• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PENGARUH PENERAPAN PMDN PERMODA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS PENGARUH PENERAPAN PMDN PERMODA"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PENGARUH PENERAPAN PMDN (PERMODALAN DALAM NEGERI)

DAN PEMBERDAYAAN UKM (USAHA KECIL MENENGAH)

UNTUK MENINGKATKAN PEREKONOMIAN INDONESIA YANG BERKUALITAS

Oleh :

(2)

1. Judul Penelitian

Analisis Pengaruh Penerapan PMDN (Permodalan Dalam Negeri) dan Pemberdayaan

UKM (Usaha Kecil dan Menengah) untuk Meningkatkan Perekonomian Indonesia yang

Berkualitas

2. Latar Belakang

Teori tradisional selalu mengidentikan upaya pembangunan Negara berkembang

dengan upaya meningkatkan pendapatan per kapita atau disebut strategi pertumbuhan

ekonomi. Banyak yang beranggapan bahwa cara membedakan Negara maju dengan Negara

berkembang adalah dengan melihat pendapatan rakyatnya. Ditingkatkanya pendapatan

perkapita, diharapkan masalah seperti pengangguran, kemiskinan dan ketimpangan distribusi

pendapatan dapat terpecahkan. Indikator berhasil tidaknya pembangunan dapat dilihat dari

meningkatnya pendapatan nasional perkapita riil (GNP). Artinya, tingkat pertumbuhan

pendapatan nasional dalam harga konstan harus lebih tinggi dibanding tingkat pertumbuhan

penduduk.

Pembangunan ekonomi dianggap sebagai theory of economic growth. Ini

mencerminkan munculnya teori pertumbuhan ekonomi sebagai tujuan utama di setiap

kebijakan ekonomi di Negara manapun. Banyak pandangan yang sependapat bahwa kunci

dari pembangunan adalah pembentukan modal. Oleh karena itu, strategi yang dianggap

paling tepat adalah dengan melakukan industrialisasi dan mengundang modal asing atau

investasi asing.

Investasi luar negeri pada praktiknya banyak dikritik karena terlalu menitikberatkan

pada pertumbuhan sektor modern yang pada akhirnya justru memperlebar kesenjangan

hidup. Investasi asing yang diharapkan akan menghilangkan hambatan pada akhirnya justru

menimbulkan kesenjangan antara tabungan dan devisa, serta menyebabkan kesenjangan

antara desa dan kota (Todaro, 2000:191)

Tahun 1960, ketika data makro dibandingkan secara internasional, para ahli

menemukan bahwa perbedaan dalam pembentukan modal dan faktor input tidak banyak

menjelaskan mengapa timbul perbedaan dalam pertumbuhan ekonomi. Ternyata baru

(3)

Sejak beberapa tahun yang lalu, Indonesia mengalami krisis ekonomi berkepanjangan.

Tidak ada yang tahu kapan krisis akan berakhir dan seberapa besar magnitude dan ongkos

krisis yang akan dihadapi. Tetapi dapat dipastikan bahwa salah satu akar penyebab krisis ini

terkait dengan sandaran utama proses pertumbuhan dan pembangunan ekonomi yang tidak

demokratis. Saat ini banyak proses ekonomi yang digantungkan kepada bisnis besar

(konglomerat) yang pangsa omzet dan asetnya terhadap kekayaan nasional (PDB)

masing-masing mencapai sekitar 62% dan 76% pada saat sebelum krisis 1997 (Didin S. Damanhuri :

2000). Akibatnya, ekonomi rakyat baik yang telah masuk ke dalam kelompok produktif

yakni Usaha Kecil san Menengah (UKM), maupun yang relatif masih subsisten, yakni sector

informal di perkotaan dan pedesaan yang jummlah dan persentasenya sangat dominan yakni

sebesar 70% dari angkatan kerja atau sekitar 70juta orang, semakin terpuruk.

