• Tidak ada hasil yang ditemukan

Indetifikasi Daya saing dan Ketahanan Pa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Indetifikasi Daya saing dan Ketahanan Pa"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

IDENTIFIKASI KEADAAN KETAHANAN PANGAN DAN DAYA SAING HADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA) 2015 *)

BOYKE JANSEN GOSAL / 120314171 **) Sesuai dengan UU RI Nomor 18 Tahun 2012 tentang pangan, ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi Negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Dapat ditarik kesimpulan bahwa ketahanan pangan mempengaruhi produktivitas, dan produktivitas manusia berhubungan dengan asupan gizi yang diperoleh dari keragaman pangan sesuai dengan ketahanan pangan menurut UU RI Nomor 18 Tahun 2012 .

Pertama, produtivitas hanya dapat dicapai dengan asupan gizi, asupan gizi berasal dari pangan yang beragam, yang mana keragaman pangan terdiri dari bahan baku atau barang jadi yang tidak semuanya tidak dapat diproduksi suatu Negara atau memerlukan pengobanan yang besar (Sukirno, 2012). Berkaitanya dengan fungsi perdagangan yang dengan aktivitas jual-beli dengan Negara yang memiliki produk atau bahan baku untuk memproduksi yang tidak dimiliki. Jadi Pedagangan mempengaruhi Produktivitas.

Kedua, Menurut David Ricardo perdagangan berkaitan dengan perdagangan bebas (Sukirno, 2012). Beberapa Negara telah sukses menggunakan pasar dunia sebagai landasan mereka untuk pembangunan ekonomi, sementara Negara yang lain kemajuan ekonominya terhambat karena mengabaikan

(2)

dukungan perdagangan dan pengaruh dari luar negeri (Ratya dan Michael, 2008). Mendapatkan keuntungan dari meningkatnya keterbukaan perdagangan yang datang adalah langkah cerdas untuk dapat meningkatkan pendapatan negara dan memenuhi kebutuhan masyarakat (kaitan dengan jual beli). Yang dengan perdagangan terbuka akses barang masuk akan lebih mudah akan tetapi ada kekhawatiran produk luar akan membanjiri Negara menyebabkan produk domestik akan tersaingi dan terjadinya peningkatan daya saing. Untuk dapat mengusai pasar, diperlukan daya saing dari produk maupun jasa yang tinggi. Pada ujungnya, status gizi dan kesehatan individu-individu warga negara inilah yang akan menentukan mutu dan daya saing sumber daya manusia (SDM) suatu Negara, yang pada akhirnya akan menentukan daya saing bangsa (nation competitiveness). Penulis mengambil pengertian Ketahanan pangan berhubungan dengan Daya saing dalam menghadapi perdagangan bebas.

Para pimpinan ASEAN sepakat mengubah ASEAN menjadi kawasan yang stabil, makmur dan sangat kompetitif dengan perkembangan ekonomi yang adil, mengurangi kesenjangan dan kesenjangan sosial ekonomi lewat terbentuknya ASEAN Economic Community atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada akhir tahun 2015. Salah satu pilar utama MEA adalah aliran bebas barang ( free flow of goods) di mana pada tahun 2015 perdagangan barang di kawasan ASEAN dilakukan secara bebas tanpa mengalami hambatan, baik tarif maupun non –tarif (AEC blueprint, dalam Perdana, 2013).

(3)

maupun pemerintah untuk hadapi Ancaman dan Peluang. Maka dari itu perlunya indentifikasi keadaan dari Ketahanan Pangan dan Daya saing Indonesia hadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015

1. 2 Tujuan :

Mengetahui Isu Ketahanan Pangan Dan Isu Daya Saing Menghadapi MEA 2015?

