SKRIPSI
OLEH : KAMWAR HAKIM
NIM:131000168
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2018
SKRIPSI
Skripsi ini diajukan sebagai Salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Kesehatan Masyarakat
OLEH : KAMWAR HAKIM
NIM:131000168
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2018
KANDUNGAN MERKURI (Hg) PADA AIR SUMUR GALI MASYARAKAT DISEKITAR PENGOLAHAN LIMBAH TAMBANG EMAS TRADISIONAL DESABANUA RAKYAT KECAMATAN NAGA JUANG KABUPATEN MANDAILING NATAL TAHUN 2018” ini beserta seluru isinya benar hasil karya sendiri, dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung resiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya ketika keilmuan dalam karya saya ini atau klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.
Medan, Juli 2018
Kamwar Hakim 131000168
TRADISIONALDESA BANUA RAKYAT KECAMATAN NAGA JUANG KABUPATEN MANDAILING
NATAL 2018
Yang disiapkan dan dipertahankan oleh
Kamwar Hakim NIM. 131000168
Disahkan oleh : Komisi Pembimbing
dan konstuksi bangunan fisik sumur gali. Seiring dengan ditemukannya beberapa daerah prospek emas di Mandailing natal, khususnya di kecamatan Naga Juang, semakin tinggi pula penambangan yang dilakukan masyrakat tanpa izin. Kegiatan penambangan umum nya menimbulkan kerusakan lingkungan disekitar pengolahan pertambangan. Penambangan emas tradisionl memberi dampak negatif, Yaitu diperkirakan tercemarnya sumber air minum dan air bersih di Desa Banua Rakyat karena lokasi pengolahan penambangan emas tradisional tersebut terletak disekitar pemukiman masyrakat setempat.
Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui proses pengolahan penambangan emas tradisional, untuk mengetahui kadar merkuri (Hg) pada bak pembuangan air limbah dan untuk mengetahui kadar didalam air sumur gali masyrakat berdasarkan jarak dari pengolahan pertambangan emas tradisional.
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif. Sampel diperoleh dari bak pembuangan air limbah dan air sumur warga Desa Banua Rakyat Kecamatan Naga Juang Kabupaten Mandailing Natal kemudian di periksa di Laboratorium (Baristand).
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa 1 sampel dari air pembuangan limbah positif mengandung merkuri dengan kandungan paling tinggi sampel pembuangan air limbah yaitu 0,14 mg/l. Dari pemeriksaan sumur gali di temukan kadar merkuri 0,02 mg/l. Yang di Perbolehkan adalah 0,001 mg/l.
Keberadaan Merkuri (Hg) dalam tubuh manusia memiliki dampak yang tidak baik bagi kesehatan untuk jangka pendek atau jangka panjang. Oleh karena itu, masyrakat penambang disarankan agar memperhatikan jarak pengolahan penambangan terhadap pemukiman masyrakat minimal mulai jarak 200 meter dari pengolahan penambangan emas tradisional agar masyrakat aman dan air yang di konsumsi masyrakat tidak terkontaminasi Merkuri (Hg).
Kata kunci : Merkuri , Jarak, Air Sumur
some gold prospect areas in Mandailing natal, especially in Naga Juang subdistrict, the higher the mining is done by community without permission. Its general mining activities cause environmental destruction around mining processing. Traditional gold mining has a negative impact. It is estimated that drinking water and clean water source in Banua Rakyat Village is being destroyed because the location of traditional gold mining is located around the local community's settlement.
Examination is done to know the process of traditional gold mining, to know the mercury (Hg) level in the waste water disposal and to know the level of deep water dug wells society based on the distance from traditional gold mining process. This research is descriptive research. Samples were obtained from the waste water disposal and well water of the people of Banua Rakyat Village, Naga Juang Sub-district, Mandailing Natal Regency, then examined in the laboratory (Baristand).
Based on the results of the study indicated that 1 sample of positive waste water disposal contained mercury with the highest content of waste water disposal sample that is 0.14 mg / l. From the examination of dug wells found mercury content of 0.02 mg / l. Allowable is 0.001 mg / l.
The presence of mercury (Hg) in the human body has an adverse impact on health for short or long term. Therefore, the people of the miners are advised to pay attention to the distance of the mining processing to the settlement of the community at least 200 meters from the traditional gold mining process in order to secure the community and the water consumed by the community is not contaminated by Mercury (Hg).
Keywords: Mercury, Distance, Well Water
Kandungan Merkuri (Hg) Pada air Sumur Gali Masyarakat Di Sekitar Pengolahan Limbah Tambang Emas Tradisional Desa Banua Rakyat Kecamatan Naga Juang Kabupaten Mandailing Natal 2018.”. Skripsi ini disusun guna memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Selama penulisan skripsi ini, penulis banyak mendapat bimbingan, dukungan, dan bantuan dari berbagai pihak secara moril maupun materil. Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum., selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si., selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara dan para wakil dekan.
3. Dr. dr. Taufik Ashar, MKM., selaku Ketua Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
4. Dr. dr. Taufik Ashar, MKM., selaku Dosen Pembimbing I dan juga Ketua Penguji yang telah banyak meluangkan waktu untuk memberikan saran, bimbingan, dan arahan selama penulisan skripsi ini.
6. Dr.dr. Wirsal Hasan. M.P.H., selaku Dosen Penguji I yang memberikan masukan dan saran untuk kesempurnaan skripsi ini.
7. Ir. Indra Cahaya S. M.Si selaku Dosen Penguji II yang memberikan masukan dan saran untuk kesempurnaan skripsi ini.
8. dr. Ria Masniari Lubis., selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah membimbing penulis selama mengikuti pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
9. Seluruh dosen dan staf pegawai Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan bekal ilmu selama mengikuti pendidikan.
10. Terkhusus kepada kedua orang tua saya yang sangat saya sayangi, ayah Indra Mulia Harahap, Ibu Nur Hafnida Batubara, yang selalu mendoakan saya serta mendukung segala hal yang saya butuhkan dan memberikan semangat untuk saya selama dalam pendidikan.
11. Kepada Tante, drg. Rita asmarida batubara,kepada Saudara Rahmad Arnand , Saudari Dina sholiha yang selalu menyemangati dan memberi banyak dukungan.
12. Sahabat –sahabat terbaik Irvan Japardi S, Julham Sahputra H SKM, Findy Anwari L, Leon Jonathan N SKM, Reza Ahmad Fahmi Ginting SKM, yang memberikan dukungan dan motivasi.
Akhir kata, semoga Allah selalu melimpahkan rahmad dan kasih-Nya kepada kita dan penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat untuk pembaca.
