A N A L I S I S R I S I K O K E C E L A K A A N K E R J A P A D A R O P E A C C E S S D E N G A N M E N G G U N A K A N M E T O D E F A I L U R E M O D E E F F E C T A N A L Y S I S
( F M E A ) D A N F A U L T T R E E A N A L Y S I S ( F T A ) ( Studi Kasus : CV. Andalas Anugrah Mandiri)
TUGAS AKHIR
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik
Pada Program Studi Teknik Industri
Oleh:
AHMAD SOLEHUDIN 11652103400
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU
LEMBAR HAK ATAS KEKAYAAN INTELEKTUAL
Tugas akhir yang tidak diterbitkan ini terdaftar dan tersedia di Perpustakaan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau adalah terbuka untuk umum dengan ketentuan bahwa hak cipta pada penulis. Referensi kepustakaan diperkenankan dicatat, tetapi pengutipan atau ringkasan hanya dapat dilakukan seizin penulis dan harus disertai dengan kebiasaan ilmiah untuk menyebutkan sumbernya.
Penggandaan atau penerbitan sebagian atau seluruh Tugas Akhir ini harus memperoleh izin dari Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Perpustakaan yang meminjamkan Tugas Akhir ini untuk anggotanya diharapkan untuk mengisi nama, tanda peminjaman dan tanggal pinjam.
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam Tugas Akhir ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan di dalam daftar pustaka.
Pekanbaru, Januari 2023 Yang membuat pernyataan,
AHMAD SOLEHUDIN NIM.11652103400
LEMBAR PERSEMBAHAN
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”
(Q.S Al-Insyirah ayat: 5-6)
Segala puji dan syukur kupersembahkan bagi sang penggenggam langit dan bumi, dengan Rahmaan Rahiim yang menghampar melebihi luasnya angkasa raya. Dzat yang menganugerahkan kedamaian
bagi jiwa-jiwa yang senantiasa merindu akan kemaha besarannya
Lantunan sholawat beriring salam penggugah hati dan jiwa, menjadi persembahan penuh kerinduan pada sang revolusioner Islam, pembangun peradaban manusia yang beradab Muhammad
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Tetes peluh yang membasahi asa, ketakutan yang memberatkan langkah, tangis keputus asaan yang sulit dibendung, dan kekecewaan yang pernah menghiasi hari-hari kini menjadi tangisan
penuh kesyukuran dan kebahagiaan yang tumpah dalam sujud panjang. Alhamdulillah maha besar Allah, sembah sujud sedalam qalbu hamba haturkanatas karunia dan rizki yang melimpah, kebutuhan
yang tercukupi, dan kehidupan yang layak.
Ku persembahkan...
Kepada kedua orang tuaku, Ayahku tercinta yang bernama Munzakinudin dan Ibuku tersayang yang bernama Nurlela yang selalu ada untukku berbagi, mendengar segala keluh kesahku serta selalu mendoakan anakmu ini dalam meraih impian dan cita-cita
serta mendapat RidhoNya…
Pekanbaru, 11 Januari 2023
Ahmad Solehudin
ANA LI SI S RI SIK O KEC EL AK AAN KE R J A P AD A RO PE AC CE S S D ENG AN M ENG G UN AK AN MET O D E FA I LUR E MO D E E F F ECT ANA L Y S IS
(F ME A ) D AN FA U LT T R EE A N AL YS I S (FT A) ( Studi Kasus : CV. Andalas Anugrah Mandiri)
Muhammad Rizki, MT., Muhammad Ihsan Hamdy,ST.,MT., Ahmad Solehudin Jurusan Teknik Industri
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Jl. HR. Soebrantas No.155 Pekanbaru
Abstrak
Salah satu pekerjaan dilapangan yang sangat rawan terjadi kecelakaan kerja adalah Rope Access.
Rope Access merupakan pekerjaan yang dilakukan di ketinggian dengan menggunakan akses berupa tali. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa resiko kecelakaan kerja pada Rope Access di perusahaan CV. Andalas Anugerah Mandiri (AAM) menggunakan Metode Failure Mode Effect Analysis (FMEA) dan untuk mengetahui kemungkinan kecelakaan kerja yang terjadi dengan menggunakan metode Fault Tree Analysis (FTA). Hasil dari penelitian ini adalah . Berdasarkan nilai RPN diambil 4 kegiatan tertinggi untuk dianalisis penyebabnya menggunakan metode Fault Tree Analysis (FTA). Potensi bahaya terjatuh pada saat pembersihan kaca/ACP dengan nilai RPN 165 memasuki kategori very high. Potansi tertimpah peralatan pada saat pembersihan kaca/ACP dengan nilai RPN 210 dan tergolong kedalam kategori very high. Potensi bahaya jari terpotong saat menggerinda dengan nilai 112 masuk kedalam kategori high. Dan yang terakhir yaitu Terhirup Cat pada saat pengecatan dengan nilai RPN 120 masuk kategori high.
Kata Kunci: Failure Mode Effect Analysis, Fault Tree Analysis, Rope Access.
WORK RISK ANALYSIS ON ROPE ACCESS USING FAILURE MODE EFFECT ANALYSIS (FMEA) AND FAULT TREE
ANALYSIS (FTA) METHODS
(Case Study of CV. Andalas Anugerah Mandiri)
Muhammad Rizki, MT., Muhammad Ihsan Hamdy,ST.,MT., Ahmad Solehudin Industrial Engineering Department
Faculty of Science and Technologi
State Islamic University of Sultan Syarif Kasim Riau HR. Soebrantas No.155 Pekanbaru
Abstract
One of the jobs in the field that is very prone to work accidents is Rope Access. Rope Access is work carried out at a height using access in the form of a rope. The purpose of this study is to analyze the risk of work accidents on Rope Access in the company CV. Andalas Anugerah Mandiri (AAM) uses the Failure Mode Effect Analysis (FMEA) method and to find out the possibility of work accidents occurring using the Fault Tree Analysis (FTA) method. The results of this study are . Based on the RPN value, the 4 highest activities are taken to analyze the causes using the Fault Tree Analysis (FTA) method. The potential for falling hazard when cleaning glass/ACP with an RPN value of 165 enters the very high category. The potency overturned by the equipment when cleaning the glass/ACP has an RPN value of 210 and belongs to the very high category. The potential danger of cutting fingers when grinding with a value of 112 is included in the high category. And the last one is the inhalation of paint when painting with an RPN value of 120 which is in the high category.
KeyWord: Failure Mode Effect Analysis, Fault Tree Analysis, Rope Access.
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah Subhanahuwata’ala atas segala rahmat, karunia serta hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir dengan judul“Analisis Risiko Kecelakaan Kerja Pada Rope Access Dengan Menggunakan Metode Failure Mode Effect Anaysis (FMEA) dan Fault Tree Analysis(FTA) (Studi Kasus CV. Andalas Anugerah Mandiri)”
sesuai dengan waktu yang ditetapkan. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Laporan ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana Teknik di Jurusan Teknik Industri Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Banyak sekali yang telah penulis peroleh berupa ilmu pengetahuan dan pengalaman selama menempuh pendidikan di Jurusan Teknik Industri.
Selanjutnya dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Hairunas, M.Ag selaku Rektor Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
2. Bapak Dr. Hartono, M.Pd selaku Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
3. Ibu Misra Hartati, S.T., M.T selaku Ketua Jurusan Teknik Industri Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
4. Prof. DR. Fitra Lestari Norhiza, S.T., M.T selaku Pembimbing Akademik yang telah banyak meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam membimbing dan memberikan petunjuk yang sangat berguna sejak awal perkuliahan sampai saat penulis menyelesaikan laporan Tugas Akhir ini.
5. Bapak Muhammad Rizki M.T., M.B.A selaku pembimbing 1 yang telah banyak meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam membimbing dan
memberikan petunjuk yang sangat berguna saat penulis menyelesaikan laporan Tugas Akhir ini.
6. Bapak Muhammad Ihsan Hamdy, ST., MT selaku pembimbing 2 yang telah banyak meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam membimbing dan memberikan petunjuk yang sangat berguna saat penulis menyelesaikan laporan Tugas Akhir ini.
7. Bapak Muhammad Nur S.T., M.Si dan Bapak Anwardi, S.T., M.T selaku dosen penguji yang telah yang telah banyak membantu serta menyumbangkan ide- idenya guna untuk menyelesaikan Tugas Akhir ini
8. Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Teknik Industri UIN SUSKA RIAU, yang telah banyak memberikan ilmu dan diskusi-diskusi yang membangun selama proses menimba ilmu di bangku perkuliahan.
9. Keluarga besar Teknik Industri Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau dan rekan-rekan Angkatan 2016 Jurusan Teknik Industri yang selalu memberikan dorongan semangat dan motivasi kepada penulis untuk dapat menyelesaikan laporan Tugas Akhir ini.
Tugas Akhir ini jauh dari kesempurnaan karena sejatinya kesempurnaan itu milik Allah Subhanahuwata’ala, untuk itu dengan segala kerendahan hati, segala saran serta kritik yang bersifat membangun sangat diharapkan untuk pembelajaran dimasa mendatang.
