DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...i
KATA PENGANTAR...ii
DAFTAR ISI...1
STEP 1...2
STEP 2...2
STEP 3...3
STEP 4...7
STEP 5...7
STEP 6...7
STEP 7...8
KESIMPULAN...31
STEP 1
1. Restorasi plastis komposit:
Teknik preparasi dan restorasi dengan bahan tumpatan komposit yang dikerjakan 1 kali kunjungan tidak memakai fasilitas laboratorium. Bahan dapat dibentuk di dalam kavitas dapat setting di dalam kavitasnya. Biasanya untuk gigi anterior karena translusensinya hampir sama dengan gigi asli.
2. Karies media kelas III Black:
Karies yang mencapai dentin, karies pada proksimal gigi anterior tanpa melibatkan insisal.
3. Vitalitester:
Untuk melihat apakah gigi masih vital atau tidak dengan aliran listrik dan diletakkan pada servikal gigi, sebelumnya diberi pasta untuk melihat reaksi pulpa.
STEP 2
1. Apa saja macam-macam restorasi resin komposit?
2. Apa indikasi dan kontraindikasi restorasi plastis komposit? 3. Apa kelebihan dan kekurangan restorasi plastis komposit? 4. Bagaimana tahapan preparasi, restorasi, dan polishing?
5. Apa saja yang mempengaruhi keberhasilan pada restorasi komposit?
1. Apa saja macam-macam restorasi resin komposit?
4. Hibrid (blended) 0,04 dan 1-5 77-80
b. Berdasarkan bahan pengisinya:
Komposit Konvensional
Bahan pengisinya bubuk quartz. Permukaan menjadi kasar, disebabkan abrasi selektif dari matriks resin lunak yang mengelilingi partikel filler yang keras. Sifat-sifat mekanik baik, jarang terjadi fraktur. Permukaan dapat mengikat plak, sukar dipoles. Mempunyai kecenderungan berubah warna. Indikasi untuk tumpatan dengan tekanan kunyah besar (kelas IV dan II)
Komposit Partikel Kecil
Pemolesan dan finishing lebih baik dari konvensional. Sifat-sifat mekanik
polimerisasi sama atau bahkan lebih kecil disbanding konvensional. Kandungan
bahan pengisinya kaca yang mengandung logam berat-bersifat radiopak.
Permukaan resin menjadi lebih halus karena partikelnya kecil dan termampatkan
dan resistensinya terhadap pengunyahan baik. Indikasi untuk tumpatan pada
daerah yang terkena tekanan besar dari abrasi (kelas IV dan II).
Komposit Hibrid
Mempunyai permukaan halus dan estetik tapi mempunyai kekuatan yang baik. Komposisi terdiri dari 2 macam bahan pengisi mengandung silica koloidal dan partikel dari kaca yang mengandung logam berat. Untuk tumpatan anterior dan gigi posterior.
c. Berdasarkan cara berpolimerasi
1. Dengan bantuan sinar tampak (light cure)
2. Tanpa bantuan sinar dengan cara kimiawi
2. Apa indikasi dan kontraindikasi restorasi plastis komposit?
Indikasi restorasi komposit:
1. Restorasi kelas I, II, III, IV, V dan VI 2. Fondasi atau corebuildups
3. Sealant dan restorasi komposit konservatif (restorasi resin preventif) 4. Prosedur estetis tambahan
a. Partial veneers b. Full veneers
c. Modifikasi kontur gigi
d. Penutupan/perapatan diastema 5. Semen (untuk restorasi tidak langsung) 6. Restorasi sementara
Kontraindikasi restorasi komposit:
1. Restorasi posterior dengan beban kunyah besar 2. Insidensi karies tinggi
3. OH buruk
4. Pasien dengan kebiasaan buruk seperti bruxism
3. Apa kelebihan dan kekurangan restorasi plastis komposit? Kelebihan restorasi komposit:
1. Estetik baik 2. Kekuatan cukup
3. Tidak menimbulkan arus galvanis 4. Biokompatibel
5. Dapat bertahan minimal 3 tahun, sekitar 3-10 tahun 6. Tidak membuang banyak jaringan
Kekurangan restorasi komposit:
1. Pasca restorasi biasanya sensitivitas tinggi 2. Memerlukan kemampuan sensitivitas yang tinggi 3. Mahal
4. Microleage
5. Waktu lebih banyak
6. Menyerap air sehingga harus isolasi dengan baik. Jika terkontaminasi restorasi mudah lepas
4. Bagaimana tahapan preparasi, restorasi, dan polishing? a. Isolasi
b. Pembersihan permukaan gigi c. Pemilihan warna komposit d. Preparasi kavitas
e. Liner/basis
f. Etsa asam pada daerah yang di bevel g. Bonding
h. Penumpatan resin komposit i. Polishing
Berikut adalah beberapa faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan restorasi plastis:
1. Teknik isolasi yang baik
2. Pemilihan bahan tumpatan yang tepat 3. Design kavitas yang sesuai
4. Teknik manipulasi bahan restorasi plastis 5. Proses polishing
6. Teknik finishing
STEP 4 Mapping:
Karies
Restorasi
Rigid Plastis
Komposit
STEP 5
Mampu memahami dan menjelaskan klasifikasi resin komposit, indikasi dan kontraindikasi restorasi komposit, kekurangan dan kelebihan restorasi komposit,tahapan preparasi restorasi komposit dan langkah-langkah penumpatan restorasi komposit.
