• Tidak ada hasil yang ditemukan

Melayani, Profesional, Terpercaya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Melayani, Profesional, Terpercaya"

Copied!
262
0
0

Teks penuh

(1)

Melayani, Profesional, Terperc aya

You Tube

(2)

BADAN PERTANAHAN NASIONAL

LAPORAN

BARANG PENGGUNA PER 31 DESEMBER 2020

AUDITED

TINGKAT KEMENTERIAN/LEMBAGA

Jalan Sisingamangaraja, Nomor 2 Kebayoran Baru

Jakarta Selatan

(3)
(4)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... 1

DAFTAR ISI ... 2

I. PENDAHULUAN ... 5

A.Dasar Hukum ... 5

B. Entitas pelaporan ... 7

C. Periode Pelaporan ... 7

II. KEBIJAKAN PENATAUSAHAAN BARANG MILIK NEGARA ... 8

III. PENDEKATAN PENYUSUNAN LAPORAN ... 24

IV. RINGKASAN BARANG MILIK NEGARA TAHUN ANGGARAN 2020 AUDITED ... 25

A.Saldo Awal Tahun Anggaran 2020 ... 25

B. Ringkasan Mutasi Barang Milik Negara Tahun Anggaran 2020 ... 25

1. Barang Persediaan ... 25

2. Tanah ... 26

3. Peralatan Mesin ... 27

4. Gedung dan Bangunan ... 46

5. Jalan. Irigasi. dan Jaringan ... 51

6. Aset Tetap Lainnya ... 54

7. Konstruksi Dalam Pengerjaan (KDP) ... 55

8. Aset Lainnya ... 55

9. BMN Berupa Aset Bersejarah ... 59

C. Barang Milik Negara pada UAPB Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional per 31 Desember 2020 ... 59

1. BMN per akun neraca ... 59

2. Perbandingan Nilai BMN pada Laporan Barang Milik Negara dan Laporan Keuangan... 60

V. INFORMASI BMN LAINNYA ... 62

A.Perkembangan Nilai BMN ... 62

B. Informasi Pengelolaan BMN ... 62

1. Penetapan Status Penggunaan BMN ... 62

2. Pengelolaan BMN ... 63

3. Pengelolaan BMN Idle ... 63

(5)

C. BMN Dari Dana Dekonstrasi dan Tugas Pembantuan ... 63 D. BMN pada satuan kerja Badan Layanan Umum ... 64 E. BMN Dari Dana Belanja Lain-Lain (BA 999)... 64 F. BMN Berupa Aset Tetap Dalam Kondisi Rusak Berat yang Sudah

Diusulkan Penghapusannya Kepada Pengelola Barang ... 64 G. BMN Berupa Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditetapkan Statusnya

(BPYBDS) ... 64 H. Permasalahan Pelaksanaan Penatausahaan BMN dan Langkah-langkah

Strategis Sebagai Alternatif Ppenyelesaian Masalah ... 64 VI. KEBIJAKAN PENILAIAN KEMBALI BMN ... 76

VII. TINDAK LANJUT TEMUAN PEMERIKSAAN BPK ATAS LAPORAN

KEUANGAN KEMENTERIAN/LEMBAGA TAHUN 2019 ... 79

LAMPIRAN

Lampiran 1 Laporan Posisi BMN di Neraca (Saldo Awal) dari e-Rekon.

Lampiran 2 Laporan Posisi BMN di Neraca dari e-Rekon.

Lampiran 3 Laporan Barang Unit Akuntansi Pengguna Barang Intrakomptabel dari e-Rekon.

Lampiran 4 Laporan Barang Unit Akuntansi Pengguna Barang Ekstrakomptabel dari e-Rekon.

Lampiran 5 Laporan Barang Unit Akuntansi Pengguna Barang Gabungan dari e-Rekon.

Lampiran 6 Laporan KDP dari e-Rekon.

Lampiran 7 Laporan Aset Tak Berwujud dari e-Rekon.

Lampiran 8 Laporan Barang Bersejarah dari e-Rekon.

Lampiran 9 Laporan Penyusutan Intrakomptabel dari e-Rekon.

Lampiran 10 Laporan Penyusutan Ekstrakomptabel dari e-Rekon.

Lampiran 11 Laporan Amortisasi Aset Tak Berwujud Dari e-Rekon.

Lampiran 12 Laporan Barang Persediaan dari e-Rekon.

Lampiran 13 Laporan Barang Persediaan Kelompok dari e-Rekon.

Lampiran 14 CRBMN Kuasa Pengguna Intrakomptabel Dari e-Rekon.

Lampiran 15 CRBMN Kuasa Pengguna Ekstrakomptabel Dari e-Rekon.

Lampiran 16 CRBMN Kuasa Pengguna Gabungan Dari e-Rekon.

Lampiran 17 Laporan Barang Rusak Berat yang Telah Diusulkan Penghapusannya Kepada Pengelola Barang dari e-Rekon.

(6)

Lampiran 18 Laporan Barang Hilang yang telah diusulkan Penghapusannnya Kepada Pengelola Brang Dari e-Rekon.

Lampiran 19 Laporan Bantuan Yang Belum Ditetapkan Statusnya (BPYBDS) dari e-Rekon.

Lampiran 20 Laporan Barang Hibah yang Telah Diusulkan Proses Hibah Kepada Pengelola Barang dari e-Rekon.

Lampiran 21 Berita Acara Rekonsiliasi Internal.

Lampiran 22 Kesesuaian Belanja Modal.

Lampiran 23 Kesesuaian Belanja Persediaan.

Lampiran 24 Transfer Keluar Transfer Masuk.

Lampiran 25 Rekapitulasi Barang Titipan.

Lampiran 26 Rekapitulasi Persediaan Rusak dan Usang.

Lampiran 27 Rekapitulasi Belanja Modal dalam Rangka Penanganan COVID-19 Lampiran 28 Rekapitulasi Belanja Persediaan dalam Rangka Penanganan COVID-19 Lampiran 29 Rekapitulasi Belanja Barang dalam Rangka Penanganan COVID-19 Lampiran 30 Rekapitulasi Belanja Barang dalam Rangka Penanganan COVID-19

dengan akun non COVID-19

Lampiran 31 Rekapitulasi Nilai Perolehan dan Nilai Buku Minus Lampiran 32 Rekapitulasi BMN Henti Guna

Lampiran 33 Rekapitulasi Penilaian Kembali BMN

(7)

BAB I

PENDAHULUAN

(8)

CATATAN ATAS LAPORAN BARANG MILIK NEGARA

I. PENDAHULUAN A. Dasar Hukum

1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);

2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);

3. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400);

4. Undang-Undang 12 Tahun 2018 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 223);

5. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah (Lembaran Negara RepublikIndonesia Tahun 2006 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4614);

6. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 123, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5165);

7. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 103);

8. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 92, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5533) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 142, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6523);

9. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 138/PMK.06/2010 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara berupa Rumah Negara;

10. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 201/PMK.06/2010 tentang Kualitas Piutang Kementerian Negara /Lembaga dan Pembentukan Penyisihan Piutang Tak Tertagih;

11. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 250/PMK.06/2011 tentang Tata Cara Pengelolaan Barang Milik Negara yang Tidak Digunakan untuk Menyelesaikan Tugas dan Fungsi Kementerian/Lembaga;

(9)

12. Peraturan Menteri Keuangan 248/PMK.06/2011 tentang Standar Barang dan Standar Kebutuhan Barang Milik Negara berupa Tanah dan/atau Bangunan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 7/PMK.06/2016 Tentang Perubahan Peraturan Menteri Keuangan 248/PMK.06/2011 tentang Standar Barang dan Standar Kebutuhan Barang Milik Negara berupa Tanah dan/atau Bangunan;

13. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 213/PMK.05/2013 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 215/PMK.05/2016 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 213/PMK.05/2013 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat;

14. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 1/PMK.06/2014 tentang Penyusutan Barang Milik Negara Berupa Aset Tetap pada Entitas Pemerintah Pusat;

15. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 150/PMK.06/2014 tentang Perencanaan Kebutuhan Barang Milik Negara;

16. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 271/PMK.05/2014 tentang Sistem Akuntansi Hibah;

17. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 177/PMK.05/2015 tentang Pedoman Penyusunan dan Penyampaian Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 222/PMK.05/2016 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 177/PMK.05/2015 tentang Pedoman Penyusunan dan Penyampaian Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga;

18. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 115/PMK.06/2020 tentang Pemanfaatan Barang Milik Negara;

19. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 181/PMK.06/2016 tentang Penatausahaan Barang Milik Negara;

20. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 111/PMK.06/2017 tentang Penilaian Barang Milik Negara;

21. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 65/PMK.06/2017 Tentang Penyusutan Barang Milik Negara Berupa Aset Tetap pada Entitas Pemerintah Pusat;

22. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 99/PMK.05/2017 tentang Mekanisme Pengelolaan Hibah;

23. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 295/KMK.6/2019 tentang Tabel Masa Manfaat Dalam Rangka Penyusutan Barang Milik Negara Berupa Aset Tetap pada Entitas Pemerintah Pusat;

24. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 137/KM.6/2014 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 29/PMK.06/2010 tentang Penggolongan dan Kodefikasi Barang Milik Negara;

25. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 781/KMK.01/2019 tentang Pelimpahan Kewenangan Menteri Keuangan dalam bentuk Mandat Kepada Pejabat di lingkungan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara;

26. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-40/PB/2006 tentang Pedoman Akuntansi Persediaan;

27. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-62/PB/2009 tentang Tata Cara Penyajian Informasi Pendapatan dan Belanja Secara Akrual pada Laporan Keuangan;

(10)

28. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-81/PB/2011 tentang Tata Cara Pengesahan Hibah Langsung Bentuk Uang dan Penyampaian Memo Pencatatan Hibah Langsung Bentuk Barang/Jasa/Surat Berharga;

29. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-82/PB/2011 tentang Pedoman Akuntansi Penyisihan Piutang Tak Tertagih pada Kementerian Negara/Lembaga;

30. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-42/PB/2014 tentang Pedoman Penyusunan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga;

31. Surat Direktur Jenderal Kekayaan Negara Nomor S-2/KN/2014 hal Tindak Lanjut Monitoring dan Evaluasi Penyusutan BMN, dan Penyusunan Laporan Barang Pengguna Tahunan Tahun 2014;

32. Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 16 Tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 985);

33. Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 17 Tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional dan Kantor Pertanahan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 986).

B. Entitas pelaporan

Dalam pelaksanaan Sistem Akuntansi Barang Milik Negara (BMN), Kementerian Negara/Lembaga wajib membentuk Unit Akuntansi Barang.

Unit Akuntansi Barang Milik Negara (BMN) pada Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional terdiri dari:

1. Satu Unit Akuntansi Pengguna Barang (UAPB);

2. Sembilan Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Eselon I (UAPPB-E1);

3. Tiga puluh tiga Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Wilayah (UAPPB-W); dan

4. Lima ratus dua belas Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Barang (UAKPB).

Laporan Barang Pengguna ini adalah Laporan Barang Milik Negara tingkat Kementerian yang merupakan gabungan dari Laporan Barang Milik Negara tingkat Eselon I.

Laporan BMN tingkat Eselon I terbentuk dari gabungan Laporan BMN tingkat wilayah, sedangkan Laporan BMN tingkat wilayah merupakan gabungan Laporan BMN tingkat Satuan Kerja.

C. Periode Pelaporan

Catatan atas Laporan Barang Pengguna

Tahun Anggaran 2020 Audited ini

disusun dan disajikan untuk periode yang berakhir tanggal 31 Desember

2020.

(11)

BAB II

KEBIJAKAN

PENATAUSAHAAN

BARANG MILIK NEGARA

(12)

II. KEBIJAKAN PENATAUSAHAAN BARANG MILIK NEGARA

Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, Barang Milik Negara (BMN) adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN atau berasal dari perolehan lainnya yang sah.

BMN memiliki jenis dan variasi yang sangat beragam, baik dalam hal tujuan perolehannya maupun masa manfaat yang diharapkan. Oleh karena itu, dalam perlakuan akuntansinya ada BMN yang dikategorikan sebagai aset lancar, dan aset tetap. Pengkategorian BMN ini dilakukan dalam menyajikan nilai BMN dalam neraca pada Laporan Keuangan Kementerian/Lembaga (LKKL) dan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP).

BMN dikategorikan sebagai aset lancar apabila diharapkan segera dipakai atau dimiliki untuk dijual dalam waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan. BMN yang memenuhi kriteria ini diperlakukan sebagai Persediaan.

Sedangkan BMN dikategorikan sebagai aset tetap apabila mempunyai masa manfaat lebih dari dua belas bulan, tidak dimaksudkan untuk dijual dalam operasi normal Kuasa Pengguna Barang, dan diperoleh atau dibangun dengan maksud untuk digunakan.

BMN yang memenuhi kriteria tersebut bisa meliputi Tanah; Peralatan dan Mesin;

Gedung dan Bangunan; Jalan, Irigasi, dan Jaringan; Aset Tetap Lainnya; serta Konstruksi dalam Pengerjaan.

Dalam sistem akuntansi pemerintah pusat, kebijakan akuntansi BMN mencakup masalah pengakuan, pengukuran, penilaian dan pengungkapan.

A. Kebijakan Penggolongan/Kodefikasi 1. Persediaan

Persediaan adalah aset lancar dalam bentuk barang atau perlengkapan yang dimaksudkan untuk mendukung kegiatan operasional pemerintah, dan barang- barang yang dimaksudkan untuk dijual dan/atau diserahkan dalam rangka pelayanan kepada masyarakat.

Persediaan merupakan aset yang berwujud barang atau perlengkapan (supplies) yang digunakan dalam rangka kegiatan operasional pemerintah, bahan atau perlengkapan (supplies) yang digunakan dalam proses produksi, barang dalam proses produksi yang dimaksudkan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat, dan barang yang disimpan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat dalam rangka kegiatan pemerintahan.

Persediaan mencakup barang atau perlengkapan yang dibeli dan disimpan untuk digunakan, barang habis pakai seperti alat tulis kantor, barang tak habis pakai seperti komponen peralatan dan pipa, dan barang bekas pakai seperti komponen bekas.

Persediaan dapat meliputi barang konsumsi, amunisi, bahan untuk pemeliharaan, suku cadang, persediaan untuk tujuan strategis/berjaga-jaga, pita cukai dan leges, bahan baku, barang dalam proses/setengah jadi, tanah/bangunan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat, dan hewan dan tanaman untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat. Persediaan untuk tujuan strategis/berjaga-jaga antara lain berupa cadangan energi (misalnya minyak) atau cadangan pangan (misalnya beras).

(13)

Penatausahaan persediaan pada Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional untuk periode Laporan per 31 Desember 2020 diatur sesuai dengan Surat Sekretaris Jenderal Nomor KU.04.03/630-100/IV/2020 tanggal 16 April 2020.

a. Pengakuan Persediaan

Persediaan diakui pada saat diterima atau hak kepemilikannya dan/atau kepenguasaannya berpindah. Pada akhir periode akuntansi, persediaan dicatat berdasarkan hasil inventarisasi fisik. Persediaan bahan baku dan perlengkapan yang dimiliki dan akan dipakai dalam pekerjaan pembangunan fisik yang dikerjakan secara swakelola, dimasukkan sebagai perkiraan aset untuk kontruksi dalam pengerjaan, dan tidak dimasukkan sebagai persediaan.

Persediaan pada Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional dibagi atas 2 kelompok, yaitu:

1) Persediaan berupa blanko sertipikat.

2) Persediaan berupa non blanko dan blanko sambungan sertipikat.

Persediaan berupa blanko sertipikat masih diakui sebagai barang persediaan jika belum masuk Daftar Isian 208. Persediaan berupa non blanko dan blankko sambungan sertipikat, masih diakui persediaan jika belum digunakan per periode pelaporan.

b. Pengukuran

Persediaan disajikan sebesar:

1) Biaya perolehan apabila diperoleh dengan pembelian. Biaya perolehan persediaan meliputi harga pembelian, biaya pengangkutan, biaya penanganan, dan biaya lainnya yang secara langsung dapat dibebankan pada perolehan persediaan. Potongan harga, rabat, dan lainnya yang serupa mengurangi biaya perolehan. Nilai pembelian yang digunakan adalah biaya perolehan persediaan yang terakhir diperoleh.

2) Biaya standar apabila diperoleh dengan memproduksi sendiri. Biaya standar persediaan meliputi biaya langsung yang terkait dengan persediaan yang diproduksi dan biaya overhead tetap dan variabel yang dialokasikan secara sistematis, yang terjadi dalam proses konversi bahan menjadi persediaan.

3) Nilai wajar, apabila diperoleh dengan cara lainnya seperti donasi/rampasan.

c. Pengungkapan

Persediaan disajikan sebesar nilai moneternya. Selain itu di dalam Catatan Ringkas Barang (CRB) harus diungkapkan pula:

1) Kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran persediaan.

