• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROPOSAL SKRIPSI. Oleh: IVA NUR ANNISA NIM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROPOSAL SKRIPSI. Oleh: IVA NUR ANNISA NIM"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ANTARA BIMBINGAN KESADARAN BERAGAMA DENGAN RESILIENSI PADA NARAPIDANA KASUS PENCURIAN DI

LEMBAGA PERMASYARAKATAN KELAS IIA WIROGUNAN YOGYAKARTA

PROPOSAL SKRIPSI

Diajukan Kepada Prodi Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Ushuluddin Dan Dakwah

Institut Agama Islam Negeri Surakarta Untuk Penyusunan Skripsi

Oleh:

IVA NUR ANNISA NIM. 17.12.21.044

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA 2021

(2)

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Setiap orang yang hidup tidak lepas dari kata permasalahan.

Banyaknya penduduk di Indonesia sering membuat masyarakat dihadapkan dengan berbagai permasalahan seperti kemiskinan, pengangguran, kesehatan dan pendidikan. Tingginya angka permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat menjadi penyebab untuk melakukan tindak kriminalitas.

Seseorang melakukan tindak kriminal, karena ada beberapa faktor yang mempengaruhinya yaitu faktor internal atau faktor eksternal yang menyebabkan individu mudah melakukan tindak kriminal. Seperti dengan tindakan kriminal yang dilakukan oleh narapidana. Narapidana adalah orang yang menjalani pidana dalam Lembaga Permasyarakatan dan orang yang dihukum karena telah melakukan tindakan pidana. Menurut Pasal 1 ayat (6) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang permasyarakatan, narapidana adalah seseorang yang di pidana berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap (Effendi & Widodo, 2016).

Beberapa kasus kejahatan yang marak terjadi di masyarakat salah satunya adalah tindak pidana pencurian. Banyak motif yang mengakibatkan terjadinya tindak pidana pencurian antara lain kebutuhan ekonomi, mencari kesenangan, terlilit hutang dan kemiskinan. Seperti tindakan pencurian yang marak terjadi pada Daerah Istimewa Yogyakarta. Kapolres Bantul AKBP Wachyu Tri Budi Sulistiyono menyampaikan bahwa kasus pencurian di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan beberapa jenis kasus pencurian yang dilakukan oleh narapidana menduduki angka yang tinggi. Jumlah kasus pencurian oleh data vertikal kepolisian Republik Indonesia Daerah di tahun 2020 sebanyak 593,00 orang yang menjadi narapidana dengan kasus pencurian (“Bappeda Provinsi Yogyakarta,” 2020). Sama halnya dengan Lembaga Permasyarakatan Kelas IIA Wirogunan Yogyakarta yang menjadi

(3)

tempat tahanan untuk narapidana kasus pencurian. Di Lapas Wirogunan Yogyakarta pada bulan Desember 2020 tercatat angka kasus pencurian yaitu 52 narapidana dengan masa tahanan yang berbeda-beda.

Narapidana tindak pidana pencurian termasuk dalam persoalan yang kompleks karena akan dimulai dari pemulihan diri dan proses tindak pidana yang akan dijalankannya. Dikatakan demikian, karena pelaku pencurian sebenarnya memahami dengan tindakannya yang akan masuk penjara dan masuk neraka kelak di akhirat akibat perbuatannya, tetapi mereka menyampingkan demi tujuannya agar terpenuhi. Tidak diragukan, jika narapidana terguncang dengan keadaan psikologisnya. Keadaan emosional yang mereka rasakan berbanding terbalik dengan keadaan nyata ketika harus menjalani masa tahanannya di dalam penjara. Hingga beberapa hal dapat memicu perubahan dalam kehidupan narapidana seperti memiliki rasa tekanan, rasa malu, sulit menerima keadaan, kesulitan bertahan pulih dalam keadaannya dan kesulitan beradaptasi dengan lingkungan tahanan, tidak bangkit dari keterpurukan, kekecewaan yang mendalam akibat memikirkan kasusnya dan kehilangan semangat untuk hidup hal ini diakibatkan adanya pengolahan pikiran negatif diikuti dengan perasaan tertekan serta tekanan emosi yang ada pada diri sendiri. Karakteristik seperti ini dapat dikatakan narapidana yang memiliki resiliensi rendah. Berbeda dengan narapidana yang beresiliensi tinggi ia akan merasakan sikap positif muncul dari dirinya saat menjalani proses hukuman(Wuryansari & Subandi, 2019).

Pandangan dari Reivich dan Shatte dalam (Riza & Ike, 2013) resiliensi merupakan kemampuan mengatasi dan beradaptasi terhadap kejadian yang berat yang terjadi dalam kehidupan. Sikap menyesuaikan diri dalam keadaan sulit, bertahan pulih serta bangkit dari keterpurukan penting dimiliki oleh narapidana. Hal ini akan memberikan dampak positif, narapidana perlahan dapat mengelola pikiran negatif dan emosi pada dirinya, berusaha memahami diri sendiri sehingga berpengaruh pada penyesuaian diri dengan lingkungan, menerima keadaan dan bangkit dari keadaan yang sulit.

(4)

Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Lugina & Mujab, 2018) menyebutkan bahwa tingginya resiliensi narapidana, jika adanya dorongan eksternal dan dorongan internal. Keadaan dalam penjara mempengaruhi kondisi narapidana baik mental atau fisik yang memberikan tekanan akibat kekecewaannya, apalagi dengan narapidana yang berkasus pencurian ia memiliki kekhawatiran mengenai keluarga, kehidupannya ke depan dan keadaan yang mengharuskan untuk masuk tahanan karena perbuatannya hingga terkadang narapidana melakukan tindakan bunuh diri untuk dapat keluar dari permasalahannya, dengan ini berpengaruh terhadap tingkat resiliensinya.

Berdasarkan angket terbuka yang peneliti berikan pada tanggal 3 Desember 2020 di lembaga permasyarakatan Kelas IIA Wirogunan Yogyakarta, dapat diambil kesimpulan :

Table 1.1 Kategori Resiliensi

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa kasus pencurian di Lembaga Permasyarakatan Kelas IIA Wirogunan Yogyakarta dengan narapidana beresiliensi rendah ada 27 narapidana, resiliensi sedang 10 dan memiliki resiliensi tinggi 15 narapidana, proses lamanya pidana yang telah dijatuhkan pada narapidana kasus pencurian juga akan berkaitan dan berpengaruh besar terhadap tinggi rendahnya resiliensi dari narapidana.

Tekanan psikologis yang dirasakan oleh narapidana berakibat pada keterpurukan yang dirasakannya, hingga lupa bahwa permasalahan yang dialaminya akan dapat terselesaikan dengan selalu bertakwa. Seperti yang dijelaskan dalam Q.S Q.S Al-Baqarah Ayat 214 :

Kategori Quantity

Resiliensi Rendah 27 narapidana Resiliensi Sedang 10 narapidana Resiliensi Tinggi 15 narapidana

Jumlah 52 narapidana

(5)

Artinya “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”.

Ajaran agama islam menekankan pentingnya keyakinan individu terhadap Tuhan, diri sendiri dan persepsi terhadap masalah yang menjadi dasar pengembangan kemampuan untuk beresiliensi ketika menghadapi tekanan atau masalah. Agama bagi seseorang akan mempengaruhi tingkah laku, cara berpikir dan perasaan, karena hal ini tidak dapat dipisahkan oleh keyakinan. Pandangan yang dikemukakan oleh Zeman, Yontef dan Endsley dalam (Subekti, 2020) kesadaran diri erat hubungannya dengan kesiapan pada setiap peristiwa yang terjadi dilingkungan, membantu individu memahami diri ketika banyak kesulitan, perasaan, pikiran dan memori yang ada pada otak serta fisik sehingga memberikan efek pada bagaimana individu beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan memberikan pemahaman mengenai apa yang dirasakan serta dapat mengatur diri sendiri untuk mengubah hal-hal yang ada pada kehidupannya ke arah yang lebih baik.

