i
KALIMAT IMPERATIF DALAM NOVEL GADIS PANTAI KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER
Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia
Program Studi Sastra Indonesia
Oleh
Maria Fransina Karen Rettob NIM : 174114046
PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
APRIL 2021
ii
iii
iv
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta, 26 April 2021 Penulis
Maria Fransina Karen Rettob
v
Pernyataan Persetujuan Publikasi Karya Ilmiah Untuk Kepentingan Akademis
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma :
Nama : Maria Fransina Karen Rettob NIM : 174114046
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul KALIMAT IMPERATIF DALAM NOVEL GADIS PANTAI KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER beserta perangkat yang diperlukan (bila ada).
Dengan demikian, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak menyimpan, mengalihkan dalam bentuk lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas dan mempublikasikannya di internet atau media yang lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal 26 April 2021
Yang menyatakan
Maria Fransina Karen Rettob
vi
HALAMAN PERSEMBAHAN
Skripsi ini saya persembahkan untuk :
1.Untuk papa dan mama saya, Johannes Rettob dan Susana Suzy Herawati terima kasih atas doa dan dukungan papa dan mama sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat waktu.
2. Untuk kakak-kakak saya Thendra Cendana (alm), Maria Elisabeth, Maria Veronika, dan Robert Charles (alm) yang selalu ada dan menjadi penyemangat.
3. Untuk sahabatku Regina dan Ningsih dan keluarga besar yang telah memberikan perhatian dan dukungan.
4. Untuk teman-teman Sastra Indonesia 2017 yang telah menjadi teman dan menjadi motivasi untuk penulis.
5. Untuk Pak Rahmat dan Bude Yanti yang sudah menjaga dan memperhatikan penulis.
6. Untuk tante ku tersayang Silvi Herawati yang memberika dukungan kepada perhatian kepada penulis
Penulis
vii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur atas rahmat Tuhan yang Mahaesa yang telah memberikan Kesehatan dan rahmat, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana.
Skripsi berjudul “Kalimat Imperatif Dalam Novel Gadis Pantai Karya Pramoedya Ananta Toer” ini ditulis untuk memenuhi salah satu syarat mencapai gelar Sarjana S-1 Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Setelah melalui proses yang panjang, skripsi ini akhirnya dapat selesai tepat waktu walaupun di tengah pandemi Covid-19 ini tidak membuat penulis patah semangat dan skripsi ini dapat terselesikan dengan baik.
Oleh sebab itu penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah menjadi perpanjangan kasih Tuhan berikut.
1. Sony Christian Sudarsono, S.S., M.A. yang berkenan menjadi pembimbing I penulis dalam menyusun skripsi ini. Beliau memberikan banyak masukan dan pinjaman buku bagi penulis yang berguna baik dalam penyusunan skrpisi ini.
2. M.M. Sinta Wardani, S.S., M.A. yang berkenan menjadi pembimbing II penulis dalam Menyusun skripsi ini. Beliau juga telah memberikan masukan dan semangat selama menyusun skripsi.
3. Seluruh dosen Program Studi Sastra Indonesia yang belum disebut : S.E.
Peni Adji, S.S., M. Hum., Prof. Dr. I. Praptomo Baryadi, M.Hum., Drs.
B. Rahmanto, M.Hum, Dr.Y.Yapi Taum, M.Hum, dan F.X. Sinungharjo, S.S., M.A serta dosen-dosen pengampu mata kuliah tertentu yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.
Yogyakarta, 26 April 2021
Maria Fransina Karen Rettob
viii ABSTRAK
Rettob, Maria Fransina K. 2021. “Kalimat Imperatif Dalam Novel Gadis Pantai Karya Pramoedya Ananta Toer”. Skripsi strata satu (S-1). Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma.
Skripsi ini membahas kalimat imperatif dalam novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer. Kajian kalimat imperatif ini dilakukan untuk mengetahui jenis dan fungsi kalimat imperatif dalam novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer.
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak atau metode observasi. Metode analisis data yang digunakan adalah metode padan, metode yang alat penentunya di luar terlepas dan tidak menjadi bagian dari bahasa (langue) yang bersangkutan. Metode penyajian hasil analisis data yang digunakan dalam skripsi ini adalah metode informal atau verbal adalah penyajian kaidah penggunaan bahasa dengan kata-kata atau kalimat.
Hasil penelitian ini adalah jenis-jenis kalimat imperatif dalam novel Gadis Pantai yang ditemukan sebagai berikut : kalimat perintah ditemukan sebanyak dua belas (12), kalimat persilahan ditemukan sebanyak lima (5), kalimat ajakan ditemukan sebanyak enam (6), dan kalimat larangan ditemukan sebanyak dua puluh enam (26). Fungsi kalimat imperatif dalam novel Gadis Pantai yang ditemukan sebagai berikut : fungsi memerintah ditemukan sebanyak tujuh (7), fungsi mengundang ditemukan sebanyak sebelas (11), fungsi melarang ditemukan sebanyak dua puluh lima (25).
Kata kunci : kalimat imperatif, novel, sintaksis.
ix ABSTRACT
Rettob, Maria Fransina K. 2021. "Imperative Sentence in The Novel Gadis Pantai by Pramoedya Ananta Toer”. First degree thesis (S-1).
Indonesian Letters Study Program, Faculty of Letters, Sanata Dharma University.
This thesis discusses the imperative sentence in the novel Gadis Pantai by Pramoedya Ananta Toer. This imperative sentence study was conducted to determine the type and function of imperative sentences in the novel Gadis Pantai by Pramoedya Ananta Toer.
The data collection method used in this study is the simak method or observation method. The method of data analysis used is the padan method, a method whose determinant is outside detached and does not become part of the language (langue) in question. The method of presenting the results of data analysis used in this thesis is an informal or verbal method is the presentation of the rules of use of language with words or sentences.
The results of this study are the types of imperative sentences in the novel Gadis Pantai which were found as follows: the command sentence was found as many as twelve (12), the term of the term was found as many as five (5), the sentence of invitation was found as many as six (6), and the prohibition sentence was found as many as twenty-six (26). The imperative sentence function in the novel Gadis Pantai is found as follows: the commanding function is found as many as seven (7), the invite function is found as many as eleven (11), the prohibit function is found as many as twenty-five (25).
Keywords : imperative sentences, novel, syntactic.
x DAFTAR ISI
HALAMAN DEPAN ... i
HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... iv
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... v
HALAMAN PERSEMBAHAN... vi
KATA PENGANTAR ... vii
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
DAFTAR ISI ………..x
BAB IPENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 4
1.4Manfaat Hasil Penelitian ... 5
1.4.1 Manfaat Teoretis... 5
1.4.2 Manfaat Praktis ... 5
1.5 Tinjauan Pustaka ... 5
1.6 Landasan Teori ... 9
1.6.1.1 Kalimat Deklaratif ... 10
1.6.1.2 Kalimat Perintah ... 11
a. Kalimat Perintah Sebenarnya ... 11
b. Kalimat Persilahan ... 12
c. Kalimat Ajakan ... 12
d. Kalimat Larangan ... 13
1.6.1.3 Kalimat Interogatif ... 13
1.6.1.4 Kalimat Eksklamatif ... 20
1.6.2 Fungsi Kalimat Imperatif ... 21
1.6.2.1 Memerintah ... 21
1.6.2.2 Mengundang ... 21
1.6.2.3 Melarang ... 22
1.7 Metode Penelitian ... 22
xi
1.7.1 Metode Pengumpulan data ... 22
1.7.2 Metode Analisis Data ... 23
1.7.3 Metode Penyajian Hasil Analisis Data ... 24
1.8 Sistematika Penyajian... 24
BAB II JENIS KALIMAT IMPERATIF DALAM NOVEL GADIS PANTAI KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER ... 25
2.1 Pengantar ... 25
2.2 Kalimat Perintah ... 25
2.3 Kalimat Persilahan ... 29
2.4 Kalimat Ajakan... 30
2.5 Kalimat Larangan ... 32
BAB III FUNGSI KALIMAT IMPERATIF DALAM NOVEL GADIS PANTAI KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER ... 40
3.1 Pengantar ... 40
3.2 Memerintah ... 40
3.3 Mengundang ... 42
3.4 Melarang ... 45
BAB IV PENUTUP ... 52
4.1Kesimpulan ... 52
4.2 Saran ... 53
DAFTAR PUSTAKA ... 54
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kata imperatif dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2008) memiliki beberapa arti atau pengertian. Arti pertama adalah perkataan yang bermaksud menyuruh melakukan sesuatu. Misalnya, seorang majikan menyuruh anak buahnya menyiapkan serta melayani majikannya makan. Perintah dari sang majikan tersebut sifatnya imperatif kategoris (sesuatu yang harus dilakukan dan sifatnya wajib). Arti kedua merupakan aba-aba, dan komando. Arti ketiga merupakan aturan dari pihak atas yang harus dilakukan.
