• Tidak ada hasil yang ditemukan

SATUAN ACARA PENYULUHAN SADARI.docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SATUAN ACARA PENYULUHAN SADARI.docx"

Copied!
56
0
0

Teks penuh

(1)

SATUAN ACARA PENYULUHAN

SATUAN ACARA PENYULUHAN

SADARI

SADARI

SATUAN ACARA PENYULUHAN SATUAN ACARA PENYULUHAN

SADARI SADARI

I.

I. IDENTIFIKASI MASALAHIDENTIFIKASI MASALAH

Sadari adalah upaya yang dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya kanker dalam Sadari adalah upaya yang dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya kanker dalam  payudara yang dilakukan di depan cermin.

 payudara yang dilakukan di depan cermin. II.

II. PENGANTAR PENGANTAR  Bidang

Bidang studi studi : : Critical Critical ThinkingThinking Topic

Topic : : MaternitasMaternitas Sub

Sub topic topic : : SadariSadari Sasaran

Sasaran : : MahasiswaMahasiswa

Hari / tanggal : Jumat, 11 Nov 2011 Hari / tanggal : Jumat, 11 Nov 2011 Jam

Jam : : 16.00 16.00 WIBWIB Waktu

Waktu : : 30 30 menitmenit

Tempat :

Tempat :

III.

III. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU)TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU)

Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan ini diharapkan mahasiswa mendapatkan Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan ini diharapkan mahasiswa mendapatkan informasi dan

informasi dan pengetahuan tentang amputasi dan pengetahuan tentang amputasi dan penyebab serta jenis-jenis penyebab serta jenis-jenis amputasi.amputasi. IV.

IV. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK)TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK)

Setelah mengikuti penyuluhan mahasiswa diharapkan dapat : Setelah mengikuti penyuluhan mahasiswa diharapkan dapat : a.

(2)
(3)

 b.

 b. Mengetahui penyebab, jenis, metode, dan tingkatan amputasiMengetahui penyebab, jenis, metode, dan tingkatan amputasi

V.

V. MATERIMATERI Terlampir  Terlampir  VI.

VI. METODEMETODE 1.

1. CeramahCeramah 2.

2. Tanya jawabTanya jawab VII.

VII. MEDIAMEDIA 1.

1. PowerpointPowerpoint 2.

2. VideoVideo VIII.

VIII. KEGIATAN PEMBELAJARANKEGIATAN PEMBELAJARAN

 NO

 NO WAKTU WAKTU KEGIATAN PENYULUHAN KEGIATAN PENYULUHAN KEGIATAN PESERTAKEGIATAN PESERTA 1

1 2 2 Menit Menit Pembukaan Pembukaan :: Memberi salam Memberi salam

Menjelaskan kegiatan pembelajaran Menjelaskan kegiatan pembelajaran

Menyebutkan materi atau pokok bahasan yang Menyebutkan materi atau pokok bahasan yang akan disampaikan akan disampaikan menjawab salam menjawab salam Mendengarkan dan Mendengarkan dan memperhatikan memperhatikan 2.

2. 20 20 Menit Menit Pelaksanan Pelaksanan ::

Menjelaskan materi: Menjelaskan materi: sadari sadari tujuan sadari tujuan sadari kanker  kanker  mendengarkan mendengarkan Memperhatikan dan Memperhatikan dan menanyakan apabila ada menanyakan apabila ada  pertanyaan.

 pertanyaan. 3.

3. 6 6 Menit Menit Evaluasi Evaluasi ::

Memberikan pertanyaan dan menyuruh mengulang Memberikan pertanyaan dan menyuruh mengulang tentang materi sadari

tentang materi sadari

Mengulang apa yang Mengulang apa yang telah dijelaskan dan telah dijelaskan dan menjawab pertanyaan. menjawab pertanyaan.

(4)

4.

4. 2 2 Menit Menit Penutup Penutup ::

Mengucapkan terima kasih dan kontrak waktu lagi Mengucapkan terima kasih dan kontrak waktu lagi untuk melakukan implementasi dan evaluasi

untuk melakukan implementasi dan evaluasi Mengucapkan salam Mengucapkan salam Menyepakati kontrak  Menyepakati kontrak  waktu waktu Menjawab salam Menjawab salam IX.

IX. EVALUASIEVALUASI Pertanyaan: Pertanyaan: 1.

1. Apakah sApakah sadari itu adari itu ??

2. Bahaya apa bila tidak dilakukan sadari sejak dini ? 2. Bahaya apa bila tidak dilakukan sadari sejak dini ? 3. Bagaimana cara melakukan sadari ?

3. Bagaimana cara melakukan sadari ?

X.

X. LAMPIRAN MATERILAMPIRAN MATERI A.

A. PengertianPengertian

Sadari adalah pemeriksaan payudara sendiri yang bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya Sadari adalah pemeriksaan payudara sendiri yang bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya kanker dalam payudara wanita. Pemeriksaan ini dilakukan dengan meggunakan cermin dan kanker dalam payudara wanita. Pemeriksaan ini dilakukan dengan meggunakan cermin dan dilakukan oleh wanita yang berumur 20 tahun ke atas

dilakukan oleh wanita yang berumur 20 tahun ke atas B.

B. EtiologiEtiologi

Indikasi utama sadari adalah karena : Indikasi utama sadari adalah karena :

Untuk mendeteksi terjadinya Cancer Payudara dengan mengamati payudara dari depan, sisi kiri Untuk mendeteksi terjadinya Cancer Payudara dengan mengamati payudara dari depan, sisi kiri dan sisi kanan, apakah ada benjolan, perubahan warna kuli, putting bersisik dan pengeluaran dan sisi kanan, apakah ada benjolan, perubahan warna kuli, putting bersisik dan pengeluaran cairan atau nanah dan darah.

cairan atau nanah dan darah.

Kanker payudara merupakan jenis kanker dengan jumlah kasus terbanyak di dunia, sekaligus Kanker payudara merupakan jenis kanker dengan jumlah kasus terbanyak di dunia, sekaligus  penyebab

 penyebab kematian kematian terbesar. terbesar. Sebagian Sebagian besar besar penderita penderita baru baru terdeteksi terdeteksi di di stadium stadium lanjut lanjut karenakarena kanker tidak bergejala.

(5)

Semakin bertambahnya usia, makin besar pula risiko seorang perempuan terkena kanker. Hal ini Semakin bertambahnya usia, makin besar pula risiko seorang perempuan terkena kanker. Hal ini tentu membuat kita khawatir. Meski begitu, kita bisa mengubah ketakutan menjadi sebuah tentu membuat kita khawatir. Meski begitu, kita bisa mengubah ketakutan menjadi sebuah tindakan nyata untuk mencegah penyakit yang jadi momok kaum wanita ini.

tindakan nyata untuk mencegah penyakit yang jadi momok kaum wanita ini. 1.

1. Aktif bergerak Aktif bergerak 

Tidak ada kata tua untuk mulai berolahraga. Penelitian menyebutkan, olahraga akan menurunkan Tidak ada kata tua untuk mulai berolahraga. Penelitian menyebutkan, olahraga akan menurunkan kadar hormon estrogen, yang berkaitan dengan kanker. Lakukan olahraga minimal 30 menit kadar hormon estrogen, yang berkaitan dengan kanker. Lakukan olahraga minimal 30 menit sehari.

sehari. 2.

2. Kurangi berat badanKurangi berat badan

Setelah menopause, perempuan yang obesitas punya risiko lebih besar terkena kanker payudara Setelah menopause, perempuan yang obesitas punya risiko lebih besar terkena kanker payudara dibanding rekannya yang punya berat badan normal. Meski begitu, kenaikan bobot tubuh pada dibanding rekannya yang punya berat badan normal. Meski begitu, kenaikan bobot tubuh pada wanita yang tadinya beratnya ideal juga mendatangkan risiko yang sama.

wanita yang tadinya beratnya ideal juga mendatangkan risiko yang sama. 3.

3. Cukupi kebutuhan vitamin DCukupi kebutuhan vitamin D

Studi yang menegaskan manfaat vitamin D sebagai anti-kanker terus bermunculan. Yang terakhir  Studi yang menegaskan manfaat vitamin D sebagai anti-kanker terus bermunculan. Yang terakhir  menyebutkan, 94 persen pasien kanker payudara yang kekurangan vitamin D, kankernya lebih menyebutkan, 94 persen pasien kanker payudara yang kekurangan vitamin D, kankernya lebih cepat menyebar dibanding mereka yang cukup vitamin D.

cepat menyebar dibanding mereka yang cukup vitamin D. 4.

4. Batasi alkoholBatasi alkohol

Data terbaru dari National Cancer Institute menunjukkan perempuan yang minum satu atau dua Data terbaru dari National Cancer Institute menunjukkan perempuan yang minum satu atau dua gelas alkohol setiap hari memiliki risiko terkena kanker payudara 32 persen lebih besar. Para ahli gelas alkohol setiap hari memiliki risiko terkena kanker payudara 32 persen lebih besar. Para ahli menyarankan untuk membatasi alkohol tidak

menyarankan untuk membatasi alkohol tidak lebih dari satu gelas per hari.lebih dari satu gelas per hari. 5.

5. Perhatikan gejalanyaPerhatikan gejalanya

Gejala awal kanker payudara dapat berupa benjolan yang biasanya dirasakan berbeda dari Gejala awal kanker payudara dapat berupa benjolan yang biasanya dirasakan berbeda dari  jaringan

 jaringan payudara payudara di di sekitarnya, sekitarnya, tidak tidak menimbulkan menimbulkan nyeri, nyeri, dan dan biasanya biasanya memiliki memiliki pinggiranpinggiran tidak teratur. Tanda lain yang mungkin timbul adalah benjolandi ketiak, perubahan ukuran atau tidak teratur. Tanda lain yang mungkin timbul adalah benjolandi ketiak, perubahan ukuran atau  bentuk

 bentuk payudara, payudara, keluar keluar cairan cairan yang yang abnormal abnormal dari dari puting puting susu, susu, dan dan perubahan perubahan warna warna atauatau tekstur kulit payudara.

tekstur kulit payudara. 6.

