1.1 Latar Belakang Masalah
Sejarah menunjukkan adanya peranan saling memengaruhi antara matematika dan fisika. Banyak fisikawan mencurahkan perhatian mereka dalam menggali lebih jauh aspek-aspek matematis yang muncul dalam suatu teori, atau bahkan membangun kerangka matematis sebagai alternatif dalam menjelaskan suatu teori. Albert Einstein dan Paul Dirac, dalam usahanya membangun formalisme teorinya, memahami bahwa kebutuhan baik kerangka maupun piranti matematis tidak dapat diabaikan. Teori Re- lativitas membutuhkan konsep keragaman Semi-Riemannan untuk dapat menjelaskan struktur ruang-waktu dengan lebih rinci. Teori Distribusi dan fungsi diperumum (ge- neralized function) diinisiasi oleh kelahiran distribusi delta Dirac yang pada awalnya digunakan Dirac dalam menjelaskan rapat muatan partikel titik. Dengan demikian, penjelajahan untuk memperkaya khazanah berpikir matematis menjadi bagian pen- ting dalam upaya memperluas teori fisika.
Salah satu konsep matematika yang sangat kuat mengakar dalam berbagai te- ori fisika adalah geometri. Geometri pada awalnya merupakan cabang fisika, namun setelah fakta-fakta empiris geometri telah mencukupi, geometri bergeser menjadi ba- gian dari matematika karena segala hal dalam geometri dapat diperoleh secara na- lar melalui inferensi berdasarkan aksioma-aksioma terbatas. Pergeseran lintas ilmu yang dialami oleh geometri ini mendorong Hilbert untuk mempertanyakan kemung- kinan terjadinya perilaku serupa pada bidang fisika yang lain misalnya elektrodinami- ka. Pertanyaan Hilbert ini mengilhami suatu upaya yang disebut aksiomatisasi fisika dan masuk dalam daftar permasalahan-permasalahan Hilbert yang mashur. Penerap- an geometri dalam perumusan teori fisika
1dapat dipandang sebagai upaya menjawab permasalahan Hilbert mengenai aksiomatisasi ini.
Mekanika geometrik yang merupakan hasil geometrisasi mekanika klasik men- jadi salah satu contoh penting penerapan geometri dalam fisika. Gambaran geometri mekanika klasik menggunakan geometri simplektik ini pertama-tama digagas oleh Poincare pada 1892 dalam usahanya membuktikan kestabilan sistem tata surya secara kualitatif. Poincare meninjau aspek geometri global sistem mekanis dengan meng-
1hal ini dikenal juga sebagai upaya geometrisasi.
1
gambarkannya sebagai suatu medan vektor dalam ruang fase sedemikian rupa sehing- ga solusinya berupa kurva diferensiabel yang menyinggung setiap titik pada ruang fase tersebut. Gambaran kualitatif sistem tersebut diwakili oleh suatu objek yang di- sebut phase portrait, yakni himpunan seluruh kurva-kurva solusi yang mengisi penuh seluruh ruang fase. Karya tersebut menunjukkan bahwa peninjauan geometri ruang fase secara global sangat penting dalam kajian mekanika. Perkembangan yang dicapai selanjutnya adalah simpulan bahwa ruang fase klasik ini memiliki struktur sebagai su- atu keragaman simplektik, sehingga upaya peninjauan aspek-aspek gerak pada tataran keragaman mulai dilakukan. Hal ini dilakukan pada periode sekitar 1900-1950an oleh Liapounov, Caratheodory, Whittaker, Cartan, Noether, Kolmogorov, Smale dan se- bagainya [Abraham dan Marsden , 1978].
Pencapaian terpenting bagi upaya geometrisasi mekanika klasik dicapai pada tahun 1960an oleh Arnold, Abraham, Marsden dan lainnya dengan membangun gam- baran geometrik mekanika secara utuh. Mereka telah berhasil menunjukkan bahwa keseluruhan fakta mengenai perilaku dinamik suatu sistem mekanis dapat digambark- an oleh forma simplektik pada ruang fase tersebut. Besaran mekanis, persamaan gerak dan hukum kelestarian secara alamiah dapat dipahami ataupun diturunkan dari forma simplektik dengan cara yang lengkap dan elegan. Penelitian yang dilakukan selan- jutnya adalah usaha memperluas peranan geometri simplektik untuk menggambark- an teori-teori lain diluar mekanika klasik. Perumusan simplektik yang telah berhasil dilakukan misalnya adalah pada persamaan medan Einstein [Ashtekar dan Horowi- tz , 1982], mekanika fluida dan fisika plasma [Holm dkk. , 1985], teori elastisitas [Marsden dan Hughes , 1994], persamaan Maxwell-Vlasov [Morrison , 1980], dan geometrisasi mekanika kuantum [Kibble , 1979], [Ashtekar dan Schilling , 1995].
