• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERBIT CV.EUREKA MEDIA AKSARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENERBIT CV.EUREKA MEDIA AKSARA"

Copied!
130
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

LEGALITAS PERKAWINAN ANTAR WARGA NEGARA DI KECAMATAN ANJATAN KABUPATEN INDRAMAYU

JIKA DI TINJAU DARI SEGI HUKUM ISLAM YANG DI HUBUNGAN DENGAN PASAL 56-62 UNDANG-UNDANG NOMOR

1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN

A. Junaedi Karso

PENERBIT CV.EUREKA MEDIA AKSARA

(4)

LEGALITAS PERKAWINAN ANTAR WARGA NEGARA DI KECAMATAN ANJATAN KABUPATEN INDRAMAYU JIKA

DI TINJAU DARI SEGI HUKUM ISLAM YANG DI HUBUNGAN DENGAN PASAL 56-62 UNDANG-UNDANG

NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN Penulis : A. Junaedi Karso

Desain Sampul : Eri Setiawan

Tata Letak : Sakti Aditya, S.Pd., Gr.

ISBN : 978-623-5581-62-0

Diterbitkan oleh : EUREKA MEDIA AKSARA, MEI 2020 ANGGOTA IKAPI JAWA TENGAH NO. 225/JTE/2021

Redaksi:

Jalan Banjaran, Desa Banjaran RT 20 RW 10 Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga Telp. 0858-5343-1992 Surel : [email protected]

Cetakan Pertama : 2021 All right reserved

Hak Cipta dilindungi undang-undang

Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun dan dengan cara apapun, termasuk memfotokopi, merekam, atau dengan teknik perekaman lainnya tanpa seizin tertulis dari penerbit.

(5)

KATA PENGANTAR Assalamu'alaikum Wr, Wb

Bismillahirohmanirohim

Segala Puji dan Syukur kami panjatkan selalu kepada Allah SWT atas Rahmat, Taufiq, dan Hidayah yang sudah diberikan sehingga kami bisa menyelesaikan Buku tentang LEGALITAS PERKAWINAN ANTAR WARGA NEGARA DI KECAMATAN ANJATAN KABUPATEN INDRAMAYU JIKA DI TINJAU DARI SEGI HUKUM ISLAM YANG DI HUBUNGAN DENGAN PASAL 56-62 UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN .

Kami mohon beribu-ribu maaf apabila ada kesalahan, referensi, kutifipan atau salah menorehkan sumber-sumber buku terkait LEGALITAS PERKAWINAN ANTAR WARGA NEGARA DI KECAMATAN ANJATAN KABUPATEN INDRAMAYU JIKA DI TINJAU DARI SEGI HUKUM ISLAM YANG DI HUBUNGAN DENGAN PASAL 56-62 UNDANG- UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN . Kami sadar bahwa penulisan buku ini bukan merupakan buah hasil kerja keras kami sendiri yang kami kutif dari berbagai sumber baik dari buku, jurnal, desertasi, tesis, skripsi, website, media serta sumber lainnya. Ada banyak pihak yang sudah berjasa dalam membantu kami di dalam menyelesaikan buku ini, seperti pengambilan data, pemilihan contoh, dan lain-lain. Maka dari itu, kami mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu memberikan wawasan dan bimbingan kepada kami sebelum maupun ketika menulis buku panduan ini.

Kami juga sadar bahwa buku yang kami buat masih tidak belum bisa dikatakan sempurna. Maka dari itu, kami meminta dukungan dan masukan dari para pembaca, agar kedepannya kami bisa lebih baik lagi di dalam menulis sebuah buku.

Akhirnya, kami berterima kasih kepada semua pihak,

(6)

yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu yang turut serta membidani kelahiran buku ini. Semoga Allah SWT membalas kebaikan Anda-Anda semua. Selamat membaca dan semoga bermanfaat.

Billahit taufiq walhidayah, Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

(7)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Prosesi Perkawinan Antar Warga N egara di Indramayu ... 2

BAB 2 PERKAWINAN ... 4

A. Pengertian Perkawinan... 4

B. Perkawinan Antar Negara... 7

C. Legalitas Perkawinan Antar Negara ... 7

D. Tujuan Perkawinan Antar Negara ... 9

E. Akibat Dari Perkawinan Antar Negara Terhadap Harta Benda ... 9

F. Masalah Hukum Adat Jika Tidak Adanya Perkawinan ... 11

BAB 3 PERCERAIAN ... 13

A. Menurut Hukum Islam ... 13

B. Menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata / BW (187) ... 20

C. Menurut Undang-undang Perkawinan No 1 Tahun 1974 ... 27

BAB 4 AKIBAT YURIDIS DARI SUATU PERKAWINAN YANG ILEGAL ... 34

A. Profil Anjatan ... 34

B. Akibat Perkawinan Ilegal ... 35

C. Syarat-syarat Sahnya Perkawinan Menurut Undang-Undang 40 D. Rukun dan Syarat Sahnya Perkawinan Menurut Hukum Islam ... 41

E. Akibat Hukum Perkawinan Yang Sah ... 46

BAB 5 PENCERAIAN ADAT DI INDRAMAYU ... 50

A. Terjadinya Perceraian ... 50

B. Alasan-alasan Dari Perceraian ... 54

C. Usaha-usaha Pencegahan Perceraian ... 57

D. Tata Cara Melakukan Permohonan dan Gugatan Perceraian. . 60

E. Tata cara Tentang Gugatan Perceraian ... 61

F. Masalah Harta Bersama ... 64

G. Harta bersama antara suami isteri ... 67

(8)

DAFTAR PUSTAKA ... 77 LAMPIRAN ... 80 TENTANG PENULIS ... 117

(9)

BAB

1

A. Latar Belakang Masalah

Negara Republik Indonesia yang terdiri dari berbagai suku serta adat istiadat yang berbeda antara suku yang satu dengan suku yang lain, demikian juga mengenai perkawinan terhadap masing masing suku dan adat istiadat tersebut.

Didalam penjelasan umum sub. 2 Undang undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 bagi berbagi golongan, warga negara dan berbagai warga daerah seperti berikut :

1. Bagi orang-orang Indonesia asli yang beragama islam talah diresepsi dalam Hukum Adat;

2. Bagi orang Indonesia asli lainnya berlaku Hukum Adat;

3. Bagi orang Indonesia asli yang beragama Kristen berlaku Huwelijke Ordonantie Chisten Indonesiers (HOCI) Staatblad 1933 Nomor 74;

4. Bagi orang Timur Asing lainya dan WNI Keturunan Cina berlaku ketentuan-ketentuan Kitab Undang-undang Hukum Perdata dengan sedikit perubahan;

5. Bagi orang Timur lainnya dan WNI Keturunan Timur Asing lainya serta WNA tersebut berlaku Hukum Adat mereka;

6. Bagi orang-orang Eropa dan WNI Keturunan Eropa dan yang disamakan dengan mereka berlaku Kitab Undang- undang Hukum Perdata

PENDAHULUAN

(10)

Melihat kenyataan demikian maka bagi Negara Indinesia yang merupakan Negara Kesatuan, maka dalam bidang hukumnya mutlaklah ada satu undang undang yang bersifat nasional dan sekaligus dapat menampung prinsip-prinsip serta merupakan tonggak baru bagi berbagai golongan masyarakat Indonesia.

Sesuai dengan falsafah Pancasila serta cita-cita dalam pembinaan hokum Nasional, ,maka Pemerintah dalam bidang Perundang-undangan telah menyusun Undang-undang No. 1 Tahun 1974 yang lebih dikenal dengan nama Undang-undang Pokok Perkawinan yang telah diundangkan pada tanggal 1 April 1975.

Dengan demikian dalam Undang-undang Pokok Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 dinyatakan bahwa segala ketentuan yang ada dengan berlakunya Undang-undang ini yang mengatur perkawinan yang sepanjang belum diatur didalam Undang-undang tersebut masih tetap berlaku, demikian juga segala ketentuan yang terdapat didalam hukum adat Indramayu khususnya yang mengatur mengenai perkawinan masih tetap berlaku disamping ketentuan- ketentuan yang terdapat didalam Undang-undang Pokok Perkawinan.

B. Prosesi Perkawinan Antar Warga N egara di Indramayu

Sebagai mana disebutkan diatas, bahwa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, ras, bangsa, agama dan adat istiadat yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya diantaranya adalah Anjatan Indramayu Jawa Barat, berbagai kehidupan dalam masyarakat di Anjatan-Indramayu- Jawa barat salah satu diantaranya ialah kawin musiman.Kawin Kontrak yang berdampak Negatif yaitu meningkatkan angka perceraian dari tahun ketahun serta semakin banyaknya praktek praktek pelacuran/prostitusi, karena surat cerai bagi mereka merupakan Paspor untuk memasuki duani hitam tersebut.

(11)

Sebelum melaksanakan perkawinan Antar Warga (campuran), terlebihdahulu harus melalui prosedur yang berklaku dan taca cara yang telah ditentukan dalam masyarakat dan harus pula ditaati oleh masyarakat, oleh karena itu apabila dalam melaksanakan suatu perkawian tidak sesuai dengan proses yang sudah ditetapkan maka perkawinan yang akan dilaksanakan itu dapat dibatalkan.

