• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kurnia Mutiara. Prodi D-III Kebidanan STIKes U Budiyah ABSTRAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Kurnia Mutiara. Prodi D-III Kebidanan STIKes U Budiyah ABSTRAK"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

,Jurnal Karya Tulis Ilmiah

HUBUNGAN PARITAS, PENGETAHUAN DAN PENDIDIKAN DENGAN BOUNDING ATTACHEMENT PADA IBU NIFAS DI RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK

BEREUNEUN KABUPATEN PIDIE TAHUN 2013

Kurnia Mutiara

Prodi D-III Kebidanan STIKes U’Budiyah ABSTRAK

Latar Belakang : Bounding attachement adalah sebuah peningkatan hubungan kasih sayang dengan keterikatan batin antara orang tua dan bayi. Bayi yang dipisahkan dari orang tua akan mengembangkan perasaan tidak aman yang ditampilkan dalam gangguan kepribadian atau kesulitan/hambatan didalam segi- segi kehidupannya yang menyebabkan munculnya masalah penyesuaian diri dimasa yang akan datang, menyebabkan kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua terhadap anak. Dari hasil wawancara peneliti didapatkan jumlah ibu nifas yang ada diruang kebidanan selama 2 hari berjumlah 7 orang, diantara 7 orang tersebut yang melakukan rawat gabung antara ibu dan bayi serta memberikan belaian dan ikatan kasih sayang yang dilakukan sedini mungkin hanya 3 orang.

Tujuan penelitian : ini adalah untuk Hubungan Paritas, Pengetahuan Dan Pendidikan Dengan Bounding Attachement Pada Ibu Nifas Di Rumah Sakit Ibu dan Anak Bereuneun Kabupaten Pidie Tahun 2013 Metode Penelitian :Penelitian ini bersifat analitik dengan pendekatan cross sectional, dilakukan di rumah sakit Ibu dan anak sejak tanggal 21 Juli sampai dengan 16 Agustus 2013. Pengambilan sampel menggunakan tehknik achidental sampling sebanyak 38 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan membagikan kuesioner yang berisikan 10 pertanyaan.

Hasil Penelitian : yang diperoleh dari 38 responden adalah adanya hubungan yang signifikan antara paritas ibu nifas dengan bounding attachement yaitu p < 0,05 (0,018). Adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu nifas dengan bounding attachement yaitu p < 0,05 (0,000). Adanya hubungan yang signifikan antara pendidikan ibu nifas dengan bounding attachement yaitu p < 0,05 (0,001).

Kesimpulan : Dari hasil diatas dapat disimpulkan ibu bahwa mayoritas ibu yang berpengetahuan baik dan pendidikan tinggi mau melakukan bounding attachement, selain itu juga tidak dilakukan bounding attachement akibat dari kesehatan bayi yang tidak memungkinkan untuk dirawat bersama. Serta juga ibu tidak hanya menunnngu dari bidan nya tetapi ada reaksi yang dilakukan jika tidak dilakukan perawatan oleh keluarga dan bidan.diharapkan kepada petugas kesehatan untuk dapat melakukan bounding attachement setiap kelahiran bayi apabila bayi memungkinkan untuk dirawat bersama oleh ibu tanpa ada kelainan yang terjadi pada ibu dan bayi sehingga program pemerintah dapat tercapai untuk menurunkan angka kesakitan ibu dan anak.

Kata kunci : bounding attachement, paritas, pengetahuan, pendidikan

I. Pendahuluan

Pelayanan Nifas adalah pelayanan kesehatan sesuai standar pada ibu mulai 6 jam sampai 42 hari pasca persalinan oleh tenaga kesehatan. Asuhan masa nifas diperlukan dalam periode ini karena merupakan masa krisis baik ibu maupun bayinya. Diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan, dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama. (Sulistiyani, 2011).

Masa nifas disebut juga masa post partum atau puerperium yaitu masa atau waktu sejak bayi dilahirkan dan plasenta

keluar lepas dari rahim sampai enam minggu berikutnya, disertai dengan pulihnya kembali organ-organ yang berkaitan dengan kandungan, yang mengalami perubahan seperti perlukaan dan lain sebagainya berkaitan saat melahirkan (Suherni dkk, 2009).

