• Tidak ada hasil yang ditemukan

Harta bersama antara suami isteri

Dalam dokumen PENERBIT CV.EUREKA MEDIA AKSARA (Halaman 75-130)

BAB 5 PENCERAIAN ADAT DI INDRAMAYU

G. Harta bersama antara suami isteri

Ada beberapa macam harta yang lazim dikenal di Indonesia antara lain :

1 Harta yang di peroleh sebelum perkawinan oleh para pihak karena usaha mereka masing masing, di bali disebut guna kaya (lain dari guna kaya sunda). Di Sumatra selatan di sebut Harta Pembujang bila di hasilkan oleh perawan (Gadis), harta jenis ini adalahhak dan dikuasai oleh masing masing pihak (suami atau isteri), di minang kabau dikenal Harta Pembujang, menurut pasal 35 ayat (2) UU No.1 Tahun 1974, tetap di bawah pengawasan masing masing pihak.

2 Harta yang pada saat mereka menikah di berikan kepada mempelai itu, mungkin modal usaha, atau perabotan rumah tangga ataupun rumah tempat tinggal mereka suami isteri. Apabila terjadi perceraian maka harta ini kembali pada orang tua (keluarga) yang memberikan semul di minang kabau dikenal harta Asal.

3 Harta yang di peroleh selama perkawinan tetapi karena hibah atau warisan dari orang tua mereka atau keluarga terdekat, di jawa tengah, jawa timur dan yogyakarta disebut harta gawan, Jakarta di sebut barang usaha, Banten di sebut barang sulu, jawa barat di katkan barang benda atau barang

asal (Barang Pusaka). Di Aceh terkenal dengan istilah Hareuta Tuha (Harauta Asal) atau pusaka dan Ngaju Dayak di kenal dengan pimbut. Sedangkan di minangkabau di kenal dengan harta pusaka tinggi

4 Harta yang di peroleh sesudah mereka berada dalam hubungan perkawinan berlangsung atas usaha mereka berdua atau usaha salah seorang dari mereka di sebut harta pencaharian. Harta ini menjadi harta bersama menurut undang-undang No.1 Tahun 1974 pasal 35 ayat ( 1 ), yang menyatakan bahwa harta yang di peroleh selama perkawinan menjadi harta bersama. Harta jenis ke- 4 ini di Aceh disebut hareuta Sihareukat, sedangkan di Bali disebut Druwegabro, di Jawa dikenal dengan harta Gono-Gini atau Barang Guna, di Kalimantan lazim disebut Barang Papantangan, di Minangkabau dipergunakan istilah harta Suarang Nan Babagi, diMadura disebut istilah Ghuna gana, di Jawa Barat dikatakan Guna Kaya, disamping itu ada itilah lain dengan pengertian aggak berbeda yaitu dalam perkawinan Manggih Kaya dan Nyalindung Kagelung. Di Daerah Bugis (makasar) terkenal dan lazim disebut dengan istilah makruf dengan barang barang Cakara

Tentang harta jenis pertama, kedua ketiga tidak menjadi persoalan lagi Karen asudah pasti statusnya dikuasai masing-masing pihak (jenis pertama. Kembali pada asal dari mana datangnya semula (jenis kedua) dan tetap dikuasai mamak kepala waris atau penguasa adat yang bersangkutan (jenis ketiga).

Yang menjadi masalah sekarang ini adalah harta jenis keempat yakni harta yang diperoleh selama perkawinan berlangsung. Untuk menjawab pertanyaan tersebut diatas menurut Hukum Islam terdapat dua Versi jawaban yang dapat dikemukakan tentang hata bersama yaitu :

Tidak dikenal harta bersama dalam Lembaga Islam kecuali dengan syirkah (pendapat pertama)

Berbeda dengan system Perdata Barat (BW) dalam Hukum Islam tidak dikenal percampuran harta kekayaan antara suami dan istri karena perkawinan. Harta kekayaan istri tatap menjadi milik istri dan dikuasai sepenuhnya oleh istri tersebut, demikian juga harta kekayaan suami tetap menjadi hak milik suami dan dikuasai sepenuhnya olehnya, oleh karena itu pula wanita yang bersuami tetap dianggap cakap bertindak tanpa bantuan suami dalam soal apapun juga termask mengurus harta benda, sehingga ia dapat melakukan segala perbuatan Hukum dalam masyarakat.LIhat juga Al-Qur an Surat 14 Ayat 32 jo. Q. II:228.

