• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Z Score Untuk Mengukur Kesehata

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis Z Score Untuk Mengukur Kesehata"

Copied!
138
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS Z-SCORE UNTUK MENGUKUR KESEHATAN KEUANGAN PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR DI BEI

(Studi Kasus pada PT. Astra Agro Lestari Tbk., PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk., PT. Indofood Sukses Makmur Tbk., PT. Kalbe Farma Tbk.,

PT. Unilever Indonesia Tbk., Periode 2011 – 2015)

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Pada Fakultas Ekonomi Universitas Ibn Khaldun Bogor

Oleh: Lilis Syolicha 12213110204

PROGRAM STUDI MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI

(2)

Metode Altman muncul pada tahun 1968, analisis rasio keuangan ini menjadi topik menarik setelah Altman menemukan suatu formula untuk mendeteksi kebangkrutan perusahaan dengan istilah yang sangat terkenal yaitu Z-Score. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data dan informasi yang digunakan untuk menganalisis dan mengetahui kesehatan keuangan perusahaan dengan menggunakan analisis model Z-Score.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa laporan keuangan tahunan pada perusahaan manufaktur yang telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2011 – 2015. Perusahaan tersebut terdiri dari PT. Astra Agro Lestari, Tbk., PT. Indocement Tunggal Prakarsa. Tbk., PT. Indofood Sukses Makmur. Tbk., PT. Kalbe Farma. Tbk., PT. Unilever Indonesia, Tbk. Data diolah dengan menggunakan model Altman (Z-Score).

Dari hasil yang telah dilakukan pada kelima perusahaan, terdapat 4 perusahaan yang berada dalam kondisi sehat dan terdapat dua perusahaan yang berada pada Gray Area yaitu PT. Astra Agro Lestari Tbk tahun 2015 dan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk tahun 2011 sampai 2015 berada dalam kondisi abu-abu. Sehingga dapat diperoleh kesimpulan bahwa metode Z-Score dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kesehatan keuangan perusahaan.

(3)

Abstrack

Altman appeared in 1968, the analysis of financial ratios have become a hot topic after Altman found a formula to detect the bankruptcy of companies with terms very well known that the Z-Score. The purpose of this study was to obtain data and information used to analyze and determine the financial health of companies using Z-Score model analysis.

The data used in this research are secondary data from the annual financial report on manufacturing companies have been listed in the Indonesia Stock Exchange (BEI) in the period 2011 - 2015. The company consists of PT. Astra Agro Lestari Tbk., PT. Indocement Tunggal. Tbk., PT. Indofood Sukses Makmur. Tbk., PT. Kalbe Farma. Tbk., PT. Unilever Indonesia, Tbk. Data were processed using Altman model (Z-Score).

From the results that have been done in five companies, there are four companies that are in a healthy condition and there are two companies that are at Gray Area, namely PT. Astra Agro Lestari Tbk in 2015 and PT. Indofood Sukses Makmur Tbk in 2011 to 2015 in a state of gray. So it can be concluded that the Z-Score method can be used to determine the level of financial health of the company.

(4)

NPM : 12213110204 Program Studi : Manajemen

Fakultas : Ekonomi

Judul : Analisis Z-Score Untuk Mengukur Kesehatan Keuangan Perusahaan (Studi Kasus Pada PT. Astra Agro Lestari Tbk., PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk., PT. Indofood Sukses Makmur Tbk., PT. Kalbe Farma Tbk., PT. Unilever Indonesia Tbk., Periode 2011 – 2015)”.

Bogor, 26 Agustus 2016

Pembimbing I Pembimbing II

(5)

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI Nama : Lilis Syolicha

NPM : 12213110204

Program Studi : Manajemen

Fakultas : Ekonomi

Judul : Analisis Z-Score Untuk Mengukur Kesehatan Keuangan Perusahaan (Studi Kasus Pada PT. Astra Agro Lestari Tbk., PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk., PT. Indofood Sukses Makmur Tbk., PT. Kalbe Farma Tbk., PT. Unilever Indonesia Tbk., Periode 2011 – 2015)”.

Telah disidangkan dan diuji oleh Dosen Penguji Skripsi pada tanggal 26 Agustus 2016

Pembimbing I Pembimbing II

Budiharjo, Drs., M.M. Hj. Titing Suharti, SE. MM

Mengesahkan,

Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Ibn Khaldun Bogor

Ketua Prodi Manajemen

(6)

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

Alhamdulillah, segala puji dan syukur hanyalah untuk-Mu dan milik-Mu, atas limpahan rahmat dan ridho-Mu yang telah membimbing penulis agar dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Tidak lupa pula shalawat serta salam kepada kekasih Allah SWT yang patut dijadikan panutan kehidupan seluruh ummat manusia yakni Nabi Muhammad SAW.

Tiada kemuliaan selain dari Engkau Wahai Dzat Pemilik Alam Semesta, penulis mengungkapkan rasa syukur dengan terselesaikannya skripsi ini yang berjudu: “Analisis Z-Score Untuk Mengukur Kesehatan Keuangan Perusahaan (Studi Kasus Pada PT. Astra Agro Lestari Tbk., PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk., PT. Indofood Sukses Makmur Tbk., PT. Kalbe Farma Tbk., PT. Unilever Indonesia Tbk., Periode 2011 – 2015).”

Hanya do’a yang tulus dan ikhlas yang terucap dari lisan dan hati, penulis menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Bapak Budiharjo, Drs., M.M. selaku Pembimbing I (satu) Fakultas Ekonomi

Universitas Ibn Khaldun Bogor.

2. Ibu Hj. Titing Suharti, SE. selaku Pembimbing II (dua) Fakultas Ekonomi Universitas Ibn Khaldun Bogor.

3. Ibu Hj. Ecin Kuraesin, SE., MM. selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Ibn Khaldun Bogor.

4. Bapak M. Azis Firdaus, SE., MM. selaku Ketua Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Ibn Khaldun Bogor.

(7)

5. Kepada seluruh Dosen dan Karyawan Fakultas Ekonomi Universitas Ibn Khaldun Bogor.

6. Kepada Orangtua tersayang ayah dan ibu yang tidak pernah lelah memberikan do’a dan dukungannya baik moril maupun materil yang telah memfasilitasi segala keperluan pendidikan hingga saat ini di perguruan tinggi Universitas Ibn Khaldun Bogor, semoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan ridho-Nya kepada ayah dan ibu serta mengangkat derajat ayah dan ibu. Aamiin.

7. Kepada kembaran saya Lilis Muslicha yang selalu mensupport, menyemangati, menasehati, memberikan pengarahan dalam skripsi ini. 8. Kepada Keluarga Besar saya dari keluarga ayah dan ibu beserta

saudara-saudara.

9. Teman-teman seperjuangan dari Program Studi Manajemen: Alya Iqlima Hassan, Ririn Widayanti, Firda Widdina Rahman dan teman-teman lainnya yang telah memberikan semangatnya.

10. Kepada Teh Murni Mukhlisin (Teh Uni) yang sudah mensupport, mengajari dan memberikan semangat dan do’a-do’anya.

11. Semua Saudara/Saudari yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu, saya ucapkan terima kasih.

(8)

dapat menghasilkan karya yang lebih baik. Semoga skripsi ini bermanfaat serta dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi pihak yang membutuhkannya. Wassalamu’alaykum Warohmatullahi Wabarokatuh.

Bogor, 26 Agustus 2016

Penulis

(9)

DAFTAR ISI

Abstrak Bahasa Inggris Dan Bahasa Indonesia HALAMAN JUDUL

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING HALAMAN PENGESAHAN

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL... ix

DAFTAR GAMBAR ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 4

1.3 Rumusan Masalah ... 8

1.4 Tujuan Penelitian ... 8

1.5 Manfaat dan Kegunaan Penelitian ... 9

1.6 Penelitian Terdahulu ... 10

1.7 Kerangka Pemikiran ... 11

1.8 Metodologi Penelitian ... 13

1.8.1 Desain Penelitian ... 13

1.8.2 Variabel dan Pengukuran ... 14

1.8.3 Definisi Operasionalisasi Variabel ... 14

1.8.4 Populasi dan Sampel ... 16

1.8.4.1 Pengambilan Populasi ... 16

1.8.4.2 Prosedur Penarikan Sampel ... 16

(10)

1.8.5.2 Sumber Data ... 17

1.8.5.3 Teknik Pengumpulan Data ... 18

1.8.6 Metode Analisis Data ... 19

1.9 Waktu dan Lokasi Penelitian ... 20

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 21

2.1 Manajemen ... 21

2.1.1 Pengertian Manajemen ... 21

2.1.2 Fungsi manajemen ... 22

2.2 Manajemen Keuangan ... 24

2.2.1 Pengertian Manajemen Keuangan ... 24

2.2.2 Fungsi Manajemen Keuangan ... 26

2.3 Laporan Keuangan ... 28

2.3.1 Pengertian Laporan Keuangan ... 28

2.3.2 Tujuan Laporan Keuangan ... 29

2.3.3 Jenis-Jenis Laporan Keuangan ... 31

2.3.4 Kelemahan Laporan Keuangan ... 32

2.4 Analisis Laporan Keuangan ... 34

2.4.1 Pengertian Analisis Laporan Keuangan ... 34

2.4.2 Tujuan Analisis Laporan Keuangan ... 36

2.4.3 Langkah-langkah Melakukan Analisis Laporan Keuangan ... 37

(11)