Bounding attachment berasal dari dua suku kata, yaitu bounding dan attachment.

Bounding adalah proses pembentukan sedangkan attachment (membangun ikatan).

Jadi bounding attachment adalah sebuah peningkatan hubungan kasih sayang dengan keterikatan batin antara orangtua dan bayi.

Hal ini merupakan proses dimana sebagai

(2)

hasil dari suatu interaksi terus-menerus antara bayi dan orang tua yang bersifat saling mencintai memberikan keduanya pemenuhan emosional dan saling membutuhkan.

Tujuan Penelitian Tujuan Umum

Untuk mengetahui Hubungan Paritas, Pengetahuan Dan Pendidikan Dengan Bounding Attachement Pada Ibu Nifas di Rumah Sakit Ibu dan Anak Bereuneun Kabupaten Pidie Tahun 2013.

Tujuan Khusus

1. Untuk Mengetahui Hubungan Paritas Dengan Bounding Attachement Pada Ibu Nifas di Rumah Sakit Ibu dan Anak Beureuneun Kabupaten Pidie Tahun 2013.

2. Untuk Mengetahui Hubungan Pengetahuan Dengan Bounding Attachement Pada Ibu Nifas di Rumah Sakit Ibu dan Anak Bereuneun Kabupaten Pidie Tahun 2013.

3. Untuk Mengetahui Hubungan Pendidikan Dengan Bounding Attachement Pada Ibu Nifas di Rumah Sakit Ibu dan Anak Bereuneun Kabupaten Pidie Tahun 2013.

II. METODOLOGI a. Kerangka Konsep

Menurut lain (Andy, 2012). Ikatan antara orangtua dan bayi baru lahir sangatlah penting untuk diperhatikan.

Sejak masa antenatal, ibu sudah harus mendapatkan informasi mengenai Bounding attachment, karena sejak masa antenatal, hubungan antara ibu dan anak yang berlandaskan ikatan kasih sayang sudah mesti terjalin

Hipotesa Penelitian

Ha : Ada Hubungan Paritas dengan Bounding Attachement Pada Ibu Nifas di Rumah Sakit Ibu dan Anak Beureunuen Kabupaten Pidie Tahun 2013 Ha : Ada Hubungan Pengetahuan dengan

Bounding Attachement Pada Ibu Nifas di

Rumah Sakit Ibu dan Anak Beureunuen Kabupaten Pidie Tahun 2013

Ha : Ada Hubungan Pendidikan dengan Bounding Attachement Pada Ibu Nifas di Rumah Sakit Ibu dan Anak Beureunuen Kabupaten Pidie Tahun 2013

Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian Analitik dengan pendekatan cros sectional yaitu cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat, dimana pengumpulan data variable Dependen dan Independen dilakukan penelitian disaat yang bersamaan. (Notoadmojo, 2005)

Populasi dan sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah ibu nifas di Rumah Sakit Ibu dan Anak Bereuneun Kabupaten Pidie Tahun 2013.

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah ibu nifas di Rumah Sakit Ibu dan Anak Bereuneun Kabupaten Pidie Tahun 2013 berjumlah 38 orang dengan pengambilan sampel yaitu accidental sampling

Tempat dan waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di Rumah Sakit Ibu dan Anak Bereuneun Kabupaten Pidie.

dilakukan dari tanggal 21 Juli sampai 16 Agustus 2013.

Pengumpulan dan Analisa Data

Data Primer. Pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner kepada semua ibu yang bersalin di Rumah Sakit Ibu dan Anak Beureuneun

Data Sekunder Didapat dari bagian Ruang Kebidanan Rumah Sakit Ibu dan Anak Beureuneun dan Rekam medic RSU

Pengolahan Data

Menurut Budiarto (2002) data yang telah didapatkan akan diolah dengan tahap-tahap berikut: Editing, Coding, Transfering, Tabulating,

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mulai tanggal 21 Juli s sampai dengan 16 Agustus 2013 terhadap 38 responden yaitu seluruh ibu-ibu nifas yang ada di rawat di rumah sakit ibu dan anak dengan memberikan kuesioner serta wawancara yang berisikan 10 pertanyaan tentang pengetahuan, pendidikan, paritas.

