37
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Profil Perusahaan
PT Surya Perdana Lestari adalah salah satu perusahaan yang fokus di bidang food and beverage dengan konsep lounge and resto.Perusahaan ini berdiri pada Agustus 2001. Untuk saat ini, PT Surya Perdana Lestari menjadi pelopor wine di Indonesia khususnya kotaJakarta.
PT Surya Perdana Lestari menjadi perusahaan wine pertama di Jakarta sebelum adanya perusahaan pesaingnya seperti PT Megaguna Usaha Bersama (Vin+), PT Mitra Indo Bogajaya (Cork&Screw) dan PT Decanter Indonesia (Decanter).
PT Surya Perdana Lestari memiliki dua outlet di mall yang berbeda, yaitu Apero diground floorMall City Walk yang beralamat di jalan KH. Mas Mansyur No 121 Tanah Abang, Jakarta Pusat dan Connoisseur di ground floor Mall Cilandak Town Squareyang berlokasi di Jl T.B. Simatupang Kav 17.
4.1.1 Visi Misi Perusahaan
Visi PT Surya Perdana Lestari yaitu memperluas pangsa pasar wine di Indonesia khususnya kotaJakarta dengan misinya memberikan pelayanan terbaik di bidang food and beverage bagi penikmat entertain di bidang tersebut.
4.1.2 Struktur Organisasi Perusahaan
Gambar 4.1 Struktur Organisasi Sumber: Wawancara dengan supervisor PT Surya Perdana Lestari
Di struktur organisasi pemilik PT Surya Perdana Lestari ditempatkan teratas dalam bagan struktur organisasi PT Surya Perdana Lestari.Pemilik biasanya melihat tingkat pendapatan dan pengeluaran perusahaan.Selain itu, pemilik juga ikut memikirkan peluang-peluang dalam memperluas pangsa pasar.
PT Surya Perdana Lestari memiliki satu kantor pusat dan dua outlet, yaitu Apero di ground floorMall City Walk yang beralamat di jalan KH. Mas Mansyur No 121 Tanah Abang, Jakarta Pusat dan Connoisseur di ground floor Mall Cilandak Town Square yang berlokasi di Jl T.B. Simatupang Kav 17.
4.1.3 Jenis Produk Perusahaan
Di bidang beverage, PT Surya Perdana Lestari menyediakan berbagai jenis minuman beralkohol dengan kadar alkohol yang berbeda-beda pada setiap jenisnya, seperti Cocktail dengan kadar alkohol 40%, Spirit dengan kadar alkohol >15% dan Wine dengan kadar alkohol 13,5%
Beberapa dari ratusan jenis produk minuman alkohol yang didistribusikan oleh PT Surya Perdana Lestari antara lain:
Cocktail : B51,B52, Black Russian, Blue Bubble, Blue Hawaiian, Caipiroska, Caipiroska Strawberry, Casanova, Chi-chi, Cuba, Libre, Daiquiri, Dublin Double, Flaming Bikini, Gin Tonic, Illusion, KO, Long Island, Mai Tai, Manhattan, Margarita, Martini Dry, Muddy Dry, Pinacolada
Spirit
• Super Premium Scotch Whisky : Chivas Regal 18 YO • Premium Scotch Whisky : Johnnie Walker Black Label • Scotch Whisky : Ballantine’s Finest
• Single Malt Whisky : Ardmore Cask • American Whisky : Jack Daniel’s
• Canadian Whisky : Canadian Club Whisky • Irish Whisky : John Jamesonn
• Gin Whisky : Crystal Gin, Glibeys Gin • Super Premium Vodka : Belvedere • Premium Vodka : Absolut Blue • Standard Vodka : Red Square
• Flavoured Vodka : Grey Goose Citron • Rum : Havana Rum
• Tequila : Sauza
• Aperitif/ Vermouth : Martini Dry • Liquer : Kahlua
Wine
Tabel 4.1 Macam-macam Jenis Wine
Negara White Wine Red Wine
Australia
Carlo Rossi White Hardy's Eileen Shiraz Leeuwin Estate Art Series
Chardonnay Penfold Grange
French
E Guigal Condrieu Blanc Chateau Beychevelle St Julien Grand Cru Classe 4 th
Louis Latour Puligny Montrachet
