LAPORAN
PENELITIAN DASAR UNIVERSITAS LAMPUNG
OPTIMALISASI MEDIA PEMBELAJARAN V-CLASS UNIVERSITAS LAMPUNG:
APLIKASI METODE PEMBELAJARAN BERBASIS E-LERNING PADA MATA KULIAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG 2021
Judul Penelitian : Optimalisasi Media Pembelajaran V-Class Universitas Lampung: Aplikasi Metode Pembelajaran Berbasis E-Lerning Pada Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan
Tim Peneliti :
No Nama Jabatan Bidang
Keahlian
Program Studi
Alokasi Waktu (jam/minggu) 1. Nurhayati,
S.Pd.,M.Pd.
Ketua PPKn PPKn 10
2. Yunisca
Nurmalisa, S.Pd.,M.Pd
Anggota IPS PPKn 8
1. Objek Penelitian (jenis material yang akan diteliti dan segi penelitian):
Media Pembelajaran V-Class Universitas Lampung; Aplikasi Metode Pembelajaran Berbasis E-Lerning
2. Masa Pelaksanaan
Mulai : bulan April tahun 2021 Berakhir : bulan Oktober tahun2021 3. Usulan Biaya : Rp. 20.000.000,-
4. Lokasi Penelitian : FKIP Universitas Lampung 5. Instansi lain : Tidak Ada
6. Kontribusi mendasar pada suatu bidang ilmu
Kontribusi penelitian ini ialah untuk memberikan khasanah ilmu bagi keilmuan dibidang teknologi komunikasi dan pendidikan pendidikan pancasila dan kewarganegaraan khususnya pada perbaikan mutu pembelajaran yang berbasis e-learning.
7. Jurnal ilmiah yang menjadi sasaran
Prosseding jurnal sicoupus di Atlantis Press Part Springer Nature (Indexed WoS), atau Journal sinta 3
RINGKASAN
OPTIMALISASI MEDIA PEMBELAJARAN V-CLASS UNIVERSITAS LAMPUNG:
APLIKASI METODE PEMBELAJARAN BERBASIS E-LERNING PADA MATA KULIAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
Virtual Class (V-Class) merupakan media pembelajaran yang digunakan oleh dosen dan mahasiswa di Universitas Lampung dengan system e-learning atau berbasis teknologi untuk menunjang pembelajaran menjadi lebih interaktif, efektif, dan efesien di masa pandemic sekarang ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui optimalisasi media pembelajaran V-class Universitas Lampung sebagai wujud dari aplikasi metode pembelajaran berbasis e-learning pada mata kuliah pendidikan kewarganegaraan yang diterapkan di Universitas Lampung. Metode penelitian yang digunakan ialah deskriptif kuantitatif dengan tehnik pengumpulan data kuesioner serta analisis data menggunakan presentase sederhana. Adapun jumlah responden yaitu 622 mahasiswa Universitas Lampung. Hasil yang didapat disajikan dan dideskripsikan dalam bentuk tabel distribusi sederhana. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa optimalisasi penggunaan media pembelajaran Vclass memberikan pengaruh pada pengaplikasian metode pembelajaran berbasis e-learning pada mata kuliah pendiidkan kewarganegaraan.
Kata Kunci : Media Pembelajaran V-class, E-learning, Pendidikan Kewarganegaraan
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
IDENTITAS DAN URAIAN UMUM ... ii
RINGKASAN ... iii
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR GAMBAR ... iv
BAB I PENDAHULUAN ... 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Tujuan Khusus Penelitian ... 2
1.3 Urgensi Penenlitian... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 2.1 Media Pembelajaran Virtual Class ... 3
2.2 E- Learning... 6
2.3 Pembelajaran PKN ... 9
2.4 Roadmap Penelitian ... 10
BAB III METODELOGI PENELITIAN ... 3.1 Metode Penelitian ... 12
3.2 Lokasi Penelitian ... 12
3.3 Populasi, Sample, dan Instrumen Pengumpulan Data ... 12
3.4 Teknik Analisis Data ... 12
BAB IV JADWAL DAN BIAYA PENELITIAN ... 4.1 Anggaran Biaya ... 23
4.2 Jadwal Penelitian ... 15 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Deskripsi Penyajian Data 5.2 Pembahsan
BAB VI PENUTUP 6.1 Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Proses pembelajaran tatap muka di sekolah bahkan ditingkat Universitas saat ini sangatlah tidak mungkin dilakukan hal ini dilatarbelkangi karena adanya pandemic covid 19 yang melanda dunia sehingga berdampak pada seluruh aspek kehidupan tak terkecuali pendidikan dalam aspek pembelajaran. Namun, karena perkembangan zaman dan teknologi yang semakin canggih maka, pembelajaran yang biasanya dilakukan secara konfensional tatap muka bergeser kepembelajaran secara virtual online yang dapat dilakukan dimanapun tidak terbatas ruang dan waktu.
Media pembelajaran Virtual Class atau V-class Universitas Lampung merupakan media pebelajaran berbasis e-learning yang ada di Universitas Lampung sejak tahun 2019. Sebelumnya media pembelajaran serupa sudah ada di Universitas lampung yaitu bernama Blended Learning pada tahun 2017 yang penggunaanya masih terfokus di fakultas keguruan dan ilmu pendidikan (FKIP) Universitas Lampung. V-class yang dimiliki oleh Univeristas Lampung merupakan bagian dari Learning Management System (LMS) yang tentunya terkoneksi dengan system Spada Indonesia Dikti secara nasional.
Penggunaan media pembelajaran V-class Unila berbasis e-learning ini didukung dengan fitur- fitur yang menunjang pembelajaran, contohnya video, buku refrensi, page, url, forum diskusi, kuis, tugas, dan masih banyak lagi. Adanya fitur-fitur ini tentunya membantu dosen dan mahasiswa dalam mengaktifkan pembelajaran yang berlangsung secara online namun, untuk penggunaan media v-class ini ternyata belum semua dosen menggunakan. Hal ini dikarenakan tentunya dilatarbelakangi oleh literasi digital yang kurang, usia dosen, dan juga system media pembelajaran yang dirasa belum terbiasa menggunakanya. Begitupun mahasiswa, ketika dosen tidak menggunakan V-class dalam pembelajaran mereka maka secara otomatis mahasiswa pun tidak akan familiar dan fasih untuk menggunakan v-class dalam pembelajaran. Namun, dosen yang menggunakan media pembelajaran v-class dengan maksimal, maka mahasiswa pun akan melaksanakan perkuliahan dengan maksimal. Untuk itulah perlu adanya penelitian mengenai optimalisasi media pembelajaran V-class Universitas Lampung terhadap aplikasi dan metode pembelajaran berbasis e-learning khusunya pada mata kuliah pendidikan kewarganegaraan, karena mata kuliah ini adalah mata kuliah wajib sehingga pastinya ada di seluruh fakultas di universitas universitas lampung.
1.2 Tujuan Khusus Penelitian
Penelitian ini secara khusus ingin mengetahui, menganalisis, dan mendeskripsikan optimalisasi penggunaan media v-class dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan, serta mengetahui bagaimana pengaplikasian metode pembelajaran pendidikan kewarganegaraan menggunakan media pembelajaran V-class Universitas Lampung.
1.3 Urgensi Penelitian
Penelitian ini sangat penting dilakukan untuk mengetahui bagaimana aplikasi dan metode pembelajaran berbasis e-learning menggunakan media pembelajaran V-class Universitas Lampung, terutama untuk mata kuliah pendidikan kewarganegaran. Harapannya penelitian ini dapat dijadikan rujukan bagi dosen, mahasiswa, dan pihak terkait untuk memaksimalkan atau menyempurnakan baik fitur ataupun metode pembelajaran berbasis e-learning menggunakan media V-Class Universitas Lampung agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Media Pembelajaran Virtual Class
Pendidikan dalam implementasi di lapangannya, menjadi sebuah kunci untuk keberlangsungan kehidupan dalam bermasyarakat. Berbicara mengenai sektor yang sangat vital, dalam hal ini pendidikan. Kita harus dapat memahaminya secara penuh, baik secara konseptual maupun operasional. Salah satu tujuan dari pendidikan adalah menciptakan pembelajaran yang efektif dan efesien bagi peserta didik, sehingga dalam prosesnya peserta didik dan pendidik sama-sama memiliki kenyamanan dalam pembelajaran. Kenyamanan dalam belajar itulah yang nantinya menjadi bekal bagi peserta didik ketika mendapatkan materi akan dengan mudahnya diterima.
Tentu, untuk mendapatkan pembelajaran yang efektif dan efesien dibutuhkannya media pembelajaran. Peranan media pembelajaran dalam proses belajar dan mengajar merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan (Tafonao, 2018). Artinya bahwa, penggunaan media pembelajaran tidak boleh diabaikan oleh pendidik itu sendiri.