Medan, 28 Juni 2018
Kamwar Hakim
HALAMAN PENGESAHAN ...ii
ABSTRAK ...iii
ABSTRACT ...iv
KATA PENGANTAR ...v
DAFTAR ISI ...viii
DAFTAR TABEL ...xi
DAFTAR GAMBAR ...xii
DAFTAR LAMPIRAN...xiii
RIWAYAT HIDUP ...xiv
BAB I PENDAHULUAN ...1
1.1 Latar Belakang...1
1.2 Perumusan Masalah ...5
1.3 TujuanPenelitian ...6
1.3.1 Tujuan Umum ...6
1.3.2 Tujuan Khusus ...6
1.4 Manfaat Penelitian ...6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...7
2.1 Pengertian Air...7
2.2 Air Bersih ...8
2.2.1 Sumber Air ...8
2.2.2 Syarat Air Bersih ...11
2.2.2.1 Persyaratan Biologis ...11
2.2.2.2 Persyaratan Fisik ...12
2.2.2.3 Persyaratan Kimia ...12
2.2.2.4 Persyaratan Radioaktif ...12
2.3 Sumber Pencemaran Air ...12
2.4 Pencemaran Air ...14
2.4.1 Polutan Air ...14
2.5 Idikator Pencemaran Air ...16
2.5.1 Perubahan Suhu Air ...16
2.5.2 Perubahan pH atau Konsentrasi Ion Hidrogen ...17
2.5.3 Perubahan Warna, Bau dan Rasa Air ...17
2.5.4 Timbulnya Endapan, Koloidal dan Bahan Terlarut ...18
2.5.5 Mikroorganisme ...19
2.5.6 Meningkatnya Radioaktivitas Air ...20
2.6 Penambangan Emas Tradisional ...20
2.7 Ekstraksi Emas...21
2.7.1 Pencairan ...22
2.7.2 Amalgasi...23
2.8.4 Kenetika Merkuri ...28
2.8.5 Sifat Merkuri ...29
2.8.6 Pencemaran Merkuri di Lingkungan ...30
2.8.7 Senyawa Merkuri Anorganik ...31
2.8.8 Senyawa Meruri Organik ...32
2.9 Efek Merkuri pada Manusia ...33
2.9.1 Keracunan Akut ...33
2.9.2 Keracunan Kronis ...34
2.9.3 Pencegahan Pencemaran Merkuri...35
2.9.4 Penanggulangan Toksisitas Merkuri...36
2.10 Kerangka Konsep...37
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ...38
3.1 Jenis Penelitian ...38
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian...38
3.2.1 Lokasi Penelitian ...38
3.2.2 WaktuPenelitian ...38
3.3 Populasi dan Sampel ...39
3.3.1 Populasi ...39
3.3.2 Sampel ...39
3.4 Objek Penelitian...39
3..4.1 Air Sumur ...39
3.4.2 Responden ...39
3.5 Metode Pengumpulan Data ...40
3.5.1 Data Primer ...40
3.5.2 Data Sekunder ...40
3.6 Pelaksanaan Penelitian ...40
3.6.1 Pengambilan dan Pengiriman Sampel ke Laboratorium ...40
3.6.2 Pemeriksaan sampel di Laboratorium ...40
3.6.2.1 Alat dan Bahan ...40
3.6.2.1.1 Alat ...40
3.6.2.1.2 Bahan ...41
3.6.2.2 Persiapan Sampel ...41
3.6.2.2.1 Pengujian Raksa Terlarut ...41
3.6.2.2.2 PengujianRaksa Total ...41
3.6.2.3 Pembuatan Larutan Baku Raksa ...42
3.6.2.4 Prosedur Analisa dan Pengoprasian Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) ...42
3.6.2.4.1 Prosedur Analisa ...42
3.6.2.4.2 Pengoprasian Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) ...43
4.1.2. Gambaran Kependudukan ...46
4.2. Distribusi Penyakit Terbesar di Desa Banua Rakyat ...46
4.3. Hasil Penelitian ...47
4.3.1. Karaktristik Penduduk Desa Banua Rakyat Berdasarkan Kuesioner...47
4.3.1.1. Cara Memperoleh Sumber Air yang Digunakan Untuk Keperluan Sehari-hari di Desa Banua Rakyat Kecamatan Naga Juang Tahun 2018 ...47
4.3.1.2. Penggunaan Sumber Air Sumur Gali Untuk Keperluan Sehari-hari di Desa Banua Rakyat Kecamatan Naga Juang Tahun 2018 ...47
4.3.1.3. Lama Menggunakan Sumber Air Sumur Gali Masyarakat di Desa Banua Rakyat Tahun 2018 ...47
4.3.1.4.Ciri-Ciri Perubahan Fisik Air Seperti Bau, Perubahan Warna, Rasa dan Kekeruhan Air Sumur Gali Masyarakat di Desa Banua Rakyat 2018...48
4.3.1.5. Keluhan Kesehatan yang Dirasakan Karena Menggunakan Sumber Air Sumur Gali di Desa Banua Rakyat Kecamatan Naga Juang Tahun 2018 ...48
4.4.Hasil Kandungan Merkuri ...48
4.4.1 Hasil Kandungan Merkuri (Hg) pada Bak Penampungan...48
4.4.2. Hasil Kandungan Merkuri (Hg) Pada Air Sumur Gali...48
4.5. Proses Pengolahan Pertambangan Emas Tradisional...50
BAB V PEMBAHASAN ...53
5.1. Kandungan Merkuri ...53
5.1.1. Kandungan Merkuri (Hg) Pada Bak Penampungan...53
5.1.2. Kandungan Merkuri Pada Air sumur Gali...54
5.1.3. Karakteristik Sumur Gali Masyrakat...55
5.2. Keluhan Kesehatan Masyarakat di Desa Banua Rakyat ...58
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN...59
6.1. Kesimpulan...59
6.2. Saran...60
DAFTAR PUSTAKA ...62 LAMPIRAN
Tabel 4.4.1 Kandungan Merkuri (Hg) pada Bak Pembuangan Air Limbah Pertambangan Emas Tradional di Desa Banua Rakyat Kecamatan Naga Juang Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2018 ... 49 Tabel 4.4.1 Kandungan Merkuri (Hg) pada Air Sumur Masyarakat di Desa
Banua Rakyat Kecamatan Naga Juang Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2018... 49
Lampiran 5. Hasil Uji Laboratorium
Mandailing Natal. Penulis merupakan anak pertama dari lima bersaudara.
Ayahanda bernama Indra Mulia Harahap dan ibunda Nur Hafnida Batu Bara.
Pendidikan formal dimulai sejak Taman Kanak-kanak di TK Muhammadiyah Simangambat pada tahun 1999 sampai dengan 2001, Sekolah Dasar di SD Muhammadiyah Sibaruang pada tahun 2001 sampai dengan 2007, Sekolah Menengah Pertama di Mts-n Siabu pada tahun 2007 sampai dengan 2010, Sekolah Menengah Atas pada di MAN Panyabungan pada tahun 2010-2013. Pada tahun 2013 penulis melanjutkan pendidikan Strata 1 (S1) di Universitas Sumatera Utara Fakultas Kesehatan Masyarakat Program Studi Kesehatan Masyarakat di Departemen Kesehatan Lingkungan yang di selesaikan pada tahun 2018.
1.1 Latar Belakang
Air adalah unsur kehidupan yang sangat mendasar mencakup semua aktivitas manusia. Tidak semua air di dunia dapat dimanfaatkan langsung oleh manusia, karena pada kondisi dan keadaan tertentu air baku harus terlebih dahulu diolah atau diproses menjadi air bersih yang sesuai dengan standar kesehatan. Air bawah permukaan merupakan sumber air terbesar yang dieksploitasi manusia sehingga untuk mencukupi kebutuhan akan air yang selalu meningkat, manusia selalu berusaha mencari sumber-sumber air tanah yang baru (Hendrayana, 2004).
Air yang digunakan manusia adalah air permukaan tawar dan air tanah murni.pada daerah kering sebagian kebutuhan air nya berasal dari lautan, suatu sumber yang akan menjadi penting setelah persedian air tawar dunia relative berkurang dibandingkan kebutuhan lainnya. Meningkatnya kebutuhan air ini bukan hanya disebabkan oleh jumlah penduduk dunia yang makin bertambah, juga sebagai akibat dari peningkatan taraf hidup nya diikuti oleh peningkatan kebutuhan air untuk keperluan rumah tangga, industri, rekreasi sambil pertanian (Achmad,2004).
Dalam UU No. 32 Tahun 2009, tentang Perlindungan dan Pengelolaan lingkungan Hidup, pencemaran lingkungan didefenisikan sebagai: Pencemaran lingkungan hidup adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan.
Demikian juga halnya dengan lingkungan perairan akan terkena dampak pencemaran dari proses industri dari kegiatan manusia dalam mengekpliotasi lingkungan, sehingga air akan menjadi tercemar dan tidak bisa dimanfaatkan lagi oleh manusia untuk kebutuhan hidupnya,
Menurut Peraturan Pemerintah RI No 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran air, disebutkan bahwa pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.
Pada bagian lampiran Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No.5 Tahun 2014 tersebut, disebutkan baku mutu air limbah berdasarkan jenis industrinya.Sebagai contoh, bisa anda temukan baku mutu air limbah untuk industri pelapisan logam, industri galvanis, industri petrokimia hulu dan industri gula.
Pencemaran dapat berasal dari industri, pertambangan, domestik, maupun sumber alami dari batuan akhirnya sampai ke sungai atau laut selanjutnya mencemari manusia melalui ikan, air minum, atau air sumber irigasi lahan pertanian sehingga tanaman sebagai sumber pangan manusia tercemar. Suatu tatanan lingkungan hidup dapat tercemar atau menjadi rusak disebabkan oleh banyak hal dan yang paling utama yang menjadi penyebabnya adalash limbah, antara lain limbah kimia yang mengandung bahan toksik seperti logam berat (Palar, 2008 ).
Menurut UU RI NO 11 tahun 2017 merkuri atau yang biasa disebut dengan raksa adalah unsur kimia dengan simbol Hg. Merkuri dan senyawa merkuri merupakan salah satu logam berat yang sangat berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan hidup oleh karena bersifat toksik, persisten, bioakumulasi dan dapat berpindah dalam jarak jauh di atmosfir. Dengan bantuan bakteri di sedimen dan perairan, merkuri berubah menjadi metil merkuri yang lebih berbahaya bagi kesehatan karena masuk dalam rantai makanan.
Pencemaran dapat berasal dari industri, pertambangan, domestik, maupun sumber alami dari batuan akhirnya sampai ke sungai, laut selanjutnya mencemari manusia melalui ikan, air minum, atau air sumber irigasi lahan pertanian sehingga tanaman sebagai sumber pangan manusia tercemar. Suatu tatanan lingkungan hidup dapat tercemar atau menjadi rusak disebabkan oleh banyak hal dan yang paling utama yang menjadi penyebabnya adalah limbah, antara lain limbah kimia yang mengandung bahan toksik seperti logam berat ( Palar, 2008 )
Pencemaran oleh logam berat yang paling terkenal yaitu keracunan merkuri yang menyebabkan cacat bawaan pada bayi yang dikenal sebagai penyakit Minamata. Keracunan ini menyebabkan 111 orang menjadi cacat dan 43 orang diantaranya meninggal. Penderita adalah masyarakat nelayan yang tinggal di kota pesisir Minamata di pulau Kyushu. Keracunan itu berlangsung selama tujuh tahun, yaitu dari tahun 1953-1960, disebabkan pabrik plastik yang membuang air raksa ke dalam perairan. Ikan di Minamata mengandung merkuri antara 27-102 ppm berat kering. Selain penderita keracunan tersebut, terdapat 19 bayi yang lahir cacat (Soemirat, 2009).
Di Indonesia, pencemaran merkuri akibat adanya penambangan emas tanpa ijin (PETI) ditemukan diberbagai tempat, namun tidak pernah ada investigasi atau laporan adanya penderita keracunan merkuri. Misalnya di Pongkor, Jawa Barat dilaporkan bahwa konsentrasi merkuri disedimen sungai berkisar antara 0-2,688 ppm, sedangkan ditanah didapat konsentrasi sebanyak 1- 1300 ppm (Soemirat, 2003 mengutip dari mustofa, 20015).