Chateau Lynch Bages Pauillac Grand Cru Classe 5 th
Californian
Robert Mondavi Napa Valley Fume Blanc
Livingstone Cabernet Souvignon
Simi Sonoma Chardonnay Robert Mondavi Napa Valley Cabernet Souvignon
Chilean
Casa Lapostelle Souvignon Blanc Almaviva- Moutin Rotschild Montes Alpha Chardonnay Erraz Vinedo Chadwick
Spanish Vina Esmeralda Vega Sicilia Valbuena
Marques De Riscal Rueda Lomasol Reserva
New Zealand
Cloudy Bay Chardonnay Cloudy Bay Pinot Noir Drylands Malborough Pinot Gris House of Nobilo Malborough
Pinot Noir
Italian Corte Giara Soave Luce Della Vite Luce
Canti Gavi Docg Zonin Valpolicella
Portuguese
Ferreira Reserva
Altano Tinto Douro Doc, Symington Family Estate
Argentinean
Terrazas Mendoza Valley
Chardonnay Kaiken Cabernet Souvignon
Terrazas Mendoza Valley Cabernet Souvignon
South African Libertas Chardonnay
Nederburg Duet Shiraz Pinotage
Obikwa Souvignon Blanc Neethlingshoff Merlot
German
Kircheimer Romerstrasse Scheurebe
Eiswein
Wehlener Sonenuh Riesling Spatlese Sumber : Wawancara dengan supervisor PT Surya Perdana Lestari
4.2 Pengukuran Kinerja dengan Metode SCOR 4.2.1 Pemetaan Level 1
PT Surya Perdana Lestari dalam menjalankan distribusi menerapkan supply chain yang melibatkan berbagai tahapan mata rantai dari pemasok hingga pelanggan.
Gambar 4.2 Supply chain Produk Minuman Wine Sumber: Wawancara dengan sekretaris PT Surya Perdana Lestari
Keterangan : Aliran Material Aliran Informasi
Pada pemetaan level 1 terdapat ruang lingkup unsur-unsur proses SCOR pada supply chain PT Surya Perdana Lestari.
Tabel 4.2 Ruang Lingkup Unsur-unsur Proses SCOR
Unsur Proses Pemasok
PT Surya Perdana Lestari
(Distributor) Pelanggan Plan Perencanaan bahan baku anggur untuk difermentasi
Membuat forecasting (peramalan persediaan), Membuat perencanaan keuangan, Promosi Perencanaan pembelian Source Membuat kesepakatan dengan petani anggur
Membuat kesepakatan dengan
pemasok dalam melakukan
pemesanan jenis produk, jumlah produk, biaya produk, ongkos pengiriman
Pembelian ke distributor
Make Proses
produksi
Tidak ada proses make karena PT Surya Perdana Lestari merupakan distributor
Tidak ada proses make karena pelanggan langsung mengkonsumsi produk
Deliver Melakukan packaging dan pengiriman produk ke distributor (biasanya melalui jalur udara)
Melakukan packaging dan pengiriman produk kepelanggan (biasanya melalui jalur darat)
Tidak melakukan proses pengiriman karena dikonsumsi sendiri Return Menerima kembali produk yang rusak namun peristiwa produk rusak hampir tidak pernah terjadi
Mengembalikan produk yang rusak ke pemasok namun peristiwa tersebut hampir tidak pernah terjadi
Mengembalikan ke
distributordan mendapat
ganti rugi berupa produk atau uang kembali namun peristiwa ini hampir tidak pernah terjadi
Sumber : Wawancara dengan supervisor PT Surya Perdana Lestari
4.3 SCOR Model Level 1
Berdasarkan wawancara dengan manajer HRD PT Surya Perdana Lestari, terdapat dua tujuan perusahaan, yaitu:
1) Pelayanan terhadap pelanggan yang memuaskan 2) Tingginya tingkat profit perusahaan
Tujuan pertama dapat dicapai melalui tiga atribut kinerja, diantaranya Supply chain reliability, Supply chain responsiveness dan Supply chain flexibility. Sedangkan tujuan kedua dapat dicapai melalui dua atribut kinerja, diantaranyaSupply chain cost dan Supply chain asset management.
