• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

47 A. Hasil Penelitian

1. Studi Pendahuluan a. Hasil Observasi

Panduan observasi disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2020 tentang Aksesibilitas Terhadap Permukiman, Pelayanan Publik dan Perlindungan dari Bencana bagi Penyandang Disabilitas menyebutkan bahwa persyaratan teknis pada bangunan umum dan lingkungan haruslah mengakomodasi semua aspek diantaranya: kemudahan, kegunaan, keselamatan dan kemandirian. Berikut hasil observasi awal peneliti yang telah dilaksanakan:

1) Desain

Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan di SLB D/D1 YPAC Surakarta. Kondisi kursi roda balap dalam pembelajaran Penjasorkes masih menggunakan kursi roda konvensional harian, dan belum memenuhi asas antrophometri. Diketahui bahwa anak tunadaksa hanya duduk berada di atas kursi roda dengan minimnya gerakan fisik lainnya. Pada penelitian yang dilakukan Padwismari dan Griadi (2017) Semakin lama durasi dari seseorang untuk duduk maka otot-otot sekitar punggung akan mengalami ketegangan. Hal ini dapat mengakibatkan gangguan kesehatan bagi mereka.

Gangguan kesehatan tersebut dapat berupa gangguan sakit pada tulang belakang, kekakuan sendi dan otot.

2) Ukuran

Pada hasil observasi, ditemukan bahwa rangka kursi roda balap pada SLB D/D1 YPAC Surakarta belum sesuai dengan asas antrophometri serta belum mendukung sarana terapi kelenturan badan bagi anak tunadaksa.

(2)

3) Material dan Harga

Kursi roda balap dengan bahan-bahan import sehingga harganya relatif mahal.

b. Hasil Wawancara

Tahap wawancara pada penelitian ini dengan menyertakan narasumber diantaranya, siswa SLB D/D1 YPAC Surakarta dan Kepala Sekolah SLB D/D1 YPAC Surakarta. Menurut RZK selaku siswa SLB D/D1 YPAC Surakarta mengenai kursi roda yang ada disekolahnya, sebagai berikut:

“Saat melakukan aktivitas olahraga balap kursi roda, saya mengalami kesulitan. Dikarenakan kaki saya menggantung dan menjadi berat. Sehingga saat berolahraga, saya harus mengulang karena tidak tepat dalam melewati lintasan”

Sedangkan menurut KRS selaku Kepala sekolah SLB D/D1 YPAC Surakarta, mengenai fasilitas kursi roda yang ada di sekolah yaitu:

“Fasilitas sekolah harus dirancang dan dibuat sesuai dengan kondisi anak berkebutuhan khusus terutama untuk kegiatan olahraga.

Sarana prasarana dan aksesibilitas yang ada di sekolah belum sepenuhnya memperhatikan tentang bagaimana posisi anak tersebut di dalam menggunakan alat bantu, posisi duduk dalam melakukan aktivitas olahraga. Keterampilan gerak harus diajarkan dalam bentuk pola pembiasaan yang baik, berawal dari gerak fisik yang paling sederhana dan bertahap maju ke keterampilan gerak yang lebih kompleks seperti balap kursi roda. Sebenarnya sudah ada kursi roda balap bagi anak tunadaksa untuk ajang olah raga tetapi harganya relatif mahal, sehingga tidak semua sekolahan mampu menyediakan kursi roda balap tersebut.”

Perlunya kursi roda yang dapat menyesuaikan kebutuhan anak tunadaksa dengan menerapkan asas antrophometri. Dengan memperhatikan keamanan, kenyamanan dan keluwesan anak tunadaksa dalam melakukan aktivitas olahraga.

(3)

c. Analisis Kebutuhan

Analisis kebutuhan dilakukan secara terbatas terhadap pengguna dan praktisi menggunakan lembar intrumen analisis kebutuhan. Subjek praktisi yaitu guru olahraga di SLB D/D1 YPAC Surakarta. Sedangkan pengguna yaitu kepada anak tuna daksa.

Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan instrumen analisis kebutuhan yang telah diisi oleh tiga pengguna kursi roda yakni RZK, LLA, dan AJ. Ketiganya mengatakan bahwa diperlukan pengembangan kursi roda dalam aktivitas olahraga balap kursi roda.

Kursi roda yang sering dipakai untuk aktivitas olahraga yakni menggunakan kursi roda yang biasa mereka pakai untuk aktivitas sehari-hari. Sehingga pada saat melakukan aktivitas balap kursi roda meraka merasa kurang nyaman karena membuat punggung sakit dan dorongan kurang optimal. Sama hal nya dengan yang disampaikan subjek praktisi selaku guru olahraga di SLB D/D1 YPAC Surakarta.

Kebutuhan akan pengembangan kursi roda guna melakukan aktivitas balap kursi roda dirasa sangat diperlukan. Karena masih minimnya kursi roda balap yang dapat membuat nyaman ketika dipakai oleh pengguna kursi roda.

Berdasarkan analisis kebutuhan yang telah dilakukan pada ketiga pengguna kursi roda dan guru olahraga di SLB D/D1 YPAC Surakarta, dapat disimpulkan bahwa keadaan alat olahraga anak tunadaksa di sekolah, masih menggunakan kursi roda keseharian atau kursi roda konvensional. Kursi roda balap yang dikembangkan bagi anak tunadaksa diharapkan dapat mendukung aktivitas olah raga serta memperhatikan asas antrophometri untuk melakukan aktivitas olahraga yang dapat disesuaikan dengan ukuran tubuh anak tuna daksa.

Sehingga dalam aktivitasnya, anak tunadaksa dapat merasa lebih nyaman.

(4)

2. Hasil Pengembangan a. Desain

Alur flowchart pada produk yang dikembangkan dimulai dari rangka utama kursi roda balap dengan menentukan dasar kursi roda yang disesuaikan postur tubuh anak tuna daksa yaitu antara 140-160 cm, berat maksimum 60 kg, material rangka adalah pipa stainless steel dengan panjang dalangan body ± 1 meter, diameter dudukan kursi bagian dalam 35 cm, diameter dudukan kursi bagian luar 39 cm, jari- jari kursi 28 cm, jarak dalangan dengan roda depan 70 cm dan jok tempat duduk terbuat dari kain yang kuat. Kemudian lingkar ayunan tangan menempel pada roda belakang kursi roda balap terbuat dari alumunium ukuran 19 mm dengan diameter 32 cm. Selanjutnya roda belakang berukuran 70 cm x 23 cm dengan ring 26, bagian-bagian dari roda belakang yakni: hub, velg, jari-jari dan ban. Kemudian roda depan yang berfungsi penyeimbang dengan diameter 50 cm dengan ring 20.

dan terakhir adalah rem yang terbuat dari besi berkampas. Adapun alur flowchart pada konsep pembuatan alat olahraga kursi roda balap dibagian lampiran.

b. Produk Awal 1) Prototipe

Tampilan hasil pembuatan storyboard adalah berupa gambaran scene pada kursi roda balap yang dikembangkan.

(5)

Prototipe Kursi Roda Balap Rangka Utama

Roda Belakang

Roda Depan Rem Lingkar Ayunan Tangan

Gambar 4.1 Storyboard Prototipe Kursi Roda Balap 2) Pedoman Penggunaan

Pedoman penggunaan produk kursi roda balap disusun dalam buku panduan petunjuk penggunaan kursi roda balap bagi anak tunadaksa terlampir pada bagian lampiran.

c. Validasi Ahli

Tim ahli menilai kelayakan media pembelajaran ditinjau dari dimensi antropometri menurut Wignjosoebroto (1995) yang meliputi:

umur, jenis kelamin, suku bangsa dan posisi tubuh dan unsur ergonomis dari Santoso dkk (2014) yang meliputi: keamanan, kenyamanan dan keluwesan.

