• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROTOTIPE MANAJEMEN BANDWIDTH MENGGUNAKAN SQUID DENGAN METODE DELAY POOLS. (Studi Kasus : PUSKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) Disusun oleh:

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROTOTIPE MANAJEMEN BANDWIDTH MENGGUNAKAN SQUID DENGAN METODE DELAY POOLS. (Studi Kasus : PUSKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) Disusun oleh:"

Copied!
147
0
0

Teks penuh

(1)

(Studi Kasus : PUSKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Disusun oleh:

IRFAN 105091002837

PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2011

(2)

i Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Komputer Pada Fakultas Sains dan Teknologi

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Oleh :

IRFAN 105091002837

PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2011

(3)

ii

(4)

iii

(5)

iv ATAU LEMBAGA MANAPUN.

Jakarta, Januari 2012

Irfan

(6)

v ABSTRAK

Irfan, Prototipe Manajemen Bandwidth Menggunakan Squid dengan Metode Delay Pools, dibimbing oleh Arini, MT dan Victor Amrizal, M. Kom.

Pada beberapa area tempat yang menyediakan fasilitas Internet, masalah jaringan yang terjadi sebagian besar dikarenakan banyak user yang sering melakukan aktivitas download, sehingga mengganggu aktivitas Internet client yang lainnya.

Hal ini disebabkan karena jalur ke Internet dipenuhi oleh traffic lalu lintas download tersebut. Bandwidth management dengan metode Squid Delay Pools adalah salah satu bentuk management bandwidth yang sagat efisien karena setiap user/client akan mendapatkan bandwidth dengan ukuran yang sama tanpa menganggu bandwidth dari user/client yang lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan management bandwidth dengan membatasi kecepatan akses Internet pada situs tertentu, pembatasan download pada ekstensi file tertentu dan melakukan pembatasan aktivitas download pada waktu-waktu sibuk (jam kerja).

Adapun metodologi penelitian yang digunakan yaitu metode pengumpulan data dengan studi lapangan dan studi literature, serta metode pengembangan system dengan menggunakan General Network Design Process (GNDP). Dalam penelitian ini penulis menggunakan VmWare Work Station sebagai alat bantu implementasi sistem pada lingkungan virtual, dan Squid sebagai server proxy yang digunakan untuk melakukan pembatasan bandwidth. Dengan delay pools kita dapat membatasi transfer rate pada situs-situs tertentu, ekstensi file tertentu dan pada saat jam kerja, untuk kedepannya diharapkan penerapan delay pools berkorelasi dengan cache proxy, serta karakteristik jaringan dan desain topologi jaringan yang berbeda serta kebijakan/parameter yang berbeda pula.

Kata Kunci : Management Bandwidth, squid, delay pool, GNDP.

(7)

vi

KATA PENGANTAR

Segala puji serta syukur kehadirat Allah SWT, atas segala limpahkan rahmat dan hidayah – Nya, hingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat dalam menyelesaikan Program Studi Sarjana (S-1) Teknik Informatika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Penulis menyadari bahwa Skripsi ini tidak dapat terlaksana dengan baik apabila tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, perkenankan penulis mengucapkan banyak terima kasih dan rasa syukur terutama kepada :

1. Bapak Dr. Syopiansyah Jaya Putra, M.Sis selaku Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Bapak Yusuf Durachman, M.Sc, MIT. selaku Ketua Program Studi Teknik Informatika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Ibu Viva Arifin, MMSI, selaku Sekretaris Program Studi Teknik Informatika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Ibu Arini, MT, selaku pembimbing pertama skripsi ini, yang membantu memberikan bimbingan, arahan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

5. Bapak Victor Amrizal, M. Kom, selaku pembimbing kedua, yang membantu memberikan bimbingan, arahan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

6. Seluruh Dosen dan Staf Jurusan Teknik Informatika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

7. Bapak Husni Teja Sukmana, Ph.D selaku pimpinan dan Seluruh Staff PUSKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

8. Semua pihak yang telah memberikan bantuan dan tidak dapat disebutkan satu persatu.

(8)

vii

Akhirnya dengan segala keterbatasan dan kekurangan yang ada dalam penulisan skripsi ini, penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak

Jakarta, Januari 2012

Irfan

(9)

viii

LEMBAR PERSEMBAHAN

Skripsi ini penulis persembahkan kepada beberapa pihak yang telah memberi dukungan baik berupa dukungan moril maupun materil, diantaranya:

1. Terima kaih kepada Kedua Orang Tua atas segala yang telah diberikan dan doa yang telah diberikan

2. Kedua Uni dan Uda kandung saya yang telah memberikan dukungan.

3. Seluruh Dosen dan Staf Jurusan Teknik Informatika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Seluruh teman-teman penulis Hadi Syafrudin, Indra, Irzal Rinaldi, Asep Badrudin, M. Syahrudin Romli, Tabkang Inayatullah, Ariando Satria dan teman teman seperjuangan TI 2005 lainnya yang telah memberikan banyak bantuan sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Skripsi ini.

5. Seluruh Staff Puskom UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

6. Dan pihak yang telah memberikan bantuan dan tidak dapat disebutkan satu persatu.

Semoga Allah membalas semua kebaikan dan ketulusan hati kalian. Amin.

Jakarta, Januari 2012

(10)

ix

LEMBAR PENGESAHAN ……….... ii

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN ... iii

LEMBAR PERNYATAAN ……… iv

ABSTRAK ……….. v

KATA PENGANTAR ……… vi

LEMBAR PERSEMBAHAN ………. viii

DAFTAR ISI ……….. ix

DAFTAR GAMBAR ……….. xiii

DAFTAR TABEL ……….. xiv

DAFTAR LAMPIRAN ………... xv

BAB I. PENDAHULUAN ………. 1

1.1. Latar Belakang ………. 1

1.2. Perumusan Masalah ………. 2

1.3. Batasan Masalah ……….. 2

1.4. Tujuan Penelitian ………. 3

1.5. Manfaat Penelitian ………... 3

1.6. Metodologi Penelitian ……….. 4

1.6.1. Metode Pengumpulan Data ……… 4

1.6.2. Metode Pengembangan Sistem ………. 4

1.7. Sistematika Penulisan ……….. 5

BAB II. LANDASAN TEORI ……… 6

2.1. Pengertian Prototipe ……… 6

2.2. Pengertian Bandwidth Management ……… 6

2.2.1. Pengertian Bandwidth ... 7

2.2.2. Pengertian Manajemen dan Metode ... 7

2.2.3. Pengertian Bandwidth Management ... 7

(11)

x

2.3.3. Jaringan Komputer Menurut Ruang Lingkupnya ... 11

2.3.4. Topologi Jaringan ... 12

2.3.5. TCP/IP (Transfer Control Protocol/Internet Protocol) ... 14

2.3.6. LAN (Local Area Network) ... 16

2.3.7. Penamaan Alamat IP ... 17

2.3.8. Subnetting ... 17

2.4. Wireless LAN ……….. 19

2.4.1. Mode pada Wireless LAN ... 20

2.4.2. Komponen Wireless LAN ... 22

2.4.3. Badan Standarisasi ... 25

2.4.4. Standar Wireless LAN ... 26

2.4.5. Protokol Jaringan Wireless ... 28

2.4.6. Jaringan Wireless 802.11 ... 30

2.5. Debian GNU/Linux ………. 33

2.6. Server ………... 35

2.6.1. Definisi Server ... 35

2.6.2. Karakteristik Server ... 36

2.6.3. Fungsi dan Layanan Server ... 36

2.7. Pengertian Proxy ……….. 37

2.7.1. Definisi Proxy ... 37

2.7.2. Pengertian Proxy Server ... 37

2.7.3. Karakteristik Proxy ... 37

2.7.4. Cara Kerja Proxy ... 38

2.7.5. Fungsi Proxy ... 38

2.8. SQUID ………. 38

2.8.1. Definisi SQUID ... 38

2.8.2. Sejarah SQUID ... 39

(12)

