BAB 5 PENCERAIAN ADAT DI INDRAMAYU
A. Terjadinya Perceraian
Sebagaimana kita ketahui bahwa perceraian ada karena adanya perkawinan, karena apa bila tidak ada perkawinan tentu tidak akan ada perceraian. Karena itu perkawinan merupakan awal hidup bersama sebgai suami istri dan perceraian merupakan akhir hidup bersama suami istri.
Menurut ketentuan pasal 38 Undang-undang Perkawinan No. 1 tahun 1974, menyatakan bahwa perkawinan dapat putus karena : kematian, perceraian serta atas keputusan pengadilan.
Dalam bab ini penulis akan menguraikan perihal perceraian di daerah Kabupaten Indramayudengan segala aspek yang menyebabkan terjadinya perceraian tersebut.
Dalam hal ini yang menjadi latar belakang terjadinya suatu perceraian di Indramayu adalah sebagai berikut :
1. Karena rendahnya tingkat pendidikan Masyarakat.
2. Karena rendahnya pendapatan perkapita (Ekonomi).
3. Karena kawin usia muda.
Ad. 1. Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat :
Tingkat pendidikan yang rendah dari dari masyarakat menyebabkan banyak dilakukan perceraian. Hal tersebut dikarenakan dengan rendahnya pendidikan maka kurang memahami apa
PENCERAIAN ADAT
DI INDRAMAYU
sebenarnya makna dari suatu perkawinan yang dilakukannya. Sehingga dalam keadaan demikian mereka dengan begitu mudah memuruskan perkawinan dengan jalan perceraian.
Mereka masih belum mengetahui maksud dari perkawinan itu sendiri, seperti yang kita ketahui maksud dari perkawinan adalah untuk membangun rumah tangga yang bahagia, kekal dan sejahtera.
Perlu juga diketahui bahwa rata-rata dari pendidikan msyarakat yang bersangkutan hanya keluaran Sekolah Dasar dan tidak mempunyai pandangan yang luas.
Ad. 2. Rendahnya Pendapatan Perkapita :
Keadaan ekonomi masyarakat yang tidak memungkinkan membawa akibat yang negatif terhadap kelangsungan dari perkawinan, dimana dalam hal ini orang tua mempunyai anak perempuan yang keadaanya miskin, maka akan segera menikahkan anaknya tersebut dengan harapan keadaanya ekonominya akan menjadi lebih baik. Jadi dalam hal ini peranan orang tua sangat menentukan yang mana biasanya anak harus mau dan menuruti kehendak orang tuanya untuk dikawinkan walaupun anak tersbut tidak mencintainya. Dengan tidak didasari rasa saling mencintai, maka perkawinan tidak akan berlangsung lama sebagaimana yang dimaksud oleh Undang-undang Perkawinan No. 1 tahun 1974. Dan pada akhirnya mereka memutuskan perkawinan dengan suatu perceraian.
Ad. 3. Karena Usia Muda
Kawin usia muda disini adalah dimana batas usia minimum yang ditetapkan untuk seseorang dpat melangsungkan perkawinan. Dalam hal ini Undang-undang Perkawinan No. 1 tahun 1974 pasal 7 ayat 1, menentukan bahwa : untuk melangsungkan perkawinan, usia dari calon mempelai laki-laki harus
19 tahun, dan usia untuk calon mempelai wanita harus 16 tahun.
Perkawinan pada usia inilah yang banyak dilakukan di daerah Indramayu. Menurut hemat penulis perkawinan pada usia muda akan membawa mala petaka saja dalam kehidupan rumah tangga, dimana perkawinan tersebut tidak berlangsung kekal. Hal ini dikarenakan antara suami dan istri sebenarnya masih belum siap dan belum matang untuk melamgsungkan perkawinan, adapun hubungan dengan usia muda yang terjadi di Indramayu adalah dimana sebelum batas usia untuk dapat melangsungkan perkawinan, para orang tua sudah menjodohkan anak-anaknya yang dikenal dengan istilah Ka i ci ik a a Ka i keci . Selanjutnya apabila telah mencapai batas usia yang ditetapkan untuk boleh melangsungkan perkawinan, maka dilakukanlah suatu upacara perkawinan yang sebenarnya.
