• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEMINAR NASIONAL SEMINAR NASIONAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SEMINAR NASIONAL SEMINAR NASIONAL"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Faculty of Educational Sciences Syarif Hidayatullah State Islamic University of Jakarta

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

SEMINAR NASIONAL

“Arah, Model, Desain, dan Problematika Guru

dalam Menghadapi Perkembangan Revolusi Industri”

Auditorium Utama Harun Nasution

Kamis, 2 Mei 2019

SEMINAR NASIONAL

(2)

Copyright © 2019| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

PROSIDING

Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

UIN Syarif Hidayatullah

“Arah, Model, Desain, dan Problematika

Pendidikan Guru dalam Menghadapi

Perkembangan Revolusi Industri”

(3)

Copyright © 2019| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Prosiding Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta

“Arah, Model, Desain, dan Problematika Pendidikan Guru dalam

Menghadapi Perkembangan Revolusi Industri”

Copyright © 2019

ISSN : 2622-0121

Edisi: Juni 2019

Pimpinan Redaksi:

Ubaid Ridlo

Editor:

Meiry Fadilah Noor

Azkia Muharom Albantani

Yazid Hady

Fatkhul Arifin

Reviewer :

Dwi Nanto

Sujiyo Miranto

Sita Ratnaningsih

Diterbitkan Oleh:

FITK PRESS

Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK)

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Jl. Ir. H. Juanda no.95 Ciputat Timur, Tangerang Selatan

Telepon/fax. (021) 7443328

Website:

www.fitk-uinjkt.ac.id

@2019

Hak cipta dilindungi undang-undang dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa ijin tertulis dari penerbit

(4)

Copyright © 2019| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

KATA PENGANTAR

Puji serta syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah yang telah diberikan kepada kita semua, sehingga buku Prosiding Seminar Nasional Arah, Model, Desain, dan Problematika Pendidikan Guru dalam Menghadapi Perkembangan Revolusi Industri yang dilaksanakan pada tanggal 2 Mei 2019 di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Buku Prosiding ini memuat sejumlah artikel hasil penelitian dan kajian literatur yang berkaitan dengan:

1) Kebijakan Pendidikan Guru di Era Revolusi 4.0 2) Problem Pendidikan Guru pasca Revolusi Industri

3) Model, Startegi, Metode, dan Media Pembelajaran Abad 21

4) Desain Kurikulum Pendidikan Guru (PPG dalam Jabatan dan PPG Pra Jabatan) 5) Evaluasi Pembelajaran di Era Revolusi Industri

6) Pembelajaran Bahasa di Era Revolusi Industri

7) Peluang dan Tantangan Lulusan LPTK Menghadapi Revolusi Industri Dalam kesempatan ini kami sampaiakan terimakasih kepada:

1) Pimpinan Fakultas yang telah memfasilitasi semua kegiatan seminar nasional ini 2) Bapak/Ibu panitia seminar nasional yang telah meluangkan waktu, tenaga dan

pemikirannya demi suksesnya kegiatan ini

3) Bapak/Ibu dosen, guru, dan mahasiswa penyumbang artikel hasil penelitian dalam kegiatan ini

Semoga buku prosiding ini dapat memberi manfaat bagi kita semua, untuk kepentingan peningkatan profesionalisme dan kecakapan guru di Era Revolusi 4.0. Disamping itu, diharapkan juga dapat menjadi referensi bagi upaya pembangunan bangsa dan negara. Saran dan kritik membangun tetap kami tunggu demi kesempurnaan buku prosiding ini.

(5)

Copyright © 2019| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

SAMBUTAN KETUA PANITIA SEMINAR NASIONAL FITK 2019 Assalamu’alakum Wr. Wb.

Alhamdulillah was shalatu wa salamu ’ala rasulillah Muhammad Shallallhu ’alahi wa sallam. Yang Kami mulyakan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Prof. Dr. Hj. Amani Lubis, MA

Yang Terhormat Dekan Fakutas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan; Dr. Sururin, M. Ag

Yang Terhormat Prof. Dr. Dede Rosyada sebagai Keynote Speech, Prof. Dr. Dinn Wahyudin, MA, Dr. Abd. Rozak, M.Si, Dr. Khaerudin, dan Direktur Pembelajaran Kemenristek Dikti sebagai nara sumber.

Juga hadirin peserta seminar dan pengurus Sema, Dema, HMJ, dan HMPS yang berbahagia. Ya Rabb.. lega rasanya hari ini tanggal 2 Mei 2019 acara ini bisa terlaksana bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional RI. Seminar Nasional ini bertema:

”Arah, Model, Desain, dan Problematika Pendidikan Guru Dalam Menghadapi Perkembangan Revolusi Industri.

Bapak, Ibu, dan hadirin yang Berbahagia

Guru merupakan komponen penting dalam proses pendidikan. Apapun kebijakan yang disusun oleh pemerintah atau pihak berwenang tentang pendidikan, pada akhirnya guru yang melaksanakan dalam bentuk proses pembelajaran di sekolah. Seperti apapun sarana yang dimiliki oleh sekolah/lembaga pendidikan, pada akhirnya guru yang mengelola

penggunaannya. Itulah sebabnya banyak orang menyebut guru sebagai man behind the gun

dalam proses pendidikan. Seiring dengan pemikiran itu, berbagai studi menunjukkan kontribusi guru terhadap hasil belajar siswa di atas 50% (Hattie, 2008; Mourshed et.al, 2010; Pujiastuti dkk, 2012). Oleh karena itu, sangat tepat amanat pasal 24 Undang-undang No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang menyebutkan pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan lembaga penyelenggara pendidikan wajib memenuhi kebutuhan guru, baik dalam jumlah, kualifikasi akademik, maupun dalam kompetensi secara merata untuk menjamin keberlangsungan satuan pendidikan anak usia

(6)

Copyright © 2019| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

dini, jalur pendidikan formal, serta untuk menjamin keberlangsungan pendidikan dasar dan menengah sesuai dengan tanggung jawabnya. Namun faktanya perkembangan revolusi industri belum dipahami dan integrasikan dalam proses pembelajaran. Kebijakan-kebijakan pendidikan guru di era revolusi Industri 4.0 masih banyak yang belum difahami guru. Sehingga menjadi probematika lembaga pendidikan yang perlu menyiapkan guru memiliki kompetensi sejalan peningkatan revolusi industri. Itulah sekilas dasar argumentasi pengambilan tema seminar nasional ini.

Kami bersyukur bahwa gagasan kami ini mendapat respon yang cukup baik dari masyarakat. Dalam catatan divisi prosiding, Seminar Nasional ini diikuti oleh 120 orang peserta. Presentasi Call for Paper 60an peserta. Peserta berasal dari berbagai kampus dan Madrasah antara lain UIN ar-Raniry Banda Aceh, STAIN Gajah Putih Takengon Aceh Tengah, UIN Jakarta, IIQ, UMJ, UIN Yogyakarta, Universitas Negeri Semarang, UIN Malang, YPI al-Farisi Bandung, Madrasah Pembangunan UIN Jakarta, SMAN 28 Tangerang, dan lain sebagainya. (mohon maaf tidak bisa disebutkan satu persatu)

Atas terselenggaranya acara seminar ini, kami mengucapkan terima kasih atas dukungan Bapak Ibu semua, terutama:

1. Panitia seminar, (Bu Meiry, Bu Dhian, Bu Lili, Pak Andri, Bu Tri, Bu Mida, Pak Azki, Pak Yazid, dll), dekanat, dan rektorat

2. Nara sumber, moderator, para peserta seminar

3. Dan berbagai pihak yang tak telah membatu dengan tulus ikhlas

Akhir kata, jika ada yang kurang berkenan, mohon dimaafkan. Selamat mengikuti seminar nasional dan rangkaian kegiatan pendukungnya. Semoga apa yang kita lakukan hari ini adalah keberkahan untuk kemajuan kita di masa depan. Amin.