xi

2.9. Internet ……… 47

2.9.1. Definisi Internet ... 47

2.9.2. Sejarah Internet ... 48

2.9.3. Jenis Layanan Internet ... 50

2.10. Metodologi GNDP (General Network Design Process) ………... 54

2.10.1. Assessing User Requirements ... 54

2.10.2. Select Topologies and Technologies to Satisfy Needs ... 56

2.10.3. Model Network Workload ... 56

2.10.4. Simulate Behavior Under Expected Load ... 57

2.10.5. Perform Sensitive Test ... 57

2.10.6. Rework Design as Needed ... 57

BAB III. METODE PENELITIAN ……… 58

3.1. Metode Pengumpulan Data ………. 58

3.1.1. Studi Pustaka/Literature ……… 58

3.1.2. Wawancara ………. 58

3.1.3. Penelitian Sebelumnya Tentang Manajemen Bandwidth ……….. 59

3.2. Metode Pengembangan Sistem menggunakan GNDP (General Network Design Process) ……….. 61

3.2.1. Assess Needs and Cost ……….. 62

3.2.2. Select Topologies and Technologies to Satisfy Needs ………. 62

3.2.3. Model Network Workload ………. 62

3.2.4. Simulate Behavior Under Expected Load ………. 63

3.2.5. Perform Sensitive Test ………... 63

3.2.6. Rework Design as Needed ………. 63

(13)

xii

4.1.2. Analisa Kebutuhan ……… 96

4.1.3. Analisa Topografi (Topografi UIN Jakarta) ………….. 98

4.2. Select Topologies and Technologies to Satisfy Needs ………… 100

4.3. Model Network Workload ………... 101

4.3.1. Topologi dan Sistem Berjalan UIN Jakarta ………….. 101

4.4. Simulate Behavior Under Expected Load ……….... 105

4.4.1. Instalasi VMWare ……….. 105

4.4.2. Instalasi Sistem Operasi pada VMWare……… 106

4.4.3. Simulasi jaringan ……… 107

4.5. Perform Sensitivity Tes ……… 109

4.5.1. Membatasi Kecepatan Akses Internet pada Situs Tertentu ………. 109

4.5.2. Membatasi Kecepatan Download File pada Ekstensi File Tertentu ……… 113

4.5.3. Membatasi Kecepatan Internet pada Waktu Tertentu(Jam Sibuk) ………... 116

4.6. Rework Design as Needed ………... 119

4.6.1. Kecepatan Download Dua File atau Lebih ……… 119

4.6.2. Kecepatan Download Dua File dengan Dua Client pada Kondisi Real yang Ada di PUSKOM ... 122

BAB V. PENUTUP ……… 127

5.1. Kesimpulan ………. 127

5.2. Saran ……… 128

DAFTAR PUSTAKA ……… 129

LAMPIRAN ……… 130

(14)

xiii

Gambar 2.3 Diagram Access Point yang Terhubung ke Jaringan …………. 23

Gambar 2.4 Multiple Access Point dan Roaming ………. 23

Gambar 2.5 Penggunaan Extension Point ……….. 24

Gambar 3.1 General Network Design Process ……….. 61

Gambar 3.2 Mekanisme Kerja Penelitian ……… 64

Gambar 4.1 Topologi Jaringan Setelah Squid ……….. 100

Gambar 4.2 Topologi dan sistem berjalan Jaringan UIN Jakarta ………….. 101

Gambar 4.3 Jendela Aplikasi VMWare Workstation 6 ………. 106

Gambar 4.4 Guest Operating system ………. 107

Gambar 4.5 Design Topologi Squid Server Pada Simulasi Jaringan ………. 107

Gambar 4.6 Konfigurasi Lan Segements Team Setting pada VMWare ……. 108

Gambar 4.7 Kecepatan Download Indowebster Sebelum Siterapkan Delay pools ……… 110

Gambar 4.8 Kecepatan Download Youtube Sebelum Diterapkan Delay pools 111 Gambar 4.9 Kecepatan Download Indowebster dengan Menggunakan Delay pools ……… 112

Gambar 4.10 Kecepatan Download Youtube dengan Menggunakan Delay pools ………. 113

Gambar 4.11 Kecepatan Download File .avi Tanpa Penerapan Delay pools 114

Gambar 4.12 Kecepatan Download File .iso Tanpa Penerapan Delay pools 115

Gambar 4.13 Kecepatan Download File .avi Setelah Penerapan Delay pools 116 Gambar 4.14 Kecepatan Download/Browsing Indowebster pada Jam Sibuk 118

Gambar 4.15 Kecepatan Download File .avi Tanpa Penerapan Delay pools 120

Gambar 4.16 Kecepatan Download 3 File .avi Setelah Penerapan Delay pools Secara Bersamaan ……… 121

Gambar 4.17 Kecepatan Download File .mkv Tanpa Penerapan Delay Pools pada Client 1 …...……… 122

Gambar 4.18 Kecepatan Download File .avi Tanpa Penerapan Delay Pools pada Client 2 …...……… 123

Gambar 4.19 Kecepatan Download File .mkv dengan Penerapan Delay Pools (file .avi) pada Client 1 …...………… 124

Gambar 4.20 Kecepatan Download File .avi dengan Penerapan Delay Pools pada Client 2 …...……… 125

(15)

xiv

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Perbandingan Standar Wireless LAN ………. 28

Tabel 3.1 Studi Literatur ……….. 59

Tabel 4.1 Data Penggunaan Bandwidth ……….. 66

Tabel 4.2 Karakteristik Fakultas terhadap Penggunaan Internet (A)……….. 72

Tabel 4.3 Karakteristik Fakultas terhadap Penggunaan Internet (B)……….. 78

Tabel 4.4 Informasi Kuesioner ………...……….. 78

Tabel 4.5 Spesifikasi Hardware Puskom ……….. 97

Tabel 4.6 Topografi Jaringan UIN Jakarta ……… 98

Tabel 4.7 Core Layer ……… 102

Tabel 4.8 Distribution Layer ………. 102

Tabel 4.9 Access Layer ………. 102

Tabel 4.10 Pembagian Core Layer ……….. 103

Tabel 4.11 Pembagian Distribution Layer ……….. 104

Tabel 4.12 Kecepatan Download (Transfer Rate) ……….. 118

Tabel 4.13 Kecepatan Download (Transfer Rate) 2 Client ... 125

(16)

xv

(17)

1 1.1. Latar Belakang

Teknologi saat ini bukan lagi menjadi kebutuhan sekunder bagi kita, tapi sudah menjadi kebutuhan primer yang tidak bisa kita hindarkan.

Perkembangan teknologi saat ini begitu pesat, termasuk juga perkembangan teknologi di bidang telekomunikasi. Salah satu perkembangan teknologi yang begitu pesat adalah Internet. Internet menyediakan semua informasi yang dibutuhkan.

Karena sangat tingginya kebutuhan akan akses Internet dewasa ini, baik untuk mencari informasi, artikel, maupun pengetahuan terbaru.

Pembagian bandwidth atau dengan kata lain management bandwidth pada setiap client adalah satu bagian yang penting untuk dilakukan seorang administrator. Pada banyak hotspot area tempat yang menyediakan fasilitas Internet, masalah jaringan yang terjadi sebagian besar dikarenakan banyak user yang sering melakukan aktivitas download, sehingga mengganggu aktivitas Internet client yang lainnya. Hal ini disebabkan karena jalur ke Internet dipenuhi oleh traffic lalu lintas download tersebut. Dengan adanya bandwidth management, kita dapat mengatur bandwidth sesuai dengan kebutuhan.

Bandwidth management dengan metode Squid Delay Pools adalah salah satu bentuk manajemen bandwidth yang sangat efisien karena setiap

(18)

user/client akan mendapatkan bandwidth dengan ukuran yang sama tanpa menganggu bandwidth dari user/client yang lainnya.

Dengan latar belakang di atas, maka penulis memberikan judul pada penelitian ini dengan judul:

PROTOTIPE MANAJEMEN BANDWIDTH MENGGUNAKAN SQUID DENGAN METODE DELAY POOLS

Studi Kasus : PUSKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 1.2. Perumusan Masalah

Permasalahan yang ada pada penelitian ini adalah sering terdapat masalah pada keterbatasan bandwidth yang menyebabkan penurunan kualitas bandwidth yang diterima oleh masing-masing client pada saat melakukan aktifitas internet pada traffic yang padat. Traffic yang padat disebabkan karena gemarnya client melakukan aktifitas download sehingga jalur ke internet dipenuhi oleh traffic lalu lintas download tersebut. Oleh karena itu perlu adanya sebuah metode/cara untuk melakukan pembatasan terhadap bandwidth agar traffic yang padat dapat dikurangi dengan adanya pembatasan terhadap aktifitas download.

1.3. Batasan Masalah

1. Manajemen bandwidth dilakukan pada simulasi jaringan intranet yang ada pada UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Menggunakan VMWare WorkStation.

(19)

2. Manajemen bandwidth lebih diutamakan pada situs yang sering di request oleh client dan memakai bandwidth cukup besar sehingga mengganggu situs lain yang lebih di utamakan untuk di akses.

