30 BAB III
METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 1 Ajibarang yang beralamat di Jalan Raya Pancurendang, Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah. Penelitian dilaksanakan di kelas X MIPA tahun pelajaran 2020/2021. SMA Negeri 1 Ajibarang dipilih menjadi tempat penelitian dikarenakan sekolah tersebut memiliki akreditasi A berdasarkan BAN-SM, telah menggunakan kurikulum 2013 sehingga model inkuiri terbimbing dan discovery learning menggunakan modul LCDS dapat diterapkan, jumlah peserta didik mendukung untuk dilaksanakannya penelitian eksperimen, dan yang paling utama yaitu sekolah maupun peserta didik memiliki perangkat baik smartphone maupun laptop yang mendukung untuk dilaksanakannya pembelajaran daring.
2. Waktu Penelitian
Penelitian berlangsung dari bulan Oktober 2020 hingga Agustus 2021.
Tahapan pelaksanaan penelitian yaitu:
a. Tahap Persiapan
Tahap persiapan berjalan dari bulan Oktober 2020 hingga Maret 2021 mencakup proses mengajukan judul skripsi, membuat permohonan dosen pembimbing, menyusun proposal, melakukan survei ke sekolah, seminar proposal, menyusun instrumen pembelajaran berupa RPP dan LKPD, pembuatan instrumen soal kemampuan literasi sains dan soal kemampuan pengetahuan Fisika materi Gerak Harmonis Sederhana, serta permohonan ijin penelitian.
b. Tahap Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan dilakukan pada bulan April sampai dengan Mei 2021 yang meliputi seluruh kegiatan yang dilakukan di lapangan meliputi uji coba soal tes kemampuan pengetahuan Fisika materi Gerak Harmonis Sederhana, pelaksanaan tes kemampuan literasi sains, pelaksanaan penelitian,
commit to user
dan pengambilan data kemampuan pengetahuan Fisika yang dilaksanakan setelah pemberian perlakuan.
c. Tahap Penyelesaian
Tahap penyelesaian berlangsung dari bulan Mei sampai Agustus 2021 yang meliputi pengolahan data, penyusunan laporan penelitian, serta pelaksanaan ujian. Rincian jadwal penelitian secara lengkap dapat dicermati dalam lampiran 1.
B. Desain Penelitian
Penelitian ini berjenis kuantitatif dengan metode eksperimen serta desain penelitian faktorial 2x2. Penelitian ini dilaksanakan secara daring dimana peserta didik dan guru melaksanakan pembelajaran secara terpisah dari rumah masing-masing dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi seperti melalui aplikasi Microsoft Teams dan WhatsApp. dan Penelitian ini memakai dua kelas yakni kelas eksperimen I serta kelas eksperimen II yang telah dilakukan uji keadaan awal sebelum diberi perlakuan yang berbeda. Setiap kelas diberikan tes literasi sains pada awal perlakuan untuk mengelompokkan kemampuan literasi sains pada kategori tinggi dan rendah. Kelas eksperimen I diberikan perlakuan model inkuiri terbimbing menggunakan modul LCDS sedangkan kelas eksperimen II dengan model discovery learning menggunakan modul LCDS. Kedua kelas diberikan tes Ulangan Harian materi Gerak Harmonis Sederhana guna melakukan pengukuran kemampuan pengetahuan peserta didik di akhir perlakuan. Desain penelitian faktorial 2x2 disajikan pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1 Desain Faktorial 2x2 Model Pembelajaran
Menggunakan Modul LCDS (A)
Kategori Kemampuan Literasi Sains (B) Tinggi (B1) Rendah (B2)
Inkuiri Terbimbing (A1) A1B1 A1B2
Discovery Learning (A2) A2B1 A2B2
Keterangan:
A = Model pembelajaran menggunakan modul LCDS.
A1 = Model inkuiri terbimbing menggunakan modul LCDS.
A2 = Model discovery learning menggunakan modul LCDS.
B = Kategori kemampuan literasi sains. commit to user
B1 = Kemampuan literasi sains kategori tinggi.
B2 = Kemampuan literasi sains kategori rendah.
A1B1 = Model inkuiri terbimbing menggunakan modul LCDS dan kemampuan literasi sains kategori tinggi.
A1B2 = Model inkuiri terbimbing menggunakan modul LCDS dan kemampuan literasi sains kategori rendah.
A2B1 = Model discovery learning menggunakan modul LCDS dan kemampuan literasi sains kategori tinggi.
A2B2 = Model discovery learning menggunakan modul LCDS dan kemampuan literasi sains kategori rendah.
C. Populasi Dan Sampel 1. Populasi
Semua unit yang diteliti oleh peneliti disebut populasi (Windharti, 2018: 8). Populasi yang dipakai yakni semua peserta didik kelas X MIPA SMA Negeri 1 Ajibarang tahun pelajaran 2020/2021 yang tersusun atas tujuh kelas yakni X MIPA 1-X MIPA 7 yang berjumlah 238 peserta didik.