1.3 Manfaat :

(4)

BAB 2. TEORI DAN KONSEP

2.1 Masyarakat Ekonomi ASEAS (MEA) 2015

Proses regionalisasi (dalam bidang ekonomi) kawasan ASEAN diawali dengan disepakatinya Preferential Trading Agreement (PTA) tahun 1977, dilanjutkan dengan ASEAN Free Trade Area (AFTA) tahun 1992, dan akan berakhir dengan terbentuknya ASEAN Economic Community atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun 2015. MEA ini merupakan realisasi dari integrasi ekonomi yang termuat dalam visi ASEAN 2020. Salah satu pilar utama MEA adalah aliran bebas barang ( free flow of goods) di mana pada tahun 2015 perdagangan barang di kawasan ASEAN dilakukan secara bebas tanpa mengalami hambatan, baik tarif maupun non tarif (Perdana, 2013- ). Dengan dihapuskanya hambatan perdagangan khususnya di kawasan negara-negara anggota ASEAN membuat akses keluar masuk barang lebih mudah, yang kita dapat pandang ini sebagai suatu ancaman dan kesempatan emas sekaligus adalah tantangan yang mana untuk meningkatkan kualitas, kuantitas, konektivitas antar provinsi dan kesadaran baik swasta maupun pemerintah.

MEA disusun oleh 4 (empat) pilar utama, yang terdiri dari:

1) Pasar tunggal dan basis produksi;

2) Pawasan ekonomi yang berdaya saing tinggi;

3) Kawasan dengan pertumbuhan ekonomi yang seimbang; dan

4) Kawasan yang sepenuhnya terintegrasi dengan ekonomi global.

(5)

1) Sektor prioritas integrasi ASEAN yaitu: (i) agro-based goods, (ii) air transport, (iii) automotive products, (iv) e-ASEAN (including ICT equipment), (v) electronics goods, (vi) fisheries, (vii) health care products, (viii) rubber-based goods, (ix) textiles and clothing, (x) tourism, (xi) wood-based products, (xii) logistics, dan kemudian ditambah dengan inisiatif baru 2011-2015 yang terdiri dari Tourism strategic plan, Automotive industry strategy, dan Telecommunication equipment MRA;

2) Pangan, pertanian dan kehutanan. (AEC Blueprint, 2008)

Sektor yang berada dalam sector integration priority akan mendapatkan berbagai fasilitas yang menguntungkan seperti, liberalisasi tariff, peningkatan tranparansi perdagangan, dan penyesuaian perturan asal barang (Rule of origins).

2. 2 IDENTIFIKASI Dan KEADAAN 2. 2. 1 IDENTIFIKASI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, identifikasi adalah tanda kenal diri; bukti diri; penentu atau penetapan identitas seseorang, benda, dsb. Menurut Poerwadarminto (1976:369) identifikasi adalah penentuan atau penetapan identitas seseorang atau benda. (Chaplin,Uttoro2008).

2. 2. 2 KEADAAN

Menurut Kmus Besar Bahasa Indonesia, Keadaan adalah sifat; perihal atau suasana atau situasi yg sedang berlaku.

2. 3 KETAHANAN PANGAN

(6)

Konsep dan Subsistem Ketahanan Pangan

- Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan dan/atau pembuatan makanan atau minuman. - Ketersediaan pangan adalah tersedianya pangan dari hasil produksi dalam

negeri dan atau dari sumber lain.

- Cadangan pangan nasional adalah persediaan pangan di seluruh wilayah untuk konsumsi manusia, bahan baku industri, dan untuk menghadapi keadaan darurat.

- Masalah pangan adalah keadaan berlebihan pangan, kekurangan pangan, dan/atau ketidakmampuan rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan pangan.

