• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Stres Kerja, Konflik, Dan Gaji Terhadap Turnover Karyawan Pada Choco Bakery

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Pengaruh Stres Kerja, Konflik, Dan Gaji Terhadap Turnover Karyawan Pada Choco Bakery"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

KERANGKA TEORI

2.1 Sumber Daya Manusia

Perusahaan dijalankan oleh orang-orang yang saling bekerjasama untuk

mencapai tujuan yang ditetapkaan. Orang-orang yang bekerja dalam suatu

organisasi/perusahaan disebut sebagai sumber daya manusia. Sumber daya

manusia dalam suatu perusahaan memiliki peranan yang sangat penting dalam

pencapaian tujuan perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan harus berusaha untuk

mendapatkan sumber daya manusia yang paling tepat baik dalam arti kualitas

maupun dalam arti kuantitas. Disamping itu,perusahaan juga harus mampu

mengelola sumber daya manusia yang dimiliki semaksimal mungkin agar setiap

pekerjaan dalam perusahaan dapat dilaksanakan dengan efektif dan efisien.

Menurut Ndraha (1999:23) SDM adalah penduduk yang siap, mau dan mampu

memberi sumbangan terhadap usaha pencapaian tujuan organisasional. Sedangkan

menurut Nawawi (2001:8) pengertian SDM dibedakan menjadi dua, yaitu

pengertian SDM secara makro dan pengertian SDM secara mikro.

SDM secara makro adalah semua manusia sebagai penduduk atau warga

negara suatu negara atau dalam batas wilayah tertentu yang sudah memasuki usia

angkatan kerja, baik yang sudah maupun belum memperoleh pekerjaan(lapangan

kerja). SDM dalam arti mikro secara sederhana adalah manusia atau orang-orang

yang bekerja atau menjadi anggota suatu organisasi yang disebut personil,

pegawai, karyawan, pekerja, tenaga kerja. Berdasarkan pengertian SDM tersebut

(2)

terlibat dan ikut bekerja sama dalam suatu perusahaan/organisasi untuk

pencapaian tujuan perusahaan.

2.2 Stres Kerja

2.2.1 Pengertian Stres Kerja

Dalam melaksanakan setiap tugas, seorang karyawan harus benar-benar

melakukan setiap pekerjaan tanpa ada paksaan ataupun tekanan yang akan

berpengaruh pada kinerja karyawan. Apabila seorang karyawan mengalami suatu

tekanan dalam melaksanakan tugasnya, akan mengakibatkan karyawan tersebut

mengalami stres dan memiliki kemungkinan untuk memilih keluar dari

perusahaan tersebut. Menurut Handoko (2014;200) stres adalah suatu kondisi

ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang.

Menurut Wahjono (2010:13) stres adalah kondisi ketegangan yang

mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang. Sedangkan menurut

Szilagyi (1990) dalam Gitosudarmo dan Sudita (2000:50), stres adalah

pengalaman yang bersifat internal yang menciptakan adanya ketidakseimbangan

fisik dan psikis dalam diri seseorang sebagai akibat dari faktor lingkungan

eksternal organisasi atau orang lain, dan menurut Towner (2002:1) yang diambil

dari kutipan Cooper, stres adalah tekanan yang terlalu besar bagi kita.

Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa stres kerja

merupakan tekanan yang mengakibatkan individu merasakan ketidaknyamanan.

Manajer menginginkan hal terbaik bagi staff mereka dan juga memikirkan

(3)

bahwa seorang pekerja yang mengalami stres bukanlah seorang yang bahagia dan

produktif (Towner, 2002:1).

2.2.2 Komponen-Komponen Stres

Ada tiga komponen utama dari stres yaitu komponen stimulus, komponen

respon, dan komponen interaksi.

1. Komponen stimulus meliputi kekuatan-kekuatan yang menyebabkan

adanya ketegangan atau stres. Stimulus stres dapat berasal dari

lingkungan eksternal, perusahaan dan individu.

2. Komponen respon meliputi reaksi fisik, psikis atau perilaku terhadap

stres. Paling tidak ada dua respon terhadap stres yang paling sering

diidentifikasi yaitu frustasi dan gelisah.

3. Komponen interaksi dari stres yaitu interaksi antara faktor stimulus

dengan faktor respon dari stres.

2.2.3 Penyebab Stres

Stres kerja yang dialami seseorang adalah merupakan pengaruh

lingkungan internal maupun eksternal perusahaan. Faktor-faktor yang

menyebabkan timbulnya stres dalam perusahaan dapat dibedakan menjadi tiga

kategori yaitu faktor lingkungan, faktor organisasi dan faktor individu itu sendiri

(Wahjono:2010:13).

1. Faktor Lingkungan

Ketidakpastian lingkungan mempengaruhi perancangan struktur

organisasi, ketidakpastian juga mempengaruhi tingkat stres di kalangan

(4)

antara lain ketidakpastian ekonomi, politik, teknologi, dan ketidakpastian

keamanan.

