BAB 4 AKIBAT YURIDIS DARI SUATU PERKAWINAN YANG
E. Akibat Hukum Perkawinan Yang Sah
Akibat hukum dari suatu perkawinan yang sah antara lain dapat di rumuskan sebagai berikut di bawah ini:
1 menjadi halal melakukan hubungan seksal dan bersenang-senang antara suami istri tersebut.
2 Mahar(mas kawin)yang di berikan menjadi milik sang istri.
3 Timbulnya hak-hak dan kewajiban antara suami istri,suami menjadi kepala rumah tangga dan istri menjadi ibu rumah tangga.
4 Anak-anak yang di lahirkan dari perkawinan itu menjadi anak yang sah.
5 Timbul kewajiban suami untuk membiayai dan mendidik anak-anak dan istrinya serta mengusahakan tempat tinggal bersama.
6 Berhak saling waris-mewarisi antara suami istri dan anak-anak dengan orang tua.
7 Timbul larangan perkawinan karena hubungan semenda.
8 Bapak berhak menjadi wali nikah bagi anak perempuannya.
9 Bila di antara suami atau istri meninggal salah satunya,maka yang lainnya berhak menjadi wali pengawas terhadap anak-anak dan hartanya.
Bertitik tolak dari pengertian,rukun,syarat,dan akibat hukum dari perkawinan yang sah,seperti dikekemukakan di atas,maka secara contrario,sebenarnya telah terjawab pertannyakan yang di ajukan di atas.Bahwa perkawinan antara wanita(A)dengan pria(B),dengan Wali Mujbir Kakek(H),materiil sudah di penuhi npersyaratan perkawinan menurut Hukum Islam,tetapi formil yiuridis tidak memenuhi persyaratan ketentuan yang di atur oleh Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 dan peraturan pelaksanaannya. Mak perkawinan tersebut termasuk atau sekurang-kurangnya dapat dikategorikan perkawinan yang di lakukan di bawah tangan,
dengan sendirinya secara eksplisit, materiil menurut Hukum Islam adalah sah, tetapi formil yuridis tidak sah (batal), sekurang-kurangnya dapat dibatalkan (difasidkan).
Sebagai penunjang katakanlah sebagai studi perbandingan dengan penulis tersebut di atas, di sini penulis kemukakan 3(tiga) keputusan Pengadilan Agama yang membatalkan (memfasidkan) perkawinan dan rujuk seorang yang pertimbangannya hanya soal sepele dan tidak berdasarkan Al-Qur an.
1. Keputusan pengadilan Agama Tasikmalaya 1979, memfadsitkan(membatalkan) nikahnya Nyi Marpuah yang telah menikah dengan suaminya Sugirin 22(dua puluh dua)Tahun yang lalu hanya kartena kresaksian seorang anak laki-laki berusia 20(sepuluh) tahun, yang menyatakan bahwa suwami Nyi Marpuah itu adalah sesusuan dengan Nyi marpuah . Satu perkara yang sempat menghebohkan dan membuat banyak kaum ibu menangis dan mencucurkan air mata, turut memikirkan rumah tangga Nyi marpuah Yang telah dibina selama 22 tahunlebih, menjadi kucar-kacir dan berantakan, jiwa sang ayah menjadi hancur , memikirkan akibat hukum dari perkawinan itu,sedangkan menurut Q.II:282 , Saksi untuk menikah harus dengan 2(dua) orang saksi yang aqil baliq (dewasa dan berakal), Islam dan adl (tidak berdosa besar), Demikian juga talak menurut Q. LXV:2, tetapi dalam perkra ini kesaksian dari anak yang baru berusia 10 tahun saja dapat menjadi dasar pertimbangan membatalkan nikah seseorang.