Dari setiap atribut kinerja terdapat level metrik seperti Supply chain reliability memiliki metrik perfect order fulfillment (POF), Supply chain responsiveness memiliki metrik Order Fulfillment Cycle Time (OFCT), Supply chain flexibility memiliki metrik Upside Supply chain Flexibility (USCF), Supply chaincost
memiliki metrik Cost of Goods Sold (COGS), Supply chain asset management memiliki metrikCash-to-Cash Cycle Time (CTCCT).
Selanjutnya membandingkan data aktual dengan data benchmark untuk mengetahui besarnyagap antara kinerja PT Surya Perdana Lestari dengan pesaing-pesaingnya (benchmark) dan menghitung kinerja target.Dalam SCOR model tidak boleh terdapat lebih dari satu tujuan bisnis dengan kinerja target pada posisi superior.Oleh karena itu, kinerja target untuk COGS ditetapkan pada posisi advantage dan kinerja target untuk CTCCT ditetapkan pada posisi parity.Berikut ini penghitungan SCOR model pada perusahaan distributor.
Tabel 4.3 Metrik SCOR Model Level 1
Atribut Kinerja Level 1 Metrik
Data
Aktual Superior Advantage Parity
Supply chain reliability Perfect Order Fulfillment (POF) 100% 100% 91,67% 72,72% Supply chain responsiveness
Order Fulfillment Cycle
Time (OFCT) 1 hari 7 hari 4 hari 3 hari
Supply chain
flexibility
Upside Supply chain
Flexibility (USCF) N/A N/A N/A N/A
Supply chain cost
Cost of Goods Sold
(COGS) 61,10% 7,41% 26,80% 92%
Supply chain asset management
Cash-to-Cash Cycle
Time (CTCCT) 1 hari 1 hari 1 hari 11 hari
Sumber : Data Distribusi Tahun 2013 PT Surya Perdana Lestari
Keterangan : Data aktual (PT Surya Perdana Lestari), superior (PT Megaguna Usaha Bersama), advantage (PT Mitra Indo Bogajaya), parity (PT Decanter Indonesia)
Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa Perfect Order Fulfillment (POF) dari data aktual (PT Surya Perdana Lestari) sudah mencapai tingkat Superior, kemudian Order Fulfillment Cycle Time (OFCT)kurang dari Superior. Untuk Upside Supply chain Flexibility (USCF) tidak tersedia karena PT Surya Perdana Lestari tidak mengalamijumlah hari yang dibutuhkan untuk mencapai peningkatan tak terencana secara berkelanjutan sebanyak 20% dari jumlah produk yang dikirim.Sedangkan Cost of Goods Sold (COGS) berada diantara Advantage dan Parity. KemudianCash to Cash Cycle Time (CTCCT) berada pada tingkat Superior.
Selanjutnya, menghitung gap dan kinerja target.Gap analysis bertujuan untuk menghitung kesenjangan antara PT Surya Perdana Lestari dengan pesaingnya. Besarnya gap analysis disajikan dalam tabel 4.4. Kemudian menghitung besarnya Opportunity untuk menghitung besarnya pendapatan perusahaan apabila metrik-metrik tersebut mencapai posisi yang ditargetkan.Terdapat beberapa metode SCOR model yang dapat digunakan untuk menghitung besarnya opportunity, salah satunya adalah the lost opportunity measure (LOM).