Tim Ahli pada penelitian ini diantaranya, Drs. Karsono, M.Pd selaku Kepala Sekolah SLB D/D1 YPAC Surakarta, dan Sigit Fredi Hartanto selaku guru olahraga di SLB D/D1 YPAC Surakarta sebagai subjek praktisi. Adapun tim ahli dari Olahraga Disabilitas, Prof.

Fadilah Umar, S.Pd, M.Or. Ahli teknik sekaligus validator pengembangan alat olahrga kursi roda balap berbasis antrophometri

(6)

untuk meningkatkan gerak lokomotor anak tunadaksa secara kuantitatif oleh Ir. Bambang Suhardi. Dan Ahli Pendidikan Luar Biasa (PLB) oleh Prof. Dr. Sunardi, M.Sc. Berikut hasil vasilidasi dari ahli:

Tabel 4.1 Saran dan Hasil Revisi Ahli Pemberi Saran Komentar & Saran Revisi Pengguna Kepala

Sekolah SLB D/D1 YPAC Surakarta

Mohon untuk

ditindaklanjuti dan sesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi peserta, sehingga arahnya adalah student wellbeing (anak senang, nyaman dan terus maju)

Peneliti sudah berusaha

mengembangkan media kursi roda balap yang arahnya student wellbeing (anak senang, nyaman dan terus maju)

Guru olahraga SLB D/D1 YPAC Surakarta

Kursi roda balap yang dikembangkan sudah bisa digunakan dalam menunjang aktivitas olahraga anak tuna daksa dan dengan adanya kursi roda balap yang struktur gunanya tercipta atlit- atlit yang berprestasi dan profesional.

Semoga menjadi media pendukung untuk olahraga balap kursi bagi anak tunadaksa

Tim Ahli Ahli Olahraga Disabilitas

1. Kurang sesuai petunjuk yang isi Bab IV, bukan penggunaan tapi penjelasan komponen-komponen kursi roda

Sudah di revisi menjadi penjelasan komponen-komponen kursi roda

2. Model sesuai peruntukkan

Diperuntukkan untuk anak tunadaksa kelainan pada kaki 3. Harus disesuaikan

postur masing-masing anak

Sudah diukur

antropometri anak tunadaksa

4. Bahan bisa besi, alumunium dan yang terbagus karbon fiber,

Bahan menggunakan bahan lokal yang ada di masyarakat

(7)

bisa laju kencang 5. Harus memenuhi

standarisasi

Diharapkan sesuai standarisasi

6. Hati-hati dengan model ini, kan sudah ada paten di pabrikan, maksud

pengembangan untuk

sarana anak

mendapatkan lebih murah dari pabrikan

Penelitian ini mengembangkan produk kursi roda balap menggunakan bahan lokal

Ahli Teknik

1. Sebaiknya alat dirancang dengan mengidentifikasi terlebih dahulu kebutuhan anak tuna daksa

Sudah diidentifikasi kebutuahn anak tunadaksa terhadap kursi roda balap yang dikembangkan

2. Pakai metode QFD untuk menghasilkan alat bantu ini

Diharapkan ada penelitian lanjutan

yang mampu

menggunakan metode

QFD, karena

penelitian sekarang basic nya pendidikan 3. Dengan memakai QFD

aspek antrophometri dan ergonomi akan tercover di alat bantunya

Semoga dipenelitian selanjutnya dapat menggunakan metode QFD supaya aspek

ergonomi dan

antropometri tercover Ahli PLB 4. Pertanyaan-pertanyaan

di dalam skala lebih banyak menanyakan pendapat tentang kursi roda, bukan tentang

pedoman yang

dikembangkan

Perlu sedikit revisi terkait panduan. Cek lagi kalimat-kalimat mengikuti tata tulis Bahasa Indonesia yang benar.

5. Pedoman yang dikembangkan terkait kejelasan, bahasa, grafika, kesesuaian

Lebih ditekankan pada grafika

(8)

gambar dll.

1) Pengguna

a) Kepala Sekolah SLB D/D1 YPAC Surakarta

Subjek praktisi yaitu Bapak Drs. Karsono, M.Pd. selaku Kepala Sekolah SLB D/D1 YPAC Surakarta. Data yang diperoleh dapat divisualisasikan dalam tabel di bawah ini::

Tabel 4.2 Hasil Penilaian Kepala Sekolah SLB D/D1 YPAC Surakarta

No. Aspek Penilaian Skor Hasil Penilaian

1. Umur 7 87,5

2. Jenis kelamin 7 87,5

3. Suku bangsa 5 62,5

4. Posisi tubuh 12 75,0

5. Keamanan 6 75,0

6. Kenyamanan 6 75,0

7. Keluwesan 5 62,5

Rata-rata 75,00

Kategori Cukup Layak

Data tersebut di atas dapat disajikan dalam bentuk diagram sebagai berikut:

Gambar 4.2 Hasil Penilaian Kepala Sekolah SLB D/D1 YPAC Surakarta

(9)

Berdasarkan tabel dan diagram di atas, Kepala Sekolah SLB D/D1 YPAC Surakarta memberikan skor nilai pada dimensi antropometri dengan aspek umur yaitu 7 dengan nilai akhir 87,5, aspek jenis kelamin sebesar 7 dengan nilai akhir 87,5, aspek suku bangsa sebesar 5 dengan nilai akhir sebesar 62,5 dan aspek posisi tubuh sebesar 12 dengan nilai akhir 75,0.

Kemudian unsur ergonomis pada aspek keamanan sebesar 6 dengan nilai akhir 75,0, kenyamanan sebesar 6 dengan nilai akhir 75,5 dan aspek keluwesan sebesar 5 dengan nilai akhir 62,5. Perolehan rerata nilai akhir adalah sebesar 75,00 yang masuk dalam kategori cukup layak.

Hasil penilaian kelayakan media dari Kepala Sekolah SLB D/D1YPAC Surakarta memiliki komentar, saran serta revisi terhadap produk yang kembangkan yaitu kursi roda balap berbasis antropometri untuk meningkatkan gerak lokomotor anak tunadaksa. Tindak lanjut dari perbaikan dari Kepala Sekolah SLB YPAC Surakarta disajikan pada gambar sebagai berikut:

Sebelum Revisi Setelah Revisi Gambar 4.3 Kursi Roda Balap Sebelum dan Sesudah di Revisi

dengan Kepala Sekolah SLB D/D1 YPAC Surakarta b) Guru Olahraga

Subjek praktisi yaitu Bapak Sigit Fredi Hartanto selaku guru olahraga di SLB D/D1 YPAC Surakarta. Hasil penilaian kelayakan media adalah sebagai berikut:

(10)

Tabel 4.3 Hasil Penilaian Guru Olahraga SLB D/D1 YPAC Surakarta

No. Aspek Penilaian Skor Hasil Penilaian

1. Umur 7 87,5

2. Jenis kelamin 6 75,0

3. Suku bangsa 7 87,5

4. Posisi tubuh 13 81,3

5. Keamanan 6 75,0

6. Kenyamanan 7 87,5

7. Keluwesan 6 75,0

Rata-rata 81,25

Kategori Sangat Layak

Data tersebut di atas dapat disajikan dalam bentuk diagram sebagai berikut:

Gambar 4.4 Hasil Penilaian Guru Olahraga SLB D/D1 YPAC Surakarta

Berdasarkan tabel dan diagram di atas, praktisi yakni guru olahraga di SLBD/D1 YPAC Surakarta memberikan skor nilai pada dimensi antropometri dengan aspek umur yaitu 7 dengan nilai akhir 87,5, aspek jenis kelamin sebesar 6 dengan nilai akhir 75,0, aspek suku bangsa sebesar 7 dengan nilai akhir sebesar 87,5 dan aspek posisi tubuh sebesar 13 dengan nilai akhir 81,3. Kemudian unsur ergonomis pada aspek keamanan sebesar 6 dengan nilai akhir 75,0, kenyamanan sebesar 7 dengan nilai akhir 87,5 dan aspek keluwesan sebesar 6 dengan

(11)

nilai akhir 75,0. Perolehan rerata nilai akhir adalah sebesar 81,25 yang masuk dalam kategori sangat layak.