(14)

2) Penjelasan lebih lanjut persediaan seperti barang atau perlengkapan yang digunakan dalam pelayanan masyarakat, barang atau perlengkapan yang digunakan dalam proses produksi, barang yang disimpan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat, dan barang yang masih dalam proses produksi yang dimaksudkan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat.

3) Kondisi persediaan.

4) Hal-hal lain yang perlu diungkapkan berkaitan dengan persediaan, misalnya persediaan yang diperoleh melalui hibah atau rampasan.

5) Persediaan berupa blanko sertipikat yang sudah masuk Daftar Isian 208 dan belum masuk Daftar Isian 301A diungkap sebagai barang titipan.

Dalam penyusunan laporan keuangan, persediaan dengan kondisi rusak atau usang tidak dilaporkan dalam neraca, tetapi diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).

d. Kebijakan Blanko Hak Tanggungan

Berdasarkan Surat Sekretaris Jenderal Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ BPN Nomor: KU.04.02/1889-100.3/XI/2020 Tentang Blanko Hak Tanggungan, sebagaimana diperintahkan dalam surat tersebut untuk melakukan reklasifikasi menjadi barang usang untuk selanjutnya dilakukan penghapusan.

2. Aset Tetap a. Tanah

Tanah yang dikelompokkan sebagai aset tetap ialah tanah yang diperoleh dengan maksud untuk dipakai dalam kegiatan operasional pemerintah dan dalam kondisi siap dipakai.

Tanah yang dimiliki atau dikuasai oleh instansi pemerintah di luar negeri, misalnya tanah yang digunakan Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri, hanya diakui bila kepemilikan tersebut berdasarkan isi perjanjian penguasaan dan hukum serta perundang-undangan yang berlaku di negara tempat Perwakilan Republik Indonesia berada bersifat permanen.

1) Pengakuan

Kepemilikan atas Tanah ditunjukkan dengan adanya bukti bahwa telah terjadi perpindahan hak kepemilikan dan/atau penguasaan secara hukum seperti sertifikat tanah. Apabila perolehan tanah belum didukung dengan bukti secara hukum maka tanah tersebut harus diakui pada saat terdapat bukti bahwa penguasaannya telah berpindah, misalnya telah terjadi pembayaran dan penguasaan atas sertifikat tanah atas nama pemilik sebelumnya.

2) Pengukuran

Tanah dinilai dengan biaya perolehan. Biaya perolehan mencakup harga pembelian atau biaya pembebasan tanah, biaya yang dikeluarkan dalam rangka memperoleh hak, biaya pematangan,

(15)

pengukuran, penimbunan, dan biaya lainnya yang dikeluarkan sampai tanah tersebut siap pakai.

Nilai tanah juga meliputi nilai bangunan tua yang terletak pada tanah yang dibeli tersebut jika bangunan tua tersebut dimaksudkan untuk dimusnahkan.

Apabila penilaian tanah dengan menggunakan biaya perolehan tidak memungkinkan, maka nilai tanah didasarkan pada nilai wajar/ taksiran pada saat perolehan.

3) Pengungkapan

Tanah disajikan sebesar nilai moneternya. Selain itu di dalam Catatan Ringkas Barang (CRB) harus diungkapkan pula:

1) Dasar penilaian yang digunakan

2) Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode menurut jenis tanah yang menunjukkan:

- Penambahan;

- Pelepasan;

- Mutasi Tanah lainnya.

b. Gedung dan Bangunan

Gedung dan bangunan mencakup seluruh gedung dan bangunan yang dibeli atau dibangun dengan maksud untuk dipakai dalam kegiatan operasional pemerintah dan dalam kondisi siap dipakai.

Termasuk dalam kategori Gedung dan Bangunan adalah BMN yang berupa Bangunan Gedung, Monumen, Bangunan Menara, Rambu-rambu, serta Tugu Titik Kontrol.

1) Pengakuan

Gedung dan Bangunan yang diperoleh bukan dari donasi diakui pada periode akuntansi ketika aset tersebut siap digunakan berdasarkan jumlah belanja modal yang diakui untuk aset tersebut. Gedung dan Bangunan yang diperoleh dari donasi diakui pada saat Gedung dan Bangunan tersebut diterima dan hak kepemilikannya berpindah.

Pengakuan atas Gedung dan Bangunan ditentukan jenis transaksinya meliputi: penambahan, pengembangan, dan pengurangan.

Penambahan adalah peningkatan nilai Gedung dan Bangunan yang disebabkan pengadaan baru, diperluas atau diperbesar. Biaya penambahan dikapitalisasi dan ditambahkan pada harga perolehan Gedung dan Bangunan tersebut.

Pengembangan adalah peningkatan nilai Gedung dan Bangunan karena peningkatan manfaat yang berakibat pada: durasi masa manfaat, peningkatan efisiensi dan penurunan biaya pengoperasian.

Pengurangan adalah penurunan nilai Gedung dan Bangunan dikarenakan berkurangnya kuantitas aset tersebut.

(16)

2) Pengukuran

Gedung dan Bangunan dinilai dengan biaya perolehan. Apabila penilaian Gedung dan Bangunan dengan menggunakan biaya perolehan tidak memungkinkan maka nilai aset tetap didasarkan pada nilai wajar/taksiran pada saat perolehan.

Biaya perolehan Gedung dan Bangunan yang dibangun dengan cara swakelola meliputi biaya langsung untuk tenaga kerja, bahan baku, dan biaya tidak langsung termasuk biaya perencanaan dan pengawasan, perlengkapan, tenaga listrik, sewa peralatan, dan semua biaya lainnya yang terjadi berkenaan dengan pembangunan aset tetap tersebut.

Jika Gedung dan Bangunan diperoleh melalui kontrak, biaya perolehan meliputi nilai kontrak, biaya perencanaan dan pengawasan, biaya perijinan, serta jasa konsultan.

3) Pengungkapan

Gedung dan Bangunan disajikan sebesar nilai moneternya. Selain itu di dalam Catatan Ringkas Barang (CRB) diungkapkan pula:

1) Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai.

2) Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan:

- Penambahan;

- Pengembangan; dan - Penghapusan;

3) Kebijakan akuntansi untuk kapitalisasi yang berkaitan dengan Gedung dan Bangunan.

c. Peralatan dan Mesin

Peralatan dan mesin mencakup mesin-mesin dan kendaraan bermotor, alat elektronik, dan seluruh inventaris kantor yang nilainya signifikan dan masa manfaatnya lebih dari 12 (dua belas) bulan dan dalam kondisi siap pakai. Wujud fisik Peralatan dan Mesin bisa meliputi: Alat Besar, Alat Angkutan, Alat Bengkel dan Alat Ukur, Alat Pertanian, Alat Kantor dan Rumah Tangga, Alat Studio, Komunikasi dan Pemancar, Alat Kedokteran dan Kesehatan, Alat Laboratorium, Alat Persenjataan, Komputer, Alat Eksplorasi, Alat Pemboran, Alat Produksi, Pengolahan dan Pemurnian, Alat Bantu Eksplorasi, Alat Keselamatan Kerja, Alat Peraga, serta Unit Proses/Produksi.

1) Pengakuan

Peralatan dan Mesin yang diperoleh bukan dari donasi diakui pada periode akuntansi ketika aset tersebut siap digunakan berdasarkan jumlah belanja modal yang diakui untuk aset tersebut.

Peralatan dan Mesin yang diperoleh dari donasi diakui pada saat Peralatan dan Mesin tersebut diterima dan hak kepemilikannya berpindah.

(17)

Pengakuan atas Peralatan dan Mesin ditentukan jenis transaksinya meliputi: penambahan, pengembangan, dan pengurangan.

Penambahan adalah peningkatan nilai Peralatan dan Mesin yang disebabkan pengadaan baru, diperluas atau diperbesar. Biaya penambahan dikapitalisasi dan ditambahkan pada harga perolehan Peralatan dan Mesin tersebut.

Pengembangan adalah peningkatan nilai Peralatan dan Mesin karena peningkatan manfaat yang berakibat pada: durasi masa manfaat, peningkatan efisiensiensi dan penurunan biaya pengoperasian.

Pengurangan adalah penurunan nilai Peralatan dan Mesin dikarenakan berkurangnya kuantitas aset tersebut.

2) Pengukuran

Biaya perolehan peralatan dan mesin menggambarkan jumlah pengeluaran yang telah dilakukan untuk memperoleh peralatan dan mesin tersebut sampai siap pakai. Biaya perolehan atas Peralatan dan Mesin yang berasal dari pembelian meliputi harga pembelian, biaya pengangkutan, biaya instalasi, serta biaya langsung lainnya untuk memperoleh dan mempersiapkan sampai peralatan dan mesin tersebut siap digunakan.