STEP 6 MANDIRI
STEP 7 PEMBAHASAN 7.1 Klasifikasi resin komposit
Lutz dan Phillips (1983) mengklasifikasikan resin komposit berdasarkan ukuran partikel filler, yaitu
1. Resin Komposit Konvensional
Resin komposit ini umumnya terdiri atas 75%-80% dari berat bahan pengisi anorganiknya. Resin komposit konvensional kadang-kadang juga disebut sebagai komposit “tradisional” atau “pasi makro”.Ukuran rata-rata partikel dari resin komposit konvensional 8-12 um.
Sifat fisik dan mekanik dari komposit konvensional dibandingkan dengan bahan akrilik nirpasi, jelas bahwa perbaikan-perbaikan yang signifikan telah didapatkan. Kekuatan kompresif jelas membaik dimana 4-5 kali lebih besar dibandingkan akrilik nirpasi. Dan juga modulus elastisitasnya 4-6 kali lebih besar.
Macam-macam
Indikasi dan Kontraindikasi
Faktor-faktor yang
Kekerasan juga lebih besar daripada akrilik nirpasi, kira-kira 55 KHN (Nomor kekerasan knop) dibandingkan 15 KHN pada akrilik nirpasi. Akan tetapi permukaan komposit konvensional cukup kasar, disebabkan abrasi selektif dari matriks resin lunak yang mengelilingi partikel pasi yang besar. Karena partikel pengisinya relatif besar dan keras sekali, resin komposit konvensional memperlihatkan tekstur permukaan yang kasar, sehingga sesuai dengan gigi posterior. Sayangnya, tipe permukaan yang kasar tersebut menyebabkan restorasi lebih mudah mengalami perubahan warna akibat adanya ekstrinsik stain.
2. Komposit Berbahan Pengisi Mikro
Dalam mengatasi masalah kasarnya permukaan pada komposit tradisional, dikembangkan suatu bahan yang menggunkan partikel silika koloidal sebagai bahan pengisi anorganik. Partikelnya berukuran 0,04 μm; jadi partikel tersebut lebih kecil 200-300 kali di bandingkan rata-rata partikel quartz pada komposit tradisional. Komposit ini memiliki permukaan yang halus serupa dengan tambalan resin akrilik tanpa bahan pengisi. Dari segi estetis resin komposit mikro filler lebih unggul, tetapi sangat mudah aus karena partikel silika koloidal cenderung menggumpal dengan ukuran 0,04 sampai 0,4 μm. Selama pengadukan sebagian gumpalan pecah, manyebabkan bahan pengisi terdorong. Menunjukan buruknya ikatan antara partikel pengisi dengan matriks sekitarnya. Kekuatan konfresif dan kekuatan tensil menunjukkan nilai sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan resin komposit konvensionl. Kelemahan dari bahan ini adalah ikatan antara partikel komposit dan matriks yang dapat mengeras adalah lemah mempermudah pecahnya suatu restorasi.
3. Resin Komposit Berbahan Pengisi Partikel Kecil
Rata-rata ukuran bahan pengisi untuk komposit berkisar 1-5 μm tetapi penyebaran ukuran amat besar. Distribusi ukuran partikel yang luas ini memungkinkan tingginya muatan bahan pengisi, dan komposit berbahan pengisi partikel kecil umumnya mengandung bahan pengisi anorganik yang lebih banyak (80 % berat dan 60-65 % volume). Beberapa bahan pengisi partikel kecil sementara mempertahankan sifat partikel kecil tersebut. Ukuran partikel kacanya kira-kira 0,6- 1,0 mm, berat bahan pengisi antara 75-80% berat. Sesuai namanya ada 2 macam partikel bahan pengisi pada komposit hybrid. Sebagian besar hibrid yang paling baru pasinya mengandung silica koloidal dan partikel kaca yang komposit ini banyak digunakan untuk tambalan gigi depan, termasuk kelas IV. Walaupun sifat mekanis umumnya lebih rendah dari komposit partikel kecil, komposit hibrid ini juga sering digunakan untuk tambalan gigi belakang.
Resin komposit berdasarkan mekanisme polimerisasi atau aktivasinya dapat dibagi menjadi dua, yaitu: resin komposit diaktivasi kimia dan resin komposit diaktivasi sinar.
5. Resin Komposit Diaktivasi Kimia
Jika kedua bahan dicampur, amine akan beraksi dengan benzoyl peroxide dan membentuk radikal bebas sehingga mekanisme pengerasan dimulai.