Lain halnya wanita yang bersuami menurut Hukum Barat (Kitab Undang-undnag Hukum Perdata Dapat di Lihat dalam Pasal 119 BW).

mulai saat perkawinan di langsungkan di hukum berlakulah persatuan bulat antara harta kekayaan suami dan isteri, sekedar mengenai itu dengan perjanjian perkawinan tidak diadakan ketentan lain. Peraturan itu sepanjang perkawinan tidak boleh ditiadakan ketentuan di ubah dengan sesuatu persetujuan antara suami istri.

Segala utang dan rugi sepanjang perkawinan harus diperhitungkan atas mujur malang persatuan (pasal 122 Kitab Undang-undang Hukum perdata atau Burgelijk Wetboek).

Dangan demikian menurut KUH perd. (BW), istri tidak dapat bertindak sendiri tanpa bantuan suami . Berbeda dangan itu maka baik suami maupun istri menurut Hukum Islam berhak dan berwenang harta kekuasaan masing-maing.

Suami tidak berhak atas harta isterinya karena kekuasaan isteri terhadap hartanya tetap dan tidak berkurang disebabkan perkawinan .

Karena itu sang suami tidak boleh menggunakan harta istri untuk membelanjakan rumah tangga keculi dengan ijin ang istri, bahkan harta kepunyaan istri yang dipergunakan untuk membelanjai rumah tangga , menjadi utang suami dan

suami wajib membayar kepada suaminya kecuali jika istri mau membebaskannya .

Namun menurut hukum-hukum Islam dengan perkawinan menjadilah sang isteri syarikatur rajuli filhayati

=Kongsi sekutu seorang uami dalam melayari bahtera hidup , maka antara suami itri dapat terjadi syarikah abdan (Perkongsian tidak terbatas ).

Dalam hal ini harta kekayaan bersatu karena syirqah (syirkah)seakan akan merupakan harta kekayaan tambahan karena usaha bersama, karena itu apabil kelak perjanjian perkawinan itu terputus karma perceraian atau talaq, maka harta syirqah tersebut dibagiantara suami isteri menurut pertimbangan sejauh mana usaha mereka suami/isteri turut berusaha dalam syirkah. Dalam yurisprudensi di Indonesia dapat dilahat keadaan ini pada keputusan landraad serang 29 Agustus 1929 yang di dasarkan kepada pendapat Raad van Justitie Jakarta tanggal 28 desember 1928, menetapkan bahwa tidak ada milik bersama antara suami isteri meskipun barang di peroleh karena pekerjaan dan kerajinan bersama kecuali jika hal itu dengan jelas disetujui pada perkawinan (syirqah atau syirkah).

Lihat juga ketetapan fatwa syirkah tentang harta bersama antara suami isteri yang ditetapkan oleh pengadilan Agama Jakarta timur tanggal 7 Februari 1978 No.21/c/1978 dalam pertimbangan hukumnya mengemukakan:

Apabila terjadi syirkah (harta bersama) pada suatu masa tertentu, setelah perpindahan dan tidak dapat diperolehkandari masing masing harta syirkah itu, maka harta terebut di bagi dua.

Fatwa pengadilan Agama di Jakarta timur tanggal 28 April 1975 No.54/c/1975, mengemukakan:

Lil rijaali nashiibun mimmaktasabuu wa linnisaai nashiibun mimmaktasabna. (Q.IV:32

Bagi laki-laki ada bagian harta peninggalan dari usahanya dan bagi perempuan mempunyai pula bagian dalam usahanya.

