BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2. 1 Bunga Pukul Delapan (Turnera sp)
Bunga pukul delapan ditemukan tumbuh liar di tanah terlantar, tepi saluran air, dan umumnya tumbuh berkelompok. Tumbuhan yang berasal dari Hindia Barat ini bisa ditemukan pada ketinggian 10-250 m dpl, pada tempat-tempat yang terkena sinar matahari langsung atau sedikit terlindungi.
Tanaman bunga pukul delapan tumbuh tegak dengan akar pena yang panjangnya 0,3-0,8 m, berdaun tunggal berbentuk bulat telur elips, pangkal berbentuk baji, ujung runcing, tepi bergerigi kasar, tulang daun menyirip, mempunyai kelenjar, panjang 2-7 cm dan lebar 1-4 cm. Bunga mekar sekitar pukul delapan pagi dan layu sekitar pukul 12 siang. Mahkota bunga bentuknya bulat telur sungsang, pada pangkalnya cokelat, kuning muda di atasnya, dan terpuntir waktu kuncup. Buah berbentuk telur lebar, dengan biji lebih dari 30 butir. Perbanyakan tanaman ini adalah dengan biji (Dalimartha, 2007).
Gambar 2. 1 : (a) Turnera ulmifolia (b)T. subulata Sumber : koleksi pribadi & google
(a) (b)
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta Super Divisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Sub Kelas : Dilleniidae
Ordo : Violales
Famili : Turneraceae
Genus : Turnera
Spesies : Turnera ulmifolia
Bunga pukul delapan memiliki perilaku yang unik yaitu dalam satu hari sekuntum bunga pagi kuncup, kemudian mekar lalu kuncup kembali, demikian berulang beberapa hari sebelum bunga gugur. Menurut Koko dan Ohno dalam Amiarsi dkk (2006) kecepatan pertumbuhan dan perkembangan tanaman serta waktu pembungaan dipengaruhi oleh intensitas cahaya, lama penyinaran, suhu, kelembaban, dan ketersediaan hara.
2. 2 Pengendalian Hama
Pengendalian hama tanaman pada hakikatnya merupakan upaya untuk mengendalikan suatu kehidupan. Oleh karena itu, konsep pengendaliannya dimulai dari pengenalan dan pemahaman terhadap siklus hidup hama itu sendiri. Pengetahuan terhadap bagian paling lemah dari seluruh siklus hidup mata rantai sangat berguna di dalam pengendalian hama yang efektif. Bagian yang dinilai paling lemah dari siklus hama merupakan titik kritis karena akan menjadi dasar acuan untuk pengambilan keputusan pengendaliannya (Pahan, 2006).
2. 2. 1 Hama
Hama yang menyerang tanaman kelapa sawit antara lain ulat kantung (Lepidoptera:Psychidae), ulat api (Lepidoptera:Limacodidae), ulat buah kelapa sawit Tirathaba rufivena Walker (Lepidoptera: Pyralidae), kumbang
badak Oryctes rhinocheros Linnaeus (Coleoptera: Scarabaeidaei), belalang kembara Locusta migratoria Linnaeus (Orthoptera: Acrididae), dan Valanga nigricornis Burmeister (Orthoptera: Acrididae). Hama penting diperkebunan kelapa sawit adalah ulat api dan ulat kantung yang termasuk kedalam kelompok ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS) (Kamarudin dan Basri, 2010).
Untuk membasmi hama dan penyakit, sering kali manusia menggunakan obat-obatan anti hama. Pestisida yang digunakan untuk membasmi serangga disebut insektisida. Pembasmi hama dan penyakit menggunakan pestisida dan obat harus secara hati-hati dan tepat guna. Penggunaan pestisida yang berlebihan dan tidak tepat justru dapat menimbulkan bahaya yang lebih besar.
Hal itu disebabkan karena pestisida dapat menimbulkan kekebalan pada hama dan penyakit. Oleh karena itu penggunaan obat-obatan anti hama dan penyakit hendaknya diusahakan seminimal dan sebijak mungkin (Rahmawati, 2012).
2. 2. 2 Parasitoid
Parasitoid adalah serangga yang stadia pradewasanya menjadi parasit pada atau di dalam tubuh serangga lain, sementara imago hidup bebas mencari nektar embun madu sebagai makanannya (Pudjianto, 1994). Setelah parasitoid menyelesaikan fase perkembangan pradewasanya di dalam atau pada tubuh inang maka inang tersebut akan mati. Parasitoid biasanya menyerang fase perkembangan tertentu dari satu atau beberapa spesies inang.
Siklus hidup parasitoid yang lebih pendek dibandingkan serangga inangnya dapat digunakan untuk menekan laju pertumbuhan inangnya. Sebagian besar parasitoid berasal dari ordo Hymenoptora. Pada ordo Hymenoptora, hampir 74% familinya berperan sebagai parasitoid (Yaherwandi dkk, 2007).
2. 2. 3 Predator
Predator merupakan pemangsa organisme lain yang hidup bebas di alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Predator dapat menyerang mulai dari
fase pra dewasa sampai dengan fase dewasa. Satu ekor predator dapat memakan mangsanya dalam jumlah banyak (Hartoyo, 2011). Laba-laba merupakan predator dari famili Araneae dan bukan termasuk dalam golongan serangga (insect). Semua jenis laba-laba merupakan predator serangga, bukan golongan laba-laba itu sendiri. Laba-laba tidak mengalami metamorfosa, setelah telur menetas akan keluar laba-laba kecil dan berganti kulit beberapa kali. Laba-laba kecil memiliki bentuk yang sama dengan laba- laba dewasa. Ukuran laba-laba betina biasanya jauh lebih besar dari pada laba-laba jantan. Saat proes kawin laba-laba jantan harus mendekati betina dengan hati-hati, karena bisa saja betina menunggu jantan mendekat untuk menjadi mangsanya. Laba-laba pada perkebunan kelapa sawit yang umum dijumpai adalah laba-laba jaring, laba-laba lompat, laba-laba mata tajam, dan laba-laba serigala (Hartoyo, 2011).