Air merupakan sumber daya alam yang digunakan untuk memenuhi hajat hidup orang banyak sehingga perlu dilindungi agar tetap bisa bermanfaat bagi hidup dan kehidupan manusia serta mahluk hidup lainnya, oleh karena itu,perlindungan terhadap kualitas air sangat penting dan berpengaruh besar terhadap kesehatan mahluk hidup dan peningkatan lingkungan yang sehat, untuk menjaga atau mencapai kualitas tersebut, yaitu kualitas air yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan sesuai dengan mutu air yang diinginkan, maka perlu upaya pelestarian untuk memelihara fungsi air sehingga kualitasnya tetap memenuhi baku mutu yang ditetapkan (Susanto, 2005).
Menurut Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal berdasarkan hasil laporan puskesmas pemakaian merkuri dan galundung (alat pemisah antara bebatuan dan emas dengan menggunakan merkuri) di Wilayah Kabupaten Mandailing Natal Pada Tahun 2012, pada wilayah kerja Puskesmas Longat terdapat 400 galundung dengan pemakaian Merkuri 8000ml/Hari, pada wilayah kerja Puskesmas Panyabungan Jae terdapat 2760 buah galundung dengan pemakaian Merkuri 55200ml/Hari, pada wilayah kerja Puskesmas Gunung Tua terdapat 640 buah galundung dengan pemakaian Merkuri 12800 ml/Hari, pada
wilayah kerja Puskesmas Mompang terdapat 1880 buah galundung dengan pemakaian Merkuri 37600 ml/Hari, pada wilayah kerja Puskesmas Hutabargot terdapat 4800 buah galundung dengan pemakaian Merkuri 96000ml/Hari, pada wilayah kerja Puskesmas Malintang terdapat 120 buah galundung dengan pemakaian Merkuri 2400ml/Hari, pada wilayah kerja Puskesmas Naga Juang terdapat 680 buah galundung dengan pemakaian Merkuri 13600ml/Hari.
Penilitian merkuri ini telah dilakukan oleh bebeapa orang, berdasarkan penelitian Rusli (2005) ditemukan pada sampel air sungai di Desa Muara Botung Kecamatan Kotanopan Kabupaten Mandailing Natal positif mengandung merkuri mencapai 0,1176 mg/L, padahal menurut standar baku mutu sesuai dengan Permenkes Republik Indonesia No:82 Tahun 2001 tentang Pengolahan kualitas air dan pengendalian pencemaran air, standar kandungan merkuri di dalam air yang aman adalah 0,001 mg/l.
Penelitian berikutnya dilakukan oleh Mustofa (2013) mengenai Analisis kandungan merkuri air sumur gali masyarakat pada penambangan emas tradisional Desa Saba Padang Kecamatan Hutabargot Kabupaten Mandailing Natal. Hasil dari penelitian menunjukkan tidak ada pengaruh kandungan merkuri pada air sumur gali masyarakat dan hasil menunjukkan positif bahwa air tersebut memenuhi syarat.
1.2 Perumusan Masalah
Perumusan masalah adalah belum diketahuinya kadar merkuri (Hg) pada air sumur gali masyarakat di daerah sekitar penambangan emas tradisional di Desa Banua Rakyat Kecamatan Naga Juang Mandailing Natal.
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui kadar Merkuri (Hg) Pada air Sumur Gali Masyrakat Di Sekitar Penambangan Emas Tradisional Desa Banua Rakyat Kecamata Nagajuang Kabupaten Mandailing Natal.
1.3.2 Tujuan khusus
1.Untuk mengetahui proses pengolahan pertambangan emas tradisional di Desa Banua Rakyat Kecamatan Naga Juang Mandailing Natal.
2.Untuk mengetahui kadar merkuri (Hg) pada pembuangan air limbah pengolahan pertambangan emas tradisional di Desa Banua Rakyat Kecamatan Naga Juang Kabupaten Mandailing Natal.
3.Untuk mengetahui kadar merkuri pada air sumur gali masyarakat berdasarkan jarak 10-99 meter dari sumber pengolahan tambang emas tradisional.
1.4 Manfaat penelitian
1. Sebagai masukan bagi pihak pemerintahan Kabupaten Mandailing Natal untuk menigkatkan pencegahan dan penanggulangan pencemaran merkuri (Hg) pada air sumur gali masyrakat.
2. Sebagai informasi kepada masyrakat yang tinggal di Desa Banua Rakyat Kecamatan Naga Juang kabupaten mandailing natal yang menggunakan air sumur di sekitar penambangan emas tradisional.
3. Sebagai informasi kadar merkuri dan pencemaran merkuri (Hg) pada air sumur masyarakat di sekitar pertambangan emas.
2.1 Pengertian Air
Air merupakan kehidupan pokok bagi manusia di bumi ini yang dipergunakan untuk berbagai kebutuhan. Menurut Wardhana (2004), sesuai dengan kegunaannya, air dipakai sebagai air minum, air untuk mandi dan mencuci, air untuk pengairan pertanian, air untuk kolam perikanan, air untuk sanitasi dan air untuk transportasi baik di sungai maupun di laut yang termasuk kegunaan air secara konvensional.
Berdasarkan Permenkes RI No. 416 Tahun 1990 tentang Pengolahan kualitas air dan pengendalian pencemaran air. air bersih adalah sebagai berikut:“Air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat dan dapat diminum langsung. Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari- hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak”.
Air merupakan bagian dari ekosistem secara keseluruhan. Keberadaan air di suatau tempat yang berbeda membuat air bisa berlebih dan bisa berkurang sehingga dapat menimbulkan berbagai persoalan. Untuk itu, air harus dikelola dengan bijak dengan pendekatan terpadu secara menyeluruh. Terpadu berarti keterikatan dengan berbagai aspek. Untuk sumber daya air yang terpadu membutuhkan keterlibatan dari berbagai pihak (Robert J. Kodoatie, 2008).
Air bersih dibutuhkan dalam pemenuhan kebutuhan manusia untuk melakukan segala kegiatan sehingga perlu diketahui bagaimana air dikatakan bersih dari segi kualitas dan bisa digunakan dalam jumlah yang memadai dalam kegiatan sehari-hari manusia. Ditinjau dari segi kualitas, ada bebarapa persyaratan yang harus dipenuhi, diantaranya kualitas fisik yang terdiri atas bau, warna dan rasa, kualitas kimia yang terdiri atas pH, kesadahan dan sebagainya serta kualitas biologi dimana air terbebas
dari mikroorganisme penyebab penyakit. Agar kelangsungan hidup manusia dapat berjalan lancar, air bersih juga harus tersedia dalam jumlah yang memadai sesuai dengan aktifitas manusia pada tempat tertentu dan kurun waktu tertentu (Gabriel,2001).
2.2 Air Bersih
Berdasarkan Permenkes RI No. 82 Tahun 2001 tentang Pengolahan kualitas air dan pengendalian pencemaran air bersih. Pengertian air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat dan dapat diminum langsung. Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak.
2.2.1 Sumber Air
Sumber-sumber air d apat dikelompokkan sebagai berikut:
1. Air Laut
Air laut mempunyai sifat asin, karena mengandung garam NaCl. Kadar garam NaCl dalam air laut 3%. Dengan keadaan ini, maka air laut tidak memenuhi syarat untuk menjadi air minum (Sutrisno, 2004).
2. Air Angkasa
Air angkasa (hujan) merupakan penyubliman uap air menjadi air murni (H2O).
Air murni ini sewaktu turun ke bumi melalui udara akan dapat melarutkan benda- benda yang ada di udara, di antaranya (O2, CO2, N2, dan lain-lain), jasad-jasad renik dan debu. Air hujan mempunyai sifat agresif terutama terhadap pipa-pipa penyalur, sehingga akan mempercepat terjadinya korosi (karatan). Selain itu, air hujan bersifat lunak atau k urang mengandung larutan garam dan mineral sehingga terasa kurang segar dan boros terhadap pemakaian sabun (Notoatmodjo, 2007).
3. Air Permukaan
Air permukaan adalah air hujan yang mengalir di permukaan bumi.
Dibandingkan dengan sumber-sumber air lainnya, air permukaan mudah sekali mengalami pencemaran. Pada umumnya air permukaan ini akan mendapat pencemaran selama pengalirannya, misalnya oleh lumpur, batang-batang kayu, daun-daun, kotoran industri kota dan sebagainya.
Air permukaan ada 2 (dua) macam, yaitu air sungai dan air rawa/danau.
a. Air Sungai
Dalam penggunaannya sebagai air minum, haruslah mengalami suatu pengolahan yang sempurna, mengingat bahwa air sungai ini pada umumnya mempunyai derajat pengotoran yang tinggi sekali. Debit yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan akan air minum pada umumnya dapat mencukupi.
b. Air Rawa/Danau
Kebanyakan air rawa ini berwarna yang disebabkan oleh adanya zat-zat organik yang telah membusuk, misalnya asam humus yang larut dalam air yang menyebabkan warna kuning coklat. Dengan adanya pembusukan kadar zat organik tinggi, maka umumnya kadar Fe dan Mn akan tinggi pula dan dalam keadaan kelarutan O2 kurang sekali (anaerob), maka unsur-unsur Fe dan Mn ini akan larut (Sutrisno, 2004).
