• Tidak ada hasil yang ditemukan

6 STATUS KEBERLANJUTAN PENYEDIAAN AIR BERSIH DI PULAU TARAKAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "6 STATUS KEBERLANJUTAN PENYEDIAAN AIR BERSIH DI PULAU TARAKAN"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

6.1 Status Keberlanjutan Penyediaan Air Bersih

Dalam penelitian penyediaan air bersih di Pulau Tarakan, penentuan indeks keberlanjutan kawasan pada lima dimensi keberlanjutan, yaitu dimensi lingkungan, ekonomi, sosial, infrastruktur dan teknologi, serta hukum dan kelembagaan dengan atribut dan nilai skoring hasil pendapat pakar dapat dilihat pada Lampiran 3. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan Rap-TARAKAN (MDS) diperoleh indeks keberlanjutan untuk dimensi lingkungan sebesar 31,80% dengan status tidak berkelanjutan, dimensi ekonomi sebesar 88,24% dengan status berkelanjutan, dimensi sosial sebesar 57,53% dengan status kurang berkelanjutan, dimensi infrastruktur dan teknologi sebesar 20,14% dengan status kurang berkelanjutan, serta dimensi hukum dan kelembagaan sebesar 74,21% dengan status cukup berkelanjutan. Agar nilai indeks ini di masa akan datang dapat terus meningkat sampai mencapai status berkelanjutan, perlu perbaikan-perbaikan terhadap atribut-atribut yang sensitif berpengaruh terhadap nilai indeks dimensi infrastruktur dan teknologi juga terhadap dimensi lingkungan, ekonomi dan dimensi sosial. Atribut-atribut yang dinilai sensitif oleh para pakar didasarkan pada kondisi eksisting wilayah. Adapun nilai indeks lima dimensi keberlanjutan hasil analisis Rap-TARAKAN seperti pada Gambar 25 dan Lampiran 4.

Gambar 25 Diagram layang (kite diagram) nilai indeks keberlanjutan penyediaan air bersih di Pulau Tarakan

0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 Lingkungan (31,80%) Ekonomi (88,24%) Sosial (52,25%) Infrastruktur - Teknologi (20,14%) Hukum - Kelembagaan (74,21%)

(2)

a. Status Keberlanjutan Dimensi Lingkungan

Atribut yang diperkirakan memberikan pengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pada dimensi lingkungan terdiri dari sembilan atribut, yaitu (1) daerah konservasi air, (2) frekuensi kejadian kekeringan, (3) kualitas air baku, (4) kuantitas air baku, (5) curah hujan & hari hujan, (6) pengembangan sumber air baku, (7) pemanfaatan lahan terhadap kualitas air, (8) tinggi permukaan air tanah, dan (9) tingkat pencemaran sungai. Analisis leverage yang dipakai untuk melihat atribut-atribut yang sensitif memberikan pengaruh terhadap nilai indeks keberlanjutan lingkungan. Berdasarkan hasil analisis leverage diperoleh tiga atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan lingkungan yaitu (1) kuantitas air baku dapat diperoleh melalui : curah hujan & hari hujan (2), dan pengembangan sumber air baku (3). Gambar 26 menyediakan informasi mengenai hasil analisis leverage dimensi keberlanjutan lingkungan.

Gambar 26 Peran masing-masing atribut aspek lingkungan yang dinyatakan dalam bentuk nilai rms (root mean square)

Analisis Leverage Atribut Dimensi Lingkungan

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Daerah konservasi air Frekuensi kejadian

kekeringan Kualitas air baku Kuantitas air baku Curah hujan dan hari

hujan Pengembangan sumber air baku Pemanfaatan lahan terhadap kualitas air Tinggi permukaan air

tanah Tingkat pencemaran sungai A tt ri bu te

Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100)

(3)

Atribut-atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi lingkungan yaitu (1) kuantitas air baku dapat diperoleh melalui : curah hujan dan hari hujan merupakan faktor utama yang mengendalikan proses daur hidrologi di daerah tangkapan air atau daerah aliran sungai (2) dan pengembangan sumber air baku (3). Curah hujan rata-rata Pulau Tarakan tahun 2008 mencapai 330,8 mm per tahun dengan rata-rata curah hujan tertinggi terjadi pada Bulan Januari sebesar 443,6 mm dan rata-rata curah hujan terendah sebesar 206,6 mm yang terjadi pada Bulan Oktober (BPS Tarakan, 2009).

Hujan adalah partikel-partikel air dengan diameter 0.5 mm atau lebih. Jika jatuhnya sampai ke tanah maka disebut hujan, akan tetapi apabila jatuhannya tidak dapat mencapai tanah karena menguap lagi maka jatuhan tersebut disebut Virga. Hujan juga dapat didefinisikan dengan uap yang mengkondensasi dan jatuh ketanah dalam rangkaian proses hidrologi. Hujan merupakan salah satu bentuk presipitasi uap air yang berasal dari awan yang terdapat di atmosfer. Bentuk presipitasi lainnya adalah salju dan es. Untuk dapat terjadinya hujan diperlukan titik-titik kondensasi, amoniak, debu dan asam belerang. Titik-titik kondensasi ini mempunyai sifat dapat mengambil uap air dari udara.

