BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Istilah jaminan sosial muncul pertama kali di Amerika Serikat dalam The Social Security Act tahun 1935 untuk mengatasi masalah-masalah pengangguran, manusia usia lanjut, orang-orang sakit dan anak-anak akibat depresi ekonomi. Meskipun penyelenggaraan jaminan sosial di sana pada hakekatnya dipahami sebagai bentuk nyata perlindungan negara terhadap rakayatnya.1 Jaminan sosial pada dasarnya adalah pelaksanaan fungsi sosial dari negara.2 Jaminan sosial pada dasarnya dilaksanakan sejalan dengan prinsip negara kesejahteraan (welfare state) yang berkembang luas di negara-negara Eropa Barat, Amerika Serikat, Australia dan Selandia Baru.3
Pasal 25 ayat (2) Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1948 tentang Hak Asasi Manusia menyatakan, setiap orang berhak atas derajat hidup yang memadai untuk kesehatan dan kesejahteraan dirinya dan keluarganya termasuk hak atas pangan, pakaian, perumahan dan perawatan kesehatan serta pelayanan sosial yang diperlukan dan berhak atas jaminan pada saat menganggur, menderita sakit, cacat, menjadi janda/duda, mencapau usia lanjut atau keadaan lainnya yang mengakibatkan kekurangan nafkah
1 Mudiyono, Jaminan Sosial Di Indonesia: Relevansi Pendekatan Informal, Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Vol. 6, Nomor 1, Juli 2002, hlm. 68.
2 Cheyne dkk, 1998, Social Policy in Aotearoa New Zealand: a Critical Intoduction, Duckland, Oxford University Press.
3 Mudiyono, Op., Cit. hlm. 70
yang berada di luar kekuasaannya.4 Berdasarkan deklarasi tersebut pasca Perang Dunia II beberapa negara mengambil inisiatif kesehatan untuk mengembangkan jaminan sosial, antara lain jaminan kesehatan bagi semua penduduk (Universal Helath Coverage). Dalam sidang ke- 58 tahun 2005 di Jenewa, World Health Assembly (WHA) menggaris bawahi perlunya pengembangann sistem pembiayaan kesehatan yang menjamin tersedianya akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan memberikan perlindungan kepada mereka terhadap risiko keuangan. WHA juga menyarankan World Health Organization (WHO) agar mendorong negara-negara anggota untuk mengevaluasi dampak perubahan sistem pembiayaan kesehatan terhadap pelayanan kesehatan ketika mereka bergerak menuju Universal Health Coverage.5
Pancasila sebagai falsafah bangsa telah sejak dahulu mendeklarasikan terkait dengan jaminan sosial yaitu bahwa sila keadilan sosial yang dijabarkan dalam Amandemen II Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 28 H ayat (3) yang berbunyi “Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat” dan Pasal 34 ayat (3) yang berbunyi
“Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan” mengamanatkan jaminan sosial dari negara. Jaminan sosial pada dasarnya merupakan hak rakyat yang harus dipenuhi oleh negara.
4 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011, Buku Pegangan Sosialisasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional, hlm. 8
5 Ibid., hlm. 9
Salah satu bentuk jaminan sosial yang diberikan oleh negara ialah jaminan atas kesehatan. Pasal 4 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (selanjutnya disebut UU Nomor 36 Tahun 2009) menyatakan bahwa setiap orang berhak atas kesehatan. Kemudian pada Pasal 5 ayat (1) menegaskan setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya dibidang kesehatan. Produk UU Nomor 36 Tahun 2009 dan Undang-Undang Nomor 46 Tahun 2011 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (selanjutnya disebut UU Nomor 46 Tahun 2011) merupakan upaya negara di bidang perundang-undangan dalam menjamin pemenuhan terhadap hak atas kesehatan.
Seiring dengan dimulainya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) per 1 Januari 2014, semua program jaminan kesehatan yang telah dilaksanakan pemerintah (Askes PNS, Jamsostek, TNI, Polri dan Jamkesmas) diintegrasikan ke dalam satu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan) yang merupakan badan hukum publik6 yang bertanggungjawab kepada Presiden dan berfungsi menyelenggarakan program jaminan kesehatan. Sama halnya dengan program Jamkesmas, pemerintah bertanggungjawab untuk membayarkan iuran JKN bagi fakir miskin dan orang yang tidak mampu yang terdaftar sebaga peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI).
Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan (selanjutnya disebut Perpres Nomor 12 Tahun 2013) dibentuk untuk
6 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial,
merealisasikan UU Nomor 46 Tahun 2011 tersebut. Sebagai tindak lanjut dari Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 dibentuklah Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional (Selanjutnya disebut Permenkes Nomor 28 Tahun 2014) dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan memberikan perlindungan kesehatan kepada peserta Badana Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS Kesehatan) kepada peserta untuk memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan.