2. Keputusan pengadilan Agama Bojonegoro Nomor 74 Tahun 1961, mermbatalkan (memfasidkan) nikahnya seoarang wanita dengsn uaminyah yang telah menikah 18(delapan belas) tahun yang silam ,berdasarkan pertimbangan Hakim karena Walinya pada waktu menikah bukan Wali Mujbir, tetapi hanya Wali nasab biasa , yaitu saudara kandung laki-laki dari yng wanita itu , sedang kan menurut pendapat mazhab Hanafi dan beberapa penganutnya, menyatakan bahwa sighat ijab aqad nikah yang diucapkan oleh wanita
dewasa dan berakal, adalah sah secara mutlak, demikian juga menurut Abu Jusuf dan Imam Malik, Q.II:234, Beserta Hadis Rasulullah SAW. Riwayat Abu Daud dan An-Nasa i demikian juga Hadis berasal dari Ummu Salamah pada waktu dia menikah dengan Rasul Allah tanpa ada Wali Nikah.
3. Keputusan pengadilan Agama magelang tanggal 3 Oktober 1959, Nomor 339 yang dikuatkan oleh Mahkamah Islam tinggi disala tanggal 6 September 1960, No. 42, tidak mengesahkan rujuknya sang suami yang dilakukan 7(tujuh) tahun yang lalu sesudah mereka memperoleh tambahan 3(tiga) orang anak.
Berdasarkan pertimbangan Hakim, yang mempergunakan dalil Ma hab Syafi I bahwa rujuknya tidak diikrarkan dengan lisan dan tidak dihadiri oleh 2 orang saksi , yang berarti hubungan seksual yang dilakukan selama 7(tujuh) tahun itu antara suami isteri itu adalah subhad(tidak halal), Lebih jauh lagi akibat hukumnya , tentulah anak yang tidak sah.
Bila kita menggunakan mazhab Hanafi, maka Rujuk itu tidak perlu diikrarkan, berdasarkan dalil hukum Al-Qura an surah Albaqarah (Q. II228), berdasarkan suami mereka lebih berhak untuk kembali (rujuk) kepada mereka. Dalam ayat Q.
:II 228 itu tidak di tentukan apakah dengan perkawinan (sighat) atau perbuatan.
Sedangkan saksi menurut ayat tersebut hany sunnah saja dan bukan wajib hukumnya, seperti halnya talaq tidak wajib adanya saksi.
Apalagi bila diingat bahwa rujuk itu bersifat meneruskan perkawinan yang lama, sehihingga tidak perlu wali dan ridhanya wanita yang dirujuki. Bahkan dalam salah satu hadis Rasul Allah, menyatakan bahwa.
Barang iapa antara perempuan yang bersuami dua maka dia adalah untuk suaminya yang pertam,a di antara keduanya.
Rawahul Imam Akhmad.
Keputusan pengadilan Agama di atas tadi di kemukakan disini sebagai suatu perbandingan (comparative), bahwa syarat-syarat yang dilanggar tidak begitu penting, soal sepele tidak prinsipal, kesaksian seorang Anak laki-laki yang masih di bawah umur (sepuluh tahun), wali yang bukan wali mujbir, rujuk itu diikrarkan secara lisan, semua syarat-syarat ittu maih di persoalkan tentang perlu tidaknya, wajib atau sunnahnya, di bandingkan perkawinan yang dilakukan di bawah tangan, sedangkan perkawinan ityu adalah suatu perjanjian yang suci, kuat dan kokoh (miitsaaqan ghaliizhan) yang sangt besar pengaruhnya dan akibat hukumnya baik terhadap Wali nikah, pengesahan anak, perkawinan dan sebagainya. Betapa lagi bila diingat, bahwa Undang-undang No 1 tahun 1974, itu telah dianggap meupakan ijtihad baru dan merupakan ijma para fuqaha (Ulama Islam) yang menjadi angota Denwan Perwakilah Rakyat Indonesia .
BAB
5
A. Terjadinya Perceraian
Sebagaimana kita ketahui bahwa perceraian ada karena adanya perkawinan, karena apa bila tidak ada perkawinan tentu tidak akan ada perceraian. Karena itu perkawinan merupakan awal hidup bersama sebgai suami istri dan perceraian merupakan akhir hidup bersama suami istri.