Dunia pendidikan dewasa ini hidup dalam dunia media, di mana kegiatan pembelajaran telah bergerak menuju dikuranginya sistem penyampaian bahan pengajaran dengan metode ceramah dan diganti dengan digunakannya media pembelajaran (Miftah, 2013). Terdapat sebuah transformasi untuk kearah yang modern dalam pendidikan, tentu hal ini diambil karena melihat perkembangan zaman yang semakin canggih. Penggunaan media pembelajaran dapat membantu pencapaian keberhasilan belajar (Mahnun, 2012). Hal tersebut dapat sesuai harapan, ketika dalam pemilihan media pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan. Raharjo (1986) mengatakan pemilihan media hendaknya memperhatikan beberapa prinsip. Yaitu; (a) Kejelasan maksud dan tujuan pemilihan media, apakah untuk keperluan hiburan, informasi umum, pembelajaran dan sebagainya, (b) Familiaritas media, yang melibatkan pengetahuan akan sifat dan ciri-ciri media yang akan dipilih, dan (c) Sejumlah media dapat diperbandingkan karena adanya beberapa pilihan yang kiranya lebih sesuai dengan tujuan pengajaran. Sehingga, dari hal tersebut kitapun dapat menyimpulkan bahwa dalam memilih media pembelajaran tidak begitu saja dipilih melainkan ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan.
Mahnun (2012) menyebutkan bahwa media berasal dari bahasa latin medium yang berarti perantara atau pengantar. Artinya secara sederhana yakni media sebagai perantara dalam hal tertentu, untuk mencapai tujuan. Menurut AECT (Association of Education and Communication Technology) yang dikutip oleh Basyaruddin (2002) media adalah segala bentuk yang dipergunakan untuk proses penyaluran informasi. Berbagai macam bentuk yang pada intinya
bermanfaat. Media dalam arti sempit berarti komponen bahan dan komponen alat dalam sistem pembelajaran. Sedangkan dalam arti luas media berarti pemanfaatan secara maksimum semua komponen sistem dan sumber belajar di atas untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu (Miftah, 2013). Sehingga, dari pendapat ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa media itu sendiri sebagai perantara informasi yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu. Pada hal perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) saat ini sangat menolong para pendidik untuk lebih kreatif dalam membuat media. Sedangkan, istilah pembelajaran atau pengajaran (ungkapan yang lebih banyak dikenal sebelumnya), adalah upaya untuk membelajarkan pebelajar. Artinya bahwa, kita mengusahakan seseorang untuk belajar. Batasan pembelajaran secara implisit terdapat beberapa kegiatan, yaitu meliputi : kegiatan memilih, menetapkan, dan mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan.
Setelah di atas membahas mengenai sekilas konsep dari media dan pembelajaran. Selanjutnya, kita akan membahas mengenai media pembelajaran. Menurut Ruth Lautfer (1999) bahwa media pembelajaran adalah salah satu alat bantu mengajar bagi guru untuk menyampaikan materi pengajaran, meningkatkan kreatifitas siswa dan meningkatkan perhatian siswa dalam proses pembelajaran. Hal tersebut menandakan bahwa kreatifitas dari peserta didik dapat diasah melalui adanya media pembelajaran. Selanjutnya menurut Joni Purwono, dkk (2014) menjelaskan bahwa media pembelajaran memiliki peranan penting dalam menunjang kualitas proses belajar mengajar. Kualitas didapat saat pemilihan media sesuai dengan sasaran materi yang akan disampaikan di ruang kelas. Sedangkan menurut Steffi Adam dan Muhammad Taufik Syastra (2015) bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu baik berupa fisik maupun teknis dalam proses pembelajaran yang dapat membantu guru untuk mempermudah dalam menyampaikan materi pelajaran kepada siswa sehingga memudahkan pencapaian tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Berdasarkan dari pendapat ahli di atas, dapat kita simpulkan bahwa media pembelajaran merupakan perantara vital dalam membantu proses kegiatan akademik di dalam kelas maupun di luar kelas.
Kondisi perkembangan IPTEK yang sedemikian rupa, nampaknya perlu disikapi oleh elemen pendidikan. IPTEK harus dapat mampu dimanfaatkan oleh pendidik untuk menunjang SDM yang unggul. Perkembangan teknologi yang sangat pesat ini, harus selaras dengan peningkatan mutu SDM agar arah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menuju sasaran yang tepat (Mulyadi, 2015). Kemajuan dan perkembangan teknologi tidak dipungkiri memberikan perubahan pada proses-proses yang terjadi di masyarakat, tak terkecuali berkaitan dengan proses interaksi sosial, termasuk proses belajar mengajar atau proses pembelajaran (Prapunoto dkk, 2013). Pemanfaatan teknologi virtual juga sudah dapat dirasakan di dalam proses pembelajaran.
Pemanfaatan teknologi virtual sebagai media pembelajaran dalam dunia pendidikan sudah mulai
digunakan di kampus-kampus (Novantra, 2018). Dengan adanya teknologi dan informasi, segala permasalahan yang ada saat proses pengajaran dapat mendorong lahirnya berbagai inovasi atau alternative dalam teknologi pembelajaran. Sehingga, inovasi dan alternative itulah yang dapat digunakan untuk menunjang proses pendidikan kedepannya.
Salah satu inovasi proses belajar adalah dengan bantuan teknologi pemrograman berbasis web yang diaplikasikan kedalam virtual class (Napitupulu). Pada saat ini, virtual class sudah mulai dijadikan sebagai alternatif pembelajaran. Hal tersebut terjadi, karena pembelajaran tidak lagi terikat oleh ruang dan waktu. Terlebih pada situasi yang sedang pandemi covid-19 seperti sekarang ini. Virtual class lebih tepat ditujukan sebagai media pembelajaran tambahan selain buku dan transparansi. Virtual class dapat juga ditujukan sebagai usaha untuk membuat sebuah transformasi belajar mengajar di lembaga pendidikan yang berbentuk digital dan dijembatani oleh teknologi Internet. Pemanfaatan teknologi e-learning dalam hal ini virtual class pada dunia pendidikan akan mengubah pandangan dari proses kegiatan belajar mengajar berorientasi pada pengajar menjadi proses kegiatan belajar mengajar yang berorientasi pada kegiatan peserta didik di dalam virtual class tersebut (Budi, 2017). Konsep Virtual Class ini, menawarkan kesempatan yang lebih menjanjikan untuk melakukan kolaborasi, koneksi, akses terhadap informasi, visualisasi yang menarik, dan mendorong pihak-pihak yang terlibat untuk lebih produktif dan lebih cepat dalam memahami suatu pengetahuan (Suranto, 2009).
Tujuan dibuatnya aplikasi Virtual Class adalah mengembangkan media pengajaran berbasis web, untuk memudahkan dan mengefektifkan proses belajar mengajar. Pembuatan aplikasi virtual class ini melalui beberapa tahapan yaitu analisa masalah, merancang database dan tampilan input output, pembuatan program menggunakan PHP, MySQL, dan implementasi. Di dalam virtual class, terdapat jenis-jenisnya antara lain : 1. Learning Management System, merupakan perangkat lunak yang digunakan untuk perencanaan, pengiriman, serta pengelohan kegiatan pembelajaran, Learning Management System ada dua yakni proprierty dan open source. 2. Learning Content Management System, bekerja untuk membuat, memperbaruhi, mempublikasikan atau mengelola isi dari suatu sistem yang terorganisir di internet. 3. Social Learning Network, merupakan perkembangan lebih lanjut dari Learning Management System dan Learning Content Managament System.
Sementara itu, media pembelajaran berbasis teknologi informasi ini sudah mulai diterapkan di perguruan tinggi di Indonesia. Salah satunya di Universitas Lampung yang sudah mencoba untuk menggunakan Virtua Class. Aplikasi Virtual Class merupakan suplemen/ tambahan media pembelajaran elektronik yang berbasis web. Media ini sebagai alat penyaji informasi isi materi pelajaran, latihan. Materi pembelajaran yang akan disajikan di Virtual Class seharusnya dikemas
dan disajikan secara menarik sehingga siswa tidak mudah jenuh pada saat mengakses Virtual Class. Kegiatan yang dilakukan selama menerapkan Virtual Class adalah mahasiswa dapat menempati kelas dengan jadwal kuliah tertentu dan kelasnya yang khusus disediakan untuk pembelajaran secara virtual serta dilengkapi dengan peralatan lainnya. Dengan Virtual class ada interaksi antara mahasiswa dengan dosen yang dilakukan ditempat terpisah dengan syarat waktu belajar tetap disepakati bersama. Aplikasi Virtual Class yang akan dibuat diharapkan dapat sebagai alternatif media pembelajaran tambahan, selain buku sehingga mempermudah proses belajar mengajar, bahkan berguna sebagai sarana komunikasi antar mahasiswa dengan dosen maupun antar mahasiswa.