Dari penjelasan berdasarkan KBBI, kalimat imperatif adalah kalimat yang mengandung makna memerintah atau meminta seseorang untuk melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penutur. Kalimat ini sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Kalimat ini menjadi bermakna jikalau dikaji dalam hubungan relasional dengan orang lain. Kalimat ini sering kita gunakan atau temui dalam keluarga, sekolah, atau lingkungan tempat tinggal dan tempat-tempat umum.
Contohnya, perintah yang sering kita temui adalah, “Jangan membawa senjata tajam!”, “Jangan membuang sampah di sembarang tempat!”, “Tolong sampaikan permohonan maafku kepada teman-teman”, “Waspada! Pencuri datang di waktu yang tidak terduga”.
Novel adalah sebuah karya sastra yang berbentuk prosa yang panjang serta mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang-orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku (KBBI, 2008:1079).
Menurut Drs. Jakob Sumardjo, novel adalah sebuah bentuk sastra yang sangat populer di dunia karya sastra yang satu ini paling banyak beredar serta juga dicetak sebab daya komunitasnya yang sangat luas di dalam masyarakat (Noor, 2017 : 62).
Yang menarik dari karya sastra karena di sana ada paradigma kehidupan, ada model- model kehidupan, sehingga orang tinggal mengambil. Karya sastra terbedakan dengan nasihat, anjuran, dan ajaran. Anjuran, ajaran, dan nasihat adalah membuat orang sulit untuk mencernanya, sementara hal ini berbeda dengan karya sastra. Itulah mengapa teladan atau kesaksian hidup lebih berdaya ubah atau berguna dari pada nasihat.
Setelah membahas secara singkat pengertian kalimat imperatif dan novel di atas, penulis mencoba membuat kajian atau penelitian kalimat imperatif dalam novel Gadis Pantai karya Promoedya Ananta Toer. Kalimat imperatif berdasarkan fungsinya dalam hubungan situasi, kalimat imperatif mengharapkan tanggapan yang berupa tindakan dari orang yang diajak berbicara (Ramlan, 2005 : 39). Berikut ini contoh kalimat imperatif yang terdapat dalam novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer:
(1) Tidurlah, nak.
(2) Diamlah, diam!
(3) Cepat!
Kata tidurlah, diamlah, dan cepat pada contoh (1), (2), dan (3) termasuk kalimat imperatif karena mengharapkan tanggapan yang berupa tindakan dari orang yang diajak berbicara dan diikuti partikel lah pada P-nya.
Topik analisis kalimat imperatif dalam novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer dipilih berdasarkan pada dua alasan. Petama, penelitian sebelumnya menggunakan kebanyakan karya sastra populer, sedangkan penulis menggunakan karya sastra klasik. Kedua, belum banyak penelitian yang dilakukan berkaitan dengan analisis kalimat imperatif pada novel terutama dalam kajian sintaksis.
Masalah sintaksis menarik untuk dibicarakan karena dalam ruang lingkup sintaksis tidak hanya membicarakan kata, frasa, klausa, tetapi juga kalimat. Melihat ruang lingkup sintaksis yang cukup luas, penulis memfokuskan penelitian pada kajian mengenai kalimat (analisis kalimat), yaitu tentang kalimat imperatif dan pengklasifikasian bentuk kalimat suruh. Kalimat imperatif banyak ditemukan di dalam novel. Alasannya karena bahasa tulis dalam novel berfungsi untuk memberikan efek imajinasi bagi pembaca dan sebagai ungkapan perasaan tokoh dan semua itu berwujud kalimat imperatif.
Bentuk kalimat imperatif yang terdapat dalam novel digunakan sebagai kata- kata yang dapat menimbulkan imajinasi pembaca, yang diharapkan nantinya pembaca mampu menyelami cerita yang dikisahkan dalam novel tersebut.
Sehubungan dengan hal itu, tulisan ini akan mencoba membahas tentang kalimat imperatif yang ada pada novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer. Penulis juga akan memaparkan jenis-jenis kalimat imperatif yang terdapat dalam novel tersebut.
Kalimat ini memang sudah sangat luas digunakan dalam praktik hidup sehari- hari, tetapi tidak semua orang memiliki pengetahuan yang komprehensif tentang apa saja kalimat imperatif dan fungsinya. Penulis mencoba mengangkat dan mengulasnya dengan menggunakan novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer sehingga semakin memperkaya pemahaman tentang kalimat imperatif.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan singkat dalam latar belakang, permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini sebagai berikut :
1.2.1 Apa saja jenis-jenis kalimat imperatif dalam novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer?
1.2.2 Apa fungsi kalimat imperatif dalam novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak diperoleh dari penelitian ini adalah :
1.3.1 Menguraikan jenis-jenis kalimat imperatif yang terdapat dalam novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer.
1.3.2 Menjelaskan fungsi kalimat imperatif yang terdapat dalam novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer.
1.4 Manfaat Hasil Penelitian
Manfaat penelitian adalah memberikan penjelasan mengenai jenis kalimat imperatif dan fungsinya. Adapun manfaat-manfaatnya sebagai berikut.
1.4.1 Manfaat Teoretis
Secara teoretis hasil penelitian ini mengembangkan teori kalimat imperatif dalam wacana naratif. Di samping itu, penelitian ini juga berkontribusi terhadap kajian dalam bidang sintaksis khususnya dalam Bahasa Indonesia.
1.4.2 Manfaat Praktis
Secara praktis hasil penelitian ini berguna dalam bidang pembelajaran bahasa, khususnya pembelajaran kalimat dalam wacana naratif. Adapun manfaat untuk menjadi acuan terhadap penelitian lebih lanjut.
1.5 Tinjauan Pustaka
Kalimat imperatif adalah bentuk kalimat atau verba untuk mengungkapkan perintah atau keharusan atau larangan melaksanakan perbuatan. Konsep gramatikal ini harus dibedakan dari perintah yang merupakan konsep semantis (Kridalaksana, 2008: 91).
Dalam penulisan skripsi ini, penulis juga mengacu pada beberapa penelitian sebelumnya yang mendeskripsikan tentang analisis kalimat imperatif. Penulis menemukan ada empat penelitian tersebut yang ditulis oleh Wenzen (2016), Erni Fitriana (2013), Wulandari (2021), Susanti (2020), dan Karepouwan (2013).
Pertama, Wenzen (2016) dengan judul skripsi “Kalimat Imperatif dalam Film Spy Karya Paul Feig” menggambarkan kalimat imperatif dan fungsinya dalam komunikasi yang terdapat dalam film Spy. Peneliti memilih film Spy sebagai objek penelitian, dan membaca buku-buku yang berhubungan dengan judul penelitian, yaitu kalimat imperatif. Kemudian peneliti mengunduh naskah dialog film Spy di situs springfield.co.uk dan menonton film Spy lebih dari sepuluh kali untuk lebih memahami isi dalam film, lebih khususnya cara berkomunikasi di dalam film. Hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut : Bentuk-bentuk kalimat imperatif dalam film Spy yang ditemukan sebagai berikut: kalimat imperatif tanpa subjek ditemukan sebanyak seratus enam puluh sembilan (169), kalimat imperatif menggunakan subjek terdapat tiga puluh satu (31), kalimat imperatif menggunakan let terdapat dua puluh enam (26), kalimat imperatif negatif terdapat dua puluh tiga (23), kalimat imperatif persuasif tidak ditemukan di dalam film Spy. Kalimat imperatif persuasif tidak ditemukan di dalam film Spy karena dalam kehidupan para mata-mata dituntut untuk tegas. Dalam film Spy tidak terdapat kalimat imperatif persuasif yaitu kalimat berbentuk ajakan yang di awali dengan kata do.
Dalam fungsi kalimat imperatif sebagai perintah terdapat sembilan puluh delapan (98), sebagai harapan terdapat lima puluh (50), sebagai undangan terdapat dua puluh lima (25), sebagai peringatan terdapat enam puluh dua (62) fungsi kalimat yang ditemukan di dalam film. (Fungsi kalimat Perintah ditemukan paling banyak dalam film Spy karena konteks film Spy adalah tentang agen pemerintahan yang menuntut para agen 12 atau mata-mata untuk saling memperingatkan sesama agen
dengan menggunakan kalimat perintah pada percakapan mereka dalam setiap misi yang dijalankan).
Kedua, Karepouwan (2013) dengan judul skripsi “Kalimat Imperatif Dalam Novel The Kill Order Karya James Dashner”. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, artinya penelitian ini menekankan pada penggambaran kalimat imperatif dan fungsinya dalam komunikasi pada novel The Kill Order karya James Dashner.