2.5 Analisis Model Altman Z-Score ... 38

2.5.1 Pengertian Analisis Z-Score ... 38

2.5.2 Rasio-Rasio Keuangan Metode Z-Score ... 40

BAB III TINJAUAN UMUM OBJEK PENELITIAN ... 46

3.1 Gambaran Umum Bursa Efek Indonesia (BEI) ... 46

3.1.1 Sejarah dan Perkembangan BEI ... 46

3.1.2 Visi dan Misi BEI ... 49

3.1.3 Struktur Organisasi BEI ... 49

3.2 Tinjauan Perusahaan PT. Astra Agro Lestari Tbk ... 50

3.2.1 Sejarah dan Perkembangan PT Astra Agro Lestari Tbk ... 50

3.2.2 Visi dan Misi PT. Astra Agro Lestari Tbk ... 51

3.2.3 Struktur Organisasi PT. Astra Agro Lestari Tbk ... 52

3.3 Tinjauan Perusahaan PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk ... 53

3.3.1 Sejarah dan Perkembangan PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk ... 53

3.3.2 Visi dan Misi PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk ... 56

3.3.3 Struktur Organisasi PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk ... 57

3.4 Tinjauan Perusahaan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk ... 58

3.4.1 Sejarah dan Perkembangan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk... 58

(12)

Tbk... 61

3.5 Tinjauan Perusahaan PT. Kalbe Farma Tbk ... 61

3.5.1 Sejarah dan Perkembangan PT. Kalbe Farma Tbk ... 61

3.5.2 Visi dan Misi PT. Kalbe Farma Tbk... 63

3.5.3 Struktur Organisasi PT. Kalbe Farma Tbk Tbk ... 64

3.6 Tinjauan Perusahaan PT. Unilever Indonesia Tbk ... 65

3.6.1 Sejarah dan Perkembangan PT Unilever Indonesia Tbk ... 65

3.6.2 Visi dan Misi PT. Unilever Indonesia Tbk... 68

3.6.3 Struktur Organisasi PT. Unilever Indonesia Tbk ... 69

BAB IV PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN ... 70

4.1 Pembahasan ... 70

4.1.1. PT. Astra Agro Lestari Tbk ... 71

4.1.2. PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk ... 78

4.1.3. PT. Indofood Sukses Makmur Tbk ... 82

4.1.4. PT. Kalbe Farma Tbk ... 87

4.1.5. PT. Unilever Indonesia Tbk ... 92

4.2 Hasil Penelitian ... 96

BAB V PENUTUP ... 100

5.1 Kesimpulan ... 100

5.2 Saran ... 104

(13)

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

BIOGRAFI PENULIS

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN / TIDAK PLAGIAT

(14)

Tabel 1: Operasionalisasi Variabel Analisis Z-Score ... 15

Tabel 2: Nilai Z-Score untuk perusahaan manufaktur yang go-public ... 15

Tabel 3: Sejarah Singkat Bursa Efek Indonesia (BEI) ... 47

Tabel 4: Sejarah Singkat PT. Indofood Sukses Makmur Tbk ... 58

Tabel 5: Perhitungan X1 PT. Astra Agro Lestari Tbk ... 70

Tabel 6: Perhitungan X2 PT. Astra Agro Lestari Tbk ... 71

Tabel 7: Perhitungan X3 PT. Astra Agro Lestari Tbk ... 71

Tabel 8: Perhitungan X4 PT. Astra Agro Lestari Tbk ... 71

Tabel 9: Perhitungan X5 PT. Astra Agro Lestari Tbk ... 72

Tabel 10: Perhitungan Nilai Z-Score pada PT. Astra Agro Lestari Tbk ... 72

Tabel 11: Perhitungan X1 PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk ... 76

Tabel 12: Perhitungan X2 PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk ... 77

Tabel 13: Perhitungan X3 PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk ... 77

Tabel 14: Perhitungan X4 PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk ... 77

Tabel 15: Perhitungan X5 PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk ... 78

Tabel 16: Perhitungan Nilai Z-Score pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk... 78

Tabel 17: Perhitungan X1 PT. Indofood Sukses Makmur Tbk ... 81

Tabel 18: Perhitungan X2 PT. Indofood Sukses Makmur Tbk ... 81

Tabel 19: Perhitungan X3 PT. Indofood Sukses Makmur Tbk ... 81

Tabel 20: Perhitungan X4 PT. Indofood Sukses Makmur Tbk ... 82

Tabel 21: Perhitungan X5 PT. Indofood Sukses Makmur Tbk ... 82

(15)

Tabel 22: Perhitungan Nilai Z-Score pada PT. Indofood Sukses Makmur

Tbk ... 83

Tabel 23: Perhitungan X1 PT. Kalbe Farma Tbk ... 87

Tabel 24: Perhitungan X2 PT. Kalbe Farma Tbk ... 87

Tabel 25: Perhitungan X3 PT. Kalbe Farma Tbk ... 88

Tabel 26: Perhitungan X4 PT. Kalbe Farma Tbk ... 88

Tabel 27: Perhitungan X5 PT. Kalbe Farma Tbk ... 88

Tabel 28: Perhitungan Nilai Z-Score pada PT. Kalbe Farma Tbk ... 89

Tabel 29: Perhitungan X1 PT. Unilever Indonesia Tbk ... 94

Tabel 30: Perhitungan X2 PT. Unilever Indonesia Tbk ... 94

Tabel 31: Perhitungan X3 PT. Unilever Indonesia Tbk ... 95

Tabel 32: Perhitungan X4 PT. Unilever Indonesia Tbk ... 95

Tabel 33: Perhitungan X5 PT. Unilever Indonesia Tbk ... 95

Tabel 34: Perhitungan Nilai Z-Score pada PT. Unilever Indonesia Tbk ... 96

(16)

Gambar 1: Kerangka Pemikiran ... 13

Gambar 2: Struktur Organisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) ... 49

Gambar 3: Struktur Organisasi PT. Astra Agro Lestari Tbk ... 52

Gambar 4: Struktur Organisasi PT. Indocement Prakarsa Tbk ... 56

Gambar 5: Struktur Organisasi PT. Indofood Sukses Makmur Tbk ... 61

Gambar 6: Struktur Organisasi PT. Kalbe Farma Tbk ... 64

Gambar 7: Struktur Organisasi PT Unilever Indonesia Tbk ... 69

(17)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pada dasarnya tujuan utama yang harus dicapai oleh perusahaan adalah memaksimumkan profit perusahaan dan memaksimumkan kemakmuran pemegang saham yang dapat ditempuh dengan memaksimumkan nilai sekarang yang diharapkan akan diperoleh di masa datang. Dengan demikian, maka sangat diperlukan pihak manajemen yang dapat dipandang sebagai agen atau pelaksana dari pemilik perusahaan yang diberikan wewenang dan kekuasaan untuk mengambil keputusan terbaik yang dapat menguntungkan pemilik perusahaan salah satunya manajer keuangan.

Fungsi utama seorang manajer keuangan adalah pengambilan keputusan investasi, keputusan pembelanjaan dan keputusan kebijakan deviden. Ketiga keputusan keuangan tersebut dapat diimplementasikan dalam kegiatan sehari-hari sehingga laba yang diperoleh diharapkan mampu meningkatkan nilai perusahaan yang tercermin pada semakin tingginya harga saham, sehingga kemamkuran para pemegang saham dengan sendirinya semakin bertambah.

Berkembangnya teknologi dan ekonomi saat ini, maka banyak perusahaan yang bersaing untuk dapat mempertahankan kelangsungan usahanya. Ini dapat ditentukan oleh kinerja suatu perusahaan yang dapat dilihat dari laporan keuangan perusahaan itu sendiri. Laporan keuangan ini

(18)

satu-satunya dokumen yang dapat kita peroleh untuk memahami perusahaan dan biasanya diterbitkan secara tahunan, bulanan atau triwulan karena laporan keuangan merupakan alat komunikasi utama perusahaan.

Untuk memahami informasi keuangan yang terdapat dalam laporan keuangan, maka diperlukan analisis laporan keuangan. Hasil analisis laporan keuangan akan mampu menginterpretasikan berbagai hubungan kunci dan kecenderungan yang dapat memberikan dasar pertimbangan mengenasi potensi keberhasilan perusahaan di masa datang. Untuk menganalisis laporan keuangan, dapat digunakan analisis rasio yaitu teknik analisis laporan keuangan yang paling banyak digunakan.

Dengan menggunakan alat analisa berupa rasio ini akan dapat menjelaskan atau memberi gambaran kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi dibandingkan dengan angka rasio pembanding yang digunakan sebagai standard. Analisis rasio sendiri bertujuan untuk menilai efektivitas keputusan yang telah diambil oleh perusahaan dalam rangka menjalankan aktivitas usahanya.

