• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESETARAAN GENDER PADA MANUSIA PEMBELAJAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KESETARAAN GENDER PADA MANUSIA PEMBELAJAR"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

KESETARAAN GENDER PADA MANUSIA PEMBELAJAR

Oleh : Rani Setyo Mintari, M.Pd

(Widyaiswara Muda pada Balai Diklat Keagamaan Surabaya)

Abstrak

Era tahun 1990-an sering disebut oleh banyak kalangan sebagai era wanita dalam kepemimipinan, meski diyakini pada skala dunia, negara daerah, dan lembagapun lebih banyak pria ketimbang wanita yang menduduki posisi semacam itu. Di Indonesia, kaum wanita pun mendapat perhatian atau perlakuan khusus secara istimewa. Masalah- masalah kepemimpinan dalam lembaga banyak dipersoalkan, karena pemimipin lembaga menampilkan banyak peran dan fungsi, seperti pembuat keputusan, koordinator, inovator, evaluator, dinamisator, wakil lembaga, figur, penanda tangan kontrak kerja, dan sebagainya.

Bukankah kita mempunyai menteri yang khusus menangani pemberdayaan wanita? Akan tetapi, tidak ada jabatan setingkat itu yang menangani masalah pemberdayaan pria.

Posisi wanita Indonesia masih perlu diangkat dan diperdayakan dalam upaya pengidentitasan terhadap wanita. Pendidentitasan pada aspek gender, misalnya ditandai dengan gerakan wanita, feminisasi kerja, globalisasi, perubahan hubungan keluarga, Institusi pendidikan dan organisasai pembelajaran. kepribadian manusia itu unik adanya. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi secara cepat mengalami transformasi pada jalan tempat kita hidup dan belajar.

Fenomena ini menuntut sebuah lembaga atau institusi pendidikan menjadi organisasi pembelajar dan manusia di dalamnya menjadi manusia pembelajar sejati. Munculnya gugus belajar guru, dosen, widyaiswara, staf, siswa , orang tua dan manusia pada jaring- jaring kemasyarakatan sebagai manusia pembelajar menjadi cerminan utama manusia pembelajar.

Pembentukan gugus – gugus belajar (learning circles) menjadikan aktivitas belajar akan menjadi kebutuhan utama. Bukan tidak mungkin kebutuhan belajar sudah menjadi selayaknya orang yang lapar terdorong untuk makan dan orang yang haus terdorong untuk minum.

Kata Kunci : Kesetaraan Gender, Manusia Pembelajar

1. PENDAHULUAN

Hingga kini, gagasan untuk menciptakan kesetaraan gender tampaknya masih menjadi perdebatan, setidaknya pada banyak tempat, termasuk untuk posisi kepemimpinan. Di

(2)

lingkungan pendidikan, seperti halnya pada tatanan sosial lain, masalah gender khususnya di bidang pendidikan awalnya berfokus pada kesenjangan peluang, baik distrukturarkan maupun alami, antara wanita dan pria dalam memasuki pendidikan . Memang ada jenis kegiatan di bidang pendidikan tertentu yang didominasi wanita, namun nyaris tidak pernah dipersoalkan oleh kaum pria. Kini, disparitas gender dalam bidang pendidikan telah merambah pada pergumulan untuk posisi- posisi manajerial, ketenagaan akademis, dan staf administrasif.

Realitas membuktikan, pada umumnya tenaga akademis, orang yang akan menduduki jabatan, memang lebih banyak pria ketimbang wanita. Jadi, munculnya disparitas gender secara posisional di bidang pendidikan di khususkan pada citra gender, harapan, asumsi, devisi pekerjaan, dan emosi. Keinginan untuk mewujudkan kesetaraan gender dalam multisektor kehidupan dan penghidupan, termasuk untuk posisi- posisi manajerial terus mengalami transformasi dan diusahakan untuk didesain ulang, terutama sejak awal abad ke- 20. Inisiatif ke arah itu tidak selalu mulus, karena pengidentitasan gender telah berkarat nyaris sepanjang sejarah umat manusia.

