• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL PENELITIAN TINDAKAN DAN PENDIDIKAN 2019, Vol. 5, No. 4, Nuralimah *

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JURNAL PENELITIAN TINDAKAN DAN PENDIDIKAN 2019, Vol. 5, No. 4, Nuralimah *"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Artikel Penelitian

Meningkatkan Hasil Belajar Konsep Energi dan Sumber Energi Menggunakan Model Probing-Promting Learning Dikombinasikan Dengan Model Example Non Example dan Scramble

Nuralimah *

Sekolah Dasar Negeri 2 Kartungan Limpasu, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan

Histori artikel:

Pengiriman: 10 November 2019 Revisi: 10 Desember 2019 Diterima: 10 Desember 2019

ABSTRACT

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan aktivitas guru dan siswa menganalisis peningkatan hasil belajar dalam pembelajaran IPA materi energi dan sumber energi, menggunakan model pembelajaran Probing- Promting Learning dikombinasikan dengan Model Example Non Example dan Scramble. Penelitian ini dilaksanakan pada kelas III SDN 2 Karatungan Kecamatan Limpasu Kabupaten Hulu Sungai Tengah dengan jumlah siswa sebanyak 21 orang siswa, Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian Penelitan Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus dengan empat pertemuan, dengan instrumen penelitian menggunakan lembar observasi aktivitas guru, lembar observasi siswa dan tes hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukan aktivitas guru terlaksana dengan kriteria “Sangat Baik” pada siklus II pertemuan kedua.

Aktivitas siswa juga mengalami peningkatan dengan kriteria “Sangat Aktif”

pada siklus IV. Begitu pula pada hasil belajar siswa, sebanyak 95% siswa yang telah mencapai KKM yaitu 70 pada siklus II pertemuan kedua. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa aktivitas guru telah terlaksana dengan sangat baik, terjadi peningkatan aktivitas siswa dan hasil belajar siswa.

Kata Kunci: Hasil Belajar, Probing-Promting Learning, Example Non Example, Scramble

*Email korespondensi:

[email protected]

Pendahuluan

Upaya menghadapi tantangan pada era globalisasi adalah dengan meningkatkan sumber daya manusia. Salah satu upaya meningkatkan sumber daya manusia adalah melalui pen-didikan. Seperti halnya yang dikatakan oleh Suriansyah (2014) bahwa proses pendidikan sebagai lembaga pengahsil dalah penentu dari kualitas sumber daya manusia.

Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 pasal 1 tentang sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,

kecerdasan, akhlak mulia serta keterapilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (Sisdiknas, 2012).

Mengingat pentingnya peran pendidikan didalam kehidupan saat ini, tentu kita harus menyoroti secara mendalam jenjang demi jenjang pen-didikan yang akan dikenyam oleh para generasi penerus. Pendidikan di Indonesia terdiri atas beberapa jenjang yakni Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah dan Pendidikan Tinggi. Suriansyah (2014) mengungkapkan bahwa kualitas pendidikan ditentukan oleh pendidikan di Sekolah Dasar (SD). Pendidikan dasar, khususnya di Sekolah Dasar (SD) adalah penentu dari tinggi rendahnya kualitas pendidikan pada jenjang sekolah me-nengah. Jenjang Sekolah Dasar (SD) Merupakan jenjang awal dimana akan

(2)

diajarkan semua hal yang nantinya bisa dijadikan bekal pengetahuan untuk menempuh pendidikan selanjutnya.

Seperti halnya menurut Susanto (2016) menyatakan bahwa tujuan pendidikan sekolah dasar dimaksudkan sebagai proses pengem- banagan kemampuan yang paling men-dasar bagi siswa belajar secara aktif karena adanya dorongan dalam diri dan suasana yang memberikan kemudahan bagi perkembangan siswa secara optimal.