(19)

3

menambah piutang untuk mengatasi kesulitan tersebut, atau mengambil kebijakan lain.

Studi mengenai kebangkrutan perusahaan pertama kali dikemukakan oleh Beaver pada tahun 1966 yang menggunakan rasio keuangan pada lima tahun sebelum terjadi kebangkrutan. Tujuan dari penelitiannya yaitu mengetahui apakah rasio-rasio keuangan terpilih bisa digunakan untuk mendeteksi kebangkrutan dan berapa lama kebangkrutan tersebut akan terjadi sejak rasio-rasio keuangan mengalami penurunan atau menjadi tidak sehat. Beaver membuat enam kelompok rasio yaitu: cash flow rations, net income rations, debt-to-total asset rations, liquid asset-to-current rations,

turnover rations, dan liquid asset-to-total asset rations. Beaver menemukan bahwa rasio dari cash flow rations terhadap total debt merupakan predictor yang paling baik untuk menentukan tingkat kebangkrutan sebuah perusahaan.

Metode Altman muncul pada tahun 1968, analisis rasio keuangan ini menjadi topik menarik setelah Altman menemukan suatu formula untuk mendeteksi kebangkrutan perusahaan dengan istilah yang sangat terkenal yaitu Z-Score. Z-Score adalah skor yang ditentukan dari hitungan standar dikalikan rasio-rasio keuangan yang akan menunjukkan tingkat kemungkinan kebangkrutan perusahaan. Untuk memprediksi tingkat kebangkrutan perusahaan, maka terdapat 5 (lima) rasio keuangan yang digunakan dalam metode Z-Score antara lain Working Capital to Total Asset

atau Modal Kerja dibagi Total Asset, Retained Earning to Total Asset atau Laba Ditahan dibagi Total Aktiva, Earning Before Income Tax to Total Asset

(20)

Equity To Book Value Of Debt atau Nilai Pasar Ekuitas dibagi dengan Nilai Buku Hutang, dan Sales To Total Asset atau Penjualan dibagi Total Aktiva.

Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis memilih judul “Analisis Z-Score Untuk Mengukur Kesehatan Keuangan Perusahaan Yang Terdaftar Di BEI (Studi Kasus Pada PT. Astra Agro Lestari, Tbk.,

PT. Indocement Tunggal Prakarsa. Tbk., PT. Indofood Sukses Makmur. Tbk., PT. Kalbe Farma. Tbk., PT. Unilever Indonesia, Tbk.,

Periode 2011 – 2015)”.

1.2 Identifikasi Masalah

Tahun 1968 Altman menemukan formula yang akan menunjukkan tingkat kesehatan suatu perusahaan dengan menggunakan formula Z-Score. Berikut ini merupakan 3 formula Z-Score yang ditemukan dan dikembangkan oleh Altman, diantaranya:

1) Original Z-Score

Fungsi formula Z-Score ditemukan pada 1968 yang ditujukan untuk perusahaan manufaktur yang go-public.

Z−Score=1,2X1+1,4X2+3,3X3+0,6X4+1,0X5

Dimana:

X1 = Working Capital / Total Asset

X2 = Retained Earning / Total Asset

(21)

5

X4 = Market Value Of Equity / Book Value Of Debt

X5 = Sales / Total Asset

Nilai untuk hasil perhitungan Original Z-Score adalah sebagai berikut:

 Apabila nilai Z-Score diatas (Z > 2,99) diklasifikasikan sebagai perusahaan yang sehat.

 Apabila nilai Z-Score antara 1,81 sampai 2,99 (1,81 – 2,99) maka perusahaan mengalami ketidakpastian dalam masalah keuangan sehingga dapat diklasifikasikan sebagai Gray Area

atau Abu-abu.

 Apabila nilai Z-Score dibawah (Z < 1,81) diklasifikasikan sebagai perusahaan yang tidak sehat.

2) Model Z’-Score

Pada penelitian selanjutnya, Altman mengembangkan formula Z-Score dan mendapat 2 formula baru yaitu model Z’-Score dan model

Z’’-Score. Model Z’-Score dikembangkan untuk perusahaan manufaktur tertutup.

Z'Score=0,71X1+0,847X2+3,117X3+0,42X4+0,998X5 Dimana:

X1 = Working Capital / Total Asset

X2 = Retained Earning / Total Asset

(22)

X4 = Market Value Of Equity / Book Value Of Debt

X5 = Sales / Total Asset

Nilai untuk hasil perhitungan Model Z’-Score adalah sebagai berikut:

 Apabila nilai Z’-Score diatas (Z’ > 2,90) diklasifikasikan sebagai perusahaan yang sehat.

 Apabila nilai Z’-Score antara 1,23 sampai 2,90 (1,23 – 2,90) maka perusahaan mengalami ketidakpastian dalam masalah keuangan sehingga dapat diklasifikasikan sebagai Gray Area

atau Abu-abu.

 Apabila nilai Z’-Score dibawah (Z’ < 1,23) diklasifikasikan sebagai perusahaan yang tidak sehat.

3) Model Z’’-Score

Model ini digunakan untuk mengukur tingkat kesehatan suatu perusahaan yang bukan merupakan perusahaan manufaktur. Model ini tidak menghitung rasio X5 (Sales to Total Assets).

Z' 'Score=6,56X1+3,26X2+6,72X3+1,05X4

Dimana:

X1 = Working Capital / Total Asset

X2 = Retained Earning / Total Asset

(23)

7

X4 = Market Value Of Equity / Book Value Of Debt

Nilai untuk hasil perhitungan Model Z’’-Score adalah sebagai berikut:

 Apabila nilai Z’’-Score diatas (Z’’ > 2,60) diklasifikasikan sebagai perusahaan yang sehat.

 Apabila nilai Z’’-Score antara 1,1 sampai 2,60 (1,1 – 2,60) maka perusahaan mengalami ketidakpastian dalam masalah keuangan sehingga dapat diklasifikasikan sebagai Gray Area

atau Abu-abu.

 Apabila nilai Z’’-Score dibawah (Z’’ < 1,1) diklasifikasikan sebagai perusahaan yang tidak sehat.

Berasarkan uraian di atas maka untuk mengukur tingkat kesehatan keuangan perusahaan, penulis menggunakan formula Original Z-Score

untuk perusahaan manufaktur yang go-public di Bursa Efek Indonesia (BEI) yaitu PT. Astra Agro Lestari, Tbk., PT. Indocement Tunggal Prakarsa. Tbk.,

PT. Indofood Sukses Makmur. Tbk., PT. Kalbe Farma. Tbk., PT. Unilever Indonesia, Tbk., Periode 2011 – 2015.

1.3 Rumusan Masalah

(24)

“Bagaimana analisis model Z-Score dapat mengukur kesehatan keuangan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yaitu PT. Astra Agro Lestari, Tbk., PT. Indocement Tunggal Prakarsa. Tbk., PT. Indofood Sukses Makmur. Tbk., PT. Kalbe Farma. Tbk., PT. Unilever Indonesia, Tbk., periode 2011 – 2015?”

1.4 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data dan informasi yang digunakan untuk menganalisis dan mengetahui kesehatan keuangan perusahaan. Tujuan penelitian ini sebagai berikut:

“Untuk mengetahui kesehatan keuangan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yaitu PT. Astra Agro Lestari, Tbk., PT. Indocement Tunggal Prakarsa. Tbk., PT. Indofood Sukses Makmur. Tbk.,

PT. Kalbe Farma. Tbk., PT. Unilever Indonesia, Tbk., periode 2011 – 2015 dengan menggunakan analisis model Z-Score.”

1.5 Manfaat dan Kegunaan Penelitian

(25)

9

1.5.1 Kegunaan Akademis 1) Bagi Pembaca

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi untuk penyusunan penelitian selanjutnya khususnya yang membahas topik yang sama.

2) Bagi Penulis

Penelitian ini adalah salah satu karya ilmiah yang tentunya dapat menambah wawasan penulis dan pengetahuan mengenai manajemen keuangan khsusnya tentang “Analisis

Z-Score Untuk Melihat Kesehatan Keuangan Perusahaan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia”.

