57
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
4.1 Deskripsi Umum Tempat Penelitian
SMK Negeri 1 Salatiga telah berdiri sejak tanggal 17 Januari 1967 dengan nama SMEA Negeri Salatiga dengan persetujuan Kepala Perwakilan Departemen Pendidikan dan Pengajaran Propinsi Jawa Tengah No. IDPE/ 435/ D/ 67 dengan status SMEA persiapan. Berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan dan Pengajaran RI No. 191/ UUK-3/ 1968, tanggal 25 Mei 1968 statusnya berubah dari SMEA persiapan menjadi SMEA Negeri. Melihat perkembangan SMEA dari tahun ke tahun semakin meningkat, sesuai Surat Edaran
Sekretaris Jenderal Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan RI No. 41007/A.A5/OT/1997 tanggal 3 April 1997 maka nama SMEA Negeri diubah menjadi SMK Negeri 1 Salatiga. Selama beberapa tahun, SMK Negeri 1 Salatiga telah mengalami perkembangan yang sangat pesat baik dari segi fasilitas, mutu maupun jumlah peserta didik. Jumlah peserta didik SMK Negeri 1 Salatiga pada tahun pelajaran 2017-2018 sejumlah
1.318 siswa. SMK Negeri 1 Salatiga memiliki
58 perkantoran, penjualan/ pemasaran, tata kecantikan, tata busana dan tata boga.
Jurusan akuntansi merupakan jurusan terfavorit di SMK Negeri 1 Salatiga. Setiap tahunnya jumlah pendaftar dari calon siswa baru selalu melebihi daya tampung jurusan akuntansi yakni 3 kelas dengan jumlah siswa tiap kelas rata-rata 36 siswa. Tiap tingkat memiliki 3 kelas paralel sehingga jumlah siswa jurusan akuntansi relative banyak. Data mengenai jumlah siswa jurusan akuntansi SMK Negeri 1 Salatiga dari tahun pembelajaran 2013/ 2014 sampai dengan tahun pembelajaran 2017/2018 disampaikan dalam tabel berikut:
Tabel 3. Siswa Jurusan Akuntansi SMK Negeri 1 Salatiga
No Tahun Pelajaran Jumlah Siswa
1 2013 / 2014 321
2 2014 / 2015 318
3 2015 / 2016 322
4 2016 / 2017 310
5 2017 / 2018 301
Sumber : Data Dapodik Diolah
Jumlah siswa jurusan akuntansi yang banyak
dan berkualitas merupakan faktor penentu
keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Adapun
59 keahlian didukung dengan fasilitas praktik yang
memadai sehingga memungkinkan dikembangkan
kegiatan belajar dengan komposisi 30 % teori dan 70 % praktik.
SMK Negeri 1 Salatiga melaksanakan Program Praktik Kerja Lapangan (PKL) sejak dicanangkannya kurikulum 1994, pada tahun pelajaran 1994/ 1995. Tujuan penyelenggaraan Program PKL di SMK Negeri 1 Salatiga salah satunya yakni memberikan kompetensi kepada peserta didik sebagai bekal pengalaman nyata dalam dunia industri. Pada Program PKL, kegiatan pembelajaran dilaksanakan di sekolah dan di dunia
usaha/ industri atau Institusi Pasangan (IP).
Keseluruhan Program PKL dari awal perencanaan hingga penilaian dilakukan bersama secara sinkron dengan koordinasi antara pihak sekolah dengan pihak IP.
Sebagaimana dikemukakan oleh Kepala SMK Negeri 1 Salatiga yang menyatakan sebagai berikut: 1) Program PKL merupakan program wajib bagi siswa yang bertujuan untuk menyiapkan siswa agar memiliki kompetensi jurusan yang sesuai dengan permintaan dunia usaha/ industri, 2) Program PKL di SMK Negeri 1
Salatiga masih perlu dibenahi sehingga dapat
60 perlunya upaya evaluasi untuk mengetahui tingkat efektivitas Program PKl yang sudah dijalankan sehingga dapat diambil keputusan untuk langkah perbaikan. (Wawancara: Kepala SMK Negeri 1 Salatiga, 7 Oktober 2016).
Dari uraian di atas, diketahui bahwa Program PKL jurusan akuntansi SMK Negeri 1 Salatiga merupakan program pendidikan yang bersifat wajib bagi siswa,
yang sudah lama dilaksanakan dalam rangka
menyiapkan peserta didik agar memiliki kesiapan dalam memasuki dunia kerja, namun belum pernah dilakukan evaluasi terhadap program tersebut.
4.2 Hasil Penelitian
Pada bagian ini akan disajikan mengenai deskripsi gambaran terhadap hasil penelitian evaluasi Program Praktik Kerja Lapangan (PKL) Jurusan Akuntansi SMK Negeri 1 Salatiga , yang dilihat dari tahapan antecedens
(masukan), transactions (proses) dan outcomes
(dampak) dari penyelenggaraan program PKL jurusan akuntansi SMK Negeri 1 Salatiga.
4.2.1 Antecedens (Masukan) Program PKL
Evaluasi anteseden (masukan) Program PKL jurusan akuntansi SMK Negeri 1 Salatiga ini berisi
61
diimplementasikan yaitu sebelum siswa
diberangkatkan pada kegiatan PKL dan faktor-faktor yang diperkirakan akan mempengaruhi. Sub-sub komponen masukan yang menjadi fokus dalam mengevaluasi masukan Program PKL terdiri dari; a) kesiapan peserta didik, b) kesiapan manajemen PKL, c) kesiapan bagian kurikulum, d) kesiapan guru mapel produktif akuntansi dan guru pembimbing PKL, e) kesiapan sarana prasarana, f) kesiapan pihak DUDI,
dan g) anggaran. Sub-sub komponen tersebut
dievaluasi dengan cara melihat kesenjangan yang terjadi antar kondisi riil di lapangan dengan kondisi ideal dalam komponen masukan (antecedens), dengan
memperhatikan kongruensi (kesesuaian) dan
kontingensi (ketergantungan) antar sub-komponen. Hasil studi dokumentasi berdasarkan notula rapat pada acara koordinasi awal tahun pelajaran 2017/2018 jurusan akuntansi hari Rabu tanggal 19 Juli 2017 yang dihadiri oleh wakil kepala sekolah bidang humas hubin, waka bidang kurikulum, waka bidang kesiswaan, waka bidang sarana prasarana, delapan guru produktif akuntansi, wali kelas jurusan
akuntansi, dan beberapa pembimbing PKL,
menghasilkan beberapa kesimpulan, antara lain bahwa kondisi dalam penyelenggaraan PKL jurusan akuntansi SMK Negeri 1 Salatiga mengalami kesenjangan dari sisi
62
kesiapan peserta PKL, kesiapan SDM dalam
manajemen PKL, kesiapan guru pembimbing PKL, kesiapan kurikulum dan kesiapan guru-guru pengajar yang masih belum sesuai harapan.
Untuk lebih jelasnya mengenai gambaran hasil penelitian evaluasi komponen masukan (antecedens) Program PKL dapat diuraikan sebagai berikut:
4.2.1.1 Kesiapan Peserta Didik
Terkait dengan peserta didik yang menjadi peserta Program PKL, SMK Negeri 1 Salatiga mengacu pada pedoman penilaian kurikulum 2013 bahwa Program PKL diberlakukan bagi siswa yang sudah memenuhi persyaratan untuk praktik di industri.
Hasil studi dokumentasi pada bidang Humas Hubin menunjukkan adanya ketentuan tentang syarat-syarat bagi siswa agar dapat mengikuti Program PKL, yaitu:
1. Seluruh siswa SMK Negeri 1 Salatiga pada tingkat tertentu (kelas XI atau XII ) sesuai dengan gelombang praktek yang diberangkatkan.
2. Penempatan siswa praktek akan dilakukan oleh Ka. Prodi dengan koordinasi Wakil Kepala Sekolah dan Wali Kelas. 3. Penempatan siswa praktek akan dipengaruhi oleh: situasi
dan kondisi lokasi praktek
4. Kwalitas siswa dilihat dari potensi sebagai sumber daya manusia
5. Siswa yang akan berangkat praktek wajib selalu berkoordinasi dan berkonsultasi dengan pembimbing serta Ka Prodi masing-masing.
6. Melengkapi admisnistrasi praktek seperti: Mengisi Biodata rangkap 2 (dua)
63 7. Memahami panduan praktek ini dan mempunyai
komitmen untuk melaksanakannya.
8. Mematuhi Tata Tertib Praktek Lapangan (magang) (Humas SMK Negeri 1 Salatiga, 2017).
Siswa yang dianggap sudah memenuhi syarat untuk mengikuti Program PKL adalah siswa Kelas XI atau XII karena sudah memperoleh kompetensi dasar akuntansi di kelas X.
Dalam wawancara dengan beberapa siswa kelas XI sebagai peserta PKL jurusan akuntansi SMK Negeri 1 Salatiga, tanggal 24 Juli 2017 didapatkan data bahwa siswa belum mendapatkan sosialisasi sebelumnya terkait waktu pemberangkatan PKL untuk mereka, sehingga cenderung kurang persiapan khususnya
materi pelajaran/ kompetensi yang seharusnya
dipelajari saat PKL. Berikut kutipan wawancara dengan beberapa siswa peserta PKL gelombang I dari kelas XI AK 1 SMK N 1 Salatiga.
“Kami baru masuk sekolah minggu lalu dari libur kenaikan kelas. Kami sudah agak lupa dengan pelajaran saat di kelas X. Kami belum mengerti materi pelajaran kelas XI, belum tahu kompetensi apa yang harus kami kuasai sebelum PKL, masih bingung.” (Wawancara tanggal 24 Juli 2017).
