MAKALAH
PSIKOLOGI KEJAHATAN
“ Kondisi Psikologis yang ditimbulkan pada Korban Perdagangan Manusia “
Oleh :
Nitya Amalia Y.
Hubungan Internasional / 140 104 111 000 86 / 023
Kelas : Selasa 09.30 – 12.00
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Perdagangan manusia memang telah menjadi fenomena umum yang terjadi di banyak negara berkembang. Perdagangan manusia merupakan salah satu bentuk tindak kejahatan yang termasuk dalam kejahatan transnasional karena tidak hanya dalam lingkup nasional saja tetapi antar negara. Perdagangan manusia menjadi salah satu masalah yang penting untuk dibahas mengingat hal ini melibatkan banyak aktor dan sifatnya yang transnasional. Perdagangan manusia berbeda dengan penyelundupan manusia, perbedaan yang tampak jelas adalah dari tujuannya. Bahwa perdagangan adalah mereka yang tidak ingin untuk “dieksploitasi” tujuan awal mereka adalah untuk bekerja. Berbeda dengan penyulundupan adalah mereka yang memang ingin untuk “dieksploitasi”. Menurut data dari IOM tahun 2010 (International Organization of Migration) sekitar 200.000 orang lebih menjadi korban perdagangan manusia yang terjadi di Asia Tenggara. Banyak dampak yang ditimbulkan dengan adanya perdagangan manusia tersebut tidak hanya merugikan negara saja tetapi juga pada korban dari perdagangan manusia tersebut. Menurut Jose Ferraris sebagai perwakilan dari UNFPA mengatakan bahwa “perdagangan manusia terdiri dari berbagai bentuk, termasuk paksaan dalam eksploitasi seksual komersial, pelacuran anak dibawah umur, jeratan hutang atau kerja paksa dan lain sebagainya.”1 Pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan dirasakan oleh mereka, bahkan terjadi kekerasan kepada mereka. Tidak hanya dampak fisik yang dirasakan tetapi dari segi psikologis menjadi salah satu hal
1UNFPA:Perdagangan Manusia timbulkan Luka Psikologis dalam
yang penting untuk diperhatikan karena sangat berpengaruh pada kehidupan para korban perdagangan manusia di masa depan. Korban dari perdagangan manusia tidak hanya pada orang dewasa tetapi juga terjadi pada anak-anak yang tidak mengerti apa-apa. Hak yang seharusnya dimiliki seorang anak tidak dapat mereka dapatkan karena mereka tidak memiliki kekuatan untuk memberontak. Dengan mengetahui kondisi
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam makalah ini yaitu :
1. Apa itu psikologi kejahatan? 2. Apa itu perdagangan manusia?
3. Apa saja penyebab terjadinya perdagangan manusia? 4. Apa saja bentuk perdagangan manusia?
5. Siapa saja yang menjadi korban dalam perdagangan manusia?
6. Dampak apa saja yang ditimbulkan bagi para korban perdagangan manusia?
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Psikologi Kejahatan
tindak kejahatan melakukan kejahatan yaitu dari segi psikologis. Dalam studi ini membahas bagaimana pengalaman individu mempengaruhi kejahatan atau tindak kejahatan yang berhubungan dengan bagaimana biologi individu, personality, pola asuh dan bagaimana proses berfikir, persoalan yang dihadapi akan mempengaruhi seseorang melakukan kejahatan. Fungsi dari studi psikologi kejahatan ini ada dua yaitu untuk mengetahui apa alasan mereka melakukan tindak kejahatan dan informasi psikologi yang diberikan berguna untuk mencegah tindak kejahatan selanjutnya.