2. Faktor Organisasi

Beberapa faktor organisasi yang menjadi potensi sumber stres antara lain:

a. Tuntutan tugas dalam hal desain pekerjaan individu, kondisi kerja,

dan tata letak kerja fisik. Tuntutan peran yang berhubungan dengan

tekanan yang diberikan pada seseorang sebagai fungsi dari peran

tertentu yang dimainkan dalam sebuah organisasi.

b. Tuntutan antar-pribadi, yang merupakan tekanan yang diciptakan

oleh karyawan lain seperti kurangnya dukungan sosial dan

buruknya hubungan antar-pribadi para karyawan.

c. Struktur organisasi yang menentukan tingkat diferensiasi dalam

organisasi, tingkat aturan dan peraturan, dan dimana keputusan

diambil. Aturan yang berlebihan dan kurangnya partisipasi

individu dalam pengambilan keputusan merupakan potensi sumber

stres.

d. Kepemimpinan organisasi yang terkait dengan gaya kepemimpinan

atau manajerial dari eksekusif senior organisasi.

3. Faktor Individu

Faktor-faktor individu menyangkut dengan faktor-faktor dalam

kehidupan pribadi individu. Faktor tersebut antara lain persoalan keluarga,

(5)

2.2.4 Pendekatan Stres Kerja

Stres itu ada, baik suka atau tidak. Ia mempengaruhi orang dengan cara

berbeda dan jika dibiarkan tidak ditangani akan menimbulkan kerusakan di tempat

kerja. Stres dapat menimbulkan dampak positif dan negatif terhadap prestasi

kerja. Pada saat stres kerja rendah, karyawan dapat bekerja dengan prestasi yang

optimal. Sebaliknya, jika tingkat stres tinggi, maka prestasi kerja dapat menurun

secara drastis. Untuk itu perlu dilakukan pendekatan terhadap stres kerja.

Ada 4 (empat) pendekatan terhadap stres kerja, yaitu; dukungan sosial,

meditasi, biofeedback, dan program kesehatan pribadi (Mangkunegara, 2005:12).

1. Pendekatan Dukungan Sosial

Dilakukan melalui aktivitas yang bertujuan memberikan kepuasan sosial

bagi karyawan, misalnya bermain game dan lelucon.

2. Pendekatan Meditasi

Dilakukan melalui penenangan pikiran, dzikir, tafakur, sholat, dan olahraga

pernapasan.

3. Pendekatan Biofeedback

Dilakukan melalui bimbingan medis. Melalui bimbingan dokter, psikiater

dan psikolog.

4. Pendekatan Kesehatan Pribadi

Pendekatan ini merupakan pendekatan yang dilakukan sebelum terjadinya

stres. Dalam hai ini, karyawan secara periode waktu yang kontinyu

memeriksa kesehatan, melakukan relaksasi otot, pengaturan gizi dan

(6)

2.2.5 Konsekuensi dari Stres

Stres, baik itu yang berasal dari kehidupan pribadi ataupun dari tempat

kerja, pada akhirnya akan mempengaruhi seseorang di tempat kerja. Apabila hal

itu diabaikan, maka akan menimbulkan dampak/konsekuensi bagi perusahaan.

Ada tiga kategori umum sebagai konsekuensi dari stres (Wahjono, 2010:14),

yaitu;

1. Gejala Fisiologis

Gejala ini terkait dengan aspek kesehatan dan medis yang menunjukkan

bahwa stres dapat menciptakan perubahan metabolisme, meningkatkan laju

detak jantung dan pernafasan, meningkatkan tekanan darah, menimbulkan

sakit kepala dan menyebabkan serangan jantung.

2. Gejala Psikologis

Stres dapat menyebabkan ketidakpuasan terutama yang berkaitan dengan

ketidakpuasan pekerjaan. Disamping itu stres juga muncul dalam bentuk

keadaan psikologis lain seperti ketegangan, kecemasan, mudah marah,

kebosanan, dan suka menunda-nunda.

3. Gejala Perilaku

Gejala stres yang terkait dengan perilaku mencakup perubahan

produktivitas, absensi, tingkat keluar masuknya karyawan, perubahan

kebiasaan makan, meningkatkan konsumsi rokok dan alkohol, bicara cepat,

gelisah dan adanya gangguan tidur.

Para pekerja yang mengalami stres dan tidak melihat jalan lain untuk

memecahkan suatu masalah di tempat kerja, mungkin akan mencari pekerjaan

(7)

Pelatihan dan pengembangan pekerja memang membebani, namun itu adalah

suatu investasi pada sumber daya manusia yang paling mahal (Towner, 2002;6).

2.2.6 Cara Mengatasi Stres

Mengatasi stres dapat dilakukan dengan dua pendekatan (Wahjono,

2010:14) yaitu pendekatan individu dan organisasi.