Nasrun Minallahi wa Fathun Qorib Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(7)

Copyright © 2019| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

1-15 PENDIDIKAN GURU

MENGHADAPI PERUBAHAN-PERUBAHAN FRAME OF THINKING SISWA ERA INDUSTRI 4.0 Prof. Dr. Dede Rosyada, MA

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

16-30 PENDIDIKAN INKLUSIF ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 Sururin, Mutiara Citra Mahmuda

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

31-35 GURU DAN LITERASI PADA ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 Fahriany

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

36-45 PENELUSURAN BUDAYA DALAM BERBAHASA: PERSPEKTIF BARU KOMUNIKASI DI ERA INDUSTRI 4.0 Alek

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

46-57 PENINGKATAN HASIL BELAJAR DAN SIKAP ILMIAH PADA KONSEP GERAK HARMONIK SEDERHANA MENGGUNAKAN PENDEKATAN SAINTIFIK BERBANTUAN PHET COLORADO

Fathiah Alatas1, Annisa Fitri Komariah1, Rudinanto2

1FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2SMAN 9 kota Tangerang Selatan

58-69 HUBUNGAN PROKRASTINASI AKADEMIK DENGAN PRESTASI BELAJAR KIMIA SISWA BERDASARKAN GENDER

Ilham Mahardika, Burhanudin Milama, Evi Sapinatul Bahriah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

70-76 PENINGKATAN HASIL BELAJAR AKIDAH AKHLAK MELALUI MODEL MULTIDIMENSIONAL PADA SISWA Khaironi Agustini

UIN Syarif Hidatullah Jakarta

77-89 PENGEMBANGAN MEDIA KOMIK DIGITAL MENGGUNAKAN PIXTON DISERTAI QUIZ PADA KONSEP SISTEM GERAK

Khilda Maulida Nur Hidayah, Baiq Hana Susanti, dan Eny Supriyati Rosyidatun UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

90-106 PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW BERBNTU MIND MAPPING: PENGARUHNYA TERHADAP RETENSI PADA KONSEP JAMUR

Lailah Fauziah, Nengsih Juanengsih, Eny Supriyati Rosyidatun UIN Syarif Hidayatullah Jakarts

107-116 ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL BERTIPE PISA BERDASARKAN TEORI NOLTING Lia Kurniawati, Gema Aroysi, dan Moria Fatma

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

117-124 PENGGUNAAN COLLABORATIVE LEARNING PADA PENDIDIKAN DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Luki Yunita

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

125-131 MENAKAR PENDIDIKAN GURU ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 DARI KERANGKA TEORI ORGANISMIK Maftuhah

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

(8)

Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 2 Mei 2019

“Arah, Model, Desain, dan Problematika Pendidikan Guru dalam Menghadapi Perkembangan Revolusi Industri”

Copyright © 2019| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

ii

KONSEP PROGRAM LINEAR DI SEKOLAH MENENGAH ATAS Ines Setiawati Putri, Abdul Muin, dan Ramdani Miftah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

144-157 POMATE

PERMAINAN ORIENTASI MOBILITAS UNTUK ANAK TUNA NETRA Mutuanisa Mahda Rena, Mutiara Zara, Ahsanah Maulida UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

158-172 PROBLEM PENDIDIKAN GURU PASCA REVOLUSI INDUSTRI (RANAH KOMPETENSI PENDIDIK PADA BIDANG LITERASI DIGITAL) Nafia Wafiqni1, Siti Nurani2

1

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,

2Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Tanggerang Selatan

173-187 LULUSAN LPTK: ANALISIS RECIPROCAL ANTARA INSTITUTIONS, SOCIAL NETWORK, COGNITIVE FRAMES Nurochim1, Siti Ngaisah2

1

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2

Universitas Indonesia

188-199 PENGEMBANGAN HYPERMEDIA BERBASIS WEB ONLINE PADA KONSEP SISTEM SIRKULASI Muhammad Nurul Fikri, Sujiyo Miranto, Dina Rahma Fadlilah

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

200-212 DIGITAL LITERATURE UNTUK PENGAJARAN BAHASA ARAB Qurrotul A’yuni, Adinda Nadia dan Nuril Mufidah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

213-230 IDENTIFIKASI PEMANFAATAN INFORMATION COMMUNICATION AND TECHNOLOGIES (ICT) DALAM PEMBELAJARAN PADA CALON GURU KIMIA

Rahmawati Fauziah, Tonih Feronika, Dedi Irwandi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

231-240 PENGGUNAAN SELF-EFFICACY DAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA PEMBELAJARAN KIMIA DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Siti Nuraeni, Tonih Feronika, Luki Yunita UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

241-252 STRATEGI PENGEMBANGAN SEKOLAH BERBASIS LINGKUNGAN UNTUK MEMBENTUK GENERASI MUDA YANG PEDULI LINGKUNGAN

Sujiyo Miranto

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

253-261 PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA DAN PERGAULAN TEMAN SEBAYA TERHADAP KARAKTER TANGGUNG JAWAB SISWA DI SMP BANGUN NUSANTARA TANGERANG

Nur Malinah, Tri Harjawati, Jakiatin Nisa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

262-271 PENGARUH LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) BERBASIS KONTEKSTUAL TERHADAP KETERAMPILAN GENERIK SAINS SISWA PADA MATERI LARUTAN PENYANGGA

Widya Kusumaningrum, Tonih Feronika, Dedi Irwandi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

272-288 PENGARUH MODEL PROBLEM SOLVING PADA KONSEP SISTEM PERNAPASAN TERHADAP PEMAHAMAN PESERTA DIDIK TENTANG BAHAYA ROKOK

Novia Nurhayati, Yanti Herlanti, Eny S. Rosydatun UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(9)

Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 2 Mei 2019

“Arah, Model, Desain, dan Problematika Pendidikan Guru dalam Menghadapi Perkembangan Revolusi Industri”

Copyright © 2019| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

iii

Zahruddin

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

302-313 PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN PDEODE (PREDICT, DISCUSS, EXPLAIN, OBSERVE, DISCUSS, EXPLAIN) BERBANTUAN VIDEO TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA PADA KONSEP GERAK HARMONIK Nurafifah, Ai Nurlaela

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

314-322 BELAJAR BAHASA ARAB DENGAN METODE CLIL (CONTENT AND LANGUAGE INTEGRATED LEARNING): LAWATAN HALAQAH FAJRIYAH DI PESANTREN

Mauidlotun Nisa’

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

323-334 PENGARUH MEDIA STRIP STORY TERHADAP HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS V MI EL-ZIYAN PADA MATA PELAJARAN

Fidrayani, Qorihatul Fikriyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

335-364 GRAND DESIGN STRATEGI, MODEL DAN MEDIA PEMBELAJARAN

DI ERA INDUSTRI 4.0 Reksiana

Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta

365-374 PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN REACT (RELATING, EXPERIENCING, APPLYING, COOPERATING, DAN TRANSFERRING) TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA PADA KONSEP GETARAN HARMONIK

Devi Solehat, Ai Nurlaela, Ilah Susilah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

375-382 PEMBELAJARAN AKUNTANSI DALAM MENGHADAPI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 Anisa Windarti

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

383-397 KOMPETENSI LITERASI UNTUK MENYIAPKAN CALON PENDIDIK TERINTEGRASI BERBASIS KEHIDUPAN DALAM MENGHADAPI REVOLUSI INDUSTRI

Diyah Mintasih

Sekolah Tinggi Agama Islam Yogyakarta

398-406 PENINGKATAN MODEL PEMBELAJARAN PAI DI PTKIN BERBASIS HYBRID LEARNING DALAM ERA REVOLUSI INDUSTRY 4.0

Sutiah, Supriyono

(10)

Copyright © 2019| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Nurochim1, Siti Ngaisah2

1UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2Universitas Indonesia

e-mail: [email protected], [email protected]