Menurut Hukum Adat bahwa dalam perkawinan Antar Warga (campuran) tidak hanya menyangkut kepentingan antara kedua belah pihak yang akan melangsungkan perkawina, melainkan pula menyangkut kepentingan dari para anggota kerabat dari kedua belah pihak, baik dari calon suiami maupun dari calon isteri di samping itu juga diharapkan dari perkawinan. Dan Setelah di keluarkannya Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan dan peraturan pelaksanaannya, secara berangsur-angsur musiman di daerah Anjatan Kabupaten Indramayu yang banyak segi negatifnya tidak dapat di pertahankan lagi Masyarakat Anjatan Kab Indramayu. Dandengan sendirinya akan hilang. Walaupun masih adanya keinginan dari pemuka adat untuk mempertahankan perkawinan musiman yangsudah menjadi tradisi secara ekonomi oleh Masyarakat Anjatan agar tidak hilang agar dan masih terus berlaku di dalam masyarakat.

(12)

BAB

2

A. Pengertian Perkawinan

Pekawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang kekal dan abadi berdasarkan ketentuan Yang maha Esa, Pasal I UU No. 1 tahun 1974. Dari pengertian tersebut di atas dapat di lihat ada beberapa unsur dari perkawinan itu sendiri, Yaitu :

1. Adanya ikatan lahir batin

2. Antara seorang pria dan seorang Wanita

3. Sebagai suami isteri dan membentuk keluarga yang bahagia, kekal dan abadi;

4. Berdasarkan ketentuan yang Maha Esa Adanya ikatan lahir batin

Berarti adanya persetujuan dan persesuaian kehendak yang berdasarkan atas kemauan yang suci untuk mengadkan ikatan dalam status suami isteri yang mempunyai pengaruh besar terhadap masyarakat lingkuannya, oleh karena itu masyarakat haruslah menghormati ikatan tersebut.

Antara seorang pria dan sorang wanita

Dalam unsure ini terkandung suatu prinsip bahwa azas perkawinan adalah monogamy. Jadi seorang suami pada

PERKAWINAN

(13)

azasnya hany mempunyai seorang isteri dan isteri hanya mempunyai seorang suami.

Dalam hal ini azas monogamy yang dai atur dalam Undang-undang Pokok Pekawinan Nomor 1. Tahun 1974 adalah azas monorelatif atau ada pengecualian ( Pasal 3 ayat (2) UU No.1 Tahun 1974 ), pengadilan dapat memberi ijin kepada seorang suami untuk beristeri lebih dari seorang apabila di kehendaki oleh yang bersangkutan.

Pasal 4 ayat (1) UU No. 1 tahun 1974 dal suatu hal seorang suami beristeri lebih dari seorang sebagaiman tersebut dalam pasal 3 ayat (2) undang-undang ini maka ia wajib mengajukan permohonan kepada pengadilan di daerah tempat tinggalnya. Pasal 4 ayat (2) Pengadilan yang di maksud dalam ayat (1) pasal ini hanya memastikan ijin seorang suami yang akan beristeri yang lebi dari dari seorng jika :

a. Isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai seorang isteri;

b. Isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat di sembuhkan;

c. Isteri tidak dapat melahirkan keturunan.

Ajas perkawinan ini islam adalah halnya dengan undang-undangperkawinan No. 1 tahun 1974 yaitu ajas monogamy relatif, sedangnya poligami hany semacam pengecualian sebagai jalan keluar sebagai kesulitan

Seperti yang tertera dalam pasal 4 ayat (2) di pihak lain ada yang terdapat bahwa azas perkawinan adalah monogamy, kalau ada poligami hanya pengecualian saja.

Mereka berpendapat demikian karena mereka berpegang teguh pada Al-Qur an surat An - Nisa ayat (3) yang terjemahannya sebagai berikut ka i lah a i a-wanita lain yang kamu senangi dua, tiga atu empat, kemudian jika kamu takut

idaka aka be lak adil maka ka i ilah a a g aja .

Jika di telusuri kembali, Asbabun Nu ulnya (mengapa ayat tersebut turun) mengapa akan di ketahui mengapa sampai terjadi adanya poligami, karena banyaknya sahabat yang mengikuti Rosulullah dalam peperangan. Maka bermunculan

(14)

janda-janda dan anak-anak yang perlu mendapat bimbingan demi perlindungan di mungkinkan mengawini mereka tersebut sehingga anaknya terpelihara demi kelanjutan kehidupannya.

Demikian juga halnya dengan masyarakat adat Indramayu yang masih mempunyai prinsip ndan berpegang teguh pada Al-Qur an Surat An-Nisa ayat (3), sehingga suatu kebiasaam atau adat perkawinan musiman bukan saja bagi mereka yang masih single / sendiri, tetapi juga banyak orang yang sudah mempunyai keluarga, (khususnya pria) masih mengikkuti kebiasaan tersebut, sehingga hal ini menimbulkan keresahan di lain pihak terutama isteri-isteri mereka yang suaminya ikut / turut serta.

Suami isteri yang bertujuan membentuk kel;uarga yang bahagia dan kekal.

Dalam hal ini terlihat suatu kekekalan atau keabadian dalam perkawinan. Oleh karena itu pada azasnya perkawinan itu harus berlangsung seumur hidup dengan tujuan membentuk suatu keluarga yang bahagia.

Berdasarkan Ketentuan Yang Maha Esa.

Dalam hal ini dapat di lihat suatu kekekalan suatu keabadian dalam perkawinan. Sangat penting sekali, Pasal 2 Undang-Undang pokok perkawinan menyatakan bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya.

Agama Islam dalam kitab Al-Qur an surat An-Nur Ayat (32)berbunyi : Dan kawinilah dan orang-orang sendirian di antara kamu dan orang-orang lanyak (berkawin) dari hamba-hamba sahanyamu yang perempuan, jika mereka miskin Allah maha luar biasa lagi maha mengetahui . Dalam Agama Islam juga di katakana bahwa perkawinan akan lebih mantap sempurna jika bagi mereka yang punya cukupnafkah (belanja suami isteri) hukumnya muba atau boleh saja.

(15)

Disini dapat di simpulkan bahwa peraturan agama dalam hal perkawinan sangatlah penting, karena dalam perkawinan haruslah di perhatikan benar-benar. Agama, sebab agamalah yang menentukan sah/tidaknya suatu perkawinan di samping hukum lainnya.

Jika suatu perkawinan haruslah memenuhi semua unsure agam tersebut, untuk unsure mana yang merupakan suatu kesatuan, sehingga apabila salah satu pihak tidak terpenuhi maka tidak sempurnalah perkawinan yang dilaksanakan itu. Sebagaimana yang jelas dikemukakan bahwa undang-undang ini mengandung didalamnya unsur-unsur dan ketentuan-ketentuan hukum agama dari masyarakat Indonesia.

Oleh karena itu kita dapat mengetahui bahwa di samping keagamaan juga hukum dan adat merupakan daya pengikat dari masyarakat serta memberikan arah petunjuk dalam bertindak dan bertingkahlaku.

B. Perkawinan Antar Negara

Dalam melaksankan Perakwinan antar Warga Negara di Kabupaten Indramayu, tentunya tidak terlepas dari Undang- undang Dasar 1945, Perundang-undangan (UU No. 1 Tahun 1974 Pasal 57-62), Peraturan Pemerintahan, (PP No. 9 Tahun 1975 Pasal 2-9); Peraturan Menteri Agama (PMA No. 2 Tahun 1990) dan Peraturan Presiden (Perpres No.25/2008 (Pasal 73);

Yang dimaksud dengan perkawinan campuran dalam Undang-Undang ini untuk perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan, karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak berkewarganegaraan Asing dan salah satu

ihak be ke a ga ega aa I d e ia .

C. Legalitas Perkawinan Antar Negara

Adapun Legalitas Perkawinan Antar Negara berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1975 tentang

(16)

perkawinan syah (legal) apabila dilaksanakan berdasarkan Pasal 59 ayat (2) sampai dengan Pasal 61 ayat (1) Undang- Undang Perkawinan No.1 Tahun 1974, yang menentukan sebagai berikut :

1. Perkawinan campuran (antar negara) yang dilakukan di Indonesia dilakukan menurut Undang-Undang Perkawinan ini;

2. Perkawinan campuran tidak dapat dilangsungkan sebelum terbukti bahwa syarat-syarat perkawinan yang ditentukan oleh hukum yang relatif dipenuhi dan karena itu tidak untuk melangsungkan perkawinan campuran, maka mereka yang menurut hukum yang berlaku bagi pihak masing- masing berwenang mencatat perkawinan, diberikan surat keterangan bahwa syarat-syarat telah terpenuhi;

3. Jika pejabat yang bersangkutan menolak untuk memberikan surat keterangan itu maka atas permintaan yang berkepentingan Pengadilan memberikan keputusan dengan tidak boleh dimintakan banding tentang soal apakah penolakan pemberian surat keterangan itu beralasan atau tidak;

4. Jika Pengadilan memutuskan bahwa penolakan tidak beralasan maka keputusan itu menjadi pengganti keterangan yang tersebut dalam Pasal 60 ayat (3) Undang- Undang Perkawinan No.1 Tahun 1974;

5. Surat keterangan atau keputusan pengganti keterangan tidak mempunyai kekuatan lagi jika perkawinan itu tidak dilangsungkan dalam masa 6 (enam) bulan sesudah keterangan itu diberikan;

6. Perkawinan campuran dicatat oleh pegawai pencatat yang berwenang (KUA) apabila dilaksanakan berdasarkan Agama Islam dan di catatan sipil bagi selain agama islam.

