Ruang Lingkup Ilmu Hukum Pajak
Prof. Dr. Tjip Ismail, S.H.,M.B.A.,M.M., FC.B.Arb.
alaupun pajak mempunyai peranan penting untuk membiayai belanja negara, tetapi pajak bukan merupakan tujuan semata, hanya sebagai alat/sarana/instrumen untuk mencapai tujuan negara Indonesia sebagaimana dinyatakan dalam alinea keempat Pembukaan Undang-undang Dasar Republik Indonesia1945:
... untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial ...
Untuk itulah pungutan pajak diberi kewenangan yang berkekuatan memaksa guna mencapai tujuan negara tersebut, di mana legitimasinya dinyatakan dalam konstitusi dasar UUD 1945 sebagai sumber peraturan perundang-undangan tertinggi di Indonesia. Dalam perkembangannya, dasar pengaturan pajak telah terjadi perubahan mendasar. Semula dinyatakan dalam Pasal 23 ayat 2 UUD 1945, kemudian setelah amandemen ke-III UUD 1945 dinyatakan dalam Pasal 23A UUD 1945 yang menegaskan bahwa “Pajak dan pungutan bersifat memaksa untuk kepentingan negara diatur dengan undang- undang.”
Perubahan paradigma pungutan pajak tersebut ingin menunjukkan bahwa pajak yang mempunyai daya paksa tersebut implementasinya tidak dilakukan dengan semena-mena, tetapi harus melalui undang-undang yang mekanismenya tentu melalui persetujuan dari wakil rakyat di parlemen.
Seandainya dalam pelaksanaannya harus dilakukan melalui peraturan perundang-undangan yang lebih rendah, tetapi tetap tidak boleh bertentangan dengan undang-undang. Hingga diharapkan pelaksanaan pungutan pajak yang memiliki daya paksa yang kuat ini tetap dilakukan sesuai dengan rasa keadilan.
W
PEN DA HUL UA N
Dalam modul ini dibagi dalam tiga kegiatan belajar, masing-masing menguraikan mengenai ruang lingkup dan perkembangan hukum pajak, pengertian pajak, dan fungsi pemungutan pajak.
Selamat mengikuti kegiatan belajar.
Kegiatan Belajar 1
Ruang Lingkup dan Perkembangan Hukum Pajak
egara Indonesia merupakan negara yang berdasarkan hukum, hal ini tercermin dalam Penjelasan UUD 1945 di mana ditegaskan bahwa Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum (rechts staat) tidak berdasarkan kekuasaan (mahcts staat). Sebagai negara yang berlandaskan hukum, negara menjamin keadilan bagi seluruh rakyatnya. Artinya, segala tindakan dan kebijakan alat-alat perlengkapan negara harus berdasarkan hukum. Hukum menjadi landasan pokok untuk mencapai cita-cita masyarakat yang adil dan makmur secara merata.
Keadilan adalah syarat tercapainya kebahagiaan hidup. Keadilan merupakan cerminan dari cita-cita rakyat yang tertuang dalam konstitusi negara. Ukuran keadilan menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan dari negara hukum. Untuk mencapai negara hukum yang berkeadilan diperlukan biaya yang salah satunya diperoleh dari pungutan pajak, yang aturan dasarnya dicantumkan dalam konstitusi Undang-Undang Dasar 1945.
Pungutan pajak merupakan kebijakan pemerintah atau kebijakan publik.
Setiap kebijakan publik yang ditetapkan sebagai sebuah dokumen formal dan berlaku mengikat kehidupan bersama maka pada saat itu pula kebijakan publik menjadi hukum. Dengan demikian, hukum merupakan salah satu bentuk atau wujud dari kebijakan publik atau dengan istilah lain, hukum merupakan bagian dari kebijakan publik. Namun demikian, tidak selamanya bahwa kebijakan publik merupakan hukum publik, apabila tidak didokumenkan secara formal.
Hukum pajak yang disebut juga hukum fiskal merupakan kebijakan publik yang ditetapkan sebagai sebuah dokumen formal, yaitu dalam konstitusi UUD negara Republik Indonesia 1945 dan di dalam konstitusi tersebut mengamanatkan bahwa regulasi pungutan pajak harus ditetapkan dalam bentuk undang-undang. Oleh karena itu, kebijakan pungutan pajak masuk bagian dari hukum publik yang mengatur hubungan antara negara dan orang- orang atau badan (hukum) yang mempunyai kewajiban membayar pajak (selanjutnya disebut wajib pajak). Dengan demikian, kedudukan hukum pajak ditinjau dari substansinya termasuk dalam kategori hukum publik (hukum negara), yaitu hukum yang mengatur hubungan antara negara dengan
N
perseorangan (warga negara), bukan hukum privat (hukum sipil), yaitu hukum yang mengatur antara orang yang satu dengan orang yang lain dengan menitikberatkan kepada kepentingan perseorangan.
Penggolongan hukum pajak sebagai hukum publik, sebagian besar pakar berpendapat bahwa pajak adalah merupakan bagian dari hukum administrasi negara karena permasalahan yang diatur dalam hukum pajak berkaitan dengan administrasi negara. Sementara itu, penulis berpendapat walaupun hukum pajak adalah sebagai disiplin ilmu tersendiri yang terlepas dari hukum administrasi negara, namun tetap kelompok dari hukum publik. Akan tetapi, merupakan suatu disiplin ilmu tersendiri dengan alasan sebagai berikut:
1. jangkauan pengaturan hukum pajak sangat luas, meliputi pemerintah daerah kabupaten/kota (pajak daerah kabupaten/kota), pemerintah daerah provinsi (pajak daerah provinsi), pemerintah pusat (pajak pusat), pajak bilateral (tax treaty), dan pajak regional dan pajak internasional;
2. bahkan pengertian pajak dalam postur APBN adalah penerimaan perpajakan yang meliputi penerimaan pajak pusat, penerimaan bea dan cukai, serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP);
3. hukum pajak secara langsung dapat digunakan sebagai instrumen politik perekonomian suatu negara;
4. hukum pajak tidak saja bersifat administrasi, tetapi juga bersifat pengaturan (regulasi) dan hitung-hitungan (akuntansi);
5. hukum pajak memiliki aturan dan istilah yang khusus;
6. hukum pajak mengatur sanksi lebih luas baik dalam jenis maupun objeknya.
A. JANGKAUAN PENGATURAN HUKUM PAJAK
Hukum pajak memiliki lingkup jangkauan pengaturan dan kewenangan yang berbeda, yang meliputi pajak daerah, pajak pusat, pajak bilateral, dan pajak internasional.
1. Pajak daerah adalah pajak yang pungutannya ditetapkan berdasarkan Peraturan daerah (Perda), namun jenis, subjek, objek, dan tarifnya tidak boleh bertentangan dengan Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sebagaimana ditetapkan dalam UU Nomor 28 Tahun 2009. Pajak daerah dibedakan pajak daerah provinsi, di mana wilayah berlakunya hanya dalam provinsi yang bersangkutan dan pajak daerah kabupaten/kota yang wilayah berlakunya hanya sebatas kabupaten/kota yang
bersangkutan saja. Terhadap penerimaan pajak provinsi akan dibagi hasilkan kepada daerah kabupaten/kota di mana pajak tersebut dipungut.
2. Pajak pusat adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat guna membiayai kelangsungan pemerintahan negara Republik Indonesia, melalui APBN. Berkenaan dengan perubahan sistem tata kelola pemerintahan di Indonesia menjadi otonomi daerah sejak ditetapkannya UU Nomor 22 Tahun 1999 maka penerimaan pajak pusat dari Penghasilan Orang Pribadi Dalam Negeri (PPh Pasal 25 dan Pasal 29) dan Pajak Penghasilan Karyawan (PPh Pasal 21) dibagihasilkan kepada daerah.
3. Pajak bilateral adalah dalam pemberlakuan hukum pajak atas dasar kesepakatan antar dua negara berdasarkan perjanjian bilateral yang dikenal dengan tax treaty di mana diperjanjikan di antara dua negara mengenai subjek, objek, tarif pajak maupun hal-hal lain yang disepakati mengenai pengenaan pajak antarnegara.
4. Pajak regional adalah kesepakatan dasar dan lingkup pengenaan pajak di antara negara-negara dalam masing-masing regional, misalnya negara- negara ASEAN, Schengen, dan lain-lain.
5. Pajak internasional adalah kesepakatan dasar dan lingkup pengenaan pajak atas dasar keputusan internasional.
B. PENGERTIAN PAJAK DALAM POSTUR APBN
Pengertian pajak dalam APBN adalah perpajakan yang mempunyai makna lebih luas. Secara garis besar dalam postur APBN dibagi dalam tiga kelompok, yaitu pendapatan negara, belanja negara, dan pembiayaan.
Pendapatan negara, meliputi pendapatan perpajakan, Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP), dan pendapatan hibah. Pendapatan perpajakan, meliputi penerimaan pajak pusat, penerimaan bea dan cukai. Dengan demikian, dalam lingkup APBN perpajakan, meliputi segala pungutan negara (pemerintah pusat) selain Penerimaan Negara Bukan Pajak.
