan benih
yang akan digunakan, harus dilakukan sortasi dan seleksi. Buah dan benih
yang dipilih adalah yang telah masak serta berukuran besar. Umumnya
buah dan benih yang telah masak dan berukuran besar mempunyai vigoritas
dan daya kecambah yang lebih baik (dapat mencapai 100%), dengan
demikian akan diperoleh pertumbuhan bibit yang maksimal.
Gambar 3. Benih/biji muda (a) dan benih masak/tua (b) (Dok. Sofyan, 2012)
B. Ekstraksi dan penyimpanan benih 1. Ekstraksi benih
Ekstraksi adalah proses pengeluaran atau pemisahan biji atau benih
dari bagian-bagian buah lainnya, seperti tangkai, daging dan kulit buah.
Ekstraksi benih tembesu dilakukan dengan cara ekstraksi basah, yaitu
dengan menggunakan air (Gambar 4). Sebelum dilakukan ekstraksi, buah
dilepaskan terlebih dahulu dari tangkainya, kemudian dimasukkan ke dalam
wadah atau mangkuk berukuran sedang yang telah berisi air. Ekstraksi
dilakukan dengan cara meremas-remas buah sehingga benih keluar dan
terpisah dari bagian-bagian buah lainnya. Kemudian benih dibersihkan
secara berulang-ulang dengan cara menambahkan dan mengganti air yang
digunakan untuk pembersihan benih. Setelah benih sudah relatif bersih,
kemudian ditiriskan dengan menggunakan saringan halus, lalu
dikeringanginkan di atas kertas sampai seluruh benih berada pada kondisi
kering angin. Pada saat pengeringan, hindari sinar matahari secara
langsung. Setelah kering angin kemudian benih dibersihkan kembali dari
berbagai kotoran yang tersisa sehingga benar-benar bersih dan dapat
digunakan untuk keperluan pembibitan/penanaman. Untuk keperluan
penyimpanan, benih dapat disimpan di dalam refrigerator atau kulkas.
2. Penyimpanan benih
Penyimpanan benih dilakukan setelah masing-masing benih diberi
keterangan tentang status benih (nama benih, asal benih, tanggal
pengunduhan, kolektor serta keterangan lain yang diperlukan). Pada saat
penyimpanan, kondisi benih harus dipastikan dalam keadaan kering dan
tidak tercampur dengan sisa-sisa bagian buah lainnya, hal ini sangat penting
untuk menghindari munculnya jamur selama masa penyimpanan. Benih
dikemas dalam kantong plastik yang tertutup rapat, kemudian dimasukkan
dalam wadah yang kedap dan disimpan dalam refrigerator atau kulkas.
Dengan kondisi penyimpanan tersebut benih masih dapat disimpan selama
3 tahun dengan daya kecambah sebesar 62% (Sofyan et al, 2013). Benih
tembesu termasuk benih yang dapat disimpan dalam waktu relatif lama dan
berwatak intermediate.
C. Propagasi atau perbanyakan
Propagasi atau perbanyakan tanaman tembesu dapat dilakukan
dengan dua cara, yaitu secara generatif dengan menggunakan bahan atau
organ generatif berupa benih/biji dan secara vegetatif dengan menggunakan
bahan vegetatif, berupa tunas yang berasal dari batang maupun akar.
1. Perbanyakan generatif a. Penyemaian benih
Penyemaian atau penaburan benih tembesu diawali dengan
perlakuan pendahuluan berupa perendaman benih ke dalam air selama satu
malam, kemudian benih dikering-anginkan beberapa jam di tempat teduh
(tidak terkena sinar matahari langsung). Setelah kering angin, benih
dicampur secara merata dengan pasir halus (perbandingan 1 : 5). Benih
ditabur ke dalam bak tabur yang telah berisi media pasir halus
lembab/basah yang telah steril (disangrai atau di siram fungisida cair).
Kemudian seluruh permukaan media kembali ditaburi dengan pasir halus
kira-kira setebal 1-2 mm secara merata dan disusun di atas pasir basah
dibuat dengan sistem sungkup tetutup rapat (Gambar 5), agar tidak terjadi
penguapan yang keluar dari sistem sungkup.
