i
KEMAMPUAN MENGELOLA EMOSI PADA ANAK DARI KELUARGABROKEN HOME
(Studi Kasus) SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling
Oleh : Betharia Limbong
NIM : 121114067
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
iv
HALAMAN MOTO
Bersukacitalah dalam Pengharapan
Sabarlah dalam Kesesakan
Dan Bertekunlah dalam Doa
v
HALAMAN PERSEMBAHAN
Kupersembahkan karya sederhana ini kepada:
Tuhan Yang Maha Esa beserta Bunda Maria
Kepada orang tuaku , keluarga, para sahabat yang telah
memberikanku dukungan dan semangat, hingga penyusunan
viii ABSTRAK
KEMAMPUAN MENGELOLA EMOSI PADA ANAK DARI KELUARGABROKEN HOME
(Studi Kasus) Betharia Limbong
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 2017
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang kemampuan mengelola emosi anak yang berasal dari keluarga broken home (Studi Kasus). Pertanyaan peneliti adalah 1). Bagaimana cara anak dari keluarga Broken Home mengendalikan emosi ketika mengalami masalah di lingkungan sekitar, 2). Bagaimana anak Broken Home yang memiliki masalah dapat mengendalikan emosinya, saat teman sebaya mengucapkan perkataan tidak baik kepadanya.
Jenis penelitian ini adalah kualitatif, Metode studi kasus pengumpulan data yang digunakan observasi dan wawancara mendalam. Informasi didapatkan dari ketiga sumber yaitu orang tua subjek, subjek, dan sahabat subjek. selama penelitian peneliti melakukan observasi di tempat bermain dan di rumah subjek. Jumlah subjek 2 orang yaitu D dan S yang berjenis kelamin perempuan, kedua subjek tersebut sudah tidak melanjutkan pendidikan.
ix ABSTRACT
EMOTION MANAGEMENT ABILITY OF BROKEN-HOME CHILDREN (Case Study) child manages emotion when faced with problems from the surroundings, 2). How a broken-home child who has problems can manage one’s emotion when one’s peers say something unpleasant to one.
This was a qualitative research. Data collecting methods were in-depth observation and interview. Information was gathered from three sources, i.e. the subject’s parents, neighbors, and close friends. During the research, the author did an observation at the subject’s home and where the subject hangs out. The subjects were 2 females called D and S. Those subjects were dropped out.
The result of this research showed that: 1). When D had problems with the surroundings and when her peers said something unpleasant to her, she could manage her emotion by calming her mind at a comfortable place, doing some activities, playing, confiding in her mother, praying, crying, trying to be patient, and reprimanding her peers for saying something unpleasant to her. 2). The subject S could also manage her emotion by keeping silent, playing games on her cell phone, taking a stroll, crying, listening to music, praying, playing, doing some activities, and visiting the beach. The research showed that both subjects, from broken-homes family, had different abilities to manage emotion. This was due to subjects did not want troubles, and they wanted to listen to their mother and aunt, and they did not want their friendship to be disturbed.
x
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur peneliti panjatkan ke hadirat Tuhan atas kasih dan karunianya. Karena skripsi yang berjudul “ Kemampuan Mengelola Emosi Anak yang Berasal dari Keluarga Broken Home” ini dapat terselesaikan. Skripsi ini tidak akan terselesaikan dengan baik tanpa adanya dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini peneliti hendak mengucapkan kepada:
1. Rohandi, Ph.D. Selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma
2. Dr. Gendon Barus, M. Si. Selaku Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma
3. Drs. Robertus Budi Sarwono, M.A. Selaku Dosen Pembimbing yang sangat membantu peneliti melalui bimbingan, arahan, kesabaran, waktu, kritikan, saran, serta semangat sehingga peneliti termotivasi untuk menyelesaikan skripsi ini.
4. Seluruh Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling yang telah memberikan banyak tambahan pengetahuan dalam proses perkuliahan. 5. Mas Moko yang selalu setia dan sabar membantu peneliti dalam hal surat
menyurat dan administrasi lainnya.
xi
7. Bapakku tercinta Alm. Alexander Limbong yang sudah mendidik peneliti dengan baik walaupun tidak sepenuhnya, setidaknya peneliti pernah merasakan kasih sayang dan perhatiannya di waktu itu. Miss you my father.
8. Keluargaku yang tercinta selalu memberi motivasi, perhatian dan kasih sayangnya kepada peneliti.
9. Kedua subjek yang telah menerima dan mengijinkan peneliti untuk melakukan penelitian.
10. Teman-teman Program Studi Bimbingan dan Konseling angkatan 2012, yang telah memberikan dukungan, perhatian, kerjasama, dan belajar bersama.
xii DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ii
HALAMAN PENGESAHAN iii
MOTO DAN PERSEMBAHAN iv
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA v
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI vi
ABTSRAK vii
ABSTRACT viii
KATA PENGANTAR ix
DAFTAR ISI xi
DAFTAR LAMPIRAN xiii
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Indentifikasi Masalah 5
C. Batasan Masalah 6
D. Pertanyaan Penelitian 6
E. Tujuan Penelitian 6
F. Manfaat Penelitian 6
G. Definisi Istilah 8
BAB II. KAJIAN PUSTAKA
A. Hakikat Pengelolaan Emosi
1. Pengertian Emosi 9
xiii
3. Kemampuan Mengelola Emosi 12
4. Aspek-aspek Kemampuan Mengelola Emosi 13 5. Faktor-faktor Kemampuan Mengelola Emosi 15 6. Ciri-ciri Kemampuan Mengelola Emosi 16 B. Hakikat Keluarga
1. Pengertian Keluarga 17
2. Fungsi-fungsi Keluarga 19
3. Anak dan Perkembangan Emosi 20
4. Karakter Perkembangan Anak 21
5. Tugas-tugas Perkembangan Masa Usia Sekolah
Dasar 23
C. HakikatBroken Home
1. PengertianBroken Home 25
2. Penyebab KeluargaBroken Home 26
3. Dampak KeluargaBroken Home 26
D. Kajian Penelitian Relavan 27
E. Kerangka Pikir 29
BAB III. METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian 31
B. Waktu dan Tempat Penelitian 32
C. Subjek Penelitian 32
D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 32
1. Wawancara 32
xiv
E. Keabsahan Data 34
F. Teknik analisis Data 35
BAB IV. HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Data 36
B. Analisis Data 37
C. Pembahasan 56
BAB V. SIMPULAN DAN SARAN
D. Kesimpulan 59
E. Keterbatasan Penelitian 60
F. Saran 60
DAFTAR PUSTAKA 62
xv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1: Hasil Observasi 64
A. Subjek 1 64
B. Subjek 2 68
Lampiran 2: Lembar Verbatim 72
A. Subjek D 72
B. Significant Other D 83
C. Subjek S 88
D. Significant Other S 98
Lampiran 3: Coding
A. Subjek D 102
1
BAB I
PENDAHULUAN
Bab ini memaparkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah dan fokus penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian.
A. Latar Belakang Masalah
Pada hakekatnya keluarga wadah pembentukan masing-masing anggotanya, terutama anak yang masih berada dalam bimbingan tanggung jawab orang tuanya. Keluarga adalah salah satu kelompok atau kumpulan manusia yang hidup bersama serta mewujudkan kehidupan yang tentram, aman, damai, dan sejahtera. Dalam keluarga, orang tua berperan sebagai pendidik utama. Kedudukannya selaku pendidik utama itu dapat berupa pembimbing, pengajar, dan pemimpin pekerjaan atau pemberi contoh teladan pada anak. Sebagian besar dari anak manusia tumbuh berkembang dan didewasakan dalam lingkungan keluarga, sejak masa bayi, anak sudah menghirup iklim kasih sayang dan loyalitas terhadap keluarga. Oleh karena itu keluarga merupakan sarana paling penting untuk mentransmisikan nilai-nilai budaya dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
perilaku. Jika emosi terjadi sangat intens, biasanya akan menganggu fungsi intelektual.
Safaria dan Saputra (2009) menegaskan bahwa individu yang memiliki kemampuan mengelola emosi akan lebih cakap menangani ketegangan emosi, akan lebih mampu menghadapi dan memecahkan konflik secara efektif
Pengendalian emosi seorang individu harus memberikan perhatian pada aspek mental. Aspek mental dari emosi juga memerlukan bimbingan. Apabila dalam keadaan emosional seseorang bereaksi terhadap rangsangan yang muncul. Oleh karena itu di samping harus belajar bagaimana cara menangani rangsangan yang membangkitkan emosi dan belajar bagaimana cara mengatasi reaksi yang biasanya disertai emosi. (Hurlock, 1988)
Berdasarkan teori perkembangan dalam Papalia, Olds, dan Feldman (2002) dan Santrock (2002), menyatakan bahwa periode anak merupakan tahap awal kehidupan individu yang akan menentukan sikap, nilai, perilaku, dan kepribadian individu di masa depan.
