BAB 3 PERCERAIAN
B. Menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata / BW
Dalam suatu perkawinan kita menghendaki agar perkawinan berjalan lancer, kekal, sejahtera, dan penuh kedamaian tanpa ada gangguan apapun.
Perceraian adalah suatu keadaan dimana perkawinan di putuskan dengan suatu keputusan pengadilan berdasarkan gugata atau tuntutan dari suami atau isteri atau dasar-dasar alas an-alasan yang di tentukan oleh hukum, dan perkawinan itu baru bubar bilamana keputusan tersebut didaftarkan pada catatan sipil dalam waktu yang telah ditentukan. Apabila kita hubungan dengan pasal 26 Kitab Undang-undang Hukum Perdata, yang melihat suatu perkawinan semata-mata dari segi yudris, terlepas dari segi-segi keagamaan, maka secara hukum suatu hubungan hukum di antara dua subjek hukum dapat diputuskan, asal saja pemutusan hubungan hukum ini dilakukan menurut cara serta syarat-syarat yang telah ditentukan oleh Undang-undang.
Selanjutnya keputusan penceraian dapat diucapkan oleh Pengadilan bilamana sudah di ajukan tuntutan penceraian dari salah seorang suami isteri terhadap yang lain, dimana tuntutan pencrraian itu hany dapat dikabulkan apabila tuntutan tersebut diajukan atas alas an yang di tetapkan oleh hukum. Jadi apabila tuntutan penceraian tidak didasarkan atas alasan yang telah ditentukan oleh hukum, maka tuntutan itu tidak dapat diterima.
Selain dari pada itu yang dapat diminatkan keputusan perceraian hanyalah perkawinan-perkawinan yang dilakukan di hadapan Pegawai Kantor Catatan Sipil, dan bagi perkawinan yang telah dilangsungkan dihadapan pegawai Kantor Catatan Sipil adalah tidak sah serta tidak mempunyai akibat hukum. Oleh karena itu perkawinan-perkawinan semacam ini tidak dapat diminatkan keputusan perceraian.
2. Syarat-syarat Penceraian
Perkawinan meskipun dimaksudkan untuk berlangsung kekal dan abadi akan tetapi pada suatu saat orang akan dapat mengalami, dimana perkawinannya berakhir karena keadaan suatu tertentu. Dalam hal ini kitab Undang-undang Hukum Perdata (BW) membatasi syarat-syarat untuk menuntut vsuatu perceraian, yang dapat kita lihat dalam pasal-pasal sebagai berikut :
a. Pasal 209 Kitab Undang-undang Hukum Perdata menentukan bahwa perceraian hanya dapat dituntut berdasrkan atas empat alasan yaitu :
1) Perzinahan,
2) Meninggalkan tempatbersama tanpa ada keinginan untuk kembalilagi,
3) Apabila salahseorang dari suami isteri di hukum dengan hukuman penjara selama 5 tahun atau lebih.
4) Apabila terjadi penganiyayaan yang membahanyakan jiwa dari pihak yangl ain.
5) Percekcokan yang terus-menerus di antara suami isteri yang tidak mungkin di perbaiki lagi (stb. 1933 No. 74 tentang Ordonansi Perkawinan orng-orng Indonesia, Kristen/ HOCI Pasal 52 sub. b)
b. Pasal 208 Kitab Undang-undang Hukum Perdata yang sebagai berikut :
Undang-undang melarang dilangsungkannya suatu perceraian atas dasar pemufakatan antara suami isteri
c. Didalam memeriksa dan memutuskan tuntutan perceraian pihak pengadilan diwajibkan untuk mendamaikan terlebih dahulu dari suami isteri. Dalam hal ini suami isteri di wajibkan untuk menghadap sendiri
guna mendamaikan tidak berhasil, pengadilan baru akan memberikan izin kepada pihak yang mengajukan permohonan untuk mengajukan tuntutan perceraian.
d. Pasal 221 Kitab Undang-undang Hukum Perdata menentukan bahwa perkwinan bila putus bilamana keputusan perceraian didaftrkan pad Kantor Catatan Sipil dalam jangka waktu 6 (enam) bulan terhitung sejak keputusan mendapat kekuatan hukum yang pasti.
Adapun pengrtian dari ketentuan tersebut di atas adalah:
Bahwa Undang-undang masih memberikan kesempatan kepada suami isteri mengurungkan niatnya untuk melakukan perceraian, karena itulahdi tentukan bahwa perceraian itu belum terputus walaupun keputusan telah mempunyai kekuatan hukum yang pasti .