C. SEBAGAI INSTRUMEN POLITIK PEREKONOMIAN SUATU NEGARA
Pajak merupakan instrumen politik perekonomian suatu negara karena penerimaan pajak sangat dominan sebagai penerimaan negara guna membiayai roda pemerintahan negara Indonesia. Karena itu, hukum pajak mempunyai
daya paksa yang kuat, ketetapannya langsung dapat dilaksanakan walaupun pembayar pajak sedang mengajukan upaya hukum (ketetapan pajak bersifat executorial beslag yang mempunyai kekuatan hukum tetap). Dalam rangka meningkatkan penerimaan dalam pemerintahan, Bapak Presiden Joko Widodo melakukan pengawasan yang ketat terhadap kewajiban perpajakan sebagai instrumen politik perekonomian nasional guna mewujudkan cita-cita kemakmuran rakyat. Dengan demikian, pajak dapat dijadikan sebagai instrumen politik perekonomian suatu negara, namun pelaksanaannya harus berpijak pada undang-undang sebagaimana tercantum konstitusi dasar NKRI 1945 Pasal 23A.
D. TIDAK HANYA BERSIFAT ADMINISTRASI
Keputusan atau ketetapan tentang pajak (dalam Hukum Tata Usaha Negara lazim disebut dengan beschikking) tidak saja hanya berkaitan dengan administrasi, tetapi juga meliputi regulasi dan akuntansi (hitung-hitungan).
Bersifat administrasi karena penetapan dan ketetapan pajak sangat berkaitan dengan kompetensi yang menetapkan berdasarkan jabatan dan wilayah administrasi. Selain itu, penetapan dan ketetapan pajak ditetapkan harus diatur dengan undang-undang. Konsekuensinya bahwa untuk regulasi yang mengikat publik tidak boleh diatur selain dengan peraturan perundang-undangan. Selain itu, pajak meliputi hitung-hitungan yang bersifat akuntansi, walaupun dalam hal-hal khusus ketentuan akuntansi tidak dapat sepenuhnya diberlakukan dalam pengenaan pajak.
E. MEMILIKI ATURAN DAN ISTILAH KHUSUS
Pajak memiliki aturan dan istilah khusus yang tidak lazim digunakan dalam ketentuan lain. Misalnya, pajak dikenakan terhadap penghasilan tanpa membedakan dari sebab yang dibenarkan maupun bertentangan dengan undang-undang (dari sebab yang halal maupun yang haram), hal tersebut tentu saja bertentangan dengan segala ketentuan perundang-undangan dari berbagai lembaga.
F. SANKSINYA LUAS
Sanksi pajak selain dikenakan terhadap pembayar pajak (wajib pajak) juga dikenakan kepada aparatur pajak dan pihak ketiga berkaitan dengan kewajiban dalam bidang perpajakan. Khusus terhadap wajib pajak, terdapat sanksi administrasi berupa denda, bunga, dan kenaikan serta sanksi pidana. Sanksi pidana walaupun dinyatakan dengan tegas dalam perundang-undangan, namun penerapannya merupakan upaya akhir (mutatis mutandis) manakala sanksi administrasi kurang dapat menimbulkan efek jera.
Undang-Undang Dasar 1945 mensyaratkan bahwa pajak harus diatur dengan undang-undang. Oleh karena itu, pajak termasuk sebagai hukum tertulis (statute law = writen law), yaitu hukum yang dicantumkan dalam berbagai peraturan perundang-undangan. Dengan demikian, tidak mungkin pajak dikenakan karena adat kebiasaan dari hukum tidak tertulis (unstatute law
= unwriten law), kalau terjadi namanya bukan pajak, tetapi upeti.
Rochmat Soemitro, salah seorang pakar hukum pajak di Indonesia, menggambarkan kedudukan dan hubungan hukum pajak dengan hukum- hukum lainnya sebagai berikut:
Gambar 1.1
Kedudukan dan Hubungan Hukum Pajak dengan Hukum-hukum Lainnya
Di Indonesia, pajak merupakan sumber penerimaan utama negara, penerimaan pajak terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dari tahun ke tahun menunjukkan peranan yang terus meningkat terhadap seluruh pendapatan negara. Salah satu ciri dari pajak adalah pungutannya dilakukan negara bersifat memaksa. Agar pungutan pajak tidak mencederai rasa keadilan masyarakat maka upaya pemaksaan tersebut bersifat legal.
Legalitas dimaksud adalah dengan menyandarkan pungutan pajak melalui undang-undang. Tanpa undang-undang, pemungutan pajak tidak mengikat masyarakat dan menjadi tidak sah. Oleh karena itu, walaupun pemungutan pajak itu digunakan untuk keperluan rakyat, namun pemungutan pajak harus terlebih dahulu disetujui oleh rakyat sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 23 UUD 1945 yang mengatur dasar pemungutan pajak di Indonesia. Ketentuan tersebut merupakan manifestasi dari negara Republik Indonesia sebagai negara hukum yang berfalsafah Pancasila serta menjunjung tinggi hak dan kewajiban warga negara.
Seiring dengan perkembangan politik ketatanegaraan dan perekonomian Indonesia, dasar pungutan pajak dalam UUD telah berubah di mana semula tercantum dalam Pasal 23 ayat (2) yang berbunyi “Segala pajak untuk keperluan negara berdasarkan undang-undang.” Setelah amandemen ketiga UUD NKRI 1945 tanggal 9 November 2001 dinyatakan di dalam Pasal 23A yang berbunyi “Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan undang-undang.”
Terdapat perbedaan prinsip perubahan pengaturan pajak dalam UUD NKRI 1945, yaitu semula “berdasarkan undang-undang” setelah amandemen ketiga berubah menjadi “diatur dengan undang-undang”. Para pakar hukum yang menganut aliran hukum positif, secara ekstrim menyatakan bahwa dengan berubahnya aturan dasar pungutan pajak menjadi “diatur dengan undang-undang”, sesuai amanat konstitusi Undang-Undang Dasar 1945 sebagai peraturan perundang-undangan tertinggi di Indonesia maka segala pengaturan pajak yang mengikat publik tidak boleh diatur selain dengan undang-undang.
Penulis berpendapat bahwa “diatur dengan undang-undang” harus dimaknai sebagai diatur dengan peraturan perundang-undangan. Pengertian perundang-undangan, diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dalam Pasal 7 ayat (1) UU Nomor 12 Tahun 2011 mengatur mengenai jenis dan hierarki perundang- undangan, yaitu terdiri atas:
1. Undang-Undang Dasar RI tahun 1945 (UUD 1945);
2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (TAP MPR);
3. Undang-undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPPU);
4. Peraturan Pemerintah (PP);
5. Peraturan Presiden (Perpres);
6. Peraturan Daerah (Perda) Provinsi;
7. Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten/Kota.
Dengan demikian, konsekuensi dari perubahan aturan dasar pungutan pajak dalam UUD 1945 tersebut, berakibat bahwa pengaturan pajak yang mengikat publik tidak dibolehkan diatur selain dengan peraturan perundang- undangan. Bahkan dengan ditetapkannya hierarki peraturan perundang- undangan tersebut maka peraturan pelaksanaan dari undang-undang tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.
Sementara itu, pemahaman sesuai bunyi gramatika pasal 23A UUD 1945, pajak harus diatur dengan undang-undang, apabila dilaksanakan akan berakibat pengaturan pajak akan out of date ketinggalan dengan perkembangan dunia usaha yang berkembang begitu cepat dan dinamis. Hal tersebut disebabkan karena untuk melahirkan sebuah undang-undang akan melalui proses yang lama, baik dari tata cara mengajukan Rancangan Undang-Undang (RUU) yang melalui proses tata urutan prioritas Prolegnas (Program Legislasi Nasional), serta pembahasannya RUU di DPR sebagai badan legislatif.
Lingkup pembahasan pajak dalam kajian ini juga memperhatikan kewenangan pemerintah daerah dalam memungut pajak karena berkaitan dengan tata kelola pemerintahan Indonesia yang telah berubah menjadi desentralistik (otonomi daerah). Satu dan lain hal disebabkan karena pajak baik bagi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, memiliki peranan yang dominan terhadap penerimaan Anggaran Pendapatan Belanja Nasional (APBN) dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).
Pentingnya pajak bagi negara (pemerintah pusat maupun daerah) sangat disadari karena peranan pajak dalam menunjang APBN sebagai penerimaan negara maupun APBD sebagai penerimaan daerah sangat dominan.
Penerimaan tersebut semata dalam rangka untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat sebagaimana tertuang dalam Mukadimah UUD 1945 alinea keempat, yaitu:
“……untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat………dst”
Begitu besarnya peranan dan kewajiban pajak untuk penerimaan negara hingga ketetapan pajak mempunyai sifat daya paksa setara dengan putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde).
Atas dasar alasan tersebut maka pemerintah mengatur pungutan pajak di dalam Undang-Undang Dasar yang implementasinya harus tertib dan disahkan wakil rakyat di DPR sebagai undang-undang.