6. Lakukan deteksi diniLakukan deteksi dini

Skrining dan deteksi dini sebetulnya dapat secara signifikan menurunkan stadium pada temuan Skrining dan deteksi dini sebetulnya dapat secara signifikan menurunkan stadium pada temuan kasus kanker payudara. Selain mamografi, pemeriksaan payudara sendiri (Sadari) yang dapat kasus kanker payudara. Selain mamografi, pemeriksaan payudara sendiri (Sadari) yang dapat diajarkan, kemudian dipraktikkan sendiri oleh perempuan, jika dilakukan secara teratur bisa diajarkan, kemudian dipraktikkan sendiri oleh perempuan, jika dilakukan secara teratur bisa mendeteksi tumor 1,2 sentimeter 

mendeteksi tumor 1,2 sentimeter  C.

(6)

Pemeriksaan payudara dilakukan setelah menstruasi, pada waktu payudara tidak keras atau Pemeriksaan payudara dilakukan setelah menstruasi, pada waktu payudara tidak keras atau  bengkak.

 bengkak. D.

D. Prosedur pelaksanaanProsedur pelaksanaan

SADARI bulanan dengan pemeriksaan klinis payudara tahunan (Clinical Breast Examination /Â SADARI bulanan dengan pemeriksaan klinis payudara tahunan (Clinical Breast Examination /Â CBE) oleh seorang ahli dan mamografi, sangat bermanfaat untuk mendeteksi kanker payudara CBE) oleh seorang ahli dan mamografi, sangat bermanfaat untuk mendeteksi kanker payudara sejak dini.Ada tiga langkah penting untuk melakukan SADARI, yaitu:

sejak dini.Ada tiga langkah penting untuk melakukan SADARI, yaitu: 1.

1. Pemeriksaan raba pada posisi berdiri.Pemeriksaan raba pada posisi berdiri.

Untuk melakukan pemeriksaan pada payudara sebelah kanan, angkat lengan kanan anda ke Untuk melakukan pemeriksaan pada payudara sebelah kanan, angkat lengan kanan anda ke  belakang

 belakang kepala, kepala, lalu lalu gunakan gunakan jari-jari jari-jari tangan tangan kiri kiri untuk untuk melakukan melakukan pemeriksaan. pemeriksaan. LakukanLakukan langkah-langkah sebaliknya untuk memeriksa payudara sebelah kiri.Â

langkah-langkah sebaliknya untuk memeriksa payudara sebelah kiri. 2.

2. Pemeriksaan raba pada saat berbaring.Pemeriksaan raba pada saat berbaring.

Berbaringlah di atas permukaan yang keras. Saat melakukan pemeriksaan pada payudara kanan, Berbaringlah di atas permukaan yang keras. Saat melakukan pemeriksaan pada payudara kanan, letakkan bantal di bawah pundak kanan. Kemudian letakkan lengan kanan di belakang kepala. letakkan bantal di bawah pundak kanan. Kemudian letakkan lengan kanan di belakang kepala. Ratakan jari-jari tangan kiri pada payudara kanan, dan tekan secara lembut dengan gerakan Ratakan jari-jari tangan kiri pada payudara kanan, dan tekan secara lembut dengan gerakan

memutar searah jarum jam. Mulailah pada bagian paling puncak dari payudara kanan (posisi jam memutar searah jarum jam. Mulailah pada bagian paling puncak dari payudara kanan (posisi jam 12), kemudian bergerak ke arah jam 10 dan seterusnya, sampai kembali ke posisi jam 12. Setelah 12), kemudian bergerak ke arah jam 10 dan seterusnya, sampai kembali ke posisi jam 12. Setelah itu, pindahkan jari-jari Anda kira-kira 2 cm mendek

itu, pindahkan jari-jari Anda kira-kira 2 cm mendekati puting. Teruskan gerakan memutar sepertiati puting. Teruskan gerakan memutar seperti sebelumnya hingga seluruh bagian payudara, termasuk puting selesai diperiksa. Lakukan hal sebelumnya hingga seluruh bagian payudara, termasuk puting selesai diperiksa. Lakukan hal yang sama pada payudara sebelah kiri.

yang sama pada payudara sebelah kiri.

Teknik SADARI yang benar harus menggunakan buku jari dari ketiga jari tengah Anda, bukan Teknik SADARI yang benar harus menggunakan buku jari dari ketiga jari tengah Anda, bukan ujung jari. Anda sangat dianjurkan untuk mengulang-ulang gerakan melingkar dengan buku jari ujung jari. Anda sangat dianjurkan untuk mengulang-ulang gerakan melingkar dengan buku jari yang disertai dengan sedikit penekanan. Namun penekanan yang berlebihan dapat menyebabkan yang disertai dengan sedikit penekanan. Namun penekanan yang berlebihan dapat menyebabkan tekanan pada tulang rusuk dan akan terasa seperti benjolan

tekanan pada tulang rusuk dan akan terasa seperti benjolan

3.

3. Tempo permeriksaanTempo permeriksaan

Pemeriksaan payudara sendiri sebaiknya dilakukan sebulan sekali. Para wanita yang sedang haid Pemeriksaan payudara sendiri sebaiknya dilakukan sebulan sekali. Para wanita yang sedang haid sebaiknya melakukan pemeriksaan pada hari ke-5 sampai ke-7 setelah masa haid bermula, ketika sebaiknya melakukan pemeriksaan pada hari ke-5 sampai ke-7 setelah masa haid bermula, ketika  payudara mereka sedang mengendur dan terasa lebih lunak.

 payudara mereka sedang mengendur dan terasa lebih lunak.

Jika menemukan adanya benjolan atau perubahan pada payudara yang membuat diri Anda resah, Jika menemukan adanya benjolan atau perubahan pada payudara yang membuat diri Anda resah, segera konsultasikan ke dokter. Jika dokter menginformasikan bahwa hasil pemeriksaannya segera konsultasikan ke dokter. Jika dokter menginformasikan bahwa hasil pemeriksaannya

(7)

menunjukkan tidak adanya kelainan tapi Anda masih tetap resah, Anda bisa meminta kunjungan lanjutan. Anda juga bisa meminta pendapat kedua dari seorang dokter spesialis.

Para wanita yang telah berusia 20 dianjurkan untuk mulai melakukan SADARI bulanan dan CBE tahunan, dan harus melakukan pemeriksaan mamografi setahun sekali bila mereka telah memasuki usia 40.

Jangan biarkan kanker payudara merusak hidup anda! kanker payudara bukan kanker ganas kalau anda menyadarinya sebelum terlambat!

(8)

XI. DAFTAR PUSTAKA

http://doktersehat.com/2007/01/02/sadari-pemeriksaan-payudara-sendiri/#ixzz1AFh5cPkb

http://doktersehat.com/2010/03/23/cegah-kanker-payudara/#ixzz1AFgqvhst

buku panduan praktikum keperawatan maternitas

Diposkan 8th December 2011 oleh Bidan Pendidik D4 Stikes 'Aisyiyah Yogyakarta Label: Ayu Amalia Putri

0

Nama: Eti Sulastri NIM: 201110104251 Kelas F

MDGs

A. Tinjauan teori MDGS

1.Pengertian Millenium Development Goals

Adalah sebuah inisiatif pembangunan yang dibentuk pada tahun 2000, oleh perwakilan dari 189 negara dengan menandatangi deklarasi yang disebut adalah sebuah inisiatif   pembangunan yang dibentuk pada tahun 2000, oleh perwakilan-perwakilan dari 189 negara dengan menandantangani deklarasi yang disebut sebagai Millennium Declaration. upaya untuk  memenuhi hak-hak dasar kebutuhan manusia melalui komitmen bersama antara 189 negara anggota PBB untuk melaksanakan 8 (delapan) tujuan pembangunan.

(9)

Merupakan target kuantitatif dan terjadual dalam upaya penanggulangan kemiskinan global serta dimensi kemiskinan lainnya seperti; kelaparan, penyakit, penyediaan infrastruktur  dasar (perumahan dan permukiman) serta mempromosikan persamaan gender, pendidikan, dan lingkungan berkelanjutan. Merupakan upaya pemenuhan hak asasi manusia seperti yang tercantum dalam Deklarasi Millenium PBB.

a. Ruang Lingkup Kesehatan Reproduksi

Ruang lingkup Kesehatan Reproduksi secara luas meliputi: 1. Kesehatan Ibu dan Anak 

2. Keluarga Berencana

3. Pencegahan dan Penanggulangan Infeksi Saluran Reproduksi (ISR), termasuk IMS-HIV/AIDS 4. Pencegahan dan Penanggulangan Komplikasi Aborsi

5. Kesehatan Reproduksi Remaja

6. Pencegahan dan Penanganan Infertilitas 7. Kanker pada Usia Lanjut dan Osteoporosis

1.Tujuan Millenium Development Goals

Millenium Development Goals mempunyai delapan tujuan pembangunan yaitu : 1) Penghapusan kemiskinan;

Target 1 : Menurunkan proporsi penduduk yang tingkat pendapatannya di bawah $1 perhari menjadi setengahnya antara tahun 1990-2015

Target 2 : Menurunkan proporsi penduduk yang menderita kelaparan menjadi setengahnya antara tahun 1990–2015

(10)

Target 3 : Memastikan pada tahun 2015 semua anak dimanapun, laki-laki maupun perempuan, dapat menyelesaikan pendidikan dasar 

3) Kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan;

Target 4 : Menghilangkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan dasar dan lanjutan pada tahun 2005 dan di semua jenjang pendidikan tidak lebih dari tahun 2015

4) Penurunan angka kematian anak:

Target 5 : Menurunkan angka kematian balita sebesar dua pertiganya antara th 1990–2015 5) Meningkatkan kesehatan ibu;

Target 6 : Menurunkan angka kematian ibu sebesar tiga perempatnya antara tahun 1990–2015 6) Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya;

Target 7 : Mengendalikan penyebaran HIV/AIDs dan mulai menurunnya jumlah kasus baru pada tahun 2015

Target 8 : Mengendalikan penyakit malaria dan mulai menurunnya jumlah malaria dan penyakit lainnya 7) Menjamin kelestarian lingkungan berkelanjutan;

Target 9 : Memadukan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dengan kebijakan dan program nasional Target 10: Penurunan sebesar separuh, proporsi penduduk tanpa akses terhadap sumber air minum yang

aman dan berkelanjutan serta fasilitas dasar pada 2015

Target 11: Mencapai perbaikan yang berarti dalam kehidupan penduduk miskin di pemukiman kumuh pada tahun 2020

(11)