Menurut Sigmund Freud (dalam Sumanto, 2014) fase pubertas, (12-18 tahun) mengungkapkan bahwa dalam fase ini dorongan-dorongan mulai muncul kembali, dan apabila dorongan-dorongan ini dapat ditransfer dan disublimasikan dengan baik, anak akan sampai pada masa kematangan terakhir, yaitu fase genital.
Pada usia ini anak mulai menyadari dirinya, bahwa dirinya berbeda dengan bukan dirinya (orang lain atau benda). Kesadaran ini diperoleh dari pengalaman, bahwa tidak setiap keinginannya dipenuhi oleh orang lain atau benda lain. Anak menyadari bahwa keinginannya berhadapan keinginan orang lain, sehingga orang lain tidak selamanya memenuhi keinginannya. Bersama dengan itu, berkembang pula perasaan harga diri yang menuntut pengakuan dari lingkungannya. Jika lingkungannya (orang tuanya) tidak mengakui harga diri anak, seperti memperlakukan anak secara keras atau kurang menyayangi maka pada diri anak akan muncul sikap keras kepala/menentang, menyerah jadi penurut yang diliputi rasa percaya diri kurang dengan sifat pemalu.
Keluarga adalah lingkungan pertama bagi anak dalam melaksanakan proses sosialisasi dan memperoleh pendidikan. Oleh karena itu, keluarga nantinya akan mempengaruhi perkembangan dalam pembentukan watak dan kepribadian anak (Budi Ningsih, 2007).
pihak. Perpisahan atau pembatalan perkawinan dapat dilakukan secara hukum maupun dengan diam-diamdan kadang ada juga kasus dimana salah satu pasangan (suami, istri) meninggalkan keluarga. (Hurlock,2008)
Pada masa sekarang keputusan untuk mengakhiri perkawinan sering ditempuh oleh pasangan suami istri ketika masalah dalam hubungan perkawinan mereka tidak dapat diselesaikan dengan baik (Benokraitis dalan Regina dan Risnawaty, 2007). Peningkatan tersebut paling banyak disebabkan oleh faktor ketidakharmonisan keluarga, tidak adanya tanggung jawab, dan permasalahan ekonomi. Hal tersebut terlihat dari angka perceraian pasangan di indonesia yang terus meningkat. Berdasarkan Data Direktorat Jendral Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung (Ditjen Badilag MA) pada tahun 2010 terdapat 285.184perkara yang berakhir dengan perceraian dan diajukan ke Pengadilan Agama se-Indonesia. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir berdasarkan data tersebut, peningkatan perkara yang masuk dapat mencapai 81% (tingkat perceraian di Indonesia meningkat)
harus bekerja keras dan senang mencari perhatian orang. Keluarga broken home juga sangat berpengaruh pada perkembangan emosi anak.
Emosi merupakan berbagai perasaaan yang kuat berupa perasaan benci, takut, marah, cinta, senang dan juga kesedihan. Anak yang mengalami keluarga broken home kerap kali tidak mampu mengelola emosinya, namun ada juga anak yang mampu mengelola emosinya karena melakukan kegiatan-kegiatan yang positif. Hal yang dilakukan anak ketika memiliki masalah atau tekanan dari lingkungan yaitu pengelolaan emosi pada dirinya. anak mampu mengendalikan dirinya karena melakukan berbagai strategi yaitu menenangin pikiran, mendengarkan musik, bermain dan lain sebagainya.
Setelah melihat hal tersebut peneliti tertarik untuk mengangkat judul “KEMAMPUAN MENGELOLA EMOSI PADA ANAK DARI BERASAL DARI KELUARGABROKEN HOME(Studi Kasus)”. B. Identifikasi Masalah
Berangkat dari latar belakang masalah di atas, terkait dengan pengolahan emosi anak keluarga broken home dapat diidentifikasikan berbagai masalah sebagai berikut.
1. Anak keluarga broken home memiliki masalah atau tekanan dari lingkungan sekitar.
2. Kurangnya tanggung jawab orang tua atas pendidikan dan kebutuhan ekonomi anak keluargabroken home
C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan berbagai bentuk permasalahan yang muncul dalam latar belakang, penelitian ini memfokuskan pada menjawab masalah-masalah mengenai emosi anak yang mengalami keluargabroken home.
D. Pertanyaan Penelitian
Pertanyaan-pertanyaan penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana cara anak dari keluargabroken home mengendalikan emosi ketika mengalami masalah di lingkungan sekitar ?
2. Bagaimana anak broken home yang memiliki masalah dapat mengendalikan emosinya, saat teman sebaya mengucapkan perkataan tidak baik kepadanya?
E. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian yaitu:
1. Untuk mengetahui cara anak dari keluarga broken home mengelola emosinya ketika mengalami masalah.
2. Untuk mengetahui cara anak broken home yang memiliki masalah dan mengendalikan emosinya, saat teman sebaya mengucapkan perkataan tidak baik kepadanya.
F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis ini adalah memberikan informasi dan sumbangan bagi pengembangan dan pengetahuan, khususnya emosi pada anak dari keluarga broken home. Selain itu, dapat menjadi refrensi untuk penelitian selanjutnya.
2. Manfaat Praktis a. Bagi penulis
Penilitian ini bermanfaat dan dapat memberikan pelajaran. Banyak bertukar pendapat dan pemikiran serta dapat memahami bahwa kehidupan anak broken home terkadang tidak semua berakhir kenegatifan.
b. Bagi Masyarakat.
Penelitian ini bermanfaat terutama bagi keluarga bahwa pentingnya menjaga keharmonisan dalam keluarga. Selain itu memperoleh gambaran tentang kehidupan positif maupun negatif dari anakbroken home
c. Bagi Anak
G. Definisi Istilah
1. Mengelola emosi adalah kemampuan untuk peka terhadap perasaan sendiri dan orang lain, menyadari bahwa tidak semua ungkapan emosi dapat diterima oleh kelompok sosial, mengatur ekspresi emosi, merespon reaksi emosional orang lain, memverbalisasi emosi yang saling bertentangan, dan berperilaku prososial.
2. Anak adalah seseorang yang harus memperoleh hak-hak yang kemudian hak-hak tersebut dapat menjamin pertumbuhan dan perkembangan dengan wajar baik secara jasmaniah maupun sosial 3. Broken home adalah keluarga yang disebabkan oleh perceraian
9 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Bab ini memaparkan kajian pustaka yang terdiri dari kajian teori pengelolaan emosi, kajian penelitian yang relevan, dan kerangka berpikir kemampuan mengelola emosi dari keluarga broken home.
A. Hakikat Pengelolaan Emosi 1. Pengertian Emosi
Kata emosi berasal dari bahasa inggris, emotionyang berasal dari kata emouvior yang berarti “kegembiraan”. Emosi juga berasal dari bahasa latin emovere, dari e- (varian eks) yang berarti “luar” dan movere yang berarti “bergerak”. Yusuf (2008) menyatakan bahwa emosi merupakan pola keadaan yang menyertai setiap keadaan atau perilaku individu. Misalnya menangis karena sedih, tertawa karena bahagia.
dari emosi negatif di antaranya sedih, kecewa, putus asa, depresi, tidak berdaya, frustasi, marah, dendam, dan lain-lain.
Emosi yang berasal dari bahasa Latin movere, berarti menggerakkan atau bergerak, dari asal kata tersebut emosi dapat diartikan sebagai dorongan untuk bertindak. Emosi merujuk pada suatu perasaan atau pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis serta serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi dapat berupa perasaan amarah, ketakutan, kebahagiaan, cinta, rasa terkejut, jijik dan rasa sedih Goleman, 1995 (dalam Mashar 2011)
Berdasarkan pengertian emosi dari para ahli dapat disimpulkan bahwa emosi positif maupun emosi negatif dapat diamati dari perilaku atau ekspresi yang tampak baik dari ekspresi wajah, gerakan tubuh dan tangan ataupun melalui komunikasi nonverbal (termasuk cara bicara dan nada suara).
