• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosesi Perkawinan Antar Warga N egara di Indramayu

Dalam dokumen PENERBIT CV.EUREKA MEDIA AKSARA (Halaman 10-0)

BAB 1 PENDAHULUAN

B. Prosesi Perkawinan Antar Warga N egara di Indramayu

Sebagai mana disebutkan diatas, bahwa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, ras, bangsa, agama dan adat istiadat yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya diantaranya adalah Anjatan Indramayu Jawa Barat, berbagai kehidupan dalam masyarakat di Anjatan-Indramayu-Jawa barat salah satu diantaranya ialah kawin musiman.Kawin Kontrak yang berdampak Negatif yaitu meningkatkan angka perceraian dari tahun ketahun serta semakin banyaknya praktek praktek pelacuran/prostitusi, karena surat cerai bagi mereka merupakan Paspor untuk memasuki duani hitam tersebut.

Sebelum melaksanakan perkawinan Antar Warga (campuran), terlebihdahulu harus melalui prosedur yang berklaku dan taca cara yang telah ditentukan dalam masyarakat dan harus pula ditaati oleh masyarakat, oleh karena itu apabila dalam melaksanakan suatu perkawian tidak sesuai dengan proses yang sudah ditetapkan maka perkawinan yang akan dilaksanakan itu dapat dibatalkan.

Menurut Hukum Adat bahwa dalam perkawinan Antar Warga (campuran) tidak hanya menyangkut kepentingan antara kedua belah pihak yang akan melangsungkan perkawina, melainkan pula menyangkut kepentingan dari para anggota kerabat dari kedua belah pihak, baik dari calon suiami maupun dari calon isteri di samping itu juga diharapkan dari perkawinan. Dan Setelah di keluarkannya Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan dan peraturan pelaksanaannya, secara berangsur-angsur musiman di daerah Anjatan Kabupaten Indramayu yang banyak segi negatifnya tidak dapat di pertahankan lagi Masyarakat Anjatan Kab Indramayu. Dandengan sendirinya akan hilang. Walaupun masih adanya keinginan dari pemuka adat untuk mempertahankan perkawinan musiman yangsudah menjadi tradisi secara ekonomi oleh Masyarakat Anjatan agar tidak hilang agar dan masih terus berlaku di dalam masyarakat.

BAB

2

A. Pengertian Perkawinan

Pekawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang kekal dan abadi berdasarkan ketentuan Yang maha Esa, Pasal I UU No. 1 tahun 1974. Dari pengertian tersebut di atas dapat di lihat ada beberapa unsur dari perkawinan itu sendiri, Yaitu :

1. Adanya ikatan lahir batin

2. Antara seorang pria dan seorang Wanita

3. Sebagai suami isteri dan membentuk keluarga yang bahagia, kekal dan abadi;

4. Berdasarkan ketentuan yang Maha Esa Adanya ikatan lahir batin

Berarti adanya persetujuan dan persesuaian kehendak yang berdasarkan atas kemauan yang suci untuk mengadkan ikatan dalam status suami isteri yang mempunyai pengaruh besar terhadap masyarakat lingkuannya, oleh karena itu masyarakat haruslah menghormati ikatan tersebut.

Antara seorang pria dan sorang wanita

Dalam unsure ini terkandung suatu prinsip bahwa azas perkawinan adalah monogamy. Jadi seorang suami pada

PERKAWINAN

azasnya hany mempunyai seorang isteri dan isteri hanya mempunyai seorang suami.

Dalam hal ini azas monogamy yang dai atur dalam Undang-undang Pokok Pekawinan Nomor 1. Tahun 1974 adalah azas monorelatif atau ada pengecualian ( Pasal 3 ayat (2) UU No.1 Tahun 1974 ), pengadilan dapat memberi ijin kepada seorang suami untuk beristeri lebih dari seorang apabila di kehendaki oleh yang bersangkutan.

Pasal 4 ayat (1) UU No. 1 tahun 1974 dal suatu hal seorang suami beristeri lebih dari seorang sebagaiman tersebut dalam pasal 3 ayat (2) undang-undang ini maka ia wajib mengajukan permohonan kepada pengadilan di daerah tempat tinggalnya. Pasal 4 ayat (2) Pengadilan yang di maksud dalam ayat (1) pasal ini hanya memastikan ijin seorang suami yang akan beristeri yang lebi dari dari seorng jika :

a. Isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai seorang isteri;

b. Isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat di sembuhkan;

c. Isteri tidak dapat melahirkan keturunan.