(a) (b)
Gambar 5. Hasil semai/kecambah dalam bak tabur (a) dalam sistem sungkup (b)
Penyemaian dengan menggunakan sistem sungkup tertutup rapat,
selain aman dari berbagai gangguan, dari sisi pemeliharaan juga lebih
efesien karena tingkat kelembaban serta kebutuhan air dan suhu untuk
proses perkecambahan dapat terjaga secara optimal, sehingga benih lebih
cepat berkecambah dan penyiraman tidak perlu dilakukan setiap hari, cukup
1 kali seminggu pada saat pengamatan kecambah atau terjadi kekeringan
media. Penyiraman dilakukan dengan menggunakan sprayer secara
pengkabutan atau fogging ke dalam sungkup. Dengan sistem ini, benih
tembesu umumnya mulai berkecambah 15 - 25 hari setelah penaburan.
b. Penyapihan dan pemeliharaan
Penyapihan adalah kegiatan memindah-tanamkan atau
mentrans-plasikan semai atau kecambah yang sehat dari bak tabur ke dalam polybag
yang berisi media sapih pada umur dan ukuran tertentu. Waktu penyapihan
terbaik untuk semai tembesu adalah pada umur 7 - 8 minggu (Gambar 5a)
setelah berkecambah dengan rerata tinggi kecambah ± 1 cm (Sofyan et al.,
Media sapih yang dapat digunakan antara lain campuran tanah
lapisan atas dengan pasir dan kompos serbuk gergaji (3:1:5) atau campuran
tanah lapisan atas dengan sabut kelapa atau cocopeat (3:1). Untuk memacu
pertumbuhan semai dapat diberikan pupuk NPK sebanyak 0,25 g/bibit atau
urea dengan dosis 0,4 g/bibit (Martin dan Sofyan, 2001). Mengingat ukuran
semai relatif kecil (+ 1 cm), maka sapihan diletakkan dalam bedeng yang
menggunakan sungkup atau naungan dengan intensitas cahaya masuk 50%
agar semai tidak mudah rusak oleh air hujan (semai terlepas atau keluar dari
dalam media sapih).
Setelah 2-3 bulan pasca penyapihan, sungkup dapat dibuka.
Pemeliharaan berupa penyiraman semai selanjutnya dilakukan dengan
menggunakan embrat atau gembor dengan ukuran lubang yang relatif kecil
dan dilakukan secara hati-hati.
Untuk melindungi bibit dari serangan hama atau penyakit, dapat
dilakukan penyemprotan fungisida atau insektisida yang berbahan aktif
ramah lingkungan serta pengaturan jarak antar bibit, terutama setelah daun
atau tajuk antar bibit sudah mulai saling bersilangan. Jika jarak antar bibit
tidak dijarangi saat/setelah tajuknya saling bersilangan, selain mudah
munculnya jamur, pertumbuhan bibit juga menjadi tidak normal dimana
pertumbuhan tinggi dan diameter menjadi tidak seimbang (tidak
proporsional).
Pada kondisi tertentu, dimana saat penyapihan dan pemeliharaan
sapihan (calon bibit) terjadi kekeringan (musim kemarau), maka penyapihan dapat dilakukan dengan sistem „bedeng genangan‟ (ketinggian air 1 – 2 cm), dengan menggunakan plastik pada alas atau dasar bedeng sapih.
Pada kondisi normal, bibit tembesu umumnya sudah siap ditanam
pada umur 6 – 10 bulan setelah sapih, dengan rerata tinggi 30 – 40 cm.
Pertumbuhan bibit tembesu di persemaian tentunya sangat dipengaruhi
kualitas benih (vigoritas dan daya kecambah benih), musim (penghujan atau
(a) (b)
Gambar 5. Penyapihan semai tembesu (a) dan semai/bibit umur 5 bulan (b)
2. Perbanyakan vegetatif a. Cara perbanyakan
Tembesu termasuk salah satu jenis tanaman hutan yang mudah
dikembangkan secara vegetatif, terutama dengan teknik stek. Perbanyakan
atau pembuatan bibit tembesu melalui teknik stek, dapat dilakukan dengan
menggunakan bahan atau materi berupa tunas yang berasal dari bibit hasil
semai (stek pucuk atau stek batang), trubusan buatan hasil pangkasan
(Gambar 6a), hasil teresan (Gambar 6b)atau hasil trubusan alami (Gambar
6c) yang berasal dari pohon-pohon induk hasil seleksi.