Akhirnya, semoga Tugas Akhir ini dapat berguna dan memberikan hikmah dan ide bagi siapa saja yang membacanya.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Pekanbaru, Januari 2023
Ahmad Solehudin
DAFTAR ISI
Halaman
COVER ... i
LEMBAR PERSETUJUAN ... ii
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
LEMBAR HAK ATAS KEKAYAAN INTELEKTUAL... iv
LEMBAR PERNYATAAN ... v
LEMBAR PERSEMBAHAN ... vi
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xiv
DAFTAR TABEL ... xv
DAFTAR LAMPIRAN ... xvi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 5
1.3 Tujuan Penelitian ... 5
1.4 Manfaat Penelitian ... 5
1.5 Batasan Masalah ... 6
1.6 Posisi Penelitian ... 6
1.7 Sistematika Penulisan ... 12
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Keselamatan dan Kesehatan Kerja... 13
2.2 Pengertian Kecelakaan Kerja ... 15
2.3 Macam-Macam Penyakit Akibat Kerja... 16
2.4 Kesehatan Kerja ... 17
2.6 Tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja... 18
2.7 Bahaya Kerja ... 19
2.8 Peraturan Keselamatan Kerja dan Kesehatan Kerja (K3) Di Indonesia ... 19
2.9 Definisi Alat Pelindung Diri ... 21
2.10 Jenis-Jenis Alat Pelindung Diri... 21
2.11 Bekerja Diketinggian... 26
2.12 Kategori Sistem Bekerja Pada Ketinggian ... 26
2.13 Sistem Akses Tali (Rope Access)... 28
2.14 Metode FMEA (Failure Mode Effect Analysis) ... 29
2.15 Metode FTA (Fault Tree Analysis)... 33
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Studi Pendahuluan... 37
3.2 Studi Literatur... 37
3.3 Rumusan Masalah ... 37
3.4 Tujuan Penelitian... 37
3.5 Pengumpulan Data... 38
3.6 Pengolahan Data ... 38
3.7 Analisa ... 39
3.8 Kesimpulan dan Saran... 39
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 Pengumpulan data ... 40
4.1.1 Profil Perusahaan... 40
4.1.2 Kegiatan pada Rope Access ... 40
4.2 Pengolahan Data... 41
4.2.1 Identifikasi Kecelakaan Kerja ... 41
4.2.2 Penentuan Nilai FMEA (Failure Mode Effect Analysis)... 42
4.2.3 Nilai RPN ... 43
4.2.4 Metode Fault Tree Analysis(FTA) ... 44
BAB V ANALISIS
5.1 Analisis Identifikasi Kecelakaan Kerja ... 57
5.2 Penentuan Nilai FMEA(Failure Mode Effect Analysis)... 58
5.3 Analisa Nilai RPN ... 62
5.4 Analisa FTA(Fault Tree Analisis)... 62
5.5 Standar Operational Procedure (SOP)... 64
BAB VI PENUTUP 6.1 Kesimpulan... 65
6.2 Saran ... 66
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1.1 Kegiatan Pekerja Rope Access... 2
1.2 Kegiatan Pekerja Rope Access Lanjut ... 3
2.1 Safety Helmet ... 22
2.2 Alat Pelindung Mata dan Wajah... 22
2.3 Alat Pelindung Telinga... 23
2.4 Alat Pelindung Pernapasan... 24
2.5 Alat Pelindung Badan... 24
2.6 Savety Harness ... 25
2.7 Alat Pelindung Tangan ... 25
2.8 Alat Pelindung Kaki ... 26
3.1 Flowchart Penelitian ... 36
4.1 Jenis Kecelakaan Kerja... 44
4.2 Bagan FTATerjatuh Pada Saat Pembersihan Kaca/ACP ... 45
4.3 Intermediate EvenTerjatuh Pada Saat Pembersihan Kaca/ACP ... 46
4.4 Intermediate EvenTerjatuh Pada Saat Pembersihan Kaca/ACP ... 46
4.5 Intermediate EvenTerjatuh Pada Saat Pembersihan Kaca/ACP ... 47
4.6 Bagan FTATertimpah Peralatan Saat Pembersihan Kaca/ACP... 48
4.7 Intermediate EvenTertimpah Saat Pembersihan Kaca/ACP... 49
4.8 Intermediate EvenTertimpah Saat Pembersihan Kaca/ACP... 49
4.9 Bagan FTA Jari Terpotong Saat Menggerinda... 51
4.10 Intermediate EvenJari Terpotong Saat Menggerinda... 51
4.11 Intermediate EvenJari Terpotong Saat Menggerinda... 52
4.12 Fault Tree Analisys (FTA) Terhirup Cat Pada Saat Pengecatan... 54
4.13 Intermediate EvenTerhirup Cat Pada Saat Pengecatan... 54
4.14 Intermediate EvenTerhirup Cat Pada Saat Pengecatan... 55
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1.1 Data Kecelakaan Kerja ... 3
1.2 Posisi Penelitian... 6
2.1 Nilai Saverity ... 29
2.2 Nilai Occurance... 30
2.3 Nilai Detection... 31
2.4 Skala Risk Priority Number (RPN) ... 32
2.5 Pengelompokan Bahaya Kecelakaan Kerja Berdasarkan Dampaknya pada Korban ... 32
4.1 Identifikasi Aktivitas dan Failure Mode ... 41
4.2 Tabel Penilaian FMEA ... 42
4.3 Tabel Nilai RPN ... 43
4.4 Keterangan Basic Event Diagram FTA Terjatuh Pada Saat Pembersihan Kaca/ACP ... 47
4.5 Keterangan Basic Event Diagram FTA Tertimpah Peralatan Pada Saat Pembersihan Kaca/ACP... 50
4.6 Keterangan Basic Event Diagram FTA Jari Terpotong Saat Menggerinda... 52
5.1 Standar Operational Procedure (SOP)... 64
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia pada dasarnya harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Berbagai pekerjaan dilakukan sesuai dengan keahlian dan kemampuan manusia itu.
Adapun pekerjaan yang dilakukan didalam ruangan dan ada juga pekerjaan yang dilakukan diluar ruangan atau biasa disebut dilapangan. Resiko kecelakaan kerja lebih sering terjadi pada mereka yang bekerja dilapangan. Pada saat mereka bekerja tentunya pernah mengalami kecelakaan, sakit, cidera, luka-luka, atau bahkan yang paling fatalnya kematian. Kecelakaan kerja itu terjadi lantaran beberapa faktor. Di antaranya, kurang disiplinnya tenaga kerja dalam memenuhi K3.
Salah satu pekerjaan dilapangan yang sangat rawan terjadi kecelakaan kerja adalah Rope Access. Rope Access merupakan pekerjaan yang dilakukan di ketinggian dengan menggunakan akses berupa tali. Metode ini dikembangkan dari teknik panjat tebing dan penelusuran goa. Metode Rope Access diterapkan secara luas dalam berbagai sector industry, seperti pembangunan, perawatan bangunan dan instalasi industri seperti gedung tinggi, menara jaringan listrik, Menara komunikasi anjungan minyak, perawatan jembatan, ruang terbatas (confined spaces), pertambangan, industri pariwisata seperti outbond, penelitian dan perawatan hutan dan lain sebagainya.
Bekerja diketinggian dengan menggunakan akses tali (Rope Access) telah diasosiasikan. Oleh sebab itu, standar operational pengerjaan di ketinggian yang aman sangat diperlukan. Bekerja di ketinggian merupakan salah satu kegiatan atau aktivitas yang dikategorikan sebagai “Class 1 Risk Activities”, berdasarkan laporan Labour Force Survey (LFS2) UK, salah satu penyebab terjadinya kecelakaan kerja yang berdampak pada cedera serius dan kematian adalah terjatuh dari atas ketinggian (31%).
(Trianto, 2020).
Bekerja di ketinggian dengan akses tali (rope Access) haruslah menerapkan prosedur dan standar keselamatan kerja tidak hanya untuk pekerjaan konstruksi tetapi
juga untuk semua pekerjaan yang dilaksanakan di ketinggian. Peralatan pencegah, penahan jatuh serta pendukung tidak standar dan kondisi tidak aman untuk digunakan, kesalahan penggunaan alat atau ketidaksesuaian penggunaan alat, tidak adanya prosedur baik SOP atau PI, JSEA dan penilaian risiko, tidak disosialisasikannya SOP atau PI, JSEA dan penilaian risiko, tidak tersedianya atau tidak memiliki kecukupan pengawasan yang andal, tidak tersdianya pelatihan untuk para pekerja dan tidak memiliki departemen pelatihan, kurangnya finansial dalam mendukung program pelatihan dan proses pembelian barang dan peralatan.
CV. Andalas Anugerah Mandiri (AAM) merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang jasa Rope Access yang meliputi inspeksi, survei, perawatan, dan konstruksi di jembatan, bendungan, turbin angin, menara, bangunan, dan pabrik industri. Serta inspeksi yang paling umum seperti pengecatan, pengelasan, dan pemotongan. Permasalahan yang terjadi pada CV. Andalas Anugerah Mandiri (AAM) adalah kurangnya kesadaran teknisi terhadap pentingnya penerapan SMK3. Teknisi yang melakukan pekerjaan sering kali tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang lengkap. Hal ini berpengaruh terhadap safety performance.
Tidak tecapainya safety performace dapat memicu terjadinya kecelakaan kerja pada proses pengerjaan suatu pekerjaan. Selain kurangnya kesadaran teknisi, juga terdapat beberapa peralatan yang seharusnya sudah tidak layak untuk digunakan. Hal ini dapat menyebabkan resiko kecelakaan kerja yang tinggi.
Gambar 1.1 Kegiatan Pekerja Rope Access
Gambar 1.2 Kegiatan Pekerja Rope Access (Lanjutan)
Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan pemilik perusahaan.
Kecelakaan kerja yang pernah terjadi di CV. Andalas Anugrerah Mandiri (AAM) adalah sebagai berikut:
Tabel 1.1 Data Kecelakaan Kerja
No Tahun Kejadian
1 Januari 2019 Pekerja terjatuh dari ketinggian karena lupa memasang pengaman. Akibatnya pekerja mengalami patah tulang pinggul.