Menurut Teresa Ter-Minassian dalam buku “Fiscal Federalism in Theory and Practise” menyatakan bahwa untuk menjaga ketertiban dalam pemungutan pajak, perlu dipenuhi persyaratan administratif sebagai berikut:
1. Jumlah pajak yang dipungut dari masing-masing wajib pajak harus jelas dan pasti.
2. Wajib pajak harus dimungkinkan untuk menghitung sendiri jumlah pajak terutang, kapan serta di mana harus membayar, dan melaporkannya kepada institusi yang berwenang.
3. Pemerintah harus memberikan fasilitas yang sebaik-baiknya supaya wajib pajak dapat dengan mudah, tanpa tambahan pengorbanan untuk memenuhi kewajiban perpajakan kepada negara.
4. Biaya administrasi pajak harus diusahakan seminimal mungkin karena yang diharapkan sebagai dana untuk membiayai pengeluaran negara adalah dari hasil bersih.
5. Pemerintah harus diberi kekuasaan untuk memungut tunggakan pajak dengan paksa, apabila diperlukan.
6. Demikian pula wajib pajak harus dijamin haknya untuk mengajukan upaya hukum apabila dirasakan tidak adil terhadap beban pajak yang dipikul.
Rochmat Sumitro dalam buku “Asas dan Dasar Perpajakan I” mengutip pendapat Adam Smith dalam bukunya “Wealth of Nations” yang terkenal di seluruh dunia yang memberikan pedoman bahwa supaya peraturan pajak itu adil harus memenuhi empat syarat. Keempat syarat tersebut disebut dengan
“The Four Canons of Adam Smith” sering juga disebut dengan “The Four Maxims”, yaitu:
1. Equalty and equity
Orang berada dalam keadaan sama harus dikenakan pajak yang sama.
2. Certainty
Dalam membuat undang-undang perpajakan, peraturannya harus jelas, tegas dan tidak mengandung arti ganda yang memberikan peluang penafsiran,
3. Convenience of payment
Pajak harus dipungut pada saat yang tepat, yaitu saat wajib pajak mempunyai uang.
4. Economics of collection
Harus dipertimbangkan bahwa biaya pemungutan pajak harus lebih kecil dari uang pajak yang masuk.
Dalam meneliti lebih dalam mengenai hukum pajak, terdapat hal penting yang menjadi pokok bahasan, yaitu bahwa pungutan pajak harus memenuhi rasa keadilan baik bagi pemerintah sebagai pemungut pajak, maupun pembayar pajak (wajib pajak). Keadilan berkenaan dengan pajak (tax justice), mengandung pemahaman yang luas dan pelik. John Rawls mengemukakan terdapat dua prinsip keadilan, pertama, yaitu hak perlakuan yang sama yang dimiliki setiap orang tanpa membedakan status dan jabatan. Kemudian yang kedua adalah bagaimana mengatur ketimpangan sosial dan ekonomi sehingga dapat memberikan harapan dan keuntungan bagi semua orang.
Keadilan adalah kebajikan utama dalam pemerintahan dan institusi sosial, apalagi pungutan pajak yang mempunyai daya paksa, walaupun penerimaannya akan digunakan untuk pembangunan negara, akan tetapi harus dirasakan adil bagi masyarakat yang dipungut sebagai pembayar pajak. Untuk itulah, UUD 1945 sebagai konstitusi dasar negara Republik Indonesia mewajibkan bahwa segala pungutan pajak harus ditetapkan dengan undang- undang. Undang-undang merupakan manifestasi keadilan karena mekanisme pembuatan undang-undang adalah melalui proses yang harus diwakili perwakilan rakyat melalui persetujuan Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat.
Berkaitan dengan kebijakan fiskal dalam jangka menengah Pemerintah Republik Indonesia, sebagaimana dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RJPMN) 2004-2010 diarahkan untuk menjaga ketahanan fiskal yang berkelanjutan (fiscal sustainability) melalui optimalisasi sumber-sumber pendapatan negara, peningkatan efisensi dan efektifitas
belanja negara, serta pengelolaan pembiayaan secara berhati-hati. Dengan kebijakan tersebut, defisit anggaran dapat terjaga dan terkelola sehingga rasio utang pemerintah terhadap PDB terus menurun. Di tahun 2014, kebijakan fiskal diarahkan untuk (1) menyediakan stimulasi fiskal secara terukur dengan tetap menjaga kesinambungan fiskal; (2) memperkuat kapasitas fiskal (fiscal capasity); (3) memperlebar ruang fiskal (fiscal space); (4) meningkatkan kualitas belanja (quality spending); (5) memperkuat pengelolaan keuangan daerah dalam kerangka desentralisasi fiskal; dan (6) memantapkan pengelolaan pembiayaan anggaran.
Dalam upaya meningkatkan pendapatan negara, utamanya dalam mendukung penerimaan perpajakan, sepanjang tahun 2004-2013, pemerintah telah melakukan berbagai kebijakan di bidang perpajakan. Secara garis besar dapat digolongkan menjadi: (1) kebijakan yang bersifat umum; (2) kebijakan di bidang PPh; dan (3) kebijakan di bidang PPN.
Kebijakan umum perpajakan yang dilakukan, meliputi (1) perluasan basis pengenaan pajak (tax base); (2) optimalisasi teknologi informasi dalam rangka penggalian potensi dan pengawasan Wajib Pajak (WP) melalui pemanfaatan aplikasi profil berbasis web (Approweb) dan aplikasi dashboard penerimaan pajak; (3) Sensus Pajak Nasional (SPN); dan (4) penguatan infrastruktur penerimaan pajak dengan memanfaatkan sinkronisasi Sistem Kliring Nasional (SKN) antara Bank Indonesia dan Modul Penerimaan Negara (MPN).
Sementara itu, kebijakan di bidang PPh yang telah dilakukan antara lain: (1) pembenahan kebijakan pengenaan PPh final; dan (2) kebijakan penyesuaian batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) untuk memberikan stimulus fiskal bagi perekonomian. Untuk bidang PPN, kebijakan difokuskan pada pembenahan administrasi dalam sistem PPN untuk mengurangi penyalahgunaan faktur pajak bermasalah melalui: (1) penyederhanaan pengenaan PPN melalui mekanisme Ideemed Tax; (2) pemberlakuan sistem E- invoice; dan (3) pemberlakuan sistem barcode sebagai identitas transaksi Pengusaha Kena Pajak (PKP).
Dari sisi belanja, dalam upaya meningkatkan kualitas belanja negara, kebijakan lebih ditekankan pada pentingnya langkah efisiensi dan efektivitas dalam mendorong produktivitas pada setiap jenis belanja untuk menciptakan efisiensi ekonomi dan peningkatan daya saing perekonomian domestik.
Dari sisi pembiayaan, untuk dapat mengimbangi perkiraan defisit besar, pemerintah berupaya untuk dapat memenuhi kebutuhan tersebut dengan menerapkan prinsip kehati-hatian dan mempertimbangkan berbagai faktor, di
antaranya biaya dan risiko utang, perkembangan kondisi pasar keuangan, kapasitas daya serap pasar Surat Berharga Negara (SBN), country ceilling/
single county limit masing-masing lender, dan kebutuhan kas negara.
Pembiayaan defisit anggaran diprioritaskan melalui optimalisasi sumber- sumber pembayaran utang dari dalam negeri yang dilaksanakan bersamaan dengan upaya untuk mengoptimalkan peran serta dari masyarakat (financial inclusion), mengembangkan pasar keuangan domestik (financial deepening), dan meningkatkan pengaruh pengganda (multipier effect) perekonomian nasional. Sementara itu, pembiayaan yang bersumber dari luar negeri selalu diupayakan dengan menjaga negatif net flow untuk mengurangi ketergantungan terhadap pinjaman luar negeri.
Sebagaimana diuraikan terdahulu bahwa pungutan pajak harus ada ketentuan undang-undang yang mengaturnya terlebih dahulu, seperti halnya jenis-jenis pajak pusat diatur dengan undang-undang. Namun, untuk pajak daerah seiring dengan otonomi daerah yang memberikan kewenangan pungutan pajak dan retribusi kepada daerah, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 telah melimpahkan kewenangannya pengaturan pemungutannya kepada daerah dengan Peraturan daerah (Perda), tetapi tetap harus berpedoman dan tidak boleh menyimpang atau bertentangan dengan UU (UU Nomor 28 Tahun 2009). Karena, berdasarkan hierarki peraturan perundang-undangan dalam Pasal 7 dari UU Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan bahwa peraturan daerah adalah kedudukannya di bawah undang-undang. Sesuai asas dan teori hukum murni yang juga dianut dalam UU Nomor 12 Tahun 2011 bahwa “Peraturan perundang-undangan tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang- undangan di atasnya.” Tegasnya, peraturan daerah tentang pajak daerah tidak boleh bertentangan dengan undang-undang.
Sementara itu, untuk Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) kewenangan pemungutannya dibedakan antara PDRD provinsi dan PDRD kabupaten/kota di mana jenis dan peruntukannya berbeda yang akan dibahas kemudian.
1) Mengapa pajak termasuk dalam hukum publik?
2) Mengapa pajak termasuk dalam disiplin ilmu hukum tersendiri?
3) Jelaskan kedudukan hukum pajak dengan hukum lainnya!