Di dalam Pasal 208 Kitab Undang-undang Hukum Perdata menetapkan bahwa perceraian atas dasar persetujuan suami isteri adalah dilarang. Namun demikian larangan untuk bercerai atas dasar permufakatan sekarang ini sudah lazim dilakukan dengan cara mendakwa suami bahwa ia telah berbuat lazim, yang mana pada akhirnya pendakwaan tadi di akui oleh suaminyua. Dengan demikian maka alas an yang sah untuk memecahkan perkawinan telah dapat di buktikan di muka hakim.
Disamping itu pula kemungkinan bahwa kedua belah pihak baik suami maupun isteri telah melakukan perzinahan dan hal ini mengakibatkan kedua belah pihak masing-masing berhak mengajukan gugatan perceraian.
3. Prosedur / Tata Cara Perceraian
Dalam Pasal 207 Kitab Undang-undang Hukum Perdata di atur mengenai acara perkawinan, diamana gugatan preceraian harus dijukan kepada Pengadilan Negeri daerah suami bertempat tinggal.
Dalam garis besarnya prosedur perceraian dapat di bagi dalam dua jenis, tergantung dari alasan yang yang di jadikan dasar untuk menuntut perceraian yaitu :
a. penuntutan secara langsung agar suatu perkawinan diputuskan dengan percerain, bilamana tuntuan perceaian di dasarkan bahwa salah satu pihak di hukum
penjara elama lima tahun atau lebih, atau berdasarkan perzinahan yang telah terbukti dengan sesuatu keputusan pengadilan.
Dengan alasan-alasan tersebut perceraian dapat diajukan secara langsung, artinya tidak diperlukan ijin terlebih dahulu dari instantsi manapun dengan cara mengajukan surat tuntutan kepada Pengadilan Negeri dengan melampirkan alinan surat keputusan pengdilan.
Dalam hal ini Pengadilan Negeri tidak wajib untuk mendamaikan suami isteri tapi dapaat langsung dapat memeriksa kebenaran dari tuntutan. Gugatan harus diajukan dalam waktu 6 bulan sejak keputusan yang akan dijadikan aalasan untuk menuntut perceraian memperole kekuatan yang pasti, sebaliknya apabila gugatan diajukan lewat 6 bulan, maka gugatan tersebut dinyatakan tidak dapat diterima.
Selanjutnya dalam pasal 211 kitab undang-undang hukum perdata menentukan bahwa jika tempat kediaman mereka telah pindah ketempat lain setelah timbul suatu keadaan yang merupakan alaan untuk menggugat perceraian, maka turut juga berwenang dari tempat terakhir yang mengajukan permohonan itu.
Maksud dari ketentuan tersbut adalah untuk menjegah bahwa tidak ada pengadilan yang mempunyai wewnang apabila suami aa di luar negri, atau suami sengaja menyembunyiksn diri untuk menghalangi kemungkianan pihak isteri mengajukan gugatan perceraian.
b. prosedur penuntutan perceraian yang tidak boleh dijaukan secara langsung yang biash dalam praktek sehari-hari, adalah sebagai berikut; ketentuan yang mengatur acara ini terdapat dalam pasal 207 kitab Undang-Undang Perdata yang pada pokoknya terdiri dari :
1) Permohonan untuk memberikan ijin dilakukan tuntutan perceraian.
2) tuntutan perceraiannya sendiri.
Acara ini berlaku bilamana tuntutan perceraian didasarkan atas alasan-alasan diluar alasan yang langsung misalnya:
a) Perzinahan yang belum terbukti dengan suatu keputusan pengadilan.
b) meninggalkan tempat tinggal selama 5 tahun atau lebih.
c) penganiyaan yang mengakibatkan luka berat.
Adapun prosedur pnuntutan perceraian tersebut di atas yaitu sebagai berikut:
a) penggugat harus mengajukan permohonan kepada Pengadilan Negeri dan
meminta ijin untuk mengajukan gugatan percerain dengan mengemukakan alasan-alasan.
b) ketua Pengadilan Negeri memberian pertimbangan-pertimbangan agar penggugat berkehendak meninjau kembali permohonan.
c) Paa waktu kedua belah pihak menghadap maka ketua pengadilan mengusahakan perdamaian dan apabila perdamaian itu gagal maka penggugat memperoleh ijin untuk mengajukan gugatan perceraian tersebut.
d) Bilamana gugatan tidak diajukan dalam jangka waktu yang telah di tentukan, maka ijin yang telah diberikan menjadi batal.
e) Bila pada hari sidang yang ditentukan pihak penggugat tidak hadir walaupun telah di panggil maka permohonan menjadi gugur dan jika pihak lain tidak hadir biasanya Pengadilan akan memerintahkan agar orang itu dipanggil kembali.
f) Oleh karena gugata perceraian itu dapat memakan waktu lama maka ketua Pengadilan dapat menetapkan beberapa tindakan sementara :
Untuk sementara verdian di rumah lain
Perintah bahwa barang yang di pakai sehari-hari oleh isteri di serahkan kepada isteri.