Hasil penilaian kelayakan media dari praktisi guru olahraga memiliki komentar, saran serta revisi terhadap produk yang kembangkan yaitu kursi roda balap berbasis antropometri untuk meningkatkan gerak lokomotor anak tunadaksa. Tindak lanjut dari perbaikan dari Guru Olahraga SLB D/D1 YPAC Surakarta disajikan gambar sebagai berikut:

Sebelum Revisi Setelah Revisi

Gambar 4.5 Kursi Roda Balap Sebelum dan Sesudah di Revisi dengan Guru Olahraga SLB D/D1YPAC Surakarta 2) Ahli Olahraga Disabilitas

Validator pengembangan alat olahraga kursi roda balap berbasis antrophometri untuk meningkatkan gerak lokomotor anak tunadaksa secara kuantitatif dilakukan oleh Prof. Fadilah Umar, S.Pd.,M.Or selaku Ahli Olahraga Disabilitas. Data yang diperoleh dapat divisualisasikan dalam tabel di bawah ini:

Tabel 4.4 Hasil Penilaian Ahli Olahraga Disabilitas No. Aspek Penilaian Skor Hasil Penilaian

1. Umur 5 62,5

2. Jenis kelamin 6 75,0

3. Suku bangsa 5 62,5

4. Posisi tubuh 14 87,5

5. Keamanan 5 62,5

6. Kenyamanan 6 75,0

7. Keluwesan 5 62,5

Rata-rata 69,64

Kategori Cukup Layak

(12)

Data tersebut di atas dapat disajikan dalam bentuk diagram sebagai berikut:

Gambar 4.6 Hasil Penilaian Ahli Olahraga Disabilitas Berdasarkan tabel dan diagram di atas, Ahli Olahraga Disabilitas memberikan skor nilai pada dimensi antropometri dengan aspek umur yaitu 5 dengan nilai akhir 62,5, aspek jenis kelamin sebesar 6 dengan nilai akhir 75,0, aspek suku bangsa sebesar 5 dengan nilai akhir sebesar 62,5 dan aspek psosisi tubuh sebesar 14 dengan nilai akhir 87,5. Kemudian unsur ergonomis pada aspek keamanan sebesar 5 dengan nilai akhir 62,5, kenyamanan sebesar 6 dengan nilai akhir 75,0 dan aspek keluwesan sebesar 5 dengan nilai akhir 62,5. Perolehan rerata nilai akhir adalah sebesar 69,64 yang masuk dalam kategori cukup layak.

Hasil penilaian kelayakan media dari Ahli Olahraga Disabilitas memiliki komentar, saran serta revisi terhadap produk yang kembangkan yaitu kursi roda balap berbasis antropometri untuk meningkatkan gerak lokomotor anak tunadaksa. Tindak lanjut dari perbaikan dari Ahli Olahraga Disabilitas disajikan gambar sebagai berikut:

(13)

Sebelum Revisi Setelah Revisi Gambar 4.7 Buku Panduan Sebelum dan Sesudah di Revisi

dengan Ahli Olahraga Disabilitas 3) Ahli Teknik

Validator pengembangan alat olahraga kursi roda balap berbasis antrophometri untuk meningkatkan gerak lokomotor anak tunadaksa secara kuantitatif dilakukan oleh Ir. Bambang Suhardi, ST.,MT,IPM,ASEAN.Eng selaku Ahli Teknik. Data yang diperoleh dapat divisualisasikan dalam tabel di bawah ini:

Tabel 4.5 Hasil Penilaian Ahli Teknik

No. Aspek Penilaian Skor Hasil Penilaian

1. Umur 5 62,5

2. Jenis kelamin 5 62,5

3. Suku bangsa 4 50,0

4. Posisi tubuh 11 68,8

5. Keamanan 6 75,0

6. Kenyamanan 5 62,5

7. Keluwesan 4 50,0

Rata-rata 61,61

Kategori Cukup Layak

Data tersebut di atas dapat disajikan dalam bentuk diagram sebagai berikut:

(14)

Gambar 4.8 Hasil Penilaian Ahli Teknik

Berdasarkan tabel dan diagram di atas, Ahli Teknik memberikan skor nilai pada dimensi antropometri dengan aspek umur yaitu 5 dengan nilai akhir 62,5, aspek jenis kelamin sebesar 5 dengan nilai akhir 62,5, aspek suku bangsa sebesar 4 dengan nilai akhir sebesar 50,0 dan aspek posisi tubuh sebesar 11 dengan nilai akhir 68,8.

Kemudian unsur ergonomis pada aspek keamanan sebesar 6 dengan nilai akhir 75,0, kenyamanan sebesar 5 dengan nilai akhir 62,5 dan aspek keluwesan sebesar 4 dengan nilai akhir 50,0.

Perolehan rerata nilai akhir adalah sebesar 61,61 yang masuk dalam kategori cukup layak.

Hasil penilaian kelayakan media dari Ahli Teknik memiliki komentar, saran serta revisi terhadap produk yang kembangkan yaitu kursi roda balap berbasis antropometri untuk meningkatkan gerak lokomotor anak tunadaksa. Tindak lanjut dari perbaikan dari Ahli Teknik disajikan gambar sebagai berikut:

(15)

Sebelum Revisi

Setelah Revisi

Gambar 4.9 Kursi Roda Balap Sebelum dan Sesudah di Revisi dengan Ahli Teknik

4) Ahli Pendidikan Luar Biasa (PLB)

Validator pengembangan alat olahraga kursi roda balap berbasis antrophometri untuk meningkatkan gerak lokomotor anak tunadaksa secara kuantitatif dilakukan oleh Prof. Dr. Sunardi, M.Sc selaku Ahli Pendidikan Luar Biasa (PLB). Data yang diperoleh dapat divisualisasikan dalam tabel di bawah ini:

Tabel 4.6 Hasil Penilaian Ahli Pendidikan Luar Biasa (PLB) No. Aspek Penilaian Skor Hasil Penilaian

1. Umur 7 87,5

2. Jenis kelamin 6 75,0

3. Suku bangsa 6 75,0

4. Posisi tubuh 9 56,3

5. Keamanan 7 87,5

6. Kenyamanan 8 100,0

7. Keluwesan 5 62,5

Rata-rata 77,68

Kategori Sangat Layak

Data tersebut di atas dapat disajikan dalam bentuk diagram sebagai berikut:

(16)

Gambar 4.10 Hasil Penilaian Ahli Pendidikan Luar Biasa (PLB) Berdasarkan tabel dan diagram di atas, Ahli Pendidikan Luar Biasa (PLB) memberikan skor nilai pada dimensi antropometri dengan aspek umur yaitu 7 dengan nilai akhir 87,5, aspek jenis kelamin sebesar 6 dengan nilai akhir 75,0, aspek suku bangsa sebesar 6 dengan nilai akhir sebesar 75,0 dan aspek posisi tubuh sebesar 9 dengan nilai akhir 56,3. Kemudian unsur ergonomis pada aspek keamanan sebesar 7 dengan nilai akhir 87,5, kenyamanan sebesar 8 dengan nilai akhir 100,0 dan aspek keluwesan sebesar 5 dengan nilai akhir 62,5. Perolehan rerata nilai akhir adalah sebesar 77,68 yang masuk dalam kategori sangat layak.