Di banyak negara, juga di Indonesia, memang, profesi yang bersifat feminis atau setidaknya feminisasi profesi telah berlangsung sejak awal abad ke-19, terutama untuk profesi guru, keperawatan, dan usaha- usaha kesejahteraan sosial lain. Usaha- usaha kesejahteraan sosial dimaksud antara lain adalah kelompok pendidikan kesejahteraan keluarga (PKK), pos pelayanan terpadu (Posyandu), dan lain- lain. Dunia birokrasi pun makin dirangsang untuk tumbuh secara profesional, selain pekerjaan mengajar, kepelatihan, dan akademisi, ketika kaum wanita makin dominan di dalamnya.

Keinginan untuk menwujudkan kesetaraan gender ini makin difasilitasi dengan adanya upaya penyeimbangan antara nilai- nilai birokratis dengan nilai- nilai profesional. Nilai- nilai birokratis banyak direferensikan sebagai mengandalkan kekuasaan, prosedur kerja, garis komando, kepatuhan, petunujk teknis, dan lain- lain.Nilai- nilai profesional menonjolkan layanan, hubungan kesetaraan, perampingan organisasi, dan prakarsa dari bawah.

Gelombang perubahan di bidang sosial, politik, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan teknologi saat ini berlangsung amat cepat, yang untuk sebagainya menjelma dalam bentuk sebuah revolusi. Di bidang pembelajaran pun harus terjadi revolusi cara belajar. Revolusi cara belajar didasar atas beberapa asumsi dasar. Pertama, setiap orang adalah guru dan sekaligus murid. Kedua, bagi kebanyakan orang, belajar akan sangat efektif jika dilakukan dalam suasana yang menyenagkan. Ketiga, dengan menciptakan lingkungan baik, anak- anak dari keluarga miskin sekalipun akan berkembang dalam proses belajar mandiri. Keempat, saat terbaik untuk mengembangkan kemampuan belajar adalah sebelum masuk sekolah, karena

(3)

sebagian besar jalur penting di otak dibentuk pada tahun- tahun awal yang penting tersebut.Kelima, pengajar atau pendidik yang cemerlang, kini dapat mengajar jutaan orang melalui komunikasi elektronik interatif, dan meraup banyak uang dari yang mereka sukai.

Keenam, orang dapat belajar dengan baik ketika mereka mau belajar, bukan pada usia yang ditentukan oleh orang lain. Ketujuh, informasi yang kompleks sekalipun dapat diserap dan diingat dengan mudah jika terlibat di dalam proses pembelajaran.

Selain berbasis pada asumsi – asumsi utama tadi, rencana cara belajar didasari atas beberapa kenyakinan utama. Pertama, dunia tengah bergerak cepat melalui titik balik sejarah yang amat menentukan. Kedua, manusia hidup ditengah revolusi yang mengubah cara mereka hidup, berkomunikasi, berpikir, dan mencapai kesejahteraan. Ketiga, revolusi ini akan menentukan cara kita bekerja, mencari nafkah, dan menikmati hidup secara keseluruhan. Keempat, perubahan dari multihal yang awalnya diduga tidak mungkin dilakukan, ternyata hampir semuanya mungkin dilakukan. Kelima, revolusi belajar diperlukan untuk mengimbangi revolusi reformasi, agar semaua orang dapat menikmati keuntungan bersama dari potensi sumber daya manusia yang luar biasa. Keenam, adanya tuntutan agar kita dapat mempelajari segala hal secara lebih cepat dan lebih baik, juga berjalan semakin cepat.

2. PEMBAHASAN

A. Wanita Menuju Karier Eksekutif

Perjalanan para wanita menujun karier eksekutif relatif unik adanya. Wanita memiliki harga diri , daya nalar otak, daya nalar emosional, daya nalar spiritual, dan kemampuan untuk tumbuh dan berkembang. Sungguh pun rerata pria lebih kekar, banyak pula wanita yang energik, memiliki talenta, kemampuan berkomunikasi yang baik, dan daya suai yang tinggi.