2 Maret 2019 Pekerja terpapar bahan pestisida akibat fumigasi sehingga mengakibatkan banyak pekerja yang mual-mual dan pusing
3 Mei 2019 Jari pekerja terpotong saat memasang cleding karena gerinda potong yang terlepas mengenai jari.
4 April 2020 Luka bakar akibat percikan material pada saat pengelasan 5 Agustus 2020 Pekerja kram otot dikrenakan kesulitan pada saat naik
keatas silo dikarenakan peralatan yang digunakan macet
pada saat digunaakan akibatnya harus di recscue sehingga memakan banyak waktu
6 Februari Banyak pekerja yang hilang kesadaran karena kelamaan menghirup aroma dari tinner
7 Juni 2021 Mata terkena percikan material pada saat pengamplasan menggunakan gerinda sehingga harus dilakukan perawatan.
(Sumber: CV. Andalas Anugerah Mandiri, 2022)
Dari beberapa permasalahan yang sering terjadi pada perusahaan CV. Andalas Anugerah Mandiri (AAM) yang dapat memicu terjadinya kecelakaan kerja, maka diperlukannya penelitian untuk menganalisis resiko kecelakaan kerja menggunakan metode Failure Mode Effect Analysis (FMEA) dan Fault Tree Analysis (FTA). FMEA adalah sebuah teknik rekayasa yang digunakan untuk menetapkan, mengidentifikasi, dan untuk menghilangkan kegagalan yang diketahui, permasalahan, error, dan sejenisnya dari sebuah system, desain, proses, dan atau jasa sebelum mencapai konsumen (Hanif et al.2015). Penggunaan metode FMEA dapat membantu mengetahui resiko terbesar dalam aktivitas rope access yang dilakukan oleh CV. AAM.
Metode FTA (Fault Tree Analysis) adalah suatu metode analisa risiko kuantitatif dengan model grafik dan logika yang menampilkan kombinasi kejadian yang memungkinkan yaitu rusak atau baik, yang terjadi dalam sistem, aplikasinya dapat mencakup suatu sistem, equipment dan sebagai analis(Nur & Ariwibowo, 2007).
Penggunaan metode FTA digunakan untuk mengetahui permasalahan yang terjadi, sehingga dapat diketahui penyebab utama tidak tercapainya safety performance.
Penggunaan metode Failure Mode Effect Analysis (FMEA) dan Fault Tree Analysis (FTA) diharapkan dapat mengetahui resiko prioritas yang harus segera dan penting untuk dilakukan tindakan dan solusi dalam mencegah terjadinya kecelakaan kerja berdasarkan jenis kecelakaan kerja. Dan mensosialisakan pengetahuan dan
perbaikan dari permasalahan yang terjadi kepada teknisi dan pihak perusahaan agar dapat mencegah terjadinya kecelakaan kerja.
Berdasarkan penjelasan tersebut akan dilakukan penelitian tentang Analisis resiko kecelakaan kerja pada Rope Access dengan menggunakan Metode Failure Mode Effect Analysis (FMEA) dan Fault Tree Analysis (FTA) di perusahaan CV. Andalas Anugerah Mandiri (AAM).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan Permasalahan yang ada, maka rumusan masalah yang diangkat adalah bagaimana menganalisis resiko kecelakaan kerja pada Rope Access dengan menggunakan Metode Failure Mode Effect Analysis (FMEA) dan Fault Tree Analysis (FTA) di perusahaan CV. Andalas Anugerah Mandiri (AAM)?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk menganalisa resiko kecelakaan kerja pada Rope Access di perusahaan CV. Andalas Anugerah Mandiri (AAM) menggunakan Metode Failure Mode Effect Analysis (FMEA)
2. Untuk mengetahui kemungkinan penyebab kecelakaan kerja yang terjadi dengan menggunakan metode Fault Tree Analysis (FTA)
3. Untuk memberi masukan kepada perusahaan agar meminimalisir terjadinya kecelakaan kerja.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian adalah 1. Bagi peneliti
a. Dapat menambah pengetahuan dan wawasan tentang resiko kecelakaan kerja pada Rope Access serta melakukan analisa resiko kecelakaan kerja dengan metode Failure Mode Effect Analysis (FMEA) dan Fault Tree Analysis (FTA)
b. Dapat mengidentifikasi resiko kecelakaan kerja yang terjadi serta mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh dalam perkuliahan pada laporan penelitian sesuai dengan keadaan dilapangan
2. Bagi perusahaan CV. Andalas Anugerah Mandiri (AAM)
a. Dapat mengetahui resiko kecelakaankerja yang harus segera dan penting untuk dilakukannya perbaikan pada permasalahan yang terjadi b. Mendapatkan usulan perbaikan berdasarkan identifikasi resiko
kecelakaan kerja dan menerapkannya agar dapat mencegah terjadi kecelakaan kerja
1.5 Batasan Masalah
Batasan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Penelitian ini hanya menganalisis resiko kecelakaan kerja pada CV. Andalas Anugerah Mandiri (AAM)
2. Penelitian ini tidak melakukan perhitungan biaya kecelakaan kerja yang terjadi.
1.6 Posisi Penelitian
Agar tidak terjadinya penyimpangan dan plagiasi maka peneliti melampirkan penelitian-penelitian terdahulu yang berkaitan dengan metode yang digunakan.
Adapun posisi penelitian ini adalah sebagai berikut : Tabel 1.2 Posisi Penelitian
No Judul dan Penulis Permasalahan/Tujuan Metode Hasil 1 Evaluasi
Penerapan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) Berdasarkan Fault Tree
Analysis (FTA), Failure Modes &
Effect Analysis
Tujuan dari penelitian ini untuk
menentukan: (1) penerapan K3 berdasarkan Fault Tree Analysis (FTA)
di Bengkel Jurusan Teknik Instalasi Pemanfaatan Tenaga
Fault Tree Analysis
(FTA, Failure Modes &
Effect Analysis (FMEA),
dan
Hasil penelitian yang dilakuakan
pada bengkel Teknik Instalasi
Pemanfaatan Tenaga Listrik
(TIPTL) menunjukkan bahwa: (1). pada
(FMEA) Dan Preliminary Hazard Analysis (PHA)
Di Jurusan Tiptl Smk Negeri 1 Magelang. Linda Nuriawati(2017).
Listrik SMK Negeri 1 Magelang. (2)
penerapan K3 berdasarkan Failure
Modes & Effect Analysis (FMEA) di
Bengkel Jurusan Teknik Instalasi Pemanfaatan Tenaga
Listrik SMK Negeri 1 Magelang. (3)
penerapan K3 berdasarkan Preliminary Hazard
Analysis (PHA) di Bengkel Jurusan
Teknik Instalasi Pemanfaatan Tenaga
Listrik SMK Negeri 1 Magelang.
Preliminary Hazard Analysis
(PHA)
tahapan Antecedents (masukan) pada aspek Fault Tree
Analysis (FTA) memiliki ketercapaian 93,94%, aspek Failure Modes &
Effect Analysis (FMEA) memiliki ketercapaian 84,09%, dan pada aspek Preliminary Hazard Analysis (PHA) memiliki
ketercapaian 77,16%, (2). pada
tahap Outcomes (keluaran) pada aspek Fault Tree
Analysis (FTA) memiliki ketercapaian 66,59%, aspek Failure Modes &
Effect Analysis (FMEA) memiliki ketercapaian 62,5%, dan pada
aspek Preliminary Hazard Analysis (PHA) memiliki
ketercapaian 59,09 2 Analisis Risiko
Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) Menggunakan Metoda Failure Mode
And Effect Analysis (FMEA) Dan Fault Tree Analysis (FTA).
Azizur
Rahman(2018).
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi kejadian risiko K3
yang terjadi pada Bengkel Bina Karya.
Setelah itu dilakukan penilaian terhadap kejadian risiko yang muncul, kemudian dicari faktor risiko yang dominan untuk meminimalisasi dampak terjadinya risiko tersebut dengan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA), Sedangkan identifikasi kejadian risiko dari nilai RPN tertinggi digunakan metode Fault Tree Analysis (FTA).
Failure Mode and Effect Analysis (FMEA),dan Fault Tree Analysis (FTA).
Hasil dari analisis FMEA mendapati bahwa kejadian
kecelakaan kerja paling tinggi yang pernah terjadi pada Bengkel Bina Karya adalah kaki dan tangan luka akibat gerinda lepas dengan nilai RPN sebesar 106,87.
Selanjutnya dilakukan wawancara dengan pihak Bengkel Bina Karya untuk mengetahui potensi-potensi penyebab terjadinya kecelakaan kaki dan tangan luka akibat gerinda lepas yang kemudian disusun
menggunakan metode FTA sehingga
menghasilkan 13 kombinasi penyebab kecelakaan.
3 Analisis Risiko Kecelakaan Kerja Dengan Metode Failure Mode And Effect Analysis (Fmea) Dan Fault Tree Analysis (Fta) Untuk Menurunkan Tingkat Risiko Kecelakaan Kerja Sofian Bastuti, (2019)
Berdasarkan hasil analisa pada tabel FMEA
didapat Risk Priority Number tertinggi adalah
ledakan Pressure Regulator System (PRS) akan
di jadikan Top Event untuk fault Tree60
FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS (FMEA) DAN FAULT TREE ANALYSIS (FTA)
Setelah
mengaplikasikan metode Failure Mode and Effect Analysis
(FMEA) seperti mengetahui pekerjaan, uraian pekerjaan, mode kegagalan, menghitung Risk Priority Number (Severity x Occurence x Detection) didapat RPN tertinggi atau Tingkat risiko tertinggi
kecelakaan kerja di divisi produksi yang mencakup 8 pekerjaan adalah pada Proses dan langkah
pensupplyan CNG ke costumer (operasional
PRS) saat unloading dan operasional CNG dengan potensi bahaya/mode kegagalan ledakan pressure regulator system (PRS) dengan nilai severity 5, occurence 3, detection 4 dan RPN 60.
