9 BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka 1. Studi Komparasi
Studi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya kajian atau mempelajari (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1990: 860).
Komparasi berasal dari bahasa Inggris yaitu comparation yang berarti perbandingan (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1990: 450).
Pengertian membandingkan yang dimaksud yaitu membandingkan paling tidak harus ada dua masalah dan ada faktor pembedanya.
Penelitian komparatif adalah sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab-akibat, dengan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. Jadi penelitian komparatif adalah jenis penelitian yang digunakan untuk membandingkan antara dua kelompok atau lebih dari suatu variabel tertentu (Nazir, 2005: 8). Sedangkan menurut Surakhmad, W menyatakan bahwa komparasi adalah penyelidikan deskriptif yang berusaha mencari pemecahan melalui analisis tentang hubungan sebab akibat, yakni memilih faktor-faktor tertentu yang berhubungan dengan situasi atau fenomena yang diselidiki dan membandingkan satu faktor dengan faktor lain.
Dari beberapa pengertian diatas, maka studi komparasi adalah suatu kegiatan yang mempelajari perbandingan antara benda-benda, prosedur kerja, ide-ide, kritik terhadap orang, kelompok, terhadap suatu ide atau prosedur kerja dengan menemukan perbedaan-perbedaan maupun persamaan- persamaannya.
2. Belajar
a. Pengertian Belajar
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang commit to user
pendidikan. Sehingga tanpa belajar sesungguhnya tidak pernah ada pendidikan atau pembelajaran (Ahmad, 2003: 6).
Menurut Gagne mengemukakan bahwa belajar merupakan kegiatan kompleks. Hasil belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar, orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai. Kapabilitas tersebut timbul dari stimulus yang berasal dari lingkungan dan proses kognitif yang dilakukan oleh pengajar. Dengan demikian, belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan, melewati pengolahan informasi dan menjadi kapabilitas baru (Dimyati dan Mudjiono, 2006: 10).
Menurut Cronbach, learning is shown by a change in behavior as a results of experience (belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman). Sedangkan menurut Harold Spears (Suprijono A, 2012:
2), learning is to observe, to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction (belajar adalah mengamati, membaca, meniru, mencoba sesuatu, mendengar dan mengikuti arah tertentu) (Suprijono, 2012: 2).
b. Teori Belajar
Beberapa teori belajar yang digunakan sebagai acuan dalam penelitian ini adalah :
1) Teori Piaget
Teori Belajar piaget menggambarkan adanya perkembangan intelektualitas yang berisi dari 3 aspek, yaitu aspek struktur, isi dan fungsi. Selama anak tumbuh, struktur dan isinya berubah, tetapi fungsi-fungsinya tetap sama.
Tingkat perkembangan teori intelektual menurut piaget adalah sebagai berikut:
a) Sensori-motor (0-2 tahun) b) Pra-operasional (2-7 tahun) c) Operasional konkret (7-11 tahun) d) Operasi formal commit to user (> 11 tahun)
(Dahar R W, 2011: 134-136).
Menurut Dahar R W (2011: 151-155), Piaget membagi tahap-tahap perkembangan kognitif menjadi empat yaitu:
a) Tahap Sensorimotor (Umur 0 - 2 Tahun)
Periode ini anak mengatur alamnya dengan indera-inderanya (sensori) dan tindakan-tindakannya (motor). Selama periode ini bayi tidak mempunyai konsepsi.
b) Tahap Preoperasional (Umur 2 - 7 Tahun)
Anak belum mampu melaksanakan operasi-operasi mental, yaitu menambah, mengurangi, dan lain-lain.
c) Tahap Operasional Konkret (Umur 7 – 11 Tahun)
Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah anak sudah menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis dan ditandai adanya reversible dan kekekalan. Anak telah memiliki kecakapan berpikir logis, tetapi hanya dengan benda-benda yang bersifat konkret, dan masih memiliki masalah mengenai cara berpikir abstrak.
d) Tahap Operasional Formal (Umur 11 – ke Atas)
Pada tahap ini anak dapat menggunakan operasi-operasi konkretnya untuk membentuk operasi-operasi yang lebih kompleks.
Dalam hubungannya dengan pembelajaran, teori ini mengacu pada kegiatan pembelajaran yang harus melibatkan partisipasi peserta didik.
Sehingga menurut teori ini pengetahuan tidak hanya sekedar dipindahkan secara verbal tetapi harus dikontruksi dan direkontruksi peserta didik.
Sebagai realisasi teori ini, maka dalam kegiatan pembelajaran peserta didik haruslah bersifat aktif. Pembelajaran kooperatif adalah sebuah model pembelajaran aktif dan parsitipatif (Isjoni, 2010: 53).
2) Teori Vygotsky
Menurut teori Vygotsky, Zone of proximal development merupakan celah antara actual development dan potential development, dimana apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang dewasa dan apakah seorang anak dapat commit to user
melakukan sesuatu dengan arahan orang dewasa atau kerjasama dengan teman sebaya.
Maksud dari ZPD adalah menitik beratkan ZPD pada interaksi sosial akan dapat memudahkan perkembangan anak. Ketika siswa mengerjakan pekerjaanya di sekolah sendiri, perkembangan mereka kemungkinan akan berjalan lambat. Untuk memaksimalkan perkembangan, siswa seharusnya bekerja dengan teman yang lebih terampil yang dapat memimpin secara sistematis dalam memecahkan masalah yang lebih kompleks.
Teori Vygotsky yang lain adalah “scaffolding“. Scaffolding merupakan suatu istilah pada proses yang digunakan orang dewasa untuk menuntun anak-anak melalui Zone of proximal development.
Scaffolding adalah memberikan kepada seseorang anak sejumlah besar bantuan selama tahap - tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera setelah ia mampu mengerjakan sendiri. Bantuan yang diberikan guru dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan menguraikan masalah ke dalam bentuk lain yang memungkinkan siswa dapat mandiri (Isjoni, 2010: 39-40).
3) Teori Belajar Ausubel
David Ausubel mengemukakan belajar sebagai reception learning. Jika discovery learning menekankan pada pembelajaran induktif, maka reception learning merupakan pembelajaran deduktif.
Salah satu konsep penting dalam reception learning adalah advance organizer sebagai kerangka konseptual tentang isi pelajaran yang akan dipelajari individu.
Advance organizer adalah statement perkenalan yang menghubungkan antara schemata yang sudah dimiliki oleh individu dengan informasi baru yang akan dipelajarinya. Fungsi advance organizer adalah member bimbingan untuk memahami informasi commit to user
baru. Advance organizer dapat menjadi jembatan antara materi pelajaran atau informasi baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki individu.
Pemberian advance organizer bertujuan memberi arahan bagi individu mengetahui apa yang terpenting dari materi yang dipelajarinya dan memberi penguatan terhadap pengetahuan yang dipelajari/diperoleh (Suprijono, 2012: 25).
4) Teori Konstruktivisme
Pemikiran filsafat konstruktivisme mengenai hakikat pengetahuan memberikan sumbangan terhadap usaha mendekonstruksi pembelajaran mekanis. Gagasan konstruktivisme mengenai pengetahuan dapat dirangkum sebagai berikut:
a) Pengetahuan bukanlah gambaran dunia kenyataan belaka tetapi selalu merupakan konstruksi kenyataan melalui kegiatan subjek.
b) Subjek membentuk skema kognitif, kategori, konsep, dan struktur yang perlu untuk pengetahuan.
c) Pengetahuan dibentuk dalam struktur konsep seseorang. Struktur konsep membentuk pengetahuan jika konsep itu berlaku dalam berhadapan dengan pengalaman-pengalaman seseorang.