Merekapun mampu menjadi agen- agen perubahan, melakukan advokasi, mengelola perbedaan, dan membangun transformasi organisasi. Pria ataupun wanita yang duduk pada posisi eksekutif atau manjer menengah sama- sama mengalami tegangan- tegangan.

Menghadapi fenomena ini, agaknya wanita harus mampu membuka rentang perbedaan

(4)

gender, membangun harapan- harapan dan membentuk persepsi- persepsi baru. Cara yang dapat mereka lakukan adalah menentukan strategi untuk menunjukkan kesejatian eksistensi, seperti :

a. kewibaaan, b. wawasan, c. empati,

d. daya tawar dan lobi, serta

e. dikenal oleh publik, dengan tidak meninggalkan nilai-nilai keibuan sebagai wanita.

Termasuk di dalamnya adalah melakukan pengadopsian terhadap kebijakan organisasi, bertindak dan belajar secara cermat serta melakukan aktivita- aktivitas pengembangan secara lebih inkklusif. Wanita mempunyai peluang besar untuk melakukannya, karena sebagian besar dari mereka memiliki perilaku yang baik dalam pembentukan tim.

B. Wanita Pemimipin Pendidikan

Wanita pemimpin institusi pendidikan, guru, atau tenaga akademis yang profesional bekerja dipandu oleh sifat- sifat profesionalisme. Sebagai tenaga profesional, guru dan tenaga akademis harus mampu menjalani profesionalisasi, di mana hal itu terjadi menjadi indikator keberhasilan kesamaan kesempatan dan kemajuan wanita (equal opportunity and progress of women). Berkaitan dengan ini, Wacjman (1999) menulis sebagai berikut.

Between 1989-1992, a study of 533 British companies indicated 8% managers were women and this dropped radically, and indeed nearly disappeared at executive. There was a fall in women managers from 1993-1994, and women managers salaries have always been about 85% males. There is a distinct gender division in management

(5)

work, with women in personnel and marketing addless in research and development, manufacturing and production. Women managers are develpoment more likely in the finance, banking, and insurance level.

Dari kutipan di atas diketahui bahwa pada 533 perusahaan Inggris, antara tahun 1989 - 1992, terdapat 8% manajer wanita. Gaji yang diterima oleh manajer wanita sekitar 85%

dari total gaji pria. Meski proporsi manajer wanita masih relatif kecil, tetap harus dilihat sebagai kemajuan yang dicapai dilihat dari perspektif perjalanan wanita kerja menuju posisi manajer. Jadi, gerakan kaum wanita untuk mengakses posisi- posisi manajerial ini memang cukup berhasil, meski dilihat dari penghargaan yang diterima masih cenderung di bawah kaum pria.

Kesadaran kaum wanita sebagai tenaga profesional, guru dan tenaga akademis harus mampu menjalani profesionalisme, sebuah proses di mana tenaga profesional berusaha secara kontinu untuk mencapai derajat profesional yang sesungguhnya. Fenomena wanita dikonstruksi secara sosial atau mewarisi tradisi sosiologis ini sepertinya sudah mengakar atau membentuk konsep diri. Konsep diri digenderkan dan menjelma sebagai sikap rasial, di mana hal ini tergamit dengan identitas personal. Wenger (1998) mengidentifikasi ada lima dimensi identitas, yaitu sebagai berikut:

1. Identity as negotiated experiences atau identitas sebagai pengalaman yang dinegosiasikan. Identitas semacam ini dapat didefinisikan sebagai “siapa kita dengan cara- cara kita mengalaminya dengan diri kita sendiri”, melalui partisipasi yang diciptakan sendiri.

2. Identity as community membership atauvidentitas sebagai anggota komunitas. Identitas ini dapat didefinisikan sebagai “siapa kita adalah sikap yang kita tampilkan, apakah bersifat bersahabat atau tidak bersahabat”.

(6)

3. Identity as learning trajectory atau identitas sebagai lintasan belajar. Identitas ini dapat didefinisikan sebagai “siapa kita dengan cara di mana kita telah berbuat dan akan menuju ke mana”.

