UJIAN AKHIR SEMESTER
NAMA : Serli Dian Trisnawati
NIM : 1307605
KELAS : PIPS B
MATA KULIAH : Seminar Pendidikan Agama Islam
1. Jawablah pertayaan berikut dengan lengkap dan rinci
A. Makna dan tujuan pendidikan mennurut islam dan perbedaannya dengan konsep pendidikan Barat
Rumusan pendidikan secara formal diartikan sebagai rumusan kualifikasi, pengetahuan, kemampuan dan sikap yang harus dimiliki oleh anak didik setelah menyelesaikan pelajaran di sekolah
a) Tujuan individu, berkaitan dengan peningkatan kemampuan setiap individu, berupa pengetahuan, perubahan tingkah laku, pertumbuhan kedewasaan, serta kesiapan-kesiapan yang sudah semestinya dimiliki dalam mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.
b) Tujuan sosial berkaiatan dengan kehidupan masarakat secara keseluruhan , dengan tingkah laku masyarakat umumnya dan dengan apa yang berkaitan dengan kehidupan ini tentang perubahan yang diinginkan , dan pertumbuhan, memperkya pengalaman dan kemajuan yang ingin dicapai
c) Tujuan-tujuan profesional berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai suatu ilmu, seni, profesi dan sebagai suatu aktivitas diantara aktivitas-aktivitas masyarakat
adalah tiang dari pendidikan islam. Menurut Al Ghazali tujuan pendidikan adalah mendekatkan diri kepada Allah, bukan pangkat dan bermegah-megah, dan hendaknya seorang pelajar itu belajar bukan untuk menipu orang-orang bodoh atau bermegah-megah. Jadi pendidikan itu tidak kelur dari pendidikan akhlak.
Sehingga dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan islam bertujuan untuk membentuk insan kamil, insan kaffah dan penyadaran fungsi manusia sebagai hamba, khalifah Allah, serta pewaris Nabi
Perbedaan pendidikan islam denganpendidikan Barat
Dari segi karakteristik, menurut Prof. Dr. Azyumardi Azra pendidikan islam memiliki karakteristik diantaranya adalah penekanan pada nilai-nilai akhlak dalam penguasaan dan pengembangan ilu pengetahuan, penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan hanyalah untuk pengabdian kepada Allah dan kemashlahatan umum, penekanan pada amal saleh dan tanggung jawab. Dalam pendidikan Barat, ilmu tidak lahir dari pandangan hidup agama tertentu dan diklaim sebagai sesuatu yang bebas nilai. Menurut Niquib al-Attas, ilmu dalam peradaban Barat tidak dibangun diatas wahyu dan kepercayaan agama namun dibangund diatas tradisi budaya yang diperkuat dengan spesikulasi filosofis yang terkait dengan kehidupan sekuler yang memusatkan manusia sebagai makhluk rasional. Lebih jelasnya perbedaannya:
a) Proses belajar mengajar
Pendidikan Barat: karena sekularistik-materialistik maka motif dan objek belajar mengajar semata-mata masalah keduniawian
Pendidikan islam: aktivitas belajar mengajar ialah amal ibadah, berkaitan erat dengan pengabdian kepada Allah
b) Tanggungjawab belajar-mengajar
Pendidikan barat: semata-mata urusan manusia
Allah dan hak-hak makhluk lainnya pada setiap individu khususnya bagi orag yang berilmu
c) Kepentingan belajar
Pendidikan barat: belajar hanya untuk kepentingan dunia, sekarang dan disini
Pendidikan islam: belajar tidak hanya untuk kepentingan hidup di dunia sekarang, tapi juga kebahagiaan hidup di akhirat kelak
d) Konsep pendidikan
Pendidikan barat: tidak mengaitkan pendidikan dengan pahala dan dosa, ilmu itu bebas nilai
Pendidikan islam: islam mengaitan dengan pahala dan dosa karena kebajikan dan akhlak mulia merupakan unsur pokok dalam pendidikan islam
e) Tujuan akhir pendidikan
Pendidikan barat: hidup sejahtera di dunia secara maksimal baik sebagai warga negara maupun sebagai warga masyarakat
Pendidikan islam: terwujudnya insan kami (manusia sempurna dan paripurna), yang pembentukannya selalu dalam proses sepanjang hidup B. Langkah-langkah mendidik anak menurut Islam agar menjadi anak yang
soleh dimasa yang akan datang
a) Mengenalkan dan mendidik anak tentang tauhid
Rasulullah bersabda “bukalah lidah anak-anak kalian pertama kali dengan kalimat laailaaha ilallah. Dan saat mereka hendak meninggal dunia maka bacakanlah laailaaha ilallaah”
b) Mendidik anak tentang shalat
Pada usia 9 tahun, ajarkan secara penuh tentang tata cara berwudu , kewajiban melaksanakan shalat serat pemberian sanksi jika meninggalkannya.