Penulisn berpendapat dari beberapa argumentasi yang di kemukakan pada bagian pertama initidak ada harta bersama menurut Hukum Islam antara suami isteri, kecuali adanya syirqah, hal itu mungkin bertitik tolak dari beberapa ayat AL-Qur an antara lain:

Q. IV:34 - bahwa suami kepada keluarga dan mempunyai kewajiban mutlak harus memberi nafkah kepada baik isteri maupun anak anak.

Q.LXV:6 - berikanlah tempat tinggal kepada istri (para isteri) kamu di mana kamu bertempat tinggal dan juga kamu menyusahkan.

Karena isteri mendapat perlindungan dari suami baik tentang nafkahlahir, sedang pangan, nafkah batin dan moral materiilmaupun papan rumah tempat tinggal demikian pun biaya kesehatan,pemeliharaan serta pendidikan anak anak menjadi tanggung jawab penuh suami sebagai kepala keluarga.

Sebagimana di tentukan oleh Q.IV:34 dan Q>LQV:6 tersebut di atas, berarti sang isteri dianggap pasif menerima apa yang datang dari suami, maka penafsiran ini tidak ada harta bersama antara suami dan apqayang di terima isteri di luar permbiyaan rumah tangga dan pendidikan anak anak, misalnya hadiah perhiasan, anting, gelang, cincin dan yang serupa itu, maka itulah yang menjadi hak istri dan tidak bileh diganggu gugat lagi oleh suami, apayang diusahakan oleh suami keseluruhan nya tetap menjadi hak milik suami, kecuali bila ada syirqah (perjanjiaan bahwa harta mreka itu bersatu).

Pendapat kedua penyatakan bahwa ada harta bersama antara suami dan istri menurut Hukum Islam

Pendapat kedua ini disamping mengakui bahwa yang diatur oleh Undang-undang No. 1 TAhun 1974, sepanjang

mengenahi bersama seperti tersebut dalam pasal 35, 36 dan 37, sesuai dengan kehendak dan/atau aspirasi HUkum Islam,

sebagai mana termaktub dalam

Q.II.228,Q.IV:21,Q:34,Q.IV:19,Q.XXX:21, sebagai mana diuraikan dibawahini:

Mermuat dalam BAB VII pasal 35, 36 dan 37, tentang harta benda dalam perkawinan mengatur:

1. Pasal 35 (1)Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama.

2. Pasal 36 (1) Mengenahi harta besama antara suami dan istriapat bertindak atas persetujuan kedua belah pihak.

3. Pasal 37 (1) Bila mana perkawinan putus karena perceraian, maka harta bersama diatur menurut hukumnya masing masing.

Jelaslah bawaha harta keempat yang penulis kemukakan pada bagian kedua tulisan ini yang perumusannya berbunyi:

Bahwa harta yang diperoleh slama perkawinan berlangsung karena usahanya menjadi harta bersama.

Kita coba telusuri sekarang pendapat arjana Islam yang mengatakan bahwa ada harta bersama dalam prkawinan antara suami istri. Q.IV:19

Pergaulilah istri kamu itu secara makruf dan manakala kamu benci kepadanya hendaknya kamu bersabar kemungkinan ketidaksetujuankamu itu (benci) Allah akan menjadikannya kebaikan yang banyak. Q.IV:34

Bahwa perkawinan itu adalah perjanjian yang suci, kuat dan kokoh ( miistsaaqan ghliizhaan ). Q.IV:34

Kaum laki-laki adalah pemimpin kaum waita, oleh karena Allah telah melebihkan laki-laki dari wanita, oleh sebab itu laki-laki sebagai suami adalah kepala keluarga dan berkewajiban membiayai istri dan anak-anaknya atau kelarganya.Q.XXX:21

Di antara tanda-tada kekuasaan TUhan diciptakan-Nya untukmu istri-istri dari jnismu supaya klamu cenderung dan

merasa aman dan tenteram (sakiah), saling cinta mencintai (mawaddah) dan salign santun menyantuni (rahmah). Q.II:228

Hak istri seimbang dengan kewajiabn suammi yang diberikan kepadanya secara baik-baik ( makruf ).