Salah satu dorongan pada diri sendiri yang dapat menjadi perubahan pada diri seorang narapidana adalah dengan memiliki kesadaran beragama yang tinggi. Kesadaran beragama yang dimiliki oleh narapidana akan menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran dalam diri untuk melaksanakan ajaran-ajaran agama dan menerapkannya dalam kehidupan

(6)

selama menjalani masa tahanan. Diketahui bahwa kesadaran beragama sangat erat hubungannya dengan ibadah dan akhlak, yang nantinya akan menimbulkan sikap dan suasana kejiwaan yang dipengaruhi oleh nilai-nilai kesadaran bergama seperti sabar, tawakal, berserah diri dan tidak mudah untuk berputus asa. Serta dengan memiliki kesadaran beragama nantinya narapidana dapat membangun motivasi sebagai penguatan untuk diri sendiri dalam menghadapi segala permasalahan atau kesulitan yang dialaminya (Totong, 2019).

Melalui kesadaran beragama yang dimiliki oleh narapidana dapat menjadikan solusi atas permasalahan yang dialami oleh narapidan. Hal ini juga dapat disebut sebagai daya juang. Pandangan yang dikemukakan oleh Dtoltz (2005) dalam (Gagas Wibowo, 2017) menjelaskan bahwa daya juang merupakan kecerdasan individu dalam menghadapi rintangan atau kesulitan dengan gigih dan tekun. Daya juang ini juga berdampak pada respon dan tindakan yang dilakukan seseorang untuk terus tetap berusaha dalam mewujudkan keinginan yang timbul dari diri sendiri agar dapat merubah keadaan yang dialami oleh narapidana.

Daya juang yang dimiliki oleh narapidana sama halnya dengan resiliensi. Narapidana yang selalu dalam keadaan tetap gigih menghadapi kesulitan yang dialaminya, sehingga hal ini dapat membantu narapidana dapat bertahan pulih, bangkit dan dapat menyesuaikan diri dalam keadaan sulit yang akan membentuk resiliensi narapidana menjadi tinggi.

Pembentukan resiliensi pada narapidana menunjukkan bahwa kemampuan jangkauan dalam mengendalikan kesulitan yang sedang dialaminya sangat diperlukan agar tidak terlalu memberikan dampak negatif terhadap dirinya sendiri sehingga narapidana dapat mempertahankan resiliensinya. Narapidana yang memiliki kesadaran beragama yang tinggi, ia dapat merespon kesulitan yang dialaminya dengan baik, dapat melalui motivasi kuat yang didapatkan dari bimbingan kesadaran beragama. Sehingga narapidana dapat memiliki sikap optimis yang ia rasakan saat mengalami kesulitan dan akan mampu

(7)

belajar dari kesulitan yang dialaminya agar ia dapat mempertahankan kemampuannya untuk bangkit dari keterpurukan (Rahmi, 2016).

Bimbingan kesadaran beragama merupakan salah satu pembinaan yang diterapkan di Lembaga Permasyarakatan. Dengan mengikuti bimbingan kesadaran beragama memiliki pengaruh untuk narapidana dalam membangun motivasi hidup dan melakukan penyesuaian diri untuk mengoptimalkan kemampuan yang ada pada dirinya yang nantinya akan mempengaruhi harga diri atau self esteem narapidana. Sehingga dapat menghadapi tekanan kehidupan, bekerja secara produktif dan memaknai bahwa spiritualitas memiliki resiliensi untuk menghadapi kekecewaan dan keterpurukan seperti halnya keadaan yang dialami oleh narapidana (Saifudin, 2019). Narapidana yang memiliki kesadaran diri dalam beragama yang tinggi tidak hanya mampu berdamai terhadap diri sendiri tetapi juga berdamai dengan keadaan sulit yang dihadapinya. Adanya kesadaran beragama yang dimiliki narapidana akan membuatnya sadar mengenai keadaan dalam dirinya, hal ini akan membentuk potensi dan penerimaan diri yang berkaitan pada pengembangan resiliensi sehingga, dapat membantu narapidana menjalankan kehidupan di Lapas maupun mempersiapkan kehidupan setelah selesai menjalani masa hukuman.

Peneliti juga melakukan wawancara dengan beberapa narapidana tindak pidana pencurian yang mengikuti bimbingan kesadaran beragama yang dilakukan oleh Lembaga Permasyarakatan kelas IIA Wirogunan. Wawancara dilakukan pada narapidana dengan inisial nama S, A dan US. Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak S, beliau mengatakan bahwa ia sangat bersyukur sekali dapat bertemu dan mengikuti bimbingan kesadaran beragama di Lembaga. Bapak S perlahan tergugah kembali setelah mengikuti bimbingan ini yang sebelumnya merasakan kegelisahan, cemas dan tidak tenang di hati beliau juga memaparkan bahwa bimbingan ini telah berhasil menyadarkan dirinya untuk dapat kembali ke jalan Allah dan berserah diri kepada-Nya apapun keadaannya (Wawancara dengan bapak S, 2021)

(8)

Selanjutnya wawancara pada bapak A beliau mengatakan bahwa sejak awal masuk sudah merasakan tidak berguna untuk melanjutkan hidupnya.

Beliau sangat sedih dan menyesali perbuatannya hingga wali binaan dalam bloknya memberikan jadwal bimbingan kesadaran beragama yang sudah dijadwalkan setiap harinya. Beliau mengikuti dengan rutin hingga menjadi lebih semangat untuk menjalani kehidupan apalagi bersama dengan dukungan dari teman-teman narapidana yang lainnya tetapi terkadang beliau masih merasa bahwa kegagalan dalam kehidupannya yang sekarang selalu dirasakan tiba-tiba (Wawancara dengan bapak A, 2021).

Wawancara ketiga yaitu pada bapak US, beliau mengatakan bahwa pernah merasa gagal dalam hidup sampai masuk dalam tahanan. Tetapi, penguatan ternyata didapatnya melalui bimbingan kesadaran beragama yang diikutinya setiap pagi. Beliau memaparkan jika pembimbing agama menjelaskan Allah SWT yang menjadi penolong, karena Allah yang bisa nenolong hal ini membuat beliau harus menjadi pribadi yang lebih baik lagi untuk dapat merubah perilakunya dan beliau mengatakan jika pembimbing agama juga dapat menjadi tempat berkeluh kesah para narapidana ketika sedang merasakan kehampaan dalam dirinya. Bapak US juga pernah meminta agar pembimbing agama senantiasa ada disaat dibutuhkan tetapi terkadang ada pembatasan waktu dan jadwal yang sudah diatur (Wawancara dengan bapak US, 2021).

Hasil wawancara menunjukkan bahwa keadaan yang dirasakan oleh narapidana ketika menjalani masa hukuman tahanan dengan mengikuti bimbingan kesadaran beragama yang dilakukan oleh Lembaga Permasyarakatan memiliki dampak positif bagi narapidana agar mampu memahami makna hidup. Selain sesuai dengan ajaran agama hal ini juga mampu memberikan penguatan kepada warga binaan dalam menjalani masa sulitnya dan memberikan kelapangan dada agar ketenangan batin selalu dirasakan ketika narapidana dalam keadaan gelisah, cemas dan terpuruk.

Diketahui bahwa kehidupan yang bermakna menjadi sumber ketenangan yang sesungguhnya. Kehilangan makna hidup mengakibatkan hidup menjadi

(9)

hampa dan dapat disebabkan oleh tidak adanya tujuan hidup yang jelas.

Kesadaran beragama yang dimiliki oleh narapidana ditujukan agar kehidupan narapidana mencapai kehidupan sejahtera baik di dunia maupun akhirat. Agar tujuan dapat tercapai maka diperlukannya pembinaan baik fisik dan rohaninya harus seimbang. Melalui bimbingan kesadaran beragama menjadi sangat penting untuk mewujudkan kehidupan narapidana yang lebih baik dan bermakna (Darlis & Morizka, 2018).

