• Tidak ada hasil yang ditemukan

MBNTERI TENAGA KERJA R.I.,

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MBNTERI TENAGA KERJA R.I.,"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

PERATURAN MENTERI TENAGA KBRIA RI NO. PER-06IMEN/1994

TBNTANG

RETRIBUSI PENGAWASAN NORMA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA,

MBNTERI TENAGA KERJA R.I.,

Menimbang

Mengingat

b.

c.

l.

3.

4.

bahwa

untuk

peningkatan pelaksanaan tugas-tugas pemerintah

di bidang

ketenagakerjaan khususnya pengawasan keselamatan dan

kesehatan kerja, perlu diatur pemungutan Retribusi

sebagai pelaksanaan

pasal 7

Undang-Undang

No. I tahun 1970,

yang

merupakan penerimaan negara

bukan pajak untuk

Pembiayaan Pembangunan;

bah w a Peratu ran Menteri Ten aga Kerj a No. Per.06/lVlen/ I 9 8 8 tentan g

Retribusi

Pengawasan

Norma

Keselamatan

dan

Kesehatan

Kerja

dipandang

tidak

sesuai

lagi

dengan kebutuhan,

sehingga

perlu disempurnakan;

bahwa untuk itu perlu ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

Undang-undang Uap tahun 1930 (Stb tahun 1930 No. 225).

Undang-undang

No.

14

tahun

1969 tentang Ketentuan-ketentuan pokok mengenai Tenaga Kerja (Lembaran Negara RI Tahun 1969 No.

55, Tambahan Lembaran Negara No. 2912).

Undang-undang

No. I Tahun

1970

tentang

Keselamatan

Kerja

(Lernbaran Negara RI Tahun I 970 No. l, Tambahan Lembaran Negara No. 2918).

Peraturan Pemerintah

No.

19 Tahun 1973 tentang Pengaturan dan Pengawasan Keselamatan Kerja dibidang Pertambangan (Lembaran Negara tahun 1973 No. 25, Tambahan Lembaran Lembaran Negara No. 3003).

Keputusan Presiden RI No. 95/lvl Tahun 1993 tentang Pembentukan

Kabinet Pembangunan

VI.

,

Keputusan Presiden

RI No.

16

Tahun

1994 tentang Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

5.

6.

n

(2)

7. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Per.

O2lMenll992

tentangTata Cara Penunjukan, Kewajiban dan Wewenang

Ahli

Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Surat

Menteri

Keuangan

RI No. S. 2l3lMK.O3ll993 tanggal

15

Februari

1993

perihal ijin

penggunaan

langsung

sebagian hasil pungutan retribusi Norma Keselamatan dan Kesehatan Kerja;

Surat Menteri Keuangan No.

S-830/l\4K.O311993

tanggal

30

Nopember 1994 perihal Usul lzin

Perubahan

Tarif

Retribusi Pengawasan

Norma

Keselamatan dan Kesehatan Kerja/Perubahan Permenaker No. Per-06/LIen/ I 988.

MEMUTUSKAN:

PERATURAN MENTERI TENAGA KERIA TENTANG RETRIBUSI PENGAWASAN NORMA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal I

Dalam Peraturan Menteri

ini

yang dimaksud dengan :

Retribusi

Pengawasan

Norma

Keselamatan

dan

Kesehatan

Kerja

adalah pungutan dalam bentuk uang

oleh

Pemerintah sebagai jasa pelayanan atas pengawasan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Pengawasan adalah kegiatan pemeriksaan dan atau pengujian secara langsung yang dilakukan oleh Pengawai Pengawas Ketenagakerjaan terhadap syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pemeriksaan adalah kegiatan yang dilakukan oleh Pegawai Pengawas ketenagakerjaan atau

Ahli

Keselamatan

dan

Kesehatan

Kerja

di perusahaan

untuk melihat

dan mendengar guna memperoleh data

tentang

keadaan

tempat kerja,

tenaga

kerja, kondisi kerja

dan lingkungan kerja.

Pemeriksaan dan atau pengujian pertama adalah

p#eriksaan

dan atau pengujian terhadap obyek pengawasan yang baru atau yang belum pernah diperiksa.

Memperhatikan

:

l.

Menetapkan

b.

c.

d.

t2

(3)

f.

ob'

h.

J.

k.

Pemeriksaan dan atau pengujian berkala adalah pemeriksaan dan atau pengujian yang

dilakukan

secara

periodik untuk

mengetahui dipenuhinya syarat keselamatan dan kesehatan kerja, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Pengujian adalah kegiatan penilaian terhadap

obyek

pengawasan

yang bersifat teknis dan

mempunyai

resiko

bahaya dengan cara memberi beban atau dengan

teknik

pengujian

lain

sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Pemeriksaan atau pengujian ulang adalah pemeriksaan

atau pengujian kembali oleh Pegawai Pengawas, Ketenagakerjaan atau

Ahli

Keselamatan

dan

kesehatan

Kerja yang lebih senior

atas permintaan pengusaha.

Perusahaan

jasa

pemeriksaan

dan pengujian tehnik

keselamatan dan kesehatan kerja adalah perusahaan yang

ditunjuk

oleh Menteri

Tenaga Kerja yang bergerak di bidang jasa

pemeriksaan dan pengujian tehnik keselamatan dan kesehatan kerja.

Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan adalah pegawai

Tehnis berkeahlian khusus

dari

Departemen Tenaga

Kerja

yang

ditunjuk

oleh Menteri Tenaga Kerja.

Ahli

Keselamatan

dan

Kesehatan

Kerja adalah tenaga

tehnis berkeahlian khusus

dari luar

Departemen Tenaga

Kerja yang di- tuniuk oleh Menteri

Tenaga

Kerja untuk

mengawasi ditaatinya Undang-undang tentang Keselamatan Kerja.

Direktur

adalah pejabat yang ditunjuk

untuk

melaksanakan Undang-Undang Keselamatan Kerja.

Pengusaha adalah :

oleh Menteri

Tenaga Kerja

No. I Tahun

1970 tentang

l. Orang,

persekutuan

atau

badan

hukum yang

menjalankan suatu perusahaan

milik

sendiri.

2. Orang,

persekutuan atau badan

hukum yang

secara berdiri sendiri menjalankan perusahaan bukan

miliknya.

3.

Orang, persekutuan atau badan hukumyangberadadi Indonesia mewakili perusahaan sebagaimana tersebut pada angka

I dan2

yang berkedudukan

di

luar wilayah Indonesia.

l3

(4)

m.

n.