Bertitik tolak dari ayat-ayat Al-Qur an tersebut, penulis sependapat dengan kesimpulan yang diambil oleh beberap aSarjana Islam dewasa ini di Indonesia terutama Sayuti Thalib.

S.H., Ichtiono, SA.S.H.

Prof. Dr. Hazairin, S.H. (almarhum) bahwa menurut Hukum Islam harta jenis keempat, seperti yang telah dikatakan terdahulu dalam tulian ini yakni, harta yang diperoleh suami dan istri karena usahanya, adalah harta bersama, baik mereka bekerja bersma-sama maupun hanya sang suami saja yang bekerja sedangkan istri hanya mengurus rumah tangga beserta anak-anak saja dirumah, sekali mereka teriakt dalam perjanjian perkawinan sebagai suami istri maka semuanya menjadi bersatu baik harta maupun anak-anak, sepertyi yang diatur oleh Al-Qur an Surah IV : 21. Tidak perlu diiringi dengan syirkah, sebab perkawinan dengan ijab Qabul serta memenuhi persyaratan lainnya seperti adanya wali, saksi, mahar, walimah dan I lanun nikahsudah diangap syirqah antara suami istri itu.

Bilamana istri dari seorang suami hamil kemudian melahirkan anak sednagkan suami tidak turut serta mengandung anak yang dikandung istrinya itu dan tidak turut serta menderita melahirkan anak tetapi anak tersebut tidak dapat dikatakan anak si istri saj atentulkah anak dari suami istri bahkan lebih ditonjolkan nama suami (ayah) dibelakang anama anak. Demikian pula bila halnya bila mana suaminya yang bekerja, berusaha dan mendapat harta tidak dapat dikkatakan nahwa harta itu hanya hata suami saja tentulah menjadi harta suami istri bersama, apabila terjadi putus hubungan perkawinan baik karena cerai atas gugatan pihak istri, atau karena talaq atas permohonan suami, maka harta bersama itu harus dibagi antara suami dan istri itU.

Bilamana isteri dari orang suami hamil kemudian melahirkan anak sedangkan suami tidak turut serta

mengandung anak yang dikandung isterinya itu dan tidak turut serta menderita melahirkan anak tetapi anak tersebut tidak dapat dikatakan anak si isteri saja tntulah anak isteri dan suami bahkan lebih ditonjolkan nama suami (ayah) dibelakang nama anak. Demikian pula hanya bilamana suaminya yang bekerja, berusaha dan mendapat harta tidak dapat dikatakan bahwa harta itu hanya harta suami saja tentulah menjadi harta suami isteri bersama, apabila terjadi putus hubungan perkawinan baik karena cerai atas gugatan pihak isteri,atau karena taqal atas permohonan suami maka harta bersama itu harus dibagi antara suami isteri itu.

Demikian juga apabila putusnya hubungan perkawinankarena kematian maka sebelum harta peninggalan itu dibagi antara para ahliwaris, haruslah di keluarkan lebih dahulu harta bersama antara suami isteriitu, barulah kemudian dikeluarkan utang si mati dan wasiat kalau ada, terahir sisanya diserahkan kepada para dzulfaraidh dan dzulqarabat (ashabat) Contoh Kasus

Suami bernama Ir.N yang menikah pada tanggal 20 september 1970 pada kantor urusan Agama kecamatan Kemayoran telah mengajukakan permohonan kepada pengadilan Agama Jakarta selatan untuk diperkenenkan menjatuhkakan taqal pada tanggal 5februari 1982, terhadap isterinya Ny.Am permohonan mana dikabulkan dangan penetapannya tanggal 22 April 1982 No.108/1982, Ny.Am isteri Ir.Ntersebut menolak talaq (pemutusan hubungan perkawinan) tersebut karena tanpa alasan, baik alasan menurut hukam Islam maupun menurut undang undang No.I Tahun 1974 dan menyatakan banding kepada pengadilan tinggi Agama Cabang Bandung.