(17)

D. Tujuan Perkawinan Antar Negara

Adapun salah satu tujuan utama terjadinya Pernikahan antar Warga Negara (WNI) dan WNA) diantarnya karena Kesejahteraan ekonomi, dimana pada umumnya kesejahteraan ekonomi suatu Negara, bangsa dan masyarakat identik sekali dengan tingkat ekonominya yang kuat serta tatanan sosial yang tinggi, hal ini sesuai dengan pendapat Thomas dkk.

(2005:15) menyampaikan bahwa kesejahteraan masyarakat menengah ke bawah dapat di representasikan dari tingkat hidup masyarakat ditandai oleh terentaskannya kemiskinan, tingkat kesehatan yang lebih baik, perolehan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, dan peningkatan produktivitas masyarakat. Kesemuanya itu merupakan cerminan dari peningkatan tingkat pendapatan masyarakat golongan menengah kebawah.

Sejalan dengan uraian diatas, Koentjaraningrat (1983) menyatakan bahwa ada tujuh unsur yang terdapat dalam kebudayaan, yaitu:

1. Sistem religi dan upacara keagamaan 2. Sistem dan organisasi kemasyarakatan 3. Sistem pengetahuan

4. Bahasa 5. Kesenian

6. Sistem mata pencarian hidup 7. Sistem teknologi dan peralatan

E. Akibat Dari Perkawinan Antar Negara Terhadap Harta Benda Undang-undang perkawinan No. 1 tahun 1974 menegaskan bahwa harta benda yang di peroleh selama perkawinan menjadi hart bersama . Pasal 35 ayat (1).

Harta bawaan masing-masing suami dan isteri serta harta benda yang masing-masing di peroleh sebagai hadiah atau warisan adalah di bawah penguasaan masing-masing pihak sepanjang para pihak tidak menentukan lain (pasal 36 ayat (2). Bila perkawinan putus karena perceraian,

(18)

hartabersama di atur menurut hukumnya masing-masing, Pasal 37 UU No.1 tahun 1974.

Dari uraian tersebut di atas bahwa barang asal atau bawaan dari perkawinan dari pihak wanita tersebut ataupun di pihak suami di pandang semata-mata milik suami dan isteri.

Hal ini terbukti dari kenyataan bahwa seluruh hukum di Jawa Barat bila seorang wanita membawa rumah, ternak atau sebidang tanah dalam perkawinan, para tetangga atau kerabatnya dalam percakapan dan sebagainya menyebut barang itu kepunyaan atau milik wanita tersebut.

Jika seorang ingin mengadakan perjanjian mengenai barang itu ia akan menghubungi wanita tersebut, dan apabila suami yang mengadakan pembicaraan ia berbuat demikian atas nama isterinya. Oleh Yurisprudensi yang di tetapkan di Jawa Barat yang terbukti yang dari banyak putusan yang diumumkan maupun yang tidak di umumkan, dianggap sebagai kenyataan yang tidak dipersoalkan lagi bahwa suami isteri tetap memiliki harta bawaannya.

Barang yang diperoleh suami atau isteri selama pekawinan menukar barang asalnya atau dibeli uang hasil penjualan dari barang asalnya atau uang yang termasuk barang semata-mata menjadi milik suami atau isteri yang bersangkutan.

Menurut keyakinan penduduk di wilayah hukum Jawa Barat kedua suami isteri menjadi hak milik bersama atas barang yang di peroleh selama perkawinan karena pekerjaan suami isteri, barang-barang itu termasuk harta milik bersama yang disebut barang sekaya. Tidak dipermasakahkan apakah isteri ikut aktif bekerja atau tidak, walaupun isteri tinggal di rumah mengurusi rumah tangga dan anak, sedangkan yang bekerja suami sendiri namun hasil suami itu adalah pencaharian bersama suami isteri, dan jika perkawinan mereka putus maka sebagaimana putusan Mahkama Agung tanggal 9 april 1960 No. 120 K/Sip/1960 harus dibagi sama rata antara suami dan isteri.

(19)

F. Masalah Hukum Adat Jika Tidak Adanya Perkawinan

Dalam hal ini penulis akan mengemukakan tentang status anak Pertama anak yang lahir di luar perkawinan, ber Ibu pada seorang perempuan yang tidak menikah yang melahirkannya, sebagaimana seorang juga yang dilahirkan dari seorang ibu yang dalam hubungan perkawinan ini di anggap sebagai suatu hal yangbiasa atau tidak tercela / cacat. Dalam hal yang Kedua terdapat sikap yang keras, mengutuk ibu yang melahirkan tanpa pernikahan dan hal tersebut karena pendirian yang magis dan religius akan membawa celaka, sial dan sebagainya, juga akan membawa mala petaka dan kerugian material yang sulit di kira-kira, oleh karena itu keduanya ibu dan anak harus di asingkan dari masyarakat.

Berhubungan dengan itu baik dulu maupun sekarang diadakan, aturan atau mencegah agar supaya ibu dan anak tidak tertimpa kemalangan, disini disebut kawin paksa, yang dipaksakan kepad alaki-laki yang di tunjuk oleh si perempuansebagai seorang yang telah menurunkan atau membangkitkan anak yang masih dalam kandungan, laki-laki yang di paksakan itu supaya kawin dengan perempuan itu oleh kepala Desa.

Dalam hukum adat rupa-rupanya tidak menjadi soal beberapa lama anak itu di lahirkan sesudah perkawinan, menurut Islam lebig dari 6 (enam) bulan. Aturan ini tidak berpengaruh terhadap hukum adat, menurut hukum adat anak yang di lahirkakn sesudah putus perkawinan bapak pada suami bekas ibunya.

Akibat hukum hubungan anak dan bapak serta anak dan ibu menimbulkan hak dan kewajian yang timbal balik, namun di dalam suasana yang unilateral ini kerap sekali sangat berlainan malah kadang-kadang menyimpangkan kewajiban serta hak ibu atau bapak, tetapi bapak selalu bertindak sebagai wali terhadap anak-anaknya terutama anak perempuan dalam perkawinan sesuai dengan hukum Islam, juga dalam hukum waris tanpa wasiat ab instentato lebih di dasarkan pada

(20)

hubungan karena anak saudara, dalam praktek di rubah karena banyak lembaga pengibahan.

Tentang penghapusan hubungan hukum anak dan bapak dengan sesuatu perbuatan hukum adalah mungkin menurut hukum adat. Pengusirsn secara formal di sebut amgkola.

Sebuah lembaga yang menetapkan suatu hubungan bapak dengan anak adalah lembaga anak pria, yaitu seseorang dapat menitipkan seorang anak kepada orang lain untuk di pelihara hal ini berbeda dengan adopsi,bahwa perbuatan tersebut adalah suatu jalan untuk memenuhi suatu kewajiban sebagai orang tua bertugas memelihara anak, akibat dalam hukum adat dan kehidupan sangat sukar di bedakan man yang adopsi dan mana yang penitipan anak dan manapula anak piara.

Anak yang dititipkan dapat sewaktu-waktu di ambil kembali oelah orang tuanya, asal dengan penggantian biaya pemeliharaan.

(21)

BAB

3

A. Menurut Hukum Islam

Kata penceraian ini sebenarnya arti yang ama dengan putusnya perkawinan, di samping itu juga bahwa kata penceraian ini lebih sering di ucapkan dalam masyarakat, sebab lebih praktis untuk di dengar walaupun perceraian ini merupakan akibat yang sangat buruk sekali.

Sebagaimana telah di ketahui bahwa perceraian ada karena adanya perkawinan. Dimana tidak ada perkawinan maka tidak ada perceraian. Karena itu perkawinan merupakanawal hidup bersama sebagai suami isteri dan dan perceraian sebagai akhir hidup antara suami isteri. Dalam islam di tentukan bahwa hanya dua kali saja yang memperolehkan talaq yang di rujuk dalam masa iddah, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur an

Talaq yang dapat di rujuk duakali, setelah itu boleh rujuk kembali dengan cara yang ma ruf. Atau menceraikannya dengan cara yang baik

Apabila suami telah melakukan talaq yang ketiga kali maka habislah hak talaq suami, karena itu hilang pula haknya untuk rujuk kembali kepada isterinya. Dalam hal ini ada pengecualian, dimana jika bekas isterimya telah menikah dengan laki-laki lain/suami lain yang telah di sempurnakan kehidupan itu serta telah di talaq pula oleh suami lain itu. maka

PERCERAIAN

(22)

barulah terbuka kesempatan bagi bekas suami pertama untuk kembali kepada bekas isterinya dengan melakukan perkawinan baru.

Islam menghendaki perkawinan kekal diantara suami isteri, kecuali apabila ada sebabyang tidak dapat dielakan seperti kematian oleh sebab itu dalam melakukan perkawinan dimana tidak di sahkan prkawinan untuk sekedar untuk sekedar bersenang-senang yang terbatas waktunya (sementara) yang dalam hal ini di kenal dengan nikah mut ah namun demikian islam tidak mengikat mati perkawinan itu akan tetapi juga tidak mempermudah talaq perceraian.