Biaya perolehan Peralatan dan Mesin yang diperoleh melalui kontrak meliputi nilai kontrak, biaya perencanaan dan pengawasan, biaya perizinan dan jasa konsultan.

Biaya perolehan Peralatan dan Mesin yang dibangun dengan cara swakelola meliputi biaya langsung untuk tenaga kerja, bahan baku, dan biaya tidak langsung termasuk biaya perencanaan dan pengawasan, perlengkapan, tenaga listrik, sewa peralatan, dan semua biaya lainnya yang terjadi berkenaan dengan pembangunan Peralatan dan Mesin tersebut.

3) Pengungkapan

Peralatan dan Mesin disajikan sebesar nilai moneternya. Selain itu di dalam Catatan Ringkas Barang (CRB) diungkapkan pula:

1) Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai.

2) Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan:

- Penambahan;

- Pengembangan; dan - Penghapusan;

3) Kebijakan akuntansi untuk kapitalisasi yang berkaitan dengan Peralatan dan Mesin.

d. Jalan, Irigasi, dan Jaringan

Jalan, irigasi, dan jaringan mencakup jalan, irigasi, dan jaringan yang dibangun oleh pemerintah serta dikuasai oleh pemerintah dan dalam kondisi siap dipakai. BMN yang termasuk dalam kategori aset ini adalah Jalan dan Jembatan, Bangunan Air, Instalasi, dan Jaringan.

(18)

1) Pengakuan

Jalan, Irigasi dan Jaringan yang diperoleh bukan dari donasi diakui pada periode akuntansi ketika aset tersebut siap digunakan berdasarkan jumlah belanja modal yang diakui untuk aset tersebut.

Jalan, Irigasi dan Jaringan yang diperoleh dari donasi diakui pada saat Jalan, Irigasi dan Jaringan tersebut diterima dan hak kepemilikannya berpindah.

Pengakuan atas Jalan, Irigasi dan Jaringan ditentukan jenis transaksinya meliputi: penambahan, pengembangan, dan pengurangan.

Penambahan adalah peningkatan nilai Jalan, Irigasi dan Jaringan yang disebabkan pengadaan baru, diperluas atau diperbesar.

Biaya penambahan dikapitalisasi dan ditambahkan pada harga perolehan Jalan, Irigasi dan Jaringan tersebut.

Pengembangan adalah peningkatan nilai Jalan, Irigasi dan Jaringan karena peningkatan manfaat yang berakibat pada: durasi masa manfaat, peningkatan efisiensiensi, dan penurunan biaya pengoperasian.

Pengurangan adalah penurunan nilai Jalan, Irigasi, dan Jaringan dikarenakan berkurangnya kuantitas asset tersebut.

2) Pengukuran

Biaya perolehan jalan, irigasi, dan jaringan menggambarkan seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh jalan, irigasi, dan jaringan sampai siap pakai. Biaya ini meliputi biaya perolehan atau biaya konstruksi dan biaya-biaya lain yang dikeluarkan sampai jalan, irigasi dan jaringan tersebut siap pakai.

Biaya perolehan untuk jalan, irigasi dan jaringan yang diperoleh melalui kontrak meliputi biaya perencanaan dan pengawasan, biaya perizinan, jasa konsultan, biaya pengosongan, dan pembongkaran bangunan lama.

Biaya perolehan untuk jalan, irigasi dan jaringan yang dibangun secara swakelola meliputi biaya langsung dan tidak langsung, yang terdiri dari meliputi biaya bahan baku, tenaga kerja, sewa peralatan, biaya perencanaan dan pengawasan, biaya perizinan, biaya pengosongan dan pembongkaran bangunan lama.

3) Pengungkapan

Jalan, Irigasi dan Jaringan disajikan sebesar nilai moneternya. Selain itu di dalam Catatan Ringkas Barang (CRB) diungkapkan pula:

a) Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai.

b) Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan:

- Penambahan;

- Pengembangan; dan - Penghapusan;

c) Kebijakan akuntansi untuk kapitalisasi yang berkaitan dengan Jalan, Irigasi dan Jaringan.

(19)

e. Aset Tetap Lainnya

Aset tetap lainnya mencakup aset tetap yang tidak dapat dikelompokkan ke dalam kelompok Tanah; Peralatan dan Mesin; Gedung dan Bangunan;

Jalan, Irigasi dan Jaringan, yang diperoleh dan dimanfaatkan untuk kegiatan operasional pemerintah dan dalam kondisi siap dipakai.

BMN yang termasuk dalam kategori aset ini adalah Koleksi Perpustakaan/

Buku, Barang Bercorak Kesenian/Kebudayaan/Olah Raga, Hewan, Ikan dan Tanaman.

1) Pengakuan

Aset Tetap Lainnya yang diperoleh bukan dari donasi diakui pada periode akuntansi ketika aset tersebut siap digunakan berdasarkan jumlah belanja modal yang diakui untuk aset tersebut.

Aset Tetap Lainnya yang diperoleh dari donasi diakui pada saat Aset Tetap Lainnya tersebut diterima dan hak kepemilikannya berpindah.

Pengakuan atas Aset Tetap Lainnya ditentukan jenis transaksinya meliputi: penambahan dan pengurangan. Penambahan adalah peningkatan nilai Aset Tetap Lainnya yang disebabkan pengadaan baru. Biaya penambahan dikapitalisasi dan ditambahkan pada harga perolehan Aset Tetap Lainnya tersebut.

Pengurangan adalah penurunan nilai Aset Tetap Lainnya dikarenakan berkurangnya kuantitas asset tersebut.

2) Pengukuran

Biaya perolehan aset tetap lainnya menggambarkan seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh aset tersebut sampai siap pakai.

Biaya perolehan aset tetap lainnya yang diperoleh melalui kontrak meliputi pengeluaran nilai kontrak, biaya perencanaan dan pengawasan, serta biaya perizinan.

Biaya perolehan asset tetap lainnya yang diadakan melalui swakelola meliputi biaya langsung dan tidak langsung, yang terdiri dari biaya bahan baku, tenaga kerja, sewa peralatan, biaya perencanaan dan pengawasan, biaya perizinan, dan jasa konsultan.

3) Pengungkapan

Aset Tetap Lainnya disajikan sebesar nilai moneternya. Selain itu di dalam Catatan Ringkas Barang (CRB) diungkapkan pula:

1) Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai.

2) Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan Penambahan dan Penghapusan;

3) Kebijakan akuntansi untuk kapitalisasi yang berkaitan dengan Aset Tetap Lainnya.

(20)

f. Konstruksi Dalam Pengerjaan

Konstruksi dalam pengerjaan adalah aset-aset yang sedang dalam proses pembangunan pada tanggal laporan keuangan. Konstruksi Dalam Pengerjaan mencakup tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan, irigasi dan jaringan, dan aset tetap lainnya yang proses perolehannya dan/atau pembangunannya membutuhkan suatu periode waktu tertentu dan belum selesai.

1) Pengakuan

Konstruksi Dalam Pengerjaan merupakan aset yang dimaksudkan untuk digunakan dalam operasional pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat dalam jangka panjang dan oleh karenanya diklasifikasikan dalam aset tetap.

Suatu aset berwujud harus diakui sebagai Konstruksi Dalam Pengerjaan jika biaya perolehan tersebut dapat diukur secara andal dan masih dalam proses pengerjaan.

Konstruksi Dalam Pengerjaan dipindahkan ke aset tetap yang bersangkutan setelah pekerjaan konstruksi tersebut dinyatakan selesai dan siap digunakan sesuai dengan tujuan perolehannya.

2) Pengukuran

Konstruksi Dalam Pengerjaan dicatat sebesar biaya perolehan. Biaya perolehan konstruksi yang dikerjakan secara swakelola meliputi:

a) Biaya yang berhubungan langsung dengan kegiatan konstruksi yang mencakup biaya pekerja lapangan termasuk penyelia; biaya bahan; pemindahan sarana, peralatan dan bahan-bahan dari dan ke lokasi konstruksi; penyewaan sarana dan peralatan; serta biaya rancangan dan bantuan teknis yang berhubungan langsung dengan kegiatan konstruksi.

b) Biaya yang dapat diatribusikan pada kegiatan pada umumnya dan dapat dialokasikan ke konstruksi tersebut mencakup biaya asuransi; Biaya rancangan dan bantuan teknis yang tidak secara langsung berhubungan dengan konstruksi tertentu; dan biaya- biaya lain yang dapat diidentifikasikan untuk kegiatan konstruksi yang bersangkutan seperti biaya inspeksi.

