Pemodelan Monitoring Building…, Luthfialmas Fakhrizki Irwanto, Universitas Multimedia Nusantara
5 BAB III
PELAKSANAAN KERJA MAGANG
3.3 Kedudukan dan Koordinasi
Selama melakukan kerja magang di PT MEPCON Integra Nusa, penulis bekerja di divisi Software and Electronic. Tugas yang dilakukan adalah melakukan pemodelan atau pembuatan monitoring system gedung menggunakan software SCADA. Pembuatan monitoring system gedung tersebut menyesuaikan dengan gedung yang dibangun oleh tenant dan menyesuaikan kebutuhan tampilan monitoring system yang sesuai permintaan. Sistem kerja dari perusahaan sendiri merupakan sistem proyek dimana divisi yang penulis masuki akan aktif ketika perusahaan mendapatkan proyek dari tenant untuk melakukan pemodelan monitoring system gedung. Pada saat mendapatkan proyek, biasanya memerlukan tinjauan awal untuk melihat kondisi gedung secara langsung agar dapat disesuaikan dengan monitoring system yang dibuat sehingga divisi Software and Electronic perusahaan perlu untuk turun langsung ke lapangan.
Struktur dari divisi Software an Electronic, terdiri dari dua karyawan dengan satu koordinator proyek. Koordinator proyek memiliki tugas untuk mengawasi, memantau, dan mengoordinasikan segala pekerjaan yang dilakukan di dalam divisi untuk memenuhi target pekerjaan proyek. Keseluruhan hasil atau kemajuan kerja proyek yang dilakukan dalam divisi tersebut harus melakukan konfirmasi dengan koordinator proyek terlebih dahulu. Dalam melakukan pekerjaan atau proyek magang yang dilakukan, penulis langsung dibimbing dengan koordinator proyek tersebut sehingga segala kemajuan dan hasil pekerjaan penulis dikoordinasikan langsung kepada koordinator proyek.
3.2 Tugas dan Uraian Kerja Magang 3.2.1 Tugas yang Dilakukan
Sebelum masuk ke tahap pengerjaan proyek magang, penulis diminta untuk melakukan penyesuaian atau pengenalan tempat dan sistem kerja
Pemodelan Monitoring Building…, Luthfialmas Fakhrizki Irwanto, Universitas Multimedia Nusantara
6
magang terlebih dahulu. Kemudian, dilanjutkan dengan pengenalan komponen-komponen yang ada dan diproduksi perusahaan. Tujuannya untuk menambah pengetahuan dasar penulis terkait komponen-komponen elektronik yang digunakan. Setelah tahap pengenalan dilakukan, penulis diberikan tugas proyek yang dikerjakan menggunakan software SCADA.
Misalnya, membuat monitoring system dari gedung multi-level yang memantau penggunaan energi dari komponen listrik kWh meter pada setiap kamar yang ada pada setiap lantainya.
Selama periode kerja magang, penulis diberikan tugas untuk membuat model monitoring system gedung 26 lantai. Setiap lantai dari gedung tersebut memiliki sembilan kamar dengan sembilan alat kWh meter yang perlu dipantau melalui monitoring system yang dibuat. Secara desain dari monitoring system yang dibuat, dibebaskan mau seperti apa karena pada kerja lapangan secara langsung, desain yang dibuat akan menyesuaikan dengan kemauan dari tenant. Akan tetapi, model dari monitoring system yang dibuat perlu menyesuaikan monitoring system gedung yang pernah dibuat oleh perusahaan karena hal tersebut meliputi berbagai fitur-fitur penting yang perlu dibuat. Dimulai dari pembuatan user login, main screen atau tampilan awal, monitoring, about, device view, device status, user histories, exit, gateway channel status, dan logout.