4 Identifikasi
Potensi Bahaya K3 Menggunakan Metode Failure Mode Effect Analysis Dan Usulan Pencegahan Di Ukm Power Shuttlecock (Rahmandika, 2020)
Berdasarkan hasil analisis
menggunakan metode FMEA risiko bahaya yang
lebih dominan dapat terjadi di UKM power shuttlecock adalah risiko bahaya kebakaran, dengan RPN tertinggi pada setiap proses stasiun kerja.
METODE FAILURE MODE EFFECT ANALYSIS
Usulan metode pencegahan potensi
kebakaran adalah dengan
pengadaan APAR ABC chemical powder sebanyak 5 unit, dengan perincian 3 unit
APAR ABC chemical powder berukuran 6 kg dan 2 unit APAR ABC chemical powder
berukuran 3 kg.
Lokasi penempatan APAR mengacu
pada
Permenakertrans No. Per. 04/
MEN/ 1980 dengan biaya pengadaan sebesar Rp 1.674.000.
5 analisis resiko kecelakaan kerja pada Rope Access dengan
menggunakan Metode Failure
Mode Effect
Analysis (FMEA) dan Fault Tree Analysis (FTA) di perusahaan CV.
Andalas Anugerah Mandiri (AAM).
Ahmad Solehudin (2022)
kurangnya kesadaran teknisi terhadap pentingnya
penerapan SMK3.
Teknisi yang
melakukan pekerjaan sering kali tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang lengkap.
Sehingga memicu terjadinya kecelakaan kerja pada proses pengerjaan suatu pekerjaan. Selain kurangnya kesadaran teknisi, juga terdapat beberapa peralatan yang seharusnya sudah tidak layak untuk digunakan. Hal
ini dapat
menyebabkan resiko kecelakaan kerja yang tinggi.
Failure Mode Effect Analysis (FMEA) dan Fault Tree Analysis (FTA)
Untuk menganalisa resiko kecelakaan kerja pada Rope
Access di
perusahaan CV.
Andalas Anugerah
Mandiri (AAM) menggunakan Metode Failure Mode Effect Analysis (FMEA) Untuk
mengetahui kemungkinan kecelakaan kerja yang terjadi dengan
menggunakan metode Fault Tree Analysis (FTA)
1.7 Sistematika Penulisan
Dalam penyusunan Tugas Akhir terdiri dari enem bab dengan sistematika penulisan sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Berisikan tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan masalah, posisi peneliti dan sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
Berisi tentang teori–teori pendukung yang digunakan sebagai dasar pemikiran untuk membahas dan mencari permasalahan yang ada dan sebagai pendukung untuk pengumpulan dan pengolahan data.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini berisi kerangka laporan tugas akhir yang menggambarkan bentuk penelitian yang dilakukan, sistematis pengambilan data serta langkah- langkah yang diambil dalam pemecahan permasalahan.
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
Bab ini berisikan pengumpulan data dan pengolahan data berdasarkan hasil pengamatan yang didapatkan pada tempat penelitian.
BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini, berisikan tentang analisa hasil dari pengolahan data yang telah didapat dan kemudian akan dijelaskan maksud dari hasil analisa data tersebut.
BAB VI PENUTUP
Pada bab ini, berisikan tentang kesimpulan dari hasil analisa data dan saran yang akan ditujukan pada tempat penelitian,
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Definisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja umumnya terbagi menjadi 3 versi, yaitu menurut fiolosofi, keilmuan, serta menurut standar OHSAS 18001:2007 (Djatmiko, 2016).
1. Definisi menurut filosofi:
a. menurut mangkunegara, keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baij jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya, dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budaya untuk menuju masyarakat adil dan makmur.
b. Menurut suma’mur, keselamatan kerja merupakan rangkaian usaha untuk menciptakan suasana kerja yang aman dan tentram bagi para karyawan yang bekerja di perusahaan yang bersangkutan.
c. Menurut Simanjuntak, keselamatan kerja adalah kondisi keselamatan yang bebas dari risiko kecelakaan dan kerusakan dimana kita bekerja yang mencakup tentang kondisi bangunan, kondisi mesin, peralatan keselamatan, dan kondisi pekerja.
d. Mathis dan Jackson, menyatakan bahwa keselamatan adalah merujuk pada perlindungan terhadap kesejahteraan fisik seseorang terhadap cidera yang terkait dengan pekerjaan. kesehatan adalah merujuk pada kondisi umum fisik, mental dan stabilitas emosi secara umum.
e. Menurut Ridley, John, mengartikan kesehatan dan keselamatan kerja adalah suatu kondisi dalam pekerjaan yang sehat dan aman baik itu bagi pekerjaannya, perusahaan maupun bagi masyarakat dan lingkungan sekitar pabrik atau tempat kerja tersebut.
2. Definisi menurut keilmuan:
Suatu cabang ilmu pengetahuan dan penerapan yang mempelajari tentang cara mencegah terjadinya kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja, kebeakaran, peledakan, dan pencemaran lignkungan.
3. Definisi menurut standar OHSAS 18001:2007
Semua kondisi dan faktor yang dapat berdampak pada keselamatan dan kesehatan kerja tenaga kerja maupun orang lain(kontraktor, pemasok, pengunjung dan tamu) di tempat kerja.
Keamanan, kesehatan, dan keselamatan kerja merupakan salah satu hal penting yang wajib diterapkan oleh semua perusahaa. Hal ini juga tertuang dalam undang- undang ketenagakerjaan No.13 Tahun 2003 pasal 87. Definisi k3 menurut WHO dan ILO adalah meningkatkan dan memelihara deraja tertinggi semua pekerja baik secara fisik, mental, dan kesejahteraan sosial di semua jenis pekerjaan, mencegah terjadinya gangguan kesehatan, menempatkan dan memelihara pekerja di lingkungan kerja yang sesuai dengan kondisi fisologis dan psikologis pekerja untuk menciptakan kesesuaian antara pekerjaan dengan pekerja dan setiap orang dengan tugasnya (Hasibuan, dkk, 2020).
OHSAS 18001:2007 Merumuskan Keselamatan dan Kesehatan Kerja sebagai kondisi dan penyebab yang mempengaruhi atau keselamatan dan kesehatan karyawan tetap, pekerja kontrak, dan tamu yang berada di tempat kerja. Keseriusan manajemen, komunikasi, prosedurdan peraturan K3, kompetensi dan keikut sertaan pekerja dan kodisi lingkungan kerja merupakan penyebab penentu dalam mempengaruhi budaya kerja di suatu perusahaan atau organisasi. Undang –Undang No. 1 Tahun 1970 merupakan perundangan tentang keselamatan dan Kesehatan kerja (K3) dan bertujuan untuk mengatur pengelolaan perusahaan dalam menerapkan protokol keselamatan di lingkungan kerja (Ilmansyah, dkk, 2020)
2.2 Pengertian Kecelakaan Kerja
kecelakaan kerja merupakan kejadian yang tidak terduga dan tidak dikehendaki oleh siapapun , yang mengacaukan proses yang telah diatur dari suatu aktivitas dan dapat menimbulkan kerugian baik korban manusia maupun harta benda (UU No. 1 Tahun 1970). Kecelakaan kerja dapat ditimbulkan oleh tindakan manusia yang tidak melakukan tindakan penyelamatan dan disebabkan oleh keadaan kondisi kerja yang tidak aman. Suma’mur (1989) menyimpulkan bahwa terdapat 4 klasifikasi kecelakaan kerja berdasarkan jenis pekerjaan, penyebab, sifat atau luka dan kelainan, serta berdasarkan letak atau kelainan yang menyebabkan luka di tubuh manusia (Ilmansyah, dkk, 2020).
Kecelakaan kerja merupakan kecelakaan yang terjadi diperusahaan baik yang terjadi ketika sedang bekerja di perusahaan ataupun yang terjadi ketika sedang dalam perjalanan menuju tempat kerja (Bhakti dan Riyanto, 2018). Kecelakaan kerja terjadi tanpa adanya perencanaan. Dampak dari kecelakaan kerja dapat menyebabkan pekerja menjadi cedera yang menyebabkan pekerja menjadi sakit, bahkan meninggal dunia.
Kecelakaan kerja diklasifikasikan menjadi beberapa klasifikasi, yaitu sebagai berikut (Piri, dkk, 2012):
1. Klasifikasi menurut jenis kecelakaan a. Terjatuh
b. Tertimba benda c. Tertumbuk d. Terjepit
e. Gerakan yang melebihi kemampuan f. Suhu tinggi
2. Klasifikasi menurut penyebab a. Mesin
b. Alat angkut
c. Peralatan yang dapat menimbulkan api d. Bahan-bahan kimia
e. Lingkungan kerja
3. Klasifikasi menurut sifat luka atau kelainan:
a. Patah tulang b. Diskolasi c. Regang otot d. Memar e. Amputasi
4. Klasifikasi menurut letak kelainan atau luka di tubuh a. Kepala
b. Leher c. Badan d. Anggota atas e. Anggota bawah f. Banyak tempat
2.3 Macam-macam Penyakit Akibat Kerja
Penyakit akibat kerja banyak macamnya, berikut ini macam-macam penyakit akibat kerja yang dialami oleh para pekerja (Djatmiko, 2016).