Tabel 4.4Gap analysis antara Data Aktual dengan Kinerja Target
Atribut Kinerja Level 1 Metrik
Data Aktual Superi or Advantag e Parity Req uire men t Gap Opp ortun ity Supply chain reliability Perfect Order Fulfillment (POF) 100% 100% 91,67% 72,72% - - Supply chain responsiveness Order Fulfillment Cycle Time
(OFCT) 1 hari 7 hari 4 hari 3 hari 6 hari - Supply chain flexibility Upside Supply chain Flexibility
(USCF) N/A N/A N/A N/A N/A N/A
Supply chain cost
Cost of Good Sold (COGS) 61,10% 7,41 % 26,80 % 92% 34,3 % Rp 10.5 09.3 01,4 2 Supply chain asset
management
Cash- to- Cash
Cycle Time
(CTCCT) 1 hari 1 hari 1 hari 11 hari 10 hari - Sumber : Data Distribusi Tahun 2013 PT Surya Perdana Lestari
Keterangan : N/A = Not Available (tidak tersedia)
Tabel 4.5Perhitungan Opportunity untuk COGS dengan LOM
Komponen Hasil Perhitungan
Total Pendapatan Rp 382.992.034
COGS aktual 61,10%
COGS target (advantage) 26,80% Total Pendapatan x COGS aktual
(a) Rp 234.008.132,8
Total Pendapatan x COGS target
(b) Rp 102.641.865,1
Selisih (a) dan (b) Rp 131.366.267,7
Laba Kotor 8%
Laba Kotor x Selisih
(opportunity) Rp 10.509.301,42
Sumber: Hasil Perhitungan Data 2014
Perhitunganopportunity untuk POF dengan LOM tidak ada karena data aktual dari metrik perfect order fulfillment sudah mencapai superior. Pada tabel 4.5 penurunan dari persentase COGS aktual ke persentase COGS target menandakan peningkatan dalam laba kotor.
Untuk menemukan perbedaan penerapan SCOR model versi 10.0 pada perusahaan distributor dengan perusahaan produksi maka selanjutnya penulis akan menghitung SCOR model pada perusahaan produksi (PT Rohul Sawit Industri)
Tabel 4.6 Metrik Level 1 PT Rohul Sawit Industri Atribut
Kinerja
Level 1 Metrik
Data
Aktual Superior Advantage Parity
Requirement Gap Opportunity Supply chain reliability Perfect Order Fulfillment (POF) 87,07% 89,38% 76,89% 65,50% 2,31% Rp 881.922.248,4 Supply chain responsiveness Order
Fulfillment 2 hari 1 hari 1 hari 1 hari 1 hari
Mempertahankan jumlah waktu
Atribut Kinerja
Level 1 Metrik
Data
Aktual Superior Advantage Parity
Requirement Gap Opportunity Cycle Time (OFCT) pengiriman yang cepat Supply chain flexibility Upside Supply Chain Flexibility
(USCF) N/A N/A N/A N/A - -
Supply chain cost Cost of Good Sold (COGS) 77,13% 83,50% 51,43% 81,12% 25,7% Rp 13.400.000.000 Supply chain asset management Cash -to - Cash Cycle Time (CTCCT)
1 hari 2 hari 3 hari 2 hari 1 hari
Mempertahankan jumlah waktu pengiriman yang
cepat
Sumber : Data Distribusi Tahun 2013 PT Rohul Sawit Industri
Keterangan : Data aktual (PT Rohul Sawit Industri), superior (PT Bina Sains Corp), advantage (PT Bumi Permai Lestari), parity (PT Gunung Mas Raya)
Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa Perfect Order Fulfillment (POF) dari data aktual (PT Rohul Sawit Industri) belum mencapai tingkat Superior, kemudian Order Fulfillment Cycle Time (OFCT) lebih lama dibandingkan Superior. Untuk Upside Supply chain Flexibility (USCF) tidak tersedia karena PT Rohul Sawit Industri tidak mengalamijumlah hari yang dibutuhkan untuk mencapai peningkatan tak terencana secara berkelanjutan sebanyak 20% dari jumlah produk yang dikirim. Sedangkan Cost of Goods Sold (COGS) berada diantara Advantage dan Parity. Kemudian Cash to Cash Cycle Time (CTCCT) sudah mencapai target kinerja.
Selanjutnya, menghitung gap dan kinerja target.Gap analysis bertujuan untuk menghitung kesenjangan antara PT Surya Perdana Lestari dengan pesaingnya.