2. Sampel
Komponen dari populasi yang dijadikan data pada penelitian disebut sampel (Windharti, 2018: 8). Sampel penelitian ini tersusun atas dua kelas yakni X MIPA 6 sebagai kelas eksperimen I yang diterapkan model inkuiri terbimbing menggunakan modul LCDS dan X MIPA 5 sebagai kelas eksperimen II yang diimplementasikan model discovery learning menggunakan modul LCDS.
D. Teknik Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik cluster random sampling (sampling acak kelompok). Teknik ini mengambil secara acak dua dari tujuh kelas populasi. Sebelum melakukan penelitian, dilakukan uji keadaan awal peserta didik berupa uji normalitas, homogenitas, serta uji-t dua ekor. Data yang dipakai dalam uji keadaan awal yakni nilai Ulangan Akhir Semester Gasal kelas X yang terdapat pada lampiran 2. Uji statistik keadaan awal peserta didik yang dilaksanakan dijabarkan berikut:
commit to user
1. Uji Normalitas Keadaan Awal Peserta didik
Pengujian dilaksanakan guna mencari tahu apakah sampel berasal dari populasi yang memiliki distribusi normal ataupun tidak normal. Uji normalitas memakai metode Liliefors dan taraf signifikansi 5 % dianalisis dengan software SPSS Statistics 21. Hasil uji normalitas ditampilkan pada Tabel 3.2.
Tabel 3.2 Hasil Uji Normalitas Keadaan Awal Peserta Didik
Kelas Sig. (𝛼 = 0,05) Kesimpulan
Eksperimen I 0,200 Normal
Eksperimen II 0,186 Normal
Tabel 3.2 menginformasikan yakni nilai signifikansi kelas eksperimen I ialah 0,200 dan kelas eksperimen II 0,186 atau kedua kelas melebihi 0,05 dengan begitu dikatakan kedua kelas berasal dari populasi yang terdistribusi normal.
Perhitungan uji normalitas keadaan awal peserta didik bisa dicermati dalam lampiran 3.
2. Uji Homogenitas Keadaan Awal Peserta didik
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah sampel berasal dari populasi yang homogen ataupun tidak. Uji homogenitas dihitung dengan metode Barlett dan taraf signifikansi 5 % menggunakan software SPSS Statistics 21. Hasil uji homogenitas bisa dicermati dalam Tabel 3.3.
Tabel 3.3 Uji Homogenitas Kemampuan Pengetahuan Peserta Didik Uji Homogenitas Sig. (𝛼 = 0,05) Kesimpulan Kelas eksperimen I - eksperimen II 0,143 Homogen
Berdasarkan tabel 3.3, nilai signifikansi dari kedua kelas 0,143 yakni melebihi nilai signifikansi 0,05 yang memiliki arti yakni data tersebut berdistribusi homogen. Perhitungan uji homogenitas keadaan awal peserta didik secara lengkap tersaji pada lampiran 3.
3. Uji-t Dua Ekor Keadaan Awal Peserta Didik
Uji ini memiliki tujuan guna mengetahui perbedaan keadaan awal dari kedua kelas yang menjadi obyek penelitian dengan hipotesis sebagai berikut:
H0: Tidak ada perbedaan keadaan awal peserta didik kelas eksperimen I dan eksperimen II
commit to user
H1: Ada perbedaan keadaan awal peserta didik kelas kelas eksperimen I dan eksperimen II
Uji-t dua ekor dengan taraf signifikansi (α = 5 %) dilakukan dengan bantuan software SPSS Statistics 21 dengan kriteria yakni:
a. 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 ≥ 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 atau 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 ≤ −𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 : H0 ditolak b. −𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 < 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 < 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 : H0 diterima.
Hasil uji-t tersaji pada Tabel 3.4.
Tabel 3.4 Hasil Uji-t Keadaan Awal Peserta Didik
Uji-t dua ekor Sig. (𝛼 = 0,05) Kesimpulan Kelas eksperimen I - eksperimen II 0,232 Tidak ada perbedaan Berdasarkan Tabel 3.4, diberikan simpulan yakni tidak ada perbedaan signifikan antara kelas eksperimen I serta eksperimen II dimana nilai sig. 0,232 > 0,05.
Statistik uji t keadaan awal peserta didik secara rinci terdapat pada lampiran 3.