Pentingnya pembinaan kesadaran beragama yang didapatkan oleh narapidana sebagai titik untuk mengoptimalkan dan memulihkan keadaan, agar narapidana tetap memiliki resiliensi tinggi untuk menjalani kehidupan selama masa tahanan. Hal ini dapat dilihat bahwa bimbingan kesadaran beragama akan menunjukan kematangan sikap ketika narapidana menghadapi permasalahan yang sedang dialaminya, sehingga narapidana memiliki resiliensi tinggi yang akan membantu untuk menyesuaikan diri, bertahan pulih serta bangkit dari keterpurukan selama menjalani masa tahanan dan akan membangun arah kehidupan yang lebih baik. Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Hubungan Antara Bimbingan Kesadaran Beragama Dengan Resiliensi Pada Narapidana Kasus Pencurian di Lembaga Permasyarakatan Kelas IIA Wirogunan Yogyakarta”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, masalah dapat di identifikasi sebagai berikut:

1. Timbulnya perasaan bersalah, rasa penyesalan mendalam dan tekanan terhadap keadaan yang dirasakan narapidana ketika melakukan tindak pencurian.

2. Permasalahan yang dirasakan narapidana memicu terjadinya stress dan keterpurukan ketika tekanan timbul dari peristiwa tersebut.

3. Keadaan sulit yang dirasakan narapidana dengan permasalahan yang dihadapi menyebabkan timbulnya rasa putus asa, kehilangan semangat

(10)

hidup bahkan dapat melakukan tindakan bunuh diri untuk bebas dari penderitaannya.

4. Narapidana yang memiliki kesadaran beragama menjadi awal yang baik untuk bersikap menerima keadaan dan mencoba memahami diri sendiri.

5. Ketidakberdayaan narapidana menghadapi kesulitan, keputusasaan dan hilangnya harapan yang dialami oleh narapidana dapat terjadi karena kurangnya kesadaran dalam beragama.

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah diatas, maka peneliti membatasi masalah sebagai berikut, yaitu hubungan bimbingan kesadaran beragama dengan resiliensi pada narapidana kasus pencurian di Lembaga Permasyarakatan Kelas IIA Wirogunan Yogyakarta.

D. Rumusan Masalah

Dari pembatasan masalah di atas penulis dapat merumuskan permasalahan sebagai berikut: “Apakah terdapat hubungan antara bimbingan kesadaran beragama dengan resiliensi pada narapidana kasus pencurian di Lembaga Permasyarakatan Kelas IIA Wirogunan Yogyakarta”.

E. Tujuan Penelitian

Mengacu pada rumusan masalah di atas yang dikaji oleh peneliti maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara bimbingan kesadaran beragama dengan resiliensi pada narapidana kasus pencurian di Lembaga Permasyarakatan Kelas IIA Wirogunan Yogyakarta.

F. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini sebagai berikut 1. Secara Teoritis

a. Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dan hasl penelitian bimbingan dan konseling mengenai bimbingan kesadaran beragama dengan resiliensi narapidana kasus pencurian.

(11)

b. Memberikan pengembangan dan pengetahuan untuk peneliti yang lain mengenai bimbingan kesadaran beragama dengan resiliensi pada narapidana kasus pencurian.

2. Secara Praktis

a. Manfaat bagi Instansi

Diharapkan adanya penelitian mengenai hubungan antara bimbingan kesadaran beragama dengan resiliensi dapat mengetahui dan mengevaluasi perkembangan dari bimbingan yang telah dilakukan untuk resiliensi pada narapidana kasus pencurian terutama di Lembaga Permasyarakatan Kelas IIA Wirogunan Yogyakarta.

b. Manfaat bagi warga binaan (narapidana)

Memberikan pengetahuan kepada narapidana bahwa dengan mengikuti bimbingan kesadaran beragama dapat membantu untuk memahami diri ketika banyak kesulitan yang ia rasakan, memahami perasaan dan menenangkan pikiran sehingga mereka dapat merasakan hal-hal positif dan membuktikan bahwa mereka dapat bangkit dan selalu bersyukur ketika dalam keadaan apapun.

c. Manfaat bagi peneliti lain

Dapat digunakan sebagai bahan wawasan atau masukan untuk penelitian selanjutnya khususnya pada hubungan antara bimbingan kesadaran beragama dengan resiliensi narapidana kasus pencurian, serta dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam penelitian berikutnya agar lebih terstruktur.

(12)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

1. Bimbingan Kesadaran Beragama

a. Pengertian Bimbingan Kesadaran Beragama

Bimbingan memiliki artian memberikan informasi dengan menyajikan pengetahuan yang dapat membantu untuk memutuskan suatu permasalahan yang dialami oleh individu atau dapat diartikan sebagai mengarahkan tujuan yang sudah dibentuk dari awal dengan kesepakatan bersama. Pandangan yang dikemukakan oleh Frank Person dalam (M. Luddin, 2010) mengatakan bahwa bimbingan sebagai bantuan yang diberikan kepada individu untuk dapat memilih, mempersiapkan diri untuk pengambilan keputusan yang dipilihnya.

Berbeda dengan pendapat yang dijelaskan oleh Rochman Natawidjaja (1987) dalam (Rukaya, 2019) bimbingan memiliki pengertian sebagai proses pemberian bantuan yang dilakukan secara berkesinambungan supaya individu tersebut dapat memahami dirinya, sehingga ia sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar sesuai dengan keadaan dan kehidupan umumnya bimbingan ini juga dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau kelompok orang baik anak-anak ataupun dewasa agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dengan memanfaatkan kekuatan individu sesuai dengan aturan yang berlaku.

Lain halnya dengan bimbingan keagamaan dengan agama islam.

Bimbingan keagamaan islam yang dijelaskan oleh Hamdani Bakran adz-Dzaky dalam (Fuad, 2019) bahwa bimbingan islami memiliki artian sebagai suatu aktivitas memberikan bimbingan, pelajaran dan pedoman kepada individu yang meminta bimbingan (klien) sehingga dirinya dapat mengembangkan potensi akal pikiran, jiwa, keimanan

(13)

dan keyakinannya, serta dapat menanggulangi hidup dengan lebih baik dan benar sesuai ajaran Rasulullah dan Al-Qur’an.

Kesadaran beragama berasal dari kata sadar yang memiliki arti merasa atau memahami. Kesadaran memiliki artian memahami, mengetahui , merasa atas dirinya sendiri kepada keadaan sebenarnya.

Sedangkan kata beragama berasal dari kata agama, beragama memiliki artian mempercayai keyakinannya sendiri atau kepercayaannya kepada Tuhan. Pandangan yang dijelaskan oleh Zakiyah Darajat dalam (Padli, 2018) kesadaran beragama yang dimiliki oleh seseorang adalah risalah yang disampaikan Tuhan kepada nabi sebagai petunjuk bagi manusia dan hukum-hukum sempurna yang digunakan manusia dalam menyelenggarakan tata cara hidup yang nyata serta mengatur hubungan dengan dan tangung jawab kepada Allah, dirinya sebagai hamba Allah, manusia dan masyarakat serta alam sekitarnya. Kesadaran beragama dikatakan sebagai hasil proses mengenai motivasi yang berpengaruh terhadap penilaian, keputusan dan interaksi dengan orang lain. Berbeda dengan pengalaman beragama berkaitan dengan perasaan yang membawa keyakinan dihasilkan oleh tindakan, pengalaman ini biasanya terjadi dalam keinginan manusia menyembah tuhan untuk berdoa.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa bimbingan kesadaran beragama memiliki artian proses pemberian bantuan kepada individu atau sekelompok orang yang dilakukan oleh orang yang ahli guna memberikan pedoman dan bimbingan sesuai dengan syariat islam dan sesuai ajaran Rasulullah dan Al-Qur’an, karena pada dasarnya hakikat penciptaan manusia untuk mengabdikan dirinya kepada Allah SWT agar selamat dalam dunia dan akhirat.

b. Tujuan dan Fungsi Kesadaran Beragama

Kesadaran beragama ini membuat individu dapat merencanakan kegiatan atau pelaksanaan rencana kehidupan di masa yang akan datang. Tujuan dan fungsi dari kesadaran beragama individu tidak

(14)

terpisahkan dengan permasalahan keyakinan seseorang. kegiatan untuk menumbuhkan kesadaran beragama pada individu agar dapat kembali pada bimbingan sesuai dengan syariat islam. Tujuan dan fungsi kesadaran beragama ini agar fitrah yang dikaruniakan Allah SWT kepada individu bisa berkembang dan berfungsi dengan baik, sehingga individu dapat berkembang dan berfungsi dengan baik dalam menjalani kehidupan sehari-hari baik untuk diri sendiri dan lingkungan sekitarnya (Jeprianto, 2019).