2. 4 DAYA SAING

Daya Saing terdiri dari dua kata daya dan saing, menurut KBBI daya adalah kemampuan melakukan sesuatu atau kemampuan bertindak atau kekuatan;tenaga atau muslihat. Saing adalah kemampuan makhluk hidup atau benda untuk dapat tumbuh (berkembang) secara normal di antara makhluk hidup dan benda lainnya sbg pesaing dl satu habitat (dl satu bidang usaha dsb). Yang mana jika digabungkan, Daya saing adalah kemampuan makhluk hidup atau benda untuk dapat tumbuh (berkembang) secara normal di antara makhluk hidup atau benda lainnya sebagai pesaing dl satu habitat (dl satu bidang usaha dsb)

(7)

Negara agraris adalah Negara yang sensitf, kaitannya dengan kelebihannya dalam Ketahanan Pangan dan Daya saing produk Pertanian/Agro-based product. Tapi kenyataannya Indonesia sebagai Negara agraris terdepan di ASEAN, memiliki isu mengenai Ketahanan Pangan dan Daya Saing itu sendiri, dan dengan menghadapi ancaman dan peluang Pasar tunggal ASEAN akhir tahun ini, menjadi tugas pemerintah untuk berupaya menyelesaikan isu tersebut yang mana akan di jelaskan melalui bagian-bagian.

3. 1 KETAHANAN PANGAN

Tercermin dalam ketahanan pangan, menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 68 TAHUN 2002 tentang Ketahanan Pangan pasal 2 ayat 2 mengenai factor-faktor penting dalam menjaga ketersediaan pangan adalah Lahan, Teknologi, Infrastruktur, dan Impor tetapi yang akan dibahas adalah factor yang menjadi Isu dan perlu mendapatkan perhatian pemerintah hadapi MEA 2015 antara lain, Lahan, dan Teknologi.

3. 1. 1 LAHAN

Kebijakan perluasan lahan pertanian merupakan suatu keharusan jika ingin swasembada pangan. Dengan menambah lahan tanam pertanian akan meningkatkan produksi pangan yang mana akan mencapai ketahanan pangan yang berkelanjutan .

Indonesia merupakan Negara dengan area tanah yang paling besar dari semua anggota ASEAN/ Kawasan Asia Tenggara yang dibarengi dengan luas Area pertanian yang terluas, yang membuat Pertanian adalah Sektor paling potensial. Tapi Menurut data dari Food and Agriculture Organization melalui FAO Statitical Year Book 2014 diperoleh bahwa lahan tanam kita jauh jumlahnya dibandingkan dengan Negara anggota ASEAN lainya,

(8)

Kawasan

Sumber : FAO statistical year book, 2014

(9)

memanfaatkan/mengolah kelebihan sumberdaya alam yang ada dan yang didukung dengan data FAO tahun 2009-2012 menngenai perhatian pemerintah, menunjukan persentase pengeluaran/anggaran pemerintah yang di posisi ke Lima setelah Myanmar, philipina, Malaysia dan Vietnam untuk sektor pertanian yang ditunjukan pada table 3 dan diagram, perlunya perhatian pemerintah dalam anggaran dan menambah lahan pertanina agar dapat memperkuat ketahanan pangan Indonesia.

(10)

3. 1. 2 TEKNOLOGI

Mengenai Teknologi yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 68 TAHUN 2002 tentang Ketahanan Pangan, yang dimaksud dengan ” pengembangan teknologi pertanian” adalah aktivitas menggunakan proses dan teknologi pertanian untuk menghasilkan nilai tambah produk pertanian yang lebih baik. Dapat disimpulkan bahwa Teknologi dan bertujuan untuk meningkatkan Kualitas Produktivitas dan kualitas, barengi dengan Penelitian dan yang mana ini sangat penting hadapi MEA 2015.

1. Traktor

(11)

Masalah lainnya, kualitas traktor yang tak sesuai, dikarenaka kurangya pengetahuan pemerintah dalam realisasi bantuan mengenai kesesuaian pengetahuan Informasi traktor, didasari pada

Hasil Survei Pemanfaatan Traktor Roda 4 dari Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian Tahun 2013 sebagai berikut :

(12)

- Kelompok tani melakukan modifikasi pada alat traktor dengan mengganti mesin

- Ketebalan plat bodi terlalu tipis menyebabkan Pata/Rusak - Belum seluruh Traktor dimanfaatkan

- Dilakukan modifikasi untuk digunakan pada tanaman tebu

- Dll

Dengan hasil suvei ini saya menyimpulkan perlu adanya peningkatan kualitas realisasi bantuan traktor untuk meningkatkan kualitas efektivitas bantuan.