1.5.2 Kegunaan Praktis

Diharapkan dapat bermanfaat dan mampu memberikan kontribusi kepada pihak perusahaan sebagai bahan pertimbangan bagi perusahaan dan lembaga terkait dalam rangka memberikan tambahan pengetahuan dalam menentukan kebijakan menganalisis kelangsungan hidup perusahaan untuk mendeteksi sejak dini ancaman kebangkrutan sehingga pihak perusahaan dapat mempertahankan usahanya untuk masa yang akan datang dalam pengambilan keputusan untuk mengendalikan kinerja perusahaan. 1.6 Penelitian Terdahulu

(26)

pada PT. Aneka Tambang, Tbk.”, berdasarkan nilai Z-Score yang diperoleh oleh PT. Aneka Tambang, Tbk. > 2,90 maka perusahaan diprediksikan berpeluang besar aman dari ancaman kebangkrutan (keuangan sehat atau kinerja baik). Dalam hal ini PT. Aneka Tambang Tbk.memperoleh nilai Z-Score selama periode tahun 2007 – 2011 sebesar 4,90 – 3,15. Walaupun PT. Aneka Tambang, Tbk. dapat diprediksikan berpeluang besar aman dari ancaman kebangkrutan (keuangan sehat atau kinerja baik), namun jika melihat perhitungan nilai Z-Score perusahaan dari tahun ketahun terus mengalami penurunan, bahkan perhhitungan ramalan trend nilai Z-Score

untuk tahun 2012 menurun yaitu 2,97044, tahun 2013 sebesar 2,75540, tahun 2014 sebesar 2,58983, tahun 2015 sebesar 2,47375, dan tahun 2016 sebesar 2,40715. Ini dapat disimpulkan bahwa kesehatan perusahaan dari tahun ketahun mengalami penurunan. Sehingga diharapkan PT. Aneka Tambang Tbk. dapat melihat kecenderungan diskriminasi yang selalu berubah nilainya sehingga mengakibatkan nilai Z-Score perusahaan menurun, diskriminasi itulah yang secara berkala dan berkesinambungan harus di kontrol dan dijaga agar tetap stabil sehingga tidak mempengaruhi kesehatan perusahaan.

(27)

11

tindakan. Dalam hal ini PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk., hanya mendapatkan nilai Z-Score antara 0,41 – 0,89 selama periode tahun 2000 – 2004. Walaupun PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk., dapat diprediksikan akan mengalami kebangkrutan, namun jika kita melihat perhitungan nilai Z-Score perusahaan dari tahun ketahun terus mengalami peningkatan atau kenaikan, bahkan perhitungan ramalan trend nilai Z-Score

tahun sebelumnya yang hanya sebesar 0,889800735058. Ini dapat disimpulkan bahwa perusahaan dari tahun ketahun berangsur-angsur membaik dan terus mengalami peningkatan perbaikan kesehatan keuangn perusahaan dalam hal ini PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. terus-menerus berusaha untuk memperbaiki kesehatan perusahaannya dan pada kenyataannya usaha tersebut membuahkan hasil yang cukup menggembirakan.

1.7 Kerangka Pemikiran

(28)

memperlihatkan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan, biaya-biaya yang terjadi selama periode tertentu.

Untuk memahami informasi keuanngan yang terdapat dalam laporan keuangan, maka diperlukan analisis laporan keuangan. Untuk menganalisa laporan keuangan dapat digunakan analisis rasio yaitu teknik analisis laporan keuangan yang paling banyak digunakan. Analisis rasio menggambarkan suatu hubungan atau perimbangan antara jumlah tertentu dengan jumlah lain, dan dengan menggunakan alat analisa berupa rasio ini akan dapat menjelaskan atau memberi gambaran kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan. Analisis rasio sendiri bertujuan untuk menilai efektivitas keputusan yang telah diambil oleh perusahaan dalam rangka menjalankan aktivitas usahanya.

Dari laporan keuangan tersebut maka dapat dilakukan suatu analisis yang bertujuan untuk mengukur kesehatan keuangan perusahaan dengan menggunakan analisis Z-Score yaitu skor yang ditentukan dari hitungan standar dikalikan rasio-rasio keuangan yang akan menunjukkan tingkat kemungkinan kebangkrutan perusahaan.

Berikut ini adalah bagan kerangka pemikiran untuk menjelaskan pemikiran dan analisis:

(29)

13

Bagan Kerangka Pemikiran

1.8 Metodologi Penelitian 1.8.1 Desain Penelitian

Analisis model Altman Z-Score ialah sebagai objek dalam penelitian ini dalam memprediksi kebangkrutan pada perusahaan yang

go-public di Bursa Efek Indonesia (BEI). Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dari laporan tahunan perusahaan yang terdaftar di BEI. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kesehatan keuangan perusahaan pada periode 2011–2015.

Penelitian dilakukan pada perusahaan yang go-public di Bursa Efek Indonesia (BEI), yaitu antara lain:

1) PT. Astra Agro Lestari Tbk Laporan Keuangan

Laporan Laba Rugi Neraca

Analisis Z-Score

(30)

2) PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk 3) PT. Indofood Sukses Makmur Tbk 4) PT. Kalbe Farma Tbk

5) PT. Unilever Indonesia Tbk

1.8.2 Variabel dan Pengukuran

Penelitian ini menggunakan variabel melihat kesehatan keuangan perusahaan. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan metode Altman Z-Score.

1.8.3 Definisi Operasionalisasi Variabel

Menurut M. Azis Firdaus (2012: 24), operasionalisasi variabel adalah ketika suatu dimensi masih dianggap terlalu abstrak, maka peneliti perlu menyusun suatu indikator dan seterusnya, samapi indikator tersebut dianggap mampu mewakili dimensi tersebut. Opersionalisasi variabel memberikan batasan penelitian dan memberikan arahan pada tahap implementasi penelitian. Operasionalisasi variabel juga memperlihatkan kepada pembaca, dimensi apa saja yang akan dianalisis serta hubungan antar variabelnya.

Tabel 1

(31)

15

Tujuan VARIABLE DIMENSI DATA

Mengukur kesehatan keuangan

perusahaan

X1

Working Capital Laporan Neraca tahun

2011 – 2015

Total Asset Laporan Neraca tahun

2011 – 2015

X2

Retained Earning Laporan Neraca tahun

2011 – 2015

Total Asset Laporan Neraca tahun

2011 – 2015

Total Asset Laporan Neraca tahun

2011 – 2015

X4

Market Value Of Equity Laporan Neraca tahun

2011 – 2015

Book Value Of Debt Laporan Neraca tahun

2011 – 2015

X5

Sales Laporan Laba Rugi tahun

2011 – 2015

Total Asset Laporan Neraca tahun

2011 – 2015

Tabel 2

Nilai Z-Score untuk perusahaan manufaktur yang go-public

Klasifikasi Z-Score Interpretasi

Sehat > 2,99

Tingkat kesehatan keuangan perusahaan dinyatakan dalam perusahaan sehat

Gray Area

(Ragu-ragu) 1,81 – 2,99

Perusahaan mengalami ketidakpastian dalam masalah keuangan (Gray Area

atau Abu-abu)

Tidak Sehat < 1,81

Perusahaan mengalamai masalah keuangan, sehingga perusahaan dinyatakan tidak sehat

1.8.4 Populasi dan Sampel

(32)

peneliti untuk diteliti dan kemudian ditarik kesimpulannya. Sedangkan sampel adalah bagian dari sejumlah karakteristik yang dimiliki oleh populasi yang digunakan untuk penelitian.

1.8.4.1 Pengambilan Populasi

Dalam penelitian ini populasinya adalah perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yaitu, periode 2011 – 2015.

1.8.4.2 Prosedur Penarikan Sampel

Pemilihan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling yaitu ketika sumber data sangat terbatas, atau sangat banyak, penentuan sampel dapat dilakukan dengan memilih beberapa tenaga ahli atau pejabat tertentu yang memiiki kompetensi dan kapabilitas terkait penelitian, dengan tujuan untuk memperoleh pertimbangan tertentu (M. Azis Firdaus, 2012: 32). Sampel pada penelitian ini menggunakan karakteristik sebagai berikut:

1) Perusahaan terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) 2) Perusahaan menerbitkan laporan keuangan berupa

neraca dan laporan laba rugi selama periode 2011 – 2015

(33)

17

Dari karakteristik diatas maka jumlah sampel dalam penelitian ini diambil 5 perusahaan yaitu sampel dari PT. Astra Agro Lestari, Tbk., PT. Indocement Tunggal Prakarsa. Tbk., PT. Indofood Sukses Makmur. Tbk., PT. Kalbe Farma. Tbk., PT. Unilever Indonesia, Tbk.

1.8.5 Jenis, Sumber dan Teknik atau Cara Pengumpulan Data

Adapun teknik dalam pengumpulan data-data serta informasi yang diperlukan untuk menyusun skripsi, penulis menggunakan metode penelitian yaitu dengan cara berikut:

1.8.5.1 Jenis Data

Data dikelompokkan menjadi dua data berdasarkan sifat data, yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif merupakan data yang tidak dalam bentuk angka. Sedangkan data kuantitatif merupakan data yang berbentuk angka (numeric). Dalam penelitian ini jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif. Data yang di ambil adalah data yang terdapat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

1.8.5.2 Sumber Data

(34)

tersedia di perpustakaan atau buku-buku yang berhubungan dengan penelitian ini yang tentunya akan membantu dalam menganalisa dan menginterprestasikan posisi keuangan suatu perusahaan serta mengolah data-data keuangan perusahaan yang diperoleh.

1.8.5.3 Teknis atau Cara Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh penulis adalah sebagai berikut:

1) Studi Pustaka

Dalam mengadakan penelitian ini, peneliti mengumpulkan data-data yang mendukung dan relevan dengan topik permasalah di atas. Tujuan dari studi ini adalah untuk memperoleh data sekunder, data yang diperoleh dimaksudkan untuk memperoleh suatu gambaran maupun landasan teori dalam merumuskan permasalahan dan menganalisa data atau informasi mengenai hasil penelitian. Data-data yang dibutuhkan berupa laporan keuangan perusahaan, laporan neraca per 2011 – 2015 dan laporan laba rugi periode 2011 – 2015 yang telah dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

(35)

19

Penelitian lapangan dilakukan untuk memperoleh informasi dan data-data yang diperlukan yaitu melalui Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai perantara penyedia data-data yang diperlukan dari perusahaan terkait.