E. Variabel Penelitian
Variabel yakni semua faktor, kondisi, situasi, perlakuan dan seluruh tindakan yang berpengaruh terhadap hasil penelitian. Berikut variabel dalam penelitian ini:
1. Variabel Bebas
Menurut Aqib & Rasidi (2019: 8) variabel bebas ialah variabel yang memberikan pengaruh pada variabel lain. Variabel bebas berupa model inkuiri terbimbing serta discovery learning menggunakan modul LCDS.
a. Definisi Operasional
Model pembelajaran adalah serangkaian teknik penyajian materi dari awal sampai akhir pembelajaran yang disertai tindakan untuk meraih tujuan pembelajaran. Model inkuiri terbimbing memberikan peluang agar peserta didik dapat mengembangkan pengetahuan dan menjawab pertanyaan. Guru memberikan bimbingan dan mengarahkan peserta didik untuk memperoleh kesimpulan yang diharapkan. Sedangkan discovery learning ialah model yang mendorong partisipasi aktif peserta didik untuk memperoleh suatu konsep dimana guru hanya berperan sebagai fasilitator. Modul LCDS digunakan sebagai media berbasis TI untuk menunjang proses pembelajaran. commit to user
b. Indikator
Indikatornya berupa tercapainya proses pembelajaran sesuai sintak model pembelajaran yang telah direncanakan pada RPP.
c. Skala Pengukuran
Skala pengukuran yang dipergunakan yaitu nominal menggunakan dua kategori antara lain A1 (model inkuiri terbimbing menggunakan modul LCDS) dan A2 (discovery learning menggunakan modul LCDS).
2. Variabel Terikat
Menurut Aqib & Rasidi (2019: 8) variabel terikat ialah variabel yang merupakan akibat keberadaan variabel bebas. Variabel terikat berupa hasil belajar kemampuan pengetahuan Fisika materi Gerak Harmonis Sederhana.
a. Definisi Operasional
Hasil belajar kemampuan pengetahuan merupakan kemampuan peserta didik setelah mendapatkan pengalaman dari aktivitas belajarnya. Ranah pengatahuan dalam penelitian ini meliputi lima kemampuan berfikir yaitu mengingat, memahami, mengaplikasikanm, menganalisis, dan mengevaluasi.
b. Indikator
Indikatornya adalah nilai tes kemampuan pengetahuan Fisika materi Gerak Harmonis Sederhana kelas X semester genap.
c. Skala Pengukuran
Skala pengukuran menggunakan skala interval.
3. Variabel Moderator
Menurut Windharti (2018) variabel moderator yakni variabel yang memberikan pengaruh, penguatan, maupun perlemahan interaksi antara variabel bebas dan terikat. Variabel moderator yang dipakai yaitu kemampuan literasi sains peserta didik.
a. Definisi Operasional
Kemampuan literasi sains ialah kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan sains dan mengorelasikan dengan kejadian keseharian guna memecahkan berbagai permasalahan dan mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan sains. commit to user
b. Indikator
Indikatornya berupa hasil tes kemampuan literasi sains.
c. Skala Pengukuran
Skala pengukuran menggunakan skala interval yang dikonversi dalam bentuk skala ordinal yang tersusun atas dua kategori yakni tinggi serta rendah.
Tabel 3.5 Kriteria Pengelompokkan Kemampuan Literasi Sains
Kategori Kriteria
Kemampuan literasi sains tinggi 𝑋 ≥ 𝑚𝑒𝑎𝑛 Kemampuan literasi sains rendah 𝑋 < 𝑚𝑒𝑎𝑛
(Hardiyanto, 2017) F. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yaitu cara yang dipakai peneliti guna mendapatkan data dari sumber data. Teknik pengumpulan data terdiri dari:
1. Teknik Dokumentasi
Cara mengumpulkan data dengan dokumen-dokumen terkait sebagai sumber data disebut teknik dokumentasi. Teknik ini diterapkan untuk mencari tahu keadaan awal peserta didik dari dua kelas. Kemampuan awal dilihat dari nilai Ulangan Akhir Semester 1 kelas X MIPA 6 dan X MIPA 5 SMA Negeri 1 Ajibarang tahun pelajaran 2020/2021.
2. Teknik Tes
Penelitian ini menggunakan dua teknik tes yang tersusun atas tes kemampuan literasi sains serta kemampuan pengetahuan Fisika. Tes literasi sains dilakukan untuk mengkategorikan peserta didik pada kategori tinggi dan rendah. Instrumen soal literasi sains diberikan sebelum kedua kelas diberi perlakuan. Instrumen soal literasi sains berjumlah 10 butir soal Benar-Salah yang disertai pilihan Yakin-Tidak Yakin yang bertujuan untuk meminimalisir spekulasi jawaban peserta didik.
Tes kemampuan pengetahuan Fisika dilakukan untuk mengukur hasil belajar pada ranah pengetahuan materi Gerak Harmonis Sederhana. Instrumen tes kemampuan pengetahuan diberikan pada akhir pembelajaran sesudah diberi perlakuan dengan model pembelajaran yang berbeda. Instrumen soal
commit to user
kemampuan pengetahuan Fisika berbentuk pilihan ganda dengan level C1-C5 berjumlah 20 butir dengan lima alternatif pilihan jawaban.
Instrumen tes kemampuan pengetahuan fisika telah divalidasi oleh dosen pembimbing dan diujicobakan ke peserta didik kelas XI SMA Negeri 1 Ajibarang guna mengetahui daya pembeda, tingkat kesukaran, efektivitas distraktor, serta reliabilitas. Instrumen soal uji coba berjumlah 35 butir yang terdiri dari satu atau dua soal dalam setiap indikator. Tes yang telah teruji kemudian diambil 20 soal dan direvisi untuk digunakan sebagai instrumen tes pengetahuan yang diberikan setelah materi pembelajaran selesai diajarkan.