Hasil dari penelitian adalah sebagai berikut : Kalimat imperatif yang hanya terdiri dari satu verba ditemukan satu contoh dalam novel. Kalimat imperatif yang terdiri lebih dari satu kata, terbagi atas tiga; verba frasa terdapat satu contoh yang ditemukan dalam novel, verba frasa berpreposisi terdapat dua contoh, verba + nomina + idiom preposisi terdapat satu contoh. Kalimat imperatif dalam bentuk klausa terdapat dua contoh. Bentuk-bentuk kalimat imperatif lain, yaitu : Bentuk ingkar : Do not + infinitif +unsur pelengkap ditemukan sebanyak satu buah. Fungsi kalimat imperatif dalam komunikasi yang digunakan James Dashner, yaitu : perintah, harapan, undangan, peringatan, dan keinginan.
Ketiga, Wulandari (2021) dalam artikel dengan judul “Kalimat Imperatif dalam Novel Selena Karya Tere Liye” meneliti wujud dan makna kalimat imperatif yang ada di novel Selena karya Tere Liye. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui wujud dan makna kalimat imperatif dalam novel Selena karya Tere Liye. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data deskriptif kualitatif.
Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak melalui teknik catat.
Hasil penelitian menunjukkan adanya kesimpulan dalam novel Selena karya Tere Liye yaitu menemukan wujud kalimat imperatif intransitif dan ditemukan 8 makna yaitu kalimat imperatif permohonan, kalimat imperatif permintaan, kalimat imperatif harapan, kalimat imperatif larangan, kalimat imperatif pembiaran, kalimat imperatif ajakan, kalimat imperatif imbauan. Dari paparan data ditemukan 80 kalimat imperatif. Yang paling banyak ditemukan yaitu kalimat imperatif permohonan sebanyak 48 data, sedangkan yang paling sedikit adalah kalimat imperatif pembiaran sebanyak 2 data.
Keempat, Fitriana (2013) meneliti kalimat perintah pada novel Perahu Kertas karya Dewi Lestari. Metode penelitian yang digunakan adalah padan intralingual, sedangkan untuk validitas data menggunakan metode triangulasi teori. Hasil penelitian Fitriana menunjukkan ada empat jenis kalimat perintah yang terdapat dalam novel Perahu Kertas. Keempat jenis kalimat perintah yang ditemukan meliputi kalimat perintah sebenarnya, kalimat perintah ajakan, kalimat perintah persilahan, dan kalimat perintah larangan. Novel Perahu Kertas karya Dewi Lestari didominasi oleh penggunaan kalimat perintah yang sebenarnya.
Kelima, Susanti (2020) meneliti kalimat imperatif dalam novel Matahari karya Tere liye. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif.
Teknik pengumpulan data penelitian yaitu simak catat dan dokumentasi yang dicatat dan diperiksa berdasarkan jenis-jenis kalimat imperatif. Alat pengumpulan data menggunakan dokumen dan kartu data. Berdasarkan hasil penelitian, Jenis kalimat imperatif dalam novel Matahari karya Tere Liye meliputi jenis kalimat imperatif yang sebenarnya yang terdapat dua puluh satu kalimat, jenis kalimat imperatif ajakan
terdapat tiga belas kalimat, jenis kalimat imperatif larangan terdapat delapan kalimat dan jenis kalimat imperatif persilaan terdapat tujuh kalimat, sehingga keseluruhan jumlah kalimat imperatif yang digunakan dalam novel Matahari karya Tere Liye berjumlah empat puluh sembilan kalimat. Lebih banyaknya temuan kalimat yang sesuai dengan jenisnya menandakan novel Matahari menggunakan banyak kalimat imperatif yang berdasarkan isinya.
Berdasarkan tinjauan pustaka di atas, dapat disimpulkan bahwa penelitian mengenai kalimat impreatif dalam karya sastra klasik belum pernah dikaji. Penelitian mengenai kalimat imperatif sudah banyak dilakukan. Namun, belum ditemukan penelitian mengenai kalimta imperatif dalam karya sastra kalsik. Jadi, penelitian ini merupakan sebuah kebaruan.
1.6 Landasan Teori
Untuk mendukung penelitian ini digunakan teori-teori yang relevan. Sehingga dapat memperkuat teori dan keakuratan data. Teori yang digunakan adalah (a) kalimat berdasarkan bentuk sintaksisnya, (b) teori kalimat imperatif, (c) teori fungsi kalimat imperatif.
1.6.1 Kalimat Berdasarkan Bentuk Sintaksisnya
Dilihat dari bentuk sintaksisnya dibagi atas (1) kalimat deklaratif, (2) kalimat imperatif, (3) kalimat interogatif, dan (4) kalimat eksklamatif.
1.6.1.1 Kalimat Deklaratif
Kalimat deklaratif, yang juga dikenal dengan nama kalimat berita dalam buku Tata Bahasa Indonesia, secara formal jika dibandingkan dengan ketiga jenis kalimat yang lainnya tidak bermarkah khusus. Dalam pemakaian bahasa bentuk deklaratif umumnya digunakan oleh pembicara atau penulis untuk membuat pernyataan sehingga isinya merupakan berita bagi pendengar atau pembacanya.
Jika pada suatu saat kita mengetahui ada kecelakaan lalu lintas dan kemudian kita menyampaikan peristiwa itu kepada orang lain, maka kita dapat memberitakan kejadian itu dengan menggunakan bermacam-macam bentuk kalimat deklaratif antara lain :
(4) Tadi pagi ada tabrakan mobil di dekat Monas.
(5) Saya lihat ada bus masuk Ciliwung tadi pagi.
(6) Tadi pagi ada sedan Fiat mulus yang ditabrak bus PPD.
Dari segi bentuknya kalimat di atas bermacam-macam. Ada yang memperlihatkan inversi, ada yang bentuk aktif, ada yang pasif dan sebagainya.
Akan tetapi, jika dilihat dari fungsi komunikatifnya, maka kalimat di atas adalah sama, yakni semuanya merupakan kalimat berita. Dengan demikian kalimat berita dapat berupa bentuk apa saja, asalkan isinya merupakan pemberitaan. Dalam bentuk tulisnya kalimat berita dengan tanda titik. Dalam bentuk lisan suara berakhir dengan nada turun (Alwi dkk., 2010: 360—361).
1.6.1.2 Kalimat Imperatif
Berdasarkan fungsinya dalam hubungan situasi, kalimat imperatif mengharapkan tanggapan yang berupa tindakan dari orang yang diajak berbicara.
Berdasarkan ciri formalnya kalimat ini memiliki pola intonasi yang berbeda dengan pola intonasi kalimat deklaratif dan kalimat interogatif.
Pola intonasinya ialah 2 3 # atau 2 3 2 # jika diikuti partikel lah pada P-nya (Ramlan, 2005 : 39). Misalnya :
(7) Pergi!
2 3 # (8) Pergilah!
2 3 2 #
(9) Baca buku itu!
2 3 // 2 1 # (10) Bacalah buku itu!
2 3 2 // 2 1 #
Di sini pola intonasi kalimat imperatif itu ditandai dengan tanda (!).
Berdasarkan strukturnya, Ramlan (2005: 40) membagi kalimat imperatif menjadi empat golongan, yaitu (a) kalimat perintah, (b) kalimat persilahan, (c) kalimat ajakan, dan (d) kalimat larangan.
a. Kalimat Perintah
Kalimat perintah ditandai oleh pola intonasi suruh. Selain daripada itu, apabila P-nya terdiri dari kata verbal intransitif bentuk verbal itu tetap hanya partikel
lah dapat ditambahkan pada kata verbal untuk menghaluskan perintah. S-nya yang berupa persona orang kedua boleh dibuangkan boleh juga tidak (Ramlan, 2005: 40).
Misalnya :
(11) Duduk!
(12) Beristirahatlah!
(13) Datanglah engkau ke rumahku!
(14) Tertawalah engkau sepuas-puasnya!
(15) Berangkatlah sekarang juga!
Apabila P-nya terdiri dari kata verbal transitif, kalimat perintah itu, selain ditandai oleh pola intonasi suruh juga oleh tidak adanya prefiks meN- pada kata verbal transitif itu. Partikel lah dapat ditambahkan pada kata verbal itu untuk menghaluskan suruhan. Misalnya :
(16) Belilah buku ke toko buku pembangunan!
(17) Carilah buku baru ke perpustakaan!
(18) Pakai baju yang bersih!
b. Kalimat Persilahan
Selain ditandai oleh pola intonasi suruh, kalimat persilahan ditandai juga oleh penambahan kata silakan yang diletakkan di awal kalimat. Misalnya:
(19) Silakan Bapak duduk di sini!
(20) Silakan Tuan mengambil buku sendiri!
(21) Silakan datang ke rumahku!
c. Kalimat Ajakan
Sama halnya dengan kalimat persilahan dan kalimat imperatif, kalimat ajakan ini berdasarkan fungsinya dalam hubungan situasi juga mengharapkan suatu tanggapan yang berupa tindakan hanya perbedaannya tindakan itu di sini bukan
hanya dilakukan oleh orang yang diajak, melainkan juga orang yang bicara atau penuturnya. Dengan kata lain tindakan dilakukan oleh kita (Ramlan, 2005 : 42).