Pengadilan tinggi Agama Cabang Bandung, menguatkan keputusan pengadilan Agama Jakarta Selatan dengan keputusannya tanggal 19 Agustus 1982 No.14/1982, dan memerintahkan pengadilan Agama Jakarta selatan untuk mengadakan sidang guna menyaksikan iKrar takaq

oleh permohonan Ir.N terhadap isterinya Ny.Am, pada tanggal 25 oktober 1982.

Seelum ikrar talaq diucapkan dalam Sidang Pengadilan Agama Jakarta Selatan tersebut, Ny. Am dengan perantara sdvokatnya mengajukan keberatan lagi terhadap Putusan Pengadilan Agama Cabang Bandung dengan mengajukan kasasi kepada MAhkamah Agung tanggal 25 Oktober 1982 dan risalah kasasi diterima melalui mengadilan Agama Jakarta Selatan tanggal 6 Nopember 1982.

Berdasarkan keputusan Pengadilan Tinggi Cabang Bandung yan gmenguatkan putusan Pengadilan Agama Jakarta Selatan Ir. N. dengan perantara kuasanya mengajuka ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada tanggal 28 Juli 1982. dengan rol perkara No. 207/YS/1982-G, agar harta pencaharian yang diperoleh selama mereka berda dalam hubungan perkawinan (harta besama) yang berda dalam penguasaan istri agar dibagi dua, setengah untuk istri dan setengah untuk suami.

Harta Suami Istri Dalam Pross Pemutusan Hubungan Perkawinan

Harta bersama antara suami istri baru dapat dibagi apabila hubungan perkawinan itu sudah putus. Hubungan perkawinan itu dapat terputus karena perkawinan, perceraian dan juga oleh keputusan pengadilan.

Bila mana kita pelajari Staatblad 1882 No. 152 pasal 7g, maka keputusan Pengadilan Agama Jakarta Selatan yang dikuatkan putusan Pengadilan Tinggi Agama cabang Bandung yang kita kemukakan diatas telah mempunyai kekuatan Hukum yang pasti (in kracht van gewijsde), dengan demikian ada alasan bahwa harta bersama itu dapat diagi.

Tetapi kalau kita pertimbangkan dengan Undang-undang Pokok Kekuasaan Kehakiman Nomor 14 tahun 1870, dihubungkan pula dengan peraturan Mahkamah Agung

Nomor 1 Tahun 1977 yang mengatur tentang kasasi, sementara menunggu ditetapkan Undang-undang tentang kasasi tentulah Pengadilan Negeri, rasional yuridis menyatakan gugatan pembagian harta gono-gini itu ditolak atau sekurang-kurangnya tidak dapat diterima.

Oleh karena risalah kasasi yang membantah putusan Pengadilan Tinggi Agama Jakarta Selatan dalam tenggang waktu yang ditentukan maka efektif putusan tersebut menjadi mentah kembali, betapa lagi bila dihubungkan dengan pasal 34 ayat (10, jo. Pasal 36 Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975.

setiap putusan Pengadilan Negeri vide pasal 63 Undang-undang No. 1 Tahun 1974.

Menurut putusan Pengadilan Tinggi Agama Cabang Bandung ikrar Yurisprudensi Mahkamah Agung tanggal 5 Nopember 1980 No. 18 K/Ag/1980, menentukan bahwa ikrar talaq baru dapat diucapkan setelah putusan Pengadilan Agama mempunyai kekuatan pasti (in kracht van gewijsde).

Putusan Pengadilan Agama itu baru mempunyai kekuatan Hukum pasti setelah kasasi yang dimajukan kepada Mahkamah Agung dikabulkan dan dikukuhkan oleh Pengadilan Negeri, berate masih ada dua lembaga lagi yang harus dilalui untuk sampai mempunyai kekuatan Hukum yang pasti.

DAFTAR PUSTAKA BUKU

Djuher,Hukum perkawinman Islam dan Relevansinya, Dewa Ruci Perss, Jakarta 1982.