1.8.6 Metode Analisis Data

Agar suatu data yang sudah dikumpulkan dapat bermanfaat, maka harus diolah dan dianalisis terlebih dahulu sehingga dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan. Tujuan metode analisis data adalah untuk menginterprestasikan dan menarik kesimpulan dari sejumlah data yang terkumpul.

Pada penelitian kali ini, penulis hanya menggunakan satu instrument untuk mengukur kesehatan keuangan perusahaan. Instumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode Z-Score, yaitu dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1) Menghitung rasio keuangan, yaitu:  X1 = Working Capital / Total Asset

 X2 = Retained Earning / Total Asset

 X3 = Earning Before Income Tax / Total Asset

 X4 = Market Value Of Equity / Book Value Of Debt

 X5 = Sales / Total Asset

(36)

Z−Score=1,2X1+1,4X2+3,3X3+0,6X4+1,0X5

3) Melakukan interpretasi dari hasil perhitungan atau klasifikasi sesuai dengan nilai Z-Score yang telah ditentukan, dengan nilai

Z-Score:

Z > 2,99 : Perusahaan dalam kondisi sehat.  1,81 – 2,99 : Perusahaan berada dalam kondisi

ketidakpastian atau abu-abu (Gray Area).

Z < 1,81 : Perusahaan dalam kondisi tidak sehat.

1.9 Waktu dan Lokasi Penelitian

(37)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Manajemen

2.1.1 Pengertian Manajemen

Manajemen menurut Stoner dalam buku karangan Hani Handoko (2013: 8) yang berjudul “Manajemen”, manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.

Menurut Stephen P. Robbins dan Mary Coulter (2002 : 6) dalam buku “Management” menjelaskan:

“Management as the process of coordinating work activities so that they are completed efficiently and effectively with and through other people.”

Yang dimaksud oleh Stephen P. Robbins dan Mary Coulter adalah manajemen sebagai proses mengkoordinasikan kegiatan kerja sehingga mereka selesai secara efisien dan efektif dengan dan melalui orang lain.

Sedangkan menurut Thomas Sumarsan (2013: 2) melalui buku “Sistem Pengendalian Manajemen: Konsep, Aplikasi, dan Pengukuran Kinerja”, mengemukakan bahwa manajemen diartikan sebagai seni dalam proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian sumber daya untuk mencapai tujuan/sasaran kinerja.

(38)

Dengan kata lain, manajemen merupakan seni atau proses dalam menyelesaikan sesuatu yang terkait dengan pencapaian tujuan organisasi agar dapat dicapai secara efektif dan efisien.

2.1.2 Fungsi Manajemen

Manajemen diperlukan dalam kegiatan bisnis agar dapat berjalan secara efektif dan efisien. Manajemen sebagai seni juga berfungsi sebagai pencapaian tujuan yang nyata yang diharapkan mendatangkan hasil dan manfaat. Terdapat 4 (empat) fungsi utama dalam manajemen yang diterangkan oleh Nikels, McHugh and McHugh (1997) dalam buku karangan Ernie Tisnawati Sule dan Kurniawan Saefullah (2008: 8), diantaranya:

1) Perencaaan (Planning)

Perencanaan atau Planning adalah proses yang menyangkut upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi kecenderungan di masa yang akan datang dan penentuan strategi dan taktik yang tepat untuk mewujudkan target dan tujuan organisasi. Perencanaan merupakan mendefinisikan tujuan organisasi dan mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi karena perencanaan dianggap sebagai salah satu fungsi manajemen yang terpenting maka tanpa perencanaan maka fungsi-fungsi lain tidak akan dapat berjalan.

2) Pengorganisasian (Organizing)

(39)

23

bahwa semua pihak dalam organisasi dapat bekerja secara efektif dan efisien guna pencapaian tujuan organisasi.

3) Pengarahan (Actuating)

Pengarahan atau Atuating adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan manajerial dan usaha-usaha organisasi. Jadi, ini berarti menggerakkan orang-orang agar mau bekerja dengan sendirinya atau penuh kesadaran secara bersama-sama untuk mencapai tujuan yang dikehendaki secara efektif.

4) Pengawasan (Controlling)

Pengawasan atau Controlling adalah proses yang dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan yang telah direncanakan, diorganisasikan, dan diarahkan agar bisa berjalan sesuai dengan target yang diharapkan sekalipun berbagai perubahan terjadi dalam lingkungan dunia bisnis yang dihadapai. Fungsi ini berkenaan dengan pengawasan terhadap aktivitas karyawan menjaga organisasi agar tetap berada pada jalur yang sesuai dengan sasaran dan melakukan koreksi apabila diperlukan.

2.2 Manajemen Keuangan

2.2.1 Pengertian Manajemen Keuangan

(40)

maupun usaha pengumpulan dana untuk pembiayaan investasi atau pembelanjaan secara efisien.

Manajemen keuangan menurut Suad Husnan dan Enny Pudjiastuti (2016 : 3) dalam bukunya yang berjudul “Dasar-dasar Manajemen Keuangan” mendefinisikan manajemen keuangan sebagai pengaturan kegiatan keuangan dalam suatu organisasi. Manajemen keuangan menyangkut kegiatan perencanaan, analisis dan pengendalian kegiatan keuangan. Manajemen keuangan membicarakan pengelolaan keuangan, yang pada dasarnya dapat dilakukan baik oleh individu, perusahaan maupun pemerintah.

Menurut Scott, Martin, Petty dan Keown (1999: 2) dalam bukunya yang berjudul “Basic Financial Management”

menjelaskan:

“Financial management is concerned with the maintenance and creation of economic value or wealth. Consequently, this course focuses on decision making with an eye toward creating wealth. As such, we will deal with financial decision such as when to introduce a new product, when to invest in new assets, when to replace existing assets, when to borrow from banks, when to issue stocks or bonds, when to extend credit to a customer, and how much cash to maintain.”

(41)

25

Dengan demikian, kita akan berurusan dengan keputusan keuangan seperti ketika memperkenalkan produk baru, ketika untuk berinvestasi dalam asset baru, kapan harus mengganti asset yang ada, ketika meminjam dari bank, ketika menerbitkan saham atau obligasi, kapan harus memberikan kredit ke pelanggan, dan berapa banyak uang tunai untuk mempertahankan.

Menurut Sutrisno (2013: 3) dalam bukunya yang berjudul “Manajemen Keuangan Teori, Konsep Dan Aplikasi”, mengemukakan definisi manajemen keuangan yang dapat diartikan sebagai semua aktivitas perusahaan yang berhubungan dengan usaha-usaha mendapatkan dana perusahaan dengan biaya yang murah serta usaha untuk menggunakan dan mengalokasikan dana tersebut secara efisien. Usaha mendapatkan dana sering disebut pembelanjaan pasif, dan akan terlihat di sisi pasiva pada neraca. Sedangkan mengalokasikan dana disebut pembelanjaan aktif dan akan terlihat di sisi aktiva.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa manajemen keuangan adalah segala aktivitas perusahaan yang berhubungan dengan pengalokasian dana dan usaha-usaha dalam mendapatkan dana dalam rangka memenuhi kebutuhan operasi sehari-hari maupun untuk mengembangkan perusahaan.

(42)

Menurut Agus Sartono (2001: 6) dalam bukunya yang berjudul “Manajemen Keuangan Teori Dan Aplikasi”, pada prinsipnya fungsi utama seorang manajer keuangan meliputi: pengambilan keputusan investasi, pengambilan keputusan pembelanjaan, dan kebijakan dividen. Fungsi pertama menyangkut tentang keputusan alokasi dana baik dana yang berasal dari dalam perusahaan maupun dana yang berasal dari luar perusahaan pada berbagai bentuk investasi. Secara garis besar, manajer keuangan bertanggung jawab menentukan perimbangan yang optimal setiap jenis asset perusahaan.

Pada fungsi kedua, manajer keuangan berfungsi sebagai pengambil keputusan pembelanjaan atau pembiayaan investasi. Keputusan pembelanjaan ini menjawab berbagai pertanyaan penting, salah satunya seperti bagaimana pembelanjaan kegiatan perusahaan yang optimal. Sedangkan dalam fungsi ketiga, seorang manajer keuangan adalah kebijakan dividen. Pada prinsipnya kebijakan dividen menyangkut tentang keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan seharusnya dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen kas dan pembelian kembali saham atau laba tersebut sebaiknya ditahan dalam bentuk laba ditahan guna pembelanjaan investasi di masa datang.

Menurut Danang Sunyoto (2013: 12) dalam buku “Dasar-Dasar Manajemen Keuangan Perusahaan”, fungsi manajemen keuangan meliputi:

(43)

27

2) Penganggaran Keuangan, tindak lanjut dari perencanaan keuangan dengan membuat detail pengeluaran dan pemasukan. 3) Pengelolaan Keuangan, menggunakan dana perusahaan untuk

memaksimalkan dana yang ada dengan berbagai cara.