Sedangkan kegiatan yang dilakukan pengajar dalam sistem virtual class. Pelaksanaan V-Class di Universitas Lampung terkait dengan pengampu yang dalam hal ini adalah dosen. Tidak setiap dosen memiliki akses untuk dapat memberikan perkuliahan melalui v-class, hanya dosen tertentu yang sudah diberikan pelatihan khusus tentang penggunaan v-class yang dapat melakukannya.
Langkah- langkah registrasi akun V-Class di Universitas Lampung yaitu sebagai berikut: 1.
Akses url http://vclass.unila.ac.id 2. Login dengan menggunakan Username dan Password SSO anda 3. Dosen/Mahasiswa yang LUPA password SSO , atau memang BELUM memiliki user SSO , harap mendatangi UPT TIK, agar dibantu dibuatkan/reset akun SSO nya 4. Isi Profile Lengkap (Yang bertanda Merah Wajib diIsi ex: Nama, Email, City, Country) 5. Buka Email anda, pastikan bahwa ada email di INBOX anda dari system Vclass, Klik link konfirmasi tersebut, apabila tidak ada mail di INBOX periksa folder SPAM/BULK 6.
Update Kembali Profile anda untuk Finalisasi.
Gambar 1. Gambar 2.
2.2 E-Learning
Keberadaan internet saat ini, sudah tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Internet sudah menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat, yang sudah tak terelakan lagi saat ini. Hal ini tentu ditandai dengan canggih dan pesatnya perkembangan IPTEK. Masyarakat dunia telah cukup lama mengenal internet sebagai salah satu produk paling mengesankan dari TIK. Data
hasil survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2016 menunjukkan bahwa kalangan mahasiswa merupakan pengguna internet terbesar di Indonesia dengan 89,7%, dan urutan kedua pelajar dengan 69,8% namun akses terhadap laman pendidikan masih sangat kurang. Artinya bahwa, internet dalam hal digunakan untuk menunjang pengetahuan baik untuk mahasiswa ataupun pelajara ternyata masih sangat rendah. Tentu dari hal tersebut, menjadi sebuah permasalahan yang harus disikapi dengan tepat, sebab bersinggungan dengan pendidikan. Padahal, seharusnya dengan adanya, teknologi dan informasi membuat proses pembelajaran akan menjadi lebih efektif dan efesien. Sejalan dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, kini pendekatan pembelajaran telah berubah ke arah pembelajaran abad pengetahuan (Kuntarto, 2017). Salah satu produk TIK untuk pembelajaran adalah e-Learning (Yazdi, 2012).
Terlebih pada situasi Covid-19 membawa banyak sekali perubahan di dunia pendidikan yang tadinya pembelajaran dilaksanakan secara tatap muka namun pada saat ini pembelajaran dilaksanakan menggunakan sistem e-learning. Kelas virtual atau lebih dikenal dengan e- learning, merupakan salah satu bentuk penggunaan internet yang dapat meningkatkan peran mahasiswa/peserta didik dalam proses pembelajaran (Saifudin, 2018). E- learning merupakan proses pembelajaran jarak jauh dengan mengembangkan prinsip- prinsip dengan teknologi. E- learning dapat dilihat sebagai suatu pendekatan yang inovatif untuk dijadikan sebuah desain media penyampaian yang baik, terpusat pada pengguna, interaktif dan sebagai lingkungan belajar yang memiliki berbagai kemudahan bagi siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. E- learning berperan untuk melengkapi kelas konvensional (secara tatap muka) bukan menggantikan kelas konvensional (Shank, 2008). Artinya bahwa, antar konvensional dengan non-konvensional sifatnya saling melengkapi satu sam lain, dengan asas memanfaatkan teknologi dan informasi. Sementara itu, menurut Novak (dalam Balaji, Al-Mahri, & Malathi, 2016) dengan menggunakan e-learning dapat meningkatkan interaktivitas dan efisiensi belajar karena memberikan mahasiswa potensi yang lebih tinggi untuk berkomunikasi lebih banyak dengan dosen, rekan, dan mengakses lebih banyak materi pembelajaran.
Jaya Kumar C. Koran (2002), mendefinisikan e-learning sebagai sembarang pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN, atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi, atau bimbingan. Hal tersebut, menandakan bahwa e- learning memiliki komponen-komponen yang sangat kompleks dan lengkap. E-learning merupakan salah satu bentuk model pembelajaran yang difasilitasi dan didukung pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (Hanum, 2013). Sementara itu, E-learning mempunyai ciri- ciri, antara lain (Clark & Mayer, 2008) memiliki konten yang relevan dengan tujuan pembelajaran; 2) menggunakan metode instruksional, misalnya penyajian contoh dan latihan untuk meningkatkan pembelajaran; 3) menggunakan elemen-elemen media seperti kata-kata dan
gambar-gambar untuk menyampaikan materi pembelajaran; 4) memungkinkan pembelajaran langsung berpusat pada pengajar (synchronous e-learning) atau di desain untuk pembelajaran mandiri (asynchronous e-learning); 5) membangun pemahaman dan keterampilan yang terkait dengan tujuan pembelajaran baik secara perseorangan atau meningkatkan kinerja pembelajaran kelompok.
E-learning dapat didefinisikan sebagai sebuah bentuk teknologi informasi yang diterapkan di bidang pendidikan dalam bentuk dunia maya. Istilah e-learning lebih tepat ditujukan sebagai usaha untuk membuat sebuah transformasi proses pembelajaran yang ada di sekolah atau perguruan tinggi ke dalam bentuk digital yang dijembatani teknologi internet (Munir, 2009:
169). Menurut Michael Purwadi (2003) dalam Sanaky (2009:203) perangkat elektronik yang berkaitan dengan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan multimedia berupa CD/ROOM, vidio tape, tv dan radio. Sedangkan menurut Rusman dkk (2011: 264) e-learning memiliki karakteristik, antara lain (a) interactivity (interaktivitas); (b) independency (kemandirian); (c) accessibility (aksesibilitas); (d) enrichment (pengayaan). Karakterisitik tersebut harus menjadi rujukan untuk dapat diperhatikan demi keberlangsungan proses pembelajaran. Dalam hal efektivitas pembelajaran, e-learning harus dapat memberikan pengalaman pribadi dan mafaat yang mirip dengan tingkat kesenangan dan pengelolaan kinerja pembelajaran apabila digunakan di dalam kelas.
Menurut Rusman (2011) Ada beberapa keunggulan e-learning dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional di antaranya adalah: 1 Pembelajaran jarak jauh, e-learning memungkinkan pembelajar untuk menimba ilmu tanpa harus secara fisik menghadiri kelas. 2.
E-Learning dapat mempersingkat jadwal target waktu pembelajaran. 3. E-Learning menghemat biaya yang harus dikeluarkan oleh sebuah program studi atau program pendidikan. 4. E- Learning mempermudah interaksi antara peserta didik dengan bahan atau materi, peserta didik dengan dosen, guru, instruktur maupun sesama peserta didik. 5. Fleksibilitas dari sisi waktu dan tempat. Suasana tidak menegangkan. Dengan e-learning suasana belajar tidak menegangkan seperti tatap muka langsung. Siswa lebih berani melakukan latihan online karena tidak takut malu atau dibentak kalau melakukan kesalahan. 6. Mudah meremajakan materi. Berbeda dengan meremajakan materi pelajaran yang tersusun dalam bentuk buku cetak, materi online dapat diremajakan setiap saat. 7. Peserta didik dapat merasa senang dan tidak bosan dengan materi yang diajarkan karena menggunakan alat bantu seperti video, audio dan juga dapat menggunakan alat bantu seperti komputer bagi sekolah yang sudah mempunyai peralatan komputer.
Selain memiliki beberapa keunggulan, pemanfaatan e-learning pun memiliki beberapa kekurangan yakni : 1. Terutama dari sisi kebutuhan investasi jaringan pendukung
denganperangkat lunaknya. Untuk dapat memperoleh manfaat yang optimal dari e-learning dibutuhkan dukungan jaringan yang tepat dan stabil. 2 Guru banyak yang belum siap menggunakan metode e-learning dan masih belum terampil menggunakan fasilitas seperti video dan komputer. 3. Bagi orang yang gagap teknologi, sistem ini belum bisa diterapkan. 4.
Keterbatasan jumlah Komputer yang dimiliki oleh Sekolah juga . menghambat pelaksanaan e- learning. 5 Kehadiran guru sebagai makhluk yang dapat berinteraksi secara langsung dengan para murid telah menghilang dari ruang-ruang elektronik E- Learning ini.
2.3 Pembelajaran PKn
Pendidikan penting adanya untuk kemajuan sebuah negara, sebab dengan pendidikan masyarakat yang ada didalamnya dapat mengetahui sesuatu hal yang sebelumnya tidak pernah diketahui (Hartino, 2020). Artinya bahwa pendidikan merupakan kunci vital bagi masyarakat.