Untuk mencapai tujuan pendidikan sangat diperlukan peran guru yang professional sebagai upaya meningkatkan mutu pendidikan, seperti pendapat Slameto (2010) yang meng- ungkapkan bahawa guru mempunyai tugas dalam proses pembelajara untuk mendorong membimbing, dan memberi fasilitas belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan.

Di Indonesia menerapkan kuri-kulum tingkat satuan pendidikan yang merupakan kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh di masing-masing satuan pendidikan (BNSP, 2016), Kurikulum SD/MI memuat 8 mata pelajaran, salah satunya adalah IPA.

IPA adalah salah satu mata pelajaran pokok dalam kurikulum pendidikan di Indonesia termasuk pada jenjang pendidikan dasar. IPA adalah usaha manusia dalam memahami alam semesta melalui pengamatan yang tepat pada sasaran, serta menggunakan prosedur, dan dijelaskan dengan penalaran sehingga mendapatkan suatu kesim-pulan (Susanto:

2016).

Pada jenjang sekolah dasar, Samatowa (2011) berpendapat bahwa pembelajaran IPA di sekolah dasar haruslah disesuaikan dengan perkem-bangan anak usia sekolah dasar dengan tanpa menghilangkan aspek pokok pada pembelajaran IPA. Aspek pokok dalam pembelajaran IPA adalah anak dapat menyadari keterbatasan pengetahuan mereka, memiliki rasa ingin tahu untuk menggali berbagai pengetahuan baru, dan akhirnya dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka, namun pada kenyataannya masih banyak terjadinya ketidak tercapaian tujuan pembelajaran IPA. Ketertarikan peserta didik pada mata pelajaran IPA masih minim.

Penyebabnya ialah mata pelajaran IPA dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit oleh sebagian besar siswa. Pada aplikasinya dalam pembelajaran di kelas siswa kurang memperhatikan guru dan kurang fokus serta kurang aktif dalam pembelajaran.

Hal Serupa terjadi di SDN Patih Selera, dimana setelah dilakukan observasi di Sekolah Dasar Negeri 2 Karatungan pada hari sabtu 21 oktober 2017 pada pukul 10:15 sampai dengan selesai, ditemukan bahwa dari data nilai siswa 2 tahun terakhir dari tahun ajaran 2015/2016 hingga tahun ajaran 2016/ 2017 dalam pembelajaran IPA kelas III hasil belajar siswa pada materi Sumber Energi dan Kegunaanya ternyata masih rendah dengan nilai rata-rata siswa berada dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 70 secara individual.

Tujuan mengkombinasikan ke tiga model tersebut adalah seperti yang kita ketahui model pembelajaran pro-bing-promting learning sebagai main model yang merupakan model pembelajaran berfikir tingkat tinggi, dimana model pembelajaran tersebut adalah salah satu model pembelajaran berbasis masalah (Huda, 2013), pada model pembelajaran ini siswa dihadapkan pada persoalan-persoalan yang menuntut siswa untuk berfikir kritis dan sistematis, yang didukung model pembelajaran example non example, dimana siswa memcahkan masalah melalui analisis contoh-contoh berupa gambar- gambar foto-foto (Shohimin, 2014). Pada model example non example siswa ditutut untuk menganalisis gambar dan mendeskripsikan perbedaan gambar tersebut agar siswa aktif dalam pembelajaran dan tercipta kegiatan pembelajaran yang bermakna. Serta menggunakan model pembelajaran scramble yang merupakan salah satu metode pembelajaran yang dapat meningkatakan konsentrasi dan kecepatan berfikir siswa (Huda, 2013) untuk melengkapi model pem-belajaran sebagai evaluasi kelompok yang menyenangkan dimana siswa di-minta untuk menyusun angka maupun kalimat yang diacak, agar siswa tidak bosan dengan pembelajaran yang monoton.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terjadi peningkatan hasil belajar dalam

(3)

pembelajaran IPA materi energi dan sumber energi, menggunakan model pembelajaran Probing-Promting Learning dikombinasikan dengan Model Example Non Example dan Scramble.