Pengetahuan menurut konstruktivisme bersifat subjektif, bukan objektif. Pengetahuan tidak pernah tunggal. Pengetahuan merupakan realitas plural. Semua pengetahuan adalah hasil konstruksi dari kegiatan atau tindakan seseorang. Pengetahuan ilmiah berevolusi, berubah dari waktu ke waktu. Pemikiran ilmiah adalah sementara, tidak statis dan merupakan proses. Pemikiran ilmiah adalah proses konstruksi dan reorganisasi secara terus menerus. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang ada di luar, tetapi ada dalam diri seseorang yang membentuknya. Setiap pengetahuan mengandaikan suatu interaksi dengan pengalaman. Tanpa interaksi dengan objek, seseorang tidak dapat mengonstruksi pengetahuan (Suprijono, 2012:
30). commit to user
c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar
Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar ada dua yaitu faktor internal (dalam) dan faktor eksternal (luar).
1) Faktor Internal
Faktor intern adalah segala faktror yang bersumber dari dalam diri individu, yang termasuk faktor intern adalah faktor fisiologis dan faktor psikologis.
a. Faktor fisiologis
Faktor fisiologis adalah yang dibabkan oleh keadaan jasmani atau fisik individu termasuk dalam faktor ini adalah:
1) Kondisi panca indera seperti penglihatan dan pendengaran
2) Kondisi fisiologis, yaitu kesegaran jasmani, keletihan, kekurangan gizi, kurang tidur atau kesakitan yang diderita.
b. Faktor psikologis
Faktor psikologis adalah pengaruh yang timbul oleh keadaan jiwa seseorang dalam pembelajaran biasanya berkaitasn erat dengan motif- motif siswa melakukan aktivitas belajar.
2) Faktor Eksternal
Faktor eksternal dikelompokkan menjadi tiga yaitu faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat.
a) Faktor Keluarga
Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga meliputi, bagaimana cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi keluarga.
b) Faktor Sekolah
Faktor sekolah yang mempengaruhi proses belajar meliputi, metode mengajar, kurikulum, interaksi guru dengan siswa, interaksi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan fasilitas.
c) Faktor Masyarakat commit to user
Masyarakat dalam hal ini juga berpengaruh terhadap proses belajar. Pengaruh itu terjadi karena keberadaannya dalam masyarakat. Contoh faktor masyarakat yang berpengaruh terhadap proses belajar antara lain kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul, bentuk kehidupan masyarakat (Slameto, 1995: 54).
d. Prinsip-Prinsip Belajar
Banyak teori dan prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh para ahli yang satu dengan yang lain memiliki persamaan dan juga perbedaan. Berikut prinsip-prinsip belajar menurut Dimyati & Mudjiono (2006: 42) yaitu :
1) Perhatian dan Motivasi
Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar. Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Apabila bahan pelajaran itu dirasakan sebagai suatu yang dibutuhkan, diperlukan untuk belajar lebih lanjut atau diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, akan membangkitkan motivasi untuk mempelajarinya.
Disamping perhatian, motivasi mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar. Motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang.
2) Keaktifan
Dalam setiap proses belajar, siswa selalu menampakkan keaktifan. Keaktifan itu beraneka ragam bentuknya. Mulai dari kegiatan fisik yang mudah diamati sampai kegiatan psikis yang susah diamati. Kegiatan fisik berupa membaca, mendengar, menulis, berlatih keterampilan-keterampilan. Kegiatan psikis misalnya menggunakan khasanah pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah yang dihadapi, membandingkan satu konsep
commit to user
dengan yang lain, menyimpulkan hasil percobaan, dan kegiatan psikis yang lain.
3) Keterlibatan Langsung/Berpengalaman
Siswa dituntut untuk tidak segan-segan mengerjakan segala tugas belajar yang diberikan oleh guru. Dengan keterlibatan langsung, secara logis akan menyebabkan mereka memperoleh pengalaman atau berpengalaman. Bentuk-bentuk perilaku yang merupakan implikasi prinsip keterlibatan langsung bagi siswa misalnya, siswa ikut dalam pembuatan lapangan voli, siswa melakukan praktikum di laboratorium, siswa berdiskusi membuat laporan, dan lain-lain.
Bentuk perilaku keterlibatan siswa tidak secara mutlak menjamin terwujudnya prinsip keaktifan pada diri siswa. Namun demikian, perilaku keterlibatan siswa secara langsung dalam kegiatan belajar diharapkan mampu mewujudkan keaktifan siswa.
4) Pengulangan
Prinsip pengulangan bagi siswa adalah kesadaran siswa untuk bersedia mengerjakan latihan-latihan yang berulang untuk satu macam permasalahan. Dengan kesadaran ini, diharapkan siswa tidak merasa bosan dalam melakukan pengulangan. Bentuk-bentuk perilaku pembelajaran yang merupakan implikasi prinsip pengulangan, diantaranya menghafal nama-nama latin tumbuhan, menghafal tahun- tahun terjadinya peristiwa sejarah.
5) Tantangan
Siswa timbul motif yang kuat untuk mengatasi hambatan dengan baik maka bahan belajar haruslah menantang. Tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar membuat siswa termotivasi untuk mengatasinya. Bahan belajar yang baru, yang banyak mengandung masalah yang perlu dipecahkan membuat siswa tertantang untuk mempelajarinya. Pelajaran yang memberi kesempatan pada siswa untuk menemukan konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan generalisasi
commit to user
akan menyebabkan siswa berusaha mencari dan menemukan konsep- konsep, prinsip-prinsip, dan generalisasi tersebut.
6) Balikan dan Penguatan
Siswa selalu membutuhkan suatu kepastian dari kegiatan yang dilakukan apakah itu benar atau salah. Seorang siswa belajar lebih banyak bilamana setiap langkah-langkahnya segera diberikan penguatan. Hal ini timbul karena kesadaran adanya kebutuhan untuk memperoleh balikan dan sekaligus penguatan bagi setiap kegiatan yang dilakukannya. Untuk memperoleh balikan penguatan bentuk- bentuk perilaku siswa yang memungkinkan diantaranya mencocokkan jawaban dengan kunci jawaban, menerima kenyataan terhadap skor/nilai yang dicapai, menerima teguran dari guru atau orang tua karena hasil belajar yang jelek.
7) Perbedaan Individual
Siswa merupakan individual yang unik artinya tidak ada dua orang siswa yang sama persis, tiap siswa memiliki perbedaan satu dengan yang lain. Perbedaan itu terdapat pada karakteristik psikis, kepribadian, dan sifat-sifatnya. Perbedaan individual ini berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa. Karenanya, perbedaan individu perlu diperhatikan oleh guru dalam upaya pembelajaran.
3. Metode Pembelajaran
Mengajar adalah salah satu tugas utama guru, yang disebut dengan fungsi instruksional. Dalam menggunakan fungsi instruksional itu, penggunaan dan penerapan metode pengajaran merupakan salah satu faktor yang penting yang ikut andil dalam kegiatan belajar mengajar .