1. Pendekatan Individu

Karyawan dapat memikul tanggung jawab pribadi untuk mengurangi tingkat

stresnya

2. Pendekatan Organisasi

Faktor organisasi yang dapat dikendalikan oleh manajemen seperti tuntutan

tugas dan peran, struktur organisasi dapat dimodifikasi sedemikin rupa

untuk menghindari tingkat stres yang tinggi.

Penanggulangan stres dapat dilihat secara lebih rinci pada tabel berikut

ini:

Tabel 2.1

Penanggulangan Stres Secara Individual Dan Organisasi

Secara individual Secara Organisasi

1. Meningkatkan keimanan

2. Melakukan meditasi dan

pernafasan

3. Melakukan kegiatan olah raga

4. Melakukan rileksasi

5. Dukungan sosial dari

teman-teman dan keluarga

6. Menghindari kebiasaan rutin

yang membosankan

1. Melakukan perbaikan iklim

organisasi

2. Melakukan perbaikan

terhadap lingkungan fisik

3. Menyediakan sarana olahraga

4. Melakukan analisis dan

kejelasan tugas

5. Mengubah struktur dan

(8)

6. Meningkatkan partisipasi

dalam proses pengambilan

keputusan

7. Melakukan restrukturisasi

tugas

8. Menerapkan konsep

manajemen berdasarkan

sasaran.

Sumber: Gitosudarmo (2000:55).

2.3 Konflik dalam Organisasi 2.3.1 Pengertian Konflik

Orang-orang dan kelompok dalam suatu organisasi ataupun perusahaan

memiliki keahlian dan pandangan yang berbeda-beda tentang

pekerjaannya/tugas-tugas orang ataupun kelompok yang lain. Maka ketika interaksi diantara mereka

terjadi, konflik menjadi potensial untuk muncul. Konflik merupakan suatu proses

yang mulai bila satu pihak merasakan bahwa pihak lain telah mempengaruhi

secara negatif, sesuatu yang menjadi perhatian pihak pertama (Wahjono,

2010;161). Sedangkan menurut Mangkunegara (2005:23), konflik adalah suatu

pertentangan yang terjadi antara apa yang diharapkan oleh seseorang terhadap

dirinya, orang lain, organisasi dengan kenyataan apa yang diharapkan.

Konflik dalam organisasi adalah tidak adanya persesuaian antara dua atau

lebih anggota organisasi atau kelompok, karena keharusan membagi sumber yang

langka diantara mereka atau keharusan bekerja bersama-sama, sedangkan mereka

berbeda tingkat, tujuan, nilai-nilai ataupun persepsi. Masing-masing anggota

organisasi atau kelompok dalam hal tiada persesuaian itu berusaha saling

(9)

2.3.2 Transisi dalam Pikiran Konflik

Berkenaan dengan pemikiran konflik, terdapat tiga pandangan yang

berbeda satu dengan lainnya. Adapun ketiga pandangan tentang konflik menurut

(Wahjono, 2010;161) yaitu pandangan tradisional, pandangan hubungan manusia,

dan pandangan interaksionis.

1. Pandangan Tradisional

Menyatakan bahwa semua konflik itu buruk. Konflik dilihat sebagai sesuatu

yang negatif, merugikan dan harus dihindari. Pandangan tradisional

menyatakan bahwa konflik disinonimkan dengan kekerasan, destruksi, dan

ketidakrasionalan.

2. Pandangan Hubungan Manusia

Menyatakan bahwa konflik merupakan peristiwa yang wajar terjadi dalam

semua kelompok dan organisasi.

3. Pandangan Interaksionis

Pandangan interaksionis menganggap perlu mendorong pemimpin

kelompok untuk mempertahankan suatu tingkat minimum keberlanjutan dari

konflik cukup untuk membuat kelompok itu bertahan hidup, dan kreatif.

Konflik tidak hanya merupakan suatu kekuatan positif dalam suatu

kelompok melainkan juga mutlak perlu untuk suatu kelompok agar dapat

(10)

Berikut adalah tabel yang menunjukkan perbedaan ketiga pandangan

konflik tersebut;

Tabel 2.2

Perbedaan Ketiga Pandangan Konflik

Pandangan Tradisional Pandangan

Hubungan Manusia

Pandangan Interaksionis

1. Terjadinya konflik harus

dihindarkan

2. Konflik terjadi karena

kesalahan manajemen

dalam perancangan dan

pengelolaan

3. Konflik itu mengganggu

optimalisasi

4. Manajemen harus

menghilangkan konflik

1. Konflik

merupakan

peristiwa yang

wajar dalam semua

kelompok dan

toko.

2. Konflik tidak akan

terelakkan.

3. Konflik tidak

dapat disingkirkan.

4. Ada kalanya dapat

bermanfaat pada

kinerja kelompok.

1. Organisasi/kelompok

yang bebas dari konflik

akan bersifat statis,

apatis, tidak tanggap

perubahan.