2. Jenis-jenis Emosi
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap ekspresi dan pola sistem saraf otonom. Lazarus ,1991 (dalam Mashar 2011) mengategorikan emosi menjadi dua kategori, yaitu emosi primer atau dasar (basic) dan emosi sekunder (derived). Emosi primer merupakan emosi yang ada pada spesies mamalia, sedangkan emosi sekunder merupakan kombinasi dari beberapa emosi primer.
karakteristik yang biasa terdapat pada emosi primer: pertama, emosi primer berakar dari evolusi warisan, yang telah dimiliki sejak awa sejak masa bayi dan muncul dengan cepat dan otomatis dalam interaksinya dengan lingkungan; kedua, emosi primer memiliki karakteristik sebagai ekspresi wajah yang universal dan dapat dikenali pada berbagai budaya yang berbeda; ketiga, emosi primer berkaitan dengan sistem sirkuit saraf dan otak dan berkorelasi dengan aktivitas sistem otonom, namun Lazarus (1991) memberi empat perbedaan utama dalam menyimpulkan emosi-emosi yang masuk dalam kategori emosi-emosi primer, yaitu:
a. Emosi primer merupakan emosi asli dan elemen dari fisiologis
b. Emosi primer ditemukan secara konsisten pada berbagai budaya dan beberapa spesies binatang
c. Emosi primer ada sejak lahir atau pada tahun pertama kehidupan d. Emosi primer merupakan dorongan dan ekpresi yang lebih ditujukan
sebagai tugas penyesuaian yang paling penting dalam mempertahankan diri dari bahaya, reproduksi, orientasi, dan eksplorasi (atau disebut juga sebagai universalitas biologis)
3. Kemampuan Mengelola Emosi
Menurut pandangan teori kognitif (Safaria, 2009), emosi lebih banyak ditentukan oleh hasil interpretasiindividu terhadap sebuah peristiwa. Kita bisa memandang dan menginterpretasikan sebuah peristiwa dalam persepsi atau penilaian negatif, tidak menyenangkan, menyengsarakan,menjengkelkan, mengecewakan, atau sebaliknya dalam persepsi yang lebih positif seperti sebuah kewajaran, hal yang indah, seseuatu yang mengharukan atau membahagiakan. Ketika kita menilai sebuah peristiwa secara lebih positif maka perubahan fisiologis kitapun menjadi lebih positif.
Menurut Wijokongko (1997) kemampuan mengelola emosi adalah suatu kekuatan yang dimiliki manusia untuk menguasa diri dan memanfaatkannya untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik. menurut Wijokongko kemampuan tersebut bersifat sembunyi dan dimiliki oleh setiap orang. Kemampuan tersebut perlu untuk terus digali dan dikembangkan agar dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mencapai kualitas hidup . kualitas hidup dimaksud adalah keseimbangan emosidan kesejahteraan hidup.
Dari uraian diatas disimpulkan bahwa kemampuan mengelola emosi adalah kemampuan untuk menangani perasaan, kapan seseorang merasakan, dan bagaimana seseorang mengalami atau mengekspresikan emosinya agar bermanfaat dan dapat diterima secara sosial.
4. Aspek-aspek Kemampuan Mengelola Emosi
Menurut Goleman (1999), aspek kemampuan mengelola emosi, meliputi:
a. Mengendalikan emosi
b. Remaja merasa senang apabila merasa dipercayai oleh orang lain karena dengan dipercaya remaja akan bertanggung jawab dalam mengelola diri. Selain itu, dengan dipercaya, remaja mampu mengakui kesalahan sendiridan berani menegur perbuatan yang tidak dapat diterima.
c. Beradaptasi dengan baik
Remaja dengan keahlian beradaptasi, dapat terbuka terhadap ide-ide baruyang dimunculkan sehingga remaja akan mampu menyesuaikan diri dengan baik didalam lingkungan sosialdan memiliki prioritas dalam hidup.
d. Menyadari bahwa tidak semua ungkapan emosi dapat diterima oleh orang lain.
Meningkatnya usia remaja, membuat mereka belajar dan menyadari bahwa tidak semua ungkapa emosi kesedihan atau kegembiraan hendaknya dapat diungkapkan dan dapat diterima oleh orang lain
e. Peka terhadap perasaan sendiri dan orang lain.
f. Merespon atau menanggapi reaksi emosional orang lain
Remaja mampu menanggapi reaksi emosional dari orang lain secara tepat dan dapat diterima oleh kelompok sosial.
g. Mengatur ekspresi emosi dalam lingkungan sosial
Pengungkapan emosi yang berlebihan harus dikendalikan oleh remaja pada umumnya karena pengungkapan emosi yang berlebihan dapat mengganggu orang lain yang ada di lingkungan tempat tinggal.
Aspek-aspek mengelola emosi tersebut akan digunakan sebagai perbuatan pertanyaan tentang kemampuan mengelola emosi anak broken home. setiap aspek akan dibuat pertanyaan untuk wawancara.
5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Mengelola Emosi
Hurlock (1991). faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan mengelola emosi antara lain:
a. Pengalaman Belajar
b. Kematangan berfikir
Perkembangan belajar dalam kematangan berfikir menghasilkan kemampuan untuk memahami makna yang sebelumnya tidak dimengerti menjadi memahami bagaimana cara mengelola emosi dengan positif.
6. Ciri-ciri Kemampuan Mengelola Emosi
Menurut Goleman (2007), ciri-ciri orang yang dapat mengelola emosi antara lain:
a. Mampu mengarahkan amarah yang tepat
Seseorang mampu mengelola emosinya dengan baik dan mengetahui waktu yang tepat untuk mengungkapkan amarahnya agar tidak membuat luka orang lain. Misalnya: Saat orang merasa tersinggung dengan ucapan orang lain, seseorang akan mencari waktuyang tepat untuk mengutarakan apa yang dirasakan. Hal ini dimaksud agar tidak saling melukai perasaan sendiri dan orang lain.
b. Berkurangnya perilaku agresif
buruk akan menghambat relasinya, sehingga anak mengurangi perilakunya yang agresif.
c. Lebih baik dalam mengelola diri
Seseorang dapat mengelola dan menyeimbangkan emosi yang terjadi didalam diri individu tersebut. Selain itu juga seseoranag mampu berfikir jernih dan tetap fokus apabila berada idalam masalah. Misalnya seseorang yang dapat mengelola kesalahannya dengan bersikap tenang dan berfikir positif.
B. Hakikat Keluarga
Lembaga paling utama dalam bertanggung jawab adalah keluarga. Karena ditengah keluargalah anak manusia dilahir dan dididik sampai menjadi dewasa.
1. Pengertian Keluarga
berinteraksi dan mempunyai ikatan darah, pernikahan, atau pengadopsian serta tinggal secara bersama-sama.
Lingkungan keluarga merupakan suatu tempat dimana anak berinteraksi sosial dengan orang yang paling lama, sehingga upaya pencegahan yang utama difokuskan pada keluarga kemudian sekolah. keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas bapak, ibu, anak, dan lain-lain (kakek, nenek, dan sebagainya) yang hidup dibawah satu atap dan saling berhubungan. Suryanto, 2008 (dalam Kertamuda 2008)
Keluarga adalah dua atau lebih invidu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan yang hidup dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain, dan dalam perannya masing-masing menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan. Salvicion dan Ara Celis (dalam Syamsul, Bambang, 2015).
C. Fungsi-fungsi Keluarga
Menurut Berns (2004), keluarga mempunyai lima fungsi dasar, yaitu:
a. Reproduksi. Keluarga memiliki tugas untuk mempertahankan populasi yang ada didalam masyarakat.
b. Sosialisasi/edukasi. Keluarga menjadi sarana untuk transmisi nilai, keyakinan, sikap, pengetahuan, keterampilan, dan teknik dari generasi sebelumnya ke generasi yang lebih muda.
c. Penugasan peran sosial. Keluarga memberikan identitaspada para anggotanya seperti ras, etnik, religi, sosial ekonomi dan peran gender.
d. Dukungan ekonomi. Keluarga menyediakan tempat berlindung, makanan dan jaminan kehidupan.
e. Dukungan emosi/pemeliharaan. Keluarga memberikan pengalaman interaksi sosial yang pertama bagi anak. interaksi yang terjadi bersifat mendalam, mengasuh, dan berdaya tahan sehingga memberikan rasa aman pada anak.
D. Anak dan perkembangan emosi keluargabroken home
Pada usia ini anak menerima suatu peran baru, bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang dan kelompok yang baru, dan mulai mengembangkan standar-standar baru dalam menilai diri mereka sendiri (Santrock, 2006).
Masa pertengahan dan akhir anak-anak ialah periode perkembanganyang terentangdari usia kira 6-11 tahun, yang kira-kira setara dengan tahun-tahun sekolah dasar. Periode ini kadang-kadang disenut masa sekolah dasar (Santrock, 2002).
Menurut Papalia (2009), masa kanak-kanak berada pada usia lima atau enam sampai 11 tahun. Masa sekolah atau pertengahan anak-anak (Middle chilhood) berada pada usia enam sampai 12 tahun (Havighurst dalam Desmita, 2009). Menurut Bukatko dan Berk (2008), masa pertengahan dan akhir anak-anak berawal pada usia enam hingga 11 tahun.
