commit to user BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. DESKRIPSI PT PETROKIMIA GRESIK
1. Sejarah dan Profil PT Petrokimia Gresik
PT. Petrokimia Gresik merupakan pabrik pupuk terlengkap di Indonesia, yang pada awal berdirinya disebut Proyek Petrokimia Surabaya.
Kontrak pembangunannya ditandatangani pada tanggal 10 Agustus 1964, dan mulai berlaku pada tanggal 8 Desember 1964. Proyek Petrokimia Surabaya mulai dilaksanakan pembangunannya pada tahun 1963 berdasarkan Instruksi Presiden RI No. 01/Inst/1963 tanggal 4 Maret 1963. Perjalanannya, pada tahun 1971 dikukuhkan menjadi Perusahaan Umum (PERUM) berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 55/1971. Proyek ini diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 10 Juli 1972, yang kemudian tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari jadi PT Petrokimia Gresik. Tahun 1974, status perusahaan berubah menjadi Persero sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 35/1974 juncto Peraturan Pemerintah No. 14/1975 yang dituangkan dalam Anggaran Dasar Perusahaan dengan Akta Notaris Abdul Latief No. 110 tanggal 31 Mei 1975.
Gambar 2. Denah Lokasi Petro
Sumber: Laporan Tahunan 2011 Annual Report PT. Petrokimia Gresik 31
commit to user
Anggaran Dasar Perusahaan beberapa kali mengalami perubahan, terakhir diubah dengan Akta No. 56 tanggal 15 Agustus 1997 oleh Notaris Ida Fidiyanti, SH, pengganti Notaris Imas Fatimah, SH dan Akta No. 82 tanggal 27 Maret 1998 oleh Notaris Imas Fatimah, SH. Anggaran Dasar PT Petrokimia Gresik saat ini sedang disesuaikan dengan adanya UU Perseroan Terbatas No 40 tahun 2007 tanggal 16 Agustus 2007.
Dalam perkembangannya, PT Petrokimia gresik secara konsisten dan berkesinambungan melakukan inovasi produk dan pengembangan pabrik berbasis teknologi. Bermula dari produksi pupuk berbasis nitrogen, kemudian di kembangkan pada produksi pupuk berbasis fosfat dan kemudian berkembang kea rah produksi pupuk majemuk.
2. Visi dan Misi Perusahaan Visi Perusahaan:
“Menjadi produsen pupuk dan produk kimia lainnya yang berdaya saing tinggi, dan produknya paling diminati.”
Misi Perusahaan:
a. Mendukung penyediaan pupuk nasional untuk tercapainya Program Swasembada Pangan,
b. Meningkatkan hasil usaha untuk menunjang kelancaran kegiatan operasional dan pengembangan usaha perusahaan,
c. Mengembangkan potensi usaha untuk mendukung industri kimia nasional dan berperan aktif dalam community development.
3. Struktur Organisasi Perusahaan
Struktur organisasi perusahaan bertujuan untuk menciptakan suatu efisiensi dan efektifitas dari setiap karyawan, unit kerja melalui program kerja dan kegiatan oprasional yang terperinci, serta jelas adar dapat mencapai tujuan organisasi.
commit to user
33
commit to user 4. Ketenagakerjaan
Tenaga kerja merupakan salah satu faktor utama yang mampu mendukung kelancaran aktivitas perusahaan dalam mencapai tujuan peruahaan. Tenaga kerja di golongkan menjadi tenaga kerja tetap dan tenaga kerja tidak tetap. Tenaga kerja di bagi menjadi tenaga kerja langsung dan tenaga kerja tidak langsung. Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang sistem pembayarannya dikaitkan dengan harga pokok barang yang dihasilkan dan bersifat proposional dengan kegiatan yang dilakukan. Sedangkan tenaga kerja tidak langsung adalah tenaga kerja yang sIstem pembayarannya dikategorikan sebagai salah satu elemen biaya-biaya yang besarnya tidak berubah secara proposional dengan tingkat kegiatan yang dilakukan (Handoko, 2000:19). Istilah tenaga kerja langsung pada PT Petrokimia Gresik sama halnya dengan tenaga kerja tetap, dan tenaga kerja tidak langsung sama halnya dengan tenaga kerja tidak tetap.
PT Petrokimia Gresik merupakan perusahaan Badan Usaha Milik Negara, sehingga seluruh tenaga kerja pada PT. Petrokimia Gresik termasuk dalam golongan tenaga kerja tetap. Tenaga kerja tersebut di bagi menjadi tenaga kerja administrasi dan tenaga kerja produksi, sedangkan operator dan setingkat termasuk tenaga kerja produksi karena ikut terlibat langsung dalam proses produksi. Tenaga kerja administrasi terdiri dari Direksi, Kepala Departemen, Kepala Bagian dan Kepala Sie.
Selain kedua jenis tenaga kerja tersebut, terdapat pula tenaga kerja tidak tetap yang biasa disebut tenaga kerja outsourcing. Tenaga kerja ini merupakan tenaga kerja kontrak yang dipekerjakan di proyek PT Petrokimia Gresik.
Berdasarkan data departemen personalia PT Petrokimia Gresik, jumlah tenaga kerja per Februari 2013 berjumlah 3.348 orang. Menurut jenjang pendidikan dan jenjang jabatan, jumlah tenaga kerja di PT Petrokimia Gresik adalah sebagai berikut :
commit to user
Tabel 1 Jumlah Karyawan Berdasarkan Tingkat Pendidikan (posisi akhir Februari 2013)
Pendidikan Jumlah
Pasca Sarjana 107
Sarjana 510
Sarjana Muda 77
SLTA 2.471
SLTP 182
SD 1
Total 3.348
Sumber: http://www.petrokimia gresik.com/Pupuk/Jumlah.Karyawan
Berdasaran tingkat pendidikan, jumlah pekerja per akhir Februari 2013, yang paling banyak dipekerjakan di PT. Petrokimia Gresik adalah lulusan SLTA dimana jumlahnya mencapai angka 2.471 pekerjaa, sedangkan pekerja yang paling sedikit adalah lulusan Sekolah Dasar yang hanya diduduki oleh 1 orang diikuti dengan Sarjana Muda yang berjumlah 77 pekerja.
Tabel 2 Jumlah Karyawan Berdasarkan Jenjang Jabatan (posisi akhir Februari 2013)
Jabatan Jumlah
Direksi 5
Eselon I 28
Eselon II 64
Eselon III 213
commit to user
Eselon IV 599
Eselon V 1.134
Pelaksana 1.270
Bulanan Percobaan 35
Total 3.348
Sumber: http://www.petrokimia gresik.com/Pupuk/Jumlah.Karyawan
Pada akhir Februari 2013 tercatat keseluruhan jumlah pekerja pada PT.
Petrokimia Gresik mencapai angka 3.348 orang yang menduduki jabatan mulai Direksi hingga pelaksana. Jajaran Direksi diduduki oleh 5 orang sedangkan pekerja pelaksana yang bertugas langsung dalam proses produksi jumlahnya mencapai angka 1.270 pekerja. Pada tahun 2013 terdapat pula 35 pekerja yang masih dalam bulan percobaan,
Tabel 3 Jumlah Karyawan Berdasarkan Tingkat Pendidikan (posisi akhir Desember 3 tahun terakhir)
Pendidikan 2012 2011 2010
Pasca Sarjana 106 106 106
Sarjana 513 472 470
Sarjana Muda 78 86 90
SLTA 2.448 2.552 2.466
commit to user
SLTP 183 201 212
SD 1 4 8
Total 3.329 3.421 3.252
Sumber: http://www.petrokimia gresik.com/Pupuk/Jumlah.Karyawan
Data jumlah pekerja tiga tahun terakhir berdasarkan tingkat pendidikan menununjukan pekerja dengan gelar Pasca Sarjana jumlahnya tidak mengalami perubahan, yaitu terdapat 106 orang yang berasal dari beberapa bidang ilmu, sedangkan untuk pekerja lulusan Sarjana jumlahnya terus mengalami peningkatan, berbanding terbalik dengan pekerja lulusan Sarjana muda yang mengalami penurunan dari tahun-ketahun. Hal tersebut dikarenakan pihak PT. Petrokimia Gresik memberikan program bantuan pendidikan terhadap pekerja bergelar sarjana muda untuk melanjutkan kuliah ke strata yang lebih tinggi.
Table 4 Jumlah Karyawan Berdasarkan Jenjang Jabatan (posisi akhir Desember 3 tahun terakhir)
Jabatan 2012 2011 2010
Direksi 5 5 5
Eselon I 26 31 24
commit to user
Eselon II 66 68 72
Eselon III 216 204 195
Eselon IV 604 572 489
Eselon V 1.136 1.070 1.012
Pelaksana 1.276 1.470 1.501
Bulan Percobaan 0 1 54
Total 3.329 3.421 3.352
Sumber: http://www.petrokimia gresik.com/Pupuk/Jumlah.Karyawan
Berdasarkaan data jumlah pekerja tiga tahun terakhir yang dilansir oleh PT.
Petrokimia Gresik menunjukan total jumlah pekerja pada tahun 2012 menurun jika dibandingkan dengan tahun 2011 yang mencapai 3.421 pekerja.