c) Mengajarkan ibadah-ibadah dan amalan-amalan lainnya
Saat anak mendekati baligh maka wajib bagi orang tua untuk mengenalkannya dengan puasa serta mewajibkan shalat. Selain itu juga memerintahkan padanya untuk menuntut ilmu, mempelajari dan menghapal Al Quran
d) Berikan ia pendidikan dan lingkungan yang islami Contoh, sejak dini ikutkan anak kita dalam TPA
e) Perkenalkan anak kita tentang batasan-batasan aurat, ajak dia untuk mengunjungi masjid secara rutin
2. Dakwah merupakan salah satu hal yang diwajibkan kepada kita selaku umat islam
A. Makna, tujuan dan kedudukan dakwah menurut ajawan islam
Dakwah dalam bahasa Arab akar katanya bersala dari da’watan yang berarti menyeru, memanggil, mengajak dan menjamu. Dakwah menurut pengertian terminologi dikemukakan oleh para ahli antara lain mengatakan bahwa dakwah adalah mendorong manusia agar berbuat kebajikan dan petunjuk, menyeru mereka berbuat yang ma’ruf mencegah mereka terhadap perbuatan munkar agar mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat. Menurut HM. Arifin, M.Pd dalam bukunya Psikologi Dakwah, bahwa:
Tujuan dakwah adalah menjadikan manusia muslim mampu mangamalkan ajaran islam dalam kehidupan bermasyarakat yang mulanya apatis terhadap islam menjadi orang yang sukarela menerimanya sebagai petunjuk aktivitas duniawi dan ukhrawi. Adapun tujuan lainnya yaitu:
a) mengubah pandangan hidup. Dalam QS. Al Anfal: 24 di sana di siratkan bahwa yang menjadi maksud dari da'wah adalah menyadarkan manusia akan arti hidup yang sebenarnya. Hidup bukanlah makan, minum dan tidur saja. Manusia dituntut untuk mampu memaknai hidup yang dijalaninya.
b) mengeluarkan manusia dari gelap-gulita menuju terang-benderang. Ini diterangkan dalam firman Allah: "Inilah kitab yang kami turunkan kepadamu untuk mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada terang-benderang dengan izin Tuhan mereka kepada jalan yang perkasa, lagi terpuji."(QS. Ibrahim: 1)
c) Mengajak umat manusia yang telah memeluk magama Islam untuk selalu meningkatakan taqwanya kepada Allah. Dalam tujuan ini secara prakteknya adalah menganjurkan dan menganjurkan dan menunjukkan perintah-perintah Allah yang secara garis besarnya adalah Islam dan Iman, menunjukkan larangan-larangan Allah, menunjukkan keuntungan bagi orang yang mengikuti jalan Allah menunjukkan ancaman terhadap orang yang tidak mau taat kepada Allah.
d) Membina mental umat Islam.
Membina mental umat juga termasuk tujuan khusus dari dakwah. Baik yang sudah lama memeluk agama Isalam namun belum melaksanakan ajaran Islam sesuai dengan ketentuan yang telah ada maupun yang baru masuk Islam (muallaf). Dalam pelaksanaannya, yang paling diprioritaskan adalah muallaf sebab muallaf masih lemah keimanan dan keislamannya.
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab[Kitab-Kitab yang diturunkan sebelum Al Quran] kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.”
Islam merupakan agama yang benar di sisi Allah. Ayat di atas memberi sinyal kepada umat Islam untuk mengembangkan ajaran Islam yang sudah dimilikinya kepada mereka yang belum mendapat informasi tentang Islam.
f) Mendidik dan mengajarkan anak-anak agar tidak menyimpang dari fitrahnya.