E. Karakeristik Perkembangan Anak. 1. Perkembangan kognitif
Menurut Piaget (dalam Santrock, 2002) pada masa pertengahan dan anak-anak akhir berada dalam tahap operasional konkret. Hal ini berarti anak sudah mampu melakukan pengoperasian dengan mengubah tindakan secara mental dan memperlihatkan keterampilan-keterampilan konservasi. Penalaran secara logis menggantikan pemikiran intuitif, tetapi hanya keadaan-keadaan konkret, dan tidak abstrak. Menurut Erikson (dalam Santrock, 2002) bahwa anak-anak dalam tahap ini banyak memperoleh pengalaman-pengalaman baru, tentang pengetahuan atau informasi dan keterampilan intelektual
2. Perkembangan sosioemosi
Dalam perkembangan psikososial anak-anak mengalami perkembangan pemahaman diri, perubahan-perubahan dalan gender,dan perkembangan moral yang menandai perkembangan anak-anak selama di sekolah dasar. Anak mulai membandingkan kemampuan mereka denga teman sebaya, jika mereka merasa tidak mampu mereka dapat menarik diri kedalam keluarga yang melindunginya. Oleh karena itu pada masa ini, dukungan sosial dari orang tua, teman sebaya, dan guru menjadi hal yang penting bagi anak. (Papalia, Olds, dan Feldman, 2010).
mereka belajar menyesuaikan perilaku mereka dengan situasi dimana anak berada. Pengendalian emosi melibatkan usaha untuk mengontrol emosi dan perilaku. (Eisenberg dalam Papalia dkk, 2010)
Menurut Santrock (2002) bahwa dunia sosioemosi anak menjadi lebih kompleks, yaitu relasi keluarga, relasi teman-teman sebaya, dan lingkungan anak. sekolah dan relasi dengan para gurumerupakan aspek-aspek kehidupan anak yang semakin terstruktur.
Keterampilan-keterampilan yang meningkat yaitu proses informasi sosial dan pengetahuan sosial. Selain itu, anak sadarorang lain memiliki suatu perspektif sosial yang disadari atas pemikiran orang itu, yang mungkin sama atau tidak dengan pikiran anak. akan tetapianak cenderung berfokus pada perspektifnya sendiri dan bukan mengkoordinasikan sudut pandang (Santrock, 2002).
3. Perkembangan Relasi Keluarga
Pada masa pertengahan dan akhir anak-anak, perkembangan kognitif anak-anak sudah semakin matang sehingga memungkinkan orangtua untuk bermuswarah dengan mereka tentang penolakan penyimpangan dan pengendalian perilaku mereka. orangtua mengarahkan tindakan-tindakan anak dan menerapkan disiplin, orangtua terus menjalankan pengawasan umum dan menggunakan kendali, meskipun anak diperbolehkan terlibat dalam pengaturan (Santrock, 2002).
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa masa pertengahan dan anak-anak akhir adalah dimana anak memasuki sekolah dasar. Usia mereka berkisar antara 6 sampai 11 tahun. Perkembangan kognitif anak pada usia ini memasuki tahap operasional konkret. Anak sudah mampu melakukan penalaran konkrit mengenai hal-hal disekitarnya dan yang dialami sehingga anak sudah mampu mempersepsikan seseorang berdasarkan pengalaman yang diterima orang tersebut.
F. Tugas-tugas Perkembangan Masa Usia Sekolah Dasar
1. Ciri-ciri pada masa kelas-kelas rendah (6/7-9/10 tahun):
Adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi. Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan tradisional. Adanya kecenderungan memuji diri sendiri. Membandingkan dirinya dengan anak yang lain. Apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal dianggap tidak penting. Pada masa ini (terutama usia 6-8 tahun) anak menghendaki nilai angka rapor yang baik, tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak).
2. Ciri-ciri pada masa kelas-kelas tinggi (9/10/11/12/13 tahun).
G. Broken Home
a. PengertianBroken Home
Broken home adalah sebagai kondisi keluarga yang tidak harmonis dan tidak berjalan layaknya keluarga yang rukun, damai, dan sejahtera karena sering terjadi keributan serta perselisihan yang menyebabkan pertengkaran dan berakhir pada perceraian. Kondisi ini menimbulkan dampak yang sangat besar terutama bagi anak-anak, seperti anak menjadi murung, sedih yang berkepanjangan dan malu. Selain itu, anak juga kehilangan pegangan serta panutan dalam masa transisi menuju kedewasaan. Broken home merupakan kondisi dimana keluarga yang terdiri dari ayah, ibu tidak lagi bersatu. Anak dan ibu secara ideal tidak terpisah tetapi bahu membahu dalam melaksanakan tanggung jawab sebagai orang tua dan mampu memenuhi tugas sebagai pendidik. (Sinudarsono,2009)
Menurut Kamus Terbaru Bahasa Indonesia (2008). Keluarga berantakan adalah Keluarga yang tidak harmonis karena terputusnya hubungan komunikasi anak, suami dan istri di sebabkan oleh sesuatu hal.
Keluarga berantakan adalah adanya kematian ayah dan ibu, perceraian diantara ayah dan ibu, hidup terpisah, poligami, perselingkuhan, keluarga yang diliputi konflik keras. (Kartono, 2005)
orang tua tidak peduli dengan situasi dan keadaan keluarga di rumah serta orang tua juga tidak lagi memperhatikan terhadap anak-anaknya. b. Penyebab Terjadinya KeluargaBroken Home
Pertengkaran, menurut Pohan (1986) merupakan salah satu faktor penyebab terjadi broken home. Betapa kecilnya permasalahan yang dialami dalam keluarga. Seperti gangguan komunikasi, perbedaan pendapat, kurang terbuka satu sama lain antara suami istri akan menimbulkan suatu perpecahan bahkan sampai perceraian. Setiap gangguan harus diatasi secepatnya, mencari pangkal persoalan, dimengerti, kemudian dilakukan pertukaran pikiran untuk mengatasi dan mencari jalan keluarnya.
c. Dampak KeluargaBroken HomeBagi Anak.
mencari masalah-masalah diluar, anak yang menjadi keluarga broken homeitu menjadi sangat nakal, karena:
1. Mempunyai kemarahan, kefrustasian dan melampiaskannya
2. Anak korban cerai jadi gampang marah karena mereka terlalu sering melihat orangtua bertengkar
3. Anak-anak yang bawaanya sedih, mengurung diri, dan menjadi depresi. Anak juga bisa kehilangan identitas sosialnya. status sebagai anak cerai memberikan suatu perasaan dia orang berbeda dari anak-anak lain.
H. Kajian Penelitian yang Relevan
1. Menurut hasil penelitian Dyah (2007) mengenai hubungan antara tingkat keharmonisan keluarga dengan perkembangan perilaku sosial siswa kelas VIII tahun ajaran 2006/2007 menunjukkan bahwa dari hasil pengamatan siswa banyak siswa kelas VIII yang berperilaku sosial kurang baik, seperti senang menyendiri, kurang memperhatikan teman, kurang tolong menolong sesama teman, kurang kerjasama dalam kelompoknya, dan suka berkelahi. Semua ini biasanya berlatar belakang keluarga yang tidak harmonis.
ini tampak dari perolehan kategori yang sedang menunjukkan bahwa remajaputra Panti Asuhan sancta Mari Boro sudah memiliki kemampuan mengelola emosi, namun kurang dikembangkan secara optimal.
I. Kerangka Pikir
Gambar di atas menjelaskan bahwa kemampuan emosi adalah kemampuan untuk mengenali, mengolah dan mengontrol emosi agar anak mampu merespons secara positif setiap kondisi yang merangsang Anak
Broken Home
Aspek Emosi
Mengendalikan Emosi
Dipercayai
Beradaptasi dengan baik
Menyadari bahwa tidak semua ungkapan emosi dapat
diterima oleh orang lain
Peka terhadap perasaan sendiri dan orang lain
Merespon atau menanggapi reaksi emosi orang lain
Mengatur ekspresi emosi dalam lingkungan
Aspek kemampuan mengelola emosi pada anak dari keluarga broken
munculnya emosi-emosi ini. Dalam kemampuan mengelola emosi memiliki tujuh aspek ini yang akandi observasikan di lapangan untuk individu yang bersangkutan.
31
BAB III
METODE PENELITIAN
Dalam bab ini di uraikan Jenis penelitian, Tempat dan waktu penelitian, Subjek penelitian, Teknik dan instrumen pengumpulan data, Keabsahan data, dan teknik analisis data
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah penelitian berada di lapangan (Sugiyono, 2010:205). Dilihat berdasarkan sifat masalahnya penelitian ini berjenis penelitian studi kasus.Studi kasus adalah suatu penyelidikan tentang individu secara mendalam, relatif lama terus menerus dan menggunakan subyek tunggal yang artinya kasus yang dialami satu orang (Furchan, 1982).. Alat yang digunakan peneliti adalah observasi secara langsung dan wawancara kepada subjek.