Hal tersebut berimbas pada jumlah pekerja yang menduduki jenjang jabatan di PT. Petrokimia Gresik. Untuk jabatan Direksi tetap diduduki oleh lima orang sedangkan untuk jabatan Ekselon I, Ekselon II dan pelaksana mengalami penurunan, namun untuk jabatan Ekselon III. Ekselon IV dan Ekselon V mengalami peningkatan jumlah pekerja. Pekerja yang masih dalam proses bulan percobaan untuk tahun 2010 berjumlah 54npekerja yang mengalami penurunan yaitu 31 pekerja pada tahun 2011 dan pada tahun 2012 tidak ada pekerja yang masuk dalam bulan percobaan.
commit to user 5. Produk dan Jasa
Produk pupuk : Phonska, superphos, urea, ZA, Petroganik, TSP, SP- 36, DAP, NPK Kebomas, ZK, KCL, Rock Phosphate, Amonium Phosphate, Petrobio, Petro Kalimas.
Produk non pupuk : Amoniak, Asam Fosfat, Asam Sulfat, Alumuniun Flourida, Gypsum, Cement Retarder, Nitrogen, Oksigen, CO2 Cair, Dry Ice, asam Klorida, kapur pertanian, Gypsum Pretanian, Petroseed (benih padi unggul).
Jasa : Terdiri dari,Rancang bangun dan perekayasaan, Febrikasi dan konstruksi, Machining spare part and equipment, pengoprasian pabrik, Pemenliharaan pabrik, analisa uji kimia, analisa uji mekanik dan elektronik, komputerisasi, pendidikan dan latihan, pemeriksaan teknik dan korosi.
6. Ruang Lingkup Kegiatan Perusahaan
Kegiatan produksi pada PT. Petrokimia Gresik dibagi menjadi tiga unit produksi yaitu: Pabrik I, Pabrik II, dan Pabrik III.
a. Pabrik I
Pada Pabrik I atau Pabrik Nitrogen terdapat enam unit pabrik, yaitu:
Pabrik Amoniak, Pabrik Urea, Pabrik ZA I/III, Pabrik CO2 cair I/III, Pabrik Air Separation Plant (ASP), dan utilitas.
b. Pabrik II
Pabrik II atau Pabrik Fosfat terdapat empat unit pabrik, yaitu: Pabrik SP 36 (SP 36 PF I dan PF II), Pabrik Phonska/NPK, Pabrik ZK, dan utilitas.
c. Pabrik III
Pada Pabrik III atau pabrik pendukung, terdapat enam unit pabrik, yaitu:
Pabrik H2SO4, Pabrik H3PO4, Pabrik Alumunium Fluoride (AlF3), Pabrik Gypsum, dan Pabrik ZA II.
commit to user
B. Perlindungan Hukum terhadap pekerja di PT Petrokimia Gresik terkait dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
PT. Petrokimia Gresik sebagai BUMN yang menyuplai mayoritas pasokan pupuk di Indonesia, sangat sadar bahwa merupakan suatu persyaratan mutlak dalam menjalankan suatu pabrik kimia, diperlukan petunjuk serta peraturan umum terkait dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Hal ini tidak terlepas dari penggunaan bahan-bahan kimia berbahaya sebagai bahan baku pembuatan pupuk, serta alat-alat produksi dengan teknologi tinggi yang beresiko menimbulkan bahaya potensial yang dapat menimpa para pekerja pada PT. Petrokimia Gresik atas aktivitas industri yang mereka lakukan.
PT. Petrokimia Gresik dalam memberi jaminan perlindungan hukum terkait dengan K3 di lingkungan perusahaan, berpedoman pada peraturan perUndang-Undangan yang secara khusus mengatur tentang K3, diantaranya adalah Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, dimana pada Pasal 87 ayat (1) menyatakan bahwa “Setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan”. Selain itu Keselamatan dan Kesehatan Kerja diatur secara khusus dengan diundangkannya Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Kesehatan Kerja serta berbagai aturan pelaksana seperti Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor Per.02/MEN/1980 tentang Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja dan Penyelenggaraan Keselamatan Kerja, Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor Per.04/MEN/1980 tentang Syarat- Syarat Pemasangan dan Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan, Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor Per.04/MEN/1987 tentang Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Tata Cara Penunjukan Ahli Tenaga Kerja, Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor Per.01/MEN/1998 tentang Penyelenggaraan Pemeliharaan Kesehatan bagi Tenaga Kerja dengan Manfaat Lebih Baik dari Paket Jaminan Pemeliharaan Kesehatan
commit to user
Dasar Jaminan Sosial Tenaga Kerja serta Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 261/MENKES/SK/1998 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja.
Komitmen PT. Petrokimia Gresik dalam menerapkan Peraturan Perundang-undangan tersebut terbukti dengan adanya Dokumen Standar Perusahaan mengenai Standar Pokok-pokok Perundangan, Peraturan dan Persyaratan Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang Relevan Nomor SD-36-3006 yang telah disahkan oleh Kepala Depertemen Lingkungan dan K3 tertanggal 14 Januari 2011. Dokumen ini disusun dengan maksud memberikan informasi kepada unit kerja terkait tentang pokok-pokok perundangan, peraturan dan persyaratan K3 yang relevan sebagai acuan dalam menyusun segala kebijakan serta peraturan perusahaan terkait dengan K3.
Mengingat pentingnya penerapan K3 bagi pekerja, hingga PT. Petrokimia Gresik merasa perlu mencantumkan K3 ke dalam Kebijakan Sistem Manajemen PT. Petrokimia Gresik yang pada pokoknya berbunyi:
“Penyediaan produk pupuk, produk kimia dan jasa yang berkualitas sesuai permintaan pelanggan dilakukan melalui proses produksi dengan menerapkan sistem manajemen yang menjamin mutu, pencegahan pencemaran dan berbudaya K3 serta penyempurnaan secara bertahap dan berkesinambungan. Untuk mendukung tekad tersebut, manajemen berupaya memenuhi standard mutu yang ditetapkan, peraturan lingkungan, ketentuan dan norma-norma K3 serta peraturan/
perundangan terkait lainnya.
Seluruh karyawan bertanggung jawab dan mengambil peran dalam upaya meningkatkan keterampilan, kedisiplinan untuk mengembangkan produk dan jasa yang berkualitas, pentaatan terhadap peraturan lingkungan dan ketentuan K3 serta menjunjung tinggi integritas (Kebijakan PT. Petrokimia Gresik. 2005).”
Bahkan pada nilai-nilai perusahaan yang merupakan karakter baik atau budaya yang dijunjung tinggi oleh perusahaan, yang memberikan warna perilaku semua personil yang ada di perusahaan dalam perjalanan mewujudkan visi menyisipkan pentingnya K3 yang berbunyi “Mengutamakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta pelestarian lingkungan hidup dalam setiap kegiatan operasional.” Hal ini menunjukan bahwa PT. Petrokimia Gresik sadar benar akan pentingnya K3 hingga dirasa perlu untuk menjadikan K3 sebagai prioritas utama dalam menjalankan segala aktivitas di lingkungan perusahaan. Dengan memasukan K3 sebagai salah satu unsur penting dalam nilai-nilai perusahaan dimana
commit to user
penulisannya dinyatakan secara tegas pada poin pertama dalam nilai-nilai perusahaan ini, mengandung makna bahwa PT. Petrokimia Gresik ingin menjadikan segala aturan terkait dengan K3 sebagai budaya perusahaan, dimana seluruh aturan tersebut di tegakan dengan kesadaran punuh akan pentingnya menjaga keselamatan dan kesehatan masing-masing individu, bukan hanya sekedar aturan yang di taati karena mengandung unsur sanksi bagi segala pelanggaran terhadapnya.
PT. Petrokimia Gresik mendahulukan kata “keselamatan” daripada kata
“kesehatan” dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja, menurut Bapak Trio Agus Budi Santoso selaku Karyawan pada Departemen K3, hal ini memiliki makna bahwa dalam segala pelaksanaan aktivitas perusahaan, baik yang dilakukan oleh pekerja maupun orang lain yang berada di lingkungan PT. Petrokimia Gresik, keselamatanlah yang perlu di prioritaskan, karena dengan menjaga keselamatan baik itu berupa sikap kerja yang aman maupun lingkungan kerja yang aman diharapkan dapat memproteksi pekerja, perusahaan, lingkungan hidup dan masyarakat sekitar dari ancaman bahaya kesehatan yang dapat berupa kecelakaan ataupun penyakit-penyakit akibat kerja( Hasil Wawancara Tanggal 12 Januari 2013, pukul 09.00).