Ajas perkawinan ini islam adalah halnya dengan undang-undangperkawinan No. 1 tahun 1974 yaitu ajas monogamy relatif, sedangnya poligami hany semacam pengecualian sebagai jalan keluar sebagai kesulitan

Seperti yang tertera dalam pasal 4 ayat (2) di pihak lain ada yang terdapat bahwa azas perkawinan adalah monogamy, kalau ada poligami hanya pengecualian saja.

Mereka berpendapat demikian karena mereka berpegang teguh pada Al-Qur an surat An - Nisa ayat (3) yang terjemahannya sebagai berikut ka i lah a i a-wanita lain yang kamu senangi dua, tiga atu empat, kemudian jika kamu takut

idaka aka be lak adil maka ka i ilah a a g aja .

Jika di telusuri kembali, Asbabun Nu ulnya (mengapa ayat tersebut turun) mengapa akan di ketahui mengapa sampai terjadi adanya poligami, karena banyaknya sahabat yang mengikuti Rosulullah dalam peperangan. Maka bermunculan

janda-janda dan anak-anak yang perlu mendapat bimbingan demi perlindungan di mungkinkan mengawini mereka tersebut sehingga anaknya terpelihara demi kelanjutan kehidupannya.

Demikian juga halnya dengan masyarakat adat Indramayu yang masih mempunyai prinsip ndan berpegang teguh pada Al-Qur an Surat An-Nisa ayat (3), sehingga suatu kebiasaam atau adat perkawinan musiman bukan saja bagi mereka yang masih single / sendiri, tetapi juga banyak orang yang sudah mempunyai keluarga, (khususnya pria) masih mengikkuti kebiasaan tersebut, sehingga hal ini menimbulkan keresahan di lain pihak terutama isteri-isteri mereka yang suaminya ikut / turut serta.

Suami isteri yang bertujuan membentuk kel;uarga yang bahagia dan kekal.

Dalam hal ini terlihat suatu kekekalan atau keabadian dalam perkawinan. Oleh karena itu pada azasnya perkawinan itu harus berlangsung seumur hidup dengan tujuan membentuk suatu keluarga yang bahagia.

Berdasarkan Ketentuan Yang Maha Esa.

Dalam hal ini dapat di lihat suatu kekekalan suatu keabadian dalam perkawinan. Sangat penting sekali, Pasal 2 Undang-Undang pokok perkawinan menyatakan bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya.

Agama Islam dalam kitab Al-Qur an surat An-Nur Ayat (32)berbunyi : Dan kawinilah dan orang-orang sendirian di antara kamu dan orang-orang lanyak (berkawin) dari hamba-hamba sahanyamu yang perempuan, jika mereka miskin Allah maha luar biasa lagi maha mengetahui . Dalam Agama Islam juga di katakana bahwa perkawinan akan lebih mantap sempurna jika bagi mereka yang punya cukupnafkah (belanja suami isteri) hukumnya muba atau boleh saja.

Disini dapat di simpulkan bahwa peraturan agama dalam hal perkawinan sangatlah penting, karena dalam perkawinan haruslah di perhatikan benar-benar. Agama, sebab agamalah yang menentukan sah/tidaknya suatu perkawinan di samping hukum lainnya.

Jika suatu perkawinan haruslah memenuhi semua unsure agam tersebut, untuk unsure mana yang merupakan suatu kesatuan, sehingga apabila salah satu pihak tidak terpenuhi maka tidak sempurnalah perkawinan yang dilaksanakan itu. Sebagaimana yang jelas dikemukakan bahwa undang-undang ini mengandung didalamnya unsur-unsur dan ketentuan-ketentuan hukum agama dari masyarakat Indonesia.

Oleh karena itu kita dapat mengetahui bahwa di samping keagamaan juga hukum dan adat merupakan daya pengikat dari masyarakat serta memberikan arah petunjuk dalam bertindak dan bertingkahlaku.