4) Jelaskan penerimaan negara berdasarkan postur APBN!
5) Mengapa pengaturan pajak harus ditetapkan dengan undang-undang?
6) Bagaimana perkembangan pengaturan dasar tentang pajak dalam UUD 1945?
7) Apakah makna pajak diatur dengan undang-undang?
8) Bagaimana pungutan pajak agar dirasakan adil bagi pembayar pajak?
9) Jelaskan hierarki peraturan perundang-undangan di Indonesia!
10) Apa yang Saudara ketahui tentang Teori “The Four Maxims“!
Petunjuk Jawaban Latihan
1) Pajak termasuk lingkup hukum publik karena mengatur hubungan antara negara dan orang-orang atau badan (hukum) yang mempunyai kewajiban membayar pajak.
2) Pajak termasuk disiplin ilmu tersendiri karena selain berkaitan dengan tata kelola negara, administrasi juga mengatur secara khusus tentang tindak pidana bagi yang tidak melaksanakan kewajiban perpajakan.
3) Kedudukan hukum pajak dengan hukum lainnya bahwa hukum pajak merupakan lex specialis di bidang pungutan pajak terhadap undang- undang lainnya.
4) Penerimaan negara di dalam postur APBN terdiri dari penerimaan perpajakan, penerimaan negara bukan pajak, dan penerimaan hibah.
5) Pengaturan pajak harus ditetapkan dengan undang-undang, hal tersebut disebabkan bahwa walaupun pajak mempunyai kekuatan bersifat memaksa untuk kepentingan negara, tetapi pajak bukan merupakan tujuan dari negara namun keberadaannya adalah sebagai sarana atau instrumen guna mencapai tujuan negara.
LAT IH A N
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!
6) Pengaturan perkembangan dasar tentang pajak dalam UUD 1945 telah berubah, semula dinyatakan dalam Pasal 23 ayat (2) UUD 1945 kemudian setelah amandemen ke-III UUD 1945 diatur dalam Pasal 23A UUD 1945.
7) Makna pajak diatur dengan undang-undang sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 23A UUD 1945 adalah bahwa “Pajak tidak boleh diatur selain dengan peraturan perundang-undangan.”
8) Pungutan pajak agar dirasakan adil bagi pembayar pajak maka ketentuan pajak harus diatur dengan undang-undang.
9) Hierarki peraturan perundang-undangan di Indonesia terdapat dalam Pasal 7 UU Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang- undangan, yaitu:
a) UUD 1945;
b) Ketetapan MPR;
c) UU/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPPU);
d) Peraturan Pemerintah (PP);
e) Peraturan Presiden;
f) Peraturan Daerah Provinsi;
g) Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.
10) Teori “The Four Maxims” dari Adam Smith menegaskan terdapat 4 (empat) syarat dalam melaksanakan pungutan pajak, yaitu:
a) equalty dan equity;
b) certainty;
c) convenience of payment;
d) economics of collection.
Pajak merupakan penerimaan negara yang dominan untuk melaksanakan pembangunan di negeri ini, baik dilihat dari peranannya terhadap APBN maupun besarannya yang dari tahun ke tahun menunjukkan kenaikan. Seiring dengan otonomi daerah yang merupakan tata kelola pemerintahan yang dimulai sejak awal tahun 1984, yaitu sejak ditetapkannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang kemudian diganti dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, peranan pajak diharapkan menjadi tulang punggung bagi penerimaan APBN dan APBD.
RA NG KUM AN
Begitu strategisnya penerimaan pajak hingga Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara RI menempatkan pungutan pajak dalam Pasal 23A amandemen ketiga UUD 1945 yang menyatakan “Pajak dan pungutan yang bersifat memaksa untuk kepentingan negara diatur dengan undang-undang.”
Pengertian diatur dengan undang-undang dimaknai sebagai peraturan perundang-undangan, di mana jenis dan hierarkinya dinyatakan dalam Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, yaitu: “Pungutan pajak merupakan kebijakan pemerintah atau kebijakan publik.” Setiap kebijakan publik yang ditetapkan sebagai sebuah dokumen formal dan berlaku mengikat kehidupan bersama maka kebijakan publik tersebut adalah menjadi hukum. Karena hukum pajak di Indonesia didokumenkan dalam konstitusi dasar UUD negara Republik Indonesia 1945 maka hukum pajak adalah dikategorikan sebagai hukum publik yang mengatur mengenai hubungan hak dan kewajiban individu (orang maupun badan) kepada negara.
Terdapat berbagai pendapat mengenai kedudukan pajak, apakah termasuk dalam hukum administrasi negara atau hukum tersendiri?
1) Alasan hukum pajak merupakan hukum publik adalah ....
A. karena pajak penting buat pembangunan negara
B. karena pajak merupakan kebijakan publik yang ditetapkan dalam dokumen formal
C. karena pajak bersifat memaksa D. karena diatur dalam undang-undang
2) Perbedaan pajak dan perpajakan adalah ....
A. keduanya sama saja
B. perpajakan lebih luas, yaitu merupakan pungutan negara yang meliputi pajak pusat, pajak daerah, serta bea dan cukai
C. perpajakan meliputi pajak pusat dan pajak daerah
D. perpajakan meliputi penerimaan perpajakan, penerimaan negara bukan pajak dan penerimaan hibah
TES F ORM AT IF 1
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
3) Sanksi perpajakan, meliputi ....
A. sanksi bunga, kenaikan, dan denda B. sanksi administrasi dan sandera C. sanksi administrasi dan pidana D. sanksi denda dan pidana
4) Peraturan yang menyatakan bahwa pajak seharusnya diatur dengan undang-undang terdapat dalam ....
A. Ketetapan MPR B. Pasal 23A UUD 1945
C. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 D. kebiasaan hukum tidak tertulis
5) Alasan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) diatur dengan peraturan daerah adalah ....
A. karena otonomi daerah
B. karena merupakan tanggung jawab daerah
C. karena diberikan kewenangan oleh undang-undang D. karena pajak sangat penting bagi daerah
6) Tujuan dari pajak adalah ....
A. untuk kesejahteraan rakyat B. untuk pembangunan
C. bentuk kepatuhan masyarakat kepada negara D. semuanya benar
7) Apakah mungkin pajak dipungut berdasarkan perintah presiden?
A. mungkin dalam keadaan emergency
B. sangat mungkin karena presiden adalah kepala pemerintahan C. mungkin karena presiden dipilih langsung oleh rakyat
D. tidak mungkin karena bertentangan dengan konstitusi dasar UUD 1945
8) Filosofi dari Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan adalah ....
A. peraturan perundang-undangan yang berada di bawah tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan di atasnya B. agar peraturan perundang-undangan tidak tumpang tindih satu dengan
yang lain
C. membatasi kebijakan agar selalu dengan peraturan perundang- undangan
D. semuanya benar
9) Pungutan pajak agar dirasakan adil bagi masyarakat pembayar pajak harus ....
A. digunakan untuk kesejahteraan masyarakat B. ditetapkan dengan undang-undang
C. memenuhi rasa keadilan D. semuanya benar
10) Berdasarkan Pasal 7 ayat (1) UU Nomor 12 Tahun 2011, hierarki peraturan perundang-undangan, sebagai berikut ....
A. Tap MPR, UUD 1945, Undang-undang/Perppu, Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden, Perda Provinsi dan Perda Kabupaten/Kota
B. UUD 1945, Undang-undang/Perppu, Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden, Perda Provinsi dan Perda Kabupaten/Kota C. UUD 1945, Tap MPR, Undang-undang/Perppu, Peraturan
Pemerintah, Peraturan Presiden, Perda Provinsi dan Perda Kabupaten/Kota
D. UUD 1945, Tap MPR, UU/Perppu, PP, Perpres, Peraturan Menteri, Perda Provinsi dan Perda Kabupaten/Kota
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.
Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali 80 - 89% = baik 70 - 79% = cukup < 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang belum dikuasai.
Tingkat penguasaan = Jumlah Jawaban yang Benar Jumlah Soal 100%
Kegiatan Belajar 2
Pengertian Pajak
otivasi utama pemajakan di negara berkembang adalah pengumpulan dana pembiayaan pemerintah dalam penyediaan barang dan jasa publik.
Motivasi lainnya adalah redistribusi penghasilan dan penyesuaian kekurangsempurnaan mekanisme pasar. Walaupun suatu tingkat pemajakan diperlukan untuk mencapai motivasi tersebut, pemajakan selalu mempunyai pengorbanan, baik karena beban langsung berupa biaya administrasi, maupun beban tidak langsung dalam upaya memperoleh penerimaan pajak.
Pola pemajakan di berbagai negara berbeda-beda seiring dengan keadaan ekonomi, budaya dan sejarah. Rasio penerimaan pajak di negara berkembang sekitar 10-15-20% dari Pendapatan Domestik Bruto (GDP), sedangkan di negara maju lebih dari 30%. Berbeda dengan negara maju, negara berkembang mengandalkan penerimaan pajaknya pada pajak tidak langsung (barang dan jasa), sedangkan negara berkembang dari pajak penghasilan. Pajak Penghasilan Orang Pribadi umumnya sulit dipungut dalam masyarakat yang didominasi oleh ekonomi pedesaan yang merupakan masyarakat tunai (cash society) dengan sebagian terbesar kegiatan ekonominya merupakan sektor informal (underground economy).
