MAKALAH
RUANG LINGKUP HUKUM ISLAM
DI INDONESIA
Disusun Oleh :
Nama
: Firdanis Sholekha
NIM
: 11010114120257
Kelas
: C
Mata Kuliah Hukum Islam
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS DIPONEGORO
Kata Pengantar
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan Rahmat, Hidayah, dan Inayah-Nya sehingga kami dapat merampungkan penyusunan makalah Mata Kuliah Hukum Islam dengan judul "Ruang Lingkup Hukum Islam di Indonesia".
Salawat dan salam kepada Nabi Muhammad sallahu alaihi wasallam, yang telah membawa kita dari alam kebodohan ke alam penuh dengan ilmu pengetahuan.
Penyusunan makalah semaksimal mungkin kami upayakan dan didukung bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar dalam penyusunannya. Untuk itu tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam merampungkan makalah ini.
Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih terdapat kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa dan aspek lainnya. Oleh karena itu, dengan lapang dada kami membuka selebar-lebarnya pintu bagi para pembaca yang ingin memberi saran maupun kritik demi memperbaiki makalah ini.
Akhirnya penyusun sangat mengharapkan semoga dari makalah ini dapat diambil manfaatnya dan besar keinginan kami dapat menginspirasi kawan-kawan untuk mengangkat permasalahan lain yang relevan pada makalah-makalah selanjutnya.
Semarang, Agustus 2017
Daftar Isi
Kata pengantar ...i
Daftar isi ...ii
Bab I Pendahuluan ...1
A. Latar belakang ...1
B. Perumusan masalah ...2
C. Tujuan penulisan ...2
Bab II Pembahasan ... 3
A. Ruang Lingkup Pembidangan Hukum Islam …... 4
B. Ciri-Ciri dan Tujuan Hukum Islam ……….………..…….…….…….. 6
Bab III Penutup ... 8
A. Kesimpulan ... 8
B. Saran ………. 8
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hukum dalam pengertian yang sederhana adalah merupakan perintah dan larangan untuk berbuat dan tidak berbuat yang karenanya melahirkan hak dan kewajiban, diskripsi hukum dalam lingkup Islam di Indonesia sering diistilahkan dengan hukum Islam yang merupakan terjemahan dari kata syariat dan fikih, sebagaimana kalangan ahli hukum Barat menyebut syariat dengan sebutan Islamic Law dan fikih dengan Islamic Jurisprudance.
Pengertian syariat bersifat luas ia mencakup seluruh tatanan nilai dan norma dalam kehidupan Islam yang menyangkut keimanan atau akidah yang benar, amal perbuatan manusia, maupun akhlak yang menggambarkan keseluruhan tatanan norma ajaran Islam.
Fikih merupakan penafsiran terhadap syariat, khususnya mengenai amal perbuatan manusia yang bersumber dari dalil-dalil terperinci dari al-Qur’an dan hadis yang kemudian dirumuskan dalam hukum-hukum, seperti wajib, sunnah, mubah, makruh atau haram. Hukum Islam adalah segala macam ketentuan atau ketetapan mengenai sesuatu hal yang telah diatur dan ditetapkan oleh agama Islam yang berisi perintah dan larangan untuk berbuat atau tidak berbuat dan jika dilanggar telah ditetapkan sanksinya.
Hukum Islam sering pula diterjemahkan dengan lima ketetapan yang dibebankan pada manusia, yaitu: wajib, sunnah, makruh, mubah atau halal, dan haram. Dengan demikian ruang lingkup hukum Islam dalam penerapannya dapat diklasifikasi ke dalam dua kelompok besar, antara lain, hukum yang berkaitan dengan persoalan ibadah, dan hukum yang berkaitan dengan persoalan kemasyarakatan. Hukum ibadah adalah hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, yaitu iman, shalat, zakat, puasa, dan haji. Hukum kemasyarakatan, yaitu hukum yang mengatur hubungan antar sesama manusia maupun dengan mahluk ciptaan Allah yang lainnya, semisal muamalah.
B. Perumusan Masalah
1. Bagaimana ruang lingkup pembidangan hukum Islam? 2. Bagaimana ciri-ciri dan tujuan hukum Islam?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui ruang lingkup pembidangan hukum Islam. 2. Untuk mengetahui ciri-ciri dan tujuan hukum Islam.
PEMBAHASAN
Kata hukum sering dikonotasikan dengan peraturan dan sejenisnya. Kata hukum secara etimologi berasal dari akar kata bahasa arab, yaitu م ك ح yang dapat imbuhan ا danل sehingga menjadi مكحلا bentuk masdar dari مكحي مكح- . selain itu مكحلا merupakan bentuk mufrad dan bentuk jamaknya adalah مكحلا.