Di tetapkan pula siap yang harus diikuti anak-anaknya.
Ditetapkan jumlah uang yang sementara wajib kepada isteri dan anak-anaknya diberikan oleh suami.
Akhirnya ia apabila terus tidak ahadir maka ketua pihak tidak dapat di damaikan lagi dan dengan demikian akan menganggap bahwa kedua belah pihak untuk mengajukan tuntutan perceraian.
4. Akibat Dari Perceraian
Dengan terputusnya perkawinan karena perceraian, akan mempunyai akibat sebagai berikut :
a.Akibat terhadap perkawinan itu sendiri b. Akibat terhadap diri pribadi suami isteri c. Akibat hubungan antara orang tau dan anak d. Akibat terhadap harat kekayaan
Ad.1. Akibat terhadap perkawinan itu sendiri
Dengan adanya perceraian maka perkawinan menjdai putus (pasal 199 dan pasal 126 KUHP perdata, dan harat campuran harus dibagi (pasal 232 KUHP Perdata)
Ad.2. akibat terhadap diri pribadi dari suami isteri:
Suami atau isteri yang gugatan dikabulkan tetap mempunyai segala hak-hak yang diperoleh berdasarkan dengan perjanjian dengan isteri atau suaminya, hal tersebut menurut ketentan yang terancam dalam pasal 222 KUHP Perdata, tetapi sebaliknya suami atau isteri yang dikalahkan perkaraya, akan kehilangan hak-hak tersebut (pasal 223 KUHP Perdata).
Ad.3. akibat terhadap hubungan antara orang tua dan anaknya:
Dengan adanya perceraian, maka kekuasaan orang tua berakhir dan berubah menjadi perwalian (voogdij), karena itu apabila prkawinan dipecahkan oleh hakim harus pula diatur tentang perwalian terhadap anak-anaknya yang masih di bawah umur, dan penetapan wali oleh hakim dilakukan setelah mndengar keluarga dari pihak ayah maupun dari pihak ibu, yang mempunyai hubungan erat dengan anak-anak tersebut.
Dalam hal ini hakim bebas untuk mengemukakan siapa yang menjadi wali, ayah atau ibu tergantung dari siapa yang paling cakap atau baik mengingat kepentingan anak-anak. Penetapan wali ini juga dapat ditinjau kembali oleh hakim atas permintaan ayah atau ibu atas dasar perubahan keadaan (pasal 229 ayat 4 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata).
Ad.4. Akibat terhadap harta kekayaan perkawinan
Dengan adanya perceraian, maka percampuran kekayaan menjadi hapus dan selanjutnya dapat dilakukan pembagian harta kekayaan itu menurut perjanjian perkawinan
Dalam pasal 128 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata ditentukan bahwa harta benda kesatuan dibagi dua antara suami isteri dengan tidak memperdulikan barang tersebut. Menurut pasal 232
1) ditentukan bahwa apabila kemudian terjadi perkawinan ulang antara kedua belah pihak dikembalikan keadaan sebelum adanya perceraian perkawinan, dan hal ini dianggap sebagai tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka. Isteri yang tidak dapat mempunyai suatu penghasilan yang cukup untuk memelihara anak-anaknya, maka hakim dapat menetapkan tunjangan nafkah yang harus diberikan oleh suami dimana permintan ini dapat diajukan bersama dengan gugatan untuk mendaptkan perceraian dan dapat juga diajukan secara tersendiri/ terpisah
Adapun jumlah tunjangan oleh Hakim diambil dengan pertimbangan kemampuan suami, dan bila keadadaan berubah maka suami dapat mengajukan permohonan agar penetapan hakim ditinjau kembali. Untuk lebih jelasnya akibat putusnya perkawinan karena perceraian dapat di simpulkan sebagai berikut.