2.Implementasi Millenium Development Goals

1) Memberantas kemiskinan dan kelaparan (eradicate extreme poverty and hunger)

a) menurunkan separuh jumlah penduduk yang berpendapatan kurang dari US$ 1.00 per hari hingga tahun 2015

 b) Menurunkan separuh jumlah penduduk yang menderita kelaparan ekstrim hingga tahun 2015. Kedua sasaran diatas dirasakan penting menjadi prioritas penyelesaian mengingat kedua sasaran tersebut merupakan titik awal terjadinya permasalahan-permasalahan turunan kemiskinan. Jika akses untuk kedua kebutuhan tersebut tidak terpenuhi maka akses-akses kebutuhan lain pun juga tidak dapat dicukupi. Bila kelompok masyarakat tidak mampu memenuhi pendapatan sebesar  US$ 1 per hari atau setara dengan Rp. 9.000 per hari dapat dipastikan tidak dapat terpenuhinya kebutuhan pendidikan, kesehatan, keahlian dan keterampilan untuk pasar kerja serta sanitasi kesehatan rumah dan lingkungan.

c)Pengentasan kemiskinan dan Program Keluarga Harapan (PKH)

2) Mencapai pendidikan dasar yang universal (achieve universal primary education) Akses  pendidikan dasar (wajar 9 tahun)

3) Mempromosikan persamaan jender dan pemberdayaan perempuan (promote gender equality and empower women)

Tujuan Pembangunan Millenium (Millenium Development Goals), yang disebut sebagai Deklarasi Milenium (Millenium Declaration). Deklarasi tersebut juga menyebutkan tentang  pemberdayaan pe-rempuan serta persamaan jender. Berkaitan juga dengan penerapan hak-hak 

dan kesempatan yang sama antara perempuan dan laki-laki, yang juga mengacu pada CEDAW: “to combat all forms of violence against women and to implement the Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women. Oleh Indonesia, CEDAW telah

(12)

diratifikasi sejak 1984. Selain itu MDGs juga mengacu pada kepedulian terhadap 12 wilayah kritis (critical areas), yang disepakati pada Kongres Pe-rempuan IV di Beijing tahun 1995, yang telah dituangkan dalam Beijing Platform for Action.

4) Mengurangi jumlah kematian anak (reduce child mortality) a) Akes pelayanan bidang kesehatan

5) Meningkatkan kesehatan ibu (improve maternal health) a) Akes pelayanan bidang kesehatan

 b) Program Keluarga Berencana (KB)

6) Meme-rangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit lain (combat HIV/AIDS, ma-laria and other  diseases)

7) Menjamin kelestarian lingkungan (ensure environmental sustainability) a) Rehabilitasi hutan dan perlindungan konservasi sumber daya alam

 b) Perbaikan infrastruktur, irigasi dan sanitasi.

8) Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan (develop a global partnership for  development).

Dalam sepuluh tahun terakhir Indonesia mengalami sebuah paradigma baru dalam sistem kepemerintahan dan kewenangan. Jika sebelumnya semua perencanan dan pembangunan diatur  secara terpusat, kemudian perencanaan dan pembangunan tersebut ditetapkan secara otonom menurut lingkup daerah provinsi, kabupaten/kota. Paradigma pembangunan inilah yang kita kenal dengan otonomi daerah. Bagi daerah yang memiliki posisi strategis kaya akan sumber daya alam dan manusia, era otonomi daerah merupakan peluang berharga bagi pelaksanaan  pembangunan guna terwujudnya kemakmuran dan kesejahtaraan masyarkat. Akan tetapi bagi daerah yang minus, otonomi daerah akan menjadi sumber masalah bagi kelancaran pelaksanaan

(13)

 pembangunan. Untuk mengatisipasi permasalahan ini pemerintah pusat telah mengambil kebijakan dengan memberikan proporsi anggaran melalui dana perimbangan sehingga semua daerah memiliki kesempatan yang sama dalam melaksanakan pembangunan. Adapun dana  perimbangan tersebut adalah Dana Bagi Hasil Pajak/Bagi Hail Bukan pajak, Dana Alokasi

Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK).

3.Hasil Millenium Development Goals

MDG 1: MENANGGULANGI KEMISKINAN DAN KELAPARAN

Indonesia telah berhasil menurunkan tingkat kemiskinan, sebagaimana diukur oleh indikator USD 1,00 per kapita per hari, menjadi setengahnya. Kemajuan juga telah dicapai dalam upaya untuk lebih menurunkan lagi tingkat kemiskinan, sebagaimana diukur oleh garis kemiskinan nasional dari tingkat saat ini sebesar 13,33 persen (2010) menuju targetnya sebesar 8  – 10 persen pada tahun 2014. Prevalensi kekurangan gizi pada balita telah menurun dari 31  persen pada tahun 1989 menjadi 18,4 persen pada tahun 2007, sehingga Indonesia diperkirakan

dapat mencapai target MDG sebesar 15,5 persen pada tahun 2015. Prioritas ke depan untuk  menurunkan kemiskinan dan kelaparan adalah dengan memperluas kesempatan kerja, meningkatkan infrastruktur pendukung, dan memperkuat sektor pertanian. Perhatian khusus  perlu diberikan pada:

1. Perluasan fasilitas kredit untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM)

2. Pemberdayaan masyarakat miskin dengan meningkatkan akses dan penggunaan sumber  daya untuk meningkatkan kesejahteraannya

3. Peningkatan akses penduduk miskin terhadap pelayanan social

(14)

MDG 2: MENCAPAI PENDIDIKAN DASAR UNTUK SEMUA

Upaya Indonesia untuk mencapai target MDG tentang pendidikan dasar dan melek huruf  sudah menuju pada pencapaian target 2015 (on-track). Bahkan Indonesia menetapkan pendidikan dasar melebihi target MDGs dengan menambahkan sekolah menengah pertama sebagai sasaran  pendidikan dasar universal. Pada tahun 2008/09 angka partisipasi kasar (APK) SD/MI termasuk 

Paket A telah mencapai 116,77 persen dan angka partisipasi murni (APM) sekitar 95,23 persen. Pada tingkat sekolah dasar (SD/MI) secara umum disparitas partisipasi pendidikan antarprovinsi semakin menyempit dengan APM di hampir semua provinsi telah mencapai lebih dari 90,0  persen. Tantangan utama dalam percepatan pencapaian sasaran MDG pendidikan adalah

meningkatkan pemerataan akses secara adil bagi semua anak, baik laki-laki maupun perempuan, untuk mendapatkan pendidikan dasar yang berkualitas di semua daerah. Berbagai kebijakan dan  program pemerintah untuk menjawab tantangan tersebut adalah:

1. Perluasan akses yang merata pada pendidikan dasar khususnya bagi masyarakat miskin 2. Peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan

3. Penguatan tata kelola dan akuntabilitas pelayanan pendidikan.

Kebijakan alokasi dana pemerintah bagi sektor pendidikan minimal sebesar 20 persen dari jumlah anggaran nasional akan diteruskan untuk mengakselerasi pencapaian pendidikan dasar universal pada tahun 2015.

MDG 3: MENDORONG KESETARAAN GENDER DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN Berbagai kemajuan telah dicapai dalam upaya meningkatkan kesetaraan gender di semua  jenjang dan jenis pendidikan. Rasio angka partisipasi murni (APM) perempuan terhadap laki-laki di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama berturut-turut sebesar 99,73 dan 101,99 pada

(15)

tahun 2009, dan rasio melek huruf perempuan terhadap laki-laki pada kelompok usia 15 sampai 24 tahun telah mencapai 99,85. Oleh sebab itu, Indonesia sudah secara efektif menuju (on-track)  pencapaian kesetaraan gender yang terkait dengan pendidikan pada tahun 2015. Di bidang

ketenagakerjaan, terlihat adanya peningkatan kontribusi perempuan dalam pekerjaan upahan di sektor nonpertanian. Di samping itu, proporsi kursi yang diduduki oleh perempuan di DPR pada  pemilu terakhir juga mengalami peningkatan, menjadi 17,9 persen. Prioritas ke depan dalam

mewujudkan kesetaraan gender meliputi:

(1) Peningkatan kualitas hidup dan peran perempuan dalam pembangunan; (2) Perlindungan perempuan terhadap berbagai tindak kekerasan;

(3) Peningkatan kapasitas kelembagaan PUG dan pemberdayaan perempuan. MDG 4: MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN ANAK 

Angka kematian bayi di Indonesia menunjukkan penurunan yang cukup signifi kan dari 68 pada tahun 1991 menjadi 34 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2007, sehingga target sebesar 23 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2015 diperkirakan dapat tercapai. Demikian  pula dengan target kematian anak diperkirakan akan dapat tercapai. Namun demikian, masih

terjadi disparitas regional pencapaian target, yang mencerminkan adanya perbedaan akses atas  pelayanan kesehatan, terutama di daerah-daerah miskin dan terpencil. Prioritas kedepan adalah memperkuat system kesehatan dan meningkatkan akses pada pelayanan kesehatan terutama bagi masyarakat miskin dan daerah terpencil.

(16)

Dari semua target MDGs, kinerja penurunan angka kematian ibu secara global masih rendah. Di Indonesia, angka kematian ibu melahirkan (MMR/Maternal Mortality Rate) menurun dari 390 pada tahun 1991 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007. Target  pencapaian MDG pada tahun 2015 adalah sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup, sehingga

diperlukan kerja keras untuk mencapai target tersebut. Walaupun pelayanan antenatal dan  pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih cukup tinggi, beberapa faktor seperti risiko tinggi pada saat kehamilan dan aborsi perlu mendapat perhatian. Upaya menurunkan angka kematian ibu didukung pula dengan meningkatkan angka pemakaian kontrasepsi dan menurunkan unmet need yang dilakukan melalui peningkatan akses dan kualitas pelayanan KB dan kesehatan reproduksi. Ke depan, upaya peningkatan kesehatan ibu diprioritaskan pada  perluasan pelayanan kesehatan berkualitas, pelayanan obstetrik yang komprehensif, peningkatan  pelayanan keluarga berencana dan penyebarluasan komunikasi, informasi dan edukasi kepada

masyarakat.