4. Identity as nexus ofmultimembership atau identitas sebagai pribadi dengan multikeanggotaan. Identitas ini dapat didefinisikan sebagai “siapa kita dengan cara merekonsiliasi kita dengan beragam bentuk identitas ke dalam identitas seseorang”.

5. Identitas as a relation between the local and the global atau identitas sebagai hubungan antara lokal dan global. Identitas ini dapat didefinisikan sebagai “ siapa kita dengan cara- cara penegosiasian lokal dan global melalui hubungan – hubungan dan praktik- praktek di mana individu diposisikan.

C. Lima Pilar Manusia Pembelajar

Untuk mendukung inisiatif membangun manusia pembelajar, perlu dilakukan strategi akurat dalam kerangka reformasi pendidikan dan pembelajaran. Membentuk manusia pembelajar dalam makna luas tidak bisa instan, melainkan melalui sebuah proses dan memerlukan keseriusan dan rentang waktu yang sangat panjang untuk mencapainya. Bahkan ada tatanan sosial yang nyaris tidak dapat diubah, misalnya kemalasan, rasa cedpat puas, iri dan dengki, tertutup mental, menerima apa adanya, pasrah kepada nasib, dorongan prestasi yang rendah, dan sebagainya.

Membangun manusia pembelajar mungkin merupakan pekerjaan pendidikan yang paling khas. Di dalamnya terkandung perbuatan mengajar, mendidik, melatih, memberi contoh, membangun keteladanan, bahkan mungkin memandu atau menggurui. Manusia pembelajar adalah orang- orang yang menjadikan kegiatan belajar sebagai bagian dari kehidupan dan kebutuhan hidupnya. Manusia pembelajar belajar dari banyak hal, misalnya dari pengalaman keberhasilan atau kegagalan orang lain, pengalaman diri sendiri yang bersifat sukses atau yang bersifat gagal. Lima pilar utama yang mutlak ada untuk menjadi manusia pembelajar antara lain sebagai berikut:

1. Rasa ingin tahu. Manusia yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi adalah pembelajar sejati.

(7)

2. Optimisme. Inilah modal dasar bagi seseorang untuk tidak mudah menyerah dengan aneka situasi.

3. Keiklasan. Orang yang iklas nyaris tidak mengenal lelah. Dia selalu bergairah pada setiap keadaan. Banyak siasat, Strategi, atau akal baru yang dihasilkan ketika dia berpikir dan memutuskan untuk berbuat.

4. Konsisten.

5. Pandangan visioner. Pandangan jauh ke depan, melebihi batas- batas pemikiran orang kebanyakan. Kelompok ini jarang sekali tergoda untuk melakukan apa saja demi hasil yang instan, mengejar target jangka pendek dengan mengorbankan kepentingan jangka panjang.

D. Masalah Gender dalam Profesionalisme Manajerial

Di lingkungan pendidikan, seperti halnya pada tatanan sosial lain, masalah gender terus menjadi perguluman. Diskusi mengenai disparitas gender di bidang pendidikan awalnya berfokus pada kesenjangan peluang, baik distrukturkan maupun alami, antara wanita dengan pria dalam memasuki pendidikan. Kini, disparitas gender dalam pendidikan telah merambah pada pergumulan untuk posisi- posisi manajerial, ketenagaan akademis, dan staf administrasif.

Realitas membuktikan, pada umumnya tenaga akademis, orang akan menduduki jabatan, memang lebih banyak pria ketimbang wanita. Jadi, munculnya disparitas gender secara posisional itu bukanlah karena imbas tradisi sosiologi atau distrukturkan secara sosial semata, melainkan karena faktor- faktor material. Disamping itu, devisi pekerjaan, hierarki pengetahuan, dan hubungan profesional yang ditanamkan di lingkungan dan pada organisasi memiliki kaitan erat dengan masalah gender.

Beberapa hal yang menjadi ciri khas yang nyaris universal dari kaum perempuan, seperti :

(8)

a. Dorongan untuk menikah,

b. Kesiapan diri untuk mempunyai anak, c. Tinggal dalam hubungan kekeluargaan, dan

d. Bekerja pada bidang yang sesuai dan yang memungkinkan.