2.2. Pengertian Perdagangan Manusia
Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam salah satu dari 3 Protokol Palermo mendefinisikan human trafficking sebagai perekrutan, pengiriman, pemindahan, penampungan atau penerimaan seseorang, dengan ancaman atau penggunaan kekerasan atau bentuk-bentuk lain dari pemaksanaan, penculikan, penipuan, kebohongan, atau penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan atau memberi atau menerima pembayaran atau memperoleh keuntungan agar dapat memperoleh persetujuan dari seseorang yang berkuasa atas orang lain, untuk tujuan eksploitasi. Eksploitasi termasuk, paling tidak, eksploitasi untuk melacurkan orang lain atau bentuk bentuk lain dari eksploitasi seksual, kerja atau pelayanan paksa, perbudakan atau praktik-praktik serupa perbudakan, perhambaan atau pengambilan organ tubuh.2
Banyak negara yang salah paham dalam mengartikan definisi perdagangan manusia bahwa perdagangan manusia dalam negara atau menggolongkan migrasi tidak tetap sebagai perdagangan. Menurut Traffiking Victims Protection Act (TVPA),
undang Perlindungan Korban Perdagangan Orang Amerika Serikat menyebutkan perdagangan orang adalah:3
a. Perdagangan seks dimana tindakan seks komersial diberlakukan secara paksa, dengan cara penipuan, atau kebohongan, atau dimana seseorang diminta secara paksa melakukan suatu tindakan demikian belum mencapai usia 18 tahun; atau b. Merekrut, menampung, mengangkut, menyediakan atau mendapatkan seseorang untuk bekerja atau memberikan pelayanan melalui paksaan, penipuan, atau kekerasan untuk tujuan penghambaan, penjeratan hutang atau perbudakan. Dalam definisi-definisi ini, para korban tidak harus secara fisik diangkut dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Definisi ini juga secara jelas berlaku pada tindakan merekrut, menampung, menyediakan, atau mendapatkan seseorang untuk maksud-maksud tertentu. Perdagangan manusia berbeda dengan penyelundupan. Pada penyelundupan, orang-orang yang diselundupkan umumnya meminta bayaran dari para penyelundup, sedangkan dalam kasus perdagangan manusia, umumnya terjadi penipuan sehingga korban tidak mendapatkan timbal balik apapun. Dalam penyelundupan, orang-orang yang diselundupkan tidak diberi kewajiban apapun, dalam arti mereka datang ketempat tujuan secara cuma-cuma. Sedangkan para korban trafficking mengalami perbudakan yang merugikan saat mereka sampai di tempat tujuan.
Dari definisi-defenisi tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur perdagangan manusia adalah sebagai berikut :
a. Adanya tindakan atau perbuatan, seperti perekrutan, transportasi, pemindahan, penempatan dan penerimaan orang.
3
Victims of Trafficking and Violence Protection Act of 2000b. Dilakukan dengan cara, menggunakan ancaman atau penggunaan kekerasan atau bentuk-bentuk paksaan lain, penculikan, tipu daya, penyalahgunaan kekuasaan, pemberian atau penerimaan pembayaran/keuntungan untuk memperoleh persetujuan.
2.2.Penyebab Terjadinya Perdagangan Manusia
Perdagangan manusia muncul karena ada berbagai faktor pemicu yaitu : - ekonomi
Alasan ekonomi menjadi salah satu faktor utama mengapa terjadi perdagangan manusia. Kebutuhan hidup yang semakin mahal, sedikitnya lapangan pekerjaan menjadi alasan mereka.
- pendidikan
Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai dampak dari perdagangan manusia. Selain itu kurangnya informasi yang didapat korban perdagangan manusia membuat mereka terlena dengan harapan-harapan yang diberikan para agen human trafficking.
2.3. Bentuk – Bentuk Perdagangan Manusia
internal seringkali diidentikan dengan “orang desa yang bekerja di kota.” Pekerja migran internasional (luar negeri) adalah mereka yang meninggalkan tanah airnya untuk mengisi pekerjaan di negara lain. Di Indonesia, pengertian ini menunjuk pada orang Indonesia yang bekerja di luar negeri atau yang dikenal dengan istilah Tenaga Kerja Indonesia (TKI).