Biaya perolehan konstruksi yang dikerjakan kontrak konstruksi meliputi:

(1) Termin yang telah dibayarkan kepada kontraktor sehubungan dengan tingkat penyelesaian pekerjaan.

(2) Pembayaran klaim kepada kontraktor atau pihak ketiga sehubungan dengan pelaksanaan kontrak konstruksi.

(3) Pembayaran klaim kepada kontraktor atau pihak ketiga sehubungan dengan pelaksanaan kontrak konstruksi.

(21)

3) Pengungkapan

Konstruksi Dalam Pengerjaan disajikan sebesar nilai moneternya.

Selain itu di dalam Catatan Ringkas Barang (CRB) diungkapkan pula:

a) Rincian kontrak konstruksi dalam pengerjaan berikut tingkat penyelesaian dan jangka waktu penyelesaiannya;

b) Nilai kontrak konstruksi dan sumber pembiayaanya;

c) Jumlah biaya yang telah dikeluarkan;

d) Uang muka kerja yang diberikan;

e) Retensi.

3. Aset Tak Berwujud

Aset tak berwujud adalah aset non keuangan yang dapat diidentifikasikan dan tidak mempunyai wujud fisik serta dimiliki untuk digunakan dalam menghasilkan barang atau jasa atau digunakan untuk tujuannya lainnya termasuk hak atas kekayaan intelektual. Aset tak berwujud meliputi software komputer, lisensi dan franchise, hak cipta (copyright), paten, dan hak lainnya, dan hasil kajian/penelitian yang memberikan manfaat jangka panjang.

a. Pengakuan

Pengakuan atas Aset Tak Berwujud ditentukan jenis transaksinya meliputi penambahan, pengembangan dan pengurangan.

Penambahan adalah peningkatan nilai Aset Tak Berwujud yang disebabkan pengadaan baru. Biaya penambahan dikapitalisasi dan ditambahkan pada harga perolehan Aset Tak berwujud tersebut.

Pengembangan adalah peningkatan nilai Aset Tak Berwujud karena peningkatan manfaat ekonomis dan/atau sosial.

Pengurangan adalah penurunan nilai Aset Tak Berwujud dikarenakan berkurangnya kuantitas aset tersebut.

Untuk hasil kajian yang tidak dapat diidentifikasi dan tidak memberikan manfaat ekonomis dan/atau sosial maka tidak dapat dikapitalisasi sebagai aset tak berwujud.

b. Pengukuran

Aset tak berwujud dinilai sebesar pengeluaran yang terjadi dengan SPM belanja modal non fisik yang melekat pada aset tersebut setelah dikurangi dengan biaya-biaya lain yang tidak dapat dikapitalisir.

c. Pengungkapan

Aset tak berwujud disajikan sebesar nilai moneternya. Selain itu di dalam Catatan Ringkas Barang (CRB) diungkapkan pula:

1) Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai;

2) Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan Penambahan, Pengembangan dan Pengurangan;

3) Kebijakan akuntansi untuk kapitalisasi yang berkaitan dengan Aset Tak berwujud.

(22)

4. Aset Lain-lain

Aset lain-lain digunakan untuk mencatat yang tidak dapat dikelompokkan ke dalam aset tak berwujud, tagihan penjualan angsuran, tuntutan perbendaharaan, tuntutan ganti rugi dan kemitraan dengan pihak ketiga. Aset tetap yang dihentikan dari penggunaan aktif pemerintah tidak memenuhi definisi aset tetap dan harus dipindahkan ke pos aset lain-lain.

a. Pengakuan

Aset tetap diakui sebagai aset lain-lain pada saat dinilai kondisi aset tetap tersebut adalah rusak berat, tetapi belum ada Surat Keputusan Penghapusan.

Pengakuan atas Aset Lain-lain ditentukan jenis transaksinya meliputi penambahan dan pengurangan.

Penambahan adalah peningkatan nilai Aset Lain-lain yang disebabkan perpindahan dari pos aset tetap.

Pengurangan adalah penurunan nilai Aset Lain-lain dikarenakan telah dikeluarkannya Surat Keputusan Penghapusan dan harus dieliminasi dari Neraca.

b. Pengukuran

Aset lain-lain dinilai sebesar biaya perolehannya atau nilai yang tercatat sebelumnya pada pos aset tetap.

c. Pengungkapan

Aset lain-lain disajikan Neraca sebesar nilai moneternya. Selain itu di dalam Catatan Ringkas Barang (CRB) diungkapkan pula:

1) Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai;

2) Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan Penambahan dan Pengurangan;

3) Kebijakan akuntansi yang berkaitan dengan Aset Lain-lain.

5. Perolehan Secara Gabungan

Biaya perolehan dari masing-masing aset tetap yang diperoleh secara gabungan ditentukan dengan mengalokasikan harga gabungan tersebut berdasarkan perbandingan nilai wajar masing-masing aset yang bersangkutan.

6. Aset Bersejarah (Heritage Assets)

Aset bersejarah (heritage assets) tidak disajikan di neraca namun aset tersebut harus diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

Beberapa aset tetap dijelaskan sebagai aset bersejarah dikarenakan kepentingan budaya, lingkungan, dan sejarah. Contoh dari aset bersejarah adalah bangunan bersejarah, monumen, tempat-tempat purbakala (archaeological sites) seperti candi, dan karya seni (works of art).

(23)

Karakteristik-karakteristik di bawah ini sering dianggap sebagai ciri khas dari suatu aset bersejarah,

a. Nilai kultural, lingkungan, pendidikan, dan sejarahnya tidak mungkin secara penuh dilambangkan dengan nilai keuangan berdasarkan harga pasar;

b. Peraturan dan hukum yang berlaku melarang atau membatasi secara ketat pelepasannya untuk dijual;

c. Tidak mudah untuk diganti dan nilainya akan terus meningkat selama waktu berjalan walaupun kondisi fisiknya semakin menurun;

d. Sulit untuk mengestimasikan masa manfaatnya. Untuk beberapa kasus dapat mencapai ratusan tahun.

Aset bersejarah biasanya diharapkan untuk dipertahankan dalam waktu yang tak terbatas. Aset bersejarah dibuktikan dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku. Pemerintah mungkin mempunyai banyak aset bersejarah yang diperoleh selama bertahun-tahun dan dengan cara perolehan beragam termasuk pembelian, donasi, warisan, rampasan, ataupun sitaan. Aset bersejarah dicatat dalam kuantitasnya tanpa nilai, misalnya jumlah unit koleksi yang dimiliki atau jumlah unit monumen.

Biaya untuk perolehan, konstruksi, peningkatan, rekonstruksi harus dibebankan sebagai belanja tahun terjadinya pengeluaran tersebut. Biaya tersebut termasuk seluruh biaya yang berlangsung untuk menjadikan aset bersejarah tersebut dalam kondisi dan lokasi yang ada pada periode berjalan.

Beberapa aset bersejarah juga memberikan potensi manfaat lainnya kepada pemerintah selain nilai sejarahnya, sebagai contoh bangunan bersejarah digunakan untuk ruang perkantoran. Untuk kasus tersebut, aset ini akan diterapkan prinsip-prinsip yang sama seperti aset tetap lainnya.

Ketentuan lebih lanjut mengenai akuntansi BMN disesuaikan dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan dan Buletin Teknis Standar Akuntansi Pemerintahan yang disusun dan ditetapkan oleh Komite Standar Akuntansi Pemerintahan (KSAP).

B. Kapitalisasi

Laporan BMN ini dihasilkan melalui Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK-BMN), yaitu serangkaian prosedur manual maupun yang terkomputerisasi mulai dari pengumpulan data, pencatatan dan pengikhtisaran sampai dengan pelaporan posisi keuangan dan operasi keuangan pada Kementerian Negara/Lembaga.

Penyusunan dan penyajian Laporan BMN Tahun 2020 ini telah mengacu pada Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) yang telah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.

Disamping itu, dalam penyusunannya telah diterapkan kaidah-kaidah pengelolaan keuangan yang sehat di lingkungan pemerintahan.

(24)

Aset tetap mencakup seluruh aset berwujud yang dimanfaatkan oleh pemerintah maupun untuk kepentingan publik yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun. Aset tetap dilaporkan pada neraca berdasarkan harga perolehan atau harga wajar.

Pengakuan aset tetap didasarkan pada nilai satuan minimum kapitalisasi sebagai berikut:

1. Pengeluaran untuk per satuan peralatan dan mesin dan peralatan olah raga yang nilainya sama dengan atau lebih dari Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah);

2. Pengeluaran untuk gedung dan bangunan yang nilainya sama dengan atau lebih dari Rp25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah);

3. Pengeluaran yang tidak tercakup dalam batasan nilai minimum kapitalisasi tersebut di atas, diperlakukan sebagai biaya kecuali pengeluaran untuk tanah, jalan/irigasi/jaringan, dan aset tetap lainnya berupa koleksi perpustakaan dan barang bercorak kesenian.