2. Tempat dan Waktu Penelitian
Peneliti melakukan penelitian di Ambarketawang, Gamping dan Umbulharjo, Yokyakarta. Untuk subjek pertama peneliti melakukan penelitian pada bulan januari 2017, sedangkan untuk subjek kedua peneliti dilakukan pada bulan Agustus 2016 di Yokyakarta
3. Subjek Penelitian
Berikut ini kriteria subjek yang diteliti: a. Subjek berjenis kelamin perempuan b. Subjek berumur 12-14 Tahun
c. Anak yang mengalami keluargabroken home(bercerai) d. Tinggal di Yogyakarta
4. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan wawancara dan observasi. Langkah awal yang akan peneliti lakukan yaitu:
Tabel 1
Panduan Wawancara
No Pertanyaan
1 Bagaimana hubungan komunikasi kamu dengan ayah dan ibu?
2 Saat bermain, apakah kamu pernah mengatakan kata tidak baik atau perkataan kotor kepada teman-temanmu?
3 Apakah kamu merasa nyaman dengan masalah yang kamu alami saat ini? 4 Apakah kamu pernah marah-marah tidak jelas dengan teman-temanmu? 5 Bagaimana cara kamu mengendalikan emosimu saat bermain bersama
teman?
6 Apa reaksi kamu jika teman-teman berkata kasar kepadamu?
7 Apakah kamu pernah melampiaskan emosi negatifmu pada teman-temanmu? Coba kamu ceritakan.
8 Reaksi emosi apa yang sering kamu luapkan kepada orang ketika kamu mengalami masalah?
9 Bagaimana cara menjaga kemarahanmu ketika teman-teman mengejek kamu anak dari keluarga yang berpisah?
10 Bagaimana cara melepaskan emosimu saat mengalami masalah?
Tabel 2 Panduan Observasi.
a. Keabsahan Data
Penelitian ini menggunakan teknik triangulasi untuk melihat validitaspenelitian. Sugiyono (2010: 330) menyatakan bahwa ada dua jenis triangulasi yaitu, triangulasi teknik dan triangulasi sumber. Triangulasi teknik berartipeneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untukmendapatkan data dari sumber yang sama. Sedangkan triangulasi sumber berarti untuk mendapatkan data dari sumber yang berbeda-beda dengan teknik yang sama. Triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecekbalik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu danalat yang berbeda dalam penelitian kualitatif.
Penelitian ini menggunakan wawancara dan observasi dari sumber data yang sama. Peneliti membandingkan data hasil observasi dan data No Aspek yang di amati Perilaku yang di amati
1 Mengendalikan emosi Bermain serta berinteraksi 2 Dipercayai Ekspresi wajah (kesal),
hasil wawancara membandingkan apa yang dikatakan oleh orang tua dan teman dekat subjek dengan apa yang dikatakan oleh subjek tersebut. b. Teknik Analisis Data
Data penelitian ini dianalisis secara kualitatif. Nasution (dalam Sugiyono,2010:336) menyatakan bahwa “analisis telah mulai sejak merumuskan dan menjelaskan masalah merumuskan dan menjelaskan masalah, sebelum terjun kelapangan dan berlangsung terus menerus sampai penulisan hasil penelitian. Analisis aktivitas terdapat 3 komponen, yaitu: reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Reduksi data adalah proses merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan hal-hal yang penting dari catatan-catatan yang tertulis di lapangan. Dalam proses ini dilakukan pemilahan dan penyisihan data yang kurang bermakna lalu menatanya sedemikian rupa sehingga dapat di tarik kesimpulan.
36 BAB IV
HASIL PENELITIAN
Pada bab ini dipaparkan tentang hasil penelitian dan pembahasan terdiri dari tempat pelaksanaan, Deskripsi data, Analisis data, dan pembahasan
mengenai pengelolaan emosi anak dari keluarga broken home.
A. Deskripsi Data
1. Tempat Pelaksanaan Peneliti
Pada penelitian ini, peneliti mendapatkan subjek di Ambarketawang, Gamping dan Umbulharjo, Yokyakarta. Penelitian ini dilakukan di
lingkungan rumah subjek yang letaknya di Ambarketawang, Gamping dan Umbulharjo, Yokyakarta. Selama penggalian data peneliti melakukan pendekatan, observasi dan wawancara.
2. Subjek 1
a. Penghimpunan Data Subjek
Nama : D
Jenis kelamin : Perempuan
Tempat, tanggal lahir : Gamping 3 Juli 2003 Alamat : Ambarketawang, gamping
Anak ke : 1
Usia : 13 Tahun
Agama : Katolik
Kelas : 4 SD
b. Analisis
1. Latar Belakang Keluaga
Subjek adalah anak tunggal. Sejak kelas 5 SD subjek sudah berhenti sekolah dikarenakan ibu subjek tidak mampu lagi membiayai uang sekolah, oleh karena itu subjek berhenti sekolah
dan sekarang subjek melakukan kesehariannya dengan membantu ibu di kebun tetangga dan mencari barang-barang bekas untuk di
jual. Saat ini D tinggal bersama ibunya di Ambarketawang gamping. Orang tua D sudah bercerai sejak D berumur 8 tahun, akibat perceraian maka subjek tinggal bersama ibunya. Saat ini
ayah subjek berada di Jakarta dan sudah menikah dengan wanita lain. Semenjak terjadinya perceraian ayah-ibunya, D mengatakan
bahwa kehidupan keluarganya sudah tidak harmonis seperti dulu dan perceraian ini sudah cukup lama terjadi.
“Kehidupan keluargaku sekarang sudah hancur dan sudah tidak kayak dulu lagi mba. Kadang-kadang aku iri melihat kebahagiaan keluarga teman-temanku. Tapi ya sudahlah mba semua sudah terjadi dan tidak bisa bersatu lagi. Orang tuaku berpisah sejak saya masih berumur 8 tahun mba.”
Pernyataan di atas menunjukkan bahwa keluarga D sudah
berantakan dan tidak seperti dulu lagi, terkadang D juga merasa iri hati dengan melihat begitu bahagianya keluarga teman-temannya.
Saat ini hubungan komunikasi ayah dan ibu baik, hanya cara penyampaian komunikasinya yang berbeda-beda, ada yang
penyampaian komunikasi dengan secara langsung dan ada pula komunikasi melalui handphone, hal ini disebabkan karena keberadaan orang tua D berbeda-beda. Walaupun cara
berkomuikasi yang berbeda-beda namun kamunikasi antara ayah dan ibu dengan D masih tetap lancar dan baik. namun D lebih
sering berkomunikasi dengan ibu karna saat ini D tinggal bersama ibunya.
“Komunikasi saya dengan ayah baik mba, kami berkomunikasi melalui telepon dan SMS, sedangkan dengan ibu sangat baik mba, karna saya tinggal dengan ibu.”
Dengan melihat kondisi keluarga broken home, D mengatakan bahwa D tidak nyaman, faktor utama yang membuat D merasa
tidak nyaman yaitu mendengarkan ocehan-ocehan dari tetangga.
“Gak mba apalagi kalau sudah dengar ocehan-ocehan orang- orang.”
Peristiwa perceraian pada keluarga membuat anak menjadi tidak tenang dengan masalah yang dialaminya. D merasakan begitu
banyak kepedihan yang ia rasakan baik itu sedih, kecewa,tertekan dan marah. D mengakui bahwa D merasa iri dengan kebahagiaan
orang tua teman-temannya.
Pernyataan dibawah ini terlihat bahwa. D sudah menerima masalah yang di alami orang tuanya. Awalnya D merasa kecewa untuk menerima semua dan D mempunyai kemauan supaya keluarganya
utuh kembali, akan tetapi D menyadari bahwa hal itu tidak mungkin terjadi karena salah satu orang tua D sudah ada yang
menikah yaitu ayah.
“Sudah bisa menerima mba. Awalnya saya kecewa banget mba, saya ingin orang tuaku kembali bersatu lagi. Tapi karna ayah sudah berkeluarga jadi gak mungkin terjadi mba.”
2. Lingkungan fisik, Sosio-Ekonomi
Tempat tinggal D berada dalam lingkungan mayoritas kristen katolik, taraf ekonomi sederhana, lingkungan tersebut
merupakan lingkungan yang padat dengan rumah penduduk disisi kanan dan kiri. Di tinjau dari segi ekonomi masyarakat yang tinggal disekitar rumah D adalah masyarakat yang memiliki
pekerjaan petani, buruh dan pegawai. Budaya yang mendominasi lingkungan tempat tinggal D adalah budaya jawa.
Kondisi ekonomi keluarga D cukup sederhana. Waktu orang tua D belum bercerai kondisi ekonomi menengah atas, akan tetapi sejak terjadinya keributan, pertengkaran dan perselingkuhan
hanya memberi sebagian hartanya kepada ibu dan D untuk kebutuhan mereka.