Dibentuknya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 52 Tahun 2016 tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan (Selanjutnya disebut Permenkes Nomor 52 Tahun 2016) pada bulan Oktober tahun 2016 untuk melaksanakan kententuan dalam Perpres Nomor 12 Tahun 2013 dan Permenkes Nomor 28 Tahun 2014 yakni terkait penggunaan tarif INA CBG dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada para peserta BPJS Kesehatan. Didalam Permenkes tersebut mengatur pembiayaan terkait penggunaan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama dan Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan. Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) adalah fasilitas kesehatan yang melakukan pelayanan kesehatan perorangan yang bersifat non spesialistik untuk keperluan observasi, promotif, preventif, diagnosis, perawatan, pengobatan, dan/atau pelayanan kesehatan lainnya. Sedangkan Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) adalah fasilitas kesehatan yang melakukan
pelayanan kesehatan perorang yang bersifat spesialistik atau sub spesialistik yang meliputi rawat jalan tingkat lanjutan, rawat inap tingkat lanjutan, dan rawat inap di ruang perawatan khusus.
Penggunaan kelas rawat inap sesuai haknya telah tertera dalam Kartu BPJS Kesehatan yang dimiliki oleh para peserta sesuai dengan iuran yang dibayaran maupun yang ditanggung oleh pemerintah yakni dengan fasilitas kesehatan tingkat 1, 2, atau fasilitas kesehatan tingkat 3. Jika para peserta BPJS Kesehatan menginginkan untuk kenaikan kelas fasilitas kesehatan dari fasilitas kesehatan yang menjadi haknya ke kelas VIP juga telah diatur dalam Pasal 25 ayat (3) Permenkes Nomor 52 Tahun 2016 yang mengatur terkait kenaikan kelas pelayanan rawat inap lebih tinggi dari haknya dengan mewajibkan bagi para peserta BPJS Kesehatan untuk membayar selisih antara tarif INA CBG dengan biaya yang harus dibayar akibat peningkatan kelas perawatan tersebut.
Tidak lebih dari 1 (satu) bulan pasca dibentuknya Permenkes tersebut, ketentuan terkait kenaikan kelas rawat inap ke kelas telah dilakukan perubahan yang pertama yakni dengan dibentuknya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 64 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 52 Tahun 2016 tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan. Dalam Pasal 25 ayat (2) huruf b yang mengatur untuk kenaikan kelas pelayanan rawat inap ke kelas VIP, maka para peserta / pasien BPJS Kesehatan dikenakan tambahan pembayaran yaitu sebesar selisih antara tarif kamar rawat inap kelas VIP
terhadap tarif kamar rawat inap kelas yang menjad hak peserta, sesuai dengan lama waktu rawat.
Tidak berselang lebih dari 2 (dua) bulan pasca diatur ketentuan kenaikan kelas perawatan ke kelas VIP tersebut, pada bulan Januari 2017 telah dilakukan perubahan kembali melalui pembahasan dan disepakati bersama antara Kementerian Kesehatan, Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI), BPJS Kesehatan dan Dewan Jaminaan Sosial Nasional (DJSN)7 membuat Permenkes Nomor 52 Tahun 2016 tersebut diubah untuk kedua kalinya dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 4 Tahun 2017 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 52 Tahun 2016 tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan (Selanjutnya disebut dengan Permenkes Nomor 4 Tahun 2017). Dalam Pasal 25 ayat (2) huruf b angka 2 yang berbunyi:
(2) Peserta jaminan kesehatan nasional yang menginginkan kelas pelayanan rawat inap yang lebih tinggi dari haknya, harus membayar selisih biaya/tambahan biaya setiap episode rawat inap dengan beberapa ketentuan, yaitu:
b. untuk kenaikan kelas pelayanan rawat inap ke kelas VIP dengan fasilitas 1 (satu) tingkat di atas kelas 1, pembayaran tambahan biaya ditentukan sebagai berikut:
1. untuk naik kelas dari kelas 1 ke kelas VIP, pembayaran tambahan biaya paling banyak sebesar 75% (tujuh puluh lima perseratus) dari Tarif INA CBG kelas 1.
2. untuk naik kelas dari kelas 2 ke kelas VIP, adalah selisih tarif INA CBG kelas 1 dengan tarif INA CBG kelas 2 ditambah pembayaran tambahan biaya dari kelas 1 ke kelas VIP paling banyak sebesar 75% (tujuh puluh lima perseratus) dari Tarif INA CBG kelas 1; dan
7 Sehat Negeriku, Permenkes Nomor 4 Tahun 2017 atur Peserta JKN ingin Naik Kelas, Sehat Negeriku.kemkes.go.id,http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20170131/1719604/
permenkes-nomor-4-tahun-2017-atur-peserta-jkn-ingin-naik-kelas/, diakses pada hari Senin 11 September 2017, pukul 14.05 WIB.