6. Resin Komposit Diaktivasi Oleh Sinar
Bahan resin komposit yang dipolimerisasi dengan sinar dipasarkan dalam bentuk satu pasta dan dimasukkan dalam sebuah tube. Sistem pembentuk radikal bebas yang terdiri atas molekul-molekul fotoinisiator dan aktivator amine terdapat dalam pasta tersebut. Bila tidak disinari, maka kedua komponen tersebut tidak akan bereaksi. Sebaliknya, sinar dengan panjang gelombang yang tepat (460-485 nm) dapat merangsang fotoinisiator bereaksi dengan amine dan membentuk radikal bebas yang memulai proses polimerisasi.
Resin komposit juga diklasifikasikan berdasarkan persentase muatan filler nya, yaitu:
7. Resin Komposit Packable
Pada akhir tahun 1996 diperkenalkan resin komposit packable. Resin komposit packable dikenal juga sebagai resin komposit condensable. Resin komposit packable mempunyai muatan filler berkisar antara 66-70% volume Komposisi filler yang tinggi dapat menyebabkan kekentalan atau viskositas menjadi meningkat sehingga sulit untuk mengisi celah kavitas yang kecil. Akan tetapi, dengan semakin besarnya komposisi filler juga menyebabkan bahan ini dapat mengurangi pengerutan selama polimerisasi dan adanya perbaikan sifat fisik terhadap adaptasi marginal. Resin komposit packable diindikasikan untuk restorasi klas I, klas II dan klas VI (MOD).
8. Resin Komposit Flowable
sebagai bahan restorasi alternatif untuk restorasi klas V.34 Resin komposit flowable mempunyai muatan filler berkisar antara 42-53% volume.31 Komposisi filler yang rendah dan kemampuan flow yang lebih tinggi menyebabkan resin komposit tipe ini memiliki viskositas yang lebih rendah sehingga dapat dengan mudah untuk mengisi atau menutupi celah kavitas yang kecil.31,34 Selain itu, bahan restorasi ini dapat membentuk suatu lapisan elastis yang dapat mengimbangi tekanan pengerutan polimerisasi. Indikasi resin komposit flowable ditujukan untuk restorasi kavitas klas V, restorasi kavitas klas I dan klas II dengan tekanan oklusal yang minimal, kavitas enamel, dan juga dapat digunakan sebagai pit dan fisur sealant serta sebagai liner.
Klasifikasi Komposit Berdasarkan Basis Resinnya
9. Resin Komposit Berbasis Methacrylate
Resin komposit berbasis methacrylate diperkenalkan sebagai tumpatan sewarna gigi dalam profesi kedokteran gigi oleh R.L. Bowen pada tahun 1960. Bahan dasar matriks resin (Gambar 1) yang umum digunakan adalah bisfenol A-glisidil metachrylate (Bis-GMA), urethan dimetachrylate (UDMA), dan trietilen glikol dimetachrylate (TEGDMA). Resin komposit mengandung 15% sampai 25% bahan resin dari keseluruhan bahan. Kedua resin Bis-GMA dan UDMA digunakan sebagai basis resin sementara TEGDMA digunakan sebagai pengencer untuk mengurangi kekentalan resin basis, khususnya Bis-GMA. Penambahan TEGDMA atau dimetakrilat dengan molekul rendah lainnya meningkatkan pengerutan polimerisasi, suatu faktor yang membatasi jumlah dimetakrilat berat molekul rendah yang dapat digunakan dalam komposit.
benar-benar berikatan dengan matriks resin. Bila tidak, partikel bahan pengisi dapat melemahkan bahan. Filler juga berguna untuk mengurangi kontraksi polimerisasi, mengurangi koefisien muai termis komposit, meningkatkan sifat mekanis komposit antara lain kekuatan dan kekerasan, mengurangi penyerapan air,. Bahan pengisi (filler) yang biasa digunakan adalah crystalline quartz, lithium glass ceramic, borosilicate glass atau lithium alumunium silicate. Ikatan antara kedua fase komposit inilah yang dibentuk oleh coupling agent. Aplikasi coupling agent yang tepat (silane), dapat memperbaiki sifat fisik dan mekanis serta memberikan stabilitas hidrolitik untuk mencegah air berpenetrasi di antara permukaan resin dan filler.
Resin komposit dengan monomer metachrylate dapat mengeras melalui mekanisme tambahan yang diawali oleh radikal bebas yang dapat diperoleh melalui dua cara, yaitu diaktivasi kimiawi dan diaktivasi sinar.
10. Resin Komposit Berbasis Silorane
Penelitian yang dilakukan untuk memperbaiki sifat fisik resin komposit terus berkembang, terutama untuk mengatasi masalah pengerutan yang mendukung perlekatan yang baik. Silorane diperkenalkan pada kedokteran gigi pada tahun 2007 oleh Weinman. Silorane merupakan resin komposit yang telah terbukti mampu mengurangi pengerutan. Resin komposit silorane melibatkan mekanisme resin kimia yang berbeda dari resin komposit metachrylate. Komponen lainnya terdiri dari komponen yang sama dengan resin komposit methacrylate.
warna (0,005%) pada resin komposit silorane yang dapat menyerupai warna struktur gigi.