Oemar Hamalik menjelaskan bahwa Pendidikan adalah suatu proses dalam rangka memengaruhi siswa agar dapat menyesuaikan diri sebaik mungkin terhadap lingkungan dan dengan demikian akan menimbulkan perubahan dalam dirinya yang memungkinkannya untuk berfungsi secara kuat dalam kehidupan masyarakat. Dalam hal ini, Kita semua mengetahui, bahwa Pendidikan Kewarganegaraan merupakan suatu kurikukulum pendidikan yang wajib adanya disemua jenjang pendidikan, baik dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. pendidikan kewarganegaraan diartikan sebagai penyiapan generasi muda (siswa) untuk menjadi warga negara yang memiliki pengetahuan, kecakapan, dan nilai-nilai yang diperlukan untuk berpartisipasi aktif dalam masyarakatnya (Samsuri, 2011: 28).
Sunarso, dkk (2008: 1), menyatakan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu bidang kajian yang mengemban misi nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia melalui koridor “value-based education”. Somantri (2001) menyatakan bahwa, PKn merupakan usaha untuk membekali peserta didik dengan pengetahuan dan kemampuan dasar yang berkenan dengan hubungan antar warga negara dengan negara serta pendidikan pendahuluan bela negara menjadi warga negara agar dapat diandalkan oleh bangsa dan negara. Tujuan pembelajaran PKn adalah untuk memberikan kemampuan terhadap warga negara agar dapat; Berfikir kritis rasional dan kreatif dalam menanggap isu kewarganegaraan, Berpartisipasi secara cerdas dan tanggung jawab, serta bertindak secara sadar dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Pendidikan kewarganegaraan perlu dioptimalkan lebih baik lagi dari segala aspeknya, agar proses pembelajaran menjadi menarik dan tidak dipandang sebelah mata oleh semua kalangan baik peserta didik maupun masyarakat, sehingga apa yang dijabarkan di atas dapat teratasi dan dapat terimplementasi secara nyata dilapangan (Adha, 2010).
Untuk dapat mengoptimalkan pendidikan kewarganegaraan tersebut, maka di tingkat perguruan tinggi. Terkhusus di Universitas Lampung, proses pembelajarannya memanfaatkan perkembangan IPTEK agar dapat menarik antusias mahasiswa dan mahasiswa dapat belajar dengan efektif dan efesien. Penggunaan V-Class di mata kuliah kewarganegaraan sangat cocok digunakan melihat kondisi yang seperti saat ini yang dimana pembelajaran dilaksanakan secara daring sehingga dosen harus mampu membuat desain pembelajaran yang mudah diterima oleh mahasiswa oleh sebab itu media V-Class ini cocok untuk digunakan agar mempermudahkan proses pembelajaran sehingga tujuan dari dilaksanakannya mata kuliah kewarganegaraan dapat tercapai. Pengimplementasian V-class di Universitas Lampung tentu saja harus memperhatikan beberapa hal yaitu ketersediaan software dan hardware pendukung yang dibutuhkan, tersedianya jaringan pendukung yang memadai, kebijakan yang mendukung pelaksanaan V-Class. Selain itu pada tahap implementasi sudah harus dibuat benar-benar sesuai dengan rancangan sebelumnya, baik dalam pengaturan gambar, konten, dan tampilan. Kemudian menerapkan proses upload file ke suatu tempat atau hosting yaitu mentransfer file-file situs yang telah dibuat ke suatu server di internet, dengan tujuan agar situs dapat diakses semua siswa dimanapun yang terhubung dengan internet.
Gambar 3
2.4 Roadmap Penelitian
Adapun roadmap dan bagan alur dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut;
Tahun 1 (Kuantitatif) Efektifitas media pembelajaran V- class Universitas Lampung
Tahun 2 (R&D) Pengembangan bahan ajar berbasis media pembelajaran v-class
Tahun 3 (R&D) Validasi dan sosialisasi bahan ajar online
BAHAN AJAR ONLINE (HAKI)
MULAI
DIAGRAM ALIR PENELITIAN
Studi Pustaka Studi Lampangan Identifikasi Masalah dan Perumusan masalah
Tujuan Penelitian Pengumpulan data
Populasi dan Sample Angket Kuisoner
Uji prasyarat Reliabilitas dan validitas
Reliabel PENGOLAHAN DATA
Analisis Data Kesimpulan dan saran
Jurnal
BAB 3. METODE PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survey. Survey research designs are procedures in quantitative research in which investigators administer a survey to a sample or to the entire population of people to describe the attitudes, opinions, behaviors, or characteristics of the population (Creswell, 2012: 376). Penelitian survey digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang populasi yang besar dengan menggunakan sampel yang relatif kecil. Tujuan penelitian dengan menggunakan metode survey ini ialah peneliti ingin mendeskripsikan secara kuantitatif beberapa kecenderungan, perilaku, atau opini dari suatu populasi dengan meneliti sample populasi tertentu (Creswell, 2018; 208). Adapun pengumpulan data yang akan dilakukan yakni meggunakan angket, dimana dari sample ini maka peneliti akan melakukan generalisasi atau membuat klaim-klaim tentang optimalisasi pembelajaran berbasis V-class pada mata kuliah pendidikan kewarganegaraan, serta aplikasi metode pembelajaran pendidikan kewargangeraan menggunakan e-learning vclass.
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Universitas Lampung dimana penggunaan media virtual class (V- Class) adalah dosen dan mahasiswa di lingkungan UNILA.
3.3 Populasi, Sample, dan Instrumen Pengumpulan Data
Populasi dalam penelitian ini ialah seluruh mahasiswa aktif Universitas Lampung. Sementara untuk sample penelitian akan menggunakan teknik clustering sampling, dimna akan diambil dari beberapa fakultas yang ada di UNILA. Adapun instrumen penelitian yang digunakan yaitu lembar angket berupa googlefoam dengan teknik pengumpulan data kuisoner.
3.4 Teknik Analisis Data
Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu perhitungan dengan presentase untuk melihat bagaimana optimalisasi media pembelajaran v-class yang dilaksanakan di Universitas Lampung, serta pengaplikasian media pembelajaran e-leraning pada mata kuliah pendidikan kewarganegaraan.
No. Rincian Unit Satuan
Harga
Satuan (Rp) Jumlah (Rp) % A Alat dan Bahan
1 Refil Tinta Canon Black 3 botol 110,500.00 331,500.00 2 Catridge Canon Ip 2770
(Cl 811) Colour
2 buah 369,750.00 739,500.00 3 Catridge Canon Ip 2770
(Pg 810) Black
2 buah 270,000.00 540,000.00 4 FlashDisk 32GB 5 buah 151,700.00 758,500.00 5 Blank CD R (Isi 50
Keping)
1 kotak 82,000.00 82,000.00 6 Bungkus CD Bahan
Plastik
1 kotak 73,000.00 73,000.00 7 Binder Clip No. 5 6 kotak 45,500.00 273,000.00 8 Map Plastik Kancing (Isi
12 Buah)
3 Pack 31,000.00 93,000.00 9 Isi staples kecil 5 kotak 8,900.00 44,500.00 10 Glue Stick 25 Gram 3 Buah 6,500.00 19,500.00 11 Penggandaan proposal 12 eks. 46,333.00 556,000.00 12 Penggandaan modul 30 eks. 24,650.00 739,500.00 13 Backdrop & banner 1 paket 750,000.00 750,000.00 BAB 4. RENCANA ANGGRAN BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN
4.1 Anggaran Biaya
Kegiatan penelitian tentang “Optimalisasi Media Pembelajaran V-Class Universitas Lampung:
Aplikasi Metode Pembelajaran Berbasis E-Lerning Pada Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan” tim pelaksana merencanakan anggaran sebesar Rp. 20.000.000,- (Dua puluh juta rupiah), sebagaimana rincian tabel berikut ini;
No. Jenis Pengeluaran
Biaya yang
Diusulkan (Rp) %
1. Pengadaan Alat dan Bahan 6,500,000 30
2. Travel Expenditure 2,000,000 10
3. Bahan Habis Pakai /ATK 4,000,000 20
4. Laporan/Diseminasi/Publikasi 7.500.000 35
Jumlah 20.000.000 100
kegiatan
14 Sewa LCD Projector 2 hari 750,000.00 1,500,000.00
Jumlah 6,500,000.00 30
B Travel Expenditure &
Akomodasi
1 Sewa kendaraan 2 hari 500,000.00 1,000,000.00 2 Dokumentasi 1 paket 1,000,000.00 1,000,000.00
Jumlah 2.000,000.00 10
C ATK
1 Kertas A4 70 gr 10 rim 40,000.00 400,000.00
2 Kertas A4 80 gr 10 rim 43,000.00 430,000.00
3 Ballpoint 5 lusin 45,000.00 225,000.00
5 Spidol Board Marker No.BG-12
10 buah 7,000.00 70,000.00
7 Kuitansi 4 buah 13,750.00 55,000.00
Jumlah 2,000,000.00
D Konsumsi Kegiatan
19,98
1 Makan siang rapat 8 OK 30,000.00 240,000.00
2 Snack rapat persiapan (2 x 4 8 OK 15,000.00 120,000.00 3
Makan siang dan snack
rapat evaluasi (2 x 4 tim 8 OK 45,000.00 360,000.00 4
Makan siang pelatihan (2 x 30 tim pneliti)
60 kotak 25,000.00 1,500,000.00 5 Snack pelatihan (2 x 30
tim peneliti)
60 kotak 10,000.00 600,000.00
Jumlah 3,000,000.00
E Laporan/Publikasi
1 Penggandaan Laporan 10 eks. 300,000.00 300,000.00 2 Seminar & Publikasi
Ilmiah 1 paket 6,800,000.00 7,200,000.00
Jumlah 7,500,000.00 35
Jumlah Total (A+B+C+D+E) 20,000,000.00 100
4.2 Jadwal Kegiatan Penelitian
Kegiatan penelitian dilaksanakan pada tahun 2021, dengan kegiatan pra penelitian yang telah dilaksanakan sebelumnya, seperti survey dan penyusunan proposal. Berikut jadwal pelaksanaan penelitian yeng telah direncakan;
No. Uraian Kegiatan Tahun 2021 Bulan Ke-
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1. Penyusunan Proposal Penelitian
2. Pembagian Tugas dan Penyusunan Instrumen
3. Pelaksanaan Penelitian
4. Analisis Data Penelitian
5. Penyusunan dan
Penggandaan Laporan
6. Seminar Hasil Penelitian
7. Publikasi Hasil Penelitian
A. Deskripsi Data Hasil Penelitian
Hasil dari penelitian ini fokus pada optimalisasi pengunaan media pembelajaran V-Class Universitas Lampung serta bagaimana pengaplikasiaan metode pembelajaran berbasis e- learning ini pada mata kuliah pendidikan kewarganegaraan yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa di Universitas Lampung. Adapun responden pada penelitian ini merupakan mahasiswa yang terdiri dari berbagai fakultas, yaitu FKIP, FISIP. F.Kedokteran, F.Tehnik, F.