Berdasarkan akar kata tersebut melahirkan kata ةمكحلا artinya kebijaksanaan. Maksudnya, orang yang memahami hukum lalu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari dianggap sebagai orang bijaksana. Selain itu, akar kata م ك ح dapat melahirkan kata ةمكحلا
artinya kendali atau kekangan kuda, yaitu hukum dapat mengendalikan atau mengekang seseorang dari hal-hal yang sebenarnya dilarang oleh agama.
Hukum Islam merupakan istilah khas di Indonesia, sebagai terjemahan dari fiqh al-Islamy atau dalam keadaan konteks tertentu dari as-syariah al-Islamy. Istilah ini dalam wacana ahli hukum Barat disebut Islamic Law. Dalam al-Qur’an dan sunnah, istilah al-hukm al-Islam tidak ditemukan. Namun, yang digunakan adalah kata syariat Islam, yang kemudian dalam pejabarannya disebut
هنع هيقف وا ىلع ىش تابثا
Artinya:
Menetapkan sesuatu atau meniadakan sesuatu daripadanya.
Para ulama membagi ruang lingkup hukum Islam (fiqh) menjadi dua yaitu : 1. Ahkam Al- Ibadat
Ahkam al-Ibadat, yaitu ketentuan-ketentuan atau hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya. Ahkam al-Ibadat ini dibedakan kepada Ibadat Mahdla dan Ibadat Ghair Mahdlah. Ibadah Mahdlah adalah jenis ibadah yang cara waktu atau tempatnya sudah ditentukan, seperti shalat, puasa, zakat, haji, nadzar dan sumpah. Sedangkan ibadah ghair mahdlah adalah semua bentuk pengabdian kepada Allah swt. dan setiap perkataan atau perbuatan yang memberikan manfaat kepada manusia pada umumnya, seperti berbuat baik kepada orang lain, tidak merugikan orang lain, memelihara kebersihan dan kelestarian lingkungan, mengajak orang lain untuk berbuat baik dan meninggalkan perbuatan buruk, dan lain-lain.
2. Ahkam Al-Mu’malat
Ahkam al-Mu’amalat, yaitu ketentuan-ketentuan atau hukum yang mengatur hubungan antar manusia (mahluk), yang terdiri dari :
a. Ahkam al-ahwal al-syahsiyat (hukum orang dan keluarga), yaitu hukum tentang orng (subyek
hukum) dan hukum keluarga, seperti hukum perkawinan.
b. Ahkam al-Madaniyat (Hukum Benda), yaitu hukum yang mengatur masalah yang berkaitan
dengan benda, seperti jual beli, sewa menyewa, pinjam meminjam, penyelasian harta warisan atau hukum kewarisan.
c. Al-ahkam al-Jinayat (Hukum Pidana Islam), yaitu hukum yang berhubungan dengan perbuatan
yang dilarang atau tindak pidana (delict,jarimah) dan ancaman atau sanksi hukum bagi yang melanggarnya (uqubat)
d. Al-ahkam al-qadla wal al-Murafa’at (hukum acara), yaitu hukum yang berkaitan dengan acara
diperadilan (hukum formil), umpama aturan yang berkaitan dengan alat-alat bukti, seperti saksi, pengakuan, pengakuan, sumpah, yang berkaitan dengan pelaksanaan hukuman dan lain-lain. e. Ahkam al-Dusturiyah (hukum tata Negara dan perundang-undangan), yaitu hukum yang
berkaitan dengan masalah politik, seperti mengenai pangaturan dasar dan system Negara, perundang-undangan dalam Negara, syarat-syarat, hak dan kewajiban pemimpin, hubungan pemimpin dengan rakyatnya, dan lain-lain.
f. Ahkam al-dauliyah (hukum Internasional), yaitu hukum yang mengatur hubungan antar Negara,
baik dalam keadaan damai maupun dalam keadaan perang.
g. Ahkam al-Iqtishadiyah wa al-Maliyah (Hukum Perekonomian-dan moneter), yaitu hukum
Sistematika hukum (ahkam al-muamalat) diatas, pada dasarnya sama dengan sistematika dalam ilmu hukum. Menurut ilmu hukum, hukum dapat dibedakan menjadi :
1. Hukum formil terdiri dari : membedakan antara hukum privat (hukum perdata) dengan hukum publik, maka sama halnya dengan hukum adat di tanah air kita, hukum Islam tidak membedakan antara hukum perdata dan hukum public. Hal ini disebabkan karena menurut system hukum Islam pada hukum public ada segi-segi perdatanya, maka dalam hukum Islam tidak dibedakan kedua bidang hukum itu, yang disebutkan adalah bagian-bagiannya saja seperti misalnya :
1. Munakahat
Jika ruang lingkup syariah diatas analisis objek pembahasannya, tampak mencerminkan seperangkat norma ilahi yang mengatur tata hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan manusia lain dalam kehidupan social, hubungan manusia dengan benda dan alam lingkungan hidupnya. Norma ilahi yang mengatur tata hubungan dimaksud adalah :
1. Kaidah ibadah dalam arti khusus atau yang disebut kaidah ibadah murni, mengatur cara dan
2. Kaidah muamalah yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya dan mahluk lain
dilingkungannya.