(l)

(2)

(3)

Perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang mempekerjakan tenaga kerja dengan tujuan mencari untung atau

tidak baik milik

swasta maupun

milik

negara.

Tempat kerja adalah tiap ruangan atau lapangan tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap

di

mana tenaga kerja bekerja atau yang sering

dimasuki

tenaga

kerja untuk

keperluan suatu usaha

dan di

mana terdapat sumber atau sumber bahaya.

o. Bendaharawan Khusus Penerima adalah pegawai negeri

di lingkungan Departemen Tenaga

Kerja

yang

ditunjuk oleh

Menteri

Tenaga Kerja dengan tugas memungut, menagih,

menerima,

membukukan, menyimpan, menyetorkan dan

mempertanggung jawabkan uang retribusi.

Pasal 2

(

l)

Pengawasan

Norma

Keselamatan dan Kesehatan

Kerja

dilakukan terhadap setiap perusahaan untuk mencegah terjadinya kecelakaan, kebakaran, peledakan dan penyakit akibat kerja.

(2)

Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam ayat

(l)

dilakukan oleh Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan

atau ahli

keselamatan dan kesehatan kerja.

Pasal 3

Pengawasan

oleh

Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan atau

Ahli

Keselamatan

dan

Kesehatan

Kerja

sebagaimana dimaksud dalam

pasal 2 ayat (2) dilakukan

terhadap

obyek

pengawasan yaitu tempat kerja, mesin-mesin, pesawat-pesawat, instalasi-instalasi dan balran-bahan berbahaya.

Pengawasan sebagaimana

dimaksud dalam ayat (l)

termasuk gambar rencana.

Pengawasan terhadap

obyek

pengawasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (

l)

tetap berlangsung selamapengusahatidak melaporkan penghentian atau penutupan obyek pengawasan.

Pasal 4

Pengawasan Norma Keselamatan dan Kesef,atan

Kerjauntuk

temapt

keria

sebagaimana

dimaksud dalam pasal 3 ayat (l) meliputi

pemeriksaan atau pengujian pertama atau berkala atau ulang terhadap

l4

(l)

(5)

suhu kerja atau kebisingan atau kelembaban atau cahaya penerangan atau debu atau sanitasi atau

kantin

atau sarana Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

(2)

Pengawasan

Norma

Keselamatan

dan Kesehatan Kerja

untuk

pemeriksaan atau pengujian mesin-mesin,

pesawat-pesawat,

instalasi-instalasi dan bahan-bahan berbahaya

sebagaiman adimaksud

dalam

pasal

3 ayat (l) terdiri dari

pemeriksaan dan atau pengujian terhadap ketel (uap, air panas, minyak,

listrik),

bejana uap, pemanas air, superheater dan ekonomiser yang

berdiri

sendiri, pengering uap atau superheater yang

berdiri

sendiri, bejana tekan, instalasi pemipaan, dapur atau tanur, pesawat pembangkit gas karbit,

pembangkit listrik atau

generator,

lekomotif, jalan rel

industri, konveyor, escalator, mesin perkakas, mesin produksi, pesawat angkat (crane0. gondola,

forklift,

sky

lift,

perancah, tangki apung, instalasi

listrik, instalasi alarm kebakaran otomatis, instalasi

pemadam kebakaran,

alat

pemadam

api ringan, instalasi hydrant,

instalasi

springkler, hydrostatistest, pompa hidrant/springkler,

instalasi pemadam

otomatis, instalasi

pemancar

radio, instalasi

menara

kontrol, instalasi elektromedic, pesawat penerima

gelom-bang elektronik, instalasi penyalur petir,

lift,

kipas tekanan udara, instalasi pengolah limbah, instalasi radiasi dan bahan

kimia

berbahaya.

(3)

Pengawasan

Norma

Keselamatan

dan Kesehatan Kerja

untuk pemeriksaan gambar rencana sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 ayat (2) meliputi gambar rencana pembuatan/perakitan atau reparasi atau modifikasi dari ketel (uap, airpanas,

minyak,listrik),

bejanauap, pemanas

air,

superheater

dan ekonomiser yang berdiri

sendiri, pengeling uap atau superheater yang

berdiri

sendiri, bejana tekan, instalasi pemipaan, dapur atau tanur, pesawat pembangkit gs karbit,

pembangkit listrik, atau

generator,

lokomotif, jalan rel

indsutri, konveyor, escalator, mesin perkakas, mesin produksi, pesawat angkat (crane), gondola,

forklift,

sky

lift,

perancah, tangki apung, instalasi

listrik,

instalasi alarm kebakaran pemadam api

ringan,

instalsi hy- drant, instalasi springkler, instalasi hydrostatis, instalasi pemancar radio, instalasi menara

kontrol,

instalasi pelayanan medis, pesawat antena penerima gelombang elektronik, instalasi penyalur petir,

lift,

instalasi pengolah limbah, instalasi radiasi dan bahan yang berbahaya.

(4) Dengan peraturan Menteri Tenaga Kerja dapat dirubah rincian seperti tersebut dalam ayat (

l), (2)

dan

(3)

sesuai den'gan perkembangan teknik dan tehnologi.

l5

(6)

PENETAPAN TARIF RETRIBUSI PENGAWASAN NORMA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERIA

Pasal 5

(l)

Pengusaha

wajib

membayar

retribusi untuk

pengawasan norrna keselamatan

dan

kesehatan

kerja terhadap obyek

pengawasan sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 ayat

(l)

dan (2).

(2)

Kewajiban membayar retribusi sebagaiman adimaksud dalam ayat ( I ) dilakukan setelah pemeriksaan dan atau pengujian keselamatandan kesehatan kerja dilakukan oleh Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan atau

Ahli

Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

(3)

Dalam hal pengusaha tidak melaporkan penghentian atua penutupan obyek pengawasan sebagaimana dimaksud dalam pasal

3

ayat (3), rnaka kewajiban membayar retribusi tetap berlangsung.

Pasal 6

Kewajiban membayar retribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat

(

l) tidak

dikenakan terhadap

obyek

pengawasan

bagi

perusahaan yang bergerak dibidang sosial.

Pasal 7

Tarif retribusi

terhadap

obyek

pengawasan

tempat kerja

sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 ayat ( I ) ditetapkan berdasarkan luas lantai per meter persegi per bangunan.

Pasal 8

(

l) Tarif

Retribusi terhadap obyek pengawasan untuk

mesin,

pesawat, instalasi dan bahan berbahaya ditetapkan sebagai

berikut

:

l)

Ketel dihitung per meter persegi luas pemanasan.