PT. Petrokimia Gresik menganggap penting untuk memberi perlindungan K3 baik terhadap seluruh pekerja di lingkungan perusahaan, orang lain yang berada di lingkungan perusahaan serta seluruh alat-alat dan bahan baku produksi, yang dituangkan ke dalam berbagai instrumen peraturan perusahaan, diantaranya adalah dengan disusunnya Perjanjian Kerja Bersama (PKB) antara PT. Petrokimia Gresik dengan Serikat Karyawan Petrokimia Gresik periode tahun 2011-2013 yang disahkan pada 23 April 2012 oleh Hidayat Nyakman selaku Direktur Utama PT. Petrokimia Gresik, Pinto selaku Ketua SKPG serta di saksikan oleh Muhaimin Iskandar selaku Mentri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia, yang terdiri dari 69 Pasal, mengatur mengenai kesepakatan kerja bersama antara pekerja dan pengusaha yang juga turut memasukan kesepakatan- kesepakatan mengenai pentingnya Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Tujuan Perjanjian Kerja Bersama ini adalah guna menciptakan suatu hubungan industrial
commit to user
yang harmonis antara perusahaan dan SKPG yang berpedoman pada peraturan perUndang-Undangan yang berlaku serta berdasarkan pada kejujuran, kebersamaan, perlakuan yang adil, bermartabat dan rasa saling percaya.
Perjanjian Kerja Bersama tersebut secara khusus memuat pasal-pasal yang memberikan jaminan terhadap perlindungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja antara lain terdapat pada Bab XIV tentang Keselamatan dan Perlengkapan Kerja Karyawan. Bab ini terdiri dari dua pasal, pada Pasal 59 mengatur tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja antara lain sebagai berikut :
(1) Perusahaan menetapkan pokok-pokok kebijakan dalam bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja untuk dipahami, dihayati dan diamalkan oleh seluruh karyawan dengan maksud agar karyawan ikut serta mengambil bagian dalam tanggung jawab Keselamatan dan Kesehatan Kerja, demi tarcapainya rasa nyaman, rasa aman dan semangat kerja serta tujuan perusahaan.
(2) Untuk mencegah dan mengurangi terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja, perusahaan dan karyawan wajib menaati peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
(3) Perusahaan menyiapkan perlengkapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja bagi karyawan sesuai kebutuhan di bidang/tugas masing-masing agar dalam melaksanakan tugas menjadi aman.
(4) Apabila perusahaan tidak menyediakan perlengkapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja sebagaimanaa tersebut pada ayat (3) Pasal ini, maka karyawan berhak menolak melaksanakan tugas.
(5) Karyawan wajib memelihara perlengkapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang di sediakan oleh perusahaan
Ketentuan Pasal tersebut menjelaskan kewajiban perusahaan dan para pekerja untuk memahami, mengamalkan serta ikut bertanggung jawab atas segala peraturan dan kebijakan perusahaan terkait dengan K3 guna menciptakan kondisi lingkungan kerja yang aman dan nyaman. Dalam pasal ini juga dijelaskan tentang kewajiban perusahaan untuk menyediakan segala perlengkapan K3 yang di butuhkan sesuai dengan masing-masing bidang kerja dan kewajiban karyawan untuk memelihara perlengkapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang di sediakan oleh perusahaan serta hak untuk mendapatkan perlengkapan K3 yang di butuhkan sesuai dengan masing-masing bidang kerja dan hak karyawan untuk menolak melaksanakan tugas apabila perusahaan tidak menyediakan perlengkapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Disamping itu pada Pasal 60
commit to user
Perjanjian Kerja Bersama diatur mengenai perlengkapan dan peralatan kerja karyawan yang di sediakan oleh pihak PT. Petrokimia Gresik berupa:
a. Pakaian dinas harian (PDH) 2 (dua) stel setiap tahun sekali:
b. Pakaian Dinas Lapangan (PDL) 3 (tiga) stel setiap tahun sekali untuk tugas dan sifat pekerjaan tertentu;
c. Pakaian Dinas Khusus (Batik) 2 (dua) baju setiap tahun sekali;
d. Jaket Shift 1 (satu) potong setiap tahun;
e. Jilbab atau Kerudung 3 (tiga) potong setiap tahun
f. Pakaian Olah Raga 1 (satu) stel setiap tahun sekali terdiri dari baju dan celana;
g. Sepatu PDH 1 (satu) pasang setiap tahun h. Kaos Kaki 2 (dua) pasang setiap tahun;
i. Topi dan Jas Hujan atau Payung 1 (satu) buah setiap 2 (dua) tahun j. Ikat Pinggang 1 (satu) buah setiap 2 (dua) tahun;
k. Jaket karyawan 1 (satu) buah setiap 3 (tiga) tahun;
l. Tanda pengenal karyawan;
m. Perusahaan menyediakan alat-alat kerja bagi karyawan menurut macam dan jenis yang telah ditentukan untuk masing-masing pekerjaan.
Pasal 60 PKB tersebut telah diuraikan secara khusus mengenai peralatan kerja yang merupakan hak yang diperoleh setiap karyawan di PT. Petrokimia Gresik dengan tujuan untuk menunjang karyawan dalam melaksanakan segala kegiatan di lingkungan PT. Petrokimia Gresik sesuai dengan bidang atau tugas masing-masing pekerjaan yang dilakukan.
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan mengatur dalam Pasal 172 mengenai ketentuan hak-hak pekerja yang mengalami kecelakaan kerja, yang pada pokoknya berbunyi “Pekerja/buruh yang mengalami sakit berkepanjangan, mengalami cacat akibat kecelakaan kerja dan tidak dapat melakukan pekerjaannya setelah melampaui batas 12 (dua belas) bulan dapat mengajukan pemutusan hubungan kerja dan diberikan uang pesangon 2 (dua) kali ketentuan Pasal 156 ayat (2), uang penghargaan masa kerja 2 (dua) kali ketentuan Pasal 156 ayat (3), dan uang pengganti hak 1 (satu) kali ketentuan Pasal 156 ayat (4). Melalui PKB, PT. Petrokimia Gresik mengimplementasikan pasal tersebut dengan mengatur mengenai kemungkinan terburuk apabila seorang pekerja mengalami kecelakaan kerja. PT Petrokimia Gresik sendiri mengartikan kecelakaan kerja sebagai suatu kecelakaan yang dialami oleh seorang karyawan, semenjak ia meninggalkan rumah kediamannya menuju ketempat pekerjaannya;
commit to user
selama jam kerja dan jam istirahat, maupun sekembalinya dari tempat kerjanya menuju ke rumah kediamannya, melalui jalan yang biasa dia tempuh / wajar (Buku Pedoman K3 PT. Petrokimia Gresik, 1990:8). Pasal 56 PKB mengatur hak- hak karyawan yang meninggal karena kecelakaan kerja sebagai berikut :
a. Tambahan pesangon sesuai ketentuan pasal 43 perjanjian kerja bersama ini
b. PKHT dan THT sebagai berikut :
1. Manfaat PKHT dan THT sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
2. Dalam hal besarnya manfaat PKHT dan THT yang berasal dari iuran perusahaan lebih kecildibanding dengan ketentuan perundang- undangan maka selisihnya dibayar oleh perusahaan;
3. Ketentuan huruf b angka 2 PKB iniberlaku bagikaryawan yang menjalani PHK sejak diundangkannya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yaitu tanggal 25 Maret 2003.
c. Hak-hak karyawan sebagai peserta JAMSOSTEK;
d. Kenaikan pangkat/ golongan pengabdian satu tingkat sesuai dengan peraturan yang berlaku;
e. Manfaat Prokespen sesuai Surat Keputusan Direksi yang berlaku;
f. Kompensasi bantuan Hari Raya (BHR);
g. Bantuan Biaya Pendidikan (BBP) sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
h. Bantuan Biaya Cuti (BBC) sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
i. Cuti Tahunan yang belum dijalani sesuai kententuan yang berlaku;
j. Jasa operasi;
k. Insentif;
l. Kompensasi sisa cuti besar;
m. Bantuan pindah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
PT. Petrokimia Gresik juga menyusun Buku Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja Edisi Ke IV melalui Surat Keputusan Direksi Nomor 212/VIII/SKPTS//DIR/1990 tentang Buku Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja PT. Petrokimia Gresik. Yang disahkan pada 1 Agustus 1990 oleh Endarto selaku Direktur Utama dengan tujuan untuk memberikan pedoman dalam
commit to user
pelaksanaan K3 bagi seluruh karyawan di lingkungan PT. Petrokimia Gresik.
Buku Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja PT. Petrokimia Gresik memuat segala prosedur dan peraturan dasar terkait dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja bagi pekerja di PT. Petrokimia. Konsep dasar yang ditekankan dalam Buku Pedoman Keselamatan Keja PT. Petrokimia Gresik adalah pentingnya menjaga keselamatan pribadi, menghindarkan diri dari keadaan bahaya, guna memperoleh lingkungan kerja yang aman, nyaman dan sehat.
Filosofi dasar penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di PT Petrokimia Gresik adalah :
a. Setiap tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan atas keselamatan dalam melakukan pekerjaan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas.
b. Setiap orang lainnya yang berada di tempat kerja perlu terjamin keselamatannya
c. Setiap sumber produksi harus digunakan secara aman dan efisien.
d. Pengurus/Pimpinan Perusahaan diwajibkan memenuhi dan mentaati semua syarat-syarat dan ketentuan keselamatan kerja yang berlaku bagi usaha dan tempat kerja yang dijalankan.
e. Setiap orang yang memasuki tempat kerja diwajibkan mentaati semua persyaratan keselamatan kerja.
f. Tercapainya kecelakaan nihil.