Demikian pula sebagian besar siswa peserta PKL yang sudah kembali dari industri (yang saat ini naik ke kelas XII akuntansi) juga mengemukakan hal yang sama. Hal ini terlihat dari hasil wawancara sebagai berikut:
64 “Kami merasa belum siap saat mau ditempatkan PKL karena kemampuan akuntansi kami yang masih sangat dasar dan belum tahu bagaimana harus bersikap di tempat PKL. Beberapa kali kami ditegur saat salah dalam bersikap. Ini tidak akan terjadi jika sejak awal kami dibekali etika/ budaya kerja/ cara bekerja dikantor/ bersikap di tempat kerja atau di tempat PKL.” (Wawancara tanggal 13 Juni 2017).
Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat kita ketahui terjadi permasalahan pada kesiapan peserta didik peserta PKL yang meliputi kurangnya sosialisasi kepada siswa yang akan PKL, kurangnya kepedulian guru terhadap kesiapan kompetensi mereka dan kurangnya pembekalan tentang budaya kerja industri, etika kantor dan wawasan lingkungan kerja di tempat PKL.
Hasil pengamatan yang dilakukan peneliti juga menunjukkan adanya kekurangsiapan dari siswa kelas XI akuntansi sebagai peserta Program PKL gelombang I, yang dapat dilihat dari sikap mereka yang kurang yakin
saat pemberangkatan PKL. Namun untuk
pemberangkatan Program PKL gelombang II dan III kesiapan siswa sudah lebih baik.
Berdasarkan uraian di atas, dari hasil studi
dokumentasi, hasil wawancara maupun hasil
pengamatan dapat diketahui bahwa kesiapan siswa kelas XI sebagai peserta Program PKL masih kurang untuk tahap awal pemberangkatan, dari aspek skill
65 diberangkatkan PKL di gelombang II dan III sudah memiliki kesiapan yang lebih baik karena sudah mendapatkan tambahan materi pelajaran di kelas XI dan pelayanan yang lebih disiapkan dari pihak manajemen PKL.
4.2.1.2 Kesiapan Manajemen PKL
Manajemen PKL SMK Negeri 1 Salatiga terdiri dari empat orang yaitu; kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang Humas Hubin, staff Humas Hubin urusan PKL dan staff Humas Hubin- administrasi dan keuangan. Manajemen PKL ditentukan sejak awal tahun ajaran baru dengan penunjukan berdasar SK Pembagian Tugas Mengajar dan Tugas Sampiran Guru.
Berdasarkan hasil studi dokumentasi tentang
Struktur Organisasi SMK Negeri 1 Salatiga
sebagaimana terlihat dalam lampiran 16 dan SK Pembagian Tugas dari Kepala SMK Negeri 1 Salatiga tahun pelajaran 2016/ 2017 sebagaimana yang terlihat dalam lampiran 17, manajemen PKL dikelola oleh Waka Humas Hubin sebagai ketua, dibantu dua orang staff sebagai sekertaris dan bendahara. Berikut data manajemen PKL SMK Negeri 1 Salatiga untuk tahun pelajaran 2017/ 2018; pembina Haris Wahyudi, S.Pd.,M.Pd., ketua Viktor Haruman, S.P., sekertaris Setyawan Dwijo, S.Pd., dan bendahara Istiningsih, S.Pd. (Sumber data: SK Pembagian Tugas Mengajar dan
66 Tugas Sampiran Guru Tahun Pelajaran 2016/ 2017 dan 2017/2018).
Berdasarkan hasil pengamatan peneliti dalam pembagian tugas tersebut terjadi pergantian personil yang mengelola PKL, sehingga staff urusan PKL yang saat ini bertugas masih relatif baru dan belum banyak
pengalaman di lapangan. SDM pengelola PKL
seharusnya dipersiapkan sejak awal sehingga lebih profesional. Kekurangsiapan pengelolaan PKL ini nampak pada cara kerja yang kurang efektif karena masih menggunakan cara konvensional, sehingga seringkali pengurusan PKL tidak sesuai rencana. Sistem pengelolaan PKL yang belum terbentuk di SMK Negeri 1 Salatiga ini semakin menyebabkan munculnya berbagai kendala di lapangan. Saat ini manajemen PKL SMK Negeri 1 Salatiga masih meneruskan sistem lama/ kebiasaan tahun sebelumnya yang cenderung bekerja
secara manual/ belum menggunakan sistem
komputerisasi terpadu.
Berdasarkan hasil studi dokumentasi sebagaimana yang terlihat dalam lampiran 19 diketahui bahwa sebenarnya manajemen PKL sudah berusaha merevisi pedoman PKL yang lama, yang terakhir kali disusun tahun ajaran 2000/ 2001, namun belum selesai sehingga baru merupakan draft hingga saat ini. Terdapat banyak persamaan dengan pedoman PKL
67 lama dalam pembuatan draft pedoman PKL yang baru, yang belum mempertimbangkan permintaan pihak industri saat ini. Pengaturan di dalam pedoman PKL sekolah pun masih bersifat umum dan belum mengatur teknis penyelenggaraan Program. (Sumber: Program Kerja PKL, 2016).
Berdasarkan hasil studi dokumentasi tentang Juknis PKL di SMK Negeri Salatiga, terdapat program kerja Humas Hubin sebagaimana yang terlihat dalam lampiran 18 dan Program Kerja PKL tahun ajaran 2016/2017 yang ditampilkan dalam lampiran 20. Dalam lampiran 19 tampak bahwa manajemen PKL sudah melibatkan banyak perusahaan/ kantor sebagai Institusi Pasangan tempat siswa praktik, dan setiap tempat mendapatkan porsi jumlah siswa praktik yang berbeda-beda, dengan dibimbing oleh satu guru pembimbing di setiap lokasi PKL. Program kerja tersebut merupakan rancangan Program PKL dari jurusan akuntansi, yang menggambarkan ploting siswa dan guru pembimbing berdasarkan tempat PKL dan waktu pelaksanaan PKL. (Sumber: Program Kerja PKL Humas Hubin 2016, diolah).
68 Gambar 4
ALUR PELAKSANAAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Penyusunan Peta Pengiriman Siswa dan Pembimbing
Praktik Kerja Lapangan (PKL) Selama 1 (satu) Tahun Pelajaran
oleh KKH dikirim ke HUMAS Penyusunan Daftar Nama Siswa Peserta
Praktik Kerja Lapangan di DU/DI untuk 1 (satu) Periode PKL
selama 3 (tiga) bulan oleh KKH dikirim ke HUMAS Pembuatan dan Pengiriman Surat Pemberitahuan Pengiriman
siswa peserta PKL ke DU / DI dari HUMAS kepada Pembimbing
Pengiriman
siswa peserta PKL ke DU / DI oleh Pembimbing
Monitoring I
peserta PKL ke DU / DI oleh Pembimbing Monitoring II
peserta PKL ke DU/DI oleh Pembimbing Penarikan
peserta PKL ke DU / DI oleh Pembimbing Penulisan Laporan Oleh peserta PKL 1 2 3 4 5 6 7 8
Presentasi laporan dan penilaian 9
69 Hasil penelitian di atas menunjukkan berbagai permasalahan yang muncul dalam manajemen PKL antara lain keterlambatan pemberangkatan PKL karena alasan administrasi yang belum siap, monitoring yang tidak tepat sasaran karena kurangnya instrument PKL, evaluasi yang belum pernah dilakukan, dan masih
banyak masalah lain yang terjadi karena
kekurangsiapan pihak manajemen PKL tersebut. Hal tersebut diungkapkan oleh staff Humas Hubin periode sebelumnya (2016) dalam petikan wawancara sebagai berikut:
“Masalah dalam Program PKL terlalu banyak, dan terjadi sudah cukup lama. Solusi belum ada, sudah ada pergantian personil pengelolanya.” (Wawancara tanggal 9 Mei 2017) Hal yang senada diungkapkan oleh sekertaris POKJA PKL periode saat ini (2017), dalam kutipan wawancara sebagai berikut:
“Beberapa hal yang masih menjadi permasalahan dalam Program PKL antara lain kurangnya koordinasi dengan semua pihak yang terlibat dalam Program PKL, pelaksanaan tugas guru pengajar kelas XI dan guru pembimbing PKL yang belum maksimal, sulitnya mencari DUDI yang sesuai kompetensi siswa, kurangnya kepedulian DUDI terhadap kebutuhan siswa saat PKL, dan masih banyak lagi permasalahan PKL. Kami menyadari, semua itu bermuara dari sistem PKL yang belum berjalan dengan baik.” (Wawancara tanggal 9 Mei 2017).
Pernyataan tersebut juga didukung oleh
70
2013/2014 sampai dengan tahun pelajaran
2017/2018, dalam petikan wawancara sebagai berikut: “Kurangnya koordinasi yang dilakukan bidang Humas Hubin dengan pihak-pihak yang terlibat dalam Program PKL, menyebabkan timbulnya masalah. Guru pengajar di kelas yang akan diberangkatkan PKL masih banyak yang belum menyiapkan sistem pembelajaran jarak jauh sehingga perencanaan pembelajaran yang dilakukan cenderung kurang tepat sasaran. Pembimbing internal maupun eksternal dalam Program PKL pun belum seluruhnya mengetahui SOP PKL yang seharusnya disosialisasikan sebelum pemberangkatan.” (Wawancara tanggal 10 Mei 2017).