1. Perceraian Sebagai Jalan Keluar

Seperti telah di ketehui bahwa perceraian hendaknya hanya di lakukan sebagai tindakan yang terakhir setelah dengan adanya segala upanya guna perbaikan kehidupan perkawinan tidak berhasil, atau dalam hal ini dengan perkataan lain bahwa perceraian merupakan jalan keluar pintu darurat bagi suami isteri demi kebahagiaan yang dapat di harapkan sesudah terjadinya perceraian itu.

Pada garis besarnya perceraian menurut hukum islam terbagi dua, yaitu : talaq dan fasakh dengan ketentuan bahwa setiap perceraian yang timbul karena sebab-sebab dari pihak suami di sebut talaq perceraian yang timbul dari pihak isteri di sebut fasakh. Islam menetapkan bahwa hak untuk mentalaq isterinya ada tangan suami, karena itu suami memiliki hak untuk mentalaq istyerinya sampai tiga kali namun tidak dapat di gunakan sewenang-wenang.

Penggunaan hak talaq secara secara sewenang-wenang merupakan perbuatan yang di murkai Allah SWT, demikian juga dengan isteri yang memaksa agar suaminya menceraikannya tanpa sebab yang memperolehkan untuk bercerai adalah suatu perbuatan tidak di rtestui Allah SWT

Di Indonesia di samping suami dapat menggunakan hak talaq untuk menceraikan isterinya, tetapi tiodak sedikit yang telah mempergunakan haknya untuk melakukan atau memperoleh cerai dari suaminya melalui lembaga ta lik talaq di depan pengadilan agama.

(23)

Tal lik talaq ini terdiri dari 3 (tiga) macam :

a. Talaq Munajjaz (kontan), yaitutalaq yang tidak di gantungkan kepada syarat dan tidak pula di sadarkan kepada suatu masa yang akan datang, tetapi merupakan yang di jatuhkan pada saat di ucapkan talaq itu sendiri, misalnya suami berkata kepada isterinya engkau aku talaq

b. Talaq Mualaq (digantungkan), yaitu talaq yang di jatuhnya di gantungkan pada terjadinya suatu keadaan, umpanya suami berkata isterinya jika engkau keluar rumah tanpa se i inku engkau ku talaq

c. Talaq Mualat (disandarkan), yaitu talaq yang di jatuhnya di sandarkan pada suatu masa yang akan datang, misalnya suami berkata kepada isterinya engkau tertalaq besok, engkau tertalaq bulan yang akan datang.

Bagaimanapun bentuk penceraian bukan lah suatu perbuatan yang terpuji, karena itu suatu perselisihan yang melatar beklakangi sampai akhirnya timbul suatu penceraian bukan merupakan suatu perbuatan terpuji.

Perceraian adalah tindakan terakhir atau sebagian jalan keluar yang di lakukan terlebih dahulu menempuh jalan melalui usaha-usaha perdamaian, perbaikan dan sebagainya, tidak ada jalan kecuali dengan melakukan perceraian demi kebahagiaan yang dapat di harapkan sesudah terjadinya prceraian.

2. Putusnya Ikatan Perkawinan a. Kematian Suami atau isteri

Kematian suami atau isteri dalam arti hukum adalah putusnya ikatan perkawinan, jika isterinya meninggal dunia suami diperbolehklan menikah lagi dengan segera, tetapi janda yang tinggal mati suaminya harus menunggu lewatnya waktu tertentu sebelum dapat kawin lagi (iddah), iddah karena kematian suaminya adalah 4 (empat) bulan sepuluh hari dari meninggalnya suamidan bilaman apada akhirnya waktu ini isteri hamil, maka jangka waktu untuk dapat kawin lagi sampai ia

(24)

melahirkan anak.

Putusnya ikatan pekawinan dengan matinya salah satu pihak suami ister I menimbulkan hak waris mewarisi, kecuali matinya karena di bunuh salah satu pihak. Karena janda yang kematian suaminya itu termasuk ahli waris yang berhak atas warisan, maka ia tidakdi beri hak lagi untuk memperoleh nafkah, dalam jangka watku iddah karena ia dan akan di dalam kandungannya berhak mendapat warisan dari tirkah suaminya yang meninggal itu.

b. Perceraian

Pengertian perceraian dalam arti umum dapat di bedakan atas talaq dan faskh, yang dalam bahasa arab : furqah, jamaknya furaqfuraquzzawaj yang berarti putusnya perkawinan karena itu semua perceraian dalam talaq tetapi tersebut merupakan sebagian dari perceraian sudah menjadi ketentuan bahwa talaq adalah hak laki-laki atau suami dan hanya ia saja yang berhak mentalaq interinya karena laki-laki suami yang dibebani kewajiban perbelanjaan rumah tangga, nafkah isteri anak-anak serta kewajiban rumah tangga lainnya, diantaranya adalah :

1) membayar atau melunasi mas kawin yang belum lunas atau belum di banyar

2) memberi mut ah memberikan sesuatu untuk menggembirakan isterinya yang di talaq,

3) memberi nafkah iddah, biaya hidup isteri selama jangka waktu iddah raj I,

4) menyedikan perumahan, tempat tinggal bagi isteri yang telah di talaq raj I sedangkan isteri yang telah di talaq ba in hanya di sediakan tempat kediaman apabila sedang hamil.

3. Perceraian Dan Pencabutan Kembali

Dalam syarat islam untuk perceraian yang mungkin dicabut akembali karena boleh rujuk, serta ada pula perceraian yang mungkin dicabut kembali karena tidak boleh rujuk, keadaan tersebut tergantung kepada bentuk dari perceraian yang terjadi, serta hubungan dengan rujuk dengan iddah

(25)

a.Bentuk Perceraian

Di tinjau boleh atau tidaknya suatu perceraian di cabut kembali, karena boleh rujuk atau tidakboleh rujuk maka perceraian tidak pula dibagi tiga golongan :

1) Talaq raj I yaitusuatu perceraian dimana suami boleh rujuk kepada isterinya tanpa perkawinan baru, dimana isterinya harus berada dalam masa iddah.

2) Talaq ba in surga (bain kecil), yaitu suatu perceraian dimana samu tidak boleh rujuk kepada bekas isterinyadalam keadaan masa iddah, tapi di perbolehkan untuk kawin lagi dengan akad nikah baru serta dengan mas kawin lagi, baik dalam iddah maupun sesudah habis iddahnya

3) Talaq Ba in Qubra (ba in besar), yaitu perceraian dimana suami tidak boleh kawin lagi dengan bekas isterinmya

b. Rujuk

Rujuk berarti mengembalikan iteri yang telah di talaq kepada perkawinan semula sebelum diceraikan, dalam masa iddah. Cara rujuk kepada isteri adalah dengan ucapan, misalnya suami berkata aku rujuk engkau (kalau isteri di hadapannya), atau saya rujuk kepada isteri saya nama si anu (kalau isteri tidak ada dihadapannya). Pelaksanarujuk ini boleh dengan kata- kata sindiran atau inayah, misalnya suami berkata

engkau perempuanku . di Indonesia rujuk harus dilakukan dengan ucapan serta dipersaksikan, dan tidak memerlukan campur tangan dari pengadilan agama.

Apabila terjadi perselisihan tentang apakah rujuk itu benar-benar di ucapkan atau apakah rujuk itu sah atau tidak, maka diperlukan adanya putusan dari Pengadilan Agama.

c. Iddah

Iddah adalah merupakan suatu masa menanti atau menunggu yang diwajibkan atas isteri yang telah diputus atau terputus ikatan perkawinan dengansuaminya, iddah ini gunanya addah untuk mengetahui kandungan isteri berisi atau tidak, karena

(26)

setiap anak harus jelas bapaknya, juga memberikan kesempatan berpikir dalam masa iddah cerai dalam rangka pembinaan rumah tangga kembali setelah perceraian.

Isteri yangditinggal mati suaminya ada kalanya hamil atautidakhamil, dalam keadaan ini bagi mereka terdapat sesuatu ketentuan sebagai berikut :

1) yang hamil, iddahnya sampai ia melahirkan anak yang di kandungnya, baik dalamcerai mati maupun dalamcerai hidup.

2) Yang tidak hamil

a) kalau ia ditinggal mati olehsuaminya maka iddahnya 4 (empat) bulan 10 (sepuluh) bulan b) kalau ia berceraiiddahnya adalah :

bagi yangmempunyaihaid 3 (tiga) kali suci bagi yangtidak mempunyai haid 3 (tiga) bulan bagi yangbelum di setubuhi tidak ada

iddahnya

4. Akibat putusnya ikatan perkawinan

Suatu ikatan perkawinan dapat putus karena kematian salah satu pihaksuami isteri, atau karena penceraian. Akibat karena kematian suaminya hanya baru di perkenankan kawin lagi setelah lampau jangka waktu masa iddah, sedangkan suami dapat segera kawin lagi.

Dalam hal anak anak menjadi tanggungan pihak yang hidup dalam pemeliharaannya, pendidikannya dan pembiayannya. Dalam hal harta benda, mereka berhak mendapat harta warisan dari harta peninggalan yang mati.