Sedangkan dasar yang digunakan PT. Petrokimia Gresik dalam penerapan K3 di Petrokimia Gresik berasal dari hukum dan konsep dasar lain sebagai berikut:
a. Masa Konstruksi (1967-1972) : Dasar Hukum yang digunakan adalah Veiligheids Reglement, 1910. kemudian Misi perusahaan yaitu Menerapkan Sistem kerja Aman dengan tujuan Memenuhi standar quality performance dalam masa ini, inspektur teknik melakukan kontrol terhadap kualitas kerja karyawan dan menjaganya agar tetap aman.
b. Masa Produksi (1972-sekarang) : Dasar Hukum yang digunakan UU no.1 tahun 1970,Peraturan dan perUndang-Undangan K3 lainnya. Misi perusahaan Integritas K3 dalam semua fungsi dan kegiatan dalam perusahaan dengan
commit to user
tujuan untuk Mencapai tujuan perusahaan dengan lebih efisien dan mengembangkan usaha yang disertai zero accident. Dalam penerapannya, komitmen dari manajemen melandasi bentuk kebijakan K3, dengan pelaksananya adalah seluruh karyawan sebagai bentuk tanggung jawab dan kewajiban.
Tujuan PT. Petrokimia Gresik dalam menerapkan K3 adalah guna menciptakan sistem K3 ditempat kerja dengan melibatkan unsur manajemen, tenaga kerja, kondisi dan lingkungan kerja yang terintegrasi dalam rangka mencegah terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta terciptanya tempat kerja yang aman, nyaman, efisien dan produktif dengan sasaran pelaksanaan K3 di lingkungan PT Petrokimia Gresik yaitu :
a. Memenuhi Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja b. Memenuhi Permen Naker No.: PER/05/MEN/1996 tentang Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja c. Mencapai nihil kecelakaan
sedangkan batasan dalam penerapan K3 adalah:
a. Safety (Keselamatan kerja)
1) Keselamatan kerja dalam konteks perorangan
Sebagai minimasi kontak antara manusia dan bahaya dan terutama dihubungkan dengan pencegahan orang terhadap bahaya yang mengakibatkan penderitaan fisik.
2) Keselamatan kerja dalam konteks perusahaan
Kebebasan perusahaan dari bahaya yang dapat merugikan perusahaan baik dari segi keselamatan, kesehatan, keamanan, dan pencemaran lingkungan.
b. Insiden
Diartikan sebagai suatu kejadian yang dapat merugikan perusahaan.
c. Kecelakaan
Sebagai suatu peristiwa yang tidak diharapkan, tidak direncanakan dapat terjadi kapan saja dan di mana saja dalam rangkaian peristiwa yang terjadi karena berbagai sebab yang mengakibatkan kerugian fisik (luka / penyakit)
commit to user
terhadap seseorang, rusaknya harta milik perusahaan, hampir terjadinya gangguan usaha atau setiap kombinasi dari efek tersebut.
d. Kecelakaan Kerja
Kecelakaan yang dialami oleh seorang karyawan semenjak ia meninggalkan rumah kediaman menuju tempat pekerjaannya selama jam kerja dan jam istirahat maupun sekembalinya dari tempat kerjanya menuju ke rumah kediamannya dengan melalui jalan yang biasa di tempuh / wajar. (Buku Pedoman K3 PT. Petrokimia Gresik. 1990:8)
e. Kesehatan kerja
Menurut Joint ILO/WHO Committee on Occupational Health adalah hubungan dua arah antara kesehatan (health) dan Kerja (Work) yang mencakup aspek kesehatan dari pekerja (health of workers) yang bersifat medis dan aspek lingkungan kerja (occupational Environment) yang bersifat teknis. Kedua aspek ini secara sinergis berupaya memelihara (maintenance), meningkatkan (promotion) derajat kesehatan pekerja dan mencegah (prevention), serta melindungi (protection) pekerja dari risiko yang ada di pekerjaan dan lingkungan kerjanya yang dapat mempengaruhi keselamatan dan kesehatannya.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan PT. Petrokimia Gresik dalam upaya meningkatkan K3 meliputi :
1. Perbaikan Kesehatan Kerja
Dilakukannya pemantauan dan pemeliharaan kesehatan karyawan beserta keluarganya melalui sosialisasi dan penyuluhan kesehatan, pemeriksaan kesehatan berkala, senam di sore hari atau pagi hari dan menyediakan sarana olah raga serta pelayanan pengobatan di rumah sakit.
2. Perbaikan Keselamatan dan Keamanan Kerja
Dengan melakukan pemantauan kegiatan K3 di area pabrik dan kawasannnya oleh Tim P2K3, Sub P2K3, Safety Representative dan pimpinan masing-masing Unit Kerja oleh karenanya seluruh karyawan berpartisipasi aktif dalam mengindentifikasi faktor-faktor yang berpotensi menimbulkan
commit to user
bahaya/kecelakaan di unit kerjanya serta mampu menciptakan kondisi kerja yang aman dan nyaman.
Program-program kesehatan kerja yang telah dilakukan oleh PT Petrokimia Gresik yaitu:
1) Pemeriksaan Kesehatan (sebelum kerja, berkala dan khusus) 2) Diagnosis dan pengobatan penyakit
3) Monitoring dan Pengukuran secara berkala serta evaluasi tempat-tempat kerja 4) Diklat tentang K3 bagi semua tenaga kerja
5) Imunisasi terhadap beberapa penyakit infeksi yang bukan oleh pekerjaan 6) Pengadaan Alat Pelindung Diri (APD)
7) Pencatatan dan pelaporan
8) Penelitian epidemiologis untuk mengevaluasi dampak lingkungan kerja 9) Evaluasi berkala efektivitas program kesehatan kerja yang telah dilakukan
Berdasarkan pengalaman dan pertimbangan manajemen perusahaan, organisasi K3 diletakkan di dalam organisasi yang terdapat karyawan dengan jumlah terbanyak dan direktorat yang mempunyai potensi bahaya tertinggi, yaitu di Direktorat Produksi. Pembentukan organisasi K3 secara fungsional akan memudahkan koordinasi dan kontrol terhadap bahaya-bahaya yang mungkin timbul di unit kerja dan dapat memberikan pengaruh kepada pimpinan dan karyawan di unit kerja masing-masing, sehingga pengendalian kerugian yang diakibatkan oleh kecelakaan, kebakaran dan insiden lainnya dapat dikendalikan secara efektif. Adapun tujuan dari organisasi K3, yakni : dapat menjamin penerapan K3, sesuai dengan perundangan dan peraturan, menjamin tempat kerja yang aman, nyaman dan produktif, membangun dan meningkatkan budaya K3, dan meningkatkan tanggungjawab pimpinan unit kerja. Di dalam struktur oraganisasi K3 dibagi menjadi 2 macam yaitu :
a. Organisasi Struktural
Organisasi K3 Struktural dibentuk agar dapat menjamin penerapan K3 di PT Petrokimia Gresik sesuai dengan Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja serta peraturan K3 lainnya dan penerapan K3
commit to user
dapat dilaksanakan sebaik-baiknya sehingga tercapai kondisi yang aman, nyaman dan produktif. Organisasi struktural yang membidangi K3 adalah Bagian K3 dan bertangungjawab kepada Biro Lingkungan dan K3.
Gambar 4. Struktur Organisasi Departemen LK3 di PT Petrokimia Gresik Sumber : Departemen Lingkungan dan K3 PT Petrokimia
b. Organisasi Non Struktural
Organisasi non struktural terdiri dari :
1) Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3)
“Two teams of occupational health and safety advisors who have been providing such a service to patiens in the primary care setting over serval years agreed to be involved in an evaluation of how such primary care delivery of occupational health advice could work. Such a formal evaluation is heavily reliant on the expertise of such teams and would not have been possible without their close cooperation. Such expertise could include advice on the management of workplace hazards, the assessment of the “work-relatedness” of any health problems or improved treatment and data collection to helt identify
BAGIAN K3 BAGIAN PMK STAFF LINGKUNGAN
Staff Keselamatan Kerja Pabrik I
Staff Keselamatan Kerja Pabrik II Staff Keselamatan Kerja Pabrik III
Staff Perlrngkapan, Bina dan Sidik K3 Staff kesehatan Kerja
Departemen Lingkungan dan K3
commit to user
patterns of work-related ill-health (Craig A Jackson, 2004:1).” P2K3 dibentuk sebagai pemenuhan Bab VI Pasal 10 Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, sebagai wadah kerjasama anatara pimpinan perusahaan dan tenaga kerja dengan tugas menangani aspek K3 secara strategis di perusahaan. Tugas dan tanggung jawab Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) :
a) Mengembangkan kerjasama saling pengertian dan partisipasi aktif antara pimpinan perusahaan dengan setiap orang di tempat kerja, dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya dibidang keselamatan dan kesehatan kerja.
b) Menyelenggarakan pembinaan dan pengawasan bagi setiap orang di tempat kerja dalam usaha pencegahan kecelakaan, kebakaran dan pencemaran lingkungan (tempat) kerja.
c) Mengembangkan kerjasama dibidang keselamatan dan kesehatan kerja dengan lembaga pemerintah dan/atau lembaga lainnya untuk pengembangan dan peningkatan dalam pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja di PT Petrokimia Gresik .