Bentuk kedua adalah perdagangan anak. Perdagangan anak dapat diartikan sebagai segala bentuk tindakan dan percobaan tindakan yang melibatkan perekrutan, transportasi baik di dalam maupun antar negara, pembelian, penjualan, pengiriman, dan penerimaan anak dengan menggunakan tipu daya, kekerasan, atau dengan pelibatan hutang untuk tujuan pemaksaan pekerjaan domestik, pelayanan seksual, perbudakan, buruh ijon, atau segala kondisi perbudakan lain, baik anak tersebut mendapatkan bayaran atau tidak, di dalam sebuah komunitas yang berbeda dengan komunitas di mana anak tersebut tinggal ketika penipuan, kekerasan, atau pelibatan hutang tersebut pertama kali terjadi. Namun tidak jarang perdagangan anak ini ditujukan pada pasangan suami istri yang ingin mempunyai anak.
merupakan komoditi perdagangan dan prostitusi di mana wanita dewasa sebagai komoditi perdagangan. Prostitusi anak dapat diartikan sebagaitindakan mendapatkan atau menawarkan jasa seksual dari seorang anak oleh seseorang atau kepada orang lainnya dengan imbalan uang atau imbalan lainnya.
Bentuk lainnya adalah perbudakan berkedok pernikahan dan pengantin pesanan. Biasanya, praktik perbudakan berkedok pernikahan dan pengantin pesanan dilakukan oleh pria warga negara asing dengan wanita warga negara Indonesia. Hal yang membendakan antara perbudakan berkedok pernikajan dengan pengantin pesanan adalah tidak semua kasus pengantin pesanan berakhir dengan nasih yang mengerikan.
2.4. Sasaran Korban Perdagangan Manusia
Umumnya para korban Trafficking adalah orang yang mudah terbujuk oleh janji-janji palsu sang traffickers. Beberapa traffickers menggunakan taktik-taktik manipulasi untuk menipu korbannya diantaranya dengan intimidasi, rayuan, pengasingan, ancaman, penyulikan dan penggunaan obat-obatan terlarang.
Orang-orang yang dijual umumnya berasal dari daerah miskin dimana peluang untuk mendapatkan penghasilan amat terbatas. Bisa juga mereka berasal dari korban pengungsian atau orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal. Kebanyakan dari mereka masuk ke negara lain dibawa oleh traffickers melalui perbatasan. Karena kontrol yang kurang diperbatasan inilah, mereka bisa dengan leluasa lolos dan masuk ke negara tersebut.
para Traffickers dengan tujuan untuk memperbaiki perekonomian keluarganya. Mereka diiming-imingi pekerjaan layak atau pendidikan gratis. Tipe pekerjaan yang ditawarkan umumnya adalah pekerjaan di catering dan hotel, di bar dan club, kontrak sebagai model, dan pekerjaan paruh waktu. Traffickers biasanya membujuk dengan janji akan menikahi korban, atau memaksa dan menculik korban. Dan pada akhirnya korban-korban tersebut akan diterjunkan pada bisnis prostitusi.
Perdagangan manusia juga terjadi pada pria. Pria yang berpendidikan rendah umumnya dijadikan korban untuk menjadi pekerja kasar dengan upah yang sangat rendah. Sebagian dari mereka juga ada yang dijadikan korban perkawinan paksa atau pekerja seks. Departemen Negara Amerika Serikat menduga ada sekitar 600.000 -820.000 pria, wanita dan anak-anak yang dijual ke negara-negara didunia setiap tahunnya. Dan 80% diantaranya adalah wanita. Data tersebut juga menyebutkan bahwa kebanyakan dari para korban perdagangan manusia dijual untuk eksploitasi seks komersial.