(a) (b) (c)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa materi asal semai/bibit maupun
trubusan buatan serta trubusan alami, mempunyai peluang besar untuk
digunakan sebagai materi dalam pembibitan vegetatif khususnya melalui
teknik stek, sebagaimana disajikan dalam Tabel 1.
Tabel 1. Beberapa hasil penelitian pembibitan tembesu dengan teknik stek
No Asal bahan,
Tingkat keberhasilan pembibitan dengan teknik stek sangat
dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti :
1). Faktor materi yang digunakan, terkait asal bahan, umur
bahan/trubusan, waktu pengambilan bahan. Bahan stek yang
digunakan berupa tunas muda (juvenile) yang sudah mulai berkayu
namun belum terlalu tua dan waktu pengambilan bahan stek sebaiknya
dilakukan pagi atau sore hari. Untuk menjaga kelembaban dan
mengurangi penguapan, sebelum pembuatan stek, bahan stek atau
bagian yang diambil perlu disiram terlebih dahulu, kemudian
dimasukkan ke dalam ember berisi air. Jika bahan stek tidak langsung
digunakan, maka bahan stek harus dalam keadaan basah/lembab dan
dapat disimpan dalam kantong plastik selama 2-3 hari atau direndam
2). Faktor lingkungan, seperti kelembaban, temperatur dan intensitas
cahaya dalam sistem sungkup serta media yang digunakan sangat
penting bagi keberhasilan teknik stek (Hartmann et al., 1983).
Kelembaban dalam sungkup harus dijaga pada tingkat 80-95%, suhu
28-32oC, intensitas cahaya 40-50%, dengan media campuran pasir, top
soil dan kompos (2:2:3) atau campuran serbuk kulit kelapa (cocopeat),
top soil dan sekam padi.
3). Faktor teknik yang terkait dengan tingkat kecakapan pelaksana dalam
proses penyetekan, mulai dari waktu pengumpulan dan seleksi bahan
stek, cara pembuatan/pemotongan bahan stek, penanaman dan
pemeliharaan stek. Pembuatan bahan stek dilakukan dengan
memotong batang stek, minimal dua ruas (3 nodul), dipotong tepat di
bawah nodul ke tiga dengan sudut 45o. Untuk mengurangi penguapan,
bahan stek langsung direndam dalam air bersih dalam ember,
selanjutnya ditanam ke dalam polybag (dengan media campuran) yang
diletakkan di atas pasir lembab di dalam sungkup. Setelah penanaman,
perlu dilakukan pemadatan media di sekitar batang stek dengan
menggunakan dua jari, sehingga posisi stek kuat dan tidak bergoyang
saat penyiraman. Penyiraman dapat dilakukan dengan menggunakan
handsprayer secara hati-hati.
b. Pemeliharaan selama pembentukan akar dan tunas
Pemeliharaan stek di dalam sungkup merupakan masa atau fase
yang sangat penting, karena stek belum mempunyai akar untuk menyerap
air maupun hara yang dibutuhkan. Faktor utama yang harus dijaga selama
proses pembentukan akar adalah terjaganya atau terjaminnya tingkat
kelembaban dalam sistem sungkup, sehingga stek tetap berada pada
kondisi yang segar dan dapat melakukan proses fotosintesisa dengan baik
sehingga proses pertumbuhan tunas dan akar dapat berlangsung dengan
baik. Jika terjadi penurunan kelembaban dapat dilakukan dengan
penyemprotan air secara fogging dengan menggunakan hand sprayer.
Dengan sistem sungkup dan pemeliharaan yang baik, stek tembesu mulai
Penyapihan stek tembesu dapat dilakukan sekitar 3-4 minggu
setelah terbentuknya akar (sekitar 2 bulan setelah tanam). Pada umur
tersebut stek sudah mempunyai perakaran yang baik dan dapat ditanam ke
dalam media sapih. Penyapihan dilakukan dengan mencabut stek atau
mencongkel secara hati-hati sehingga akarnya tidak terganggu atau rusak.