Paritas

Pendidikan

Pengetahuan Bounding

Attachmen

(3)

Penyajian hasil penelitian ini memberikan gambaran mengenai distribusi frekuensi responden baik variabel bebas maupun variabel terikat dimana diperoleh hasil penelitian sebagai berikut :

Bounding Attechment Tabel 5.1

Distribusi Frekuensi Bounding Attachement Pada Ibu Nifas di Rumah Sakit Ibu dan

Anak Bereuneun Kabupaten Pidie Tahun 2013

No Bounding Attechment

Frekuensi Persentase (%)

1 Ya 20 52,6

2 Tidak 18 47,4

Berdasarkan Tabel 5.1 menunjukkan bahwa dari 38 responden mayoritas ibu melakukan bounding attachment berjumlah 20 orang (52,6%), sedangkan yang tidak melakukan bounding attachment berjumlah 18 orang (47,4%).

Paritas

Tabel 5.2

Distribusi Frekuensi Paritas Dengan Bounding Attachement Pada Ibu Nifas di Rumah Sakit

Ibu dan Anak Bereuneun Kabupaten Pidie Tahun 2013

N o

Paritas Freku ensi

Persentas e (%)

1 Primipara 14 36,8

2 Multipara 14 36,8

3 Grandemultipara 10 26,4

Total 38 100%

Berdasarkan Tabel 5.2 menunjukkan bahwa dari 38 responden mayoritas ibu memiliki persalinan anak lebih dari dua (multipara) sebanyak 14 orang (36,8%) dan primipara yaitu sebanyak 14 orang (36,8%), sedangkan Grandemiltipara sebanyak 10 orang (26,4%).

Pengetahuan

Tabel 5.3

Distribusi Frekuensi Pengetahuan Dengan Bounding Attachement Pada Ibu Nifas di

Rumah Sakit Ibu dan Anak Bereuneun Kabupaten Pidie Tahun 2013

No Pengetahuan Frekuensi Persentase (%)

1 Baik 11 28,9

2 Cukup 7 18,4

3 Kurang 20 52,6

Total 38 100%

Berdasarkan Tabel 5.3 menunjukkan bahwa dari 38 responden mayoritas ibu nifas berpengetahuan kurang tentang bounding attachement sebanyak 20 orang (52,6%) dan berpengetahuan cukup sebanyak 11 orang (28,9%).

Pendidikan

Tabel 5.4.

Distribusi Frekwensi Pendidikan Dengan Bounding Attachement Pada Ibu Nifas di Rumah Sakit Ibu dan Anak Bereuneun

Kabupaten Pidie Tahun 2013 No Pendidikan Frekuensi

(F)

Persentase (%)

1 Tinggi 9 23,7

2 Menengah 9 23,7

3 Dasar 20 52,6

Total 38 100%

Berdasarkan Tabel 5.4 menunjukkan bahwa dari 38 responden mayoritas ibu berpendidikan dasar sebanyak 20 orang (52,6%) dan berpendidikan menengah sebanyak 9 orang (23,7%), sedangkan yang berpendidikan tinggi juga sebanyak 9 orang (23,7%).

Hubungan Paritas Ibu Nifas Dengan Bounding Attachement

Tabel 5.8.

Tabulasi Silang Hubungan Paritas Dengan Bounding Attachement Pada Ibu Nifas di

Rumah Sakit Ibu daAnak Bereuneun Kabupaten Pidie Tahun 2013

N o

Paritas

Bounding

Attachement Total P- value

Ya Tidak

F % F % F %

0,018 1 Primipara

11

78,6 3 21,4

14 100 2 Multipara

7

50,0 7

50,0 14 100 3 Grandemu

ltipara

2 20,0 8 80,0

10 100 Jumlah 20 52,6 18 47,4 38 100

(4)

Berdasarkan Tabel 5.4 menunjukkan bahwa dari 14 responden mayoritas ibu nifas primipara melakukan bounding attachement sebanyak 11 orang (78,6%) dan dari 10 responden mayoritas ibu nifas grandemultipara yang tidak melakukan bounding attachement sebanyak 2 orang (20,0%).