4) Pencarian Keuangan, mencari dan mengeksploitasi sumber dana yang ada untuk operasional kegiatan perusahan.

5) Penyimpanan Keuangan, mengumpulkan dana perusahaan serta menyimpan dan mengamankan dana tersebut.

6) Pengendalian Keuangan, melakukan evaluasi serta perbaikan atas keuangan dan sistem keuangan pada perusahaan.

7) Pemeriksaan Keuangan, melakukan audit internal atas keuangan perusahaan yang ada agar tidak terjadi penyimpangan.

8) Pelaporan Keuangan, penyediaan informasi tentang kondisi keuangan perusahaan sekaligus sebagai bahan evaluasi.

2.3 Laporan Keuangan

2.3.1 Pengertian Laporan Keuangan

Menurut Kasmir (2014: 7) dalam bukunya yang berjudul “Analisis Laporan Keuangan”, dalam pengertian yang sederhana, laporan keuangan adalah laporan yang menunjukkan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau dalam suatu periode tertentu. Maksud laporan keuangan yang menunjukkan kondisi perusahaan saat ini merupakan kondisi terkini. Kondisi perusahaan terkini adalah keadaan keuangan perusahaan pada tanggal tertentu (untuk neraca) dan periode tertentu (untuk laporan laba rugi). Dengan adanya laporan keuangan, dapat diketahui posisi perusahaan terkini setelah menganalisis laporan keuangan tersebut dianalisis.

(44)

(Ikatan Akuntan Indonesia atau IAI, Jakarta 1974) mengatakan pengertian laporan keuangan sebagai berikut: Laporan keuangan ialah neraca dan perhitungan rugi laba serta segala keterangan-keterangan yang dimuat dalam lampiran-lampirannya antara lain laporan sumber dan penggunaan dana-dana.

Sedangkan menurut Munawir (2010: 5), pada umumnya laporan keuangan itu terdiri dari neraca dan perhitungan rugi laba serta laporan perubahan modal. Neraca menunjukkan atau menggambarkan jumlah aktiva, hutang dan modal dari suatu perusahaan pada tanggal tertentu. Sedangkan perhitungan (laporan) rugi laba memperlihatkan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan serta biaya yang terjadi selama periode tertentu, dan laporan perubahan modal menunjukkan sumber dan penggunaan atau alasan-salasan yang menyebabkan perubahan modal perusahaan.

(45)

29

2.3.2 Tujuan Laporan Keuangan

Menurut Hery (2015: 4) dalam bukunya yang berjudul “Analisis Laporan Keuangan”, tujuan keseluruhan dari laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi yang berguna bagi investor dan kreditor dalam pengambilan keputusan investasi dan kredit.

Laporan keuangan juga seharusnya memberikan informasi mengenai asset, kewajiban, dan modal perusahaan untuk membantu investor dan kreditor serta pihak-pihak lainnya dalam mengevaluasi kekuatan dan kelemahan keuangan perusahaan, serta tingkat likuiditas dan sovabilitas perusahaan. Informasi ini akan membantu pengguna menentukan kondisi keuangan perusahaan.

Sedangkan menurut Kasmir (2014: 10), secara umum laporan keuangan bertujuan untuk memberikan informasi keuangan suatu perusahaan baik pada saat tertentu maupun pada periode tertentu. Jelasnya adalah laporan keuangan mampu memberikan informasi keuangan kepada pihak dalam dan luar perusahaan yang memiliki kepentingan terhadap perusahaan.

Berikut ini beberapa tujuan pembuatan atau penyusunan laporan keuangan, yaitu:

(46)

kemampuan sumber daya yang ada untuk pertumbuhan perusahaan.

2) Memberikan informasi yang terpercaya tentang sumber kekayaan bersih yang berasal dari kegiatan usaha dalam mencari laba dengan maksud memberikan informasi kepada manajemen untuk digunakan dalam pelaksanaan fungsi perencanaan dan pengendalian, menunjukkan tingkat kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba jangka panjang serta memberikan gambaran tentang jumlah dividen yang diharapkan pemegang saham.

3) Memungkinkan untuk menaksir potensi perusahaan dalam menghasilkan laba.

4) Memberikan informasi yang diperlukan tentang perubahan asset dan kewajiban.

5) Mengungkapkan informasi relevan lainnya yang dibutuhkan oleh para pemakai laporan.

6) Memberikan informasi tentang jumlah biaya dan jenis biaya yang dikeluarkan perusahaan dalam suatu periode tertentu serta mengenai catatan-catatan atas laporan keuangan.

2.3.3 Jenis-Jenis Laporan Keuangan

(47)

31

1) Neraca adalah laporan keuangan yang memberikan informasi mengenai posisi keuangan (aktiva, kewajiban, dan ekuitas) perusahaan pada saat tertentu.

2) Laporan laba rugi adalah laporan keuangan yang memberikan informasi mengenai kemampuan (potensi) perusahaan dalam menghasilkan laba (kinerja) selama periode tertentu.

2.3.4 Kelemahan Laporan Keuangan

Menurut Aktiva P. Nayla (2013: 31) dalam bukunya yang berjudul “Cara Praktis Menyusun Laporan Keuangan”, kelemahan laporan keuangan ialah sebagai berikut:

1) Laporan keuangan tidak bisa disajikan secara rinci, karena hanya dikelompokkan pada akun-akun atau tabel-tabel dengan kode tertentu.

2) Laporan keuangan tidak selalu bisa disajikan tepat waktu, karena proses pengerjaannya rumit dan membutuhkan waktu lebih lama.

3) Laporan keuangan sering disebut sebagai laporan yang kedaluwarsa. Hal ini, sekali lagi, karena proses pengerjaannya yang rumit dan membutuhkan waktu lama.

(48)

5) Laporan keuangan terkadang tidak mudah dipahami bagi orang awam. Hal ini dikarenakan laporan keuangan disajikan dengan bahasa teknis akuntansi, baik yang menggunakan bahasa Indonesia maupun bahasa Internasional atau Inggris.

6) Laporan keuangan memiliki konsep atau aturan yang berubah-ubah setiap tahun. Hal ini dikarenakan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang merupakan prinsip dari laporan keuangan masih terus disempurnakan oleh Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI).

7) Laporan keuangan tidak dapat menggambarkan berbagai faktor yang dapat mempengaruhi keadaan keuangan perusahaan. 8) Laporan keuangan tidak dilengkapi pengertian khusus yang

menjelaskan istilah-istilah teknis yang digunakan di dalamnya. 9) Laporan keuangan bersifat umum dan bukan ditujukan untuk

memenuhi kebutuhan perusahaan, sehingga informasi yang disajikan sering tidak terarah dan hanya memperhatikan kebutuhan semua pihak yang berkepentingan yang sebenarnya mempunyai perbedaan kepentingan.

10) Laporan keuangan hanya mengacu pada obyek analisis laporan keuangan. Padahal, untuk menilai laporan keuangan tidak cukup hanya dilihat dari angka-angka yang disajikan di dalam tabel laporan keuangan.

(49)

33

melihat aspek-aspek lainnya, seperti tujuan perusahaan, situasi ekonomi, situasi industri, gaya manajemen, dan budaya perusahaan.

12) Laporan keuangan bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian, terlebih ketika di dalamnya terdapat beberapa kesimpulan yang tidak pasti mengenai penilaian suatu pos. 13) Laporan keuangan menggunakan angka-angka dalam rupiah

yang tampak pasti dan tepat, akan tetapi sebenarnya angka-angka tersebut tidak dapat dijadikan sebagai panduan pasti dalam skala internasional, karena standar nilai rupiah yang sering berubah-ubah.

2.4 Analisis Laporan Keuangan

2.4.1 Pengertian Analisis Laporan Keuangan

Agar laporan keuangan menjadi lebih berarti sehingga dapat dipahami dan dimengerti oleh berbagai pihak, perlu dilakukan analisis laporan keuangan. Menurut Hery (2015: 132), pengertian analisis laporan keuangan merupakan suatu proses untuk membedah laporan keuangan ke dalam unsur-unsurnya dan menelaah masing-masing dari unsur tersebut dengan tujuan untuk memperoleh pengertian dan pemahanam yang baik dan tepat atas laporan keuangan itu sendiri.

(50)

dengan perusahaan lain yang berada dalam industri yang sama. Hal ini berguna bagi arah perkembangan perusahaan dengan mengetahui seberapa efektif operasi perusahaan telah berjalan. Analisis laporan keuangan sangat berguna tidak hanya bagi internal perusahaan saja, tetapi juga bagi investor dan kreditor dalam pengambilan keputusan investasi dan kredit. Hasil analisis laporan keuangan ini akan membantu analis menginterpretasikan berbagai hubungan kunci antar pos laporan keuangan dan kecenderungan yang dapat dijadikan dasar dalam potensi keberhasilan perusahaan di masa mendatang.