Hadi Kusumah dan Hilman, Hukum Waris, Adat, Alumni, Bandung 1980.

Lili Rasjidi, Alasan Perceraian menurut Undang-undang No. 1 Tahu 1974 Tentang Perkawinan, Alumni Bandung 1983.

Subekti, Perbandingan Hukum Perdata, Pradya Paramita, Jakarta 1972.

Asnawi, Mohd., Himpunan Peraturan dan Undang-undang RI tentang Perkawinan, Semarang, Perwakilan Departemen Agama, 1975.

Departemen Agama RI., Al-Qur an dan Terjemahannya, Jakarta PT. Bumi Restu, 1974

Departemen Agama RI., Al-Qur an dan Terjemahannya, Jakarta PT. Penerbit Kitab Suci Al-Qur an, 1974

Departemen Agama RI., Himpunan Fatwa Pengadilan Agama, Jakarta, Proyek Pembinaan Peradilan Agama, 1980/1981.

Ismuha, H., Pencaharian Bersama Suami istri di Indonesia, Jakarta, Bulan BIntang, 1978.

Latif, Djamil H.M., Aneka Hukum Penceraian di Indonesia, Jakarta, Ghalia Indonesia, 1982.

Ramulyo, Idris Mohd., Akibat Yuridis dari Perkawinan di Bawah Tangan, Jakarta Majalah Hukum dan Pembangunan tahun, X, 1982.

____, HImpuna Kuliah Hukum Islam II Jakarta Bursa Buku Fakultas Hukum Universitas Indonesia 1981.

____, Bunga Rampai Hukum Perorangan dan kekeluargaan dan Hukum Acara Perdata Peradilan Agama, Jakarta, 1982.

Rasyid Sulaiman H., Fiqh Islam, Jakarta Attahiriyah, Jatinegara, 1954. Saleh, Wantjik, K., HUkum Perkawinan Indonesia, Jakarta Ghalia Indonesia, 1976.

Subekti, R. Mr. dan Tjitrosudibio R., KItab Undang-undang Hukum Perdata, Jakarta, J.B. Wolters, 1980.

Shiddiqie, Ash Hasbi T.M., Pedoman Rumah Tangga, Medan, Pustaka Maju. 1971.

Tholib, Sayuti, Hukum Kekeluargaan Indonesia, Jakarta Universitas Indonesia, 1974.

______, Kuliah Hukum Islam II pada Fakultas HUkum Universitas Indonesia, 1979/1980.

BERITA TELEVISI REPUBLIK INDONESIA Berita Bauana Minggu , 28 Pebruari 1979.

Departemen Agama RI, Al-Q a da e jemaha a, Jakarta, Proyek penerbitan kitab suci Al-Qur an, 1978. Pustaka Antara, 1975.

Hamid, Zahry, H., Pokok-pokok Hukum Perkawinan Islam Dan Undang-undang Perkawinan Islam, Jakarta, Penerbit Bina Cipa, 1978.

Haryono,Anwar, keluwesan dan Keadilan Hukum Islam, Jakarta penerbit Bulan Bintang, 1968.

Hazairin, Kewarisan Bilateral Menurut Al-Q a da hadi , Jakarta, Penerbit Tintamas, 1964.

Tujuan Undang-undang Perkawinan Nomor 1 tahun 1974, Penerbit Tintamas, Jakarta, 1974.

Husein, Ibrahim, fiqh perbandingan dlam Masalah NTR dan Hukum kewarisan, Jakarta, Penerbit Ihya Ulumuddin, 1971.

Majalah Tempo, Penerbit PT. Grafiti Pers Tahun Ke V No. 21 dan No. 46 tahun 1975.

Mingguan Sinar Pagi, Tahun ke V tanggal 12 September 1982.

Rasyid, Sulaiman H; Fiqh Islam, Jakarta, Penerbit Attahiriyah, 1954.

Siong Giok, Gouw, Hukum Pedata Internasional Indonesia, Buku Keempat, Jakarta, Penerbit PT. Kinta, 1964.