Semua fitur yang telah dimuat dalam monitoring system gedung akan dilakukan uji coba untuk mengetahui tingkat keberhasilannya, apakah sudah bisa digunakan semua dan sesuai dengan tujuan pembuatan atau tidak. Pada saat seluruh fitur monitoring system gedung berhasil diuji, pengujian selanjutnya adalah menghubungkan dan membaca data dari alat kWh meter yang dimiliki perusahaan. Tujuan dari pengujian tersebut adalah untuk memastikan bahwa monitoring system yang dibuat sudah bisa menerima atau membaca data dan melakukan pemantauan.
Pemodelan Monitoring Building…, Luthfialmas Fakhrizki Irwanto, Universitas Multimedia Nusantara
7 3.2.2 Uraian Kerja Magang
Pelaksanaan proyek kerja magang diawali dengan pengenalan dasar terkait sistem kerja yang dilakukan oleh perusahaan. Kemudian, dilanjuti lebih spesifik dengan sistem kerja dan tugas divisi yang dimasuki, mulai dari alat-alat kelistrikan yang digunakan, contoh proyek-proyek yang pernah dikerjakan oleh perusahaan, monitoring system gedung yang sudah dibuat, dan alur pengerjaan proyek pembuatan monitoring system. Setelah pengenalan secara umum mengenai divisi dan pekerjaan yang akan dilakukan telah dilaksanakan, dilanjutkan dengan pengenalan pada software SCADA yang digunakan untuk membuat monitoring system gedung. Pengenalan yang dilakukan merupakan pengenalan mendasar terkait fitur-fitur atau tools yang biasa digunakan untuk mengerjakan pembuatan monitoring system oleh perusahaan. Kemudian, perusahaan juga memperlihatkan dan mengenalkan berbagai fitur monitoring system yang biasa dibuat dalam pengerjaan setiap proyek yang telah dilakukan oleh perusahaan serta fungsi dari setiap fitur- fitur tersebut.
Gambar 3.1 Tampilan awal atau main screen dari Monitoring System Gedung
Tahap selanjutnya adalah pengerjaan proyek magang yaitu pemodelan monitoring system gedung 26 menggunakan software SCADA. Pengerjaan proyek dimulai dengan membuat main screen atau tampilan awal dengan memasukan fitur-fitur yang bisa digunakan pada tampilan tersebut. Pada bagian bawah dari main screen Gambar 3.1, terdapat fitur-fitur utama
Pemodelan Monitoring Building…, Luthfialmas Fakhrizki Irwanto, Universitas Multimedia Nusantara
8
monitoring system yang terdiri dari kumpulan tombol yang dapat ditekan untuk pindah ke tampilan lainnya sesuai dengan nama yang ada pada tombol- tombol tersebut. Tidak hanya itu, terdapat indikator yang menunjukan apakah sistem pada setiap zona aktif atau tidak. Jika sistem pada zona tidak aktif, indikator akan berkedip warna merah dan hijau secara terus menerus. Lalu, apabila aktif maka indikator akan berwarna hijau.
Pada bagian atas, terdapat nama gedung menyesuaikan dengan gedung yang dibangun oleh tenant dan fitur logout apabila pengguna telah selesai menggunakan monitoring system tersebut. Penggunaan dari fitur logout dan exit pada tampilan ini memiliki perbedaan pada fungsinya. Untuk fitur logout, pengguna hanya menghentikan akses monitoring system-nya saja tanpa menutup program secara keseluruhan. Sementara itu, untuk fitur exit, memiliki fungsi untuk menutup program monitoring system secara keseluruhan. Pengguna nantinya perlu melakukan eksekusi monitoring system dari awal kembali. Tidak hanya itu, terdapat tampilan waktu, nama user, dan tanggal dengan fungsi untuk mengetahui siapa yang mengakses monitoring system. Terakhir, pada bagian tengan dari tampilan ini merupakan gambar dari gedung yang dibangun oleh tenant.