3. untuk naik kelas dari kelas 3 ke kelas VIP adalah selisish tarif INA CBG kelas 1 dengan tarif INA CBG kelas 3 ditambah pembayaran tambahan biaya dari kelas 1 ke VIP paling banyak sebesar 75% (tujuh puluh lima perseratus) dari Tarif INA CBG kelas 1.
Berlakunya Permenkes Nomor 4 Tahun 2017 tersebut hingga saat ini menimbulkan pro kontra dikalangan masyarakat. Dapat dilihat dengan adanya aksi demontrasi yang dilakukan oleh Puluhan massa Pemuda Pancasila (PP) ke Kantor BPJS Kesehatan Parepare Jalan Sudirman dan Kantor Kejaksaan Negeri setempat, menurut Ketua MPC Pemuda Pancasila, Fadly Agus Mante, tarif dari Permenkes ini dianggap membebani dan tidak memihak masyarakat.8
Koordinator Advokasi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Watch Timboel Siregar mengatakan, kehadiran Permenkes Nomor 4 Tahun 2017 ini tidak lepas dari lobi-lobi dari asosiasi rumah sakit yang kurang puas dengan hanya pembayaran selisih kamar VIP dan kelas 1 kemudian kedepannya tidak menutup kemungkinan, rumah sakit akan lebih senang membangun kamar VIP daripada kelas perawatan 1, 2, dan 3 karena dengan kamar VIP maka rumah sakit akan lebih mudah untung.9 BPJS Kesehatan juga diminta bertanggung jawab atas tidak disosialisasikannya aturan terkait kenaikan tarif yang dianggap merugikan masyarakat.10 Namun pada saat diberlakukannya Permenkes Nomor 64 Tahun 2016 sebelumnya, Pihak
8 ParePos, Tarif Baru Jaminan Keseshatan Membebani, Parepos.fajar.co.id,http://parepos.fajar.co .id/tarif-baru-jaminan-kesehatan-membebani/, diakses pada Rabu tanggal 13 September 2017 pukul 09.34 WIB.
9 Kontan, Kini ada batas biaya peserta JKN naik kelas VIP, Kontan.co.id,http://nasional.kontan.
co.id/news/kini-ada-batas-biaya-peserta-jkn-naik-kelas-vip, diakses pada hari Senin tanggal 11 September 2017 pukul 14.46 WIB.
10 Ibid.
Rumah Sakit menganggap ketentuan kenaikan kelas perawatan inap ke kelas VIP tidak masuk akal dan membebani bagi pihak rumah sakit karena bukan hanya tarif kamar tetapi juga meliputi jasa-jasa lain seperti dokter spesialis, jenis obat-obatan, dan pelayanan lainnya sehingga banyak rumah sakit swasta pasca diterbitkannya Permenkes tersebut memutuskan kerjasama untuk sementera mereka dengan pihak BPJS Kesehatan seperti yang terjadi di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat terdapat 5 (lima) rumah sakit swasta yang berhenti bekerjasama dengan BPJS Kesehatan.11
Pro kontra yang dihadapi dalam Perubahan kedua dalam waktu yang cukup singkat terhadap peraturan tersebut mengakibatkan perubahan pula dalam penerapannya diberbagai rumah sakit yang bekerjasama dengan Badan Penyelenggaraan Jaminan (BPJS) Kesehatan perlu untuk diteliti bagaimana implikasi penerapan Permenkes Nomor 4 Tahun 2017 dengan sebelum perubahan yakni Permenkes Nomor 64 Tahun 2016 di rumah sakit .
Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian sebagai Penulisan Hukum dengan judul: Implikasi Penerapan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 4 Tahun 2017 Dibandingkan Dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 64 Tahun 2016 Dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan.
B. Rumusan Masalah
11 Azwar Zamhuri, Banyak RS Swasta Tidak Lagi Layani Peserta BPJS Kesehatan, Radar Lombok, https://radarlombok.co.id/banyak-rs-swasta-tidak-layani-peserta-bpjs.html, diakses pada tanggal 27 Desember 2017 pukul 14.32 WIB.
1. Bagaimana sejarah pembentukan Peraturan Menteri Kesehatan tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan?
2. Apa implikasi diterbitkannya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 4 Tahun 2017 dibandingkan dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 64 Tahun 2016 dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan terhadap Rumah Sakit mapun pasien BPJS Kesehatan ?