3. Membatasi bandwidth pada aktivitas yang memakan bandwidth cukup besar seperti aktivitas download dan streaming.

4. Pada penelitian ini software yang digunakan adalah Squid yang bekerja pada sistem operasi linux.

1.4. Tujuan Penelitian

1. Untuk menerapkan management bandwidth dengan membatasi kecepatan akses Internet pada situs tertentu.

2. Untuk melakukan pembatasan download terhadap ekstensi file tertentu.

3. Untuk melakukan pembatasan aktivitas download pada waktu-waktu sibuk (jam kerja).

1.5. Manfaat Penelitian

1. Sebagai syarat kelulusan program sarjana pada jurusan Teknik Informatika Fakultas Sains & Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Penulis dapat mengetahui lebih dalam cara manajemen bandwidth pada jaringan intranet dengan menggunakan metode Squid Delay Pools.

3. Terciptanya pembagian bandwidth yang merata untuk setiap user/client.

(20)

1.6. Metodologi Penelitian

1.6.1. Metode Pengumpulan Data

Merupakan metode yang digunakan penulis dalam melakukan analisis data dan menjadikannya informasi yang akan digunakan untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi.

1. Studi Pustaka atau Literatur

Metode Pengumpulan data melalui buku atau browsing internet yang dijadikan sebagai acuan analisa penelitian yang dilakukan.

2. Wawancara

Wawancara dilakukan dengan administrator yang mengatur aktitas lalu lintas jaringan Intranet UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

1.6.2. Metode Pengembangan Sistem

Metode pengembangan sistem yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pengembangan sistem GNDP (General Network Design Process), dengan tahapan:

1. Assess needs and cost

2. Select topologies and Technologies to satisfy needs 3. Model network workload

4. Simulate behavior under expected load 5. Perform sensitivity test

6. Rework design as needed

(21)

1.7. Sistematika Penulisan

Sistematika Penulisan laporan tugas akhir ini dibagai dalam lima bab, masing-masing bab dapat diuraikan sebagai berikut:

BAB I LATAR BELAKANG

Pada bab ini, akan diuraikan mengenai latar belakang, perumusan masalah, batasan masalah, metodologi, sistematika penulisan, dari tugas akhir yang disusun.

BAB II LANDASAN TEORI

Pada bab ini berisi teori dasar mengenai manajemen bandwidth menggunakan squid dan tools pendukungnya.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Pada bab ini menjelaskan tentang metodologi yang dipakai dalam penelitian

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini berisi tentang pembahasan proses manajemen bandwidth menggunakan squid delay pools.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini berisi kesimpulan dan saran berdasarkan hasil analisa data dalam tugas akhir ini

(22)

6 2.1. Pengertian Prototipe

Prototipe adalah model yang mula-mula(model asli) yang menjadi contoh, contoh baku atau contoh khas. (KBBI, 2007:900)

2.2. Pengertian Bandwidth Management

Jaringan internet masa kini bukanlah hal mewah yang susah didapat.

Banyak sekali Internet Service Provider(ISP) yang beroperasi mendistribusikan bandwidth ke berbagai jaringan dengan kelas yang kecil hingga besar. Bandwidth yang didistribusikan ke jaringan besar(misal:

kampus) seringkali harus dibagi-bagi agar penggunaannya tidak didominasi oleh salah satu pihak saja, melainkan dapat dibagi merata ke seluruh bagian kampus yang membutuhkan.

Bandwidth management ini seringkali disebut dengan nama QoS(Quality Of Services), atau “Traffic Shaper”. Beberapa alat mulai yang berbentuk perangkat keras hingga software untuk keperluan ini telah banyak beredar di pasaran. Linux pun mempunyai fasilitas ini. Model yang sering digunakan adalah Class Based Queueing(CBQ), dan Hierarchial Token Bucket(HTB).

Kedua model shaper tersebut berbeda pada algoritma yang digunakan untuk melakukan pembagian bandwidth. Hingga saat ini CBQ merupakan metode yang paling banyak digunakan, dan secara default metode inilah

(23)

yang digunakan oleh debian.

2.2.1. Pengertian Bandwidth

Bandwidth dalam jaringan komputer dimaksudkan sebagai kapasitas transfer data yang didukung oleh koneksi atau antar muka jaringan. Semua yang paling umum digunakan dalam bandwidth adalah bit per second (bps). Istilah bandwidth muncul dari bidang teknik elektro, dimana bandwidth merepresentasikan jarak keseluruhan atau jangkauan diantara sinyal tertinggi dan terendah pada kanal (band) komunikasi. (Wahana Komputer, 2004:60) 2.2.2. Pengertian Manajemen dan Metode

Manajemen adalah penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. (KKBI:708)

Metode adalah cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki, cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.

(KBBI:740)

2.2.3. Pengertian Bandwidth Management

Bandwidth management adalah serangkaian mekanisme kontrol yang menilai data alokasi, penundaaan variabilitas, tepat waktu pengiriman, dan kehandalan pengiriman dalam mengelola jalur internet agar kecepatannya menjadi efektif dan efisien.

Dengan bandwidth management, kita dapat mengatur bandwidth

(24)

sesuai dengan kebutuhan 2.2.4. Bandwidth

Lebar pita antena merujuk pada frekuensi dimana antena bisa beroperasi secara baik. Pita lebar antena menggunakan satuan Hz dimana antena akan menunjukkan SWR kurang dari 2:1.

Bandwidth juga bisa dideskripsikan dalam bentuk persentase frekuensi pusat pita.

FH - FL

Bandwidth = 100 x ---

FC

di mana FH adalah frekuensi yang paling tinggi di pita, FL adalah frekuensi yang paling rendah di pita, dan FC adalah frekuensi tengah di pita.

Dengan begitu, lebar pita adalah konstanta relatif terhadap frekuensi. Jika lebar pita diungkapkan di satuan-satuan mutlak frekuensi, lebar pita akan berbeda bergantung pada frekuensi tengah. Macam antena yang berbeda mempunyai keterbatasan lebar pita yang berbeda.

2.3. Pengertian Jaringan Komputer

Network atau jaringan, dalam bidang komputer dapat diartikan sebagai dua atau lebih komputer yang dihubungkan sehingga dapat berhubungan dan berkomunikasi, sehingga menimbulkan suatu efisiensi, sentralisasi dan

(25)

optimasi kerja. Pada jaringan komputer yang dioptimasikan adalah data.

Suatu komputer dapat berhubungan dengan komputer yang lain tanpa harus membawa disket/media penyimpanan lain seperti yang biasa dilakukan.

2.3.1. Jenis Jaringan Komputer

Ada beberapa jenis jaringan komputer dilihat dari cara pemrosesan data dan pengaksesannya.

1. Host-Terminal.

Di mana terdapat sebuah atau lebih server yang dihubungkan dalam suatu dumb terminal. Karena Dumb Terminal hanyalah sebuah monitor yang dihubungkandengan menggunakan kabel RS232, maka pemrosesan data dilakukan dalam server. Maka dari itu suatu server haruslah sebuah sistem komputer yang memiliki kemampuan pemrosesan data dan penyimpanan yang sangat besar.

2. Client-Server.

Di mana sebuah server atau lebih dihubungkan dengan beberapa client.Server bertugas menyediakan berbagai macam layanan misalnya pengaksesan file, database, dan sebagainya. Client adalah sebuah terminal yang menggunakan layanan tersebut. Perbedaannya dengan hubungan dumb terminal, sebuah terminal client melakukan pemrosesan data di terminalnya sendiri dan hal itu menyebabkan spesifikasi server tidaklah harus memiliki

(26)

performa yang sangat tinggi, karena hampir semua pemrosesan data dilakukan di client.

3. Peer to Peer.

Di mana terdapat beberapa terminal komputer yang dihubungkan dengan media kabel. Secara prinsip, hubungan p2p ini adalah bahwa setiap komputer dapat berfungsi sebagai server (penyedia layanan) dan client. Kedua fungsi tersebut dapat berjalan secara bersamaan.

2.3.2. Karakteristik Kinerja Jaringan 1. Throughput

Throughput adalah kecepatan informasi yang datang dan kecepatan melewati suatu titik tertentu dalam sistem jaringan. (Wahana Komputer, 2004:495)

2. Delay

Delay adalah waktu antara mulainya transaksi oleh pengirim dan diterimanya respon pertama. Delay juga merupakan waktu yang diperlukan ke tempat tujuan melalui path yang sudah ditentukan. (Wahana Komputer, 2004:169) 3. Latency

Latency adalah waktu tunda antara masa sebuah perangkat meminta akses ke jaringan dan masa perangkat itu menerima izin untuk melakukan transmisi, atau bisa juga disebut masa tunda antara waktu sebuah perangkat menerima

(27)

frame dan waktu ketika frame tersebut diteruskan keluar menuju port tujuan. (Wahana Komputer, 2004:318)

2.3.3. Jaringan Komputer Menurut Ruang Lingkupnya 1. LAN (Local Area Network).

Hanya terdapat satu atau dua server dan ruang lingkupnya hanya terdapat dalam satu lokasi atau gedung.