3. Pertumbuhan Jasmani dan Riwayat Kesehatan
Pada umumnya pertumbuhan jasmani D sesuai dengan tahap perkembangan anak dan D lahir dengan normal. D tidak
memiliki penyakit, hanya saja dia sakit kecil seperti flu, sakit kepala, deman dan batuk.
4. Lingkungan Sosial
D memiliki beberapa teman dekat. Dimana subjek sering sekali berkumpul di bersama teman-temannya. Ketika subjek telah
melakukan pekerjaannya baik itu membantu ibunya di kebun maupun mencari barang-barang bekas akan tetapi subjek tidak lupa
meluangkan waktu untuk bermain bersama teman-temannya. Teman-temanya merasa bangga atas kemandirian yang dimiliki subjek, karna subjek sudah bisa mencari uang sendiri tanpa
menyusahkan ibunya. Dan subjek merasa bahagia berteman bersama teman-teman yang tmengerti akan kondisi keluarga orang
tuanya.. D sudah mampu berinteraksi dengan teman-teman sebayanya serta orang dewasa. Walaupun D dari keluarga yang berpisah akan tetapi sebagian masyarakat ikut berempati pada D.
Dalam pergaulan dia tidak ingin memilih-milih dalam berteman, dia suka berteman dengan siapa saja baik itu teman laki-laki
hubungan relasi dengan teman-teman sangat baik-baik saja. Walaupun ada beberapa teman-teman yang tidak meyukai
berteman dengan D. Setidaknya D dapat berinteraksi dengan baik.
“Baik mba, tapi ada sebagian teman yang tidak mau berteman denganku.”
5. Ciri-ciri Kepribadian.
D adalah anak yang pintar, penurut, mandiri, mampu berfikir positif ketika memiliki masalah, D mampu mengendalikan emosinya serta penyabar. D hanya terbuka kepada orang yang
3. Subjek 2
a. Penghimpunan Data Subjek
Nama : S
Jenis kelamin : Perempuan
Tempat, tanggal lahir : Solo 08 Agustus 2005
Alamat : Jl. Nitikan, Umbulharjo Yokyakarta Anak ke : 1 dari 2 bersaudara
Usia : 12 Tahun
Agama : Kristen
Kelas : 5 SD
Pendidikan terakhir : TK
Cita-cita : Guru dan Bidan
b. Analisis
1. Latar Belakang Keluarga
Subjek S adalah anak pertama dari dua bersaudara, adiknya masih sekolah kelas 2 SD. S tinggal bersama bibi dari adek ayahnya, dimana bibinya membuka usaha loundri manual (mencuci
menggunakan tangan). S tidak tinggal bersama ayah dan ibunya dikarnakan orang tua S sudah bercerai. Akibat perceraian, ayah
sering menitipkan subjek di panti, ayah menitipkan S dipanti dikarnakan ayahnya selalu sibuk bekerja dan tidak ada yang menjemput S ketika sudah pulang dari sekolah serta tidak ada yang
menjaga adiknya S di rumah, oleh sebab itu ayah menitipkan anaknya di panti asuhan. Saat ayah selesai bekerja ayah langsung
ayah pergi ke Bandung (pindah lokasi kerja) karna disuruh oleh atasan kerja ayah. Karna kesendirian bibi di rumah didaerah
Yokyakarta, akhirnya ayah menitipkan anak di tempat bibi. Bibi mengatakan bahwa saat ini S tidak mengetahui keberadaan ibu subjek akan tetapi ibunya sudah mempunyai suami baru. Dari latar
belakang sudah dapat di ketahui bahwa kehidupan keluarga sudah tidak harmonis lagi
“Keluargaku sekarang sudah gak sama lagi kayak dulu mba, sekarang saya dan adek tinggal sama bibi ditempat adeknya ayah. Sekarang ibu sudah menikah lagi dengan laki-laki dan saya gak tahu dimana ibu berada. Kata ayah sejak aku kecil mba.”
S mengatakan bahwa hubungan komunikasi dengan ayah sangat baik sedangkan komunikasi dengan ibu jarang sekali. Setiap bibi dan S menghubungi ibu melalui ponsel ibu jarang sekali mengangkat telpon dan membalas SMS.
“Baik mba, walaupun aku dan adekku tinggal ditempat bibi tapi kami masih bisa SMS dan nelpon ayah mba. Kalau Ibu mah jarang, karna setiap kami hubungin, ibu jarang angkat telpon dan balas sms mba.”
Pernyataan di bawah ini menggambarkan S merasa tidak nyaman
dengan keluarga yang broken home. Akan tetapi S kenyamanan dan ketidaknyamanan tersebut ditentukan oleh keluarga,S merupakan salah satu anak yang hebat dan kuat dalam menghadapi
masalah keluarganya. Meskipun keluarganya sudah broken home,
S selalu mendoakan orang tuanya walaupun orang tua tidak akan
“Sejujurnya gak nyaman. Tapi ya mau gimana lagi mba, saya hanya bisa mendoakan mereka, ya walaupun orang tua saya tidak mungkin bersatu lagi.”
Akibat terjadinya keluarga broken home, akhir-akhir ini S sering merasa bersedih, kecewa serta kebutuhan S dan adeknya semakin terbatas. S juga mengakui semenjak orang tuanya berpisah hidup S
merasa hampa, frustrasi karna berhenti sekolah, hanya adeknya yang sekolah. terkadang malu dan iri melihat teman-teman yang bisa bahagia dengan orang tua dan bisa sekolah,
“Rasanya kecewa dan sedih mba, suka menangis dan kebutuhan saya dengan adek menjadi terbatas. Pokoknya semua sudah hancur mba.harapanku untuk sekolah dan iri melihat keluarga teman-teman.”
Tidak semua permasalahan keluarga dapat diterima oleh anak, apalagi masalah yang sudah melewati batas atau sampai ke
perceraian pada orang tua. S juga mengakui bahwa pertama-tama S merasa belum bisa menerima peristiwa kedua orang tuanya, namun
S percaya bahwa perlahan-lahan S akan bisa menerima peristiwa kedua orang tuanya. S hanya bisa berdoa untuk orang tuanya.
“Kalau masalahnya baru-baru belum bisa mba, tapi sekarang sudah bisa menerima dan tak ada yang bisa diharapkan lagi. Semoga Tuhan memberkati orang tuaku mba.”
2. Lingkungan fisik, Sosio-Ekonomi
Tempat tinggal subjek berada dalam lingkungan mayoritas
ramai sekali dimana sore hari biasanya anak-anak bermain di lingkungan sekitarnya. Budaya yang mendominasi lingkungan
tempat tinggal S adalah budaya jawa.
Kondisi ekonomi S ini memiliki status social menengah (sederhana, tidak kaya dan juga tidak kekurangan).
3. Pertumbuhan Jasmani dan Riwayat Kesehatan
Pada umumnya pertumbuhan jasmani S sesuai dengan
tahap perkembangan anak dan lahir dengan normal. S memiliki penyakit ASMA.
4. Lingkungan Sosial
Tidak semua anak yang mengalami keluarga broken home
dapat berelasi dengan orang lain, namun S merupakan anak yang
mampu berelasi dengan teman sebaya, walaupun tidak semua orang ingin berteman dengannya namun S sudah mampu berelasi dengan baik dan saling menerima keadaan baik S maupun
teman-temannya. Ketika ada waktu kosong S mengajak teman-teman bermain dan berkumpul di tempat mereka bermain. Teman-teman
S juga sering bermain ke rumah subjek begitu juga sebaliknya.
5. Ciri-ciri kepribadian
S adalah anak yang sabar, penurut, pintar, rajin melakukan
pekerjaan rumah dan mau membantu bibinya. Dan S mampu mengontrol dirinya sepertiberusaha untuk tidak emosi. S mempunyai sifat terbuka dengan orang yang dekat dan orangnya
B. Wawancara Mendalam
Wawancara mendalam ini dilakukan setelah peneliti melakukan
pendekatan lebih jauh terhadap subjek. Peneliti menemui dan akan melakukan pendekatan terhadap kedua subjek dengan tempat dan waktu yang berbeda-beda. awalnya subjek begitu acuh tak acuh terhadap peneliti, dan peneliti
merasa putus asa dengan kecuekan subjek. Akan tetapi peneliti baru menyadari dan mengetahui dari teman dekat subjek bahwa sebenarnya subjek
tidak cuek, subjek cuek karna subjek belum terlalu mengenal dengan peneliti, oleh sebab itu subjek terlalu acuh tak acuh terhadap peneliti. Akan tetapi peneliti terus melakukan pendekatan dengan subjek sampai subjek merasa
nyaman dengan peneliti, hingga akhirnya peneliti dapat melakukan wawancara dengan baik dan lancar terhadap subjek.
1. Subjek D
a. Aspek Mengendalikan Diri
D dapat mengelola dan mengatasi perasaannya saat marah.