Satuan curah hujan selalu dinyatakan dalam satuan millimeter atau inchi namun untuk di Indonesia satuan curah hujan yang digunakan adalah dalam satuan millimeter (mm). Curah hujan merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir. Curah hujan 1 mm artinya dalam luasan 1 m2 pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu milimeter atau tertampung air sebanyak satu liter. Intensitas hujan adalah banyaknya curah hujan persatuan jangka waktu tertentu. Untuk lebih meningkatkan status keberlanjutan Pulau Tarakan, maka upaya perbaikan tidak hanya dilakukan terhadap atribut yang sensitif memberikan pengaruh terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi lingkungan, namun atribut-atribut lain yang tidak sensitif berdasarkan analisis leverage juga perlu mendapatkan perhatian yang serius untuk ditangani. Upaya yang perlu dilakukan adalah dengan mempertahankan atau meningkatkan atribut-atribut yang berdampak positif terhadap peningkatan keberlanjutan dimensi lingkungan kawasan. Di sisi lain juga berupaya menekan sekecil mungkin atribut-atribut yang memberikan dampak negatif terhadap penurunan tingkat keberlanjutan dimensi lingkungan kawasan. Adapun atribut-atribut yang perlu dipertahankan atau ditingkatkan antara lain : (1) daerah konservasi air, (2) tinggi permukaan air tanah

(4)

dan (3) kualitas air permukaan. Sementara atribut-atribut yang perlu ditekan agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap penurunan status keberlanjutan kawasan adalah (1) tingkat pencemaran sungai, (2) pemanfaatan lahan terhadap kualitas air, dan (3) frekuensi kekeringan dengan menggunakan pembangunan dam, tanggul, penahan banjir dan drainase untuk pengelolaan sumberdaya air, serta pembuatan sumur resapan.

b. Status Keberlanjutan Dimensi Ekonomi

Atribut yang diperkirakan memberikan pengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pada dimensi ekonomi terdiri dari tujuh atribut, yaitu (1) tingkat keuntungan PDAM, (2) tarif air PDAM, (3) persentase penduduk miskin, (4) penetapan harga (price discrimination) di antara dan di dalam kelompok konsumen, (5) willingness to pay (kesediaan membayar dalam pemakaian sumber air), (6) kontribusi sektor pemanfaatan sumber air terhadap PDRB, dan (7) ketersediaan dana untuk pengembangan air bersih.

Berdasarkan hasil analisis leverage diperoleh tiga atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan ekonomi yaitu (1) tingkat keuntungan PDAM, (2) tarif air PDAM, dan (3) willingness to pay (kesediaan membayar dalam pemakaian sumber air). Hasil analisis leverage dimensi keberlanjutan ekonomi dapat dilihat pada Gambar 27.

Atribut-atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi ekonomi yaitu (1) tingkat keuntungan PDAM (2) tarif air PDAM dan (3) willingness to pay (kesediaan membayar dalam pemakaian sumber air). Tarif air merupakan harga dalam rupiah yang harus dibayarkan oleh pelanggan PDAM untuk setiap pemakaian meter kubik air bersih yang disalurkan oleh PDAM (Permendagri No. 2 Tahun 1998). Besarnya tarif merupakan kesepakatan bersama antara pihak penyedia pelayanan air bersih (PDAM) dengan pengguna jasa layanan air bersih (pelanggan), sedangkan peran pemerintah dalam melaksanakan fungsinya selaku pembina (regulator) sektor sumber daya air hendaknya dalam menentukan kebijakan di bidang penetapan tarif air minum memerlukan pertimbangan – pertimbangan yang berorentasi kepada kemauan dan kemampuan daya beli pelanggan (ability and willingness to pay) di satu pihak dan kelangsungan hidup perusahaan di pihak lainnya.

Untuk mengetahui kemampuan dan kemauan membayar tersebut perlu dilakukan analisis keterjangkauan daya beli pelanggan air minum dalam

(5)

membayar tarif yang meliputi analisis kemauan membayar (willingness to pay) dan analisis kemampuan membayar (ability to pay) terhadap tarif yang berlaku.

Rendahnya tingkat ekonomi masyarakat menjadi kendala bagi keberlanjutan sistem penyediaan air bersih. Salah satu indikator keberlanjutan sistem adalah tingkat kepuasan pelanggan.Keberlanjutan dapat dijamin dengan pengelolaan yang baik dan didukung oleh partisipasi masyarakat, baik dalam bentuk kelancaran pembayaran pemakaian air atau keterlibatan langsung dalam setiap tahapan kegiatan pelayanan air bersih. Pengelolaan yang baik dan keterlibatan masyarakat menjadi pendorong keandalan sistem penyediaan air bersih, yang pada akhirnya menaikkan tingkat kepuasan masyarakat.