Abstrak. Pendidikan guru di era 4.0 ditantang untuk memiliki cara bertindak inovatif dan kreatif. Di era tersebut merupakan era digital yang terdapat berbagai peluang dan ancaman bagi guru dan calon guru. Salah satu peluang dan ancamannya adalah dampak atau sektor ekonomi. LPTK sebagai lembaga pendidik guru dan calon guru sebaiknya menganalisis peluang dan ancaman dengan penjelasan struktur sosial yang relevan bagi penjelasan dampak ekonomi. Struktur sosial tersebut adalah institutions, social network, dan cognitive frame. Perspektiv struktur sosial tersebut merupakan perspektiv integratif struktur sosial pasar dan dinamikanya. Berdasar pada konsep field, dalam artikel ini dibahas interrelasi antara tiga tipe struktur sebagai sumber dinamika pasar (market system). Pengaruh timbal balik institusi, jaringan sosial, dan bingkai kognitif memungkinkan untuk menganalisis bagaimana aktor menggunakan sumber daya yang diperoleh di dalam arena (field) untuk mencapai tujuan LPTK

Kata Kunci: Pendidikan Guru, LPTK, sistem ekonomi pasar, institutions, social network, cognitive frame, perubahan institusional, field

Pendahuluan

Guru merupakan salah sumber daya manusia terpenting dalam organisasi sekolah, guna mencapai tujuan pendidikan yang berkualitas. Tujuan pendidikan nasional adalah membentuk sumber daya manusia yang memiliki modal spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, dan keterampilan yang diperlukan bagi diri, masyarakat, bangsa dan negara (Republik Indonesia, 2003:3). Pendidikan merupakan proses untuk mewujudkan sumber daya manusia yang dapat berfungsi untuk diri dan lingkungannya. Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut diperlukan pengelolaan sumber daya pendidikan yang berfokus pada pelayanan prima. Salah satunya adalah pengelolaan guru dan calon guru. Guru dan calon guru dididik melaui LPTK. Terdapat keterkaitan antara LPTK, guru/calon guru, dan tujuan pendidikan. Lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) merupakan perguruan tinggi yang diberi tugas oleh pemerintah untuk menyelenggarakan program pengadaan guru (Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Presiden Republik Indonesia, 2005:5). Selain itu juga LPTK menyelenggarakan dan mengembangkan ilmu kependidikan dan nonkependidikan. Dapat dipahami bahwa guru yang diadakan oleh LPTK memiliki ilmu kependidikan dan nonkependidikan yang senantiasa berkembang.

Sudah mulai terlihat beberapa komunitas akademik melaksanakan penelitian untuk mencari pola pendidikan tinggi yang berkualitas (Penington, 1998:256). Masalah kualitas juga harus dikaji dalam konteks politik, tujuan institusi, pengembangan benchmark di antara

(11)

Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 2 Mei 2019

“Arah, Model, Desain, dan Problematika Pendidikan Guru dalam Menghadapi Perkembangan Revolusi Industri”

Copyright © 2019| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

174

institusi yang serupa, lebih banyak menerima umpan balik dari mahasiswa, dan penelitian untuk menilai kualitas. Sifat dasar perguruan tinggi adalah otonomi dan akuntabilitas (Penington, 1998:256). Universitas seharusnya menjadi “rumah” belajar dan pembelajaran,

yang melaksanakan training untuk menghasilkan sumber daya manusia profesional.

Universitas juga sebagai penghubung antara kegiatan akademik dan praktik (simbiosis mutualisme antara teori dan praktik). Universitas adalah “rumah” bagi penelitian yang mempersyaratkan kesabaran yang tidak terbatas, pengamatan yang tepat, dan kejujuran. Universitas harus menjadi pembentuk karakter, dengan watak yang dapat membantu meningkatkan, memperbesar, memperkaya, melengkapi kebenaran dalam hidup bermasyarakat. Universitas diharapkan dapat melahirkan pemimpin yang dapat membimbing, mengarahkan pada kebenaran. Universitas menjadi salah satu sumber kebanaran dan tempat mencari kebenaran. Proses pengembangan akuntabilitas dan audir akademik terutama dimulai dengan internal audit, monitonging dan penilaian oleh orang-orang yang berpengalaman dalam manajemen akademik dari lingkup sistem pendidikan tinggi. Di Australia, jaminan kualitas bertumpu pada penilaian secara nasional dan proses akreditasi dilaksanakan oleh profesional lintas ranah, sehingga tradisi otonomi akademik terlihat sangat teruji (Penington, 1998).

Benchmark universitas dikembangkan berdasar pada kepuasan dan kinerja mahasiswa, sifat utama kegiatan pembelajaran, kualitas penelitian, pelatikan keterampilan. Selain itu juga kualitas interaksi dengan industri, profesi, dan masyarakat, dan tampilan spesial yang kontribusi institusi. Universitas memenuhi harapan dan kebutuhan mahasiswa untuk menguasai topik dan tantangan pendidikan, dengan dukungan yang struktur dan infrastruktur universitas yang lengkap. Universitas mengakomodasi kebutuhan mahasiswa,

untuk dapat bersaing di “pasar” tenaga kerja.

Jumlah LPTK di Indonesia berada di universitas di bawah naungan Kementerian Riset dan Teknologi, juga berada di bawah naungan Kementerian Agama, baik yang berbentuk universiras, institut, maupun sekolah tinggi. 422 LPTK, 41 diantaranya berada di Perguruan Tinggi Negeri, sisanya di Perguruan Tinggi Swasta, dengan akreditasi yang beragam (Gumanti Awaliyah, 2018). Jumlah lulusan LPTK setiap tahunnya mencapai 300 ribu guru, padahal jumlah guru yang dibutuhkan oleh sekolah swasta dan negeri berjumlah 100 ribu guru (M. Irfan, 2018). Berdasarkan hal tersebut, terlihat bahwa animo menjadi guru lebih tinggi dibandingakan masa lalu, namun demikian kualitas yang dihasilkan juga harusnya lebih baik. Selain itu pembinaan guru dalam jabatan juga masih menjadi perhatian dalam upaya peningkatan mutu guru. Over supply tersebut menjadi daya dorong bagi LPTK untuk mempersiapkan sarjana kependidikan yang siap bersaing di dunia kerja. Perbaikan

(12)

Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 2 Mei 2019

“Arah, Model, Desain, dan Problematika Pendidikan Guru dalam Menghadapi Perkembangan Revolusi Industri”

Copyright © 2019| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

175

LPTK dalam proses sertifikasi guru, uji kompetensi guru perlu dilaksanakan. LPTK dianggap sebagai “pabrik” penghasil calon guru diminta untuk memiliki mutu yang baik.

Berlakunya Permenristekdikti Nomor 55 Tahun 2017, tentang Standar Pendidikan Guru, bahwa sarjana kependidikan yang menjadi Guru harus menempuh Pendidikan Profesi Guru (PPG). Namun demikian, pemerintah hanya menyediakan kuota PPG 27.000 orang setiap tahun, sehingga tidak semua lulusan sarjana pendidikan akan tertampung dalam Program PPG. Masalah lainnya adalah, moratorium penerimaan calon pegawai negeri sipil. Permasalahan tersebut harus segera mendapat solusi, karena setiap tahun sarjana kependidikan akan bertambah, dan pengangguran sarjana kependidikan akan bertambah. Antusiasme calon sarjana kependidikan, tidak terlepas dari berlakunya Undang-Undang nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, yang mengemukakan bahwa guru profesional berhak mendapatkan tunjangan profesi guru sebesar satu kali gaji. Hal tersebut menjadi daya tarik para lulusan Sekolah Menengah Atas untuk melanjutkan kuliah di perguruan tinggi kependidikan (Udi Utomo, 2018).

LPTK di Indonesia Tahun Jumlah 2005 90 2012 374 2014 381 2016 421

Namun demikian LPTK masih terdapat berbagai permasalahan seperti (1) masih kurangnya kualifikasi akademis tenaga pengajar lulusan luar negeri; (2) kemampuan bahasa asing yang dimiliki tenaga pengajar; (3) banyaknya program studi di LPTK yang terakreditasi C; (4) ketergantungan dana/anggaran terhadap APBN, sehingga kurang memiliki keleluasaan dalam upaya meningkatkan mutu pengelolaan (Agung & Santosa, 2017:43). Berdampak pada kualitas lulusan LPTK itu sendiri, yang berkontribusi terhadap tingginya angka pengangguran.