Hasil penilaian kelayakan media dari Ahli Pendidikan Luar Biasa (PLB) memiliki komentar, saran serta revisi terhadap produk yang kembangkan yaitu kursi roda balap berbasis antropometri untuk meningkatkan gerak lokomotor anak tunadaksa. Adapun komentar, saran serta revisi dari Ahli Pendidikan Luar Biasa (PLB) tersebut adalah sebagai berikut:

(17)

Tindak lanjut perbaikan dari Ahli Pendidikan Luar Biasa (PLB) disajikan pada gambar sebagai berikut:

Sebelum Revisi Setelah Revisi Gambar 4.14 Kursi Roda Balap Sebelum dan Sesudah di Revisi

dengan Ahli Pendidikan Luar Biasa (PLB)

3. Hasil Uji Coba Produk a. Uji Coba Skala Kecil

1) Analisis Hasil

Uji skala kecil kursi roda balap berdasarkan dimensi antropologi dilaksanakan pada satu guru dan tiga anak tunadaksa di SLB YPAC Surakarta berusia antara 13 sampai dengan 18 tahun dengan berat badan kurang dari 50 kg. Adapun hasil pengujian adalah sebagai berikut:

No Aspek Pengguna Skor

Guru 1 2 3

1 Umur 4 4 3 4 93,75

2 Jenis kelamin 4 3 4 3 87,50

3 Suku Bangsa 3 4 4 3 87,50

4 Posisi tubuh 4 3 4 4 93,75

5 Keamanan 3 4 4 3 87,50

6 Kenyamanan 4 3 4 3 87,50

7 Keluwesan 4 4 3 4 93,75

Mean 90,17

Tabel 4.7 Uji Skala Kecil Kursi Roda Balap Berdasarkan Dimensi Antropologi Sumber: Data primer diolah, 2021

(18)

Hasil distribusi berdasarkan hasil uji skala kecil terkait kursi roda balap berdasarkan dimensi antropologi pada Tabel 4.19 dapat diambil kesimpulan bahwa skor umur pengguna 93,75, skor jenis kelamin pengguna 87,50, skor suku bangsa pengguna 93,75,skor keamanan pengguna 87,50,skor kenyaman pengguna 87,50 dan skor keluwesan 93,75 dengan rata-rata skor tuju aspek tersebut 90,17 dengan tingkat validitas sangat layak dan dapat digunakan tanpa revisi. Maka data tentang uji skala kecil kursi roda balap berdasarkan dimensi antropologi menunjukkan tidak terjadi penyimpangan data.

2) Revisi

Berdasarkan hasil uji skala kecil kursi roda balap berdasarkan dimensi antropologi dilaksanakan pada anak tunadaksa di SLB D/D1 YPAC Surakarta berusia antara 13 sampai dengan 18 tahun dengan berat badan kurang dari 50 kg berjumlah 3 orang, tidak ada revisi produk maka dapat dilanjutkan dengan uji coba skala luas.

b. Uji Coba Skala Luas 1) Analisis Hasil

Uji skala luas kursi roda balap berdasarkan dimensi antropologi dilaksanakan pada duaguru dan lima anak tunadaksa di SLB D/D1 YPAC Surakarta berusia antara 13 sampai dengan 18 tahun dengan berat badan kurang dari 50 kg. Adapun aspek penilaian adalah sebagai berikut:

No Aspek Pengguna Skor

1 2 3 4 5 6 7

1 Umur 4 4 3 3 4 4 3 89,28

2 Jenis kelamin

4 3 4 4 3 3 4 89,28

3 Suku 3 4 4 4 3 4 4 92,85

(19)

bangsa

4 Posisi tubuh 3 4 3 4 4 4 4 92,85

5 Keamanan 4 4 3 4 4 4 4 96,42

6 kenyamanan 4 4 3 4 4 3 3 89,28

7 keluwesan 4 3 4 4 4 4 4 96,42

Mean 92,34

Tabel 4.8 Uji Skala Luas Kursi Roda Balap Berdasarkan Dimensi Antropologi Sumber: Data primer diolah, 2021

No Skor Kategori kelayakan

1. < 21 Sangat Tidak Layak

2. 21 - 40 Tidak Layak

3. 41-60 Cukup Layak

4. 61-80 Layak

5. 81-100 Sangat Layak

Tabel 4.9 Kategori kelayakan

Hasil distribusi berdasarkan hasil uji skala luas terkait kursi roda balap berdasarkan dimensi antropologi pada Tabel 4.20 dapat diambil kesimpulan bahwa skor umur pengguna 89,28, skor jenis kelamin pengguna 89,28, skor suku bangsa pengguna 92,85, skor posisi tubuh pengguna 92,85, skor keamanan pengguna 96, 42, skor kenyamanan pengguna 89,28, dan skor keluwesan pengguna 96, 42 serta rata-rata skor tuju aspek tersebut 92,34 dengan tingkat validitas sangat layak. Maka data tentang uji skala luas kursi roda balap berdasarkan dimensi antropologi menunjukkan tidak terjadi penyimpangan data.

(20)

2) Revisi

Berdasarkan hasil uji skala luas kursi roda balap berdasarkan dimensi antropologi dilaksanakan pada anak tunadaksa di SLB YPAC Surakarta berusia antara 13 sampai dengan 18 tahun dengan berat badan kurang dari 50 kg berjumlah 5 orang, tidak ada revisi produk maka dapat dilanjutkan dengan uji efektivitas.

4. Uji Efektivitas

a. Uji Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul tentang identitas responden (jenis kelamin, umur dan berat badan), tanggapan tentang kursi roda balap berdasarkan dimensi antropologi dan keefektifan eksperimen sebelum dan sesudah menggunakan alat olahraga kursi roda balap berbasis antropometri untuk meningkatkan gerak lokomotor anak tunadaksa. Adapun hasil uji deskriptif tersebut disajikan dalam tabel berikut:

1) Identitas Responden

Data identitas responden merupakan karakteristik anak tunadaksa SLB D/D1 YPAC Surakarta sejumlah 5 anak yang meliputi jenis kelamin, umur dan berat badan. Hasil statistik deskriptif identitas responden disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 4.10 Identitas Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin F %

Laki-laki 3 60,0

Perempuan 2 40,0

Jumlah 5 100,0

Sumber: Data primer diolah, 2021

Berdasarkan Tabel 4.13 diketahui bahwa karakteristik anak tunadaksa dari segi jenis kelamin mayoritas laki-laki, yaitu sebanyak 3 responden atau 60,0%.

(21)

Tabel 4.11 Identitas Responden Berdasarkan Umur dan Berat Badan

Variabel N Minimum Maksimum Mean Std.

Deviation Umur 5 14 tahun 18 tahun 16 tahun 1,871 Berat Badan 5 40 kg 45 kg 43 kg 2,739 Sumber: Data primer diolah, 2021

Hasil distribusi berdasarkan umur dan berat badan responden penelitian pada Tabel 4.14 dapat diambil kesimpulan bahwa anak tunadaksa SLB D/D1 YPAC Surakarta dari 5 anak, umur termuda adalah 14 tahun dan tertua adalah umur 18 tahun. Rata-rata umur yang mendominasi yaitu umur 16 tahun. Nilai standar deviasi umur lebih kecil daripada mean, maka data tentang umur menunjukkan tidak terjadi penyimpangan data. Berat badan terendah 40 kg dan tertinggi 45 kg. Rerata berat badan yang mendominasi yaitu 43 kg dengan nilai standar deviasi berat badan lebih kecil daripada mean, maka data tentang berat bdan menunjukkan tidak terjadi penyimpangan data.

2) Tanggapan Tentang Kursi Roda Balap Berdasarkan Dimensi Antropologi

Data tentang kursi roda balap berdasarkan dimensi antropologi merupakan tanggapan anak tunadaksa SLB D/D1 YPAC Surakarta sejumlah 5 anak yang meliputi aspek umur, jenis kelamin, suku bangsa dan posisi tubuh dan unsur ergonomis yaitu keamanan, kenyamanan dan keluwesan. Hasil statistik deskriptif tanggapan responden tentang kursi roda balap berdasarkan dimensi antropologi disajikan dalam tabel berikut:

(22)

Tabel 4.12 Tanggapan Tentang Kursi Roda Balap Berdasarkan Dimensi Antropologi

Variabel N Minimum Maksimum Mean Std.