Gambar 27 Peran masing-masing atribut aspek ekonomi yang dinyatakan dalam bentuk nilai rms (root mean square)

Analisis Leverage Atribut Dimensi Ekonomi

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5

Tingkat keuntungan PDAM Penetapan harga (price discrimination) di antara dan di dalam kelompok konsumen Persentase penduduk miskin Tarif air PDAM Willingness to pay (kesediaan membayar

dalam pemakaian sumber air) Kontribusi sektor pemanfaatan sumber air

terhadap PDRB

Ketersediaan dana untuk pengembangan air bersih A tt ri bu te

Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100)

(6)

c. Status Keberlanjutan Dimensi Sosial

Atribut yang diperkirakan memberikan pengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pada dimensi sosial terdiri dari tujuh atribut, yaitu (1) tingkat pendidikan formal masyarakat, (2) pemahaman dan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian sumber air, (3) pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan pemanfaatan air bersih, (4) tingkat keluhan masyarakat pelanggan terhadap PDAM, (5) tingkat ketergantungan masyarakat terhadap air bersih, (6) peran masyarakat adat dalam kegiatan pemanfaatan air, dan (7) konflik pengambilan sumber air. Hasil analisis leverage dimensi keberlanjutan sosial dapat dilihat pada Gambar 28.

Berdasarkan hasil analisis leverage diperoleh dua atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan sosial yaitu (1) tingkat keluhan masyarakat pelanggan terhadap PDAM dan (2) tingkat ketergantungan masyarakat terhadap air bersih. Dua atribut sensitif ini mempunyai hubungan yang erat dalam rangka pemenuhan kebutuhan akan air bersih, masyarakat sangat tergantung tergantung akan air bersih dalam kehidupan sehari-hari namun jika air bersih yang didapatkan tidak sesuai kuantitas dan kualitas yang dibutuhkan akan menimbulkan masalah yang biasanya berupa keluhan.

Air merupakan komponen lingkungan yang penting bagi kehidupan. Makhluk hidup di muka bumi ini tak dapat terlepas dari kebutuhan akan air. Air merupakan kebutuhan utama bagi proses kehidupan di bumi, sehingga tidak ada kehidupan seandainya di bumi tidak ada air. Namun demikian, air dapat menjadi malapetaka bilamana tidak tersedia dalam kondisi yang benar, baik kualitas maupun kuantitasnya.

Air yang relatif bersih sangat didambakan oleh manusia, baik untuk keperluan hidup sehari-hari, untuk keperluan industri, untuk kebersihan sanitasi Pulau, maupun untuk keperluan pertanian dan lain sebagainya. Dewasa ini air menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian yang seksama dan cermat. Karena untuk mendapatkan air yang bersih, sesuai dengan standar tertentu, saat ini menjadi barang yang mahal karena air sudah banyak tercemar oleh bermacam-macam limbah dari hasil kegiatan manusia, baik limbah dari kegiatan rumah tangga, limbah dari kegiatan industri dan kegiatan-kegiatan lainnya. Dan ketergantungan manusia terhadap air pun semakin besar sejalan dengan perkembangan penduduk yang semakin meningkat. Selain kualitas air yang menurun akibat pencemaran pada sumber air, tidak tercukupinya jumlah air

(7)

bersih yang dapat digunakan oleh masyarakat juga dapat menimbulkan masalah terhadap kesehatan masyarakat seperti timbulnya penyakit akibat penggunaan air seperti diare, kudis dan trachoma. Untuk meningkatkan status keberlanjutan dimensi sosial, perlu diperhatikan keluhan masyarakat terhadap ketergantungan air bersih yang layak dikonsumsi (kualitas) dan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap air bersih (kuantitas).

Keluhan tingkat keluhan masyarakat pelanggan terhadap PDAM merupakan masalah dari tingkat kepuasan pelanggan. Kepuasan pelanggan (Customer Satifaction) atau sering disebut juga dengan Total Customer Satisfaction menurut Barkelay dan Saylor (1994) merupakan fokus dari proses Costomer-Driven Project Management (CDPM), bahkan dinyatakan pula bahwa kepuasan pelanggan adalah kualitas. Begitu juga definisi singkat tentang kualitas yang dinyatakan oleh Juran (1993) bahwa kualitas adalah kepuasan pelanggan.

Menurut Kotler yang dikutip Tjiptono (1996) bahwa kepuasan pelanggan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja (atau hasil) yang dirasakan dengan harapannya. Jadi, tingkat kepuasan adalah fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan harapan. Kualitas termasuk semua elemen yang diperlukan untuk memuaskan tujuan pelanggan, baik internal maupun ekternal, juga termasuk tiap-tiap item dalam produk kualitas, kualitas layanan, performance, availibility, durability,aesthetic, reability, maintainability, logistic, supprtability, costomer service, training, delivery, billing, shipping, repairing, marketing, warranty, dan life cycle cost.

Melalui komunikasi, baik antarpelanggan maupun dengan supplier akan menjadikan harapan bagi pelanggan terhadap kualitas produk yang akan dibelinya. Pemahaman terhadap harapanharapan pelanggan oleh supplier merupakan input untuk melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas produk, baik barang maupun jasa. Pelanggan akan membandingkan dengan produk jasa lainnya. Bilamana harapan-harapannya terpenuhi, maka akan menjadikannya pelanggan loyal, puas terhadap produk barang atau jasa yang dibelinya. Sebaliknya, bilamana tidak puas, supplier akan ditinggalkan oleh pelanggan.