Kesadaran semacam itu memang menjadi tidak terhindari ketika faktor kodrat dikedepankan. Keinginan untuk mewujudkan kesetaraan gender dalam multisektor kehidupan dan penghidupan, termasuk untuk posisi- posisi menajerial terus mengalami transformasi.

3. PENUTUP

Hingga kini, gagasan untuk menciptakan kesetaraan gender tampaknya masih menjadi perdebatan. Hingga kini pula, setidaknya pada banyak tempat, termasuk untuk posisi manajerial, gejala subordinasi terhadap kaum perempuan masih sering ditemukan. Mengapa tindakan subordinatif terhadap perempuan berlangsung sepanjang sejarah? pertanyaan ini mungkin harus kita lupakan ketika pria mendominasi wanita yang secara hak hidup dan hak asasi manusia dinilai salah, meski kerap diterima sebagai kenyataan, bahwa nasib buruk atau resiko berbeda jenis kelamin.

Beberapa justifikasi meski tidaklah identik sebagai pemicu multibentuk tindakan subordinatif terhadap perempuan seperti masih dapat disaksikan hingga saat ini. Pertama, karakteristik sejati wanita sebagai ladang tempat menabur benih padi dan pria sebagai penyemainya adalah kenyataan keseharian kita. Potensi untuk hamil, melahirkan, menyusui, dan siklus bulanan menjadi ciri khas yang tidak dapat diahlikan dari ciri dominan betina ke ciri dominan jantan sejati. Kedua, tatkala melakukan mobilitas di luar rumah secara seksual jauh lebih aman pada pria ketimbang wanita, misalnya dalam menghadapi resiko serangan mendadak dari lawan jenis.

Ketiga, secara tradisional – kultural wanita, sejak pasca balita hingga menjadi ibu rumah tangga, lebih banyak dibebani urusan domestik, sementara pria pria bebas bergerak.

Tidak lazim wanitra bertandang dengan orang yang idamkannya, terbukti dengan lahirnya

(9)

perilaku pingitan. Keempat, pemberantasan prostitusi, nyaris selalu wanita yang menjadi sasaran tembak dan tumpuan kesalahan, sementara pembelinya tidak tersentuh, meski tidak selalu demikian. Kelima, kultur patrilineal pada sebagian besar komunitas di belahan dunia manapun pun ikut memicu dominasi pria terhadap wanita. Keenam, perilaku kehidupan yang menempatkan perempuan nyaris selalu pada posisi subordinat.

Ketika peradaban menunjukkan kemajuan yang amat pesat, ketika keterdidikan kaum perempuan meningkat dan mereka makin mampu menunjukkan kemampuan, keahlian, dan ketrampilan yang setara dengan pria, termasuk di bidang pendidikan. Wanita pemimpin institusi pendidikan, guru, atau tenaga akademis yang profesional bekerja dipandu oleh sifat- sifat profesionalisme dan transformasinal.

Proses mentransformasi potensi manusia menjadi manusia yang unggul adalah tugas sejati komunitas organisasi pembelajar. Dengan demikian, membangun manusia pembelajar itu mungkin merupakan pekerjaan pendidikan yang khas. Manusia pembelajar adalah orang- orang yang menjadikan kegiatan belajar sebagai bagian dari kehidupan dan kebutuhan hidupnya, mengingat bahwa kekuatan fisik makin tersisih dengan kekuatan mental dan intelektual.

Gelombang perubahan di bidang sosial, politik, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan teknologi saat ini berlangsung amat cepat, yang untuk sebagainya menjelma dalam bentuk sebuah revolusi. Di bidang pembelajaran pun harus terjadi revolusi cara belajar. Revolusi cara belajar didasar atas beberapa asumsi dasar. Pertama, setiap orang adalah guru dan sekaligus murid. Kedua, bagi kebanyakan orang, belajar akan sangat efektif jika dilakukan dalam suasana yang menyenagkan. Ketiga, dengan menciptakan lingkungan baik, anak- anak dari keluarga miskin sekalipun akan berkembang dalam proses belajar mandiri.