Sismono, aspek-aspek Kehidupan Tentang Narkotika, Alkoholisme, pornografi, kehidupan seksual.

Suhartati, Sri Indah, Ny; Pengadilan Agama yang di Cita-citakan, Kertas kerja Pada Penataran Dosen Hikum Islam Fakulitas Hukum Universitas negeri Seluruh Indonesia, Gama Yogyakarta, 1976.

Thalib, Sayuti, Hukum kekeluargaan Indonesia, Jakarta, Penerbit UI Perss, 1974.

Undang-undang No. 1 tahun 1974, penerbit Pradnya paramita, Jakarta, 1977.

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. Berikut penjelasan

Kitab Undang-Undang Hukum Acara Perdata

Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Perceraian Prosedur Berpekara Pada Pengadilan Agama, Proyek Pembinaan

Badan. Peradilan Agama, Tahun 1982 / 1983

LAMPIRAN

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974

Tentang Perkawinan

DENGAN RAKHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Menimbang :

bahwa sesuai dengan falsafah Pancasila serta cita-cita untuk pembinaan hukum nasional, perlu adanya Undang-undang tentang Perkawinan yang berlaku bagi semua warga negara.

Mengingat:

1. Pasal 5 ayat (1), pasal 20 ayat (1) dan pasal 29 Undang-undang Dasar 1945.

2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor IV/MPR/1973.

Dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

M E M U T U S K A N:

Menetapkan:

UNDANG-UNDANG TENTANG PERKAWINAN.

BAB I

DASAR PERKAWINAN Pasal 1

Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Pasal 2

(1) Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu.

(2) Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 3

(1) Pada asasnya seorang pria hanya boleh memiliki seorang isteri.

Seorang wanita hanya boleh memiliki seorang suami.

(2) Pengadilan, dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristeri lebih dari seorang apabila dikendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan.

Pasal 4

(1) Dalam hal seorang suami akan beristri lebih dari seorang, sebagaimana tersebut dalam pasal 3 ayat (2) Undang-undang ini, maka ia wajib mengajukan permohonan ke Pengadilan di daerah tempat tinggalnya.

(2) Pengadilan dimaksud dalam ayat (1) pasal ini hanya memberi izin kepada suami yang akan beristri lebih dari seorang apabila:

a. istri tidak dapat memnjalankan kewajibannya sebagai isteri;

b. istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan;

c. istri tidak dapat melahirkan keturunan.

Pasal 5

(1) Untuk dapat mengajukan permohonan ke Pengadilan sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1) Undang-undang ini harus memenuhi syarat-syarat berikut:

a. adanya persetujuan dari isteri/isteri-isteri;

b. adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin

keperluan-keperluan hidup isteri- isteri dan anak-anak mereka.

c. adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap isteri-isteri dan anak-anak mereka.

(2) Persetujuan yang dimaksud dalam ayat (1) huruf a pasal ini tidak diperlukan bagi seorang suami apabila isteri/isteri-isterinya tidak mungkin dimintai persetujuannya dan tidak dapat menjadi pihak dalam perjanjian;atau apabila tidak ada kaber dari istrinya selama sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun atau karena sebab-sebab lainnya yang perlu mendapat penilaian dari Hakim Pengadilan.

BAB II

SYARAT-SYARAT PERKAWINAN Pasal 6

(1) Perkawinan didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai.

(2) Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun harus mendapat izin kedua orang tua.

(3) Dalam hal seorang dari kedua orang tua meninggal dunia atau dalam keadaan tidak mampu menyatakan kehendaknya, maka izin yang dimaksud ayat (2) pasal ini cukup diperoleh dari orang tua yang masih hidup atau dari orang tua yang mampu menyatakan kehendaknya.

(4) dalam hal kedua orang tua telah meninggal dunia

(4) dalam hal kedua orang tua telah meninggal dunia

Dalam dokumen PENERBIT CV.EUREKA MEDIA AKSARA (Halaman 75-130)