Untuk memudahkan penyapihan/penanaman stek, maka pengisian media ke
dalam polybag cukup setengahnya, kemudian sesaat setelah
penanaman/penyapihan, sambil dipadatkan, medianya ditambahkan lagi,
hingga seluruh akar dan sebagian pangkal batang stek terkubur sehingga
dapat berdiri kokoh dalam polybag. Setelah proses penyapihan selesai,
kemudian susun polybag ke dalam bedeng sapih yang diberi naungan.
Proses penyapihan bibit merupakan fase penting dalam pembuatan bibit
melalui teknik stek. Menurut Sakai dan Subiakto (2007), penyapihan
merupakan tahapan kritis kedua dalam keberhasilan produksi bibit stek.
3. Pemeliharaan bibit di persemaian
Pertumbuhan bibit yang berasal dari biji maupun stek (generatif dan
vegetatif) sangat ditentukan oleh tindakan atau pemeliharaan selama bibit
berada di persemaian. Tindakan utama dalam pemeliharaan di persemaian
adalah penyiranam, penyiangan dan penyortiran. Penyiraman dilakukan
setiap hari (pagi dan sore). Pembersihan gulma atau penyiangan dapat
dilakukan 1 bulan sekali terhadap gulma-gulma yang tumbuh dalam media
atau di sekitar tanaman di persemaian. Penyortiran dilakukan pada bibit-bibit
yang mati dan pengelompokan bibit berdasarkan ukurannya, sehingga bibit
dapat tumbuh secara maksimal. Untuk memacu pertumbuhan, selama
pemeliharaan dapat diberikan pupuk urea dengan dosis 0,4 gr atau 0,25 gr
NPK per bibit/anakan, yang diberikan 1-2 bulan setelah penyapihan.
II. PENUTUP
Penguasaan teknik pembibitan atau propagasi tanaman sangat
penting dalam pembangunan hutan tanaman. Pembibitan tembesu dapat
Pembuatan bibit tembesu secara vegetatif dapat dilakukan dengan
materi yang berasal dari beberapa sumber, seperti semai atau bibit, tunas
atau trubusan alami dari pohon-pohon induk (umur 6 tahun), trubusan
buatan dari hasil teresan maupun hasil pemotongan atau pemangkasan
batang utama (umur 6 tahun).
Dari hasil-hasil penelitian yang telah diuraikan di atas, menunjukkan
bahwa pembuatan atau perbanyakan bibit tembesu melalui teknik stek relatif
mudah dilakukan, sehingga upaya peningkatan produktivitas dalam
pembangunan dan pengembangan hutan tanaman tembesu sangat
dimungkinkan dan mempunyai prospek yang cukup besar.
DAFTAR PUSTAKA
Hartmann, H.T., D.E. Kester and Davies, F.T. 1983. Plant Propagation Principle and Practices. Prentice Hall. Inc. Engelwood Clift. New Jersey.
Martawijaya, A., Kartasujana, I., Mandang, Y.I., Prawira, S.A, Kadir, K. 2005. Atlas Kayu Indonesia. Jilid II. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan.
Martin, E. dan A. Sofyan. 2001. Perangsangan Pertumbuhan Tembesu (Fagraea fragrans) dengan Pengaturan Intensitas Naungan dan Pemupukan di Persemaian. Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Penelitian Balai Teknologi Reboisasi Palembang. Palembang, 12 November 2001. Pp.113-121. Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam. Bogor.
Mulawarman., J.M. Roshetko., S.M. Sasongko., I. Djoko. 2002. Pengelolaan Benih Pohon, Sumber Benih, Pengumpulan dan Penanganan Benih. Pedoman Lapang Untuk Petugas Lapang dan Petani.International Centre for Research in Agroforestry dan Winrock International.
Sakai, C., Subiakto, A. 2007. Pedoman Pembuatan Stek Jenis-Jenis Dipterokarpa Dengan KOFFCO System. Kerjasama Badan Litbang Kehutanan dengan Komatsu dan JICA. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam.