1. Pneumokoniosis
Penyakit ini disebabkan oleh debu mineral pembentukan jaringan parut. Gejala penyakit ini berupa sakit paru-paru namun berbeda dengan penyakit TBC paru 2. Silikosis
Penyakit yang paling penting dari golongan penyakit pneumokonioses.
Penyebabnya adalah silika bebas yang terdapat dalam debu yang dihirup ketika bernafas dan ditimbun dalam paru-paru dengan masa inkubasi 2-4 tahun.
3. Anthrakosilikosis
Pneumokomiosis yang disebabkan oleh silika bebas bersama debu arang batu.
4. Asbestosis
Jenis pneumokoniosis yang disebabakan oleh debu asbes dengan masa latennya 10 – 20 tahun.
5. Berryliosis
Penyebabnya adalah debu yang mengandung berrylium, terdapat pada pekerja pembuat aliasi berrylium tembaga.
6. Byssinosis
Disebabkan oleh debu kapas atau sejenisnya.
7. Stannosis
Penyakit ini disebabkan oleh debu bijih timah putih.
8. Siderosis
Penyakit ini disebabkan oleh debu yang mengandung Fe2O2. 9. Penyakit paru dan saluran pernapasan
10. Asma
11. Alveolitis allergika
12. Penyakit yang disebabakan oleh berilium.
13. Penyakit yang disebabakan kadmium 14. Penyakit yang disebabkan oleh fosfor 15. Penyakit yang disebabkan oleh krom 16. Penyakit yang disebabkan oleh mangan 17. Penyakit yang disebabkan oleh arsen.
2.4 Kesehatan Kerja
Kesehatan kerja adalah kondisi bebas dari gangguan fisik, mental, emosi, atau rasa sakit yang disebabkan lingkungan kerja. beberapa hal yang termasuk indikator kesehatan kerja adalah sebagai berikut(Hasibuan, dkk, 2020):
1. keadaan dan kondisi karyawan adalah keadaan yang dialami oleh karyawan pada saat bekerja yang mendukung aktivitas dalam bekerja.
2. Lingkungan kerja adalah lingkungan yang lebih luas dari tempat kerja yang mendukung aktivitas karyawan dalam bekerja.
3. Perlingungan karyawan merupakan fasilitas yang diberikan untuk menunjang kesejahteraan karyawan.
2.5 Ruang Lingkup Kesehatan Kerja
Ruang lingkup kesehatan kerja adalah sebagai berikut (Hasibuan, dkk, 2020):
1. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan kerja.
a. Sarana dan prasarana
b. Tenaga (dokter pemeriksa kesehatan tenaga kerja) c. Organisasi (pemimpin unit pelayanan kesehatan kerja) 2. Pelaksanaan pemeriksaan kesehatan tenaga kerja
a. Awal (sebelum tenaga kerja diterima untuk melakukan pekerjaan) b. Berkala
c. Khusus d. Purna bakti 3. Pelaksanaan P3K 4. Pelaksanaan gizi kerja
a. kantin
b. katerting pengelola makanan
c. pemeriksaan gizi dan makanan bagi tenaga kerja d. pengelola dan petugas katering.
5. Pelaksanaan pemeriksaan syarat-syarat ergonomis 2.6 Tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Keselamatan kerja pada dasarnya merupakan tanggung jawab perusahaan dalam menjaga pekerjanya. Keselamatan dan kesehatan kerja dapat memberikan rasa aman kepada pekerja dalam melaksanakan pekerjaannya (Mongkareng, dkk, 2018).
Selain itu keselamatan dan kesehatan kerja bertujuan sebagai berikut (Hedianto, 2014):
1. Agar pegawai mendapatkan jaminan keselamatan dan kesehatan dalam bekerja.
2. Alat-alat keselamatan kerja digunakan dengan efisien dan efektif.
3. Agar semua hasil produksi dipelihara.
4. Agar terhindar dari gangguan kesehatan.
2.7 Bahaya Kerja
Bahaya berbeda dengan risiko, bahaya yaitu suatu hal yang bisa berakibat cedera pada manusia atau kerusakan pada alat atau lingkungan (Sumarna, dkk, 2018).
Sedangkan risiko didefinisikan sebagai kesempatan terpaparnya seseorang atau alat pada suatu bahaya kerja. beberapa macam kelompok bahaya yang teridentifikasi pada tempat kerja adalah sebagai berikut:
1. Bahaya kimiawi
Yang termasuk bahaya kimiawi adalah uap logam, debu, gas beracun, dan bahan oraganik.
2. Bahaya fisik
Yang termasuk bahaya fisik adalah nada bising, radiasi, getaran, dan suhu.
3. Bahaya biologis
Yang termasuk bahaya biologis adalah virus, bakteri, jamur, parasit, dan vektor.
4. Bahaya psikologis
Yang termasuk bahaya psikologis adalah waktu kerja yang lama, desakan atasan, dan trauma.
5. Bahaya ergonomis
Yang termasuk bahaya ergonomis adalah ruangan sempit, mengangkat, dan mendorong.
2.8 Peraturan Keselamatan Kerja dan Kesehatan Kerja (K3) di Indonesia Undang-Undang yang mengatur tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Terkhususnya
Paragraf 5 Tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja, pasal 86 dan 87. Pasal 86 ayat 1 berbunyi: “Setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperolah perlindungan atas Keselamatan dan KesehatanKerja”. Pasal 86 ayat 2: “Untuk melindungi keselamatan pekerja/buruh guna mewujudkan produktivitas kerja yang optimal diselenggarakan upaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja”. Pasal 87: “Setiap perusahaan wajib menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang terintegrasi dengan Sistem Manajemen Perusahaan”. Dibutuhkan peran aktid dari seluruh pihak untuk mensukseskan K3, baik dari pemerintah maupun pihak terkait(Irfani, 2021). Berikut ini adalah dasar hukum penerapan keselamatan pada pekerjaan di ketinggian (Trianto, 2020):
1. Permenakertrans No Per 01/Men/1980 tentang K3 pada Kontruksi Bangunan 2. Permenaker No Per 05/Men/1985 Tentang Peasawat Angkat dan Angkut Pasal 35
s/d 48
3. DJPPK Direktur Jendral Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan No KEP.45/DJPPK/IX/2008 Pedoman K3 bekerja di Ketinggian dengan menggunakan akses tali (Rope Access)
4. Permenaker No. 9 tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Pekerjaan pada Ketinggian
5. UU. No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
6. EN Standart/CEN Standard/CE Standar : EN-12277 : Harnesses, EN-12492:
Helmets, EN-12275: Connectors, EN-12276: Frictional Anchors
7. OSHA PART 1910, BS 1139 Metal Scaffolding, AS/NZS 1576 Scaffolding 8. ANSI Z133.1: Arboriculture Safety Requirementfor Pruning, Repairing,
Maintaining, and Removing Trees.
Adapun faktor-faktor penyebab seseorang terjatuh dari ketinggian antara lain adalah(Trianto, 2020):
1. Manusia
Kurang pengetahuan, keahlian dan kemampuan terbatas, kondisi tidak fit untuk bekerja, lelah, mengambil jalan pintas, berperilaku tidak aman
2. Lingkungan
Kondisi cuaca, permukaan licin dan berserakan dan tidak bersih, jenis pekerjaan berpindah-pindah, kondisi peralatan dan perlengkapan mekanik dan sebagainya 3. Peralatan, prosedur, Organisasi
2.9 Definisi Alat Pelindung Diri
Alat pelindung diri merupakan peralatan yang digunakan dalam melindungi pekerja ketika bekerja pada tempat yang memiliki bahaya kerja. Menutur Dahyar (2018) alat pelindung diri juga dapat diartikan sebagai alat yang melindungi pekerja agar dapat terhindar dari bahaya bekerja. Alat pelindung diri memiliki tujuan untuk melindungi pekerja dari kecelakaan kerja. Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan tanggung jawab perusahaan untuk memenuhi standarisasi yang ada agar pekerja aman dalam bekerja (Mongkareng, dkk, 2018)
2.10 Jenis- Jenis Alat Pelindung Diri
Menurut Iqbal (2014) alat pelindung diri terdiri dari beberapa jenis, yaitu:
1. Safety Helmet
Safety Helmet digunakan untuk melindungi kepada dari bahaya benda yang jatuh. Pelindungan kepala atau helm terbuat dari bahan yang kuat, tahan terhadap benturan, tusukan, api, air, dan listrik tegangan rendah maupun tinggi.
Pelindung kepalaatau helm dapat juga di gabungkan dengan tutup telinga. Helm pengaman harus dipakai oleh tenaga kerja yang berkemungkin tertimpa kepala oleh benda jatuh atau melayang atau benda-benda lain yang bergerak. helm haruslah cukup keras dan kokoh, tetapi tetap ringan. Bahan plastik dengan
lapisan kain terbukti sangat ampuh untuk keperluan ini
Gambar 2.1 Safety Helmet 2. Alat Pelindung Mata dan Wajah
Alat pelindung mata berfungsi untuk melindungi mata dari bahan bahan yang menyebabkan kecelakaan kerja pada bagian mata pekerja.
Gambar 2.2 Alat Pelindung Mata dan Wajah 3. Alat Pelindung Telinga
Alat pelindung telinga berfungsi untuk melindungi telinga pekerja dari suara yang keras. Suara yang keras dapat menyebabkan tuli pada pekerja. Selain itu alat pelindung telinga juga bertujuan untuk melindungi telinga dari
percikan api.