Dengan mengembangkan seluruh kekuatan dan potensi semaksimal mungkin, melalui kesadaran diri beragama individu dapat juga mengatasi permasalahan atau hambatan dan kesulitan yang sedang dihadapi dalam kehidupannya. Selain itu pentingnya kesadaran beragama agar individu mampu menghadapi permasalahan dan dapat mengembangkan atau mengendalikan situasi-situasi yang dialaminya menjadi lebih baik lagi. Orang yang memiliki kesadaran diri beragama yang matang adalah orang yang memiliki kepribadian yang matang juga. Pandangan yang dikemukakan oleh Allport (1962) dalam (Rosyadi & Nurul, 2016) mengemukakan bahwa terdapat tiga ciri-cirti kepribadian yang matang, antara lain :

1) Berkembangnya kebutuhan sosial psikologis, rohaniah dan arah minat yang menuju pada kebutuhan kehidupan.

2) Kemampuan mengadakan intropeksi, merefleksikan diri dan memandang diri secara objektif dan memiliki kemampuan untuk pemahaman tentang kehidupan.

3) Memiliki tujuan yang uuh untuk kehidupan yang bermakna.

Selain itu, kesadaran beragama memiliki fungsi yang ada pada motivasi dan emosi. Motivasi dalam kesadaran beragama berarti sebagai daya penggerak mengarahkan pada kehidupan yang lebih baik. Kesadaran beragama ini merupakan dasar dan arah dari kesiapan seseorang akan tanggapan, reaksi, pengolahan dan penyesuaian diri terhadap persoalan yang datang pada kehidupan.

(15)

Dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan dan fungsi kesadaran beragama individu, ialah membantu individu menjaga dan mencegah timbulnya permasalahan dalam kehidupan, membantu mengendalikan situasi yang semula tidak baik menjadi lebih baik dan membantu individu untuk mencari solusi dan keluar dari permasalahan yang dialaminya.

c. Indikator Sikap Bimbingan Kesadaran Beragama

Kesadaran beragama yang dimiliki oleh individu, menggambarkan sisi batin dalam kehidupan. Dari timbulnya kesadaran dan pengamalan beragama akan timbul sikap keagamaan yang ditampilkan oleh seseorang. Bentuk sikap kesadaran beragama seseorang dapat dilihat dari keterkaitan antara aspek kognisi, afeksi dan konasi karena sikap dibentuk melalui hasil belajar dari interaksi dan pengalaman, antara lain :

1) Aspek kognisi

Segala hal yang berhubungan dengan intelek manusia, dimana akal pikiran manusia adalah potensi yang dapat dikembangkan untuk mendorongnya melakukan perbuatan yang baik dan menghindarkan perbuatan yang buruk. Adanya kemampuan berpikir dan memahami perbuatan maka manusia membutuhkan pegangan hidup yaitu agama sehingga manusia percaya bahwa berlindung dan memohon pertolongan ada pada Allah SWT (Shofiah, 2010).

2) Aspek Afeksi

Segala hal yang berhubungan dengan perasaan (emosional) seperti senang, setuju dan tidak setuju, jika seseorang percaya bahwa agama ialah sesuatu yang baik dan benar maka akan timbul perasaan suka terhadap agama sehingga menimbulkan sikap batin yang seimbang dengan kebenaran agama (Shofiah, 2010).

3) Aspek Konasi

(16)

Segala sesuatu yang berhubungan dengan perilaku keagamaan.

Aspek ini mendorong seseorang mempunyai perasaan pada ajaran agama untuk mengamalkan ajarannya dengan penuh keikhlasan dalam hidupnya (Shofiah, 2010).

d. Materi Bimbingan Kesadaran Beragama

Materi bimbingan keagamaan dibentuk berdasarkan pencapaian dari tujuan yang akan dicapai. Adapun materi bimbingan keagamaan yang diajarkan, antara lain :

1) Materi Aqidah (tauhid atau keimanan)

Aqidah (keimanan) sebagai sistem kepercayaan yang berpokok pangkal atas kepercayaan dan keyakinan yang sungguh-sungguh akan keesaan Allah SWT. Aqidah berpegang teguh padanya, maka manusia hidup dalam keadaan yang baik dan menggembirakan tetapi bila manusia meninggalkan matilah semangat kerohaniannya. Aqidah merupakan tempat tertanamnya perasaan- perasaan yang indah dan luhur sebagai tumbuhnya akhlak yang mulia dan utama. Oleh karena itu aqidah dalam kehidupan manusia menjadi sumber kehidupan jiwa dan pendidikan manusia yang tinggi dikatakan demikian karena aqidah mendidik manusia untuk mengikhlaskan seluruh kehidupannya kepada Allah SWT. Hal ini akan membentuk karakter manusia yang suci, jujur dan teguh memegang amanah karena aqidah kekuatan yang besar untuk mengatur kehidupan manusia (Fakhmi Isfahani, 2015)

2) Materi syari’ah

Kaidah syari’ah adalah mengatur hubungan manusia dengan Tuhan. Dalam hal ini mencakup segala amal perbuatan yang mendekatkan hamba kepada Tuhannya untuk meningkatkan kearah kesempurnaan menurut tuntunan Allah. Ibadah syari’ah ini menjaga keseimbangan naluri antara kebutuhan jasmani dan rohani manusia. Ibadah syari’ah dijelaskan seperti syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji (Fakhmi Isfahani, 2015).

(17)

3) Materi Akhlakul Karimah

Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa dari padanya timbul perbuatan yang mudah tanpa memerlukan pertimbangan pikiran.

Akhlak karimah merupakan suatu sikap mental dan tingkah laku perbuatan yang luhur serta keyakinan atas ke-esaan Tuhan.

Bimbingan akhlakul karimah adalah faktor penting dalam membina suatu umat dan membangun suatu bangsa. Bimbingan akhlak sangat penting karena menyangkut sikap dan perilaku yang seharusnya ditampilkan oleh seseorang dalam hidupnya baik dalam perilaku pribadi dan sosial (Fakhmi Isfahani, 2015).

e. Metode Pelaksanaan Bimbingan Keagamaan

Pandangan yang dijelaskan oleh Abudin Nata dalam (Rahmat, 2019) ada beberapa metode yang dilakukan untuk pembinaan keagamaan, antara lain :

1) Metode nasehat, menurut al-qur’an metode nasehat diberikan kepada mereka yang melanggar peraturan dan nasehat adalah sasaran untuk timbulnya kesadaran pada orang yang diberi nasehat agar mau insaf melaksanakan ketentuan hukum atau ajaran yang dibebankan kepadanya.

2) Metode pembiasaan, metode ini digunakan untuk mengubah seluruh sifat-sifat beik menjadi kebiasaan, sehingga jiwa dapat menuaikan kebiasaan itu tanpa kehilangan banyak tenaga dan tanpa menemui banyak kesulitan.

3) Metode khutbah, metode ceramah termasuk cara yang paling banyak digunakan dalam menyampaikan atau mengajak orang lain untuk mengikuti ajaran yang telah ditentukan. Seperti halnya dengan metode diskusi, ceramah juga erat kaitannya dengan berdiskusi untuk memecahkan persoalan yang menjadi tema dari ceramah yang akan disampaikan.

4) Metode kisah-kisah, kisah yang diajarkan dalam metode ini sebagai metode pendidikan yang mempunyai daya tarik menyentuh

(18)

perasaan. Agama islam menyadari bahwa sifat alamiah manusia untuk menyenangi cerita dan sangat menyadari bahwa pengaruhnya besar terhadap perasaan yang akan membentuk aspek spiritual, sosial dan tindak sopan santun.

5) Metode lainnya, dapat berupa metode pemberian suasana, metode yang dilakukan bersama kelompok, metode bimbingan dan penyuluhan dimaksudkan sebagai metode yang mana manusia akan mampu mengatasi segala kesulitan hidup yang dihadapi atas dasar iman dan takwanya dan metode pertaubatan.

2. Resiliensi

a. Pengertian Resiliensi

Pandangan Shatter dan Revich dalam (Habibah, 2018) mengatakan bahwa resiliensi adalah kemampuan untuk merespon secara sehat dan produktif ketika menghadapi rintangan atau trauma.