Di samping ditandai oleh pola intonasi suruh, kalimat ini ditandai juga oleh adanya kata-kata ajakan, ialah mari dan ayo yang diletakkan di awal kalimat. Partikel lah dapat ditambahkan pada kedua kata itu menjadi marilah dan ayolah. Misalnya :
(22) Mari kita berangkat sekarang!
(23) Marilah belajar ke perpustakaan pusat!
(24) Ayo kita bermain sepak bola!
(25) Ayolah duduk di depan!
d. Kalimat Larangan
Di samping ditandai oleh pola intonasi suruh, kalimat larangan ditandai juga oleh adanya kata jangan di awal kalimat. Partikel lah dapat ditambahkan pada kata tersebut untuk memperhalus larangan. Misalnya :
(26) Jangan engkau membaca buku itu!
(27) Janganlah engkau berangkat sendiri!
(28) Jangan suka menyakiti hati orang!
(29) Jangan dibawa pulang buku itu!
1.6.1.3 Kalimat Interogatif
Kalimat interogatif, yang juga dikenal dengan nama kalimat tanya, secara formal ditandai oleh kehadiran kata tanya seperti apa, siapa, kenapa, kapan, dan bagaimana dengan atau tanpa partikel-kah sebagai penegas. Kalimat interogatif diakhiri dengan tanda tanya (?) pada bahasa tulis dan pada bahasa lisan dengan suara naik, terutama jika tidak ada kata tanya atau suara turun. Bentuk kalimat interogatif biasanya digunakan untuk meminta (1) jawaban “ ya” atau “ tidak” atau (2) informasi
mengenai sesuatu atau seseorang lawan bicara atau pembaca (Alwi dkk, 2010 :366- 370).
Ada empat cara untuk membentuk kalimat interogatif dari kalimat deklaratif (1) dengan menambahkan partikel penanya apa, yang harus dibedakan dan kata tanya apa, (2) dengan membalikkan susunan kata, (3) dengan menggunakan kata bukan (kah) atau tidak (kah), dan (4) dengan mengubah intonasi menjadi naik. Kalimat deklaratif dengan bentuk apapun (aktif, pasif, ekatransitif, dwitransitif, dan sebagainya) dapat diubah menjadi kalimat tanya dengan menambahkan partikel apa pada kalimat tersebut. Partikel-kah dapat ditambahkan pada partikel penanya itu untuk mempertegas pertanyaan itu. Intonasi yang dipakai dapat sama dengan intonasi kalimat berita. Perhatikan contoh berikut.
(30) a. Dia istri Pak Bambang.
b. Apa dia istri Pak Bambang?
(31) a. Pemerintah akan memungut pajak deposito.
b. Apa pemerintah akan memungut pajak deposito?
(32) a. Suaminya ditangkap minggu lalu.
b. Apakah suaminya ditangkap minggu lalu?
(33) a. Perbuatannya ketahuan istrinya.
b. Apakah perbuatannya ketahuan istrinya?
Semua kalimat (b) dalam contoh (30-33) memerlukan jawaban “ya” atau
“tidak”. Demikian pula dengan contoh-contoh yang berikut. Cara kedua untuk membentuk kalimat tanya adalah dengan mengubah urutan kata dari kalimat deklaratif. Ada beberapa kaidah yang perlu diperhatikan dalam hal ini.
a. Jika dalam kalimat deklaratif terdapat kata seperti dapat, bisa, harus, sudah,dan mau kata itu dapat dipindahkan ke awal kalimat dan ditambah partikel-kah. Perhatikan contoh berikut.
(34) a. Dia dapat pergi sekarang.
b. Dapatkah dia pergi sekarang?
(35) a. Narti harus segera kawin.
b. Haruskah Narti segera kawin?
(36) a. Dia sudah selesai kuliahnya.
b. Sudahkah dia selesai kuliahnya?
Bentuk seperti sedang, akan, dan telah umumnya tidak dipakai dalam kalimat seperti ini.
b. Dalam kalimat yang predikatnya nomina atau adjektiva, urutan subjek dan predikatnya dapat dibalikkan dan kemudian partikel-kah ditambahkan pada frasa yang telah dipindahkan ke muka. Perhatikan contoh berikut.
(37) a. Masalah ini urusan Pak Ali.
b. Urusan Pak Alikah masalah ini?
(38) a. Linda pacar Rudy.
b. Pacar Rudykah Linda?
(39) a. Ayahnya sedang sakit.
b. Sedang sakitkah ayahnya ? (40) a. Anaknya malas.
b. Malaskah anaknya?
c. Jika predikat kalimat adalah verba taktransitif, ekatransitif atau semitransitif, verba beserta objek atau pelengkapnya dapat dipindahkan ke awal kalimat dan kemudian ditambah partikel-kah. Perhatikan contoh berikut :
(41) a. Dia menangis kemarin.
b. Menangiskah dia kemarin?
(42) a. Mereka bekerja di pabrik roti.
b. Bekerjakah mereka di pabrik roti?
(43) a. Dia mencuri uang itu.
b. Mencuri uang itukah dia?
(44) a. Orang itu membunuh adiknya.
b. Membunuh adiknyakah orang itu?
Perlu dicatat di sini bahwa meskipun kalimat-kalimat di atas terdapat dalam bahasa kita, kalimat yang berobjek dan berpelengkap seperti ini lebih umum diubah menjadi kalimat tanya dengan memakai partikel apa(kah): Apa (kah) dia mencuri uang itu?
Cara ketiga untuk membentuk kalimat interogatif adalah dengan menempatkan kata bukan/bukankah, (apa/atau) belum atau tidak. Perhatikan cara pemakaian kata kata itu pada contoh berikut.
(45) a. Dia sakit.
b. Dia sakit ,bukan?
c. Bukankah dia sakit?
(46) a. Atma Jaya sudah mulai kuliahnya.
b. Atma Jaya sudah mulai kuliahnya, bukan?
c. Bukankah Atma Jaya sudah mulai kuliahnya?
(47) a. Para anggota tidak setuju.
b. Para anggota tidak setuju, bukan?
c. Bukankah para anggota tidak setuju?
(48) a. Para peserta sudah datang.
b. Para peserta sudah datang, (apa/ atau) tidak?
(49) a. Rahasianya sudah ketahuan.
b. Rahasianya sudah ketahuan, (apa/ atau) belum?
(50) a. Kamu mengerti soal ini.
b. Kamu mengerti soal ini, (apa/ atau) tidak?
(51) a. Paket ini akan dikirim.
b. Paket ini akan dikirim, (apa/ atau) tidak?
Pada contoh di atas tampak bahwa kata-kata bukan, dan tidak ditempatkan di akhir kalimat dan didahului oleh koma. Kata belum dan tidak dapat didahului apa atau atau. Sementara itu, tampak bahwa kata bukankah seperti pada (45c), (46c), dan (47c) selalu ada di awal kalimat. Kalimat yang diakhiri dengan kata ingkar bukan, belum, atau tidak dinamakan kalimat interogatif embelan.
Cara keempat yang dipakai untuk membentuk kalimat interogatif adalah dengan mempertahankan urutan kalimatnya seperti urutan kalimat deklaratif, tetapi dengan intonasi yang berbeda, yakni intonasi yang naik. Urutan kata dalam contoh yang berikut adalah urutan kalimat deklaratif, tetapi, jika diucapkan dengan intonasi yang naik, maka berubahlah menjadi kalimat interogatif.
(52) Jawabannya sudah diterima?
(53) Dia jadi pergi ke Medan?
(54) Penjahat itu belum tertangkap?
Cara terakhir untuk membentuk kalimat interogatif adalah dengan memakai kata tanya seperti apa, berapa, siapa, kapan, dan mengapa. Sebagian besar dari kata tanya itu dapat menanyakan unsur takwajib dalam kalimat seperti pada (55) dan (56), Sebagian lain menanyakan unsur takwajib seperti pada (57) dan (58) jawaban atas berbagai pertanyaan itu bukan “ya” atau “tidak”.
(55) a. Dia mencari Pak Achmad.
b. Dia mencari siapa?
(56) a. Pak Tarigan membaca buku.
b. Pak Tarigan membaca apa?
(57) a. Minggu depan mereka akan berangkat ke Amerika.
b. Kapan mereka akan berangkat ke Amerika?
(58) a. Keluarga Daryanto akan pindah ke Surabaya.
b. Keluarga Daryanto akan pindah ke mana?
(59) a. Dia menceritakan masalah itu dengan baik.
b. Bagaimana dia memecahkan masalah itu?