Di dalam agama Islam, manusia lahir dalam keadaan fitrah. Fitrah dimaknai sebagai suatu potensi yang diberikan oleh Allah untuk menuhankan Allah atau beragama Islam. Potensi ini sudah ada sejak di dalam kandungan. Sebagaiman ayang terdapat di dalam Q.S Ar-ruum; 30:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Dakwah memiliki kedudukan yang tinggi dan mempunyai peranan yang sangat penting menurut pandangan Allah dan Rasulullah SAW, karena islam sangat memperhatikan urusan ini sehingga menganjurkan kepada setiap muslim agar menyeru kepada kebaikan dan menyampaikan nasihat-nasihat yang baik kepada masyarakat serta menjauhkan diri dari segala hal yang dilarang oleh islam.
Agar berhasil dalam berdakwah, hendaklah kita mencontoh dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Dalam sejarah dakwah Islam, Rasulullah SAW sangat memperhatikan metode dakwah agar pesan dakwah dapat diterima dengan baik bagi mad’u (yang didakwahi).
a) Bil hikmah wal mau’izhah Allah Ta’ala berfirman,
Artinya, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. an-Nahl, 16:125)
Hikmah ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil. Oleh sebab itulah Allah Ta’ala meletakkan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai asas pedoman dakwah bagi Rasulullah dan juga bagi tiap umat yang bertugas meneruskan dakwah beliau hingga akhir zaman. Pada ayat tersebut diatas dapat dipahami bahwa cara berdakwah yang diperintah Allah Ta’ala adalah sebagai berikut,
1. Dakwah dengan cara mau’izhah al-hasanah, yaitu metode dakwah dengan pengajaran yang meresap hingga ke hati para mad’u. Pengajaran yang disampaikan dengan penuh kelembutan akan dapat melunakkan kerasnya jiwa serta mencerahkan hati yang kelam dari petunjuk dien. Pada beberapa da’i, ada yang masih saja menggunakan metode dakwah yang berseberangan dengan hal ini, yaitu dengan cara memaksa, sikap yang kasar, serta kecaman-kecaman yang melampaui batas syar’i.
satu contoh kategori dakwah seperti ini yaitu menasehati teman sekerja, teguran, anjuran, ataupun memberi contoh.
3. Dakwah Ammah, yaitu jenis dakwah yang dilakukan oleh seseorang dengan media lisan yang ditujukan kepada orang banyak dengan maksud menanamkan pengaruh kepada mereka. Media yang dipakai biasanya berbentuk khotbah (pidato).
4. Dakwah bil-Lisan, yaitu penyampaian informasi atau pesan dakwah melalui lisan (ceramah atau komunikasi langsung antara subjek dan objek dakwah). Dakwah jenis ini akan efektif bila disampaikan berkaitan dengan hari ibadah seperti khotbah Jumat atau khotbah hari raya, kajian yang disampaikan menyangkut ibadah praktis, konteks sajian terprogram, ataupun disampaikan dengan metode dialog dengan hadirin.
5. Dakwah bil-Haal, yaitu dakwah yang mengedepankan perbuatan nyata. Hal ini dimaksudkan agar si penerima dakwah (al-Mad’ulah) mengikuti jejak dan hal ikhwal si Da’i (juru dakwah). Dakwah jenis ini mempunyai pengaruh yang besar pada diri penerima dakwah. 6. Dakwah bit-Tadwin, yaitu dakwah melalui tulisan baik dengan
menerbitkan kitab-kitab, buku, majalah, internet, Koran, dan tulisan-tulisan lain yang mengandung pesan dakwah sangat penting dan efektif. Keuntungan lain dari dakwah model ini yaitu tidak menjadi musnah meskipun sang da’i atau penulisnya sudah wafat.