Gambar 3.2 Tampilan fitur Monitoring LT.2 pada Monitoring System Gedung
Pemodelan Monitoring Building…, Luthfialmas Fakhrizki Irwanto, Universitas Multimedia Nusantara
9
Gambar 3.3 Tampilan fitur Monitoring LT.3 pada Monitoring System Gedung
Apabila tombol yang bertuliskan ‘Monitoring’ ditekan, akan memunculkan tampilan atau screen baru yang menunjukan data-data pada setiap kWh meter yang terhubung untuk dilakukannya pemantauan. Pada fitur ini, pengguna dapat melihat tiga data utama yang terbaca pada kWh meter yaitu data total active power energy (kWh), total apparent power (KVA), dan current (A) pada setiap kamar sesuai dengan penamaan pada bagian atas data.
Tidak hanya itu, terdapat indikator pada sebelah kiri data kWh yang memiliki fungsi sebagai pemberitahu apabila tidak berhasilnya pengambilan atau terhubungnya monitoring system dengan kWh tersebut. Ketika koneksi dan pengambilan data dari kWh meter berhasil dilakukan, indikator tersebut akan berwarna hijau. Sementara itu, jika terjadi masalah pada kWh meter, indikator akan mengeluarkan warna merah. Dengan begitu, pengguna atau tenant dapat mengetahui dengan cepat pada kWh meter mana yang bermasalah dan bisa langsung memperbaikinya. Selanjutnya, halaman dari pemantauan data ini dapat diubah dengan menekan tab yang berlabelkan ‘Panel’ pada bagian atas keseluruhan data kWh meter. Fungsi dari tab tersebut adalah untuk mengubah halaman pemantauan kWh meter sesuai dengan lantai berapa yang ingin dipantau. Apabila pengguna ingin memantau data kWh meter pada lantai delapan, pengguna hanya perlu menekan tab berlabelkan ‘Panel LT. 8’ dan halaman akan otomatis berubah menjadi halaman data keseluruhan kWh meter pada lantai delapan. Ketika pemantauan dirasa sudah cukup, pengguna
Pemodelan Monitoring Building…, Luthfialmas Fakhrizki Irwanto, Universitas Multimedia Nusantara
10
dapat menekan tombol berlabelkan ‘BACK’ untuk kembali ke tampilan main screen.
Gambar 3.4 Tampilan fitur Device View pada Monitoring System Gedung
Untuk fitur selanjutnya yang berada pada main screen yaitu device view, memiliki fungsi untuk melakukan pengaturan pembacaan device atau kWh meter yang dilakukan oleh software. Fitur ini digunakan untuk mempermudah dan mempercepat pembacaan data sehingga tidak terlalu memakan banyak waktu menunggu sampai datanya keluar. Lamanya data keluar pada monitoring system dikarenakan sistem membaca data dari kWh secara berurut atau sequence sehingga datanya perlu diambil secara satu persatu dimulai dari device pertama hingga terakhir. Apabila pengguna ingin membaca data kWh meter pada lantai tertentu dan membutuhkan pembacaan yang cepat, pengguna dapat mematikan pembacaan dari device lain dan menyisakan device yang berada pada lantai tertentu saja. Sama seperti sebelumnya, ketika pengguna sudah selesai menggunakan fitur device view, pengguna dapat kembali ke tampilan main screen dengan menggunakan tombol yang berlabelkan ‘BACK’.
Pemodelan Monitoring Building…, Luthfialmas Fakhrizki Irwanto, Universitas Multimedia Nusantara
11
Gambar 3.5 Tampilan fitur Device Status pada Monitoring System Gedung
Fitur selanjutnya yang dimuat dalam monitoring system gedung yang dibuat penulis adalah fitur device status. Fitur device status ini memiliki fungsi untuk mempermudah pengguna memantau status dari kWh meter yang terhubung dengan software. Untuk penggunaannya sendiri, sebenarnya sama dengan peran indikator yang ada pada fitur monitoring. Akan tetapi, melihat status kWh meter yang terhubung pada fitur monitoring kurang efektif dikarenakan hanya bisa melihat status kWh meter satu lantai dalam satu waktu saja. Dengan menggunakan fitur device status, pengguna dapat melihat status kWh meter pada empat lantai sekaligus sehingga mempercepat pemantauan status yang dilakukan.