Metode (method), secara harfiah berarti cara. Selain itu metode atau metodik berasal dari bahasa Greeka, metha, (melalui atau melewati), dan hodos (jalan atau cara), jadi metode bisa berarti jalan atau cara yang harus di lalui untuk mencapai tujuan tertentu.
commit to user
Secara umum atau luas metode atau metodik berarti ilmu tentang jalan yang dilalui untuk mengajar kepada anak didik supaya dapat tercapai tujuan belajar dan mengajar. Surachmad (1961: 56), mengatakan bahwa metode mengajar adalah cara-cara pelaksanaan dari pada murid-murid di sekolah.
Pasaribu dan Simanjutak (1982: 23), mengatakan bahwa metode adalah cara sistematik yang digunakan untuk mencapai tujuan. Jadi metode pelajaran adalah suatu cara yang dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan.
Dalam kegiatan belajar mengajar seorang guru tidak harus terpaku dalam satu metode saja, tetapi perlu menggunakan berbagai metode (variasi metode) agar proses belajar mengajar atau pengajaran berjalan tidak membosankan, tetapi bagaimana memikat perhatian anak didik. Namun di sisi lain penggunaan berbagai metode akan sulit membawa keberuntungan atau manfaat dalam kegiatan belajar mengajar, bila penggunaannya tidak sesuai dengan situasi dan kondisi yang mendukungnya, serta kondisi psikologi anak didik. Maka dari itu disini guru di tuntut untuk pandai-pandai dalam memilih metode yang tepat (Bahri, 2002: 89).
Berkaitan dengan metode yang tepat, dalam hal ini Pasaribu dan Simanjutak (1982: 25), mengatakan bahwa dalam nenentukan metode mana yang akan di ikuti oleh guru dalam penggunaan metode guru harus memperhatikan berbagai macam faktor, diantaranya yaitu:
a. Metode dan tujuan sekolah b. Metode dan bahan pengajaran c. Metode dan tangga-tangga belajar d. Metode dan tingkat perkembangan e. Metode dan keadaan perseorangan f. Dasar tertinggi dari metode
Selain itu Surachmad (1961: 58), mengatakan ada 5 macam yang mempengaruhi penggunaan metode mengajar antara lain tujuan berbagai jenis dan fungsinya, anak didik yang berbagai tingkat kematangannya, situasi yang commit to user
berbagai macam keadaan, fasilitas yang berbagai kualitasnya, pribadi guru serta kemampuan profesionalnya yang berbeda-beda.
Metode adalah cara yang telah teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai suatu maksud. Berdasarkan definisi di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa metode merupakan jalan atau cara yang ditempuh seseorang untuk mencapai tujuan yang diharapkan (Poerwadarminta, 1999:
167).
Metode mengajar banyak macam-macam dan jenisnya, setiap jenis metode mengajar mempunyai kelemahan dan kelebihan masing-masing, tidak menggunakan satu macam metode saja, mengkombinasikan penggunaan beberapa metode yang sampai saat ini masih banyak digunakan dalam proses belajar mengajar. Terdapat bermacam-macam metode dalam mengajar, yaitu metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi, metode resitasi, metode kerja kelompok, metode demonstrasi dan eksperimen, metode sosiodrama (role-playing), metode problem solving, metode sistem regu (team teaching), metode latihan (drill), metode karyawisata (Sudjana, 1989:
78-86).
4. Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, dimana guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah yang dimaksud. Guru biasanya menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas (Suprijono, 2012: 54).
Pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekadar belajar dalam kelompok. Ada unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan.
Pelaksanaan prosedur pembelajaran kooperatif dengan benar akan commit to user
memungkinkan guru mengelola kelas lebih efektif. Pembelajaran kooperatif akan dapat menumbuhkan pembelajaran efektif yaitu pembelajaran yang bercirikan (1) memudahkan siswa belajar sesuatu yang bermanfaat seperti fakta, keterampilan, nilai, konsep, dan bagaimana hidup serasi dengan sesama; (2) pengetahuan, nilai, dan keterampilan diakui oleh mereka yang berkompeten menilai.
Roger dan David Johnson dalam Suprijono (2012: 58) mengatakan bahwa tidak semua belajar kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif.
Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur dalam pembelajaran kooperatif harus diterapkan, yaitu :
a. Positive interdependence (saling ketergantungan positif)
Keberhasilan suatu karya sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya. Artinya tiap siswa memiliki tugas yang sama dalam bekerja sama, untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain bisa sama-sama mencapai tujuan yang diinginkan.
b. Personal responsibility (tanggung jawab perseorangan)
Dalam pembelajaran kooperatif, setiap siswa akan memiliki rasa tanggung jawab untuk melakukan hal yang terbaik. Kunci keberhasilan pembelajaran kooperatif adalah persiapan guru dalam penyusunan tugasnya. Pengajar yang baik pada pembelajaran ini adalah membuat persiapan mengajar dan menyusun tugas sedemikian rupa sehingga masing-masing kelompok harus melaksanakan tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan.
c. Face to face promotive interaction (interaksi promotif)
Setiap kelompok harus diberi kesempatan untuk bertatap muka untuk berdiskusi dan berinteraksi. Kegiatan interaksi ini akan membentuk sinergi yang positif bagi para anggotanya. Hasil pemikiran antara satu orang dengan beberapa orang akan lebih baik beberapa orang. Inti dari sinergi adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan commit to user
kelebihan, dan mengisi kekurangan masing-masing. Setiap kelompok pasti akan memiliki banyak perbedaan. Namun perbedaan inilah yang akan menjadi modal utama dalam proses saling memperkaya antar anggota kelompok. Para anggota kelompok perlu diberi kesempatan untuk saling mengenal dan menerima satu sama lainnya dalam kegiatan tatap muka dan interaksi pribadi.
d. Interpersonal skill (kemampuan diri)
Setiap kelompok dibekali dengan berbagai keterampilan untuk berkomunikasi. Sebelum pengajar menugaskan siswa dalam kelompok, pengajar perlu mengajarkan cara-cara berkomunikasi. Tidak setiap siswa memiliki cara berkomunikasi yang sama. Keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka.
e. Group processing (pemrosesan kelompok)
Pengajar perlu memberikan evaluasi terhadap kelompoknya.
Guru mengadakan evaluasi terhadap proses kerja antar kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif (Suprijono, 2012: 58).
Roger (1992) menyatakan pembelajaran kooperatif merupakan aktivitas pembelajaran kelompok yang diorganisir oleh satu prinsip bahwa pembelajaran harus didasarkan pada perubahan informasi secara sosial di antara kelompok-kelompok pembelajar yang didalamnya setiap pembelajar bertanggung jawab atas pembelajarannya sendiri dan didorong untuk meningkatkan pembelajaran anggota-anggota yang lain (Huda, 2011: 29).
Dengan demikian, pembelajaran kooperatif bergantung pada efektivitas kelompok-kelompok siswa tersebut. Dalam pembelajaran ini, guru diharapkan mampu membentuk kelompok-kelompok kooperatif agar semua anggotanya dapat bekerja bersama-sama untuk memaksimalkan pembelajarannya sendiri dan pembelajaran teman-teman satu kelompoknya (Huda, 2011: 29). commit to user
5. Teams Games Tournament (TGT)
Pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT) adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement (penguatan). Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.
Metode pembelajaran kooperatif mempunyai banyak sekali variasi.