b) Benar dan tegas tanpa kompromi
Sesungguhnya dakwah Rasulullah merupakan dakwah yang tegas tanpa kompromi. Perkara yang beliau saw sentuh dalam dakwahnya adalah perkara yang paling pokok dan paling mendasar, laa ilaaha illallah, Muhammadur rasulullah. Beliau saw menyeru bahwa tidak ada yang wajib diagungkan, diibadahi, ditaati dan dicintai kecuali Allah Ta’ala. Begitu juga terhadap perkara hukum, tidak ada hukum yang wajib diterapkan dan dilaksanakan, kecuali hukum-Nya. Allah Ta’ala berfirman,
Artinya, “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS. al-Hijr, 15:94)
Tujuan dakwah Rasulullah adalah mengembalikan sifat penghambaan manusia kepada Rabb-nya semata dan menerapkan hukum yang berlaku di bumi kepada Sang Pembuat hukum Yang sebenarnya, yaitu Allah azza wa jalla. Perkara ini merupakan perkara yang amat berat yang akan menimbulkan ujian dan rintangan berupa penderitaan dan kesakitan, baik jiwa dan fisik.
c) Tidak menambah dan mengurangi satu huruf pun dari materi dakwah Allah berfirman yang artinya, “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika kamu tidak kerjakan (apa yang diperintah itu) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. al-Maidah, 5:67)
3. Ajaran islam sangat memperhatikan IPTEK A. Pandangan islam/Al Quran tentang IPTEK
Agama Islam banyak memberikan penegasan mengenai ilmu pengetahuan baik secara nyata maupun secara tersamar, seperti yang disebut dalam surat Al-Mujadalah ayat 11 yang artinya sebagai berikut :
"Allah akan meninggikan orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan."
Dalam Al-qur’an dan Hadist sangat banyak ayat-ayat yang menerangkan hubungan tentang ajaran Islam dengan ilmu pengetahuan serta pemanfaatannya yang kita sebut Iptek. Hubungan tersebut dapat berbentuk semacam perintah yang mewajibkan, menyurum mempelajari, pernyataan-pernyataan, bahkan ada yang berbentuk sindiran. Kesemuanya itu tidak lain adalah menggambarkan betapa eratnya hubungan antara Islam dan Iptek sebagai hal yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Tegasnya hubungan antara Islam dan Iptek adalah sangat erat dan menyatu. Dalam pandangan Islam, Iptek juga di gambarkan sebagai cara mengubah suatu sumber daya menjadi sumberdaya lain yang lebih tinggi nilainya, hal ini tercoverr dalam surat Ar-Ra’d syat 11, yaitu : Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa, pada dasarnya Al-Qur’an telah mendorong manusia untuk berteknologi supaya kehidupan mereka meningkat. Upaya ini harus merupakan rasa syukur atas keberhasilannya dalam merubah nasibnya. Dengan perkataan lain, rasa syukur atas keberhasilannya dimanifestasikan dengan mengembangkan terus keberhasilan itu, sehingga dari waktu kewaktu keberhasilan itu akan selalu maningkat terus.
pernah melalukan pembuahan buatan (penyilangan atau perkawinan) pada pohon kurma. Lalu Nabi menyarankan agar tidak usah melakukannya. Kemudian ternyata buahnya banyak yang rusak dan setelah itu dilaporkan kepada Nabi, maka Nabi berpesan “ Abirruu antum a’lamu biumuuri dunyaakum” (lakukanlah pembuahan buatan! Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian). Di dalam Al-Qur’an disebutkan juga secara garis besar, tentang teknologi. Yaitu tentang kejadian alam semesta dan berbagai proses kealaman lainnya, tentang penciptaan mahluk hidup, termasuk manusia yang didorong hasrat ingin tahunya, dipacu akalnya untuk menyelidiki segala apa yang ada di sekelilingnya, meskipun Al-Qur’an bukan buku kosmologi, atau biologi, atau sains pada umumnya, namun Al-Qur’an jauh sekali dalam membicarakan teknologi. Dari beragam uraian di atas bahwasanya kita dapat melihat sendiri bagaimana pandangan Islam terhadap Iptek. Dalam pedoman utamanya (Al-Qur’an), banyak disebutkan sesuatu hal yang berkaitan dengan Iptek, hal ini menunjukkan bahwa Islam sangat erat sekali dengan Iptek. Jadi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ini merupakan wujud dari implikasi Al-Qur’an yang sebenarnya. Banyak seruan-seruan di dalamnya yang menganjurkan manusia untuk berfikir dan mengembangkan potensinya dalam pengetahuan.
Pandangan Al-Quran tentang ilmu dan teknologi dapat diketahui prinsip-prinsipnya dari analisis wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad saw .