Dari uraian di atas, berdasarkan hasil wawancara,
studi dokumentasi, maupun hasil pengamatan
diketahui bahwa kesiapan manajemen PKL masih kurang sehingga menimbulkan beberapa permasalahan dalam penyelenggaraan Program PKL di SMK Negeri 1 Salatiga.
4.2.1.3 Kesiapan Guru Pengajar dan Guru Pembimbing PKL
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam Program PKL jurusan akuntansi belum seluruhnya memiliki kesiapan sebelum program PKL dilaksanakan. Sebagai bukti ketimpangan tersebut terlihat dari hasil wawancara dengan Ketua Kompetensi Keahlian (KKH) akuntansi SMK Negeri 1 Salatiga. Berikut disajikan petikan wawancara dengan KKH akuntansi SMK Negeri 1 Salatiga:
71 “Saat siswa kelas XI semester 3 baru masuk sekitar seminggu di kelas, kami pun belum memahami karakter anak, kesiapan kompetensi akuntansi mereka sebelum PKL pun baru sekitar 30 % dari kompetensi kerja yang dipersyaratkan. Kami belum mampu menyediakan modul atau pun tugas yang baik bagi siswa peserta PKL yang akan diberangkatkan. Untuk guru pembimbing PKL di jurusan akuntasi terdapat beberapa orang yang berasal dari guru normatif adaptif ataupun dari jurusan lain yang tidak memahami kompetensi di jurusan akuntansi. Mereka ditunjuk karena faktor pemerataan tugas dan tidak didahului adanya sosialisasi/ pembekalan dari bidang Humas Hubin terhadap guru yang ditugaskan sebagai guru pembimbing PKL.” (Wawancara tanggal 24 Juli 2017).
Memperkuat pendapat di atas, seorang guru SMK Negeri 1 Salatiga yang juga menjadi pembimbing PKL dari jurusan akuntansi menyatakan kesenjangan yang terjadi antara rencana Program PKL dengan realisasi pelaksanaannya yang berlangsung sudah sejak lama namun belum pernah ada evaluasi dari pihak sekolah.
“Saya bukan guru produktif akuntansi namun mendapat tugas untuk membimbing siswa PKL dari jurusan akuntansi sehingga kurang memahami kompetensi yang dipersyaratkan bagi siswa sebelum PKL. Kami belum pernah mendapat sosialisasi/ pembekalan pembimbing sebelum ditugaskan.” (Wawancara tanggal 13 Juni 2017).
Waka Humas Hubin mengemukakan hal yang berbeda, yang menunjukkan adanya mis-komunikasi antara bidang Humas dengan jurusan akuntansi. Hal tersebut diungkapkan dalam wawancara berikut:
“Kami menindaklanjuti laporan jurusan akuntansi yang berupa pembagian tempat PKL bagi siswa yang akan diberangkatkan di setiap gelombang (biasanya 1 kelas) berdasarkan usulan wali kelas masing-masing. Pembagian
72 guru pembimbing PKL pun seharusnya menjadi urusan jurusan karena mereka yang lebih memahami, kami tinggal memberikan surat tugas. Penyiapan guru pembimbing PKL seharusnya juga menjadi tanggung jawab jurusan karena jurusan akuntansi yang lebih memahami kompetensi apa saja yang seharusnya di monitor oleh masing-masing pembimbing tersebut. Berkaitan kesiapan guru pengajar bagi siswa PKL sepenuhnya menjadi tanggung jawab bidang kurikulum untuk menyiapkan sistem pembelajaran jarak jauh. Dari sisi Humas Hubin, sebagian besar guru pengajar dianggap sudah profesional karena sudah lama sehingga tidak perlu diperintahkan kembali untuk menyiapkan materi belajar bagi siswa yang akan diberangkatkan ke tempat PKL.” (Wawancara tanggal 23 Mei 2017).
Berdasarkan studi dokumentasi dari data hasil Ujian Kompetensi Guru (UKG) tahun 2015/2016 sebagaimana yang nampak di lampiran 18, ditemukan bahwa terdapat 4 orang dari 9 orang guru produktif akuntansi yang kurang memenuhi standar nilai UKG yang dipersyaratkan yaitu minimal 5,5. Hal ini menunjukkan bahwa sebanyak 40% guru pengajar jurusan akuntansi masih belum kompeten. (Sumber: bidang Manajemen Mutu SMK Negeri 1 Salatiga, 2016/2017).
Hal tersebut juga tampak dari hasil pengamatan peneliti yang masih melihat beberapa guru akuntansi yang cenderung enggan untuk mengikuti pelatihan baik yang diselenggarakan pemerintah maupun pihak sekolah, terutama guru-guru yang sudah mendekati masa pensiun ataupun karena kesibukan tugas yang lain. Beberapa guru sudah meningkatkan kompetensi
73
dan potensi akademiknya dengan melanjutkan
pendidikan ke jenjang S-2, namun di sisi lain masih terdapat guru yang cenderung tidak mau mengasah kemampuannya sehingga bekerja sebisanya.
Dari uraian di atas, berdasarkan hasil wawancara,
studi dokumentasi maupun hasil pengamatan
diketahui bahwa terdapat kesimpang siuran informasi
mengenai penyiapan guru pengajar dan guru
pembimbing PKL, sehingga masing-masing pihak yaitu pihak jurusan akuntansi maupun bidang Humas Hubin merasa tidak bertanggung jawab terhadap pembekalan untuk guru. Masing-masing pihak bekerja sesuai dengan persepsi masing-masing, tanpa ada standar yang jelas dalam pelaksanaan tugas.
4.2.1.4 Kesiapan Pihak Institusi Pasangan (DUDI) Untuk meningkatkan kompetensi siswa, Program
Keahlian Akuntansi bermitra dengan Dunia
Usaha/Dunia Industri (DUDI) yang memiliki bidang kerja yang sejalur dengan bidang akuntansi atau keuangan. Dari hasil pengamatan menunjukkan bahwa masih banyak industri yang bersedia menerima siswa PKL dari jurusan akuntansi, baik di daerah Salatiga maupun luar Salatiga. Industri/ kantor yang menjadi mitra jurusan akuntansi dalam Program PKL tersebut dapat dikategorikan sebagai lembaga/ perusahaan yang
74 sudah memiliki reputasi baik di masyarakat. Mereka rata-rata sudah memiliki standar yang jelas untuk menerima siswa PKL, sehingga nampak senang dan terbantu saat ada permohonan dari sekolah untuk
menempatkan siswa praktik di tempat mereka
khususnya dari jurusan akuntansi.
Berdasarkan data dokumentasi dari bidang Humas SMK Negeri 1 Salatiga sebagaimana yang tampak dalam lampiran 20, terdapat 18 DUDI/ perusahaan yang menjadi mitra jurusan akuntansi dalam penempatan siswa PKL. DUDI tersebut memiliki reputasi baik di masyarakat, dan masuk kategori perusahaan daerah, perusahaan nasional bahkan multinasional seperti Coca Cola Amatil. (Sumber: Program Kerja PKL Humas Hubin 2017, diolah).
DUDI bertanggungjawab membina kompetensi siswa selama masa PKL. Namun masih ada beberapa DUDI yang belum mampu memberikan tempat magang yang sesuai dengan bidang akuntansi karena faktor resiko kerja bidang keuangan, keterbatasan bidang kerja yang boleh dimasuki siswa PKL dan keterbatasan daya tampung siswa di bagian-bagian tertentu. Hal ini diungkapkan dalam wawancara dengan Kabag Umum dan Kepegawaian dari STIE AMA Salatiga sebagai salah
satu Institusi Pasangan Program PKL jurusan
75 “Kami menjalin kerjasama dengan SMK Negeri 1 Salatiga dalam penempatan siswa PKL jurusan akuntansi sudah lama, sehingga kami hanya mengikuti kebiasaan tahun lalu dalam sistem penerimaan PKL di kantor kami. Kami berupaya menempatkan siswa sesuai kompetensinya. Namun keterbatasan tempat dan pekerjaan sehingga tidak semua siswa akuntansi yang PKL di tempat kami, dapat ditempatkan di bidang akuntansi.” (Wawancara tanggal 21 Juli 2017).
Hal yang sama dikemukakan oleh kepala bagian PAC (Public Affair Communication Executive) Coca Cola
Amatil Indonesia yang merupakan perusahaan
multinasional yang berada di daerah Ungaran (luar Salatiga) yang terangkum dalam hasil wawancara berikut:
“Kami menerima permohonan magang/ PKL dari beberapa pihak/ instansi termasuk dari SMK Negeri 1 Salatiga. Kami merupakan perwakilan kantor pusat perusahaan multinasional PT. Coca Cola Amatil Indonesia yang bertempat di Ungaran, sehingga semua prosedur yang kami jalankan harus mengacu pada peraturan kantor pusat. Termasuk prosedur penerimaan PKL/magang sudah diatur dalam sistem administrasi bagian PAC (Public Affair Communication) PT Coca Cola Amatil Indonesia. Sehingga kami lebih siap melayani masyarakat dalam rangka pelayanan dunia pendidikan karena sudah ada SOP (Standar Operasional Prosedur) yang jelas.” (Wawancara tanggal 13 Juli 2017).
Senada dengan hasil wawancara di atas, dalam
wawancara dengan bagian personalia PT. POS
Indonesia juga dikemukan bahwa penempatan siswa PKL dari jurusan akuntansi tidak mutlak harus di bidang akuntansi, karena prinsip PKL tidak hanya
76 memberikan bekal kompetensi kepada anak tetapi yang lebih penting adalah bekal attitude dalam bekerja.