Matriks resin silorane dihasilkan dari reaksi penggabungan monomer siloxane dan oxirane. Siloxane merupakan bahan yang memiliki sifat hidrofobik dan oxirane sangat dikenal karena penyusutannya yang rendah dan stabilitasnya yang sangat baik terhadap pengaruh reaksi fisik dan kimia. Weinmann et al (2005) menyatakan bahwa silorane merupakan bahan resin berbasis sistem monomer baru yang sangat menjanjikan. Mekanisme untuk mengurangi stress pada sistem ini diperoleh dengan terbukanya cincin oxirane selama polimerisasi.
Berdasarkan ukuran partikel filler, silorane termasuk ke dalam kategori resin komposit microhybrid dengan bahan pengisi dasar berukuran partikel 0,1-1 μm dikombinasikan dengan bahan pengisi mikro 3-5% berat. Keuntungan dari penambahan partikel bahan pengisi ini adalah dapat menguatkan matriks resin, mengurangi penyusutan saat polimerisasi, mengurangi thermal ekspansi dan kontraksi, meningkatkan viskositas, mengurangi reasorbsi air serta meningkatkan radiopacity.
Silorane dapat disinari dengan halogen light curing maupun light-emitting diode (LED) light curing unit. Proses polimerisasi menggunakan halogen light curing dengan panjang gelombang 400-500 nm dengan intesitas 500-1400
mW/cm2 selama 40 detik. Proses polimerisasi menggunakan light-emitting diode (LED) light curing unit dengan panjang gelombang 430-480 nm dengan intesitas
500-1000 mW/cm2 selama 40 detik.
7.2 Indikasi Dan Kontraindikasi Restorasi Plastis 7.2.1 Indikasi Restorasi Plastis
1. Restorasi kelas I sampai V
3. Restorasi sementara
4. Restorasi kavitas kecil dengan kebutuhan estetik yang tinggi, misalnya sudut insisal
5. Restorasi estetik, misalnya veneer, penutupan diastema, modifikasi kontur gigi
6. Bahan base lining
7. Splinting
8. Fiber composit untuk pin pasak
9. Semen/luting (dual cure)
7.2.2 Kontraindikasi Restorasi Plastis
1. Gigi yang sudah tidak dapat dipertahankan, misalnya gigi goyang derajat 3 atau 4, gigi yang tidak mendapat cukup dukungan dari enamel dan dentin
2. Gigi yang mendapat tekanan besar
3. OH buruk
4. Alergi resin komposit
5. Pasien yang mempunyai control cairan yang buruk
6. Lesi distal pada caninus
7. Lesi di proksimal yang terlalu dalam sehingga penyinaran sulit dilakukan
8. Pasien dengan bruxism
1. Estetik baik 2. Kekuatan cukup
3. Tidak menimbulkan arus galvanis 4. Biokompatibel
5. Dapat bertahan minimal 3 tahun, sekitar 3-10 tahun 6. Tidak membuang banyak jaringan
7.4.2 Kekurangan restorasi komposit:
1. Pasca restorasi biasanya sensitivitas tinggi 2. Memerlukan kemampuan sensitivitas yang tinggi 3. Mahal
4. Microleage
5. Waktu lebih banyak
6. Menyerap air sehingga harus isolasi dengan baik. Jika terkontaminasi restorasi mudah lepas
7.4 Tahapan Preparasi Restorasi Resin Komposit 1. Tahapan Isolasi
Isolasi daerah kerja merupakan suatu keharusan. Gigi yang dibasahi saliva dan lidah akan menggangu penglihatan. Gingiva yang berdarah adalah masalah yang harus diatasi sebelum melakukan preparasi. Beberapa metode tepat digunakan untuk mengisolasi daerah kerja yaitu saliva ejector, gulungan kapas atau cotton roll, dan isolator karet atau rubber dam (Baum, 1997)
a. Saliva Ejector
Gambar 1. Saliva ejector
( http://www.rushsupplies.com/images/Saliva Ejectors )
Gambar 2. Penggunaan Saliva ejector ( htpp:// Blog dentalsuction.wordpress.com)
b. Gulungan Kapas atau Cotton Roll
Cotton roll yang digunakan di kedokteran gigi memiliki beberpa ukuran panjang dan besar. Namun yang sering digunakan adalah cotton roll
nomor 2 dengan panjang 11
2 inchi dan diameter 3
8 inchi. Cotton roll dapat menyerap saliva cukup efektif sehingga menghasilkan isolasi jangka pendek pada rongga mulut. Biasanya cotton roll harus sering diganti karena akan sering terbashi oleh saliva. Penggunaan cotton roll bersama saliva ejector efektif dalam meminimalkan aliran saliva (Roberson dkk, 2002)
Dari semua metode isolasi daerah kerja tidak ada yang seefektif dari rubber dam. Lembaran karet ini dengan gigi-gigi yang menonjol melalui lubang pada lembaran itu memnerikan isolasi yang positif dan jangka panjang pada gigi yang perlu dirawat. Penggunaan dari rubber dam merupakan keharusan untuk prosedur operatif. Rubber dam terdiri dari 2 bagian yaitu isolator karet dan klem.