Kunci keputusan pelanggan berkaitan dengan kepuasan terhadap penilaian produk barang dan jasa. Kerangka kepuasan pelanggan tersebut terletak pada kemampuan supplier dalam memahami kebutuhan, keinginan dan harapan pelanggan sehingga penyampaian produk, baik barang maupun jasa oleh supplier sesuai dengan harapan pelanggan. Selain faktor-faktor tersebut di

(8)

atas, dimensi waktu juga mempengaruhi tanggapan persepsi pelanggan terhadap kualitas produk, baik barang maupun jasa.

Kata kualitas mengandung banyak definisi dan makna karena orang yang berbeda akan mengartikannya secara berlainan, seperti kesesuaian dengan persyaratan atau tuntutan, kecocokan untuk pemakaian perbaikan berkelanjutan, bebas dari kerusakan atau cacat, pemenuhan kebutuhan pelanggan, melakukan segala sesuatu yang membahagiakan. Dalam persepektif TQM (Total Quality Management) kualitas dipandang secara lebih luas, yaitu tidak hanya aspek hasil yang ditekankan, tetapi juga meliputi proses, lingkungan dan manusia. Hal ini jelas tampak dalam definisi yang dirumuskan oleh Goeth dan Davis yang dikutip Tjiptono (2000) bahwa kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan. Sebaliknya, menurut Lukman (1999) definisi kualitas bervariasi dari yang kontroversional hingga kepada yang lebih strategik. Definisi konvensional dari kualitas biasanya menggambarkan karakteristik langsung suatu produk, seperti : 1) ferformansi (performance); 2) keandalan (reliability) ; 3) mudah dalam penggunaan (ease of use);dan 4) estetika (esthetics), dan sebagainya. Oleh karena itu, kualitas pada prinsipnya adalah untuk menjaga janji pelanggan agar pihak yang dilayani merasa puas dan diungkapkan.

Kualitas memiliki hubungan yang sangat erat dengan kepuasan pelanggan, yaitu kualitas memberikan suatu dorongan kepada pelanggan untuk menjalani ikatan hubungan yang kuat dengan perusahaan. Dalam jangka panjang ikatan seperti ini memungkinkan perusahaan untuk memahami dengan saksama harapan pelanggan serta kebutuhan mereka. Dengan demikian, perusahaan dapat meningkatkan kepuasan pelanggan, yang pada gilirannya kepuasan pelanggan dapat menciptakan kesetiaan atau loyalitas pelanggan kepada perusahaan yang memberikan kualitas memuaskan.

(9)

Gambar 28 Peran masing-masing atribut aspek sosial yang dinyatakan dalam bentuk nilai rms (root mean square)

d. Status Keberlanjutan Dimensi Infrastruktur dan Teknologi

Atribut yang diperkirakan memberikan pengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pada dimensi infrastruktur dan teknologi terdiri dari enam atribut, yaitu (1) tingkat pelayanan PDAM (air bersih), (2) infrastruktur air limbah, (3) kondisi drainase di kawasan permukiman, (4) kondisi jaringan distribusi perpipaan, (5) kondisi IPA PDAM, dan (6) ketersediaan layanan listrik untuk pengolahan air bersih. Hasil analisis leverage dimensi keberlanjutan infrastruktur dan teknologi dapat dilihat pada Gambar 29.

Berdasarkan hasil analisis leverage diperoleh tiga atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi infrastruktur dan teknologi yaitu (1)

Analisis Leverage Atribut Dimensi Sosial

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5

Tingkat pendidikan formal masyarakat Pemahaman dan kepedulian masyarakat Tingkat ketergantungan masyarakat terhadap

air bersih

Pemberdayaan masyarakat dalam pemanfaatan air

Tingkat keluhan masyarakat pelanggan terhadap PDAM

Peran masyarakat adat dalam kegiatan pemanfaatan air

Konflik pengambilan sumber air

A

tt

ri

bu

te

Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100)

(10)

tingkat pelayanan PDAM (air bersih) dan (2) kondisi IPA PDAM, untuk itu diperlukan (3) ketersediaan layanan listrik untuk pengolahan air bersih dibangun untuk mendukung pelayanan air bersih bagi masyarakat Pulau Tarakan.

Tingkat pelayanan PDAM di Pulau Tarakan masih rendah, pada beberapa kasus air bersih yang terjadi di lapangan masih didapatkan air yang tidak bersih. Salah satu contoh, air dari PDAM jika dialirkan ke dalam bak mandi atau penampungan setelah beberapa jam kemudian air tersebut berubah warna menjadi kuning. Menurut Lukman (1999) pelayanan adalah kegiatan-kegiatan yang tidak jelas, namun menyediakan kepuasan konsumen dan atau pemakai industri serta tidak terikat pada penjualan suatu produk atau pelayanan lainnya. Lebih lanjut dikatakan bahwa pelayanan adalah suatu urutan kegiatan yang terjadi dalam interaksi langsung dengan orang-orang atau mesin secara fisik dan menyediakan kepuasan konsumen.