G. Teknik Validasi Intrumen Penelitian
Instrumen dalam penelitian ini meliputi intrumen pembelajaran RPP serta LKPD beserta instrumen pengambilan data yang terdiri dari instrumen penilaian kemampuan literasi sains dan instrumen kemampuan pengetahuan Fisika peserta didik.
1. Instrumen Pembelajaran
a. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
RPP memiliki tujuan untuk merencanakan pembelajaran agar berjalan berdasarkan dengan model yang diterapkan. RPP model inkuiri terbimbing terdapat pada lampiran 4 dan model discovery learning pada lampiran 5. Kedua model pembelajaran tersebut didukung dengan modul LCDS yang tersaji apda lampiran 6. Validitas RPP disusun menurut kisi-kisi yang terdapat pada lampiran 7. RPP yang telah disusun divalidasi oleh dosen ahli yang terdapat pada lampiran 8 berdasarkan rubrik penilaian yang terdapat pada lampiran 9.
b. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)
Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) ialah bagian dari RPP yang memiliki tujuan memberikan kemudahan peserta didik dalam melakukan penemuan konsep dari materi pelajaran. Pembuatan LKPD berdasarkan indikator yang hendak diraih dalam proses pembelajaran. LKPD model inkuiri terbimbing terdapat pada lampiran 10 dan model discovery learning pada lampiran 11. Lembar validasi LKPD disusun berdasarkan kiri-kisi sesuai commit to user
dengan lampiran 12. Lembar validasi LKPD oleh dosen pembimbing terdapat pada lampiran 13 yang dinilai berdasarkan rubrik penilaian pada lampiran 14.
2. Instrumen Penilaian Kemampuan Literasi Sains
Pembuatan instrumen soal literasi sains diawali melalui proses menyusun kisi-kisi soal seperti pada lampiran 15. Berdasarkan kisi-kisi, disusun instrumen soal literasi sains materi Gerak Harmonis Sederhana berbentuk soal Benar-Salah yang disertai pilihan Yakin-Tidak Yakin berjumlah 10 butir soal.
Instrumen soal literasi sains bisa dicermati dalam lampiran 16. Penilaian soal tes literasi sains menggunakan model Mondolang et al., (2019) dengan menggunakan skala likert. Pensekoran mengikuti aturan pada tabel 3.6.
Tabel 3.6 Pemberian Skor Soal Literasi Sains Pilihan Deskripsi Pilihan Skor Pernyataan
Positif Negatif
1 Benar - Yakin 4 1
2 Benar - Tidak Yakin 3 2
3 Salah - Tidak Yakin 2 3
4 Salah - Yakin 1 4
Nilai akhir untuk 10 butir soal literasi sains dirumuskan berikut:
Nilai akhir = jumlah skor
skor maksimum x 100 =jumlah skor
40 x 100
Instrumen tes literasi sains telah divalidasi oleh dosen pembimbing sebagai penganalisian kualitatif soal sebelum dipakai untuk mengambil data.
Adapun kriteria validasi instrumen soal meliputi aspek materi, konstruksi, dan bahasa. Validitas instrumen soal literasi sains disusun mengikuti kisi-kisi yang terdapat pada lampiran 17. Adapun lembar validasi instrumen kemampuan literasi sains terdapat pada lampiran 18. Berdasarkan hasil validasi dosen pembimbing, instrumen tes literasi sains dapat diterima dengan revisi.
3. Instrumen Penilaian Kemampuan Pengetahuan
Instrumen penilaian kemampuan pengetahuan Fisika peserta didik berbentuk pilihan ganda yang dilaksanakan pada akhir pembelajaran. Jawaban benar setiap butir soal akan mendapat skor 1 dan jawaban salah mendapat skor 0. Selanjutnya skor akan dikonversi menjadi nilai akhir dengan rentang 0 hingga
commit to user
100. Instrumen soal kemampuan pengetahuan Fisika dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif sebagai berikut:
a. Analisis Kualitatif Soal
Pembuatan instrumen soal kemampuan pengetahuan diawali dengan menyusun kisi-kisi soal seperti pada lampiran 19. Instrumen soal yang telah disusun seperti pada lampiran 20, kemudian divalidasi oleh dosen ahli meliputi aspek materi, konstuksi, dan bahasa. Lembar validasi instrumen soal tersaji pada lampiran 21.
b. Analisis Kuantitatif Soal
Instrumen soal yang telah dianalisis kualitatif kemudian diujicobakan kepada peserta didik kelas XI MIPA SMA Negeri 1 Ajibarang.
Mereka dipilih karena telah menerima materi Gerak Harmonis Sederhana.