MDG 8: MEMBANGUN KEMITRAAN GLOBAL UNTUK PEMBANGUNAN

Indonesia merupakan partisipan aktif dalam berbagai forum internasional dan mempunyai komitmen untuk terus mengembangkan kemitraan yang bermanfaat dengan berbagai organisasi multilateral, mitra bilateral dan sektor swasta untuk mencapai pola pertumbuhan ekonomi yang berdampak pada penurunan tingkat kemiskinan (pro-poor). Indonesia telah mendapat manfaat dari mitra pembangunan internasional. Untuk meningkatkan efektifi tas kerjasama dan pengelolaan bantuan pembangunan di Indonesia, Jakarta Commitment telah ditandatangani bersama 26 mitra pembangunan pada tahun 2009. Bersamaan dengan ini, Indonesia telah berkomitmen untuk menurunkan pinjaman luar negeri pemerintah terhadap PDB.

(17)

Hal ini ditunjukkan dengan menurunnya rasio pinjaman luar negeri pemerintah terhadap PDB dari 24,6 persen pada tahun 1996 menjadi 10,9 persen pada tahun 2009. Sementara itu, Debt Service Ratio Indonesia juga telah menurun dari 51 persen pada tahun 1996 menjadi 22 persen  pada tahun 2009. Untuk meningkatkan akses komunikasi dan informasi, sektor swasta telah membuat investasi besar ke dalam teknologi informasi dan komunikasi, dan akses pada telepon genggam, jaringan PSTN, dan komunikasi internet telah meningkat sangat pesat selama lima tahun terakhir. Pada tahun 2009, sekitar 82,41 persen dari penduduk Indonesia mempunyai akses  pada telepon seluler.

 Tinjauan Status Pencapaian MDG di Indonesia

Status: ● Sudah tercapai ►Akan tercapai ▼Perlu perhatian khusus

Indikator  AcuanDasar  Saat Ini TargetMDGs

2015 Status Sumber  TUJUAN 1. MENANGGULANGI KEMISKINAN DAN KELAPARAN

Target 1A: Menurunkan hingga setengahnya proporsi penduduk dengan tingkat pendapatan kurang dari USD 1 (PPP) per hari dalam kurun waktu 1990-2015

1.1  pendapatan kurang dari USDProporsi penduduk dengan 1,00 (PPP) per kapita per hari

20,60% (1990) 5,90% (2008) 10,30% ● Bank Dunia dan BPS 1.2 Indeks Kedalaman Kemiskinan 2,70%(1990) 2,21%(2010) Berkurang ► BPS, Susenas Target 1B: Mewujudkan kesempatan kerja penuh dan produktif dan pekerjaan yang layak untuk semua, termasuk perempuan dan kaum muda

1.4 Laju pertumbuhan PDB per tenaga kerja 3,52%(1990) 2,24%(2009) - PDB Nasionaldan BPS, Sakernas 1.5 Rasio kesempatan kerjaterhadap penduduk usia 15

tahun ke atas 65% (1990) 62% (2009) -BPS, Sakernas 1.7

Proporsi tenaga kerja yang  berusaha sendiri dan pekerja  bebas keluarga terhadap total

kesempatan kerja

71%

(1990) 64% (2009) Menurun ►

Target 1C: Menurunkan hingga setengahnya proporsi penduduk yang menderita kelaparan dalam kurun waktu 1990-2015

(18)

1.8  badan rendah / kekurangan giziPrevalensi balita dengan berat 31,0%(1989)* 18,4% (2007)** 17,9% (2010)** 15,5% ► *BPS, Susenas **Kemkes, Riskesdas 2007; 2010(data sementara) 1.8a Prevalensi balita gizi buruk  7,2%(1989)*

5,4% (2007)** 4,9% (2010)**

3,6% ►

1.8b Prevalensi balita gizi kurang 23,8%(1989)*

13,0% (2007)** 13,0% (2010)**

11,9% ►

1.9 Proporsi penduduk denganasupan kalori di bawah tingkat

konsumsi minimum: ▼

BPS, Susenas - 1400 Kkal/kapita/hari 17,00%(1990) 14,47%(2009) 8,50%

- 2000 Kkal/kapita/hari 64,21%(1990) 61,86%(2009) 35,32% TUJUAN 2: MENCAPAI PENDIDIKAN DASAR UNTUK SEMUA

Target 2A: Menjamin pada 2015 semua anak-anak, laki-laki maupun perempuan di manapun dapat menyelesaikan pendidikan dasar 

2.1 Angka Partisipasi Murni (APM)sekolah dasar  88,70%(1992) ** 95,23%(2009)* 100,00% ►

*Kemdiknas **BPS, Susenas 2.2  berhasil menamatkan sekolahProporsi murid kelas 1 yang

dasar  62,00% (1990)* 93,50%(2008)** 100,00% ► *Kemdiknas **BPS, Susenas

2.3 Angka melek huruf penduduk usia 15-24 tahun, perempuan dan laki-laki 96,60% (1990) 99,47% (2009) Female: 99,40% Male: 99,55% 100,00% ► BPS, Susenas

TUJUAN 3: MENDORONG KESETARAAN GENDER DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN Target 3A: Menghilangkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan dasar dan lanjutan pada tahun 2005, dan di semua jenjang pendidikan tidak lebih dari tahun 2015

3.1

Rasio perempuan terhadap laki-laki di tingkat pendidikan dasar, menengah dan tinggi

(19)

- Rasio APM perempuan/laki-laki di SD 100,27 (1993) 99,73 (2009) 100,00 ● BPS, Susenas - Rasio APM

perempuan/laki-laki di SMP 99,86(1993) 101,99(2009) 100,00 ●

- Rasio APM

perempuan/laki-laki di SMA 93,67(1993) 96,16(2009) 100,00 ►

- Rasio APM perempuan/laki-laki di Perguruan Tinggi

74,06 (1993)

102,95

(2009) 100,00 ►

3.1a Rasio melek huruf perempuanterhadap laki-laki pada kelompok usia 15-24 tahun

98,44

(1993) 99,85 (2009) 100,00 ●

3.2  pekerjaan upahan di sektor Kontribusi perempuan dalam nonpertanian

29,24%

(1990) 33,45%(2009) Meningkat ► BPS,Sakernas 3.3  perempuan di DPR Proporsi kursi yang diduduki 12,50%(1990) 17,90%(2009) Meningkat ► KPU TUJUAN 4: MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN ANAK 

Target 4A: Menurunkan Angka Kematian Balita (AKBA) hingga dua per tiga dalam kurun waktu 1990-2015

4.1 Angka KemaTIan Balita per 1000 kelahiran hidup 97 (1991) 44 (2007) 32 ►

BPS, SDKI 1991, 2007; *Kemkes, Riskesdas 2010 (data sementara) 4.2  per 1000 kelahiran hidupAngka Kematian Bayi (AKB) 68 (1991) 34 (2007) 23 ►

4.2a Angka Kematian Neonatal per 1000 kelahiran hidup 32 (1991) 19 (2007) Menurun ►

4.3 Persentase anak usia 1 tahunyang diimunisasi campak  44,5%(1991)

67,0% (2007) 74,5% (2010)*

Meningkat ►

TUJUAN 5: MENINGKATKAN KESEHATAN IBU

Target 5A: Menurunkan Angka Kematian Ibu hingga tiga per empat dalam kurun waktu 1990-2015 5.1 Angka Kematian Ibu per 100,000 kelahiran hidup 390(1991) 228 (2007) 102 ▼

BPS, SDKI 1993, 2007

5.2 Proporsi kelahiran yangditolong tenaga kesehatan terlatih

40,70%

(1992) 77,34%(2009) Meningkat ► BPS, Susenas1992-2009 Target 5B: Mewujudkan akses kesehatan reproduksi bagi semua pada tahun 2015

5.3 Angka pemakaian kontrasepsi/CPR bagi perempuan menikah usia 15-49, semua cara

49,7%

(1991) 61,4%(2007) Meningkat ►

BPS, SDKI 1991, 2007 5.3a

Angka pemakaian kontrasepsi (CPR) pada perempuan

menikah usia 15-49 tahun saat ini, cara modern

47,1% (1991)

57,4%

(2007) Meningkat ▼

(20)

(perempuan usia 15-19 tahun)  per 1000 perempuan usia 15-19

tahun 5.5

Cakupan pelayanan Antenatal (sedikitnya satu kali kunjungan dan empat kali kunjungan)

- 1 kunjungan: 75,0% 93,3%

Meningkat

- 4 kunjungan: 56,0%(1991) 81,5%(2007)

5.6

Unmet Need (kebutuhan keluarga berencana / KB yang tidak terpenuhi)

12,70%

(1991) 9,10%(2007) Menurun ▼

TUJUAN 6: MEMERANGI HIV/AIDS, MALARIA DAN PENYAKIT MENULAR LAINNYA

Target 6A: Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru HIV/AIDS hingga tahun 2015

6.1 Prevalensi HIV/AIDS (persen)dari total populasi - 0,2% (2009) Menurun ▼ EstimasiKemkes 2006

6.2 Penggunaan kondom padahubungan seks berisiko tinggi terakhir  12,8% (2002/ 03) Perempuan: 10,3% Meningkat ▼ BPS, SKRRI 2002/2003 & 2007 Laki-laki: 18,4% (2007) ▼ 6.3

Proporsi jumlah penduduk usia 15-24 tahun yang memilikipengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS - Menikah -Perempuan: 9,5% Laki-laki: 14,7% (2007) Perempuan: 11,9% Laki-laki: 15,4% (2010)* Meningkat ▼ BPS, SDKI 2007; *Kemkes, Riskesdas 2010 (data sementara) - Belum Menikah -Perempuan: 2,6% Laki-laki: 1,4% (2007) Perempuan: 19,8% Laki-laki: 20,3% Meningkat ▼ BPS, SKRRI 2007; *Kemkes, Riskesdas 2010 (data sementara)

(21)

(2010)*

Target 6B: Mewujudkan akses terhadap pengobatan HIV/AIDS bagi semua yang membutuhkan sampai dengan tahun 2010

6.5 Proporsi penduduk terinfeksiHIV lanjut yang memiliki akses  pada obat-obatan anti retroviral

-38,4% (2009) Meningkat ▼ Kemkes, 2010,  per 30  November  2009 Target 6C: Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru Malaria dan penyakit utama lainnya hingga tahun 2015

6.6 Angka kejadian dan tingkatkematian akibat Malaria

6.6a Angka kejadian Malaria (per 1,000 penduduk): 4,68(1990) 1,85 (2009)2,4% (2010)* Menurun ► Kemkes 2009; Kemkes, Riskesdas 2010 (data sementara) Angka kejadian Malaria di Jawa

& Bali (API) 0,17(1990) 0,16 (2008) Menurun ► API, Kemkes2008 Angka kejadian Malaria di luar 