Salah satu di antaranya adalah metode pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT). Menurut Saco (2006) menyatakan dalam TGT siswa memainkan permainan-permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh skor bagi tim mereka masing-masing. Permainan dapat disusun guru dalam bentuk kuis berupa pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan materi pelajaran. Kadang-kadang dapat juga diselingi dengan pertanyaan yang berkaitan dengan kelompok (identitas kelompok mereka) (Rusman, 2011: 224).
Teams Games Tournaments (TGT) setiap tim beranggotakan 4-5 orang yang memiliki kemampuan yang setara atas dasar hasil tes minggu sebelumnya. Siswa yang berprestasi paling rendah pada tiap kelompok mempunyai peluang yang sama untuk memperoleh poin bagi timnya sebagai siswa yang berprestasi tinggi. Meskipun keanggotaan tim tetap sama, tetapi tiga orang yang mewakili tim untuk bertanding dapat berubah berdasarkan penampilan dan prestasi masing-masing anggota. Sebagai contoh siswa yang berprestasi rendah yang sebelumnya bertanding melawan siswa yang kemampuannya setara dapat bertanding melawan siswa yang berprestasi lebih tinggi ketika mereka menjadi lebih mampu (Prayitno, 2006: 7-8).
Komponen-komponen dalam TGT perlu memperhatikan:
a. Presentasi Kelas
commit to user
Dalam presentasi kelas siswa diperkenalkan dengan materi pembelajaran yang diberikan secara langsung oleh guru atau didiskusikan dalam kelas dengan guru sebagai fasilitator. Pembelajaran mengacu pada apa yang disampaikan guru agar kelak dapat membantu siswa dalam mengikuti team games turnaments.
b. Kelompok (Teams)
Kelompok terdiri dari empat sampai lima orang yang hiterogen. Tujuan utama pembentukan kelompok adalah untuk meyakinkan siswa bahwa semua anggota kelompok belajar dan semua anggota mempersiapkan diri untuk mengikuti game dan turnamen dengan sebaik-baiknya. Diharapkan setiap anggota kelompok melakukan hal yang terbaik untuk kelompoknya.
c. Permainan ( Games )
Permainan dibuat dengan isi pertanyaan-pertanyaan untuk mengetes pengetahuan siswa yang didapat dari presentasi kelas dan latihan kelompok. Game dimainkan dengan meja yang berisi tiga siswa yang diwakili kelompok berbeda. Siswa mengambil kartu yang bernomor dan berusaha untuk menjawab pertanyaan sesuai dengan nomor. Aturannya membolehkan pemain untuk menantang jawaban yang lain.
d. Kompetisi (Tournament)
Kompetisi merupakan bentuk permainan langsung. Umumnya diselenggarakan pada akhir minggu setelah guru membuat presentasi kelas dan kelompok-kelompok mempraktikkan tugas-tugasnya. Untuk turnamen pertama guru memberikan siswa permainan. Siswa dengan kemampuan tertinggi di meja 1, meja 2 dan seterusnya.
e. Penghargaan kelompok (Teams recognize)
Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing tim akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang ditentukan. Tim mendapat julukan “Super Team” jika rata- rata skor 45 atau lebih, “Great Team” apabila rata-rata mencapai 40-44 dan “Good Team” apabila rata-ratanya 30-39 (Slavin, 2008: 84-86).
commit to user
Metode pembelajaran kooperatif Teams Games Tournament (TGT) ini mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari pembelajaran TGT antara lain:
a. Lebih meningkatkan pencurahan waktu untuk tugas b. Mengedepankan penerimaan terhadap perbedaan individu
c. Dengan waktu yang sedikit dapat menguasai materi secara mendalam d. Proses belajar mengajar berlangsung dengan keaktifan dari siswa e. Mendidik siswa untuk berlatih bersosialisasi dengan orang lain f. Motivasi belajar lebih tinggi
g. Hasil belajar lebih baik
h. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi Sedangkan kelemahan TGT adalah:
a. Sulitnya pengelompokan siswa yang mempunyai kemampuan heterogen dari segi akademis. Kelemahan ini akan dapat diatasi jika guru yang bertindak sebagai pemegang kendali teliti dalam menentukan pembagian kelompok waktu yang dihabiskan untuk diskusi oleh siswa cukup banyak sehingga melewati waktu yang sudah ditetapkan. Kesulitan ini dapat diatasi jika guru mampu menguasai kelas secara menyeluruh.
b. Masih adanya siswa berkemampuan tinggi kurang terbiasa dan sulit memberikan penjelasan kepada siswa lainnya. Untuk mengatasi kelemahan ini, tugas guru adalah membimbing dengan baik siswa yang mempunyai kemampuan akademik tinggi agar dapat dan mampu menularkan pengetahuannya kepada siswa yang lain.
Berdasarkan jurnal internasional, penelitian yang dilakukan oleh Fengfeng Ke (2007: 318); Margaret (2008: 139-162) menjelaskan bahwa metode pembelajaran TGT dapat memberikan hasil yang lebih efektif dalam pembelajaran di kelas.
6. Media Pembelajaran
Secara harfiah kata media memiliki arti “perantara” atau “pengantar”.
Menurut Association for commit to user Education and Comunication (AECT)
mendefinisikan media yaitu segala bentuk yang dipergunakan untuk suatu proses penyaluran informasi. Jadi media adalah sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan audien (siswa) sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya. Penggunaan media secara kreatif akan memudahkan siswa untuk belajar lebih baik dan dapat meningkatkan penampilan mereka sesuai dengan tujuan yang dicapai (Usman & Asnawir, 2002: 11).
Media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Istilah media dalam bidang pembelajaran disebut juga media pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, alat bantu atau media tidak hanya dapat memperlancar proses komunikasi akan tetapi dapat merangsang siswa untuk merespon dengan baik segala pesan yang disampaikan (Gagne, 2006: 14).
Menurut Hamalik (1994) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan media pembelajaran adalah alat, metode, dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pengajaran yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran dan perasaan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu (Ahmad, 2003: 182).
Penggunaan media pembelajaran selain dapat memberi rangsangan bagi siswa untuk terjadinya proses belajar, media pembelajaran juga memiliki peranan penting dalam menunjang kualitas proses belajar mengajar. Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan pesan serta dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan si belajar sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar yang disengaja, bertujuan, dan terkendali (Miarso, 2004: 458).
Pemilihan media pembelajaran yang tepat diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses belajar siswa. Pemanfaatan media pengajaran dalam proses belajar siswa, sebagai berikut:
commit to user
a. Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.
b. Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh para siswa dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran lebih baik.
c. Metode pengajaran akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi bila guru harus mengajar untuk setiap jam pelajaran.
d. Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, dan lain-lain (Sudjana dan Rivai, 2002:
2).
Penelitian ini disertakan dengan media kartu soal dan roda impian (Wheel of Fortune). Keduanya disajikan dalam bentuk permainan yang bertujuan untuk menarik minat siswa dalam pembelajaran kimia, khususnya pada materi hidrokarbon. Penelitian yang dilakukan oleh Ryan, D (2003: 38) menggunakan permainan kartu dan penelitian yang dilakukan oleh Ratih Purwaningsih, dkk (2013: 147) dengan permainan roda impian (Wheel of Fortune) dapat menarik perhatian siswa, sehingga siswa tidak bosan dalam pembelajaran di kelas.