d) Menyelenggarakan sidang P2K3 secara periodik
2) Sub Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Sub P2K3)
Sub P2K3 adalah Organisasi yang dibentuk di Unit Kerja untuk menangani aspek K3 secara teknis di Unit Kerja Kompartemen. Tugas dan Tanggung Jawab dari Sub P2K3 yakni :
a) Membuat program K3 untuk meningkatkan kesadaran K3 di unit kerjanya.
b) Melaksanakan Pengawasan dan Pembinaan K3 di unit kerjanya.
c) Melakukan pemeriksaan K3 yang mencakup kondisi yang tidak aman, sikap yang tidak aman, kebersihan lingkungan kerja dan estetika.
commit to user
d) Melaksanakan identifikasi bahaya , penilaian resiko, menerapkan Job Safety Analisis (JSA) dan Job Safety Observation (JSO)
e) Melaksanakan rapat K3 pada bulan berjalan untuk membahas aspek K3 di unit kerjanya.
f) Melaksanakan tindak lanjut hasil temuan pemeriksaan dan rapat K3 di masing-masing unit kerjanya.
g) Melaporkan temuan K3 yang mempunyai potensi bahaya tinggi pada sidang P2K3
3) Safety Representative
Dibentuk sebagai perwakilan K3 di unit-unit kerja yang bersangkautan sebagai usaha mempercepat pembudayaan K3, melakukan peningkatan K3 dan menjadi model K3 di unit kerjanya. Tugas dan Tanggung Jawab dari Safety Representative yaitu :
a) Menciptakan kultur dan menjadi tauladan /model pelaksanaan K3 di unit kerjanya.
b) Berperan aktif di dalam menegakkan peraturan dan prosedur K3 serta memberikan saran/nasihat ataupun tegoran kepada setiap orang yang melakukan penyimpangan /pelanggaran peraturan dan prosedur K3 yang ditetapkan pimpinan perusahaan.
c) Secara rutin dan/atau periodik melakukan safety patrol/pemeriksaan K3 di unit kerjanya yang mencakup sikap dan kondisi yang tidak aman, pengaruh lingkungan kerja dan aspek K3 lainnya.
d) Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kebersihan, keindahan, kenyamanan dan menjaga kerapian baik didalam maupun diluar gedung di unit kerja Bagian yang bersangkutan.
e) Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan tindak lanjut setiap temuan K3 di unit kerjanya.
commit to user
f) Berperan aktif didalam upaya pencegahan kecelakaan, kebakaran, penyakit akibat kerja dan pencemaran lingkungan di unit kerjanya.
g) Mengikuti rapat K3 yang diadakan di unit kinerjanya dan menyebarkan hasil keputusan rapat K3 yang dilaksanakan ke seluruh karyawan di unit kerjanya
h) Mengevaluasi setiap kecelakaan dan kebakaran di unit kerjanya untuk melakukan upaya pencegahan kecelakaan dan kebakaran yang sama pada waktu-waktu mendatang.
i) membantu melakukan identifikasi bahaya di unit kerjanya dan mengusulkan perbaikan apabila dipandang perlu.
j) Sebagai unit Bantuan Penanggulangan Kebakaran dan Penanggulangan Keadaan Darurat Pabrik di unit kerjanya maupun di seluruh kawasan perusahaan
k) Segera melaporkan ke Pimpinan Unit Kerja apabila terjadi gangguan keamanan di unit kerjanya
l) Memantau isi kotak Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) dan segera memintakan kembali apabila isi peralatan dan obat-obatannya habis digunakan maupun keadaan kosong.
4) Program K3 yang Dijalankan
Ada beberapa program yang dijalankan oleh biro K3 dimana kesemua program itu bertujuan untuk kelancaran dan efektifitas kegiatan perusahaan, Program-program tersebut antara lain :
(a) Mengefektifkan Peran Anggota Safety Representative (perwakilan k3) yang meliputi : Melakukan pemantauan dan pelaporan k3 (patrol kondisi tidak aman,sikap tidak aman,kebersihan lingkungan dll), pemeriksaan gas berbahaya, pelatihan K3 (penanggulangan keadaan darurat), pembinaan K3, dan yang terakhir membuat rencana program kesehatan kerja karyawan
commit to user
(b) Program kesehatan kerja karyawan antara lain : Pemeriksaan kesehatan meliputi pemeriksaan kesehatan calon karyawan, pemeriksaan kesehatan berkala, pemeriksaan kesegaran jasmani kebugaran, pemeriksaan kesehatan khusus yang berkaitan dengan lingkungan kerja dan pemeriksaan karyawan menjelang pensiun.
Program pembinaan kesehatan karyawan bagi karyawan yang sehat dan bagi karyawan yang ada kelainan kesehatan dengan melakukan upaya-upaya normative, preventif, kuratif dan rehabilitative. Gizi kerja meliputi pemberian nutrisi tambahan berupa susu yang diberikan sebanyak tiga kali dalam seminggu dan konsultasi gizi.
Sedangkan untuk karyawan yang terlibat dalam pekerjaan crash program dan / atau shut down mendapatkan tambahan suplemen.
(c) Memeriksa Lingkungan Kerja ,Pemeriksaan lingkungan kerja meliputi :Pemeriksaan iklim kerja, antara lain penukuran suhu kering, suhu basah, ISBB dan kelembaban, Pengukuran Kebisingan, Pengukuran intensitas pencahayaan, Pengukuran kadar debu di udara, Pengukuran kadar kimia di udara, Kebersihan dan sanitasi lingkungan kerja.
5) Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3).
Tujuan dan Sasaran SMK3 Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah sistem yang disusun untuk merencanakan, melaksanakan dan mengukur penerapan K3 di tempat kerja perusahaan berdasarkan UU KK No.1 Th. 1970 dan peraturan pelaksanaannya.
Adapun tujuan pelaksanaan SMK3 di PT. Petrokimia Gresik adalah : (a) Tujuan Umum
(1) Melindungi orang lain di tempat kerja (2) Melindungi Melindungi TK di tempat kerja .
(3) bahan dan peralatan produksi agar dioperasikan secara aman dan efisien
(4) Memenuhi persyaratan K3 sesuai peraturan perundangan.
(5) Peningkatan citra perusahaan
commit to user (b) Tujuan Khusus
(1) Mencegah dan mengurangi kecelakaan kerja serta PAK (Penyakit Akibat Kerja)
(2) Menciptakan kondisi aman pada mesin, instalasi, alat produksi, bahan produksi, dan hasil produksi
(3) 3.Menciptakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman
Adapun sasaran dari penerapan SMK3 adalah untuk menciptakan suatu sistem K3 di tempat kerja dengan melibatkanUnsur manajemen,Tenaga kerja,dan Kondisi dan lingkungan kerja dalam rangka mencegah dan mengurangi Kecelakaan dan PAK dan menciptakan tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.
6). Prinsip-Prinsip SMK3
SMK3 memiliki lima prinsip yang teratur dan saling berkelanjutan yang menjadi landasan penerapan manajemen perusahaan. Berikut merupakan model prinsip penerapan SMK3 :
Gambar 5. Model 5 Prinsip Penerapan SMK3 Sumber: Departemen Lingkungan dan K3 PT Petrokimia
Pengelolaan K3 di PT. Petrokimia Gresik melibatkan seluruh tingkat pimpinan dan setiap orang yang berada di perusahaan, dengan pendekatan berbasis resiko, regulasi, pemberdayaan lembaga K3 dan pemberdayaan SDM K3, dengan mengikuti pedoman SMK3 sebagai berikut :
commit to user a) Prinsip 1. Komitmen dan Kebijakan
Pimpinan perusahaan harus menunjukkan komitmen terhadap K3 dengan wujud : Menempatkan organisasi K3 pada posisi yang dapat menentukan keputusan perusahaan, Menyediakan anggaran, tenaga kerja yang berkualitas dan sarana lain yang diperlukan, Menetapkan personel yang memiliki tanggung jawab, wewenang dan kewajiban yang jelas dalam pengelolaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja,Adanya perencanaan K3 yang terkoordinasi,Melakukan evaluasi kinerja dan tindak lanjut pelaksanaan K3.
b) Prinsip 2. Perencanaan
Perencanaan identifikasi bahaya yaitu dengan mempertimbangkan identifikasi bahaya, penilaian dan pengendalian risiko dalam merumuskan rencana. perencanaan meliputi : peraturan dan perundangan tentang K3, tujuan dan Sasaran K3, indikator Kinerja ,perencanaan awal dan kegiatan
c) Prinsip 3. Penerapan SMK3
Penerapan SMK3 dilihat secara global terdiri dari : Jaminan Kemampuan (sdm, tanggung jawab, integrasi SMK3, motivasi, pelatihan), Komunikasi (penyediaan informasi),pelaporan informasi internal dan eksternal, sistem dokumentasi, Pencatatan dan Manajemen Informasi , identifikasi sumber bahaya, tindakan pengendalian, dll.
d) Prinsip 4. Pengukuran dan Evaluasi
Adanya sistem evaluasi digunakan untuk mengukur, memantau dan mengevaluasi kinerja SMK3.Hasil evaluasi untuk menentukan keberhasilan atau melakukan identifikasi tindakan perbaikan.
e) Prinsip 5. Tinjauan Ulang Manajemen Tinjauan ulang manajemen, meliputi :
commit to user
(1) Evaluasi terhadap penerapan kebijakan K3 (2) Hasil temuan audit SMK3
(3) Kajian terhadap tujuan, sasaran dan kinerja K3
(4) Evaluasi terhadap efektifitas penerapan SMK3 sesuai dengan kebutuhan.