Jawa & Bali (AMI)

24,10

(1990) 17,77 (2008) Menurun ►

AMI, Kemkes 2008

6.7 Proporsi anak balita yang tidur dengan kelambu berinsektisida

-3,3%Desa: 4,5% Kota: 1,6% (2007) 7,7% (2007)* 16,0% (2010) ** Meningkat ▼ BPS, SDKI 2007; * Kemkes, RIskesdas 2007; ** Kemkes, Riskesdas 2010 (data sementara) 6.8

Proporsi anak balita dengan demam yang diobati dengan

obat anti malaria yang tepat

-21,9% (2010) Riskesdas 2010 (data sementara) 6.9 Angka kejadian, prevalensi dantingkat kematian akibat

Tuberkulosis 6.9a

Angka kejadian Tuberkulosis (semua kasus/ 10.000  penduduk/tahun) 343 (1990) 228 (2009) Dihentikan, mulai  berkurang ● Laporan TB Global WHO, 2009

6.9b Tingkat prevalensi Tuberkulosis(per 100.000 penduduk) 443(1990) 244 (2009) ●

(22)

Tuberkulosis (per 100.000  penduduk)

6.10

Proporsi jumlah kasus

Tuberkulosis yang terdeteksi dan diobati dalam program DOTS

6.10a

Proporsi jumlah kasus

Tuberkulosis yang terdeteksi dalam program DOTS

20,0% (2000)* 73,1%(2009) ** 70,0% ● *Laporan TB Global WHO, 2009 6.10b

Proporsi kasus Tuberkulosis yang diobati dan sembuh dalam  program DOTS

87,0%

(2000)* 91,0%(2009) ** 85,0% ● ** LaporanKemkes 2009 TUJUAN 7: MEMASTIKAN KELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP

Target 7A: Memadukan prinsip-prinsip pembangunan yang berkesinambungan dengan kebijakan dan  program nasional serta mengembalikan sumberdaya lingkungan yang hilang

7.1

Rasio luas kawasan tertutup  pepohonan berdasarkan hasil  pemotretan citra satelit dan

survei foto udara terhadap luas daratan

59,97%

(1990) 52,43%(2008) Meningkat ▼ Kemenhut

7.2 Jumlah emisi karbon dioksida(CO2) 1.416.074Gg CO2e (2000) 1.711.626 Gg CO2e (2008) Berkurang 26% pada 2020 ▼ Kementerian Lingkungan Hidup

7.2a Jumlah konsumsi energi primer (per kapita) 2,64 BOE(1991) 4,3 BOE(2008) Menurun

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral 7.2b Intensitas Energi 5,28 SBM/ USD 1,000 (1990) 2,1 SBM/ USD 1,000 (2008) Menurun

7.2c Elastisitas Energi 0,98(1991) 1,6 (2008) Menurun 7.2d Bauran energi untuk energiterbarukan 3,5%(2000) 3,45%(2008)

-7.3 Jumlah konsumsi bahan perusak ozon (BPO) dalam metrik ton

8.332,7 metric tons (1992) 0 CFCs (2009) 0 CFCs dengan mengurangi HCFCs ► Kementerian Lingkungan Hidup 7.4

Proporsi tangkapan ikan yang  berada dalam batasan biologis

yang aman 66,08% (1998) 91,83%(2008) tidak  melebihi  batas ► Kementerian Kelautan & Perikanan 7.5

Rasio luas kawasan lindung untuk menjaga kelestarian keanekaragaman hayati terhadap total luas kawasan hutan 26,40% (1990) 26,40% (2008) Meningkat ► Kementerian Kehutanan

(23)

7.6 Rasio kawasan lindung perairanterhadap total luas perairan teritorial 0,14% (1990)* 4,35%(2009) ** Meningkat ► * Kementerian Kahutanan ** Kementerian Kelautan & Perikanan Target 7C: Menurunkan hingga setengahnya proporsi rumah tangga tanpa akses berkelanjutan terhadap air  minum layak dan sanitasi layak hingga tahun 2015

7.8

Proporsi rumah tangga dengan akses berkelanjutan terhadap air  minum layak, perkotaan dan  perdesaan 37,73% (1993) 47,71%(2009) 68,87% ▼ BPS, Susenas 7.8a Perkotaan 50,58%(1993) 49,82%(2009) 75,29% ▼ 7.8b Perdesaan 31,61%(1993) 45,72%(2009) 65,81% ▼ 7.9

Proporsi rumah tangga dengan akses berkelanjutan terhadap sanitasi layak, perkotaan dan  perdesaan 24,81% (1993) 51, 19% (2009) 62,41% ▼ 7.9a Perkotaan 53,64%(1993) 69,51%(2009) 76,82% ▼ 7.9b Perdesaan 11,10%(1993) 33,96%(2009) 55,55% ▼

Target 7D:Mencapai peningkatan yang signifi kan dalam kehidupan penduduk miskin di permukiman kumuh (minimal 100 juta) pada tahun 2020

7.10  perkotaanProporsi rumah tangga kumuh 20,75%(1993) 12,12%(2009) 6% (2020) ▼ BPS, Susenas TUJUAN 8: MENGEMBANGKAN KEMITRAAN GLOBAL UNTUK PEMBANGUNAN

Target 8A: Mengembangan sistem keuangan dan perdagangan yang terbuka, berbasis peraturan, dapat diprediksi dan tidak diskriminatif 

8.6a Rasio Ekspor + Impor terhadapPDB (indikator keterbukaan ekonomi)

41,60%

(1990) 39,50%(2009) Meningkat ► BPS & Bank Dunia 8.6b Rasio pinjaman terhadapsimpanan di bank umum 45,80%(2000) 72,80%(2009) Meningkat ►

Laporan

Perekonomian BI

8.6c Rasio pinjaman terhadapsimpanan di BPR 

101,30% 2008, 2009 (2003) 109,00% (2009) Meningkat ►

Target 8D: Menangani utang negara berkembang melalui upaya nasional maupun internasional untuk dapat mengelola utang dalam jangka panjang

8.12 Rasio pinjaman luar negeriterhadap PDB 24,59%(1996) 10,89%(2009) Berkurang ► KementerianKeuangan 8.12a Rasio pembayaran pokok utang 51,00% 22,00% Berkurang ► Laporan

(24)

dan bunga utang luar negeri terhadap penerimaan hasil ekspor (DSR)

(1996) (2009) Tahunan

BI 2009

Target 8F: Bekerja sama dengan swasta dalam memanfaatkan teknologi baru, terutama teknologi informasi dan komunikasi

8.14

Proporsi penduduk yang memiliki jaringan PSTN

(kepadatan fasilitas telepon per   jumlah penduduk) 4,02% (2004) 3,65% (2009) Meningkat ► Kemkominfo 2010

8.15 Proporsi penduduk yangmemiliki telepon seluler  14,79%(2004) 82,41%(2009) 100,00% ►

8.16 Proporsi rumah tangga denganakses internet - 11,51%(2009) 50,00% ▼ BPS, Susenas2009 8.16a Proporsi rumah tangga yangmemiliki komputer pribadi - 8,32%(2009) Meningkat ▼ BPS, Susenas2009

 b. Teori ICPD (International On Poplation And Development)

Pada tahun 1994 diseleggarakan Konferensi International Kependudukan dan  pembangunan (International On Poplation And Development) ICPD, disponsori oleh PBB di Kairo-Mesir pada tahun 1994, dihadiri oleh11.000 perwakilan lebih dari 180 negara. Konferensi tersebut melahirkan kebijakan baru tentang pembangunan dan kependudukan, yang ditujukan untuk menstabilkan pertumbuhan penduduk yang berorientasikan pada kepentingan pembanguan manusia, tercantum dalam program aksi 20 tahun. Program aksi 20 tahun, bagi tiap Negara yaitu :

1.Meningkatkan status kesehatan, pendidikan dan hak-hak individu khususnya bagi perempuan dan anak-anak.

2.Mengintegrasikan program keluarga berencana kedalam agenda kesehatan perempuan yang lebih luas. Bagian terpenting dalam program tersebuta adalah penyediaan pelayanan kesehatan reproduksi menyeluruh, yang memadukan KB, pelayanan kehamilan dan persalinan yang aman,  pencegahan dan pengobatan IMS termasuk HIV, informasi dan konseling seksualitas,  penghapusan bentuk-bentuk kekerasan pada perempuan.

(25)

Telaah 5 tahunan ICPD yaitu target baru untuk tahun 2015 adalah :

1) Akses terhadap pendidikan dasar, meningkatnya keikutsertaan anak laki-laki dan perempuan di SD hingga sekurang-kurangnya 90% sebelum 2010, serta menurunkan angka buta huruf pada  perempuan dan anak perempuan pada tahun 1990 hingga setengahnya pada tahun 2005

2) Semua fasilitas kesehatan menyediakan metode-metode KB yang aman dan efektif, pelayanan kebidanan, pencegahan ISR/IMS, serta metode pelindung untuk mencegah infeksi, baik secara lansung maupun rujukan.

3) Mengurangi kesenjangan antara pemakian kontrasepsi dengan proporsi individu yang ingin membatasi jumlah anak untuk menjarangkan kehamilan, tanpa menggunakan target atau kuota. 4) Memastikan bahwasekurang-kurangnya 60% persalinan ditolong oleh tenaga terlatih, terutama

dinegara-negara yang angka kematian ibu yang tinggi

5) Pelayanan pencegahan HIV untuk laki-laki dan perempuan muda usia 15-24 tahun. Termasuk   pelayan kondom laki-laki dan perempuan pemeriksaan sukarela, konseling dan tindak lanjut.

5. Kebijakan dan Strategi Nasional Kesehatan Reproduksi di Indonesia

Dalam rangka mencapai tujuan kesehatan reproduksi perlu disusun kebijakan dan strategi umum yang dapat memayungi pelaksanaan upaya seluruh komponen kesehatan reproduksi di Indonesia. Upaya penanganan kesehatan reproduksi harus dilaksanakan dengan memperhatikan nilai-nilai agama dan budaya/norma kemasyarakatan dan kegiatannya diarahkan untuk   peningkatan kualitas hidup manusia.

A. Kebijakan Umum

(26)

2. Melaksanakan percepatan upaya kesehatan reproduksi dan pemenuhan hak reproduksi ke seluruh Indonesia.

3. Melaksanakan upaya kesehatan reproduksi secara holistik dan terpadu melalui pendekatan siklus hidup.

4. Menggunakan pendekatan keadilan dan kesetaraan gender di semua upaya kesehatan reproduksi. 5. Menyediakan pelayanan kesehatan reproduksi berkualitas bagi keluarga miskin.