Berdasarkan hasil wawancara, studi dokumentasi maupun hasil pengamatan, diketahui bahwa pihak industri sebagian besar sudah menggunakan prosedur kerja yang lebih jelas dalam penerimaan siswa PKL,
karena budaya kerja industri selalu berusaha
mengikuti perkembangan jaman sehingga lebih siap menghadapi perubahan agar tidak tertinggal.
4.2.1.5 Kesiapan Sarana Prasarana
Sarana pendidikan di SMK Negeri 1 Salatiga sudah cukup memadai. Namun demikian, berdasarkan hasil pengamatan peneliti masih nampak kekurangan jumlah ruangan terkait jurusan akuntansi yaitu ruang guru produktif akuntansi/ ruang insrtuktur (yang saat ini masih digabung dengan guru jurusan pemasaran),
ruang praktik manual akuntansi dan ruang
laboratorium komputer akuntansi. Ruang praktik akuntansi manual saat ini masih menggunakan ruang teori kelas. Fasilitas pembelajaran khususnya praktik
jurusan akuntansi masih menunjukkan adanya
kekurangan ruang praktik komputer akuntansi, yaitu ruangan yang ada hanya satu yang berukuran 9 m x 10 m untuk menampung siswa sebanyak 40 sehingga sangat sempit. Di samping itu sarana umum seperti
77 kamar mandi, belum ada di gedung tempat praktik jurusan akuntansi.
Berikut disajikan petikan wawancara dengan Kepala SMK Negeri 1 Salatiga:
“Ternyata SMK Negeri 1 masih membutuhkan pembangunan fisik seperti pembangunan laboratorium akuntansi untuk praktik manual, laboratorium komputer akuntansi yang hanya punya 1, padahal jika mengacu pada peraturan pemerintah kita butuh minimal 2, mengingat jumlah siswa jurusan akuntansi yang banyak.” Wawancara tanggal 10 Juni 2017.
Waka Sarpras mengemukakan hal yang sama dalam wawancara sebagai berikut:
“Pada saat akreditasi di tahun 2016 kemarin, kelemahan kita saat penilaian di jurusan akuntansi antara lain tidak tersedianya ruang praktek manual akuntansi maupun kurangnya ruang praktek komputer akuntansi.” Wawancara tanggal 12 Juni 2017.
Hal ini sejalan dengan hasil wawancara dengan Kepala Laboratorium Akuntansi berikut:
“ Laboratorium komputer akuntansi baru ada satu untuk praktek sekitar 324 siswa dari kelas X, XI dan XII. Peralatan yang ada di laboratorium akuntansi pun masih perlu ditambah antara lain printer, beberapa set komputer dan rak buku praktek.” (Wawancara tanggal 17 Juli 2017).
78 Berdasarkan hasil studi dokumentasi, kondisi ideal sesuai lampiran Permendiknas, Nomor 40 Tahun 2008 Tanggal 31 Juli 2008 tentang Standar Sarana Dan Prasarana Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan (SMK/MAK) sebagai berikut:
Ruang Praktik Program Keahlian Akuntansi:
a. Ruang praktik Program Keahlian Akuntansi berfungsi sebagai tempat berlangsungnya kegiatan pembelajaran: pembukuan dan siklus akuntansi secara manual dan komputerisasi.
b. Luas minimum ruang praktik Program Keahlian Akuntansi adalah 176 m² untuk menampung 32 peserta didik yang meliputi: ruang praktik akuntansi dasar 64 m², ruang praktik akuntansi lanjut 32 m², ruang praktik unit usaha 32 m², ruang penyimpanan dan instruktur 48 m². c. Ruang praktik Program Keahlian Akuntansi dilengkapi
prasarana.
(Lampiran Permendiknas, Nomor 40 Tahun 2008: 133).
Hal tersebut merupakan dasar penyiapan fasilitas belajar praktik akuntansi, yang lebih rinci diatur seperti terlihat dalam tabel 4.
Tabel 4
Jenis, Rasio, dan Deskripsi Standar Prasarana Ruang Praktik Program Keahlian Akuntansi
No. Jenis Rasio Deskripsi 1 Ruang praktik akuntansi dasar 4m²/peserta didik Kapasitas untuk 16 peserta didik. Luasminimum 64 m². Lebar minimum 8 m.
79 2 Ruang praktik akuntansi lanjut 4m²/peserta didik Kapasitas untuk 8 peserta didik. Luasminimum 32 m². Lebar minimum 4 m. 3 Ruang praktik unit usaha 4m²/peserta didik Kapasitas untuk 8 peserta didik. Luasminimum 32 m². Lebar minimum 4 m. 4 Ruang penyimpanan dan instruktur 4m²/peserta didik Luasminimum 48 m². Lebar minimum 6 m.
(Sumber: lampiran Permendiknas, Nomor 40 Tahun 2008 Tanggal 31 Juli 2008: tentang Standar Sarana Dan Prasarana Sekolah SMK/MAK : 134).
Berdasar hasil penelitian, diketahui bahwa
prasarana ruang praktik komputer akuntansi di SMK Negeri 1 Salatiga hanya 1 ruang dengan luas 90m² kapasitas untuk 40 peserta didik, dengan rasio 2 m²/ peserta didik, sehingga hal ini menunjukkan belum sesuai dengan standar yang diharapkan yakni 64 m² untuk 16 peserta didik dengan rasio 4 m²/ peserta didik. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap kegiatan praktik akuntansi yang belum bisa dilaksanakan dengan nyaman dan efektif.
Sebagaimana yang tercantum dalam lampiran Permendiknas, Nomor 40 Tahun 2008 Tanggal 31 Juli
80 2008: tentang Standar Sarana Dan Prasarana Sekolah SMK/ MAK, ruang praktik program keahlian akuntansi seharusnya dilengkapi pula sarana sebagaimana tercantum pada Tabel 5.
Tabel 5
Standar Sarana pada Ruang Praktik Akuntansi Dasar No Jenis Rasio Deskripsi
1 Perabot 1 set/ ruang
1.1 Meja kerja Untuk minimum 8 peserta didik pada pekerjaan pembukuan, dan siklus akuntansi manual, serta komputerisasi 1.2 Kursi kerja/stool
1.3 Lemari simpan alat dan bahan
2 Peralatan 1 set/ ruang 2.1 Peralatan untuk
pekerjaan
akuntansi dasar.
Untuk minimum 8 peserta didik pada pekerjaan
pembukuan, dan siklus akuntansi manual, serta komputerisasi 3 Media pendidikan 1 buah/
ruang 3.1 Papan tulis 1
buah/ruang untuk mendukung
minimum 8
peserta didik pada pelaksanaan Untuk mendukung minimum 8 peserta didik pada pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang bersifat teoritis 4 Perlengkapan lain 4.1 Kotak kontak Minimum 2 Minimum 2 buah/ ruang Untuk mendukung operasionalisasi peralatan yang memerlukan daya listrik 4.2 Tempat sampah Minimum 1 buah/ruang. Minimum 1 buah/ ruang
81 (Sumber: lampiran Permendiknas, Nomor 40 Tahun 2008 Tanggal 31 Juli 2008: tentang Standar Sarana Dan Prasarana Sekolah SMK/MAK : 137).
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapan sarana prasarana jurusan akuntansi dalam
penyiapan Program PKL masih kurang karena
keterbatasan dana sehingga pembangunan prasarana dan sarana praktik masih menjadi agenda sekolah di tahun depan.
4.2.1.6 Kesiapan Anggaran
Berdasarkan hasil pengamatan nampak bahwa kewenangan penetapan anggaran untuk Program PKL diberikan oleh sekolah kepada bidang Humas Hubin sebagai bagian dari mata anggaran untuk bidang Humas Hubin secara keseluruhan. Acuan yang digunakan bidang Humas Hubin dalam menyusun anggaran untuk PKL adalah RKAS yang sudah diputuskan, yang penyusunannya dilakukan setiap tahun.
Menurut dua staff Humas Hubin yaitu bendahara dan sekertaris POKJA PKL, anggaran PKL sudah disiapkan sebelum awal tahun ajaran baru karena kegiatan PKL sudah harus dimulai pada awal semester
82 tiga. Penyiapan anggaran terutama untuk transport pengelola kegiatan, transport guru-guru pembimbing dalam lobby dan pengantaran siswa PKL. (Wawancara, 10 Mei 2017).
Hal yang sama dikemukakan oleh Waka Humas Hubin dalam petikan wawancara sebagai berikut:
“ Kami sudah harus menyiapkan pembiayaan untuk urusan PKL sebelum siswa masuk di awal tahun ajaran baru karena pemberangkatan PKL akan dimulai pada awal semester 3 dan berakhir pada awal semester 5. Anggaran untuk PKL menjadi bagian dari total anggaran untuk bidang Humas Hubin, sehingga pengelolaannya menjadi satu di bagian administrasi & keuangan Humas Hubin yang dilakukan oleh bendahara Humas Hubin. Rencana anggaran Program PKL tahun ajaran 2017/2018 ini antara lain untuk kegiatan lobi ke DUDI, pengantaran, monitoring, penjemputan siswa PKL dan administrasi urusan PKL.” (Wawancara tanggal 21 juni 2017).