Pertanian, F.MIPA, dan F. Ekonomi. Kegiatan perkuliahan menggunakan media v-class ini mampu menjadi solusi dan menciptakan lingkungan beljaar yang fleksibel, mudah diakses dari mana saja dan kapan saja. Hal ini dapat dilihat dimana dosen dan mahasiswa dapat mengikuti proses belajar dan pembelajaran dari jarak jauh, berdiskusi, menugaskan dan mengerjakan tugas, kuis, serta menyelanggarakan ujian tengah semester dan akhir semester.
Teknik pengumpulan data yang digunakan ialah berupa kuisioner angket untuk mahasiswa dan dosen yang didistribusikan melalui googleform. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan maka diperoleh hasil penelitian yang akan di jabarkan melalui penyajian data sebagai berikut:
B. Penyajian data
Adapun hasil angket yang telah disebar kepada mahasiswa terhadap optimalisasi penggunaan media pembelajarn V-class universitas Lampung sebagai aplikasi metode pembelajaran berbasis e-learning pada mata kuliah pendidikan kewarganegaraan dapat dilihat pada gabar berikut berikut :
1. Fakultas Yang Ikut Berpartisipasi
Gambar 1. Fakultas Yang Ikut Berpasrtisipasi
mahasiswa Universitas Lampung yang sedang menggambil mata kuliah pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan sebagai mata kuliah wajib universitas. Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa responden terbanyak yakni 21,2% merupakan mahasiswa yang berasal dari fakultas keguruan dan ilmu pendidikan dan fakultas kedokteran, sebanyak 19,6% berasal dari fakultas ekonomi, sebanyak 18,8% berasal dari fakultas tehnik, sebanyak 9% dari fakultas ilmu sosial politik, sebanyak 6,4 % dari fakultas pertaninan, dan 4,5 % berasal dari fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam.
Sehingga diketahui bahwa seluruh responden berjulam 622 mahasiswa yang ikut berpartisipasi dalam penelitian ini.
2. Penggunan Media Pembelajaran V-class di Universitas Lampung
Gambar 2. Penggunaan Media Vclass Di Unila
Berdasarkan hasil penelitian dari sebaran angket yang telah dilakukan, gambar 2 menunjukkan bahwa meskipun terdapat 0,3% mahasiswa belum pernah mengoprasikan V-class namun dapat dilihat bahwa, sebagian besar mahasiswa sudah familiar menggunakan v-class hal ini dibuktikan dengan 85 % mahasiswa familiar dengan media pembelajaran vclass, meskipun 13 % mahasiswa belum terbiasa menggunakan Vclass, dan 1,1% mahasiswa tidak dapat mengoprasikan Vclass untuk pembelajaran online.
Tentunya hal ini merupakan sesuatu hal yang wajar, karena sosialisai penggunaan vclass dilakukan juga secara onlin. Sehingga perlu kreatifitas, juga minat dalam diri mahsiswa untuk belajar mengoprasikan vclass sebagai media pembalajaran berbasis e-learning ini.
Gambar 3. Persepsi mahasiswa
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada gambar 3 menunjukkan bahwa pembelajaran di Universitas Lampung menggunakan media Vclass relative mudah untuk dilaksanakan dengan bukti sebanyak 88,7% mahasiswa beranggpan bahwa perkuliahan menggunakan media pembelajaran Vclass mudah untuk di lakukan, meskipun 8,2% lebih mahasiswa lebih memilih untuk menggunakan media lain, dan 3,1 % mahasiswa merasa bahwa sulit untuk melakukan pembelajaran menggunakan media Vclass.
4. Penggunaan Diskusi Yang Paling Disukai Oleh Mahasiswa Pada V-Class
Gambar 4. Diskusi Yang Paling Diminati
Setelah dilakukannya penelitian dengan menyebarkan angket kepada mahasiswa melalui googleform, berdasarkan gambar 4 diketahui bahwa diskusi yang sering dan lebih disukai oleh 57,6% mahasiswa pada media Vclass yakni melalui forum diskusi. Sementara 51, 1% mahasiswa memlih untuk melalui G-meet atau Zoom yang terintegrasi dengan Vclass.
Selanjutnya untuk 15,6% mahaisswa memlih untuk menggunakan chatting pada v-class, dan 6,9% mahasisa memilih untuk diskusi tidak menggunakan Vclass dan menggunakan alternatif lain seperti group WA, googleclassroom, ataupun media pembelajaran lainnya.
Gambar 5. Diskusi Yang Paling Diminati
Berdasarkan gambar 5 diketahui bahwa media pendukung dalam pembelajaran daring berbasis e-learning ini tetap dibutuhkan dimana 81,8% mahasiswa lebih banyak menggunakan google sebagai media pendukung untuk pembelajaran daring menggunakan Vclass, lalu sebanyak 67,4% memilih youtube sebagai media pembelajaran pendukun, 32,2% mahasiswa memilih e-book, selanjutnya untuk 10,5 % instgaram, 5,9 % tiktok, 3,2% twitter, dan 1,4 % yakni menggunakan yahoo.
6. Fitur yang sering digunakan pada Vclass
Gambar 6. Penggunaan fitur yang sering pada Vclass
Berdasarkan hasil penelitian yang ditunjukkan pada gambar 6, diketahui bahwa fitur assignment/tugas sering digunakan didalam pembelajaran Vclass dengan presentase 72,7%, sementara untuk fitur forum 63% , untuk fitur Kuis 54, 3%, Untuk absensi/attendance 53,9%, video 43,2%, file sebanyak 42%, menggunakan g-meet/zoom sebanyak 35,4%, URL 21,1%, sementara Book hanya 10,1%, dan Page sebesar 6,8%.
Gambar 7. Penggunaan fitur vclass
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada gambar 7. Menunjukkan bahwa penggunaan tidak semua vitur digunakan dalam pembelajaran menggunakan media vclass, dimana diketahui bahwa pada setiap topik/minggu/pertemuan dosen menggunakan 1-2 fitur saja dengan presentase sebanyak 35,4%, sementara untuk 30,5% menggunakan 3 fitur dalam vclass, dan 21,2 % dosen sudah menggunakan lebih dari 5 fitur disetiap topik/pertemuan/minggu, dan 12,9% pembelajaran menggunakan vclass sebanyak 4 fitur.
8. Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran V-Class Unila Dalam Pembelajaran
Gambar 8. Pengaruh penggunaan media pembelajaran Vclass
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada gambar 8, menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan media Vclass cukup berpengaruh jika pembelajaran yang dilakukan mendukung materi mata kuliah yang diberikan dengan presentase 61,9%, selain itu media pembelajaran vclass dianggap memberikan kontribusi lebih apabila disertai dengan video pembeajaran/face to face menggunakan gmeet ataupun zoom dengan presentase 42,4%. Selanjutnya pembelajaran akan lebih berpengaruh jika dosen dapat membuat vclass lebih aktif dan interaktif dengan presentase 28,8%. Meskipun menggunakan vclass juga berpengaruh pada mahasiswa sehingga mereka lebih suka belajar sendiri dengan presentase 21, 5%. Namun penggunaan media vclass juga bisa tidak berpengaruh pada pembelajaran dengan presentase 2,6 %, hal ini dikarenakan 19,5%
mahasiswa tertinggal karena jaringan internet ataupun karena hal lain.
Gambar 10. Kesulitan Penggunaaan Vclass
Pada gambar 10 menunjukkan bahwa pengaplikasian media pembelajaran vclass dalam pembelajaran online ini 20,6% tanpa kendala ataupun kesulitan, namun terdapat kesulitan ataupun kendala dalam menggunnakan vclass yang dialami oleh mahasiswa dimana kesulitan tersebut dikarenakan oleh jaringan internet dengan presentase 64,6%, menu ataupun vitur yang membingungkan untuk dioprasikan dengan presentase 18%, bahkan mahasiswa juga kurang jelas terkait materi yang disampaikan pada vclass dengan presentase 15,9%, sulit mengoprasikan vclass 10,3%, dan 7,2 % tidak dapat login ke vclass untuk melaksanakan pembelajaran.
10. Peran Vclass dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
Gambar 11. Peran V-class dalam pembelajaran PPKn
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada gambar 11 menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan media vclass berperan dalam pembelajaran mata kuliah pendidikan kewarganegaraan, dimana terdapat 77% mahasiswa beranggapan bahwa vclass memudahkan pemahamann mereka terhadap materi yang disampaikan. 17,6%
mahasiswa termotifasi untuk belajar menggunakan vclass, meskipun terdapat 5%
mahasiswa beranggapan bahwa pembelajaran menggunakan Vclass kurang menarik.
Gambar 12. Pembelajaran pendidikan kewarganegaraan menggunakan Vclass Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada gambar 12 menunjukkan bahwa mahasiswa merasa 40,7% materi pendidikan kewarganegaraan dapat dipahami dengan baik namun, 37,6% mahasiswa beranggapan bahwa dalam perkuliahan tetap memerlukan tatap muka secara online baik menggunakan g-meet/zoom, lebih lanjut presentase 16,2 % pembelajaran pendidikan kewarganegaraan lebih menarik dengan menggunakan media e- learning vclass, meskipun 5,5% mahasiswa beranggapan bahwa materi pendidikan kewarganegaraan menggunakan vclass kurang dapat dipahami.
C. Pembahasan
1. Optimalisasi Media Pembelajaran V-Class Universitas Lampung : Aplikasi Metode Pembelajaran Berbasis E-Lerning Pada Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan
Optimalisasi media pembelajaran Vclass oleh para dosen dan mahasiswa sangat diperlukan, karena media pembelajaran Vclass merupakan alat bantu yang dapat digunakan oleh dosen di Universitas Lampung dalam kondisi tertentu juga dapat menyesuaikan kondisi di lapangan. Selain itu juga, media pembelajaran berkaitan erat dengan efektif dan efesien, switching sensory channel, dan lebih lekat dalam jangka waktu yang lama dalam hal daya ingat. Perguruan tinggi sebagai agent ilmu harus dapat memberikan seideal mungkin berbagai strategi maupun taktik dalam proses pembelajaran yang baik, sehingga mahasiswa dan dosen dituntut harus siap untuk mengikuti setiap perubahan di bidang Pendidikan.
Hal tersebut, senada dengan pendapat Paraay (2017) bahwa Indonesia perlu meningkatkan kualitas keterampilan tenaga kerja dengan teknologi digital, termasuk dalam dunia pendidikan. Artinya bahwa perguruan tinggi dapat memberikan transfer ilmu melalui dosen kepada mahasiswa dengan mengkombinasikan abad 21 dengan revolusi industry 4.0 sebagai upaya mengoptimalisasikan media pembelajaran. Keterampilan abad 21 harus dimiliki serta berbagai macam teknologi sudah seharusnya diterapkan dalam pengajaran di kelas (Yustanti & Novita, 2019). Hal tersebut menandakan bahwa seorang
E-Learning merupakan salah satu wujud perkembangan teknologi informasi di sektor pendidikan. Media pembelajaran berbasis E-Learning tersebut dapat dioptimalkan secara masif oleh dosen maupun mahasiswa di tingkat perguruan tinggi. Salah satu optimalisasi yang dapat dilakukan yakni dengan cara memberikan kemudahan akses materi dan akses yang berkaitan dengan teknis pelaksaan kepada mahasiswa melalui pembelajaran berbasis e-learning yani menggunakan media pembelajaran Vclass Universitas Lampung.
Berbicara tentang pengoptimalan media pembelajaran sebagai salah satu alat dalam mencapai tujuan pendidikan, sebaiknya diperkenalkan dari mulai dari yang sederhana hingga keepada tahap yang cukup sulit. Hal ini dimaksudkan, agar para mahasiswa dapat mencontoh kreatifitas pendidik atau dosen selama melaksanakan prose belajar mengajar, yang harapannya tentu saja dapat mempengaruhi atau merangsang kreatifitas mahasiswa bila kelak terjun di lapangan. Artinya bahwa mengasah mahasiswa untuk dapat adaptif, inovatif,, dan kreatif. Optimalisasi suatu tindakan/kegiatan untuk meningkatkan dan Mengoptimalkan. Untuk itu diperlukan intensifikasi dan ekstensifikasi subyek dan obyek pendapatan. Jadi, optimalisasi adalah suatu proses mengoptimalkan sesuatu atau proses menjadikan sesuatu menjadi paling baik. Jadi ketika kita menginginkan sesuatu untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya maka harus ada usaha yaitu mengoptimalkan apa yang akan dicapai (Hartino,2020).
Media pembelajaran, secara umumnya memiliki keunggulan yang perlu dioptimalkan seperti memberikan keleluasaan, tidak kaku, menyimpan dan mengingatkan informasi, serta sarana komunikasi yang efektif. Kemudian, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pendidik atau dosen dalam mengoptimalkan pemilihan media pembelajaran antara lain : Melihat pada tujuan pendidikan yang hendak dicapai; 2.
Melihat kepada lingkup warga belajar di mana media itu dipergunakan (anak, dewasa); 3.
Melihat bagaimana alat pendidikan itu bekerja, cukup memuaskan hasilnya, dievaluasi, haruskah ditambah atau diganti. Artinya bahwa, dalam mengoptimalkan media pembelajaran pendidik atau dosen harus dituntut untuk memiliki daya kritis apa yang dipilihnya.
Media merupakan perluasan dari guru (Schram, 1977). Secara luas media pembelajaran dapat diartikan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong siswa untuk belajar (Miarso, 1989). Pada sisi lainnya, penyebab rendahnya hasil belajar yaitu pemilihan metode dan media pembelajaran yang digunakan oleh guru pada proses pembelajaran sangat kurang tepat dan pengelolaan kegiatan pembelajaran yang masih
langsung pendidik harus dapat memanfaatkan teknologi dan informasi dalam menggunakan ataupun memilih media pembelajaran yang tepat untuk diberikan kepada peserta didik. Manfaat dari penggunaan media ini diharapkan mampu menarik perhatian siswa dan memudahkan siswa dalam memahami materi (Eko Purwanto, Hendri, &
Susanti, 2016). Media memiliki beraneka ragam macam-macamnya, pendidik dapat memilih dengan sendirinya disesuaikan dengan kebutuhannya. Pembelajaran akan memberikan hasil yang lebih baik jika didesain sesuai cara manusia belajar (Gunawan, Harjono, & Imran, 2016).
Kemajuan dan perkembangan teknologi tidak dipungkiri memberikan perubahan pada proses-proses yang terjadi di masyarakat, tak terkecuali berkaitan dengan proses interaksi sosial, termasuk proses belajar mengajar atau proses pembelajaran (Prapunoto dkk, 2013).
Dengan adanya teknologi dan informasi, segala permasalahan yang ada saat proses pengajaran dapat mendorong lahirnya berbagai inovasi atau alternative dalam teknologi pembelajaran. Sehingga, inovasi dan alternative itulah yang dapat digunakan untuk menunjang proses pendidikan kedepannya.