2. 3 Pengendalian Secara Terpadu
Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) atau di dunia internasional dikenal sebagai The Integrated Pest Management (IPM) merupakan suatu konsep pengelolaan ekosistem pertanian yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Di Indonesia PHT umum dikenal sebagai perpanjangan istilah Pengendalian Hama Terpadu. Sebenarnya dilihat dari sejarah pengembangan konsep, Integrated Pest Management (IPM) atau Pengelolaan Hama Terpadu merupakan peningkatan konsep Integrated Pest Control (IPC) atau Pengendalian Hama Terpadu (Untung, 2006).
Tindakan pemberantasan/pencegahan dari hama dan penyakit pada prinsipnya dapat dilakukan dengan beberapa cara berikut (Tim Penulis PS, 1992) :
a) Secara Fisik/Mekanis
Beberapa usaha yang dapat dilakukan antara lain pengambilan/pengumpulan hama dan penyakit secara fisik/mekanis, pembongkaran dan pembakaran tanaman yang terserang, pembersihan kebun, gropyokan dan lain-lain.
b) Secara biologis
Dengan menggunakan binatang/organisme lain sebagai musuhnya, yaitu:
1. Parasit : makhluk hidup/organisme yang hidupnya pada makhluk hidup organisme lain, seperti hama,serangga,binatang perusak,dan.
2. Predator : makhluk hidup/organisme pemakan hama atau binatang lain yang merugikan.
c) Secara khemis
Usaha pemberantasan dengan mengunakan bahan kimia yang berupa pestisida, antara lain fungisida, bakterisida, insektisida, nematisida, akarisida, dan lain-lain.
Pengendalian terhadap hama tersebut harus dilakukan apabila populasinya telah mencapai ambang ekonomi. Untuk mengetahui status populasi hama, perlu dilakukan monitoring serangan hama secara berkala pada titik-titik yang telah ditentukan. Kesalahan dalam monitoring dapat berdampak pada terlambatnya tindakan pengendalian dan terjadinya ledakan hama di lapangan. Hal itu dapat berujung pada kehilangan hasil yang sangat mendasar yang harus dilakukan. Hasil monitoring menjadi landasan dasar suatu kebun untuk menerapkan strategi pengendalian (Satriawan, 2011).
2. 4 Pengendalian Kimiawi
Ulat kantung dapat dikendalikan dengan penyemprotan atau dengan injeksi batang menggunakan insektisida. Untuk tanaman yang lebih muda (<umur 2 tahun), Knapsack sprayer dapat digunakan untuk penyemprotan. Untuk tanaman lebih dari 3 tahun, aplikasi insektisida dapat menggunakan fogging atau injeksi batang. Monocrotophos dan methamidhopos merupakan dua insektisida sistemik yang direkomendasikan untuk injeksi batang (Hutahuruk dan Sipayung, 1978).
2. 5 Pengendalian Hayati
Beberapa agen antagonis telah banyak digunakan untuk mengendalikan ulat api. Agens antagonis tersebut adalah Bacillus thuringiensis, Cordiceps
militaris dan virus Multi-Nucleo Polyhydro Virus (MNPV) (Wood et al. , 1977).
Selain mikroba antagonis tersebut di atas, populasi ulat api dapat stabil secara alami di lapangan oleh adanya musuh alami predator dan parasitoid. Predator ulat api yang sering ditemukan adalah Eochantecona furcellata dan Sycanus leucomesus. Sedangkan parasitoid ulat api adalah Trichogrammatoidea thoseae, Brachimeria lasus, Spinaria spinator, Apanteles aluella, Chlorocryptus purpuratus, Fornicia ceylonica, Systropus roepkei, Dolichogenidae metesae, dan Chaetexorista javana. Parasitoid dapat diperbanyak dan dikonservasi di perkebunan kelapa sawit dengan menyediakan makanan bagi imago parasitoid tersebut seperti Turnera subulata, Turnera ulmifolia, Euphorbia heterophylla, Cassia tora, Boreria lata dan Elephantopus tomentosus. Oleh karena itu, tanaman-tanaman tersebut hendaknya tetap ditanam dan jangan dimusnahkan. Tiong (1977) juga melaporkan bahwa adanya penutup tanah dapat mengurangi populasi ulat api karena populasi musuh alami akan meningkat (Satriawan, 2011).
Salah satu upaya untuk menciptakan ekosistem pertanian yang lestari adalah dengan memanfaatkan musuh alami sebagai pengendali populasi organisme pengganggu tanaman atau umum disebut dengan pengendalian hayati.
Pengendalian hayati sebenarnya merupakan suatu fenomena alamiah sehingga dapat dianggap aman bagi lingkungan. Meskipun demikian, pengendalian hayati tidak mudah diterapkan dan dikelola karena musuh alami membutuhkan lingkungan biotik maupun abiotik yang optimal. Oleh karena itu, pemahaman tentang hubungan antara musuh alami, mangsa (inang), dan lingkungan menjadi sangat penting (Kurniawati dan edi, 2015).
Menurut Syahnen dan Roma T. U Siahaan (2013) menyatakan bahwa tanaman Turnera subulata dan Turnera ulmifolia merupakan sumber pakan dan juga tempat tinggal atau berlindung dari Trichogrammatoidea thosea yang merupakan predator dari hama ulat api.