Selain itu berdasarkan studi dokumentasi dari data bidang Humas Hubin dapat diketahui bahwa rencana anggaran bidang Humas Hubin khusus untuk kegiatan PKL jurusan akuntansi antara lain digunakan untuk kegiatan dengan rincian sebagai berikut:
1. Lobi ke DUDI (dalam 1tahun)
3 gelombang = 54 lokasi x Rp 50.000,-
2. Pengantaran = 54 lokasi x Rp 50.000,-
3. Monitoring = 54 lokasi x Rp 50.000,-
4. Penjemputan siswa = 54 lokasi x Rp 50.000,-
5. Administrasi PKL untuk ATK, cindera mata dan pengelola kegiatan sebesar Rp 7.500.000,-.
83 Berdasarkan hasil pengamatan, hasil wawancara studi dokumentasi menunjukkan bahwa anggaran untuk Program PKL sudah disiapkan sejak awal sebelum pemberangkatan PKL siswa gelombang 1 yang dimulai di bulan Juli.
4.2.1.7 Kongruensi (Kesesuaian) dan Ketergantungan (Kontingensi) antar sub komponen masukan (antecedens)
Dalam satu tahun pelajaran terdapat 3 gelombang
pemberangkatan yang dilaksanakan secara
berkelanjutan mulai dari gelombang 1 dari kelas XI akuntansi 1 selama 3 bulan dari bulan Agustus-Oktober. Dilanjutkan gelombang II dari kelas XI akuntansi 2 selama 3 bulan dari bulan Nopember-Januari, dan terakhir gelombang III dari kelas XI akuntansi 3 selama 3 bulan dari bulan Februari – April.
Jadwal pemberangkatan PKL yang dibuat oleh
manajemen PKL (POKJA PKL) dari tahun ke tahun tidak sama, disesuaikan dengan kebijakan/ kondisi sekolah dan industri. Tahun 2017 ini dilaksanakan lebih awal dari tahun kemarin sehingga mengakibatkan kesiapan dari semua pihak yang terlibat dalam Program PKL pun relatif kurang. Kekurangsiapan dari peserta didik peserta PKL, manajemen PKL, guru pengajar dan
84 guru pembimbing, bagian kurikulum, bagian sarana prasarana dan anggaran ditunjukkan dengan adanya kesenjangan dalam komponen masukan tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan
perencanaan sistem block selama 3 bulan dalam pelaksanaan PKL sebenarnya sudah sesuai dengan pedoman penilaian pada SMK yang tertulis sebagai berikut:
Permendikbud Nomor 60 Tahun 2014 menyatakan bahwa PKL dapat dilaksanakan menggunakan sistem blok selama setengah semester (sekitar 3 bulan) atau dapat pula dengan menggunakan sistem semi blok selama 1 (satu) semester yakni melaksanakan PKL dengan komposisi 3 hari melaksanakan PKL pada mitra DU/DI dan 3 hari melaksanakan pembelajaran di sekolah setiap minggunya. Untuk memenuhi pemerataan jumlah jam di Institusi Pasangan/Industri yang memiliki jam kerja kurang dari 6 hari per minggu maka sekolah perlu mengatur sirkulasi/perputaran kelompok peserta PKL. (Kemdikbud, 2015: 45).
Kesenjangan yang nampak di bagian kurikulum, antara lain belum tertatanya sistem pembelajaran jarak jauh bagi siswa PKL yang seharusnya sudah disiapkan sebelum tahun ajaran dimulai. Sistem pembelajaran selama PKL masih belum sesuai ketentuan yang ada sebagaimana yang terlihat dalam pedoman penilaian pada SMK sebagai berikut:
Pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran kelompok wajib A dan B pada periode tersebut dapat dilakukan di satuan pendidikan dan/atau industri (terintegrasi dengan Praktik Kerja Lapangan). Jika pembelajaran mata pelajaran kelompok A dan B tidak terintegrasi dalam kegiatan PKL maka pembelajaran mata pelajaran kelompok A dan B tersebut dilakukan di satuan pendidikan (setelah peserta
85 didik kembali dari kegiatan PKL di Institusi pasangan/industri) dengan jumlah jam setara dengan jumlah jam satu semester. (Kemdikbud, 2015: 45-46).
Kesenjangan di bagian sarana prasarana nampak di ketersediaan fasilitas pembelajaran yakni kurangnya fasilitas ruang praktik manual akuntansi dan ruang praktik komputer akuntansi, kurangnya fasilitas kamar mandi, dan kurangnya peralatan-peralatan pendukung praktik seperti lemari untuk buku praktik, papan informasi, rambu-rambu dan peralatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang seharusnya terdapat di tempat praktik.
Kesenjangan di bidang anggaran nampak pada belum adannya penganggaran khusus PKL yang masih tergabung dalam anggaran Humas Hubin keseluruhan. Kesenjangan di peserta didik peserta PKL antara
lain kekurangsiapan saat pemberangkatan PKL
khususnya gelombang I dan II, baik dari kesiapan skill
(kompetensi akuntansi) maupun attitude yang
dibutuhkan saat bekerja.
Kesenjangan di bagian Humas Hubin nampak di pengelolaan manajemen PKL yang masih semrawut, belum adanya sistem manajemen PKL yang baik. Sistem pengelolaan PKL yang belum terbentuk di SMK Negeri 1 Salatiga ini semakin menyebabkan munculnya berbagai kendala di lapangan. Saat ini manajemen PKL SMK Negeri 1 Salatiga masih meneruskan sistem lama/
86 kebiasaan tahun sebelumnya yang cenderung bekerja
secara manual/ belum menggunakan sistem
komputerisasi terpadu. Hal ini semakin menimbulkan berbagai permasalahan antara lain keterlambatan pemberangkatan PKL karena alasan administrasi yang belum siap, monitoring yang tidak tepat sasaran karena kurangnya instrument PKL, evaluasi yang belum pernah dilakukan, dan masih banyak masalah lain yang terjadi karena kekurangsiapan pihak manajemen PKL tersebut.
Kesenjangan-kesenjangan ini disebabkan oleh beberapa hal antara lain; 1)kesiapan manajemen PKL masih kurang, perencanaan program belum matang, jadwal pemberangkatan PKL gelombang I terlalu awal (di minggu awal tahun pelajaran baru) sehingga menyebabkan kekurangkesiapan siswa dalam hal skill dan attitude kerja, 2) kurangnya sosialisasi kepada siswa dan orang tua wali murid tentang Program PKL menyebabkan siswa kurang memahami program yang akan mereka ikuti sehingga mengakibatkan banyak siswa yang belum tahu tentang tujuan PKL, apa yang mereka cari dan apa yang harus mereka lakukan, 3) kurangnya pembekalan skill dari guru pengajar dan kurangnya kesadaran dan kemampuan guru untuk menyiapkan materi pembelajaran jarak jauh sehingga siswa belum memiliki bekal yang cukup saat PKL, 4)
87
kurangnya pembekalan untuk siswa dan guru
pembimbing, pembekalan masih belum melibatkan pihak industri sehingga masih belum tepat sasaran, 5) belum tersedianya fasilitas pembelajaran praktik akuntansi manual dan kurangnya fasilitas praktik komputer akuntansi sehingga masih belum memenuhi standar.
Kesenjangan-kesenjangan tersebut menunjukkan adanya ketergantungan (kontingensi) dan kesesuaian
(kongruensi) antar sub-komponen antecedens
(masukan) sehingga kekurangsiapan masing-masing sub-komponen mempengaruhi sub-komponen yang lainnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa upaya mengatasi kesenjangan dalam komponen masukan haruslah dilakukan secara menyeluruh, terpadu sehingga tepat sasaran.
4.2.1.8 Matrik Deskripsi Komponen Masukan
(Antecedens)
Deskripsi komponen masukan (antecedents)
sebagaimana yang nampak dalam tabel matrik deskripsi komponen masukan dalam lampiran 21 menunjukkan adanya maksud program berdasarkan
rencana awal program dan perbandingannya
88 secara obyektif berdasarkan hasil penelitian dengan mempertimbangkan hubungan ketergantungan dan kesesuaian antar sub-komponen masukan yaitu: kesiapan peserta didik, kesiapan manajemen PKL, kesiapan bidang kurikulum, kesiapan guru pengajar, kesiapan guru pembimbing, kesiapan DUDI, kesiapan sarana prasarana, kesiapan anggaran.
4.2.1.9 Matrik Pertimbangan Komponen Masukan
(Antecedens)
Pertimbangan yang berupa penilaian terhadap komponen masukan berdasarkan standar relatif yaitu Juknis Program PKL dari pemerintah dan standar absolut yaitu SOP PKL SMK Negeri 1 Salatiga, sebagaimana hasil penelitian yang berupa tabel matrik pertimbangan yang nampak dalam lampiran 22,
menunjukkan adanya penilaian terhadap
penyelenggaraan Program PKL jurusan akuntansi SMK Negeri 1 Salatiga berdasarkan standar relatif dan
absolut dengan mempertimbangkan hubungan
ketergantungan dan kesesuaian antar sub-komponen masukan yaitu: kesiapan peserta didik, kesiapan manajemen PKL, kesiapan bidang kurikulum, kesiapan guru pengajar, kesiapan guru pembimbing, kesiapan DUDI, kesiapan sarana prasarana, kesiapan anggaran.
89 4.2.2 Transactions ( Proses) Program PKL
Evaluasi transaksi (proses) Program PKL
memberikan gambaran tentang hal-hal yang terkait pelaksanaan program dari awal hingga akhir program dijalankan. Sub-sub komponen yang menjadi fokus dalam mengevaluasi pelaksanaan Program PKL terdiri dari; a) kinerja siswa peserta PKL, b) kinerja guru pengajar dan guru pembimbing PKL c) kinerja manajemen PKL, d) peran pembimbing di industri, e) hambatan-hambatan dalam pelaksanaan PKL, f) upaya mengatasi permasalahan dalam pelaksanaan PKL. Sub-sub komponen tersebut dievaluasi dengan cara menganalisis transaksi/ proses pelaksanaan Program PKL untuk melihat ketergantungan (kontingensi) dan
kesesuaian (kongruensi) antar sub-komponen,
berdasarkan kesenjangan yang terjadi dalam komponen transaksi/ proses pelaksanaan PKL yang kemudian
dipetakan dalam matrik deskriptif dan matrik
pertimbangan.