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan pena, mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS Al-’Alaq [96]: 1-5).
Wahyu pertama itu tidak menjelaskan apa yang harus dibaca, karena Al-Quran menghendaki umatnya membaca apa saja selama bacaan tersebut bismi Rabbik, dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan. Iqra’ berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu; bacalah alam, tanda-tanda zaman, sejarah, maupun diri sendiri, yang tertulis maupun yang tidak. Alhasil, objek perintah iqra’ mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkaunya.
B. Perkembangan IPTEK di dunia islam dari masa ke masa mulai dari dinasti Mu’awiyah, Abasiah sampai sekarang
Masa dinasti Mu’awiyah adalah pemerintahan islam pertama setelah khilafaur rasyidin. Masa ini berlangsung selama 90 tahun (661-750M) dan berpusat di Damaskus. Pada masa ini perhatian pemerintah terhadap perkembangan ilmu pengetahuan sangat besar. Penyusunan ilmu pengetahuan lebih sistematis dan dilakukan pembidangan ilmu pengetahuan yaitu sebagai berikut.
a) Ilmu pengetahuan bidang agama yaitu segala ilmu yang bersumber dari Alquran dan Hadits.
b) Ilmu pengetahuan bidang sejarah yaitu segala ilmu yang membahas tentang perjalanan hidup, kisah, dan riwayat.
c) Ilmu pengetahuan bidang bahasa yaitu segala ilmu yang mempelajari bahasa, nahwu, sharaf, dan lain-lain.
d) Ilmu pengetahuan bidang filsafat yaitu segala ilmu yang pada umumnya berasal dari bahasa asing seperti ilmu mantiq, kedokteran, kimia, astronomi, ilmu hitung dan ilmu lain yang berhubungan dengan ilmu itu. Adapun beberapa tokoh yang terkenal pada masa Mu’awiyah ini diantaranya Salman Al-Farisy, Abu Zubair Muhammad bin Muslim bin Idris, serta Bukhari dan Muslim.
Keempat imam tersebut merumuskan madzhab-madzhab yang sampai saat ini di anut oleh umat Islam di seluruh dunia. Selain kelima imam, Islam pun diwarnai oleh para ilmuwan-ilmuwan muslim yang mencetuskan berbagai penemuan di bidangnya masing-masing. Sebut saja Ibnu Sina yang menjadi Bapak Kedokteran modern, Al-Khawarizmi sebagai penemu angka nol yang juga dikenal sebagai Bapak Aljabar, Ibnu Rusyd yang terkenal sebagai hakim dan fisikawan, serta Imam Al Ghazali seorang ulama, ahli fikir, dan filosof yang telah memberikan banyak kontribusi terhadap dunia dengan karya-karyanya.
Kejatuhan total dinasti Abasiah terjadi pada tahun 1258 disebabkan serangan bangsa Mongol yang dipimpin Hulagu Han yang menghancurkan Baghdad dan tidak menyisakan sedikitpun dari pengetahuan yang dihimpun di perpusatakaan Baghdad. Di sisi lain, peradaban Barat mulai berkembang karena belajar dari perkembangan ilmu pengetahuan yang telah didapatkan oleh umat muslim sebelumnya. Perlahan tapi pasti, posisi muslim menjadi bergeser dan terkesan tertinggal. Kita terlalu terlena akan kebesaran-kebesaran Islam pada zaman dahulu hingga pemikiran untuk berinovasi menjadi berkurang. Budaya Barat yang konsumtif pun mulai merajalela para generasi muda hingga mereka terlena dengan kenikmatan dunia.
4. Syari’at muslim merupakan syari’at yang diturunkan Allah untuk mengatur tatanan kehidupan manusia
tindak pidana dalam Islam dibagi menjadi tiga, yaitu Qishash, Had, dan Ta’zir. Yang dimaksud dengan qisash adalah hukuman yang diberikan kepada pelaku tindak pidana yang jenis hukumannya sama dengan jenis perbuatan yang dilakukannya, seperti hukuman bagi pembunuh dibunuh pula dan melukai hukumannya dilukai pula. Qishash dibagi dua, yaitu Qishash pembunuhan dan Qishash pelukaan.