Gambar 2.3 Alat Pelindung Telinga 4. Alat Pelindung Pernafasan
Alat pelindung pernafasan bertujuan untuk melindungi pernafasan terhadap gas, debu, dan udara yang terkontaminasi di tempat kerja. alat pelindung pernafasan biasanya berbentuk masker yang terbuat dari kain yang mempunyai respirator. Alat pelindung pernafasan alat yang digunakan untuk melindungi pernafasan dari bahaya paparan gas, uap, debu, atau udara terkontaminasi atau beracun, korosi atau yang bersifat rangsangan. Sebelum melakukan pemilihan terhadap suatu alat pelindung pernafasan yang tepat, maka perlu mengetahui informasi tentang potensi bahaya atau kadar kontaminan yang ada di lingkungan kerja. Hal-hal yang perlu diketahui antara lain :
a) Bentuk kontaminan di udara, apakah gas, uap, kabut, fume, debu atau kombinasi dari berbagai bentuk kontaminan tersebut
b) Kadar kontaminan di udara lingkungan kerja.
c) Nilai ambang batas yang diperkenankan untuk masing-masing kontaminan.
d) Reaksi fisiologis terhadap pekerja, seperti dapat menyebabkan iritasi mata dan kulit.
e) Kadar oksigen di udara tempat kerja cukup tidak.
Gambar 2.4 Alat Pelindung Pernapasan 5. Alat Pelindung Badan
Alat pelindung badan berfungsi untuk melindungi tubuh pekerja dari suhu dan temperatur tinggi. Selain itu alat pelindung badan juga berfungsi untuk melindungi tubuh pekerja dari cairan kimia yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja.
Gambar 2.5 Alat Pelindung Badan 6. Safety Harness
Safety Harness merupakan alat pelindung tubuh yang berguna untuk melindungi pekerja ketika bekerja pada konstruksi bangun yang tinggi. Safety
Harness harus dapat menahan berat pekerja ketika bekerja pada tempat yang tinggi.
Gambar 2.6 Savety Harness 7. Alat Pelindung Tangan
Alat ini berguna untuk melindungi tangan dari benda yang tajam, selain itu juga berguna untuk melindungi tangan pekerja dari bahan kimia yang berbahaya.
Alat pelindung tangan atau sarungtangn biasa dipakai sebagai pelindung kulit tangan dalam menangani zat-zat korosif terhadap kulit (asam sulfat, asam klorida), zat-zat beracun yang dapat teradsorpsi lewat kulit (sianida, benzena) dan bahan atau pekerjaan pada suhu tinggi. Alat pelindung tangan yang berupa sarung tangan ini harus diberikan kepada tenaga kerja dengan pertimbangan akan bahaya-bahaya dan persyaratan yang diperlukan, antara lain syaratnya adalah bebasnya bergerak jari dan tangan
Gambar 2.7 Alat Pelindung Tangan
8. Alat Pelindung Kaki
Alat pelindung kaki bertujuan untuk melindungi kaki dari benda tajam yang menyebabkan kaki pekerja menjadi terluka. Selain itu alat pelindung kaki harus dapat melewati area kerja yang licin.
Gambar 2.8 Alat Pelindung Kaki
2.11 Bekerja Diketinggian
Bekerja di ketinggian adalah setiap orang yang bekerja di ketinggian 2 meter dari tanah atau lebih dari 2meter dan memiliki potensi jatuh dan harus dilengkapi dengan arrestor (pelindung tubuh dengan memanfaatkan Cords ganda) atau harus dilindungi dengan pegangan atau jaring pengaman.
Menurut Asosiasi Ropes Access Indonesia (2009) bekerja pada ketinggian (work at tallness) adalah bentuk kerja dengan mempunyai potensi bahaya jatuh (dan tentunya ada bahaya-bahaya lainnya).
Menurut Rope and Work Enterprise yang dimaksud bekerja diketinggian adalah pekerjaan dengan tingkat risiko tinggi (high danger action) yang memerlukan pengetahuan serta ketrampilan khusus untuk melaksanakan pekerjaan sebenarnya.
2.12 Kategori Sistem Bekerja Pada Ketinggian
Dalam bekerja pada ketinggian hendaknya memper timbangakan banyak hal terlebih dahulu, ada terdapat beberapa sitem atau metode pengerjaan pekerjaan
diketinggian ,antara lain yaitu : 1. Sistem pasif
Sistem pasif adalah sistem dimana pada saat bekerja melalui suatu struktur pemanen maupun tidak permanen tidak mensyaratkan perlunya pengguanaan peralatan pelindung jatuh (fall protection devices) karena telah terdapat sistem pengaman kolektif (collective protection system). Pada sistem ini perlu ada supervisi dan pelatihan dasar.
Metode pekerjaan:
a. Bekerja pada permukaan seperti lantai kamar, balkon dan jalan;
b. Struktur/area kerja (platform) yang dipasang secara permanen dan perlengkapannya;
c. Bekerja di dalam ruang yang terdapat jendela yang terbuka dengan ukuran dan konfigurasinya dapat melindungi orang dari terjatuh.
2. Sistem aktif
Sistem aktif adalah suatu sistem dimana ada pekerja yang naik atau turun (lifting/lowering), maupun berpindah tempat (traverse) dengan mengguanakan peralatan khusus untuk mencapai atau mengakses suatu titik kerja karena tidak terdapat sistem pengaman kolektif (collective protection system). Sistem ini mensyaratkan adanya pengawasan, pelatihan dan pelayanan operasional yang baik.
Metode Pekerjaan:
a. Unit perawatan gedung yang dipasang permanen, seperti gondola.
b. Perancah (scaffolding).
c. Struktur/area kerja (platfrom) untuk pemanjatan seperti tangga pada menara.
d. Struktur/area kerja mengangkat (elevating work platform) seperti hoist crane lift crane, mobil perancah.
e. Struktur sementara seperti panggung pertunjukan.
f. Tangga berpindah (portable ladder).
g. Sistem akses tali (rope access).
2.13 Sistem Akses Tali (ROPE ACCESS)
Sistem akses tali (Rope Access) dapat di golongkan sebagai sistem aktif. Akses tali adalah suatu teknik bekerja menggunakan tali temali sebagai akses dalam menggapai titik kerja dan berbagai perlengkapan lainnya serta dengan teknik khusus.
Metode ini biasanya digunakan untuk mencapai posisi pekerjaan yang sulit di jangkau sesuai dengan berbagai macam kebutuhan. Dalam pengerjaan mengguanakan sistem ini harus mengutamakan pada penggunaan alat pelindung diri sebagai pembatas gerak dan penahan jatuh (work restraints) serta pengendalian administratif berupa pengawasan dan kompetensi kerja bagi pekerjanya.
Prasyarat penggunaan sistem akses tali yaitu:
a. Terdapat tali kerja (working line) dan tali pengaman (safety line) b. Terdapat dua penambat (anchorage)
c. Perlengkapan alat bantu (tools) dan alat pelindung diri d. Terdapat personil yang kompeten.
e. Pengawasan yang ketat.
Contoh-contoh aplikasi akses tali (rope access) seperti :
a. Pekerjaan naik dan turun di sisi-sisi gedung (facade), menara (tower), jembatan, dan banyak struktur lainnya;
b. Pekerjaan pada ketinggian secara horisontal seperti di jembatan, atap bangunan dll;
c. Pekerjaan di ruang terbatas (confined spaces) seperti bejana, silo dan lain-lain.
d. Pekerjaan pemanjatan pohon, pemanjatan tebing, gua, out bound dan lain-lain.
Teknik akses tali dapat diandalkan dan cenderung efisien untuk menjalankan pemeriksaan pada sistem instalasi dan beberapa pekerjaan ringan sampai sedang.
Metode akses tali merupakan metode alternatif untuk menyelesaikan pekerjaan yang ringan sampai dengan tingkat sedang dalam posisi yang sulit dan yang membutuhkan kecepatan (rapid task force), namun sistem akses tali (Rope Access) memiliki resiko kecelakaan kerja yang cukup tinggi.
2.14 Metode FMEA (Failure Mode Effect Analysis)
FMEA adalah sebuah teknik rekayasa yang digunakan untuk menetapkan, mengidentifikasi, dan untuk menghilangkan kegagalan yang diketahui, permasalahan, error, dan sejenisnya dari sebuah system, desain, proses, dan atau jasa sebelum mencapai konsumen(Hanif et al., 2015). Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan FMEA merupakan suatu metode yang digunakan untuk mengidentifikasi dan menganalisa suatu kegagalan dan akibatnya untuk menghindari kegagalan tersebut.
Selain itu menurut (J. et al., 2017) FMEA adalah sebuah metode yang digunakan untuk memeriksa penyebab cacat atau kegagalan yang terjadi saat proses produksi, mengevaluasi prioritas risiko yang menyebabkan kecelakaan kerja, membantu mengambil tindakan untuk menghindari masalah yang teridentifikasi sebagi bahaya kecelakaan kerja. Metode FMEA sangat membantu dan mudah digunakan untuk mengidentifikasi dan mengukur tingkat risiko kecelakaan kerja. Pengukuran tingkat risiko kecelakaan kerja dengan metode FMEA secara konvensional berdasarkan tiga parameter yaitu keparahan atau severity (S), kejadian atau occurance (O), dan deteksi atau detection (D). Pengukuran tingkat risiko kecelakaan kerja dengan metode FMEA secara konvensional berdasarkan tiga parameter yaitu keparahan atau severity (S), kejadian atau occurance (O), dan deteksi atau detection (D).