Metodologi Penelitian

Metodologi yang baik membawa peneliti kearah pencapaian tujuan penelitian (Dalle, 2020). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini merupakan suatu pendekatan dalam melakukan penelitian yang berorientasi pada fenomena atau gejala yang bersifat alami (Mahmud, 2011). Penelitian kualitatif sifatnya deskriptif analisis. Data yang diperoleh seperti hasil pengamatan, wawancara, pemotretan, analisis, dokumen, catatan lapangan, disusun peneliti di lokasi penelitian, tidak dituangkan dalam bentuk dan angka-angka (Trianto, 2011).

Jenis penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas. Penelitian ini memfokuskan pada upaya mengembangkan hasil belajar anak dan perbaikan proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru.

Hopkin berpen-dapat bahwa Penelitian Tindakan Kelas dideskripsikan sebagai suatu penelitian informal kualitatif, formatif, subjektif, interpretative, dan suatu model penelitian pengalaman, dimana semua indi- vidu dilibatksn dalam studi sebagai peserta yang mengetahui dan menyokong (Emzir, 2015). Dan Uno (2014) mengatakan bahwa penelitian tindakan merupakan penelitan dalam bidang sosial, menggunakan refleksi diri seba-gai metode utama.

Menurut Arikunto (2014) secara garis besar terdapat empat tahapan yang lazim dilalui, yaitu: (1) Perencanaan (Planning) ada- lah langkah yang dilakukan oleh guru ketika akan memulai tindakannya, (2) Pelaksanaan Tindakan (Acting) adalah implementasi dari perencanaan yang sudah dibuat, (3) Pengamatan (Observing) adalah proses mencermati jalan-nya pelaksanaan tindakan, (4) Refleksi (Reflecting) dikenal dengan peristiwa perenungan yaitu, langkah mengingat kembali kegiatan yang sudah lampau yang dilakukan oleh guru maupun anak, dari hasil refleksi akan membuat guru

menyadari tingkat keberhasilan dan kegagalan yang dicapainya dalam tindakan perbaikan.

Penelitian tindakan kelas (PTK) ini dilaksanakan di kelas III SDN 2 Karatungan Kecamatan Limpasu Kabupaten Hulu Sungai Tengah semester II tahun ajaran 2017/2018 dengan jumlah siswa 21 orang yang terdiri dari 12 orang siswa laki-laki dan 9 orang siswa perempuan.Peneliti bertindak sebagai guru, pengumpul dan penafsir data.

Sumber data pada penelitian ini adalah data guru melalui pengamatan (observasi) kegiatan mengajar di kelas dalam menerapkan model Probing-Promting Learning dikombinasikan dengan Model Example Non Example dan Scramble.

Sumber data yang digunakan ada-lah guru dan siswa yang sedang melaksanakan kegiatan pembelajaran IPA, menggunakan model pembelajaran

Jenis data yang disajikan dalam penelitian ini berupa data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif yaitu data tentang aktivitas guru saat melakukan pembelajaran dan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran. Data kuantitatif yaitu data hasil penilaian melalui tes tertulis yang dilaksanakan pada setiap akhir pertemuan.

Indikator keberhasilan dari penelitian ini adalah: Aktivitas guru dalam melaksanakan kegiatan pembela-jaran kriteria minimal baik, aktivitas siswa kriteria minimal aktif dan secara klasikal mencapai ≥80% dari jumlah siswa, dan indikator keberhasilan untuk hasil belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran adalah apabila ketuntasan siswa secara individu mencapai minimal 70, dan untuk ketuntasan klasikal mencapai ≥82% dari siswa yang mendapat nilai inimal 70.

Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan peneliti terhadap kegiatan siswa dalam proses pembe-lajaran baik dalam siklus I sampai II terjadi peningkatan aktivitas dimana banyak siswa semakin aktif dalam belajar. Ketercapaian aktivitas siswa pada siklus I adalah 13 orang atau 72% dengan kreteria aktif Sedangkan pada Siklus II ketercapaian menjadi 19 orang atau 95%

(4)

dengan kreteria sangat aktif. Dengan demikian, aktivitas siswa sudah mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan minimal mencapai 63% atau kreteria aktif. Menurut Arikunto (2010) kategori “sangat aktif “itu apabila ketercapaian 82% sampai 100%.

Guru juga terus mengalami peningkatan dalam aktivitas mengajar, terlihat karena pada setiap akhir siklus guru selalu melakukan refleksi atas siklus sebelumnya dan dibawa ke siklus yang berikutnya agar pembelajaran dapat menjadi lebih baik dari yang sebelumnya.

Berdasarkan data hasil observasi ketercapaian aktivitas guru terhadap langkah- langkah kegiatan pembelajaran maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang dilakukan sudah terlaksana dengan sangat baik. Aktivitas guru pada siklus I memperoleh skor 32 dengan kategori baik. Sedangkan pada Siklus II memperoleh skor 39 dengan kategori sangat baik. Menurut Sudijono (2014) bahwa kategori guru sangat baik itu antara skor 33 sampai 40. Dengan demikian, aktivitas guru sudah mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan yaitu aktivitas guru bisa dikatakan berhasil apabila guru mendapatkan skor dalam pelaksanaan proses pembelajaran dengan kriteria baik.

Berdasarkan indikator ketun-tasan hasil belajar yang telah ditetapkan yaitu seorang siswa dikatakan berhasil atau tuntas belajar apabila telah mencapai nilai ≥70 dengan ketuntasan klasikal minimal 82%. Hasil belajar individu menunjukkan bahwa pada siklus Siklus I ketuntasan secara klasikal mencapai 78% sedangkan pada siklus II mencapai 95%.

Hasil belajar siswa ini di ukur dengan menggunakan tes akhir siklus. Tes akhir siklus ini menggunakan instrumen soal essay dengan komponen soal meliputi materi yang diajarkan dalam setiap siklus. Hasil belajar siswa ini di ukur dengan menggunakan tes akhir siklus. Tes akhir siklus ini meng-gunakan instrumen soal essay dengan komponen soal meliputi materi yang diajarkan dalam setiap siklus. Hasil ini menunjukkan bahwa ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal sudah melebihi indikator ketuntasan klasikal yang telah ditetapkan yaitu 82%. Adanya peningkatan ketuntasan hasil

belajar siswa pada setiap siklus ini tidak lepas dari peningkatan aktivitas guru dan siswa itu sendiri, karena adanya peningkatan aktivitas guru daan siswa maka hasil belajar siswa pun juga meningkat di setiap siklus. Sehingga dapat disimpulkan bahwa menggunakan kombinasi model Probing-Promting Learning, Example Non Example dan Scramble dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil belajar tersebut maka penelitian tidak dilanjutkan pada siklus berikutnya.

Kesimpulan dan Saran

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan penelitian yang dilakukan melalui pelaksanaan penelitian tindakan kelas dapat disimpulkan bahwa aktivitas siswa kelas III SDN 2 Karatungan Kecamatan Limpasu Kabupaten Hulu Sungai Tengah” sangat aktif”

dengan ketercapaian 95%. Untuk aktivitas guru dalam pelaksanaan pembelajaran mencapai kategori “sangat baik” dengan skor capaian 39 dari 40 skor maksimal. Sedangkan untuk hasil belajar siswa ketuntasan secara klasikal mencapai 95%.