23)

Ketel

listrik

dihitung menurut ton kapasitas maksimum sesuai perencanaan.

3) Bejana Uap,

pemanas

air dan ekonomiser yang

berdiri

sendiri

serta menguap

dihitung

menurut

meter

persegi luas pemanasan atau

liter

volume, bagi yang tidak mempunyai luas pemanasan.

4\

Pengering Uap atau superheater yang

berdiri

send,iri dihitung

t6

(7)

s)

6)

7)

menurut meter persegi luas pemenasan.

Bejana Tekan

dihitung

menurut

jumlah

bejana

atau

satuan

unit.

Instalasi Pemipaan dihitung menurut unitjaringan dari masing- masing jenis fluida.

Dapur atau tanur

dihitung

menurut

ton

kapasitas maksimum perencanaan.

8)

Pesawat Pembangkit Gas

Karbit dihitung

menurut

kilogram

kapasitas pengisian batu karbit.

9)

Pesawat Pembangkit

Listrik dihitung menurut

satuan daya tenaga kuda penggeraknya.

l0) Lokomotif

dihitung menurut satuan unit.

I

l) Jaringan Rel Industri dihitung menurut kilometer

satuan panjang.

12)

Conveyor

dihitung

menurut

kilogram

satuan kapasitas mulai angkut.

Escalator dihitung menurut satuan unit.

Mesin Perkakas, Mesin Produksi, dihitung menurut daya tenaga kuda penggeraknya atau ton kapasitas perencanaan.

Pesawat

Angkat

atau

crane dihitung

menurut

ton

kapasitas maksimum angkat.

l6)

Gondola dihitung menurut satuan unit.

l7) Forklift

dihitung menurut ton kapasitas maksimum angkat.

l8)

Sky

lift

dihitung menurut satuan unit.

l9)

Perancah dihitung menurut meter persegi luas bidang.

20)

Tangki Apung dihitung menurut ton kapasitas angkut.

2l) Instalasi Listrik dihitung menurut Kilovoft Ampere (KVA)

satuan daya.

22\

Instalasi

Alarm

Kebakaran

dihitung

menurut zone atau tiap

t3)

t4)

ts)

t7

(8)

22)

Instalasi

Alarm

Kebakaran

dihitung

menurut zone atau tiap 20

titik

detektor.

23) Instalasi

Pemadam Kebakaran

dihitung menurut tiap

pipa pembagi atau maksimum 48

titik.

24\

Instalasi Penyalur Petir dihitung menurut satuan bangunan.

25) Lift

dihitung menurut satuan unit.

26)

Instalasi Pengolah Limbah dihitung menurut satuan unit.

28)

Bahan

Kimia

Berbahaya dihitung menurut satuan kilogram.

29)

Gambar rencana dihitung per satuan permohonan.

30)

Instalasi hydrant dihitung per-uniVhydrant pilar.

3l)

Instalasi Pringkler dihitung menurut tiap 48

titik.

32)

Instalasi Pemadam Otomatic dihitung menurut unit.

33. Alat

Pemadam

Api

Ringan dihitung menurut

unit

(maksimum

200 unit).

34)

Instalasi Pemancar Radio dihitung menurut satuan unit.

35)

Instalasi Pelayanan Medis dihitung menurut unit.

36)

Pesawat

Antena

Penerima Gelombang

Elektronik

dihitung menurut unit.

(2)

Besarnya

tarif

retribusi obyek pengawasan sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 dan 8 ayat ( I ) sebagaimana tercantum dalam lampiran

I

Peratuian Menteri ini.

Pasal 9

Untuk

pemeriksaan

berkala atau ulang terhadap obyek

pengawasan sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 dan 8 ayat

(l) tarif

retribusi ditetap-

kan

sebesar 75Vo

(tujuh puluh lima per

seratus)

dari tarif

pemeriksaan peltama.

l8

(9)

BAB III

TATA CARA PEMUNGUTAN, PELAPORAN DAN PEMBAYARAN RETRIBUSI

Pasal

l0

Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan atau

Ahli

Keselamatan dan Kesehatan Akerja, pada hari pemeriksaan dan atau pengujian selesai

dilakukan,

harus menyampaikan kepada pengusaha

formulir

isian retribusi bentuk

Rl

sebagaimana tercantum dalam Lampiran

II AA

Peraturan Menteri ini.

Pengusaha setelah menerima

formulir

isian sebagaimana dimaksud

dalam ayat (l) wajib mengisi

dan mengembalikan kepaa Kepala Kantor Departemen Tenaga Kerja setempat dalam waktu paling lama 7 (tujuh) hari sejak tanggal penerimaan

formulir.

Kepala KantorDepartemen Tenaga Kerja setempat atau petugas yang

ditunjuk

setelah menerima

formulir isian

sebagaimana dimaksud dalam ayat(2) meneliti kebenarannyadan memberi pengesahan serta

menerbitkan surat keputusan penetapan retribusi bentuk

R2 sebagaimana

tercantum dalam Lampiran II B dansurat

setoran

retribusi

bentuk

R3

sebagaimana tercantum

dalam lampiran II

C

Peraturan Menteri ini.

(4)

Kepala Kantor Departemen Tenaga Kerja setempat atau petugas yang clitunjuk menyampaikan surat keputusan penetapan retribusi dan surat setoran

retribusi

sebagaimana

dimaksud dalam ayat (3)

kepada pengusaha dalam waktu paling

lamal

(tujuh) hari, sejak

formulir

isian retribusi diterima.

Pasal l

l

Ahli

Keselamatan

dan Kesehatan Kerja yang akan

melaksanakan pemeriksaan dan atau pen guj ian sebagaimana dimaksud dalam pasal I 0 ayat

(l)

sebelum dan sesudahnya

wajib

melapor kepada

Kantor

Departemen Tenaga Keria setempat sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Pasal I

(l)

Pengusaha

wajib

membayar

retribusi yang

besarnya sebagaimana tecantum dalam surat keputusan penetapan

retribusi

sebagaimana adirnaksud dalam pasal 10 ayat (3) dalam waktu paling lama

I

(satu)

bulan

sejak diterimanya surat keputusan

dari Kantor

Departemen Tenaga Kerja setempat.