Deviation Kursi Roda

Balap

5 70,31 85,94 76,56 5,952 Sumber: Data primer diolah, 2021

Hasil distribusi berdasarkan tanggapan tentang kursi roda balap berdasarkan dimensi antropologi pada Tabel 4.15 dapat diambil kesimpulan bahwa skor terendah adalah 70,31 dan skor tertinggi sebesar 85,94. Rata-rata skor sebesar 76,56 berada pada kriteria 75,01-100 dengan tingkat validitas sangat layak. Nilai standar deviasi lebih kecil daripada mean, maka data tentang tanggapan responden terkait kursi roda balap berdasarkan dimensi antropologi menunjukkan tidak terjadi penyimpangan data.

3) Keefektifan Alat Olahraga Kursi Roda Balap Berbasis Antropometri

Data tentang keefektifan eksperimen sebelum dan sesudah menggunakan alat olahraga kursi roda balap berbasis antropometri untuk meningkatkan gerak lokomotor anak tunadaksa SLB D/D1 YPAC Surakarta sejumlah 5 anak dengan perlakuan jarak lomba 100 meter, 150 meter dan 200 meter. Masing-masing perlakuan tersebut diulang sebanyak 5 kali. Data pada perlakuan satu sampai lima disajikan dalam konversi satuan waktu menit dan detik. Data dan hasil statistik deskriptif keefektifan kursi roda balap disajikan pada tabel berikut:

(23)

Tabel 4.13 Data Keefektifan Kursi Roda Balap Berbasis Antropometri dalam Meningkatkan Gerak Lokomotor Anak Tunadaksa

PERLAKUAN NAMA SISWA

(DETIK, MENIT) (DETIK, MENIT)

KURSI RODA KURSI RODA BALAP

100 M 150 M 200 M 100 M 150 M 200 M

Ulangan 1

AJK 1 m 10 2 m 12 3 m 33 1 m 31 2 m 18 3m 17 LLA 54 detik 1m 35 1m 57 37 detik 58 detik 1m 23 DFF 2m 14 3 m 24 5m 40 1m26 2m 06 2m 45 NND 1m 23 2m 30 3m 47 1m 20 2m 18 3m 23 RZK 49 detik 1 m 18 1m 23 1m 11 2m 12 3m 13

Ulangan 2

AJK 1m 23 2m 27 3m 20 1m 11 2m 27 3m 10 LLA 1m 00 1m 35 1 m 59 1m 12 1m 47 2m 00 DFF 2m 12 3m 30 4m 47 2m 00 2m 46 3m 10 NND 1m 45 2m.30 3m 20 1m 45 2m 32 3m 10 RZK 1m 00 1m 35 1m 59 21 det 1 m.08 1m 57

Ulangan 3

AJK 1m 33 2m 21 3m 13 1m 34 2m 27 3m 08 LLA 59det 1m 34 1m 59 1m 07 1m 46 2m 23 DFF 2m 15 4m 03 5m 40 2m 03 4m 00 5m 02 NND 1m 33 2m 35 3m 11 1m 20 2m 27 3m 02 RZK 1m 00 1m 35 1m 59 57 det 1m 34 2m00

Ulangan 4

AJK 1m 33 2m 21 3m 22 1m11 2m 15 3m 07 LLA 59 det 1m 39 1m 59 46 det 1m 11 1m 41 DFF 1m 56 3m 13 5m 14 1m 32 2m 17 2m 56 NND 1m 32 2m 23 3m 15 1m 12 2m 10 3m 01 RZK 47 det 1m 09 1m 45 34 det 54 det 1m 14

Ulangan 5

AJK 1m 12 1m 57 2m 32 1m 09 1m 43 2m 13 LLA 57det 1m 40 2m 02 45 det 1m 00 1m 30 DFF 1m 46 2m 24 4m 01 1m 33 2m 15 3m 05 NND 1m 22 2m 21 3m 33 1m 08 1m 57 2m 38 RZK 47 det 1m 11 1m 45 40 det 1m 00 1m 15

a) Ulangan 1

Tabel 4.14 Rerata Keefektifan Kursi Roda Balap Berbasis Antropometri dalam Meningkatkan Gerak Lokomotor

pada Ulangan 1

Variabel 100M 150M 200M

Konvensional

Minimum 0,49 1,18 1,23

Maksimum 2,14 3,24 5,40

Mean 1,10 2,04 3,00

Std. Deviation 0,668 0,826 1,678 Kursi Roda Balap

Minimum 0,37 0,58 1,23

Maksimum 1,31 2,18 3,23

Mean 1,05 1,82 2,64

Std. Deviation 0,387 0,697 0,851 Sumber: Data primer diolah, 2021

(24)

Hasil penelitian terlihat bahwa dalam ulangan pertama, gerak lokomotor anak tunadaksa pada jarak 100 meter dengan menggunakan produk kursi roda balap (rata-rata 1 menit, 05 detik) lebih baik dibandingkan dengan kursi roda model konvensional dengan rata-rata waktu tempuh 1 menit, 10 detik, kemudian pada jarak 150 meter dengan menggunakan produk kursi roda balap (1 menit, 82 detik) lebih baik dibandingkan dengan kursi roda model konvensional dengan rata-rata waktu tempuh 2 menit, 04 detik, dan jarak 200 meter produk kursi roda balap (2 menit, 64 detik) lebih baik dibandingkan dengan kursi roda model konvensional yaitu rata-rata waktu tempuh 3 menit, 00 detik.

b) Ulangan 2

Tabel 4.15 Rerata Keefektifan Kursi Roda Balap Berbasis Antropometri dalam Meningkatkan Gerak Lokomotor

pada Ulangan 2

Variabel 100M 150M 200M

Konvensional

Minimum 1,00 1,35 1,59

Maksimum 2,12 3,30 4,47

Mean 1,36 2,11 2,81

Std. Deviation 0,464 0,811 1,229 Kursi Roda Balap

Minimum 0,21 1,08 1,57

Maksimum 2,00 2,46 3,10

Mean 1,18 1,92 2,57

Std. Deviation 0,651 0,609 0,736 Sumber: Data primer diolah, 2021

Hasil penelitian terlihat bahwa dalam ulangan kedua, gerak lokomotor anak tunadaksa pada jarak 100 meter dengan menggunakan produk kursi roda balap (rata-rata 1 menit, 18 detik) lebih baik dibandingkan dengan kursi roda model konvensional dengan rata-rata waktu tempuh 1 menit, 36 detik, kemudian pada jarak 150 meter dengan menggunakan produk kursi roda balap (1 menit, 92 detik) lebih baik dibandingkan

(25)

dengan kursi roda model konvensional dengan rata-rata waktu tempuh 2 menit, 11 detik, dan jarak 200 meter produk kursi roda balap (2 menit, 57 detik) lebih baik dibandingkan dengan kursi roda model konvensional yaitu rata-rata waktu tempuh 2 menit, 81 detik.

c) Ulangan 3

Tabel 4.16 Rerata Keefektifan Kursi Roda Balap Berbasis Antropometri dalam Meningkatkan Gerak Lokomotor

pada Ulangan 3

Variabel 100M 150M 200M

Konvensional

Minimum 0,59 1,34 1,59

Maksimum 2,15 4,03 5,40

Mean 1,28 2,26 2,96

Std. Deviation 0,574 1,098 1,562 Kursi Roda Balap

Minimum 0,57 1,34 2,00

Maksimum 2,03 4,00 5,02

Mean 1,24 2,27 3,07

Std. Deviation 0,528 1,062 1,189 Sumber: Data primer diolah, 2021

Hasil penelitian terlihat bahwa dalam ulangan ketiga, gerak lokomotor anak tunadaksa pada jarak 100 meter dengan menggunakan produk kursi roda balap (rata-rata 1 menit, 24 detik) lebih baik dibandingkan dengan kursi roda model konvensional dengan rata-rata waktu tempuh 1 menit, 28 detik, kemudian pada jarak 150 meter dengan menggunakan kursi roda model konvensional (2 menit, 26 detik) lebih baik dibandingkan dengan produk kursi roda balap dengan rata-rata waktu tempuh 2 menit, 27 detik, dan jarak 200 meter kursi roda model konvensional (2 menit, 96 detik) lebih baik dibandingkan dengan produk kursi roda balap yaitu rata-rata waktu tempuh 3 menit, 07 detik.