Dari hasil uji Statistik menggunakan chi square diperoleh nilai p - value 0018 yang berarti nilai < α = 0,05 menunjukkan adanya hubungan yang signifikan paritas ibu nifas dengan bounding attachment

Hubungan Pengetahuan Ibu Nifas Dengan Bounding Attachement

Tabel 5.6.

Tabulasi Silang Hubungan Pengetahuan Dengan Bounding Attachement Pada Ibu Nifas di

Rumah Sakit Ibu dan Anak Bereuneun Kabupaten Pidie Tahun 2013

N o

Pengetah uan

Bounding

Attachement Total P- valu e

Ya Tidak

F % F % F %

0,000 1 Baik 10 90,9 1 9,1 11 100 2 Cukup 6 85,7 1 14,3 7 100 3 Kurang 4 20 16 80 20 100

Jumlah 20 52,6 18 47,4

38 100

Berdasarkan Tabel 5.6 menunjukkan bahwa dari 11 responden mayoritas ibu memiliki pengetahuan baik melakukan bounding attachement sebanyak 10 orang (90,9%) dan dari 20 responden ibu tidak melakukan bounding attachement memiliki pengetahuan kurang yaitu 16 orang (80,0%).

Dari hasil uji Statistik menggunakan chi square diperoleh nilai p – value 0,000 yang berarti nilai < α = 0,05 menunjukkan adanya hubungan yang signifikan pengetahuan ibu nifas dengan bounding attachment.

Hubungan Pendidikan Ibu Ibu Nifas Dengan Bounding Attachement

Tabel 5.7

Tabulasi Silang Hubungan Pendidikan Dengan Bounding Attachement Pada Ibu Nifas di

Rumah Sakit Ibu dan Anak Bereuneun Kabupaten Pidie Tahun 2013

N o

Pendidikan

Bounding Attachement

Total P- value

Ya Tidak

F % F % F %

0,001 1 Tinggi 8 88,9 1 11,1 9 100 2 Menengah 7 77,8 2 22,2 9 100 3 Dasar 5 25,0 15 75,0 20 100 Jlh 20 52,6 18 47,4 38 100

Berdasarkan Tabel 5.7 menunjukkan bahwa dari responden mayoritas ibu nifas berpendidikan tinggi melakukan bounding attachement sebanyak 8 orang (88,9%) dan dari 20 responden yang tidak melakukan bounding attachement berpendidikan dasar yaitu 15 orang (75,0%).

Dari hasil uji Statistik menggunakan chi square diperoleh nilai p - value 0,000 yang berarti nilai < α = 0,05 menunjukkan adanya hubungan yang signifikan pendidikan ibu nifas dengan bounding attachment

Pembahasan

Hubungan Paritas Ibu Nifas dengan bounding attachement

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 14 responden mayoritas ibu nifas primipara melakukan bounding attachement sebanyak 11 orang (78,6%) dan dari 10 responden mayoritas ibu nifas grandemultipara yang tidak melakukan bounding attachement sebanyak 2 orang (20,0%).

Dari hasil uji Statistik menggunakan chi square diperoleh nilai probabilitas (p) 0,018 yang berarti nilai p < (α) = 0,05 menunjukkan adanya hubungan yang signifikan paritas ibu nifas dengan bounding attachment.

Paritas adalah wanita yang sudah melahirkan bayi hidup. Paritas primapara yaitu wanita yang telah melahirkan bayi hidup sebanyak 1 kali, multipara yaitu wanita yang telah melahirkan bayi hidup beberapa kali dimana persalinan tersebut tidak lebih dari 5 kali, dan grande multipara yaitu wanita yang te;lah melahirkan bayi hidup lebih dari 5 kali (Manuaba, 2008).

Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Chotib (2009) yang menyebutkan bahwa tingkat keberhasilan menyusui pada ibu nifas dalam masa neonatus sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan ibu. Pengetahuan pada hakikatnya merupakan segenap apa yang diketahui tentang suatu objek dan termasuk didalamnya adalah ilmu pengetahuan yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang dalam

(5)

memahami atau mempersiapkan diri dalam berhubungan dalam kesehatan dirinya.

Menurut asumsi peneliti bahwa mayoritas ibu memiliki anak satu yang melakukan bounding attachement, ini dikarenakan bayi tersebut merupakan keluarga terbaru yang hadir hal ini membuat tertarik ibu- ibu muda yang memilki bayi sehingga mau melakukan bounding attachement akibat dari keingin tahuan ibu yang lebih besar. Sedangkan ada juga bayi tidak dilakukan bounding attachement ini dikarenakan akibat kelainan yang terjadi pada bayi sehingga bayi harus dirawat pada bagian khusus perawatan bayi Hubungan Pengetahuan Ibu Nifas dengan bounding attachement

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 11 responden mayoritas ibu memiliki pengetahuan baik melakukan bounding attachement sebanyak 10 orang (90,9%) dan dari 20 responden ibu tidak melakukan bounding attachement memiliki pengetahuan kurang yaitu 16 orang (80,0%).

Dari hasil uji Statistik menggunakan chi square diperoleh nilai probabilitas (p) 0,000 yang berarti nilai p < (α) = 0,05 menunjukkan adanya hubungan yang signifikan pengetahuan ibu nifas dengan bounding attachment.

Menurut Notoatmodjo (2007) pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang penting dalam membentuk tindakan seseorang. Menurut Azwar (2003) pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang penting dalam membentuk tindakan seseorang.

Hasil penelitian Rohani (2011), menunjukkan pengetahuan ibu nifas yang melakukan bounding attachement berpengetahuan baik sebanyak 19 orang, sedangkan yang tidak melakukan bounding attachement berpengetahuan kurang sebanyak 12 orang. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa redapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan bounding attachement.

Menurut asumsi peneliti didapatkan bahwa ibu nifas yang memiliki pengetahuan baik melaklukan bounding attachement untuk mendapatkan pelayanan kesehatan pada bayi baru lahir dengan merawat bayi nya secara mandiri tidak hanya sepenuhnya dari bantuan keluarga. Hal ini dilakukan karena ibu

mengetahui manfaat dari bounding attachement tersebut.

Hubungan Pendidikan Ibu Nifas dengan bounding attachement

Berdasarkan hasil penelitian menujukkan bahwa dari responden mayoritas ibu nifas berpendidikan tinggi melakukan bounding attachement sebanyak 8 orang (88,9%) dan dari 20 responden yang tidak melakukan bounding attachement berpendidikan dasar yaitu 15 orang (75,0%).

Dari hasil uji Statistik menggunakan chi square diperoleh nilai probabilitas (p) 0,000 yang berarti nilai p < (α) = 0,05 menunjukkan adanya hubungan yang signifikan pendidikan ibu nifas dengan bounding attachment.

Pendidikan merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pendidikan pasangan suami - istri yang rendah akan menyulitkan proses pengajaran dan pemberian informasi, sehingga pengetahuan tentang perawatan ibu nifas dan hal-hal apa saja yang harus didapatkan oleh ibu nifas juga terbatas (Suparyanto, 2010).

Hasil Penelitian menunjukkan pendidikan ibu nifas yang melakukan bounding attachement yang berpendidikan tinggi berjumlah 22 orang, sedangkan yang tidak melakukan bounding attachement yang berpendidikan dasar sebanyak 12 orang. Hasil uji statistic menunjukkan dengan P value 0.009 (p < 0.005). Hal ini menunjukkan bahwa terdapatr hubungan yang bermakna antara pendidikan dengan bounding attachement.

Menurut asumsi peneliti bahwa pengetahuan yang baik didasari dari pengetahuan yang dimilikinya. Dengan ibu memiliki pendidikan tinggi maka ibu akan memperkaya dirinya dengan ilmu-ilmu yamg berguna dalam perawatan bayi baru lahir.