2. WAN (Wide Area Network).

Merupakan gabungan dari LAN, yang ruang lingkupnya dapat saja satu lokasi, misalnya gedung bertingkat, atau dapat tersebar di beberapa lokasi di seluruh dunia. Jaringan ini membutuhkan minimal satu server untuk setiap LAN, dan membutuhkan minimal dua server di tempat yang berbeda untuk membentuknya.

3. Internet.

Internet adalah sekumpulan jaringan yang berlokasi tersebar di seluruh dunia yang saling terhubung membentuk suatu jaringan besar komputer. Dalam jaringan ini dibatasi layanannya sebagai berikut: FTP, E-Mail, Chat, Telnet, SSH, Conference, News Group, dan Mailing List. Biasanya jaringan ini menggunakan protokol TCP/IP (jenis protokol ini akan dibahas selanjutnya), walaupun ada sebagian kecil yang menggunakan jenis protokol lain.

(28)

4. Intranet.

Jenis ini merupakan gabungan dari LAN/WAN dengan Internet. Apabila kita lihat dari lingkupnya maka jaringan ini adalah jenis LAN/WAN yang memberikan layanan seperti layanan internet kepada terminal clientnya. Perbedaan mencolok Intranet dengan Internet adalah Intranet melayani satu organisasi tertentu saja.

Dari jenis-jenis jaringan yang telah dijelaskan di atas, yang akan dijelaskan dalam penelitian ini adalah jenis LAN, karena LAN merupakan jaringan terkecil dan yang paling penting adalah karena jenis-jenis jaringan yang lain intinya hanyalah pengembangan dari LAN.

2.3.4. Topologi Jaringan

Apabila dilihat dari jenis hubungannya, maka topologi jaringan dapat dibagi menjadi tiga yaitu:

1. Topologi Cincin

Topologi jenis cincin ini menghubungkan satu komputer di dalam suatu loop tertutup. Pada topologi jenis ini data berjalan mengelilingi jaringan dengan satu arah pengiriman ke komputer selanjutnya terus hingga mencapai komputer yang dituju. Ada dua hal yang dilakukan oleh suatu terminal ketika menerima data dari komputer sebelumnya yaitu :

(29)

a. Memeriksa alamat yang dituju dari data tersebut dan menerimanya jika terminal ini merupakan tujuan data tersebut.

b. Terminal akan meneruskan data ke komputer selanjutnya dengan memberikan tanda negatif ke komputer pengirim.

Apabila ada komputer yang tidak berfungsi maka hal tersbut tidak akan mengganggu jalannya jaringan, tapi apabila satu kabel putus akan mengakibatkan jaringan tidak dapat berfungsi.

2. Topologi Bus

Topologi jaringan jenis ini menggunakan kabel pusat yang merupakan media utama dari jaringan. Terminal- terminal yang akan membangun jaringan dihubungkan dengan kabel utamayang merupakan inti dari jaringan.

Data yang dikirimkan akan langsung menuju terminal yang dituju tanpa harus melewati terminal-terminal dalam jaringan, atau akan diroutingkan ke head end controler.

Tidak bekerjanya sebuah komputer tidak akan menghentikan kerja dari jaringan, jaringan akan tak bekerja apabila kabel utamanya putus.Jaringan ini merupakan jaringan yang banyak digunakan karena hanya dalam beberapa meterkabel dapat dihubungkan ke banyak terminal client. Jaringan ini

(30)

menggunakan kabel coaxial sebagai media transmisinya.

Kabel coaxial dilihat dari bentuk fisiknya mirip dengan kabel antenna televisi. Kabel ini mempunyai kapasitas bandwidth yang cukup besar (10Mbps), sehingga apabila dihubungkan dengan banyak terminal akan terlayani dengan baik.

3. Topologi Bintang

Jenis topologi ini menggunakan satu terminal sentral yang menghubungkan ke semua terminal client. Terminal sentral ini yang mengarahkan setiap data yang dikirimkan ke komputer yang dituju. Pada jaringan ini apabila ada salah satu terminal tidak berfungsi atau kabel putus maka kerja jaringan tidak akan terganggu, karena gangguan tersebut hanya akan mempengaruhi client yang bersangkutan.

Kelemahan dari jenis topologi ini adalah ketergantungan terhadap sentral. Hal tersebut merupakan suatu gangguan yang sangat berarti apabila terminal sentral mendapat gangguan. Jaringan ini menggunakan kabel UTP cat 5 yang secara fisik terdiri dari 4 pasang kabel kecil yang dibungkus menjadi satu. Transmisi data kabel ini dapat mencapai 100Mbps sehingga cocok digunakan untuk menyusun jaringan dengan skala cukup besar.

2.3.5. TCP/IP (Transfer Control Protocol/Internet Protocol)

TCP mengatur masalah perintah-perintah pengiriman data,

(31)

mengawasi jalannya data dan memastikan data tersebut sampai ke tujuannya. Apabila ada bagian dari data yang tidak mencapai tujuan maka TCP akan mengirimkan lagi. Proses tersebut akan terus diulang sampai data yang dikirim sampai ke tujuannya. Apabila ada data yang sangat besar untuk dimuat dalam sekali pengiriman maka TCP akan memecahnya menjadi beberapa paket dan kemudian mengirimkan data ke tujuan dan memastikan data itu sampai dengan benar.

IP adalah protokol yang memuat semua kebutuhan aplikasi dalam berhubungan antar terminal. Seperti telah disampaikan sebelumnya bahwa TCP bertanggungjawab pada masalah pengiriman dan pemecahan data menjadi bagian-bagian kecil, maka IP merupakan pembuka jalan sehingga data dapat sampai ke terminal tujuan. Pelapisan-Pelapisan protokol tersebut berguna untuk menjaga agar data dapat sampai dengan sempurna.

Beberapa layanan dasar tapi merupakan layanan yang penting diberikan oleh TCP/IP adalah :

1. File Transfer Protocol (FTP) 2. Remote Login (SSH/Telnet) 3. E-Mail

4. Web

Sebenarnya masih banyak lagi layanan yang dapat diberikan oleh TCP/IP hanya saja tidak akan kita bahas sekarang.

(32)

2.3.6. LAN (Local Area Network)

Local Area Network merupakan salah satu arsitektur jaringan yang paling sederhana dan dapat dikembangkan menjadi arsitektur jaringan yang cakupannya lebih luas. Luas LAN itu sendiri tidak melebihi suatu area yang terdiri dari beberapa terminal yang saling berhubungan sehingga menambahkan fungsi dari terminal itu sendiri. Layanan yang sering diberikan LAN adalah penggunaan file bersama (file sharing). Biasanya LAN menggunakan satu server untuk melayani kebutuhan clientnya, tetapi tidak menutup kemungkinan menggunakan lebih daru satu server, tergantung kebutuhan dari network itu sendiri. Biasanya yang menjadi pertimbangan adalah jenis layanan yang dibutuhkan dan performansi jaringan. Apabila jenis layanan yang dibutuhkan banyak, maka sebaiknya server yang digunakan lebih dari satu sehingga masing-masing layanan dapat bekerja dengan optimal.

Penamaan terminal dalam suatu jaringan menggunakan apa yang disebut IP Address (Internet Protocol Address). Penamaan terminal berdasarkan nama yang lebih mudah digunakan misal:

“komputer1” dapat dilakukan dengan menggunakan Domain Name Server (DNS). Kedua cara penamaan ini merupakan cara penamaan yang biasa digunakan dalam jaringan. Hal-hal lebih lanjut akan kita bahas langsung pada materi selanjutnya.

(33)

2.3.7. Penamaan Alamat IP

IP Address digunakan untuk mengidentifikasi interface jaringan pada suatu terminal. IP Address adalah sekelompok bilangan biner 32 bit yang dibagi menjadi 4 bagian yang masing- masing bagian itu terdiri dari 8 bit . Untuk memudahkan kita dalam membaca dan mengingat alamat IP, maka umumnya penamaan yang digunakan adalah berdasarkan bilangan desimal. Misal :

11000000. 10101000. 00001010. 00000001

192 168 10 1

Pengalamatan IP seperti di atas menggunakan IPv4 yang sekarang masih sangat populer. Saat ini telah dikembangkan IPv6 yang menggunakan format pengalamatan lebih rumit, namun dapat lebih mengakomodasi network dengan jumlah terminal sangat besar. Untuk selanjutnya kita akan tetap menggunakan IPv4.