Letak sebagian besar kata tanya itu dapat berpindah tanpa mengakibatkan perubahan apapun. Dengan demikian, kalimat keluarga Daryanto akan pindah ke mana? dapat diubah menjadi kemana keluarga Daryanto akan pindah? dan seterusnya. Sebagian yang lain, seperti bagaimana mempunyai letak yang tegar, yakni di awal kalimat. Jadi kalimat, (59b) tidak dapat diubah menjadi *Dia memecahkan masalah itu bagaimana?. Kalimat interogatif yang memakai kata tanya siapa atau apa yang juga menggantikan unsur wajib dalam kalimat mengakibatkan perubahan struktur kalimat jika dipindahkan ke bagian depan. Perhatikan kembali kalimat (55b) dan (56b) di atas. Jika siapa dan apa kita pindahkan ke depan, seluruh konstruksi kalimat berubah.
(60) a. Dia mencari siapa?
b. Siapa yang dicari?
(61) a. Pak Tarigan membaca apa?
b. Apa yang dibaca Pak Tarigan?
Penempatan siapa dan apa di awal kalimat mengakibatkan dua hal : (1) kata sambung relatif yang harus muncul dan (2) kalimat sesudah kata sambung itu harus
dalam bentuk pasif. Sebagai akibat perpindahan itu, urutannya menjadi predikat dan subjek seperti terlihat pada diagram berikut.
Siapa yang dia cari?
P S
Apa yang sedang dibaca Pak Ton?
P S
Kata tanya siapa dan apa pada contoh diatas menggantikan objek kalimat yang kemudian dipindahkan ke depan. Ada pula pemakaian lain dari kedua nkata itu, yakni untuk menggantgikan subjek kalimat. Perhatikan contoh berikut.
(62) a. Icuk memenangi pertandingan itu.
b. Siapa yang memenangi pertandingan itu?
(63) a. Topan Susie menghancurkan desa mereka.
b. Apa yang menghancurkan desa mereka?
Pada contoh (b) di atas, siapa dan apa masing-masing menggantikan subjek Icuk dan topan Susie. Akan tetapi dari contoh di atas tampak pula bahwa kata sambung yang umumnya juga harus muncul. Perlu dicatat pula bahwa apa dan siapa dalam kalimat (62b) dan (63b) itu menjadi predikat, sedangkan sisa kalimat menjadi subjek.
Perlu dicatat pula bahwa jika kalimat interogatif dijadikan bagian dari kalimat deklaratif, kalimat interogatif itu kehilangan sifat keinterogatifnya sehingga tanda baca yang dipakai pun adalah tanda titik, dan bukan tanda tanya. Perhatikan contoh berikut.
(64) Saya tidak tahu kapan mereka akan berangkat.
(65) Kami mengerti bagaimana perasaan dia.
(66) Pak Menteri tidak peduli apa anda setuju atau tidak.
1.6.1.4 Kalimat Eksklamatif
Kalimat eksklamatif yang juga dikenal dengan nama kalimat seru, secara formal ditandai oleh kata alangkah, betapa, atau bukan main pada kalimat berpredikat adjektiva. Kalimat eksklamatif ini, yang juga dinamakan kalimat interjeksi bisa digunakan untuk menyatakan perasaan kagum dan heran (Alwi dkk, 2010 : 370-371).
Cara pembentukkan kalimat eksklamatif dari kalimat deklaratif mengikuti langkah sebagai berikut.
a. Balikkan urutan unsur kalimat dari S-P menjadi P-S.
b. Tambahkan partikel-nya pada (adjektiva) P.
c. Tambahkan kata (seru) alangkah, bukan main, atau betapa di muka P jika dianggap perlu.
Dengan menerapkan kaidah di atas, kita dapat membuat kalimat eksklamatif dari kalimat deklaratif seperti pada contoh berikut.
(67) a. pergaulan mereka bebas
b. i. *Bebas pergaulan mereka (kaidah a) ii. Bebasnya pergaulan mereka! (kaidah b) iii. Alangkah bebasnya pergaulan mereka! (kaidah c)
Bukan main bebasnya pergaulan mereka!
Betapa bebasnya pergaulan mereka!
Dengan cara yang sama, kita dapat memperoleh kalimat eksklamatif (b) dari kalimat deklaratif (a) pada contoh-contoh berikut.
(68) a. Pandangannya revolusioner.
b.(Alangkah/Bukan main/ Betapa) revolusioner pandangannya!
(69) a. Anak itu memang bodoh.
b. (Alangkah/Bukan main/ Betapa) bodohnya anak itu!
1.6.2 Fungsi Kalimat Imperatif
Menurut Aarts dan Aarts (1982: 95), fungsi kalimat imperatif dibagi menjadi tiga fungsi, yaitu memerintah, mengundang, dan melarang.
1.6.2.1 Memerintah
Fungsi kalimat yang mengandung maksud memerintah atau meminta, dimana penutur meminta mitra tutur agar mitra melakukan sesuatu sebagaimana diinginkan penutur. Kalimat ini mengandung kata kerja imperative mood. Mood yaitu mengekspresikan dengan sebuah perintah secara langsung kepada seseorang atau beberapa orang (Aarts dan Aarts, 1982: 95). Misalnya :
(70) Ambilah buku itu!
(71) Pergilah dari sini!
(72) Carilah baju itu!
(73) Makanlah makanan itu!
1.6.2.2 Mengundang
Fungsi dari kalimat mengundang dipakai sebagai tuturan yang dimaksudkan untuk meminta seseorang mengikuti sang penutur atau berniat agar seseorang bisa memenuhi undangan yang dimaksudkan. Misalnya :
(74) Ayo kita pergi bermain!
(75) Mari ikut saya!
(76) Ayolah kita pergi!
(77) Mari kita pergi tidur!
1.6.2.3 Melarang
Fungsi kalimat melarang adalah sang penutur melontarkan kalimat tersebut dengan maksud agar seseorang bisa waspada atas situasi yang akan terjadi selanjutnya. Lebih tepatnya adalah agar apa yang telah dikatakan oleh penutur sebaiknya didengar agar hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi. Misalnya :
(78) Jangan merokok!
(79) Jangan membuang sampah sembarangan!
(80) Jangan ribut!
(81) Jangan menginjak rumput itu!
1.7 Metode Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Menurut Bogman dan Taylordijelaskan bahwa metode kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang- orang atau perilaku yang dapat diamati (Moleong, 2007 : 4). Penelitian ini melalui tiga tahap yaitu, pengumpulan data, tahap analisis data, dan tahap penyajian data.
Berikut penjelasannya.
1.7.1 Metode Pengumpulan data
Objek dari penelitian ini adalah kalimat imperatif dalam novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer. Sumber data dalam penelitian adalah novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah tuturan yang berkaitan dengan perintah. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak atau metode observasi. Metode simak adalah metode dengan cara mengumpulkan data bahasa dengan mendengarkan
atau membaca penggunaan bahasa. Metode observasi dapat digunakan untuk mengumpulkan data bahasa lisan dan data bahasa tulis (Sudaryanto dalam Kesuma, 2015: 15).
1.7.2 Metode Analisis Data
Langkah kedua adalah menganalisis data. Data yang sudah dikumpulkan kemudian dibagi menurut jenis dan fungsinya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode padan. Metode padan adalah metode yang alat penentunya di luar terlepas dan tidak menjadi bagian dari bahasa (langue) yang bersangkutan (Sudaryanto, 2015 :15). Jenis metode yang digunakan adalah metode padan pragmatis. Metode padan pragmatis adalah metode yang alat penentunya lawan atau mitra wicara. Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi, misalnya kebahasaan menurut reaksi atau akibat yang terjadi atau timbul pada lawan atau mitra wicaranya. Ketika satu kebahasaan itu dituturkan oleh pembicara (Kesuma, 2007 : 49).
Langkah-langkah yang dilakukan penulis dalam menganalisis adalah sebagai berikut. (1) membaca novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer secara keseluruhan, (2) menandai data yang tergolong sesuai dengan jenis dan fungsi kalimat imperatif, (3) mendeskripsikan tindak tutur yang dituturkan oleh tokoh dalam novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer, (4) menarik kesimpulan dari analisis yang dilakukan mengenai jenis dan fungsi kalimat imperatif, dan (5) memberikan saran.
1.7.3 Metode Penyajian Hasil Analisis Data
Setelah tahap menganalisis data, selanjutnya adalah tahap penyajian hasil analisis. Metode penyajian hasil analisis data yang digunakan dalam penulisan ini secara informal, yaitu penyajian dengan menggunakan kata-kata biasa. Dalam penyajian ini berupa kutipan dialog dalam novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer dengan menggunakan kata-kata biasa, kata-kata yang apabila dibaca dan dapat langsung mudah dipahami.
1.8 Sistematika Penyajian
Tugas akhir ini terdiri atas empat bab berikut akan diuraikan satu persatu.
Dalam Bab I diuraikan latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat hasil penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, dan metode penelitian.
Dalam Bab II diuraikan tentang jenis-jenis kalimat suruh dalam novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer.