Pandangan yang dikemukakan oleh Seligman dan Csikszentmihalyi 2000 dalam (Wiwin, 2018) fungsi dari manusia yang memiliki psikis positif menjadi karakteristik individu yang resilien di tengah tekanan berat dari permasalahan yang dialaminya. Individu yang resilien ditandai dengan kemampuannya untuk bangkit dari pengalaman atau peristiwa yang berdampak pada emosional negatif atau tekanan ketika menghadapi permasalahan yang dialaminya, sehingga berdampak positif bagi diri sendiri untuk dapat menjalani kehidupan. Bangkit dengan menunjukan fungsi dirinya yang positif merupakan poin pokok pertama yaitu, dengan adanya pengalaman hidup individu menumbuhkan emosi positif di tengah situasi sulit.

Dari beberapa definisi yang telah dipaparkan dapat ditarik kesimpulan terkait dengan pengertian resiliensi. Definisi resiliensi ini adalah kemampuan seseorang untuk melakukan adaptasi atau penyesuaian diri dari masalah yang sedang dialami dalam kehidupannya, sehingga ia dapat mengatasi kondisi yang penuh

(19)

tekanan, bangkit dari keterpurukan dan berkembang secara positif serta menjadi pribadi yang lebih baik.

b. Aspek-Aspek Resiliensi

Pandangan dari Revich K dan Shatte A memaparkan bahwa ada tujuh. Berikut penjelasan mengenai ketujuh aspek tersebut :

1) Regulasi Emosi (Emotional Regulation)

Regulasi emosi dikatakan seseorang dapat mengendalikan emosinya ketika dalam keadaan tertekan di masa sulit yang penuh tekanan. Seorang individu yang memiliki resilien akan menggunakan keterampilan untuk mengontrol emosi ketika cemas, marah dan sedih, atensi dan perilaku yang ditimbulkan akibat tekanan yang dialaminya.

Tidak semua emosi dapat dikendalikan dengan baik, ada beberapa pengaturan emosi yang dapat dilakukan oleh individu seperti emosi marah, sedih, gelisah, kecewa atau rasa bersalah pun dapat dikendalikan dengan baik apabila tidak adanya pengaturan emosi (Merlin, 2018).

2) Control impuls (Impuls Control)

Control impuls memiliki kaitan yang erat dengan regulasi emosi, jika seseorang memiliki control impuls yang kuat regulasi emosinya juga akan tinggi tetapi jika control impuls yang dimiliki individu lemah maka regulasinya akan rendah. Dengan control impuls individu dapat mengendalikan perilaku marah, cepat mengalami perubahan emosi dan bertindak agresif yang berdampak pada hubungan sosial dengan orang di sekitarnya (Merlin, 2018).

3) Optimisme (Optimism)

Individu yang memiliki sikap optimis tinggi, akan mampu memikirkan solusi di setiap permasalahannya. Individu yang optimis dapat mengontrol kehidupannya dibandingkan orang yang pesimis, karena yang optimis lebih sehat secara fisik, lebih produktif dalam bekerja. Optimis dalam sebuah kepercayaan yang dimilikinya akan terwujud di masa depan yang lebih baik diikuti dengan usaha untuk

(20)

mewujudkannya serta ia mempercayai dapat menyelesaikan permasalahannya dan untuk masalah yang muncul ke depan (Merlin, 2018).

4) Efikasi diri (Self Efficacy)

Seseorang yang memiliki efikasi diri akan memiliki keyakinan keluar dari permasalahan yang dialaminya dan dapat mencapai kesusksesan yang telah dirancang pada kehidupannya ke depan.

Pandangan dari Atwater dan Duffy, self-effency memiliki keterkaitan dengan konsep Perceived Control, yaitu suatu keyakinan bahwa individu mampu mempengaruhi keberadaan suatu peristiwa yang mempengaruhi kehidupannya (Merlin, 2018).

5) Kemampuan menganalisis masalah (Causal Anlysis)

Kemampuan menganalisis masalah memegang peranan penting dalam resiliensi seseorang. Pandangan konsep dari Revich & Shatte 2002 dalam (Heriyanto, 2020) individu yang memiliki pemikiran

“Selalu-Semua” akan mempengaruhi dirinya yang tidak mampu keluar dari permasalahannya. Berbeda dengan individu yang selalu berpikir “Tidak selalu-Tidak Semua” individu seperti ini akan mudah menemukan solusi ketika ia sedang memiliki permasalahan.

Seorang individu yang resilien ia tidak akan menyalahkan orang lain atau orang yang ada disekitarnya tentang permasalahan yang ia hadapi melainkan ia akan memikirkan bagaimana ia bisa bangkit dari keterpurukan dan berjuang untuk sukses dalam kehidupannya yang lebih baik dan bangkit untuk mencapai kesuksesannya.

6) Empati (Empathy)

Individu yang tidak mampu membangun kemampuan untuk berempati atau memiliki rasa kepekaan yang tinggi dengan tanda- tanda nonverbal di lingkungan sekitarnya ia tidak akan mampu menempatkan dirinya pada posisi orang lain dan merasakan apa yang orang lain rasakan. Pandangan Revich & Shatte dalam (Heriyanto, 2020) mengatakan apabila individu memiliki kemampuan untuk dapat

(21)

memahami dan mengerti bagaimana keadaan orang lain sehingga ia akan mampu untuk mengatasi permasalahan dalam kehidupannya.

7) Pencapaian (Reaching Out)

Reaching out diartikan kemampuan dari individu untuk menemukan, membentuk dan berbagi cerita atau masalah kepada orang lain untuk saling menemukan titik pemecahan permasalahan atau menggapai sesuatu yang lebih dimana orang lain tidak dapat mencapainya. Pandangan dari Revich & Shatte 2002 dalam (Heriyanto, 2020) resiliensi merupakan kemampuan yang meliputi peningkatan aspek positif dalam kehidupannya, antara lain: a) mampu membedakan resiko yang realistis dan tidak realistis, b) memiliki makna dan tujuan hidup serta ia mampu untuk melihat pandangan yang baik mengenai kehidupannya.

c. Sumber Resiliensi

Pandangan Grotberg dalam (Wiwin, 2018) memaparkan bahwa resiliensi sebagai kemampuan manusia untuk menghadapi, mengatasi dan menjadikan dirinya kuat ketika menghadapi rintangan dan hambatan, dengan adanya tiga komponen resiliensi yang dikemukakan oleh Grotberg antara lain I have, I am dan I can.

1) I have

I have kaitannya dengan lingkungan luar atau memperoleh dukungan dari orang disekitarnya. Sumber dari I have memiliki beberapa karakteristik untuk pembentukan resiliensi pada individu, antara lain :

- Hubungan yang dilandasi dengan kepercayaan (trust).

- Dorongan seseorang untuk menjadi mandiri.

2) I am

I am sumber resiliensi berkaitan kuat dengan kepribadian atau diri sendiri. Karakteristik I am pembentukan resiliensi, antara lain :

- Memiliki empati, kepedulian dan cinta terhadap orang lain.

(22)

- Optimis, percaya diri dan memiliki harapan akan masa depan.

- Memiliki tanggung jawab terhadap diri sendiri 3) I can

I can kaitannya dengan usaha seseorang dalam memecahkan masalah yang menjadi sumber kekuatan untuk menyelesaikan permasalahan dalam kehidupannya. I can dalam pembentukan resiliensi terdiri dari :

- Kemampuan untuk berkomunikasi.

- Problem solving atau pemecahan masalah.

- Kemampuan mengelola perasaan dan emosi.

- Kemampuan menjalin hubungan yang penuh kepercayaan.

Gabungan dari I have, I am dan I can akan menjadikan suatu kombinasi baik yang nantinya akan mempengaruhi resiliensi seseorang untuk dapat bertahan pulih dan bangkit dari keterpurukannya.

d. Faktor yang Mempengaruhi Resiliensi

Pandangan yang dikemukakan oleh Montheit & Gilboe (2002) dalam (Aryo & Habdy, 2014) ada dua faktor yang mempengaruhi resiliensi antara lain :

1) Personal Competence (Kompetensi Pribadi)

Kompetensi pribadi pada resiliensi adalah ia yang memiliki keyakinan terhadap dirinya sendiri, ia yang memiliki kemampuan sendiri, mandiri, berpendirian dan tekun serta gigih dalam menghadapi persoalan atau rintangan dalam kehidupannya.