Dalam usaha mengukur keberhasilan penerapan K3 di perusahaan agar sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan, digunakan beberapa parameter sebagai berikut:
f) Frequency Rate/Tingkat Kekerapan Kecelakaan
Adalah parameter yang digunakan menghitung atau mengukur tingkat kekerapan kecelakaan kerja untuk setiap juta jam kerja orang.
Rumus FR =
g) Safety Rate/Tingkat Keparahan Kecelakaan
Adalah parameter yang digunakan untuk menghitung atau
mengukur tingkat keparahan total hilangnya hari kerja pada setiap juta jam kerja orang.
Rumus SR =
7) Audit Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SKMK3)
Audit merupakan pemeriksaan secara sistematik dan independen untuk menentukan suatu kegiatan dan hasil-hasil terkait sesuai dengan pengaturan yang direncanakan dan dilaksanakan secara efektif dan cocok untuk mencapai kebijakan dan tujuan perusahaan. Audit SMK3 merupakan salah satu kegiatan pengukuran yang dilakukan untuk memastikan penerapan SMK3 di perusahaan. Selain audit ada pula
Jumlah Karyawan yang Mengalami Kecelakaan X 1 Juta
Jumlah Seluruh Jam Kerja Karyawan
Jumlah Hilangnya Hari Kerja Karena Kecelakaan X 1
Jumlah Seluruh Jam Kerja Karyawan
commit to user
kegiatan pengukuran lainnya dalam SMK3 yaitu Inspeksi K3. Di PT.
Petrokimia Gresik ada dua audit yang dilaksanakan, yaitu audit eksternal dan audit internal. Pokok sasaran audit K3:
a) Manajemen Audit :Yaitu suatu penilaian atas pelaksanaan program K3 di perusahaan.
b) Physical Audit :Yaitu penelitian atas perangkat keras di unit kerja seperti alat-alat kerja, mesin peralatan dan lain-lain.
Tujuan audit K3 adalah untuk menilai dan mengidentifikasikan secara kritis dan sistematis semua sumber bahaya potensial, mengukur dan memastikan secara obyektif pekerjaan apakah telah berjalan sesuai dengan perencanaan dan standar, menyusun suatu rencana koreksi untuk menentukan langkah cara mengatasi sumber bahaya potensial Pengelolaan keselamatan dan kesehatan kerja mengacu pada Undang- Undang No.1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja dan telah diterpkan sejak masa proyek dan di tingkatkan sesuai dengan permenaker No. 5 tahun 1996 tentang Sistem Manajemen K3 serta system manajemen lainnya atara lain Responsible Core, ISPS serta Sistem Manajemen Pengamanan (SMP). Sebagai upaya untuk meningkatkan kelancaran oprasional pada saat ini Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja diintegrasikan ke dalam system Manajemen PT Petrokimia Gresik yang meliputi Sistem Majemen Mutu, Sistem Manajemen Lingkungan, dan Sistem Manajemen K3. Tujuan umum penerapan system manajemen K3 adalah:
a. Melindungi tenaga kerja ditempat kerja b. Melindungi orang lain detempat kerja
c. Melindungi bahan dan peralatan produksi agar dioprasikan secara aman dan efesien
d. Memenihi persyaratan K3 sesuai peraturan perundangan.
e. Peningkatan citra perusahaan.
Sedangkan tujuan khusus Sistem Manajemen K3 adalah:
a. Mencegah dan mengurangi kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja
commit to user
b. Memciptakan kondisi aman pada mesin, instalasi,alat atau bahan baku maupun hasil produksi
c. Menciptakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman.
Langakah-langkah pembudayaan K3 untuk mencapai sasaran dibidang keselamatan dan kesehatan kerja, telah dilakukan melalui promosi K3 kepada setiap orang yang beraktifitas di PT Petrokimia Gresik, menetapkan k3 sebagai sasaran kerja individu untuk setiap karyawan dan pembentukan organisai K3 secara Struktural maupun non struktural, sehingga dapat di capai hasil produk yang berkualiatas,efesien,aman, pengiriman repat waktu kekonsumen dan meningkatkan morak karyawan. Untuk memberikan gambaran capaian 2009, amasalah yang dihadapi serta uapaya2 upaya yang akan dilakukan, disampaikan kinerja keselamatan kerja 2009 dan kinerja kesehatan karyawan. Khusus untuk keselamatan kerja, perlu disampaika difinisi dan penjelasan agar tidak menjadikan salah tafsir.
Guna memperlancar penerapan perlindungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja bagi pekerja, PT. Petrokimia Gresik memberikan fasilitas berupa sarana dan prasarana, diantaranya adalah:
a. Alat Pelindung Diri (APD)
Alat pelindung diri, yang selanjutnya disebut APD, adalah peralatan keselamatan yang harus digunakan oleh tenaga kerja apabila berada pada suatu tempat kerja yang berbahaya. Semua tempat yang digunakan untuk menyimpan, memproses dan pembuangan limbah bahan kimia dapat dikategorikan sebagai tempat kerja yang berbahaya Berbagai jenis APD yang diberikan PT. Petrokimia Gresik kapada karyawannya antara lain :
1) Pelindung Kepala
Pelindung kepala dikenal sebagai safety helmet. Pelindung kepala yang dikenal ada empat jenis, yaitu Hard Hat kelas A, kelas B, kelas C dan bump cap. Pelindung kepala yang ada di lingkungan PT. Petrokimia Gresik yaitu Hard Hat kelas A dengan lima spesifikasi warna, yaitu : Warna putih (digunakan oleh karyawan dan satpam), Warna merah (digunakan oleh pasukan pemadam kebakaran),Warna orange (digunakan
commit to user
oleh petugas K3), Warna kuning (digunakan oleh kontraktor/mahasiswa), Warna biru (digunakan oleh tamu). (Biro K3 PT Petrokimia)
2) Pelindung Telinga
Perlindungan telinga dimaksudkan untuk mengurangi kebisingan akibat mesin-mesin yang beroperasi di PT. Petrokimia Gresik. Pelindung telinga yang dipergunakan ada 2 macam, yaitu ear plug dan ear muff.
3) Masker
Penggunaan masker dimaksudkan untuk mencegah masuknya debu maupun gas beracun yang dapat mengganggu pernafasan.
4) Pelindung Mata
Pelindung mata dikenal sebagai safety glasses.
5) Pelindung Wajah
Ada tiga macam pelindung wajah yang dikenal di lingkungan PT.
Petrokimia Gresik, yaitu goggles, face shield dan welding helmets.
6) Pelindung tangan
Pelindung tangan dikenal sebagai safety glove dengan berbagai jenis penggunaannya.
7) Pelindung Kaki
Macam pelindung kaki yang ada di lingkungan PT. Petrokimia Gresik yaitu sepatu butyl (melindungi kaki terhadap ketone, aldehyde, alcohol, asam, garam dan basa), sepatu vinyl (tahan terhadap pelarut, asam, basa, garam, air, dan pelumas) serta sepatu nitrile (tahan terhadap lemak hewan, oli dan bahan kimia)
commit to user
Gambar 6. Alat Pelindung Diri Sumber: Departemen K3 PT. Petrokimia Gresik
b. Pasukan Pemadam Kebakaran (PMK)
Penanggulangan kebakaran diartikan sebagai tindakan terencana dalam mencegah terjadinya kebakaran serta tindakan penanganan disaat kebakaran terjadi yang dilakukan dengan taktik dan strategi memadamkan dengan disertai penyelamatan korban dan pengamanan dokumen. Fungsi pokok dari PMK yaitu : Inspeksi pencegahan kebakaran di tempat kerja dan kawasan di sekitarnya, memeriksa dan merawat sarana proteksi kebakaran, memadamkan kebakaran tingkat awal dan tingkat lanjut, melakukan usaha rescue, penyelamatan korban serta pengamanan dokumen
Gambar 7. Pemadam Kebakaran (PMK) PT. Petrokimia Gresik Sumber: Departemen K3 PT. Petrokimia Gresik
c. Rambu-rambu Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Penggunaan papan penanda keselamatan yang benar di tempat kerja dapat menggalakkan instruksi-instruksi dan aturan-aturan keselamatan kerja serta memberikan informasi resiko dan tindakan pencegahan yang harus diambil.Pada warna dasar penanda keselamatan kerja, terdapat empat warna yang masing-masing memiliki warna berbeda, yaitu:
commit to user
1) Merah memuliki makna penanda larangan, penanda bahaya dan penanda pemadam api.
2) Kuning memiliki makna penanda peringatan.
3) Biru memiliki makna penanda perintah.
4) Hijau memiliki makna penanda informasi kecelakaan.
Gambar 8. Rambu-rambu keselamatan kerja (PT. Petrokimia Gresik) Sumber: slide PKL
Selain itu bahan-bahan kimia yang berbahaya juga perlu diberi label yang mudah dilihat sehingga dapat memberikan informasi mengenai bahaya yang mungkin timbul di lingkungan.