Sedangkan perdagangan anak umumnya dilakukan oleh orang tua yang benar-benar miskin. Alasan mereka menjual anaknya adalah untuk membayar hutang atau untuk mendapatkan uang. Ada juga yang menjual anaknya karena belum siap untuk mengurus anak tersebut sehingga mereka dijual dengan harapan bisa memperoleh masa depan yang lebih baik. Di Afrika Barat, penjualan anak kerap terjadi akibat kematian satu atau kedua orang tuanya yang disebabkan oleh HIV AIDS.
2.5. Konsekuensi Psikologis Perdagangan Manusia
dalam bentuk fisik seperti luka, cacat, atau meninggal saja tetapi bagi mereka yang terkena pelecahan seksual atau kekerasan tetapi juga dari segi psikologis. Tentu akan ada dampak pada mental mereka yang akan berpengaruh pada kehidupan mereka. Dampak psikologis merupakan luka permanen bagi korban perdagangan manusia daripada dampak yang ditimbulkan dalam hal fisik.
Mereka mengalami stress, trauma bahkan depresi setelah apa yang mereka alami. Rasa takut akan sering muncul pada diri korban perdagangan manusia. Ciri lain yang tampak adalah korban terkadang berfikir untuk bunuh diri, kepercayaan dan harga diri yang kurang, selalu merasa bersalah, merasa takut, merasa ketakutan sering mimpi buruk, kehilangan harga diri, kehilangan kontrol atas diri sendiri cenderung korban yang disuntikan narkoba oleh pelaku.
Dampak psikologis yang terjadi pada korban trafficking :
Trauma
Sebagian besar korban perdagangan manusia akan mengalami trauma dari dampak kekerasan atau pengalaman yang tidak menyenangkan bagi mereka. Trauma adalah :
“The essence of trauma is that it overwhelms the victim’s psychological and biological coping mechanisms. This occurs when internal and external resources are inadequate to cope with the external threat.”4
Pengalaman traumatis yang diderita oleh korban perdagangan manusia seringkali rumit, karena berdampak dalam jangka waktu yang panjang. Bagi banyak orang yang
4 Saporta, J. and B.A. van der Kolk, Psychobiological consequences of trauma, in Torture and its consequences: Current treatment
diperdagangkan, penyalahgunaan atau peristiwa lain dari trauma mungkin telah dimulai jauh sebelum proses trafficking terjadi. Pada umumnya trauma yang dirasakan korban perdagangan manusia dipengaruhi oleh dua faktor yaitu unpredictability of event dan uncontrollability of events. Namu saat ini umumnya faktor yang kedua yang paling mempengaruhi. Bentuk-bentuk kontrol yang sangat umum digunakan oleh mereka yang melakukan perdagangan manusia (traffickers) yaitu :
Pembatasan gerak
Yaitu kontrol yang dilakukan oleh para traffickers telah melampaui batas. Bahkan yang paling intim seperti ketika makan, pergi ke toilet, bekerja, tidur, ke mana mereka pergi, dengan siapa mereka. Dalam kasus lain , kontrol mungkin relatif lemah pada tahap awal tetapi meningkat sebagai korban pergi melalui proses perdagangan , menjadi kuat karena mereka dari dekat dan mencapai tujuan lokasi / eksploitasi fase.
Mereka di eksploitasi dengan beberapa cara seperti eksploitasi seksual yang dibayar dengan harga rendah, terlibat dalam kejahatan kecil seperti mencuri, mengemis atau bekerja di industri ilegal, misalnya perdagangan narkoba. Sedikit dari mereka yang melaporkan apa yang terlah meeka alami. Ada rasa trauma yang mereka alami, sulit bagi mereka untuk menceritakan apa yang telah mereka alami. Dalam perdagangan untuk eksploitasi seksual, penelitian telah menunjukkan bahwa di beberapa lokasi hanya 3 persen korban yang melaporkan bahwa mereka tidak bayar. Dengan adanya kontrol dari para traffickers membuat korban menjadi tidak bisa mengambil keputusan apa yang seharusnya mereka putuskan.