Gambaran hasil penelitian evaluasi komponen transaksi (proses) Program PKL dapat diuraikan sebagai berikut:
4.2.2.1 Kinerja Peserta Didik Peserta PKL
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan peneliti, siswa peserta PKL jurusan akuntansi rata-rata memiliki sikap yang baik, sopan dan bertanggung jawab dalam
90 bekerja. Dilihat dari cara berpakaian selama PKL di industri yang tetap menggunakan seragam sekolah dengan tertib, cara berkomunikasi dengan orang lain, cara menyelesaikan tugas yang diberikan, yang lebih baik dibanding siswa jurusan lain/ siswa sekolah lain yang sama-sama PKL di tempat tersebut.
Untuk beberapa siswa dalam kasus tertentu menggambarkan attitude siswa yang masih rendah dalam bekerja, kedisiplinan yang masih kurang dari
siswa, kurangnya kreatifitas dalam mengatasi
permasalahan di DUDI, kemampuan menyesuaikan diri
dengan lingkungan sosial yang masih lambat,
kemampuan berkomunikasi bisnis yang masih kurang, dan kemampuan mengasah kompetensi akuntansi dan menggali ilmu akuntansi dari industri untuk dapat di bawa ke sekolah saat kembali dari PKL.
Berikut hasil wawancara dengan beberapa orang siswa yang PKL di PT. Charoen Pokphan Indonesia:
“Sebelumnya kami belum memiliki gambaran tentang tempat praktik yang menjadi tempat PKL bagi kami. Ternyata kami tidak semuanya mendapat tugas di bagian akuntansi/ keuangan. Beberapa diantara kami ditempatkan di customer servise/ pelayanan, di bagian administrasi juga ada. Tugas kami yang berkaitan dengan jurusan akuntansi rata-rata hanya melakukan pekerjaan merekap bukti transaksi dan menginput data barang ke dalam komputer. Selain itu kami dimintai tolong untuk membantu pekerjaan administrasi seperti memfotokopi, mengarsip surat, menerima telepon, dan beberapa tugas lain yang di luar jurusan akuntansi.” ( Wawancara tanggal 8 Juni 2017).
91 Hal senada juga diungkapkan oleh beberapa siswa yang PKL di PT Coca Cola Amatil Indonesia dalam hasil wawancara berikut ini:
“Di PT Coca Cola kami ditempatkan di bagian General Affair, di bagian maintenance engineering dan di gudang spare part. Tugas kami tidak semuanya mengerjakan pekerjaan akuntansi, tergantung tugas yang diberikan. Jika dihitung dari waktu kerja dalam sehari, waktu untuk bekerja hanya sekitar 3 jam, lainnya hanya ngobrol. Ada teman kami yang pernah ditegur oleh pembimbing industri karena kurang pas saat bersikap menerima tamu perusahaan dan teman lain ditegur karena kurang pas saat membantu menerima telepon.” ( Wawancara tanggal 13 Juni 2017).
Sebagian besar data diperoleh lewat hasil
pengamatan dan wawancara dengan banyak
responden, sedangkan teknik dokumentasi meskipun sudah diupayakan peneliti, belum dapat mendukung oleh karena sistem administrasi terkait kinerja siswa selama praktik dalam Program PKL tidak dilaksanakan oleh pembimbing industri maupun guru pembimbing sehingga tidak terdokumentasikan dengan baik.
Gambar 6: Wawancara dengan Responden Siswa
92 Jadi, berdasarkan hasil penelitian dapat kita ketahui, bahwa kinerja siswa peserta PKL jurusan akuntansi rata-rata masih menunggu instruksi dari atasan atau pembimbing industri, kurang kreatif sehingga pekerjaan yang mereka lakukan masih sangat standar.
4.2.2.2 Kinerja Guru Pengajar dan Guru Pembimbing PKL
Berdasarkan hasil pengamatan, pelaksanaan tugas mengajar sebelum siswa diberangkatkan PKL hanya sekitar seminggu sehingga guru pengajar belum seluruhnya memahami karakter siswa, dan baru sedikit materi pelajaran yang diajarkan. Kondisi ini terjadi hampir pada semua guru di kelas XI gelombang I yang dijadwal berangkat pertama di awal semerter 3. Rata-rata para guru belum menyusun materi pembelajaran khusus bagi siswa yang akan PKL. Tugas yang diberikan guru terkesan kurang terprogram.
Kekurangsiapan dari sebagian besar guru pengajar tersebut terangkum dalam hasil wawancara dengan beberapa guru mapel kelas XI di jurusan akuntansi berikut:
“ Kami baru masuk di kelas XI akuntansi 1 sekitar seminggu yang lau, kami baru memberikan gambaran mata pelajaran seperti silabus, pedoman penilaian, KKM, dan baru sedikit materi yang kami berikan. Tugas untuk siswa PKL kami berikan secara bertahap, seperti tugas untuk kelas yang lain. Kami belum memiliki instrument pembelajaran jarak jauh. Dan dari kurikulum pun belum pernah mengharuskan kami
93 menyusun modul ataupun tugas khusus bagi siswa yang PKL. Semua kesadaran masing-masing guru dan kreatifitas masing-masing guru.” (Wawancara tanggal 25 Juli 2017). Berdasarkan hasil dokumentasi, peneliti tidak menemukan laporan dari bagian kurikulum tentang administrasi pembelajaran dari para guru pengajar,
karena sebagian besar dari mereka belum
mengumpulkan. Materi khusus untuk siswa yang akan berangkat PKL pun belum pernah dilaporkan oleh guru ke bagian kurikulum, sehingga data di bagian
kurikulum hanya berupa kumpulan file dari
administrasi guru tahun pelajaran lalu, sedangkan untuk tahun ajaran 2017/ 2018 belum terkumpul.
Berikut hal-hal yang menjadi catatan dalam proses pembelajaran selama PKL dalam petikan wawancara dengan KKH Akuntansi:
“Beberapa hal yang menjadi catatan dalam pelaksanaan PKL antara lain: (1) sebagian besar guru produktif akuntansi belum mengumpulkan administrasi pembelajaran di awal tahun pelajaran karena masih proses penyusunan, (2)pembelajaran jarak jauh untuk siswa PKL belum dirancang dengan baik, (3) kepedulian guru mata pelajaran
94 untuk membekali siswa sebelum berangkat PKL masih belum maksimal.” (Wawancara tanggal 24 Juli 2017)
Berdasarkan uraian di atas, diketahui bahwa sistem pembelajaran untuk siswa yang PKL belum dirancang dengan baik di SMK Negeri 1 Salatiga. Kondisi ini semakin diperburuk oleh situasi perubahan aturan dalam penyusunan administrasi pembelajaran dengan penerapan kurikulum 2013 yang direvisi beberapa kali hingga revisi edisi 2017, sehingga sebagian besar guru belum menyiapkan administrasi pembelajarannya maupun persiapan materi pelajaran
khususnya untuk mata pelajaran baru. Model
pembelajaran untuk siswa PKL pun masih belum
tertata sehingga guru pengajar belum mampu
menerapkan model pembelajaran jarak jauh yang sesuai kebutuhan siswanya.
4.2.2.3 Peran Pembimbing dari DUDI
Pada prinsipnya PKL adalah kerja sama dengan Institusi Pasangan/ DUDI yaitu saling membantu, saling mengisi dan saling melengkapi untuk meraih keuntungan bersama. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti, nampak bahwa pelaksanaan PKL di industri sangat dipengaruhi oleh peran serta pembimbing dari DUDI. Pembimbing adalah wakil langsung dari DUDI yang sampai saat ini masih percaya kepada sekolah
95 untuk menjadi mitra kerjasama dalam penyelenggaraan Program PKL.
Hasil wawancara dengan bagian personalia PT. POS Indonesia, menunjukkan kepedulian perusahaan mereka terhadap dunia pendidikan, dalam bentuk bea siswa, bantuan pendidikan, tempat magang/ PKL dan lain-lain meskipun mereka tidak mau terikat MOU dengan pihak mana pun dalam menjalin kerjasama khususnya dalam dunia pendidikan. (Wawancara, 14 Juli 2017).
Hal yang senada diungkapkan oleh bagian PAC Coca Cola Amatil Indonesia dalam petikan wawancara berikut:
“Sebagai perusahaan multinasional, kami Coca Cola Amatil Indonesia yang merupakan perwakilan kantor pusat untuk wilayah Jateng, DIY dan Madiun tidak boleh membuat MOU sendiri. Meskipun demikian kami setiap saat bersedia menerima siswa PKL, yang nantinya akan dibimbing secara umum dan secara khusus. Kami mengadakan program induksi secara singkat dalam rangka membekali siswa PKL yang akan masuk di lingkungan perusahaan kami. SOP bagi siswa PKL juga sudah kami siapkan.” (Wawancara tanggal 13 Juli 2017).
Demikian pula wawancara dengan Kabag
Personalia PD. BPR Bank Salatiga juga menunjukkan hal yang senada tentang pentingnya peran pembimbing tersebut. Berikut hasil wawancara tersebut:
“Kami menunjuk satu orang untuk membimbing siswa selama PKL di kantor kami. Pembimbing lah yang nantinya bertanggungjawab terhadap pemberian tugas pekerjaan
96 kepada siswa, dan sekaligus memberikan penilaian kepada siswa.” (Wawancara tanggal 14 Juli 2017).