Gambar 7. Label Bahan Kimia Sumber: Departemen K3 PT. Petrokimia Gresik
Simbol dengan warna biru menandakan bahaya kesehatan 4 – Mematikan
3 – Sangat Berbahaya -> Luka Serius atau Cacat 2 – Berbahaya -> Luka Ringan
1 – Bahaya Ringan -> iritasa 0 – Tidak Berbahaya
Simbol dengan warna merah menandakan bahaya api
commit to user
4 – Mudah Terbakar Pada Suhu Normal (dibawah 21° C) 3 – Mudah Terbakar Pada Suhu Normal (dibawah 38° C)
2 – Memerlukan Suhu Tinggi Sebelum terbakar (dibawah 93° C) 1 – Memerlukan Sumber Api Sebelum terbakar (diatas 93° C) 0 – Tidak Dapat Terbakar
Simbol dengan warna kuning menandakan bahaya reaktivitas
4 – Dapat Meledak Pada Temperatur Normal dan Tekanan Udara 3 – Dapat Meledak Pada Temperatur Tinggi atau Guncangan 2 – Perubahan Sifat Kimiawi yang Dapat menjadi berbahaya pada
Temperatur Tinggi danTekanan Udara
1 – Pada Temperature Tinggi Mengakibatkan Ketidak stabilan 0 – Stabil
Simbol dengan warna putih menandakan bahaya spesifik ALK :Bersifat Alkali (Basa)
ACID :Bersifat Asam
COR :Bersifat Merusak (Korosif) OX :Mengoksidasi
W :Bereaksi Terhadap Air
W OX :Bereaksi Terhadap Air dan Oksidasi
commit to user
C. Faktor-faktor Penghambat Perlindungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Terhadap Pekerja di PT Petrokimia Gresik
Terkait dengan upaya untuk memberikan perlindungan dalam pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang efektif dan efisien, tidak jarang terdapat kendala-kendala yang harus di hadapi oleh PT. Petrokimia Gresik guna menciptakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman. Hal ini terbukti dengan sejumlah data Kecelakaan Kerja yang dilansir oleh Departemen K3 dalam kurun 5 tahun terakhir menunjukan bahwa PT. Petrokimia Gresik hingga saat ini belum mampu menciptakan keadaan bebas kecelakaan kerja, walaupun prosentasinya selalu mengalami penurunan dari tahun ketahun.
Hambatan dalam pelaksanaan perlindungan K3 di PT. Petrokimia Gresik muncul baik dari dalam maupun luar perusahaan yang tentu saja dikhawatirkan akan berimbas pada kegiatan produksi. Terdapat sejumlah faktor penghambat perlindungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang pada dasarnya mengarah pada akibat dari segala aturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang belum dilaksanakan secara benar (Substandards). “In the majority of major accidents there is a complex chain of events, including organizational policies and descision, individual behaviours and mechanical that when combined, resulted in the accident. While the individual behaviours that resulted in the accident are wide and varied, they are relate to human an organizational factors and many are symptomatic of a poor safety culture (Julie Bell & Nicola Healy, 2006:8).”
Terdapat dua faktor utama yang paling dominan menghambat perlindungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja yaitu:
a. Faktor manusia atau adanya tindakan tidak aman (unsafe action). Dilatar belakangi oleh adanya tindakan berbahaya dari tenaga kerja biasa terjadi karena :
1) Kurang pengetahuan dan ketrampilan kerja (lack of knowledge and skill) 2) Ketidak mampuan kerja secara normal (inadequate capability)
3) Ketidak fungsian tubuh karena cacat yang tidak nampak (bodily defect)
commit to user 4) Kelelahan dan kejenuhan (fatique and boredom)
5) Sikap dan tingkah laku yang tidak aman (unsafe attitude and habits) 6) Kebingungan dan stress karena prosedur kerja yang baru dan belum
dapat ddipahami (confuse and stress)
7) Belum menguasai atau belum terampil dengan peralatan atau mesin baru (lack of skill)
8) Penurunaan konsentrsasi dari tenaga kerja saat melakukan pekerjaan (difficulty in concentrating)
9) Sikap masa bodoh dari tenaga kerja (ignorance)
10) Kurangnya motifasi kerja oleh tenaga kerja (improper motivatiaon) 11) Kurangnya kepuasan kerja (low job satisfaction)
12) Sikap kecenderungan melukai diri sendiri, dan sebagainya.
b. Faktor lingkungan atau kondisi tidak aman (unsafe condition)
Lingkungan disini diartikan bahwa kecelakaan kerja terjadi apabila lingkungan fisik (mesin, peralatan, pesawat, bahan, lingkungan dan tempat kerja, proses kerja, sifat pekerjaan dan system kerja) dan faktor- faktor yang berkaitan dengan penyediaan fasilitas, pengalaman manusia yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja (Tarwaka, 2008:8). Kegiatan yang dilakukan PT. Petrokimia Gresik untuk mencapai lingkungan kerja yang aman dan sehat yaitu:
1) Pelatihan Penanggulangan Darurat Pabrik.
Karyawan mengikuti pelatihan melalui simulasi Penanggulangan Keadaan Darurat Pabrik dan dilakukan secara konsisten setiap tahun untuk menjaga kesigapan karyawan menghadapi situasi dan kondisi darurat.
2) Perbaikan Keselamatan dan Keamanan Kerja.
Dengan melakukan pemantauan kegiatan K3 di area pabrik dan kawasannnya oleh Tim P2K3, Sub P2K3, Safety Representative dan pimpinan masing-masing Unit Kerja oleh karenanya seluruh karyawan berpartisipasi aktif dalam mengindentifikasi faktor-faktor yang berpotensi menimbulkan bahaya/kecelakaan di unit kerjanya serta mampu
commit to user
menciptakan kondisi kerja yang aman dan nyaman ( Annual Report PT.
Petrokimia Gresik, 2011:43).
Pada dasarnya tidak ada hambatan yang berarti dalam pelaksanaan K3 di PT. Petrokimia Gresik yang dapat mengganggu keberlangsungan kegiatan perusahaan, hal tersebut terlihat dari data kecelakaan kerja perusahaan lima tahun terakhir yang menyebutkan walaupun masih terdapat sejumlah kecelakaan kerja namun jumlah kecelakaan kerja relatif kecil dengan jumlah yang terus menurun dari tahun ketahun sehingga tidak mempengaruhi produksi. Kecelakaan nihil diartikan sebagai suatu kondisi tidak terjadi kecelakaan di tempat kerja yang mengakibatkan pekerja sementara tidak mampu bekerja (STMB) selama 2 x 24 jam dan atau menyebabkan terhentinya proses dan atau rusaknya peralatan tanpa korban jiwa dimana kehilangan waktu kerja tidak melebihi shift berikutnya pada kurun waktu tertentu dan jumlah jam kerja orang tertentu (Permenaker Nomor: PER- 01/MEN/I/2007). Kecelakaan kerja yang terjadi di PT. Petrokimia Gresik hanya meliputi kecelakaan ringan yaitu kecelakaan lalulintas menempati urutan pertama sebagai kecelakaan kerja yang paling banyak terjadi dalam kurun waktu lima tahun terakir. Namun tidak dapat di sangkal bahwa masih terdapat kelalaian yang datangnya dari pekerja itu sendiri, yang apabila hal ini terus berlanjut dikhawatirkan akan menimbulkan kecelakaan kerja. Menurut Bapak Achmad Zaid selaku Kepala Bagian K3, sebagai contoh dapat digambarkan bahwa PT.
Petrokimia Gresik yang memiliki tiga komplek pabrik, yaitu pabrik I, II, dan III dimana di antara ketiganya, Pabrik I Amonia merupakan pabrik yang memiliki tingkat bahaya dan risiko yang tinggi karena proses produksi Amonia melibatkan tekanan dan temperatur tinggi, serta zat-zat kimia yang bersifat eksplosif.
Contohnya saja pada proses produksi Amonia, operator mengontrol proses produksi sesuai dengan job description yang diberikan dan berkoordinasi dengan operator control room. Jika operator control room meminta melakukan perbaikan yang berkaitan dengan proses kerja pabrik, maka operator akan melakukan pengecekan dan treatment yang terkait dengan permasalahan tersebut. Dalam pelaksanaannya, operator bekerja pada lingkungan yang berbahaya bagi
commit to user
keselamatan maupun kesehatan, sehingga operator harus mengetahui dan menerapkan aspek-aspek K3 dalam menjalankan tugasnya. Potensi bahaya yang terjadi pada bagian produksi ini adalah kebocoran gas bisa menimbulkan meledak dan terbakar, terjadi iritasi pada kulit, dan lain-lain. Potensi bahaya yang akan terjadi tersebut berpotensi terjadi karena disebabkan oleh keteledoran karyawan dalam menggunakan peralatan kerja, kesehatan karyawan yang kurang baik dan dipaksakan untuk bekerja. Penerapan K3 di PT. Petrokimia Gresik sudah sesuai dengan prosedur yang ditetapkan. Akan tetapi terdapat beberapa kegiatan di lapangan yang perlu dilakukan perbaikan. Beberapa faktor penyebab kecelakaan kerja yang ada di lingkungan PT Petrokimia Gresik adalah kelalaian atau kecerobohan karyawan, kurang kepahaman filosofi suatu alat yang akan digunakan dan kurangnya kesadaran akan pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja. Sehingga salah satu perbaikan yang dapat dilakukan adalah peningkatan kesadaran karyawan akan keselamatan kerja. Penerapan K3 seperti pembagian APD pada setiap karyawan sesuai dengan bahaya kerja, pemasangan safety sign dan poster K3, pemberian pelatihan dan penyegaran K3 dan masih banyak yang lain dapat menimbulkan stress kerja pada karyawan (Hasil Wawancara Tanggal 14 Januari 2013 pukul 08.00 WIB).