(l)

(2)

(3)

l9

(10)

(2)

Pembayaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)

wajib

dilakukan oleh pengusaha ke rekening Kantor Departemen Tenaga Kerja pada Bank

BRI

yang ditunjuk dan menyampaikan tembusan surat setoran

retribusi

kepada Bendaharawan

Khusus Penerima pada

Kantor Departemen Tenaga Kerja setempat.

(3)

Untuk keperluan pembayaran sebagaimana dimaksud dalam ayat(2')

Kepala Kantor

Departemen

Tenaga Kerja setempat

rnembuka rekening pada salah satu Bank

BRI

setempat.

Pasal

l3

(

l)

Dalam hal pengusaha

tidak

mengembalikan

formulir

isian retribusi sebagaimana

dimaksud dalam pasal l0 ayat (2), maka

Kepala Kantor Departemen Tenaga Kerja stempat dalam waktu paling lama

l4

(empat belas) hari sejak berakhirnya batas waktu pengembalian

forrnulir

isian tersebut akan menghitung dan menetapkan besarnya retribusi berdasarkan laporan pemeriksaan dan atau pengujian yang

telah dilakukan oleh Pegawai

Pengawas Ketenagakerjaan atau

Ahli

Keselamatan dan Kesehatan

Kerja

dengan menerbitkan surat keputusan penetapan retribusi.

(2) Kepala Kantor

Departemen Tenaga

Kerja

setempat atau petugas yang

ditunjuk

menyampaikan surat keputusan penetapan retribusi dan surat setoran retribusi sebagaimana dimaksud dalam pasal 10 ayat

(4)

kepada pengusaha

paling

lama

7 (tujuh) hari terhitung

sejak tanggal surat keputusan penetapan retribusi.

(3)

Pengusaha

wajib

membayar

retribusi

yang besarnya sebagaimana atercantum dalam surat keputusan penetapan retribusi sebagaimana tercantum dalam surat keputusan penetapan

retribusi

sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dalam waktu paling lama

I

(satu) bulan sejak diterimanya surat keputusan dari Kantor Departemen Tenaga

Kerja

setempat.

(4)

Pembayaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (3)

wajib

dilakukan oleh pengusaha ke rekening Kantor Departemen Tenaga Kerja pada Bank

BRI

yang ditunjuk dan menyampaikan tembusan surat setoran

retribusi

kepada Bendaharawan

Khusus Penerima pada

Kantor Departemen Tenaga Kerja setempat.

Pasal 14

(

l)

Pembayaran

retribusi untuk

pemeriksaan gaimana dimaksud dalam pasal

3

ayat 92) dapat pengesahan dari Direktur.

gu*bu,

rencana seba- dilakukan setelah men-

20

(11)

(2\ Untuk

mqndapatkan pengesahan sebagaimana

dimaksud

dalam

ayat (l)

pengusaha

mengisi dan

menyampaikan

formulir

isian

beserta gambar rencana kepada Direktur melalui

Kantor Departemen Tenaga

Kerja

setempat dan dalam waktu

paling

lama

7 (tujuh) hari sejak formulir isian diterima Kantor

Departemen Tenaga Kerja harus sudah menyampaikan gambar rencana tersebut kepada Direktur.

(3) Direktur

setelah menerima

dan

memeriksa

formulir isian

beserta gambar rencan asebagaiman adimaksud

dalam

ayat

(2)

memberi pengesahan

dengan menerbitkan surat keputusan

pengesahan

gambar rencana dan menyampaikan kepada Kepala

Kantor Departemen Tenaga Kerja yang bersangkutan.

(4)

Kepala Kantor Departemen Tenaga

ferja

yang bersangkutan dalam waktu paling lama 7 (tujuh) hari setelah menerima gambar rencana

yang

telah disahkan

oleh Direktur

sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) menetapkan besarnya retribusi dengan menggunakan surat

keputusan

penetapan

dan surat setoran retribusi

sebagaimana dirnaksud dalam pasal

l0

ayat (3).

Pasal 15

(l)

Bendaharawan Khusus Penerima membukukan semua penerimaan, pemungutan

dan penyetoran retribusi serta melaporkan

sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

(2\

Bendaharawan Khusus Penerima

wajib

memungut dan menyetor- kan sebesar 75Vo (tujuhpuluh lima per seratus) dari hasil pemungutan

retribusi ke

rekening

kas

negara

melalui Bank

Pemerintah yang ditunjuk dan mengambil serta meneytorkan sebesar 25Vo

(duapuluh lima per

seratus)

ke rekening

Sekretaris Jenderal Departemen Tenaga Kerja

No.

31.01.0070, melalui

BRI

setempat paling lama 6 (enam) hari kerja setelah penerimaan retribusi.

(3)

Penggunaan langsung sebagian

dan Retribusi

sebesar 25Vo

(dua

puluh lima per seratus) sebagaimana dimaksud dalam

^yat (2) untuk keperluan pembinaan

dan

pengawasan

Norma

Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

(4)

Bendaharawan

Khusus

Penerima

membuat lay'oran

rekapitulasi

tiap bulan

sesuai dengan ketentuan

yang berlaku

dengna meng- gunakan bentuk pada Lampiran

III

Peraturan Menteri

ini.

2l

(12)

Pasal 16

( I

)

Kepala Kantor Wilayah Departemen Tenaga Kerja harus memonitor pelaksanaan

penerimaan dan penyetoran uang retribusi

yang

dilakukan oleh kantor

Departemen

Tenaga Kerja di

wilayah

kedanya.

(2)

Kepala Kantor Wilayah Departemen Tenaga

Kerja

setiap triwulan, harus menyampaikan laporan hasil penerimaan dan penyetoran uang retribusi yang dilaksanakan

di

wilayah kerjanya kepada Sekretaris Jenderal

c.q. Kepala Biro

Keuangan dengan tembusan kepada Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan c.q. Direktur Pengawasan Norma Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

BAB IV

KETENTUAN LAIN-LAIN

Pasal 17

Dalam hal

pemeriksaan

dan atau pengujian

dilaksanakan

oleh Ahli

Keselamatan dan Kesehatan

Kerja

dari perusahaan jasa pemeriksaan dan pengujian tehnik keselamatan dan kesehatan kerja, perhitungan dan tata

cara pembayarannya dilaksanakan berdasarkan peraturan ini

dan pemungutannya dibebankan kepada perusahaan

jasa

pemeriksaan dan pengujian tehnik keselamatan dan kesehatan kerja.

Pasal 18

(

l)

Besarnya tarip dan tata cara pemungutan retribusi untuk Pengawasan Norma Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang dilimpahkan kepada instansi

di

luar Departemen Tenaga Kerja dilaksanakan berdasarkan Peraturan Menteri ini.