Oleh karena itu penting adanya analisis tentang tantangan dan peluang pendidikan guru. Beberapa lembaga akreditasi memprioritaskan indeks kualitas guru pada indikator tertentu seperti keterampilan mengajar, namun mengabaikan kemampuan sistem, jaringan, dan proses (skalabilitas) (Richmond, Salazar, & Jones, 2019:86). Skalabilitas berupa peran kepemimpinan dalam mempersiapkan program pendidikan guru, sumber daya, dan keahlian

(13)

Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 2 Mei 2019

“Arah, Model, Desain, dan Problematika Pendidikan Guru dalam Menghadapi Perkembangan Revolusi Industri”

Copyright © 2019| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

176

untuk menanggapi tuntutan eksternal terkadang luput dari pandangan komprehensif lembaga akreditasi untuk menilai program pendidikan guru. Hasilnya bisa saja tidak berfungsi sebagai bahan evaluasi dan tidak menggambarkan nilai-nilai program atau kelembagaan. Analisis program pendidikan guru yang berdampak pada lulusan program perlu dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas calon guru, akreditasi, perbaikan program, evaluasi diri, dan pembelajaran yang berbasis pada keadilan sosial. Program pengembangan guru yang unggul dan berbasis pada kesetaraan, untuk mengembangkan pembelajaran yang berkualitas dan berkomitmen menangani masalah keadilan sosial, diperlukan dalam lingkup persaingan global.

Hubungan antara pendidikan dan sektor masyarakat lainnya bersifat inklusif. Berbagai bagian masyarakat koheren dan saling melengkapi serta mendukung lembaga pendidikan dan lembaga lainnya. Pendidikan tinggi merumakan tulang punggung, sebab kualitasnya menentukan kualitas sumber daya manusia suatu negara (Jesa & V., 2017:5). Lulusan LPTK sebagai tenaga kerja potensial, mau tidak mau berada dalam lingkup sistem pasar, yakni pasar tenaga kerja yang kompetitif. Pendekatan sosiologis terhadap ekonomi untuk menjelaskan dampak ekonomi berdasarkan pada pengaruh struktur sosial terhadap tindakan individu.

Pembahasan

Peluang dan Tantangan Lulusan LPTK era 4.0

Menjadi hal yang umum bahwa pendidikan guru menjadi alat untuk mengejar dan maningkatkan mutu pembelajaran. Program pendidikan guru yang efektif pada pendidikan tinggi merupakan pengembangan jangka panjang yang penting bagi guru profesional. Salah satu elemen kunci program pendidikan guru yang kuat adalah coherence (Alles, Apel, Seidel,

& Sturmer, 2019).Program yang koheren didesain dengan tujuan menyediakan pengalaman

pembelajaran yang terstruktur dengan baik dan pelatihan kerja dan kerja klinis. Program

yang koheren mampu menunjukkan kesesuaian antara teori dan praktik (Prince, 2010:2).

Sejalan dengan hal tersebut, program pendidikan guru harus didesain dengan visi yang jelas dan menjadi nilai-nilai bersama antar pelaksana pendidikan guru, visi tersebut adalah visi pembelajaran yang baik (Klette & Hammerness, 2017:28). Banyak ditemukan lulusan pendidikan guru tanpa visi pembelajaran yang berkualitas yang menjadi pengajar yang tidak berkualitas. Visi yang jelas digunakan untuk mendesain program, kurikulum, dan pedagogi, serta menyusun apa dan bagaimana calon guru atau lulusan LPTK harus belajar. Selain mengkaji teori, calon guru harus didesain untuk praktik pembelajaran secara langsung.

(14)

Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 2 Mei 2019

“Arah, Model, Desain, dan Problematika Pendidikan Guru dalam Menghadapi Perkembangan Revolusi Industri”

Copyright © 2019| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

177

Pendidikan guru harusnya semakin dekat dengan lingkup perkerjaan guru yang nyata. Hal tersebut dapat diupayakan dengan (1) menganalisis apakah materi pembelajaran yang dipersiapkan di LPTK sudah menggambarkan kebutuhan ilmu pengetahuan sebagai; (2) menganalisis persiapan pedagogis dan berapa banyak dan sesuai dengan kebutuhan guru; (3) menganalisis jenis, waktu, dan jumlah pelatihan klinis di LPTK untuk calon guru; (4) menganalisis kebijakan dan strategi yang disusun baik tingkat nasional, universitas (LPTK),

sekolah, dan stakeholder untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan guru; (5)

menganalisis komponen dan karakteristik alternatif selain program sertifikasi guru (Desimone, Smith, Baker, & Ueno, 2005). Program pendidikan guru merupakan program yang tersetruktur yang bertujuan mendidik dan mempersiapkan guru yang diharapkan sebagai guru profesional. Selain itu LPTK sebagai program pendidikan diharapkan membekali calon guru dengan perangkat intelektual, keyakinan terhadap kebenaran, dan minat intrinsik dari dalam diri siswa calon guru sehingga menjadi nilai bahwa menjadi pendidik adalah kegiatan sepanjang hidup mereka (Bandura, 2003).

Kriteria keseimbangan antara teori dan praktik mengajar ditunjukkan dengan adanya perkembangan kognitif yang sesuai antara di dalam dan ketika lulus dari LPTK (Chaiklin & Lave, 2006). Dapat dipahami bahwa pembelajaran berkontribusi membentuk perkembangan kognitif manusia untuk dapat berinteraksi positif dengan berbagai lingkungannya. Pendidikan profesional merupakan sebuah “body of knowledge” yang membantu individu terhubung dengan profesi, belajar dan mempraktikan semua yang diajarkan selama menjalani

pendidikan profesi. Pendidikan profesi bertanggungjawab menciptakan platform yang

diperlukan oleh individu untuk menenuhi kriteria dalam memasuki sebuah profesi. Program persiapan atau program pendidikan profesi guru perlu menyediakan tantangan akademik dan praktik yang relevan pada calon guru.

Kondisi era 4.0 disebut juga era disruptif, terdapat teknologi kecerdasan buatan yang

berkaitan dengan IoT, cloud, teknologi dan big data (Donny Budi, 2018:1). Era inovasi

disruptif, di mana inovasi ini berkembang sangat pesat, sehingga mampu membantu terciptanya pasar baru. Inovasi ini juga mampu mengganggu atau merusak pasar yang sudah ada dan lebih dahsyat lagi mampu menggantikan teknologi yang sudah ada (Jon Darmawan, 2018:1). Keadaan saling mendisrupsi dapat disebabkan oleh kecerdasan buatan, yang

dipadukan dengan internet of thing, sehingga dapat mengolah big data menjadi sebuah

kesimpulan (Aried Budiman, 2019).

Era 4.0 ditandai dengan adanya kecerdasan super, kecerdasan buatan, sistem cyber,

dan kolaborasi manufaktur. Di Indonesia berkomitmen membangun industri manufaktur

yang berdaya saing global, ditandai dengan peluncuran making Indonesia, sebagai roadmap

(15)

Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 2 Mei 2019

“Arah, Model, Desain, dan Problematika Pendidikan Guru dalam Menghadapi Perkembangan Revolusi Industri”

Copyright © 2019| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

178

tatanan sosial masyarakat. Kecerdasan buatan diharapkan memperhatikan sisi kemanudiaan, menjadi kearifan baru dalam kehidupan manusia. Dalam Industri 4.0, dikenal adanya cyber– physical system (CPS) yang merupakan integrasi antara physical system, komputasi dan juga network/komunikasi. Dan Society 5.0 merupakan penyempurnaan dari CPS menjadi cyber–physical–human systems. Dimana human (manusia) tidak hanya dijadikan obyek (passive element), tetapi berperan aktif sebagai subyek (active player) yang bekerja bersama physical system dalam mencapai tujuan (goal). Jadi interaksi antara mesin (physical system) dan manusia masih tetap diperlukan (Aried Budiman, 2019).