Hasil uji coba kemudian dilakukan perhitungan secara kuantitatif untuk mengetahui kualitas instrumen soal apakah dapat dipakai untuk mengukur kemampuan pengetahuan peserta didik atau tidak. Perhitungan kuantitatif soal dijabarkan sebagai berikut:
1) Daya Pembeda Soal
Kemampuan butir soal dalam mengidentifikasi kemampuan peserta didik pada kelompok tinggi dan rendah disebut daya pembeda, yang dirumuskan dengan:
𝐷 =𝑛𝑖𝑇
𝑁𝐴 −𝑛𝑖𝑅
𝑁𝐵 (3.1)
Keterangan:
𝐷 = Daya pembeda soal
𝑛𝑖𝑇 = Jumlah penjawab benar pada kelompok tinggi 𝑛𝑖𝐵 = Jumlah penjawab benar pada kelompok rendah 𝑁𝐴 = Jumlah peserta pada kelompok tinggi
𝑁𝐵 = Jumlah peserta pada kelompok rendah
Menurut Kunandar (2013: 235) daya beda soal dapat dikategorikan menjadi lima seperti yang disajikan dalam tabel 3.7.
commit to user
Tabel 3.7 Klasifikasi Daya Beda Soal
Daya Pembeda Klasifikasi Keterangan 0,00 ≤ 𝐷 < 0,20 Jelek Tidak dipakai 0,21 ≤ 𝐷 < 0,40 Cukup Dipakai
0,41 ≤ 𝐷 < 0,70 Baik Dipakai
0,71 ≤ 𝐷 < 1,00 Baik Sekali Dipakai Negatif Jelek Sekali Sebaiknya dibuang
Uji daya pembeda soal dianalisis dengan bantuan Microsoft Excel. Rangkuman uji daya beda soal tersaji pada tabel 3.8. Perhitungan daya pembeda soal secara lengkap terdapat pada lampiran 22.
Tabel 3.8 Rangkuman Uji Daya Beda Soal
Kategori Nomor Butir Soal Jumlah
Baik Sekali - 0
Baik 10, 13, 17, 19, 22, 24, 25, 31 8
Cukup 2, 3, 5, 7, 9, 11, 14, 15, 18, 21, 28, 29, 32, 33, 35 15
Jelek 1, 4, 12, 16, 20, 23, 26, 30 8
Jelek Sekali 6, 8, 27, 34 4
2) Taraf Kesukaran Soal
Taraf kesukaran soal adalah perbandingan antara jumlah penjawab benar dengan total peserta tes. Tingkat kesukaran soal dirumuskan sebagai berikut
𝑝 =𝑁𝑖
𝑁 = 𝑁𝑖𝑇 + 𝑁𝑖𝑅 𝑁
(3.2) Keterangan:
𝑝 = Taraf kesukaran butir soal
𝑁𝑖𝑇 = Jumlah penjawab benar pada kelompok tinggi 𝑁𝑖𝑅 = Jumlah penjawab benar pada kelompok rendah 𝑁 = Total peserta tes
Menurut Kunandar (2013: 234) tingkat kesukaran soal dikategorikan dalam tiga kelompok yaitu:
Tabel 3.9 Kategori Taraf Kesukaran Soal
Taraf Kesukaran Soal Kategori Keputusan
0,00 < P ≤ 0,30 Sukar Dipakai jika valid dan mempunyai daya pembeda minimal cukup 0,30 < P ≤ 0,70 Sedang Dipakai
0,70 < P ≤ 1,00 commit to user Mudah Dipakai
Uji taraf kesukaran butir soal diolah dengan bantuan Microsoft Excel. Rangkuman uji taraf kesukaran soal tes pengetahuan disajikan pada tabel 3.10 dan perhitungan secara lengkap tersaji dalam lampiran 23.
Tabel 3.10 Rangkuman Uji Tingkat Kesukaran Soal
Kategori Nomor Butir Soal Jumlah
Sukar 4, 12, 27, 30, 34 5
Sedang 2, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 13, 15, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 25, 28, 29, 32, 33, 35
22
Mudah 1, 3, 14, 16, 23, 24, 26, 31 8
3) Efektivitas Distraktor
Butir soal pilihan ganda menggunakan lima pilihan jawaban memiliki satu jawaban benar serta empat distraktor. Distraktor dikatakan efektif apabila paling sedikit dipilih oleh 5% dari jumlah keseluruhan peserta yang mengikuti tes (Sudijono, 2008: 411). Hasil efektivitas distraktor dihitung dengan bantuan Microsoft Excel seperti pada tabel 3.11. Efektivitas distraktor secara lengkap terdapat pada lampiran 24.