(2\

Instansi

di luar

Departemen Tenaga

Kerja

sebagaimana dimaksud dalarn ayat

(l)

harus menyampaikan rencana pemungutan retribusi kepada Menteri Tenaga Kerja untuk tahun yang akan datang, dalam waktu selambat-lambatnya 6 (enam) bulan sebelumnya

(3)

Dalarn

hal

instansi

di

luar Departemen Tenaga

fGrja

sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), tidak menyampaikan rencana pemungutan

retribusi kepada Menteri Tenaga Kerja, maka Menteri

dapat menetapkan besarnya tarip retribusi untuk tahun yang ak3n datang.

22

(13)

Pasal 19

Kepala Kantor

Departemen Tenaga

Kerja

setiap tahun harus membuat rencana pemungutan retribusi untuk tahun berikutnya dan menyampaikan kepada Menteri renaga Kerja cq. Direktur Jenderal pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan dalam

waktu paling

lama 6 (enam) bulan pada tahun berjalan.

BAB V

SANKSI

Pasal 20

Pengusaha

yang

melanggar

ketentuan

sebagaimana

dimaksud

dalam

pasal 5, pasal I 0 ayat (2), pasal I 1, pasal I 2 ay at

(r)dan

(2), dan pasal 13 ay at (3) dan (4) diancam dengan hukuman sesuai dengan pasal

l5 ayat(2)IJIJ No. I

tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.

BAB VI

KETENTUAN PENUTUP

Pasal

2l

Pegawai

Pengawas Ketenagakerjaan

merakukan

pengawasan untuk ditaatinya Peraturan Menteri ini.

Pasal22

Dengan ditetapkannya Peraturan

Menteri ini, maka

peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Per. 06/Men/1988 tentang Retribusi pengawasan Norma Keselamatan dan Kesehatan Kerja dinyatakan tidak berraku lagi.

Pasal 23

Peraturan Menteri

ini

mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan

di

:

Pada

tanggal

:

Jakarta

28 Desember 1994

MENTERI TENAGA

KERJA R.I.

ttd.

,

Drs.

Abdul Latief

23

(14)

t\)

5

Lampiran

I

:

DAFTAR TARIF RETRIBUSI OBYEK PENGAWASAN NORMA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERIA

Peraturan Menteri Tenaga Kerja R.I.

Nomor :

Per-06/Men/1994

Tanggal :

28 Desember 1994

No. Jenis Obyek Pengawasan Klasifikasi

TARIP

Gambar Rencana (GR) setiap permohonan lantai

bangunan, jaringan dsb.

Pertama Berkala

I 2 J 4 5 6

A.

B,

1.

TEMPAT KERJA UNTUK SETIAP BANGUNAN

MESIN/PESAWAT/INSTA-

LASIIBAHAN:

'Ketel uap, air panas, minyak untuk setiap ketel

DENGAN LUAS LANTAI

a.

b.

c.

d, e.

t.

s/d 500 m2 501 s/d 2000 m2 2001 s/d 5000 m2 5001 s/d 10.000 m23 10.001 s/d 20.000 m2 20,000 m2

Dengan luas pemanasan :

a.

s/d 50 m2

b,

51 s/d 100 m2

c.

101 Vd 500 m2

d.

501 s/d 1.000 m2

e. >

1.000 m2

Rp.

50,000,-

Rp Rp Rp Rp Rp Rp

25.000,- 50.000,- 75.000,- 100,000,- 125.000,- 150.000.-

Rp,

25.000,-

Rp.

50.000,-

Rp.

75,000,- Rp. 125.000,- Rp. 200.000,- Rp. 250.000,-

Rp Rp Rp Rp Rp Rp

18.750,- 37.500,- 56.250,- 75,000,- 93.750,- I12.500,-

18.750,- 37.500,- 56.254,- 93.750,- 150.000,- 187.000,- Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

Rp, Rp,

(15)

2 3 4 5 6 2

J

4

5

Ketel Listrik

Bejana uap/pemanas air atau ekonomiser yang berdiri sendiri/penguap

Pengering uap (superheater) yang berdiri sendiri

a.

Botol baja

b.

c.

d.

Bejana transpor/unit Bejana stasioner/unit Pesawat Pendingin/unit

Dengan kapasitas :

a.

s/d 2,5 ton uap/jam

b.

> 2,5 s/d 5 ton uap/jam

c. >5-25tonuap/jam d.

> 25 ton uap/jam Dengan luas pemanasan :

a.

s/d 20 m2

b. 2l

s/d 50 m2

c. 5l

s/d 100m2

d. l0l

s/d 500 m2

e.

> 500 m2

atau dengan volume :

a.

s/d 500liter

b.

501 s/d 1000liter

c.

1001 s/d 5000liter

d.

5001 s/d 10000liter

e.

1001 s/d 50000 liter

f.

> 50.000liter

Dengan luas pemanasan :

a.

s/d 50 m2

b. 5l

Yd 100 m2

c.

101 s/d 500 m2

d.

> 500 m2 Dengan unit :

a.

1 s/d 10 buah

b.

1l s/d 100 buah

c.

101 s/d 500 buah

d.

501 s/d 1.000buah

e.

> 1.000 buah

Rp 50.000

Rp.50.000

Rp.25.000

Rp.25.000,

Rp.

50.000,-

Rp.

75.000,- Rp. 125.000,- .Rp.200.000,-

Rp.

30.000,-

Rp.

50.000,-

Rp.

75.000,- Rp. 125.000,- Rp.200.000,-

Rp.

20.000,-

Rp.

25.000,-

Rp.

40.000,-

Rp.

60.000,-

Rp.

80.000,- Rp. 100.000,-

Rp.

Rp.

Rp.

Rp,

50.000,- 75.000,- 125.000,- 200.000,-

10.000,- 40.000,- 75.000,- 100.000,- 150.000,- 25,000,- 25.000,- 25.000,- Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

37.500,-

Rp.

56.250,-

Rp.

95.000,- Rp. 150.000,-

Rp.

22.500.-

Rp.

37.500,-

Rp.

56.250,-

Rp.

93.750,- Rp. 150.000,-

Rp.

15.000,-

Rp.

18.750,-

Rp.

30.000,-

Rp.

45.000,-

Rp.

60.000,-

Rp.

75.000,-

Rp.

37.500,-

Rp.

56.250,-

Rp.

93.750,- Rp. 150,000,-

Rp.