Sebagian besar data diperoleh lewat hasil
pengamatan dan wawancara dengan banyak
responden, sedangkan teknik dokumentasi meskipun sudah diupayakan peneliti belum dapat mendukung oleh karena dokumen terkait kinerja pembimbing industri yang mencerminkan peran DUDI selama Program PKL belum terdokumentasikan dengan baik
oleh sebagian besar industri. Mereka hanya
mendokumentasikan surat-surat resmi dari sekolah terkait permohonan penempatan PKL, surat pengiriman PKL, surat monitoring PKL, surat penarikan PKL dan jurnal laporan PKL dari siswa sebagai dasar penilaian yang mereka berikan, dengan format sertifikat PKL dari sekolah.
Jadi, berdasarkan hasil penelitian dapat kita ketahui, walaupun perusahaan bertujuan mencari laba, namun kepedulian mereka terhadap dunia pendidikan sangat baik, baik yang bersedia menjalin kerjasama dengan MOU maupun tidak. Kerjasama dengan DUDI yang terjalin sejak lama tersebut tentunya memberikan gambaran-gambaran nyata tentang potret siswa SMK Negeri 1 Salatiga selama PKL, bagaimana tanggapan DUDI tentang sekolah, tanggapan DUDI tentang penyelenggaraan Program PKL jurusan akuntansi SMK
97 Negeri 1 Salatiga dengan segala kekurangan yang ada di dalamnya.
Gambar 8. Wawancara dengan Responden Perwakilan DUDI
4.2.2.4 Hambatan-hambatan dalam Pelaksanaan Program PKL
Dilihat dari sisi pengelolaan PKL di SMK Negeri 1 Salatiga, masih terlihat beberapa hal yang belum sesuai harapan stake holder antara lain penyelenggaran PKL di gelombang I yang terkesan kurang persiapan, masih semrawut, tertundanya waktu pemberangkatan PKL, kurangnya kesiapan dari siswa, kurangnya kepedulian dari guru pengajar untuk membekali siswanya sebelum PKL, kurangnya sosialisasi dan pembekalan untuk guru pembimbing, kekurang sesuaian kompetensi yang didapat di sekolah dengan yang dihadapi di industri, dan masih banyak lagi permasalahan yang muncul selama pelaksanaan PKL tersebut. Hal tersebut terangkum dari hasil wawancara dengan Kepala SMK
98 Negeri 1 Salatiga dalam petikan wawancara sebagai berikut:
“Bidang Humas Hubin seharusnya mengadakan rapat koordinasi dengan pihak-pihak yang terlibat dalam PKL, khususnya KKH dan guru produktif yang sebagian besar menjadi pembimbing, untuk mencari strategi/ menemukan solusi dari permasalahan-permasalahan dalam pelaksanaan PKL. Saya lihat hal tersebut belum dilakukan. Program kerja PKL ataupun juknis yang menjadi SOP PKL seharusnya disusun sendiri setiap tahun. Namun saya belum melihat atau pun mendapat laporan dari bidang Humas Hubin. Penyelenggaraan Program PKL cenderung masih berdasarkan kebiasaan tahun lalu.” (Wawancara tanggal 10 Juni 2017 ) Pernyataan di atas juga dibenarkan oleh staff Humas Hubin dalam kutipan wawancara berikut:
“Kurangnya koordinasi dari bidang Humas dengan pihak-pihak yang terlibat dalam Program PKL, menyebabkan masing-masing bagian bekerja semaunya sendiri, tanpa arahan, tanpa kontrol seperti bola-bola liar. Bekerja hanya sekedar menggugurkan kewajiban.”
(Wawancara tanggal 9 Mei 2017).
Agak berbeda dengan hasil wawancara di atas,
hasil wawancara dengan Waka Humas Hubin
menyatakan kegiatan PKL yang sudah direncanakan dan dikoordinasikan dengan baik. Berikut pernyataan Waka Humas Hubin SMK Negeri 1 Salatiga:
“Sudah ada koordinasi dengan pembimbing DUDI karena hubungan baik sudah terjalin sekian tahun/lama. Sudah ada koordinasi dengan manajemen PKL, yang dilakukan setiap saat/ tidak dialokasikan waktu khusus, dilaksanakan sesuai kebutuhan. Dengan guru pembimbing terutama secara intensif pada saat musim pemberangkatan. Setahu Humas, semua sudah paham dengan tupoksinya masing-masing sehingga tidak perlu dilakukan koordinasi secara khusus. Untuk urusan dengan guru pembimbing PKL seharusnya sudah diurusi jurusan akuntansi, Humas hanya masalah penginformasian
99 waktu, penjadwalan, administrasi surat menyurat PKL.” (Wawancara tanggal 23 Mei 2017).
Sebagian besar data diperoleh lewat hasil
pengamatan dan wawancara dengan banyak
responden, sedangkan teknik dokumentasi meskipun sudah diupayakan peneliti belum dapat mendukung oleh karena dokumen terkait hambatan-hambatan
selama pelaksanaan Program PKL belum
terdokumentasikan dengan baik oleh manajemen POKJA PKL, karena administrasi manajemen PKL yang ada masih belum tertata dengan baik. Sistem pelaporan dari guru pembimbing pun hanya berupa penyerahan kembali surat monitoring dari industri tanpa ada
pelaporan permasalahan selama pelaksanaan.
Sedangkan pihak jurusan akuntansi pun hanya memberikan saran/masukan bila guru pembimbing
melaporkan secara lisan tentang
permasalahan-permasalahan di tempat PKL dan memberikan
masukan kepada guru pembimbing untuk langsung menyelesaikannya tanpa ada proses pendokumentasian dengan baik.
Dari hasil wawancara di atas, ternyata terdapat pemahaman yang berbeda antara pihak jurusan akuntansi dengan bidang Humas Hubin. Perbedaan pemahaman tersebut terjadi diantaranya karena
100 kurangnya intensitas komunikasi antara pihak-pihak pengelola PKL dengan pihak jurusan akuntansi.
4.2.2.5 Upaya Mengatasi Permasalahan-Permasalahan dalam Pelaksanaan Program PKL.
Menurut Kepala SMK Negeri 1 Salatiga, kunci sukses program PKL adalah pengelolaan program yang matang dengan kerjasama tim yang bagus, komunikasi yang efektif dengan semua pihak yang terlibat dalam program PKL. Selama ini kendala intensitas komunikasi yang menjadi salah satu sumber permasalahan program PKL akan segera diatasi dengan disediakannya ruangan kerja khusus bagi Humas Hubin. Hal tersebut dikemukakan oleh Kepala SMK Negeri 1 Salatiga dalam petikan wawancara sebagai berikut:
“Ruang khusus Humas Hubin ini diharapkan mempermudah pelayanan Humas Hubin, termasuk kepada siswa peserta PKL. Semua kegiatan dalam penyelenggaraan Program PKL diharapkan lebih terprogram, lebih terkoordinir sehingga menjadi ruang pusat informasi sektor internal dan eksternal sekolah. Penyiapan sarana prasarana tersebut sudah dimasukkan dalam Rencana Kerja Jangka Menengah/ RKJM 4 tahun.” (Wawancara tanggal 10 Juni 2017).
Berdasarkan studi dokumentasi dan hasil
pengamatan peneliti, masih banyak guru pengajar kelas XI yang belum menyusun atau pun mengumpulkan administrasi pembelajaran sebelum melaksanakan KBM, khususnya untuk pembelajaran jarak jauh bagi
101 siswa yang akan diberangkatkan PKL. Dalam hal KBM perlu upaya serius untuk membenahi kesemrawutan pembelajaran di DUDI.
Hal ini diungkapkan oleh Waka Kurikulum dalam petikan wawancara berikut:
“Kami menyadari masih banyak guru yang belum membekali siswanya sebelum magang, mungkin karena kurang peduli ataupun memang tidak tahu cara membuat materi/ media belajar jarak jauh. Biasanya di awal tahun pelajaran kami menyelenggarakan IHT bagi guru dalam rangka mempersiapkan pembelajaran yang akan berlangsung.” (Wawancara tanggal 12 Juni 2017).
Berdasarkan hasil pengamatan peneliti nampak upaya yang dilakukan guru-guru pembimbing dalam rangka mengatasi permasalahan dalam pelaksanaan PKL antara lain dengan melakukan komunikasi yang baik dengan pembimbing industri, melaporkan kepada jurusan untuk diselesaikan lebih lanjut pada kasus tertentu, bahkan langkah menarik siswa dari tempat
PKL sebelum waktunya pun dilakukan untuk
diserahkan kembali ke sekolah dalam rangka
memperoleh pembinaan lebih lanjut. Untuk kasus tertentu yang membutuhkan pembinaan lebih lanjut biasanya siswa dipindahkan tempat PKLnya di sekolah sehingga memudahkan guru dalam pembinaan dan pengawasannya. Hal tersebut terangkum dalam hasil wawancara dengan beberapa guru pembimbing PKL sebagai berikut:
102 “Kasus yang terjadi di tempat PKL yang saya bimbing adalah kekurangdisiplinan siswa yang sudah tidak bisa ditolerir oleh pihak industri. Akhirnya saya laporkan ke jurusan akuntansi dalam rapat jurusan kemarin untuk mendapatkan keputusan tindakan yang harus saya ambil. Berdasarkan hasil dari rapat jurusan maka saya akan menarik siswa yang berkasus tersebut untuk ditempatkan PKL di sekolah di bawah pengawasan saya langsung.” (Wawancara tanggal 13 Juni 2017).