Tabel 3.11 Hasil Analisis Efektivitas Distraktor
Kategori Nomor Butir Soal Jumlah
Efektif - 0
Cukup Efektif 2, 9, 10, 11, 18, 21, 24, 25, 29, 30, 35 11 Kurang Efektif 3, 5, 13, 15, 17, 19, 22, 28, 32, 33, 10 Tidak Efektif 1, 4, 6, 7, 8, 12, 14, 16, 20, 23, 26, 27, 31, 34 14
Soal dianulir - 0
4) Prosedur Penyeleksian Butir Soal
Daya pembeda soal, tingkat kesukaran, dan efektivitas distraktor merupakan karakteristik butir soal yang dapat dipergunakan untuk menyeleksi butir soal. Menurut Ivanty et. al., (2013) kriteria keputusan penilaian butir tes sebagai berikut:
a) Butir tes yang sukar atau mudah dengan daya pembeda dan distribusi distraktor memenuhi kriteria akan diterima.
b) Butir tes direvisi jika tidak memenuhi salah satu atau lebih dari ketiga kriteria butir tes.
c) Butir tes ditolak apabila tidak memenuhi semua kriteria.
commit to user
Hasil penyeleksian butir soal disajikan pada tabel 3.12 dan hasil penyeleksian lebih detai terdapat pada lampiran 25.
Tabel 3.12 Hasil Keputusan Instrumen Soal Uji Coba
Kategori Nomor Butir Soal Jumlah
Diterima 2, 9, 10, 13, 18, 21, 24, 25, 29, 35 10 Direvisi 3, 5, 7, 11, 14, 15, 17, 19, 22, 28, 30, 31, 32, 33 14 Ditolak 1, 4, 6, 8, 12, 16, 20, 23, 26, 27, 34 11 5) Reliabilitas
Uji realiabilitas dipakai untuk mengetahui seberapa jauh pengukuran tes menghasilkan hasil yang relatif sama setelah dilakukan berulang-ulang.
Reliabilitas tes berbentuk objektif dilakukan perhitungan menggunakan rumus K-R 20 (Kuder Richardson).
𝑟𝑙𝑙 = [ 𝑛
𝑛 − 1] [1 −∑ 𝑝𝑞
𝑠𝑥2 ] (3.3)
Keterangan:
𝑟𝑙𝑙 = reliabilitas soal 𝑛 = jumlah butir soal
𝑝 = perbandingan penjawab benar pada setiap butir soal 𝑞 = perbandingan penjawab salah pada setiap butir soal dengan (𝑞 = 1 − 𝑝) dan 𝑠𝑥2 variansi total (Azwar, 2013)
Tabel 3.13 Kategori Reliabilitas Soal
Nilai Reliabilitas Kategori
0,8 < 𝑟𝑙𝑙 ≤ 1 Sangat tinggi
0,6 < 𝑟𝑙𝑙 ≤ 0,8 Tinggi
0,4 < 𝑟𝑙𝑙 ≤ 0,6 Cukup
0,2 < 𝑟𝑙𝑙 ≤ 0,4 Rendah
0,0 ≤ 𝑟𝑙𝑙 ≤ 0,2 Sangat Rendah
Uji reabilitas dengan bantuan Microsoft Excel diperoleh hasil 0,769 yang artinya reabilitas soal tinggi. Perhitungan reliabilitas selengkapnya ada pada lampiran 26.
H. Teknik Analisis Data
Uji statistik dilakukan terhadap hasil tes kemampuan pengetahuan materi Gerak Harmonis Sederhana. Analisis data penelitian dengan uji ANAVA dua jalan dengan frekuensi sel tak sama. Data penelitian diuji prasyarat analisis berupa uji commit to user
normalitas dan homogenitas sebelum uji ANAVA. Teknik analisis yang dipakai dijabarkan sebagai berikut:
1. Uji Prasyarat Analisis a. Uji Normalitas
Uji normalitas dengan metode Lilliefors yang dirincikan yakni:
1) Hipotesis
Ho : Sampel berasal dari populasi yang memiliki distribusi normal H1 : Sampel berasal dari populasi yang memiliki distribusi tidak normal 2) Statistik uji
𝐿ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔= 𝑀𝑎𝑘𝑠|𝐹(𝑧𝑖)− 𝑆(𝑧𝑖)| (3.5)
𝑧𝑖 =𝑥 − 𝑥̅
𝑠 (3.6)
F(zi) = P(Z ≤ zi); Z ~ N(0,1) (3.7)
S(zi) = proporsi cacah Z ≤ zi terhadap seluruh cacah zi.
3) Daerah kritis: DK = {L|L > Lα ;n} dengan n ialah ukuran sampel dan α adalah taraf signifikansi = 5%.
4) Keputusan uji menurut Budioyono (2013) adalah sebagai berikut:
a) Lhitung < Ltabel: H0 diterima b) Lhitung ≥ Ltabel: H0 ditolak.
b. Uji Homogenitas
Uji Homogenitas dilakukan guna mengetahui apakah sampel berasal dari populasi yang homogen ataupun tidak. Uji homogenitas dengan metode Bartlett yang dirincikan sebagai berikut:
1) Hipotesis
H0: sampel berasal dari populasi yang homogen H1: Sampel berasal dari populasi yang tidak homogen
2) Menentukan taraf signifikansi (α) yaitu sebesar 5% atau α= 0,05 3) Statistik Uji
χ2 =2,303
c {∑ f log RKG − ∑ fjlog sj2} (3.8) c = 1 + 1
3(k−1)(Σ1
fj−1
f) (3.9)
commit to user
RKG = Rataan Kuadrat Galat = ΣSSj
Σfj
SSj= ΣXj2− (Σ Xj)
2
nj (3.10)
dengan keterangan k = total sampel; N = total seluruh nilai; nj = jumlah nilai sampel ke-j = ukuran sampel ke-j; fj = nj – 1 = derajat kebebasan untuk sj2 dengan j = 1,2, ..., k; f = N – k = ∑kj=1fj = derajat kebebasan untuk RKG.