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Subjektif
Penelitian ini bertujuan untuk mencari dan mendapat data yang akurat berhubungan dengan obyej yang diteliti sebagai bahan dasar Penulisan Hukum sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada.
2. Tujuan Objektif
a. Untuk mengetahui sejarah pembentukan Peraturan Menteri Kesehatan tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan.
b. Untuk mengetahui implikasi Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 4 Tahun 2017 dibandingkan dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 64 Tahun 2016 dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan terhadap Rumah Sakit mapun pasien BPJS Kesehatan.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Negara
Penilitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi Pemerintah dan Rumah Sakit serta pengetahuan bagi pasien terkait implikasi penerapan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 4 Tahun 2017.
2. Bagi Ilmu Pengetahuan
Hasil penelitian ini dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan hukum serta dapat menambah literatur dibidang hukum administrasi negara khusus yang berkaitan dengan kebijakan publik dan pelayanan publik yang terkait dengan kesehatan dalam program jaminan kesehatan.
E. Keaslian Penelitian
Penulis telah melakukan penelusuran penelitian pada berbagai refrensi dan hasil penelitian serta dalam media baik cetak maupun elektronik.
Berdasarkan pencarian penulis di Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, penulis menemukan beberapa penulisan hukum yang memiliki perbedaan dengan penulisan hukum yang penulis lakukan. Penulisan hukum yang penulis temukan yaitu:
1. Penulisan Hukum yang ditulis oleh Arima Koyimatun berjudul
“Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Masyarakat di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito”.12 Arima Koyimatun dalam penulisan hukumnya hanya membahas jaminan kesehatan masyarakat saja tanpa melihat subyek pelaksanaan Jamkesmas secara spresifik ditambah dengan
12 Arima Koyimatun, 2011, Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Masyarakat di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito, Skripsi, Universitas Gadjah Mada.
fasilitas-fasilitas yang didapat pasien RSUP Dr. Sardjito dengan menggunakan program Jamkesmas.
Perbedaannya dengan penulisan hukum penulis yaitu mengkaji program jaminan kesehatan yang terbaru dengan telah menggunakan BPJS Kesehatan serta mengkaji kenaikan kelas perawatan inap ke kelas VIP pasca diterbitkannya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 4 Tahun 2017 dan melihat implikasi penerapan peraturan tersebut bagi rumah sakit serta pasien.
2. Penulisan Hukum yang ditulis oleh Nurul Solihah berjudul “Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan Melalui Program Jaminan Kesehatan Masyarakat Di Rumah Sakit Umum Daerah Purbalingga”.13 Nurul Solihah dalam penulisan hukumnya tersebut menjelaskan pada pelaksanaan pelayanan kesehatan yang menggunakan Program Jaminan Kesehatan Masyarakat di RSUD Purbalingga. Obyek penelitiannya menggunakan Program Jaminan Kesehatan Masyarakat di Rumah Sakit Umum Daerah Purbalingga.
Perbedaannya dengan penulisan hukum penulis yaitu mengangkat program jaminan kesehatan yang telah menggunakan BPJS Kesehatan serta secara spesifik mengkaji kenaikan kelas perawatan inap ke kelas VIP pasca diterbitkannya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 4 Tahun 2017 dan melihat implikasi penerapan peraturan tersebut bagi rumah sakit serta pasien.
13 Nurul Solihah, 2014, Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan Melalui Program Jaminan Kesehatan Masyarakat di Rumah Sakit Umum Daerah Purbalingga, Skripsi, Universitas Gadjah Mada.
3. Penulisan Hukum yang ditulis oleh Novie Karlina berjudul “Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan Bagi Peserta Jaminan Kesehatan Daerah di Rumah Sakit Bethesda Kota Yogyakarta Pasca Diterbitkannya UU BPJS”.14 Novie Karlina dalam penulisan hukumnya tersebut menjelaskan pada pelaksanaan pelayanan kesehatan yang menggunakan Program Jaminan Kesehatan Daerah di Rumah Sakit Bethesda Kota Yogyakarta pasca diterbitkannya UU BPJS. Obyek penelitiannya menggunakan Program Jaminan Kesehatan Daerah di Rumah Sakit Bethesda Kota Yogyakarta.
Perbedaannya dengan penulisan hukum penulis yaitu mengkaji program jaminan kesehatan yang telah menggunakan BPJS Kesehatan serta mengkaji kenaikan kelas perawatan inap ke kelas VIP pasca diterbitkannya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 4 Tahun 2017 dan melihat implikasi penerapan peraturan tersebut bagi rumah sakit serta pasien
14 Novie Karlina, 2014, Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan Bagi Peserta Jaminan Keseshatan Daerah di Rumah Sakit Bethesda Kota Yogyakarta Pasca Diterbitkannya UU BPJS, Skripsi, Universitas Gadjah Mada.