Besarnya gap analysis disajikan dalam tabel 4.7 dan table 4.8. Kemudian menghitung besarnya Opportunity untuk menghitung besarnya pendapatan perusahaan apabila metrik-metrik tersebut mencapai posisi yang ditargetkan.Terdapat beberapa metode SCOR model yang dapat digunakan untuk menghitung besarnya opportunity, salah satunya adalah the lost opportunity measure (LOM).
Tabel 4.7 Perhitungan Opportunity untuk POF dengan LOM (PT Rohul Sawit Industri)
Komponen Hasil Perhitungan
Total Pendapatan Rp 69.072.857.846,42
POF aktual 87,70%
POF target (superior) 89,38%
Total Pendapatan x ((100-POF aktual)/100) (a) Rp 8.495.961.514 Total Pendapatan x ((100-POF target)/100) (b) Rp 7.335.537.503
Selisih (a) dan (b) Rp 1.160.424.011
Laba Kotor 76%
Laba Kotor x Selisih (opportunity) Rp 881.922.248,4 Sumber: Hasil Perhitungan Data 2014
Tabel 4.8 Perhitungan Opportunity untuk COGS dengan LOM (PT Rohul Sawit Industri)
Komponen Hasil Perhitungan
Total Pendapatan Rp 69.072.857.846,42
COGS aktual 77,13%
COGS target (advantage) 51,43%
Total Pendapatan x COGS aktual (a) Rp 53.200.000.000 Total Pendapatan x COGS target (b) Rp 35.500.000.000
Selisih (a) dan (b) Rp 17.700.000.000
Laba Kotor 76%
Laba Kotor x Selisih (opportunity) Rp 13.400.000.000 Sumber: Hasil Perhitungan Data 2014
Pada SCOR model level 2 terdapat tiga tipe proses, yaitu planning(perencanaan), execution (pelaksanaan), enable (hal yang mendukung perencanaan dan pelaksanaan). Berikut akan dijelaskan tipe proses SCOR pada PT Rohul Sawit Industri :
1) Planning
Dari hasil wawancara pada PT Rohul Sawit Industri dapat dinyatakan proses perencanaan tidak ada masalah. Proses perencanaan tersebut meliputi perencanaan persediaan bahan baku (kelapa sawit), perencanaan produksi, perencanaan pengiriman kepada pelanggan dan perencanaan produk kembali jika ada produk yang rusak.
2) Execution
Dari hasil wawancara pada PT Rohul Sawit Industri diperoleh suatu masalah yaitu keterlambatan kedatangan bahan baku (kelapa sawit). Hal ini terjadi karena pada masa-masa tertentu hasil panen dari petani kelapa sawit tidak maksimal, sehingga dalam memenuhi kebutuhan bahan baku perusahaan terganggu baik dalam waktu maupun jumlah yang berakibat pada tidak terpenuhinya kebutuhan pelanggan.
3) Enable
Dari hasil wawancara pada PT Rohul Sawit Industri dinyatakan bahwa yang mendukung dari proses perencanaan dan pelaksanaan adalah sistem informasi berupa web PT Rohul Sawit Industri yang mempermudah pelanggan dalam mengenal PT Rodul Sawit Industri.
Berikut ditampilkan gambar mengenai aktivitas dari proses plan, source, make, deliver dan return pada PT Rohul Sawit Industri
Gambar 4.3 Pemetaan Level 2 pada PT Rohul Sawit Industri Sumber : Wawancara dengan perwakilan dari PT Rohul Sawit Industri
Dari gambar diatas, dapat dilihat PT Rohul Sawit Indutri melakukan proses planning dengan kode berupa P1,P2,P3,P4,P5, proses execution dengan kode berupa S2, M2, D2, DR1, SR1 dan enable. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa permasalahan yang dihadapi PT Rohul Sawit Industri adalah keterlambatan pengiriman bahan baku dengan kode S2 (Source to order).