2.3.8. Subnetting

Subnetting adalah pembagian suatu kelompok alamat IP menjadi bagian-bagian yang lebih kecil lagi. Tujuan dalam melakukan subnetting ini adalah:

1. Membagi suatu kelas jaringan menjadi beberapa bagian yang lebih kecil.

2. Menentukan apakah suatu host (berdasatkan IP Addressnya) berada dalam suatu jaringan atau tidak.

Keteraturan

(34)

1. Kelas A subnet 11111111.00000000.00000000.00000000 (255.0.0.0)

2. Kelas B subnet

11111111.11111111.00000000.00000000 (255.255.0.0)

3. Kelas C subnet

11111111.11111111.11111111.00000000 (255.255.255.0)

Misal suatu jaringan dengan IP jaringan 192.168.10.0 ingin membagi menjadi 5 jaringan kecil (masing-masing 48 host), maka harus dilakukan subnetting pada jaringan tersebut. Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah membagi IP jaringan tersebut (192.168.10.0 <- kelas C) menjadi blok-blok yang masing- masing blok minimal terdiri dari 48 host. Seperti telah kita ketahui bahwa tiap-tiap kelas C mempunyai 255 IP maka perhitungannya adalah :

255/5 = 51

Masing-masing subnet mempunyai 49 alamat IP (masing- masing diambil 2 untuk IP broadcast dan IP network). Berikut adalah pengelompokan dari jaringan-jaringan tersebut:

1. 192.168.10.0-192.168.10.50 digunakan oleh jaringan 1 2. 192.168.10.51-192.168.10.101 digunakan oleh jaringan

2

(35)

3. 192.168.10.102-192.168.10.152 digunakan oleh jaringan 3

4. 192.168.10.153-192.168.10.203 digunakan oleh jaringan 4

5. 192.168.10.204-192.168.10.255 digunakan oleh jaringan 5

Subnetting diperlukan agar host pada satu jaringan tidak dapat mengakses host pada subnet lain secara langsung.

Untuk pembagian 51 host : 51=00110011(biner). Nilai 8 bit tertinggi dari subnet kelas C adalah 255 = 11111111 (biner). Untuk mencari nilai desimalnya digunakan cara berikut:

00110011 11111111

--- (negasi)

11001100 dalam biner yang nilai desimalnya adalah 204 maka IP subnetmasknya adalah 255.255.255.204

2.4. Wireless LAN

Wireless (jaringan nirkabel) menggunakan gelombang radio (RF) atau gelombang mikro untuk membentuk kanal komunikasi antar komputer.

Jaringan nirkabel adalah alternatif yang lebih modern terhadap jaringan kabel yang bergantung pada kabel tembaga dan serat optik antar jaringan.

LAN atau Local Area Network Merupakan jaringan komputer yang meliputi

(36)

suatu area geografis yang relatif kecil (dalam satu lantai atau gedung). LAN dicirikan dengan kecepatan data yang relatif tinggi dan kecepatan error yang relatif rendah. (Kamus Lengkap Jaringan Komputer, 2004).

Jaringan nirkabel memungkinkan orang untuk melakukan komunikasi, mengakses aplikasi dan informasi tanpa kabel. Hal tersebut memberikan kemudahan dan kebebasan untuk bergerak dan kemampuan memperluas aplikasi ke berbagai bagian gedung, kota, atau hampir ke semua tempat di dunia.

2.4.1. Mode pada Wireless LAN

WLAN sebenarnya memiliki kesamaan dengan jaringan LAN, akan tetapi setiap node pada WLAN menggunakan wireless device untuk berhubungan dengan jaringan. Node pada WLAN menggunakan channel frekuensi yang sama dan SSID yang menunjukkan identitas dari wireless device. Tidak seperti jaringan kabel, jaringan wireless memiliki dua mode yang dapat digunakan, yaitu:

1. Model Ad-Hoc

Model ad-hoc merupakan mode jaringan nirkabel yang sangat sederhana, karena pada mode ini tidak memerlukan access point untuk host dapat saling berkomunikasi. Setiap host cukup memiliki transmitter dan reciever wireless untuk berkomunikasi secara langsung satu sama lain seperti tampak pada gambar 2.1. Kekurangan dari mode ini adalah komputer

(37)

tidak bisa berkomunikasi dengan komputer pada jaringan yang menggunakan kabel. Selain itu, daerah jangkauan pada mode ini terbatas pada jarak antara kedua komputer tersebut.

Gambar 2.1 Mode Jaringan Ad-Hoc (Sumber: http://oc.its.ac.id/ambilfile.php?idp=153) 2. Model Infrastruktur

Jika komputer pada jaringan wireless ingin mengakses jaringan kabel atau berbagi printer misalnya, maka jaringan wireless tersebut harus menggunakan mode infrastruktur gambar 2.2. Pada mode infrastruktur access point berfungsi untuk melayani komunikasi utama pada jaringan wireless.

Access point mentransmisikan data pada PC dengan jangkauan tertentu pada suatu daerah. Penambahan dan pengaturan letak access point dapat memperluas jangkauan dari WLAN.

(38)

Gambar 2.2 Model Jaringan Infrastruktur (Sumber : http://oc.its.ac.id/ambilfile.php?idp=153) 2.4.2. Komponen Wireless LAN

Dalam membangun sebuah jaringan WLAN, maka diperlukan beberapa perangkat keras agar komunikasi antara station dapat dilakukan. Secara umum, komponen wireless LAN terdiri atas perangkat berikut :

1. Access Point (AP)

Pada wireless LAN, device transceiver disebut sebagai access point (AP), dan terhubung dengan jaringan (LAN) melalui kabel. Fungsi dari AP adalah mengirim dan menerima data, serta berfungsi sebagai buffer data antara wireless LAN dengan wired LAN. Satu AP dapat melayani sejumlah user (beberapa literatur menyatakan bahwa satu AP maksimal meng-handle sampai 30 user). Karena dengan semakin banyak nya user terhubung ke AP maka kecepatan yang diperoleh tiap user juga akan semakin berkurang.

(39)

Gambar 2.3 Diagram Access Point yang Terhubung ke Jaringan.

(Sumber: http://www.hp.com/sbso/wireless/setup_wireless_network.html) Bila AP dipasang lebih dari satu dan coverage tiap AP saling overlap, maka user/client dapat melakukan roaming.

Roaming adalah kemampuan client, untuk berpindah tanpa kehilangan koneksi dan tetap terhubung dengan jaringan.

Gambar 2.4 Multiple Access Point dan Roaming

(Sumber: http://ilmukomputer.org/2008/11/26/konsep-dasar-wlan/) 2. Extension Point

Hanya berfungsi layaknya repeater untuk client ditempat yang jauh. Syarat dari AP yang digunakan sebagai extension point ini adalah terkait dengan channel frekuensi

(40)

yang digunakan. Antara AP induk (yang terhubung langsung dengan backbone) dan AP repeater-nya harus memiliki frekuensi yang sama.

Gambar 2.5 Penggunaan Extension Point

(Sumber: http://library.thinkquest.org/04oct/01721/wireless/faq.htm) 3. Antena

Digunakan untuk memperkuat daya pancar. Terdapat beberapa tipe antena yang dapat mendukung dalam implementasi wireless LAN. Ada yang tipe omni, sectorized serta directional.

4. Wireless LAN Card

WLAN card dapat berupa PCMCIA, USB card atau Ethernet card dan sekarang banyak dijumpai sudah embedded di terminal (notebook maupun HP). Biasanya PCMCIA digunakan untuk notebook sedangkan yang lain nya digunakan untuk komputer desktop. WLAN card berfungsi sebagai interface antara sistem operasi jaringan client dengan format interface udara ke AP. (Gunadi, 2009)

(41)

2.4.3. Badan Standarisasi

1. Federal Communication Commission (FCC)

Federal Communiation Commission (FCC) adalah sebuah perwakilan independen dari pemerintah Amerika Serikat, didirikan oleh Communication Act pada tahun 1943.

FCC berhubungan dengan peraturan peraturan dibidang komunikasi yang menggunakan radio, televisi, wire, satelit, dan kabel baik di wilayah Amerika sendiri maupun untuk international.

FCC membuat peraturan yang didalamnya berisi perangkat perangkat wireless LAN mana yang dapat beroperasi. FCC menentukan pada spectrum frequency radio yang mana wireless LAN dapat berjalan dan seberapa besar power yang dibutuhkan, teknologi transmisi mana yang digunakan, serta bagaimana dan dimana berbagai jenis hardware wireless LAN dapat digunakan.