Pemodelan Monitoring Building…, Luthfialmas Fakhrizki Irwanto, Universitas Multimedia Nusantara
12
Gambar 3.6 Tampilan fitur Login pada Monitoring System Gedung
Gambar 3.7 Tampilan fitur User Histories pada Monitoring System Gedung
Monitoring system yang dibuat juga dilengkapi dengan fitur login dan user histories dengan fungsi yang berhubungan satu sama lain. Pada awal mula monitoring system dieksekusi, pengguna akan diminta untuk memasukkan username dan password yang sebelumnya telah dibuat dalam pembuatan program. Dengan adanya fitur login ini, penggunaan dari monitoring system tidak bisa diakses oleh sembarang orang dan hanya bisa dilakukan oleh pengguna yang memiliki akses saja. Selama program monitoring system aktif dan tidak dimatikan, daftar pengguna yang melakukan akses dapat dilihat pada fitur user histories. Fitur user histories ini akan otomatis memperlihatkan data login yang dilakukan oleh pengguna beserta dengan waktu mereka melakukan akses login monitoring system.
Tidak hanya itu, pengguna juga bisa mengetahui siapa yang mengakses
Pemodelan Monitoring Building…, Luthfialmas Fakhrizki Irwanto, Universitas Multimedia Nusantara
13
monitoring system sebelumnya jika terjadi masalah untuk mengetahui siapa yang bertanggung jawab selama itu terjadi. Singkatnya, kedua fitur tersebut merupakan fitur yang memberikan keamanan pada monitoring system gedung yang telah dibuat.
Gambar 3.8 Tampilan fitur About pada Monitoring System Gedung
Kemudian, terdapat fitur about yang memperlihatkan ringkasan profil dari perusahaan atau fungsionalitas gedung yang dimiliki oleh tenant.
Namun, tidak terbatas pada itu saja, isi dari fitur ini bisa disesuaikan dengan keinginan dari tenant seperti memasukan foto gedung, alamat, nomor telepon, dan masih banyak lagi. Fitur ini merupakan tambahan saja untuk melengkapi monitoring system yang dibuat. Apabila dari tenant memiliki keinginan untuk meniadakan fitur tersebut dalam monitoring system yang dibuat, fitur tersebut dapat dihilangkan. Hal ini disebabkan oleh pembuatan dari monitoring system menyesuaikan dengan kebutuhan dari tenant proyek tersebut.
Pemodelan Monitoring Building…, Luthfialmas Fakhrizki Irwanto, Universitas Multimedia Nusantara
14
Gambar 3.9 Flowchart diagram dari Monitoring System Gedung
Secara alur kerja dari monitoring system yang telah dibuat, pertama- tama pengguna harus melakukan inisialisasi sistem dengan cara mengeksekusi program melewati software SCADA yang telah terhubung dengan alat kWh meter yang ingin dipantau. Kemudian, pengguna melakukan proses login untuk bisa mengakses keseluruhan fitur dari monitoring system.
Setelah pengguna berhasil melakukan login, pemantauan kWh meter sudah bisa dilakukan dengan menggunakan fitur monitoring ataupun device status.
Apabila terjadi kesalahan baik itu dari koneksi kWh meter yang tidak terbaca atau kWh meter itu sendiri yang rusak, akan menyalakan indikator pada monitoring system sebagai penanda bahwa terjadi kesalahan pada sistem yang dipantau. Terakhir, pengguna dapat langsung melihat kWh meter mana yang mengalami masalah sehingga dapat diatasi permasalahan tersebut dengan cepat.