Pada prakteknya kesadaran pekerja merupakan hal yang paling utama guna mencegah terjadinya kecelakaan kerja, berikut ini adalah kendala-kendala penerapan K3 di PT. Petrokimia Gresik
1. Kurangnya kesadaran pekerja akan pentingnya penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
APD merupakan perlengkapan dasar yang diperlukan oleh pekerja untuk meproteksi dirinya dari resiko yang timbul atas bidang usaha yang dilakukan oleh masing-masing pekerja. Jenis pekerjaan yang dilakukan dan statusnya dalam perusahaan akan membedakan jenis-jenis APD yang di perlukan. Dengan pemberian APD yang tepat bagi setiap pekerja diharapkan dapat menghindarkan pekerja dari kecelakaan kerja. Jenis-jenis APD yang disediakan PT. Petrokimia Gresik diantaranya adalah :
commit to user a. Topi keselamatan (safety helmet) b. Kaca mata pengaman (goggle)
c. Sarung tangan karet anti asam / alkali d. Sarung tangan karet anti listrik e. Sarung tangan asbes
f. Sarung tangan kulit g. Sepetu karet
h. Safety shoes i. Pakaian anti asam j. Apron plastic atau karet k. Apron kulit
l. Topeng las
m. Pelindung muka anti asam (face shield acid resistance) n. Sabuk pengaman
o. Masker anti debu iritan (protective mask against iritan dust) p. Gas masker dan tabung udara (full face selfcontained air mask /
breathing apparatus) q. Pelindung telinga
r. Pelindung bahaya tenggelam (Buku Pedoman K3 Petro, 1990:25) Segala jenis alat pelindung diri tersebut disediakan oleh Bagian K3, dimana unit kerja / karyawan yang membutuhkan dapat meminjam alat pelindung diri yang jenisnya disesuaikan dengan tingkat bahaya daerah kerja yang bersangkutan, setelah mendapat persetujuan secara tertulis dari atasannya. Setiap kali menangani pekerjaan yang berbahaya baik bagi keselamatan maupun kesehatan maka karyawan diharuskan mempergunakan alat pelindung diri yang disesuaikan dengan jenis bahayanya dan apabila terdapat kerusakan APD, harus dilaporkan kepada atasannya guna mendapat penggantinya dari bagian K3 (Buku Pedoman K3. 1990:25-26 ).
Berdasar hasil pengamatan yang penulis lakukan di kawasan pabrik PT. Petrokimia Gresik serta menurut Bapak Harto Agianto
commit to user
selaku Kepala Seksi Departemen K3, masih terdapat sejumlah pekerja yang tidak memiliki kesadaran akan kepentingan menggunakan APD yang seharusnya mereka gunakan. Pelanggaran penggunaan APD ini banyak terdapat pada pabrik II dan pabrik III, diantarannya adalah:
a. Ditemukannya pekerja yang tidak menggunakan masker pada saat berada di lingkungan pabrik, padahal penggunaan masker pada lingkungan pabrik II dan III sangat penting mengingat pada lokasi ini bahaya yang paling besar berasal dari pekatnya debu yang merupakan sisa hasil produksi. Debu-debu tersebut memiliki tingkat bahaya yang tinggi, sehingga ketika karyawan berada di pabrik tersebut diperlukan APD (alat pelindung diri) yang cocok.
Dalam jangka panjang debu tersebut dapat merusak paru-paru mengingat material bahan kimia yang terkandung di dalamnya.
Maka dari itu untuk pabrik II dan III diharuskan menggunakan mask dust.
b. Ditemukannya sejumlah pekerja yang tidak menggunakan helm.
Pelanggaran ini banyak ditemukan di lokasi pelabuhan PT.
Petrokimia Gresik, padahal pada lokasi ini banyak dilakukan bongkar muat kapal yang menggunakan mesin-mesin otomatis yang tidak menutup kemungkinan jatuhnya material-material yang dapat melukai pekerja yang berada di bawahnya. (Hasil wawancara tanggal 29 Januari pukul 11.00 WIB)
Pelanggaran kelalaian penggunaan APD diatur dalam disiplin karyawan dengan hukuman disiplin ringan berupa teguran lisan dengan masa berlaku 2 bulan yang dilakukaan sebanyak 2x dilanjutkan dengan teguran tertulis yang berlaku selama 4 bulan hingga ancaman pemecatan.
2. Kurangnya kesadaran pekerja dalam menerapkan larangan merokok di kawasan pabrik
Larangan merokok pada lingkungan pabrik merupakan aturan yang pada penerapannya sangat di prioritaskan dan diperhatikan,
commit to user
dengan banyaknya peringatan dan rambu-rambu larangan merokok di sepanjang pabrik, hal ini dilakukan mengingat banyaknya bahan- bahan yang mudah terbakar seperti batu bara, ammonia, gas alam, fuel dan belerang. Dengan merokok di kawatirkan akan memicu terjadinya kebakaran dan ledakan yang akan menimbulkan kerugian besar bagi kelangsungan perusahaan. Namun pada kenyataannya menurut Bapak Harto Agianto selaku Kepala Seksi Departemen K3, masih ditemukan pekerja yang melanggar aturan ini, walaupun jumlahnya sangat kecil.
Pekerja yang melanggar mayoritas bukanlah pekerja tetap PT.
Petrokimia Gresik melainkan para pekerja borongan atau harianbagi pekerja yang melakukan pelanggaran ini, Departemen K3 menetapkan aturan untuk memberi peringatan secara tegas untuk mematikan rokoknya dan dilakukan penyitaan Kartu Ijin Bekerja (KIB) yang dapat berimbas pada pemutusan hubungan kerja (Hasil Wawancara Tanggal 29 Januari 2013, pukul 12.00 WIB).
Prosedur keselamatan kerja nomor 7 pada buku pedoman K3 PT. Petrokimia Gresik menyebutkan bahwa :
1. Dilarang keras merokok di dalam pabrik, kecuali di daerah / tempat-tempat yang telah disediakan seperti ruang pengamat dan kantor-kantor, kecuali ada kententuan khusus untuk itu
2. Dilarang keras merokok di jalan didalam pabrik termasuk merokok di dalam kendaraan di daerah instalasi pabrik
3. Dilarang membung putung rokok secara sembarangan. Buanglah putung rokok paada tempat-tempat yang telah disediakan
4. Pelanggaran terhadap butir 1 dan 2 tersebut diatas akan dikenakan sanksi administratif.
Mengingat resiko yang dapat di timbulkan dari aktivitas merokok di kawasan pabrik, untuk itu bagi pekerja yang didapati merokok akan dikenakan sanksi disiplin karyawan berupa peringatan tertulis (warning slip) C dimana konsekuensinya berupa :
1) Kenaikan gaji berkala ditunda selama 24 bulan
2) Kenaikan pangkat atau golongan ditunda selama 24 bulan 3) Bantuan perangsang diberikan sebesar 25 %
4) Intensif triwulan diberikan sebesar 25 % 5) Bonus/ jasa operasi diberikan sebesar 25 %
commit to user
3. Mengemudi di atas rata-rata kecepatan yang di perbolehkan dan melanggar ranbu-rambu berkendara.
PT. Petrokimia menerapkan batas kecepatan yang diijinkan saat melintasi kawasan pabrik yaitu :
1) Kawasan luar PT. PKG : 40 km/jam 2) Jalan masuk Pabrik II – Pelabuhan : 30 km/jam
3) Area dalam pabrik/plant : 20 km/jam
4) Kecepatan maksimal mobilisasi alat berat di semua wilayah PT PKG: 10 km/jam
Gambar 10. Rambu-rambu peringatan Sumber: Departemen LK3 PT. Petrokimia Gresik
Menurut Bapak Suwanto selaku Kepala Seksi Departemen K3, penerapan batasan kecepatan maksimum tersebut dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kecelakaan lalulintas di kawasan pabrik, mengingat pada kawasan pabrik tidak jarang terdapat tumpahan granule pupuk yang bersifat menyerap air sehingga menimbulkan genangan-genangan air yang dapat membahayakan pengendara terutama pada musim penghujan (Hasil Wawancara Tanggal 10 Januari 2013, pukul 09.00 WIB). Selain itu menurut Bapak Trio Agus Budi Santoso selaku Safety Inspector, tumpahan sulfur yang bergesekan dengan kendaraan yang melaju dalam kecepatan diatas rata-rata yang diperbolehkan, dikawatirkan akan mengakibatkan gesekan yang berpotensi memicu kebakaran mengingat sifat dari