Dalam Bab III ini diuraikan tentang fungsi kalimat suruh dalam novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer.
Dalam Bab IV berisi kesimpulan dan saran dari hasil penelitian.
25 BAB II
JENIS KALIMAT IMPERATIF DALAM NOVEL GADIS PANTAI KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER
2.1 Pengantar
Pada bab ini dibahas jenis-jenis kalimat imperatif dalam novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer. Berdasarkan hasil analisis data, ditemukan empat jenis kalimat imperatif dalam novel tersebut, yaitu kalimat perintah sebenarnya, kalimat persilahan, kalimat ajakan, dan kalimat larangan. Berikut analisis kalimat imperatif dalam novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer.
2.2 Kalimat Perintah
Kalimat perintah adalah kalimat yang secara konvensional mengharapkan tanggapan berupa tindakan yang dilakukan oleh mitra tutur (Alwi dkk., 2008: 353).
Kalimat ini ditandai dengan intonasi suruh. Apabila P-nya terdiri dari kata verbal intransitif bentuk verbal itu tetap hanya partikel lah dapat ditambahkan pada kata verbal untuk menghaluskan perintah. S-nya yang berupa persona orang kedua boleh dibuangkan boleh juga tidak (Ramlan, 2005 : 40). Berikut penemuan kalimat perintah dalam novel Gadis Pantai:
(82) Ambilah ini buat mak (Gadis Pantai,13).
(83) Tanyailah Bendoro rotinya apa pakai lapis coklat, gula kembang selai…. (Gadis Pantai, 42).
(84) Katakanlah pada Mas Nganten (Gadis Pantai, 44).
(85) Pergilah. Adukan sekarang juga (Gadis Pantai, 148).
(86) Lihatlah kuda sahaya, bendoro putri (Gadis Pantai, 146) (87) Tidurlah, tidur (Gadis Pantai, 139)
(88) Baik-baik, carilah hakim itu, biar dia adili kau sendiri (Gadis Pantai, 114).
(89) Makanlah, Mas Nganten! (Gadis Pantai, 46).
(90) Jadi pergilah dari sini. Yang aku butuhkan hanya pelayan (Gadis Pantai, 128).
(91) Keluar! (Gadis Pantai, 127).
(92) Ambilah kalau suka (Gadis Pantai, 52).
(93) Antarkan! (Gadis Pantai,28)
Kalimat (82) termasuk dalam kalimat perintah karena berintonasi suruh mengharapkan tanggapan berupa tindakan mitra tutur, yaitu mengambil. Intonasi suruh ditandai dengan adanya tanda seru (!) pada akhir kalimat. Adapun S yang berupa persona kedua dalam kalimat tersebut tidak ditambahkan dan partikel–lah dalam kata ambillah digunakan untuk memperhalus perintah.
Kalimat (83) termasuk kalimat perintah karena berintonasi suruh mengharapkan tanggapan berupa tindakan mitra tutur, yaitu menanyai. Intonasi suruh ditandai dengan adanya tanda seru (!) pada akhir kalimat. Adapun S yang berupa persona kedua dalam kalimat tersebut tidak ditambahkan dan partikel–lah dalam kata tanyailah digunakan untuk memperhalus perintah.
Kalimat (84) termasuk kalimat perintah karena berintonasi suruh mengharapkan tanggapan berupa tindakan mitra tutur, yaitu mengatakan. Intonasi suruh ditandai dengan adanya tanda seru (!) pada akhir kalimat. Adapun S yang berupa persona kedua dalam kalimat tersebut tidak ditampilkan dan partikel–lah dalam kata katakanlah digunakan untuk memperhalus perintah.
Kalimat (85) termasuk kalimat perintah karena berintonasi suruh mengharapkan tanggapan berupa tindakan mitra tutur, yaitu pergi. Intonasi suruh ditandai dengan adanya tanda seru (!) pada akhir kalimat. Adapun S yang berupa
persona kedua dalam kalimat tersebut tidak ditampilkan dan partikel-lah dalam kata pergilah digunakan untuk memperhalus perintah.
Kalimat (86) termasuk kalimat perintah karena berintonasi suruh mengharapkan tanggapan berupa tindakan mitra tutur, yaitu lihat. Intonasi suruh ditandai dengan adanya tanda seru (!) pada akhir kalimat. Adapun S yang berupa persona kedua dalam kalimat tersebut tidak ditampilkan dan partikel–lah dalam kata lihatlah digunakan untuk memperhalus perintah.
Kalimat (87) adalah termasuk kalimat perintah karena berintonasi suruh mengharapkan tanggapan berupa tindakan mitra tutur, yaitu tidur. Intonasi suruh ditandai dengan adanya tanda seru (!) pada akhir kalimat. Adapun S yang berupa persona kedua dalam kalimat tersebut tidak ditampilkan dan partikel–lah dalam kata tidurlah digunakan untuk memperhalus perintah.
Kalimat (88) adalah kalimat perintah karena berintonasi suruh mengharapkan tanggapan berupa tindakan mitra tutur, yaitu mencari. Intonasi suruh ditandai dengan adanya tanda seru (!) pada akhir kalimat. Adapun S yang berupa persona kedua dalam kalimat tersebut tidak ditampilkan dan partikel–lah dalam kata carilah digunakan untuk memperhalus perintah.
Kalimat (89) adalah kalimat perintah karena berintonasi suruh mengharapkan tanggapan berupa tindakan mitra tutur, yaitu makan. Intonasi suruh ditandai dengan adanya tanda seru (!) pada akhir kalimat. Adapun S yang berupa persona kedua dalam kalimat tersebut tidak ditampilkan dan partikel–lah dalam kata makanlah digunakan untuk memperhalus perintah.
Kalimat (90) adalah kalimat perintah karena berintonasi suruh mengharapkan tanggapan berupa tindakan mitra tutur, yaitu pergi. Intonasi suruh ditandai dengan adanya tanda seru (!) pada akhir kalimat. Adapun S yang berupa persona kedua dalam kalimat tersebut tidak ditampilkan dan partikel–lah dalam kata pergilah digunakan untuk memperhalus perintah.
Kalimat (91) adalah kalimat perintah karena berintonasi suruh mengharapkan tanggapan berupa tindakan mitra tutur, yaitu keluar. Intonasi suruh ditandai dengan adanya tanda seru (!) pada akhir kalimat. Adapun S yang berupa persona kedua dalam kalimat tersebut tidak ditampilkan dan partikel–lah dalam kata pergilah digunakan untuk memperhalus perintah.
Kalimat (92) adalah kalimat perintah karena berintonasi suruh mengharapkan tanggapan berupa tindakan mitra tutur, yaitu mengambil. Intonasi suruh ditandai dengan adanya tanda seru (!) pada akhir kalimat. Adapun S yang berupa persona kedua dalam kalimat tersebut tidak ditampilkan dan partikel–lah dalam kata ambilah digunakan untuk memperhalus perintah.
Kalimat (93) adalah kalimat perintah karena berintonasi suruh mengharapkan tanggapan berupa tindakan mitra tutur, yaitu mengantar. Intonasi suruh ditandai dengan adanya tanda seru (!) pada akhir kalimat. Adapun S yang berupa persona kedua dalam kalimat tersebut tidak ditampilkan dan partikel–lah dalam kata antarkanlah digunakan untuk memperhalus perintah.
2.3 Kalimat Persilahan
Kalimat persilahan selain ditandai dengan pola intonasi suruh juga ditandai oleh penambahan kata silakan yang diletakkan pada awal kalimat. Kalimat persilahan mengharapkan tanggapan berupa tindakan yang dilakukan oleh mitra tutur. Bedanya dengan kalimat imperatif pada bagian sebelumnya, dalam kalimat persilaan penutur memperbolehkan mitra tutur melakukan sesuatu. Artinya, tindakan yang akan dilakukan mitra tutur terjadi setelah penutur mempersilakannya (Ramlan, 2005 : 42).
(94) Silakan minum, silakan, katanya sambil membungkuk kemudian mundur-mundur ke belakang untuk meninggalkan kamar (Gadis Pantai,17).
(95) Silakan naik, Mas Nganten. Dia memang cerdik, cepat benar segarnya kalau tuannya bakal kena tembakau (Gadis Pantai, 148).
(96) Silakan berdiri, Bendoro Putri. Mereka akan antarkan Bendoro Putri.
Ragu-ragu Mardinah berdiri (Gadis Pantai,224).
(97) Silakan pergi Bendoro Putri ! Ayoh silakan pergi ! di semak-semak bakau sana ada tempat (Gadis pantai, 220).
(98) Silakan Bendoro Putri, kalua tak suka pergi, terpaksa sahaya seret keluar (Gadis Pantai, 220).