Sementara itu, peranan penerimaan pajak di Indonesia guna membiayai pembangunan dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan. Pada tahun 2012 sejumlah Rp1.016,237 triliun, sedangkan pada tahun 2013 sejumlah Rp1.192,994 triliun, meningkat sejumlah Rp176,757 triliun.
Begitu pentingnya pajak untuk membiayai pembangunan dan pelayanan pemerintahan di suatu negara, Gunadi menafsir pajak sebagai penerimaan bagi negara berarti juga merupakan pengeluaran dari sisi masyarakat, artinya penerimaan negara itu adalah beban bagi seluruh masyarakat. Beban dimaksud ditanggung masyarakat dengan mengalihkan sebagian dari penghasilan yang diperolehnya, kemudian membayarkannya kepada negara untuk sesuatu yang mereka dapatkan. Agar tercipta keadilan maka kewajiban masyarakat untuk membayar pajak dituangkan dalam undang-undang yang mengikat semua warga negara. Karena dalam bentuk undang-undang itu pulalah masyarakat seharusnya mengerti, memahami, dan sadar akan kewajiban perpajakannya dan dapat melaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Apabila kewajiban- kewajiban perpajakan tersebut tidak dijalankan dengan benar sebagaimana
M
mestinya maka sanksi pidana yang diatur dalam undang-undang layak untuk ditetapkan.
Begitu besarnya peranan penerimaan pajak untuk membiayai roda peme- rintahan suatu negara, karena itu kita sangatlah penting kita mengetahui pengertian pajak. Para ilmuwan dan pakar perpajakan mengemukakan pengertian tentang pajak adalah sebagai berikut.
1. Prof. Edwin R. A. Seligman
Dalam bukunya “Essays In Taxation” (New York, 1925) memberi definisi yang berbunyi: “Tax is a compulsery contribution from the person, to the government to defray the expenses incurred in the common interest of all, without reference to special benefit conferred.” Banyak terdengar keberatan atas kalimat without reference karena bagaimanapun juga uang-uang pajak tersebut digunakan untuk produksi barang dan jasa. Jadi, benefit diberikan kepada masyarakat, hanya tidak mudah ditunjukkannya, apalagi secara perseorangan.
2. Philip E. Taylor
Dalam bukunya “The Economist of Public Finance” (1948) mengganti without reference menjadi with little reference.
3. Mr.Dr.N.J. Feldmann
Dalam bukunya “De Overheidsmiddelen van Indonesia (Leyden, 1949) menyatakan bahwa “Belastingen zijn aan de Overheid (volgens algemene, door haar vastgestelde normen) verschuldigde afdwingbare prestaties, waargeen tegenprestatie tegenover staat en uitsluitend dienen tot dekking van publieke uitgaven.” Artinya, pajak adalah prestasi yang dipaksakan sepihak oleh dan terhutang kepada penguasa (menurut norma-norma yang ditetapkannya secara umum), tanpa adanya kontraprestasi, dan semata-mata digunakan untuk menutup pengeluaran-pengeluaran umum. Feldmann (seperti juga halnya Seligman) berpendapat bahwa “Terhadap pembayaran pajak, tidak ada kontraprestasi dari negara.” Dalam mengemukakan kritik-kritiknya terhadap definisi dari sarjana-sarjana lain ternyata bahwa Feldmann tidak berhasil pula mendefinisikan untuk memberikan gambaran tentang pengertian pajak.
4. Prof. Dr. M. J. H. Smeets
Dalam bukunya “De Ecnomische betekenis der Belastingen” (1951) menyatakan bahwa “Belastingen zijn aan de overheid (volgens normen) verschuldigde, afdwingbare prestaties, zonder dat hiertegenover, in het individuele geval, aanwijsbare tegen-prestaties staan; zij strekken tot dekking van publieke uitgaven.” Artinya, pajak adalah prestasi kepada pemerintah yang terutang melalui norma-norma umum dan yang dapat dipaksakan, tanpa adanya kontraprestasi yang dapat ditunjukkan dalam hal yang individual;
maksudnya adalah untuk membiayai pengeluaran pemerintah. Dalam bukunya ini, Smeets mengakui bahwa definisinya hanya menonjolkan fungsi budgeter saja; baru kemudian ia menambahkan fungsi mengatur pada definisinya.
5. Dr. Soeparman Soemohamidjojo
Dalam disertasinya yang berjudul “Pajak berdasarkan Asas Gotong Royong” (Universitas Padjajaran Bandung, 1964) mendefinisikan pajak sebagai iuran wajib, berupa uang dan barang, yang dipungut oleh penguasa berdasarkan norma-norma hukum, guna menutup biaya produksi barang- barang dan jasa-jasa secara kolektif dalam mencapai kesejahteraan umum.
Dengan mencantumkan istilah iuran wajib, ia mengharapkan terpenuhinya ciri bahwa pajak dipungut dengan bantuan dari dan kerja sama dengan wajib pajak sehingga perlu pula dihindari penggunaan istilah “paksaan”. Lebih-lebih (demikian pula menurut sarjana lainnya) bilamana suatu kewajiban harus dilaksanakan berdasarkan undang-undang, dalam hal kewajiban tersebut tidak dilaksanakan maka undang-undang menunjukkan cara pelaksanaan yang lain, hal ini tidak mengenai pajak (saja dan cara ini biasanya adalah untuk memaksa). Selanjutnya, (menurut pendapatnya) berkelebihanlah kiranya, kalau khusus mengenai pajak ditekankan pentingnya paksaan itu, seakan-akan tidak ada kesadaran masyarakat untuk melakukan kewajibannya. Ia sudah menganggapnya cukup dengan menyatakan bahwa pajak adalah “iuran wajib”
(tidak usah diberi tambahan “yang dapat dipaksakan”). Adapun mengenai kontraprestasi, Dr. Soeparman berpendirian bahwa justru untuk menyelenggarakan kotraprestasi itulah perlu dipungut pajak.
6. Prof. Dr. Rochmat Soemitro, S.H.
Dalam bukunya “Dasar-Dasar Hukum Pajak dan Pajak Pendapatan 1944”, Rochmat Soemitro mendefinisikan pajak sebagai suatu iuran rakyat kepada kas negara (pengalihan kekayaan dari sektor partikelir ke sektor pemerintah)
berdasarkan undang-undang (dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal balik (tegen prestasi) yang langsung dapat ditunjuk dan yang digunakan untuk membiayai keperluan umum (publike uitgiven).
7. Prof. S. I. Djojoniningrat
Pajak menurut S.I. Djojoniningrat adalah sebagai suatu kewajiban menyerahkan sebagian dari kekayaan kepada negara disebabkan suatu keadaan, kejadian dan perbuatan yang memberikan kedudukan tertentu, tetapi bukan sebagai hukuman, menurut peraturan-peraturan yang ditetapkan pemerintah serta dapat dipaksakan, tetapi tidak ada jasa balik dari negara secara langsung untuk memelihara kesejahteraan umum.
8. P. J. A. Adriani
“Pajak adalah iuran kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan, dengan tidak mendapat prestasi kembali, yang langsung dapat ditunjuk dan yang ada gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung dengan tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan.”
9. Dr. Tjip Ismail, S.H., M.B.A., M.M.
“Pajak adalah hak dan kewajiban kepada negara yang dapat dilaksanakan, diatur dengan undang-undang, digunakan untuk keperluan negara dengan memperoleh kontraprestasi pada sektor pajak yang bersangkutan.”
Dari definisi tersebut di atas, baik pengertian secara ekonomis (pajak sebagai perpindahan kekayaan dari sektor swasta ke sektor pemerintah) atau secara yuridis (pajak sebagai iuran wajib) dapat diambil suatu kesimpulan tentang ciri-ciri yang terdapat pada pengertian pajak sebagai berikut:
a. pajak dipungut oleh negara baik oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah didasarkan undang-undang serta aturan pelaksanaannya;
b. pemungutan pajak menghendaki adanya alih dana (sumber) dari sektor swasta (wajib pajak pembayar pajak) ke sektor negara (pemungut pajak, administrator pajak);
c. terdapat perkembangan bahwa pajak seyogianya ada kontraprestasi atau imbalan yang diberikan oleh negara (Pemerintah Pusat/Pemerintah Daerah) kepada sektor pajak yang bersangkutan, bukan kepada pembayar pajak. Karena apabila tidak demikian, penerimaan pajak akan
diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat sebagaimana diamanatkan oleh alinea keempat pembukaan UUD 1945 sebagai tujuan dari negara Indonesia;
d. pemungutan pajak diperuntukkan bagi keperluan pembiayaan umum pemerintah dalam rangka menjalankan fungsi pemerintahannya, baik rutin maupun pembangunan.
e. pemungutan pajak dihubungkan dengan adanya suatu keadaan, kejadian, dan perbuatan yang memberikan kedudukan tertentu pada seseorang, misalnya keadaan kekayaan seseorang, terjadinya perolehan pendapatan dan perbuatan pemindahan barang.