2) Acceptence Of Self and Life (Penerimaan Diri dan Kehidupan) Individu yang memiliki pandangan bahwa ia dapat dan mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan bertahan pulih hal ini dimungkinkan untuk menjadi resilien dalam persoalan di kehidupannya. Merasakan hubungan sosial dengan orang lain akan

(23)

membantunya untuk dapat beradaptasi saat ia sedang berada di kondisi yang sedang ia alami baik dalam kesenangan atau kesedihan.

3. Narapidana

Narapidana adalah orang yang terpidana dan sedang dalam menjalani masa hukumannya di Lembaga Permasyarakatan dimana kemerdekaannya hilang. Meskipun narapidana kehilangan kemerdekaannya, mereka tetap memiliki hak-hak yang dilindungi oleh sistem dari permasyarakatan Indonesia (Adinda Ningrum, 2019). Pembinaan yang dilakukan oleh Lembaga Permasyarakat memiliki artian untuk memperlakukan seorang narapidana untuk dibangun kembali agar dapat bangkit dan nantinya akan menjadi seseorang yang baik dan menjadi individu yang memiliki aspek bermasyarakat yang baik (Hamja, 2015).

Narapidana divonis atas kejahatan yang telah dilakukannya, maka hak-hak sebagai warga Negara yang berada di lingkungan masyarakat akan dibatasi, tetapi narapidana masih mempunyai hak-hak dan tetap dilindungi dalam sistem permasyarakatan di Indonesia. Narapidana menginginkan untuk memiliki kehidupan yang bermakna, apalagi dengan kondisi yang ia rasakan akan merasakan kehidupan yang tidak bermakna. Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa narapidana adalah seorang tahanan atau terpidana yang sedang menjalani hukuman akibat kasus yang ia perbuat sesuai dengan masa tahanan yang telah ditentukan serta ia dapat mengalami gangguan psikologis yang membuatnya merasakan tekanan sehingga rentan terjadinya tindakan yang tidak diinginkan yang akan merugikan dirinya sendiri (Surianto, 2018).

4. Pencurian

Kasus tindak pidana pencurian sudah diatur di dalam Pasal 362 Undang-undang Hukum Pidana yang berbunyi : Barang siapa mengambil barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah

(24)

kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk menguasai benda tersebut secara melawan hak, maka ia dihukum karena kesalahannya melakukan pencurian dengan hukuman penjara selama-lamanya lima tahun atau denda setinggi-tingginya. Narapidana yang berada pada penjara untuk menjalani masa tahanannya, sangat banyak narapidana yang memiliki sikap yang kehilangan kepribadiannya. Dalam tindak pidana pencurian berbagai unsur melawan hukum objektif dan subjektif. Unsur objektif meliputi mengambil, suatu barang, yang seluruh atau sebagian milik orang. Sedangkan subjektif dengan maksud, untuk dimiliki dan secara melawan hukum (David, 2020).

Bahwa banyak narapidana yang mengalami krisis kepribadian akibat tergoncangnya psikologis mereka akan makna kehidupannya, seperti mengalami stress dan depresi dengan ditunjukannya perilaku narapidana yang cenderung menarik diri dari pergaulan antar sesama, duduk termenung, pandangan yang kosong seakan-akan memiliki beban pikiran yang begitu berat hingga melakukan tindakan yang merugikannya yaitu bunuh diri. Berdasarkan pengertian dari kasus pencurian diartikan bahwa dengan mengambil barang atau milik orang lain tanpa ijin atau diketahui pihak yang bersangkutan dapat dikatakan sebagai pencurian (Syahra, 2018).

B. Kajian Hasil Penelitian Terdahulu

Penelitian yang dilakukan oleh Nelly Lailatul Maghfiroh (2018) yang berjudul “Hubungan Pembinaan Keagamaan Dengan Kemampuan Coping Remaja Pada Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Tangerang Banten”. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan pembinaan keagamaan dengan kemampuan coping remaja pada LKPA dengan hasil korelasi sebesar 0,770. Dapat disimpulkan bahwa pembinaan keagamaan memiliki hubungan yang kuat dengan coping. Perbedaan penelitian yang akan diteliti adalah peneliti akan meneliti tentang hubungan antara bimbingan kesadaran beragama dengan resiliensi pada

(25)

narapidana kasus pencurian dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif korelasional.

Penelitian yang dilakukan oleh Rizal Fakhmi Isfahami (2015) yang berjudul “Peran Bimbingan Keagamaan Sebagai Terapi Perilaku Keagamaan Pegawai Di RSU: Qolbu Insan Mulia (QIM) Kab. Batang Jawa Tengah”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bimbingan keagamaan di rumah sakit Qolbu Insan Mulia Batang mempunyai pernanan terhadap perilaku keagamaan pegawai karena dengan adanya bimbingan keagamaan pegawai bisa lebih paham menjalankan ajaran agama di kehidupan sehari-hari. Perbedaan penelitian yang akan diteliti adalah peneliti akan meneliti tentang hubungan antara bimbingan kesadaran beragama dengan resiliensi narapidana kasus pencurian dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif korelasional.

Penelitian yang dilakukan oleh Muhimmatul Hasanah (2018) yang berjudul “Hubungan Antara Religiusitas Dengan Resiliensi Santri Pengahafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren”. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara religiusitas dengan resiliensi santri penghafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren Sunan Drajat ditunjukan dengan nilai (r) = 0,350 dan (p) = 0,013 (p<0,05). Perbedaan penelitian yang akan diteliti adalah peneliti akan meneliti tentang hubungan antara bimbingan kesadaran beragama dengan resiliensi narapidana kasus pencurian dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif korelasional.

Penelitian yang dilakukan oleh Eka Susanty dan Rintana Dewi (2016) berjudul “Hubungan Antara Resiliensi dengan Simpton Posttraumatic Stress Disorder (PTSD) pada Narapidana Wanita, Bandung”. Hasil penelitian menunjukan resiliensi digunakan sebagai indikator kebutuhan penanganan psikologis dan mengantisipasi kemunculan simtom PTSD pada narapidana. Perbedaan penelitian yang

(26)

akan diteliti adalah peneliti akan meneliti tentang hubungan antara bimbingan kesadaran beragama dengan resiliensi narapidana kasus pencurian dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif korelasional.

Penelitian Chelsie Ireine Finka dan Berta Esti Ari Prasetya (2018) berjudul “Relationship Between Spiritual Intelligence with Resilience in Teenagers Born in Poor Families”. Hasil penelitian terdapat hubungan positif antara kecerdasan spiritual dengan resiliensi pada remaja yang terlahir dalam keluarga miskin dengan r = 0,422 (p<0,05). Perbedaan penelitian pada fokus penelitian hubungan kecerdasan spiritual dengan resiliensi remaja design penelitian menggunakan penelitian kuantitatif korelasional. Sedangkan peneliti berfokus hubungan antara bimbingan kesadaran beragama dengan resiliensi narapidana pada kasus pencurian dengan design penelitian yang sama.

Dari penelitian diatas sejauh yang peneliti temukan, peneliti memfokuskan penelitian terkait bimbingan kesadaran beragama dengan resiliensi yang ada pada subjek narapidana. Oleh karena itu, berangkat dari masih sedikitnya penelitian terkait hal tersebut, maka dalam penelitian ini mencoba untuk melakukan penelitian terkait “Hubungan Antara Bimbingan Kesadaran Beragama Dengan Resiliensi Pada Narapidana Kasus Pencurian di Lembaga Permasyarakatan Kelas IIA Wirogunan Yogyakarta”.