Kalimat (94) termasuk kalimat persilahan karena ditandai dengan penambahan kata silakan yang terletak di awal kalimat. Penggunaan partikel silakan dalam kalimat menunjukkan maksud memerintah seseorang dengan cara halus dan sopan. Kalimat (94) adalah penutur mempersilakan mitra tutur untuk minum.
Kalimat (95) termasuk kalimat persilahan karena ditandai dengan penambahan kata silakan yang terletak di awal kalimat. Penggunaan partikel silakan dalam kalimat menunjukkan maksud memerintah seseorang dengan cara
halus dan sopan. Kalimat (95) penutur mempersilakan mitra tutur untuk naik ke dokar.
Kalimat (96) termasuk kalimat persilahan karena ditandai dengan penambahan kata silakan yang terletak di awal kalimat. Penggunaan partikel silakan dalam kalimat menunjukkan maksud memerintah seseorang dengan cara halus dan sopan. Kalimat (96) penutur mempersilakan mitra tutur untuk berdiri.
Kalimat (97) termasuk kalimat persilahan ditandai dengan penambahan kata silakan yang terletak di awal kalimat. Penggunaan partikel silakan dalam kalimat menunjukkan maksud memerintah seseorang dengan cara halus dan sopan. Kalimat (97) penutur mempersilakan mitra tutur untuk pergi ke semak-semak bakau untuk bersembunyi.
Kalimat (98) termasuk kalimat persilahan ditandai dengan penambahan kata silakan yang terletak di awal kalimat. Penggunaan partikel silakan dalam kalimat menunjukkan maksud memerintah seseorang dengan cara halus dan sopan.
Kalimat (98) penutur mempersilakan mitra tutur untuk pergi.
2.4 Kalimat Ajakan
Sama halnya dengan kalimat persilahan dan kalimat imperatif, kalimat ajakan ini berdasarkan fungsinya dalam hubungan situasi juga mengharapkan suatu tanggapan yang berupa tindakan hanya perbedaanya tindakan itu di sini bukan hanya dilakukan oleh orang yang diajak, melainkan juga orang yang bicara atau penuturnya. Dengan kata lain tindakan dilakukan oleh kita (Ramlan, 2005: 42).
Berikut temuan kalimat ajakan dalam novel Gadis Pantai.
(99) Mari ke kamar mandi (Gadis Pantai, 73).
(100) Ayoh, kembalikan itu uang! (Gadis Pantai, 112).
(101) Sinilah sebentar, gadis pantai memanggil (Gadis Pantai, 124).
(102) Ayolah, naik ke atas Mas Nganten (Gadis Pantai, 148).
(103) Ayoh nyanyi! (Gadis Pantai, 163).
(104) Ayoh, mari ikut semua. Ayoh, mak sama-sama ikut (Gadis Pantai, 162).
Kalimat (99) termasuk kalimat ajakan karena mengharapkan tanggapan berupa tindakan yang dilakukan penutur bersama mitra tutur, yaitu tindakan pergi ke kamar mandi. Selain itu, kalimat (99) ditandai dengan adanya kata mari pada awal kalimat.
Kalimat (100) termasuk kalimat ajakan karena mengharapkan tanggapan berupa tindakan yang dilakukan penutur bersama mitra tutur, yaitu tindakan mengembalikan uang. Selain itu, kalimat (100) ditandai dengan adanya kata ayoh pada awal kalimat.
Kalimat (101) termasuk kalimat ajakan karena mengharapkan tanggapan berupa tindakan yang dilakukan penutur bersama mitra tutur, yaitu tindakan memanggil. Selain itu, kalimat (101) ditandai dengan adanya kata sinilah pada awal kalimat.
Kalimat (102) termasuk kalimat ajakan karena mengharapkan tanggapan berupa tindakan yang dilakukan penutur bersama mitra tutur, yaitu tindakan pergi ke kamar mandi. Selain itu, kalimat (102) ditandai dengan adanya kata ayohlah pada awal kalimat.
Kalimat (103) termasuk kalimat ajakan karena mengharapkan tanggapan berupa tindakan yang dilakukan penutur bersama mitra tutur, yaitu tindakan menyanyi. Selain itu, kalimat (103) ditandai dengan adanya kata ayoh pada awal kalimat.
Kalimat (104) termasuk kalimat ajakan karena mengharapkan tanggapan berupa tindakan yang dilakukan penutur bersama mitra tutur, yaitu tindakan pergi ke kamar mandi. Selain itu, kalimat (104) ditandai dengan adanya kata ayoh pada awal kalimat.
2.1.4 Kalimat Larangan
Di samping ditandai oleh pola intonasi suruh, kalimat perintah ditandai juga oleh adanya kata jangan di awal kalimat. Partikel lah dapat ditambahkan pada kata tersebut untuk memperhalus larangan. Berikut penemuan kalimat larangan dalam novel Gadis Pantai :
(105) Jangan main bola Haram! Haram! (Gadis Pantai, 21).
(106) Jangan aku ditinggal emak (Gadis Pantai, 23).
(107) Jangan buru-buru pergi (Gadis Pantai, 121)
(108) Jangan buat bising! Kembali kau ke kamarmu sendiri (Gadis Pantai, 120).
(109) Janganlah siksa sahaya ini, Mas Nganten (Gadis Pantai, 97).
(110) Jangan mempergunakan sahaya itu mBok (Gadis Pantai, 45).
(111) Jangan panggil begitu, kau bukan bocah lagi (Gadis Pantai, 67).
(112) Jangan biarkan sahaya seorang diri Mas Nganten (Gadis Pantai, 156).
(113) Jangan pikirkan orang lelaki, mas nganten biarpun bapak sendiri (Gadis Pantai, 65)
(114) Jangan ulangi lagi mas nganten (Gadis Pantai, 66).
(115) Jangan lagi ke dapur mas nganten (Gadis Pantai, 70).
(116) Jangan gusar padaku, mbok. Aku hanya bertanya (Gadis Pantai, 86).
(117) Jangan teruskan bicara dengannya. Aku adukan pada bendoro (Gadis Pantai, 143)
(118) Jangan dengan sabun (Gadis Pantai, 173).
(119) Jangan kuatir tak ada bajak semalam (Gadis Pantai, 173).
(120) Jangan menyindir (Gadis Pantai, 177).
(121) Jangan pikir-pikir seperti itu, Mas Nganten itu syirik!
(Gadis Pantai, 95)
(122) Gus, jangan susahkan Mas Nganten (Gadis Pantai, 111).
(123) Jangan ikut masak Bendoro Putri (Gadis Pantai, 169).
(124) Jangan kasari dia (Gadis Pantai, 196).
(125) Jangan, jangan datangkan polisi ke mari (Gadis Pantai, 208).
(126) Jangan apa-apakan si Dul itu (Gadis Pantai, 204).
(127) Ya, jangan lupa kudanya (Gadis Pantai, 205).
(128) Janganlah begitu keras kepadaku (Gadis Pantai, 219).
(129) Jangan pergi dulu, pijiti aku. Bukan di bawah, tengkuk-ku saja (Gadis Pantai, 245).
(130) Jangan tinggalkan dulu aku (Gadis Pantai, 246).
Kalimat (105) termasuk kalimat larangan karena ditandai pola intonasi suruh ditandai dengan tanda /!/ dan menggunakan kata jangan di awal kalimat.
Partikel-lah juga dapat ditambahkan menjadi, Jangan-lah main bola Haram!
Haram!. Dalam kalimat (105) penutur melarang mitra tutur untuk bermain bola karena haram.
Kalimat (106) termasuk kalimat larangan karena ditandai pola intonasi suruh ditandai dengan tanda /!/ dan menggunakan kata jangan di awal kalimat.
Partikel-lah juga dapat ditambahkan menjadi, Jangan-lah aku ditinggal emak.
Dalam kalimat (106) penutur melarang mitra tutur untuk meninggalkan penutur.
Kalimat (107) termasuk kalimat larangan karena ditandai pola intonasi suruh ditandai dengan tanda /!/ dan menggunakan kata jangan di awal kalimat.
Partikel-lah juga dapat ditambahkan menjadi, Jangan-lah buru-buru pergi. Dalam kalimat (107) penutur melarang mitra tutur untuk tidak buru-buru pergi.
Kalimat (108) termasuk kalimat larangan karena ditandai pola intonasi suruh ditandai dengan tanda /!/ dan menggunakan kata jangan di awal kalimat.
Partikel-lah juga dapat ditambahkan menjadi, Jangan-lah buat bising! Kembali kau ke kamarmu sendiri. Dalam kalimat (108) penutur melarang mitra tutur untuk tidak bising.
Kalimat (109) termasuk kalimat larangan karena ditandai pola intonasi suruh ditandai dengan tanda /!/ dan menggunakan kata jangan di awal kalimat.
Partikel-lah juga dapat ditambahkan menjadi, Jangan-lah siksa sahaya ini, Mas Nganten. Dalam kalimat (109) penutur melarang mitra tutur untuk tidak menyiksanya.