(26)

d) Ulangan 4

Tabel 4.17 Rerata Keefektifan Kursi Roda Balap Berbasis Antropometri dalam Meningkatkan Gerak Lokomotor

pada Ulangan 4

Variabel 100M 150M 200M

Konvensional

Minimum 0,47 1,09 1,45

Maksimum 1,56 3,13 5,14

Mean 1,05 2,01 2,91

Std. Deviation 0,490 0,802 1,500 Kursi Roda Balap

Minimum 0,34 0,54 1,14

Maksimum 1,32 2,17 3,07

Mean 0,87 1,61 2,24

Std. Deviation 0,440 0,748 0,906 Sumber: Data primer diolah, 2021

Hasil penelitian terlihat bahwa dalam ulangan keempat, gerak lokomotor anak tunadaksa pada jarak 100 meter dengan menggunakan produk kursi roda balap (rata-rata 87 detik) lebih baik dibandingkan dengan kursi roda model konvensional dengan rata-rata waktu tempuh 1 menit, 05 detik, kemudian pada jarak 150 meter dengan menggunakan produk kursi roda balap (rata-rata 1 menit, 61 detik) lebih baik dibandingkan dengan kursi roda model konvensional dengan rata-rata waktu tempuh 2 menit, 01 detik, dan jarak 200 meter produk kursi roda balap (2 menit, 24 detik) lebih baik dibandingkan dengan kursi roda model konvensional yaitu rata-rata waktu tempuh 2 menit, 91 detik.

e) Ulangan 5

Tabel 4.18 Rerata Keefektifan Kursi Roda Balap Berbasis Antropometri dalam Meningkatkan Gerak Lokomotor

pada Ulangan 5

Variabel 100M 150M 200M

Konvensional

Minimum 0,47 1,11 1,45

Maksimum 1,46 2,24 4,01

Mean 0,97 1,71 2,63

(27)

Std. Deviation 0,429 0,502 1,031 Kursi Roda Balap

Minimum 0,40 1,00 1,15

Maksimum 1,33 2,00 3,05

Mean 0,87 1,40 2,00

Std. Deviation 0,419 0,421 0,787 Sumber: Data primer diolah, 2021

Hasil penelitian terlihat bahwa dalam ulangan kelima, gerak lokomotor anak tunadaksa pada jarak 100 meter dengan menggunakan produk kursi roda balap (rata-rata 87 detik) lebih baik dibandingkan dengan kursi roda model konvensional dengan rata-rata waktu tempuh 97 detik, kemudian pada jarak 150 meter dengan menggunakan produk kursi roda balap (1 menit, 40 detik) lebih baik dibandingkan dengan kursi roda model konvensional dengan rata-rata waktu tempuh 1 menit, 71 detik, dan jarak 200 meter produk kursi roda balap (2 menit, 00 detik) lebih baik dibandingkan dengan kursi roda model konvensional yaitu rata-rata waktu tempuh 2 menit, 63 detik.

Perlakuan pada uji efektivitas adalah jarak lomba 100 meter, 150 meter dan 200 meter. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 5 kali. Data hasil uji efektivitas diolah menggunakan SPSS dengan uji Wilcoxon test. Data dianalisis dengan menggunakan konversi waktu menit menjadi detik. Uji efektivitas dimaksudkan untuk menguji keefektifan eksperimen sebelum dan sesudah menggunakan alat olahraga kursi roda balap berbasis antropometri untuk meningkatkan gerak lokomotor anak tunadaksa. Adapun hasil pengujian efektivitas tersebut adalah sebagai berikut:

a) 100 meter

(28)

b) 1 5 0

m e t e r

b) 150 meter

Tabel 4.20 Uji Efektivitas Kursi Roda Balap Berbasis Antropometri dalam Meningkatkan Gerak Lokomotor Anak Tunadaksa Jarak lomba 150 meter

Test Statisticsa

Post ulangan 1 - Pre ulangan 1

Post ulangan 2 - Pre ulangan 2

Post ulangan 3 - Pre ulangan 3

Post ulangan 4 - Pre ulangan 4

Post ulangan 5 - Pre ulangan 5

Z -1.753b -.944b -2.023c -1.753c -2.032c

Asymp. Sig. (2- tailed)

.080 .345 .043 .080 .042

a. Wilcoxon Signed Ranks Test b. Based on negative ranks.

c. Based on positive ranks.

Tabel 4.19 Uji Efektivitas Kursi Roda Balap Berbasis Antropometri dalam Meningkatkan Gerak Lokomotor Anak Tunadaksa Jarak 100 meter

Test Statisticsa

Post ulangan 1 - Pre ulangan 1

Post ulangan 2 - Pre ulangan 2

Post ulangan 3 - Pre ulangan 3

Post ulangan 4 - Pre ulangan 4

Post ulangan 5 - Pre ulangan 5

Z -.135b -1.289b -.944b -2.032b -2.023b

Asymp. Sig. (2- tailed)

.893 .197 .345 .042 .043

a. Wilcoxon Signed Ranks Test b. Based on positive ranks.

(29)

c) 200 meter

Tabel 4.21 Uji Efektivitas Kursi Roda Balap Berbasis Antropometri dalam Meningkatkan Gerak Lokomotor Anak

Tunadaksa Jarak lomba 200 meter Test Statisticsa

Post ulangan 1 - Pre ulangan 1

Post ulangan 2 - Pre ulangan 2

Post ulangan 3 - Pre ulangan 3

Post ulangan 4 - Pre ulangan 4

Post ulangan 5 - Pre ulangan 5

Z -.944b -.405c -2.023b -.405c -2.023b

Asymp. Sig. (2- tailed)

.345 .686 .043 .686 .043

a. Wilcoxon Signed Ranks Test b. Based on positive ranks.

c. Based on negative ranks.

Berdasarkan hasil uji efektivitas Wilcoxon test pada tabel di atas, didapat hasil bahwa kursi roda balap yang dikembangkan sebagai alat olahraga pada ulangan 1 sampai 3 dengan perlakuan jarak 100 meter menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan rata- rata (nilai sig. > 0,05) alat olahraga kursi roda balap berbasis antropometri untuk meningkatkan gerak lokomotor anak tunadaksa. Pada ulangan 4 dan 5 dengan perlakuan jarak 100 meter terdapat perbedaan rata-rata yang menunjukkan alat olahraga kursi roda balap berbasis antropometri efektif untuk meningkatkan gerak lokomotor anak tunadaksa. Pada perlakuan jarak 150 meter dan 200 meter, didapatkan hasil bahwa pada ulangan 1, 2, dan 4 data menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan rata-rata (nilai sig. >

0,05) alat olahraga kursi roda balap berbasis antropometri untuk meningkatkan gerak lokomotor anak tunadaksa. Sedangkan, pada ulangan 3 dan 5 menunjukkan terdapat perbedaan rata-rata pada alat olahraga kursi roda balap berbasis antropometri untuk meningkatkan gerak lokomotor anak tunadaksa.

Hasil ulangan yang ke 5 dengan perlakuan 100 meter, 150 meter, dan 200 meter secara keseluruhan dan konsisten

(30)

menunjukkan perbedaan yang nyata dengan nilai Sig. < 0,05, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kursi roda balap berbasis antropometri yang dikembangkan efektif meningkatkan gerak lokomotor anak tunadaksa.