a. Baik suami atau isteri tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya semata-mata atas dasar kepentingan anak, apabila ada perselisihan mengenai atas kekuasaan atas anak-anak, maka Pengadilan akan memberikan keputusan.
b. Suami yang bertanggung jawab atas semua biaya perawatan atau pemeliharaan pendidikan yang diperlukan anak dan apabila suami tidak dapat memberikan kewajibannya maka pengadilan dapat menentukan bahwa isteri dapat mempertanggungkan jawab biayanya tersebut.
c. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami menurut kemampuannya untuk memberi penghidupan kepada bekas isterinya selama masih hidup dan bersuami kembali;
d. Pengadilandapat menentukan kewajiaban apa serta jumlah biaya yangdiberikan kepada bekas suami dan isterinya.
C. Menurut Undang-undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 1. Pengertian Dari Perceraian
Tentang apa yang dimaksud dengan perceraian ataua pengertian dari perceraian, tidak kita temui dalam Undanh-undang perkawianan No. 1 tahun 1974 maupun didalam pertuaran Pemerintah No.9 tahun 1975 yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Undang-undang perkawinan.
Untuk mendapatkan pengertian yang dimaksud, maka kita harus menghubungkan masalah perceraian ini dengan salah satu azaz yang dianut Undang-undang Perkawinan mengenahi perkawinan yang tercantum dalam Pasal 1 Undang-undang tersebut, yang mennetukan bahwa pwerkawinan itu harus berlangsung kekal, hal tersebut dianggap perlu karena peraturan masalah perceraian merupakan sebagai suatu usaha dari Undang-undang yang mengatur perkawinan untuk menjaga keutuhan perkawinan.
Dalam hal nini Undang-undang perkawinan mensyaratkan bahwa untuk melakukan perceraian harus terdapat cukup alasan, misalnya antara suami istri tersebut tidak akan hidup rukun kembali sebagai suami istri.
Perceraian hanya dapat dilakukan didepan sidang pengadilan setelah tidak berhasil untuk mendamaikan kedua belah pihak (Pasal 39 UU No. 1 Tahu 1974).
Walaupun Undang-undang perkawinan maupn peraturan pelaksanaan tidak memberikan pengertian tentang perceraian, tapi yang dimaksudkan dengan perceraian adalah berakhirnya suatu perkawinan karena Putusan Pengadilan atas dasar gugatan dari salah satu pihak antara suami istri.
2. Syarat-syarat Perceraian
Undang-undang Perkawinan mengatur mengenai alasan perceraian dalam pasal 39 undang-undang No. 9
tahun 1975. Didalam Pasal 39 tersebut diatas menentukan bahwa sebagai alasan perceraian adalah terdapatnya suatu keaqdaan antara suami istri yang tidak memungkinkan suami dan istri tersebut rukun kembali. Alasan ini kemudian diperinci lebih lanjut dalam pasal 19 PP No. 9 tahun 1975 yang menentukan alasan-alasan perceraian sebagai berikut :
a. Salah satu pihak melakukan zinah atau pemabok, penjudi dan lain-lain yang sukar disembuhkan.
b. Salah satu pihak meninggalkan pihak yang lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa ijin dari pihak lain tersebut serta tanpa alasan yang sah atau karena suatu hal diluar kemampuannya.
c. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara selama 5 (lima) tahun atau lebih setelah perkawinan berlangsung.
d. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan yang membahayakan pihak lain.
e. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit yang mengakibatkan tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai suami istri.
f. Antara suami istri terjadi perselisihan dan pertengkaran serta tidak ada harapan hidup rukun kembali dalam suatu rumah tangga.
Oleh karena itu didalam penerapannya, maka untuk memutuskan Suatu perkawinan dengan perceraian harus terbukti alasan-alasan tertentu,yang disebut dalam pasal 39 ayat (2) Undang-undang perkawinan tahun 1974 karena kedua ketentuan tersebut berhubungan erat satu dengan yang lain,didalam pasal 19 PP No. tahun 1975 merupakan perincian atau pelaksanaan dari pasal 39 UU perkawinan tahun 1974.
3. Tata Cara Perceraian
Sebelum membahas tentang permasalahan tata cara perceraian, penulis akan memberikan sedikit keterangan mengenai hal-hal apa saja yang kan menjadi urusan Pengadilan serta tentang Pengadilan yang berwenang untuk memprosesnya baik menurut Undang-undang perkawinan maupun peraturan pelaksanaannya.