4) Daerah Kritis: DK = { χ2|χ2 > χ2𝛼;𝑘−1 }
5) Keputusan Uji menurut Budiyono (2013) sebagai berikut:
χ2ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 < χ2𝛼;𝑘−1 : H0 diterima χ2ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 ≥ χ2𝛼;𝑘−1 : H0 ditolak
2. Uji Hipotesis menggunakan Analisis Variansi Dua Jalan
Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji analisis variansi (ANAVA) dua jalan dengan sel tak sama. Sel tak sama artinya frekuensi setiap sel tidak wajib sama.
1) Tujuan
Untuk menguji ada atau tidaknya perbedaan pengaruh dua variabel bebas terhadap satu variabel terikat dan menguji signifikansi interaksi kedua variabel bebas terhadap variabel terikat.
2) Asumsi Dasar
Syarat yang harus terpenuhi dalam uji ANAVA dua jalan antara lain sampel diambil dari populasi secara acak, populasi berdistribusi normal, dan populasi bersifat homogen.
3) Hipotesis
H0A: αi = 0 Tidak ada perbedaan pengaruh antara penggunaan model pembelajaran inkuiri terbimbing menggunakan modul LCDS dan discovery learning menggunakan modul LCDS terhadap kemampuan pengetahuan peserta didik SMA kelas X materi Gerak Harmonis Sederhana.
commit to user
H1A: αi ≠ 0 Ada perbedaan pengaruh antara penggunaan model pembelajaran inkuiri terbimbing menggunakan modul LCDS dan discovery learning menggunakan modul LCDS terhadap kemampuan pengetahuan peserta didik SMA kelas X materi Gerak Harmonis Sederhana.
H0B: βj = 0 Tidak ada perbedaan pengaruh antara kemampuan literasi sains kategori tinggi dan rendah terhadap kemampuan pengetahuan peserta didik SMA kelas X materi Gerak Harmonis Sederhana.
H1B: βj ≠ 0 Ada perbedaan pengaruh antara kemampuan literasi sains kategori tinggi dan rendah terhadap kemampuan pengetahuan peserta didik SMA kelas X materi Gerak Harmonis Sederhana.
H0AB: αβij = 0
Tidak ada interaksi pengaruh antara pengunaan model pembelajaran inkuiri terbimbing dan discovery learning menggunakan modul LCDS dengan kategori kemampuan literasi sains terhadap kemampuan pengetahuan peserta didik SMA kelas X materi Gerak Harmonis Sederhana.
H1AB: αβij ≠ 0
Ada interaksi pengaruh antara pengunaan model pembelajaran inkuiri terbimbing dan discovery learning menggunakan modul LCDS dengan kategori kemampuan literasi sains terhadap kemampuan pengetahuan peserta didik SMA kelas X materi Gerak Harmonis Sederhana.
4) Tabel Jumlah AB
Tabel 3.14 Tabel Jumlah AB
Kemampuan Literasi Sains
Total Tinggi (B1) Rendah (B2)
Model Pembe- lajaran
Inkuiri Terbimbing menggunakan modul LCDS
A1 B1 A2 B1 A’1 = ...
Discovery Learning menggunakan modul LCDS
A1 B2 A2 B2 A’2 =....
Total B’1 =... B’2 =... G =...