Akibat putusnya perkawinan oleh karena perceraian adalah sebagai berikut :

a. Mengenai hubungan bekas suami dan bekas isteri :

1) pada talaq ba in persetubuhan menjadi tidak boleh lagi, tetapi mereka tidak boleh kawin apabila belum lebih dari 2 pernyataan talaq.

2) dalam hal talaq tiga perkawinan hanya dapat dilkukan kembali dengan suatu syarat, sedangkan perceraian karena li an (tuduhan berjinah) tidak mungkin lagi ada perkawinan kembali untuk selamanya.

(27)

b. suami atau istri yang meninggal dalam jangka waktu iddah / talaq yang dapat dicabut kembali berhak mendapat warisan dari harta peninggalan yang meninggal.

c. Perceraian yang tidak dapat dicabut kembali (Talaq Ba in) tidak seorangpun dari suami atau istri berhak mendapat warisan dari harta peninggalan yang meninggal dunia dalam iddah tersebut.

1) Mengenai anak anak

Dalam perceraian yang tidak dapat dicabut kembali yang menjadi persoalan adalah anak anak dibawah umur yakni anak yang belum berakal, siapakah diantara suami istri yang berhak memelihara dan mengasuh anak tersebut atau hak hadlanah (Hak Pengasuh). Menurut pendapat ke empat ma hab (Syafi I, Malik, Hambali dan Hanafi) bahwa ibunyalah yang berhak memelihara dan mengasuh anak-anak yang masih dibawah umur, dan apabila hak hadlanah ibu berakhir maka anak tersaebut bebas untuk memilih sendiri dimana ia suka tinggal, pada ibu atau ayahnya.

Walaupun anak tersebut diasuh dan dipelihara oleh ibunya tetapi biaya pemeliharaan serta pendidika merupakan tanggungan ayahnya, dalam hal ini semua ulama sepakat bahwa nafkah, kiswah atau pakaian dan keperluan lain untuk anak ditanggung ayahnya.

2) Mengenai Harta benda

Berbeda dengan hukum barat (Pasal 119 BW) maka dalam islam tida dikenal adanya percampuran harta kekayaan antara suami istri karena pernikahan, harta kekayaan istri tetap menjadi milik istri yang dikuasai olehnya dan sebaliknya, karena itu pula menurut hukum islam perempuan yang bersuami tetap dianggap cakap untuk melakukan perbuatan hukum dalam masyarakat. Sedangkan menurut hukum perdata barat, perempuan yang bersuami dianggap tidak cakap bertindak hukum dan hanya dapat melakukan hukum secara sah apabila dibantu atau dikuasakan secara tertulis o;eh suaminya (Pasal 108 ayat (2) BW / KUH Perdata).

(28)

Jika selama perkawinan di peroleh harta perkawinan maka harta ini merupakan harta syirkah atau harta bersama yang menjadi milik bersama dari suami istri yang terpisah. Kematian salah satu pihak dari suami istri menimbulkan hak saling waris mewarisi dari harta kekayaan tersebut, akan tetapi perceraian tidak ada pengaruhnya terhadap harta kekayaan tersebut. Dalam hal ini harta kekayaan yang tidak terpisah atau harta sirkah yang merupakan kekayaan tambahan karena usaha bersama suami isteri Selma perkawinan yang menjadi milik bersama dari suami isteri selama perkawinan yang menjadi milik bersama dari suami isteri untuk kepentingan bersama.

B. Menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata / BW (187) 1. Pengertian Dari Perceraian

Dalam suatu perkawinan kita menghendaki agar perkawinan berjalan lancer, kekal, sejahtera, dan penuh kedamaian tanpa ada gangguan apapun.

Perceraian adalah suatu keadaan dimana perkawinan di putuskan dengan suatu keputusan pengadilan berdasarkan gugata atau tuntutan dari suami atau isteri atau dasar-dasar alas an-alasan yang di tentukan oleh hukum, dan perkawinan itu baru bubar bilamana keputusan tersebut didaftarkan pada catatan sipil dalam waktu yang telah ditentukan. Apabila kita hubungan dengan pasal 26 Kitab Undang-undang Hukum Perdata, yang melihat suatu perkawinan semata-mata dari segi yudris, terlepas dari segi- segi keagamaan, maka secara hukum suatu hubungan hukum di antara dua subjek hukum dapat diputuskan, asal saja pemutusan hubungan hukum ini dilakukan menurut cara serta syarat-syarat yang telah ditentukan oleh Undang- undang.

Selanjutnya keputusan penceraian dapat diucapkan oleh Pengadilan bilamana sudah di ajukan tuntutan penceraian dari salah seorang suami isteri terhadap yang lain, dimana tuntutan pencrraian itu hany dapat dikabulkan apabila tuntutan tersebut diajukan atas alas an yang di tetapkan oleh hukum. Jadi apabila tuntutan penceraian tidak didasarkan atas alasan yang telah ditentukan oleh hukum, maka tuntutan itu tidak dapat diterima.

(29)

Selain dari pada itu yang dapat diminatkan keputusan perceraian hanyalah perkawinan-perkawinan yang dilakukan di hadapan Pegawai Kantor Catatan Sipil, dan bagi perkawinan yang telah dilangsungkan dihadapan pegawai Kantor Catatan Sipil adalah tidak sah serta tidak mempunyai akibat hukum. Oleh karena itu perkawinan- perkawinan semacam ini tidak dapat diminatkan keputusan perceraian.

2. Syarat-syarat Penceraian

Perkawinan meskipun dimaksudkan untuk berlangsung kekal dan abadi akan tetapi pada suatu saat orang akan dapat mengalami, dimana perkawinannya berakhir karena keadaan suatu tertentu. Dalam hal ini kitab Undang-undang Hukum Perdata (BW) membatasi syarat- syarat untuk menuntut vsuatu perceraian, yang dapat kita lihat dalam pasal-pasal sebagai berikut :

a. Pasal 209 Kitab Undang-undang Hukum Perdata menentukan bahwa perceraian hanya dapat dituntut berdasrkan atas empat alasan yaitu :

1) Perzinahan,

2) Meninggalkan tempatbersama tanpa ada keinginan untuk kembalilagi,

3) Apabila salahseorang dari suami isteri di hukum dengan hukuman penjara selama 5 tahun atau lebih.

4) Apabila terjadi penganiyayaan yang membahanyakan jiwa dari pihak yangl ain.

5) Percekcokan yang terus-menerus di antara suami isteri yang tidak mungkin di perbaiki lagi (stb. 1933 No. 74 tentang Ordonansi Perkawinan orng-orng Indonesia, Kristen/ HOCI Pasal 52 sub. b)

b. Pasal 208 Kitab Undang-undang Hukum Perdata yang sebagai berikut :

Undang-undang melarang dilangsungkannya suatu perceraian atas dasar pemufakatan antara suami isteri

c. Didalam memeriksa dan memutuskan tuntutan perceraian pihak pengadilan diwajibkan untuk mendamaikan terlebih dahulu dari suami isteri. Dalam hal ini suami isteri di wajibkan untuk menghadap sendiri

(30)

guna mendamaikan tidak berhasil, pengadilan baru akan memberikan izin kepada pihak yang mengajukan permohonan untuk mengajukan tuntutan perceraian.

d. Pasal 221 Kitab Undang-undang Hukum Perdata menentukan bahwa perkwinan bila putus bilamana keputusan perceraian didaftrkan pad Kantor Catatan Sipil dalam jangka waktu 6 (enam) bulan terhitung sejak keputusan mendapat kekuatan hukum yang pasti.

Adapun pengrtian dari ketentuan tersebut di atas adalah:

Bahwa Undang-undang masih memberikan kesempatan kepada suami isteri mengurungkan niatnya untuk melakukan perceraian, karena itulahdi tentukan bahwa perceraian itu belum terputus walaupun keputusan telah mempunyai kekuatan hukum yang pasti .

Di dalam Pasal 208 Kitab Undang-undang Hukum Perdata menetapkan bahwa perceraian atas dasar persetujuan suami isteri adalah dilarang. Namun demikian larangan untuk bercerai atas dasar permufakatan sekarang ini sudah lazim dilakukan dengan cara mendakwa suami bahwa ia telah berbuat lazim, yang mana pada akhirnya pendakwaan tadi di akui oleh suaminyua. Dengan demikian maka alas an yang sah untuk memecahkan perkawinan telah dapat di buktikan di muka hakim.

Disamping itu pula kemungkinan bahwa kedua belah pihak baik suami maupun isteri telah melakukan perzinahan dan hal ini mengakibatkan kedua belah pihak masing-masing berhak mengajukan gugatan perceraian.

3. Prosedur / Tata Cara Perceraian

Dalam Pasal 207 Kitab Undang-undang Hukum Perdata di atur mengenai acara perkawinan, diamana gugatan preceraian harus dijukan kepada Pengadilan Negeri daerah suami bertempat tinggal.

Dalam garis besarnya prosedur perceraian dapat di bagi dalam dua jenis, tergantung dari alasan yang yang di jadikan dasar untuk menuntut perceraian yaitu :

a. penuntutan secara langsung agar suatu perkawinan diputuskan dengan percerain, bilamana tuntuan perceaian di dasarkan bahwa salah satu pihak di hukum

(31)

penjara elama lima tahun atau lebih, atau berdasarkan perzinahan yang telah terbukti dengan sesuatu keputusan pengadilan.