Sedangkan menurut Munawir (2010: 35) mengemukakan bahwa analisa laporan keuangan adalah analisa-analisa laporan keuangan terdiri dari penelaahan atau mempelajari daripada hubungan-hubungan dan tendensi atau kecenderungan (trend) untuk menentukan posisi keuangan dan hasil operasi serta perkembangan perusahaan yang bersangkutan.

Hasil analisis laporan keuangan juga akan memberikan informasi tentang kelemahan dan kekuatan yang dimiliki perusahaan, ini juga akan tergambar bagaimana manajemen perusahaan selama ini berjalan dengan baik atau sebaliknya. Dengan mengetahui kelemahan ini, manajemen akan dapat memperbaiki atau menutupi kelemahan tersebut. Kemudian, kekuatan yang dimiliki perusahaan harus dipertahankan atau bahkan ditingkatkan. Kekuatan ini dapat dijadikan modal selanjutnya ke depan.

(51)

35

posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan serta menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan perusahaan pada masa yang lalu dan memprediksi kemungkinan kondisi dan kinerja perusahaan pada masa mendatang.

2.4.2 Tujuan Analisis Laporan Keuangan

Menurut Munawir (2010: 31), tujuan analisa laporan keuangan adalah alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan yang bersangkutan. Data keuangan tersebut akan lebih berarti bagi pihak-pihak yang berkepentingan apabila data tersebut diperbandingkan untuk dua periode atau lebih, dan dianalisa lebih lanjut sehingga dapat diperoleh data yang akan dapat mendukung keputusan yang akan diambil.

Sedangkan menurut Hery (2015: 133), tujuan dan manfaat dari dilakukannya analisis laporan keuangan adalah:

1) Untuk mengetahui posisi keuangan perusahaan dalam suatu periode tertentu, baik asset, liabilitas, ekuitas, maupun hasil usaha yang telah dicapai selama beberapa periode.

2) Untuk mengetahui kelemahan-kelemahan yang menjadi kekurangan perusahaan.

3) Untuk mengetahui kekuatan-kekuatan yang menjadi keunggulan perusahaan.

(52)

5) Untuk melakukan penilaian kinerja manajemen.

6) Sebagai pembanding dengan perusahaan sejenis, terutama mengenai hasil yang telah dicapai.

2.4.3 Langkah-Langkah Melakukan Analisis Laporan Keuangan Analisis laporan keuangan perlu dilakukan secara cermat dengan menggunakan metode yang tepat sehingga hasil yang diharapkan benar-benar tepat pula, ini harus dilakukan secara teliti, mendalam, dan jujur.

Berikut adalah langkah-langkah dalam melakukan analisis laporan keuangan menurut Kasmir (2014: 69), diantaranya:

1) Mengumpulkan data keuangan dan data pendukung yang diperlukan selengkap mungkin, baik untuk satu periode maupun beberapa periode.

2) Melakukan pengukuran-pengukuran atau perhitungan-perhitungan dengan rumus-rumus tertentu, sesuai dengan standar yang biasa digunakan secara cermat dan teliti, sehingga hasil yang diperoleh benar-benar tepat.

3) Melakukan perhitungan dengan memasukkan angka-angka yang ada dalam laporan keuangan secara cermat.

4) Memberikan interpretasi terhadap hasil perhitungan dan pengukuran yang telah dibuat.

5) Membuat laporan tentang posisi keuangan perusahaan.

6) Memberikan rekomendasi yang dibutuhkan sehubungan dengan hasil analisis tersebut.

(53)

37

1) Analisis Vertical (Statis)

Analisis vertical merupakan analisis yang dilakukan terhadap hanya satu periode laporan keuangan saja. Analisis dilakukan antara pos-pos yang ada, dalam satu periode. Informasi yang diperoleh hanya untuk satu periode saja dan tidak diketahui perkembangan dari periode ke periode tidak diketahui.

2) Analisis Horizontal (Dinamis)

Analisis horizontal merupakan analisis yang dilakukan dengan membandingkan laporan keuangan untuk beberapa periode. Dari hasil analisis ini akan terlihat perkembangan perusahaan dari periode yang satu ke periode yang lain.

2.5 Analisis Z-Score

2.5.1 Pengertian Analisis Z-Score

Studi mengenai kebangkrutan perusahaan pertama kali dikemukakan oleh Beaver pada tahun 1966 yang menggunakan rasio keuangan pada lima tahun sebelum terjadi kebangkrutan. Tujuan dari penelitiannya yaitu mengetahui apakah rasio-rasio keuangan terpilih bisa digunakan untuk mendeteksi kebangkrutan dan berapa lama kebangkrutan tersebut akan terjadi sejak rasio-rasio keuangan mengalami penurunan atau menjadi tidak sehat. Beaver membuat enam kelompok rasio yaitu: cash flow rations, net income rations, debt-to-total asset rations, liquid asset-to-current rations, turnover

(54)

predictor yang paling baik untuk menentukan tingkat kebangkrutan sebuah perusahaan.

Metode Altman muncul pada tahun 1968, analisis rasio keuangan ini menjadi topik menarik setelah Altman menemukan suatu formula untuk mendeteksi kebangkrutan perusahaan dengan istilah yang sangat terkenal yaitu Z-Score.

Menurut Agus Sartono (2001: 115) dalam bukunya yang berjudul “Manajemen Keuangan Teori Dan Aplikasi”, Z-Score

adalah skor yang ditentukan dari hitungan standar dikalikan rasio-rasio keuangan yang akan menunjukkan tingkat kemungkinan kebangkrutan perusahaan.

Menurut Darsono (2007: 58) dalam buku “Manajemen Keuangan”, Altman dengan teorinya analisis diskriminan menyatakan bahwa rasio keuangan sangat terbatas, karena rasio itu dihitung secara parsial. Agar rasio itu sempurna seharusnya diuji dengan perhitungan statistik secara regresi. Altman menyajikan index dari berbagai variabel bebas untuk menentukan apakah suatu perusahaan itu akan bangkrut (tidak sehat) atau tidak bangkrut (sehat).

Menurut Sofyan Syafri Harahap (2010: 353) dalam bukunya yang berjudul “Analisis Kritis Laporan Keuangan”, menjelaskan mengenai suatu rumusan dalam bentuk Bankruptcy Prediction Mode

(55)

39

diketahui angka tertentu yang akan menjadi bahan untuk memprediksi kapan kemungkinan suatu perusahaan akan bangkrut.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa metode Z-Score (Altman) adalah suatu alat yang memperhitungkan dan menggabungkan beberapa rasio-rasio keuangan tertentu dalam perusahaan dalam suatu persamaan diskriminan yang akan menghasilkan skor tertentu dan akan menunjukkan tingkat kemungkinan kebangkrutan perusahaan.

2.5.2 Rasio-Rasio Keuangan Metode Z-Score

Dalam metode Altman Z-Score ini, terdapat 5 (lima) indikator dari rasio-rasio keuangan yang digunakan untuk melihat perbedaan antara perusahaan yang bangkrut dan perusahaan yang tidak bangkrut, antara lain:

1) Working Capital to Total Asset atau Modal Kerja dibagi Total Asset

Menurut Fred Weston dalam buku karangan Kasmir (2015: 129) yang berjudul “Analisis Laporan Keuangan” bahwa rasio likuiditas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban (utang) jangka pendek. Artinya apabila perusahaan ditagih, perusahaan akan mampu untuk memenuhi utang tersebut terutama utang yang sudah jatuh tempo.

(56)

suatu perusahaan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kegunaan rasio ini adalah untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam membiayai dan memenuhi kewajiban (utang) pada saat ditagih. Caranya adalah dengan membandingkan komponen yang ada di neraca, yaitu total aktiva lancar dengan total passiva lancar (utang jangka pendek).

Menurut Dwi Prastowo (2014: 83) dalam buku “Analisis Laporan Keuangan Konsep dan Aplikasi”, modal kerja merupakan selisih antara total aktiva lancar dan utang lancar. 2) Retained Earning to Total Asset atau Laba Ditahan dibagi Total

Aktiva

Rasio ini merupakan rasio profitabilitas untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan dan memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan. Rasio ini digunakan untuk mengukur atau menghitung laba yang diperoleh perusahaan dalam satu periode tertentu (Kasmir, 2014: 196-197). Retained earning

adalah laba ditahan dan total assest adalah semua assets yang ada di dalam perusahaan tersebut.

3) Earning Before Income Tax to Total Asset atau Laba Sebelum Pajak dan Bunga dibagi Total Aktiva

(57)

41

(Kasmir, 2014: 161). EBIT adalah laba sebelum bunga dan pajak yang diperoleh perusahaan tersebut. Sedangkan total assest adalah total aktiva yang ada di dalam perusahaan tersebut.

4) Market Value Of Equity To Book Value Of Debt atau Nilai Pasar Ekuitas dibagi dengan Nilai Buku Hutang

Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam memberikan jaminan kepada setiap hutangnya melalui modalnya sendiri. Market Value of Equity disini adalah jumlah lembar saham tahunan dikali dengan harga saham perlembar tahunan dan Book Value of Debt adalah keseluruhan hutang baik hutang lancar maupun hutang tidak lancar.