2. Internet Engineering Task Force (IETF)

IETF adalah komunitas terbuka, yang anggota anggota nya terdiri atas para peneliti, vendor, dan perancangan jaringan. Tujuan IETF adalah mengkoordinasikan pegoperasian, pengelolaan, dan evolusi internet, dan memecahkan persoalan arsitektural dan protokol tingkat menengah. IETF mengadakan pertemuan tiga kali setahun

(42)

dan laporan hasil pertemuan pertemuan itu secara lengkap termasuk kedalam IETF proceedings.

3. Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) adalah pembuat kunci standar dari hampir semua hal yang berhubungan dengan teknologi dan informasi di Amerika Serikat. IEEE membuat standar dengan peraturan yang telah ditetapkan oleh FCC. IEEE telah menspesifikasikan begitu banyak standar teknologi. Seperti Public Key cryptography (IEEE 1363), Ethernet (IEEE 802.3), dan untuk Wireless LAN dengan standar IEEE 802.11. (Gunadi, 2009)

2.4.4. Standar Wireless LAN

Standar yang lazim digunakan untuk WLAN adalah 802.11 yang ditetapkan oleh IEEE pada akhir tahun 1990. standar 802.11 kemudian dibagi menjadi tiga jenis, yaitu :

1. IEEE 802.11a

Menggunakan teknik modulasi Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) dan berjalan pada frekuensi 5 GHz dengan kecepatan transfer data mencapai 54 Mbps.

Kelebihan dari standar ini adalah kecepatan transfer data yang lebih tinggi dan lebih kecil potensi terjadinya interferensi dari perangkat nirkabel lainnya karena frekuensi ini jarang digunakan. Kelemahannya antara lain

(43)

membutuhkan biaya yang lebih besar, jarak jangkuan lebih pendek karena frekuensi tinggi dan juga dapat menyebabkan sinyal mudah diserap oleh benda penghalang seperti tembok.

2. IEEE 802.11b

Menggunakan teknik modulasi direct sequence spread sprectrum (DSSS) dan berjalan pada pita frekuensi 2,4 Ghz dengan kecepatan transfer 11 Mbps. Kelebihan dari standar ini adalah biaya implementasi yang lebih sedikit dan jarak jangkauan yang lebih baik. Kelemahannya adalah kecepatan transfer yang lebih lambat dan rentan terhadap interferensi karena frekuansi 2,4 GHz juga banyak digunakan oleh perangkat lainnya.

3. IEEE 802.11g

Menggunakan teknik modulasi OFDM dan DSSS sehingga memiliki karakteristik dari kedua standar 802.11b dan 802.11a. Standar ini bekerja pada frekuensi 2.4 GHz dengan kecepatan transfer data mencapai 54 Mbps tergantung dari jenis modulasi yang digunakan. Kelebihan dari standar ini adalah kecepatan transfer data yang tinggi (menyamai standar 802.11a), jarak jangkauan yang cukup jauh dan lebih tahan terhadap penyerapan oleh material tertentu karena bekerja pada frekuensi 2,4 GHz. Kelemahannya adalah rentan

(44)

terhadap interferensi dari perangkat nirkabel lainya. (Gunadi, 2009)

Secara umum perbandingan diantara standar WLAN yang dimaksud dapat dijabarkan seperti pada table 2.1 berikut:

Tabel 2.1 Perbandingan Standar Wireless LAN (Sumber: Gunadi, 2009)

802.11b 802.11a 802.11g 802.11n Standard

approved

July 1999

July 1999

June 2003

Not yet ratified Maximum

data rate 11 Mbps 54 Mbps 54 Mbps 600 Mbps

Modulation DSSS or

CCK OFDM

DSSS or CCK or OFDM

DSSS or CCK or OFDM RF band 2,4 GHz 5 GHz 2,4 GHz 2,4 GHz or

5 GHz Number of

spatial streams

1 1 1 1, 2, 3, or

4 Channel

width 20 MHz 20 MHz 20 MHz 20 MHz or

40 MHz Compatible

with … 802.11 b 802.11 a 802.11 b/g

802.11 b/g/n

2.4.5. Protokol Jaringan Wireless

Tekonologi utama yang banyak digunakan untuk membuat

(45)

jaringan nirkabel adalah keluarga protokol 802.11, dikenal juga sebagai Wi-Fi. Keluarga protokol 802.11 dari protokol radio (802.11a,802.11b, dan 802.11g) telah menikmati popularitas yang luar biasa di Amerika Serikat dan Eropa. Dengan menggunakan keluarga protokol yang sama, para produsen di seluruh dunia telah membuat peralatan yang saling interoperable. Keputusan ini telah tebukti menjadi anugrah yang luar biasa terhadap industri dan para konsumen. Konsumen dapat memakai peralatan yang menggunakan 802.11 tanpa harus takut terhadap ketergantungan terhadap suatu pedagang. Hasilnya, konsumen bisa membeli peralatan murah dalam volume yang sudah menguntungkan para produsen. Jika para produsen memilih untuk tetap memakai protokol mereka sendiri, sepertinya tidak mungkin jaringan nirkabel dapat semurah dan bisa ada dimana-mana seperti sekarang ini.

Sementara protokol-protokol baru seperti 802.16 (dikenal juga sebagi WiMax) Di penulisan, kami akan fokus pada keluarga 802.11.

Selain dari standar di atas, ada beberapa pengembangan pada peralatan, kecepatan yang tinggi, enkripsi yang lebih kuat, dan jangkauan lebih jauh, yang vendor-specific. Sayangnya pengembangan ini tidak bisa bekerja di antara peralatan-peralatan dari produsen lain, dan membeli mereka berarti mengharuskan

(46)

anda memakai pedagang itu di semua bagian jaringan anda.

Peralatan dan standar baru(seperti 802.11y, 802.11n, 802.16, MIMO dan WiMAX) menjanjikan pertambahan kecepatan dan bisa diandalkan yang signifikan, tetapi peralatan ini baru mulai dijual ketika penulisan ini dimulai, dan ketersediaan barang dan kecocokan dengan peralatan lain masih belum pasti.Karena ketersediaan peralatan dimana-mana dan sifatnya yang tidak perlu ijin dari 2.4 GHz ISM band, buku ini akan fokus pada membuat jaringan menggunakan 802.11b dan 802.11g.

2.4.6. Jaringan Wireless 802.11

Sebelum paket dapat diteruskan dan diarahkan ke Internet, lapisan pertama (fisik) dan kedua (data link) harus terhubung.

Tanpa konektivitas sambungan lokal, node di jaringan tidak dapat berbicara satu sama lain dan merouting paket.

Untuk menyediakan konektivitas fisik, perangkat jaringan nirkabel harus beroperasi di frekunsi yang sama dari spektrum radio. Ini berarti bahwa radio 802.11a akan berbicara dengan radio 802.11a di sekitar 5 GHz, dan 802.11b / g akan berbicara dengan radio 802.11b/g lainnya di sekitar 2,4 GHz. Tetapi 802.11a sebuah perangkat tidak dapat interoperate dengan perangkat 802.11b/g, karena mereka menggunakan bagian spektrum elektromagnetik yang berbeda.

Secara khusus, card wireless harus setuju untuk

(47)

menggunakan saluran yang sama. Jika sebuah card radio 802.11b diset ke saluran 2 sementara yang lain menggunakan saluran 11, maka radio tersebut tidak dapat berkomunikasi satu sama lain.

Ketika dua card wireless yang dikonfigurasi untuk menggunakan protokol yang sama pada saluran radio yang sama, maka mereka siap untuk bernegosiasi konektivitas pada lapisan data link. Setiap perangkat 802.11a/b/g dapat beroperasi menggunakan salah satu dari empat kemungkinan mode:

1. Modus Master (AP / mode infrastruktur)

Digunakan untuk memberikan layanan seperti jalur akses tradisional. Card nirkabel membuat jaringan dengan nama tertentu (disebut SSID) dan kanal tertentu, dan menawarkan layanan untuk jaringan tersebut. Sementara dalam master mode, card nirkabel mengatur semua komunikasi yang berhubungan dengan jaringan (authenticating klien nirkabel, penanganan perebutan kanal, pengulangan paket, dl ). Card wireless pada mode master hanya dapat berkomunikasi dengan card yang terkait dengan itu di modus managed.