4. Air Tanah
Air tanah dapat dibedakan menjadi 3 yaitu:
a. Air tanah dangkal
Terjadi karena daya proses peresapan air dari permukaan tanah. Lumpur akan tertahan, demikian pula dengan sebagian bakteri, sehingga air tanah akanjernih tetapi lebih banyak mengandung zat kimia (garam-garam yang terlarut) karena melalui lapisan tanah yang mempunyai unsur-unsur kimia tertentu untuk masing- masing lapisan tanah. Lapisan tanah di sini berfungsi sebagai saringan. Disamping penyaringan, pengotoran juga masih terus berlangsung, terutama pada muka air yang dekat dengan muka tanah, setelah menemui lapisan rapat air, air yang akan terkumpul merupakan air tanah dangkal dimana air tanah ini dimanfaatkan untuk sumber air minum melalui sumur-sumur dangkal.
Air tanah dangkal ini dapat pada kedalaman 15,00 m. Sebagai sumur air minum, air tanah ini ditinjau dari segi kualitas agak baik. Jika dilihat dari segi kuantitas, air tanah kurang cukup dan tergantung pada musim.
b. Air tanah dalam
Terdapat setelah lapisan rapat air yang pertama. Pengambilan air tanah dalam, tak semudah pada air tanah dangkal. Dalam hal ini harus digunakan bor dan memasukkan pipa kedalamnya sehingga dalam suatu kedalaman (biasanya antara 100-300 m) akan didapatkan suatu lapis air.
Jika tekanan air tanah ini besar, maka air dapat menyembur ke luar dan dalam keadaan ini, sumur ini disebut dengan sumur artesis. Jika air tidak dapat ke luar dengan sendirinya, maka digunakan pompa untuk membantu pengeluaran air tanah dalam ini.
Pada umumya kualitas air sumur dalam lebih baik dari air dangkal, karena penyaringannya lebih sempurna dan bebas dari bakteri. Susunan unsur-unsur kimia tergantung pada lapis-lapis tanah yang dilalui. Jika melalui tanah kapur, maka air itu akan menjadi sadah, karena mengandung Ca (HCO3)2 dan Mg(HCO3)2. Jika melalui batuan granit, maka air itu lunak dan agresif karena mengandung gas CO2 dan Mn (HCO3).
c. Mata air
Adalah air tanah yang keluar dengan sendirinya ke permukaan tanah. Mata air yang berasal dari tanah dalam, hampir tidak terpengaruh oleh musim dan kualitas/
kuantitasnya sama dengan keadaan air dalam (Sutrisno, 2004).
2.2.2 Syarat Air Bersih
Berdasarkan Permenkes RI No. 82 Tahun 2001 tentang Pengolahan Kualitas air dan pengendalian pencemaran air syarat-syarat pengawasan kualitas air, syarat-syarat air bersih antara lain:
2.2.2.1 Persyaratan Biologis
Persyaratan biologis berarti air bersih itu tidak mengandung mikroorganisme yang nantinya menjadi infiltran tubuh manusia. Mikroorganisme itu dapat dibagi dalam empat bagian, yaitu parasit, bakteri, virus, dan kuman. Dari keempat jenis mikroorganisme tersebut umumnya yang menjadi parameter kualitas air adalah bakteri seperti Eschericia coli.
2.2.2.2 Persyaratan Fisik
Persyaratan fisik air bersih terdiri dari kondisi fisik air pada umumnya, yakni derajat keasaman, suhu, kejernihan, warna, dan bau. Aspek fisik ini selain penting untuk aspek kesehatan langsung yang terkait dengan kualitas fisik seperti suhu dan keasaman, tetapi juga penting untuk menjadi indikator tidak langsung pada persyaratan biologis dan kimia, seperti warna air dan bau.
2.2.2.3 Persyaratan Kimia
Persyaratan kimia menjadi penting karena banyak sekali kandungan kimiawi air yang memberi akibat buruk pada kesehatan karena tidak sesuaidengan proses biokimiawi tubuh. Bahan kimia seperti nitrat, arsenik, dan berbagai macam logam berat khususnya Merkuri, timah hitam, dan kadmium dapat menjadi gangguan pada tubuh dan berubah menjadi racun.
2.2.2.4 Persyaratan Radioaktif
Persyaratan radioaktif sering juga dimasukkan sebagai bagian persyaratan fisik, namun sering dipisahkan karena jenis pemeriksaan nya sangat berbeda, dan pada wilayah tertentu menjadi sangat serius seperti di sekitar reaktor nuklir.
2.3 Sumber Pencemaran Air
Menurut Mukono (2006), beberapa sumber pencemaran air yaitu:
1. Domestik (Rumah Tangga)
Yaitu berasal dari pembuangan air kotor dari kamar mandi, kakus dan dapur.
2. Industri
Jenis polutan yang dihasilkan oleh industri sangat tergantung pada jenis industrinya sendiri, sehingga jenis polutan yang dapat mencemari air tergantung pada bahan baku, proses industri, bahan bakar dan sistem pengelolaan limbah cair yang digunakan dalam industri tersebut.
Secara umum jenis polutan air dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a. Fisik
Pasir atau lumpur yang tercampur dalam limbah air.
b. Kimia
Bahan pencemar yang berbahaya antara lain merkuri (Hg), Cadmium (Cd), Timbal (Pb), pestisida dan jenis logam berat lainnya.
c. Mikrobiologi
Berbagai macam bakteri, virus, parasit, dan lain-lainnya. Misalnya yang berasal dari pabrik yang mengolah hasil ternak, rumah potong, dan tempat pemerahan susu sapi.
d. Radioaktif
Beberapa bahan radioaktif yang dihasilkan oleh Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dapat menimbulkan pencemaran air.
3. Pertanian dan Perkebunan
Polutan air dari pertanian/perkebunan dapat berupa:
a. Zat kimia, misalnya berasal dari penggunaan pupuk dan pestisida.
b. Mikrobiologi, misalnya virus, bakteri, parasit yang berasal dari kotoran ternak dan cacing tambang di lokasi perkebunan.
Zat radioaktif, berasal dari penggunaan zat radioaktif yang dipakai dalam proses pematangan buah, mendapatkan bibit unggul, dan mempercepat pertumbuhan tanaman.
2.4 Pencemaran Air 2.4.1 Polutan Air
Bahan polutan (pencemar) merupakan bahan-bahan yang bersifat asing bagi alam atau bahan yang berasal dari alam itu sendiri yang memasuki suatu tatanan ekosistem sehingga mengganggu peruntukan ekosistem tersebut.
Berdasarkan cara masuknya ke dalam lingkungan, polutan dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu :
1. Polutan alamiah, yaitu polutan yang memasuki suatu lingkungan (misalnya badan air) secara alami, misalnya akibat letusan gunung berapi, tanah longsor, banjir, dan fenomena alam lainnya. Polutan alamiah ini sulit dikendalikan.
2. Polutan antropogenik, yaitu polutan yang masuk ke badan air akibat aktivitas manusia, misalnya kegiatan domestik (rumah tangga), kegiatan perkotaan, maupun kegiatan industri. Intensitas polutan antropogenik dapat dikendalikan dengan cara mengontrol aktivitas yang menyebabkan timbulnya polutan tersebut (Effendi, 2003).
Berdasarkan sifat toksiknya, polutan (pencemar) dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu:
1. Polutan Tidak Toksik
Polutan/pencemar tidak toksik biasanya telah berada pada ekosistem secara alami. Polutan tidak toksik terdiri atas bahan-bahan tersuspensi dan nutrien.
Bahan tersuspensi dapat mempengaruhi sifat fisika perairan, antara lain meningkatkan kekeruhan sehingga menghambat penetrasi cahaya matahari.
Dengan demikian, intensitas cahaya matahari pada kolom air menjadi lebih kecil dari intensitas yang dibutuhkan untuk melangsungkan proses fotosintesis.
Keberadaan nutrien/unsur hara yang berlebihan dapat memacu terjadinya eutrofikasi perairan dan dapat memacu pertumbuhan mikroalga dan tumbuhan air secara pesat, yang selanjutnya dapat mengganggu keseimbangan ekosistem akuatik secara keseluruhan.
2. Polutan Toksik
Polutan toksik dapat mengakibatkan kematian (lethal) maupun bukan kematian (sub-lethal), misalnya terganggunya pertumbuhan, tingkah laku, dan karakteristik morfologi berbagai organisme akuatik. Polutan toksik ini biasanya berupa bahan-bahan yang bukan bahan alami, misalnya pestisida, detergen, dan bahan artifisial lainnya. Polutan berupa bahan yang bukan alami ini dikenal dengan istilah xenobiotik, yaitu polutan yang diproduksi oleh manusia (Effendi, 2003).
Mason (1993), mengelompokkan pencemar toksik menjadi 5 (lima), yaitu:
a. Logam (metals), meliputi: timbal, nikel, kadmium, zinc, dan merkuri.
b. Senyawa organik, meliputi pestisida organoklorin, herbisida, PCB, hidrokarbon alifatik berklor, pelarut (solvents), surfaktan rantai lurus, hidrokarbon petroleum, aromatik polinuklir, dibenzodioksin berklor, senyawa
organometalik, fenol, dan formaldehida. Senyawa ini berasal dari kegiatan industri, pertanian, dan domestik.
c. Gas, misalnya klorin dan amonia.
d. Anion, misalnya sianida, fluorida, sulfida, dan sulfat.
e. Asam dan alkali.