10 langkah prioritas dipaparkan di dalam Making Indonesia 4.0, diantaranya peningkatan kualitas sumber daya manusia, pembentukan ekosistem inovasi, dan harmonisasi aturan dan kebijakan. Ini juga menjadi tantangan bagi lulusan LPTK untuk menjadi pengajar bagi siswa generasi milenial yang tidak asing dengan teknologi dan terbiasa dengan arus informasi. Kompetensi yang diharapkan dari lulusan LTPK adalah keterampilan berpikir kritis dan penyelesaian masalah, keterampilan komunikasi dan kolaborasi, keterampilan berpikir kreatif dan inovatif, literasi informasi dan komunikasi, dan keterampilan pembelajaran kontekstual, serta literasi informasi dan media, ditambah dengan kepercayaan diri (Budhi Slamet Saepudin, 2018).

Persiapan sistem pembelajaran yang lebih inovatif di perguruan tinggi seperti penyesuaian kurikulum pembelajaran, dan meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam hal

data Information Technology (IT), Operational Technology (OT), Internet of Things

(IoT), dan Big Data Analitic, mengintegrasikan objek fisik, digital dan manusia untuk

menghasilkan lulusan perguruan tinggi yang kompetitif dan terampil terutama dalam aspek data literacy, technological literacy dan human literacy. Rekonstruksi kebijakan kelembagaan pendidikan tinggi yang adaptif dan responsif terhadap revolusi industri 4.0 dalam mengembangkan transdisiplin ilmu dan program studi yang dibutuhkan. Selain itu, mulai

diupayakannya program Cyber University, seperti sistem perkuliahan distance learning,

sehingga mengurangi intensitas pertemuan dosen dan mahasiswa. Cyber University ini

nantinya diharapkan menjadi solusi bagi anak bangsa di pelosok daerah untuk menjangkau pendidikan tinggi yang berkualitas. Persiapan sumber daya manusia khususnya dosen dan peneliti serta perekayasa yang responsive, adaptif dan handal untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Selain itu, peremajaan sarana prasarana dan pembangunan infrastruktur pendidikan, riset, dan inovasi juga perlu dilakukan untuk menopang kualitas pendidikan, riset, dan inovasi. Terobosan dalam riset dan pengembangan yang mendukung Revolusi Industri 4.0 dan ekosistem riset dan pengembangan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas riset dan pengembangan di Perguruan Tinggi, Lembaga Litbang, LPNK, Industri, dan Masyarakat. Terobosan inovasi dan perkuatan sistem inovasi untuk meningkatkan

(16)

Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 2 Mei 2019

“Arah, Model, Desain, dan Problematika Pendidikan Guru dalam Menghadapi Perkembangan Revolusi Industri”

Copyright © 2019| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

179

produktivitas industri dan meningkatkan perusahaan pemula berbasis teknologi (Rudianto, 2018).

Industries shock dan empower shock semakin rentan mengiringi kesiapan bangsa ini terhadap perubahan. Menaker kembali menegaskan kepada media, bahwa perkembangan teknologi dan digitalisasi akan membuat sekitar 56 persen pekerja di dunia akan kehilangan pekerjaan dalam 10 sampai 20 tahun ke depan (Diyan Nur Rakhmah, 2018:1). Otomatisasi dan pengambilalihan bidang kerja sebagai praktik efisiensi tenaga kerja, menjadi tantangan sumber daya manusia lulusan perguruan tinggi.

Salah satu peluang Lulusan LPTK, adalah bonus demografi. Berdasarkan laporan Bappenas, Indonesia diperkirakan pada tahun 2030-2040 akan mengalami bonus demografi. Pada periode tersebut penduduk usia produktif mencapai 64% (Kementerian PPN/Bappenas, 2017:1). Pertumbuhan penduduk di Indonesia mengindikasikan bahwa masih banyak generasi yang membutuhkan pendidikan dan guru menjadi faktor pendidik yang penting. Namun demikian pertumbuhan penduduk yang tinggi ini diimbangi dengan generasi yang sehat. Oleh karena itu Kementerian Kesehatan berfokus salah satunya adalah

kualitas gizi masyarakat, dengan menurunkan angka stunting dari 37% menjadi 30%.

Kegiatan yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan ini dilaksanakan secara sistemik melibatkan lintas sektor mulai dari masalah lingkungan dan budaya (Lipusan Khusus Koran Sindo, 2019). Bonus demografi juga harus dilengkapi dengan literasi digital karena memasuki era industri digital. Bonus demografi yang tidak diimbangi dengan kualitas yang baik maka akan melanggengkan tingkat pengangguran yang tinggi. Selain itu sektor pendidikan juga harus mempersiapkan strategi peningkatan akses, kualitas, dan relevansi pendidikan serta meningkatkan kreativitas.

Tantangan Lulusan LPTK adalah sistem pasar. Oleh karena itu perguruan tinggi, khususnya LPTK harus mempersiapkan lulusannya untuk menjadi pencipta lapangan kerja (Universitas Negeri Surabaya, 2012). Sistem pasar di era digital mempersyaratkan beberapa keterampilan seperti negosiasi, literasi komputer, komunikasi, kerjasama, dan keterampilan berbahasa asing.

Tantangan lulusan program pendidikan guru adalah persaingan global, kesiapan pendidikan (kredensial) dan keterampilan, dan kesenjangan prestasi akademik (Darling-Hammond & Rothman, 2015). Lulusan LPTK diharapkan memiliki serangkaian pengetahuan dan keterampilan, menghubungkan pengetahuan utama dan pengalaman, menjadi fasilitator pembelajaran berbasis standar dan berbasil hasil serta pembelajaran konstruktif, memberikan kesempatan kepada siswa untuk menerapkan pengetahuan, dan mengelola perilaku siswa untuk mencapai tujuan pendidikan. Namun demikan menjadi fasilitator pembelajaran berbasis keadilan sosial dan budaya responsiv, menjadi tantangan

(17)

Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 2 Mei 2019

“Arah, Model, Desain, dan Problematika Pendidikan Guru dalam Menghadapi Perkembangan Revolusi Industri”

Copyright © 2019| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

180

lulusan LPTK. Tantangan lulusan LPTK lainnya adalah pasar kerja, artinya lulusan LPTK ditantang oleh permintaan pasar kerja, sehingga lulusan LPTK wajib memiliki kompetensi yang dibutuhkan di dalam pasar tenaga kerja (Disas, 2018).

Resiprocal institutions, social network, dan cognitive frame untuk menghadapi peluang dan tantangan Lulusan LPTK era 4.0

Untuk menghadapi peluang dan tantangan perlu dianalisisis struktur sosial yang ada

yakni institutions, social network, dan cognitive frame. Struktur sosial tersebut relevan

dengan penjelasan dampak ekonomi. Kerangka tiga struktur sosial tersebut merupakan perspektiv integratif antara struktur pasar dan dinamikanya. Relasi tiga tipe struktur tersebut dikaji berdasar pada konsep field/arena, sebagai sebuah sumber dinamika pasar. Keterkaitan antara institusi, jaringan sosial, dan kerangka kognitif memungkinkan memberikan penjelasan bagaimana aktor menggunakan sumber daya yang diperoleh dari arena/field untuk mengkonfigurasikan kembali struktur sosial demi mencapai tujuan (Beckert,

2010:605). Field LPTK harus berubah menyesuaikan perkembangan zaman dengan mutu

yang berkualitas. Segala dinamika era 4.0, juga membuat dinamika dalam field LPTK. Tiga kekuatan struktural tersebut merupakan aspek penting dalam menjelaskan dinamika pasar secara komprehensif. Ketiga struktur tersebut tidak bisa saling dihilangkan, namun saling terkait dalam menjelaskan dinamika pasar. Struktur mempengaruhi posisi aktor, pada saat yang sama aktor memperoleh sumber daya dari posisi yang dimiliki yang digunakan untuk mempengaruhi institusi, struktur jaringan, dan kerangka kognitif. Field/arena sebagai tatanan sosial di mana “aktor” berkumpul dan membingkai tindakan mereka. Berdasarkan konsep field dapat didiskusikan interrelasi antara tiga tipe struktur dan perannya dalam merubah ranah pasar.