B. Perkawinan Antar Negara

Dalam melaksankan Perakwinan antar Warga Negara di Kabupaten Indramayu, tentunya tidak terlepas dari Undang-undang Dasar 1945, PerUndang-undang-Undang-undangan (UU No. 1 Tahun 1974 Pasal 57-62), Peraturan Pemerintahan, (PP No. 9 Tahun 1975 Pasal 2-9); Peraturan Menteri Agama (PMA No. 2 Tahun 1990) dan Peraturan Presiden (Perpres No.25/2008 (Pasal 73);

Yang dimaksud dengan perkawinan campuran dalam Undang-Undang ini untuk perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan, karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak berkewarganegaraan Asing dan salah satu

ihak be ke a ga ega aa I d e ia .

C. Legalitas Perkawinan Antar Negara

Adapun Legalitas Perkawinan Antar Negara berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1975 tentang

perkawinan syah (legal) apabila dilaksanakan berdasarkan Pasal 59 ayat (2) sampai dengan Pasal 61 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan No.1 Tahun 1974, yang menentukan sebagai berikut :

1. Perkawinan campuran (antar negara) yang dilakukan di Indonesia dilakukan menurut Undang-Undang Perkawinan ini;

2. Perkawinan campuran tidak dapat dilangsungkan sebelum terbukti bahwa syarat-syarat perkawinan yang ditentukan oleh hukum yang relatif dipenuhi dan karena itu tidak untuk melangsungkan perkawinan campuran, maka mereka yang menurut hukum yang berlaku bagi pihak masing-masing berwenang mencatat perkawinan, diberikan surat keterangan bahwa syarat-syarat telah terpenuhi;

3. Jika pejabat yang bersangkutan menolak untuk memberikan surat keterangan itu maka atas permintaan yang berkepentingan Pengadilan memberikan keputusan dengan tidak boleh dimintakan banding tentang soal apakah penolakan pemberian surat keterangan itu beralasan atau tidak;

4. Jika Pengadilan memutuskan bahwa penolakan tidak beralasan maka keputusan itu menjadi pengganti keterangan yang tersebut dalam Pasal 60 ayat (3) Undang-Undang Perkawinan No.1 Tahun 1974;

5. Surat keterangan atau keputusan pengganti keterangan tidak mempunyai kekuatan lagi jika perkawinan itu tidak dilangsungkan dalam masa 6 (enam) bulan sesudah keterangan itu diberikan;

6. Perkawinan campuran dicatat oleh pegawai pencatat yang berwenang (KUA) apabila dilaksanakan berdasarkan Agama Islam dan di catatan sipil bagi selain agama islam.

D. Tujuan Perkawinan Antar Negara

Adapun salah satu tujuan utama terjadinya Pernikahan antar Warga Negara (WNI) dan WNA) diantarnya karena Kesejahteraan ekonomi, dimana pada umumnya kesejahteraan ekonomi suatu Negara, bangsa dan masyarakat identik sekali dengan tingkat ekonominya yang kuat serta tatanan sosial yang tinggi, hal ini sesuai dengan pendapat Thomas dkk.

(2005:15) menyampaikan bahwa kesejahteraan masyarakat menengah ke bawah dapat di representasikan dari tingkat hidup masyarakat ditandai oleh terentaskannya kemiskinan, tingkat kesehatan yang lebih baik, perolehan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, dan peningkatan produktivitas masyarakat. Kesemuanya itu merupakan cerminan dari peningkatan tingkat pendapatan masyarakat golongan menengah kebawah.

Sejalan dengan uraian diatas, Koentjaraningrat (1983) menyatakan bahwa ada tujuh unsur yang terdapat dalam kebudayaan, yaitu:

1. Sistem religi dan upacara keagamaan 2. Sistem dan organisasi kemasyarakatan 3. Sistem pengetahuan

4. Bahasa 5. Kesenian

6. Sistem mata pencarian hidup 7. Sistem teknologi dan peralatan

E. Akibat Dari Perkawinan Antar Negara Terhadap Harta Benda Undang-undang perkawinan No. 1 tahun 1974 menegaskan bahwa harta benda yang di peroleh selama perkawinan menjadi hart bersama . Pasal 35 ayat (1).

Harta bawaan masing-masing suami dan isteri serta harta benda yang masing-masing di peroleh sebagai hadiah atau warisan adalah di bawah penguasaan masing-masing pihak sepanjang para pihak tidak menentukan lain (pasal 36 ayat (2). Bila perkawinan putus karena perceraian,

hartabersama di atur menurut hukumnya masing-masing, Pasal 37 UU No.1 tahun 1974.