7. Media Kartu Soal
Berliana (2008: 1) mengemukakan bahwa media kartu soal adalah sarana agar siswa dapat belajar secara aktif terlibat dalam kegiatan belajar, berfikir aktif dan kritis di dalam belajar dan secara inovatif dapat memecahkan masalah. Pembelajaran dengan menggunakan media kartu soal menerapkan proses belajar kelompok dalam bentuk kegiatan mencatat konsep materi untuk meningkatkan pemahaman siswa.
Berliana juga menambahkan bahwa belajar kelompok dengan media kartu soal bertumpu pada dua hal sebagai berikut: commit to user
a. Mengoptimalkan interaksi antara semua elemen pembelajaran yaitu guru, siswa, dan media.
b. Mengoptimalkan keikutsertaan seluruh sense siswa yaitu panca indra, rasa dan karsa.
Setiap media pembelajaran mempunyai kelebihan dan kelemahan tersendiri. Hal tersebut bisa diperhatikan dari cara pembuatan, penggunaan dan cara penilaian terhadap media yang digunakan. Untuk kelebihan dan kelemahan media kartu soal, dapat peneliti kemukakan berdasarkan proses pembelajaran yang dilakukan. Berikut adalah kelebihan dan kelemahan media kartu soal menurut Berliana (2008: 1), yaitu:
a. Kelebihan
1) Mengubah kebiasaan belajar teacher centered menjadi student activity.
2) Mengefektifkan proses cooperative learning
3) Menumbuhkan suasana kreatif dan enjoyfull learning
4) Membuat siswa trampil mengerjakan soal-soal sendiri dan belajar mengatasi masalah
b. Kelemahan
1) Siswa terkadang saling mengandalkan dalam mengerjakan soal yang terdapat dalam kartu soal.
2) Suasana yang belajar yang dibentuk dalam permainan terkadang membuat siswa ada yang bermain-main dalam belajar
3) Kartu soal sering dijadikan bahan permainan oleh siswa
4) Banyak waktu yang dibutuhkan
Berdasarkan uraian tersebut, dapat diperoleh kesimpulan bahwa penggunaan media kartu soal dalam proses pembelajaran pada intinya adalah upaya guru memodifikasi cara penyampaian materi pelajaran. Cara penyampaian tersebut diupayakan semaksimal mungkin dibantu dengan suatu media yang terbuat dari benda-benda yang mudah didapat. Dengan bahan yang sederhana untuk membuat media pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh David Ryan Smith menunjukkan commit to user
adanya pengembangan dari permainan kartu yang dapat memberikan dampak positif pada proses pembelajaran yaitu mampu melibatkan siswa menjadi lebih aktif dan memberikan peningkatan hasil belajar.
Pembuatan kartu soal dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1) Kartu soal dapat dibuat dari kertas karton (kertas tebal) dengan ukuran 6 x
8 cm.
2) Tuliskan soal yang dikehendaki dalam kartu tersebut.
8. Media Roda Impian
Purwaningsih, dkk (2013), roda impian merupakan permainan berupa suatu roda bernomor yang dimainkan dengan cara diputar. Dalam roda impian siswa harus memutar roda yang berisi nomor sesuai jumlah kelompok dan siswa harus menjawab soal sesuai nomor kelompok masing-masing yang muncul pada saat diputar tadi sehingga siswa dituntut aktif dan siap untuk menjawab pertanyaan. Penggunaan media roda impian ini diharapkan mampu meningkatkan motivasi siswa untuk aktif dalam pembelajaran sehingga siswa lebih fokus pada materi pelajaran dan suasana kelas menjadi kondusif.
Dengan demikian diharapkan prestasi belajar siswa akan meningkat.
Penelitian yang dilakukan oleh Ratih Purwaningsih, dkk (2013) menunjukkan penggunaan media roda impian mampu memberikan hasil yang efektif terhadap prestasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari data penelitian bahwa pada aspek kognitif dan aspek afektif terdapat peningkatan prestasi belajar dari sebelum diberi perlakuan hingga setelah diberi perlakuan.
Gambar 2.1. Media Roda impian commit to user
9. Prestasi Belajar
Kata “prestasi” berasal dari bahasa Belanda yaitu prestatie. Kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi “prestasi” yang berarti “hasil usaha”.
Prestasi adalah kemampuan, keterampilan, dan sikap seseorang dalam menyelesaikan suatu hal.
Prestasi belajar merupakan suatu masalah yang bersifat perennial dalam sejarah kehidupan manusia karena sepanjang rentang kehidupannya manusia selalu mengejar prestasi menurut bidang dan kemampuan masing- masing. Bila demikian halnya, kehadiran prestasi belajar dalam kehidupan manusia pada tingkat dan jenis tertentu dapat memberikan kepuasan tertentu pula pada manusia, khususnya manusia yang berada pada bangku sekolah (Arifin, 1990: 2).
Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, baik secara individual maupun kelompok. Prestasi tidak akan pernah dihasilkan selama seseorang tidak melakukan kegiatan. Prestasi belajar di bidang pendidikan adalah hasil dari pengukuran terhadap siswa yang meliputi aspek afektif, kognitif, dan psikomotorik setelah mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan menggunakan instrumen tes atau instrumen yang relevan. Jadi prestasi belajar adalah hasil pengukuran dari penilaian usaha belajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol, huruf maupun kalimat yang menceritakan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak pada periode tertentu (Hamdani, 2011: 137).
Prestasi belajar semakin terasa penting untuk dipermasalahkan, karena mempunyai beberapa fungsi utama, antara lain :
1) Prestasi belajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai anak didik.
2) Prestasi belajar sebagai lambang pemuasan hasrat ingin tahu. Hal ini didasarkan atas asumsi bahwa para ahli psikologi biasanya menyebut hal ini sebagai tendensi keingintahuan dan merupakan kebutuhan umum pada manusia, termasuk kebutuhan anak didik dalam suatu program pendidikan. commit to user
3) Prestasi belajar sebagai bahan informasi dalam inovasi pendidikan.
Asumsinya adalah bahwa prestasi belajar dapat dijadikan pendorong bagi anak didik dalam meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan berperan sebagai umpan balik dalam meningkatkan mutu pendidikan.
4) Prestasi belajar sebagai indikator intern dan ekstern dari suatu institusi pendidikan.
5) Prestasi belajar dapat dijadikan indicator terhadap daya serap atau kecerdasan anak didik (Arifin, 1990: 3).
Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
a. Faktor internal
Faktor yang berasal dari siswa, terdiri dari:
1) Kecerdasan (inteligensi)
2) Faktor jasmaniah atau faktor fisiologis 3) Sikap
4) Minat 5) Bakat 6) Motivasi b. Faktor eksternal
Terdiri dari dua macam yaitu lingkungan sosial dan lingkungan nonsosial.
Lingkungan sosial terdiri dari guru, kepala sekolah, staf administrasi teman-teman sekelas, rumah tempat tinggal siswa, alat-alat belajar.
Lingkungan nonsosial terdiri dari gedung sekolah, tempat tinggal, dan waktu belajar (Hamdani, 2011: 139).