Salah satu inovasi proses belajar adalah dengan bantuan teknologi pemrograman berbasis web yang diaplikasikan kedalam virtual class (Napitupulu). Pada saat ini, virtual class sudah mulai dijadikan sebagai alternatif pembelajaran. Hal tersebut terjadi, karena pembelajaran tidak lagi terikat oleh ruang dan waktu. Terlebih pada situasi yang sedang pandemi covid-19 seperti sekarang ini. Virtual class lebih tepat ditujukan sebagai media pembelajaran tambahan selain buku dan transparansi. Pada saat ini, virtual class sudah mulai dijadikan sebagai alternatif pembelajaran. Hal tersebut terjadi, karena pembelajaran tidak lagi terikat oleh ruang dan waktu. Terlebih pada situasi yang sedang pandemi covid- 19 seperti sekarang ini. Akan tetapi, dengan adanya virtual class tidak serta merta menggantikan pembelajaran secara konvensional ditingkat perguruan tinggi, sebab virtual class dengan pembelajaran konvensional memiliki kekurangan dan kelebihannya masing- masing. Namun, dalam hal ini virtual class diharapkan menjadi penunjang proses pembelajaran dikelas secara konvensional, apa yang tidak tersampaikan di kelas konvensional dapat disampaikan melalui virtual class (Sohibun & Ade, 2017).
Virtual class merupakan kegiatan belajar mengajar menggunakan ruangan dengan menggunakan e-learning/tempat terjadinya kegiatan virtual learning (Budi, 2017).Melalui virtual class peserta didik menjadi lebih aktif dan secara tidak langsung pembelajaran seperti ini juga bisa meningkatkan hasil belajar peserta didik. Konsep Virtual Class ini, menawarkan kesempatan yang lebih menjanjikan untuk melakukan
umum dapat menciptakan pembelajaran yang bisa berlangsung kapan saja dan di mana saja, sehingga dapat menghemat waktu dan biaya. Kemudian, virtual class dapat membuat meningkatkan keterampilan penggunaan teknologi, sehingga memungkinkan individu untuk kreatif. Berikut akan diuraikan hasil survey mengenai optimalisasi media pembelajaran v-class universitas lampung: aplikasi metode pembelajaran berbasis e- lerning pada mata kuliah pendidikan kewarganegaraan, dimana jumlah yang responden yakni sebanyak 622 responden.
2. Kelebihan Optimalisasi Media Pembelajaran V-Class Universitas Lampung : Aplikasi Metode Pembelajaran Berbasis E-Lerning Pada Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan.
Berdasarkan hasil penelitian mengenai pembelajaran pendidikan kewarganegaraan menggunakan virtual class, maka diketahui bahwa menurut para mahasiswa pembelajaran pendidikan kewarganegaraan dengan menggunakan virtual class dalam hal materi dapat dipahami dengan baik, akan tetapi para mahasiswa berpendapat bahwa pembelajaran pendidikan kewarganegaraan walaupun menggunakan virtual class tetap memerlukan face to face baik melalui virual f-meet ataupun zoom. Hal ini sejalan dengan pendapat dari Budi (2017) Virtual class dalam penelitian bukan hanya proses untuk mengunduh materi yang sudah disediakan di internet, akan tetapi harus memberikan sebuah lingkungan untuk melakukan proses pembelajaran seperti halnya pembelajaran melalui kelas konvensional (tatap muka).
Pada gambar 2 tentang pengaruh penggunaan pembelajaran virtual class unila dalam pembelajaran, menunjukan bahwa mayoritas mahasiswa menyatakan ada pengaruh materi yang ada di virtual class, sementara itu mahasiswa juga menyatakan bahwa menolong apabila disertai dengan video ataupun face to face secara virtual dengan 42,4%, tergantung keaktifan dosen di virtual class dengan 28,8% mahasiswa senang belajar sendiri dengan 21,5%, mahasiswa tertinggal dikarenakan jaringan dengan 19,5%, dan ada juga yang menyatakan tidak ada pengaruh dengan 2,6%.
Berdasarkan gambar 3 tentang bagaimana persepsi mahasiswa terkait dengan perkuliahan menggunakan virtual class, hasilnya menunjukan bahwa mayoritas mahasiswa berpersepsi mudah tentang perkuliahan menggunakan virtual class. Hal ini sejalan dengan Virtual class merupakan kegiatan belajar mengajar menggunakan ruangan dengan menggunakan e-learning/tempat terjadinya kegiatan virtual learning (Budi, 2017).Melalui virtual class peserta didik menjadi lebih aktif dan secara tidak langsung
pembelajaran, menunjukan bahwa mahasiswa lebih menyukai google untuk mendukung belajar dengan 81,8%, disusul dengan youtube dengan 67,4%, E-Book dengan 32,2%, Instagram dengan 10,5%, Tiktok dengan 5,9%, dan Twitter dengan 3,2%. Artinya bahwa mahasiswa memilih google dalam mendukung pembelajaran dikarenakan banyak menyediakan informasi dan data yang dibutuhkan oleh mahasiswa.
3. Kelebihan Optimalisasi Media Pembelajaran V-Class Universitas Lampung : Aplikasi Metode Pembelajaran Berbasis E-Lerning Pada Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan
Berdasarkan gambr 5 terkait dengan pera virtual class dalam pembelajaran PPKn, mahasiswa berpendapat bahwa virtual class memudahkan pemahaman mahasiswa terkait dengan materi pembelajaran PPKn. Hal ini menandakan bahwa virtual class dapat membantu mahasiswa dalam hal pengetahuan dan memudahkan akses mahasiswa.
Konsep Virtual Class ini, menawarkan kesempatan yang lebih menjanjikan untuk melakukan kolaborasi, koneksi, akses terhadap informasi, visualisasi yang menarik, dan mendorong pihak-pihak yang terlibat untuk lebih produktif dan lebih cepat dalam memahami suatu pengetahuan (Suranto, 2009)
Gambar 6 mengenai fitur yang paling banyak digunakan dosen pada media pembelajaran virtual class, mayoritas mahasiswa berpendapat assignment tugas dengan 72,7%, disusul dengan forum dengan 63%, quiz dengan 54,3%, attendance dengan 53,9%, Video dengan 43,2%, file dengan 42,2%, google meet atau zoom dengan 53,4%, url dengan 21,1%, book dengan 10,1%, serta page 6,8. Berdasarkan gambar 7 tentang gambaran mengenai penggunaan virtual class oleh mahasiswa pada mata kuliah pendidikan pancasila dan kewarganegaraan, hasilnya menunjukan bahwa mayoritas mahasiswa sudah familiar dengan 85%, belum terbiasa dengan 13,5%, sisanya tidak dapat mengoperasikan dan belum pernah mengoperasikan virtual class
Gambar 8 terkait dengan diskusi perkuliahan yang disukai pada virtual class, mayoritas mahasiswa menyukai melalui forum diskusi. Artinya bahwa Virtual class mampu membuat proses pembelajaran menjadi menarik dan mampu meningkatkan motivasi dari individu ketika belajar. Selain itu juga, virtual class menjadi sebuah solusi ketika pembelajaran secara konvensional tidak bisa berjalan dengan semestinya, terlebih pada kondisi yang seperti saat ini sedang dihadapkan dengan darurat kesehatan. Adanya virtual class, tentu harus dimanfaatkan sebaik mungkin dan semaksimal mungkin oleh pendidik dan peserta didik itu sendiri. Perkembangan teknologi yang sangat pesat ini, harus selaras dengan peningkatan mutu SDM agar arah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
Berdasarkan gambar 9 terkait dengan penggunaan fitur virtual class dalam pembelajaran mata kuliah PPKn di setiap topic/tema/pertemuan, mayoritas mahasiswa menggunakan1-2 fitur saja, disusul dengan 3 fitur dengan 30,5%, 5 lebih fitur dengan 21,2%, dan 4 fitur dengan 12,9%. Artinya bahwa tujuan dibuatnya aplikasi Virtual Class adalah mengembangkan media pengajaran berbasis web, untuk memudahkan dan mengefektifkan proses belajar mengajar. Pembuatan aplikasi virtual class ini melalui beberapa tahapan yaitu analisa masalah, merancang database dan tampilan input output, pembuatan program menggunakan PHP, MySQL, dan implementasi
Gambar 10 tentang letak kesulitan mahasiswa dalam menggunakan virtual class, hasilnya menyatakan bahwa mahasiswa mayoritas mengalami kesulitan pada jaringan atau koneksi internet, disusul dengan mahasiswa tidak mengalami kesulitan dengan 20,6%, sulit memahami penjelasan materi ddengan 15,9%, menu yang membingungkan dengan 18%, kesulitan mengoperasikan virtual class dengan 10,3%, serta sulit untuk login 7,2%.
Menurut Aristio (2008) ada beberapa rincian aktivitas dosen dalam sistem Virtual Class, meliputi : a. Pembukaan kelas, di sini dosen memberikan instruksi kepada mahasiswa untuk melakukan absen. b. Penutupan kelas. c. Presentasi dengan video streamming. d.
Upload dan download materi perkuliahan yang akan diberikan. e. Membuat soal ujian, model soal diserahkan sepenuhnya kepada dosen pengajar. f. Memeriksa jumlah mahasiswa yang hadir atau mengikuti virtual class ini. g. Memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh mahasiswa dengan menggunakan microphone atau lewat chatting. h. Memberikan tugas yang menunjang materi yang dibawakan. i. Diskusi melalui forum (optional).