Yang kedua adalah Had, yaitu hukuman terhadap tindak pidana yang jenis hukumannya sudah ditentukan dalam nash Alquran maupun hadits. Adapun jenis-jenis had, misalnya apabila berzina hukumannya dicambuk sebanyak 100 kali bagi pelaku yang belum menikah atau melakukannya baru pertama kali, dan dirajam (dicambuk sampai mati) bagi pelaku yang sudah menikah atau pernah melakukan hubungan suami istri sebelumnya. Selanjutnya untuk penuduh zina dikenai hukuman dicambuk 80 kali jika tuduhannya tidak terbukti. Selain itu had untuk pencuru hukumannya adalah dipotong tangannya jika telah mencapai batas minimal, sedangkan untuk pemabuk dikenai hukuman cambuk sebanyak 40 sampai 80 kali.
Macam-macam hukum yang terkait dengan jinayat: a. Diyat (Denda)
Pengertian : denda pengganti jiwa yang tidak berlaku atau tidak dilakukan padanya hukum bunuh. Diyat ada dua macam, yaitu:
1. diyat mughaladzah (denda berat), yaitu seratus ekor unta, dengan perincian: 30 ekor unta betina umur tiga masuk empat tahun, 30 ekor unta betina, umur empat masuk lima tahun, 40 ekor unta betina yang sudah bunting
b. Kifarat
Pengertian : tebusan dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang telah ditentukan oleh syari’at Islam karena telah melakukan kesalahan atau pelanggaran yang diharamkan Allah. Macam-macam kifarat ada dua, yaitu:
1. Kifarat karena pembunuhan, yaitu dengan memerdekakan hamba sahaya / berpuasa selama 2 bulan berturut-turut.
2. Kifarat karena melanggar sumpah, yaitu dengan memberi makan 10 orang miskin atau memberi pakaian, memerdekakan 1 budak atau berpuasa 3 hari
c. Hudud
Pengertian : sanksi bagi orang yang melanggar hukum dengan dera / dipukul (jilid) atau dengan dilempari batu hingga mati (rajam). Perbuatan yang dapat dikanakan hudud ada 4, yaitu:
1. Zina
2. Qadzaf (menuduh orang berbiat zina) 3. Minuman keras
4. Mencuri d. Ta’zir
Pengertian : apabila seorang melakukan kejahatan yang tidak atau belum memenuhi syarat untuk dihukum atau tidak/belum memenuhi syarat membayar diyat. (hukuman yang tidak ditetapkan hukumnya dalam quran dan hadits yang bentuknya sebagai hukuman ringan).
B. Mungkinkah hukum jinayat ditegakkan di Indonesia, bagaimana upaya untuk mewujudkannya
diterapkan di Idnonesia yang notabene banyak sekali pelanggaran-pelanggaran dan tindak kriminal yang terjadi. Hukuman biasa di Indonesia sangat lemah sehingga sering dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk kepentingan mereka sendiri. Hukum di Indonesia saat ini bisa dikatakan tidak bisa memberikan efek jera pada orang yang melanggar, itulah salah satu alasan mengapa tindak kriminalitas dan pelanggaran hukum di Indonesia semakin hari semakin menigkat, seperti kasus korupsi yang selama ini seperti tidak ada perkembangan dan justru semakin membudaya.
Dengan diterapkannya hukum jinayat di Indonesia maka kemungkinan besar akan memberikan tekanan psikologis bagi orang-orang yang berniat untuk melanggar hukum untuk berpikir berkali-kali. Upaya yang dapat dilakukan untuk menerapkan jinayat di Indonesia memang tidak akan mudah semudah membalik telapak tangan. Hal pertama yang harus dilakukan yaitu dengana memberikan pengertian dan pemahaman kepada masyarakat umum tanpa kecuali mengenai pentingnya diterapkannya jinayat. Kemudian, ketegasan pemerintah untuk konsisten dan sungguh-sungguh menerapkan jinayat. Setelah itu, menyusun peraturan perundangan mengenai jinayat dan pelaksanaannya dimulai dari tatanan yang paling tinggi (dalam ha ini pemerintah) sampai ke tatanan yang paling rendah (lingkungan masyarakat). 5. Ajaran islam mndorong kita agar hidup damai dalam bermasyarakat.