Gronlund (1977) merumuskan beberapa prinsip dasar dalam pengukuran prestasi belajar sebagai berikut:
a. Tes prestasi harus mengukur hasil belajar yang telah dibatasi secara jelas sesuai dengan tujuan instruksional.
b. Tes prestasi harus mengukur suatu sampel yang representatif dari hasil belajar dan dari materi yang dicakup oleh program instruksional atau pengajaran. commit to user
c. Tes prestasi harus berisi item-item dengan tipe yang paling cocok guna mengukur hasil belajar yang diinginkan.
d. Tes prestasi harus dirancang sedemikian rupa agar sesuai dengan tujuan penggunaan hasilnya.
e. Reliabilitas tes prestasi harus diusahakan setinggi mungkin dan hasil ukurnya harus ditafsirkan dengan hati-hati.
f. Tes prestasi harus dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar anak didik (Azwar, 2002: 18-22).
10. Materi Hidrokarbon
a. Identifikasi Unsur-unsur dalam Senyawa Karbon
Adanya unsur karbon dan hidrogen dalam sampel organik dapat ditunjukkan melalui percobaan sederhana, yaitu dengan uji pembakaran.
Pembakaran sampel organik akan mengubah C menjadi CO2 dan H menjadi H2O.
gas CO2 dapat dikenali karena mengeruhkan air kapur, sedangkan air dapat dikenali dengan kertas kobalt karena air mengubah warna kertas kobalt dari biru menjadi merah muda (pink).
CO2(g) + Ca(OH)2(aq) CaCO3(s) + H2O(l)
Jernih keruh
Kertas kobalt biru + H2O(l) kertas kobalt merah muda
Unsur oksigen dapat diketahui keberadaannya dari selisih massa antara sampel dengan jumlah massa karbon + hidrogen + unsur lainnya (Purba, 2007: 101).
b. Kekhasan Atom Karbon
Hidrokarbon adalah suatu senyawa yang terdiri dari atom-atom karbon (C) dan atom Hidrogen (H) sebagai penyusunnya. Keunikan atom karbon antara lain:
1) Dapat membentuk 4 ikatan kovalen
Dalam Sistem Periodik Unsur (SPU), karbon memiliki nomor atom (Z = 6) dan nomor massa (A = 12). Konfigurasi atom karbon adalah 6C = 2 4 yang berarti terdapat 2 elektron di kulit pertama dan 4 elektron di kulit kedua, sehingga dalam SPU atom karbon terletak pada golongan IV A dan periode ke-2. Oleh commit to user
karena atom karbon mempunyai 4 elektron valensi maka untuk mencapai konfigurasi oktet ia dapat membentuk 4 ikatan kovalen. Unsur golongan lain tidak dapat membentuk ikatan kovalen sebanyak itu kecuali melebihi konfigurasi oktet.
2) Atom karbon dapat membentuk rantai karbon
Atom-atom karbon dapat saling berikatan untuk membentuk rantai karbon lurus, bercabang, dan melingkar. Selain itu, atom karbon juga berikatan dengan unsur lain seperti hidrogen, oksigen, nitrogen, belerang, halogen, dan beberapa atom logam. Oleh karena itu, jumlah senyawa karbon menjadi sangat banyak.
Gambar 2.2. Ikatan Rantai Karbon dalam Bentuk Dua Dimensi
Rantai Lurus Rantai Bercabang
Rantai Siklik
Gambar 2.3. Ikatan Rantai Karbon dalam Bentuk Tiga Dimensi c. Atom Karbon Primer, Sekunder, Tersier, dan Kuartener
Kemampuan karbon mengikat karbon lainnya, menyebabkan atom karbon mempunyai empat macam kedudukan, yaitu :
1) Atom C primer adalah atom C yang mengikat satu atom C lainnya.
2) Atom C sekunder adalah atom C yang mengikat dua atom C lain.
CH CH
CH CH CH CH CH2 CH
CH3
CH3 CH2
CH3
CH3 C
H H H
H C
H H C H
H C
H H
lurus bercabang siklik
commit to user
3) Atom C tersier adalah atom C yang mengikat tiga atom C lain.
4) Atom C kwartener adalah atom C yang mengikat empat atom C lain.
Atom C sekunder
CH3
CH3 –C –CH2 –CH2 –CH–CH3
Atom C kuartener CH3 CH3 Atom C primer
Atom C tersier
Gambar 2.4. Kedudukan Atom Karbon Terhadap Atom Karbon lain
(Purba, 2007: 104) d. Penggolongan Hidrokarbon
Hidrokarbon digolongkan berdasarkan bentuk rantai karbon dan jenis ikatannya.
1) Berdasarkan Bentuk Rantai Karbonnya
Berdasarkan bentuk rantai karbonnya, hidrokarbon digolongkan ke dalam hidrokarbon alifatik (rantai terbuka) dan siklik (rantai tertutup). Alifatik merupakan rantai yang ujung-ujung atom karbonnya tidak saling berhubungan.
Pada rantai tertutup (siklis) terdapat pertemuan antara ujung-ujung rantai karbonnya. Terdapat dua macam rantai siklis yaitu alisiklik dan aromatik.
Alifatik Alisiklik Aromatik Gambar 2.5. Penggolongan Hidrokarbon Berdasarkan Bentuk Rantai 2) Berdasarkan Jenis ikatan Karbonnya
Berdasarkan jenis ikatan karbonnya, hidrokarbon alifatik dan alisiklik dibedakan atas jenuh dan tidak jenuh. Senyawa hidrokarbon jenuh adalah senyawa hidrokarbon yang semua atom C dalam senyawa tersebut berikatan tunggal.
Contoh : commit to user
2,4-dimetil pentana Siklobutana
Senyawa hidrokarbon tak jenuh adalah senyawa hidrokarbon yang salah satu atau lebih atom C pada senyawa tersebut berikatan rangkap dua atau rangkap tiga.
Contoh :
a) Etena b) Propuna
e. Alkana, Alkena, Alkuna 1) Alkana
a) Rumus Umum Alkana
Senyawa alkana merupakan senyawa hidrokarbon alifatik jenuh dengan rumus umum molekulnya CnH2n+2
Tabel 2.1. Rumus Molekul, Rumus Struktur, dan Nama Senyawa Alkana
b) Deret Homolog
Suatu kelompok senyawa karbon dengan rumus umum yang sama dan sifat yang bermiripan disebut satu homolog. Alkana merupakan suatu homolog.
Rumus Molekul Rumus Struktur Nama
CH4 H
H C H H
Metana
C2H6 H H
H C –C H H H
Etana
C3H8 H H H
H C –C –C H H H H
Propana C C CH3 CH3
CH2 CH2 CH3 CH
CH3
CH2 CH CH3 CH3
CH2 CH2 CH2 CH2
commit to user
Tabel 2.2. Rumus Struktur dan Nama Alkana dengan Jumlah Atom C1 sampai C10
Jumlah atom C Rumus Struktur Nama
1 CH4 Metana
2 CH3CH3 Etana
3 CH3CH2CH3 Propana
4 CH3(CH2)2CH3 Butana
5 CH3(CH2)3CH3 Pentana
6 CH3(CH2)4CH3 Heksana
7 CH3(CH2)5CH3 Heptana
8 CH3(CH2)6CH3 Oktana
9 CH3(CH2)7CH3 Nonana
10 CH3(CH2)8CH3 Dekana
(Sumber : Fessenden dan Fessenden, 1982: 89)
c) Tata Nama Alkana
International Union of Pure and Applied Chemistry (IUPAC) telah merumuskan tata nama sistematis untuk senyawa karbon, termasuk alkana.