6.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil di atas berkaitan dengan virtual class. Secara keseluruhan hasilnya menyatakan bahwa virtual class memiliki dampak yang positif untuk keberlangsungan proses pembelajaran.
Virtual class mampu membuat proses pembelajaran menjadi menarik dan mampu meningkatkan motivasi dari individu ketika belajar. Selain itu juga, virtual class menjadi sebuah solusi ketika pembelajaran secara konvensional tidak bisa berjalan dengan semestinya, terlebih pada kondisi yang seperti saat ini sedang dihadapkan dengan darurat kesehatan. Adanya virtual class, tentu harus dimanfaatkan sebaik mungkin dan semaksimal mungkin oleh pendidik dan peserta didik itu sendiri.
Menggunakan virtual class, secara tidak langsung sama saja dengan memanfaatkan perkembangan teknologi dan informasi kearah yang penuh dengan kebermanfaatan dalam dunia pendidikan.
Penggunaan V-Class di mata kuliah kewarganegaraan sangat cocok digunakan melihat kondisi yang seperti saat ini yang dimana pembelajaran dilaksanakan secara daring sehingga dosen harus mampu membuat desain pembelajaran yang mudah diterima oleh mahasiswa oleh sebab itu media V-Class ini cocok untuk digunakan agar mempermudahkan proses pembelajaran sehingga tujuan dari dilaksanakannya mata kuliah kewarganegaraan dapat tercapai
DAFTAR PUSTAKA
Adam. Steffi dan Muhammad Taufik Syastra. (2015). Pemanfaatan Media Pembelajaran Berbasis Adha, M. M. (2010). Model Project Citizen untuk Meningkatkan Kecakapan Warga Negara pada
Aristio, A. P., (2008). Penerapan e-Learning di Indonesia : Virtual Class di Fakultas Teknologi InformasiInstitut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Tersedia:
http://parvian.wordpress.com /2008/07/13/penerapan-e-learning-di-indonesia/.
Diakses 24 Febuari 2021.
Balaji, R., Al-Mahri, F., & Malathi, R. (2016). A Perspective Study on Content Management in E- Learning and M-Learning. eprint arXiv:1605.02093. Retrieved from http://arxiv.
org/abs/1605.02093
Budi, E. N. (2017). Penerapan Pembelajaran Virtual Class Pada Materi Teks Eksplanasi Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas Xi Ips 2 Sma 1 Kudus Tahun 2017. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, 27(2), 62-75.
Clark, R.C. & Mayer, R.E. (2008). E-learning and the science of instruction: proven guidelines for consumers and designers of multimedia learning, second edition. San Francisco: John Wiley
Creswell, John W. (2018). Research Design: Pendekatan metode kualitatif, kuantitatif, dan campuran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Eko Purwanto, A., Hendri, M., & Susanti, N. (2016). Studi Perbandingan Hasil Belajar Siswa Mengunakan Media Phet Simulations Dengan Alat Peraga Pada Pokok Bahasan Listrik Magnet Di Kelas IX SMPN 12 Kabupaten Tebo. Jurnal Pendidikan Fisika, 1(1), 22–27.
Gumrowi, A. (2016). Meningkatkan hasil belajar listrik dinamik menggunakan strategi pembelajaran team assisted individualization melalui simulasi crocodile physics.
Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika Al-Biruni, 5(April), 105–111.
Gunawan, Harjono, A., & Imran. (2016). Pengaruh Multimedia Interaktif dan Gaya Belajar Terhadap Penguasaaan Konsep Kalor Siswa. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia, 12(2), 118–125.
Hamalik Oemar. (2002). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara
Hanum, N. S. (2013). Keefetifan e-learning sebagai media pembelajaran (studi evaluasi model pembelajaran e-learning SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto). Jurnal Pendidikan Vokasi, 3(1).
Hartino, A. T., & Adha, M. M. (2020). Optimalisasi Pendidikan Kewarganegaraan Sebagai Upaya Meningkatkan Civic Knowledge Peserta Didik Melalui Media Sosial. In E Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Kewarganegaraan 2020 (pp. 169-176). Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Koran, Jaya Kumar C. (2002). Aplikasi E-Learning dalam pengajaran dan pembelajaran di sekolah malayasia. Kudus Tahun 2017. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, 27(2), 62-75.
Kuntarto, E. (2017). Keefektifan model pembelajaran daring dalam perkuliahan bahasa Indonesia di perguruan tinggi. Indonesian Language Education and Literature, 3(1), 99-110.
Lautfer. Ruth. (1993). Pedoman Pelayanan Anak Malang Indonesia : Yayasan Persekutuan Mahnun, N. (2012). Media pembelajaran (kajian terhadap langkah-langkah pemilihan media dan
implementasinya dalam pembelajaran). An-Nida', 37(1), 27-34.
Miarso. (1989). Definisi Teknologi Pendidikan. Depok: Prenada Media Group.
Miftah, M. (2013). Fungsi, dan peran media pembelajaran sebagai upaya peningkatan kemampuan belajar siswa. Jurnal kwangsan, 1(2), 95.
Mulyadi, E. (2015). Penerapan Model Project Based Learning untuk Meningkatkan Kinerja dan Prestasi Belajar Fisika Siswa SMK. Jurnal Pendidikan Teknologi Dan Kejuruan, 22(4), 385–395.
Munir. (2009). Pembelajaran jarak jauh berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Bandung:
Alfabeta.
Napitupulu, R. I., Susilowati, E., & Gianadevi, F. APLIKASI VIRTUAL CLASS (V-CLASS) SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS WEB.
Novantara, P. (2018). Implementasi E-Learning Berbasis Virtual Class dengan Menggunakan Metode Synchronous Learning pada Pembelajaran di Universitas Kuningan. Buffer
Aplikasi Metode Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi pada Universitas Gunadarma dan Universitas Kristen Satya Wacana. Prosiding PESAT, 5.
Prapunoto, S., Hermita, M., Qomariyah, N., & Suhendra, A. (2013). V-class dan Fleksibel Learning: Aplikasi Metode Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi pada Universitas Gunadarma dan Universitas Kristen Satya Wacana. Prosiding PESAT, 5.
Prestasi Belajar Fisika Siswa SMK. Jurnal Pendidikan Teknologi Dan Kejuruan, 22(4), 385–
Purwono. Joni, dkk. (2014). Penggunaan Media Audio-Visual Pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Di Sekolah Menengah Pertama Negeri1 Pacitan. Dalam Jurnal Teknologi Pendidikan dan Pembelajaran Vol.2, No.2: 127.
Rahardjo, R. (1986). Media Pembelajara Teknologi Komunikasi Pendidikan. Jakarta : Rajawali.
Asnawir dan M. Basyiruddin Usman. (2002). Media Pembelajaran, Jakarta: Ciputat Pers. Sanaky. A, Hujair. (2009). Media Pembelajaran. Yogyakarta. Safiria Insania Press.
Rusman, dkk. (2011). Pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi, mengembangkan profesionalitas guru. Jakarta: PT. Raja Grafindo.
Saifuddin, M. F. (2018). E-learning dalam persepsi mahasiswa. Jurnal Varidika, 29(2), 102-109.
Samsuri. (2011). Pendidikan Karakter Warga Negara. Yogyakarta: Diandra Pustaka Indonesia Schramm, W. 1977. Big Media Litle Media. London : Sage Public-Baverly Hills
Shank, P. (2008). Thinking Critically to Move e-learning Forward. In S. Carliner & P. Shank (Eds.), The e-Learning handbook: past promises, present challenges. San Francisco: Pfeiffer.
Soemantri. (2001). Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Bandung: Remaja Rosda Karya Sohibun, & Ade, F. Y. 2017. Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Virtual Class
Berbantuan Google Drive. Tadris: Jurnal Kependidikan dan Ilmu Tarbiyah.
Sunarso, dkk. (2008). Pendidikan Kewarganegaraan: PKn Untuk Perguruan Tinggi. Yogyakarta:
UNY Press.
Suranto, B., (2009). Virtual Classroom: Strategi Pembelajaran Berbasis Synchronous E-Learning.
Makalah yang disajikan pada Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2009 (SNATI 2009) Yogyakarta. Tersedia: http://journal.uii.ac.id/index.php/Snati/
article/view/1221/1009. Diakses 24 Febuari 2021.
Tafonao, T. (2018). Peranan media pembelajaran dalam meningkatkan minat belajar mahasiswa. Jurnal Komunikasi Pendidikan, 2(2), 103-114.
Yazdi, M. (2012). E-learning sebagai media pembelajaran interaktif berbasis teknologi informasi. Jurnal ilmiah foristek, 2(1).
Yustanti, I., & Novita, D. 2019. Pemanfaatan E-Learning Bagi Para Pendidik Di Era Digital 4.0.
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Program Pascasarjana Universitas PGRI Palembang