Menurut ketentuan pasal 38 Undang-undang Perkawinan No. 1 tahun 1974, menyatakan bahwa perkawinan dapat putus karena : kematian, perceraian serta atas keputusan pengadilan.
Dalam bab ini penulis akan menguraikan perihal perceraian di daerah Kabupaten Indramayudengan segala aspek yang menyebabkan terjadinya perceraian tersebut.
Dalam hal ini yang menjadi latar belakang terjadinya suatu perceraian di Indramayu adalah sebagai berikut :
1. Karena rendahnya tingkat pendidikan Masyarakat.
2. Karena rendahnya pendapatan perkapita (Ekonomi).
3. Karena kawin usia muda.
Ad. 1. Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat :
Tingkat pendidikan yang rendah dari dari masyarakat menyebabkan banyak dilakukan perceraian. Hal tersebut dikarenakan dengan rendahnya pendidikan maka kurang memahami apa
PENCERAIAN ADAT
DI INDRAMAYU
sebenarnya makna dari suatu perkawinan yang dilakukannya. Sehingga dalam keadaan demikian mereka dengan begitu mudah memuruskan perkawinan dengan jalan perceraian.
Mereka masih belum mengetahui maksud dari perkawinan itu sendiri, seperti yang kita ketahui maksud dari perkawinan adalah untuk membangun rumah tangga yang bahagia, kekal dan sejahtera.
Perlu juga diketahui bahwa rata-rata dari pendidikan msyarakat yang bersangkutan hanya keluaran Sekolah Dasar dan tidak mempunyai pandangan yang luas.
Ad. 2. Rendahnya Pendapatan Perkapita :
Keadaan ekonomi masyarakat yang tidak memungkinkan membawa akibat yang negatif terhadap kelangsungan dari perkawinan, dimana dalam hal ini orang tua mempunyai anak perempuan yang keadaanya miskin, maka akan segera menikahkan anaknya tersebut dengan harapan keadaanya ekonominya akan menjadi lebih baik. Jadi dalam hal ini peranan orang tua sangat menentukan yang mana biasanya anak harus mau dan menuruti kehendak orang tuanya untuk dikawinkan walaupun anak tersbut tidak mencintainya. Dengan tidak didasari rasa saling mencintai, maka perkawinan tidak akan berlangsung lama sebagaimana yang dimaksud oleh Undang-undang Perkawinan No. 1 tahun 1974. Dan pada akhirnya mereka memutuskan perkawinan dengan suatu perceraian.
Ad. 3. Karena Usia Muda
Kawin usia muda disini adalah dimana batas usia minimum yang ditetapkan untuk seseorang dpat melangsungkan perkawinan. Dalam hal ini Undang-undang Perkawinan No. 1 tahun 1974 pasal 7 ayat 1, menentukan bahwa : untuk melangsungkan perkawinan, usia dari calon mempelai laki-laki harus
19 tahun, dan usia untuk calon mempelai wanita harus 16 tahun.
Perkawinan pada usia inilah yang banyak dilakukan di daerah Indramayu. Menurut hemat penulis perkawinan pada usia muda akan membawa mala petaka saja dalam kehidupan rumah tangga, dimana perkawinan tersebut tidak berlangsung kekal. Hal ini dikarenakan antara suami dan istri sebenarnya masih belum siap dan belum matang untuk melamgsungkan perkawinan, adapun hubungan dengan usia muda yang terjadi di Indramayu adalah dimana sebelum batas usia untuk dapat melangsungkan perkawinan, para orang tua sudah menjodohkan anak-anaknya yang dikenal dengan istilah Ka i ci ik a a Ka i keci . Selanjutnya apabila telah mencapai batas usia yang ditetapkan untuk boleh melangsungkan perkawinan, maka dilakukanlah suatu upacara perkawinan yang sebenarnya.