2. Konflik mutlak

diperlukan agar dapat

berkinerja efektif.

3. Dampak konflik dapat

fungsional dan

disfungsional.

4. Konflik diperlikan

sebagai stimulus.

Sumber: Wahjono (2010:161).

2.3.3 Bentuk-Bentuk Konflik dalam Organisasi

Menurut Mangkunegara, ada 4 (empat) bentuk konflik dalam organisasi,

yaitu:

1. Konflik Hirarki (Hierarchical Conflict), yaitu konflik yang terjadi pada

tingkatan hirarki organisasi.

Contoh: konflik antara komisaris dengan direktur utama, pimpinan dengan

(11)

2. Konflik Fungsional (Functional Conflict), yaitu konflik yang terjadi dari

bermacam-macam fungsi departemen dalam organisasi.

Contoh: konflik antara bagian produksi dengan bagian pemasaran.

3. Konflik Staff dengan Kepala Unit (Line Staff Conflict), yaitu konflik yang

terjadi antara pimpinan unit dengan staffnya terutama yang berhubungan

dengan wewenang/autoritas kerja.

Contoh: karyawan staff secara tidak formal mengambil wewenang

berlebihan.

4. Konflik Formal–Informal (Formal-Informal Conflict), yaitu konflik yang

terjadi yang berhubungan dengan norma yang berlaku di organisasi

informal dengan organisasi formal.

Contoh: pimpinan yang menempatkan norma yang salah pada organisasi.

2.3.4 Karakteristik Konflik dan Solusinya

Karakteristik konflik dapat diperhatikan pada lima bentuk konflik

(Mangkunegara,2005:24), sebagai berikut:

1. Konflik dalam diri perorangan.

2. Konflik antara perorangan-perorangan dalam suatu organisasi.

3. Konflik antara perorangan-perorangan dan kelompok-kelompok dalam

suatu organisasi.

4. Konflik antara kelompok dalam suatu organisasi.

5. Konflik antara organisasi-organisasi.

Untuk memahami karakteristik konflik dan solusinya, maka harus

dipahami terlebih dahulu mengenai sumber-sumber konflik dalam organisasi,

(12)

2.3.5 Sumber Konflik dalam Organisasi

Suatu konflik dapat terjadi karena masing-masing pihak merasa dirugikan.

Hal ini menimbulkan kesan yang tidak menyenangkan bagi masing-masing atau

salah satu pihak. Sumber konflik (Mangkunegara,2005:24), meliputi:

1. Bersama-sama menggunakan sumber-sumber daya organisasi yang sama.

2. Perbedaan dalam tujuan antara bagian-bagian/kelompok-kelompok dalam

organisasi.

3. Saling ketergantungan pekerjaan dalam organisasi.

4. Perbedaan nilai-nilai atau persepsi dimiliki/dianut oleh masing-masing

bagian-bagian organisasi.

5. Sumber-sumber lain seperti gaya perorangan, kekaburan organisasi dan

masalah komunikasi.

Sedangkan menurut Nitisemito (1982:214), sebab-sebab timbulnya konflik

antara lain adalah:

1. Perbedaan pendapat, dimana masing-masing pihak merasa dirinyalah yang

paling benar.

2. Salah paham.

3. Salah satu atau kedua belah pihak merasa dirugikan.

4. Perasaan yang terlalu sensitif.

2.3.6 Akibat-Akibat Konflik

Konflik tidak mesti menyebabkan akibat negatif, tetapi pada dasarnya

konflik juga menyebabkan akibat positif (Nitisemito,1982:214). Adapun akibat

positif/menguntungkan dari adanya konflik adalah:

(13)

2. Meningkatkan prestasi.

3. Pendekatannya yang lebih baik.

4. Mengembangkan alternatif yang lebih baik

Selain akibat-akibat positif, konflik juga mengakibatkan dampak negatif.

Akibat-akibat yang negatif antara lain:

1. Menghambat adanya kerja sama

2. Subyektif dan emosionil

3. Apriori

4. Saling menjatuhkan

5. Frustasi

Gambar 2.1

Sebab dan akibat konflik

Sumber: Nitisemito (1982:219)

1. Koreksi diri sendiri 2. Meningkatkan

prestasi

3. Pendekatan lebih baik

4. Alternatif lebih baik

1.Perbedaan Pendapat

2. Salah paham 3. Merasa dirugikan 4. Terlalu sensitif

Konflik

1. Menghambat kerjasama 2. Subyektif dan

(14)

2.3.7 Cara Mengelola Konflik

Bila terjadi konflik, maka akan timbul upaya untuk penyelesaiannya. Ada

3 bentuk dan cara mengelola konflik (Mangkunegara,2005:26), sebagai berikut:

1. Mendorong konflik.

2. Mengurangi konflik.

3. Memutuskan konflik.

1. Mendorong konflik

Mendorong konflik dilakukan dengan cara:

a. Memasukkan seseorang dari luar.

b. Merubah arus.

c. Penyusunan kembali organisasi.

d. Mendorong persaingan.

e. Mencari manajer baru yang lebih cocok.