Jadi berdasarkan hasil penelitian dapat kita ketahui bahwa semua pihak yang terlibat dalam Program PKL jurusan akuntansi telah berupaya untuk mengatasi setiap permasalahan yang muncul, baik dilakukan sendiri maupun dengan bantuan lembaga. Kesadaran pribadi dari guru pembimbing untuk membantu siswanya menjadi ujung tombak sekolah dalam penyelesaian masalah PKL.
4.2.2.6 Kongruensi (Kesesuaian) dan Ketergantungan (Kontingensi) antar sub komponen proses (transactions)
Kesenjangan yang terjadi dalam sub-sub
komponen transaksi/ proses menunjukkan adanya
ketergantungan (kontingensi) dan kesesuaian
(kongruensi) antar sub-komponen transaksi/ proses
sehingga kekurangsiapan masing-masing
sub-komponen mempengaruhi sub-sub-komponen yang lainnya. Kinerja peserta didik peserta Program PKL yang belum sesuai harapan industri sangat dipengaruhi oleh
103 kesiapannya sebelum berangkat PKL. Kesiapan semua sub-komponen masukan akan berpengaruh terhadap kualitas kerja sub-sub komponen transaksi, termasuk diantaranya kekurangsiapan instrument pembelajaran jarak jauh bagi peserta didik peserta PKL sangat mempengaruhi kinerja peserta didik maupun guru pembimbing dalam memantau pelaksanaan KBM selama di industri. Kesesuaian antara materi pelajaran yang sudah pernah diterima peserta didik sebelumnya dengan materi pekerjaan yang mereka hadapi saat praktik sangat mempengaruhi proses PKL.
Kinerja guru pembimbing selama pelaksanaan PKL pun sangat mempengaruhi kinerja peserta didik karena pendampingan siswa dalam proses belajar jarak jauh sangat diperlukan dalam rangka penyiapan siswa sehingga lebih mengenal budaya kerja industri sesungguhnya. Ketidaktersediaan instrumen bimbingan akan menyulitkan guru pembimbing dalam memantau kinerja peserta didik selama PKL.
Kinerja peserta didik dipengaruhi pula oleh peran pembimbing industri dalam mendampingi siswa PKL yang latihan bekerja di tempat mereka. Pendampingan dari pihak industri yang efektif akan berpengaruh positif terhadap kesiapan kerja peserta didik. Namun sebaliknya, industri yang hanya menggunakan tenaga
104 peserta didik tanpa disertai pemberian pekerjaan/ tugas yang sesuai kompetensi siswa akan semakin menurunkan kinerja siswa yang pada akhirnya akan menyebabkan tidak efektifnya waktu belajar mereka selama mengikuti Program PKL.
Hal tersebut menunjukkan bahwa perlu upaya mengatasi kesenjangan dalam komponen proses yang harus dilakukan secara menyeluruh, terpadu sehingga tepat sasaran.
4.2.2.7 Matrik Deskripsi Komponen Proses
(Transaction)
Deskripsi komponen proses (transaction)
sebagaimana yang nampak dalam tabel matrik deskripsi komponen proses dalam lampiran 23 menunjukkan adanya maksud program berdasarkan
rencana awal program dan perbandingannya
berdasarkan hasil pengamatan yang berupa gambaran secara obyektif berdasarkan hasil penelitian dengan mempertimbangkan hubungan ketergantungan dan kesesuaian antar sub-komponen proses yaitu: kinerja siswa peserta Program PKL, kinerja guru pengajar dan guru pembimbing, kinerja manajemen PKL, peran pembimbing di industri, kendala-kendala pelaksanaan Program PKL, upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi kendala dalam pelaksanaan PKL.
105 4.2.2.8 Matrik Pertimbangan Komponen Proses
(Transaction)
Pertimbangan yang berupa penilaian terhadap komponen proses berdasarkan standar relatif yaitu Juknis Program PKL dari pemerintah dan standar absolut yaitu SOP PKL SMK Negeri 1 Salatiga, sebagaimana hasil penelitian yang berupa tabel matrik pertimbangan yang nampak dalam lampiran 24, menunjukkan adanya penilaian terhadap pelaksanaan Program PKL jurusan akuntansi SMK Negeri 1 Salatiga berdasarkan standar relatif dan absolut dengan mempertimbangkan hubungan ketergantungan dan kesesuaian antar sub-komponen proses yaitu: kinerja siswa peserta Program PKL, kinerja guru pengajar dan guru pembimbing, kinerja manajemen PKL, peran pembimbing di industri, kendala-kendala pelaksanaan Program PKL, upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi permasalahan dalam pelaksanaan PKL
4.2.3 Outcomes ( Dampak) Program PKL
Evaluasi outcomes (dampak) Program PKL Jurusan Akuntansi SMK Negeri 1 Salatiga ini berisi tentang gambaran kondisi setelah program dijalankan yaitu
untuk melihat kesiapan kerja siswa setelah
melaksanakan PKL, efektivitas penyelenggaraan
106 yang menjadi fokus dalam mengevaluasi dampak Program PKL terdiri dari; a) kesiapan kerja peserta didik, b) pelaporan hasil PKL, c) faktor pendukung dan
faktor penghambat, d) efektivitas program, e)
ketercapaian tujuan, f) hasil pengembangan program, g) keberlanjutan program. Sub-sub komponen dampak tersebut dianalisis ketergantungan (kontingensi) dan
kongruensi (kesesuaiannya) untuk memberikan
gambaran tentang dampak Program PKL secara keseluruhan sehingga pada akhirnya dapat diberikan penilaian berdasarkan standar yang ada
Dalam rangka mencapai visi dan misi SMK Negeri 1 Salatiga, yaitu menjadi wahana pendidikan vokasi yang unggul dan kreatif untuk mencetak sumber daya manusia yang berbudi pekerti luhur, kompeten, kompetitif dan peduli terhadap lingkungan, jurusan akuntansi sebagai salah satu jurusan favorit di SMK Negeri 1 Salatiga berusaha mewujudkan visi tersebut
dengan mengaplikasikannya dalam visi jurusan
akuntansi yaitu sebagai kawah candradimuka
pendidikan vokasi program studi akuntansi untuk mencetak generasi berdaya cipta yang siap bekerja, berwirausaha dan melanjutkan ke perguruan tinggi. Hal ini diungkapkan oleh KKH Akuntansi SMK Negeri 1 Salatiga dalam petikan wawancara sebagai berikut:
107 “Jurusan akuntansi masih menjadi jurusan favorit di SMK Negeri 1 Salatiga saat ini dengan visi jurusan sebagai kawah candradimuka pendidikan vokasi program studi akuntansi untuk mencetak generasi berdaya cipta yang siap bekerja, berwirausaha dan melanjutkan ke perguruan tinggi, yang mengacu pada visi sekolah dalam rangka mempersiapkan lulusannnya siap memasuki tantangan dunia kerja.” (Wawancara tanggal 24 Juli 2017)
Penjabaran visi sekolah dalam visi jurusan akuntansi tersebut diaplikasikan dalam Program PKL jurusan akuntansi yang bertujuan menyiapkan peserta didik untuk lebih siap memasuki dunia kerja setelah lulus nanti dengan bekal pengalaman dari praktik belajar secara langsung di Dunia Kerja/ Dunia Industri.
4.2.3.1 Kesiapan kerja peserta didik
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan peneliti, kesiapan kerja peserta didik jurusan akuntansi terlihat mengalami perubahan dari segi attitude, sikap kerja, cara kerja, komunikasi sosial, namun belum menunjukkan hasil yang significant dengan prestasi kompetensi akademiknya. Prestasi akademik yang dapat dilihat dari rata-rata nilai ulangan semester untuk semua mata pelajaran produktif cenderung mengalami penurunan untuk peserta didik dari kelas yang baru selesai PKL. Dalam diskusi dengan 7 orang guru produktif akuntansi SMK Negeri 1 Salatiga didapatkan informasi dari hasil diskusi sebagai berikut:
108 “Dampak PKL pada siswa jurusan akuntansi cenderung membawa perubahan dalam hal attitude siswa seperti sikap dan cara kerja, komunikasi sosial, tanggung jawab dan disiplin.
Dalam hal prestasi akademik cenderung mengalami penurunan karena peserta didik kurang siap saat mengikuti ulangan akhir semester yang dilaksanakan sesaat setelah mereka kembali dari tempat PKL.” (Diskusi tanggal 19 Juli 2017).
Demikian pula hasil wawancara dengan beberapa siswa kelas XII akuntansi setelah melaksanakan Program PKL juga menunjukkan hal yang senada.
Berdasarkan hasil studi dokumentasi dari jurusan akuntansi tentang evaluasi PKL berdasarkan tempat praktik kerja lapangan, yang menunjukkan tingkat kepuasan terhadap penyelenggaraan Program PKL jurusan akuntansi SMK Negeri 1 Salatiga, yang terangkum dalam tabel 6. Berdasarkan tabel 6 dapat diketahui tingkat kepuasan siswa yang dikategorikan dalam “Puas” dan “Belum Puas” berdasarkan hasil wawancara dengan sebagian besar siswa yang telah melaksanakan PKL. Evaluasi terhadap kesesuaian bidang kerja yang diberikan di tempat PKL juga menjadi dasar penilaian evaluasi kepuasan siswa tersebut. Tanggapan peserta PKL (berdasar tempat PKL) terhadap penyelenggaraan PKL jurusan akuntansi SMK Negeri 1 Salatiga adalah sebagai berikut; a) Sebagian besar siswa peserta PKL di 9 dari 19 tempat PKL merasa puas