Tidak jarang perkawinan mereka putus tengah jalan, karena mereka hanya terpaksa melakukan perkawinan tersebut, yang mana sebenarnya perkawinan tersebut hanya kehendak orang tua saja. Dengan demikian maka perceraianlah yang mereka pilih untuk memutuskan tersebut dan dikenal dengan julukan RCTI (Tanda Cilik Turunan Indramayu), adapun alasan yang melatar belakangi terjadinya kawin usia muda adalah sebagai berikut :
1. Faktor ekonomi Karena orang tuanya miskin
Dalam keadaan yang seperti ini orang tua yang mempunyai anak perempuan akan cepat-cepat mengawinkan anaknya untuk mengurangi beban hidup keluarga, dengan perkawinan tersebut mereka beranggapan bahwa keadaan ekonominya akan lebih baik dn biasanya orang tua sudah memilih calonnya dari keluarga yang cukup kaya. Sedangkan bagi orang tua dimana keadaan cukup mampu, mereka akan cepat-cepat mengawinkan anaknya untuk mendapatkan bantuan tenaga kerja.
Simenantu biasanya diambil dari keturunan dari orag yang tidak mampu. Dari perkawinan ini pada akhirnya salah satu
pihak diantara suami istri seolah-olah hanya sebagai pembantu dari keluarga yang bersangkutan. Jadi dalam hal ini peranan suami atau istri dalam perkawinan ini tidak seimbang, seperti kita ketahui dimana Undang-undang perkawinan No. I tahun 1974 dan peraturan Pelaksanaannya tekah memberi kepada wanita yang telah berumah tangga, hak dan kedudukan yang seimbang dengan hak kedudukan suaminya. Hal ini terlihat sangat bertolak belakang dengan hak dan kedudukan suami istri dalam kehidupan berumah tangga di daerah Indramayu.
2. Faktor norma susila atau faham Agama
Dilatar belakangi oleh faktor norma susila faham agama yang dianut para orang tua ingin cepat-cepat untuk mengawinkan anak-anaknya, karena merasa takut anaknya akan melakukan kejahatan yang dalam hal ini berbuat Zinah yang dilarang oleh agama sehingga akan menyebabkan orang tua ikut malu apa bila hal tersebut terjadi. Jadi dalam keadaan seperti yang tersebut diatas suatu perkawinan masih dipengaruhi oleh orang tua untuk menentukan siapa yang menjadi calon menantu anaknya.
Sebenrnya peranan orang tua dalam perkawinan itu hanya terbatas kepada ijin dimana apabila calon mempelai tersebut belum mencapai 21 (duapuluh satu) tahun. Yang mana hal ini sesuai dengan ketentuan pasal 6 ayat (2) Undang-undang Perkawinan No. 1 tahun 1974.
Belum memasyarakatnya Undang-undang perkawinan, serta tingkat pendidikan yang masih rendah.
Dengan belum memasyarakatnya Undang-undang Perkawinan serta adanya tingkat pendidikan yang masih rendah, membawa akibat terhadap masyarakat yang bersagkutan dimana mereka tidak mengetahui atau kurang memahami akan maksud dan tujuan dari perkawinan itu sendiri. Yakni untuk membangun suatu keluarga atau rumah tangga yang bahagia, kekal dan sejahtera berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sehingga dari
mereka banyak yang melakukan perkawinan pada usia muda yang menurut penulis dirasakan masih belum matang dan masih belum pantas untuk melangsungkan perkawinan, walaupun Undang-undang membolehkannya.
Karena seseorang yang melakukan perkawinan pada usia yang relatif muda, masih akan mudah goncang jiwa dan pikirannya terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin datang dari pihak luar, yang mungkin akan memudahkan perkawinan tersebut putus.