Tabel 2.1 Nilai Severity
Effect Severity Effect for FMEA Rangking
Tidak berdampak Terkena serpihan, tersengat seranggan, tergigit
serangga 1
Dampak yang diterima kecil
Tersengat matahari, memar, teriris ringan,
tergores 2
Melepuh, tersengat panas, keseleo ringan,
tergelincir atau terpeleset ringan. 3 Dampak yang
diterima sedang
Luka bakar ringan, luka goresan, frosnip (Radang
dingin/panas) 4
(Individu hanya 1 sampai 2 hari tidak ikut dalam
aktivitas
Keseleo, retak/patah ringan, keram atau kejang
5
Berdampak besar pada individu sehingga tidak ikut lagi dalam aktivitas
Dirawat lebih dari 12 jam, patah tulang, tulang bergeser, radang dingin, luka bakar, susah bernafas, dan lupa ingatan sementara, jatuh/terpeleset
6
Dirawat lebih dari 12 jam dengan luka pecah pembuluh darah, hilang ingatan hebat, kerugian besar.
7
Kehilangan nyawa atau merubah kehidupan individu
Perlu perawatan serius dan menimbulkan cacat
permanen 8
Kematian individu (seseorang) 9
Kematian beberapa individu (masal) 10 (Sumber : Lestari dan Mahbubah, 2021)
Tabel 2.2 Nilai Occurance
Probabilitas kejadian Tingkat kejadian Nilai
Sangat tinggi dan tidak bisa dihindari > 1 in 2 10
1 in 3 9
Tinggi dan sering terjadi 1 in 8 8
1 in 20 7
Sedang dan kadang terjadi 1 in 80 6
1 in 400 5
Rendah dan relatif jarang terjadi 1 in 2.000 4
1 in 15.000 3
Sangat rendah dan hampir tidak pernah terjadi 1 in 150.000 2 1 in 1.500.000 1 (Sumber : Lestari dan Mahbubah, 2021)
Tabel 2.3 Nilai Detection
Detection Criteria of Detection By Prosess Rangking Hampir tidak mungkin Tidak ada alat pengontrol 10 Sangat jarang Alat pengontrol yang sulit dipahami 9 Jarang Alat pengontrol sulit mendeteksi bentuk
dan penyebab kegagalan sangat rendah
8
Sangat rendah Kemampuan control kegagalan sangat rendah
7
Rendah Kemampuan control kegagalan rendah 6
Sedang Kemampuan control kegagalan sedang 5
Agak tinggi Kemampuan control kegagalan sangat tinggi
4
Tinggi Kemampuan control kegagalan tinggi 3
Sangat tinggi Kemampuan control kegagalan sangat tinggi
2
Hampir pasti Kemampuan control kegagalan hampir pasti
1
(Sumber : Lestari dan Mahbubah, 2021) Tabel 2.4 Skala Risk Priority Number (RPN)
Skala Level
> 151 Very Height
100-150 Height
51-100 Medium
20-50 Low
0-20 Very Low
(Sumber : Lestari dan Mahbubah, 2021)
Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) adalah berbagai mode kegagalan yang termasuk di dalamnya adalah kegagalan desain, keadaan yang tidak sesuai dengan batasan ketentuan yang ditetapkan maupun terjadinya perubahan produk yang mengganggu fungsi dari produk tersebut. Hasil dari Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) menjadi sebuah rekomendasi untuk meningkatkan keandalan dalam mencegah kegagalan dalam proses produksi. Apabila teknik analis ini dilakukan dengan tepat maka akan memberikan nilai yang besar dalam proses pembuatan keputusan (Kartika dan Fariza, 2021.)
Tabel 2.5 Pengelompokan Bahaya Kecelakaan Kerja Berdasarkan Dampaknya pada Korban
Kategori A Kategori B Kategori C Kategori D
Potensi bahaya yang menimbulkan
risiko dampak jangka Panjang kepada Kesehatan
Potensi bahaya menimbulkanyang risiko langsung pada keselamatan
Risiko terhadap kesejahteraan atau Kesehatan
sehari-hari
Potensi bahaya menimbulkanyang risiko pribadi dan psikologis Bahaya factor kimia
(debu, uap, logam) Kebakaran Air minum Pelecehan, intimidasi dan
pelecehan seksual Bahaya factor
biologis (penyakit dan gangguan virus,
bakteri, binatang)
Listrik Toilet dan
fasilitas mencuci Terinfeksi HIV/AIDS
Bahaya factor fisik Potensi bahaya
mekanikal Ruang makan
atau kantin Kekerasan di tempat kerja Cara bekerja dan
bahaya factor ergonomis
House keeping P3K di tempat
kerja Stress
Potensi bahaya lingkungan yang
disebabkan oleh polusi pada perusahaan di
masyarakat
Transportasi Narkoba di tempat kerja
(Sumber (J. et al., 2017))
2.15 Metode FTA (Fault Tree Analysis)
Metode FTA (Fault Tree Analysis) adalah suatu metode analisa risiko kuantitatif dengan model grafik dan logika yang menampilkan kombinasi kejadian yang memungkinkan yaitu rusak atau baik, yang terjadi dalam sistem, aplikasinya dapat mencakup suatu sistem, equipment dan sebagai analis(Nur & Ariwibowo, 2007).
Dengan menggunakan analisa ini maka dapat diketahui faktor-faktor dan kombinasi yang menyebabkan terjadinya kecelakaan. Analisa dengan menggunakan metode Fault Tree Analysis ini dapat digunakan pada setiap industri. Karena dalam setiap indutri pasti dapat menimbulkan kecelakaan kerja. Metode ini diperlukan untuk menganalisa penyebab terjadinya kecelakaan kerja sehingga kecelakaan kerja dapat dihindari.
Selain itu metode ini dilakukan dengan pendekatan yang bersifat top down, yang diawali dengan asumsi kegagalan atau kerugian dari kejadian puncak dan merinci sebab-sebab suatu top event sampai kepada kegagalan yang paling dasar. Langkah- Langkah dalam menggunakan metode fault tree analysis adalah sebagai berikut(Suliantoro et al., 2017):
1. Mengidentifikasi tujuan FTA 2. Menentukan top event
3. Menentukan ruang lingkup FTA 4. Menentukan resolusi FTA 5. Menentukan aturan dasar FTA 6. Membangun FTA
7. Mengevaluasi FTA
8. Menginterprestasikan dan mempresentasikan hasil
Simbol-simbol khusus yang ada dalam pembuatan FTA adalah sebagai berikut:
No Simbol Arti
1 Basic Event, merupakan dasar
inisiasi kesalahan yang tidak membutuhkan pengembangan yang lebih jauh.
2 Conditionig Event, kondisi specify
yang dapat diterapkan ke berbagai gerbang logika
3 Undevelopment Event, Event yang
tidak dapat dikembangkan lagi karena informasi tidak tersedia.
4 External Event, Event yang
diekspektasikan muncul
5 Gerbang AND kesalahan manual akibat semua input masalah yang terjadi
6 Gerbang OR, merupakan kesalahan
muncul akibat salah satu input masalah yang terjadi.
(Sumber : Krisnaningsing, dkk, 2021)
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Agar penelitian yang dilakukan lebih terarah dan sistematis, maka perlu dibuat tahapan-tahapan dari penelitian itu sendiri. Adapun tahapan dalam penelitian ini dapat dilihat flowchart berikut ini:
Selesai Studi Pendahuluan
Studi Literatur
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Pengumpulan Data Survei berupa observasi, wawancara, brainstorming untuk mengetahui resiko- resiko yang terjadi pada pekerja di CV Andalas Anugrah Mandiri
Pengolahan Data:
Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan metode FMEA:
1.Identifikasi Risiko 2. Perhitungan nilai RPN
Analisa:
Analisa dilakukan menggunakan metode Fault Tree Analysis:
1. Mencari akar permasalahan dari nilai RPN tertinggi
2. Menggambarkan hasil Fault Tree Analysis
Kesimpulan dan Saran Mulai
Gambar 3.1 Flowchart Penelitian
3.1 Studi Pendahuluan
Studi pendahuluan merupakan suatu Langkah pengumpulan data dan informasi secara detail berisikan tentang hal-hal yang melatarbelakangi terjadinya penelitian.
Studi pendahuluan dilakukan untuk mencari dan menetapkan topik pokok yang menjadi permasalahn untuk dijadikan penelitian. Dalam penelitian ini peneliti ingin mengangkat penelitian tentang analisis resiko kecelakaan kerja pada Rope Access dengan menggunakan Metode Failure Mode Effect Analysis (FMEA) dan Fault Tree Analysis (FTA) di perusahaan CV. Andalas Anugerah Mandiri (AAM).
3.2 Studi Literatur
Studi literatur adalah salah satu teknik yang dapat digunakan dalam melaksanakan sebuah penelitian untuk menyelesaikan suatu masalah. Tahap ini dilakukan bertujuan untuk mendapatkan referensi-referensi atau literatur-literatur yang dapat mendukung dalam pemecahan permasalahan yang ada.
3.3 Rumusan Masalah
Rumusan masalah berisikan tentang masalah-masalah yang akan diselesaikan dalam suatu penelitian. Masalah perlu dirumuskan secara jelas karena dengan perumusan yang jelas, diharapkan dapat mengetahui variabel-variabel apa saja yang akan diukur dan apakah ada alat-alat ukur yang sesuai untuk mencapai tujuan peneltian.
Masalah-masalah yang dihasilkan tidak lepas dari latar belakang masalah yang dikemukakan pada bagian pendahuluan.
3.4 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk ntuk menganalisa resiko kecelakaan kerja pada Rope Access di perusahaan CV. Andalas Anugerah Mandiri (AAM) menggunakan Metode Failure Mode Effect Analysis (FMEA) dan untuk mengetahui kemungkinan kecelakaan kerja yang terjadi dengan menggunakan metode Fault Tree Analysis (FTA).