2. Mengurangi konflik

Mengurangi konflik dapat dilakukan dengan cara:

a. Mendinginkan temperatur perselisihan.

b. Menyatukan kelompok-kelompok yang berselisih dengan cara mencari

“kambing hitam” dan berusaha mengalahkan musuh bersama.

3. Memutuskan konflik

Ada 3 cara memutuskan konflik, yaitu:

a. Dominasi dan tekanan.

Dilakukan dengan jalan:

1) Menekan konflik, bukan menyelesaikan konflik dengan jalan memaksa

(15)

2) Menang-kalah yang kalah biasanya harus memberi jalan kepada yang

lebih berwenang, tidak puas dan akan selalu melawan.

b. Kompromi

Ada beberapa bentuk kompromi, yaitu:

1) Pemisahan

2) Perdamaian

3) Peraturan yang menentukan

4) Penyuapan/kompensasi

c. Pemecahan integral

Ada beberapa pemecahan integral:

1) Musyawarah mufakat (konsensus).

2) Konfrontasi.

3) Pencapaian tujuan yang lebih tinggi.

2.4 Gaji

2.4.1 Pengertian Gaji/Upah

Dalam banyak organisasi, tingkat upah karyawan dinilai sangat penting.

Faktor pendorong seorang tenaga kerja/karyawan mau melakukan suatu pekerjaan

adalah dengan tujuan untuk memperoleh bayaran atau sering disebut dengan gaji.

Menurut Sunarto (2004:41), gaji atau upah adalah harga sebagaimana

harga-harga yang lain yang menunjukkan nilai jasa di mata pembeli dan penjual,

pemberi kerja dan pemberi tenaga. Sedangkan pengertian upah menurut PP

0.8/1981 adalah suatu penerimaan sebagai imbalan dari pengusaha kepada

karyawan untuk suatu pekerjaan atau jasa yang telah atau akan dilakukan dan

(16)

atau peraturan perundang-undangan serta dibayarkan atas dasar suatu perjanjian

kerja antara pengusaha dengan karyawan itu sendiri maupun untuk keluarganya.

Tingkat gaji yang ditawarkan oleh suatu perusahaan memiliki pengaruh

yang sangat besar dalam menciptakan kepuasan kerja dan loyalitas karyawan

terhadap perusahaan. Menurut Armstrong & Murlis (1983:1), gaji merupakan

bayaran pokok yang diterima oleh seseorang, tidak termasuk unsur-unsur variabel

dan tunjangan lainnya.

Banyak gaji yang diberikan mempunyai pengaruh terhadap semangat dan

kegairahan kerja. Masalah besarnya gaji harus benar-benar diperhatikan, terutama

bagi para karyawan yang mempunyai fungsi penting atau karyawan yang

mempunyai tanggung jawab besar. Ketidaksesuaian gaji dengan pekerjaan dalam

suatu perusahaan dapat menciptakan ketidakpuasan karyawan sehingga akan

berpotensi pada tingkat keluar masuknya karyawan yang tinggi. Untuk itu, setiap

perusahaan seharusnya dapat memberikan gaji yang cukup kepada

karyawan/pegawainya. Pengertian cukup yang dimaksud adalah jumlah yang

mampu dibayarkan tanpa menimbulkan tuntutan dari para karyawan dan tidak

menimbulkan kerugian pada perusahaan.

Gaji bukanlah imbalan jasa dalam bentuk uang semata, tetapi dapat dalam

bentuk-bentuk lain seperti jatah beras, perawatan kesehatan, fasilitas, dan

sebagainya (Nitisemito,1982:171). Tingkat gaji individu pemegang jabatan akan

dipengaruhi oleh tiga faktor selain tingkat gaji pokok untuk jabatan itu sendiri

(Sunarto, 2004:42),yaitu:

1. Harga pasar.

(17)

3. Tingkat kinerja dalam jabatan terhadap keberhasilan organisasi secara

keseluruhan.

Besarnya pengaruh dari faktor-faktor ini tergantung pada jabatan dan

lingkungan internal organisasi. Sedangkan menurut (Ruky, 2001:42)

Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat patokan gaji (standar upah / gaji ) perusahaan

adalah sebagai berikut:

1. Ketetapan Pemerintah

Berpegang pada ketentuan pemerintah tentang UMR.

2. Tingkat Upah/Gaji di Pasaran

Mengacu pada besarnya upah/gaji yang di bayar oleh

perusahaan-perusahaan lain terutama yang beroperasi pada sektor yang sama.

3. Kemampuan Perusahaan

Yang menjadi acuan utama adalah kemampuan finansial perusahaan untuk

membayar.