Krisis ekonomi tersebut mengahruskan kalangan konglomerat menanggung utang

dalam dollar yang berjumlah paling kurang sebesar US $65 milyar. Jika dikalikan dengan

kurs sekitar Rp 9000, berarti utang mereka menjadi Rp 600 triliyun atau sekitar 80% PDB.

Terlebih, mengingat komposisi utang konglomerat tersebut lebih dari 50$ (US $ 35 milyar)

tidak dilakukan mekanisme perlindungan resiko (hedging). Oleh karena itu, pihak

konglomerat lah yang menjadi penyebab utama terpuruknya rupiah sehingga pernah

mencapai di atas Rp 15.000 pada awal tahun 1998. Dengan jatuh temponya utang mereka,

mengharuskan mereka memburu dollar setiap akhir tahun. Saat mereka ingin melakukan

pelunasan utang, hal tersebut memicu para speculator asing dan domestik baik secara

ekonomi maupun politik. Dengan demikian, secara nasional bangsa Indonesia terus menerus

berada dalam ketidakpastian, akibat gejolak kurs dollar, sepanjang masalah utang dan

pemulihan ekonomi keseluruhan belum dapat dicapai.

Rentetan ketidakpastian tersebut berdampak pada terjadinya PHK besar-besaran, maka

pengangguran terbuka dan tersembunyi berjumlah sekitar 38juta orang. Pada tahun

1997-1998 inflasi pernah mencapai 77% dan total utang luar negeri (swasta dan pemerintah) lebih

dari US $150 milyar berarti lebih dari Rp 1.350 triliyun atau sekitar 135% PDB. Berikut

(4)

1.1 Tabel Jumlah Hutang dan Rasio terhadap PDB

Tahun Jumlah Hutang Rasio terhadap

PDB

2000 Rp 1.234,28 triliun 89%

2001 Rp 1.273,18 triliun 77%

2002 Rp 1.225,15 triliun 67%

2003 Rp 1.232,5 triliun 61%

2004 Rp 1.299,5 triliun 57%

2005 Rp 1.313,5 triliun 47%

2006 Rp 1.302,16 triliun 39%

2007 Rp 1.389,41 triliun 35%

2008 Rp 1.636,74 triliun 33%

2009 Rp 1.590,66 triliun 28%

2010 Rp 1.676,15 triliun 26%

2011 Rp 1.803,49 triliun 25%

2012 Rp 1.975,42 triliun 27,3%

Maret 2013 Rp 1.991,22 triliun 24,1%

Sumber : data Ditjen Pengelolaan Utang Kemenkeu yang dikutip detikFinance 2013

Menyadari krisis ekonomi yang berkepanjangan yang hingga saat ini belum

spenuhnya pulih, seharusnya proses pembangunan ekonomi berpihak ke perekonomian

kerakyatan yang demokratis. Artinya proses pembangunan seyogyanya semakin bertumpu

pada rakyat banyak (people centered development) dilakukan oleh rakyat dengan permodal

yang di bangun rakyat sendiri yang hasilnya akan kembali untuk rakyat. Oleh karena itu,

peneliti bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan PMDN dan pemberdayaan UKM

untuk mewujudkan perekonomian Indonesia yang berkualitas.

3. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan latar belakang yang telah disampaikan tersebut maka tujuan dari

penelitian ini adalah:

a. Menganalisis pengaruh PMDN terhadap Usaha Kecil dan Menengah.

b. Menganalisis pengaruh PMDN terhadap pengetahuan pemasaran terhadap kapabilitas

pemasaran.

c. Menganalisis pengaruh orientasi kewirausahaan terhadap kinerja pemasaran.

(5)

4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk pembaca, baik sebagi praktisi,

akademisi, ataupun pemerhati pemasaran dengan uraian sebagai berikut:

a. Secara teoritis, penelitian ini berfunsi sebagai informasi dan khasanah ilmu pengetahuan

khususnya mengenai perkembangan PMDN dan UKM di Indonesia.

b. Secara Praktis, sebagai bahan informasi dan panduan bagi pemerintah, dunia usaha,

maupum masyarakat mengenai PMDN dan UKM di Indonesia serta pengaruhnya

terhadap perkembangan perekonomian Indonesia yang berkualitas. Serta sebagai

masukan bagi pemerintah dan pihak terkait lainnya sebagai pengambil keputusan untuk

dapat membuat kebijakan yang tepat dalam perekonomian.