Cara D mengendalikan keamarahannya saat teman mengejek D anak dari keluarga berpisah ialah mencoba mengibur diri yang positf untuk
tidak tersinggung dan bersabar dalam menghadapi masalah terutama dengan ejekan teman-temannya.
D tergolong individu yang mampu mengendalikan dan mengatur perasaan emosi yang ada di dalam dirinya dengan cara meredam rasa marah dan berdiam diri ketika mendengarkan
cemohan-cemohan orang-orang di lingkungan tempat tinggal D.
“Ya saya bisa mba menangani perasaan saya mba dan saya hanya bisa meredam perasaan marah dengan berdiam diri.”
(D1A1/KMEBH-w/009-010) b. Aspek Sifat Percaya
Tidak semua orang dapat mempercayai anak dari keluarga
yang broken home. Akibat permasalahan keluarga yang berpisah dan keterbatasannya ekonomi yang dimiliki oleh D. Maka sebagian orang
tua teman-temannya memandang bahwa anak yang berasal dari keluarga broken home suka mengambil barang milik orang lain. D menyadari bahwa tidak sepenuhnya D memiliki barang-barang
berharga, tetapi bukan berarti orang tua bisa menilai seseorang dari kehidupan keluarganya. Walaupun orang tua tidak sepenuhnya
percaya atau suka menilai hal yang tidak baik terhadap D akan tetapi D selalu berpikir positif supaya pikirannya dapat terkendali dan tenang dalam menghadapi masalah.
c. Aspek Beradaptasi dengan Baik.
Selain bermain bersama teman, D juga meluangkan waktu untuk mengikuti doa lingkungan bersama ibunya di rumah tetangga. Dengan berdoa bersama, setidaknya apa yang dipikirkan oleh D
menjadi lebih baik dari sebelumnya.
“Biasanya saya ikut ibu doa lingkungan di tempat tetangga, ya buat nenangin pikiranlah mba.”
(D1A3/KMEBH-w/018-019)
Terkait dengan masalah keluarga D merupakan anak yang cukup sulit untuk bercerita dengan orang lain, hanya dengan ibu dan
sahabat yang benar-benar D percayai untuk di ajak bercerita. Tetapi D biasanya sering menceritakan masalah dengan ibu tercintanya, karna ibu selalu membuat hati D merasa nyaman untuk bercerita dan ibu
juga selalu mendengarkan keluhan D.
“Ibu dan teman-teman mba, tp biasanya saya kebanyakan cerita dengan ibu, karna ibu selalu buatku nyaman untuk bercerita. Pokoknya enak banget kalau udah cerita sama ibu, karna ibu tidak pernah lelah mendengarkan ceritaku mba.”
(D1A3/KMEBH-w/021-023)
d. Aspek menyadari bahwa tidak semua ungkapan emosi dapat diterima oleh orang lain
Dalam mengungkapkan perasaan emosi negatif, tidak semua
orang dapat menerima emosi negatif baik itu diri sendiri maupun orang lain, begitu juga dengan subjek D, dimana saat bermain D
temannya. karena D menyadari atas ucapannya, D dengan segera meminta maaf pada temannya.
“Pernah dan saya langsung minta maaf karna ucapanku mba.”(D1A4/KMEBH-w/026)
e. Aspek Peka terhadap perasaan sendiri dan orang lain.
D menyadari bahwa dia pernah melampiaskan emosinya pada
teman melalui kata-kata yang cukup menyakiti perasaan. D marah ketika sedang menstruasi. Jika D sedang menstruasi biasanya memberitahukan kepada teman perempuan supaya temannya mengerti
dan tidak terjadi kesalahpahaman ketika D suka marah-marah tidak jelas.
“Pernah. Tapi biasanya saya marah itu disaat saya lagi M mba, ya biasalah cewek mba, suka marah-marah gitu. Dan saya selalu kasih tahu teman cewek supaya mengerti akan kemarahanku mba.”(D1A5/KMEBH-w/028-030)
f. Aspek merespon atau menanggapi reaksi emosional orang lain.
Saat berkumpul dan bermain bersama sahabat pasti ada
terjadinya masalah, tergantung orang menanggapi emosi itu seperti apa, misalnya seperti marah, kesal, jengkel, sabar dan lain sebagainya.
Begitu juga dengan teman D, dimana ketika teman-teman mengucapkan kata kasar kepada D, reaksi emosi yang terlihat pada D yaitu diam dan menegur.
g. Aspek mengatur ekspresi emosi dalam lingkungan sosial.
Akibat terjadinya keluarga yang berpisah, begitu banyak masalah yang terjadi pada D. Selain masalah, D merasa frustasi
karena apa yang D impikan tidak tercapai (pendidikan) dan keterbatasannya ekonomi. Masalah yang dialaminya membuat D
tertekan dan sedih karena begitu banyak ocehan-ocehan dari orang lain, sehingga D hanya bisa bersabar. D pernah mengatakan bahwa D ingin menegur orang yang suka membicarakan keluarga D, tetapi D
selalu mengingat nasihat ibunya untuk tidak menangapi orang tersebut karna itu akan menambah masalah. Sehingga D selalu mengendalikan
emosinya di hadapan orang-orang tersebut.
2. Subjek S
a. Aspek mengendalikan diri.
S termasuk anak yang mampu mengendalikan emosinya walaupun tidak sepenuhnya S dapat mengendalikan, akan tetapi S selalu berusaha untuk mengatur dan mengendalikan emosinya disaat S
memiliki masalah. Setiap orang memiliki cara untuk melepaskan emosi, baik itu emosi negatif maupun emosi positif. Dari hasil
wawancara S memiliki cara tersendiri untuk mengendalikan emosinya dengan cara diam, bermain game, jalan-jalan dan meneteskan air mata (menangis)
“Diam dan jangan meladenin mereka, semakin diladenin semakin menjadi mba, kadang main game di HP bibi, berdoa, jalan-jalan dengan adek, kadang sering menangis mba.”(S2A1RM1/KMEBH-w/003-005)
S adalah anak yang kuat dalam menghadapi masalah, tidak
semua anak dari keluarga broken home dapat menghadapi masalah Tidak hanya itu saja ada beberapa orang-orang di lingkungan tempat tinggal S tidak menyukai dengan orang tua S. Oleh sebab itu
orang-orang selalu membicarakan orang-orang tuanya, walaupun orang-orang tua S tidak berada di solo, tetapi warga selalu bertanya pada S mengenai orang
tuanya, S mengatakan bahwa dia sangat sensitif membicarakan tentang orang tuanya, karna itu akan membuat S menjadi sedih.
melahirkan saya dan adek saya mba.” (S2A1/KMEBH-w/009-011)
b. Aspek sifat dipercayai
S mengatakan walaupun tidak sepenuhnya orang-orang percaya padanya, akan tetapi S selalu membuktikan bahwa tidak semua anak yang berasal dari keluargabroken homeitu tidak baik.
“Tidak sepenuhnya mba. karna orang selalu memandang bahwa anak yang broken home itu adalah anak yang tidak baik.”(S2A2/KMEBH-w/014-015)
c. Aspek beradaptasi dengan baik.
Terkadang anakbroken homesangat sulit beradaptasi dengan lingkungan sekitar, akan tetapi S mampu beradaptasi dengan
lingkungan sekitar bahkan S ikut berpartisipasi untuk mengikuti bibi misa bersama di tempat tetangga, tidak hanya itu saja S juga selalu ikut ke sekolah minggu bersama adeknya. Sehingga dapat di
simpulkan bahwa S tidak menjauhi nilai-nilai agama dan dapat menenagkan masalah yang S hadapi..
“Ya paling ikut bibi misa bersama di rumah tetangga, kadang ikut nemani adek ke sekolah minggu juga mba. ya bisa menenangi pikiran juga mba.” (S2A3/KMEBH-w/018-019)
S mengatakan bahwa saat dia memiliki masalah yang berat
memiliki bibi dan ayah, S mengatakan seandainya ibu seperti bibi mungkin hidupku akan bahagia
“Bibi dan ayah. Karna mereka mau mendengarkan masalahku dan saya juga merasa nyaman. saya bahagia memiliki mereka mba, seandainya ibu seperti bibi mungkin saya akan senang mba dan kadang juga cerita sama teman, tapi biasanya cerita dengan teman dekat saja mba.”
(S2A3/KMEBH-w/022-025)
d. Aspek menyadari bahwa tidak semua ungkapan emosi dapat diterima oleh orang lain
Setiap orang pasti pernah mengucapkan perkataan yang tidak baik kepada orang lain, begitu juga dengan S dimana dia pernah mengucapkan perkataan yang tidak baik pada teman sebayanya. Melihat teman ekspresi wajah temannya yang tidak terima atas ucapannya, S dengan segera mengakui kesalahannya dan meminta maaf dengan teman sebaya tersebut.