Dengan alasan-alasan tersebut perceraian dapat diajukan secara langsung, artinya tidak diperlukan ijin terlebih dahulu dari instantsi manapun dengan cara mengajukan surat tuntutan kepada Pengadilan Negeri dengan melampirkan alinan surat keputusan pengdilan.

Dalam hal ini Pengadilan Negeri tidak wajib untuk mendamaikan suami isteri tapi dapaat langsung dapat memeriksa kebenaran dari tuntutan. Gugatan harus diajukan dalam waktu 6 bulan sejak keputusan yang akan dijadikan aalasan untuk menuntut perceraian memperole kekuatan yang pasti, sebaliknya apabila gugatan diajukan lewat 6 bulan, maka gugatan tersebut dinyatakan tidak dapat diterima.

Selanjutnya dalam pasal 211 kitab undang-undang hukum perdata menentukan bahwa jika tempat kediaman mereka telah pindah ketempat lain setelah timbul suatu keadaan yang merupakan alaan untuk menggugat perceraian, maka turut juga berwenang dari tempat terakhir yang mengajukan permohonan itu.

Maksud dari ketentuan tersbut adalah untuk menjegah bahwa tidak ada pengadilan yang mempunyai wewnang apabila suami aa di luar negri, atau suami sengaja menyembunyiksn diri untuk menghalangi kemungkianan pihak isteri mengajukan gugatan perceraian.

b. prosedur penuntutan perceraian yang tidak boleh dijaukan secara langsung yang biash dalam praktek sehari-hari, adalah sebagai berikut; ketentuan yang mengatur acara ini terdapat dalam pasal 207 kitab Undang-Undang Perdata yang pada pokoknya terdiri dari :

1) Permohonan untuk memberikan ijin dilakukan tuntutan perceraian.

2) tuntutan perceraiannya sendiri.

Acara ini berlaku bilamana tuntutan perceraian didasarkan atas alasan-alasan diluar alasan yang langsung misalnya:

a) Perzinahan yang belum terbukti dengan suatu keputusan pengadilan.

(32)

b) meninggalkan tempat tinggal selama 5 tahun atau lebih.

c) penganiyaan yang mengakibatkan luka berat.

Adapun prosedur pnuntutan perceraian tersebut di atas yaitu sebagai berikut:

a) penggugat harus mengajukan permohonan kepada Pengadilan Negeri dan

meminta ijin untuk mengajukan gugatan percerain dengan mengemukakan alasan-alasan.

b) ketua Pengadilan Negeri memberian pertimbangan-pertimbangan agar penggugat berkehendak meninjau kembali permohonan.

c) Paa waktu kedua belah pihak menghadap maka ketua pengadilan mengusahakan perdamaian dan apabila perdamaian itu gagal maka penggugat memperoleh ijin untuk mengajukan gugatan perceraian tersebut.

d) Bilamana gugatan tidak diajukan dalam jangka waktu yang telah di tentukan, maka ijin yang telah diberikan menjadi batal.

e) Bila pada hari sidang yang ditentukan pihak penggugat tidak hadir walaupun telah di panggil maka permohonan menjadi gugur dan jika pihak lain tidak hadir biasanya Pengadilan akan memerintahkan agar orang itu dipanggil kembali.

f) Oleh karena gugata perceraian itu dapat memakan waktu lama maka ketua Pengadilan dapat menetapkan beberapa tindakan sementara :

Untuk sementara verdian di rumah lain

Perintah bahwa barang yang di pakai sehari- hari oleh isteri di serahkan kepada isteri.

Di tetapkan pula siap yang harus diikuti anak- anaknya.

Ditetapkan jumlah uang yang sementara wajib kepada isteri dan anak-anaknya diberikan oleh suami.

Akhirnya ia apabila terus tidak ahadir maka ketua pihak tidak dapat di damaikan lagi dan dengan demikian akan menganggap bahwa kedua belah pihak untuk mengajukan tuntutan perceraian.

(33)

4. Akibat Dari Perceraian

Dengan terputusnya perkawinan karena perceraian, akan mempunyai akibat sebagai berikut :

a.Akibat terhadap perkawinan itu sendiri b. Akibat terhadap diri pribadi suami isteri c. Akibat hubungan antara orang tau dan anak d. Akibat terhadap harat kekayaan

Ad.1. Akibat terhadap perkawinan itu sendiri

Dengan adanya perceraian maka perkawinan menjdai putus (pasal 199 dan pasal 126 KUHP perdata, dan harat campuran harus dibagi (pasal 232 KUHP Perdata)

Ad.2. akibat terhadap diri pribadi dari suami isteri:

Suami atau isteri yang gugatan dikabulkan tetap mempunyai segala hak-hak yang diperoleh berdasarkan dengan perjanjian dengan isteri atau suaminya, hal tersebut menurut ketentan yang terancam dalam pasal 222 KUHP Perdata, tetapi sebaliknya suami atau isteri yang dikalahkan perkaraya, akan kehilangan hak-hak tersebut (pasal 223 KUHP Perdata).

Ad.3. akibat terhadap hubungan antara orang tua dan anaknya:

Dengan adanya perceraian, maka kekuasaan orang tua berakhir dan berubah menjadi perwalian (voogdij), karena itu apabila prkawinan dipecahkan oleh hakim harus pula diatur tentang perwalian terhadap anak-anaknya yang masih di bawah umur, dan penetapan wali oleh hakim dilakukan setelah mndengar keluarga dari pihak ayah maupun dari pihak ibu, yang mempunyai hubungan erat dengan anak-anak tersebut.

Dalam hal ini hakim bebas untuk mengemukakan siapa yang menjadi wali, ayah atau ibu tergantung dari siapa yang paling cakap atau baik mengingat kepentingan anak-anak. Penetapan wali ini juga dapat ditinjau kembali oleh hakim atas permintaan ayah atau ibu atas dasar perubahan keadaan (pasal 229 ayat 4 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata).

(34)

Ad.4. Akibat terhadap harta kekayaan perkawinan

Dengan adanya perceraian, maka percampuran kekayaan menjadi hapus dan selanjutnya dapat dilakukan pembagian harta kekayaan itu menurut perjanjian perkawinan

Dalam pasal 128 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata ditentukan bahwa harta benda kesatuan dibagi dua antara suami isteri dengan tidak memperdulikan barang tersebut. Menurut pasal 232

1) ditentukan bahwa apabila kemudian terjadi perkawinan ulang antara kedua belah pihak dikembalikan keadaan sebelum adanya perceraian perkawinan, dan hal ini dianggap sebagai tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka. Isteri yang tidak dapat mempunyai suatu penghasilan yang cukup untuk memelihara anak-anaknya, maka hakim dapat menetapkan tunjangan nafkah yang harus diberikan oleh suami dimana permintan ini dapat diajukan bersama dengan gugatan untuk mendaptkan perceraian dan dapat juga diajukan secara tersendiri/ terpisah

Adapun jumlah tunjangan oleh Hakim diambil dengan pertimbangan kemampuan suami, dan bila keadadaan berubah maka suami dapat mengajukan permohonan agar penetapan hakim ditinjau kembali. Untuk lebih jelasnya akibat putusnya perkawinan karena perceraian dapat di simpulkan sebagai berikut.

a. Baik suami atau isteri tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya semata-mata atas dasar kepentingan anak, apabila ada perselisihan mengenai atas kekuasaan atas anak-anak, maka Pengadilan akan memberikan keputusan.

b. Suami yang bertanggung jawab atas semua biaya perawatan atau pemeliharaan pendidikan yang diperlukan anak dan apabila suami tidak dapat memberikan kewajibannya maka pengadilan dapat menentukan bahwa isteri dapat mempertanggungkan jawab biayanya tersebut.

(35)

c. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami menurut kemampuannya untuk memberi penghidupan kepada bekas isterinya selama masih hidup dan bersuami kembali;

d. Pengadilandapat menentukan kewajiaban apa serta jumlah biaya yangdiberikan kepada bekas suami dan isterinya.

C. Menurut Undang-undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 1. Pengertian Dari Perceraian

Tentang apa yang dimaksud dengan perceraian ataua pengertian dari perceraian, tidak kita temui dalam Undanh- undang perkawianan No. 1 tahun 1974 maupun didalam pertuaran Pemerintah No.9 tahun 1975 yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Undang-undang perkawinan.

Untuk mendapatkan pengertian yang dimaksud, maka kita harus menghubungkan masalah perceraian ini dengan salah satu azaz yang dianut Undang-undang Perkawinan mengenahi perkawinan yang tercantum dalam Pasal 1 Undang-undang tersebut, yang mennetukan bahwa pwerkawinan itu harus berlangsung kekal, hal tersebut dianggap perlu karena peraturan masalah perceraian merupakan sebagai suatu usaha dari Undang-undang yang mengatur perkawinan untuk menjaga keutuhan perkawinan.

Dalam hal nini Undang-undang perkawinan mensyaratkan bahwa untuk melakukan perceraian harus terdapat cukup alasan, misalnya antara suami istri tersebut tidak akan hidup rukun kembali sebagai suami istri.