Pendekatan sosiologis terhadap penjelasan dampak ekonomi berdasar pada pengaruh struktur sosial terhadap tindakan individu. Sosiologi memberikan pendekatan alternatif terhadap ekonomi yang berdasar pada kepentingan ekonomi dalam menjelaskan tatanan ekonomi. Sosiologi menjelaskan koordinasi dan dampak distribusi melalui kekuatan sosial yang melibatkan pelaku pasar. Tiga tipe kekuatan sosial yang telah diidentifikasi dan menjadi relevan dalam menjelaskan dampak ekonomi adalah: jaringan sosial, institusi, dan kerangka kognitif. Dalam kajian sosiologi ekonomi dapat disimpulkan bahwa masing-masing struktur mempengaruhi dampak perekonomian dan bagaimana jejaring sosial, intitusi, dna kognisi muncul, bereproduksi, dan berubah. Pembahasan secara simultan penting sebab, seringkali kajian hanya berfokus pada salah satu struktur dan mengabaikan

(18)

Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 2 Mei 2019

“Arah, Model, Desain, dan Problematika Pendidikan Guru dalam Menghadapi Perkembangan Revolusi Industri”

Copyright © 2019| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

181

yang lain, berdasarkan masing-masing pendekatan. Pemisahan tersebut tidak menghasilkan kajian yang memuaskan, karena pada kenyataannya terdapat pengaruh secara bersamaan.

Dinamika pasar, dalam hal ini adalah pasar tenaga kerja bersumber dari jaringan,

institusi, dan kerangka kognitif. Struktur mengarah pada stratifikasi field dengan

memposisikan aktor pada posisi yang kuat atau lemah. Pada saat yang sama, para aktor mendapatkan sumber daya dari posisi mereka yang dapat mereka gunakan untuk mempengaruhi institusi, struktur jaringan, dan kerangka kognitif. Dengan secara bersamaan mengkaji ketika kekuatan sosial dapat memungkinkan kajian keterkaitan kekuatan sosial sebagai sumber dinamika pasar. Namun demikian juga perlu penelitian dan pengembangan

lebih lanjut. Field dipahami sebagai tatanan sosial lokal atau arena sosial tempat aktor

“berkumpul” dan membingkai tindakan mereka dan saling berhadapan atau bersaing satu sama lain.

Dalam pembahasan bagaimana menghadapi tantangan dan peluang lulusan LPTK, Institusi, Jaringan, dan kerangka kognitif tidak dapat saling dihilangkan, namun saling melengkapi. Ketika kelompok analis jaringan berfokus pada struktur hubungan sosial, namun mengabaikan peran intitusi dan kognisi. Kelompok analisis jaringan berdasar pada gagasan bahwa komponen kehidupan sosial yang paling penting adalah institusi formal di mana aktor yang mengoperasikannya, bukan atribut dan sifat individual. Kelompok analis jaringan juga sedikit memberikan ruang peran struktur jaringan, bahkan meniadakan sama sekali. Sedangkan ilmuwan lainnya berusaha menghilangkan struktur sosial, dengan mendiskusikan pendekatan yang berbeda bahwa struktur sosial tidak berdampan independen namun secara bersama-sama. Kerangka kognitif dibawa dalam teori institusional dan analisis jaringan dengan mengkombinasikan mereka dengan jaringan dan intitusi. Terlihat dalam sosiologi institusionalisme yang menenkankan peran kerangka kognitif dan struktur makna sebagai penentu untuk menjelaskan dampak sosial dengan memperluas gagasan tentang intistusi; institusi didefinisikan sebagai makna bersama (shared meaning) secara intersubjektif dan dengan demikian tidak dapat dibedakan dari kerangka kognitif. Stratgei yang sama juga dapat dideteksi dalam pendekatan analisi jaringan yang berupaya “mengendogenisasi” kognisi. Jaringan ditafsirkan sebagai “jaringan makna” dan dikatakan menggunakan pengaruhnya terhadap aktor berdasarkan narasi yang mengekspresikan peta mental dari hubungan sosial. Dalam gagasan ini objektivitas jaringan tidak didasari oleh posisi jaringan dan struktur koneksinya, namun oleh interpretasi dominan yang melaluinya aktor memandang struktur jaringan. Beberapa analis jaringan menganggap lembaga/institusi sebagai “jaringan beku” di mana interaksi antara orang-orang secara bertahap memperoleh kualitas obyektif, dan akhirnya orang menerima begitu saja. Ireduksibilitas struktur sosial telah diakui secara komprehensif dengan penelitian sistematis tentang pengaruh tipe-tipe

(19)

Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 2 Mei 2019

“Arah, Model, Desain, dan Problematika Pendidikan Guru dalam Menghadapi Perkembangan Revolusi Industri”

Copyright © 2019| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

182

struktur sosial lain pada fokus pengembangan struktur. Misalnya menjelaskan perubahan institusional berdasarkan pembentukan jaringan baru. Institusionalisme pilihan rasional dan beberapa varian institusionalisme historis melihat institusi sebagai “kendala” agen dalam memaksimalkan utilitas dan menganggap tanggapan “rasional” terhadap struktur insentif yang diberikan tanpa mempertimbangkan kontingensi tanggapan aktor. Struktur budaya tidak mempengaruhi secara perilaku secara langsung, tetapi berdasarkan keputusan, yaitu dimediasi melalui makna yang diberikan kepada budaya oleh aktor. Konseptualisasi sistematis pengaruh mutual tiga struktur sosial dan relasi struktur agen.

Pasar (market) dapat dipahami sebagai arena interaksi sosial untuk pertukaran barang dan jasa. Elemen konstitutif pasar adalam kompetisi, yang memandu konflik tidak langsung antara partisipan pasar. Dengan memahami pasar sebagai field, penekanannya pada

analisis pasar dari tindakan pertukaran penataan sumber daya. Gagasan tentang field

mengacu pada sebuah populasi aktor yang menguasai arena sosial dengan mengorientasikan tindakan mereka terhadap yang lainnya. Aktor di dalam arena pasar adalah produsen dan konsumen yang dimediatori peraturan agensi dimulai dari negara yang melobi kompok, kumpulan, kelompok advokasi, dan kelompok penekan. Agensi dalam arena distrukturkan dengan pengaruh penggunaan kekuatan sosial aktor yang ada dalam arena. Kekuatan sosial terdiri dari relasi topografi jaringan, aturan institusional umum di dalam arena, kerangka kognitif yang menstruktur persepsi agen. Melalui kekuatan ini, sebuah tatanan lokal muncul dimana para aktor saling mengembangkan harapan bersama terkait tindakan satu sama lain. Konsep arena dikembangkan oleh ilmuwan sosial lainnya (Lewin; Bourdieu; DiMaggio dan Powell; Fligstein) arena disusun oleh kekuatan sosial yang meningkatkan stabilitas dalam interaksi sosial. Masing-masing dari tiga struktur yang dibahas dalam sosiologi ekonomi berkontribusi pada arena pasar, dan bentuk konkretnya menentukan kekuatan relatif masing-masing aktor dalam arena tersebut. Batas-batas arena tidak ditentikan secara geografis, tetapi secara budaya, politik, dan sosial. Oleh karena itu pasar saling dibentuk dan dibatasi dengan orientasi mutual aktor terhadap aktor lainnya yang diorganisir oleh kekuatan sosial. Pamahaman pasar sebagai arena mencakup konseptualisasi yang memandang pasar sebagai ranah sebagai interaksi yang disusun oleh institusi atau oleh jaringan atau oleh budaya lokal. Lebih penting lagi untuk mengkaji keterkaitan antara kekuatan-kekuatan ini berdasarkan pada kerangka kerja yang menyatukan. Masing-masing dari tiga kekuatan struktur berkontribusi untuk organisasi pertukaran pasar dengan membentuk peluang dan penghambat agen dan persepsi legitimasi dan ilegalitas. (1) Pertama, struktur jaringan memposisikan organisasi dan aktor individual dalam sebuah ruang struktural. Arena terdiri dari struktur spesifik jejaring sosial yang menciptakan kekuatan yang berbeda antara perusahaan dan status herarki. Posisi jaringan menggambarkan ukuran perusahaan yang terkait dengan lainnya, memunculkan tatanan reputasi, menciptakan batasan keluar dan