2. Penelitian Pertanian

Tabel : Pengeluaran untuk Penelitian Dan Pengembangan Pertanian

Sesuai dengan bertujuan untuk peningkatan kulitas SDM yang Sehat, aktif dan Produktif.

Dapat diperoleh

informasi pada table di atas, bahwa Indonesia menempati urutan pertama dari semua anggota kawasan ASEAN untuk pengeluaran Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Yang mana penulis mengambil kesimpulan bahwa Indonesia serius dalam Peningkatan mutu Pertanian .

(13)

Ilmu genetika ini menerapkan teknik perbaikan sifat spesies melalui level DNA dengan cara memasukkan gen eksogenus untuk memperoleh sifat-sifat bermanfaat yang tak terdapat pada spesies tersebut. Dengan adanya bioteknologi, tanaman pangan bisa dikembangkan di tempat yang sangat kering, rawa, maupun daerah pasang surut, Indonesia masih memiliki lahan semacam itu yang belum dimanfaatkan. Jika tanaman pangan hasil biotek bisa ditanam di lahan semacam itu, maka produksi pangan akan meningkat. Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Prof Dr Bambang Prasetya Jumat, 28 November 2008 menyatakan produk bioteknologi memang telah berhasil menyelesaikan berbagai permasalahan pangan di negara-negara maju. Namun, di Indonesia pengembangan teknologi ini masih terhambat karena tingkat pemahaman masyarakat maupun pengambil keputusan masih relatif rendah.

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BB Biogen) merupakan Unit Pelaksana Teknis di bawah Badan Litbang Pertanian yang berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 33/Permentan/OT.140/03/2013, melaksanakan kegiatan dengan sasaran kegiatan BB Biogen untuk tahun 2010-2012 adalah peningkatan inovasi dan adopsi hasil bioteknologi dan pemanfaatan sumberdaya genetik (SDG) pertanian untuk mendukung ketahanan pangan dan peningkatan daya saing produk pertanian, dengan nilai rata-rata capaian kegiatan 166,47%, tingkat kinerja BB Biogen T.A. 2013 dikategorikan sangat berhasil Pagu DIPA BB Biogen Tahun anggaran 2013 sebesar Rp 72.715.799.000,00 yang terdiri dari dana APBN murni Rp. 70.962.587.000,00 dan hibah Rp. 1.753.212.000,00. Laju realisasi bulanan anggaran BB Biogen sekitar 8,68% dengan realisasi tertinggi pada bulan Oktober hingga Desember (15-25%) terkait realisasi pengadaan bahan penelitian, sehingga serapan anggaran diakhir tahun mencapai 97,84%, meski banyak kendala dan masalah menghambat pelaksanaan kegiatan, baik dari segi teknikal dan manajemen, capaian kegiatan BB Biogen T.A. 2013 melebihi target yang ditetapkan. (Mulya, 2013).

(14)

peningkatan produktivitas dan kualitas pangan yang akan membantu menyelesaikan Swasembada pangan/Ketahanan Pangan di Indonesia

3. 1 DAYA SAING

Isu yang muncul hadapi Masyrakat Ekonomi ASEAN 2015 di sektor pertanian khusus pangan yang mana kekawatiran dari petani, pengumpul dan usaha domestic tentang ketidak adilan persaingan yang mana di sebabkan harga dan kualitas produk impor yang tinggi dapat menghancurkan usaha.