Gambar 3. Rubber Dam (http:// dentallecnotes.blogspot.com)
2. Pembersihan Gigi
Gigi dibersihkan dengan rubber cups dan pumice yang dicampur dengan air. Bila ada karang gigi dibersihkan terlebih dahulu.
3. Tahap preparasi
Gigi fraktur Karena trauma dibuat bavel pada seluruh tepi enamel selebar 2-3 mm dari tepi kavitas dengan diamond fissure bur dengan sudut 450 Gigi dengan karies dibersihkan dengan diamond fissure bur atau
excavator, kemudin dibuat bevel seperti di atas.
Tahap pertama adalah memperoleh akses ke dentin yang terkena karies. Untuk kasus kelas III akses diperoleh dari pembuangan ridge palatal karena ridge ini tidak didukung oleh dentin yang sehat. Dinding labial sedapat mungkin dipertahankan mengingat samapai saat ini tak satupun warna bahan restorasi yang sama persis dengan warna gigi. Akses dari palatal memang
lebih menyusahkan operator namun akses dari labial jarang sekali dilakukan karena akan menghasilkan estetika yang tidak begitu baik. Akses langsung bisa dilakukan jika gigi tetangganya tidak ada.
Setelah akses tahap selanjutnya adalah pembuatan ragangan kavitas atau outline form. Ragangan pada kasus ini hanaya dibuat berdasarkan perluasan kariesnya yang mengenai email dan dentin. Semua email dan dentin yang sebenarnya tidak terserang kaires tetapi kelihatannya sudah lemah harus dihilangkan. Perluasan kavitas ini sebagai langkah dari pencegahan atau extension for prevention.
4. Pemberian Liner/ Basis
Basis adalah lapisan tipis yang diletakkan antara dentin dan atau pulpa dengan restorasi. Perbedaan antara basis dan liner adalah ketebalan dan hal yang mampu ditahannya. Jika basis dengan ketebalan yang lebih daripada liner mampu menahan tekanan mekanik dari bahan restorasi selain juga sebagai penahan termal, listrik dan kimiawi.
sekunder. Kalsium hidroksida (Ca(OH)2) sebagai liner berbentuk suspensi
dalam liquid organik seperti methyl ethyl ketone atau ether alcohol atau dapat juga dalam larutan encer seperti methyl cellusose yang berfungsi sebagai bahan pengental.
Liner ini diaplikasikan dalam konsistensi encer yang mengalir sehingga mudah diaplikasikan ke permukaan dentin. Larutan tersebut menguap meninggalkan sebuah lapisa tipis yang berfungsi memberikan proteksi pada pulpa di bawahnya.Selain liner, perlindungan lain dapat berupa basis. Basis yang dapat digunakan adalah basis dari kalsium hidroksida, semen ionomer kaca, dan seng fosfat. Sebagai basis, kalsium hidroksida berbentuk pasta yang terdiri dari basis dan katalis. Basisnya terdiri dari calcium tungstate, tribasic calcium phosphate, dan zinc oxide dalam glycol salycilate. Katalisnya terdiri dari calcium hydroxide, zinc oxide, dan zinc stearate dalam ethylene toluene sulfonamide. Basis kalsium hidroksida yang diaktivasi dengan sinar biasanya mengandung calcium hydroxide dan barium sulfate yang terdispersi dalam resin urethane dimethacrylate. Kalsium hidroksida sebagai basis mempunyai kekuatan tensile dan kompresi yang rendah . dibandingkan dengan basis dengan kekuatan dan rigiditas yang tinggi. Karena itulah, kalsium hidroksida tidak diperuntukkan untuk menahan kekuatan mekanik yang besar, biasanya jika digunakan untuk memberikan tahanan terhadap tekanan mekanik, harus didukung oleh dentin yang kuat. Untuk memberikan perlindungan terhadap termis, ketebalan lapisan yang dianjurka tidak lebih dari 0,5 mm. keuntungan dari penggunaan kalsium hidroksida adalah sifat terapeutiknya yang mampu merangsang pembentukan dentin sekunder.
5. Tahap etsa asam
1) Ulaskan bahan etsa (asam phospat 30%-50%) dalam bentuk gel/cairan dengan pinset dan gulungan kapas kecil (cutton pellet) pada permukaan enamel sebatas 2-3 mm dari tepi kavitas (pada bagian bevel).
2) Pengulasan dilakukan selama 30 detik dan jangan sampai mengenai gusi.
5) Setelah pencucian gigi dikeringkan dengan semprotan udara sehingga permukaan tampak putih buram.