Dalam SCOR model level 2, terdapat dua jenis pemetaan yaitu geographic map dan thread diagram. Keduanya digunakan untuk menjelaskan aliran material dan aliran informasi dari pemasok ke pelanggan
Gambar 4.4 Geographic Map pada PT Rohul Sawit Industri Sumber : Wawancara dengan perwakilan dari PT Rohul Sawit Industri
Pengembalian
Dari gambar diatas, dapat dilihat pengiriman dan pengembalian produk antara pemasok, PT Rohul Sawit Indutri dan pelanggan.Selanjutnya, penulis membuat thread diagramguna memperjelas dalam pencarian penyebab permasalahan dari PT Rohul Sawit Industri.
Gambar 4.5 Thread Diagram pada PT Rohul Sawit Industri Sumber : Wawancara dengan perwakilan dari PT Rohul Sawit Industri
Keterangan : Aliran Material Aliran Informasi
Dari gambar diatas, dapat dilihat aliran material dan aliran informasi produk antara pemasok, PT Rohul Sawit Indutri dan pelanggan.Penyebab permasalahan terjadi di S2 (source to order) pengadaan material bila ada pesanan dan M2 (make to order) proses produksi bila ada pesanan. Dari S2 dan M2 tidak terhubung dengan baik seharusnya terdapat aliran informasi yang terhubung pada S2 dengan M2 sebab aktivitas pengadaan material (bahan baku) membutuhkan informasi seberapa banyak material yang dibutuhkan dalam proses produksi. Hal ini jugadapat menjadi penyebab keterlambatan pada pengadaan bahan baku
4.5 SCOR Model Level 3
Pada SCOR model level 3 terdapat tiga tahap, yaitu input(masukan), process elements (proses unsur) dan output (keluaran). Berikut ditampilkan gambar mengenai pengelolaan persediaan material (bahan baku) pada PT Rohul Sawit Industri
Gambar4.6 Pemetaan Level 3 pada PT Rohul Sawit Industri Sumber : Wawancara dengan perwakilan dari PT Rohul Sawit Industri
Dari gambar pemetaan level 3, penulis meneliti lebih lanjut untuk menemukan penyebab permasalahan pada PT Rohul Sawit Industri.Metode yang digunakan adalah metode fishbone analysis.Dari gambar fishbone analysisditemukan akar permasalahan yaitu lemahnya pengelolaan material (bahan baku) dan juga ditemukan penyebab terjadinya akar permasalahan tersebut.
Gambar 4.7Analisis Fishbone pada PT Rohul Sawit Industri Sumber : Wawancara dengan perwakilan dari PT Rohul Sawit Industri
4.6 Perbedaan Penerapan SCOR Model pada Perusahaan Distributor dengan Perusahaan Produksi
Penulis juga ingin mengungkap perbedaan penerapan SCOR model pada perusahan distributor dengan perusahaan produksi.Penelitian tersebut untuk mengungkapapa sajakah kekurangan dari SCOR model jika diterapkan pada perusahaan distributor. Perbedaan ini disajikan pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.9Perbedaan Penerapan SCOR Model pada Perusahaan Distributor dengan Perusahaan Produksi
Pembanding
SCOR model pada perusahaan distributor
SCOR model pada perusahaan produksi
Proses SCOR model
Plan, Source, Distribution, Deliver, Return
Plan, Source, Make, Deliver, Return
Komponen penghitungan Cost of Good Sold (COGS)
Biaya administrasi dan Biaya
promosi Biaya material, Biaya tenaga kerja, Biaya tambahan
Gap analysis Tidak ada Ada
Opportunity Measurement Tidak ada Ada
Tahap pemetaan level 2 Tidak ada Ada
Tahap pemetaan level 3 Tidak ada Ada
Perfect Order Fulfillment Jumlah pesanan bermasalah sedikit
Jumlah pesanan bermasalah banyak
Sumber : Analisa Penulis (2014)
Kesimpulan yang dapat diambil dari analisa perbedaan penerapan SCOR model pada perusahaan distributor dengan perusahaan produksi adalah penerapan SCOR model lebih tepat diterapkan pada perusahaan produksi karena perusahaan produksi memiliki cakupan lebih luas mulai dari bahan mentah hingga barang jadi sehingga memerlukan sistem evaluasi yang lebih detail
4.7 Pembahasan
Sebelum tabel metrik SCOR model level 1, penulis menyajikan gambar pemetaan level 1 kemudian ruang lingkup unsur-unsur proses SCOR dan tujuan dari PT Surya Perdana Lestari. Untuk mengetahui seberapa jauh kinerja PT Surya Perdana Lestari dibandingkan dengan pesaing-pesaingnya, maka penulis memperhitungkan pada tabel metrik SCOR model level 1.Pada tabel tersebut, terdapat performance atribute,metrik level 1, data aktual dan data benchmark (superior, advantage dan parity).