(15)

3. 1 Nilai Tambah

Salah satu factor produk pertanian kita tidak berdaya saing yaitu dikarenakan tak memiliki Nilai tambah (Sa’id, 2007). Ketersediaan berbagai sumber daya hayati yang banyak tidak menjamin kondisi ekonomi masyarakat akan lebih baik, kecuali bilamana keunggulan tersebut dapat dikelola secara profesional, berkelanjutan dan amanah, sehingga keunggulan komparatif (comparative advantage) akan dapat diubah menjadi keunggulan kompetitif (competitive adventage) yang menghasilkan nilai tambah (value added) yang lebih besar dan meningkatkan mutu (Sa’id, 2007). Peningkatan daya tambah produk dapat dicapai dengan proses pengolah industry yang mana mengolah barang mentah, setengah jadi, atau jadi dan menambah Elemen mutu dan harga. Mutu produk yang tinggi akan mengakibatkan harga produk menjadi tinggi dan lebih mampu bersaing di pasar global. Realisasi Nilai tambah produk merupakan fungsi dari Agroindustri, yang mengolah barang setengah jadi/barang jadi menjadi barang dengan kelebihan market dalam hal meningkatkan kualitas produk berupa rasa dan kemasan, memperkuat permodalan, memperluas pasar melalui promosi, dan melakukan efisiensi produksi (Wijayanti, 2006)

Dengan memberikan nilai tambah dalam produk setengan jadi/jadi dapat meningkatkan harga dan mutu yang mana akan mempengaruhi daya saing produk, ketika daya saing produk meningkat akan juga meningkatkan penjualan yang akan meningkatkan PDB Indonesia dalam Industri Makanan dan minuman. Menurut table kontribusi PDB, kontribusi Industri makanan, minuman, dan tembakau lebih tinggi dari Tanaman bahan makan yang belum melewati proses pengolahan. Dapat ditarik kesimpulan produk olahan berkontribusi lebih besar dari produk yang tak melewati proses pengolahan pada PDB.

No Uraian 2010 2011 2013

I Sektor pertanian (Secara sempit/Kementan) 11,44 10,96 10,68

Pertanian Tanaman Bahan Makanan 7,48 7,14 6,97

Pertanian Tanaman Pekebunan 2,11 2,07 1,94

Perternakan dan Hasilnya 1,85 1,75 1,77

II Sekto Industri Pengolahan Non Migas 7,25 7,39 7,58

Ind. Makanan, minuman & tembakau 6,94 7,11 7,30

(16)

III Sektor perdagangan Besar dan eceran 4,28 4,27 4,34

PDB Menurut Cakupan Kementan 22,98 22,61 22,60

PDB Indonesia 100,0 100,0 100,0

Pengembangan agroindustri masih menghadapi sejumlah kendala, antara lain: (1) rendahnya jaminan ketersediaan dan mutu bahan baku; (2) mutu produk agroindustri belum mampu memenuhi persyaratan yang diminta pasar, khususnya pasar internasional; (3) sumber daya manusia belum profesional; (4) sarana dan prasarana belum memadai; (5) teknologi pengolahan belum berkembang; (6) sumber pendanaan masih kecil; (7) pemasaran belum berkembang; dan (8) belum ada kebijakan riil yang mampu mendorong berkembangnya agroindustri di dalam negeri. (Warta Penelitian, 2008)