C. Kebijakan Penyusutan

Penyusutan Aset Tetap dilakukan dengan menggunakan metode garis lurus.

Metode garis lurus sebagaimana dimaksud dilakukan dengan mengalokasikan nilai yang dapat disusutkan dari Aset Tetap secara merata setiap semester selama Masa Manfaat.

Penyusunan Laporan BMN Tahun Anggaran 2020 Audited pada UAPB Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, sudah menerapkan penyusutan Barang Milik Negara berupa Aset Tetap dengan berpedoman pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 65/PMK.06/2017 tentang Penyusutan Barang Milik Negara Berupa Aset Tetap Pada Entitas Pemerintah Pusat.

Penyusutan aset tetap adalah penyesuaian nilai sehubungan dengan penurunan kapasitas dan manfaat dari suatu aset tetap dengan beberapa kententuan dasar sebagai berikut:

a. Penyusutan asset tetap tidak dilakukan terhadap Tanah, Konstruksi dalam Pengerjaaan (KDP) dan Asset Tetap yang dinyatakan hilang berdasarkan dokumen sumber sah atau dalam kondisi rusak berat dan/atau usang yang telah diusulkan kepada Pengelola Barang untuk dilakukan penghapusan.

b. Nilai yang disusutkan pertama kali adalah nilai yang tercatat dalam pembukuan per 31 Desember 2012 tentang Penerapan Penyusutan Barang Milik Negara Berupa Aset Tetap Pada Pemerintah Pusat, dan untuk asset tetap yang diperoleh sampai dengan 31 Desember 2012. Sedangkan untuk asset tetap yang diperoleh setelah 31 Desember 2012, nilai yang disusutkan adalah berdasarkan nilai perolehan.

c. Penghitungan dan pencatatan Penyusutan Aset tetap dilakukan setiap akhir semester tanpa memperhitungkan adanya nilai residu.

d. Penyusutan Asset Tetap dilakukan dengan menggunakan metode garis lurus yaitu dengan mengalokasikan nilai yang dapat disusutkan dari Aset Tetap secara merata setiap semester selama Masa Manfaat.

(25)

e. Masa manfaat Aset Tetap ditentukan dengan berpedoman pada Keputusan Menteri Keuangan Nomor 295/KMK.6/2019 tentang Tabel Masa Manfaat Dalam Rangka Penyusutan Barang Milik Negara Berupa Aset Tetap pada Entitas Pemerintah Pusat.

Secara umum Tabel Masa Manfaat tersebut adalah sebagai berikut:

Uraian Umur/Masa Manfaat

Tahun Semester Alat Besar

Alat Besar Darat 10 20

Alat Besar Apung 8 16

Alat Bantu 7 14

Alat Angkutan

Alat Angkutan Darat Bermotor 7 14

Alat Angkutan Darat Tak Bermotor 2 4

Alat Angkutan Apung Bermotor 10 20

Alat Angkutan Apung Tak Bermotor 3 6

Alat Angkutan Bermotor Udara 20 40

Alat Bengkel Dan Alat Ukur

Alat Bengkel Bermesin 10 20

Alat Bengkel Tak Bermesin 5 10

Alat Ukur 5 10

Alat Pertanian

Alat Pengolahan 4 8

Alat Kantor & Rumah Tangga

Alat Kantor 5 10

Alat Rumah Tangga 5 10

Alat Studio, Komunikasi Dan Pemancar

Alat Studio 5 10

Alat Komunikasi 5 10

Peralatan Pemancar 10 20

Peralatan Komunikasi Navigasi 15 30

Alat Kedokteran Dan Kesehatan

Alat Kedokteran 5 10

Alat Kesehatan Umum 5 10

Alat Laboratorium

Unit Alat Laboratorium 8 16

Unit Alat Laboratorium Kimia Nuklir 15 30

Alat Laboratorium Fisika Nuklir/Elektronika 15 30

Alat Proteksi Radiasi/Proteksi Lingkungan 10 20

Radiation Application & Non Destructive Testing Laboratory 10 20

Alat Laboratorium Lingkungan Hidup 7 14

(26)

Uraian Umur/Masa Manfaat Tahun Semester

Peralatan Laboratorium Hydrodinamica 15 30

Alat Laboratorium Standarisasi Kalibrasi & Instrum 10 20 Alat Persenjataan

Senjata Api 10 20

Persenjataan Non Senjata Api 3 6

Senjata Sinar 5 10

Alat Khusus Kepolisian 4 8

Komputer

Komputer Unit 4 8

Peralatan Komputer 4 8

Alat Eksplorasi

Alat Ekspolorasi Topografi 5 10

Alat Ekspolorasi Geofisika 10 20

Alat Pengeboran

Alat Pengeboran Mesin 10 20

Alat Pengeboran Non Mesin 10 20

Alat Produksi, Pengolahan Dan Pemurnian

Sumur 10 20

Produksi 10 20

Pengolahan Dan Pemurnian 15 30

Alat Bantu Eksplorasi

Alat Bantu Eksplorasi 10 20

Alat Bantu Produksi 10 20

Alat Keselamatan Kerja

Alat Deteksi 5 10

Alat Pelindung 5 10

Alat Sar 2 4

Alat Kerja Penerbangan 10 20

Alat Peraga

Alat Peraga Pelatihan & Percontohan 10 20

Peralatan Proses/Produksi

Unit Peralatan Proses/Produksi 8 16

Rambu – Rambu

Rambu – Rambu Lalu Lintas Darat 7 14

Rambu – Rambu Lalulintas Udara 5 10

Rambu – Rambu Lalu Lintas Laut 15 30

Peralatan Olah Raga

Peralatan Olah Raga 3 6

Bangunan Gedung

(27)

Uraian Umur/Masa Manfaat Tahun Semester

Bangunan Gedung Tempat Kerja 50 100

Bangunan Gedung Tempat Tinggal 50 100

Monumen

Candi/Tugu Peringatan/Prasasti 50 100

Bangunan Menara Perambuan 40 80

Tugu Titik Kontrol/Pasti

Tugu/Tanda Batas 50 100

Jalan Dan Jembatan

Jalan 10 20

Jembatan 50 100

Bangunan Air

Bangunan Air Irigasi 50 100

Bangunan Pengairan Pasang Surut 50 100

Bangunan Pengembangan Rawa Dan Polder 25 50

Bangunan Pengembangan Sungai/Pantai & Penanggulangan

Bencana Alam 10 20

Bangunan Pengembangan Sumber Air Dan Tanah 30 60

Bangunan Air Bersih/Air Baku 40 80

Bangunan Air Kotor 40 80

Instalasi

Instalasi Air Bersih/Air Baku 30 60

Instalasi Air Kotor 30 60

Instalasi Pengolahan Sampah 10 20

Instalasi Pengolahan Bahan Bangunan 10 20

Instalasi Pembangkit Listrik 40 80

Instalasi Gardu Listrik 40 80

Instalasi Pertahanan 30 60

Instalasi Gas 30 60

Instalasi Pengaman 20 40

Instalasi Lain 5 10

Jaringan

Jaringan Air Minum 30 60

Jaringan Listrik 40 80

Jaringan Telepon 20 40

Jaringan Gas 30 60

Barang Bercorak Kesenian/Kebudayaan/Olahraga

Barang Bercorak Kesenian 4 8

(28)

BAB III

PENDEKATAN

PENYUSUNAN LAPORAN

(29)

III. PENDEKATAN PENYUSUNAN LAPORAN

Laporan Barang Pengguna Tahun Anggaran 2020 Audited merupakan laporan yang mencakup seluruh aspek BMN yang ditatausahakan dan dikelola oleh Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional. Nilai BMN gabungan (intrakomptabel dan ekstrakomptabel) yang disajikan per 31 Desember 2020 adalah sebesar Rp16.963.149.779.443,00 (enam belas triliun sembilan ratus enam puluh tiga miliar seratus empat puluh sembilan juta tujuh ratus tujuh puluh sembilan ribu empat ratus empat puluh tiga rupiah), yang merupakan nilai BMN berupa saldo awal laporan sebesar Rp16.538.598.191.537,00 (enam belas triliun lima ratus tiga puluh delapan miliar lima ratus sembilan puluh delapan juta seratus sembilan puluh satu ribu lima ratus tiga puluh tujuh rupiah) dan nilai mutasi yang terjadi selama tahun 2020 sebesar Rp1.111.570.523.250,00 (satu triliun seratus sebelas miliar lima ratus tujuh puluh juta lima ratus dua puluh tiga ribu dua ratus lima puluh rupiah) untuk mutasi tambah dan sebesar Rp687.018.935.344,00 (enam ratus delapan puluh tujuh miliar delapan belas juta sembilan ratus tiga puluh lima ribu tiga ratus empat puluh empat rupiah) untuk mutasi kurang. Nilai mutasi BMN tersebut berasal dari transaksi keuangan dan transaksi non-keuangan. Mutasi BMN yang berasal dari transaksi keuangan merupakan penambahan nilai BMN yang berasal dari perolehan dan/atau penambahan BMN yang berasal dari pembiayaan APBN selama periode tahun berjalan, sedangkan transaksi non-keuangan merupakan transaksi penambahan dan pengurangan atas BMN yang berasal dari pembiayaan selain APBN periode tahun berjalan.