(1) Alkana rantai lurus Contoh :
H C H H
H C
H H C
H
H C
H
H C H
H
n-pentana
1. (2) Alkana rantai bercabang
Aturan IUPAC untuk penamaan alkana bercabang adalah sebagai berikut:
(a) Nama alkana bercabang
Bagian pertama, dibagian depan yaitu nama cabang.
Bagian kedua, di bagian belakang, yaitu nama rantai induk.
Contoh :
commit to user
CH3 CH2 CH2 CH CH3 CH3 CH2
(b) Rantai induk adalah rantai terpanjang dalam molekul. Bila terdapat dua atau lebih rantai terpanjang maka harus dipilih yang mempunyai cabang terbanyak.
Induk diberi nama alkana bergantung pada panjang rantai.
Contoh:
CH3 CH2 CH2 CH CH3
CH3 CH
CH2 CH3
(Benar, jumlah cabang = 2)
CH3 CH2 CH2 CH CH3
CH3 CH
CH2 CH3
(Salah, jumlah cabang = 1)
(c) Cabang diberi nama alkil, yaitu nama alkana yang sesuai dengan mengganti akhiran ana menjadi il. Gugus alkil mempunyai rumus umum CnH2n+1 dan dinyatakan dengan lambang R.
Cabang
Induk
commit to user
Tabel 2.3. Rumus Struktur dan Nama Beberapa Gugus Alkil
Gugus Alkil Nama
CH3- Metil
CH3 –CH2- Etil
CH3 –CH2 –CH2- n-propil
CH3 –CH- CH3
Isopropil
CH3 –CH2 –CH2 –CH3- n-butil atau butil CH3 –CH2 –CH-
CH3
sek-butil (baca sekunder butil)
CH3 –CH –CH2- CH3
Isobutil
CH3 CH3 –C- CH3
ters-butil (baca tersier butil)
(d) Posisi cabang dinyatakan dengan awalan angka. Untuk itu, rantai induk perlu dinomori. Penomoran dimulai dari salah satu ujung rantai induk sedemikian rupa sehingga posisi cabang mendapat nomor terkecil.
Contoh: 5CH3 –4CH2 –3CH2 –2CH –1CH3
CH3 (cabang pada nomor 2)
Bukan:
1CH3 –2CH2 –3CH2 –4CH –5CH3
CH3
(cabang pada nomor 4)
(e) Jika terdapat dua atau lebih cabang sejenis, hal ini diawali dengan awalan di, tri, tetra, penta, dan seterusnya.
Contoh: CH3
1 CH3 – 2CH2 – 3C – 4CH2 – 5CH3 3,3-dimetilpentana CH3 commit to user
(f) Cabang-cabang yang berbeda disusun sesuai urutan abjad dari nama cabang itu.
Contoh : etil ditulis lebih dahulu daripada metil (e mendahului m) Isopropil ditulis lebih dahulu daripada metil (i mendahului m)
CH3
6
CH3 –5CH2 –4CH –3C –2CH2 –1CH3 3-etil-3,4-dimetilheksana CH3 C2H5
(g) Jika penomoran ekivalen dari kedua ujung rantai induk, maka harus dipilih sehingga cabang yang harus ditulis terlebih dahulu mendapat nomor terkecil.
Contoh: 6CH3 –5CH2 –4CH –3CH –2CH2 –1CH3
CH3 C2H5
3-etil-4-metilheksana (benar) 1CH3– 2CH2 –3CH –4CH –5CH2 –6CH3
CH3 C2H5
4-etil-3-metilheksana (salah)
Berdasarkan aturan-aturan tersebut, penamaan alkana bercabang dapat dilakukan mengikuti tiga langkah sebagai berikut: (1) Memilih rantai induk, yaitu rantai terpanjang yang mempunyai cabang terbanyak; (2) Penomoran, dimulai dari salah satu ujung sehingga cabang mendapat nomor terkecil; (3) Penulisan nama, dimulai dengan nama cabang (cabang-cabang) sesuai urutan abjad, kemudian diakhiri dengan nama rantai induk. Posisi cabang dinyatakan dengan awalan angka. Antara angka dengan angka dipisahkan dengan tanda koma (,), antara angka dengan huruf dipisahkan tanda jeda (-) (Purba, 2007: 113).
2) Alkena
a) Rumus Umum Alkena
Alkena adalah hidrokarbon alifatik tak jenuh dengan satu ikatan rangkap –C=C–. Senyawa yang mempunyai dua ikatan rangkap disebut alkadiena, yang mempunyai tiga ikatan rangkap disebut alkatriena, dan seterusnya. Rumus umum alkena yaitu CnH2n. jika dibandingkan dengan rumus umum alkana, alkena commit to user
mengikat lebih sedikit atom H. Oleh karena itu, alkena disebut tidak jenuh.
Kekurangan atom H alkena ini terjadi karena pembentukan ikatan rangkap karbon-karbon memerlukan 2 elektron lebih banyak daripada pembentukan ikatan tunggal. Berikut ini beberapa rumus struktur dan nama dari senyawa alkena :
Tabel 2.4. Rumus Molekul, Rumus Struktur, dan Nama Senyawa Alkena
b) Tata Nama Alkena
(1) Nama alkena diturunkan dari nama alkana yang sesuai (yang jumlah atom karbonnya sama) dengan mengganti akhiran ana menjadi ena.
(2) Rantai induk adalah rantai terpanjang yang mengandung ikatan rangkap.
(3) Penomoran dimulai dari salah satu ujung rantai induk sedemikian sehingga ikatan rangkap mendapat nomor terkecil.
Contoh: 7CH3 –6CH2 –5CH2 –4CH2–3C –CH2 –CH2 –CH3 2CH
1CH3
(4) Posisi ikatan rangkap ditunjukkan dengan awalan angka, yaitu nomor dari atom karbon berikatan rangkap yang paling pinggir (nomor terkecil).
Rumus Molekul Rumus Struktur Nama
C2H4 H H C = C H H
Etena
C3H6 H H H C = C –C H H H
Propena
C4H8 H H H H C = C –C –C H H H H
1-butena
commit to user
(5) Penulisan cabang-cabang sama seperti pada alkana.
Contoh: 6CH3 –5CH –4CH2 –3CH = 2CH –1CH3 CH3
5-metil-2-heksena
(h) 3. Alkuna
a) Rumus Umum Alkuna
Alkuna adalah hidrokarbon alifatik tidak jenuh dengan satu ikatan rangkap tiga – C C – C. Senyawa yang mempunyai 2 ikatan rangkap tiga disebut alkadiuna, yang mempunyai 1 ikatan rangkap dan 1 ikatan rangkap tiga disebut alkenuna. Rumus umum alkuna adalah CnH2n-2. Berikut ini beberapa rumus struktur dan nama senyawa alkuna yang diberikan dalam tabel 2.5.
Tabel 2.5. Rumus Molekul, Rumus Struktur, dan Nama Senyawa Alkuna
Rumus Molekul Rumus Struktur Nama
C2H2 H –C C –H Etuna
C3H4 H H –C C –C –H H
Propuna
C4H6 H H H –C –C C –C –H H H
2-butuna
C5H8 H H H H –C C –C –C –C –H H H H
1-pentuna
b) Tata Nama Alkuna
(1) Nama alkuna diturunkan dari nama alkana yang sesuai dengan mengganti akhiran ana menjadi una.