Dari uraian tersebut di atas bahwa barang asal atau bawaan dari perkawinan dari pihak wanita tersebut ataupun di pihak suami di pandang semata-mata milik suami dan isteri.

Hal ini terbukti dari kenyataan bahwa seluruh hukum di Jawa Barat bila seorang wanita membawa rumah, ternak atau sebidang tanah dalam perkawinan, para tetangga atau kerabatnya dalam percakapan dan sebagainya menyebut barang itu kepunyaan atau milik wanita tersebut.

Jika seorang ingin mengadakan perjanjian mengenai barang itu ia akan menghubungi wanita tersebut, dan apabila suami yang mengadakan pembicaraan ia berbuat demikian atas nama isterinya. Oleh Yurisprudensi yang di tetapkan di Jawa Barat yang terbukti yang dari banyak putusan yang diumumkan maupun yang tidak di umumkan, dianggap sebagai kenyataan yang tidak dipersoalkan lagi bahwa suami isteri tetap memiliki harta bawaannya.

Barang yang diperoleh suami atau isteri selama pekawinan menukar barang asalnya atau dibeli uang hasil penjualan dari barang asalnya atau uang yang termasuk barang semata-mata menjadi milik suami atau isteri yang bersangkutan.

Menurut keyakinan penduduk di wilayah hukum Jawa Barat kedua suami isteri menjadi hak milik bersama atas barang yang di peroleh selama perkawinan karena pekerjaan suami isteri, barang-barang itu termasuk harta milik bersama yang disebut barang sekaya. Tidak dipermasakahkan apakah isteri ikut aktif bekerja atau tidak, walaupun isteri tinggal di rumah mengurusi rumah tangga dan anak, sedangkan yang bekerja suami sendiri namun hasil suami itu adalah pencaharian bersama suami isteri, dan jika perkawinan mereka putus maka sebagaimana putusan Mahkama Agung tanggal 9 april 1960 No. 120 K/Sip/1960 harus dibagi sama rata antara suami dan isteri.

F. Masalah Hukum Adat Jika Tidak Adanya Perkawinan

Dalam hal ini penulis akan mengemukakan tentang status anak Pertama anak yang lahir di luar perkawinan, ber Ibu pada seorang perempuan yang tidak menikah yang melahirkannya, sebagaimana seorang juga yang dilahirkan dari seorang ibu yang dalam hubungan perkawinan ini di anggap sebagai suatu hal yangbiasa atau tidak tercela / cacat. Dalam hal yang Kedua terdapat sikap yang keras, mengutuk ibu yang melahirkan tanpa pernikahan dan hal tersebut karena pendirian yang magis dan religius akan membawa celaka, sial dan sebagainya, juga akan membawa mala petaka dan kerugian material yang sulit di kira-kira, oleh karena itu keduanya ibu dan anak harus di asingkan dari masyarakat.

Berhubungan dengan itu baik dulu maupun sekarang diadakan, aturan atau mencegah agar supaya ibu dan anak tidak tertimpa kemalangan, disini disebut kawin paksa, yang dipaksakan kepad alaki-laki yang di tunjuk oleh si perempuansebagai seorang yang telah menurunkan atau membangkitkan anak yang masih dalam kandungan, laki-laki yang di paksakan itu supaya kawin dengan perempuan itu oleh kepala Desa.

Dalam hukum adat rupa-rupanya tidak menjadi soal beberapa lama anak itu di lahirkan sesudah perkawinan, menurut Islam lebig dari 6 (enam) bulan. Aturan ini tidak berpengaruh terhadap hukum adat, menurut hukum adat anak yang di lahirkakn sesudah putus perkawinan bapak pada suami bekas ibunya.

Akibat hukum hubungan anak dan bapak serta anak dan ibu menimbulkan hak dan kewajian yang timbal balik, namun di dalam suasana yang unilateral ini kerap sekali sangat berlainan malah kadang-kadang menyimpangkan kewajiban serta hak ibu atau bapak, tetapi bapak selalu bertindak sebagai wali terhadap anak-anaknya terutama anak perempuan dalam perkawinan sesuai dengan hukum Islam, juga dalam hukum waris tanpa wasiat ab instentato lebih di dasarkan pada

hubungan karena anak saudara, dalam praktek di rubah karena banyak lembaga pengibahan.