Pemerintah sebagai lembaga birokrasi mempunyai fungsi untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sebaliknya, masyarakat sebagai pihak yang memberikan mandat kepada pemerintah mempunyai hak untuk memperoleh pelayanan. Oleh karena itu, tuntutan terhadap pelayanan umum melahirkan suatu studi, yaitu servis bagaimana cara memberikan pelayanan sebaik-baiknya dan meningkatkan kualitas pelayanan umum. Aparat sebagai pelayan hendaknya memahami variabel-variabel pelayanan seperti yang terdapat dalam agenda perilaku pelayanan prima sektor publik Sespanas LAN yang dikutip Lukman (1999). Variabel yang dimaksud adalah sebagai berikut : (1) Pemerintah yang bertugas melayani, (2) Masyarakat yang dilayani pemerintah, (3) Kebijaksanaan yang dijadikan landasan pelayanan publik, (4) Peralatan atau sasaran pelayanan yang canggih, (5) Resources yang tersedia untuk diracik dalam bentuk kegiatan pelayanan, (6) Kualitas pelayanan yang memuaskan masyarakat sesuai dengan standar dan asas-asas pelayanan masyarakat, (7) Manajemen dan kepemimpinan serta organisasi pelayanan masyarakat, dan (8) Perilaku yang terlibat dalam pelayanan dan masyarakat, apakah masing-masing menjelaskan fungsi. Kedelapan variabel tersebut mengisyaratkan bahwa betapa pentingnya kualitas pelayanan masyarakat dewasa ini sehingga tidak dapat diabaikan lagi, bahkan hendaknya disesuaikan dengan tuntutan globalisasi.

(11)

Gambar 29 Peran masing-masing atribut aspek infrastruktur dan teknologi yang dinyatakan dalam bentuk nilai rms (root mean square)

e. Status Keberlanjutan Dimensi Hukum dan Kelembagaan

Atribut yang diperkirakan memberikan pengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pada dimensi hukum dan kelembagaan terdiri dari lima atribut, yaitu (1) keberadaan balai pemantauan kualitas air, (2) keberadaan lembaga sosial, (3) ketersediaan peraturan perundang-undangan pengelolaaan air bersih (4) ketersediaan perangkat hukum adat/agama, dan (5) kerjasama antar stakeholder. Berdasarkan hasil analisis leverage diperoleh dua atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan hukum dan kelembagaan yaitu (1) keberadaan lembaga sosial, dan (2) ketersediaan peraturan perundang-undangan pengelolaaan air bersih. Hasil analisis leverage dimensi keberlanjutan hukum dan kelembagaan dapat dilihat pada Gambar 30.

Analisis Leverage Atribut Dimensi Infrastruktur-Teknologi

0 2 4 6 8 10 12

Tingkat pelayanan air bersih PDAM Infrastruktur air limbah

Kondisi drainase di kawasan permukiman

Kondisi jaringan distribusi perpipaan

Kondisi IPA PDAM Ketersediaan layanan

listrik untuk PAB

A

tt

ri

bu

te

Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100)

(12)

Gambar 30 Peran masing-masing atribut aspek hukum dan kelembagaan yang dinyatakan dalam bentuk nilai rms (root mean square)

Sasaran pemanfaatan air bersih untuk kepentingan sosial secara selektif. Sesuai dengan SKB Mendagri dan Menteri PU No 4 tahun 1984, PDAM sebagai pelaku ekonomi sektor air bersih (SAB) bersifat memberi jasa dan menyelenggarakan kemanfaatan umum. Hal ini berimplikasi bahwa PDAM harus mampu merumuskan kepentingan-kepentingan sosial secara obyektif, disesuaikan dengan keadaan internalnya, dan memilih wilayah operasi yang seharusnya. Langkah operasional sasaran kedua ini telah dikerjakan melalui alokasi air bersih kepada terminal sambungan hidran umum. Langkah operasional lain sekalipun kurang berkorelasi langsung dengan strategi peningkatan pelayanan penduduk adalah suplai air bersih kepada wilayah-wilayah krisis air atau bencana lainnya.

Analisis Leverage Atribut Dimensi Hukum-Kelembagaan

0 2 4 6 8 10 12

Keberadaan balai pemantauan kualitas

air

Keberadaan lembaga sosial pengelolaan air

bersih Ketersediaan peraturan perundang-undang pengelolaan air

bersih Ketersediaan perangkat hukum adat/agama Kerjasama antar stakeholder A tt ri bu te

Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100)

(13)

Strategi pengembangan kelembagaan SAB dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa kelembagaan SAB, terkait dengan PDAM maupun eksternal dengan pihak lain, belum berjalan optimal menyelenggarakan pelayanan air bersih. Hal tersebut secara tidak langsung menempatkan SAB berjalan sendiri (status quo) dalam pembangunan SAB. Implikasinya, upaya-upaya menemukan struktur kelembagaan baru yang diyakini lebih efektif dan efisien tidak dapat direalisasi, dan senantiasa dapat melahirkan kebocoran (externality) yang merugikan salah satu pihak. Dengan strategi ini semua pihak (stakeholder) diharapkan dapat melihat secara obyektif faktor atau variabel yang mempengaruhi tingkat akses air bersih dan menemukan rumusan lembaga pengelolaan SAB yang lebih efisien dan sustainable.