5) Sales To Total Asset atau Penjualan dibagi Total Aktiva

Menurut Harahap (2010: 309), rasio ini menunjukkan perputaran total aktiva (Total Asset Turn Over) diukur dari volume penjualan dengan kata lain seberapa jauh kemampuan semua aktiva menciptakan penjualan. Semakin tinggi rasio ini semakin baik.

Menurut Irham Fahmi (2014: 135) dalam buku “Analisis Laporan Keuangan”, rasio ini melihat sejauh mana keseluruhan asset yang dimiliki oleh perusahaan terjadi perputaran secara efektif.

Secara keseluruhan rumus Z-Score adalah rasio-rasio keuangan yang digunakan dalam metode Z-Score (Altman), yang dikemukakan oleh Darsono (2007: 115) diantaranya:

(58)

Dimana:

X1 = Working Capital / Total Asset

X2 = Retained Earning / Total Asset

X3 = Earning Before Income Tax / Total Asset

X4 = Market Value Of Equity / Book Value Of Debt

X5 = Sales / Total Asset

Kelima rasio inilah yang akan digunakan dalam menganalisa laporan keuangan suatu perusahaan untuk mengukur tingkat kesehatan keuangan perusahaan tersebut.

Dengan memasukkan rasio-rasio keuangan ke dalam model tersebut maka dapat ditentukan besarnya kemungkinan kebangkrutan. Jika Z-Score lebih kecil dibanding 2,675 maka kemungkinan perusahaan bangkrut akan lebih besar dibanding dengan perusahaan dengan skor Z di atas 2,675. Altman menyatakan perusahaan dengan Z-Score lebih dari 2,99 secara tegas dapat dikategorikan ke dalam skor non-bangkrut, jika Z-Score

menunjukkan 1,81 berarti bangkrut. Sementara jika skor Z-nya di antara kedua angka tersebut maka resiko kebangkrutan perusahaan tersebut dapat diabaikan (zone of ignorance).

Apabila perhitungan metode Z-Score telah dilakukan dengan serangkaian rasio-rasio keuangan yang dimasukkan dalam suatu persamaan formula Z-Score, maka akan menghasilkan suatu angka atau skor tertentu. Angka ini memiliki penjelasan atau interpretasi tertentu.

(59)

43

 Apabila nilai Z-Score diatas (Z > 2,99) diklasifikasikan sebagai perusahaan yang sehat.

 Apabila nilai Z-Score antara 1,81 sampai 2,99 (1,81 – 2,99) maka perusahaan mengalami ketidakpastian dalam masalah keuangan sehingga dapat diklasifikasikan sebagai Gray Area

atau Abu-abu.

(60)

3.1 Gambaran Umum Bursa Efek Indonesia (BEI)

3.1.1 Sejarah dan Perkembangan Bursa Efek Indonesia (BEI)

Secara historis, pasar modal telah hadir jauh sebelum Indonesia merdeka. Pasar modal atau bursa efek telah hadir sejak jaman kolonial Belanda dan tepatnya pada tahun 1912 di Batavia. Pasar modal ketika itu didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk kepentingan pemerintah kolonial atau VOC.

Meskipun pasar modal telah ada sejak tahun 1912, perkembangan dan pertumbuhan pasar modal tidak berjalan seperti yang diharapkan, bahkan pada beberapa periode kegiatan pasar modal mengalami kevakuman. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti perang dunia ke I dan II, perpindahan kekuasaan dari pemerintah kolonial kepada pemerintah Republik Indonesia, dan berbagai kondisi yang menyebabkan operasi bursa efek tidak dapat berjalan sebagimana mestinya.

Pemerintah Republik Indonesia mengaktifkan kembali pasar modal pada tahun 1977, dan beberapa tahun kemudian pasar modal mengalami pertumbuhan seiring dengan berbagai insentif dan regulasi yang dikeluarkan pemerintah.

(61)

47

Secara singkat, tonggak perkembangan pasar modal di Indonesia dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 3

Sejarah Singkat Bursa Efek Indonesia (BEI)

Desember 1912 Bursa Efek pertama di Indonesia dibentuk di Batavia oleh Pemerintah Hindia Belanda

1914 – 1918 Bursa Efek di Batavia ditutup selama Perang Dunia I

1925 – 1942 Bursa Efek di Jakarta dibuka kembali bersama denganBursa Efek di Semarang dan Surabaya

Awal tahun 1939 Karena isu politik (Perang Dunia II) Bursa Efek diSemarang dan Surabaya ditutup

1942 – 1952 Bursa Efek di Jakarta ditutup kembali selama Perang Dunia II

1956 Program nasionalisasi perusahaan Belanda. Bursa Efeksemakin tidak aktif 1956 – 1977 Perdagangan di Bursa Efek vakum

10 Agustus 1977

Bursa Efek diresmikan kembali oleh Presiden Soeharto. BEJ dijalankan dibawah BAPEPAM (Badan Pelaksana Pasar Modal).

Pengaktifan kembali pasar modal ini juga ditandai dengan go public PT Semen Cibinong sebagai emiten pertama

1977 – 1987

Perdagangan di Bursa Efek sangat lesu. Jumlah emiten hingga 1987 baru mencapai 24.

Masyarakat lebih memilih instrumen perbankan dibandingkan instrumen Pasar Modal

(62)

melakukan Penawaran Umum dan investor asing (PPUE), sedangkan organisasinya terdiri dari broker dan dealer

Desember 1988

Pemerintah mengeluarkan Paket Desember 88 (PAKDES 88) yang memberikan kemudahan perusahaan untuk go public dan beberapa kebijakan lain yang positif bagi pertumbuhan pasar modal

16 Juni 1989

Bursa Efek Surabaya (BES) mulai beroperasi dan dikelola oleh Perseroan Terbatas milik swasta yaitu PT Bursa Efek Surabaya

Sistem Otomasi perdagangan di BEJ dilaksanakan dengan sistem computer JATS (Jakarta Automated Trading Systems)

10 November 1995

Pemerintah mengeluarkan Undang –Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Undang-Undang ini mulai diberlakukan mulai Januari 1996

1995 Bursa Paralel Indonesia merger dengan Bursa Efek Surabaya

2000 Sistem Perdagangan Tanpa Warkat (scripless trading) mulai diaplikasikan di pasar modal Indonesia

2002 BEJ mulai mengaplikasikan sistem perdagangan jarak jauh (remote trading)

2007

Penggabungan Bursa Efek Surabaya (BES) ke Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan berubah nama menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI)

02 Maret 2009

(63)

49

Efek Indonesia

3.1.2 Visi dan Misi Bursa Efek Indonesia (BEI) 1) Visi

Menjadi bursa yang kompetitif dengan kredibilitas tingkat dunia.

2) Misi

Menciptakan daya saing untuk menarik investor dan emiten, melalui pemberdayaan Anggota Bursa dan Partisipan, penciptaan nilai tambah, efisiensi biaya serta penerapan good governance.

3.1.3 Struktur Organisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) Gambar 2

(64)
(65)

51

3.2 Tinjauan Perusahaan PT. Astra Agro Lestari Tbk

3.2.1 Sejarah dan Perkembangan Perusahaan PT. Astra Agro Lestari Tbk

Sebagai salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit terbesar di Indonesia yang sudah beroperasi sejak 35 tahun lalu, PT Astra Agro Lestari Tbk (Perseroan) dapat dipandang sebagai role model dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit.

Selain itu, melalui model kemitraan dengan masyarakat baik plasma maupun IGA (Income Generating Activities), Perseroan telah mewujudkan visinya untuk menjadi perusahaan panutan dan berkontribusi untuk pembangunan dan kesejahteraan bangsa.

Referensi

Dokumen terkait

Selain membahas perubahan fonologis pada sejumlah kata yang umum diucapkan oleh masyarakat Indramayu, dalam penelitian ini juga dilakukan penelitian mengenai faktor

Hipotesis tindakannya adalah penerapan model pembelajaran role playing dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia materi cerita rakyat pada siswa kelas V SD

Berdasarkan hasil analisis data hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat hubungan penerapan strategi problem based learning dengan hasil belajar matematika siswa

Tidak adanya kardiomegali tidak dapat menyingkirkan adanya kemungkinan penyakit katub atau disfungsi sistolik ventrikel kiri.Selanjutnya, jika didapatkan adanya

Sifat ZnO yang mudah bereaksi menjadikan bahan tersebut dapat disintesis menjadi nanopartikel sebagai filler pada pembuatan bio- nanokomposit film berbahan

Deskripsi SIngkat MK Mata kuliah ini dirancang untuk membekali pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dengan mengedepankan penguasaan topik utama berupa penguasaan

Jawab :.. Sifat dari gerbang dasar yang dibentuk oleh universal NAND Gate adalah memiliki sifat yang sama dengan gerbang dasar logika itu sendiri. Hanya saja yang membedakan

Jenis perubahan penggunaan lahan di Kawasan Koridor Jalan Raya Juanda yang terjadi dari tahun 2012 sampai tahun 2016 terdapat pada 18 kavling yang mengalami