B. Pembahasan

1. Analisis Kebutuhan Alat Olahraga Kursi Roda Balap Berbasis Antropometri Pada Anak Tunadaksa

Hasil penelitian menunjukkan bahwa keadaan alat olahraga anak tuna daksa menggunakan kursi roda keseharian atau kursi roda konvensional. Kursi roda balap yang dikembangkan bagi anak tuna daksa diharapkan dapat mendukung aktivitas olah raga serta memperhatikan asas antrophometri dan unsur ergonomi. Kursi roda balap yang dikembangkan bagi anak tuna daksa untuk melakukan aktifitas olah raga sesuai dengan ukuran tubuh anak tuna daksa. Hal ini didukung dengan penelitiannya yang dilakukan oleh Ezza Oktavia Utami (2018), prinsip aksesibilitas adalah meliputi tiga hal yaitu prinsip kemudahan, keamanan, dan kenyamanan. Aksesibilitas bertujuan untuk memudahkan difabel melakukan mobilitas dan memperoleh akses proses pendidikan, serta dapat melakukan aktifitas secara mandiri tanpa hambatan. Selanjutnya hasil penelitiannya Praviasari & Wardoyo (2012), sebuah inovasi untuk memperbaruhi sarana dan prasarana pada sekolah tersebut sangat dibutuhkan. Dengan adanya optimalisasi pada berbagai aspek sekolah mampu menunjang kemajuan baik motorik, psikomotorik siswa-siswi berkebutuhan khusus.

Kemandirian anak tunadaksa dalam melakukan olahraga atau penjas adaptif haruslah diikuti dengan ketersediaannya sarana pendukung yang memadai. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2020 tentang Aksesibilitas Terhadap Permukiman, Pelayanan Publik dan Perlindungan dari Bencana bagi Penyandang Disabilitas menyebutkan bahwa persyaratan teknis pada bangunan umum dan

(31)

lingkungan haruslah mengakomodasi semua aspek di antaranya:

kemudahan, kegunaan, keselamatan dan kemandirian. Choiri, S (1996) berpendapat anak tunadaksa mengalami kelainan yaitu berupa kelainan otot hipertonus, permasalahan sendi panggul, lutut, dan tumit dikarenakan gerakan mereka di atas kursi roda sangat terbatas. Anak tunadaksa untuk mengurangi dan mencegah keluhan medis tersebut dapat dilakukan melalui latihan gerakan tertentu serta memperluas ruang gerak sendi tertentu. Anak tunadaksa membutuhkan sarana yang mendukung perbaikan perkembangan gerak dan mobilitas baik itu di rumah maupun di sekolah. Separuh waktu anak tunadaksa menghabiskan waktu di sekolah.

Hendaknya sekolah memberikan sarana perbaikan gerak dan mobilitas bagi anak tunadaksa untuk melakukan aktifitas olahraga khususnya yang menggunakan kursi roda.

Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan dan didukung oleh beberapa penelitian mengenai kebutuhan anak tunadaksa alat olahraga kursi roda balap berbasis antropometri, maka dapat disimpulkan bahwa anak tuna daksa membutuhkan sarana kursi roda balap yang sesuai dengan spesifikasi kebutuhannya, berkualitas dan harga terjangkau.

2. Prosedur Pengembangan Alat Olahraga Kursi Roda Balap Berbasis Antropometri Untuk Meningkatkan Gerak Lokomotor Anak Tunadaksa

Pengembangan alat olahraga diperlukan untuk menunjang aktivitas olahraga bagi anak tunadaksa. Anak tunadaksa membutuhan media adaptif yang ergonomis dan antropometri. Media adaptif berkaitan dengan kepentingan aktivitas kehidupan sehari-hari dikembangkan berdasarkan kompensatoris anak berkebutuhan khusus. Didasarkan atas kebutuhan anak dalam berbagai aktivitas kehidupan sehari-hari dari mulai berjalan, lari, makan, mandi, kegiatan di kamar mandi, buang air sebagainya.

Dari hasil wawancara Perlunya kursi roda yang dapat menyesuaikan kebutuhan anak tunadaksa dengan menerapkan asas antrophometri. Dengan memperhatikan keamanan, kenyamanan dan keluwesan anak tunadaksa dalam melakukan aktivitas olahraga.

(32)

Anaktunadaksa memerlukan pengembangan kursi roda dalam aktivitas olahraga balap kursi roda. Kursi roda yang sering dipakai untuk aktivitas olahraga yakni menggunakan kursi roda yang biasa mereka pakai untuk aktivitas sehari-hari. Sehingga pada saat melakukan aktivitas balap kursi roda meraka merasa kurang nyaman karena membuat punggung sakit dan dorongan kurang optimal.

Desain pada produk yang dikembangkan dimulai dari rangka utama kursi roda balap dengan menentukan dasar kursi roda yang disesuaikan postur tubuh anak tuna daksa yaitu antara 140-160 cm, berat maksimum 60 kg, material rangka adalah pipa stainless steel dengan panjang dalangan body ± 1 meter, diameter dudukan kursi bagian dalam 35 cm, diameter dudukan kursi bagian luar 39 cm, jari-jari kursi 28 cm, jarak dalangan dengan roda depan 70 cm dan jok tempat duduk terbuat dari kain yang kuat. Kemudian lingkar ayunan tangan menempel pada roda belakang kursi roda balap terbuat dari alumunium ukuran 19 mm dengan diameter 32 cm. Selanjutnya roda belakang berukuran 70 cm x 23 cm dengan ring 26, bagian-bagian dari roda belakang yakni: hub, velg, jari-jari dan ban. Kemudian roda depan yang berfungsi penyeimbang dengan diameter 50 cm dengan ring 20. dan terakhir adalah rem yang terbuat dari besi berkampas.

3. Kelayakan Alat Olahraga Kursi Roda Balap Berbasis Antropometri

Berdasarkan hasil uji kelayakan skala kecil dan luas yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa model pengembangan alat olahraga kursi roda balap berbasis antrophometri anak tuna daksa layak untuk digunakan dalam menunjang aktivitas olahraga. Validator ahli dan praktisi serta pengguna menanggapi positif mengenai model yang dikembangkan. Menurut validator sudah layak karena alat tersebut telah domodifikasi menurut kebutuhan dan kondisi peserta didik. Hal ini sejalan dengan penelitiannya Harahap P dkk (2015), suatu desain sarana disebut ergonomis apabila secara antropometris, biomekanik dan psikologis kompatibel dengan manusia pemakainya. Agar pelaksanaan pembelajaran

(33)

aktivitas olahraga balap kursi roda bagi anak tunadaksa berlangsung dengan optimal sesuai dengan kemampuan fisiknya maka setiap sarana aksesibilitas fisik yang ada di ruang kelas harus memenuhi asas-asas komponen antropometris, komponen biomekanik, komponen psikologis yang sesuai dengan kondisi fisik anak tunadaksa untuk melakukan aktivitas pembelajaran olahraga balap kursi roda.

Menurut Tarigan (2008), pendidikan jasmani adaptif merupakan sarana yang sangat strategis dalam upaya meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan jasmani, keterampilan gerak, sosial, dan intelektual anak ABK. Pendidikan jasmani yang dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan, jenis kelainan dan tingkat kemampuan ABK itu merupakan faktor yang sangat mendukung dalam keberhasilan pendidikan bagi ABK.

Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah model berbasis antrophometri dengan tidak mengesampingkan unsur ergonomi (keamanan, kenyamanan dan keluwesan). Menurut Wignjosoebroto (1995), dimensi antropometri, yakni umur, jenis kelamin, suku bangsa dan posisi tubuh. Tujuan pendekatan antropometri dalam perancangan alat dan perlengkapan adalah agar terjadi keserasian antara manusia dengan sistem kerja (man-machine system). Sedangkan unsur ergonomi menurut Sutalaksana (1979) sebagai komponen dari suatu sistem kerja mencakup keamanan, kenyamanan dan keluwesan.