Dasar pemungutan pajak adalah undang-undang pajak (untuk setiap jenis pajak) yang bersumber kepada konstitusi atau Undang-Undang Dasar.
Sehubungan dengan kegiatan bisnis yang berkembang pesat, di mana tidak mungkin hanya diatur dengan undang-undang, dalam memudahkan pelaksanaan pemungutan pajak, kewenangan tersebut dapat dilimpahkan kepada peraturan perundang-undangan yang lebih rendah sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan di atasnya. Hal tersebut sesuai dengan teori stufenbouw theory mengenai hukum murni dari Hans Kelsen. Oleh karena itu, pemungutan pajak melalui Peraturan daerah (Perda) dapat dibenarkan karena Perda merupakan bagian dari peraturan perundang-undangan. Sebagaimana telah diuraikan mengenai hierarki peraturan perundang-undangan dalam Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 terdahulu.
Dengan demikian, sebagaimana disertasi penulis pada tahun 2005 yang memperoleh apresiasi tertinggi dari Universitas Indonesia mengenai pajak seharusnya terdapat kontraprestasi atau imbalan kepada sektor pajak, kemudian telah diakomodir khususnya oleh undang-undang pajak daerah yang baru (Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009). Selama ini paradigma pajak selalu diidentikkan dengan pungutan memaksa berdasarkan undang-undang dengan tanpa imbalan atau kontraprestasi adalah tidak sejalan dengan tujuan negara Indonesia dan makna otonomi daerah, yaitu untuk lebih mendekatkan pelayanan kepada masyarakat lokal melalui Pemerintah Daerah.
Apabila pembayaran pajak harus tanpa imbalan dari pemerintah (dalam hal ini juga Pemerintah Daerah) maka hal tersebut menjadi kontraproduktif.
Semestinya pajak harus jelas peruntukannya yang dalam hukum fiskal lazim disebut dengan earmarking tax. Karena itu, pembayaran pajak daerah harus terdapat imbalan atau kontraprestasi bagi sektor pajak yang bersangkutan.
Berbeda dengan retribusi imbalan atau kontraprestasinya hanya untuk pembayar retribusi saja.
Contohnya, apabila kita membayar pajak daerah, pajak kendaraan bermotor dan bea balik nama kendaraan bermotor diharapkan pemerintah daerah akan memberikan pelayanan terhadap kenyamanan berkaitan dengan pembayaran pajak tersebut bagi pengendara bermotor, misalnya jalanan mulus, rambu-rambu jalan, dan lampu stopan lalu lintas berfungsi dengan baik, dst.
Berdasarkan penelitian penulis, sebagian besar Pemerintah Daerah sudah melaksanakan peruntukan prioritas penggunaan penerimaan pajak daerah yang dituangkan dalam peraturan daerahnya. Misalnya, Provinsi Sumatera Utara telah mencantumkan dalam peraturan daerah tentang bagi hasil penerimaan pajak kendaraan bermotor kepada daerah kabupaten/kota agar diprioritaskan untuk perbaikan jalan dan rambu-rambu lalu lintas. Di kabupaten/kota di Bali, dalam menunjang pariwisata penerimaan dari Pajak Penerangan Jalan (PPJ) digunakan untuk pembiayaan penerangan jalan. Diharapkan juga penerimaan jenis pajak daerah kabupaten/kota, yaitu pajak mineral bukan logam dan batuan (pajak hasil tambang golongan c), diprioritaskan untuk reklamasi, perbaikan ekosistem dan kerusakan alam akibat kegiatan penambangan tersebut.
Demikian pula untuk pajak-pajak pusat kontraprestasinya dilakukan pemerintah dalam bentuk meningkatkan pelayanan informasi. Selain itu, dalam UU ditetapkan penerimaan perpajakan pusat, yaitu penerimaan PPh Perseorangan (PPh Pasal 25 dan 29), PPh Karyawan (PPh Pasal 21) dan penerimaan cukai dibagihasilkan kepada pemerintah daerah. Alasan bagi hasil tersebut adalah dalam rangka menjaga keutuhan NKRI, di mana pungutan pajak perseorangan, pajak karyawan maupun cukai obyeknya berada di daerah.
Berkaitan dengan penerapan pungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Ronald John Hy dan William L Waugh, JR menyatakan bahwa “Untuk meningkatkan pendapatan daerah adalah lebih rational bila dilakukan melalui pungutan retribusi dari pada mengenakan pajak.” Artinya bahwa dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah adalah lebih baik kualitasnya, apabila penerimaan retribusinya lebih tinggi dari pada pajak daerah.
“State are always looking for ways to acquire additional revenues without raising taxes. Fees and user charges are commonly used. Closing tax loopholes for sales and income taxes also is frequently employed. Whatever the form of revenue enchancement, it seems obvious that for now broad-based tax increases are not on the horizon.”
Demikian juga Mikesell menyatakan bahwa retribusi dirasakan lebih adil dan efisien diterapkan dari pada pajak di suatu state/negara bagian/pemerintah daerah.
Berkenaan dengan persyaratan bahwa penerimaan pajak untuk digunakan dalam pembiayaan umum dimaksudkan agar pembiayaan umum pemerintah harus terukur dan sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam undang-undang bagi APBN, dan untuk pengeluaran APBD harus terlebih dahulu ditetapkan melalui peraturan daerah. Mekanisme tersebut diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Oleh karena itu, administrasi pajak mempunyai peranan yang sangat penting dalam menentukan efektivitas suatu sistem pajak. Menurut Richard M Bird, di negara-negara berkembang para analis kebijakan pajak meyakini bahwa perubahan kebijakan tanpa diikuti oleh perubahan administrasi tidak akan menghasilkan apa-apa. Dengan demikian, sangatlah penting untuk memastikan agar setiap perubahan kebijakan pajak harus sesuai dengan kapasitas administrasi. Besarnya penerimaan bukanlah indikator mutlak berhasilnya suatu sistem administrasi pajak. Pemerintah juga wajib mempertimbangkan bagaimana penerimaan tersebut didapat bagaimana dampak pengenaan pajak terhadap keadilan, politik pemerintahan, dan tingkat kesejahteraan sosial.
Selain pajak, pungutan lain untuk Pemerintah Pusat diperoleh dari bea dan cukai, dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Sedangkan pungutan untuk pemerintah daerah selain dari pajak daerah adalah retribusi daerah.
Namun demikian, potensi dalam menunjang perolehan APBN maupun APBD tetap saja didominasi dari penerimaan pajak.
Begitu besarnya peranan penerimaan pajak bagi Pemerintah Pusat maupun daerah, hingga di lapangan sering terjadi tumpang tindih dalam pengenaan terhadap suatu obyek pajak. Oleh karena itu, undang-undang pajak daerah yang baru (Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009) menetapkan bahwa jenis pajak daerah adalah limitatif. Daerah tidak boleh lagi menambah jenis pajak daerah selain yang ditetapkan oleh undang-undang (closed list).
1) Mengapa perlu dilakukan perubahan definisi pajak?
LAT IH A N
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!
2) Bagaimana pendapat Saudara mengenai pendapat yang menyatakan bahwa dalam rangka otonomi daerah seharusnya penerimaan retribusi daerah lebih besar daripada pajak daerah?
3) Sebutkan ciri-ciri pungutan pajak menurut Saudara!
4) Jelaskan pajak merupakan earmark system!
5) Apa yang dimaksud dengan closed list dalam jenis pajak daerah?
Petunjuk Jawaban Latihan
1) Perlunya dilakukan perubahan definisi pajak agar sesuai dengan perubahan paradigma pungutan pajak sebagaimana telah terjadi perubahan dasar pungutan pajak menurut UUD 1945.
2) Dalam tata kelola otonomi daerah memang seharusnya penerimaan retribusi daerah lebih besar dari pajak daerah dimaksudkan bahwa tujuan otonomi daerah untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat lokal melalui pemerintah daerah dapat terealisasi.
3) Ciri pungutan pajak adalah bersifat memaksa dan dilakukan atas dasar undang-undang.
4) Pajak merupakan earmark system artinya bahwa penerimaan pajak itu utamanya diperuntukkan untuk pelayanan di sektor pajak yang bersangkutan.
5) Jenis pajak daerah bersifat closed list artinya bahwa daerah tidak boleh menambah jenis pajak selain yang telah ditetapkan dalam undang-undang (plus).
Pajak sangat diperlukan bagi APBN maupun APBD di mana dari tahun ke tahun baik besaran jumlahnya maupun peranannya menunjukkan kenaikan. Definisi pajak selama ini tidak memberikan peluang kontraprestasi atau imbalan. Hal ini menjadi kontraproduktif karena tidak sejalan dengan tujuan negara Indonesia, sebagaimana tercantum dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945 yang seharusnya pajak diperuntukkan untuk semata kesejahteraan rakyat. Di lain hal, berkaitan dengan otonomi daerah di mana makna otonomi daerah adalah guna mendekatkan pelayanan Pemerintah Daerah kepada masyarakat lokal tidak mungkin tercapai apabila tidak ditekankan bahwa penerimaan pajak
RA NG KUM AN
seharusnya ada kontraprestasi atau imbalan kepada sektor yang bersangkutan. Oleh karena itu, definisi pajak yang selama ini ada harus diubah dengan mencantumkan adanya kontraprestasi.