Laporan Barang Pengguna Tahun Anggaran 2020 Audited merupakan himpunan dari LBKP pada 512 (lima ratus dua belas) Kuasa Pengguna Barang, yang terdiri atas 9 Satuan Kerja Kantor Pusat dan 503 (lima ratus tiga) Satuan Kerja Kantor Daerah.

Laporan Barang Pengguna ini disusun menggunakan sistem aplikasi sebagai alat bantu guna mempermudah dalam melakukan Penatausahaan BMN dengan cetakan barang pengguna (sebagaimana terlampir) yang terdiri atas:

a. Neraca;

b. Laporan Barang Persediaan;

c. Laporan Aset Tetap (Intrakomptabel, Ekstrakomptabel, dan Gabungan);

d. Laporan Konstruksi Dalam Pengerjaan (KDP);

e. Laporan Aset Tak Berwujud;

f. Laporan Barang Bersejarah;

g. Laporan Kondisi Barang;

h. Laporan Penyusutan;

i. Laporan Barang Hilang Yang Telah Diusulkan Penghapusannya Kepada Pengelola Barang;

j. Laporan Barang Rusak Berat Yang Telah Diusulkan Penghapusannya Kepada Pengelola Barang;

k. Laporan Barang Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditetapkan Statusnya (BPYBDS);

l. Catatan atas Laporan Barang Milik Negara;

m. Berita Acara Rekonsiliasi (BAR) internal SAK-SIMAK pada Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia; dan

n. Laporan PNBP yang terkait dengan pengelolaan BMN.

(30)

BAB IV

RINGKASAN

BARANG MILIK NEGARA TAHUN ANGGARAN 2020

AUDITED

(31)

IV. RINGKASAN BARANG MILIK NEGARA TAHUN ANGGARAN 2020 AUDITED

A. Saldo Awal Tahun Anggaran 2020

Nilai BMN per 1 Januari 2020 menurut Unit Akuntansi Pengguna Barang (UAPB) Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional adalah sebesar Rp16.538.598.191.537,00,00 (enam belas triliun lima ratus tiga puluh delapan miliar lima ratus sembilan puluh delapan juta seratus sembilan puluh satu ribu lima ratus tiga puluh tujuh rupiah) yang terdiri atas nilai BMN Intrakomptabel (nilai BMN yang disajikan dalam Neraca) sebesar Rp16.488.836.555.752,00 (enam belas triliun empat ratus delapan puluh delapan miliar delapan ratus tiga puluh enam juta lima ratus lima puluh lima ribu tujuh ratus lima puluh dua rupiah) dan nilai BMN Ekstrakomptabel sebesar Rp49.761.635.785,00 (empat puluh sembilan miliar tujuh ratus enam puluh satu juta enam ratus tiga puluh lima ribu tujuh ratus delapan puluh lima rupiah).

B. Ringkasan Mutasi Barang Milik Negara Tahun Anggaran 2020

Mutasi BMN selama Tahun Anggaran 2020 Audited adalah sebagai berikut:

1. Barang Persediaan

Saldo Persediaan pada UAPB Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional per 31 Desember 2020 sebesar Rp92.833.552.750,00 (Sembilan puluh dua miliar delapan ratus tiga puluh tiga juta lima ratus lima puluh dua ribu tujuh ratus lima puluh rupiah).

Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal sebesar Rp113.094.198.603,00 (seratus tiga belas miliar sembilan puluh empat juta seratus sembilan puluh delapan ribu enam ratus tiga rupiah) dan total mutasi tambah persediaan dengan nilai sebesar Rp30.221.860,00 (tiga puluh juta dua ratus dua puluh satu ribu delapan ratus enam puluh rupiah) dan mutasi kurang persediaan dengan nilai sebesar Rp20.290.867.713,00 (dua puluh miliar dua ratus sembilan puluh juta delapan ratus enam puluh tujuh ribu tujuh ratus tiga belas rupiah).

Jumlah tersebut dapat dirinci sebagai berikut:

No. Jenis Transaksi Mutasi

(Rp)

1. Suku Cadang 12.633.200

2. Bahan Baku 3.158.000

3. Persediaan Lainnya 14.430.660

Total 30.221.860

Rincian Mutasi Kurang Persediaan sebagai berikut:

No. Jenis Transaksi Mutasi

(Rp)

1. Barang Konsumsi 20.239.174.792

2. Bahan untuk Pemeliharaan 36.774.921 3. Pita Cukai, Materai dan Leges 14.918.000

Total 20.290.867.713

(32)

2. Tanah

Saldo Tanah pada UAPB Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional per 31 Desember 2020 seluas 3.852.028 m2 dengan nilai sebesar Rp9.116.981.714.216,00 (sembilan triliun seratus enam belas miliar Sembilan ratus delapan puluh satu juta tujuh ratus empat belas ribu dua ratus enam belas rupiah).

Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal tanah seluas 3.666.395 m2 dengan nilai sebesar Rp9.059.218.112.964,00 (sembilan triliun lima puluh sembilan miliar dua ratus delapan belas juta seratus dua belas ribu sembilan ratus enam puluh empat rupiah) mutasi tambah seluas 261.683 m2 dengan nilai sebesar Rp114.071.502.252,00 (seratus empat belas miliar tujuh puluh satu juta lima ratus dua ribu dua ratus lima puluh dua rupiah) dan mutasi kurang seluas 76.050 m2 dengan nilai sebesar Rp56.307.901.000,00 (lima puluh enam miliar tiga ratus tujuh juta sembilan ratus satu ribu rupiah).

Rincian Mutasi Tambah Tanah sebagai berikut:

No. Jenis Transaksi Kuantitas

(m2)

Nilai (Rp) 1. Transfer Masuk 51.570 4.831.314.000 2. Hibah (Masuk) 64.533 8.713.241.082

3. Pembelian 5.180 4.700.400.000

4. Koreksi Barang Berlebih Akibat Koreksi

Penilaian Kembali 0 81.169.000

5. Koreksi barang Berlebih hasil Inventarisasi 6.240 833.269.000 6. Koreksi Ekuitas Akibat Koreksi Revaluasi 0 6.585.416.000

7. Koreksi Kesalahan input IP 0 9.711.231.250

8. Koreksi Nilai Tim Penertiban Aset 0 1.322.095.000 9. Koreksi Pencatatan Nilai/Kuantitas (8.195) 838.029.000

10. Koreksi Penilaian Kembali BMN 0 4.070.471.000

11. Koreksi Saldo Awal 100.000 170.000.000

12. Koreksi Transfer Masuk 0 254.563.000

13. Pengembangan Melalui KDP 0 287.843.000

14. Penyelesaian Pembangunan Dengan KDP 16.023 16.881.288.920

15. Perolehan Lainnya 12.073 42.568.911.000

16. Reklasifikasi Masuk 2.864 10.911.349.000

17. Uraian Transaksi Tidak Ada 11.395 1.310.912.000

Total 261.683 114.071.502.252

Rincian Mutasi Kurang Tanah sebagai berikut:

No. Jenis Transaksi Kuantitas

(m2)

Nilai (Rp)

1. Transfer Keluar 51.570 4.831.314.000

2. Koreksi Ekuitas Akibat Koreksi Revaluasi 0 88.934.000

(33)

No. Jenis Transaksi Kuantitas (m2)

Nilai (Rp) 3. Koreksi Hasil Revaluasi atas BMN yg tidak

ditemukan 0 6.465.988.000

4. Koreksi Kesalahan input IP 0 5.203.637.000

5. Koreksi Pencatatan 1.064 973.270.000

6. Koreksi Pencatatan Nilai/Kuantitas 8.195 0

7. Koreksi Transfer Keluar atas 224 0 254.563.000

8. Penghapusan 8.799 26.179.000.000

9. Reklasifikasi Keluar 3.222 10.911.349,000

10. Transaksi Normalisasi BMN 0 88.934.000

11. Uraian Transaksi Tidak Ada 3.200 1.310.912.000

Total 76.050 56.307.901.000

3. Peralatan Mesin

Saldo Peralatan dan Mesin (intrakomptabel) pada UAPB Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional per 31 Desember 2020 adalah sebesar Rp3.038.110.046.421,00 (tiga triliun tiga puluh delapan miliar seratus sepuluh juta empat puluh enam ribu empat ratus dua puluh satu rupiah).