C. Kerangka Berfikir

Berdasarkan teori yang mendukung penelitian “Hubungan Antara Bimbingan Kesadaran Beragama Dengan Resiliensi Pada Narapidana Kasus Pencurian di Lembaga Permasyarakatan Kelas IIA Wirogunan Yogyakarta” maka dibuat suatu kerangka berfikir sebagai berikut :

Kesadaran beragama diartikan sebagai suatu kondisi individu yang memiliki sikap keagamaan, kepribadian, sikap dan sifatnya berlandaskan pada keyakinannya kepada Allah SWT. Kesadaran diri beragama

(27)

seseorang dipengaruhi oleh beberapa aspek sikap keberagamaannya seperti aspek kognisi, aspek afeksi dan aspek konasi. Individu yang memiliki kesadaran beragama dapat mendorong kepercayaan yang ada pada dirinya sendiri, sehingga dapat mengendalikan diri sendiri ketika terjadi persoalan dalam kehidupan serta pengambilan keputusan yang tepat untuk membentuk kehidupannya lebih baik.

Narapidana yang terus memikirkan bahwa kebermaknaan hidupnya hilang karena ia telah menjadi narapidana yang berstatus tahanan, dipengaruhi oleh pengoptimalan emosi dan perasaan yang mengarah pada kesadaran diri seseorang. Narapidana yang beresilien akan memiliki kemampuan dalam mempertahankan keadaan untuk bangkit dari kesulitan dan keterpurukan. Pentingnya kesadaran beragama yang didapatkan oleh narapidana sebagai titik untuk mengoptimalkan dan memulihkan keadaan agar tetap memiliki resiliensi tinggi untuk menjalani kehidupan selama masa tahanan dan dapat menjadi bekal sesudah masa tahanan untuk kembali pada kehidupan bermasyarakat. Bimbingan kesadaran beragama akan menunjukan kematangan sikap ketika narapidana menghadapi permasalahan yang sedang dialaminya, sehingga narapidana memiliki resiliensi tinggi yang akan membantu untuk menyesuaikan diri, bertahan pulih serta bangkit dari keterpurukan selama menjalani masa tahanan dan akan membangun arah kehidupan yang lebih baik.

Dalam hal ini dapat dilihat bahwa bimbingan kesadaran beragama juga dapat menjadi resiliensi dalam kehidupan narapidana, pada dasarnya dalam menghadapi masa-masa sulit kesadaran beragama yang dimiliki oleh narapidana dapat efektif untuk membantu narapidana mengendalikan diri dan membangun hubungan baik dengan diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya. Kerangka berpikir, hubungan antara bimbingan kesadaran beragama dengan resiliensi pada narapidana kasus pencurian di Lembaga Permasyarakatan Kelas IIA Wirogunan Yogyakarta juga digambarkan dalam bagan di bawah ini :

(28)

Gambar 1.1 Kerangka Berfikir

D. Hipotesis Penelitian

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian. Berdasarkan kajian teori dan kerangka berfikir di atas, diajukan hipotesis sebagai berikut :

1. Ha : Ada hubungan antara bimbingan kesadaran beragama (X) dengan resiliensi (Y) pada narapidana kasus pencurian di Lembaga Permasyarakatan Kelas IIA Wirogunan Yogyakarta.

2. Ho : Tidak ada hubungan antara bimbingan kesadaran beragama (X) dengan resiliensi (Y) pada narapidana kasus pencurian di Lembaga Permasyarakatan Kelas IIA Wirogunan Yogyakarta.

Sikap Kesadaran Beragama 1. Aspek Kognisi (Akal

pikiran, Memahami diri) 2. Aspek Afeksi (Perasaan,

Menerima diri)

3. Aspek Konasi (Perilaku keagamaan, Mengarahkan diri)

Resiliensi 1. Regulasi Emosi 2. Kontrol implus 3. Efikasi diri 4. Optimis 5. Empati 6. Pencapaian 7. Kemampuan

menganalisis masalah

(29)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Dalam melakukan penelitian, seorang peneliti harus menggunakan jenis penelitian yang tepat untuk tema permasalahan yang akan diteliti.

Metode penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Menurut Creswell dalam (Duli, 2019) penelitian kuantitatif merupakan jenis penelitian yang menjelaskan fenomena dengan mengumpulkan data numerik yang dianalisis menggunakan metode berbasis matematika, utamanya statistik. Sedangkan pandangan dari Sugiyono dalam (Sarwono, 2016) penelitian kuantitatif digunakan meneliti status kelompok manusia, suatu kondisi digunakan untuk meneliti populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrument penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.

Sedangkan jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian asosiatif. Penelitian asosiatif menurut Sugiyono (2017) dalam (Narlan & Tri, 2018) merupakan jenis penelitian berupa suatu pernyataan yang menunjukan dugaan tentang hubungan antara dua variabel atau lebih. Bentuk hubungan antara variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah hubungan kasual. Hubungan kasual adalah hubungan sebab akibat antara variabel indepeden (X) yakni bimbingan kesadaran beragama dan variabel dependen (Y) yaitu resiliensi.

Penelitian ini ditunjukkan untuk memperoleh bukti dan menjelaskan hubungan antara bimbingan kesadaran beragama dengan resiliensi pada narapidana kasus pencurian di Lembaga Permasyarakatan Kelas IIA Wirogunan Yogyakarta.

(30)

B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat

Penelitian ini dilakukan di Lembaga Permasyarakatan Kelas IIA Wirogunan yang berlokasi di Jalan Tamansiswa No. 6 Yogyakarta.

Peneliti memilih tempat tersebut karena sebelumnya peneliti sudah melakukan observasi dan mengetahui keadaan warga binaan dari beberapa informasi yang didapat dari warga binaan dan petugas Lapas.

2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian ini dimulai sejak bulan Februari 2021-Selesai.

Waktu digunakan dalam melakukan penelitian itu dimulai dari pra penelitian sampai selesai tersusunnya laporan penelitian.

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Pandangan dari Sugiyono dalam (Sugiyono, 2016) populasi adalah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Berdasarkan dengan definisi populasi tersebut yaitu keseluruhan obyek yang menjadi sasaran penelitian dan sampel akan diambil dari populasi ini. Populasi termasuk dalam salah satu bagian dari penelitian, dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh narapidana kasus pencurian di Lembaga Permasyarakatan Kelas IIA Wirogunan Yogyakarta yang berjumlah 52 orang.

2. Sampel

Sampel adalah bagian kecil dari suatu populasi yang akan diteliti secara mendalam, bila populasi besar dan peneliti tidak dapat mempelajari semua yang ada pada populasi misalnya keterbatasan tenaga dan waktu, peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi (Chandra, 1995). Dalam penelitian ini menggunakan teknik sampling purposive. Menurut (Sugiyono, 2016) sampling purposive

(31)

adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Dengan menggunakan teknik slovin dengan rumus:

Keterangan :

n : Anggota atau unit sampel N : Jumlah populasi

e : Eror yang ditoleransi karena menggunakan sampel sebagai pengganti anggota populasi, eror yang digunakan 10%.

Dengan rumus diatas, maka perhitungan sampel adalah : n = 52/(1+52(10%)2)

n = 52/(1+52(0,1)2)

n = 52/(1+52 (0,01)) n = 52/(1+0,52)

n = 52/1,52 = 34, 21 = 35

Jadi jumlah sampel yang penulis ambil adalah 35 narapidana kasus pencurian.

3. Teknik sampling

Proses pengambilan sampel dilakukan secara tidak acak, melainakn pengambilan sampel juga memenuhi kriteria sebagai berikut :

1) Narapidana kasus pencurian yang beragama islam.

2) Narapidana yang mengikuti bimbingan keagamaan minimal 3 bulan.

D. Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dengan menggunakan angket atau kuisioner. Alasan menggunakan angket adalah karena angket mempunyai

(32)

banyak kebaikan sebagai instrument pengumpulan data. Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang hubungan antara bimbingan kesadaran beragama dengan resiliensi pada narapidana kasus pencurian di Lembaga Permasyarakatan Kelas IIA Wirogunan Yogyakarta. Pengumpulan data menggunakan angket yang akan diberikan kepada narapidana kasus pencurian dengan angket pernyataan yang bersifat tertutup.

1. Angket

Pandangan yang dikemukakan oleh Sugiyono (2008) dalam (Nugroho, 2018) angket adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis. Angket diberikan kepada narapidana kasus pencurian di Lembaga Permasyarakatan Kelas IIA Wirogunan Yogyakarta. Untuk pengisian angket, peneliti akan menemui secara langsung narapidana yang memiliki kasus pencurian.