5. Tinjauan Pustaka

a. Konsep Dasar

1) Konsep Perekonomian berbasis Kerakyatan

2) Penanaman Modal Dalam Negeri

3) Konsep Usaha Kecil dan Menengah

4) Indikator Pembangunan Ekonomi

a) Indikator Sosial dan Lingkungan

b) Indeks Mutu Hidup

b. Telaah Hubungan Kausalitas antar Variabel

1) PMDN dan UKM

2) PMDN dan UKM terhadap Indikator Makro

3) PMDN dan UKM terhadap Indikator Mikro

c. Pengembangan Model

1) Definisi Operasional Variabel dan Hipotesis

2) Definisi Operasional Variabel

(6)

6. Metode Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan analisis Path sebagai metode analisis

penelitian kuantitatif. Langkah –langkah dalam analisis Path adalah sebagai berikut.

a. Merancang Model

1) Variabel PMDN dan UKM berpengaruh terhadap indikator Sosial dan Ligkungan 2) Variabel Indeks Mutu Hidup di pengaruhi oleh indikator sosial lingkungan, PMDN

dan UKM

Berdasarkan hubung-hubungan antar variabel secara teoritis tersebut, dapat dibuat model dalam bentuk diagram path sebagai berikut.

Model tersebut juga dapat dinyatakan dalam bentuk persamaan, sehingga membentuk sistem persamaan. Sistem persamaan ini ada yang menamakan sistem persamaan simultan, atau juga ada yang menyebut model struktural.

(1)Indicator social lingkungan = 0+ 1PMDN + 2UKM + 1

(2)Indeks Mutu hidup = 0+ 1PMDN + 2UKM + 3Indikator Sosial Lingkungan

+ 2

b. Langkah kedua dari analisis path adalah pemeriksaan terhadap asumsi yang melandasi. c. Langkah ketiga di dalam analisis path adalah pendugaan parameter atau perhitungan

koefisien path.

d. Langkah keempat di dalam analisis path adalah pemeriksaan validitas model. Sahih tidaknya suatu hasil analisis tergantung dari terpenuhi atau tidaknya asumsi yang melandasinya. Telah disebutkan bahwa dianggap semua asumsi terpenuhi. Terdapat dua indikator validitas model di dalam analisis path, yaitu koefisien determinasi total dan theory triming.

e. Langkah terakhir di dalam analisis path adalah melakukan interpretasi hasil analisis. P

UK

In

(7)

Referensi

Dokumen terkait

Jadi secara sekilas sebetulnya mudah bagi pihak yang berwenang (Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota dan Komite Akreditasi Rumah Sakit/KARS)

Berdasarkan hal tersebut penelitian mengenai inventarisasi tumbuhan Rhododendron pada hutan pegunungan di Taman Nasional Lore Lindu Sulawesi Tengah ini perlu dilakukan

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “Apakah hasil belajar model pembelajaran Problem

Hasil analisis dalam penelitian ini berdasarkan debit, lebar, dan tinggi air dari dasar sampai ke muka air dengan kriteria periode ulang tertentu dan memberikan hasil

Tidak mustahil untuk disimpulkan bahwa tahun 2008 ini adalah titik balik ekonomi pangan karena pola eskalasi harga pangan telah menciptakan keseimbangan baru perdagangan dunia.

Nova Kusmayuda (2013) dalam penelitian yang berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran SAVI Berorientasi Keterampilan Proses Sains Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V SD

Pada data penelitian yang telah diperoleh dari hasil penyebaran kuesioner bahwa kecurangan ini memiliki nilai rata-rata sebesar 1,16, atau berada pada kategori

menggunakan Fuzzy Logic Controller, masukan yang berupa error tegangan dan delta error tegangan akan diproses guna mendapatkan nilai duty cycle sinyal PWM (Pulse