Multiple Trauma
pengalaman perdagangan mereka bahkan setelah terjadi eksploitasi. Hal ini diperlukan di sini untuk mengingat bahwa dalam satu studi tentang perdagangan perempuan, 89 persen dari perempuan terancam sementara dalam perdagangan manusia, dan 36 persen melaporkan bahwa traffickers mengancam keluarga korban. Para korban perdagangan banyak juga yang diperdagangkan oleh anggota keluarga atau seseorang dari tempat asal mereka. Penelitian telah menunjukkan bahwa perempuan yang diperdagangkan terus menerima ancaman melalui telepon dan orang5, baik terhadap diri mereka sendiri dan keluarga mereka, dan bahwa perlindungan oleh pemerintah sangat terbatas. Ketika seseorang menunjukkan ketakutan dan kecemasan, perlu untuk mempertimbangkan bahwa ini mungkin merupakan dampak yang berbahaya bagi korban.
Violence
Korban perdagangan pasti telah mengalami kekerasan baik sebelum dan selama proses perdagangan. Kekerasan sebelum perdagangan terlihat pada sebagian besar korban perdagangan untuk eksploitasi seksual. Dalam kasus eksploitasi seksual hingga 70 persen wanita telah melaporkan kekerasan fisik dan 90 persen kekerasan seksual ketika sedang diperdagangkan.6 Dapat dikatakan bahwa kekerasan yang dilakukan oleh majikan atau traffickers adalah cara untuk mengontrol para korban perdagangan.
Abuse
Hal ini biasanya digunakan oleh para traffickers bagi korban yang kurang pengetahuaanya untuk dipengaruhi secara negatif agar mau melaksanakan apa yang dia perintah. Sebenarnya, sebagian besar korban perdagangan adalah mereka yang dari 5 United Nations.”Psychological reactions of victims of trafficking in persons”
6 Zimmerman, C., M. Hossain, K. Yun, B. Roche, L. Morison, and C. Watts, 2006. Stolen smiles. The physical and psychological
lingkungan buruk seperti orang tua bercerai, menjadi anak yatim piatu akibat perang, korban kekerasan dalam rumah tangga dll. Latar belakang yang buruk tersebut dimanfaatkan traffickers untuk mempengaruhi atau menyalahgunakan wewenang agar korban dapat dipaksa dan melakukan apa yang ia perintah.
Gejala Trauma apa yang ditimbulkan pada korban perdagangan manusia
Trauma mungkin memiliki efek pada kesehatan korban. Penyidik memiliki tugas umum untuk perawatan kepada korban, tetapi itu bukan alasan utama kesehatan korban dieksplorasi di sini. Kesehatan fisik korban perdagangan akan membekas pada diri korban setelah diperdagangkan dan dapat disembuhkan karena itu berupa fisik. Sedangkan untuk beberapa gejala kesehatan mental mengalami lebih lama. Bukti saat ini dari efek kesehatan dari kekerasan fisik dan seksual menjadi penting bahwa ketika pelecehan tersebut sering terjadi, dam kemungkinan untuk menghasilkan sejumlah masalah kesehatan, termasuk cedera fisik, masalah kesehatan seksual, konsekuensi kesehatan somatik kronis, dan miskin kesehatan mental jangka panjang.
Concurrent Symptoms7
Setelah mengalami perdagangan sebagian besar wanita memiliki banyak simultan masalah kesehatan fisik dan mental. Di antara korban perdagangan gejala kesehatan fisik menyebabkan mereka merasa sakit dan tidak nyaman. Beberapa gejala kesehatan mental mengalami lebih lama.
Physical symptoms8
7 Zimmerman C, Hossain M, 2006
Kelelahan dan penurunan berat badan, gejala neurologis, dan gastrointestinal adalah masalah yang paling sering dilaporkan. Banyak korban perdagangan yang hanya memiliki sedikit waktu untuk tidur karena dipaksa untuk melakukan aktivitas terus-menerus. Kurang tidur kronis atau berkepanjangan tidak hanya mempengaruhi kemampuan individu untuk berkonsentrasi dan berpikir jernih, tetapi juga melemahkan sistem kekebalan tubuh dan kemampuan untuk menahan rasa sakit.