3.5 Pengumpulan Data
Pengumpulan data yang di dilakukan pada penelitian ini berupa observasi, wawancara, brainstorming untuk mengetahui resiko-resiko pekerjaan yang terjadi di CV Andalas Anugrah Mandiri.
3.6 Pengolahan Data
Pengolahan data yang dilakukan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Identifikasi Kecelakaan Kerja
2. Penentuan nilai Failure Mode Effect Analysis (FMEA). Tahapan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a Identifikasi Severity (berdasarkan dampak dari kejadian) b Identifikasi Occurance (berdasarkan penyebab dari kejadian) c Identifikasi Detection (berdasarkan pengendalian dari kejadian) 3. Menentukan nilai Risk Priority Number (mengetahui risiko dominan)
4. Menggunakan metode FTA (Fault Tree Analysis). Tahapan yang dilakukan pada pengolahan data adalah sebagai berikut:
a Membuat gambar konstruksi FTA
Langkah dalam pembuatan konstruksi FTA adalah sebagai berikut:
1) Menetapkan kerjadian puncak yang telah ditentukan sebelumnya.
2) Menentukan intermediate event tingkat kedua terhadap kejadian puncak.
3) Menentukan hubungan intermediate event tingkat pertama ke kejadian puncak dengan menggunakan gerbang logika.
4) Menentukan level kedua
5) Menentukan hubungan intermediate event pertama dengan intermediate event yang kedua.
6) Melanjutkan sampai ke basic event
3.7 Analisa
Hasil dari pengolahan data yang dilakukan dengan menggunakan metode FMEA (Failure Mode and Effect Analysis) dan metode FTA (Fault Tree Analysis) dilakukan analisa untuk mengetahui pengaruh pengolahan data yang dilakukan.
3.8 Kesimpulan dan Saran
Hasil akhir dari sebuah penelitian adalah kesimpulan yang akan menjelaskan secara ringkas hasil dari penelitian. Sedangkan saran merupakan masukan-masukan yang penulis berikan kepada peneliti di masa yang akan datang untuk lebih baik.
BAB V ANALISA
5.1 Analisa Identifikasi Kecelakaan Kerja
Resiko bahaya yang terdapat di setiap pekerjaan Rope Access yaitu:
1. Pemasangan Kabel
Pada pekerjaan pemasangan kabel terdapat potensi bahaya seperti kesentrum dan kebakaran, hal ini apabila terjadi tentu saja dapat memngakibatkan kecelakaan kerja dan kerugian dari segi nyawa dan finalsial. Agar hal ini tidak terjadi maka pekrja yang turun/bekerja sudah mahir dalam hal kelistrikan dan perusahaan menyediakan peralatan yang sesuai standar SNI.
2. Pekerjaan Pembersihan Kaca/ACP
Pada pekerjaan pembersihan kaca/ACP terdapat potensi bahaya seperti terjatuh, apabila pekerja terjatuh dalam melalukan pekerjaannya, kecil kemungkinan untuk selamat. Selain itu terdapat potensi bahaya lain yaitu tertimpa material atau alat yang digunakan pada saat bekerja. Untuk mengurangi resiko kecelakaan kerja ini terjadi selain mensertifikasi pekerja, perusahaan juga bertanggung jawab dalam menyediakan peralatan yang masih layak pakai.
3. Pekerjaan Pemasangan Atap
Pekerjaan saat pemasangan atap tidak jauh beda potensi bahayanya dari pekerjaan dinding, pekerjaan yang dilalukan diatas bangunan tinggi membuat resiko pekerja tergelincir sangat mungkin terjadi, maka dari itu selalu gunakan safety line(tali ganda) dalam bekerja.
4. Pengelasan
Proses pengelasan memiliki potensi bahaya kebakaran yang mungkin terjadi akibat percikan api yang dihasilkan, selain itu proses pengelasan ini juga memiliki resiko terkena iritasi mata. Oleh sebab itu selalu gunakan peralatan pengelasan dengan baik dan benar seperti kacamata las dll.
5. Menggerinda
Kegiatan menggerinda memiliki beberapa potensi bahaya seperti jari terpotong apabila gerinda terlepas, serta pada saat menggerinda berkemungkinan masuknya partikel-partikel bekas gerindaan kemata dan ini dapat mengakibatkan mata sakit, kemudian juga terjadi kebisingan yang ditimbulkan akibat gesekan antara mesin gerinda dan benda kerja dan mengakibatkan gangguan pendengaran. Oleh sebab itu diharapkan sebelum bekerja selalu mengecek kondisi mesin gerinda dalam keadaan baik, memastikan pengunci mata gerinda dalam keadaan terkunci, seta menggunakan APD lengkap dalam menggerinda.
6. Pekerjaan Pengecatan
Pekerjaan pengecatan memiliki beberapa potensi bahaya yaitu iritasi pada kulit jika terkena tumpahan tinner, serta jika pekerja terhirup cat dapat mengakibatkan gangguan pernapasan. Agar hal ini tidak terjadi sebaiknya pekerja menggunakan maker 3M/full face dalam bekerja serta berhati-dalambekerja.
7. Pekerjaan Fumigasi
Bahaya dari pekerjaan fumigasi ialah jika pekerja terhirup racun dan ini akan berakibat fatal, dan pada saat fumigasi juge berpotensi terjadi ledakan jika obat bereaksi dengan air dan hal ini bisa mengakibatkan kematian. Untuk mencegah kecelakaan ini terjadi maka diharuskan menggunakan masker filter khusus untuk memfilter bahan B3,serta memastikan area kerja dalam keadaan kering agar obat tidak bereaksi dan tidak terjadi ledakan.
8. Pekerjaan Pemasangan Kaca
Pekerjaan pemasangan kaca memiliki potensi mata terkena serpihan kaca, selain itu juga terdapat potensi bahaya anggota badan tergores/tersayat kaca. Maka dari itu diharapkan pekerja selalu menggunakan APD lengkap seperti sarung tangan dan kacamata google.
5.2. Penentuan Nilai FMEA (Failure Mode Effect Analysis)
Nilai FMEA (Failure Mode Effect Analysis) untuk setiap kegiatan dan failure mode adalah sebagai berikut :
1. Pemasangan Kabel dan Logo a. Tersengat Listrik
Nila FMEA didapatkan dari tiga kompenen utama yaitu severity rating (S), occurance rating (O), dan detection rating (D). Nilai S untuk kesentrum adalah 4 (low), nilai O adalah 4 (medium), dan nilai D adalah 3 (low). Nilai tersebut diberikan atas analisi peneliti terhadap kriteria S, O, dan D yang terdapat pada studi literatur.
b. Kebakaran
Nila FMEA didapatkan dari tiga kompenen utama yaitu severity rating (S), occurance rating (O), dan detection rating (D). Nilai S untuk kebakaran adalah 5 (height), nilai O adalah 2 (very low), dan nilai D adalah 4 (medium).
Nilai tersebut diberikan atas analisi peneliti terhadap kriteria S, O, dan D yang terdapat pada studi literatur.
2. Pembersihan Kaca/ACP a. Pekerja Terjatuh
Nila FMEA didapatkan dari tiga kompenen utama yaitu severity rating (S), occurance rating (O), dan detection rating (D). Nilai S untuk pekerja terjatuh adalah 9 (very heigh), nilai O adalah 2 (very low), dan nilai D adalah 9 (very heigh). Nilai tersebut diberikan atas analisi peneliti terhadap kriteria S, O, dan D yang terdapat pada studi literatur.
b. Tertimpa Material/Alat
Nila FMEA didapatkan dari tiga kompenen utama yaitu severity rating (S), occurance rating (O), dan detection rating (D). Nilai S untuk tertimpa material adalah 6 (moderate), nilai O adalah 5 (sedang), dan nilai D adalah 7
(very heigh). Nilai tersebut diberikan atas analisi peneliti terhadap kriteria S, O, dan D yang terdapat pada studi literatur.
3. Pemasangan Atap a. Pekerja Terjatuh
Nila FMEA didapatkan dari tiga kompenen utama yaitu severity rating (S), occurance rating (O), dan detection rating (D). Nilai S untuk pekerja terjatuh adalah 8 (heigh), nilai O adalah 4 (jarang terjadi), dan nilai D adalah 2 (very heigh). Nilai tersebut diberikan atas analisi peneliti terhadap kriteria S, O, dan D yang terdapat pada studi literatur.
4. Pengelasan
a. Terkena Percikan Las
Nila FMEA didapatkan dari tiga kompenen utama yaitu severity rating (S), occurance rating (O), dan detection rating (D). Nilai S untuk bahaya kebakaran adalah 8 (heigh), nilai O adalah 4 (jarang terjadi), dan nilai D adalah 2 (very heigh). Nilai tersebut diberikan atas analisi peneliti terhadap kriteria S, O, dan D yang terdapat pada studi literatur.
b. Iritasi Mata
Nila FMEA didapatkan dari tiga kompenen utama yaitu severity rating (S), occurance rating (O), dan detection rating (D). Nilai S untuk bahya iritasi mata adalah 2 (low), nilai O adalah 4 (jarang terjadi), dan nilai D adalah 3 (heigh). Nilai tersebut diberikan atas analisi peneliti terhadap kriteria S, O, dan D yang terdapat pada studi literatur.
5. Menggerinda a. Jari Terpotong
Nila FMEA didapatkan dari tiga kompenen utama yaitu severity rating (S), occurance rating (O), dan detection rating (D). Nilai S untuk jari terpotong adalah 8 (heigh), nilai O adalah 6 (sedang), dan nilai D adalah 2 (very heigh).
Nilai tersebut diberikan atas analisi peneliti terhadap kriteria S, O, dan D yang terdapat pada studi literatur.