B. Alasan-alasan Dari Perceraian
Seperti kita ketahui bahwa perkawinan itu dapat putus karena suatu perceraian. Sebenrnya Undang-undang telah berusaha untuk mempersulit terjadinya suatu perceraian, seperti pada pasal 39 ayat (1) yang memuat ketentuan bahwa suatu perceraian hanya dapat dilakukan di depan Sidang Pengadilan yang berwenang setelah Pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil untuk mendamaikan kedua belah pihak yakni suami istri dan dalam pasal 40 ayat (1) Undang-undang perkawinan yang memuat ketentuan bahwa gugatan perceraian harus diajukan kepada Pengadilan.
Selanjutnya pasal 39 ayat (2) menegaskan bahwa untuk melakukan perceraian harus ada cukup lama, dimana bahwa suami istri itu tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami istri, alasan dari perceraian yang ditentukan dalam pasal 39 ayat (2) Undang-undang perkawinan No. 1 tahun 1974, diperjelas lagi dalam suatu penjelasan pada Perastutan Pemerintah No. 9 tahun 1975 yang merupakan Peraturan Pelaksanaan dari Undang-undang Perkawinan No. 1 tahun 1974, sebagai berikut :
1. Salah satu pihak berbuat zinah atau menjadi pemabuk, pemadat dan lain sebagainya yang sukar untuk disembuhkan.
2. Salah satu pihak meninggalkan yang lain selama 2 (dua) Tahun berturut-turut tanpa ijin dari pihak yang lain serta
tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemauannya.
3. Salah satu pihak mendapatkan hukuman penjara selama 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebuh berat setelah perkawinan berlangsung.
4. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain.
5. Salah satu pihak mendpat cacat badan atau penyakit yang mengakibatkan tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai suami istri.
6. Antara suami istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran serta tidak ada harapan lagi akan hidup rukun dalam satu rumah tangga.
Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa perceraian hanya dapat dilakukan apabila adanya suatu alasan yang kuat untuk itu, misalnya antara suami dan istri terus-menerus terjadi pertengkaran yang tidak mungkin untuk didamaikan kembali serta tidak mungkin untuk hidup rukun dalam rumah tangga seperti keadaan sebelumnya. Berhubungan dengan hal tersebut diatas, penulis akan mencoba untuk membahas alasan-alasan perceraian yang terjadi di Kabupaten Indramayu, khusunya di Kecamatan Kroya . antara lain :
1. Krisis Ahlak
Dimana hal tersebut dimaksudkan apabila dari salah satu pihak menyeleweng, misalnya berbuat zinah, alasan perceraian karena Krisis Ahlak ini banyak dilakukan di Indramayu. Dalam hal ini cenderung dilakukan pihak suami.
2. Istri Tidak Taat
Yang dimaksud dengan alasan ini adalah dimana istri tidak taat pada perintah suami, seperti dalam hal suami mengajak istrinya untuk bertempat tinggal bersama dengan suaminya lepas dari orang tua pihak istrinya. Terlihat bahwa perceraian sangat mudah dilakukan, yang mana sebenarnya alasan tersebut masih dapat didamaikan oleh
kedua belah pihak. Seolah-olah menurut mereka cerai tersebut sudah merupakan hal yang wajar dan sudah menjadi kebiasaan .
3. Suami Tidak Tanggung Jawab
Dimana hal ini suami tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai seorang kepala rumah tangga untuk menghidupi keluarganya.
4. Krisis Ekonomi
Karena keadaan ekonomi dalam rumah tangga setelah perkawinan tidak mengijinkan atau buruk maka salah satu pihak antara suami istri mengajukian permohonan untuk perceraian.
5. Krisis Biologis
Dimana dalam perkawinan tersebut tidak dikarunia keturunan walaupun perkawinan mereka telah berlangsung lama, maka mereka memutuskan untuk bercerai. Karena dalam hal ini anak merupakan dambaan dari setiap suami istri yang melakukan perkawinan, disamping kebahagiaan.
6. Tidak Harmonis
Adapun yang dimaksud alasan tersebut adalah dimana suami istri terdapat suatu ketidak cocokan yang menimbulkan perselisihan dan pertengkaran terus-menerus dan tidak ada harapan lagi untuk hidup rukun dalam rumah tangga.