B. Strategi Umum

1. Menempatkan dan memfungsikan Komisi Kesehatan Reproduksi (KKR) pada tingkat Menteri Koordinator serta membentuk KKR di provinsi dan kabupaten/kota

2. Mengupayakan terbitnya peraturan perundangan di bidang kesehatan reproduksi. 3. Meningkatkan advokasi, sosialisasi dan komitmen politis di semua tingkat.

4. Mengupayakan kecukupan anggaran/dana pelaksanaan kesehatan reproduksi. 5. Masing-masing penanggungjawab komponen mengembangkan

6. upaya kesehatan reproduksi sesuai ruang lingkupnya dengan

7. menjalin kemitraan dengan sektor terkait, organisasi profesi dan LSM

8. Masing-masing komponen membuat rencana aksi mengacu pada kebijakan yang telah ditetapkan.

9. Mengembangkan upaya kesehatan reproduksi yang sesuai dengan masalah spesifik daerah dan kebutuhan setempat, dengan memanfaatkan proses desentralisasi.

10. Memobilisasi sumber daya nasional dan internasional baik pemerintah dan non pemerintah. 11. Menyediakan pembiayaan pelayanan KR melalui skema Jaminan Sosial Nasional.

(27)

13. Menerapkan Pengarus-utamaan Gender dalam bidang KR.

14. Melaksanakan pemantauan dan evaluasi untuk kemajuan upaya KR.

C. Kebijakan dan Strategi Komponen

1.a. Kebijakan Kesehatan Ibu dan Anak 

(1) Setiap ibu menjalani kehamilan dan persalinan dengan sehat dan selamat serta bayi lahir sehat. (2) Setiap anak hidup sehat, tumbuh dan berkembang secara optimal.

1.b. Strategi Kesehatan Ibu dan Anak 

(1) Pemberdayaan perempuan, suami dan keluarga.

(a) Peningkatan pengetahuan tentang tanda bahaya kehamilan, persalinan, nifas, bayi dan balita (health seeking care).

(b) Penggunaan buku KIA

(c) Konsep SIAGA (Siap, Antar, Jaga)

(d) Penyediaan dana, transportasi, donor darah untuk keadaan darurat (e) Peningkatan penggunaan ASI eksklusif 

(2) Pemberdayaan Masyarakat a)Pemantapan GSI

 b) Penyelenggaraan Polindes, Posyandu, Tempat Penitipan Anak (TPA)

(3) Kerjasama lintas sektor, mitra lain termasuk pemerintah daerah dan lembaga legislatif. (a) Advokasi dan sosialisasi ke semua stakeholders.

(b) Mendorong adanya komitmen, dukungan, peraturan, dan kontribusi pembiayaan dari berbagai  pihak terkait.

(28)

(4) Peningkatan cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak secara terpadu dengan komponen KR lain.

(a) Pelayanan antenatal.

(b) Pertolongan persalinan, pelayanan nifas dan neonatal esensial. (c) Penanganan kegawatdaruratan obstetrik dan neonatal

(d) Pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi pascakeguguran. (e) Manajemen Terpadu Bayi Muda dan Balita Sakit.

(f) Pembinaan tumbuh kembang anak.

(g) Peningkatan keterampilan tenaga kesehatan dan pemenuhan kelengkapan sarananya. (h) Mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas pelayanan.

2.a. Kebijakan Keluarga Berencana.

(1) Memaksimalkan akses dan kualitas pelayanan KB.

(2) Mengintegrasikan pelayanan Keluarga Berencana dengan pelayanan lain dalam komponen kesehatan reproduksi

(3) Jaminan pelayanan KB bagi orang miskin.

(4) Terlaksananya mekanisme operasional pelayanan.

(5) Meningkatnya peran serta LSOM, swasta dan organisasi profesi. (6) Tersedianya informasi tentang program KB bagi remaja.

(7) Terjadinya pemanfaatan data untuk pelayanan. 2.b. Strategi Keluarga Berencana

(1) Prinsip integrasi artinya dalam pelaksanaannya tidak hanya bernuansa demografis tapi juga mengarah pada upaya meningkatkan kesehatan reproduksi yang dalam pelaksanannya harus memperhatikan hak-hak reproduksi serta kesetaraan dan keadilan gender.

(29)

(2) Prinsip Desentralisasi, kebijakan pelayanan program keluarga berencana perlu menyesuaikan dengan perubahan lingkungan institusi daerah sesuai dengan UU No. 22 tahun 1999 dan PP No. 25 tahun 2000.

(3) Prinsip pemberdayaan, dengan ditingkatkannya kualitas kepemimpinan dan kapasitas pengelola dan pelaksana program nasional KB dengan memberdayakan institusi masyarakat, keluarga dan individu dalam rangka meningkatkan kemandirian.

(4) Prinsip kemitraan, meliputi koordinasi dalam rangka kemitraan yang tulus dan setara serta meningkatkan partisipasi aktif masyarakat dan kerjasama internasional.

(5) Prinsip segmentasi sasaran, meliputi keberpihakan pada keluarga rentan, perhatian khusus pada segmen tertentu berdasarkan ciri-ciri demografis, sosial, budaya dan ekonomi dan keseimbangan dalam memfokuskan partisipasi dan pelayanan menurut gender.

3.a. Kebijakan Pencegahan dan Penanggulangan IMS termasuk HIV/AIDS

(1) Penanggulangan dilaksanakan dengan memutuskan mata rantai penularan yang terjadi melalui hubungan seks yang tidak terlindungi, penggunaan jarum suntik tidak steril pada pengguna  Napza suntik, penularan dari ibu yang hamil dengan HIV (+) ke anak/ bayi.

(2) Kerjasama lintas sektoral dengan melibatkan organisasi profesi, masyarakat bisnis, LSM, organisasi berbasis masyarakat, pemuka agama, keluarga dan para Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA).

(3) Setiap orang mempunyai hak untuk untuk memperoleh informasi yang benar tentang HIV/AIDS. (4) Setiap ODHA dilindungi kerahasiaannya.

(5) Kesetaraan gender dalam pelaksanaan penanggulangan HIV/AIDS.

(6) Adanya hak memperoleh pelayanan pengobatan perawatan dan dukungan tanpa diskriminasi bagi ODHA.

(30)

(7) Pemerintah berkewajiban memberi kemudahan untuk pelayanan pengobatan, perawatan dan dukungan terhadap ODHA dan mengintegrasikan ke dalam sistem kesehatan yang telah tersedia. (8) Prosedur untuk diagnosis HIV harus dilakukan dengan sukarela dan didahului dengan

memberikan informasi yang benar, pre dan post test konseling.

(9) Setiap darah yang ditransfusikan, serta produk darah dan jaringan transplan harus bebas dari HIV.

3.b. Strategi Pencegahan dan Penanggulangan IMS termasuk HIV/AIDS

(1) Pelaksanaan mengikuti azas-azas desentralisasi sedangkan pemerintah pusat hanya menetapkan kebijakan nasional.

(2) Koordinasi dan penggerakan di bentuk KPA di pusat dan di daerah/ kabupaten/ kota,  pelaksanaan Program melalui jejaring (networking) yang sudah dibentuk di masing-masing

sector terkait.

(3) Suveilans dilakukan melalui laporan kasus AIDS, surveilans sentinel HIV, SSP dan surveilans IMS

(4) Setiap prosedur kedokteran tetap memperhatikan universalprecaution atau kewaspadaan universal.

(5) Melengkapi PP - UU menjamin perlindungan ODHA.

(6) Pembiayaan pencegahan dan penanggulangan IMS termasuk HIV/AIDS terutama akan menggunakan sumber-sumber dalam negeri. Pemerintah mengupayakan Bantuan Luar Negeri. (7) Melakukan monitoring dan evaluasi program dilakukan berkala, terintegrasi dengan

menggunakan indikator-indikator pencapaian dalam periode tahunan maupun lima tahunan. 4.a. Kebijakan Kesehatan Reproduksi Remaja

(31)

(1) Pemerintah, masyarakat termasuk remaja wajib menciptakan lingkungan yang kondusif agar  remaja dapat berperilaku hidup sehat untuk menjamin kesehatan reproduksinya.

(2) Setiap remaja mempunyai hak yang sama dalam memperoleh pelayanan kesehatan reproduksi remaja yang berkualitas termasuk pelayanan informasi dengan memperhatikan keadilan dan kesetaraan gender.

(3) Upaya kesehatan reproduksi remaja harus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya untuk  mendukung peningkatan derajat kesehatan remaja dengan disertai upaya pendidikan kesehatan reproduksi yang seimbang.

(4) Upaya pendidikan kesehatan reproduksi remaja dilaksanakan melalui jalur pendidikan formal maupun nonformal, dengan memberdayakan para tenaga pendidik dan pengelola pendidikan  pada sistem pendidikan yang ada.

(5) Upaya kesehatan remaja harus dilaksanakan secara terkoordinasi dan berkesinambungan melalui  prinsip kemitraan dengan pihak-pihak terkait serta harus mampu membangkitkan dan mendorong

keterlibatan dan kemandirian remaja.

4.b. Strategi Kesehatan Reproduksi Remaja

(1) Pembinaan kesehatan reproduksi remaja disesuaikan dengan kebutuhan proses tumbuh kembang remaja dengan menekankan pada upaya promotif dan preventif yaitu penundaan usia perkawinan muda dan pencegahan seks pranikah.

(2) Pelaksanaan pembinaan kesehatan reproduksi remaja dilakukan terpadu lintas program dan lintas sektor dengan melibatkan sektor swasta serta LSM, yang disesuaikan dengan peran dan kompetensi masing-masing sektor sebagaimana yang telah dirumuskan di dalam Pokja Nasional Komisi Kesehatan Reproduksi.

(32)

(3) Pembinaan kesehatan reproduksi remaja dilakukan melalui pola intervensi di sekolah mencakup sekolah formal dan non formal dan di luar sekolah dengan memakai pendekatan “pendidik 

sebaya” atau peer conselor.

(4) Pemberian pelayanan kesehatan reproduksi remaja melalui penerapan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) atau pendekatan Pelayanan Kesehatan Reproduksi Integratif di tingkat  pelayanan dasar yang bercirikan”peduli remaja” dengan melibatkan remaja dalam kegiatan

secara penuh.

(5) Pelaksanaan pendidikan kesehatan reproduksi remaja melalui integrasi materi KRR ke dalam mata pelajaran yang relevan dan mengembangkan kegiatan ekstrakurikuler seperti: bimbingan dan konseling, Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat (PKHS) dan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).

(6) Pelaksanaan pelayanan kesehatan reproduksi remaja bagi remaja di luar sekolah dapat diterapkan melalui berbagai kelompok remaja yang ada di masyarakat seperti karang taruna, Saka Bhakti Husada (SBH), kelompok anak jalanan di rumah singgah, kelompok remaja mesjid/gereja, kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR).

5.a. Kebijakan Kesehatan Reproduksi Usia Lanjut

(1) Meningkatkan dan memperkuat peran keluarga dan masyarakat dalam penyelenggaraan upaya kesehatan reproduksi usia lanjut dan menjalin kemitraan dengan LSM, dunia usaha secara  berkesinambungan.

(33)

(2) Meningkatkan koordinasi dan integrasi dengan LP/LS di pusat maupun daerah yang mendukung upaya kesehatan reproduksi usia lanjut.

(3) Membangun serta mengembangkan sistem jaminan dan bantuan social agar usia lanjut dapat mengakses pelayanan kesehatan reproduksi.

(4) Meningkatkan dan memantapkan peran kelembagaan dalam kesehatan reproduksi yang mendukung peningkatan kualitas hidup usia lanjut.

5.b. Strategi Kesehatan Reproduksi Usia Lanjut

(1) Melakukan advokasi, sosialisasi untuk membangun kemitraan dalam upaya kesehatan reproduksi usia lanjut baik di pusat, provinsi dan kabupaten/kota.

(2) Memantapkan kemitraan dan jejaring kerja dengan LP/LS, LSM dan dunia usaha untuk dapat meningkatkan upaya kesehatan reproduksi usia lanjut yang optimal.

(3) Mendorong dan menumbuhkembangkan partisipasi dan peran serta keluarga dan masyarakat dalam pelayanan kesehatan reproduksi usia lanjut dalam bentuk pendataan, mobilisasi sasaran dan pemanfaatan pelayanan.

(4) Peningkatan profesionalisme dan kinerja tenaga serta penerapan kendali mutu pelayanan melalui  pendidikan/pelatihan, pengembangan standar pelayanan dll.

(5) Membangun sistem pelayanan kesehatan reproduksi usia lanjut melalui pelayanan kesehatan dasar dan rujukannya serta melakukan pelayanan pro aktif dengan mendekatkan pelayanan kepada sasaran.

(6) Melakukan survei/penelitian untuk mengetahui permasalahan kesehatan reproduksi usia lanjut dan tindak lanjutnya untuk pemantapan pelayanan kesehatan reproduksi usia lanjut.

6.a. Kebijakan Pemberdayaan Perempuan. (1) Peningkatan kualitas hidup perempuan.

(34)

(2) Pengarusutamaan Gender.

(3) Penguatan pranata dan kelembagaan pemberdayaan perempuan. 6.b. Strategi Pemberdayaan Perempuan

(1) Peningkatan pendidikan perempuan dan penghapusan buta huruf perempuan. (2) Peningkatan peran serta suami dan masyarakat dalam kesehatan reproduksi.

(3) Peningkatan akses perempuan terhadap perekonomian dan peringanan beban ekonomi keluarga. (4) Perlindungan Perempuan dan peningkatan hak azasi perempuan.

(5) Peningkatan penanganan masalah sosial dan lingkungan perempuan. (6) Penyadaran gender dalam masyarakat.

(7) Pengembangan sistem informasi gender.

(8) Penyebarluasan Pengarusutamaan gender di semua tingkat pemerintahan.

(9) Pembaharuan dan pengembangan hukum dan peraturan perundang undangan yang sensitif  gender dan memberikan perlindungan terhadap perempuan.

(10) Penghapusan kekerasan terhadap perempuan dengan Zero Tolerance Policy. (11) Advokasi, sosialisasi, fasilitasi dan mediasi PUG dan KHP

(12) Pengembangan sistem penghargaan.

D. Target yang akan dicapai

Target yang akan dicapai oleh masing-masing komponen dalam Kesehatan Reproduksi adalah sebagai berikut :

1. Kesehatan Ibu dan Anak.

Pada tahun 2015 diharapkan komponen Kesehatan Ibu dan anak akan mencapai target : a. Menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) sebanyak tiga perempat dari kondisi tahun 1990.

(35)

 b. Menurunkan Angka Kematian Neonatal (AKN), Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Bawah lima tahun (AKBalita) sebanyak dua pertiga dari kondisi tahun 1990.

c. Cakupan pelayanan antenatal menjadi 95%.

d. Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan menjadi 90%. e. Penanganan kasus komplikasi obstetri dan neonatal 80%. f. Cakupan pelayanan neonatal 90 %.

g. Cakupan program kesehatan bagi balita dan anak prasekolah 80%.

2. Keluarga Berencana.

a. Penurunan Unmet Need KB sebesar 6%.  b. Cakupan pelayanan KB pada PUS 70%.

c. Penurunan prevalensi kehamilan “4 terlalu” menjadi 50 % dari angka pada tahun 1997. d. Penurunan kejadian komplikasi KB.

e. Penurunan angka drop out.

3. Penanggulangan IMS, HIV/AIDS.

a. % Puskesmas melaksanakan upaya pencegahan dan penanggulangan IMS dengan pendekatan sindrom.

 b. % Puskesmas yang menjalankan pencegahan umum terhadap infeksi. 4. Kesehatan Reproduksi Remaja.

a). Penurunan prevalensi anemia pada remaja menjadi kurang dari 20%.

 b).Cakupan pelayanan kesehatan remaja melalui jalur sekolah 85%, dan melalui jalur luar sekolah 20%.

(36)

5. Kesehatan Reproduksi Usia lanjut.

a. Cakupan pelayanan kepada usia lanjut minimal 50%.

 b. % Puskesmas yang menjalankan pembinaan kesehatan reproduksi kepada usia lanjut 60 %. 6. Pemberdayaan Perempuan

a. Meningkatnya kualitas hidup perempuan

 b. Terlaksananya PUG di seluruh tingkat dan sektor pemerintahan

c. Meningkatnya pemahaman para pengambil keputusan dan masyarakat tentang kesetaraan dan keadilan gender 

d. Terlaksananya penghapusan segala bentuk tindak kekerasan terhadap perempuan

E. Penjabaran Strategi

Kegiatan yang perlu dilakukan sebagai penjabaran strategi di atas dapat dikategorikan dalam tiga kelompok sebagai berikut :

1. Manajemen Program

Setiap komponen Program Kesehatan Reproduksi perlu: a. Menyusun:

(1) Kebijakan dan strategi yang mengakomodasikan keterpaduan dengan komponen kesehatan reproduksi lainnya.

(2) Standar pelayanan masing-masing komponen sesuai dengan kebijakan dan strategi program. (3) Instrumen untuk memantau (indikator) kemajuan program.

 b. Mengupayakan penerapan program secara luas dan merata. c. Memantau dan mengevaluasi kemajuan program.

(37)

2. Pelayanan

Setiap komponen Program Kesehatan Reproduksi dilaksanakan mengikuti standar pelayanan yang menampung aspek kesehatan reproduksi lainnya yang relevan.

a. Kesehatan Ibu dan Anak 

(1) Pelayanan antenatal, persalinan dan nifas memasukkan unsur pelayanan pencegahan dan  penanggulangan IMS serta melakukan motivasi klien untuk pelayanan KB dan memberikan  pelayanan KB postpartum. Dalam pertolongan persalinan dan penanganan bayi baru lahir perlu

diperhatikan pencegahan umum terhadap infeksi.

(2) Pelayanan pasca abortus memasukkan unsur pelayanan pencegahan dan penanggulangan IMS serta konseling/pelayanan KB pasca-abortus.

(3) Penggunaan Buku KIA sejak ibu hamil sampai anak umur 5 tahun. (4) Pelaksanaan kunjungan neonatal.

(5) Pelayanan kesehatan neonatal esensial yang meliputi perawatan neonatal dasar dan tata-laksana neonatal sakit.

(6) Pendekatan MTBS bagi balita sakit.

(7) Pemantauan dan stimulasi tumbuh kembang anak.

 b. Keluarga Berencana

(1) Pelayanan KB memasukkan unsur pelayanan pencegahan dan penanggulangan IMS, termasuk  HIV/AIDS.

(38)

(2) Pelayanan KB difokuskan selain kepada sasaran mudausia paritas rendah (mupar) yang lebih mengarah kepada kepentingan pengendalian populasi, juga diarahkan untuk sasaran dengan  penggarapan“4 terlalu” (terlalu muda, terlalu banyak, terlalu sering d an terlalu tua untuk hamil).

c. Pencegahan dan Penanggulangan IMS, termasuk HIV/AIDS. Pelayanan pencegahan dan  penanggulangan IMS, termasuk HIV/AIDS dimasukkan ke dalam setiap komponen pelayanan

kesehatan reproduksi.

d. Kesehatan Reproduksi Remaja.

(1) Pelayanan kesehatan reproduksi remaja terfokus pada pelayanan KIE/konseling dengan memasukan materi-materi family life education (yang meliputi 3 komponen di atas).

(2) Pelayanan kesehatan reproduksi remaja memperhatikan aspek fisik agar remaja, khususnya remaja putri, untuk menjadi calon ibu yang sehat.

(3) Pelayanan KRR secara khusus bagi kasus remaja bermasalah dengan memberikan pelayanan sesuai dengan kebutuhan dan masalahnya.

e. Kesehatan Reproduksi Usia Lanjut. Pelayanan kesehatan reproduksi usia lanjut lebih ditekankan untuk meningkatkan kualitas hidup pada usia lanjut. Dalam kesehatan reproduksi usia lanjut, fokus diberikan kepada pelayanan dalam mengatasi masalah masa menopause/ andropause, antara lain pencegahan osteoporosis dan penyakit degeneratif lainnya.

3. Kegiatan Pendukung

Kegiatan pendukung meliputi berbagai kegiatan untuk mengatasi masalah yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi.

(39)

a. Masalah sosial yang berkaitan erat dengan kesehatan reproduksi adalah Pemberdayaan Perempuan dimana didalamnya tercakup:

(1) Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan

(2) Terlaksananya pengarusutamaan gender (PUG) diseluruh tingkat dan sektor pemerintahan (3) Perwujudan kesetaraan dan keadilan gender.

(4) Penghapusan kekerasan terhadap perempuan Untuk mengatasi masalah ini perlu pelaksanaan secara lintas program dan lintas sektor dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan sebagai  penanggung jawab.

 b. Advokasi, sosialisasi dan mobilisasi sosial.

Kegiatan advokasi, sosialisasi dan mobilisasi sosial diperlukan untuk pemantapan dan perluasan komitmen serta dukungan politis dalam upaya mengatasi masalah kesehatan reproduksi. Kegiatan ini merupakan salah satu tugas Komisi Kesehatan Reproduksi. Contoh kegiatan advokasi dan mobilisasi social antara lain adalah Gerakan Sayang Ibu (GSI), Kelangsungan Hidup Perkembangan dan Perlindungan Ibu dan Anak (KHPPIA) dan Gerakan Pita Putih.

c. Koordinasi lintas sektor.

Dalam penanganan masalah kesehatan reproduksi diperlukan koordinasi lintas sektor dan lintas  program. Untuk itu digunakan forum Komisi Kesehatan Reproduksi seperti yang diuraikan di

atas.

d. Pemberdayaan masyarakat.

Kegiatan pemberdayaan masyarakat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan reproduksi sesuai dengan peran masingmasing, misalnya  pengorganisasian transportasi untuk rujukan ibu hamil/bersalin, arisan peserta KB, tabulin, dsb. e. Logistik.

(40)

Dalam memberikan pelayanan kesehatan reproduksi diperlukan dukungan sarana dan prasarana yang memadai.

f. Peningkatan keterampilan petugas.

Dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan reproduksi antara lain diperlukan kegiatan untuk meningkatkan keterampilam. Kegiatan ini diupayakan agar terlaksana secara terpadu, efektif dan efisien.

g. Penelitian dan Pengembangan

Penelitian dan pengembangan program dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan reproduksi perlu dilakukan agar pelaksanaan program kesehatan reproduksi yang komprehensif  dan integratif di berbagai tingkat pelayanan dapat berjalan secara efektif dan efisien.

B. Landasan Hukum dan Peraturan yang mendukung

1. Undang-undang Nomor 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak.

2. Undang-undang Nomor 7 tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (Ratifikasi CEDAW)

3. Undang-undang Nomor 10 tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera

4. Undang-undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan

5. Undang-undang Nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia 6. Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan di Daerah

7. Undang-undang Nomor 25 tahun 2000 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. 8. Undang-undang No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak 

(41)

10. Undang-undang Nomor 23 tahun 2003 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)

11. Peraturan Pemerintah Nomor 23 tahun 2000 tentang Pelimpahan Tugas dan Wewenang. 12. Inpres Nomor 9 tahun 2000 tentang Pengarus-Utamaan Gender 

13. Kepmenkes Nomor 433/Menkes/SK/V/1998 tentang Pembentukan Komisi Kesehatan Reproduksi

14. Kepmenkes No. 131/II/2004 tentang Sistem Kesehatan Nasional

C. Keterkaitan ICPD dan MDGS

Meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penanggulangan kemiskinan, penduduk   berkualitas, kesehatan, kesetaraan gender, keluarga berkualitas dan perbaikan sumber daya alam

untuk pelestarian hidup.

D. PERAN DAN FUNGSI BIDAN

Peran Bidan Dalam melaksanakan profesinya bidan memiliki peran sebagai pelaksana,  pengelola, pendidik, dan peneliti.

a. Peran Sebagai Pelaksana

Sebagai pelaksana, bidan memiliki tiga kategori tugas, yaitu tugas mandiri, tugas kolaborasi, dan tugas ketergantungan.

1. Tugas mandiri Tugas-tugas mandiri bidan, yaitu:

1) Menetapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan yang diberikan, mencakup: a. Mengkaji status kesehatan untuk memenuhi kebutuhan asuhan klien.

 b. Menentukan diagnosis.

(42)

d. Melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana yang telah disusun. e. Mengevaluasi tindakan yang telah diberikan.

f. Membuat rencana tindak lanjut kegiatan/tindakan. g. Membuat pencatatan dan pelaporan kegiatan/tindakan.

2) Memberi pelayanan dasar pranikah pada anak remaja dan dengan melibatkan mereka sebagai klien, mencakup:

a. Mengkaji status kesehatan dan kebutuhan anak remaja dan wanita dalam masa pranikah.  b. Menentukan diagnosis dan kebutuhan pelayanan dasar.

c. Menyusun rencana tindakan/layanan sebagai prioritas mendasar bersama klien. d. Melaksanakan tindakan/layanan sesuai dengan rencana.

e. Mengevaluasi hasil tindakan/layanan yang telah diberikan bersama klien. f. Membuat rencana tindak lanjut tindakan/layanan bersama klien.

g. Membuat pencatatan dan pelaporan asuhan kebidanan.

3) Memberi asuhan kebidanan kepada klien selama kehamilan normal, mencakup: a. Mengkaji status kesehatan klien yang dalam keadaan hamil.

 b. Menentukan diagnosis kebidanan dan kebutuhan kesehatan klien.

c. Menyusun rencana asuhan kebidanan bersama klien sesuai dengan prioritas masalah. d. Melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan rencana yang telah disusun.

e. Mengevaluasi hasil asuhan yang telah diberikan bersama klien.

f. Membuat rencana tindak lanjut asuhan yang telah diberikan bersama klien. g. Membuat rencana tindak lanjut asuhan kebidanan bersama klien,

(43)

4) Memberi asuhan kebidanan kepada klien dalam masa persalinar dengan melibatkan klien/keluarga, mencakup:

a. Mengkaji kebutuhan asuhan kebidanan pada klien dalam masa persalinan.

 b. Menentukan diagnosis dan kebutuhan asuhan kebidanan dalam masa persalinan. c. Menyusun rencana asuhan kebidanan bersama klien sesuai dengar prioritas masalah. d. Melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan rencana yang telah disusun.

e. Mengevaluasi asuhan yang telah diberikan bersama klien.

f. Membuat rencana tindakan pada ibu selama masa persalinan sesuai dengan prioriras. g. Membuat asuhan kebidanan.

5) Memberi asuhan kebidanan pada bayi baru lahir, mencakup:

a. Mengkaji status keselhatan bayi baru lahir dengan melibatkan keluarga.

 b. Menentukan diagnosis dan kebutuhan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir. c. Menyusun rencana asuhan kebidanan sesuai prioritas.

d. Melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan rencana yang telah dibuat. e. Mengevaluasi asuhan kebidanan yang telah diberikan.

f. Membuat rencana tindak lanjut.

g. Membuat rencana pencatatan dan pelaporan asuhan yang telah diberikan.

6) Memberi asuhan kebidanan pada klien dalam masa nifas dengan melibatkan klien/keluarga, mencakup:

a. Mengkaji kebutuhan asuhan kebidanan pada ibu dalam masa nifas.

 b. Menentukan diagnosis dan kebutuhan asuhan kebidanan pada masa nifas. c. Menyusun rencana asuhan kebidanan berdasarkan prioritas masalah. d. Melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan rencana.

(44)

e. Mengevaluasi bersama klien asuhan kebidanan yang telah diberikan. f. Membuat rencana tindak lanjut asuhan kebidanan bersama klien.

7) Memberi asuhan kebidanan pada wanita usia subur yang membutuhkan pelayanan keluarga  berencana, mencakup:

a. Mengkaji kebutuhan pelayanan keluarga berencana pada pus (pasangan usia subur)  b. Menentukan diagnosis dan kebutuhan pelayanan.

c. Menyusun rencana pelayanan KB sesuai prioritas masalah bersama klien. d. Melaksanakan asuhan sesuai dengan rencana yang telah dibuat.

e. Mengevaluasi asuhan kebidanan yang telah diberikan. f. Membuat rencana tindak lanjut pelayanan bersama klien. g. Membuat pencatatan dan laporan.

8) Memberi asuhan kebidanan pada wanita dengan gangguan sistem reproduksi dan wanita dalam masa klimakterium serta menopause, mencakup:

a. Mengkaji status kesehatan dan kebutuhan asuhan klien.

 b. Menentukan diagnosis, prognosis, prioritas, dan kebutuhan asuhan. c. Menyusun rencana asuhan sesuai prioritas masalah bersama klien. d. Melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan rencana.

e. Mengevaluasi bersama klien hasil asuhan kebidanan yang telah diberikan. f. Membuat rencana tindak lanjut bersama klien.

g. Membuat pencatatan dan pelaporan asuhan kebidanan.

9) Memberi asuhan kebidanan pada bayi dan balita dengan melibatkan keluarga, mencakup: a. Mengkaji kebutuhan asuhan kebidanan sesuai dengan tumbuh kembang bayi/balita.  b. Menentukan diagnosis dan prioritas masalah.

Referensi

Dokumen terkait

kelompok diberi nomor 1 sampai 5  Guru meminta peserta didik untuk menyiapkan sumber belajar (buku, modul) yang mereka miliki sebagai media pembelajaran dalam

Maka kerangka konseptual yang digunakan dalam kajian ini ialah meninjau sejauh mana penguasaan Jumlaṯ Ismiyyaṯ dan Jumlaṯ Fi'liyyaṯ dalam kalangan pelajar

bahwa gaya kontak dan jumlah node yang mengalami kontak (luas daerah kontak) yang terjadi pada bidang kon- tak antara pelat atas dan pelat bawah semakin

(X 3 ) berpengaruh terhadap kemantapan konsumen dalam membeli skubek merek tertentu, dan 4) di antara variabel-variabel di atas, variabel manakah yang paling

BP ( Broken Pekoe ) Berasal dari tangkai daun teh, tulang daun teh muda, memiliki ukuran yang besar, pendek, dan berwarna hitam.. BT ( Broken Tea ) Partikel serbuk agak

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) miskonsepsi mekanika fluida yang paling banyak dialami yaitu kayu terapung dan logam tenggelam dalam air, jauhnya pancaran air dari

PENGARUH JENIS KEMASAN TERHADAP KARAKTERISTIK KIMIAWI DAN PERTUMBUHAN MIKROORGANISME PADA ABON SAPI DENGAN SUBSTITUSI PARSIAL SERAT PANGAN NANAS ( Ananas comosus Merr.)