3. 2 Standarisasi

Isu terpenting dalam daya saing, yang dapat membantu pemerintah mengontrol barang masuk ialah Stadarisasi Mutu, yang mana produk luar harus memenuhi standar Mutu Indonesia agar dapar masuk dan sesuai dengan salah satu pilar MEA dalam mewujukan aliran barang yang aman dan berkualitas yang meningkatkan kualitas hidup secara bebas di kawasan ASEAN. Dan sesuai dengan peryataan Deputi Bidang Penelitian dan Kerjasama Standardisasi BSN, Kukuh S. Achmad pada PPIS 13 November 2014, bahwa tujuan standardisasi dan penilaian kesesuaian diantaranya adalah meningkatkan jaminan mutu, efisiensi produksi, daya saing nasional, persaingan usaha yang sehat dan transparan dalam perdagangan, kepastian usaha, dan kemampuan Pelaku Usaha, serta kemampuan inovasi teknologi; meningkatkan perlindungan kepada konsumen, Pelaku Usaha, tenaga kerja, dan masyarakat lainnya, serta negara, baik dari aspek keselamatan, keamanan, kesehatan, maupun pelestarian fungsi lingkungan hidup; meningkatkan kepastian, kelancaran, dan efisiensi transaksi perdagangan Barang dan/atau Jasa di dalam negeri dan luar negeri. Dapat dipeoleh Informasi Standarisasi mutu dipelukan untuk meningkatkan daya saing.

(17)

pemenuhan ukuran, toleransi, penampilan, pengemasan, pelabelan, rekomendasi dan higienis.

Contoh Semangka :

- Persyaratan kematangan adalah padatan terlarut total daging buah min.8Brix. Semangka digolongkan dalam 3 kelas mutu, kelas super, kelas A dan kelas B dengan ketentuan kualitas yang diatur dalam standar.

- Kode ukuran semangka ditentukan berdasarkan bobot perbuah, minimum 500 gr. Untuk kode ukuran 1, 2, 3, 4, 5 dan 6, berturut-turut harus mempunyai bobot >6.000 gr, 4.501-6.000 gr, 3.501-4.500 gr, 2.501-3.500 gr, 1.501-2.500 gr dan 500-1.500 gr.

- Semangka harus memenuhi syarat cemaran logam berat sesuai ketentuan, dan residu pestisida sesuai SNI 7313:2008. Syarat higienis dianjurkan sesuai CAC/RCP 1-1969, Rev.4-2003, CAC/RCP 53-2003 dan memenuhi syarat mikrobiologi sesuai CAC/GL 21-1997. Pengambilan contoh uji organoleptik dan uji cemaran logam berat, sesuai CAC/GL 50-2004, dan uji residu pestisida sesuai pedoman pengujian residu pestisida dalam hasil pertanian. Sedangkan metode pengujian harus dilakukan sesuai ketentuan.

(18)

BAB 4. PENUTUP

Berdasarkan pembahasan, menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN diakhir tahun 2015, Indonesia akan menghadapi Peluang dan ancaman sekaligus tantanga yang berkaitan dengan Ketahanan Pangan dan Daya Saing yang dapat diambil kesimpulan.

Ketahanan pangan Indonesia yang dinilai, Pertama Lahan, Dengan memiliki area tanah terlua Di ASEAN, Indonesia tidak ammapu memaksimalkan petensi dalam pertanian yang terbukti dari luas are lahan tanam yang dibawah dengan Vietnam, Thailand, Philippines, dan Myanmar. Dan tidak maksimalnya pemerintah dalam bidang pertanian adalah dengan pengeluaran pemerintah berdasarkan data Statistik FAO 2014. Kedua Teknologi, hasil dari data traktor, Pengeluaran penelitian pertanian, dan bioteknologi Indonesia. disimpulkan serius dalam peningkatan produktivitas dan kualitas pangan berdasakan data yang berada diatas Negara ASEAN lainnya Dan suksesnya prakteklapangan, akan tetapi kualitas realisasi yang perlu di tingkatkan guna meningkatkan efisiensi bantuan atau pelaksanaan.