Sofyan, A., I. Muslimin. 2006. Pengaruh Asal Bahan dan Media Terhadap Pertumbuhan Stek Batang Tembesu (Fagraea fragrans Roxb). Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Penelitian Penelitian “Konservasi dan Rehabilitasi Sumber daya Hutan”, Palembeng 20 September 2006. ISBN. 9789793145358.
BUDIDAYA TANAMAN TEMBESU
Oleh: Abdul Hakim Lukman dan Agus Sofyan
I. PENANAMAN TEMBESU
Kegiatan penanaman merupakan salah satu bagian dari rangkaian
kegiatan dalam pembangunan hutan tanaman. Penanaman yang tepat
waktu dan tepat tempat tumbuh akan berimplikasi terhadap efisiensi
pengelolaan dan produktivitas tanaman. Penanaman yang tepat waktu, yaitu
yang dilaksanakan pada musim hujan sangat berpengaruh terhadap
keberhasilan tumbuhnya tanaman. Lokasi yang tepat, baik edafis mupun
klimatis yang sesuai dengan persyaratan tumbuh suatu jenis tanaman
berperan terhadap pertumbuhan dan produktivias hutan tanaman yang
dibangun. Tidak kalah pentingnya juga cara penanaman yang tepat dapat
berdampak terhadap keberhasilan tegakan hutan tanaman. Cara/teknik
penanaman merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dalam
membangun suatu pertanaman, yang diawali dengan kegiatan penyiapan
lahan, pengaturan jarak tanam awal, penanaman bibit siap tanam, dan
pemeliharaan. Tahapan cara/teknik penanaman tembesu dan pemeliharaan
di lapangan diuraikan dalam bahasan di bawah ini.
A. Persiapan lahan
Penyiapan lahan merupakan kegiatan awal untuk mempersiapkan
tempat tumbuh sebaik mungkin bagi bibit yang akan ditanam, sehingga
kegiatan ini dapat juga disebut sebagai upaya manipulasi faktor tempat
tumbuh agar layak dan menguntungkan untuk pertumbuhan bibit yang akan
ditanam. Tujuan penyiapan lahan adalah untuk meningkatkan persentase
hidup tanaman dan pertumbuhan awal tanaman agar seragam. Beberapa
faktor yang harus dipertimbangkan dalam kegiatan penyiapan lahan adalah
kondisi vegetasi sebelum dan saat penanaman, iklim, topografi, jenis (tipe)
tanah, kesuburan tanah, peralatan, dan ketersediaan tenaga kerja, karena
akan berpengaruh terhadap pertumbuhan awal, persentase tumbuh
Tembesu merupakan salah satu jenis tanaman yang memerlukan
cahaya penuh untuk pertumbuhannya atau intoleran terhadap naungan,
sehingga cara penyiapan lahan yang baik dalam pembuatan pertanaman
tembesu adalah dengan tebas total. Hasil penelitian Kusnandar (2002),
menunjukkan pertumbuhan awal (umur < 12 bulan) tembesu pada lahan
dengan penyiapan/pembersihan lahan manual secara total lebih baik
dibandingkan dengan pertumbuhan tembesu pada lokasi dengan penyiapan
lahan tebas jalur (semak belukar).
Kegiatan pembersihan lahan dapat dilakukan secara manual,
mekanis, kimiawi, atau kombinasinya. Lahan yang didominasi oleh
alang-alang dan mempunyai topografi datar sampai agak datar dapat disiapkan
dengan menggunakan alat mekanik (alat berat). Pada lahan berupa semak
belukar dan hutan sekunder, penyiapan lahan dilakukan secara manual,
yaitu dengan melakukan penebasan, penebangan pohon, dan
pencincangan. Biomassa hasil pembersihan lahan dirumpuk (windrowed) di
antara jalur-jalur tanam tanpa dilakukan pembakaran (Gambar 1).
Penggunaan api dalam penyiapan lahan telah dilarang oleh pemerintah
sejak tahun 1996.