(20)

Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 2 Mei 2019

“Arah, Model, Desain, dan Problematika Pendidikan Guru dalam Menghadapi Perkembangan Revolusi Industri”

Copyright © 2019| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

183

masuk pasar, dan memungkinkan difusi gagasan. Setiap perusahaan menempati “ruang kehidupan” khusus di arena pasar yang memberikan peluang dan resiko, tergantung pada posisi yang mereka tempati terkait dengan yang lain. (2) Kedua, kekuatan relatif para aktor berlabuh dalam aturan regulatif institusional yang memungkinkan dan mendukung jenis perilaku tertentu sementara yang lainnya mencegah. Meskipun dampak dari regulasi institusional juga terbukti dalam struktur jaringan arena pasar, dampak tersebut tetap merupakan kekuatan sosial yang tidak dapat direduksi. Menjadi perusahaan dengan pangsa pasar terbesar memiliki dampak yang berbeda terhadap pilihan strategi perusahaan, contoh adanya undang-undang antimonopoli. Jika undang-undang antimonopoli menghentikan perusahaan dominan untuk melakukan merger dan akuisisi yang selanjutnya meningkatkan pangsa pasar mereka, hal tersebut berpengaruh pada perilaku perusahaan yang belum ada dalam struktur sosial arena itu sendiri. Bea cukai impor, subsidi, hak kekayaan intelektual, atau hukum perburuhan adalah contoh lain dari aturan kelembagaan yang mempengaruhi persaingan di pasar dengan cara uang tidak dapat direduksi menjadi struktur jaringan arena. (3) Ketiga, kerangka kognitif menyediakan organisasi mental lingkungan sosial dan dengan demikian berkontribusi pada tatanan arena pasar. Institusi dan struktur sosial harus ditafsirkan oleh para aktor dalam istilah implikasi perilaku mereka, karena aturan tidak pernah cukup spesifik untuk menentukan respon dalam situasi konkret. Ahli teori institusional telah menunjukkan bahwa aturan yang sama dapat menyebabkan konsekuensi perilaku yang sangat berbeda berdasarkan interpretasi berbeda dari implikasinya dalam situasi konkret (Edelmen;Jackson). Kerangka kognitif juga membentuk struktur sosial dalam haknya mereka sendiri. Norma-norma sosial serta aturan “bagaimana seharusnya” adalah bagian dari struktur makna yang tertulis secara sosial berlaku di arena pasar. Tindakan mencerminkan, khususnya “diterima begitu saja” yang berlaku di lingkungan sosial para aktor.

Secara bersama-sama tiga struktur sosial membentuk “jejaring sosial” yang membentuk posisi dan melibatkan aktor. Kekuatan sosial secara analitis independen tetapi secara empiris terjalin erat. Tipologi sosial arena merupakan perbedaan kekuasaan dan peluang keuntungan yang berbeda.

(21)

Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 2 Mei 2019

“Arah, Model, Desain, dan Problematika Pendidikan Guru dalam Menghadapi Perkembangan Revolusi Industri”

Copyright © 2019| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

184

Jejaring sosial dipahami sebagai keterkaitan antar sektor dalam penyelanggaraan LPTK. Jejaring dan saling terkait teori dan praktik pendidikan keguruan. Gap antara teori dan praktik sudah dikemukakan oleh Dewey sejak tahun 1904, namun hingga kini gap tersebut masih menjadi topik yang didiskusikan. Teori dan praktik dalam pendidikan keguruan dapat berkaitan erat. Gap tersebut disebabkan karena masalah sosialisasi yang kurang antara LPTK dan sekolah, kompleksitas pembelajaran di LPTK juga menjadi penyebab adanya gap. Gap juga muncul karena di LPTK juga lebih mengajarkan teori (Korthagen, 2010). Jejaring antara LPTK dengan sistem ekonomi juga perlu dibangun, untuk mengurangi pengagguran lulusan LPTK. Selain itu LPTK perlu memperhatikan jaringan kebijakan global (Auld & Morris, 2019:22).

Kerangka kognitif perlu dikembangkan agar lulusan LPTK dapat bertahan di era 4.0. Kerangka kognitif pemangku kebijakan terkait strategi pengelolaan pendidikan tinggi. Prinsip dan praktik manajemen pendidikan tinggi secara sistemik tidak hanya tingkat manajemen atas, namun juga persyaratan esensi semua level manajemen pendidikan tinggi yang kompleks. Peningkatan strategi yang efektif dan cepat dalam menanggapi tekanan eksternal. Manajemen tingkat atas pada pendidikan tinggi perlu memiliki keterampilan alokasi keuangan (Ahmed, Ahmed, Shimul, & Zuñiga, 2015). Perencanaan strategis pendidikan tinggi memperhatikan permintaan publik, sehingga layanann yang diperlukan adalah layanan berbasis publik.

Institusi LPTK harus menemukan cara untuk memenuhi harapan masyarakat yakni menyesuaikan antara bakat dengan kehidupan nyata. Manajemen mata rantai antara LPTK dan kehidupan nyata perlu dikembangkan oleh institusi. LPTK perlu mengembangan transfer keahlian dan percepatan pembelajaran terapan, mengolah keterampilan hubungan personal, dan mendukung peningkatan kualitas bisnis (Benson & Chau, 2019:1). LPTK

(22)

Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 2 Mei 2019

“Arah, Model, Desain, dan Problematika Pendidikan Guru dalam Menghadapi Perkembangan Revolusi Industri”

Copyright © 2019| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

185

harus mampu membangun komunitas yang berguna bagi sistem pendidikan. Pembuatan keputusan berbasis data empiris sangat penting terinstitusionalisasi di LPTK.

Penutup

Lulusan LPTK menghadapi berbagai tantangan di era 4.0, namun demikian tantangan tersebut perlu dikelola berdasarkan peluang dan kelebihan yang dimiliki. Sebab guru masih menjadi faktor penting dalam proses pendidikan. Dalam menghadapi tantangan lulusan LTPK perlu adanya relasi timbal balik antara kerangka pemikiran, jejaring, dan institusional. Daftar Pustaka

Agung, I., & Santosa, A. (2017). Dinamika LPTK Menuju Perguruan Tinggi Kelas Dunia (World

Class University). Perspektif Ilmu Pendidikan, 31(1), 43–54.

Ahmed, J. U., Ahmed, K. U., Shimul, M. A. S., & Zuñiga, R. (2015). Managing Strategies for

Higher Education Institutions in the UK. Higher Education for the Future, 2(1), 32–48.

https://doi.org/10.1177/2347631114558189

Alles, M., Apel, J., Seidel, T., & Sturmer, K. (2019). How Candidate Teachers Experience Coherence in University Education and Teacher Induction: the Influence of Perceived

Professional Preparation at University and Support during Teacher Induction. Vocations

and Learning Vocations and Learning: Studies in Vocational and Professional Education,

12(1), 87–112.

Aried Budiman. (2019). Industri 4.0 vs Society 5.0. Retrieved March 30, 2019, from http://ft.ugm.ac.id/kolom-pakar-industri-4-0-vs-society-5-0/

Auld, E., & Morris, P. (2019). The OECD and IELS: Redefining early childhood education for the

21st century. Policy Futures in Education, 17(1), 11–26.

https://doi.org/10.1177/1478210318823949

Bandura, A. (2003). Self-Efficacy: The Exercise of Control. New York: W.H. Freeman and

Company.