Kuesioner yang digunakan dalam penelitian adalah model tertutup disediakan dan pengukuran menggunakan skala likert. Skala likert merupakan instrument pengumpulan data yang menggunakan lima alternatif penjelasan dari kondisi yang sangat favourable (sangat mendukung) hingga unfavourable (sangat tidak mendukung). Skala Likert menurut (Sugiyono, 2016) digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Jawaban dari setiap item instrument yang menggunakan skala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif. Untuk keperluan analisis kuantitatif, maka jawaban dapat diberikan skor, sebagai berikut :

Table 2.1 Tabel Skala Likert

No Item Favourable Unfavourable

1. Sangat Setuju (SS) 4 1

(33)

Dalam melakukan pengukuran menggunakan skala, semakin tinggi nilai yang dicapai semakin tinggi pula pengaruh bimbingan kesadaran beragama dengan resiliensi pada narapidana kasus pencurian.

2. Dokumentasi

Pandangan yang dikemukakan oleh Arikunto (2006) dalam (Nugroho, 2018) dokumentasi adalah mencari dan mengumpulkan data mengenai hal-hal yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, notulen, rapot, agenda.

E. Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah karakteristik yang akan diobservasi dari satuan pengamatan. Karakteristik yang dimiliki satuan pengamatan keadaannya berbeda-beda (berubah-ubah) atau untuk satuan pengamatan yang sama, karakteristiknya berubah menurut waktu atau tempat (Ali &

Abdurrahman, 2017). Variabel dalam penelitian kuantitatif dibagi menjadi dua yaitu, variabel yang mempengaruhi disebut variabel penyebab, variabel bebas atau independent variabel (X) dan variabel yang dipengaruhi disebut variabel akibat, terikat, atau dependent variabel (Y).

Variabel dalam penelitian ini yaitu :

1. Variabel Independen (bebas) adalah variabel yang menciptakan atau mempengaruhi suatu dampak adalah Bimbingan Kesadaran Beragama (X).

2. Variabel dependent (terikat) adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas yaitu Resiliensi (Y).

F. Definisi Operasional

1. Bimbingan Kesadaran Beragama

2. Setuju (S) 3 2

3. Tidak Setuju (TS) 2 3

4. Sangat Tidak Setuju (STS) 1 4

(34)

Kesadaran diri beragama membuat individu dapat merencanakan kegiatan atau melaksanakan rencana kehidupan di masa yang akan datang. Orang yang memiliki kesadaran diri beragama yang matang melalui bimbingan adalah orang yang memiliki kepribadian yang matang juga. Blue print dan skala psikologi yang penulis ambil dari skripsi yang berjudul “Pengaruh Bimbingan Agama Terhadap Kesadaran Beragama Narapidana Di Lembaga Permasyarakatan Klas IIA Salemba Jakarta Pusat” yang disusun oleh Nurmayasari kemudian di modifikasi oleh penulis.

Table 3.1 Kisi-Kisi Bimbingan Kesadaran Beragama Sebelum Try Out

No. Aspek Indikator No. Item Jml

Favourable Unfavourable

1. Kognisi Narapidana

mengetahui tujuan dari setiap kegiatan

agama yang

diberikan oleh pembimbing

10, 15 4

9 Narapidana

memahami materi yang disampaikan oleh pembimbing agama

6, 14, 29 2, 22, 28

3. Konasi Narapidana

merubah sikap dan perilakunya menjadi lebih baik setelah menerima materi bimbingan

1, 9, 27 21, 23

10 Menerapkan materi

bimbingan

kesadaran beragama yang diberikan

5, 19, 30 3, 13

4. Afeksi Narapidana

merasakan adanya manfaat dari materi bimbingan

11, 17 7, 16, 25

11 Narapidana

memperhatikan materi dan kegiatan bimbingan

20, 26 12

Narapidana

menanggapi materi dan kegiatan

8 18, 24

(35)

bimbingan

TOTAL 16 14 30

(Nurmayasari, 2018) 2. Resiliensi

Beberapa istilah dijabarkan sebelum kata resiliensi digunakan, seperti invulnerable (kekebalan), invicable (ketangguhan) dan hady (kekuatan).

Blue print dan skala psikologi yang penulis ambil dari skripsi yang berjudul “Resiliensi Pada Remaja Binaan Bapas Ditinjau Dari Coping Stress ” yang disusun oleh Cantika Yeniar Pasudewi, kemudian di modifikasi oleh penulis.

Table 4.1 Kisi-Kisi Resiliensi Sebelum Try Out

No Variabel

Resiliensi

Indikator Item Favorable Item Unfavorable

Jumlah

1. Regulasi Emosi a. Merasa tenang.

b. Tidak merasa cemas.

c. Tetap memiliki pikiran positif ketika emosi

2, 46 6 10

32, 38 29, 41 36

9

2. Pengendalian implus

a. Mampu beradaptasi b. Mampu

mengendalika n diri.

1, 40 5,33

18

14, 45 7

3. Optimis a. Percaya diri.

b. Memiliki keyakinan diri.

c. Dapat berubah lebih baik.

9, 50 13, 42

17, 49

47 25, 43

20

10

4. 9 Causal analysis a. Sikap penerimaan diri.

b. Sikap

kewaspadaan.

11, 15

19

12, 28

34

6

5. Self-effency a. Mampu bangkit dari keterpurukan.

b. Bertahan pulih

3, 7

35, 44

4

30

6

6. Empati a. Kepedulian

yang tinggi.

b. Memiliki rasa

16, 39 22

5

(36)

(Yeniar Pasudewi, 2013)

Table 5.1 Kisi-Kisi Bimbingan Kesadaran Beragama Sesudah Try Out

No. Aspek Indikator No. Item Jml

Favourable Unfavourable

1. Kognisi Narapidana

mengetahui tujuan dari setiap kegiatan

agama yang

diberikan oleh pembimbing

9, 12 4

8 Narapidana

memahami materi yang disampaikan oleh pembimbing agama

11, 24 2, 17, 23

3. Konasi Narapidana

merubah sikap dan perilakunya menjadi lebih baik setelah menerima materi bimbingan

1, 8, 22 16, 18

8 Menerapkan materi

bimbingan

kesadaran beragama yang diberikan

5, 25 3

4. Afeksi Narapidana

merasakan adanya manfaat dari materi bimbingan

10 6, 13, 20

Narapidana 9 memperhatikan materi dan kegiatan bimbingan

20, 26

Narapidana

menanggapi materi dan kegiatan bimbingan

7 14, 19

TOTAL 13 12 25

toleransi. 21 26

7. Reaching out a. Memiliki perencanaan kedepan.

b. Asertif dalam berpikir.

37, 48

23, 27, 31

8

24

7

TOTAL ITEM 29 21 50

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Data such recorded are the block number, destination address, source address, transaction value, hashing algorithms, and so on; however, one of the most important data recorded, is

Stage II is applying aggregate planning strategies with heuristic methods (trial error) which is include four strategies ; labour size control, inventory

wawancara, mayoritas mahasiswa menyatakan telah mengalami kesulitan dalam penerapan Ilmu al-Nahwi dan Ilmu al-Sharfi. Faktor yang menyebabkan kesulitan belajar yang

Analisis Pengaruh Komunikasi Organisasi (X1) dan Kompensasi (X2) terhadap Kepuasan Kerja Guru (Y) Pada Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah Swasta di Cimahi

Judul : IDENTIFIKASI KERAGAMAN DAN FAKTOR FISIK PENDUKUNG CHLOROPHYTA PADA PERAIRAN TAWAR SEKITAR KAMPUS UNNES. Program : DIK Tahun : 2002 Status :

Pokja Pengadaan Barang/Jasa ULP Universitas Mataram akan melaksanakan Seleksi Sederhana dengan pascakualifikasi untuk paket pekerjaan jasa konsultansi secara

Pada hari ini Senin tanggal delapan bulan Oktober tahun dua ribu dua belas, kami Kelompok Kerja (Pokja) Pengadaan Barang Tim 6 Unit Layanan Pengadaan

secara berkelompok untuk menjawab pertanyaan tentang pengertian, jenis, karakteristik, lingkup usaha jasa wisata; serta hubungan antara berbagai usaha jasa wisata guna