(2) Tata nama alkuna bercabang sama seperti penamaan alkena.
commit to user
f. Isomer
Senyawa yang mempunyai rumus molekul sama, tetapi berbeda struktur atau rumus bangunnya disebut isomer (Yunani iso = sama, meros = bagian).
Dengan kata lain isomer adalah senyawa-senyawa yang berbeda strukturnya, tetapi mempunyai rumus molekul yang sama.
Keisomeran terjadi karena senyawa dengan rumus molekul sama dapat mempunyai struktur atau konfigurasi yang berbeda. Struktur berkaitan dengan cara atom-atom saling berkaitan, sedangkan konfigurasi berkaitan dengan susunan ruang atom-atom dalam molekul. Senyawa yang mempunyai struktur sama dapat juga mempunyai konfigurasi yang berlainan. Oleh karena itu, keisomeran dibedakan atas keisomeran struktur dan keisomeran ruang. Jadi keisomeran struktur terjadi karena perbedaan struktur, sedangkan keisomeran ruang terjadi karena perbedaan konfigurasi.
a) Keisomeran Struktur
Keisomeran struktur dapat berupa keisomeran kerangka . keisomeran posisi, dan keisomeran gugus fungsi.
Keisomeran kerangka adalah keisomeran karena perbedaan kerangka atom karbon di antara senyawa-senyawa dengan rumus molekul sama. Senyawa-senyawa yang merupakan isomer kerangka mempunyai panjang rantai karbon yang berbeda.
Contoh :
Keisomeran antara butana dan 2-metil propana :
H3C H2 C
H2
C CH3
butana
H3C CH CH3
CH3
2-metilpropana
Keisomeran posisi terjadi karena perbedaan letak posisi gugus dalam senyawa-senyawa dengan rumus molekul dan kerangka yang sama.
Isomer posisi adalah senyawa-senyawa yang memiliki rumus molekul sama tetapi posisi gugus fungsinya berbeda.
Contoh : commit to user
Keisomeran antara 1-butena dan 2-butena :
H2C H C C
H2
CH3 1-butena
H3C H C C
H
CH3 2-butena b) Keisomeran Ruang
Isomer ruang adalah senyawa yang memiliki rumus molekul sama, tetapi strukturnya berbeda. Keisomeran ruang dapat dibedakan atas keisomeran geometris dan keisomeran optik.
Keisomeran geometri adalah keisomeran karena perbedaan arah (orientasi) gugus-gugus tertentu dalam molekul dengan struktur yang sama. Senyawa yang memiliki rumus molekul sama tetapi memiliki penataan atom dengan ruang yang berbeda.
Contoh :
C C
Cl Cl
H H
dengan C C
Cl H
H Cl
Keisomeran optik merupakan senyawa yang dapat memutar bidang polarisasi cahaya (eksperimen) dan mempunyai atom C asimetris/atom C kiral yaitu atom C yang mengikat empat gugus yang berbeda.
Contoh :
P S -C-Q
R 1) Isomer Alkana
Alkana dengan jumlah atom karbon 1 sampai 3 tidak memiliki isomer.
Jadi, alkana yang mulai mempunyai isomer adalah butana (C4H10) dan seterusnya.
Keisomeran alkana mempunyai keisomeran kerangka, karena perbedaan struktur terletak pada kerangka atom karbonnya. Makin banyak atom karbonnya, makin banyak pula kemungkinan ”isomernya”. Perbedaan struktur molekul ini menyebabkan perbedaan sifat dari masing-masing senyawa. Ada dua kemungkinan struktur yang diperoleh dari senyawa butana yaitu:
C kiral
commit to user
a) n-butana yang memiliki titik didih = -0,5°C
b) Isobutana yang memiliki titik didih = -10°C
C C C
C H H
H H
H H
H H
H H
2) Isomer Alkena
Keisomeran pada alkena dapat dimulai dari butena (C4H8). Jenis keisomeran pada alkena adalah keisomeran kerangka dan keisomeran posisi, serta keisomeran geometri.
a) Keisomeran Kerangka
Isomer rangka atau isomer rantai karbon yaitu peristiwa isomeri yang disebabkan adanya perbedaan kerangka atau rantai karbonnya.
Contoh :
1-butena dan 2-metil-propena
C C H H H
H C
H H
C H H
1- butena b) Keisomeran Posisi
Isomer posisi terjadi karena adanya perbedaan posisi letak cabang atau posisi letak ikatan rangkapnya.
Contoh :
Antara 1-butena dengan 2-butena terjadi isomer posisi
C H
H H
H C H H
C H
H C
H H
C C
H
H H
H C
H
H
C
H
H
2-metil-propena
commit to user
C C H H H
H C
H H
C H H
H C C H H H
H C
H C H
H
1-butena 2-butena c) Keisomeran Geometris
Alkena mempunyai keisomeran geometris karena perbedaan orientasi gugus-gusus di sekitar ikatan rangkap. Apabila gugus-gugus tersebut berada dalam satu ruang disebut kedudukan cis dan bila gugus-gugus tersebut berbeda ruang disebut kedudukan trans. Pada 2-butena dikenal cis-2-butena dan trans 2-butena. Keduanya memiliki struktur sama tapi berbeda konfigurasinya (orientasi gugus-gugusnya). Pada cis-2-butena, kedua gugus metil terletak pada sisi yang sama dari ikatan rangkap. Sedangkan pada trans-2-butena, kedua gugus metil terletak pada sisi yang berseberangan.
cis-2-butena trans-2-butena 3) Isomer Alkuna
Keisomeran alkuna mempunyai keisomeran posisi dan keisomeran kerangka. Keisomeran pada alkuna mulai terdapat pada butuna yang mempunyai 2 isomer.
a. Keisomeran posisi
(i) 1-butuna (ii) 2-butuna b. Keisomeran Kerangka
HC C CH2 CH2 CH3 1-pentuna H3C C C CH2 CH3 2-pentuna CH3
HC C CH CH2 CH3 3-metil-1-butuna
CH3 C C CH3
C C
H
H CH3
H3C
C C
H H
CH3 H3C
CH3 C CH2
CH
commit to user
g. Sifat-sifat Hidrokarbon 1) Sifat Fisik
a) Kelarutan
Pada umumnya, senyawa-senyawa hidrokarbon sukar atau kurang larut dalam air atau pelarut polar tetapi mudah larut dalam pelarut non polar seperti tetraklorometana. Sebagai contoh bensin (senyawa hidrokarbon dengan jumlah atom C dari 5 sampai 12 tidak dapat larut dalam air.
Polimerisasi etena menghasilkan polietena
n( ) n
b) Titik Didih dan Titik Lebur
Tabel 2.6. Titik Didih dan Titik Leleh Senyawa Hidrokarbon
Nama Rumus
Molekul
Titik leleh (oC)
Titik didih (oC)
Fase pada 25°C
Metana Etana Propana Butana Pentana Heksana Heptana Oktana Nonana Dekana Oktadekana
CH4
C2H6
C3H8
C4H10
C5H12
C6H14
C7H16
C8H18
C9H20
C10H22
C18H38
-182,5 -183,2 -187,7 -138,3 -129,7 -95,3 -90,6 -56,8 -53,6 -25,6 28,2
-161,5 -88,6 -42,1 -0,5 36,1 68,7 98,4 125,7 150,8 174 316,1
Gas Gas Gas Gas Cair Cair Cair Cair Cair Cair Padat CH2 CH2
CH2 CH2
commit to user