4. Kualifikasi SDM yang Digunakan

Kualifikasi SDM yang digunakan sebuah perusahaan sangat ditentukan

terutama oleh tingkat teknologi yang digunakan olehnya dan segmen pasar

dimana perusahaan tersebut bersaing.

5. Kemauan Perusahaan

Dalam hal ini perusahaan tidak memperdulikan harga pasar ataupun

faktor-faktor lain, tetapi hanya berpegang pada apa yang menurut mereka wajar.

6. Tuntutan Pekerja

Tuntutan pekerja akan menentukan pula tingkatan imbalan yang dibayar

(18)

dipertemukan dalam meja perundingan dengan cara musyawarah atau

tawar-menawar.

2.4.2 Sistem Penggajian/Pengupahan

Setiap karyawan atau sumber daya manusia dalam sebuah perusahaan

memiliki tingkat gaji yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pihak perusahaan

melalui bagian personalia harus menetapkan sistem penggajian yang jelas. Sistem

penggajian adalah proses yang menentukan tingkat penggajian staff, memonitori,

mengembangkannya, dan mengendalikannya (Armstrong & Murlis,1983:1).

Menurut Sumarsono (2003:140), sistem pengupahan merupakan kerangka

bagaimana upah diatur dan ditetapkan sistem. Pengupahan di Indonesia pada

umumnya di dasarkan kepada 3 fungsi upah, yaitu:

1. Menjamin kehidupan yang layak bagi pekerja dan keluarganya.

2. Mencerminkan imbalan atas hasil kerja seseorang.

(19)

Proses sistem penggajian digambarkan oleh Armstrong & Murlis

(1983:3) seperti gambar berikut:

Gambar.2.2

Proses Sistem Penggajian

Penaksiran terus- menerus

Sumber: Armstrong & Murlis (1983:3).

Sistem Upah Untuk Mengurangi Kemangkiran dan Turnover

Pemberian upah yang dapat memuaskan pegawai akan membantu

organisasi menghasilkan, memelihara dan selalu mempekerjakan pegawai tetap

produktif. Tanpa upah yang memadai, ada kecenderungan para pegawai yang saat

ini sudah aktif bekerja akan ramai-ramai mangkir atau bahkan meninggalkan

tempat kerjanya dan berpindah ke tempat kerja baru. Pembayaran upah yang tidak

memuaskan boleh jadi akan menurunkan produktivitas organisasi dan

menunjukkan suatu penurunan di dalam kualitas semangat kerja.

Pengembangan kebijakan

1.Tingkat gaji 2.Kenaikan gaji 3.Balas jasa secara

menyeluruh 4.Komunikasi

Pelaksanaan 1.Biaya gaji 2.Struktur intern 3.Kecenderungan

diluar Prosedur

1.Anggaran gaji 2.Penggolongan

(20)

Di bawah ini merupakan gambar akibat yang ditimbulkan dari

pembayaran gaji yang tidak memuaskan karyawan.

Gambar 2.3

Akibat Pembayaran Gaji yang tidak Memuaskan

Sumber: Muliyono (1993:48).

2.4.3 Penerapan Upah Minimum

Upah pada dasarnya merupakan sumber utama penghasilan seseorang.

Sebab itu, upah harus cukup untuk memenuhi kebutuhan karyawan dan

keluarganya dengan wajar. Upah minimum merupakan upah yang ditetapkan

secara minimum regional, sektoral regional maupun sub sektoral (Sumarsono,

2003:141). Dari definisi diatas, maka dapat terlihat dua unsur upah minimum,

yaitu:

Absenteeism Poor mental

(21)

1. Upah permulaan adalah upah terendah yang harus diterima oleh pekerja

pada waktu pertama kali dia diterima bekerja.

2. Jumlah upah minimum haruslah dapat memenuhi kebutuhan hidup pekerja

secara minimal yaitu kebutuhan untuk sandang, pangan, kebutuhan rumah

tangga dan kebutuhan dasar lainnya.

2.4.4 Komponen Upah Minimum

Menurut Sumarsono (2003:141), ada 3 komponen yang dianggap

mempengaruhi besarnya upah minimum, yaitu:

1. Kebutuhan Fisik Minimum

Kebutuhan fisik minimum adalah kebutuhan pokok seseorang yang

diperlukan untuk mempertahankan kondisi fisik dan mentalnya agar dapat

menjalankan fungsinya sebagai salah satu faktor produksi.

2. Indeks Harga Konsumen

Indeks harga konsumen merupakan petunjuk mengenai naik turunnya harga

kebutuhan hidup.

3. Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Pertumbuhan ekonomi daerah mencerminkan keadaan perekonomian di

suatu daerah. Keadaan perekonomian ini akan mempengaruhi pertumbuhan

(22)

2.5 Turnover

Semua organisasi terdiri dari orang-orang, dan adalah tugas manajemen

untuk mengarahkan dan mengkoordinasi orang-orang tersebut. Pimpinan harus

harus memotivasi bawahan, mengarahkan kegiatan orang lain, memilih saluran

komunikasi yang paling efektif dan memecahkan konflik antar anggota organisasi.