Menurut ketentuan Undang-undang perkawinan pasal 63 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang
Perkawinan, menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan Pengadilan menurut Undang-undang tersebut adalah:
a. Pengadilan adalah Pengadilan Agama Bagi mereka yang beragama Islam Dan Pengadilan Negeri bagi mereka yang lainnya.
b. Pengadilan Negeri adalah Pengadilan dalam Lingkungan Peradilan Umum.
Adapun tata cara perceraiandiatur dalam 2 (dua) macam tentang perceraian, yaitu :
a. Perceraian dengan cara talaq.
b. Perceraian dengan cara gugatan.
Peraturan ini merupakan pelaksanaan dari pasal 39 ayat (3) Undang-undang perkawinan yang menentukan bahwa tata cara perceraian yang didepan sidang Pengadilan, diatur dalam perundang-undangan tersendiri, yang akan diuraikan lebih lanjut.
a. Cerai Talaq.
Tata cara ini diatur dalam pasal 14 sampai dengan pasal 19 PP No. 9 tahun 1975, yang berlaku bagi mereka yang menganut agama Islam yakni : apa bila seorang suami yang telah melangsungkan perkawinan menurut agam Islam yang akan menceraikan istri mengajukkan surat kepada Pengadilan ditempat tinggalnya, yang berisi pemberitahuan bahwa mereka bermaksud untuk menceraikan istrinya disertai dengan alasan-alasan serta meminta kepada Pengadilan agar disidangkan untuk keperluan tersebut. Setelah Pengadilan mempelajari isi surat tersebut maka dalam waktu paling laqmbat 30 Hari memanggil pengirim surat dan juga istrinya untuk meminta penjelasan berhubung dengan maksud perceraian itu.
Setelah pengadilan mendapat penjelasan dari suami dan istri serta ternyata memang terdapat alasan-alasan untuk melakukan perceraian dan pengadilan berpendapat bahwa antara suami itri yang bersangkutan tidak mungkin didamaikan untuk hidup rukun dalam rumah tangga, maka Pengadilan memutus untuk melakukan sidang perceraian tersebut. Setelah melakukan sidang ketua Pengadilan membuat surat keterangan tentang terjadinya perceraian, dan surat
keterangan tersebut dikirimkan untuk diadakan pencatatan Perceraian.
Dalam hala ini Panitera Pengadilan Agama selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari perceraian diputuskan menyampaikan putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap pada Pengadilan Negeri untuk dilakukan.
Perlu pula diperhatikan dalam hubungan ini, bahwa menurut Undang-undang Perkawinan dan Peraturan pelaksanaannya, hak talaq hanya ada pada suami dimana dalam penggunaannya suami diwajibkan untuk mengemukakan alasan-alasannya untuk mentalaq sedangkan proses pentalaqan harus dilakukan didepan sidang Pengadilan, yang mana kedua belah pihak antara suami dan istri akan didengar dan diminta penjelsannya mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan maksud perceraian.
b. Cerai Gugat.
Mengenai Cerai gugat ini Undang-undang yang mengaturnya dalam pasal 20 sampai dengan pasal 36 PP.
No. 9 tahun 1975. dimana pasal tersebut menentukan bahwa dalam cerai gugat, gugatan perceraian dapat diajukkan oleh suami atau istrin maupun kuasanya kepengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman tergugat. Bila mana tempat tinggal tergugat tidak jelas, maka gugatan perceraian diajukkan ke Pengadilan ditempat tinggal penggugat.
Kemudian dalam hal tergugat bertempat tinggal di Luar Negri gugatan diajukkan pada Pengadilan tempat tinggal Penggugat, setelah itu Ketua Pengadilan menyampikan permohonan tersebut kepada tergugat melaui Perkawinan Republik Indonesia setempat.
Selanjutnya dalam hal gugatan perceraian karena salah satu pihak dari suami istri mendapat hukuam penjara 5 tahunatau lebih, maka utuk dapat putusan perceraian sebagai bukti, penggugat cukup menyampaikan salinan putusan pengadilan yang memutuskan perkara disertai keteranggan yang menyatakan bahwa putuan itu telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap. Selama berlangsungnya
penceraian atas suatu permohonan penggugat atau tergugatberdasarkan pertimbanganakan bahanya yang mungkin ditimbulkan, pengadilan dapat mengijinkan suami atau istri untuk tidak tinggal dalam satu rumah.