2.5 Indikator Pencemaran Air 2.5.1 Perubahan Suhu Air
Dalam kegiatan industri seringkali suatu proses disertai dengan timbulnya panas reaksi atau panas dari suatu gerakan mesin. Agar proses industri dan mesin- mesin yang menunjang kegiatan tersebut dapat berjalan baik maka panas yang terjadi harus dihilangkan. Penghilangan panas dilakukan dengan proses pendinginan air. Air pendingin akan mengambil panas yang terjadi. Air yang menjadi panas tersebut kemudian dibuang ke lingkungan. Apabila air yang panas tersebut dibuang ke sungai maka air sungai akan menjadi panas (Wisnu, 2001).
Menurut Kristanto (2002), naiknya suhu air akan menimbulkan akibat sebagai berikut:
1. Menurunnya jumlah oksigen terlarut dalam air.
2. Meningkatkan kecepatan reaksi kimia.
3. Mengganggu kehidupan ikan dan hewan air lainnya.
4. Jika batas suhu yang mematikan terlampaui, ikan dan hewan air lainnya mungkin akan mati.
Ikan yang hidup di dalam air yang mempunyai suhu relatif tinggi akan mengalami kenaikan kecepatan respirasi. Di samping itu suhu yang tinggi juga
akan menurunkan jumlah oksigen yang terlarut di dalam air. Akibatnya, ikan dan hewan air akan mati karena kekurangan oksigen. Suhu air kali atau air limbah yang relatif tinggi ditandai antara lain dengan munculnya ikan-ikan dan hewan air lainnya ke permukaan untuk mencari oksigen.
2.5.2 Perubahan pH atau Konsentrasi Ion Hidrogen
Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan mempunyai pH berkisar antara 6,5-7,5. Air dapat bersifat asam atau basa, tergantung pada besar kecilnya pH air atau besarnya konsentrasi ion Hidrogan di dalam air. Air yang mempunyai pH lebih kecil dari pH normal akan bersifat asam, sedangkan air yang mempunyai pH lebih besar dari normal akan bersifat basa. Air limbah dan bahan buangan dari kegiatan industri yang dibuang ke sungai akan mengubah pH air yang akhirnya dapat mengganggu kehidupan organisme di dalam air (Wardhana, 2001).
2.5.3 Perubahan Warna, Bau, dan Rasa Air
Bahan buangan dan air limbah dari kegiatan industri yang berupa bahan anorganik dan bahan organik seringkali dapat larut di dalam air. Apabila bahan buangan dan air limbah industri dapat larut dalam air maka akan terjadi perubahan warna air. Air dalam keadaan normal dan bersih tidak akan berwarna, sehingga tampak bening dan jernih.
Selain itu degradasi bahan buangan industri dapat pula menyebabkan terjadinya perubahan warna air. Tingkat pencemaran air tidak mutlak harus tergantung pada warna air, karena bahan buangan industri yang memberikan warna belum tentu lebih berbahaya dari bahan buangan industri yang tidak
memberikan warna. Seringkali zat-zat yang beracun justru terdapat di dalam bahan buangan industri yang tidak mengakibatkan perubahan warna pada air sehingga air tetap tampak jernih.
Bau yang keluar dari dalam air dapat langsung berasal dari bahan buangan atau air limbah dari kegiatan industri, atau dapat pula berasal dari hasil degradasi bahan buangan oleh mikroba yang hidup di dalam air. Bahan buangan industri yang bersifat organik atau bahan buangan dan air limbah dari kegiatan industri pengolahan bahan makanan seringkali menimbulkan bau yang sangat menyengat hidung. Mikroba di dalam air akan mengubah bahan buangan organik, terutama gugus protein, secara degradasi menjadi bahan yang mudah menguap dan berbau.
Timbulnya bau pada air lingkungan secara mutlak dapat dipakai sebagai salah satu tanda terjadinya tingkat pencemaran air yang cukup tinggi.
Air normal yang dapat digunakan untuk suatu kehidupan pada umumnya tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa. Apabila air mempunyai rasa (kecuali air laut) maka hal itu berarti telah terjadi pelarutan sejenis garam-garaman. Air yang mempunyai rasa biasanya berasal dari garam-garaman yang terlarut. Bila hal ini terjadi maka berarti juga telah ada pelarutan ion-ion logam yang dapat mengubah konsentrasi ion Hidrogen dalam air. Adanya rasa pada air umumnya diikuti dengan perubahan pH air (Wardhana, 2001).
2.5.4 Timbulnya Endapan, Koloidal dan Bahan Terlarut
Endapan dan koloidal serta bahan terlarut berasal dari adanya bahan buangan industri yang berbentuk padat. Bahan buangan industri yang berbentuk padat kalau tidak dapat larut sempurna akan mengendap di dasar sungai dan yang dapat
larut sebagian akan menjadi koloidal. Endapan sebelum sampai ke dasar sungai akan melayang di dalam air bersama-sama dengan koloidal. Endapan dan koloidal yang melayang di dalam air akan menghalangi masuknya sinar matahari ke dalam lapisan air. Padahal sinar matahari sangat diperlukan oleh mikroorganisme untuk melakukan proses fotosintesis. Karena tidak ada sinar matahari maka proses fotosintesis tidak dapat berlangsung. Akibatnya, kehidupan mikroorganisme jadi terganggu.
Apabila endapan dan koloidal yang terjadi berasal dari bahan buangan organik, maka mikroorganisme dengan bantuan oksigen yang terlarut di dalam air, akan melakukan degradasi bahan organik tersebut sehingga menjadi bahan yang lebih sederhana. Dalam hal ini kandungan oksigen yang terlarut di dalam air akan berkurang sehingga organisme lain yang memerlukan oksigen akan terganggu pula.
Apabila bahan buangan industri berupa bahan anorganik yang dapat larut maka air akan mendapat tambahan ion-ion logam yang berasal dari bahan anorganik tersebut. Banyak bahan anorganik yang memberikan ion-ion logam berat yang pada umumnya bersifat racun, seperti cadmium (cd), kromium (cr), dan timbal (pb) (Wardhana, 2001).
2.5.5 Mikroorganisme
Mikroorganisme sangat berperan dalam proses degradasi bahan buangan dari kegiatan industri yang dibuang ke air lingkungan, baik sungai, danau, maupun laut. Kalau bahan buangan yang harus didegradasi cukup banyak, berarti mikroorganisme akan ikut berkembang biak. Pada perkembangbiakan
mikroorganisme ini tidak tetutup kemungkinan bahwa mikroba patogen ikut berkembang pula. Mikroba patogen adalah penyebab timbulnya berbagai macam penyakit. Pada umumnya industri pengolahan bahan makanan berpotensi untuk menyebabkan berkembangbiaknya mikroorganisme, termasuk mikroba patogen.
2.5.6 Meningkatnya Radioaktivitas Air
Akhir-akhir ini pemanfaatan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir dalam berbagai bidang kegiatan sudah banyak dijumpai. Aplikasi teknologi nuklir antara lain dapat dijumpai pada bidang kedokteran, farmasi, biologi, pertanian, hidrologi, pertambangan, industri, dan lain-lain.
Mengingat bahwa zat radioaktif dapat menyebabkan berbagai macam kerusakan biologis apabila tidak ditangani dengan benar, baik melalui efek langsung maupun tidak langsung, maka tidak dibenarkan dan sangat tidak etis bila ada yang membuang bahan sisa radioaktif ke lingkungan. Walaupun secara alamiah radioaktivitas lingkungan sudah ada sejak terbentuknya bumi ini, namun kita tidak boleh menambah radioaktivitas lingkungan dengan membuang secara sembarangan bahan sisa radioaktif ke lingkungan. Secara nasional sudah ada peraturan perundangan yang mengatur masalah bahan sisa (limbah) radioaktif.
Mengenai hal ini Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) secara aktif mengawasi pelaksanaan peraturan perundangan terssebut (Wardhana, 2001).
2.6 Penambangan Emas Tradisional
Kegiatan penambangan emas tradisional di Indonesia dicirikan oleh penggunaan teknik eksplorasi dan eksploitasi yang sederhana dan murah. Untuk pekerjaan penambangan dipakai peralatan cangkul, linggis, palu, dan beberapa
alat sederhana lainnya. Batuan dan urat kuarsa mengandung emas atau bijih ditumbuk sampai berukuran 1-2 cm, selanjutnya digiling dengan alat gelundung (trammel, berukuran panjang 55-60 cm dan diameter 30 cm dengan alat penggiling 3-5 batang besi). Proses pengolahan emasnya biasanya menggunakan teknik amalgamasi, yaitu dengan mencampur bijih dengan merkuri untuk membentuk amalgam dengan media air. Selanjutnya emas dipisahkan dengan proses penggarangan sampai didapatkan logam paduan emas dan perak (bullion).
Produk akhir dijual dalam bentuk bullion dengan memperkirakan kandungan emas pada bullion tersebut (Setiabudi, 2005).
Perlengkapan yang di perlukan untuk mengolah bijih emas adalah : 1. Tabung gelundung, sebagai tempat menggerus batuan.