(19)

DAFTAR PUSTAKA

Billah Tassim, 2013, Analisis PDB Sektor Pertanian, Pusat Informasi pertanian

Sekertariat Jendral Kementrian Pertanian 2013

Brodjonegoro Bambang P. S, 2015, Budget In Brief apbn-p 2015, Direktorat

Jendral Anggaran

Badan Standarisasi Nasional, 2013, Draft Strategi Standarisasi Nasional

2015-2025, Badan Standarisasi Nasional

Badan Standarisasi Nasional, 2013, Adopsi Standar Internasinal dari Publikasi

Internasional, Pedoman Standarisasi Nasional

Cakrabawa Dewa Ngakan, 2015, Buletin Triwulan Ekspor Impor Komoditas

Pertanian Republik Indonesia, Kementrian Pertanian

Dirjen Pengolahan Dan Pemasaran Hasil Pertanian, 2014, “Market Intelligence”

Situasi Komoditi Pertanian Wilayah ASEAN, Dirjen Pengolahan Dan Pemasaran Hasil Pertanian

Dirjen Pengolahan Dan Pemasaran Hasil Pertanian, 2014, Statistik Ekspor Impor

Komoditas Pertanian 2001-2013, Dirjen Pengolahan Dan Pemasaran Hasil Pertanian,

Hariyadi Purwiyanto, 2009, Pengembangan Industri Pangan Sebagai Diversifikasi

dan Peningkatan Daya Saing Produk Pangan

Kementrian Keuangan RI, 2012, Laporan Kajian Nilai Tambah Produk, Badan

Fiskal Pusat Kebijakan Ekonomi

Menteri Pertanian, 2002, Peraturan Nomor:68 Tahun 2002 Tentang Ketahanan

Pangan, Menteri Pertanian

Menteri Pertanian, 2006, Peraturan Nomor:61/Permentan/oi.160/11/2006 tentang

(20)

Menteri Pertanian, 2010, Peraturan Nomor:18/Pementan/otp.170/2/2010 Tentang

Blueprint Peningkatan Niliai Tambah dan Daya Saing Produk Pertanian

Dengan Pemberian Insentif bagi Tumbuhnya Industri Perdesaan, Menteri

Pertanian

Sa’id Gumbira, 2007, Review Kajian,Penelitian Dan Pengembangan AgroIndustri

Strategis Nasional: Kelapa Sawit, Kakao, dan Gambir, Institut Pertanian

Bogor, 1

Gambar

Tabel 2 : Data Tahun 2011
Tabel 3: Persentase Pengeluaran Pemerintah pada Pertanian berdasarkan total
Tabel 4 : Total Penggunaan Trator ASIA
Tabel : Pengeluaran untuk Penelitian Dan Pengembangan Pertanian

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif komparatif yaitu dengan membandingkan kinerja keuangan dua perusahaan.dimana analisis data yang digunakan adalah time

 Nyeri pada malam hari di daerah sendi Nyeri pada malam hari di daerah sendi  Terjadi inflamasi pada bagian sendi (ibu Terjadi inflamasi pada bagian sendi (ibu. jari kaki

Kedua, metode investigasi kelompok lebih efektif diterapkan dengan model pembelajaran Project Based Learning di SMP Negeri 3 Sukoharjo dibandingkan dengan

Gambar 4.1 menunjukkan bahwa pola Garis Kemiskinan menunjukkan pola data adalah trend linier, sehingga metode yang baik dan tepat untuk digunakan adalah metode

#Tiga Ratus Lima Puluh Dua Ribu Dua Ratus Empat Belas Rupiah# Pembayaran Retensi untuk Pemasangan Rolling Door Electric. Jakarta, 16

Dalam hal ini, yang perlu dilakukan oleh Indonesia adalah bagaimana Indonesia sebagai bagian dari komunitas ASEAN berusaha untuk mem- persiapkan kualitas diri dan memanfaatkan

PENGEMBANGAN COURSEWARE MULTIMED IA INTERAKTIF D ENGAN TAHAPAN PEMBELAJARAN 5M PAD A MATERI PENGGOLONGAN D AN TATA NAMA SENYAWA HID ROKARBON.. Universitas Pendidikan Indonesia

Salah satu kompresi citra digital yang bersifat lossless ini adalah Portable Network Graphic (PNG). Hal ini menunjukkan bahwa format PNG sangat tepat digunakan