6. Tahap bonding
Ulaskan bahan bonding menggunakan spon kecil atau kuas / brush kecil pada permukaan yang telah di etsa . Ditunggu ± 10 detik sambil di semprot udara ringan di sekitar kavitas (tidak langsung mengenai kavitas) .Kemudian dilakukan penyinaran selama 20 detik.
Saat ini, pemakaian bahan adhesif pada dentin telah meluas ke seluruh dunia dan perkembangannya pun bervariasi didasarkan pada tahun pembuatan, jumlah kemasan dan sistem etsa. Berdasarkan tahun pembuatan, bahan adhesif dibagi mulai dari generasi I sampai pada generasi VII.
Generasi I dan II mulai diperkenalkan pada tahun 1960-an dan 1970-an yang tanpa melakukan pengetsaan pada enamel, bahan bonding yang dipakai berikatan dengan smear layer yang ada. Ikatan bahan adhesif yang dihasilkan sangat lemah (2 MPa-6MPa) dan smear layer yang ada dapat menyebabkan celah yang dapat terlihat dengan pewarnaan pada tepi restorasi.
Generasi III mulai diperkenalkan pada tahun 1980-an, mulai
diperkenalkan pengetsaan pada dentin dan mulai dipakai bahan primer yang
dibuat untuk dapat mempenetrasi ke dalam tubulus dentin dengan demikian
diharapkan kekuatan ikatan bahan adhesif tersebut menjadi lebih baik.
dan dapat menurunkan kemungkinan terjadinya kegagalan batas tepi bahan
adhesif dan dentin (marginal failure). Tetapi seiring waktu tetap terjadi juga
kegagalan tersebut.
Generasi IV mulai diperkenalkan awal tahun 1990-an. Mulai dipakai
bahan yang dapat mempenetrasi baik itu tubulus dentin yang terbuka dengan
pengetsaan maupun yang telah mengalami dekalsifikasi dan juga berikatan
dengan substrat dentin, membentuk lapisan “hybrid”. Fusayama dan
Nakabayashi menyatakan bahwa adanya penetrasi resin akan memberikan kekuatan ikatan yang lebih tinggi dan juga dapat membentuk lapisan pada permukaan dentin. Kekuatan ikatan bahan adhesif ini rendah sampai dengan sedang sampai dengan 20 MPa dan secara signifikan dapat menurunkan kemungkinan terjadinya celah marginal yang lebih baik daripada sistem adhesif sebelumnya. Sistem ini memerlukan teknik pemakaian yang sensitif dan memerlukan keahlian untuk dapat mengontrol pengetsaan pada enamel dan dentin. Cara pemakaiannya cukup rumit dengan beberapa botol sediaan bahan dan beberapa langkah-langkah yang harus dilakukan.
Generasi V mulai berkembang pada tahun 1990-an. Pada generasi ini
bahan primer dan bonding telah dikombinasikan dalam satu kemasan. Pada
generasi ini juga mulai diperkenalkan pemakaian bahan adhesif sekali pakai.
Generasi VI mulai berkembang pada akhir tahun 1990-an awal tahun 2000, pada generasi ini mulai dikenal pemakaian “self etching” yang merupakan suatu terobosan baru pada sistem adhesif.
Pada generasi VI ini tahap pengetsaan tidak lagi memerlukan pembilasan
karena pada generasi ini telah dipakai acidic primer, yaiu bahan etsa dan
Generasi VII mulai berkembang sekitar tahun 2002, generasi ini juga
dikenal sebagai generasi ”all in one” adhesif, dikatakan demikian karena pada
generasi VII ini bahan etsa, primer dan bonding telah dikombinasikan dalam
satu kemasan saja, sehingga waktu pemakaian bahan adhesif generasi VII ini
menjadi lebih singkat.
Berdasarkan jumlah kemasan atau tempat penyimpanan, bahan adhesif dibagi menjadi tiga yakni sistem tiga botol, dua botol dan satu botol. Pada sistem tiga botol, bahan adhesif terdiri dari tiga botol bahan yang terpisah yakni etsa, primer dan bonding. Sistem ini diperkenalkan pertama kali tahun 1990-an. Sistem ini menghasilkan kekuatan ikatan yang baik dan efektif. Namun, kekurangan sistem ini adalah banyaknya kemasan yang ada di meja unit dan waktu pemakaian yang lama dikarenakan sistem ini yang terdiri dari tiga botol dan tidak praktis.
Sistem bahan adhesif lainnya yakni sistem dua botol yang terdiri dari dua
botol bahan yang terpisah yakni satu botol bahan etsa dan satu botol yang
merupakan gabungan antara primer dan bonding. Saat ini, sistem in
merupakan bahan adhesif yang paling banyak digunakan di praktek dokter
gigi. Hal ini dikarenakan sistem ini lebih simpel dan waktu pemakaiannya
lebih cepat. Disamping itu, ikatan yang dihasilkan cukup kuat.