Secara tidak langsung earmarking system bagi pajak telah dilaksanakan baik untuk pajak pusat maupun pajak daerah.
Untuk pajak pusat undang-undang telah menetapkan bagi hasil kepada daerah di samping meningkatkan pelayanan kepada seluruh pembayar pajak. Sedangkan untuk pajak daerah dalam undang-undang pajak daerah telah menetapkan persentase tertentu untuk keperluan sektor pajak yang bersangkutan dan hal tersebut harus ditetapkan dalam peraturan daerah.
1) Menurut Saudara, apakah pajak diperlukan adanya kontraprestasi?
A. tidak perlu
B. perlu bahwa kontraprestasi diberikan kepada pembayar pajak C. perlu bahwa kontraprestasi diberikan kepada sektor pajak yang
bersangkutan D. ketiganya salah
2) Menurut Saudara, apakah alasan bahwa retribusi daerah seyogianya lebih besar dari pajak daerah?
A. sejalan dengan makna otonomi daerah yang tidak ingin membebankan masyarakat dengan membayar pajak
B. sesuai dengan UUD 1945
C. guna meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) D. ketiganya benar
3) Mengapa pajak harus diatur dengan undang-undang?
A. sesuai dengan amanat konstitusi dasar UUD 1945 B. sesuai dengan makna otonomi daerah
C. agar ada kepastian hukum D. agar tercapai rasa keadilan
4) Di manakah penerimaan pajak dialokasikan?
A. di Kementerian Keuangan B. di Bank Indonesia
TES F ORM AT IF 2
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
C. dalam APBN/APBD D. ketiganya benar
5) Mengapa pajak pusat dibagihasilkan kepada daerah?
A. dalam rangka otonomi daerah
B. dalam rangka pemerataan pembangunan C. dalam rangka menjaga keutuhan NKRI D. ketiganya benar
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2.
Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali 80 - 89% = baik 70 - 79% = cukup < 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan Kegiatan Belajar 3. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang belum dikuasai.
Tingkat penguasaan = Jumlah Jawaban yang Benar 100%
Jumlah Soal
Kegiatan Belajar 3
Fungsi dan Syarat Pemungutan Pajak
etelah memahami pengertian tentang ruang lingkup pajak dan definisi tentang pajak, selanjutnya kita akan membahas fungsi pajak dan syarat pemungutan pajak yang dilakukan oleh negara kepada masyarakat.
A. FUNGSI PAJAK
Fungsi pajak menurut pendapat modern dari Richard A Musgrave sebagai berikut.
1. Fungsi Budgetair
Fungsi ini merupakan fungsi utama pajak atau fungsi fiskal, yaitu fungsi pajak semata sebagai alat untuk memasukkan dana secara optimal ke kas negara berdasarkan undang-undang perpajakan yang berlaku.
Sebagai konsekuensinya pengenaan pajak tidak membedakan dari sebab yang dilarang atau tidak dilarang dalam undang-undang.
Contoh:
Besarnya tarif PPh dari penghasilan judi dan koruptor adalah sama besarnya dengan penghasilan yang diperoleh dari gaji guru atau ustadz.
Fungsi budgetair dari pajak berarti bahwa pungutan pajak oleh negara dilakukan untuk menutup pembiayaan atau belanja penyelenggaraan pemerintahan, meliputi: (1) belanja barang, (2) belanja modal, (3) pembayaran bunga utang, (4) subsidi, (5) belanja hibah, (6) bantuan sosial, serta (7) belanja lain-lain dari kementerian dan lembaga. Besarnya budgetair tersebut ditetapkan dengan undang-undang setiap tahun yang diusulkan oleh pemerintah dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Dari tabel di bawah ini, tampak penerimaan perpajakan menunjukkan kenaikan dari tahun ke tahun daripada penerimaan negara bukan pajak dan hibah sebagai berikut:
S
Tabel 1.1
Perkembangan Penerimaan Dalam Negeri 2008 – 2013 (Triliun Rupiah)
Uraian 2011 2012 2013 2014 2015
I. Penerimaan Perpajakan 873,9 980,5 1.148,3 1.146,9 1.240,4 a. Pajak Dalam Negeri 819,8 930,8 1.099,9 1.103,2 1.205,5 i. Pajak Penghasilan 43 1,1 465,0 538,7 546,2 602,3
1) Migas 73,1 76,6 83,5 87,4 49,7
2) Non migas 358,0 422,4 455,2 458,7 552,6 ii. Pajak Pertambahan Nilai 277,8 337,5 423,7 409,2 423,7 iii. Pajak Bumi dan Bangunan 29,9 28,9 27,3 23,5 29,3
iv. BPHTB 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
v. Cukai 77,0 95,0 104,7 118,1 144,6
vi. Pajak lainnya 3,9 4,2 5,4 6,3 5,6
b. Pajak Perdagangan
Internasional 54,1 49,6, 48,4 43,6 34,9
i. Bea Masuk 25,3 28,4 30,8 32,3 31,2
ii. Pajak Ekspor 28,9 21,2 17,6 11,3 3,7
II. Penerimaan Negara Bukan
Pajak 331,5 351,8 349,2 398,7 253,7
a. Penerimaan SDA 2 13,8 225,8 203,7 242,9 102,3
i. Migas 193,5 201,6 18 3,3 216,9 78,4
ii. Non Migas 20,3 24,2 20,4 26,0 24,0
b. Bagian Laba BUMN 28,2 30,8 36,5 40,3 37,6
c. PNBP lainnya 69,4 73,5 85,4 85,8 78,5
d. Pendapatan Badan Layanan
Umum 20,1 21,7 23,5 29,6 35,2
III. Penerimaan Hibah 5,3 5,8 4,5 5,1 10,4
TOTAL 1.210,6 1.338,1 1.502,0 1.550,6 1.504,5
Sumber: Kemenkeu
2. Fungsi Regulerend
Fungsi ini merupakan fungsi tambahan karena hasil penerimaan dari pajak harus digunakan untuk mengatur pemerintahan secara adil. Pajak yang memiliki pengaruh dalam politik anggaran dan keuangan tentunya dapat berperan sebagai instrumen untuk ikut serta mengatur agar pungutan pajak dapat dipatuhi karena dirasakan adil bagi masyarakat. Fungsi mengatur dari pajak dimaksudkan bahwa pajak itu dapat dipergunakan sebagai alat untuk mengatur pelaksanaan kebijakan negara dalam lapangan ekonomi dan sosial.
Fungsi tersebut dapat diwujudkan dalam suatu bentuk paket kebijakan perpajakan (fiscal policy) secara khusus misalnya insentif pajak terhadap para
investor, tidak mengenakan suatu pajak tertentu di daerah kawasan berikat, mengenakan tarif pajak yang tinggi terhadap penjualan minuman beralkohol, dll.
3. Fungsi Distribution of Income
Pajak yang dipungut pemerintah didistribusikan kembali kepada masyarakat sehingga pendapatan nasional melalui pajak dapat dikontribusikan merata di seluruh lapisan masyarakat. Dalam teori hukum pajak lazim disebut dengan earmarking tax, yaitu bahwa penerimaan pajak harus diperuntukkan kembali kepada masyarakat. Dengan adanya fungsi ini memberikan stimulus agar masyarakat patuh membayar pajak, ikut juga mengawasi penggunaan dari penerimaan pajak.
4. Fungsi Harmonization of Political Wants and Economy
Kepentingan pemerintah dalam memungut pajak harus jelas sesuai dengan peraturan perpajakan, namun tetap memperhatikan keserasian keadaan politik dan ekonomi negara. Misalnya, pungutan pajak harus menghormati dan memberlakukan perjanjian pajak yang dilakukan secara bilateral antarnegara (tax treaty), dan pajak internasional berikut ini.
a. Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B / Tax Treaty) adalah perjanjian antar dua negara berisikan kesepakatan perlakuan perpajakan terhadap subjek, objek, tarif pajak dan hal-hal lain dalam rangka penghindaran pajak berganda dari dua negara.
b. Regulasi pajak secara internasional, hendaknya dijadikan rujukan dalam rangka menghormati dan memperhatikan keserasian politik antarnegara.
5. Fungsi Stabilization of Economy
Pajak merupakan alat untuk menstabilkan perekonomian karena dengan pajak akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yang berdampak pada lapangan kerja, stabilitas harga, inflasi neraca perdagangan, dst. Oleh karena itu, regulasi pajak kebijakan pajak diupayakan agar:
a. jangan sampai menghambat lancarnya produksi dan perdagangan;
b. tidak menghalangi usaha rakyat untuk mencapai kemakmuran;
c. tidak memberikan dampak ekonomi yang negatif;
d. memperhatikan aspek keadilan dan kemampuan rakyat;
e. memperhitungkan potensi penerimaan;
f. tidak merugikan kepentingan umum.