Kinerja target dari PT Surya Perdana Lestari adalah POF sebesar 100%, OFCT selama 7 hari, COGS sebesar 26,80% dan CTCCT selama 11 hari. Kemudian opportunity pada PT Surya Perdana Lestari untuk perhitunganopportunityPOF dan OFCT tidak ada karena data aktual dari metrik perfect order fulfillment sudah mencapai superior. Perhitungan opportunity pada metrik COGS menghasilkan peningkatan dalam laba kotor sebesar Rp 10.509.301,42. Terakhir, Perhitunganopportunity pada metrik CTCCT tidak ada karena data aktual dari metrik cash-to-cash cycle time (CTCCT) sudah melebihi dari target kinerja yang ditetapkan yaitu 1 hari, ini menandakan perputaran uang sangat cepat dibandingkan dengan target kinerjanya. Hal ini perlu dipertahankan agar perusahaan dapat membayar bunga atas hutang perusahaan dan cepatnya perputaran uang dapat diinvestasikan di bidang lain.
a. SCOR model Level 1 pada PT Rohul Sawit Industri
POF dari PT Rohul Sawit Industri dari hasil pengukuran level 1 sebesar 87,07%. Order Fulfillment Cycle Time (OFCT) adalah waktu siklus aktual rata-rata yang secara konsisten diterima untuk memenuhi pesanan konsumen.Untuk setiap pesanan, waktu siklus dimulai dari penerimaan pesanan dan berakhir saat konsumen menerima pesanan tersebut.OFCT dari PT Rohul Sawit Industri berjumlah 2 hari.Upside Supply chain Flexibility (USCF) adalah jumlah hari yang dibutuhkan untuk mencapai peningkatan tak terencana secara berkelanjutan sebanyak 20% dari jumlah produk yang dikirim. Dalam penelitian ini USCF tidak tersedia dikarenakan PT Rohul Sawit Industri tidak pernah mengalami peningkatan tak terencana secara berkelanjutan sebanyak 20% dari jumlah produk yang dikirim.
Kinerja target dari PT Rohul Sawit Industri adalah POF sebesar 89,38%, OFCT selama 1 hari, COGS sebesar 51,43% dan CTCCT selama 2
hari.Perhitunganopportunity pada metrik POF menghasilkan peningkatan dalam laba kotor sebesar Rp 881.922.248,4. Sedangkan perhitunganopportunity pada metrik COGS menghasilkan peningkatan dalam laba kotor sebesar Rp 13.400.000.000. Hasil yang didapatkan dari SCOR model level 1 adalah tingkat pelayanan dari PT Rohul Sawit Industri tergolong baik dan keuntungan PT Rohul Sawit Industri masih kurang maksimal maka dibutuhkan analisa SCOR model level 2.