Jumlah tersebut terdiri atas saldo awal sebesar Rp2.920.546.112.445,00 (dua triliun sembilan ratus dua puluh miliar lima ratus empat puluh enam juta seratus dua belas ribu empat ratus empat puluh lima rupiah), mutasi tambah sebesar Rp332.327.701.402,00 (tiga ratus tiga puluh dua miliar tiga ratus dua puluh tujuh juta tujuh ratus satu ribu empat ratus dua rupiah) dan mutasi kurang sebesar Rp214.763.767.426,00 (dua ratus empat belas miliar tujuh ratus enam puluh tiga juta tujuh ratus enam puluh tujuh ribu empat ratus dua puluh enam rupiah).

Saldo Peralatan dan Mesin (ekstrakomptabel) pada UAPB Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional per 31 Desember 2020 adalah sebesar Rp13.343.379.881,00 (tiga belas miliar tiga ratus empat puluh tiga juta tiga ratus tujuh puluh sembilan ribu delapan ratus delapan puluh satu rupiah).

Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal sebesar Rp11.458.570.100,00 (sebelas miliar empat ratus lima puluh delapan juta lima ratus tujuh puluh ribu seratus rupiah), mutasi tambah sebesar Rp2.137.280.845,00 (dua miliar seratus tiga puluh tujuh juta dua ratus delapan puluh ribu delapan ratus empat puluh lima rupiah) dan mutasi kurang sebesar Rp252.471.064,00 (dua ratus lima puluh dua juta empat ratus tujuh puluh satu ribu enam puluh empat rupiah).

Rincian mutasi Peralatan dan Mesin per bidang barang adalah sebagai berikut:

a. Alat Besar (3.01)

Saldo Alat Besar (intrakomptabel) pada UAPB Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional per 31 Desember 2020 sebesar Rp 31.318.912.182,00 (tiga puluh satu miliar tiga ratus delapan belas juta sembilan ratus dua belas ribu seratus delapan puluh dua rupiah).

(34)

Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal sebanyak 297 unit dengan nilai sebesar Rp31.241.506.581,00 (tiga puluh satu miliar dua ratus empat puluh satu juta lima ratus enam ribu lima ratus delapan puluh satu rupiah), mutasi tambah sebanyak 9 unit dengan nilai sebesar Rp589.834.000,00 (lima ratus delapan puluh sembilan juta delapan ratus tiga puluh empat ribu rupiah) dan mutasi kurang sebanyak 8 unit dengan nilai sebesar Rp512.428.399,00 (lima ratus dua belas juta empat ratus dua puluh delapan ribu tiga ratus sembilan puluh sembilan rupiah).

Saldo Alat Besar (ekstrakomptabel) pada UAPB Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional per 31 Desember 2020 sebesar Rp835.000,00 (delapan ratus tiga puluh lima ribu rupiah).

Jumlah tersebut seluruhnya merupakan saldo awal sebanyak 22 unit dengan nilai sebesar Rp835.000,00 (delapan ratus tiga puluh lima ribu rupiah).

Mutasi Tambah Alat Besar (3.01) tersebut meliputi:

No. Jenis Transaksi Intrakomptabel

(Rp)

Ekstrakomptabel (Rp)

1. Pembelian 495.209.000 0

2. Pengembangan Nilai Aset 94.625.000 0

Total 589.834.000 0

Mutasi Kurang Alat Besar (3.01) tersebut meliputi:

No. Jenis Transaksi Intrakomptabel

(Rp)

Ekstrakomptabel (Rp)

1. Reklasifikasi Keluar 269.535.989 0

2. Penghentiaan Aset Dari Penggunaan 242.892.410 0

Total 512.428.399 0

b. Alat Angkutan (3.02)

Saldo Alat Angkutan (intrakomptabel) pada UAPB Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional per 31 Desember 2020 sebesar Rp504.987.100.084,00 (lima ratus empat miliar sembilan ratus delapan puluh tujuh juta seratus delapan puluh empat rupiah).

Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal sebanyak 6.088 unit dengan nilai sebesar Rp 496.951.031.703,00 (empat ratus sembilan puluh enam miliar sembilan ratus lima puluh satu juta tiga puluh satu ribu tujuh ratus tiga rupiah), mutasi tambah sebanyak 153 unit dengan nilai sebesar Rp22.575.891.143,00 (dua puluh dua miliar lima ratus tujuh puluh lima juta delapan ratus sembilan puluh satu ribu seratus empat puluh tiga rupiah) dan mutasi kurang sebanyak 301 unit dengan nilai sebesar Rp14.539.822.762,00 (empat belas miliar lima ratus tiga puluh sembilan juta delapan ratus dua puluh dua ribu tujuh ratus enam puluh dua rupiah).

(35)

Saldo Alat Angkutan (ekstrakomptabel) pada UAPB Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional per 31 Desember 2020 sebesar Rp15.079.000,00 (lima belas juta tujuh puluh sembilan ribu rupiah).

Jumlah tersebut seluruhnya merupakan saldo awal sebanyak sebelas unit dengan nilai sebesar Rp31.079.000,00 (tiga puluh satu juta tujuh puluh sembilan ribu rupiah), mutasi tambah sebanyak empat unit dengan nilai sebesar Rp700.000,00 (tujuh ratus ribu rupiah) dan mutasi kurang sebanyak tiga unit dengan nilai sebesar Rp16.700.000,00 (enam belas juta tujuh ratus ribu rupiah).

Mutasi Tambah Alat Angkutan (3.02) tersebut meliputi:

No. Jenis Transaksi Intrakomptabel

(Rp)

Ekstrakomptabel (Rp)

1. Koreksi Saldo Awal 588.150.000 0

2. Pembelian 13.943.000.000 700.000

3. Transfer Masuk 4.729.240.583 0

4. Hibah (Masuk) 2.332.214.227 0

5. Reklasifikasi Masuk 19.535.989 0

6. Perolehan Lainnya 293.966.650 0

7. Reklasifikasi Dari Aset Lainnya ke

Aset Tetap 669.783.694 0

8. Reklasifikasi Dari Aset Tetap ke Aset

Lainnya 0 16.700.000

9. Uraian Transaksi Tidak Ada 0 (16.700.000)

Total 22.575.891.143 700.000

Mutasi Kurang Alat Angkutan (3.02) tersebut meliputi:

No. Jenis Transaksi Intrakomptabel

(Rp)

Ekstrakomptabel (Rp) 1. Koreksi Pencatatan Nilai/Kuantitas 20.310.000 0

2. Penghapusan 129.307.386 0

3. Transfer Keluar 4.729.240.583 0

4. Koreksi Pencatatan 110.182.000 0

5. Usulan Barang Hilang ke Pengelola 53.100.000 0 6. Penghapusan (semester II dokumen

semester I) 119.800.000 0

7. Penghentiaan Aset Dari Penggunaan 9.377.882.793 16.700.000

Total 14.539.822.762 16.700.000

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penelitian ini verifikasi hasil model dilakukan terhadap elevasi pasang surut, suhu permukaan dan suhu vertikal serta verifikasi pola arus permukaan yang diperoleh dari

Pada masa revolusi, pemugaran bukan hanya terhenti, akan tetapi yang lebih parah adalah dokumen dan arsip-arsip penting lainnya sebagian musnah akibat perang.

Oleh karena itu, pada penelitian ini akan dilakukan pengujian untuk mengetahui nilai tegangan tembus dari minyak kelapa murni dengan penambahan senyawa TiO2 (Titanium

Perjalanan Dinas Jabatan yang dilaksanakan lebih dari 8 (delapan) jam. 1) Perjalanan dinas untuk kegiatan dalam kabupaten/kota yang memerlukan waktu tempuh melebihi 8 (delapan)

Pada cover album bagian dalam ini pada sisi kirinya menggunakan ilustrasi gambar butho ijo yang sedang memakan korbannya membuat tampilan sisi dalam cover terlihat kuat,

Hasil Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) dalam rangka Penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional Formasi Tahun

Bahwa dalam rangka menjaring Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri (PPNPN) yang potensial, Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Banten memberi

Sesuai Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 16 Tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Agraria dan