Apabila hal diatas tersebut tidak terlaksana dengan baik, besar kemungkinan akan

mengakibatkan tingkat perputaran karyawan tinggi.

Perputaran karyawan (employee Turnover) adalah pengunduran diri

permanen secara sukarela maupun tidak sukarela dari suatu organisasi (Robbins,

2008:12). Menurut Harmita (Wahyu, 2012:27) Turnover intention pada dasarnya

adalah sama dengan keinginan berpindah karyawan dari satu tempat kerja ke

tempat kerja lainnya. Pendapat tersebut menunjukkan bahwa Turnover intention

adalah keinginan untuk berpindah, belum sampai pada tahap realisasi yaitu

melakukan perpindahan dari satu tempat kerja ke tempat kerja lainnya.

Harnoto (2002:2) menyatakan “Turnover intention adalah kadar atau

intensitas dari keinginan untuk keluar dari perusahaan, banyak alasan yang

menyebabkan timbulnya Turnover intention ini dan diantaranya adalah keinginan

untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.” Pendapat tersebut juga relatif

sama dengan pendapat yang telah diungkapkan sebelumnya, bahwa Turnover

intention pada dasarnya adalah keinginan untuk meninggalkan (keluar) dari

perusahaan.

Dalam arti luas, Turnover diartikan sebagai aliran para karyawan yang

masuk dan keluar perusahaan (Ronodipuro dan Husnan, 1995:34). Sedangkan

(23)

pergantian karyawan adalah berhentinya individu sebagai anggota suatu

organisasi dengan disertai pemberian imbalan keuangan oleh organisasi yang

bersangkutan.

Pergantian karyawan atau keluar masuknya karyawan dari organisasi

adalah suatu fenomena penting dalam kehidupan organisasi. Ada kalanya

pergantian karyawan memiliki dampak positif. Namun sebagian besar pergantian

karyawan membawa pengaruh yang kurang baik terhadap organisasi, baik dari

segi biaya maupun dari segi hilangnya waktu dan kesempatan untuk

memanfaatkan peluang. Angka Turnover karyawan yang tinggi dalam suatu

organisasi mengakibatkan bengkaknya biaya perekrutan, seleksi dan pelatihan

karyawan. Disamping itu, keluar masuknya karyawan sering berarti hilangnya

orang-orang yang keluarnya tidak diinginkan oleh organisasi tersebut. Hal ini

merupakan faktor pengganggu dengan merintangi keefektifan organisasi.

2.5.1 Indikasi Terjadinya Turnover intention

Menurut Harnoto (2002:2) Turnover intention ditandai oleh berbagai hal

yang menyangkut perilaku karyawan, antara lain absensi yang meningkat, mulai

malas kerja, naiknya keberanian untuk melanggar tata tertib kerja, keberanian

untuk menentang atau protes kepada atasan, maupun keseriusan untuk

menyelesaikan semua tanggung jawab karyawan yang sangat berbeda dari

biasanya. Indikasi-indikasi tersebut bisa digunakan sebagai acuan untuk

(24)

1. Absensi yang Meningkat

Karyawan yang berkeinginan melakukan pindah kerja biasanya ditandai

dengan absensi yang semakin meningkat . Tingkat tanggung jawab

karyawan dalam fase ini sangat kurang dibandingkan dengan sebelumya.

2. Mulai Malas Bekerja

Karyawan yang berkeinginan untuk melakukan pindah kerja akan lebih

malas bekerja karena orientasi karyawan ini adalah bekerja di tempat

lainnya yang dipandang lebih mampu memenuhi semua keinginan

karyawan bersangkutan.

3. Peningkatan terhadap Pelanggaran Tata Tertib Kerja

Berbagai pelanggaran terhadap tata tertib dalam lingkungan pekerjaan

sering dilakukan karyawan yang akan melakukan Turnover. Karyawan

lebih sering meninggalkan tempat kerja ketika jam-jam kerja berlangsung,

maupun berbagai bentuk pelanggaran lainnya.

4. Peningkatan Protes terhadap Atasan

Karyawan yang berkeinginan untuk melakukan pindah kerja lebih sering

melakukan protes terhadap kebijakan-kebijakan perusahaan kepada atasan.

Materi protes yang ditekankan biasanya berhubungan dengan balas jasa

atau aturan lain yang tidak sependapat dengan keinginan karyawan.

5. Perilaku Positif yang Sangat Berbeda dari Biasanya

Biasanya hal ini berlaku untuk karyawan yang karakteristik positif.

Karyawan ini mempunyai tanggung jawab yang tinggi terhadap tugas yang

(25)

berbeda dari biasanya justru menunjukkan karyawan ini akan melakukan

Turnover.