A
B
commit to user
5) Komputasi
(a) = G
2
pq (3.11)
(b) =∑i,jSSij (3.12)
(c) = ∑ Ai
2
i nq (3.13)
(d) = ∑ Bj
2
j np (3.14)
(e) = ∑ij AB̅̅̅̅ij2 (3.15)
6) Jumlah Kuadrat
JKA = 𝑛̅ℎ{(c) - (a)} (3.16)
JKB = 𝑛̅ℎ {(d) - (a)} (3.17)
JKAB = 𝑛̅ℎ {(a) + (e) - (c) - (d)} (3.18)
JKG = (b) (3.19)
JKT = JKA + JKB + JKAB + JKG (3.20)
dengan 𝑛̅ℎ = 𝑝𝑞
∑ 1
𝑖𝑗𝑛𝑖𝑗
(3.21)
7) Derajat Kebebasan
dkA = p-1 (3.22)
dkB = q-1 (3.23)
dkAB = (p-1)(q-1) (3.24)
dkG = N – pq (3.25)
dkT = N – 1 (3.26)
8) Rerata Kuadrat RKA = JKA
dkA (3.27)
RKB = JKB
dkB (3.28)
RKAB = JKAB
dkAB (3.29)
RKG = JKG
dkG (3.30)
9) Statistik Uji
H0A adalah FA = RKA
RKG (3.31)
commit to user
H0B adalah FB = RKB
RKG (3.32)
H0AB adalah FAB = RKAB
RKG (3.33)
10) Daerah Kritis
DKA = {FA > Fα; p – 1, N – pq} (3.34)
DKB = {FB > Fα; q – 1, N – pq} (3.35)
DKAB = {FAB> Fα;( p – 1) (q – 1), N – pq} (3.36) 11) Keputusan Uji
H0A : ditolak apabila FA > Fα; p – 1, N – pq (3.37) H0B : ditolak apabila FB > Fα; q – 1, N – pq (3.38) H0AB : ditolak apabila FAB > Fα ;( p – 1)(q – 1)N – pq (3.39) 12) Rangkuman Analisis
Tabel 3.15 Rangkuman Analisis Variansi Dua Jalan Isi Sel Tak Sama
Sumber Variasi JK Dk RK Fobs Fα
A (kolom) JKA dkA RKA FA Fα
B (baris) JKB dkB RKB FB Fα
Interaksi AB JKAB dkAB RKAB FAB Fα
Galat JKG dkG RKG - -
Total JKtotal dktotal - - -
(Budiyono, 2013: 228-234) 3. Uji Lanjut Pasca ANAVA
Uji lanjut pasca ANAVA dipakai apabila putusan uji ANAVA pada H0
ditolak. Uji lanjur pasca ANAVA atau uji komparasi ganda dilakukan dengan metode Scheffe’. Uji lanjut pasca ANAVA pada penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan rerata antar baris dan kolom. Prosedur uji Scheffe’ yakni:
a. mengidentifikasi seluruh pasangan komparasi rerata b. menuliskan hipotesis yang sesuai dengan komparasi c. memilih taraf signifikansi
d. menghitung statistik uji F menggunakan komparasi sebagai berikut:
1) Komparasi Rataan antar Baris
Persamaan uji komparasi rataan antar baris yaitu commit to user
𝐹i.-j. = (𝑋i.− 𝑋j.)2 RKG (1
𝑛i.+ 1 𝑛j.)
(3.40)
𝐹𝑖−𝑗 = nilai Fhitung pada baris ke-i dan baris ke-j; 𝑋̅𝑖 = rataan baris ke-i, 𝑋̅𝑗 rataan baris ke-j; 𝑛𝑖 = ukuran sampel baris ke-i; 𝑛𝑗 = ukuran sampel baris ke-j.
Daerah kritik uji komparasi rataan antar baris adalah
DK = {Fi.−j.|Fi.−j.> (𝑝 − 1)𝐹α;p−1,N−pq} (3.41) 2) Komparasi Rataan antar Kolom
Uji Scheffe’ komparasi rataan antar kolom adalah
𝐹.i-.j = (𝑋.i− 𝑋.j)2 RKG (1
𝑛.i+ 1 𝑛.j)
(3.42)
daerah kritik yaitu
DK = {F.i−.j|F.i−.j> (𝑞 − 1)𝐹α;q−1,N−pq} (3.43) e. Memutuskan hasil uji untuk setiap pasangan komparasi
f. Menuliskan rangkuman analisis
(Budiyono, 2013: 215-217) I. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian ialah tahapan yang dilaksanakan peneliti guna mendapatkan data dan menjawab pertanyaan penelitian. Prosedur penelitian dideskripsikan yakni:
1. Tahap Persiapan
Tahap persiapan diawali dengan proses mengajukan judul, menyusun proposal penelitian, seminar proposal, menyusun instrumen pembelajaran yang meliputi RPP dan LKPD, instrumen pengambilan data yang terdiri dari instrumen soal kemampuan literasi sains dan soal kemampuan pengetahuan Fisika materi Gerak Harmonis Sederhana, melakukan validasi instrumen soal kepada dosen pembimbing, dan mengajukan izin penelitian
commit to user
2. Tahap Pelaksanaan
Instrumen soal kemampuan pengetahuan Fisika materi Gerak Harmonis Sederhana diujicobakan terhadap peserta didik kelas XI di SMA Negeri 1 Ajibarang. Peneliti mengumpulkan data menggunakan teknik dokumentasi serta tes. Teknik dokumentasi menggunakan nilai Ulangan Akhir Semester 1 untuk mengetahui keadaan awal peserta didik. Kemudian, peneliti mengambil data kemampuan literasi sains pada awal perlakuan, bereksperimen dengan menerapkan model pembelajaran yang berbeda yaitu inkuiri terbimbing untuk kelas eksperimen I serta discovery learning untuk kelas eksperimen II.
Penelitian diakhiri dengan tes kemampuan pengetahuan Fisika materi Gerak Harmonis Sederhana.
3. Tahap Penyelesaian
Data kemampuan pengetahuan peserta didik dianalisis menggunakan uji ANAVA dua jalan. Selanjutnya peneliti menarik kesimpulan dengan membandingkan data yang didapat dengan sumber pustaka, serta menulis laporan penelitian berdasarkan panduan penulisan yang tersedia.
commit to user