2. Kincir air atau genset yang berfungsi sebagai penggerak tabung gelundung.
3. Batang besi baja/media giling sebagai alat pengguras batuan.
4. Merkuri yang berfungsi untuk mengikat emas.
5. Air untuk mendapatkan persentasi padatan yang berkisar antara 30-60%.
6. Dulang atau sejenisnya, sebagai tempat untuk memisahkan Merkuri yang telah mengikat emas perak (amalgam) dengan sisa hasil pengolahan (tailing).
7. Emposan yaitu alat untuk membakar amalgam untuk mendapatkan paduan (alloy) emas perak (bullion) (Widodo, 2008).
2.7. Ekstraksi Emas
Ekstraksi adalah suatu metode operasi yang digunakan dalam proses pemisahan suatu komponen dari campurannya dengan menggunakan sejumlah massa bahan (solven) sebagai tenaga pemisah. Apabila komponen yang akan
dipisahkan (solute) berada dalam fase padat, maka proses tersebut dinamakan pelindihan atau leaching.
Ekstraksi emas dalam skala industri yang paling umum dilakukan, yaitu:
1. Pencairan 2. Amalgamasi 2.7.1 Pencairan
Pemisahan pencairan (liquation separation), adalah proses pemisahan yang dilakukan dengan cara memanaskan mineral di atas titik leleh logam, sehingga cairan logam akan terpisahkan dari pengotor. Yang menjadi dasar untuk proses pemisahan metode ini, yaitu berat jenis dan titik cair. Contohnya dalam memisahkan emas dan perak. Titik cair emas pada suhu 1064.18 oC, sedangkan titik cair perak pada suhu 961.78 oC. Ini artinya perak akan mencair lebih dulu dari pada emas. Namun untuk benar-benar terpisah, maka perak harus menunggu emas mencair 100%. Kemudian bila dilihat dari berat jenisnya, maka berat jenis emas cair sebesar 17.31 gram per cm3 sedangkan berat jenis perak sebesar 9.32 gram per cm3. Hal ini berarti berat jenis emas lebih besar dari pada berat jenis perak. Dari hukum alam fisika, maka bila ada dua jenis zat cair yang berbeda dan memiliki berat jenis yang berbeda pula, maka zat cair yang memiliki berat jenis lebih kecil dari zat satunya, ia akan mengapung. Dengan demikian, cairan perak Akan terapung diatas lapisan cairan emas, seperti halnya cairan minyak mengambang diatas lapisan air. Dari sana, perak dipisahkan dari emas, sampai tidak ada lagi perak yang terapung.
Dari hukum alam fisika, maka bila ada dua jenis zat cair yang berbeda dan memiliki berat jenis yang berbeda pula, maka zat cair yang memiliki berat jenis lebih kecil dari zat satunya, ia akan mengapung. Dengan demikian, cairan perak akan terapung diatas lapisan cairan emas, seperti halnya cairan minyak mengambang diatas lapisan air. Dari sana, perak dipisahkan dari emas, sampai tidak ada lagi perak yang terapung.
2.7.2 Amalgamasi
Amalgamasi merupakan proses ekstraksi emas dengan cara mencampur bijih emas dengan merkuri (Hg). Produk yang terbentuk adalah ikatan antara emas- perak dan merkuri yang dikenal sebagai amalgam (Au-Hg). Merkuri akan membentuk amalgam dengan semua logam kecuali besi dan platina. Penggunaan raksa alloy atau amalgam pertama kali pada tahun 1828, meskipun penggunaan secara luas teknik baru ini dicegah karena sifat air raksa yang beracun. Sekitar tahun 1895, eksperimen yang dilakukan oleh GV Black menunjukkan bahwa amalgam aman digunakan, meskipun 100 tahun kemudian ilmuwan masih diperdebatkannya. Amalgam masih merupakan proses ekstraksi emas yang paling sederhana dan murah, namun demikian amalgamasi akan efektif pada emas yang terliberasi sepenuhnya maupun sebagian pada ukuran partikel yang lebih besar dari 200 mesh (0.074 mm) dan dalam membentuk emas murni yang bebas.
Proses amalgamasi merupakan proses kimia fisika, apabila amalgamnya dipanaskan, maka akan terurai menjadi elemen-elemen yaitu air raksa dan bullion emas. Amalgam dapat terurai dengan pemanasan di dalam sebuah tabung, air
raksanya akan menguap dan dapat diperoleh kembali dari kondensasi uap air raksa tersebut. Sementara Au-Ag tetap tertinggal di dalam tabung sebagai logam.
Tahapan amalgamasi secara sederhana sebagai berikut:
1. Sebelum dilakukan amalgamasi hendaknya dilakukan proses kominusi dan konsentrasi gravitasi, agar mencapai derajat liberasi yang baik sehingga permukaan emas tersingkap.
2. Pada hasil konsentrat akhir yang diperoleh ditambah merkuri (amalgamasi) dilakukan selama kira-kira 1 jam
3. Hasil dari proses ini berupa amalgam basah dan tailing. Amalgam basah kemudian ditampung di dalam suatu tempat yang selanjutnya didulang untuk pemisahan merkuri dengan amalgam
4. Terhadap amalgam yang diperoleh dari kegiatan pendulangan kemudian dilakukan kegiatan pemerasan dengan menggunakan kain parasut untuk memisahkan merkuri dari amalgam. Merkuri yang diperoleh dapat dipakai untuk proses amalgamasi selanjutnya. Jumlah merkuri yang tersisa dalam amalgan tergantung pada seberapa kuat pemerasan yang dilakukan. Amalgam dengan pemerasan manual akan mengandung 60-70% emas, dan amalgam yang disaring dengan alat sentrifugal dapat mengandung emas sampai lebih dari 80%.
5. Retorting yaitu pembakaran amalgam untuk menguapkan merkuri, sehingga yang tertinggal berupa alloy emas.
Ekstraksi Amalgamasi yang baik, yaitu:
1. Lokasi ekstraksi bijih harus terpisah dari lokasi kegiatan penambangan.
2. Dilakukan pada lokasi khusus baik untuk amalgamasi untuk meminimalkan penyebab pencemar bahan berbahaya akibat peresapan kedalam tanah, terbawa aliran air permukaan maupun gas yang terbawa oleh angin.
3. Dilengkapi dengan kolam pengendap yang berfungsi baik untuk mengolah seluruh tailing hasil pengolahan sebelum dialirkan ke perairan bebas.
4. Lokasi pengolahan bijih dan kolam pengendap diusahakan tidak berada pada daerah banjir.
5. Hindari pengolahan dan pembuangan tailing langsung ke sungai.
2.8 Merkuri
2.8.1 Pengertian Umum
Merkuri (Hg) adalah logam berat berbentuk cair, berwarna putih perak, serta mudah menguap pada suhu ruangan. Merkuri (Hg) akan memadat pada tekanan 7.640 Atm. Merkuri (Hg) memiliki nomor atom 80, berat atom 200,59 g/mol, titik beku -39o C, dan titik didih 356,6o C.Kelimpahan merkuri (Hg) di bumi menempati urutan ke-67 di antara elemen lainnya pada kerak bumi. Merkuri jarang didapatkan dalam bentuk bebas di alam, tetapi berupa bijih cinnabar (HgS).
Untuk mendapatkan Merkuri dari cinnabar, dilakukan pemanasan bijih cinnabar di udara sehingga menghasilkan logam Merkuri (Widowati, 2008).
Dalam keseharian, pemakaian bahan merkuri telah berkembang sangat luas.
Merkuri digunakan dalam bermacam-macam perindustrian, untuk peralatan- peralatan elektris, digunakan untuk alat-alat ukur, dalam dunia pertanian dan keperluan lainnya. Demikian luasnya pemakaian merkuri, mengakibatkan semakin mudah pula organisme mengalami keracunan merkuri (Palar, 2008).
Dikenal 3 bentuk merkuri, yaitu:
1.Merkuri elemental: terdapat dalam gelas termometer, tensimeter air raksa, amalgam gigi, alat elektrik, batu batere dan cat. Juga digunakan sebagai katalisator dalam produksi soda kaustik dan desinfektan serta untuk produksi klorin dari sodium klorida.
2.Merkuri inorganik: dalam bentuk Hg++ (Mercuric) dan Hg+ (Mercurous) Misalnya:
a. Merkuri klorida (HgCl2) termasuk bentuk Hg inorganik yang sangat toksik, kaustik dan digunakan sebagai desinfektan
b. Mercurous chloride (HgCl) yang digunakan untuk teething powder dan laksansia (calomel)
c. Mercurous fulminate yang bersifat mudah terbakar.
3. Merkuri organik: terdapat dalam beberapa bentuk, antara lain :
a. Metil merkuri dan etil merkuri yang keduanya termasuk bentuk alkil rantai pendek dijumpai sebagai kontaminan logam di lingkungan. Misalnya memakan ikan yang tercemar zat tersebut dapat menyebabkan gangguan neurologis dan kongenital.
b. Merkuri dalam bentuk alkil dan aryl rantai panjang dijumpai sebagai antiseptik dan fungisida.
2.8.2 Sumber Merkuri 2.8.2.1 Terdapat di Alam
Sebagai hasil tambang, merkuri dijumpai dalam bentuk mineral HgS yang disebut sinabar (cinnabar). Terdapat sebagai batuan dan lapisan batuan yang terhampar di Spanyol, Itali, dan bagian Amerika, serta banyak didistribusikan sebagai batuan, abu, dan larutan.