Sistem bahan adhesif terakhir yakni sistem satu botol yang hanya terdiri
satu botol yang merupakan gabungan etsa, primer dan bonding. Sistem ini
merupakan sistem bahan adhesif yang terakhir kali keluar. Kelebihan sistem
dibandingkan dengan sistem bahan adhesif lainnya. Namun, kekurangan
sistem ini adalah kekuatan ikatan yang dihasilkan lebih rendah.
7. Tumpatan Resin Komposit
Cara penumpatan kavitas di servikal gigi serupa dengan penumpatan kavias oklusal. Walaupun tumpatannya nanti tidak akan menerima tekanan kunyah oklusal, tekanan kondensasi tetap harus memadai agar alur-alur retensi terisi dengan baik, sehingga tumpatan dapat bertahan lama. Pengukiran pada tahap yang dini dapat dilakukan dengan sonde, kalau sudah terlambat dengan alat Ward atau Hollenbach.
Hendaknya bentuk anatomi permukaan servikal dapat dikembalikan, dan untuk itu dapat degunakan dengan pengukir dengan bilah cembung misalnya pengukir Ward atau Hollenbach. Pengukiran dilakukan dengan jalan mengukir tepi oklusal dan tepi gingival sendiri-sendiri sehingga terbentuknya permukaan yang cekung dapat dicegah. Tumpatan lebih baik dibuat sedikit cekung daripada overkontur kea rah gingival sebab hal ini akan menyebabkan akumulasi plak dan merangsang timbulnya gingivitis.
8. Tahap finishing dan polishing komposit
Finishing meliputi shaping, contouring, dan penghalusan restorasi. Sedangkan polishing digunakan untuk membuat permukaan restorasi mengkilat. Finishing dapat dilakukan segera setelah komposit aktivasi sinar telahmengalami polimerisaasi atau sekitar 3 menit setelah pengerasan awal.
Alat-alat yang biasa digunakan antara lain :
2. Alat untuk finishing dan polishing : diamond dan carbide burs, berbagai tipe dari flexibe disks, abrasive impregnated rubber point dan cups, metal dan plastic finishing strips, dan pasta polishing.
a. Diamond dan carbide burs
Digunakan untuk menghaluskan ekses-ekses yang besar pada resin komposit dan dapat digunakan untuk membentuk anatomi pada permukaan restorasi.
b. Discs
Digunakan untuk menghaluskan permukaan restorasi. Bagian yang abrasive dari disk dapat mencapai bagian embrasure dan area interproksimal. Disk terdiri dari beberapa jenis dari yang kasar sampai yang halus yang bisa digunakan secara berurutan saat melakukan finishing dan polishing.
c. Impregnated rubber points dan cups
Digunakan secara berurutan seperti disk. Untuk jenis yang paling kasar digunakan untuk mengurangi ekses-ekses yang yang besar sedangkan yang halus efektif untuk membuat permukaan menjadi halus dan berkilau. Keuntungan yang utama dari penggunaan alat ini adalah dapat membuat permukaan yang terdapat ekses membentuk groove, membentuk bentuk permukaan yang diinginkan serta membentuk permukaan yang konkaf pada lingual gigi anterior
d. Finishing stips
Juga tersedia dalam beberapa jenis dari yang kasar sampai halus yang dapat digunakan secara berurutan (wordpress, 2009).
Prosedur finishing dan polishing resin komposit:
1. sharp-edge hand instrument digunakan untuk menghilangkan ekses-ekses di area proksimal, dan margin gingival dan untuk membentuk permukaan proksimal dari resin komposit.
2. 12b scalpel blade digunakan untuk menghilangkan flash dari resin komposit pada aspek distal
3. alumunium oxide disk digunakan untuk membentu kontur dan untuk polishing permukaan proksimal dari restorasi resin komposit.
4. finishing diamond digunakan untuk membentuk anatomi oklusal
5. Impregnated rubber points dengan aluminium oxide digunakan untuk menghaluskan permukaan oklusal restorasi
6. Aluminum oxide finishing strips untuk conturing atau finishing atau polishing permukaan proksimal untuk membuat kontak proksimal.
1. Untuk membuat contur yang baik, kita harus menyesuaikan bentuk restorasi sesuai dengan anatomi gigi yang benar dan tepat agar diperoleh hasil yang maksimal.
2. Kita harus berhati-hati dan senantiasa memperhatikan hal-hal seperti taktil, kontak dengan gigi di samping nya, serta kontak oklusal dengan gigi antagonisnya.
Finishing dan polishing sangatlah mempengaruhi hasil akhir restorasi seperti warna permukaan, akumulasi plak, dan karakteristik resin komposit.
7.6 Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dari tindakan penumpatan
Berikut adalah beberapa factor yang berpengaruh terhadap keberhasilan Restorasi plastis, diantaranya yaitu:
1. Teknik isolasi yang baik.
Teknik isolasi yang baik akan dapat membantu terciptanya keberhasilan restorasi yang dilakukan. Isolasi yang baik akan memberikan wilayah kerja yang tepat, tanpa mengganggu daerah gigi tetangga, dan memberikan batas yang baik agar daerah yang dipreparasi tidak terkontaminasi dengan saliva. Bila terdapat kontaminasi air sebelum setting pada bahan yang mengandung zinc, akan timbul reaksi antara zinc (anoda) dan bahan logam lain yang bersifat katoda dan air sebagai elektrolit, hydrogen terlepas sebagai hasil reaksi ini serta tekanan uap hydrogen dapat menyebabkan pergeseran amalagam sehingga terjadi ekspansi yang mungkin tidak kelihatan dalam 24 jam tetapi dapat muncul beberapa hari setelah penambalan.