4. Keefektifan Alat Olahraga Kursi Roda Balap Berbasis Antropometri untuk Meningkatkan Gerak Lokomotor Anak Tunadaksa

Berdasarkan hasil uji efektivitas, kursi roda balap berbasis antropometri yang dikembangkan efektif meningkatkan gerak lokomotor anak tunadaksa. Hal ini sejalan dengan penelitiannya Volpini MR, Silva PCS, Pinotti, M (2014) menyatakan dalam penggunaan kursi roda yang mengatur pelurusan panggul sangat penting untuk menopang posisi postur duduk yang tepat. Demikian juga hasil penelitiannya Ardhi Fathonisyam Putra Nusantara (2018) metode yang dipakai untuk merancang kursi roda tersebut mulai dari inventarisasi kebutuhan akan kursi roda,

(34)

pengembangan dan pemilihan konsep. Referensi yang digunakan untuk pengembangan konsep adalah kursi roda konvensional. Sedangkan kriteria yang ditetapkan untuk pemilihan konsep adalah fungsi, kemudahan operasional dan kenyamanan (ergonomi pemakai kursi roda). Bagian utama dari kursi roda, rangka dibuat dari pipa stainless steel, untuk menjaga agar posisi tempat duduk bisa tetap stabil, lengan ayun digunakan sebagai tempat untuk menggantungkan tempat duduk pada rangka utama.

Posisi cross ditengah rangka berfungsi untuk menjaga agar kursi roda tetap simetris dan bisa dilipat saat tidak digunakan. Cakram setengah lingkaran dengan 7 buah key hole yang masing-masing berjarak 150, digunakan sebagai sistem untuk mekanisme sandaran agar bisa direbahkan. Sistem rack and pinion digunakan sebagai mekanisme pengangkat kursi roda saat difungsikan sebagai ranjang periksa pasien (examination table), sehingga desain kursi roda (wheelchair) cukup aman dan efektif.

Beberapa penelitian berupaya mencari dampak positif dan negatif penggunaan model kursi roda balap yang diberikan secara percuma dan model komersial kursi roda yang diperjual belikan di pasaran untuk membimbing posisi yang tepat bagi pengguna kursi roda balap. Model kursi roda balap baru sering diajukan, tetapi ini tidak menekankan posisi panggul yang nyaman saat melakukan aktifitas olahraga, dan harga yang masih terlalu mahal, sehingga kursi roda balap tersebut menjadi tidak efektif dalam penggunaannya. Pelurusan panggul sangat penting untuk menopang posisi postur duduk yang tepat. Proyek pembuatan kursi roda balap yang lebih hati-hati dan kreatif, serta komponen pendukung diperlukan untuk mendapatkan posisi panggul yang optimal.

C. Nilai Kebaruan

Nilai-nilai kebaruan dari penelitian ini adalah:

1. Kerangka konsep dan hasil penelitian ini merupakan solusi baru dengan mengkombinasikan kursi roda harian dengan kursi roda balap mengacu

(35)

pada kursi roda balap untuk lomba balap kursi roda paralimpic dan antropometri akan meningkatkan gerak lokomotor anak tunadaksa.

2. Hasil penelitian ini memberikan sutau informasi, bahwa alat olahraga kursi roda balap berbasis antrophometri anak tunadaksa secara efektif dapat meningkatkan gerak lokomotor anak tunadaksa serta menunjang aktivitas olahraga dengan baik.

3. Hasil penelitian ini dapat digunakan, dikembangkan lebih lanjut dalam usaha meningkatkan gerak lokomotor dan aktivitas olahraga anak tunadaksa.

4. Hasil penelitian ini menginformasikan kondisi kebutuhan anak tunadaksa dalam menunjang aktivitas olahraga terutama dalam mendukung kemampuan gerak lokomotor.

D. Luaran Penelitian

Luaran penelitian merupakan produk yang dihasilkan dalam penelitian, berikut adalah luaran dari penelitian:

1. Buku Panduan Petunjuk Penggunaan dan Produk Kursi Roda Balap Bagi Anak Tunadaksa Untuk Aktivitas Olahraga Balap Kursi Roda

Salah satu tujuan dari penelitian ini adalah Mendiskripsikan anak tunadaksa membutuhkan alat olahraga kursi roda balap berbasis antropometri, prosedur pengembangan alat olahraga kursi roda balap berbasis antropometri, kelayakan alat olahraga kursi roda balap berbasis antropometri untuk meningkatkan gerak lokomotor anak tunadaksa dan Mendiskripsikan keefektifan eksperimen sebelum dan sesudah menggunakan alat olahraga kursi roda balap berbasis antropometri untuk meningkatkan gerak lokomotor anak tunadaksa. Buku panduan dan produk kursi roda balap tersebut sudah dinyatakan valid dan layak untuk digunakan dalam meningkatkan gerak lokomotor anak tunadaksa.

2. Artikel yang dipublikasikan dalam Prosiding Internasional

Judul : Development of Racing Wheechairs for Children with Disabilities

(36)

Publikasi : Southeast Asia Journal of Special Education Research, index.php

Keterangan : Diterima

URL : http://journal.saased.org/index.php/sajoser 3. Artikel yang dipublikasikan dalam Jurnal Nasional

Judul : Pengembangan Alat Olahraga Kursi Roda Balap Bagi Anak Tunadaksa Berbasis Ergonomi dan Antrophometri

Publikasi : Jurnal Sains dan Teknologi

Keterangan : Akan diterbitkan pada Volume 10, Nomor 2 Tahun 2021 URL : www.undiksha.ac.id

E. Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Penelitian ini hanya mengembangkan media alat olah raga kursi roda balap berbasis antropometri dalam menunjang aktivitas olahraga anak tuna daksa.

2. Pada tahap perancangan produk hanya dilakukan observasi dengan bantuan instrumen dan wawancara, sehingga aspek antropometri belum tercover secara menyeluruh di alat bantunya.

3. Penelitian ini hanya menguji aktifitas olahraga dengan kursi roda balap untuk meningkatkan gerak lokomotor anak tunadaksa, namun belum melakukan pengujian untuk anak kategori kebutuhan khusus lainnya.

Gambar

Gambar 4.1 Storyboard Prototipe Kursi Roda Balap  2)  Pedoman Penggunaan
gambar dll.
Tabel 4.3 Hasil Penilaian Guru Olahraga SLB D/D1   YPAC Surakarta
Gambar 4.6 Hasil Penilaian Ahli Olahraga Disabilitas  Berdasarkan  tabel  dan  diagram  di  atas,  Ahli  Olahraga  Disabilitas  memberikan  skor  nilai  pada  dimensi  antropometri  dengan  aspek  umur yaitu 5 dengan nilai akhir 62,5, aspek jenis kelamin s
+7

Referensi

Dokumen terkait

Minyak dapat diperoleh dari dua sumber, yaitu: (1) minyak nabati, contohnya : Minyak dapat diperoleh dari dua sumber, yaitu: (1) minyak nabati, contohnya :

Proses yang digunakan untuk memproduksi alumunium adalah proses elektrolisa dengan memakai metoda Hall-Heroult katoda yang dipakai PT INALUM masih di impor dari

Sindrom Stevens-Johnson merupakan penyakit yang da- pat menyebabkan kematian sehingga perlu penanganan cepat dan tepat/optimal, mengenali dan menghentikan segera obat yang

32 MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA HARAPAN P enguatan kolaborasi antara Pusat dan Daerah P emerintah Daerah Menyiapkan Setiap Tahapan Untuk Implementasi SPM Bidang

Melihat pendapat di atas sesuai dengan yang diharapkan penulis untuk mengetahui dan menjelaskan/menggambarkan mengenai partisipasi buruh tani perempuan dalam proses

Dalam kajian-kajian yang dikemukakan dalam kesusasteraan, parameter-parameter yang mempunyai kesan ke atas prestasi terma penebat reflektif dan sistem penghalang

Ekstrak batang pepaya pada konsentrasi 1% memiliki aktivitas antibakteri paling efektif terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923 dengan diameter zona hambat sebesar 12 mm

Penambahan asap cair 0,05 % dan arang hitam 0,02 % per berat lateks meningkatkan nilai rendemen karet dan tidak ada perbedaan pada penggunaan pada dosis yang lebih