7.500,-

Rp.

30.000,-

Rp.

56.250,-

Rp.

75.000,- Rp. 112.500,- Rp.

Rp.

Rp.

18.750,- 18.750,- 18.750,- t\)Ltr

(16)

Instalasi Pemipaan

a.

Jaringan pipa uap

b.

Jaringan pipa air

c.

Jaringan pipa minyak

d.

Jaringan pipa gas

Dapur atau tanur

Pesawar pembangkit gas karbit, dengan kapasitas pengisian :

Pesawat pembangkit listrik (generator) yang digerakkan turbin (uap, air, gas, atau motor diesel)

Lokomoif yang digerakkan mesln uap atua motor diesel Jalan/jaringan rel industri.

Jaringan pemipaan

Dengan kapasitas :

a.

s/d 25 ton

b.

> 25 s/d 100 ton

c. >

100 s/d 200 ton

d.

> 200 ton

Dengan kapasitas pengisian :

a.

s/d

l0

kg

b. > l0

s/d 50 kg

c.

> 50 s/d 100 kg

d.

> 100 kg Dengan daya:

a.

s/d 100 tk

b. >

100 s/d 500 tk

c.

> 500 s/d 1.000 tk

d. >

1.000 s/d 10.000 tk

e. >

10.000 tk

Dengan satuan unit Dengan panjang :

a.

s/d 2 km

b. >zkms/d5km c. >5km

Rp. 25.000,-

Rp. 50.000,-

Rp.50.000,- Rp.50.000,-

Rp.

2s.000,-

Rp.

25.000,-

Rp.

25.000,-

Rp.

25.000,-

Rp.

30.000,-

Rp.

50.000,-

Rp.

80.000,- Rp. 100.000,-

Rp.

10.000,-

Rp.

15.000,-

Rp.

25.000,-

Rp.

50.000,-

Rp.

30.000,-

Rp.

50.000,-

Rp.

75.000,- Rp. 125.000,- Rp.200.000,-

Rp.

30.000,-

Rp.

30.000,-

Rp.

50.000,-

Rp.

75.000,-

Rp.

18.750,-

Rp.

18.750,-

Rp.

18.750,-

Rp.

18.750,-

Rp.

22.500,-

Rp.

37.500,-

Rp.

60.000,-

Rp.

75.000,-

Rp.

7.500,-

Rp.

I1.250,-

Rp.

18.750,-

Rp.

37.500,-

Rp.

22.500,-

Rp.

37.500,-

Rp.

56.2s0,-

Rp.

93.750,- Rp. 150.000,-

Rp.

22.500,-

Rp.

22.500,-

Rp.

37.500,-

Rp.

56.250,-

(17)

2 J 4 5 6 t2

13

l4

t5

16.

17.

Conveyor

Escalator per unit

1. Mesin perkakas/mesin produksi yang digerakkan motor I i stril</motor bensin/

motor diesel/motor gas untuk setiap pk.

2.

Mesin perkakas/mesin pro- duksi yang digerakkan dengan h idraulik (pneumatik dengan kapasitas

Pesawat angkat/crane

Gondola per unit

'Forklift

Dengan kapasitas :

a.

s/d 25

kg

jam

b.

> 25 s/d 50 kg jam

c.

> 50 kgjam

Dengan Daya :

a.

s/d 6 tk

b. >6s/d20tk c.

> 20 s/d 50 tk

d.

> 50 s/d 100 tk

e. >

100 tk Dengan kapasitas

a.

s/d 5 ton

b.

> 5 s/d 20 ton

c.

> 20 s/d 50 ton

d.

> 50 ton Dengan kapasitas :

a.

s/d 5 ton

b.

> 5 s/d 10 ton

c. > l0

s/d 30 ton

d.

> 30 s/d 50 ton

e.

> 50 s/d 100 ton

f.

> 100 s/d 500 ton

g.

> 500 ton

Dengan kapasitas :

a.

s/d 5 ton b^ > 5 s/d 20 ton

c.

> 20 s/d 30 ton

d.

> 30 s/d 50 ton

e.

> 50 ton

Rp. 25.000,-

Rp Rp

25.000 25.000

Rp. 25.000

Rp, 50.000

Rp.25.000,- Rp.25.000,-

Rp Rp Rp Rp

20.000,- 30.000,- 40.000,- 20.000,-

10.000,- 20.000,- 30.000,- 50.000,- 70.000,- 10.000,- 20.000,- 30.000,- 50.000,-

20.000,- 25.000,- 30.000,- 40.000,- 50.000,- 80.000,- 100.000,- 20.000,-

20.000,- 25.000,- 30.000,- 40.000,- 50.000.- Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

Rp, Rp.

Rp.

Rp Rp Rp Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

15.000,-

Rp.

22.500,-

Rp.

30.000,-

Rp.

15.000,-

Rp.

7.500,-

Rp.

15.000,-

Rp.

22.50A,-

Rp.

37.500,-

Rp.

60.000,-

Rp.

7.500,-

Rp.

15.000,-

Rp.

22.500,-

Rp.

37.500,-

Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

15.000,- 18.750,- 22.500,- 30.000,- 37.500,- 60.000,- 75.000,- 15.000,-

15.000,- 18.750,- 22.500,- 30.000,- 37.500,- Rp.

Rp.

Rp, Rp.

b.J Rp.

{

(18)

Noo I

)

3 4 5 6

18.

t9.

20.

2t.

22.

23.

24.

25.

26.

Sky

lift

per unit Pbrancah

Tangki apung

Instalasi Listrik

Instalasi alarm kebakaran otomatis

Instalasi Hidrant Instalasi Springkler

flydro static hydrant

Instalasi pemadam otomatic integrated sistem

Dengan luas bidang :

a.

s/d 5.000 m2

b,

> 5,000 s/d 10.000 m2

c. >

10.000 m2 Dengan kapasitas

a.

s/d

l0

ton

b. > l0

s/d 30 ton

c.

> 30 ton

a.

b.

d.

e,

s/d 100 kva

l0l

Vd 500 kva 501 s/d 1.000 kva 1,001 s/d 10,000 kva

> 10.000 kva

Tiap zone atau tiap 20 titik Tiap box hydrant/hidrant pilar Tiap pipa pembagi atau max 48 TTK

a.

Tiap unit springkler

b.

Tiap pompa hydrant

c.

Systim penyediaan air hydrant/unit

tiap unit

Rp. 25.000,- Rp. 50.000,-

Rp.25,000,-

Rp.50.000,-

Rp.