7. Poligami Tidak Sehat
Untuk hal ini perceraian yang dilakukan di atas dasar poligmi tidak sehat, diantaranya adalah salah satu istri
merasa tidak diberikan rasa keadilan baik dalam materi dan imatei. Hal ini sangat jarang terjadi.
C. Usaha-usaha Pencegahan Perceraian
Setelah membahas perihal latar belakang dari perceraian yang terjadi di Indramayu serta alasan-alasannya, selanjutnya penulis akan membahas tentang usaha-usaha yang dilakukan dalam pencegahan perceraian.
Adapun usaha-usaha penaggulangan perceraian tersebut terdiri
1. Meninggalkan pendidikan masyarakat.
2. Meningkatkan pendapatan perkapita atau perekonomian masyarakat.
3. Membatasi kawin usia muda.
4. Mengintensifkan Peranan Pemerintah dan Instansi/
lembaga yang membina tentang perkawinan dan perceraian.
5. Penyuluhan oleh mahasiswa.
Ad. A. Meningkatkan pendidikan masyarakat.
Dalam hal ini pemerintah harus berperan aktif dalam usaha meningkatkan pendidikan dari masyarakat dimana yang dimaksud dengan pemerintah disini adalah pemerintah daerah pada khususnya dan pemerintah pusat dan pada umumnya.
Karena selama ini perceraian yang terjadi banyak dilakukan dari masyarakat yang memang benar-benar tidak berpendidiksn sama sekali. Karena berkemungkinan besar bila masyarakat menyadarai dan mengerti maksud dan tujuan perkawinan pada akhirnya perceraian dapat dikurangi.
Ad. B. Meningkatkan Pendapatan Perkapita atau perekonomian Masyarakat.
Seperti diketahui perceraian yang terjadi selama ini, banyak dilakukan oleh masyarakat pedesaan, dalam hal ini pendapatan perkapita yang rendah dari warga masyarakat di Desa, yang dikarenakan
terbatasnya lahan pertanian yang dimiliki dari warga masyarakat yang bersangkutan.
Hal tersebut perlu ditingkatkan karena rendahnya pendapatan perkapita dari masyarakat merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya perceraian. Dengan meningkatkan pendapatan perkapita dapat mendorong dalam masyarakat untuk menyekolahkan anaknya kejenjang Sekolah yang lebih tinggi, dimana pada akhirnya tingkat pendidikan menjadi naik, dan diharapkan akan timbul suatu pemahaman serta kesadaran akan hokum terutama mengenai akibat buruk yang ditimbulkan dari suatu perceraian, yang sekaligus dapat mencegah warga masyarakat untuk melakukan perceraian.
Ad. C. Membatasi Kawin Usia Muda
Usaha-usaha yang dilakukan dalam pencegahan kawin usia muda ini adalah dengan mengadakan penyuluhan di Desa-desa tentang hakekat dari suatu perkawinan.
Dimana seperti yang kita ketahui tujuan dari pada perkawinan itu sendiri adalah suatu jenis yakni untuk membentuk suatu rumah tangga yamg penuh dengan kasih saying dan berlangsung selama hayat masih dikandung badan. Hal ini menghendaki suatu kematangan fisik maupun jasmaniah. Serta dalam membantu dan mengetahui akan tugas masing-masing sesuaidengan kodratnya.
Penyuluhan yang akan dilakukan tersebut menjadi wewenang BP4, dimana mereka akan memberikan nasehat serta penerang kepada masyarakat yang berkepentingan tentang nikah, talaq, cerai dan rujuk. Dari sini diharapkan dapat dicegah baik perkawinan usia muda maupun perceraian yang dilakukan sewenang-wenang.
Ad. D. Mengintensifkan Peranan BP4 (Badan Penasehat Perkawinan, Perselisihan, dan Perceraian).