Strategi pengembangan kelembagaan SAB mempunyai tiga sasaran. Pertama, membangun partisipasi masyarakat dalam pembangunan SAB. Hubungan antara PDAM sebagai produsen dan pelanggan sebagai konsumen belum cukup untuk menggali potensi keuntungan dalam pembangunan SAB. Partisipasi masyarakat harusnya menyentuh sisi ilmiah dan akademis sehingga dapat mengidentifikasi karakteristik air bersih dari segala sudut pandang, dan melibatkan sektor-sektor yang profesional dibidangnya. Langkah operasional sasaran pertama ini diprioritaskan kepada pembentukan jaringan komunikasi antar stakeholder yang terlibat dalam pembangunan SAB, terutama dari unsur pemerintah, sektor swasta, masyarakat konsumen, lembaga swadaya masyarakat dan para peneliti. Jaringan tidak cukup hanya memfasilitasi pemecahan masalah, tetapi juga menjalankan komunikasi berkadar ilmiah tinggi yang kaya insentif bagi penemuan teknologi baru. Jaringan di tingkat internasional yang menangani sumber daya air dan termasuk SAB adalah global water parnership. Langkah berikutnya dapat melakukan berbagai kajian sehubungan perilaku konsumsi air bersih dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Berbagai kaijian (World Bank, 1993; Jordan and Elnagheeb; 1993) memperlihatkan masyarakat dapat menampilkan tanggapan dan partisipasinya (willingness to pay) terhadap sambungan pipa baru maupun perbaikan pelayanan maupun kualitas air PDAM.

Kedua, sasaran mengembangkan kelembagaan ekonomi SAB yang efisien dan berkelanjutan. Seperti diketahui, keberadaan PDAM sebagai lembaga ekonomi pelaku air bersih sepenuhnya terkait dengan pemerintah kota atau kabupaten. Keadaan seperti ini dalam banyak hal berlawanan dengan economic

(14)

of scale maupun efisiensi alokasi sumber-sumber air baku sehingga potensi benefit tidak terealisasi akibat dari struktur kelembagaan saat ini. Langkah operasional yang disarankan adalah merumuskan hubungan kelembagaan antar PDAM, dengan pemerintah dan sektor swasta yang menjamin efisiensi alokasi air baku dan operasi pelayanan pelanggan. Selanjutnya dapat ditetapkan pilihan-pilihan pengelolaan yang paling menguntungkan. Sebagai contoh, PDAM Surabaya, Gresik dan Sidoarjo berpeluang memperoleh social benefit yang relatif besar seandainya berada dalam satu manajemen. Hal yang sama dapat dilakukan antara wilayah kota dan kabupaten, bahkan merger dalam satu eks karesidenan. SAB di Malaysia hanya memiliki 18 institusi pengelolaan (Malaysia Water Supply Development, 2001), jauh lebih efisien dibanding 307 PDAM yang ada di Indonesia, atau 37 PDAM di Jawa Timur. Langkah operasional berikutnya adalah membangun mekanisme kelembagaan yang mendukung otoritas dan kemandirian PDAM terhadap pembinaan berlebihan secara fungsional oleh Pemda dan secara teknis oleh Dirjen teknis terkait. Sasaran mengembangkan kelembagaan ekonomi yang sustainable dapat diimplementasikan dengan memasukkan peubah-peubah lingkungan di dalam standar evaluasi kinerja PDAM, misalnya menerapkan ISO 9000 atau audit lingkungan. Dengan demikian, seluruh proses produksi, distribusi air bersih dan lingkungan sekitarnya terlindungi oleh standar kualitas yang tinggi.

Ketiga, mengembangkan kelembagaan hukum SAB. Perangkat hukum SAB tidak harus eksklusif tetapi dapat melekat dengan aturan hukum yang berlaku. Insentif berupa penghargaan perlu diberikan kepada stakeholder yang berjasa mengembangkan atau mendukung pembangunan sektor air bersih, dan sebaliknya sangsi diberikan kepada yang melanggar atau kontra-produktif dengan upaya-upaya peningkatan pelayanan air bersih, sehingga ketersediaan peraturan perundang-undangan pengelolaaan air bersih

f. Status Keberlanjutan Multidimensi

Hasil analisis Rap-TARAKAN multidimensi keberlanjutan Kota Tarakan untuk penyediaan air bersih berdasarkan kondisi existing, diperoleh nilai indeks keberlanjutan sebesar 52,38% dan termasuk dalam status cukup berkelanjutan. Nilai ini diperoleh berdasarkan penilaian 34 atribut dari lima dimensi keberlanjutan yaitu dimensi lingkungan, ekonomi, sosial, infrastruktur dan teknologi, dan hukum dan kelembagaan. Hasil analisis multidimensi dengan

(15)

Rap-TARAKAN mengenai keberlanjutan Pulau Tarakan untuk sistem penyediaan air bersih dapat dilihat pada Gambar 31.