b. SCOR model Level 2 pada PT Rohul Sawit Industri
Dalam SCOR model level 2, terdapat dua jenis pemetaan yaitu geographic map dan thread diagram.Keduanya digunakan untuk menjelaskan aliran material dan aliran informasi dari pemasok ke pelanggan.Dari gambar 4.4 dapat dilihat pengiriman dan pengembalian produk antara pemasok, PT Rohul Sawit Indutri dan pelanggan.Selanjutnya, penulis membuat thread diagram guna memperjelas dalam pencarian penyebab permasalahan dari PT Rohul Sawit Industri.Dari gambar 4.5 diatas, dapat dilihat aliran material dan aliran informasi produk antara pemasok, PT Rohul Sawit Indutri dan pelanggan. Penyebab permasalahan terjadi di S2 (source to order) pengadaan material bila ada pesanan dan M2 (make to order) proses produksi bila ada pesanan. Dari S2 dan M2 tidak terhubung dengan baik seharusnya terdapat aliran informasi yang terhubung pada S2 dengan M2 sebab aktivitas pengadaan material (bahan baku) membutuhkan informasi seberapa banyak material yang dibutuhkan dalam proses produksi. Hal ini juga dapat menjadi penyebab keterlambatan pada pengadaan bahan baku.Untuk mencari akar permasalahan maka analisis dilanjutkan ke SCOR model level 3.
c. SCOR model Level 3 pada PT Rohul Sawit Industri
Pada SCOR model level 3 terdapat tiga tahap, yaitu input (masukan), process elements (proses unsur) dan output (keluaran). Berikut ditampilkan gambar mengenai pengelolaan persediaan material (bahan baku) pada PT Rohul Sawit Industri
Gambar 4.6 menampilkan aktivitas dalam proses source make to order productmulai dari pra-order material dikirim sampai pembayaran material. Dan menjelaskan kondisi saat ini (As-Is Process) pada PT Rohul Sawit Industri menjadi kondisi yang dituju (To-Be Process) pada PT Rohul Sawit Industri.
Dari gambar pemetaan level 3, penulis meneliti lebih lanjut untuk menemukan penyebab permasalahan pada PT Rohul Sawit Industri.Metode yang digunakan adalah metode fishbone analysis. Berdasarkan wawancara dengan perwakilan PT Rohul Sawit Industri ditemukan akar permasalahan yaitu lemahnya pengelolaan material (bahan baku) dan juga ditemukan 4 penyebab terjadinya akar permasalahan tersebut yaitu manajemen persediaan kurang baik, perencanaan pasokan tidak terintegrasi, forecast yang belum direalisasi, kinerja pemasok kurang memadai.
d. Perbedaan Penerapan SCOR Model pada Perusahaan Distributor dengan Perusahaan Produksi
Setelah penulis membandingkan antara penerapan SCOR model versi 10.0 pada perusahaan distributordengan perusahaan produksi, maka didapatkan hasil yaitu perbedaan pada proses SCOR, komponen penghitungan COGS, dan pemetaan pada perusahaan distributor cenderung kurang maksimal karena jumlah produk yang rusak sangatlah jarang terjadi. Oleh karena itu, penerapan SCOR model lebih tepat jika diterapkan pada perusahaan produksi karena memiliki cakupan yang lebih luas mulai dari bahan mentah hingga produk jadi sehingga memerlukan system evaluasi yang lebih detail.
4.8 Implikasi Penelitian
Berdasarkan pengukuran kinerja rantai pasokan di PT Surya Perdana Lestari memberikan hasil yang menyatakan bahwa kinerja rantai pasokan di perusahaan tersebut sudah mencapai yang terbaik dan perusahaan tersebut dapat bertahan ditengah persaingan yang ketat. Hal itu dapat dibuktikan dari hasil pengukuran kinerja menggunakan SCOR model, yaituPerfect Order Fulfillment (POF) dari data aktual sudah mencapai posisi superior sebesar 100%. Apabila salah satu metrik sudah mencapai posisi superior, itu berarti kinerja perusahaan sudah mencapai yang terbaik, maka perhitungan SCOR model tidak berlanjut pada analisis berikutnya.Dan dari pengukuran kinerja rantai pasokan pada perusahaan produksi (PT Rohul Sawit Industri) ditemukan adanya akar permasalahan berupa lemahnya pengelolaan material (bahan baku).
Kemudian dari hasil penelitian perbedaan penerapan SCOR model pada perusahan distributor dengan perusahaan produksi memberikan jawaban
bahwa SCOR model lebih maksimal jika diterapkan pada perusahaan produksi karena perusahaan produksi memiliki cakupan lebih luas mulai dari bahan mentah hingga barang jadi sehingga memerlukan sistem evaluasi yang lebih detail.