Dengan demikian pembelajaran guru menggunakan media gambar blok pecahan dapat meningkatkan hasil belajar konsep pecahan sederhana pada siswa kelas III SDN 2 Karatungan Kecamatan Limpasu Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Berdasarkan kesimpulan tersebut, maka saran-saran yang dapat peneliti sampaikan diantaranya:

Siswa diharapkan meningkatkan aktivitas pada kegiatan pembelajaran dan giat belajar untuk mendapatkan hasil belajar yang memuaskan pada pelajaran IPA.

Bagi Guru disarankan menggunakan model pembelajaran Probing-Promting Learning, Example Non Example dan Scramble atau model pembelajaran lainnya yang sesuai dengan karakteristik siswa untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar pada pelajaran IPA maupun mata pelajaran yang lain.

Bagi sekolah diharapkan dapat memberikan dukungan penuh kepada guru untuk menerapkan strategi pembelajaran dan

(5)

model pembelajaran serta media yang cocok sesuai dengan karakter siswanya dalam pembelajaran IPA di sekolah.

References

Arikunto. S. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.. Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto. S. (2014). Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

BSNP. (2016). Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SD/MI. Jakarta: Departemen Pendidikan.

Dalle, J. (2010). Metodologi umum penyelidikan reka bentuk bertokok penilaian dalaman dan luaran: Kajian kes sistem pendaftaran siswa Indonesia. Thesis PhD Universiti Utara Malaysia.

Emzir. (2015). Metode Penelitian Pedidikan. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Huda, M. (2013). Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Mahmud. (2011). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung:

Pustaka Setia.

Shoimin, A. (2014). 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Djamarah, Syaiful Bahri. Zain, Aswan.

(2010). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Sisdiknas. (2012). Undang-udang R.I. Nomor 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS & Peraturan Pemerintahan R.I. Tahun 2010 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Serta Wajib Belajar. Bandung: Citra Umbara.

Slameto. (2010). Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi.

Jakarta : Rineka Cipta.

Sudijono, A. (2014). Pengantar statistik pendidikan. Jakarta:

Rajawali Pers.

Suriansyah, A. dkk. (2014). Strategi Pembelajaran. Jakarta:

RajaGrafindo Persada.

Susanto, A. (2016). Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Trianto. (2011). Panduan Lengkap Penelitian Tindakan Kelas.

Jakarta: Prestasi Pustaka.

Uno, H. B., & Nurdin, M. (2015). Belajar Dengan Pendekatan PAILKEM. Jakarta: PT Bumi Aksara.

(6)

Referensi

Dokumen terkait

Sistem pakar dengan menggunakan Algoritme Genetika akan membantu dalam menemukan informasi jenis penyakit asma berdasarkan gejala klinis yang dirasakan sampai

Pada penelitian ini proses pembuatan biodiesel dari minyak jerami padi dilakukan dengan menggunakan katalis heterogen dari kulit telur ayam yaitu katalis CaO 2%

Pada kurun waktu tahun 2009 sampai dengan tahun 2010, Pengadilan Negeri Boyolali telah menerima pelimpahan perkara dari Kejaksaan Negeri Boyolali dalam penegakan

Karena LP Anak di Jambi hanya satu dan lokasinya jauh untuk dijangkau dan tidak dilintasi oleh angkutan umum, maka mayoritas anak tahanan ditempatkan di LP

Pemikiran dasar untuk strategi pelaksanaan dan pengembangan agroindustri di daerah dengan membangun kemitraan kerja dan kesepadanan bagi hasil antara petani dan koperasi, perusahaan

Padahal sebenarnya tidak demikian, berkerudung justru membuat wanita terlihat semakin cantik dan anggun. Apalagi apabila dilakukan dengan memodifikasi jilbab yang

Sedangkan indikator untuk kepuasan pelanggan adalah keadilan dalam mendapatkan pelayanan, kesesuaian terhadap lokasi pembayaran, kesigapan petugas didalam pemberiaan

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat 4 responden (57.1%) yang menyatakan bahwa perencanaan kepala ruangan masih kurang terencana sehingga