Atribut-atribut yang sensitif memberikan kontribusi terhadap nilai indeks keberlanjutan multidimensi berdasarkan analisis leverage masing-masing dimensi sebanyak 13 atribut. Atribut-atribut ini perlu dilakukan perbaikan ke depan untuk meningkatkan status keberlanjutan Pulau Tarakan untuk sistem penyediaan air bersih. Perbaikan yang dimaksudkan adalah meningkatkan kapasitas atribut yang mempunyai dampak positif terhadap peningkatan nilai indeks keberlanjutan dan sebaliknya menekan sekecil mungkin atribut yang berpeluang menimbulkan dampak negatif atau menurunkan nilai indeks keberlanjutan kawasan.

Gambar 31 Indeks keberlanjutan multidimensi penyediaan air bersih

Hasil analisis Monte Carlo menunjukkan bahwa nilai indeks keberlanjutan penyediaan air bersih di Pulau Tarakan pada taraf 95%, memperlihatkan hasil yang tidak banyak mengalami perubahan dengan hasil analisis Rap-TARAKAN (Multidimensional Scaling = MDS). Ini berarti bahwa kesalahan dalam analisis dapat diperkecil baik dalam hal pemberian skoring setiap atribut, variasi pemberian skoring karena perbedaan opini relatif kecil, dan proses analisis data yang dilakukan secara berulang-ulang stabil, serta kesalahan dalam menginput

(16)

data dan data hilang dapat dihindari. Perbedaan nilai indeks keberlanjutan analisis MDS dan Monte Carlo disajikan pada Tabel 11

Tabel 11 Perbedaan Nilai Indeks Keberlanjutan Analisis Monte Carlo dengan Analisis Rap-TARAKAN

Dimensi Keberlanjutan Nilai Indeks Keberlanjutan (%) Perbedaan MDS Monte Carlo

Lingkungan 31,80 32,75 0,95

Ekonomi 88,24 85,67 2,75

Sosial 52,25 51,21 0,32

Infrastruktur dan Teknologi 20,14 22,29 2,15

Hukum dan Kelembagaan 74,21 73,40 0,81

Multi Dimensi 52,38 52,18 0,20

Hasil analisis Rap-TARAKAN menunjukkan bahwa semua atribut yang dikaji terhadap status keberlanjutan Pulau Tarakan untuk penyediaan air bersih, cukup akurat sehingga memberikan hasil analisis yang semakin baik dan dapat dipertanggungjawabkan. Ini terlihat dari nilai stres yang hanya berkisar antara 13 sampai 15 % dan nilai koefisien determinasi (R2) yang diperoleh berkisar antara 0,92 dan 0,95. Hal ini sesuai dengan Fisheries (1999), yang menyatakan bahwa hasil analisis memadai apabila nilai stress lebih kecil dari 0,25 (25%) dan nilai koefisien determinasi (R2) mendekati nilai 1,0. Adapun nilai stress dan koefisien determinasi (R2) disajikan pada Tabel 12.

Tabel 12 Hasil analisis Nilai Stress & Koefisien Determinasi (R2) Rap-TARAKAN

Parameter Dimensi Keberlanjutan

A B C D E F

Stress 0,13 0,13 0,15 0,14 0,15 0,13

R2 0,95 0,95 0,92 0,95 0,94 0,95

Iterasi 2 2 3 2 2 2

Keterangan : A = Dimensi Lingkungan, B = Dimensi Ekonomi, C = Dimensi Sosial, D = Dimensi Infrastruktur-Teknologi, E = Dimensi Hukum-Kelembagaan, dan F = Multidimensi

6.2 Skenario Strategi Penyediaan Air Bersih Kota Tarakan

Strategi penyediaan air bersih Kota Tarakan secara berkelanjutan dilakukan dengan menggunakan analisis prospektif yang mempunyai tujuan untuk memprediksi kemungkinan yang akan terjadi di masa yang akan datang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Analisis prospektif dilakukan melalui tiga tahap yaitu (1) mengidentifikasi faktor kunci di masa depan, (2) menentukan tujuan strategis dan kepentingan pelaku, dan (3) mendefinisikan dan memprediksi evolusi kemungkinan di masa depan sekaligus menentukan strategi

(17)

penyediaan air bersih Kota Tarakan secara berkelanjutan sesuai dengan sumberdaya yang dimiliki. Penentuan faktor-faktor kunci dalam analisis ini dilakukan dengan menggabungkan faktor-faktor kunci yang sensitif berpengaruh yang diperoleh dari analisis kebutuhan (need analysis) hasil Interpretative Structural Modeling (ISM). Berdasarkan hasil analisis keberlanjutan diperoleh 13 faktor (atribut) yang sensitif (Tabel 13) dan selanjutnya diajukan kepada pakar untuk dinilai dan selanjutnya dianalisis prospektif. Hasil analisis prospektif diperoleh 3 (tiga) faktor kunci seperti yang disajikan pada Gambar 32.