2. Pemilihan bahan tumpatan yang tepat.
digunakan untuk restorasi kavitas di bagian anterior dipakai untuk restorasi kavitas posterior, maka, tentunya bahan tersebut tidak akan mampu menahan beban mastikasi di bagian posterior dan sebaliknya.
3. Design kavitas yang sesuai.
Design kavitas yang baik hendaknya mempertimbangkan segi retensi, resistensi, convenience, dan ekstension for prevention. Apabila keempat hal tersebut terpenuhi, maka karies sekunder sulit sekali timbul, dan daya tahan restorasi akan menjadi semakin lama. Karies sekunder biasanya disebabkan oleh preparasi yang tidak memenuhi criteria ekstension for prevention, yaitu pit dan fissure yang dalam harus diikutsertakan pada preparasi walaupun tidak terkena karies. Juga criteria removal of caries, yaitu penghilangan jaringan yang terinfeksi. Apabila kedua criteria tersebut tidak terpenuhi maka akan terjadi karies sekunder.
4. Teknik manipulasi bahan restorasi plastis.
Cara manipulasi bahan restorasi plastis berbeda-beda untuk tiap bahan, dengan berbagai ketentuan tertentu. Apabila hal ini tidak diikuti dengan baik, maka akan berpengaruh terhadap kekuatan sifat mekanisnya, ekspansifnya, dan dikhawatirkan akan menyebabkan mikroporositas yang menjadi penyebab karies sekunder. Pengetahuan akan teknik manipulasi beserta cara pengaplikasian bahan menjadi syarat utama dalam keberhasilan restorasi yang dilakukan.
5. Proses polishing.
kurang dari 24 jam maka akan mempengaruhi kekuatan amalgam. Kekuatan amalgam akan turun dan ketika dilakukan polishing kemungkinan bisa pecah.
6. Teknik finishing.
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa :
1. Kontraindikasi dari penggunaan bahan restorasi plastis berbeda-beda sesuai dengan kebutuhannya. Untuk amalgam kontraindikasinya adalah gigi dengan karies yang luas, kompleks, melibatkan cusp, serta adanya kebutuhan estetik. Sedangkan untuk kontraindikasi penggunaan komposit adalah untuk pasien yang mengalami hipersalivasi dan dengan pasien dengan tekanan oklusal yang besar (bruxism). Untuk GIC, kontraindikasinya adalah untuk kavitas yang dalam tanpa menggunakan pelapik kalsium hidroksida, untuk pasien hipersalivasi dimana kontaminasi saliva tidak dapat dikontrol, dan pada karies kelas IV.
2. Tahap preparasi, penumpatan, dan pemolesan berbeda-beda tergantung pada klasifikasi kavitas dan bahan tumpat yang digunakan
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dari restorasi plastis adalah
1. Teknik isolasi yang baik
2. Pemilihan bahan tumpatan yang tepat. 3. Design cavitas yang sesuai.
4. Teknik manipulasi bahan restorasi plastis. 5. Proses polishing.
6. Teknik finishing.
DAFTAR PUSTAKA
Ali Nurdin, Penggunaan semen Glass Ionomer sebagai upaya meningkatkan perlekatan tumpatan amalgam dengan jaringan gigi,Majalah Kedokteran Gigi Universitas Airlangga, vol 34 nomor 3a, Agustus, 2001.
Buku Petunjuk Praktikum Tumpatan FKG UNEJ, 2013
Cecilia G. J. Lunardi, Soeyatmi Iskandar, Sri Kunarti Prijambodo, Resin komposit untuk restorasi gigi posterior simposium sehari Mempertahankan Gigi Selama Mungkin, Surabaya: FKG, 1989.
Ford, T.R. Pitt. 1993. Restorasi Gigi. Alih bahasa, Narlan Sumawinata; editor, Narlan Sumawinata dan LIlian Yuwono. Ed.2. Jakarta: EGC
Narlan Sumawinata, Restorasi Gigi, edisi 2, Jakarta Kedokteran EGC, 1993 Pickard, H.M., Kidd, E.A.M., Smith, B.G.N 2002. Manual Konservasi Restoratif
Menurut Pickard. Edisi 6. Alih bahasa: Narlan Sumawinata. Jakarta : Widya Medika.
Roberson, Theodore M. IV Heymann, Harald. V Swift, Edward J. VI. Sturdevant, Clifford M. 2001. Sturdefante's Art and Science of Operative Dentistry-4th ed. Library of Congress Cataloging in Publication Data: United States of America