Kalimat (110) termasuk kalimat larangan karena ditandai pola intonasi suruh ditandai dengan tanda /!/ dan menggunakan kata jangan di awal kalimat.
Partikel-lah juga dapat ditambahkan menjadi, Jangan-lah mempergunakan sahaya itu mBok. Dalam kalimat (110) penutur melarang untuk tidak menggunakan alasan untuk membantu.
Kalimat (111) termasuk kalimat larangan karena ditandai pola intonasi suruh ditandai dengan tanda /!/ dan menggunakan kata jangan di awal kalimat.
Partikel-lah juga dapat ditambahkan menjadi, Jangan-lah panggil begitu, kau bukan bocah lagi. Dalam kalimat (111) penutur melarang mitra tutur untuk memanggil kata emak karena mitra tutur sudah besar.
Kalimat (112) termasuk kalimat larangan karena ditandai pola intonasi suruh ditandai dengan tanda /!/ dan menggunakan kata jangan di awal kalimat.
Partikel-lah juga dapat ditambahkan menjadi, Jangan-lah biarkan sahaya seorang
diri Mas Nganten. Dalam kalimat (112) penutur melarang mitra tutur untuk meninggalkan mitra tutur sendirian.
Kalimat (113) termasuk kalimat larangan karena ditandai pola intonasi suruh ditandai dengan tanda /!/ dan menggunakan kata jangan di awal kalimat.
Partikel-lah juga dapat ditambahkan menjadi, Jangan pikirkan orang lelaki, mas nganten biarpun bapak sendiri. Lelaki tahu bahwa diri, biarpun neraka. Dalam kalimat (113) penutur melarang mitra tutur untuk tidak memikirkan laki-laki.
Kalimat (114) termasuk kalimat larangan karena ditandai pola intonasi suruh ditandai dengan tanda /!/ dan menggunakan kata jangan di awal kalimat.
Partikel-lah juga dapat ditambahkan menjadi, Jangan-lah ulangi lagi mas nganten.
Dalam kalimat (114) penutur melarang mitra tutur untuk tidak mengulangi.
Kalimat (115) termasuk kalimat larangan karena ditandai pola intonasi suruh ditandai dengan tanda /!/ dan menggunakan kata jangan di awal kalimat.
Partikel-lah juga dapat ditambahkan menjadi, Jangan-lah lagi ke dapur mas nganten. Dalam kalimat (115) penutur melarang mitra tutur untuk pergi ke dapur.
Kalimat (116) termasuk kalimat larangan karena ditandai pola intonasi suruh ditandai dengan tanda /!/ dan menggunakan kata jangan di awal kalimat.
Partikel-lah juga dapat ditambahkan menjadi, Jangan-lah gusar padaku, mbok. Aku hanya bertanya. Dalam kalimat (116) penutur melarang mitra tutur untuk tidak marah.
Kalimat (117) termasuk kalimat larangan karena ditandai pola intonasi suruh ditandai dengan tanda /!/ dan menggunakan kata jangan di awal kalimat.
Partikel-lah juga dapat ditambahkan menjadi, Jangan-lah teruskan bicara
dengannya. Aku adukan pada bendoro. Dalam kalimat (117) penutur melarang mitra tutur untuk tidak meneruskan bicaranya.
Kalimat (118) termasuk kalimat larangan karena ditandai pola intonasi suruh ditandai dengan tanda /!/ dan menggunakan kata jangan di awal kalimat.
Partikel-lah juga dapat ditambahkan menjadi, Jangan-lah dengan sabun. Dalam kalimat (118) penutur melarang mitra tutur mandi menggunakan sabun karena tidak mudah terbasuh.
Kalimat (119) termasuk kalimat larangan karena ditandai pola intonasi suruh ditandai dengan tanda /!/ dan menggunakan kata jangan di awal kalimat.
Partikel-lah juga dapat ditambahkan menjadi, Jangan-lah kuatir tak ada bajak semalam. Dalam kalimat (119) penutur melarang mitra tutur untuk tidak kuatir.
Kalimat (120) termasuk kalimat larangan karena ditandai pola intonasi suruh ditandai dengan tanda /!/ dan menggunakan kata jangan di awal kalimat.
Partikel-lah juga dapat ditambahkan menjadi, Jangan-lah menyindir. Dalam kalimat (120) penutur melarang mitra tutur untuk menyindir.
Kalimat (121) termasuk kalimat larangan karena ditandai pola intonasi suruh ditandai dengan tanda /!/ dan menggunakan kata jangan di awal kalimat.
Partikel-lah juga dapat ditambahkan menjadi, Jangan-lah pikir-pikir seperti itu, mas ganten itu syirik!. Dalam kalimat (121) penutur melarang mitra tutur untuk tidak berpikir yang tidak-tidak.
Kalimat (122) termasuk kalimat larangan karena ditandai pola intonasi suruh ditandai dengan tanda /!/ dan menggunakan kata jangan di awal kalimat.
Partikel-lah juga dapat ditambahkan menjadi, Gus, jangan-lah susahkan Mas
Nganten. Dalam kalimat (122) penutur melarang mitra tutur untuk menyusahkan penutur.
Kalimat (123) termasuk kalimat larangan karena ditandai pola intonasi suruh ditandai dengan tanda /!/ dan menggunakan kata jangan di awal kalimat.
Partikel-lah juga dapat ditambahkan menjadi, Jangan-lah ikut masak Bendoro Putri. Dalam kalimat (123) penutur melarang mitra tutur untuk tidak ikut masak.
Kalimat (124) termasuk kalimat larangan karena ditandai pola intonasi suruh ditandai dengan tanda /!/ dan menggunakan kata jangan di awal kalimat.
Partikel-lah juga dapat ditambahkan menjadi, Jangan-lah kasari dia. Dalam kalimat (124) penutur melarang mitra tutur untuk tidak berbuat kasar kepadanya.
Kalimat (125) termasuk kalimat larangan karena ditandai pola intonasi suruh ditandai dengan tanda /!/ dan menggunakan kata jangan di awal kalimat.
Partikel-lah juga dapat ditambahkan menjadi, Jangan-lah, jangan datangkan polisi ke mari. Dalam kalimat (125) penutur melarang mitra tutur untuk tidak datangkan polisi.
Kalimat (126) termasuk kalimat larangan karena ditandai pola intonasi suruh ditandai dengan tanda /!/ dan menggunakan kata jangan di awal kalimat.
Partikel-lah juga dapat ditambahkan menjadi, Jangan-lah apa-apakan si Dul itu.
Dalam kalimat (126) penutur melarang mitra tutur untuk tidak mengapa-apakan Dul.
Kalimat (127) termasuk kalimat larangan karena ditandai pola intonasi suruh ditandai dengan tanda /!/ dan menggunakan kata jangan di awal kalimat.
Partikel-lah juga dapat ditambahkan menjadi, Ya, Jangan-lah lupa kudanya. Dalam kalimat (127) penutur melarang mitra tutur untuk tidak lupa dengan kudanya.
Kalimat (128) termasuk kalimat larangan karena ditandai pola intonasi suruh ditandai dengan tanda /!/ dan menggunakan kata jangan di awal kalimat.
Partikel-lah juga dapat ditambahkan menjadi, Jangan-lah begitu keras kepadaku.
Dalam kalimat (128) penutur menyuruh mitra tutur untuk tidak membantah penutur.
Kalimat (129) termasuk kalimat larangan karena ditandai pola intonasi suruh ditandai dengan tanda /!/ dan menggunakan kata jangan di awal kalimat.
Partikel-lah juga dapat ditambahkan menjadi, Jangan-lah pergi dulu, pijiti aku.
Bukan di bawah, tengkuku saja. Dalam kalimat (129) penutur melarang mitra tutur untuk pergi.
Kalimat (130) termasuk kalimat larangan karena ditandai pola intonasi suruh ditandai dengan tanda /!/ dan menggunakan kata jangan di awal kalimat.
Partikel-lah juga dapat ditambahkan menjadi, Jangan-lah tinggalkan dulu aku.
Dalam kalimat (130) penutur melarang mitra tutur untuk meninggalkan penutur.
Dari penelitian di atas, penulis melihat bahwa novel Gadis Pantai secara gamblang menampilkan penggunaan kalimat perintah, persilahan, ajakan, dan larangan dalam novelnya. Penggunaan keempat jenis kalimat ini tersebar dalam seluruh narasi kisah novel ini. Keempat jenis kalimat ini digunakan dengan maksud atau tujuannya, sebagaimana yang terdapat dalam setiap analisis yang dipaparkan dalam analisis di atas. Setiap bentuk kalimat perintah, persilahan, ajakan, larangan berfungsi untuk mengajak pendengar atau mitra tutur melakukan perintah yang
dikatakan oleh penutur. Sementara itu, analisis di atas bertujuan untuk membantu kita dalam mengklasifikasi jenis-jenis kalimat imperatif dan fungsinya, khususnya dalam novel.