2.8.2.2 Hasil Aktifitas Manusia
Menurut Widowati (2008) yang mengutip dari Herman (2006), sumber merkuri dari hasil aktifitas manusia antara lain pembuangan tailing pengolahan emas tradisional yang diolah secara amalgamasi, dimana merkuri mengalami perlakuan tertentu berupa putaran, tumbukan, atau gesekan,sehingga sebagianmerkuri akan membentuk amalgam dengan logam-logam (Au, Ag, Pt) dan sebagian hilang dalam proses.
2.8.3. Kegunaan Merkuri Dalam Kehidupan
Penggunaan merkuri yang terbesar adalah dalam industri klor-alkali, dimana produksi klorin (Cl2) dan kaustik soda (NaOH) dengan cara elektrolisis garam NaCl. Kedua bahan ini sangat banyak gunanya sehingga diproduksi dalam jumlah tinggi setiap tahun. Fungsi merkuri dalam proses ini adalah sebagai katode dari sel elektrolisis (Kristanto, 2002).
Pada peralatan listrik, merkuri ditemukan pada lampu listrik. Sementara itu, di laboratorium logam merkuri digunakan sebagai alat ukur. Sebagai contoh adalah termometer. Dalam pekerjaan laboratorium, banyak pekerja yang mengalami
keracunan merkuri secara kronis. Hal itu terjadi karena uap dari tumpahan merkuri yang tidak terlihat, sedikit demi sedikit terhirup oleh para pekerja.
Dalam bidang pertanian, senyawa merkuri banyak digunakan sebagai fungisida, dimana hal ini menjadi penyebab yang cukup penting dalam peristiwa keracunan merkuri pada organisme hidup. Karena penyemprotan yang dilakukan secara terbuka dan luas, maka banyak organisme hidup lainnya yang terkena senyawa racun tersebut. Sehingga dari penyemprotan fungisida tersebut tidak hanya membunuh jamur melainkan juga organisme hidup lainnya.
Pada industri pulp dan kertas banyak digunakan senyawa FMA (fenil merkuri asetat). Pemakaian dari senyawa FMA bertujuan untuk mencegah pembentukan kapur pada pulp dan kertas basah selama proses penyimpanan. Hal ini menjadi sangat berbahaya, karena kertas seringkali digunakan sebagai alat pembungkus makanan (Palar, 2008).
2.8.4 Kinetika Merkuri
Secara umum proses terjadinya pencemaran air ini di kelompokkan ke dalam 2 (dua) kategori, yaitu:
1. Pencemaran dari sumber-sumber langsung atau (direct contaminant sources) yaitu buangan (effluent) yang berasal dari sumber pencemar limbah hasil pabrik atau suatu kegiatan limbah seperti limbah cair domestik serta sampah, pencemaran terjadi karena buangan ini langsung mengalir ke dalam sistem pasokan air (urban water supplies sistem), seperti sungai, kanal, parit ataau sekolah.
2. Pencemaran yang bersumber dari yang tidak langsung (indirect contaminant sources) yaitu kontaminan yang masuk dan yang bergerak ke dalam tanah melalui
celah-celah atau pori pori tanah dan batuan akibat adanya pencemaran pada iar permukaan baik dari limbah industri maupun limbah domestik (Susanto, 2005).
Biomarker dapat digunakan untuk memperkirakan pajanan (jumlah yang diabsorpsi atau dosis internal), efek-efek bahan kimia dan kerentanan pada individu, dan dapat diaplikasikan apakah dari makanan, lingkungan, atau tempat kerja. Biomarker pajanan yang umum digunakan adalah pemeriksaan kadar Hg dalam darah, urine, dan rambut. Alat yang digunakan untuk pemeriksaan kadar Hg adalah Atomic Absorpion Spectrophotometer (AAS) untuk memeriksa total merkuri dalam makanan, darah, urine, rambut dan jaringan (Inswiasri, 2008).
2.8.5 Sifat Merkuri
Sifat-sifat kimia dan fisik merkuri membuat logam tersebut banyak digunakan untuk keperluan kimia dan industri. Beberapa sifat tersebut diantaranya adalah:
1. Merkuri merupakan satu-satunya logam yang berwujud cair pada suhu kamar (25oC) dan mempunyai titik beku terendah dibanding logam lain yaitu -39oC.
2. Masih berwujud cair pada suhu 396oC. Pada temperatur 396oC ini telah terjadi pemuaian secara menyeluruh.
3. Merupakan logam yang paling mudah menguap jika dibandingkan dengan logam lain.
4. Merkuri dapat larut dalam asam sulfat atau asam nitrit, tetapi tahan terhadap basa.
5. Mempunyai volatilitas yang tertinggi dari semua logam.
6. Ketahanan listrik sangat rendah sehingga merupakan konduktor terbaik dibanding semua logam lain.
7. Banyak logam yang dapat larut di dalam merkuri membentuk komponen yang disebut dengan amalgam.
8. Merkuri dan komponen-komponennya bersifat racun terhadap semua makhluk hidup (Kristanto, 2002).
2.8.6 Pencemaran Merkuri di Lingkungan
Secara alamiah, pencemaran oleh merkuri ke lingkungan umumnya berasal dari kegiatan gunung api, rembesan air tanah yang melewati daerah deposit merkuri dan lain-lain. Namun demikian, meski sangat banyak sumber keberadaan merkuri di alam, dan masuk ke dalam suatu tatanan lingkungan tertentu secaraalamiah, tidaklah menimbulkan efek-efek merugikan bagi lingkungan karena masih dapat ditolerir oleh alam. Merkuri menjadi bahan pencemar sejak manusia mengenal industri, kemudian menggali sumber daya alam dan memanfaatkannya semaksimal mungkin untuk kebutuhannya (Palar, 2008).
Penggunaan merkuri di dalam industri sering mengakibatkan pencemaran lingkungan, baik melalui air limbah maupun melalui sistem ventilasi udara.
Merkuri yang terbuang ke sungai, pantai atau badan air di sekitar industri-industri tersebut dapat mengkontaminasi ikan dan makhluk air lainnya, termasuk ganggang dan tumbuhan air. Ikan-ikan dan hewan air tersebut kemudian dikonsumsi manusia sehingga manusia terpapar merkuri di dalam tubuhnya. FDA (Food and Drug Administration) menetapkan batasan kandungan merkuri maksimum adalah 0,005 ppm untuk makanan, sedangkan WHO (World Health Organization) menetapkan batasan maksimum untuk air, yaitu 0,001 ppm (Kristanto, 2002).
2.8.7 Senyawa Merkuri Anorganik
Logam merkuri termasuk ke dalam kelompok merkuri anorganik. Dalam bentuk logamnya, merkuri berbentuk cair, dan sangat mudah menguap. Uap merkuri dapat menyebabkan efek samping yang sangat merugikan bagi kesehatan.
Diantara sesama senyawa merkuri anorganik, uap logam merkuri (Hg) merupakan yang paling berbahaya. Ini disebabkan karena sebagai uap, merkuri tidak terlihat dan dengan sangat mudah akan terhisap seiring kegiatan pernafasan yang dilakukan. Pada saat terpapar oleh logam merkuri, sekitar 80% dari logam merkuri akan terserap oleh alveoli paru-paru dan jalur-jalur pernafasan untuk kemudian ditransfer ke dalam darah (Palar, 2008).
Pada hewan percobaan seperti kelinci, tikus dan kera, 1% dari jumlah yang diserap ini akan terakumulasi di otak. Jumlah merkuri yang menumpuk tersebut, 10 kali lebih besar bila dibandingkan dengan senyawa merkuri lain yang masuk atau dimasukkan ke dalam tubuh dengan dosis yang sama. Selain penumpukan merkuri terjadi pada otak, logam ini juga terserap dan menumpuk pada ginjal dan hati. Namun demikian penumpukan yang terjadi pada organ ginjal dan hati masih dapat dikeluarkan bersama urin dan sebagian akan menumpuk pada empedu.
Selain menumpuk pada organ tubuh tersebut, merkuri juga mampu menembus membran plasenta (Palar, 2008).
Toksisitas akut dari merkuri anorganik meliputi gejala muntah, kehilangan kesadaran, sakit abdominal, diare disertai darah dalam feses, albuminuria, anuria, uraemia, ulserasi, dan stomatitis. Sementara toksisitas kronis dari merkuri anorganik meliputi gejala gangguan sistem saraf, antara lain tremor, terasa pahit di
mulut, gigi tidak kuat dan rontok, anemia, dan gejala lain berupa kerusakan ginjal, serta kerusakan mukosa usus (Widowati, 2008).
2.8.8 Senyawa Merkuri Organik
Senyawa-senyawa merkuri organik telah lama akrab dengan kehidupan manusia. Yang paling terkenal diantaranya adalah senyawa alkil-merkuri.
Beberapa senyawa alkil-merkuri yang banyak digunakan, terutama di kawasan negara-negara sedang berkembang adalah metil merkuri khlorida (CH3HgCl) dan etil khlorida (C2H5HgCl). Senyawa-senyawa tersebut digunakan sebagai pestisida dalam bidang pertanian.
Sekitar 80% dari peristiwa keracunan merkuri bersumber dari senyawa- senyawa alkil-merkuri. Keracunan yang bersumber dari senyawa ini adalah melalui pernafasan. Peristiwa keracunan melalui jalur pernafasan tersebut disebabkan karena senyawa-senyawa alkil-merkuri sangat mudah menguap. Uap merkuri yang masuk bersama jalur pernafasan akan mengisi ruang-ruang dari paru-paru dan berikatan dengan darah (Palar, 2008).