Beckert, J. (2010). How do Fields Change? The Interrelations of Institutions, Networks, and

Cognition in the Dynamics of Markets. Organization Studies, 31(5), 605–627.

https://doi.org/10.1177/0170840610372184

Benson, G. E., & Chau, N. N. (2019). The Supply Chain Management Applied Learning Center: A

university–industry collaboration. Industry and Higher Education, 095042221982718.

https://doi.org/10.1177/0950422219827188

Budhi Slamet Saepudin. (2018). Revolusi Industri 4.0, Apakah itu? dan Pengaruhnya Terhadap

Dunia Pendidikan. Retrieved March 25, 2019, from

http://disdikkbb.org/?news=revolusi-industri-4-0-apakah-itu-dan-pengaruhnya-terhadap-dunia-pendidikan

Chaiklin, S., & Lave, J. (2006). Understanding Practice: Perspectives on Activity and Context.

Cambridge: Cambridge University Press.

(23)

Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 2 Mei 2019

“Arah, Model, Desain, dan Problematika Pendidikan Guru dalam Menghadapi Perkembangan Revolusi Industri”

Copyright © 2019| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

186

High-Performing Systems. New York: Teachers College Press.

Desimone, L. M., Smith, T., Baker, D., & Ueno, K. (2005). Assessing Barriers to the Reform of U.S.

Mathematics Instruction From an International Perspective. American Educational

Research Journal, 42(3), 501–535.

Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Presiden Republik Indonesia. Undang-Undang Tentang Guru dan Dosen, Pub. L. No. 14, 1 (2005). Retrieved from http://luk.staff.ugm.ac.id/atur/UU14-2005GuruDosen.pdf

Disas, E. P. (2018). Link and Match sebagai Kebijakan Pendidikan Kejuruan. Jurnal Penelitian

Pendidikan, 18(2), 231–242.

Diyan Nur Rakhmah. (2018). Mampukah Pendidikan Kita Beradaptasi dengan Revolusi Industri 4.0? Retrieved March 25, 2019, from https://kumparan.com/birokrat- menulis/mengurai-pekerjaan-rumah-pendidikan-indonesia-menyongsong-revolusi-industri-4-0-1543639076398979922

Donny Budi. (2018). Sejarah Revolusi Industri 1.0 Hingga 4.0. Retrieved March 25, 2019, from http://otomasi.sv.ugm.ac.id/2018/10/09/sejarah-revolusi-industri-1-0-hingga-4-0/ Gumanti Awaliyah. (2018). Revitalisasi LPTK Mesti Ditingkatkan. Retrieved April 29, 2019, from

https://www.republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/18/10/04/pg2ahl335-revitalisasi-lptk-mesti-ditingkatkan

Jesa, M., & E.V., N. (2017). Teaching Strategies Adopted by Teachers at Higher Education Level in

Kerala: A Research Report. Higher Education for the Future, 4(1), 4–11.

https://doi.org/10.1177/2347631116680912

Jon Darmawan. (2018). Menjadi Guru Era Pendidikan 4.0. Retrieved March 25, 2019, from http://aceh.tribunnews.com/2018/11/27/menjadi-guru-era-pendidikan-40

Kementerian PPN/Bappenas. (2017). BONUS DEMOGRAFI 2030-2040: STRATEGI

INDONESIA TERKAIT KETENAGAKERJAAN DAN PENDIDIKAN. Jakarta.

Retrieved from https://www.bappenas.go.id/files/9215/0397/6050/Siaran_Pers_-_Peer_Learning_and_Knowledge_Sharing_Workshop.pdf

Klette, K., & Hammerness, K. (2017). Conceptual Framework for Analyzing Qualities in Teacher Education: Looking at Features of Teacher Education from an International Perspective.

Acta Didactica Norge, 10(2), 26. https://doi.org/10.5617/adno.2646

Korthagen, F. A. J. (2010). The Relationship Between Theory and Practice in Teacher Education.

International Encyclopedia of Education, (1993), 669–675.

https://doi.org/10.1016/B978-0-08-044894-7.00638-2

Lipusan Khusus Koran Sindo. (2019). Bonus Demografi Harus Diisi Generasi Sehat dan Cerdas.

Retrieved April 29, 2019, from

https://nasional.sindonews.com/read/1390767/15/bonus-demografi-harus-diisi-generasi-sehat-dan-cerdas-1553748980

M. Irfan. (2018). Tingkatkan Profesionalisme Guru, LPTK Harus Berubah. Retrieved April 29,

2019, from

https://mediaindonesia.com/read/detail/191921-tingkatkan-profesionalisme-guru-lptk-harus-berubah

Penington, D. (1998). Managing Quality in Higher Education Institutions of The 21st Century A

Framework for the Future. Australian Journal of Education, 42(2), 256–270.

Prince, B. F. (2010). Effectiveness of Teacher Preparation: From Theory to Practice. Capella

University.

Republik Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pub. L. No. 20, 1 (2003). Retrieved from

(24)

https://kelembagaan.ristekdikti.go.id/wp-Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 2 Mei 2019

“Arah, Model, Desain, dan Problematika Pendidikan Guru dalam Menghadapi Perkembangan Revolusi Industri”

Copyright © 2019| Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

187

content/uploads/2016/08/UU_no_20_th_2003.pdf

Richmond, G., Salazar, M. del C., & Jones, N. (2019). Assessment and the Future of Teacher

Education. Journal of Teacher Education, 70(2), 86–89.

https://doi.org/10.1177/0022487118824331

Rudianto. (2018). Pendidikan Tinggi di Era Digital dan Revolusi Industri. Retrieved March 25, 2019, from https://nscpolteksby.ac.id/detailberita-440-pendidikan-tinggi-di-era-digital-dan-revolusi-industri-40

Satya, V. E. (2018). Kajian Singkat Terhadap Isu Aktual Dan Strategis Strategi Indonesia

Menghadapi Industri 4.0. Kajian Singkat Terhadap Isu Aktual Dan Strategis Strategi

Indonesia Menghadapi Industri 4.0 (Vol. X).

Udi Utomo. (2018). Ancaman Bagi Sarjana Kependidikan. Retrieved April 29, 2019, from

https://www.suaramerdeka.com/smcetak/baca/72924/ancaman-bagi-sarjana-kependidikan

Universitas Negeri Surabaya. (2012). EHC di LPTK Pacu Lahirkan Teacherpreneur. Retrieved April 29, 2019, from https://www.unesa.ac.id/ehc-di-lptk-pacu-lahirkan-teacherpreneur .

Referensi

Dokumen terkait

Urutan spektrum gelombang elektromagnetik dari frekuensi terkecil hingga frekuensi terbesar adalah gelombang radio, gelombang mikro, sinar inframerah, cahaya tampak, sinar

Pengumpulan kebutuhan dan analisis merupakan proses pengumpulan dan analisis informasi tentang bagian dari organisasi yang akan didukung oleh sistem basis data, dan

 Memberi hasil yang baik pada Memberi hasil yang baik pada pengendalian nyamuk dan larva pengendalian nyamuk dan larva

dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulis telah berusaha seoptimal mungkin dalam proses penelitian dan penyusunan skripsi ini untuk menghasilkan karya yang terbaik.

Berdasarkan hasil observasi, evaluasi dan refleksi pada setiap siklus tindakan yang telah diurai pada bab sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa melalui penggunaan

AN ANALYSIS OF COHESION IN THE ABSTRACT OF THE THESES WRITTEN BY UNDERGRADUATE STUDENTS OF ENGLISH EDUCATION PROGRAM AT ONE STATE UNIVERSITY IN BANDUNG.. Universitas

Namun, kajian ini, “ Kedudukan Hadith Dalam Buku Doa-doa Mustajab Harian yang Dipetik Daripada Hadith dan al- Quran” yang diambil dalam majalah Pengasuh terbitan

PENGECUALIAN PENDAFTARAN BAGI ORANG YANG MEMBUAT PEMBEKALAN. BERKADAR SIFAR