Perceraian hanya dapat dilakukan didepan sidang pengadilan setelah tidak berhasil untuk mendamaikan kedua belah pihak (Pasal 39 UU No. 1 Tahu 1974).

Walaupun Undang-undang perkawinan maupn peraturan pelaksanaan tidak memberikan pengertian tentang perceraian, tapi yang dimaksudkan dengan perceraian adalah berakhirnya suatu perkawinan karena Putusan Pengadilan atas dasar gugatan dari salah satu pihak antara suami istri.

2. Syarat-syarat Perceraian

Undang-undang Perkawinan mengatur mengenai alasan perceraian dalam pasal 39 undang-undang No. 9

(36)

tahun 1975. Didalam Pasal 39 tersebut diatas menentukan bahwa sebagai alasan perceraian adalah terdapatnya suatu keaqdaan antara suami istri yang tidak memungkinkan suami dan istri tersebut rukun kembali. Alasan ini kemudian diperinci lebih lanjut dalam pasal 19 PP No. 9 tahun 1975 yang menentukan alasan-alasan perceraian sebagai berikut :

a. Salah satu pihak melakukan zinah atau pemabok, penjudi dan lain-lain yang sukar disembuhkan.

b. Salah satu pihak meninggalkan pihak yang lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa ijin dari pihak lain tersebut serta tanpa alasan yang sah atau karena suatu hal diluar kemampuannya.

c. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara selama 5 (lima) tahun atau lebih setelah perkawinan berlangsung.

d. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan yang membahayakan pihak lain.

e. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit yang mengakibatkan tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai suami istri.

f. Antara suami istri terjadi perselisihan dan pertengkaran serta tidak ada harapan hidup rukun kembali dalam suatu rumah tangga.

Oleh karena itu didalam penerapannya, maka untuk memutuskan Suatu perkawinan dengan perceraian harus terbukti alasan-alasan tertentu,yang disebut dalam pasal 39 ayat (2) Undang-undang perkawinan tahun 1974 karena kedua ketentuan tersebut berhubungan erat satu dengan yang lain,didalam pasal 19 PP No. tahun 1975 merupakan perincian atau pelaksanaan dari pasal 39 UU perkawinan tahun 1974.

3. Tata Cara Perceraian

Sebelum membahas tentang permasalahan tata cara perceraian, penulis akan memberikan sedikit keterangan mengenai hal-hal apa saja yang kan menjadi urusan Pengadilan serta tentang Pengadilan yang berwenang untuk memprosesnya baik menurut Undang-undang perkawinan maupun peraturan pelaksanaannya.

Menurut ketentuan Undang-undang perkawinan pasal 63 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang

(37)

Perkawinan, menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan Pengadilan menurut Undang-undang tersebut adalah:

a. Pengadilan adalah Pengadilan Agama Bagi mereka yang beragama Islam Dan Pengadilan Negeri bagi mereka yang lainnya.

b. Pengadilan Negeri adalah Pengadilan dalam Lingkungan Peradilan Umum.

Adapun tata cara perceraiandiatur dalam 2 (dua) macam tentang perceraian, yaitu :

a. Perceraian dengan cara talaq.

b. Perceraian dengan cara gugatan.

Peraturan ini merupakan pelaksanaan dari pasal 39 ayat (3) Undang-undang perkawinan yang menentukan bahwa tata cara perceraian yang didepan sidang Pengadilan, diatur dalam perundang-undangan tersendiri, yang akan diuraikan lebih lanjut.

a. Cerai Talaq.

Tata cara ini diatur dalam pasal 14 sampai dengan pasal 19 PP No. 9 tahun 1975, yang berlaku bagi mereka yang menganut agama Islam yakni : apa bila seorang suami yang telah melangsungkan perkawinan menurut agam Islam yang akan menceraikan istri mengajukkan surat kepada Pengadilan ditempat tinggalnya, yang berisi pemberitahuan bahwa mereka bermaksud untuk menceraikan istrinya disertai dengan alasan-alasan serta meminta kepada Pengadilan agar disidangkan untuk keperluan tersebut. Setelah Pengadilan mempelajari isi surat tersebut maka dalam waktu paling laqmbat 30 Hari memanggil pengirim surat dan juga istrinya untuk meminta penjelasan berhubung dengan maksud perceraian itu.

Setelah pengadilan mendapat penjelasan dari suami dan istri serta ternyata memang terdapat alasan- alasan untuk melakukan perceraian dan pengadilan berpendapat bahwa antara suami itri yang bersangkutan tidak mungkin didamaikan untuk hidup rukun dalam rumah tangga, maka Pengadilan memutus untuk melakukan sidang perceraian tersebut. Setelah melakukan sidang ketua Pengadilan membuat surat keterangan tentang terjadinya perceraian, dan surat

(38)

keterangan tersebut dikirimkan untuk diadakan pencatatan Perceraian.

Dalam hala ini Panitera Pengadilan Agama selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari perceraian diputuskan menyampaikan putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap pada Pengadilan Negeri untuk dilakukan.

Perlu pula diperhatikan dalam hubungan ini, bahwa menurut Undang-undang Perkawinan dan Peraturan pelaksanaannya, hak talaq hanya ada pada suami dimana dalam penggunaannya suami diwajibkan untuk mengemukakan alasan-alasannya untuk mentalaq sedangkan proses pentalaqan harus dilakukan didepan sidang Pengadilan, yang mana kedua belah pihak antara suami dan istri akan didengar dan diminta penjelsannya mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan maksud perceraian.

b. Cerai Gugat.

Mengenai Cerai gugat ini Undang-undang yang mengaturnya dalam pasal 20 sampai dengan pasal 36 PP.

No. 9 tahun 1975. dimana pasal tersebut menentukan bahwa dalam cerai gugat, gugatan perceraian dapat diajukkan oleh suami atau istrin maupun kuasanya kepengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman tergugat. Bila mana tempat tinggal tergugat tidak jelas, maka gugatan perceraian diajukkan ke Pengadilan ditempat tinggal penggugat.

Kemudian dalam hal tergugat bertempat tinggal di Luar Negri gugatan diajukkan pada Pengadilan tempat tinggal Penggugat, setelah itu Ketua Pengadilan menyampikan permohonan tersebut kepada tergugat melaui Perkawinan Republik Indonesia setempat.

Selanjutnya dalam hal gugatan perceraian karena salah satu pihak dari suami istri mendapat hukuam penjara 5 tahunatau lebih, maka utuk dapat putusan perceraian sebagai bukti, penggugat cukup menyampaikan salinan putusan pengadilan yang memutuskan perkara disertai keteranggan yang menyatakan bahwa putuan itu telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap. Selama berlangsungnya

(39)

penceraian atas suatu permohonan penggugat atau tergugatberdasarkan pertimbanganakan bahanya yang mungkin ditimbulkan, pengadilan dapat mengijinkan suami atau istri untuk tidak tinggal dalam satu rumah.

Demikian pula halnya gugatan perceraian atas permohonanpenggugat, pengadilan dapat:

1) Menentukan nafkah yang harus ditanggung suami 2) Menentukan hal-hal yang perlu untuk menjamin

pemeliharaan serta pendidikan anak-anak;

3) Menentukan hal-hal ysng perlu untuk menjamin terpeliharanyabarang-barang yang menjadi hak bersama antara suami itri atau barang-barang yang menjadi hak milik suami yang menjadi hak istri.

Gugatan perceraian akan gugur, apabilasuami istri meninggal sebelum adanya putusan pegadilan mengenai gugatan penceraian tersebut.

Dalam sidang pemeriksaan gugatan penceraian suami istri datng sendiri atau mewakilkan kepada kuasanya, serta hakim yang memeriksa gugatan penceraian akan berusaha untuk mendamai kan kedua belah pihak, selama perkara belum di putuskan usaha perdamaian dapat di lakaukan dalam setiap bidang pemeriksaan. Bila mana tercapai perdamaian,maka tidak dapat diajukan gugatan perceraian baru berdasarkan alasan-alasan yang ada sebelum perdamaian dantelah diketahuai oleh penggugatpada w3aktu dicapainya perdanmaian.Sebaliknya apabila tidak dapat dicapai suatu perdamaian, maka pemeriksaan gugatanperceraian dilakukan dalam sidang tertutup.

Putusan mengenai gugatan perceraian diucapkan dalam sidang terbuka serta suatu perceraian dianggap terjadi, terhitung sejak saat pendaftaranya pada daftar pencatatan oleh pegawai penctat, kecuali yang beragama islam terhitung sejak jatuhnya putusan pengadilan agamayang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap.

Dari uraian tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan, bahwa pembuat undang-undang dalam hal ini menghendakai agar jangan terjadi penceraian, dan hakim di wajibkan untuk mengusahakan dengan mendamaikannyaagar tetap utuhnya perkwinan dari suami istri yang bersangkutan.

(40)

Selain dari pada itu undang undang perkawinan bertekat untuk membatasi sejauh mungkin agar perceraian tersebut jangan sampai terjadi demi tetap utuh serta terpeliharanya yang kekal dan bahagia.