IV.PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan dari hasil penelitian dan pembahasan dapat diambil kesimpulan bahwa : 1. Adanya hubungan yang signifikan antara

paritas ibu nifas dengan bounding attachement di Rumah Sakit Ibu Dan Anak Beureunuen dengan hasil uji statistic diperoleh nilai P - value 0,018 < α = 0,05.

2. Adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu nifas dengan bounding

(6)

attachement di Rumah Sakit Ibu Dan Anak Beureunuen dengan hasil uji statistic diperoleh nilai P - value 0,000 < α = 0,05.

3. Adanya hubungan yang signifikan antara pendidikan ibu nifas dengan bounding attachement di Rumah Sakit Ibu Dan Anak Beureunuen dengan hasil uji statistic diperoleh nilai P - value 0,001 < α = 0,05.

Saran

1. Diharapkan menjadi sarana bagi peneliti untuk mengaplikasikan ilmu yang telah didapat dan mendapatkan pengalaman nyata dalam bidang penelitian.

2. Diharapkan bagi Institusi Pendidikan hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan bagi proses penelitian selanjutnya terutama yang berhubungan dengan masalah nifas dalam melakukan pelaksanaan Bounding Attachement..

3. Diharpakan bagi Rumah Sakit sebagai salah satu bahan masukan bagi bidan sebagai tenaga kesehatan yang berada di masyarakat dan instansi tempat kerja untuk melakukan tindakan proaktif seperti penyuluhan dan memberikan pendidikan kesehatan.

4. Diharapkan kepada Ibu Nifas agar lebih meningkatkan kesadaran terhadap perlunya pengetahuan tentang pentingnya Bounding Attachement. Dengan demikian diharapkan bayi yang berumur 0-28 hari mendapatkan pelayanan kesehatan secara dini dan optimal dari tenaga kesehatan setempat.

REFERENSI

Andy, 2012, Makalah Kebidanan: Bonding Attechment, http://ilmu-pasti- pengungkap-

kebenaran.blogspot.com/2012/05/boun ding-attachment.html, (dikutip tanggal 5 Januari 2013).

Budiarto, E. 2006. Biostatistika Untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Buku Kedokteran EGC, Jakarta

Manuaba Ida Bagus Gde, 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan Dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. EGC; Jakarta Machfoedz Ircham, 2008. Metodologi

Penelitian. Fitramaya; Yogyakarta

Sulistiyani, 2011. Asuhan Kebidanan III Pelayanan Nifas Di Rumah http://www.lusa.web.id/konsep-dasar- masa-nifas/ diakses tanggal 23 Mei 2012.

Suherni, 2009, Perawatan Masa Nifas, Fitramaya, Yogyakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Wartawan yang menyadari akan arti kegiatan jurnalisme sebagai suatu profesi, tentunya dituntut untuk terus mengembangkan diri kearah peningkatan kualitas jurnalisme

appear in the students ' dictation papers mostl y consist. of meaning

Indikator penghayatan misi adalah: ( 1) arah dan tujuan strategis yang jelas membawa manfaat bagi organisasi sehingga memperjelas bagaimana setiap karyawan dapat memberi

Pada pembahasan tema ini Anda akan dihantarkan untuk berlatih secara berkelanjutan tentang mendengarkan informasi isi laporan, mengungkapkan gagasan dan tanggapan dalam diskusi,

Instrumen pembelajaran yang dilakukan dalam penelitian yaitu: (1) lembar validasi perangkat pembelajaran yang digunakan untuk memvalidasi perangkat pembelajaran yang

The results showed that multimedia-based teaching materials in science learning had a significant influence on students’ cognitive learning outcomes indicated by the average

Walaupun persetujuan isteri atau isteri-isteri merupakan syarat bagi suami untuk dapat melakukan poligami, tetapi pelaksanaannya tidak terlalu mutlak, dalam

1) Dengan adanya Manajemen Bandwidth, maka pembagian bandwidth pada setiap client ISP akan dengan mudah diatur sesuai permintaan pelanggan akan bandwidth yang digunakan. 2)