50.000 Rp, 50.000,-

Rp,50.000,-

Rp.25.000,-

Rp,

Rp, Rp.

Rp,

20.000,-

25.000,- 35.000,- 50,000,-

30.000,- 50,000,- 60.000,- Rp.

Rp, Rp,

Rp.

50.000,- Rp. 100.000,- Rp. 150,000,- Rp.200.000,- Rp, 250.000,-

Rp.

Rp,

50.000,- 3.000,-

3.000,- 10.000,- 10.000,- 5.000,-

25.000.- Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

Rp 15,000,-

18.750,- 26.250,- 37.500,-

22.500,- 37.500,- 45.000.- Rp.

Rp.

Rp,

Rp.

Rp.

Rp,

Rp,

37.500,-

Rp,

75.000,- Rp. 112.500,- Rp. 150.000,- Rp, 187.500,-

Rp. 3.000,- 3.000,-

3.000,- 5.000,- 5.000,- Rp.

Rp.

Rp.

Rp. 3.000,-

Rp.

15.000,-

(19)

2 Ja 4 5 6 21

28

29 30 il 32

JJ 34 35 36 37

Kipas tekanan udara Alat pemadam api ringan

Instalasi pemancar radio Instalasi menara kontrol

Instalasi pelayanan medic per unit Pesawat antena peneri ma gelombang elektronik Instalasi petrr per unit

Lift

per unit

Instalasi pengolah limbah per unit Instalasi radiasi per unit

Bahan Kimia Berbahaya

trap unlt

Tiap pembuatan sample sampai dengan 200 unit

Dengan satuan unit Dengan satuan unit Dengan satuan unit

Dengan satuan unit

s/d 500 kg 501 s/d 1.000 kg

>

1.000 kg

a.

b.

c.

Rp. 50.000, Rp.50.000, Rp. 50.000, Rp. 50.000,

Rp. 50.000, Rp. 25.000, Rp. 20.000, Rp. 25.000, Rp.25.000,

Rp.

10.000

Rp.

25.000

Rp.

30.000

Rp.

30.000

Rp.

30.000

Rp

Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp

30.000,- 20.000,- 20.000,- 20.000,- 20.000,- 5.000,- 10.000,- 20.000,-

Rp.

7.500,

Rp.

10.000,-

Rp.

25.000,-

Rp.

25.000,-

Rp.

25.000,-

Rp.

25.000,-

Rp.

15.000,-

Rp.

15.000,-

Rp.

15.000,-

Rp.

15.000,-

Rp.

3.750,-

Rp.

7.500,-

Rp.

15.000,-

tJ\o

Ditetapkandi : Jakarta

Pada

tanggal :

28 Desember 1994 MENTERI TENAGA KERJA R.I.

ttd.

DTs. ABDUL LATIEF

(20)

BENTUK RI

LAMPIRAN II A

:

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA R.I.

Nomor

:

Per. 06/Men/1994 Tanggal

:

28 Desember 1994

FORMULIR ISIAN RETRIBUSI NORMA K3 UNTUK TAHUN

(Berdasarkan Pasal 7 UU No. I tahun 1970)

Telah diperiska dan diteliti kebenalan

obyek

Kepada Yth. :

pengawasan dan jumlah

retribusi

Kepara Kandepnaker ...

Jl. ...

di-

.

NAMAPERUSAHAAN

.

ALAMATPERUSAHAAN

.

AKTE PENGAWASAN

.

NAMA PENGUSAHA

. JUMLAI-I RETRIBUSI YANG WAJIB DIBAYAR

NO URU

JENIS

OBJEK PENCAWASAN

PEMERIKSAAN

JTJMLAH

PERHI- TUNGAN RETRIBUSI

JUMLAH RETRIBUSI

(Rp).

CAMBAR

RENCANA PERTAMA BERKALA/

ULANG

5 6 7 8 9 l0

il

l2

A B.

t.

2.

3.

4.

5.

6.

lbmpat Kerja

Mesin perkakas, mesin produk Pesawat/Instalasi/Bahan :

a. Ketel Uap, Air Panas, Ketcl Listrik

b. Bejana Uap

c. Ekonorniser/Pemanas Air

S u perhi terlPen-eeri n g U ap

Pen-euap

Reparasi/Modifikasi

Turbin (uap, air, gas)

LI tJ

tl tl ll

r_l

tl

T

! u

D

rl

D

t_l

I.l

T

fl tl tl []

|f il

t_l

30

(21)

r3.

t4.

15.

16.

t7.

19.

20.

2t.

22.

23.

24.

25.

26.

27.

28.

29.

30.

Motor Diesel :

a. Diesel Generator

b. Diesel diluar Genset Motor Bensin

Lokomotif Dapur/Tanur

Mesin-mesin:

a. Perkakas

b. Produksi Pesawat Karbi'd Instalasi pemimpaan

Instalasi Listrik lnstalasi Penyalur Petir

lnstalasi radiasi

Jalan Rel Industri Conveyor

Escalator

Keran Angkat (Crane) a. Mobile

b. Crawler

c. Tower d. Gantry

e. Overlread Traveling Pedestral Crane Forklift

Sky Litt Litt

Instalasi alat pemadam api ringan

Instalasi springkler

Instalasi Hydrostatic

Instalasi pompa Hydrant

I tr

L]

n

ti tl r]

u

D

u

D L]

n

IJ

tr

D

tl il

U

n tr T

l tl

! u tl

TJ

n

! u

!

D D D

tr tr

tl tl

n n

x

n tr

D

tr

! n n n u

!

D D

!

D D

n

tr

!

D

u

D

tl

L]

{l u

! n

D

n n

!

n

D

tr

D

fl tl

D D

3l

(22)

5 6 7 8 9 l0

lt

l2

ll.

32.

33.

34.

35.

36.

3't.

38.

39.

40.

Instalasi Pemadam Otomatic

Instalasi Pemancar Radio

Instalasi Menara Kontrol lnstalasi Pelayanan Medis

Pesawat Penerima Gelombang Elektronik

Bejana Tekan

a. Botol Baja b. Bejana Tr4nsport

c. Bejana Stasioner

d. Pesawat Pendingin Tangki Apung

Perancah

Bahan Kimia Berbahaya Dll.

il tl {l

tr

L]

L}

t--]

U

n

D

tl tl tl

tr

D

n

D

D

u n n u

n l

!

U

n

D fJ

tl

u

tr n tr n tr n

D D

Jumlah Rp.