4. Akibat dari perceraian

Putusnya perkawinan karena perceraian membawa akibat-akibat yang menyakut hal-halsebagai berikut di bawah ini:

Keadaan perkawinanya sendiri menurut pasal 38 Undang undang perkawinan, ditentukan bahwa perkawinan yang berlangsung antara suami istri putus karewna di mana putusnya perkawinan itu membawa akhibat lebih lanjut yang berhubungan dengan rumah tangga keadaan keseluruh seperti hubungan mereka dengan anak-annknya serta bharta yang diperoleh dalam perkawinan.

a. Pengaturan hubungan bekas suami atau istri.

Setelsh putusnyab ikatan perkawinan,maka terdapat kemungkinan timbulnya suatu keadaan, dimana bekas istrii dalam hal untuk penghidupaya memerlukan uatu bantuan, karena tidak berpenghasilamn dan tidak mampunyai sumber penghasilan berupa pekerjaan tertetudalam hal ini pengadilan dapat mewajibkan bekassuami untuk memberi nafkah atu menentukan suatu kewajiban bagi bekas istri nya(pasal 41 sub. C uu pokok perkawinan No.

1 tahun 1974)

b. Mengenai pengaturan hubungan orang tua dengan anak- anak:

Menurut pasal 41 sub. A, menentukan setelah terjadi perceraian suami maupun istri tetap berkewajiban untuk memelihara dan mendidik anak- anaknya semata mata atas dssar kepentingan dari anak yang bersangkutan. Jadi kekuasaan orang tua harus dilaksanakan suami dan iatri demi kepentingan anak.

Selanjutnya didalam pasal 41 sub b ditentukan bahwa maalah pembiyayaan, pemeliharaan dan pendidika nanak- anak terutama menjadi tanggung jawab suami, apabila suami tidak mampu untuk memenuhi kewajiban, pengadilan dapat menentukan bahwa istri ikut memikul biyaya tersebut.

(41)

Yang perlu diperhatikan disini perihal peraturan diatas adalah dimana tetap terjamin kepentingan anak,walaupu orangtuanya telah bercerai karena pada akhirnya hal tersebut di letakan diatas tanggung jawab kedua orang tuanya.

Faktor yang ter penting lainya yang perlu diketahui adalah dimana tetap terjaminnya hubungan lahir batin antar kedua orang tua tersebut untuk memelihara dan mendidik anak-anaknya. Pemelihaaan terhadap anak oleh orang tuanya dapat memberikan dampak yang positif bagi yang berkembang dari anak yang bersangkutan.

(42)

BAB

4

A. Profil Anjatan

Sebelum kita membahas Akibat Yuridis Perkawinan yang Ilegal, terlebih dahuku kita membahas Kecamatan Anjatan Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, dimana kecamatanAnjatan merupakan salah satu Kecamatan yang keberadaannya di Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Anjatan terletak paling timur wilayah Kabupaten Indramayu. Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Bongas dan Patrol. Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Sukra. Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Hargeulis. Sedangkan, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Subang.

Luas wilayah Kecamatan Anjatan adalah 7.676 KM2. Kecamatan Anjatan terdiri dari 13 desa. Berikut adalah data BPS tahun 2017 secara lengkap:

AKIBAT YURIDIS DARI SUATU PERKAWINAN

YANG ILEGAL

(43)

No Desa Luas (Km2)

Jumlah Penduduk Laki

Laki

Perempuan Jumlah

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

1 Mangunjaya 619,5 3.692 3.600 7.292 2 Bugistua 781,8 3.112 3.329 6.441

3 Bugis 409,2 4.110 4.166 8.276

4 Salamdarma 612,4 3.463 3.513 6.976 5 Kedungwungu 566,5 4.913 4.382 9.295

6 Wanguk 570 4.416 4.532 8.948

7 Lempuyang 539,9 3.655 3.607 7.262

8 Kopyah 625 3.423 3.552 6.975

9 Anjatan Baru 639,9 3.546 3.401 6.947 10 Anjatan 580,9 2.671 2.541 5.212 11 Cilandak 599,3 2.158 2.348 4.506 12 Cilandak Lor 539 2.800 2.704 5.504 13 Anjatan Utara 592,6 4.392 4.510 8.902 Jumlah 7.676 46.351 46.185 7.292

Tabel Jumlah Penduduk Kecamatan Anjatan

B. Akibat Perkawinan Ilegal

Bila dipermasalahkan tentang perkawinan Antar Warga Negara (campuran) dilakukan dibawah tangan (illegal), mungkin ada yang berasumsi bahwa yang dipersoalkan adalah:

Hidup bersama tanpa nikah yang serin diberitakan dalam media pers, baik itu majalah maupun surat kabar, seperti lazimnya telah merupakan mede masa kini di Eropah, lebih konkret lagi di Swedia. Di mana para remaja (putra-putri) melakukan observasi (menjajaki) sampai beberapa jauh diantara mereka terdapat persesuaian paham baik ideal maupun praktis dalam membina rumah tangga yang harmonis

(44)

kelak. Untuk itu meraka melakukan proof marriage (kawin percobaan), dalamjangka waktu tertentu (samen laven). Bila ternyata diantara mereka dalam jangka waktu tertentu itu, baik dalam soal kesukaan (hobby) pribadi mapun dalam masalah seksual, terdapat keserasian atau perseuian paham maka hubungan mereka secara formal ditingkatkan dalam ikatan perkawinan. Bila tidak mereka mencoba lagi dengan pasanan yang lain dan seterusnya dan seterusnya. Peningkatan dalam hubungan perkawinan yan fomal ini, apabila dalam jangka waktu itu si wanita dapat melahirkan seorang atau sekurang- kurangnya telah hamil.

Hal itu bisa terjadi di Swedia, Karena Swedia termasuk salah satu Negara yang makmur di Eropa, dengan Gross National Product (GNP) perkapita tertingi di Eropa, walaupun jika dibandingkan derngan Negara Abu Dhabi di Teluk Arab sekarang tidak ada seperlimanya (di bandingkan Swedia

$4:200, perkapita, sedangkan Abu Dhabi $23.000, Indonesia tahun 1982 baru $520, perkapita).

Mungkin juga ada faktor lain misalanya keadaan wanita yang sangat parah di Swedia, yaitu 10% (sepuluh persen) wanita Swedia meninggal dunia sebagai perawan tua, tanpa pernah mendapat suami. Bayangkan andaikata ini terjadi di Indonesia, berarti kira-kira 6,7 juta wanita Indonesia menjadi perawan tua, suatu jumlah yang sangat besar hamper 50 kali pengungsi Vietnam di Amerika Serikat.

Dari hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Prof. Han s L. Zitterberg, at6as perintah Sweden s Royal Commision on sexual life in Sweden yang dimuat dalam Majalah Reader s Digest, 90% (sembilan puluh persen) penduduk Swedia melakukan hubungan seksual sebelum meikah, 33% (tiga puluh tiga persen) pengantin wanita sudah hamil pada waktu melangsungkan perkawinan formal mereka, kira-kra 1 (satu) dari 7 (tujuh) orang anak yang lahir disana adalah anak diluar nikah.

Seperti halnya juga di Nigeria dilarang Poligami, namun untuk menghindari diri dari ketentuan Undang-undang ini

(45)

mereka para gadis-gadis dan janda disana kawin dengan pria yang telah beristrisecara diam-diam, kemudian apabila ketahuan dan ditanyaklan kepadanya, mereka menjawab saya bukan istrinya, tetapi gundiknya dan memang disana gundik tidak dilarang.

Yang penulis maksud di sini bukanlah masalah proof marriage seperti di Swedia atau Gundik-gundik di Nigeria itu, tetapi dalam konteks tulisan ini mempunyai motif yang hamper sama dengan keadaan yang digambarkan diatas, dengan beberapa variasi dari sudut pandangan masyarakat yang panatisme islam, tetapi mereka kurang memahami Hukum Islam dalam kaitan serta hubungannya dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dewasa ini. Yang dimaksud disini ialah suatu perkawina yang dilakukan oleh orang-orang islam di Indonesia, memenuhi baik rukun-rukun maupun syarat-syarat perkawinan, tetapi tidak didaftarkan pada Pejabat Pencatat Nikah, seperti dia atur dan ditentukan oleh Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974. dalam rangkaian tulisan ini penulis mempergunakan istilah Perkawinan di bawah tangan . Inilah suatu masalah kecil yang luas obyek yang ditimbulkannya, yang meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat yang perlu diuji kebenarannya baik dari sudut Undang-undang yang masih ada dan berlaku dalam Negara Republik Indonesia Maupun dari sudut Hukum Islam, berdasarkan Al-Qur an dan Hadits Rasulullah SAW.

Dari uraian tersebut timbul masalah yang dirumuskan dalam pertanyaan sebagai berikut.

Apakah sah perkawinan yang dilakukan di bawah tangan?

Bila kita terpaku hanya kepada pertanyaan itu saja dan memberikan jawabannya tentulah dianggap masalah sepele, tidak prinsipal, soal kecil, tidak begitu penting dan dengan mudah dijawab sah atau tiak sah titik.

Tetapi andaikata ditelusuri exsistensinya secara luas dan agak mendalam, serta direnungkan dalam konteks luas dan agak mendalam, serta direnungkan dalam konteks kehidupa masyarakat, bangsa dan Negara baik secara sosiologis,

Referensi

Dokumen terkait