A. Sikap kita terhadap sesama muslim agar tercipta masyarakat yang damai dan harmonis sesuai dengan tuntunan ajaran islam
kerukunan. Karena setiap muslim erupakan saudara maka hendaklah kita saling mnesaihati dalam hal kebaikan, tidak mengumbar aib saudara kita, saling membantu bila ada yang membutuhkan, saling memaafkan, saling bertoleransi dan saling jujur, dan tidak mengungkit-ungkit kesalahan orang lain. Jika sikap diatas diterapkan dalam diri masyarakat muslim, maka tidak akan ada pertentangan dn perpecahan.
B. Konsep Al Quran berkaitan dengan sikap kita terhadap non muslim, sehingga tercipta kehidupan yang damai dan harmonis
Kerukunan merupakan kebutuhan bersama yang tidak dapat dihindarkan di Tengah perbedaan. Perbedaan yang ada bukan merupakan penghalang untuk hidup rukun dan berdampingan dalam bingkai persaudaraan dan persatuan. Kesadaran akan kerukunan hidup umat beragama yang harus bersifat Dinamis, Humanis dan Demokratis, agar dapat ditransformasikan kepada masyarakat dikalangan bawah sehingga, kerukunan tersebut tidak hanya dapat dirasakan/dinikmati oleh kalangan-kalangan atas/orang kaya saja. Karena, Agama tidak bisa dengan dirinya sendiri dan dianggap dapat memecahkan semua masalah. Agama hanya salah satu faktor dari kehidupan manusia.
Kalau kita masih mempunyai pandangan yang fanatik, bahwa hanya agama kita sendiri saja yang paling benar, maka itu menjadi penghalang yang paling berat dalam usaha memberikan sesuatu pandangan yang optimis. Namun ketika kontak-kontak antaragama sering kali terjadi sejak tahun 1950-an, maka muncul paradigma dan arah baru dalam pemikiran keagamaan. Orang tidak lagi bersikap negatif dan apriori terhadap agama lain. Bahkan mulai muncul pengakuan positif atas kebenaran agama lain yang pada gilirannya mendorong terjadinya saling pengertian.
lain. Kerukunan adalah kata yang sering sekali dipakai untuk kampanye perdamaian di tengah ancaman kerusuhan dan kekerasan sosial. Sepintas banyak yang mempertukarkan atau menganggap sama antara kata rukun dan damai (kerukunan dan kedamaian). Sebenarnya, kerukunan memiliki makna yang jauh lebih dalam dan karenanya sangat dibutuhkan untuk mengatasi persoalan konflik dan kekerasan.
SUMBER BACAAN
Buku:
Arifin. 1994. Psikologi dakwah suatu pengantar studi (cet.1), jakarta: bumi aksara Tim Dosen Seminar Pendidikan Agama Islam. 2010. Lembar Kerja Mahasiswa: Seminar Pendidikan Agama Islam. Bandung: Value Press
Wahyu Ilahi, Harjani Hefni. 2007. Pengantar Sejarah Dakwah, jakarta: kencana prenada group
Kumpulan makalah presentasi kelompok dan materi yang disampaikah oleh dosen An-Najjar, Zaghlul. 2011. Sains Dalam Hadits, Jakarta: Sinar Grafika Offset,
Arya, Wardhan Wisnu. 2009. Al-Qur’an dan Energi Nuklir, Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Wardi, Ahmad Muslich. 2004. Pengantar dan Asas Hukum Pidana Islam. Jakarta. Sinar Grafika
Al Faruk, Asadulloh. 2009. Hukum Pidana Dalam Sistem Hukum Islam. Bogor ghalia Indonesia.
Online:
Republika online, Mengenal Sejarah Hukum Pidana Islam. Dikutip dari;
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/01/23/ly83mw-mengenal-sejarah-hukum-pidana-islam
http://teamdakwahkhalifah.blogspot.co.id/2013/06/pengertian-dakwah-dan-tujuan-dakwah.html
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi islam. Dikutip dari;
https://khangujangthea.wordpress.com/2012/04/03/perkembangan-ilmu-pengetahuan-dan-teknologi-islam/
Menjawab Opini Negatif Terhadap Syariat Islam. Dikutip dari;
Kebijakan Dan Strategi Kerukunan Umat Beragama Di Indonesia. DIKUTIP DARI;