Pada perkembangan selanjutnya dilakukan perumuman fondasi matematik me- kanika geometrik, yakni dengan merumuskannya pada keragaman Poisson dan Jacobi yang merupakan perumuman bagi keragaman simplektik. Kirilov berhasil menun- jukkan bahwa setiap keragaman Poisson serta keragaman Jacobi sejatinya merupakan gabungan dari beberapa keragaman simplektik yang 'direkatkan' secara diferensiabel.
Hal tersebut menjadikan keduanya dapat dipakai sebagai kerangka geometrik sistem mekanik dengan ruang fase yang berubah seiring perubahan suatu parameter, misal- nya pada masalah tiga benda dengan parameter berupa massa benda ketiga m
3dan sistem kuantum dengan parameter tetapan Planck ~ [Puta , 1993].
Keuntungan yang diperoleh ketika suatu teori dapat dirumuskan dalam geome-
tri simplektik adalah dimungkinkannya proses pengkuantuman geometrik untuk dite-
rapkan padanya [Woodhouse , 1977]
2. Pengkuantuman geometrik merupakan salah satu metode pengkuantuman yang konsisten dan lahir sebagai upaya penyempurnaan bagi pengkuantuman kanonik yang biasa digunakan dalam pembahasan mekanika ku- antum. Pengkuantuman kanonik yang diperkenalkan oleh Dirac secara matematis ter- bukti tidak konsisten, Groenewold [1946] berhasil menemukan suatu 'no-go theorem' yang menyatakan bahwa pengkuantuman kanonik Dirac tidak mungkin berlaku secara umum. Hasil Groenewold ini mendorong van Hove dan Segal pada awal 1960an un- tuk melakukan revisi terhadap pengkuantuman kanonik dengan menghapuskan syarat regularitas wakilan. Usaha untuk membangun pengkuantuman yang konsisten dipari- purna oleh Kostant [1970] dan Souriou [1970]. Hasil terpisah Kostant-Souriou inilah yang sekarang dikenal dengan pengkuantuman geometrik.
Metode pengkuantuman geometrik yang diajukan Kostant-Souriou ini terbukti konsisten secara matematik karena menyajikan prosedur pengkuantuman yang bebas koordinat dan invarian terhadap alih ragam kanonik. Metode ini juga mudah dapat diterapkan untuk sistem-sistem terkendala dan berderajat kebebasan internal. Da- lam mekanika kuantum terdapat beberapa metode pengkuantuman (misalnya wakilan Schoedinger, wakilan Bergmann-Fock dan lain-lain), pengkuantuman geometrik me- nyediakan kerangka penyatuan bagi metode-metode itu [Echeverria-Enriquez dkk. , 1999].
Disamping segala kelebihan terkait isu konsistensi di atas, pengkuantuman geometrik tak terlepas dari beberapa kekurangan yang memungkinkan dilakukan- nya pengembangan lebih lanjut. Sejauh ini pengkuantuman geometrik baru berha- sil dikembangkan secara lengkap untuk meninjau sistem-sistem berdimensi berhing- ga. Keberhasilannya pada sistem-sistem berdimensi tak berhingga masih berkutat pada kasus-kasus sistem linier terutama teori medan yang terlinierkan, misalkan yang dikerjakan oleh Woodhouse [1977] dalam meninjau pengkuantuman medan Klein- Gordon di sekitar lubang hitam, Axelrod dkk. [1991] dalam upaya pengkuantuman teori Chern-Simmons dan Clader dkk. [2013] dalam pengkuantuman teori Seiberg- Witten. Kesulitan pengkuantuman untuk kasus non-linier kemungkinan dipicu oleh kerumitan-kerumitan yang ada pada keragaman berdimensi tak berhingga dan belum tuntasnya peninjauan mekanika geometrik padanya [Abraham dan Marsden , 1978], [Chernoff dan Marsden , 1974].
2pada saat ini perumusan pengkuantuman geometrik pada keragaman Poisson dan keragaman Ja- cobi telah ditemukan, masing-masing oleh Vaisman [1991] dan de Leon dkk. [1997]. Tinjauan peng- kuantuman geometrik pada keragaman Poisson beserta penerapannya dibahas oleh Rosyid [2005a]