2. Modus Managed(Modus Klien)

Card nirkabel di modus Managed akan bergabung dengan jaringan yang diciptakan oleh master, dan secara otomatis akan menyesuaikan ke kanal yang digunakan

(48)

master. Mereka kemudian mengirimkan data kepercayaan (credential) kepada master, dan jika data kepercayaan diterima, mereka dikatakan berasosiasi (associated) dengan master. Card dalam Modus Managed tidak berkomunikasi dengan satu sama lain secara langsung, dan hanya akan berkomunikasi dengan master.

3. Modus ad-hoc

Membuat jaringan multipoint-to-multipoint di mana tidak ada satu master node atau AP. Dalam modus ad-hoc, setiap card nirkabel berkomunikasi langsung dengan tetangga. Node harus dalam jangkauan satu sama lainnya untuk berkomunikasi, dan harus setuju pada nama jaringan (SSID) dan kanal yang digunakan.

4. Modus monitor

Digunakan oleh beberapa alat seperti Kismet, untuk dapat secara pasif mendengarkan trafik data yang lewat pada satu saluran radio tertentu. Pada mode monitor, card nirkabel tidak dapat transmit / mengirim data. Hal ini berguna untuk menganalisis masalah pada sambungan nirkabel atau memerhatikan penggunaan spektrum di jaringan lokal. Modus monitor biasanya tidak digunakan untuk komunikasi.

Ketika mengimplementasi sambungan point-to-point atau point-to-multipoint, sebuah radio biasanya akan beroperasi dalam

(49)

modus master, sedangkan yang lain beroperasi pada modus managed. Dalam jaringan multipoint-to-multipoint mesh, semua radio beroperasi pada modus ad-hoc sehingga mereka dapat berkomunikasi satu sama lain secara langsung.Penting untuk mengerti berbagai mode tersebut ketika merancang tata letak jaringan anda. Ingat bahwa klien pada modus managed tidak dapat berkomunikasi satu sama lain secara langsung, sehingga kemungkinan anda akan menjalankan situs repeater pada modus master atau modus ad-hoc. Seperti yang akan kita lihat di bab ini, ad-hoc lebih fleksibel tetapi memiliki jumlah kinerja sebagai masalah dibandingkan dengan menggunakan modus master / managed.

2.5. Debian GNU/Linux

Debian adalah salah satu distro linux yang ada di dunia, yang mana debian dibangun oleh komunitas yang sangat besar yang tidak dibayar oleh perusahaan mana pun. Misi utama Debian adalah membuat suatu distro Linux yang handal, aman, dan tangguh untuk menjalankan berbagai keperluan server dalam suatu jaringan.

Pada pelatihan ini kita menggunakan Debian GNU/Linux 3.1 (Sarge).

Versi ini adalah versi testing debian yang masih dipakai sampai saat ini.

Beberapa kelebihan yang dapat kita temukan pada debian adalah:

1. Debian menyediakan paket-paket program dalam jumlah yang sangat

(50)

besar, yakni (untuk release Sarge) sekitar 15750 paket program.

2. Instalasi/deinstalasi paket-paket tersebut sangat mudah, yakni selain dengan menggunakan dpkg, kita juga bisa menggunakan apt. Dengan apt kita dapat menyebutkan dari sumber mana kita akan memperoleh paket-paket program yang kita gunakan dalam instalasi entah itu melalui CD, atau melalui mirror yang tersebar di seluruh dunia. Tentu saja untuk menggunakan fasilitas mirror ini kita harus mempunyai koneksi internet.

3. Secara desain, konfigurasi yang perlu dilakukan di Debian cukup sederhana walaupun mungkin bagi pemula hal ini tidak begitu terasa.

4. Mempunyai tim update keamanan program-program paket Debian yang sangat sigap, sehingga hampir dapat dipastikan bahwa jarak antara ditemukannya lubang keamanan pada suatu software dengan keluarnya perbaikan untuk lubang itu kurang dari 24 jam. Hal ini sangat membantu kita dalam membantu mengatur keamanan yang ada pada server-server kita. Pusat keamanan Debian dapat dilihat pada http://security.debian.org.

Selain kelebihan yang telah disebutkan di atas, Debian juga memiliki beberapa kekurangan di antaranya:

1. Program-program yang terdapat pada release stable tidak akan diupdate sampai dengan release stable yang berikutnya sehingga program-program ini cepat terasa tua/ketinggalan jaman.

2. Tidak terdapat GUI(Graphical User Interface) yang dapat digunakan

(51)

untuk memanajemen beberapa aspek software/hardware pada Debian sehingga bagi pemula mempelajari Debian pada awalnya akan terasa sangat sulit.

2.6. Server

2.6.1. Definisi Server

Server adalah sebuah sistem komputer yang menyediakan jenis layanan tertentu dalam sebuah jaringan komputer. Wagito (2007:23) menyebutkan bahwa “Server merupakan komputer berkecepatan tinggi dengan kapasitas memori (RAM) dan simpanan yang besar, dan dihubungkan dengan kartu jaringan yang cepat (fast network). Server juga memiliki tanggung jawab untuk mengelola dan pusat bagi banyak komputer lainnya (client). Oleh karena itu sesuai dengan pendapat Wagito bahwa komputer Server haruslah memiliki spesifikasi yang lebih tinggi dari pada client- clientnya. Hal tersebut didukung oleh pendapat Adibowo (2010) mengenai definisi server yaitu:

Server adalah sebuah sistem komputer yang menyediakan jenis layanan tertentu dalam sebuah jaringan komputer. Server didukung dengan prosesor yang bersifat scalable dan RAM yang besar, juga dilengkapi dengan sistem operasi khusus, yang disebut sebagai sistem operasi jaringan atau network operating system.

Server juga menjalankan perangkat lunak administratif yang

(52)

mengontrol akses terhadap jaringan dan sumber daya yang terdapat di dalamnya, seperti halnya berkas atau alat pencetak (printer), dan memberikan akses kepada workstation anggota jaringan.

2.6.2. Karakteristik Server

Sistem operasi Server yang beredar di masyarakat adalah Windows NT 3.51, dan dilanjutkan dengan Windows NT 4.0. Saat ini sistem yang cukup populer adalah Windows 2000 Server dan Windows Server 2003, kemudian Sun Solaris, Unix, dan GNU/Linux. Server biasanya terhubung dengan client dengan kabel UTP dan sebuah Network Card. Kartu jaringan ini biasanya berupa kartu PCI atau ISA.

2.6.3. Fungsi dan Layanan Server

Fungsi Server sangat banyak, misalnya untuk situs internet, ilmu pengetahuan, atau sekedar penyimpanan data. Namun yang paling umum adalah untuk mengkoneksikan komputer client ke Internet. Selain itu Server memiliki macam-macam jenis dan layanan, diantaranya :

1. Samba Server 2. FTP Server 3. DNS Server 4. Web Server 5. Mail Server 6. Proxy Server

(53)

2.7. Pengertian Proxy 2.7.1. Definisi Proxy

Proxy adalah mekanisme dimana satu sistem menyediakan diri untuk sistem lain sebagai tanggapan atas permintaan untuk suatu protokol. Sistem proxy digunakan dalam pengelolaan jaringan untuk mencegah implementasi tumpukan protokol sepenuhnya dalam perangkat yang sederhana misal sebuah modem.

(Wahana Komputer, 2004:431) 2.7.2. Pengertian Proxy Server

Proxy Server adalah perantara yang bertindak baik sebagai client maupun server, dengan tujuan membuat permintaan atas nama client lain. Permintaan dilayani secara internal atau dengan melewatkannya ke server lain (mungkin setelah diterjemahkan).

(Wahana Komputer, 2004:431) 2.7.3. Karakteristik Proxy

Menurut Risanuri (2011) yang berpendapat mengenai definisi proxy yaitu:

Proxy dapat dipahami sebagai pihak ketiga yang berdiri ditengah-tengah antara kedua pihak yang saling berhubungan dan berfungsi sebagai perantara, sedemikian sehingga pihak pertama dan pihak kedua tidak secara langsung berhubungan, akan tetapi masing-masing berhubungan dengan perantara, yaitu proxy.

Proxy Server bertindak sebagai gateway terhadap dunia

(54)

internet untuk setiap komputer klien. Proxy Server tidak terlihat oleh komputer klien: seorang pengguna yang berinteraksi dengan internet melalui sebuah Proxy Server tidak akan mengetahui bahwa sebuah Proxy Server sedang menangani request yang dilakukannya.

2.7.4. Cara Kerja Proxy

Web Server yang menerima request dari Proxy Server akan menginterpretasikan request-request tersebut seolah-olah request itu datang secara langsung dari komputer klien, bukan dari Proxy Server. Proxy Server juga dapat digunakan untuk mengamankan jaringan pribadi yang dihubungkan ke sebuah jaringan publik (seperti halnya Internet).