2.5.2 Dampak Turnover bagi Organisasi

Turnover ini merupakan petunjuk kestabilan karyawan. Semakin tinggi

Turnover, berarti semakin sering terjadi pergantian karyawan. Tentu hal ini akan

merugikan perusahaan. Sebab, apabila seorang karyawan meninggalkan

perusahaan akan membawa berbagai biaya seperti:

1. Biaya penarikan karyawan.

2. Biaya latihan.

3. Apa yang dikeluarkan buat karyawan lebih kecil dari yang dihasilkan

karyawan baru tersebut.

4. Tingkat kecelakaan para karyawan baru tersebut biasanya cenderung

tinggi.

5. Adanya produksi yang hilang selama masa pergantian karyawan.

6. Peralatan produksi yang tidak bisa digunakan sepenuhnya.

7. Banyak pemborosan karena adanya karyawan baru.

8. Perlu melakukan kerja lembur, kalau tidak akan mengalami penundaan

(26)

2.6 Penelitian Terdahulu

Penelitian ini memiliki referensi dari berbagai sumber yang telah

digabungkan untuk mendukung penyusunan penelitian,termasuk dari

penelitian-penelitian terdahulu. Adapun penelitian-penelitian terdahulu yang berkaitan dengan

penelitian ini adalah:

Tabel 2.3

Tabel Penelitian Terdahulu

No Peneliti Sumber Judul Penelitian Hasil

1 Agung

Dan Stres Kerja

Terhadap

Turnover Pada

Karyawan PT

UNITEX Di

Bogor

Kepuasan Kerja (X1)

Dan Stres Kerja (X2)

Memiliki Pengaruh

Positif Dan Signifikan

Terhadap Turnover

Intention Karyawan PT

UNITEX Di Bogor.

2 Agung

Kepuasan Gaji

Dan Komitmen

Organisasi

Terhadap

Intensi

Turnover Pada

Divisi PT

JAMSOSTEK

Secara Empiris Kepuasan

Gaji (X1) Dan Komitmen

Organisasi (X2)

Memiliki Pengaruh Yang

Signifikan Terhadap

Intensi Turnover Di

(27)

Universitas

Insecurity(X4), Konflik

Peran (X5),

Ketidakjelasan Peran

(X6), Locus Of Control

(X7), Perubahan

organisasional (X8) tidak

secara bersama-sama

berpengaruh positif

terhadap Turnover

intention.

(X2) berpengaruh positif

dan signifikan terhadap

(28)

2.7 Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual merupakan penjelasan ilmiah mengenai preposisi

antar konsep/antar konstruk atau pertautan/hubungan antar variabel penelitian.

Pertautan atau hubungan antar variabel penting dikemukakan sebagai landasan

untuk merumuskan hipotesis (Juliandi,2013:114). Menurut Nawawi (2001:40)

kerangka konsep merupakan hasil pemikiran rasional yang bersifat kritis dalam

memperkirakan kemungkinan hasil yang akan dicapai yang akan menuntun dalam

merumuskan hipotesa dalam penelitian. Agar konsep-konsep tersebut dapat

diteliti secara empiris, maka harus dioperasionalkan dengan mengubahnya

menjadi variabel. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

Gambar 2.4

Kerangka konseptual

Sumber: Diolah Oleh Peneliti (2015) Konflik (X2)

Stres Kerja (X1)

Gaji (X3)

Gambar

Tabel  2.1
Tabel 2.2
Gambar 2.1  Sebab dan akibat konflik
Gambar 2.3
+3

Referensi

Dokumen terkait

Teknik Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tes tertulis (tes uraian kemampuan penalaran matematis) dan angket skala sikap. Hasil pada penelitian ini yaitu

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, persepsi responden sebagai penyintas erupsi Merapi 2010 terhadap dukungan yang diterima dari keluarganya tergolong

Pada gambar 4.23 Form Master Cuti Pegawai digunakan untuk. memasukkan data-data pegawai yang ingin melakukan cuti dengan

Subayani (2013:17) banyak keunggulan dalam penggunaan media flash diantaranya adalah sebagai berikut (a) ukuran file kecil, mempunyai kemampuan membuat animasi

Perlakuan tersebut antara lain adalah dengan cara diberi sesaji dan dijamasi (disucikan dengan menggunakan air bunga dan disertai dengan pembacaan mantra dan pembakaran

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Indriana, dkk (2016) dalam judul F aktor-faktor yang B erhubungan dengan Perilaku Hidup B ersih dan S ehat

Penulis mencoba melihat faktor ekonomi politik yang disampaikan oleh Armando, yang dapat mempengaruhi penerimaan korban lumpur lapindo dalam pemberitaan majunya Ical menjadi

Sebagaimana t elah disampaikan dalam latar belakang, motivasi untuk melakukan penelitian ter batas tent ang tingkat/ kualitas liter asi pemilih di Kabupaten Sleman