Misalnya, penerimaan pajak menjadi tulang punggung pendapatan negara dalam APBN, karena kisaran 80% pendapatan negara diperoleh dari penerimaan perpajakan yang setiap tahun APBN tersebut dibahas bersama pemerintah dengan DPR dan ditetapkan menjadi undang-undang. Dalam menetapkan UU tersebut, tentunya di dalamnya telah mempertimbangkan politik anggaran dan perekonomian yang meliputi stabilitas harga, neraca perdagangan, pertumbuhan ekonomi, inflasi, dll.
Untuk mendukung tercapainya sasaran fungsi penerimaan pajak, ditempuh berbagai kebijakan yang meliputi upaya:
a. intensifikasi pemungutan pajak;
b. ekstensifikasi subjek atau objek pajak;
c. kerja sama dengan instansi pemerintah dalam rangka pengumpulan data;
d. mengoptimalkan bank data secara elektronik;
e. peningkatan pelayanan kepada wajib pajak.
Kebijakan tersebut diaplikasikan terhadap wajib pajak dan jenis pajak terkait, tentunya melalui pemeriksaan dan selanjutnya apabila wajib pajak kurang atau tidak melaporkannya kegiatan usahanya dengan benar dalam Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) maka akan diterbitkan ketetapan pajak, baik berupa Surat Tagihan Pajak (STP), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) maupun SKPKBT (Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan).
Selain fungsi tersebut, pajak berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat terhadap pembangunan negara karena pajak tidak sekedar kewajiban, tetapi lebih dari itu adalah merupakan hak warga negara untuk ikut berpartisipasi dalam membangun negara. Oleh karena itu, adalah tepat slogan pajak saat sekarang ini, yaitu ”lunasi pajaknya dan awasi penggunaannya.”
Berkaitan dengan fungsi partisipasi tersebut maka seyogianya institusi pajak harus terbuka khususnya kepada wajib pajak mengenai kewajiban dan haknya. Kewajiban adalah keharusan membayar pajak sesuai dengan ketentuan perpajakan yang berlaku, sedangkan hak wajib pajak adalah hak untuk memperoleh pelayanan informasi berkaitan dengan kewajiban membayar pajak. Selain itu, wajib pajak mempunyai hak untuk memperoleh pengembalian kelebihan bayar yang telah dituangkan dalam SPT apabila setelah dilakukan pemeriksaan, kelebihan yang dituntut adalah benar.
B. SYARAT-SYARAT PEMUNGUTAN PAJAK
Pajak haruslah dipungut berdasarkan suatu keadilan. Keadilan tersebut harus dituangkan baik dalam undang-undang yang rancangannya diajukan oleh pemerintah untuk memperoleh persetujuan dari DPR sebagai lembaga perwakilan rakyat. Pemungutan pajak dapat disebut adil apabila dipungut secara umum dan merata kepada seluruh lapisan masyarakat sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Jadi, jelasnya pajak harus mengabdi kepada keadilan, dan keadilan inilah yang merupakan asas pemungutan pajak menurut falsafah hukum.
Keadilan dalam perpajakan meliputi dua sisi, yaitu:
1. keadilan sejajar atau horizontal, dan 2. keadilan tegak lurus atau vertikal.
Keadilan sejajar (horizontal equity) maksudnya adalah kesamaan dalam besaran kewajiban membayar pajak terhadap orang yang mempunyai kemampuan ekonomis yang sama. Misalnya, Tuan A dan Tuan B yang masing-masing mempunyai penghasilan yang sama Rp10.000.000,00 harus membayar jumlah pajak yang besarnya sama.
Keadilan tegak lurus (vertical equity) maksudnya ialah ketidaksamaan dalam membayar pajak walaupun mempunyai kemampuan ekonomis sama, tetapi kondisinya berbeda. Misalnya, Tuan A berpenghasilan lebih besar dari Tuan B maka Tuan A harus membayar pajak yang lebih besar dari Tuan B, atau walaupun Tuan A dan Tuan B berpenghasilan sama sebesar Rp10.000.000,00, tetapi Tuan A statusnya bujangan, sedangkan Tuan B sudah beristri dan memiliki 3 maka perbedaan keadaan pribadi tersebut menyebabkan jumlah pajak yang dibayar menjadi berbeda
R. Santosa Brotodihardjo, SH dalam bukunya ”Pengantar Ilmu Hukum Pajak” menguraikan beberapa teori untuk memberikan dasar menyatakan keadilan tersebut, sebagai berikut:
1. Teori Asuransi
Menurut Teori Asuransi dinyatakan bahwa “Pembayaran pajak yang dilakukan oleh warga negara (masyarakat) dipersamakan dengan pembayaran premi asuransi kepada negara karena negara dalam tugasnya telah melindungi orang dan segala kepentingannya, (dianggap seolah-olah sebagai asuransi).”
Namun pokok pikiran tersebut secara luas kurang dapat diterima dengan alasan:
a. negara tidak dapat dipersamakan dengan perusahaan asuransi karena apa bila terjadi kerugian yang diderita masyarakat, negara tidak mengganti;
b. tidak adanya hubungan langsung yang dapat ditunjuk antara jasa-jasa yang diterima dengan jumlah pembayar pajak.
2. Teori Kepentingan
Menurut Teori Kepentingan, “Pembayaran pajak yang dilakukan oleh masyarakat kepada negara merupakan perwujudan dari peran serta masyarakat terhadap biaya kenegaraan dalam rangka menjaga dan melindungi kepentingan masyarakat. Kepentingan tersebut termasuk perlindungan atas jiwa dan harta bendanya.” Sesuai dengan prinsip teori tersebut, seharusnya semakin banyak kepentingan seseorang harus semakin banyak pula membayar pajak. Namun, dalam kehidupan sehari-hari hal tersebut sulit terlaksana karena misalnya, orang yang miskin tentunya punya kepentingan yang banyak (antara lain perlindungan jaminan sosial dan sebagainya), tetapi mereka justru tidak membayar pajak. Karena tidak adanya hubungan langsung antara jumlah pajak yang dibayarkan dengan kepentingan seseorang terhadap jasa pemerintah maka teori ini pun kurang dapat diterima.
3. Teori Gaya Pikul
Menurut Teori Gaya Pikul, “Pembayaran pajak oleh masyarakat kepada negara agar memenuhi rasa keadilan, haruslah disesuaikan dengan gaya pikul masing-masing orang yang ukurannya adalah besarnya penghasilan. Semakin besar gaya pikul seseorang berarti semakin besar pula jumlah beban pajak yang akan dipikulkan kepadanya dan sebaliknya.” Gaya pikul seseorang dapat diukur misalnya dengan indikator penghasilan, kekayaan, pengeluaran (belanja) atau tanggungan keluarga dan sebagainya.
4. Teori Kewajiban Pajak Mutlak atau Teori Bakti
Menurut Teori Kewajiban, “Pajak mutlak atau teori bakti, pembayaran pajak oleh masyarakat kepada negara dipandang sebagai suatu bentuk pembuktian rasa baktinya kepada negara. Kebaktian tersebut dilakukan sehubungan dengan terlaksananya penyelenggaraan kepentingan umum.”
Dalam teori ini, dasar hukum pajak terletak pada hubungan antara rakyat
dengan negara karena hakikat negara itulah maka timbul hak negara untuk memungut pajak.
5. Teori Asas Daya Beli
Menurut teori asas daya beli, “Pembayaran pajak oleh masyarakat merupakan transfer daya beli dari sektor swasta ke sektor pemerintah, dan ditransfer kembali ke masyarakat dengan maksud untuk memelihara kehidupan masyarakat dan membawanya ke arah tertentu. Dasar keadilan dari pemungutan pajak terletak pada penyelenggaraan kepentingan masyarakat, bukannya kepentingan individu dan negara.”
Dalam pemungutan pajak syarat keadilan (asas falsafah hukum) harus diwujudkan baik dalam prinsip perundang-undangan maupun dalam pelaksanaan sehari-hari.
Keadilan tersebut umumnya dituangkan dalam hak dan kewajiban wajib pajak secara tegas sehingga betul-betul memberikan jaminan dan kepastian hukum.
Menurut R. Santoso Brotodihardjo, S.H. dalam pembuatan undang- undang pajak di samping harus memenuhi asas keadilan juga harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut.
a. Syarat Yuridis
Syarat yuridis menghendaki agar hukum pajak harus dapat memberikan jaminan dan kepastian hukum yang perlu untuk menyatakan keadilan yang tegas baik bagi negara (pemungut pajak) maupun untuk masyarakat (pembayar pajak, wajib pajak). Di Indonesia sebagai negara hukum, dasar pemungutan pajak diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 setelah amandemen ketiga Pasal 23A yang menyatakan bahwa pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan undang-undang.
Berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 tersebut maka dengan per- setujuan Dewan Perwakilan Rakyat disusunlah undang-undang pajak, untuk setiap jenis pajak yang dipungut. Dalam menyusun undang-undang pajak tersebut, harus memenuhi unsur-unsur sebagai berikut:
1) hak-hak pemungut pajak yang telah diamanatkan oleh undang-undang harus dijamin dapat dilaksanakan dengan baik;
2) para wajib pajak harus mendapat jaminan kepastian hukum, agar tidak diperlakukan kurang adil oleh pemungut pajak;
3) adanya jaminan tentang kerahasiaan data wajib pajak.