“Pastinya pernah mba tapi saya langsung minta maaf mba.karna wajah teman-temanku itu kayak marah gitu, jadi saya takut dan langsung minta maaf.”
(S2A4/KMEBH-w/028-030)
e. Aspek Peka terhadap perasaan sendiri dan orang lain.
Tidak semua individu dapat peka terhadap emosi yang
dialami oleh orang lain. S mengatakan bahwa dia pernah melampiaskan emosinya saat teman mengajak S bermain. Akan tetapi S menolak karna memiliki masalah.
langsung bentak dengan suara yang keras,lalu temanku itu
f. Aspek merespon atau menanggapi reaksi emosi orang lain.
Emosi tanpa sebab itu rasanya tidak mungkin, ketika individu
mengucapkan perkataan yang tidak baik kepada orang lain tentunya kedua belah pihak sedang memiliki masalah. Begitu juga S yang memiliki masalah sehingga teman sebaya mengucapkan perkataan
tidak baik kepada S.
“Dapat, biasanya saya mendengarkan musik, mencari tempat yang tenang seperti pantai, bermain bersama teman-teman, dan melakukan aktivitas yang positif seperti membantu bibi, kadang menangis, dan berdoa dengan Tuhan.”(S2A6RM2/KMEBH-w/045-048)
g. Aspek mengatur ekspresi emosi dalam lingkungan sosial
Yang membuat S merasa tertekan dengan lingkungan sekitar yaitu ejekan-ejekan teman yang tidak ingin berteman dengan S.
temannya selalu mengejek S anak broken home. Di samping itu S merasa kesal dan marah sekali, karena S menghembuskan nafasnya akhirnya S mulai mengendalikan emosinya supaya tidak melakukan
tindakan-tindakan yang tidak baik kepada teman yang tidak ingin berteman dengan S.
untungnya juga mba, jadi saya berusaha mengatur emosi saya. “(S2A7/KMEBH-w/051-055)
C. Pembahasan
Berdasarkan teori mengenai kemampuan mengelola emosi merupakan kemampuan memahami diri, mengelola emosi, empati dan dapat membina
hubungan dengan orang lain sehingga orang-orang mampu mengelola sifat-sifat negatifnya yang muncul didalam diri. Berdasarkan data yang telah diperoleh oleh peneliti setelah melakukan observasi dan wawancara mengenai
data-data tersebut dapat di ketahui bahwa:
1. Cara-cara kemampuan mengelola emosi anak dari keluarga broken homedi lingkungan sekitar.
a. Diam merupakan salah satu cara subjek untuk mengendalikan emosi dan subjek dapat menenangkan diri di tempat yang nyaman. Salah satu
strategi umum untuk tidak memfokuskan perhatian pada masalah-masalah tertentu yaitu terutama sanggup menenangkan pikiran atau
perasaan-perasaan yang tidak mengenakkan (Goleman, 2007)
b. Berdoa, untuk mengendalikan amarah dimana subjek ingat dengan ibadah yang ajarkan oleh agama yaitu berdoa dan menyebut nama
Tuhan, serta subjek selalu mengikuti ibunya diperkumpulan keagamaan seperti doa lingkungan bersama-sama dan misa bersama di tempat
mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres serta tekanan tidak melumpuhkan kemampuan berfikir, berempati dan berdoa. (Goleman
2007)
c. Curhat, dengan sesi curhat akan membantu subjek meredakan pikiran dari masalah yang dialaminya, dari hasil wawancara subjek mengatakan
bahwa subjek sering menceritakan masalahnya kepada ibu. Pengungkapan emosi adalah upaya mengkomunikasikan atau
menyebutkan status perasaannya kepada orang lain. Planalp (dalam Safaria dan saputra, 2009)
d. Menghembuskan nafas atau relaksasi dengan perlahan-lahan. Subjek
kerap kali menggunakan cara ini disaat sedang emosi. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengelola emosi adalah melalui relaksasi
tujuannya untuk untuk meringankan ketegangan psikis dan fisiologis akibat stresor yang menekan. Safaria dan saputra, (2009)
e. Melakukan aktivitas yang positif seperti berkumpul, refresing dan
bermain. Ketika semua masalah emosi yang menyerang disebabkan pikiran yang negatif. Cara menghilangkannya emosi dengan menikmati
suasana yang menyenangkan membuat refres otak dan pikiran serta berlibur, berkumpul dengan teman dan tertawa. (Dewi Kusuma, 2016) 2. Cara mengendalikan emosi saat teman sebaya mengucapkan perkataan
tidak baik kepada anak yang berasal dari keluargabroken home
a. Menghembuskan nafas dengan perlahan-lahan akan membantu subjek
mengelola emosi adalah melalui relaksasi tujuannya untuk untuk meringankan ketegangan psikis dan fisiologis akibat stresor yang
menekan. Safaria dan saputra, (2009)
b. Mendengarkan musik favorit, bermain bersama teman-teman. Disaat kita tidak bisa mengekspresikan emosi secara langsung maka kita bisa
mengelola atau menyalurkan emosi tersebut dengan melakukan beberapa aktivitas atau hobi seperti menulis, mendengarkan musik yang
tepat, bernyanyi, menggambar, olahraga atau kegiatan lainnya untuk mengeluarkan emosi yang tertahan. Ekspresi dari emosi dalam bentuk aktivitas yang positif justru tidak hanya baik bagi kesehatan psikis
namun punya nilai tambah untuk meningkatkan kreativitas dan kesehatan fisik. (Annas, 2015)
c. Mencari tempat yang tenang dan adem (menenangkan pikiran). Individu dengan keahlian dapat menjaga emosi dan menyeimbangkan emosi yang terjadi didalam diri individu. Selain itu anak mampu berfikir jernih dan
tetap fokus walaupun berada didalam posisi tertekan. Goleman (1999) d. Berdoa kepada Tuhan yang Maha Esa. Penggunaan praktik-praktik
religius dan keyakinan spiritual sebagai tindakan coping memberikan dampak yang positif untuk mengatasi stres. Dapat disimpulkan salah satu jenis tindakan coping yang bisa dilakukanindividu menghadapi
kesusahan adalah melaluipendekatan religius, dalam hal ini di lakukan dengan berdoa, shalat, membaca kitab suci dan alqur’an dan dzikir atau
59 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini memaparkan kesimpulan dan saran. Bagian kesimpulan
memuat dari keseluruhan hasil penelitian yang telah dilakukan, sedangkan
bagian saran berisi masukan bagi peneliti lain yang akan melakukan
penelitian lain.
A. Kesimpulan
Penelitian ini menyimpulkan bahwa walaupun subjek adalah anak
dari keluarga Broken Home akan tetapi kedua subjek ini mampu
mengelola emosinya. Subjek mampu mengelola emosi dikarnakan kedua
subjek selalu melakukan kegiatan-kegiatan yang positif misalnya seperti
berdoa, curhat, menghembuskan nafas, beribadah, berdoa dan melakukan
aktivitas yang positif seperti berkumpul dan bermain bersama
teman-teman. Subjek merasa bahagia memiliki ibu dan bibi yang sayang dan
peduli dengan subjek, walaupun kebutuhan subjek tidak terpenuhi
seutuhnya, setidaknya kasih sayang dari salah satu orang tua sangatlah
berharga bagi diri subjek, sehingga subjek memiliki semangat dalam
melakukan aktivitas-aktivitasnya sehari-hari. Tidak hanya itu saja subjek
juga merasa bahagia dan beruntung karena memiliki teman-teman yang
mau menerima keadaan subjek tanpa membedakan baik itu karna
B. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki kekurangan dan keterbatasan. Peneliti menyadari
bahwa begitu banyak hal yang harus diperbaiki dan disempurnakan lagi.
Ada beberapa keterbatasan tersebut yaitu:
1. Peneliti kurang mampu membuat kalimat yang efektif dalam
penyusunan skripsi
2. Orang tua subjek pertama dan kedua tidak sepenuhnya dapat
membantu peneliti untuk mewawancarainya dikarenakan sibuk
bekerja.
3. Keterbatasan berkomunikasi dengan subjek karna subjek sibuk bekerja
membantu orang tuanya.
4. Peneliti kurang mampu menggali data dan peneliti kurang konsisten
dengan waktu.
C. Saran
Saran yang diberikan peneliti ini ditujukan untuk subjek, orang tua dan
peneliti berikutnya.Beberapa saran yang diberikan sebagai berikut:
a. Bagi anak dari keluarga broken home, sebaiknya tetap optimis dalam
menjalani kehidupan sehari-hari walaupun kondisi keluarga yang tidak
menguntungkan dan menjadikannya pelajaran untuk tidak mengulangi
hal yang serupa.
b. Bagi orang tua, hendaknya jangan melibatkan anak secara langsung
dalam konflik pernikahan, sehingga anak tidak menjadi korban dalam