Gejala kesehatan mental
Depresi, cemas dan permusuhan adalah gejala yang sering ditemukan pada korban penyiksaan dan korban peristiwa traumatis lain dan juga diidentifikasi sebagai dampak psikologis. Dalam studi pada perempuan yang dibantu di Eropa, tingkat sakit jiwa korban perdagangan ditemukan jauh lebih tinggi dibandingkan pada populasi wanita secara umum. Sementara dalam perawatan LSM, tingkat gejala perempuan melakukan penurunan tetapi terjadi sangat lambat dan tidak terlalu banyak. Bahkan setelah tiga bulan perawatan, perempuan melaporkan tingkat depresi masih pada level atas 10 persen dari perempuan yang paling tertekan dalam rata-rata populasi wanita. Hal ini mungkin menghambat korban perdagangan orang untuk kembali menjalani kegiatan normal sehari-hari. Bagi penyidik, dengan tingkat gejala kuat korban perdagangan sangatlah sensitif dan melakukan pendekatan tepat waktu untuk mewawancarai korban. Ciri yang nampak pada korban perdagangan adalah menjadi mudah tersinggung, mdah marah, terganggu oleh segala sesuatu, memiliki rasa marah yang meledak-ledak.
Post-traumatic stress disorder (PTSD)
berlangsung dalam jangka waktu lama dalam gejala psikologis yang parah dialami oleh mereka yang telah terkena pengalaman yang telah memiliki efek traumatis pada mereka. Hampir semua orang yang memiliki pengalaman traumatis akan memiliki perasaan shock, sedih dan penyesuaian dan tidak semua orang yang mengalami peristiwa traumatis akan menyebabkan PTSD. Karakteristik umum PTSD adalah kecenderungan gejala menurun dari waktu ke waktu di sebagian orang. Studi korban trafficking ( khususnya untuk eksploitasi seksual ) telah menemukan bahwa korban menunjukkan banyak gejala PTSD. Pola penurunan dalam gejala PTSD juga ditemukan dalam korban trafficking. PTSD tercermin dalam studi tentang perdagangan orang adalah bahwa beberapa korban masih memiliki beberapa gejala setelah perdagangan.
BAB III
KESIMPULAN
bidang terkait lainnya meminta bantuan untuk dapat mengeksplor lebih dalam apa saja yang telah dia alami karena sebagain besar korban perdagangan tidak ingin melaporkannya dengan berbagai alasan. Dampak yang ditimbulkan pada korban tidak hanya dalam bentuk fisik tetapi juga mental. Kondisi psikologis korban akan sangat terganggu ketika dan sesudah perdagangan. Kekerasan tidak lepas dari kegiatan perdagangan ini dan menyebabkan trauma pada korban. Banyak gejala yang ditimbulkan pada korban seperti taruma, kondisi mental yang terganggu, PTSD.
DAFTAR PUSTAKA
Jurnal
United Nations Office on Drugs and Crime in Vienna2008. An Introduction to Human Trafficking:Vulnerability, Impact and Action:New York
Yvonne Rafferty. The Impact of Trafficking on Children: Psychological and Social Policy Perspectives Volume 2, Number 1,
The Threat of Transnational Crime in Southeast Asia Drug Trafficking human
Smuggling and Trafficking and Sea Piracy dalam
http://pendientedemigracion.ucm.es/info/unisci/revistas/Ralf.pdf
Professionals”: Published in International Journal for the Advancement of Counselling 31 (2009)
Office for Victims of Crime Training and Technical Assistance Center. “Human Trafficking”
Internet
UNODC on human trafficking and migrant smuggling dalam
https://www.unodc.org/unodc/en/human-trafficking/index.html?ref=menuside diakses
pada 22 Oktober 2013 pukul 20.05 WIB
Buku