Tidak jarang perkawinan mereka putus tengah jalan, karena mereka hanya terpaksa melakukan perkawinan tersebut, yang mana sebenarnya perkawinan tersebut hanya kehendak orang tua saja. Dengan demikian maka perceraianlah yang mereka pilih untuk memutuskan tersebut dan dikenal dengan julukan RCTI (Tanda Cilik Turunan Indramayu), adapun alasan yang melatar belakangi terjadinya kawin usia muda adalah sebagai berikut :
1. Faktor ekonomi Karena orang tuanya miskin
Dalam keadaan yang seperti ini orang tua yang mempunyai anak perempuan akan cepat-cepat mengawinkan anaknya untuk mengurangi beban hidup keluarga, dengan perkawinan tersebut mereka beranggapan bahwa keadaan ekonominya akan lebih baik dn biasanya orang tua sudah memilih calonnya dari keluarga yang cukup kaya. Sedangkan bagi orang tua dimana keadaan cukup mampu, mereka akan cepat-cepat mengawinkan anaknya untuk mendapatkan bantuan tenaga kerja.
Simenantu biasanya diambil dari keturunan dari orag yang tidak mampu. Dari perkawinan ini pada akhirnya salah satu
pihak diantara suami istri seolah-olah hanya sebagai pembantu dari keluarga yang bersangkutan. Jadi dalam hal ini peranan suami atau istri dalam perkawinan ini tidak seimbang, seperti kita ketahui dimana Undang-undang perkawinan No. I tahun 1974 dan peraturan Pelaksanaannya tekah memberi kepada wanita yang telah berumah tangga, hak dan kedudukan yang seimbang dengan hak kedudukan suaminya. Hal ini terlihat sangat bertolak belakang dengan hak dan kedudukan suami istri dalam kehidupan berumah tangga di daerah Indramayu.
2. Faktor norma susila atau faham Agama
Dilatar belakangi oleh faktor norma susila faham agama yang dianut para orang tua ingin cepat-cepat untuk mengawinkan anak-anaknya, karena merasa takut anaknya akan melakukan kejahatan yang dalam hal ini berbuat Zinah yang dilarang oleh agama sehingga akan menyebabkan orang tua ikut malu apa bila hal tersebut terjadi. Jadi dalam keadaan seperti yang tersebut diatas suatu perkawinan masih dipengaruhi oleh orang tua untuk menentukan siapa yang menjadi calon menantu anaknya.
Sebenrnya peranan orang tua dalam perkawinan itu hanya terbatas kepada ijin dimana apabila calon mempelai tersebut belum mencapai 21 (duapuluh satu) tahun. Yang mana hal ini sesuai dengan ketentuan pasal 6 ayat (2) Undang-undang Perkawinan No. 1 tahun 1974.
Belum memasyarakatnya Undang-undang perkawinan, serta tingkat pendidikan yang masih rendah.
Dengan belum memasyarakatnya Undang-undang Perkawinan serta adanya tingkat pendidikan yang masih rendah, membawa akibat terhadap masyarakat yang bersagkutan dimana mereka tidak mengetahui atau kurang memahami akan maksud dan tujuan dari perkawinan itu sendiri. Yakni untuk membangun suatu keluarga atau rumah tangga yang bahagia, kekal dan sejahtera berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sehingga dari
mereka banyak yang melakukan perkawinan pada usia muda yang menurut penulis dirasakan masih belum matang dan masih belum pantas untuk melangsungkan perkawinan, walaupun Undang-undang membolehkannya.
Karena seseorang yang melakukan perkawinan pada usia yang relatif muda, masih akan mudah goncang jiwa dan pikirannya terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin datang dari pihak luar, yang mungkin akan memudahkan perkawinan tersebut putus.