Tabel 13 Faktor-faktor kunci yang berpengaruh dalam penyediaan air bersih di Pulau Tarakan

No Faktor Analisis Dimensi Keberlanjutan

1 2 3

Dimensi Lingkungan (3 faktor kunci) : Kuantitas air baku

Curah hujan dan hari hujan Pengembangan sumber air baku

4 5 6

Dimensi Ekonomi (3 faktor kunci) : Tingkat keuntungan PDAM

Tarif air PDAM

Willingness to pay (Kesediaan membayar dalam pemakaian sumber air)

7 8

Dimensi Sosial (2 faktor kunci) :

Tingkat keluhan masyarakat pelanggan terhadap PDAM

Tingkat ketergantungan masyarakat terhadap air bersih

9 10 11

Dimensi Infrastruktur dan Teknologi (3 faktor kunci) : Tingkat pelayanan PDAM (air bersih)

Kondisi IPA PDAM

Ketersediaan layanan listrik untuk pengolahan air bersih

12 13

Dimensi Hukum dan Kelembagaan (2 faktor kunci) : Keberadaan lembaga sosial air bersih

Ketersediaan peraturan perundang-undangan pengelolaaan air bersih

Berdasarkan hasil analisis tingkat kepentingan faktor diperoleh 3 (tiga) faktor kunci/penentu yang mempunyai pengaruh kuat dan ketergantungan antar faktor tidak terlalu kuat, yaitu : (1) Pengembangan sumber air baku, (2) Kuantitas air baku, dan (3) Tingkat pelayanan PDAM (air bersih). Keterkaitan antara tiga faktor yang berpengaruh terhadap sistem penyediaan air bersih di Pulau Tarakan dinyatakan sebagai berikut : “pengembangan sumber air baku sebagai cara untuk pemenuhan kuantitas air baku yang dibutuhkan oleh masyarakat dan tingkat pelayanan PDAM dalam menyediakan air bersih perlu ditingkatkan dalam menjaga keberlanjutan sistem penyediaan air bersih di Pulau Tarakan”.

(18)

Gambar 32 Hasil analisis tingkat kepentingan faktor-faktor yang berpengaruh pada sistem penyediaan air bersih di Pulau Tarakan

6.3 Kesimpulan

Berdasarkan kondisi eksisting di lokasi penelitian berbasis penyediaan air bersih di Pulau Tarakan, dimensi ekonomi berkelanjutan, serta dimensi hukum kelembagaan dan dimensi sosial cukup berkelanjutan, sedangkan dimensi lingkungan kurang berkelanjutan dan dimensi infrastruktur-teknologi tidak berkelanjutan. Secara multidimensi sistem penyediaan air bersih di Pulau Tarakan cukup berkelanjutan dengan 13 atribut yang sensitif berpengaruh dalam meningkatkan indeks keberlanjutan. Atribut-atribut tersebut terbagi atas 3 atribut pada dimensi lingkungan, 3 atribut pada dimensi ekonomi, 2 atribut pada dimensi sosial dan budaya, 3 atribut pada dimensi infrastruktur dan teknologi, dan 2 atribut pada dimensi hukum dan kelembagaan. Untuk meningkatkan status keberlanjutan ke depan (jangka panjang), skenario yang perlu dilakukan untuk meningkatkan status penyediaan air bersih di Pulau Tarakan adalah skenario progesif-optimistik dengan melakukan perbaikan secara menyeluruh terhadap semua atribut yang sensitif, minimal 3 atribut faktor kunci yang dihasilkan dalam analisis prospektif, sehingga semua dimensi menjadi berkelanjutan untuk sistem penyediaan air bersih di Pulau Tarakan.

Gambar

Gambar 26   Peran masing-masing atribut aspek lingkungan yang dinyatakan              dalam bentuk nilai rms (root mean square)
Gambar 28   Peran masing-masing atribut aspek sosial yang dinyatakan                   dalam bentuk nilai rms (root mean square)
Gambar 29 Peran masing-masing atribut aspek infrastruktur dan teknologi yang                      dinyatakan dalam bentuk nilai rms (root mean square)
Gambar 30   Peran masing-masing atribut aspek hukum dan kelembagaan yang  dinyatakan dalam bentuk nilai rms (root mean square)
+5

Referensi

Dokumen terkait

Mengidentifikasi keberlanjutan kehidupan masyarakat Pulau Gebe yang hidup di pulau kecil dari pengaruh sumberdaya dimensi ekologi (sifat tanah, kualitas air), dimensi ekonomi

Berdasarkan hasil anal isis laverage diperoleh lima atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi sosial, yaitu(1) Tingkat ketergantungan masyarakat

dapat terdiri dari satu atau gabungan dari beberapa pulau kecil. Dengan ketetapan ini berarti bahwa pulau-pulau kecil juga perlu dilengkapi dengan sebuah

Analisis Monte Carlo yang menunjukkan nilai indeks keberlanjutan pengelolaan kawasan terumbu karang Pulau Lembeh dan Pesisir Bitung dari dimensi teknologi ... Analisis Monte

Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis nilai indeks dimensi ekologi, ekonomi, sosial dan infrastruktur dalam menilai status keberlanjutan keberlanjutan Kota Batu

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja Sistem Penyediaan Air Bersih di Pulau Barrang Lompo, Kelurahan Barrang Lompo, Kecamatan Ujung Tanah,

Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis nilai indeks dimensi ekologi, ekonomi, sosial dan infrastruktur dalam menilai status keberlanjutan keberlanjutan Kota Batu

c) Penyusunan indeks dan status keberlanjutan pengembangan kawasan agropolitan berbasis peternakan. Atribut-atribut yang akan dikaji pada dimensi ekologi antara lain: a)