Keempat, saat terbaik untuk mengembangkan kemampuan belajar adalah sebelum masuk sekolah, karena sebagian besar jalur penting di otak dibentuk pada tahun- tahun awal yang penting tersebut.Kelima, pengajar atau pendidik yang cemerlang, kini dapat mengajar jutaan orang melalui komunikasi elektronik interatif, dan meraup banyak uang dari yang mereka sukai. Keenam, orang dapat belajar dengan baik ketika mereka mau belajar, bukan pada usia yang ditentukan oleh orang lain. Ketujuh, informasi yang kompleks sekalipun dapat diserap dan diingat dengan mudah jika terlibat di dalam proses pembelajaran.

(10)

Fenomena ini menuntut sebuah lembaga atau institusi pendidikan menjadi organisasi pembelajar dan manusia di dalamnya menjadi manusia pembelajar sejati.

Munculnya gugus belajar guru, dosen, widyaiswara, staf, siswa , orang tua dan manusia pada jaring- jaring kemasyarakatan sebagai manusia pembelajar menjadi cerminan utama manusia pembelajar. Pembentukan gugus – gugus belajar (learning circles) menjadikan aktivitas belajar akan menjadi kebutuhan utama. Bukan tidak mungkin kebutuhan belajar sudah menjadi selayaknya orang yang lapar terdorong untuk makan dan orang yang haus terdorong untuk minum.

Daftar Pustaka

Attali, Jacques.1999. Milenium Ketiga: Yang Menang, Yang Kalah dalam Tata Dunia Mendatang. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Blackmore, J. & Kenway, J. (Eds.) 1993. Gender Matters in Educational Administration and policy: A feminist introduction. London: Falmer Press

Robbins, Stephen P. 1998. Perilaku Organisasi: Konsep, Kontroversi, dan Aplikasi. Jakarta:

PT Prenhalindo.

Juran, J.m. 1995. Kepemimpinan Mutu: Pedoman Peningkatan Mutu Meraih Keunggulan Kompetitif. Jakarta: PPM

--- . 1994. Pembangunan Pendidikan dan Kebudayaan Menjelang Era Tinggal Landas. Jakarta: Depdibud

Littauer, Florence. 1996. Kepribadian plus : Bagaimana Memahami Orang lain dengan Memahami Diri Anda Sendiri. Jakarta: Binarupa Aksara.

Laszlo, E. 1997. 3 Millenium: The Challenge and The Vision. London: Gaia Book Limited Paisey, A. 1981. Organization and management in Schools: Perspectives for Practicing

Teachers. London: Longman.

Suryadi, A. dan Tilaar, H.A.R. 1993. Analisis Kebijakan Pendidikan: Suatu Pengantar.

Bandung: Remaja Karya.

Danim, Sudarwan. 2005. Menjadi Komunitas Pembelajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Referensi

Dokumen terkait

Adapun judul dari Laporan Akhir ini adalah “ Perencanaan Jembatan Rangka Baja Air Pedado Kelurahan Kramasan Kecamatan Kertapati!. Palembang Provinsi Sumatera

Menurut hasil penelitian dan pembahasan perhitungan uji anava satu jalan dengan sel tak sama dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran Think Pair Share, model

Metode : Metode penulisan dalam laporan kasus ini adalah secara deskriptif dengan memeperhatikan pelaksanaan asuhan keperawatan yang dilakukan secara komperehensif terhadap

Dengan demikian, intervensi pemerintah mengenai pelaksanaan pendidikan karakter hanya dapat dimaknai sebagai hal yang positif, jika hal itu dilaksanakan dengan penuh

Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa model terbaik untuk peramalan beban listrik jangka pendek area Jawa Timur-Bali adalah model DSARIMA dengan interval prediksi

komposisi biogas yang dihasilkan, dimana didapatkan hasil gas metana yang terbesar yaitu 33,92 mg dengan komposisi masukan 50 : 50 (5 kg kotoran sapi dan 5 kg kotoran ayam).

Selain itu juga terdapat penelitian mengenai hubungan antara asupan PUFA terhadap profil lipid dengan metode yang sama dan penggunaan SQFFQ, namun dilakukan pada

[r]