B. Ciri-Ciri dan Tujuan Hukum Islam
Berdasarkan ruang lingkup hukum Islam yang telah diuraikan dapat ditentukan cirri-ciri hukum Islam sebagai berikut :
1. Hukum Islam adalah bagian dan bersumber dari ajaran agama Islam
2. Hukum Islam mempunyai hubungan yang erat dan tidak dapat dicerai pisahkan dengan iman dan
kesusilaan atau akhlak Islam
3. Hukum Islam mempunyai istilah kunci, yaitu syariah dan fikih. Syariah bersumber dari wahyu
Allah dan sunnah Nabi Muhammad saw. dan fikih adalah hasil pemahaman manusia yang bersumber dari nash-nash bersifat umum.
4. Hukum Islam terdiri atas dua bidang utama, yaitu hukum ibadah dan hukum muamalah dalam
arti yang luas. Hukum ibadah bersifat tertutup karena telah sempurna karena telah sempurna dan muamalah dalam arti yang luas bersifat terbuka untuk dikembangkan oleh manusia yang memenuhi syarat untuk itu dari masa ke masa.
5. Hukum Islam mempunyai struktur yang berlapis-lapis seperti yang akan diuraikan dalam bentuk
bagan tangga bertingkat. Dalil al-Qur’an yang menjadi hukum dasar dan mendasari sunnah Nabi Muhammad saw. dan lapisan-lapisan seterusnya ke bawah.
6. Hukum Islam mendahulukan kewajiban dari hak, amal dari pahala
7. Hukum Islam dapat dibagi menjadi :
a. Hukum taklifi atau hukum taklif yaitu, al-ahkam al-khamsah yang terdiri atas lima kaidah jenis
hukum lima penggolongan hukum, yaitu jaiz, sunnat, makruh, wajib, dan haram.
b. Hukum wadh’i ,yaitu hukum yang mengandung sebab, syarat, halangan terwujudnya hubungan
hukum.
Adapun tujuan hukum Islam bila ditinjau dari dua segi yakni segi pembuat hukum Islam yaitu Allah dan Rasul-Nya, dan segi manusia yang menjadi pelaku dan pelaksana hukum Islam itu. Jika dilihat dari segi pertama yaitu pembuat hukum Islam maka tujuan hukum Islam itu adalah :
1. Untuk memenuhi keperluan hidup manusia yang bersifat primer, sekunder dan tertier, yang
dalam kepustakaan hukum Islam masing-masing disebut dengan istilah daruriyyat, hajiyyat, dan
2. Untuk ditaati dan dilaksanakan oleh manusia dalam kehidupannya sehari-hari.
Selanjutnya jika dilihat dari segi pelaku hukum Islam yakni manusia sendiri maka tujuan hukum Islam adalah untuk mencapai kehidupan yang berbahagia dan sejahtera.
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
1. Ruang lingkup hukum Islam secara garis besar ialah :
a. Kaidah ibadah dalam arti khusus atau yang disebut kaidah ibadah murni, mengatur cara dan
upacara hubungan langsung antara manusia dengan Tuhannya.
b. Kaidah muamalah yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya dan mahluk lain
dilingkungannya.
2. Ciri-ciri hukum Islam tidak lepas dari sumber hukum yaitu al-Qur’an dan mempunyai istilah
B.Saran
1. Setelah membaca dan memahami makalah ini,diharapkan kepada pembaca mampu
mengaplikasikan hukum Islam dalam aktifitas keseharian sesuai dengan ketentuan sehingga mampu meraih ridha Allah swt.
2. Sebagai media pembelajaran penulis meyadari dalam makalah ini masih memiliki keterbatasan,
olehnya itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari teman-teman dalam penyempurnaan tulisan ini.
Daftar Pustaka
Ali, Zainnudin, Hukum Islam, Pengantar Ilmu Hukum di Indonesia, Cet II; Jakarta: Sinar Grafika, 2008.
Daud Ali, Muhammad, Hukum Islam, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Islam di Indonesia, Cet VI; Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1998.
Khallaf, Abdul Wahhab, Kaidah-Kaidah Hukum Islam (Ilmu Us}ul Fiqh), diterjemahkan oleh Noer Iskandar, Cet VI; Jakarta: PT. Grafindo Persada, 1996.
Usman, Suparman, Hukum Islam, Asas-Asas dan Pengantar Studi Hukum Islam dalam Tata Hukum Indonesia, Cet I; Jakarta : Gaya Media Pratama, 2001.