Waktu paruh dari senyawa alkil-merkuri dalam tubuh adalah 70 hari.
Selanjutnya senyawa alkil-merkuri tersebut dikeluarkan dari dalam tubuh sebagai hasil samping metabolisme. Akan tetapi, jumlah yang dikeluarkan sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah uap atau senyawa alkil-merkuri yang masuk ke dalam tubuh. Diperkirakan jumlah alkil-merkuri yang dikeluarkan sebagai hasil samping metabolisme tubuh hanyalah 1%, sedangkan sisanya 99% terakumulasi dalam berbagai organ dalam tubuh (Palar, 2008).
Gejala toksisitas merkuri organik meliputi kerusakan sistem saraf pusat berupa anoreksia, ataksia, dismetria, gangguan pandangan mata yang bias mengakibatkan kebutaan, gangguan pendengaran, koma, dan kematian (Widowati, 2008).
2.9 Efek Merkuri pada Manusia 2.9.1 Keracunan akut
Keracunan akut oleh merkuri bisa terjadi pada konsentrasi merkuri (Hg) uap sebesar 0,5-1,2 mg/m3. Penelitian terhadap kelinci dengan uap merkuri (Hg) 28,8 mg/m3 mengakibatkan kerusakan yang parah pada berbagai organ ginjal, hati, otak, jantung, paru-paru, dan usus besar. Keracunan akut karena terhirupnya uap merkuri (Hg) berkonsentrasi tinggi menimpa pekerja dalam industri pengolahan logam merkuri serta penambangan emas (Widowati, 2008).
Keracunan akut yang ditimbulkan oleh logam merkuri dapat diketahui dengan mengamati gejala-gejala berupa iritasi gastrointestinal berupa mual, muntah, sakit perut dan diare. Keracunan Phenyl mercury (merkuri aromatis) menimbulkan gejala-gejala gastrointestinal, malaise dan mialgia. Keracunan metil merkuri menyebabkan efek pada gastrointestinal yang lebih ringan tetapi menimbulkan toksisitas neurologis yang berat berupa rasa sakit pada bibir, lidah dan pergerakan (kaki dan tangan), halusinasi, iritabilitas, gangguan tidur, sulit bicara, kemunduran cara berpikir, reflek tendon yang abnormal, dan pendengaran rusak (Rianto, 2012)
2.9.2 Keracunan Kronis
Keracunan kronis yang disebabkan oleh merkuri, peristiwa masuknya sama dengan keracunan akut, yaitu melalui jalur pernafasan dan makanan. Akan tetapi pada keracunan kronis, jumlah merkuri yang masuk sangat sedikit sehingga tidak memperlihatkan pengaruh pada tubuh. Namun demikian masuknya merkuri ini berlangsung secara terus-menerus. Sehingga lama kelamaan, jumlah merkuri yang masuk dan mengendap dalam tubuh menjadi sangat besar dan melebihi batas toleransi yang dimiliki tubuh sehingga gejala keracunan mulai terlihat (Palar, 2008).
Pada peristiwa keracunan kronis oleh merkuri, ada dua organ tubuh yang paling sering mengalami gangguan, yaitu gangguan pada sistem pencernaan dan sistem saraf. Radang gusi (gingivitis) merupakan gangguan paling umum yang terjadi pada sistem pencernaan. Gangguan terhadap sistem saraf dapat terjadi dengan atau tanpa diikuti oleh gangguan pada lambung dan usus. Ada dua bentuk gejala umum yang dapat dilihat bila korban mengalami gangguan pada sistemsaraf sebagai akibat keracunan kronis merkuri, yaitu tremor (gemetar) ringan dan parkinsonisme yang juga disertai dengan tremor pada fungsi otot sadar.
Tanda-tanda seseorang penderita keracunan kronis merkuri dapat dilihat pada organ mata. Biasanya pada lensa mata penderita terdapat warna abu-abu sampai gelap, atau abu-abu kemerahan, yang hanya dapat dilihat dengan mikroskop mata.
Di samping itu, gejala keracunan kronis merkuri yang lainnya adalah terjadinya
anemia ringan pada darah.
2.9.3 Pencegahan Pencemaran Merkuri
Untuk mengurangi pencemaran limbah merkuri di daerah pertambangan emas, dilakukan berbagai cara seperti:
1. Memilih teknik penggalian yang ramah lingkungan, yaitu menerapkan sistem pertambangan tertutup sehingga memperkecil keluarnya merkuri dari dalam tanah.
2. Menggunakan teknologi pemrosesan batuan tambang yang tidak menggunakan merkuri, tetapi diganti dengan menggunakan sianida.
Dalam lingkungan yang telah tercemar oleh merkuri, upaya yang dilakukan adalah penyehatan kembali lingkungan dengan cara:
1. Memindahkan sedimen yang mengandung merkuri (Hg) tinggi, lalu melakukan isolasi.
2. Treatment tanah atau air yang terpolusi secara fisik atau kimiawi.
3. Imobilisasi dengan memasang batas di daerah yang tercemar.
4. Remediasi secara biologis atau fitoremidiasi menggunakan tumbuhan yang mampu menyerap metil merkuri.
Untuk meminimalisasi tingginya tingkat pencemaran merkuri dalam usaha penambangan emas, dengan membuat bak pengendap yang mampu menampung material yang tercecer pada saat dan sedang melakukan penggaran di dalam ruang tertutup atau kedap udara sehingga uap merkuri yang terbentuk bisa dialirkan masuk ke dalam bak pengendap yang tertutup rapat (Widowati, 2008).
Fitoremidiasi menggunakan tanaman sebagai alat pengolah bahan pencemar.
Tanaman yang tumbuh subur di tanah-tanah dengan kandungan mineral khas
disebut metalokolus atau metalofit. Beberapa tanaman metalofit bisa digunakan sebagai indikator untuk suatu deposit logam berat di dekat permukaan tanah sehingga cocok untuk ditanam di daerah pertambangan atau industri. Jenis tanaman Stelaria setacea( eceng gondok) tumbuh subur di tanah yang mengandung merkuri (Hg) (siswoyo 2012).
2.9.4 Penanggulangan Toksisitas Merkuri
Hingga saat ini belum ditemukan obat untuk menangani keracunan kronis merkuri. Untuk keracunan akut, bisa diberikan BAL (British Anti-Lewisite), senyawa yang mengandung 2,3-merkapto propanol (H2SC-CSH-CH2OH), atau Ca-EDTA (kalsium etilendiamin tetra asetat) dan NAP (N-asetil-d, -penicilamin).
Senyawa tersebut akan membentuk kompleks dengan Hg serta meningkatkan ekskresi Hg melalui urin (Widowati, 2008).
2.10 Kerangka Konsep
-Kandungan Merkuri pada Air Sumur Sekitar Pengolahan Emas - Jarak 10 Meter dari Pengolahan - Jarak 20 Meter dari Pengolahan - Jarak 40 Meter dari pengolahan - Jarak 60 Meter dari pengolahan - Jarak 100 Meter dari pengolahan
Kandungan Merkuri Ada merkuri
Jenis penelitian ini adalah penelitian survey yang bersifat Deskriptif yaitu untuk mengetahui kadar merkuri (Hg) pada air sumur gali masyarakat akibat limbah penambangan emas tradisional di Desa Banua Rakyat Kecamatan Naga Juang Kabupaten Mandailing Natal.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan pada air sumur gali masyarakat Banua Rakyat Kecamatan Naga Juang Kabupaten Mandailing Natal. Adapun alasan dipilihnya lokasi tersebut sebagai lokasi penelitian adalah karena:
1. Di Kecamatan Naga juang termasuk Desa Banua Rakyat,banyak terdapat penambangan emas tradisional.
2. Lokasi pemeriksaan sampel air dilakukan di laboratorium Badan penelitian dan Pengembangan Industri Balai Riset dan Standardisasi industri medan.
3. Masyarakat Desa Banua Rakyat umumnya menggunakan air sumur Gali sebagai sumber air minum dan air bersih.
3.2.2 Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Januari-April 2018
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
Populasi dari penelitian ini adalah seluruh penduduk di Desa Banua Rakyat Kecamatan Naga Juang Kabupaten Mandailing Natal yang menggunakan air sumur sebagai air minum dan air bersih, dengan jumlah 24 Sumur.
3.3.2 Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah menggunakan metode pengambilan sampel secara Purposive Sampling, dimana sebagian anggota populasi menjadi sampel penelitian sehingga teknik pengambilan sampel purposive ini di dasarkan pada pertimbangan peneliti sendiri, adapun sampel dalam penelitian ini di ambil berdasarkan jarak, dengan jarak mulai dari 10m-99m dari Pengolahan Penambangan (Notoatmodjo, 2010).
3.4 Objek Penelitian 3.4.1 Air Sumur
Air sumur gali yang dipakai masyarakat Desa Banua Rakyat Kecamatan Naga Juang Kabupaten Mandailing Natal sebagai air minum dan air bersih, dengan jarak 10-100 meter dengan jumlah 6 sampel air, yaitu sebanyak 5 sumur warga dan 1 sampel pembuangan dari pertambangan emas tradisional di desa Banua Rakyat
3.4.2 Responden
Masyarakat Desa Banua rakyat kecamatan naga juang Kabupaten Mandailing Natal, warga masyarakat yang berumur 18 tahun ke atas sebanyak 35