Badan Penasehat Perkawinan, Perselisihan dan Perceraian (BP4) merupakan suatu badan semi resmi yang diakui keberadaannya oleh Pemerintah Cq. Departemen Agama yang merupakan organisasi penunjang, sebagai partner pemerintah didalam mnyukseskan program pembangunan adalah adalah sangat penting dan berperan didalam memasyarakatkan Undang-undang Perkawinan sekaligus mengamalkan pelaksanaannya. Adapun tujuan dari BP4 adalah guna mempertinggi nilai perkawinan dan memujudkan suatu rumah tangga yang bahagia dan sejahtera denan jalan memberikan nasehat tentang perkawinan, perselisihan, serta perceraian. Disamping itu harus berperan aktif dalam memasyarakatkan Undang-undang No. 1 tahun 1974 serta ikut mengamalkan pelaksanaannya secara terpadu.
Dengan peranannya sebagai suatu lembaga yang bertugas memberikan nasehat atas surtu perkawinan, talaq, rujuk, cerai serta disamping usahanya dalam memasyarakatkan Undang-undang Perkawinan No. 1 tahun 1974, diharapkan perceraian yang selama ini banyak terjadi dapat dikurangi atau dicegah.
Ad. e. Penyuluhan Hukum Oleh Mahasiswa
Untuk lebih tercapainya didalam usaha pencegahan perceraian tersebut alangkah baiknya apabila dilakukan penyuluhan hukum oleh Mahasiswa secara berkala mengenai perkawinan khususnya perceraian. Penyuluhan tersebut dilakukan baik dengan jalan memberikan pengarahan kepada warga masyarakat pada suatu tempat tertentu secara masal maupun dengan jalan mendatangi kerumah-rumah.
Hal ini secara tidak langsung mahasiswa yang bersangkutan telah turut serta dalam usaha memasyarakatkan Undang-undang Perkawinan No.
1 tahun 1974 tentang perkawinan. Dari sini dapat diharapkan bahwa angka perceraian yang tinggi selama ini, dapat ditekan serendah mungkin.
D. Tata Cara Melakukan Permohonan dan Gugatan Perceraian.
1. Prosedur atau tata cara melakukan permohonan 1. Di Pengadilan Agama
1) Pemohon atau kuasanya datang sendiri kekantor Kelurahan untuk mendapatkan surat Keterangan Lurah (Peraturan Menteri Agama No. 3 tahun 1975 pasal 3)
2) Pemohon atau kuasanya dengan membawa Surat Keterangan Lurah, datang ke Pengadilan Agama untuk:
Mengajukkan permohonan tertulis kepada Panitera.
Membayar uang perkara kepada bendahara.
3) Pemohon atau Kuasanya menhadiri sidang Pengadilan Agama berdasarkan Surat Pengadilan Agama.
4) Pemohon atau Kuasanya wajib membuktikan dalil-dalil (kebenaran dari isi) yang menjadi dasar permohonannya dimuka sidang Pengadilan Agama berdasarkan alat-alat bukti sebagai berikut :
Surat-surat Saksi-saksi
Persangkaan Hakim
Pengakuan salah satu pihak
Sumpah salah satu pihak (pasal 164 HIR)
5) Pengadilan wajib mengeluarkan produk Pengadilan berupa penentapan, sekalipun perkaranya tidak diterima atau ditolakatau digugurkan oleh Majelis
Hakim atau dicabut dalam persidangan (UU No.
14/70, pasal 2 dan 14 Jo. Instruksi Dirjen Bimas Islam NON. D/INS/117/75 tertanggal 12 Agustus 1975) 6) Pemohon atau Termohon diberikan salinan
penetapan Pengadilan Agama bagi Pemohon dan Termohon dalam ikrar talaq. (Stbl 1937 No. 116 dan 610 psl 5 Jo. PP No. 45/1957 pasal 8 ayat 1 PP No.
penetapan Pengadilan Agama bagi Pemohon dan Termohon dalam ikrar talaq. (Stbl 1937 No. 116 dan 610 psl 5 Jo. PP No. 45/1957 pasal 8 ayat 1 PP No.