Demikian pula halnya gugatan perceraian atas permohonanpenggugat, pengadilan dapat:
1) Menentukan nafkah yang harus ditanggung suami 2) Menentukan hal-hal yang perlu untuk menjamin
pemeliharaan serta pendidikan anak-anak;
3) Menentukan hal-hal ysng perlu untuk menjamin terpeliharanyabarang-barang yang menjadi hak bersama antara suami itri atau barang-barang yang menjadi hak milik suami yang menjadi hak istri.
Gugatan perceraian akan gugur, apabilasuami istri meninggal sebelum adanya putusan pegadilan mengenai gugatan penceraian tersebut.
Dalam sidang pemeriksaan gugatan penceraian suami istri datng sendiri atau mewakilkan kepada kuasanya, serta hakim yang memeriksa gugatan penceraian akan berusaha untuk mendamai kan kedua belah pihak, selama perkara belum di putuskan usaha perdamaian dapat di lakaukan dalam setiap bidang pemeriksaan. Bila mana tercapai perdamaian,maka tidak dapat diajukan gugatan perceraian baru berdasarkan alasan-alasan yang ada sebelum perdamaian dantelah diketahuai oleh penggugatpada w3aktu dicapainya perdanmaian.Sebaliknya apabila tidak dapat dicapai suatu perdamaian, maka pemeriksaan gugatanperceraian dilakukan dalam sidang tertutup.
Putusan mengenai gugatan perceraian diucapkan dalam sidang terbuka serta suatu perceraian dianggap terjadi, terhitung sejak saat pendaftaranya pada daftar pencatatan oleh pegawai penctat, kecuali yang beragama islam terhitung sejak jatuhnya putusan pengadilan agamayang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap.
Dari uraian tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan, bahwa pembuat undang-undang dalam hal ini menghendakai agar jangan terjadi penceraian, dan hakim di wajibkan untuk mengusahakan dengan mendamaikannyaagar tetap utuhnya perkwinan dari suami istri yang bersangkutan.
Selain dari pada itu undang undang perkawinan bertekat untuk membatasi sejauh mungkin agar perceraian tersebut jangan sampai terjadi demi tetap utuh serta terpeliharanya yang kekal dan bahagia.
4. Akibat dari perceraian
Putusnya perkawinan karena perceraian membawa akibat-akibat yang menyakut hal-halsebagai berikut di bawah ini:
Keadaan perkawinanya sendiri menurut pasal 38 Undang undang perkawinan, ditentukan bahwa perkawinan yang berlangsung antara suami istri putus karewna di mana putusnya perkawinan itu membawa akhibat lebih lanjut yang berhubungan dengan rumah tangga keadaan keseluruh seperti hubungan mereka dengan anak-annknya serta bharta yang diperoleh dalam perkawinan.
a. Pengaturan hubungan bekas suami atau istri.
Setelsh putusnyab ikatan perkawinan,maka terdapat kemungkinan timbulnya suatu keadaan, dimana bekas istrii dalam hal untuk penghidupaya memerlukan uatu bantuan, karena tidak berpenghasilamn dan tidak mampunyai sumber penghasilan berupa pekerjaan tertetudalam hal ini pengadilan dapat mewajibkan bekassuami untuk memberi nafkah atu menentukan suatu kewajiban bagi bekas istri nya(pasal 41 sub. C uu pokok perkawinan No.
1 tahun 1974)
b. Mengenai pengaturan hubungan orang tua dengan anak-anak:
Menurut pasal 41 sub. A, menentukan setelah terjadi perceraian suami maupun istri tetap berkewajiban untuk memelihara dan mendidik anak-anaknya semata mata atas dssar kepentingan dari anak yang bersangkutan. Jadi kekuasaan orang tua harus dilaksanakan suami dan iatri demi kepentingan anak.
Selanjutnya didalam pasal 41 sub b ditentukan bahwa maalah pembiyayaan, pemeliharaan dan pendidika nanak- anak terutama menjadi tanggung jawab suami, apabila suami tidak mampu untuk memenuhi kewajiban, pengadilan dapat menentukan bahwa istri ikut memikul biyaya tersebut.
Yang perlu diperhatikan disini perihal peraturan diatas adalah dimana tetap terjamin kepentingan anak,walaupu orangtuanya telah bercerai karena pada akhirnya hal tersebut di letakan diatas tanggung jawab
Yang perlu diperhatikan disini perihal peraturan diatas adalah dimana tetap terjamin kepentingan anak,walaupu orangtuanya telah bercerai karena pada akhirnya hal tersebut di letakan diatas tanggung jawab