Tentang penghapusan hubungan hukum anak dan bapak dengan sesuatu perbuatan hukum adalah mungkin menurut hukum adat. Pengusirsn secara formal di sebut amgkola.

Sebuah lembaga yang menetapkan suatu hubungan bapak dengan anak adalah lembaga anak pria, yaitu seseorang dapat menitipkan seorang anak kepada orang lain untuk di pelihara hal ini berbeda dengan adopsi,bahwa perbuatan tersebut adalah suatu jalan untuk memenuhi suatu kewajiban sebagai orang tua bertugas memelihara anak, akibat dalam hukum adat dan kehidupan sangat sukar di bedakan man yang adopsi dan mana yang penitipan anak dan manapula anak piara.

Anak yang dititipkan dapat sewaktu-waktu di ambil kembali oelah orang tuanya, asal dengan penggantian biaya pemeliharaan.

BAB

3

A. Menurut Hukum Islam

Kata penceraian ini sebenarnya arti yang ama dengan putusnya perkawinan, di samping itu juga bahwa kata penceraian ini lebih sering di ucapkan dalam masyarakat, sebab lebih praktis untuk di dengar walaupun perceraian ini merupakan akibat yang sangat buruk sekali.

Sebagaimana telah di ketahui bahwa perceraian ada karena adanya perkawinan. Dimana tidak ada perkawinan maka tidak ada perceraian. Karena itu perkawinan merupakanawal hidup bersama sebagai suami isteri dan dan perceraian sebagai akhir hidup antara suami isteri. Dalam islam di tentukan bahwa hanya dua kali saja yang memperolehkan talaq yang di rujuk dalam masa iddah, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur an

Talaq yang dapat di rujuk duakali, setelah itu boleh rujuk kembali dengan cara yang ma ruf. Atau menceraikannya dengan cara yang baik

Apabila suami telah melakukan talaq yang ketiga kali maka habislah hak talaq suami, karena itu hilang pula haknya untuk rujuk kembali kepada isterinya. Dalam hal ini ada pengecualian, dimana jika bekas isterimya telah menikah dengan laki-laki lain/suami lain yang telah di sempurnakan kehidupan itu serta telah di talaq pula oleh suami lain itu. maka

PERCERAIAN

barulah terbuka kesempatan bagi bekas suami pertama untuk kembali kepada bekas isterinya dengan melakukan perkawinan baru.

Islam menghendaki perkawinan kekal diantara suami isteri, kecuali apabila ada sebabyang tidak dapat dielakan seperti kematian oleh sebab itu dalam melakukan perkawinan dimana tidak di sahkan prkawinan untuk sekedar untuk sekedar bersenang-senang yang terbatas waktunya (sementara) yang dalam hal ini di kenal dengan nikah mut ah namun demikian islam tidak mengikat mati perkawinan itu akan tetapi juga tidak mempermudah talaq perceraian.

1. Perceraian Sebagai Jalan Keluar

Seperti telah di ketehui bahwa perceraian hendaknya hanya di lakukan sebagai tindakan yang terakhir setelah dengan adanya segala upanya guna perbaikan kehidupan perkawinan tidak berhasil, atau dalam hal ini dengan perkataan lain bahwa perceraian merupakan jalan keluar pintu darurat bagi suami isteri demi kebahagiaan yang dapat di harapkan sesudah terjadinya perceraian itu.

Pada garis besarnya perceraian menurut hukum islam terbagi dua, yaitu : talaq dan fasakh dengan ketentuan bahwa setiap perceraian yang timbul karena sebab-sebab dari pihak suami di sebut talaq perceraian yang timbul dari pihak isteri di sebut fasakh. Islam menetapkan bahwa hak untuk mentalaq isterinya ada tangan suami, karena itu suami memiliki hak untuk mentalaq istyerinya sampai tiga kali namun tidak dapat di gunakan sewenang-wenang.

Penggunaan hak talaq secara secara sewenang-wenang merupakan perbuatan yang di murkai Allah SWT, demikian juga dengan isteri yang memaksa agar suaminya menceraikannya tanpa sebab yang memperolehkan untuk bercerai adalah suatu perbuatan tidak di rtestui Allah SWT

Di Indonesia di samping suami dapat menggunakan hak talaq untuk menceraikan isterinya, tetapi tiodak sedikit yang telah mempergunakan haknya untuk melakukan atau memperoleh cerai dari suaminya melalui lembaga ta lik talaq di depan pengadilan agama.