Terbilang :

t9...

CATATAN.

PENGUSAHA,

a. Diisi rangkap 2 (dua) :

Lembar I untuk Kandepnaker Lernbar 2 untuk Pengusaha

b. Formulir isian retribusi di atas diisi scsuiii hasil pemeriksaan atau pengujian dan dikembalikan paling larna 7 (tujuh) hari

sejak lbrmulir

diterima. /

\

c. Bila fbrmulir ticlak dikembalikan tepat pada waktunya,

maka """"""/

besarnyaretribusi ditetapkan oleh Kepala

KantorDepnaker.

Ditetapkandi

:

J

akarta

Pada tanggal

:

28 Desember 1994 MENTERI TENAGA KERJA RI

ttd.

DTs. ABDUL LATIEF

32

(23)

BENTUK R2

LAMPIRANIIB

:

PERTURAN MENTERI TENAGA KERIA RI.

Nomor

:

Per.06/Menll994 Tanggal: 28 Desember 1994

KEPUTUSAN PENETAPAN

RETRIBUSI PENGAWASAN NORMA K3 KEPALA KANDEPNAKER

No.:

Mengingat : l.

Pasal TUndang-undangNo. I Tahun 1970.

2.

Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Per. .../Ivlenll99... tanggal

Memperhatikan :

Isian retribusi/laporan pemeriksaan dan atau pengujian tanggal ...*)

MEMUTUSKAN:

Menetapkan

:

PERTAMA :

Memungut biaya Retribusi Pengawasan Norma K3 kepada :

Nama Pengusaha/Perusahaan : ...

Alamat :

...

Jumlah

: Rp...

KEDUA :

Mewajibkan pengusaha untuk membayar retribusi sebagaimana tercantum dalam amar PERTAMA ke rekening Kandepnaker No. ... paling lama ... hari sejak

KETIGA :

Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dengan ketentuan apabila ternyata dikemudian hari terdapat kekeliruan akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

KANTOR DEPARTEMEN TENAGA KERJA KABUPATEN/KOTAMADYA

Kepala,

*) Coret yang tidak perlu.

Tembusan disampaikan kepada :

Yth. l.

Sekjen Depnaker 2. Dirjen Binawas 3. Irjen Depnaker

4. KPKN setempat Ditetapkandi:

Jakarta

Pada tanggal

:

28 Desember 1994 MENTERI TENAGA KERIA RI

ttd.'

DTs. ABDUL LATIEF

33

(24)

BENTUK.R3

Catatan : diisi rangkap 6 (enam) Lembar

I :

Penyetor

Lembar2 :

BankBRI

Lembar 3,4,

5,6:

Bendaharawan Khusus, untuk disampaikan kepada :

'I

.

Kanwil Depnaker setempat.

2.

Biro Keuangan Depnaker.

3.

Diden Binawas c.q. Dit. PNKK

4. Arsip.

Lampiran II

C :

Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI.

Nomor :

Per. O6lMenll994 Tangga!

:

28 Desember 1994

Ditetapkandi: Jakarta

Pada tanggal

:

28 Desember 1994 MENTERI TENAGA KERJA RI.

ftd.

DTs. ABDULLATIEF

SURAT SETORAN RETRIBUSI

PENGAWASAN NORMA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KER'A (ssR

-

PNK3)

34

DEPARTEMEN TENAGA KERJA R.I Kabupaten/Kotamadya

Sesuai dengan Keputusan Pene- tapan Retribusi Pengawasan Norma Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nn

Bank Rakyat Indonesia

(BRr)

Cabang/Pembantu/Unit Desa

l.

Nama Pengusaha./Perusahaan

2.

Alamat Perusahaan

3.

Jumlah setoran Ro.

(

(25)

Lampiran

III :

Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI

Nomor :

Per. 06lMenll994

Tanggal :

28 Desember 1994

DEPARTEMEN TENAGA KERJA R.I.

KANTOR WILAYAH DEPARTEMEN TENAGA KERJA KAN'|OR DEPARTEMEN TENAGA KERJA

KABUPATEN/KOTAMADYA ...

REKAPITULASI

Pemungutan Retribusi Pen-yawasan Norma Keselamatan dan Kesehatan Kerja berdasarkan Permennaker No. Per...Avlen/l 9

Bulan : ...-.-.-.../tahun

Mengetahui :

Kakandepnaker Kodya/Kab. Bendaharawan Khusus Penerima,

( ...)

Lampiran : Rekapitulasi disampaikan kcpada :

l.Kepala Kanwil Depnaker setempat 2.Sekjen Depnaker

3.Dirjen Binawas Depnaker 4.Arsip

( ...)

Ditetapkandi

: Jakarta

Pada tanggal

:

28 Desember 1994

MENTERI TENAGA KERJA RI.

ttd Drs. ABDULLATIF No. Nama & Alamat

Perusahaan

Nomor Akte Penga-

wasan

Jenis Pemeriksaan yang

dibayarkan (Rp) Juml. yang dibayar

(Rp)

Keterangan Garnbar

Renc- Pertama Berkala/

Ulang

Jumlah

35

Referensi

Dokumen terkait

Pipa ini digunakan untuk mengukur tegangan yang terdapat didalam nya ada anodik katodik dan pelindung kemudian pasang elektroda simpan ditanah yang sudah dibasahi

Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: Dari hasil analisa klien tidak bisa mengendalikan diri untuk sadar agar tidak lagi ketergantungan dengan Narkotika

Pada hasil ini menunjukkan berperan atau tidak berperannya leadership terhadap kesiapan kerja lulusan sarjana (S1) yang belum bekerja dari lulusan universitas yang

Berdasarkan hasil perhitungan uji statistik memakai independent sample t-test dengan menggunakan SPSS didapatkan nilai signifikansi sebesar 0.054 &gt; α 0.05 maka

Cek apakah petugas penjagaan telah melaksanakan tugas sesuai dengan ketentuan yang berlaku : hadir tepat waktu, menggunakan seragam lengkap, melaksanakan apel

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dan eksploratif, bertujuan untuk: 1) Mengungkap peta standar kompetensi dan kompetensi dasar yang belum

Rencana sistem jaringan prasarana dan sarana untuk wilayah daratan KSNT Pulau Nipa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 sampai dengan Pasal 17 digambarkan dalam

Prodi Sosiologi yang melibatkan berbagai komponen stakeholder, yaitu: pimpinan fakultas, pimpinan program studi, dosen, tenaga kependidikan (KTU dan Kasubag), perwakilan