Pemodelan Monitoring Building…, Luthfialmas Fakhrizki Irwanto, Universitas Multimedia Nusantara
15
Gambar 3.10 kWh meter yang digunakan untuk pengujian Monitoring System
Gambar 3.11 Modbus dan Ethernet Switch untuk penghubung Monitoring System
Setelah pembuatan pemodelan monitoring system dilakukan, dilanjutkan ke tahap selanjutnya yaitu tahap pengujian pembacaan data dari kWh meter. Pengujian dilakukan dengan menggunakan serangkaian alat seperti kWh meter, modbus gateway, dan ethernet switch yang digabungkan menjadi satu dalam satu panel demo milik perusahaan. kWh meter yang digunakan akan ada sebanyak empat alat dengan dua alat kWh meter tiga fasa
Pemodelan Monitoring Building…, Luthfialmas Fakhrizki Irwanto, Universitas Multimedia Nusantara
16
dan dua sisanya adalah kWh meter satu fasa. Keempat kWh meter yang berada pada panel demo dihubungkan dengan alat modbus gateway yang memiliki fungsi untuk komunikasi dari banyak perangkat dalam satu jaringan.
Setelah itu, alat modbus gateway dihubungkan dengan ethernet switch agar panel demo tersebut dapat terhubung dengan komputer yang memiliki program monitoring system di dalamnya menggunakan kabel ethernet. Panel demo yang telah terhubung dengan komputer lalu dihubungkan dengan sumber listrik dan saklar utamanya dinyalakan agar bisa menyalakan alat-alat pada panel demo tersebut.
Ketika panel demo sudah menyala dan terhubung dengan komputer, masih perlu dilakukan konfigurasi awal terlebih dahulu agar program monitoring system pada komputer dapat menerima data dari panel demo.
Konfigurasi yang dilakukan adalah dengan melakukan pemindaian alamat IP alat modbus gateway yang digunakan dengan menggunakan software tambahan seperti advance IP scanner. Setelah alamat IP dari alat modbus gateway telah diketahui, dilakukannya konfigurasi IP pada program dengan menyamakan alamat IP dari alat modbus gateway tersebut.
Dilanjutkan dengan tahap selanjutnya yaitu melakukan konfigurasi alamat register kWh meter pada monitoring system yang digunakan.
Tujuannya adalah untuk mengetahui data yang ingin diambil dari kWh meter terdapat pada register yang mana sehingga dapat ditunjukan dan dibaca oleh program yang dibuat. Untuk melakukan penyesuaian konfigurasi alamat register ini, dapat dilakukan dengan cara melihat buku panduan dari model kWh meter yang telah dibuat oleh perusahaan. Pada buku panduan tersebut sudah tertulis alamat register berapa dengan jenis data yang diambilnya sehingga hanya perlu menyesuaikan dengan buku panduan tersebut. Ketika semua tahap telah dilakukan, program monitoring system sudah bisa dijalankan dan nantinya data pembacaan dari kWh meter pada panel demo akan muncul pada fitur monitoring serta status alat pada device status.
Pemodelan Monitoring Building…, Luthfialmas Fakhrizki Irwanto, Universitas Multimedia Nusantara
17 3.3 Kendala yang Ditemukan
Terdapat kendala-kendala yang dialami oleh penulis selama melakukan proses kerja magang di perusahaan tersebut. Namun, kendala-kendala yang ditemukan hanya kendala teknis saja seperti kurang familiarnya penulis dengan alat-alat dan sistem kerja dari proyek yang dilaksanakan. Tidak hanya itu, penulis juga mendapatkan kendala pada penggunaan software SCADA yang dimiliki oleh perusahaan karena menggunakan software yang berbeda dengan yang digunakan di perkuliahan sehingga membutuhkan waktu untuk mengetahui baik dari cara kerja dan fitur-fitur dari software yang digunakan.
3.4 Solusi atas Kendala yang Ditemukan
Solusi atas kendala-kendala dihadapi dapat diatasi dengan melakukan pembelajaran mandiri dengan sumber referensi buku panduan alat yang digunakan dan panduan software SCADA milik perusahaan. Dalam kedua buku panduan tersebut sudah cukup lengkap terkait bagaimana cara penggunaan software dan cara kerja dari alat yang digunakan, tetapi masih kurang pada bagian cara menghubungkan antara panel demo dengan monitoring system di komputer untuk bisa melakukan pembacaan data. Untuk mengatasi permasalahan tersebut penulis melakukan konsultasi pada pembimbing yang juga merupakan koordinator proyek pada divisi Software and Electronics.