Tal lik talaq ini terdiri dari 3 (tiga) macam :

a. Talaq Munajjaz (kontan), yaitutalaq yang tidak di gantungkan kepada syarat dan tidak pula di sadarkan kepada suatu masa yang akan datang, tetapi merupakan yang di jatuhkan pada saat di ucapkan talaq itu sendiri, misalnya suami berkata kepada isterinya engkau aku talaq

b. Talaq Mualaq (digantungkan), yaitu talaq yang di jatuhnya di gantungkan pada terjadinya suatu keadaan, umpanya suami berkata isterinya jika engkau keluar rumah tanpa se i inku engkau ku talaq

c. Talaq Mualat (disandarkan), yaitu talaq yang di jatuhnya di sandarkan pada suatu masa yang akan datang, misalnya suami berkata kepada isterinya engkau tertalaq besok, engkau tertalaq bulan yang akan datang.

Bagaimanapun bentuk penceraian bukan lah suatu perbuatan yang terpuji, karena itu suatu perselisihan yang melatar beklakangi sampai akhirnya timbul suatu penceraian bukan merupakan suatu perbuatan terpuji.

Perceraian adalah tindakan terakhir atau sebagian jalan keluar yang di lakukan terlebih dahulu menempuh jalan melalui usaha-usaha perdamaian, perbaikan dan sebagainya, tidak ada jalan kecuali dengan melakukan perceraian demi kebahagiaan yang dapat di harapkan sesudah terjadinya prceraian.

2. Putusnya Ikatan Perkawinan a. Kematian Suami atau isteri

Kematian suami atau isteri dalam arti hukum adalah putusnya ikatan perkawinan, jika isterinya meninggal dunia suami diperbolehklan menikah lagi dengan segera, tetapi janda yang tinggal mati suaminya harus menunggu lewatnya waktu tertentu sebelum dapat kawin lagi (iddah), iddah karena kematian suaminya adalah 4 (empat) bulan sepuluh hari dari meninggalnya suamidan bilaman apada akhirnya waktu ini isteri hamil, maka jangka waktu untuk dapat kawin lagi sampai ia

melahirkan anak.

Putusnya ikatan pekawinan dengan matinya salah satu pihak suami ister I menimbulkan hak waris kandungannya berhak mendapat warisan dari tirkah suaminya yang meninggal itu.

b. Perceraian

Pengertian perceraian dalam arti umum dapat di bedakan atas talaq dan faskh, yang dalam bahasa arab : furqah, jamaknya furaqfuraquzzawaj yang berarti putusnya perkawinan karena itu semua perceraian dalam talaq tetapi tersebut merupakan sebagian dari perceraian sudah menjadi ketentuan bahwa talaq adalah hak laki-laki atau suami dan hanya ia saja yang berhak mentalaq interinya karena laki-laki suami yang dibebani kewajiban perbelanjaan rumah tangga, nafkah isteri anak-anak serta kewajiban rumah tangga lainnya, diantaranya adalah :

1) membayar atau melunasi mas kawin yang belum lunas atau belum di banyar

2) memberi mut ah memberikan sesuatu untuk menggembirakan isterinya yang di talaq,

3) memberi nafkah iddah, biaya hidup isteri selama jangka waktu iddah raj I,

4) menyedikan perumahan, tempat tinggal bagi isteri yang telah di talaq raj I sedangkan isteri yang telah di talaq ba in hanya di sediakan tempat kediaman apabila sedang hamil.

3. Perceraian Dan Pencabutan Kembali

Dalam syarat islam untuk perceraian yang mungkin dicabut akembali karena boleh rujuk, serta ada pula perceraian yang mungkin dicabut kembali karena tidak boleh rujuk, keadaan tersebut tergantung kepada bentuk dari perceraian yang terjadi, serta hubungan dengan rujuk dengan iddah

a.Bentuk Perceraian

Di tinjau boleh atau tidaknya suatu perceraian di

Di tinjau boleh atau tidaknya suatu perceraian di

Dalam dokumen PENERBIT CV.EUREKA MEDIA AKSARA (Halaman 10-0)