Gambar 1. Perumpukan biomassa hasil pembersihan lahan diantara jalur tanam
Tahapan kegiatan penyiapan lahan berikutnya adalah
mem-bera-kan (mengistirahatkan) lahan yang telah dibersihkan selama kurang lebih
satu bulan, kemudian dilakukan penyemprotan herbisida untuk
jenis-jenis gulma yang tidak bisa ditanggulangi dengan penyemprotan,
penanggulangan gulma dilakukan dengan penebasan. Herbisida yang
digunakan untuk memberantas gulma daun jarum sebaiknya yang bersifat
sistemik yang mengandung zat aktif glifosat, sedangkan untuk gulma daun
lebar menggunakan herbisida yang mengandung zat aktif 2,4 D Amin.
Herbisida yang mengandung zat aktif glifosat pada dosis (takaran) sebanyak
5 liter per hektar, dapat menekan pertumbuhan alang-alang selama 6 bulan
(Hendromono et al., 2006).
Gambar 2. Penyemprotan herbisida setelah satu bulan penebasan
Selesai penyemprotan herbisida, kemudian dilakukan pemasangan
ajir. Pengajiran dimaksudkan sebagai penanda tempat bibit akan ditanam
dimana jarak antar ajir disesuaikan dengan jarak tanam yang telah
ditetapkan. Ajir dibuat dari cabang atau batang tanaman dengan diameter
sekitar 1,5 – 2 cm dan panjang sekitar 1,5 – 2 m. Kegiatan selanjutnya
adalah pembuatan lubang tanam (Gambar 3) dengan ukuran 20 x 20 x 20
cm untuk tempat meletakkan bibit yang akan ditanam dan juga merupakan
salah satu cara pengolahan tanah terbatas, yang dapat memperbaiki sifat
fisik tanah agar drainase dan aerasi tanah menjadi baik untuk mendukung
Gambar 3. Pembuatan lubang tanam tepat di samping ajir tanaman
Tahapan penyiapan lahan berikutnya adalah pemberian pupuk
dasar. Pemberian pupuk dasar dapat menggunakan pupuk kandang
sebanyak 1 kg/lubang tanam. Pupuk kandang yang digunakan adalah
kotoran ayam padat atau kotoran ternak lainnya yang telah mengalami
proses pembusukan. Tujuan pemberian pupuk kandang adalah untuk
membantu menetralkan pH tanah, membantu menetralkan racun akibat
adanya logam berat dalam tanah, memperbaiki struktur tanah menjadi lebih
gembur, mempertinggi porositas tanah dan secara langsung meningkatkan
ketersediaan hara tanah, serta membantu mempertahankan suhu tanah
agar stabil. Pemberian pupuk dasar berupa kotoran ayam (pupuk kandang)
sebanyak 1 kg/lubang tanam pada tanah podsolik merah kuning
berpengaruh positif terhadap pertambahan diameter awal tembesu (Tabel 1)
dibanding tanpa pemberian pupuk dasar (Lukman et al., 2005).
Tabel 1. Pengaruh pupuk kandang terhadap pertumbuhan awal tembesu
Pupuk kandang
PertambahanTinggi (cm)
Pertambahan Diameter (cm)
20 bst Pertambahan/th 20 bst Pertambahan /th
0 kg/lubang tanam 154,7 92,82 2,4 1,44
1 kg/lubang tanam 148,4 89,04 2,9 1,75
B. Pengangkutan bibit ke lapangan
Bibit tembesu yang akan ditanam adalah bibit-bibit hasil seleksi dari
persemaian yang mempunyai kualitas yang baik, yaitu batangnya lurus
tunggal dan berkayu; daun segar hijau; dan tidak terserang penyakit; dan
pertumbuhannya relatif seragam, dengan kisaran tinggi 30-50 cm dan
diameter 4 - 6 mm. Bibit yang sudah terpilih diangkut ke lokasi penanaman.
Waktu pengangkutan sebaiknya pada pagi hari dan dilakukan penyiraman
terlebih dahulu dengan tujuan untuk mengurangi penguapan yang terlalu
besar sehingga kematian bibit akibat transportasi dapat diminimalkan.
Sesampainya di lokasi penanaman, bibit-bibit diistirahatkan/dibiarkan
beberapa waktu (± 2 minggu) untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan
sekitar areal penanaman. Selanjutnya bibit siap untuk ditanam pada
lubang-lubang tanam yang telah disiapkan (Gambar 4).