2.7.5. Fungsi Proxy

Proxy Server memiliki lebih banyak fungsi daripada router yang memiliki fitur packet filtering karena memang Proxy Server beroperasi pada level yang lebih tinggi dan memiliki kontrol yang lebih menyeluruh terhadap akses jaringan. Proxy Server yang berfungsi sebagai sebuah "agen keamanan" untuk sebuah jaringan pribadi, umumnya dikenal sebagai firewall.

2.8. SQUID

2.8.1. Definisi SQUID

Squid adalah sebuah daemon yang digunakan sebagai Proxy

(55)

Server dan Web cache. Squid memiliki banyak jenis penggunaan, mulai dari mempercepat Server Web dengan melakukan caching permintaan yang berulang-ulang, caching DNS, caching situs Web, dan caching pencarian komputer di dalam jaringan untuk sekelompok komputer yang menggunakan sumber daya jaringan yang sama, hingga pada membantu keamanan dengan cara melakukan penyaringan (filter) lalu lintas data yang melalui jaringan.

2.8.2. Sejarah SQUID

Squid pada awalnya dikembangkan oleh Duane Wessels sebagai "Harvest object cache", yang merupakan bagian dari proyek Harvest yang dikembangkan di University of Colorado at Boulder. Pekerjaan selanjutnya dilakukan hingga selesai di University of California, San Diego dan didanai melalui National Science Foundation. Squid kini hampir secara eksklusif dikembangkan dengan cara usaha sukarela.

2.8.3. Karakteristik SQUID

Squid umumnya didesain untuk berjalan di atas sistem operasi mirip UNIX, meski Squid juga bisa berjalan di atas sistem operasi Windows. Karena dirilis di bawah lisensi GNU General Public License, maka Squid merupakan perangkat lunak bebas.

2.8.4. Fungsi dan Fitur SQUID 1. Caching

(56)

Caching merupakan sebuah cara untuk menyimpan objek-objek Internet yang diminta (seperti halnya data halaman Web) yang bisa diakses melalui HTTP, FTP dan Gopher di dalam sebuah sistem yang lebih dekat dengan situs yang memintanya.

Beberapa penjelajah Web dapat menggunakan cache Squid lokal untuk sebagai Server Proxy HTTP, sehingga dapat mengurangi waktu akses dan juga tentu saja konsumsi bandwidth. Hal ini sering berguna bagi para penyedia layanan Internet untuk meningkatkan kecepatan kepada para pelanggannya, dan LAN yang membagi saluran Internet.

Karena memang bentuknya sebagai Proxy (ia berlaku sebagaimana layaknya klien, sesuai dengan permintaan klien), Web cache bisa menyediakan anonimitas dan keamanan.

2. Transparent

Risanuri (2011) menyebutkan fungsi dari Transparent pada Server Proxy SQUID adalah:

Transparent proxy dapat berguna untuk “memaksa pengguna” menggunakan proxy/cache server, karena pengguna benar-benar tidak mengetahui tentang keberadaan proxy ini, dan apapun konfigurasi pada sisi pengguna, selama proxy server ini berada pada jalur jaringan yang pasti dilalui

(57)

oleh pengguna untuk menuju ke internet, maka pengguna pasti dengan sendirinya akan “menggunakan” proxy/cache ini.

Dari definisi tersebut didapatkan beberapa manfaat dari transparent yaitu:

a. Kemudahan administrasi jaringan, dengan artian browser yang digunakan klien tidak harus dikonfigurasi secara khusus yang menyatakan bahwa mereka menggunakan fasilitas proxy yang bersangkutan.

b. Sentralisasi kontrol, dengan artian, pergantian metode bypass proxy maupun penggunaan proxy oleh klien dapat dilakukan secara terpusat.

3. Anonymous

Squid memiliki banyak fitur yang bisa membantu melakukan koneksi secara anonim, seperti memodifikasi atau mematikan beberapa field header tertentu dalam sebuah permintaan HTTP yang diajukan oleh klien. Saat itu terpenuhi, apa yang akan dilakukan oleh Squid adalah tergantung orang yang menangani komputer yang menjalankan Squid. Orang yang meminta halaman Web melalui sebuah jaringan yang secara transparan yang menggunakan biasanya tidak Mengetahui bahwa informasi semua permintaan HTTP yang mereka ajukan dicatat oleh

(58)

Squid.

4. Gateway

Squid dapat digunakan untuk melakukan penyaringan izin terhadap suatu domain. Juga mampu memforward tujuan akses client dari situs A ke situs B, juga dengan fasilitas ACL dapat melakukan blok terhadap client tertentu, waktu tertentu, dan tujuan tertentu.

5. Bandwidth Limiter

Dengan Fasilitas Delay Pools dari SQUID diklaim merupakan salah satu Bandwidth Limiter yang terbaik diantara yang lain, karena mampu melakukan limitasi Bandwidth terhadap file-file spesifik, buffer video, streaming, dan juga fasilitas auto schedule untuk pergantian limitasi Bandwidthsesuai keinginan administrator.

2.8.5. Delay Pools

Delay pools merupakan salah satu fasilitas squid untuk membatasi bandwidth yang dikonsumsi client, delay pools juga adalah opsi untuk menspesifikasi berapa jumlah pool yang digunakan untuk membatasi jumlah bandwidth dari ACL tertentu.

ACL (Access Control List), sederhananya digunakan untuk mengijinkan atau tidak paket host menuju ke tujuan tertentu. ACL terdiri atas aturan-aturan dan kondisi yang menentukan trafik jaringan dan menentukan proses nantinya akan dilewatkan atau

(59)

tidak. Sebelum mulai mengkonfigurasi delay pools, harus dipersiapkan terlebih dahulu aplikasi squid yang sudah dikompilasi dengan support delay pools. Beberapa distro besar seperti RedHat/Mandrake biasanya sudah di atur support delay pools. Bila tidak, dapat dikompilasi sendiri/manual. Biasanya delay pools akan dirangkaikan bersama opsi-opsi yang lain, yaitu:

Delay class, opsi ini menspesifikasikan dari masing- masing pool yang telah didefinisikan pada opsi delay pools. Ada 3 class yang didukung squid, antara lain:

1. Class 1, Akses dibatasi dengan single bucket, artinya hanya bisa mendefinisikan overall bandwidth untuk suatu ACL saja, tidak bisa mendefinisikan bandwidth dengan lebih mendetail.

2. Class 2, Semua akses dibatasi dengan single agregate dengan dua parameter bandwidth. Parameter pertama mendefinisikan berapa bandwidth maksimal yang didapatkan ACL, parameter kedua mendefinisikan berapa bandwidth overall untuk ACL yang spesifik yang ada pada network tersebut.

3. Class 3, Kelompok yang definisi bandwidth-nya paling mendetail. Parameter pertama mendefinisikan berapa bandwidth maksimal yang didapatkan ACL, parameter kedua mendefinisikan berapa bandwidth normal yang didapatkan ACL secara umum, dan parameter yang ketiga adalah mendefinisikan bandwidth yang didapatkan ACL jika

Gambar

Gambar 2.1 Mode Jaringan Ad-Hoc  (Sumber: http://oc.its.ac.id/ambilfile.php?idp=153)  2
Gambar 2.2 Model Jaringan Infrastruktur  (Sumber : http://oc.its.ac.id/ambilfile.php?idp=153)  2.4.2
Gambar 2.3 Diagram Access Point yang Terhubung ke Jaringan.
Gambar 2.5 Penggunaan Extension Point
+7

Referensi

Dokumen terkait

Panitia Pengadaan Barang/Jasa Satuan Kerja Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Aceh Tamiang Sumber Dana APBK Aceh Tamiang Tahun Anggaran 2011 mengundang Penyedia

Perputaran piutang secara langsung tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas (Studi Kasus pada Perusahaan Pembiayaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

Tabel 4.28 Perubahan Tabel Transportasi Akibat Variabel x 12 Dijadikan Basic Variable – Iterasi 2

Makcik kamu ingin belikan buku untuk kamu.Beliau meminta kamu memilih buku yang kamu suka?. Tulis mesej bersama tiga sebab mengapa kamu memilih

(1) Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan minat belajar IPA materi Struktur Bumi dan Matahari pada siswa kelas V SD Negeri Pesayangan 01 antara pembelajaran

Hasil uji aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol buah mengkudu dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus Aureus dan Escherichia Coli memperlihatkan bahwa

[r]

– Speedup adalah perbandingan antara waktu yang diperlukan algoritma sekuensial yang paling efisien untuk melakukan komputasi dengan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan